Anda di halaman 1dari 19

Nama : Lukman Aji Gutomo

NIM : B300152006

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bagi Wahabi segala cara sah dan halal dilakukan sepanjang apa yang
diperjuangkan dianggap sebagai “kehendak Tuhan”. Sama seperti gerakan radikal
islam di indonesia akhir-akhir ini lebih cenderung eksklusif dan ekstrem. Menurut
Peter L. Berger, dunia saat ini sedang bergerak menuju sakralisme keimanan, tak
terkecuali di indonesia. Hal ini terlihat dengan penempatan “spirit ketuhanan” dalam
berbagai gerak yang beragregasi pada gerakan puritarisme, fundamentalisme yang
tidak mengakui kebenaran dari kelompok yang lain. Mereka seakan menegaskan
bahwa hanya dirinya yang berhak menyandang amanat Tuhan di muka bumi.
Dengan kata lain, mereka berjubah “tentara Tuhan”yang memiliki otoritas untuk
menilai dan menghukum problem keislaman.
Sehingga tidak heran jika ada asumsi bahwa sumber konflik di dunia sekuler saat ini
tidak lagi komunisme, kapitalisme dan nasionalisme, akan tetapi lebih bertendensi
pada klaim kebenaran yang dianut masing-masing kelompok atau aliran kegaamaan
yang ada.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah Wahabi?
2. Apa saja ajaran-ajaran yang dibawa Wahabi?
3. Bagaimana perkembangan Wahabi di Indonesia?
4. Apa saja organisasi berpaham wahabi di indonesia ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui sejarah Wahabi
2. Mengetahui ajaran-ajaran Wahabi.
3. Mengtahui perkembangan ajaran Wahabi di Indonesia
D. Metode Penulisan
Metode penulisan yang kami gunakan untuk mencari sumber-sumber dalam
pembuatan makalah ini adalah dengan cara mengumpulkan data dari buku Islam NU
Pengawal Tradisi Sunni Indonesia dan media lainnya seperti internet.
BAB II
PEMBAHASAN
1.Sejarah Wahabi
Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab
(lahir di desa Uyainah, sebuah kampung kecil 70 km sebelah barat daya kota Riyadh
Saudi Arabia tahun 1115 H / 1703 M. Ajaran ini merupakan turunan dari pemikiran
Ibn Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziah. Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab
hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul
Wahab bin Sulaiman adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya.
Muhammad bin Abdul wahab memang dikenal orang yang haus ilmu. Ia berguru
pada Syeikh Abdullah bin Ibrahim an-Najdy, Syeikh Efendi ad Daghastany, Ismail al-
Ajlawy, syeikh Abdul lathief al-‘Afalaqy dan Syeikh Muhammad al-‘afalaqy.

Di antara mereka yang paling lama menjadi guru adalah Muhammad hayat Sindhi
dan Syeikh Abdullah al-Najdy. Tidak puas dengan itu ia pergi ke syiria untuk belajar
sambil berdagang. Disana ia menemukan buku-buku karya Ibnu Taimiyah dan Ibnu
Qayyim yang sangat ia idolakan. Akhirnya ia semakin jauh terpengaruh terhadap
dua aliran reformis itu. Tak lama kemudian ia pergi ke Basrah dan berguru pada
Syeikh Muhammad al-majmuu’iyah. Di kota ini ia menghabiskan mencari ilmu
selama empat tahun, sebelum akhirnya ia ditolak masyarakat karena pandangannya
dirasa meresahkan dan bertentangan dengan pandangan umum yang berlaku di
masyarakat setempat.

