Anda di halaman 1dari 16

NAMA ANGGOTA :

1. ATII’AH DWINING TYAS


2. NADYA NUR FADILLA
KELOMPOK 2
3. DAFA HILMI
4. DEVIANI SASKARA
5. FASHARA ZAHRA D. XI MIA 3
6. M. FAKHRI ROZAN
7. THALIA IKE P. SMA N 74
JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Salah satu agenda besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah
menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tantangan untuk mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa tersebut salah
satunya adalah masalah kerukunan umat beragama dan kerukunan bangsa.
Kerukunan intern beragama, kerukunan antarumat beragama, dan kerukunan
antarumat beragama dengan pemerintah. Kerukunan itu bukan barang gratis.
Ada penggalan sejarah kelam di mana kerukunan pernah terkoyak di negeri ini.
Bukan hanya harta benda yang hilang terbakar, tetapi banyak nyawa
manusia tak bersalah juga melayang. Kita sebagai masyarakat terpelajar harus
berperan serta dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara, menjaga
keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, dan berpartisipasi dalam
menjaga kerukunan di mana saja kita berada dan kapan saja waktunya.
Akhir – akhir ini, nilai kerukunan yang dijaga dengan baik oleh masyarakat
mulai terkikis, mengalami degradasi. Semboyan bhineka tunggal ika sudah mulai
luntur dalam pemahaman dan pengalaman masyarakat.
Ini bisa dilihat dari berbagai konflik yang terjadi di berbagai daerah
Indonesia seperti kasus Poso, Ambon, Sampang yang mengatasnamakan agama.
Konflik – konflik yang mengatasnamakan agama ini bahkan disinyalir telah
mengancam terjadinya disintegrasi bangsa.
Manusia adalah makhluk indiviudu sekaligus sebagai makhluk sosial. Sebagai
makhluk sosial tentunya manusia dituntut untuk mampu berinteraksi dengan
individu lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dalam menjalani kehidupan
sosial dalam masyarakat, seorang individu akan dihadapkan dengan kelompok-
kelompok yang berbeda warna dengannya salah satunya adalah perbedaan
agama.
Dalam menjalani kehidupan sosialnya tidak bisa dipungkiri akan ada
gesekan-gesekan yang akan dapat terjadi antar kelompok masyarakat, baik
yang berkaitan dengan ras maupun agama. Dalam rangka menjaga keutuhan dan
persatuan dalam masyarakat maka diperlukan sikap saling menghormati dan
saling menghargai, sehingga gesekan-gesekan yang dapat menimbulkan
pertikaian dapat dihindari. Masyarakat juga dituntut untuk saling menjaga hak
dan kewajiban diantara mereka antara yang satu dengan yang lainnya.
Dalam pembukaaan UUD 1945 pasal 29 ayat 2 disebutkan bahwa “Negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-
masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”
Olehnya itu kita sebagai warga Negara sudah sepatutnya menjunjung tinggi
sikap saling toleransi antar umat beragama dan saling menghormati antar hak
dan kewajiban yang ada diantara kita demi keutuhan Negara.
Kebebasan beragama pada hakikatnya adalah dasar bagi terciptanya
kerukunan antar umat beragama. Tanpa kebebasan beragama tidak mungkin ada
kerukunan antar umat beragama. Kebebasan beragama adalah hak setiap
manusia. Hak untuk menyembah Tuhan diberikan oleh Tuhan, dan tidak ada
seorang pun yang boleh mencabutnya.
Demikian juga sebaliknya, toleransi antarumat beragama adalah cara agar
kebebasan beragama dapat terlindungi dengan baik. Kebebasan dan toleransi
tidak dapat diabaikan. Namun yang sering kali terjadi adalah penekanan dari
salah satunya, misalnya penekanan kebebasan yang mengabaikan toleransi dan
usaha untuk merukunkan dengan memaksakan toleransi dengan membelenggu
kebebasan. Untuk dapat mempersandingkan keduanya, pemahaman yang benar
mengenai kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama merupakan
sesuatu yang penting dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat.

2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Toleransi?