Sepulang dari Basrah pada 1736, Muhammad bin Abdul Wahab berhasil
menyelesaikan sebuah karya yang kelak dijadikan rujukan utama oleh para
pengikutnya, yaitu kitab al-Tauhid. Di dalam kitab ini disebutkan beberapa
pemikirannya antara lain bahwa Tuhan telah mengutus seorang rasul pada setiap
golongan manusia. Melalui rasul tersebut Tuhan mengabarkan eksistensi-Nya. Ia
mengatakan : mentauhidkan Allah merupakan kewajiban setiap hamba. Karenanya
merupakan larangan keras jika seorang hamba menyekutukan tuhan dengan
apapun dan dengan alasan apapun juga. Salah satu dari ajaran yang diyakini oleh
Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang
mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Ia menganjurkan
islam otentik, yaitu sebuah konsep tentang islam yang dipratekkan oleh nabi dan
sahabatnya di Makkah dan Madinah.

Saking otentiknya dalam memahami islam, ia memahaminya secara tekstualitas-


skriptualis tanpa melihat yang dilingkupi hadirnya sebuah teks keagamaan dan Juga
kurang mengindahkan kondisi sosiokultur yang melingkupi masyarakat pada zaman
yang ia hadapi. Disamping itu ia juga menetapkan adanya kewajiban bagi setiap
mukmin untuk melakukan perlawanan terhadap segala macam kemaksiatan, apalagi
perbuatan yang mengandung syirik (syirik versinya) harus dibasmi. Sebaliknya
mereka yang tidak memerangi kemaksiatan tersebut tidak termasuk mukmin.
Pemahaman inilah oleh para pengikutnya dijadikan landasan normatif untuk
menghancurkan segala hal yang mengandung bid’ah.
Termasuk tempat-tempat yang disinyalir sebagai lahan bid’ah atau disalahgunakan
oleh sekelompok orang untuk kegiatan yang tidak pernah dikerjakan sebelumnya
oleh nabi.
Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan
tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima.
Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun
sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri. Pemikiran Wahabi yang keras dan
kaku ini dipicu oleh pemahaman keagamaan yang mengacu bunyi harfiah teks al-
Qur'an maupun al-Hadits. Ini yang menjadikan Wahabi menjadi sangat anti-tradisi,
menolak tahlil, maulid Nabi Saw, barzanji, manaqib, dan sebagainya.
Pemahaman yang literer ala Wahabi pada akhirnya mengeklusi dan memandang
orang-orang di luar Wahabi sebagai orang kafir dan keluar dari Islam. Orang Wahabi
merasa dirinya sebagai orang yang paling benar, paling muslim, paling saleh, paling
mukmin dan juga paling selamat. Mereka lupa bahwa keselamatan yang sejati tidak
ditunjukkan dengan klaim-klaim Wahabi tersebut, melainkan dengan cara beragama
yang ikhlas, tulus dan tunduk sepenuhnya pada Allah Swt.
Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, muhammad bin abdul wahab terus
menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan
agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah
penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud pendiri dinasti Saudi.
Keduanya ini membangun koalisi yang sangat kuat untuk menjatuhkan
kepemimpinan khalifah utsmaniah. Keduanya behasil menaklukkan utsman
sehingga pada tahun 1231 H dua sahabat baru itu berhasil menguasai Makkah dan
Madinah. Muhammad bin saud mendukung secara penuh dan memanfaatkan
muhammad bin abdul wahab untuk memperluas wilayah kekuasaannya.

Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia
menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera
melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik
selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin masuk surga.
Penaklukan awal diikuti dengan jatuhnya beberapa daerah di sekitar Nejd, Hijaz, Irak
dan Syiria.

Mereka menghancurkan mesjid Abdullah bin Abbas Ra. Ditempat ini dan sekitar al-
Ahsa’ lebih dari 300 kaum muslim harus mengakhiri hidupnya di ujung pedang kaum
wahabi. Pada tahun 1746 M/1159 H, koalisi Ibnu Abdul Wahab dan Ibnu Saud
memproklamirkan jihad melawan siapapun yang berbeda pemahaman tauhid
dengan mereka. Mereka tak segan-segan menyerang yang tidak sepaham dengan
tuduhan syirik, murtad dan kafir.
Setiap muslim yang tidak sepaham dengan mereka dianggap murtad, yang oleh
karenanya, boleh dan bahkan wajib diperangi. Sementara, predikat muslim menurut
Wahabi, hanya merujuk secara eklusif pada pengikut Wahabi, sebagaimana
dijelaskan dalam kitab Unwan al-Majd fi Tarikh an-Najd. Tahun 1802 M /1217 H,
Wahabi menyerang Karbala-Irak tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad
SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib.
Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada
Allah dan juga mereka membunuh mayoritas penduduknya yang mereka temui baik
di pasar maupun di rumah, termasuk anak-anak dan wanita. Dua tahun kemudian,
mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, dan
menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad SAW.
Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah
nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-
Asadiy dan lain-lain.
Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, maka dia harus mengucapkan dua
kalimat syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk
Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya.

Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir.
Kalau mau mengakui hal tersebut dia akan diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak
dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya
tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan
wilayah kekuasaannya semakin luas. Mereka bekerja sama untuk memberantas
tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah
kubur, peringatan Maulid nabi dan sebagainya. Tidak mengherankan bila para
pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang suci.
Tak lama kemudian, yaitu tahun 1805 M/1220 H, Wahabi merebut kota Madinah.
Satu tahun berikutnya, Wahabi pun menguasai kota Mekah. Di dua kota ini, Wahabi
mendudukinya selama enam tahun setengah. Para ulama dipaksa sumpah setia
dalam todongan senjata. Pembantaian demi pembantaian pun dimulai. Wahabi pun
melakukan penghancuran besar-besaran terhadap bangunan bersejarah dan
pekuburan, pembakaran buku-buku selain al-Qur'an dan al-Hadits, pembacaan puisi
Barzanji, pembacaan beberapa mau'idzah hasanah sebelum khutbah Jumat,
larangan memiliki rokok dan menghisapnya bahkan sempat mengharamkan kopi.
Mereka juga merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra.
Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran
Nabi Muhammad SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali,
juga kubah Sayyidatuna Khadijah, dan masjid Abdullah bin Abbas.
Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil
bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki
ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut.
Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani,
Istanbul-Turki, murka. Maka, Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di
bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkan aliran ini. Pada tahun 1813,
Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal
abad ke-20, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz dan Syaikh Muhammad Nashiruddin
al-Albany, bangkit kembali mengusung paham Wahabi.

Tahun 1924, mereka berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah,
memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I.
Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi.
Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan
dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi.

Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan
pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan
pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.
Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas
makam sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di
Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah
dengan mengunakan dinamit penghancur.
Demikian juga kubah di atas tanah Nabi Muhammad SAW dilahirkan, yaitu di Suq al
Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat
parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka
dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai
peninggalan sejarah dan tidak menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-
Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena
ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan
mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji
akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang
menentangnya maka diurungkan.
Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan
situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah
Rasulullah saw dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan
tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya,
rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur.

Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga


putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal. Kaum Wahabi memandang
situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Nasib situs
bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan.
Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-
Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis
oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para
arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk
menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah
maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.
Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah
menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan
pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.
Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka
menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup
besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka
dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan
di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun
kecuali kelompok mereka sendiri.
Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai
golongan yang selamat dan sebagainya. Mereka telah menorehkan catatan hitam
dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta
daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Semua itu mereka
lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri
adalah suatu nama bid’ah” Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan
nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.
Nabi Muhammad SAW telah memberitakan akan datangnya Paham Wahabi ini
dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau dalam memberitakan
sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana
terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah
itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke
arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan). “Akan keluar dari arah timur
segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati
kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti
anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak
panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur
(Gundul).” (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748).
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban.
Nabi Muhammad SAW pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam
negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah,
beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,”
dan pada yang ketiga kalinya beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: “Di sana
(Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk
syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.
Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah
bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para
penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap
pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak
diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul.
Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti
yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis
buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh
hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu sendiri yang telah
menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli
bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.
” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad
menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Muhammad SAW: “Akan keluar di abad kedua
belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang
tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang
besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum
muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-
Hadits.
BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad
bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang
yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai
sabda Rasulullah SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari
arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang
dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab
dan Muhammad Ibn Abdul Wahab. Pendiri ajaran Wahabiyah ini meninggal tahun
1206 H / 1792 M.
2. Ajaran-ajaran Wahabi
Menurut penuturan al-Maghfurlah KH. Siradjuddin Abbas, praktik dan ajaran wahabi
di Makkah dan Madinah antara lain adalah :
a. Seluruh rakyat dilarang merokok, karena rokok adalah pekerjaan setan.
b. Tidak boleh atau dilarang melagukan adzan. Padahal sebelum wahabi
berkembang di Makkah, diatas tujuh menara di Masjidil Haram bilal melakukan
adzan dengan lagu dan suara yang indah.
c. Tidak boleh membunyikan radio.
d. Tidak boleh melagukan kasidah, dan melagukan bacaan al-quran.
e. Tidak boleh membaca kitab-kitab shalawat, seperti Dala’il Khairat, Burdah, Diba’,
karena di dalamnya banyak memuji Nabi muhammad SAW.
f. Tidak boleh mempelajari sifat wajib dan mustahil bagi Allah, sebagaimana dalam
kitab Kifayatul’Awam dan sebagainya.
g. Kubah-kubah diatas kuburan para sahabat nabi, yang berada di Ma’la (Makkah),
di Baqi dan uhud di Madinah semuanya diruntuhkan. Namun untuk kubah hijau yang
disebut qubbatul khadra’ makam nabi Muhammad SAW tidak diruntuhkan karena
terlalu banyak protes dari kaum muslim dunia.
7
h. Kubah besar di atas tanah tempat dimana Nabi Muhammad SAW dilahirkan juga
diruntuhkan, bahkan dijadikan tempat unta. Namun atas desakan umat islam seluruh
dunia, akhirnya tempat kelahiran nabi di bangun gedung perpustakaan.
i. Perayaan maulid nabi di bulan Rabi’ul awal dilarang karena termasuk bid’ah.
j. Perayaan isra’ Mi’raj juga dilarang keras.
k. Pergi untuk ziarah ke makam nabi dilarang. Yang dibolehkan hanya melakukan
shalat di masjid Nabawi di Madinah. Berdoa menghadap makam nabi juga dilarang.
l. Berdoa dengan tawassul dilarang.
m. Ada usaha hendak memindahkan batu makam nabi Ibrahim di depan ka’bah dan
telaga zamzam ke belakang kira-kira 20 mater. Bahkan sempat penggalian sudah
dilakukan.
n. Amalan-amalan thariqat dilarang keras, seperti thariqat Naqsabandi, Qadiri,
Shathari dan lain-lain.
o. Membaca zikir tahlil bersama-sama sesudah shalat, dilarang.
p. Imam tidak membaca “bismillah” pada permulaan fatihah dan juga tidak membaca
do’a qunut dalam sembahyang subuh, namun shalat tarawihnya 20 rakaat.
q. Dilarang ziarah kemakam atau kuburan para Wali Allah.
r. Membaca manaqib seorang yang berjasa dibidang spiritual menegakkan
kebenaran akhlak dan tauhid kepada Allah. Seperti manaqib Syaikh abdul Qadir al-
Jailani, dilarang.
3. Organisasi berpaham Wahabi di Indonesia :

a. Jami’at Khair merupakan organisasi islam modern pertama di Indonesia, didirikan