2. Mengapa Toleransi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
3. Mengapa kita harus menghindarkan diri dari perilaku tindak kekerasan?
4. Apa manfaat toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
5. Bagaimana contoh perilaku yang menunjukkan toleransi?

3. Tujuan

1. Mengetahui makna kata Toleransi.


2. Mengetahui seberapa penting Toleransi dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
3. Mengetahui alasan mengapa kita harus menghindarkan diri dari perilaku
tindak kekerasan.
4. Mengetahui apa saja manfaat toleransi dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
5. Mengetahui contoh perilaku yang menunjukkan toleransi.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Toleransi
Toleransi berasal dari bahasa latin “Tolerare” yang berarti dengan sabar
membiarkan sesuatu. Jadi pengertian toleransi adalah suatu sikap atau perilaku
manusia yang tidak menyimpang dari aturan, di mana seseorang menghargai atau
menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan. Toleransi juga dapat
dikatakan istilah dalam konteks sosial budaya dan agama yang berarti sikap dan
perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok – kelompok yang
berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.
Contohnya adalah toleransi beragama dimana penganut mayoritas dalam suatu
masyarakat mengizinkan keberadaan agama – agama lainnya. Istilah toleransi juga
digunakan dengan menggunakan definisi “kelompok” yang lebih luas, misalnya partai
politik, orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan
kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi baik dari kaum liberal maupun konservatif.
Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang
beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia
yang beragama lain.

Dalam masyarakat berdasarkan pancasila terutama sila pertama, bertaqwa


kepada tuhan menurut agama dan kepercayaan masing-masing adalah mutlak. Semua
agama menghargai manusia maka dari itu semua umat beragama juga wajib saling
menghargai. Dengan demikian antar umat beragama yang berlainan akan terbina
kerukunan hidup.
B. Pentingnya Toleransi
“Dan di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya (Al Quran), dan di
antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih
mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Yunus/10 : 40)

“Dan jika mereka (tetap) mendustakan kamu (Muhammad), maka katakanlah: "Bagiku
pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku
kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan".” (Q.S.
Yunus/10 : 41)

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan hal – hal berikut:

1. Umat manusia yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW. terbagi
menjadi 2 golongan, ada umat yang beriman terhadap kebenaran kerasulan dan kitab
suci yang disampaikannya dan ada pula golongan orang yang mendustakan kerasulan
Nabi Muhammad SAW. dan tidak beriman kepada Al-Qur’an.
2. Allah SWT. Maha Mengetahui sikap dan perilaku orang – orang beriman yang
selama hidup di dunia senantiasa bertaqwa kepada-Nya, begitu juga orang kafir
yang tidak beriman kepada-Nya.
3. Orang beriman harus tegas dan berpendirian teguh atas keyakinannya. Ia tegar
meskipun hidup di tengah – tengah orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya.
4. Ayat di atas juga menjelaskan perlunya menghargai perbedaan dan toleransi. Cara
menghargai perbedaan dan toleransi dengan tidak mengganggu aktivitas keagamaan
orang lain.
C. Menghindarkan Diri dari Perilaku Tindak Kekerasan

Manusia dianugerahi oleh Allah SWT. berupa nafsu. Dengan nafsu tersebut,
manusia dapat merasa benci dan cinta. Dengannya pula manusia bisa melakukan
persahabatan dan permusuhan serta bisa mencapai kesempurnaan ataupun
kesengsaraan. Hanya nafsu yang berhasil dijinakkan oleh akal yang akan
menghantarkan manusia kepada kesempurnaan. Begitupun sebaliknya.

Permusuhan berasal dari rasa benci yang dimiliki oleh setiap manusia.
Sebagaimana cinta, bencipun berasal dari nafsu yang harus bertumpu di atas
pondasi akal. Permusuhan di antara manusia terkadang karena kedengkian pada hal –
hal duniawi seperti pada kasus Qabil dan Habil ataupun pada kisah Nabi Yusuf as.
dan saudara – saudaranya. Terkadang pula permusuhan dikarenakan dasar ideologi
dan keyakinan.