tahun 1901 oleh keturuana Arab Hadramut tanpa izin dari pemerintah kolonial.
Organisasi ini memiliki sifat kepemilikan yang sangat tebal terhadap islam yang
mendorong mereka menyebarkan islam keseluruh dunia. Diantara tokohnya adalah
K.H Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah. Perkumpulan ini kurang
disenangi oleh pemerintah kolonial karena punya pengaruh besar dalam
membangkitkan semangat perjuangan baru di Indonesia. Selain K.H Ahmad Dahlan
tercatat pula H.O.S Tjokro aminoto dan sejumlah ulama-ulama kharismatik yang
kelak memprakarsai berdirinya NU.
b. Sarikat Islam, yang didirikan tahun 1912 yang dalam anggaran dasarnya
bertujuan untuk memajukan perdagangan, menolong anggotanya yang susah,
memajukan kehidupan kerohanian, meluruskan pendapat yang salah tentang islam,
memajukan kehidupan keagamaan sesuai dengan hukum dan kebiasaan umat
islam.
c. Muhammadiyah. Organisasi ini didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) di
Yogyakarta, tepatnya di daerah kauman pada tahun 1912 memiliki tujuan untuk
menyebarkan agama islam dalam negeri.

Anggaran dasar organisasi ini bertujuan untuk memajukan pendidikan dan ilmu
pengetahuan di Hindia-Belanda berdasarkan ajaran islam dan meningkatkan
kehidupan beragama di antara anggotanya. dalam memaknai islam murni Ahmad
Dahlan mencermatinya sebagai islam sejati yang dilaksanakan secara lahir dan
batin. Pemikiran Ahmad Dahlan membentuk gerakan dengan memberantas segala
bentuk khurafat dan segala hal yang berbau bid’ah.

d. Persis (Persatuan Islam). Golongan ini menyatakan diri mengklaim sebagai islam
murni. Berbeda dengan konsep Dahlan tentang islam yang agak toleran, pendirinya
A. Hassan cenderung lebih ekstrem dalam mengusung ide islam murni. Cara radikal
yang dilakukan Hassan dengan misi Islam murninya adalah dengan merombak dan
memusnahkan praktek keberagaman yang selama ini menjadi tradisi yang turun
temurun dalam masyarakat. Diantaranya adalah praktek talqin, ushalli, barzanji, dan
acara-acara lain yang dianggapnya tidak sesuai dengan ketentuan Al-Quran dan
hadist.

e. Jami’iyyat al-islah wal-Irsyad artinya adalah perhimpunan bagi reformisme dan


pimpinan. Pendiri al-Irsyad Indonesia adalah Ahmad bin Muhammad al Surkati al-
Anshari. Seorang bangsa asing berkebangsaan sudan. Tujuan dari al-Irsyad
menurut anggaran dasar yang telah disahkan keputusan Gubernur jenderal pada
tahun 1915 ialah mengumpulkan dan menyimpan dana yang kemudian dikeluarkan
lagi bagi keperluan menyebarluaskan adat istiadat Arab yang sesuai dengan ajaran
agama islam.
f. Madrasah salafiyah di Indonesia. Mazhab ini dalam perkembangannya selalu
mengidentikkan dengan sabda nabi tiga generasi islam, pertama para sahabat,
kedua tabi’in dan ketiga adalah tabiut-tabiin.

Salafiyah adalah ajarannya, salafiyin adalah para pengikutnya, sedang salafy adalah
sebutan bagi mereka. Madrasah salafiyah sendiri terdapat di berbagai negara
muslim, antara lain di Arab Saudi, Yaman, Yordania, Syiria, negara-negara jazirah
Arab, mesir, pakistan, india, asia tengah dan lainnya. Masing-masing madrasah
memiliki ulama, majelis-majelis taklim, lembaga pendidikan, media serta krya-karya
buku. Madrasah yang sangat terkenal keras dalam membasmi khurafat, takhayul,
dan bid’ah adalah Salafy Yamani. Tokoh sentralnya adalah Syaikh Muqbil bin Hadi
al-wadi’i di kota sa’adah, desa dammaz, Yaman. Paham salafiyah Yaman yang
masuk ke indonesia beragam warna. Warna yang paling asli dan mencolok ialah
dakwah Imam muhammad bin Abdul Wahab yang dibawa oleh para ulama
Sumatera Barat pada abad ke-19.
Kemunculan dan keragaman Salafiyah di Indonesia dapat disebutkan. Pertama,
sikap ilmiah murni yaitu mengkaji setiap persoalan berdasarkan landasan al-quran,
hadist-hadist shahih, serta metode yang lurus. Inilah sumber dan metode asli
dakwah Salafiyah. Kedua, membangun jaringan majelis-majelis taklim yang
menginduk ke madrasah Salafiyah tertentu di Timur Tengah.
Ketiga, bersikap keras dan mengingkari ahli bid’ah dan kelompok menyimpang.
Keempat, mengambil khazanah ilmu-ilmu salafiyah, namun juga menerapkan sistem
kejamahaan seperti yang diterapkan di kalangan jamaah dakwah islam pada
umumnya. Kelima, mengambil bab-bab tertentu dari ilmu salafiyah dan
meninggalkan bab-bab yang lain. Keenam, mengambil khazanah ilmu salafiyah
untuk bab-bab yang bersifat dasar, lalu meletakkan di atas dasarr-dasar itu
pemikiran non salafiyah, seperti doktrin politik, kekerasan, organisasi, dan lain-lain.
Ketujuh, mengambil sebagian ilmu-ilmu salafiyah, lalu meramunya dengan ilmu-ilmu
dari sumber lain, sehingga menghasilkan paduan multi warna.

Ada yang menyebutnya dengan istilah thariqul jam’i (metode kompromis).


Kedelapan, berkiprah dalam bidang-bidang teknis tanpa mengikatkan diri kepada
suatu organisasi islam tertentu. Kesembilan, berkarya dalam dakwah salafiyah
secara independen dengan tidak mengikatkan diri kepada suatu organisasi, jamaah,
jaringan majelis taklim, lembaga, madrasah dan lain-lain, baik dalam maupun luar
negeri. Kesepuluh, mengambil ilmu hikmah salafiyah secara individu sesuai
kebutuhan, keinginan, dan kepentingan masing-masing.
4. Wahabi dan Islam lokal Indonesia
Aliran Wahabi mewarnai Indonesia sejak dibawa oleh para jamaah haji awal abad
19. Generasi berikut dilakukan oleh para pelajar Indonesia di Timur Tengah.
Gerakan Wahabi masuk ke Indonesia, menurut beberapa sejarawan, dimulai pada
masa munculnya Gerakan Paderi Sumatera Barat pada awal abad XIX. Beberapa
tokoh Minangkabau yang tengah melaksanakan ibadah haji melihat kaum Wahabi
menaklukkan Mekah dan Madinah yang pertama pada tahun 1803-1804. Mereka
sangat terkesan dengan ajaran tauhid dan syariat Wahabiyah dan bertekat
menerapkannya apabila mereka kembali ke Sumatera. Tiga di antara mereka adalah
Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Bersama-sama dengan Tuanku Nan
Renceh, mereka memimpin Gerakan Paderi. Gerakan reformasi yang dilakukan
wahabi di minangkabau juga melalui cara-cara yang cukup ekstrem dn radikal.

Beberapa aktivitas yang dipandang berbau bid’ah, khurafat dan sesuatu yang tidak
sejalan dengan agama islam yang ada didalam nash yakni Al Qur’an dan As Sunnah
semuanya disikat habis. Aksi ini kemudian membuat sebagian masyarakat
minangkabau merasa resah dan khawatir apalagi gerakan yang ditampilkan
mengarah kepada anarkisme akhirnya masyarakat setempat atas tampilan gerakan
tersebut, yang puncaknya terjadi perang paderi 1821-1837 di minangkabau. Dalam
perkembangan berikutnya, Ahmad Dahlan (1868-1923) menunaikan ibadah haji saat
Arab Saudi sedang terjadi pergolakan kekuasaan, di mana Abdul Azis bin
Abdurrahman tengah mendirikan negara Arab Saudi.
Pada saat yang sama, gerakan Salafiyah Wahabi dicanangkan oleh Muhammadi
Abduh dan Rasyid Ridla.
Ahmad Dahlan memiliki hubungan pribadi dengan Rasyid Ridha antara tahun 1903-
1905. Karenanya, Ahmad Dahlan mendapatkan dukungan kuat dari Rasyid Ridha
untuk menyebarkan paham Wahabi di Indonesia. Namun, lanjut fanatisme yang
dipertontonkan kaum Wahabiyah di jazirah Arab, tidak bisa dipraktikkan Ahmad
Dahlan di Indonesia melalui gerakan Muhammadiyah yang didirikannya pada tahun
1912. Sebab, perlawanan keras muncul dari para ulama dan mayoritas umat Islam
Indonesia yang sangat kuat memegang teguh ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Pada tahun 1905, penyebaran ajaran Wahabi diperkuat oleh datangnya Ahmad
Surkati (18701943), ulama Wahabi keturunan Arab-Sudan.