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa
yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain (qisas),
atau bukan karena berbuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan – akan dia telah
membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang
manusia, maka seolah – olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan
sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa)
keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu
sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (Q.S. Al
Maidah/5 : 32)

Allah SWT. menjelaskan dalam ayat ini, bahwa setelah peristiwa pembunuhan
Qabil terhadap Habil, Allah SWT. menetapkan suatu hukum bahwa membunuh
seseorang sama dengan membunuh seluruh manusia. Begitu juga menyelamatkan
kehidupan seseorang sama dengan menyelamatkan seluruh manusia. Ayat ini
menyinggung sebuah prinsip sosial di mana masyarakat bagaikan sebuah tubuh,
sedangkan individu – individu masyarakat merupakan anggota tubuh tersebut.
Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya pun ikut
merasakan sakit.
Dalam Q.S. Al Maidah/5 : 32 terdapat 3 pelajaran yang dapat dipetik:

1. Nasib kehidupan manusia sepanjang sejarah memiliki kaitan dengan orang lain.
Sejarah kemanusiaan merupakan mata rantai yang saling berhubungan. Karena itu,
terputusnya sebuah mata rantai akan mengakibatkan musnahnya sejumlah besar
umat manusia.
2. Nilai suatu pekerjaan berkaitan dengan tujuan. Pembunuhan seorang manusia
dengan maksud jahat merupakan pemusnahan sebuah masyarakat, tetapi keputusan
pengadilan untuk melakukan eksekusi terhadap seorang pembunuh dalam rangka
qisas merupakan sumber kehidupan masyarakat.
3. Mereka yang memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan penyelamatan jiwa
manusia, seperti dokter, perawat, polisi harus mengerti nilai pekerjaan mereka.
Menyembuhkan atau menyelamatkan orang yang sakit dari kematian bagaikan
menyelamatkan sebuah masyarakat darikehancuran.

Tugas kita bersama adalah menjaga ketentraman hidup dengan cara mencintai
tetangga, orang – orang yang berada di sekitar kita. Artinya, kita dilarang
melakukan perilaku – perilaku yang dapat merugikan orang lain, termasuk
menyakitinya dan melakukan tindakan kekerasan kepadanya.

Di Indonesia ada hukum yang mengatur pelarangan melakukan tindak


kekerasan, termasuk kekerasan pada anak dan anggota keluarga, misalnya UU No.
23 Tahun 2002 dan UU No. 23 Tahun 2004.
D. Manfaat Toleransi Hidup Beragama dalam Pandangan Islam

§ Menghindari Terjadinya Perpecahan


Bersikap toleran merupakan solusi agar tidak terjadi perpecahan dalam
mengamalkan agama. Sikap bertoleransi harus menjadi suatu kesadaran pribadi yang
selalu dibiasakan dalam wujud interaksi sosial. Toleransi dalam kehidupan beragama
menjadi sangat mutlak adanya dengan eksisnya berbagai agama samawi maupun
agama ardli dalam kehidupan umat manusia ini.
§ Memperkokoh Silaturahmi dan Menerima Perbedaan
Salah satu wujud dari toleransi hidup beragama adalah menjalin dan memperkokoh
tali silaturahmi antarumat beragama dan menjaga hubungan baik dengan manusia
lainnya. Pada umumnya manusia tidak dapat menerima perbedaan antara sesamanya,
perbedaan dijadikan alasan untuk bertentangan satu sama lainnya. Perbedaan agama
merupakan salah satu faktor penyebab utama adanya konflik antarsesama manusia.
Merajut hubungan damai antarpenganut agama hanya bisa dimungkinkan jika masing
– masing pihak menghargai pihak lain. Mengembangkan sikap toleransi beragama,
bahwa setiap penganut agama boleh melakukan ajaran dan ritual agamanya dengan
bebas tanpa tekanan. Oleh karena itu, hendaknya toleransi beragama kita jadikan
kekuatan untuk memperkokoh silaturahmi dan menerima adanya perbedaan. Dengan
ini akan terwujud perdamaian, ketentraman, dan kesejahteraan.
§ Pembangunan berjalan dengan lancar
§ Masyarakat menikmati hasil-hasil pembangunan
§ Kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan
E. Menerapkan Perilaku Mulia

Kondisi bangsa Indonesia yang berbhineka ini harus kita pertahankan demi
ketentraman dan kedamaian penduduknya. Salah satu cara mempertahankan
kebhinekaan ini adalah dengan toleransi atau saling menghargai.
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, kerukunan hidup antarsuku, ras,
golongan dan agama harus selalu dijaga dan dibina. Kita tidak ingin bangsa Indonesia
terpecah belah saling bermusuhan satu sama lain karena masalah di atas.
Berikut perilaku – perilaku toleransi yang harus dibina sesuai dengan ajaran
Islam.
1. Saling menghargai adanya perbedaan keyakinan. Kita
tidak boleh memaksakan kehendak pada orang lain agar
mereka mengikuti keyakinan kita. Orang yang
berkeyakinan lain pun tidak boleh memaksakan
keyakinannya pada kita. Dengan memperlihatkan perilaku
berakhlak mulia, insyaallah orang lain akan tertarik.
Rasulullah SAW. selalu memperlihatkan akhlak mulia
kepada siapa pun termasuk kepada musuh – musuhnya.
Banyak orang kafir yang tertarik pada akhlak Rasulullah
SAW. lalu masuk Islam karena kemuliaannya.
2. Saling menghargai adanya perbedaan pendapat.
Manusia diciptakan dengan membawa perbedaan. Kita
mencoba menghargai perbedaan tersebut.

Jangan sampai kita pun dikatakan sebagai orang yang


sombong karena punya sifat merendahkan orang lain.
Sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud

ِ َّ‫ط الن‬
‫اس‬ ِ ‫ط ُر ْال َح‬
ُ ‫ق َوغ َْم‬ َ َ‫َّللاَ َج ِمي ٌل يُ ِحبُّ ْال َج َما َل ْال ِكب ُْر ب‬
َّ ‫إِ َّن‬
“Sesungguhnya Allah itu jamil (indah) dan menyukai
suatu yang indah. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
(HR. Muslim no. 91. Imam Nawawi memberi judul Bab “Haramnya sifat sombong dan
penjelasannya“)

Pandangan Al-Qur’an dan Hadits Tentang Perbedaan Pendapat


1. Ketidak-Utamaan Perbedaan Pendapat

# “Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang
kewibawaan kamu.” (QS. Al-Anfal: 46)

# “Janganlah kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-


beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan
apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 31-32)

# “Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari


Tuhannya.” (QS. Hud: 118-119)

# “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah
kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am: 153)

2. Mencari Jalan Keluar Apabila Terjadi Perbedaan Pendapat

# “Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan
Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’:
59)

# Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:


“Di kalangan orang-orang terdahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99
orang, lalu dia mencari orang yang banyak ilmunya, kemudian dia ditunjukkan kepada
seorang rahib, lalu dia mendatanginya, kemudian dia katakan bahwa dia telah
membunuh 99 orang, apakah tobatnya bisa diterima? Rahib itu menjawab, Tidak
bisa.” Laki-laki itu membunuh rahib tersebut, sehingga genaplah 100 orang yang
telah dibunuhnya.

Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya, lalu dia
ditunjukkan kepada seorang yang alim (berilmu), kemudian dia mengatakan bahwa
dia telah membunuh 100 orang, apakah tobatnya bisa diterima? Orang alim itu
menjawab, “Bisa. Tidak ada penghalang antara kamu dengan tobatmu. Pergilah ke
daerah begini dan begini, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah
Azza wa Jalla, lalu beribadahlah kepada Allah Azza wa Jalla bersama mereka dan
janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu memang jelek.”

Laki-laki itu pergi. Sesampainya di tengah perjalanan dia mati, maka malaikat
Rahmat berbantahan dengan Malaikat Adzab. Kata malaikat Rahmat, “Orang ini
pergi untuk bertobat dengan menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati.” Kata
malaikat Adzab, “Orang ini tidak berbuat kebaikan sama sekali.”

Kemudian mereka didatangi oleh satu malaikat lain dalam wujud manusia, lalu mereka
meminta keputusan kepadanya. Kata dia, “Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang
yang mati ini dari tempat berangkatnya dan dari tempat tujuannya. Ke mana yang
lebih dekat maka itulah keputusannya.” Ternyata hasil pengukuran mereka adalah
bahwa orang yang mati tersebut lebih dekat ke tempat tujuannya, maka dia dalam
genggaman malaikat Rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas menjelaskan kepada kita


bahwa:

1. Para malaikatpun tidak terlepas dari perbedaan pendapat.


2. Perbedaan pendapat tidak dibiarkan berlangsung terus tanpa penyelesaian.
3. Perbedaan pendapat diselesaikan dengan mengambil cara/pendapat yang
terbaik/ter-shahih.
3. Belajar empati, yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh
orang lain, lalu bantulah orang yang membutuhkan. Sering
terjadi tindak kekerasan disebabkan hilangnya rasa empati.
Ketika mau mengganggu orang lain, kita harus sadar bahwa
mengganggu itu akan menyakitkan. Bagaimana kalau itu
terjadi pada diri kita? Tentu kita juga akan merasa risih
jika diganggu oleh orang lain.

4. Islam mengajarkan menolong siapa pun, baik orang miskin


maupun orang yang sakit.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

ْ ‫فِى ُك ِل َكبِ ٍد َر‬


‫طبَ ٍة أَجْ ٌر‬

“Menolong orang sakit yang masih


hidup akan mendapatkan ganjaran
pahala.” (HR. Bukhari no.
2363 dan Muslim no. 2244).

Lihatlah Islam masih mengajarkan peduli sesama.


5. Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau
saudara non muslim.
Allah Ta’ala berfirman,

‫ْس لَكَ بِ ِه ِع ْل ٌم فَال ت ُ ِط ْع ُه َما‬


َ ‫على أ َ ْن ت ُ ْش ِركَ بِي َما لَي‬
َ َ‫وإِ ْن َجا َهدَاك‬
‫اح ْب ُه َما فِي الدُّ ْنيَا َم ْع ُروفًا‬
ِ ‫ص‬َ ‫َو‬

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan


dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah
kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS.
Luqman: 15).

Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua.

Lihat contohnya pada Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
“Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.”
Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat,

ِ ‫َّللاُ َع ِن الَّذِينَ لَ ْم يُقَا ِتلُو ُك ْم ِفى الد‬


‫ِين‬ َّ ‫الَ َي ْن َها ُك ُم‬

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-
orang yang tiada memerangimu….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari no. 5978).
6. Boleh memberi hadiah pada non muslim.
Lebih-lebih lagi untuk membuat mereka tertarik pada Islam, atau ingin mendakwahi
mereka, atau ingin agar mereka tidak menyakiti kaum muslimin.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

ُ ‫ع َم ُر ُحلَّةً َعلَى َر ُج ٍل تُبَا‬


– ‫ع فَقَا َل ِللنَّبِ ِى – صلى هللا عليه وسلم‬ ُ ‫َرأَى‬
ُ ‫ فَقَا َل « ِإنَّ َما يَ ْل َب‬. ُ ‫ا ْبت َ ْع َه ِذ ِه ْال ُحلَّةَ ت َْلبَ ْس َها يَ ْو َم ْال ُج ُمعَ ِة َوإِذَا َجا َءكَ ْال َو ْفد‬
‫س‬
ُ ِ ‫َهذَا َم ْن الَ َخالَقَ لَهُ فِى‬
َّ ‫سو ُل‬
– ِ‫َّللا‬ ُ ‫ى َر‬ َ ِ‫ فَأت‬. » ِ‫اآلخ َرة‬
. ‫ع َم َر ِم ْن َها ِب ُحلَّ ٍة‬
ُ ‫س َل ِإلَى‬َ ‫صلى هللا عليه وسلم – ِم ْن َها ِب ُحلَ ٍل فَأ َ ْر‬
‫س َها َوقَدْ قُ ْلتَ فِي َها َما قُ ْلتَ قَا َل‬ ُ َ‫ْف أ َ ْلب‬َ ‫ع َم ُر َكي‬ ُ ‫فَقَا َل‬
» ‫سوهَا‬ َ َ‫س َك َها ِلت َْلب‬
ُ ‫ تَبِيعُ َها أ َ ْو ت َ ْك‬، ‫س َها‬ ُ ‫« إِنِى لَ ْم أ َ ْك‬
‫ع َم ُر ِإلَى أَخٍ لَهُ ِم ْن أ َ ْه ِل َم َّكةَ قَ ْب َل أ َ ْن يُ ْس ِل َم‬ َ ‫ فَأ َ ْر‬.
ُ ‫س َل ِب َها‬

“’Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari
Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan
mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya
pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan
engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat
bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau
mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau,
maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan
pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut
masuk Islam. (HR. Bukhari no. 2619).

Lihatlah sahabat mulia ‘Umar bin Khottob masih berbuat baik dengan memberi
pakaian pada saudaranya yang non muslim.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Toleransi berasal dari kata “ Tolerare ” yang berasal dari bahasa latin yang
artinya adalah : "dengan sabar membiarkan sesuatu". Jadi secara harafiah
pengertian dari Toleransi beragama ialah dengan sabar membiarkan orang
menjalankan agama-agama lain. Harus bisa lebih kita maknai dan lebih bisa kita
definisikan toleransi beragama. Toleransi dalam beragama bukan berarti kita harus
hidup dalam ajaran agama lain. Namun toleransi dalam beragama yang dimaksudkan
disini adalah menghormati agama lain. Dalam bertoleransi janganlah kita berlebih-
lebihan sehingga sikap dan tingkah laku kita mengganggu hak-hak dan kepentingan
orang lain. Lebih baik toleransi itu kita terapkan dengan sewajarnya. Jangan sampai
toleransi itu menyinggung perasaan orang lain. Toleransi juga hendaknya jangan
sampai merugikan kita, contohnya ibadah dan pekerjaan kita.

Manfaat toleransi hidup beragama dalam pandangan Islam:


§ Menghindari Terjadinya Perpecahan
§ Memperkokoh Silaturahmi dan Menerima Perbedaan
§ Pembangunan berjalan dengan lancar
§ Masyarakat menikmati hasil-hasil pembangunan
§ Kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan

Contoh perilaku yang menunjukkan adanya toleransi:


A. Saling menghargai adanya perbedaan keyakinan
B. Saling menghargai adanya perbedaan pendapat
C. Belajar empati
D. Islam mengajarkan menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit
E. Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim
F. Boleh memberi hadiah pada non muslim
B. Penutup

Dari paparan di atas dapat dilihat bahwa Islam bersikap sangat terbuka
dengan kemajemukan. Bahkan, Islam memandangnya sebagai salah satu dari
sunnatullah di alam ini. Keanekaragaman yang telah menjadi kehendak Allah
tersebut, tentu saja bukan untuk dipertentangkan dan membawa kepada
perpecahan. Akan tetapi dengan meyikapi secara positif dan konstruktif, pluralisme
justru akan membawa manfaat yang besar terhadap kemaslahatan kehidupan
manusia.

Toleransi dapat dikatakan sebagai jalan keluar yang dicetuskan islam untuk
menyikapi pluralisme. Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad
SAW. yang dapat dijadikan referensi dalam menikmati hidup bertoleransi. Secara
umum, Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW menekankan pentingnya keadilan, kasih
sayang dan kemanusiaan yang semuanya merupakan pilar – pilar toleransi. Hanya saja
Islam menggaris bawahi bahwa toleransi hanya akn efektif jika masing – masing
pihak tetap berjalan di atas relnya dan tidak merongrong eksistensi pihak lain. Jika
terjadi pengkhianatan terhadap nilai – nilai toleransi, maka Islam mengharuskan
umat Islam bersikap tegas dengan memerangi pihak – pihak yang telah merusak
harmoni ritme kehidupan tersebut.