Melihat perlawanan yang cukup keras dari mayoritas penganut Ahlussunnah Wal
Jamaah, terlebih setelah berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926 yang diprakarsai
Hasyim Asy’ari, penyebaran ajaran Wahabiyah lebih condong dilakukan melalui jalur
pendidikan, dengan mendirikan sekolah-sekolah semi modern. Sementara kalangan
Ahlussunnah Wal Jamaah masih mengandalkan sistem pendidikan tradisional
pesantren. Sekretaris Moderate Muslim Society (MMS) Hasibullah Satrawi melihat,
ada arus besar dari gerakan penyebaran Wahabi yang ekstrem di Indonesia yaitu
melalui sebagian generasi Indonesia yang belajar di Arab Saudi. Sebagian dari
mereka itulah yang kemudian membawa ideologi radikal itu. Sebaliknya, sebagian
orang Indonesia juga dikirim untuk memperdalam gagasan ekstrem itu ke sana.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab
(lahir di desa Uyainah, sebuah kampung kecil 70 km sebelah barat daya kota Riyadh
Saudi Arabia tahun 1115 H / 1703 M.

Ajaran ini merupakan turunan dari pemikiran Ibn Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-
Jauziah. Salah satu dari ajaran yang diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab,
adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah
kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Ia menganjurkan islam otentik, yaitu sebuah
konsep tentang islam yang dipratekkan oleh nabi dan sahabatnya di Makkah dan
Madinah. Pemahaman inilah oleh para pengikutnya dijadikan landasan normatif
untuk menghancurkan segala hal yang mengandung bid’ah. Gerakan wahabi
dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim. Memang dari ajaran
Wahabiyah tujuan awalnya sangatlah baik, buktinya mereka mengharamkan
tawassul, ziara kubur, dan maulid dalam rangka ingin menguak dasar dari bid’ah-
bid’ah tersebut.
Hal ini bisa kita pahami bahwa tawassul, ziara kubur, dan maulid menurut Ahlus
Sunnah wal Jama’ah dengan berbagai argumen yang dipaparkan di atas, kegiatan
tersebut tidak melanggar agama. Selama mereka yang melakukan tawassul, ziarah
kubur, dan maulid serta lain-lainya masih bertujuan yang jelas-jelas tidak
mengkufurkan mereka sendiri dan masih sesuai dengan tata ajaran yang di
sampaiakan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu, sebagai mukmin yang
Islam moderat melihat berarti memahami, memahami berarti mengerti.
B. Saran
Untuk para pembaca sebaiknya lebih mengkritisi lagi dan mengkaji ulang mengenai
pemahaman tentang wahabi. Wahabi bukanlah sebuah mazhab akidah ataupun
mazhab fikah. Wahabi lebih cenderung pada suatu paham. Disisi lain banyak terjadi
pro dan kontra mengenai wahabisme.
Ada yang mendukung paham ini, tapi ada juga yang terang-terangan menentang
paham ini. Mereka yang menentang wahabi mengklaim dan menuduh aliran ini
sesat, karena dalam penyampaian dakwahnya, cenderung menggunakan cara-cara
anarkisme & juga radikal. Dari kesemuanya itu, penulis hanya dapat bersikap netral
dalam menyikapi perbedaan-perbedaan pendapat antar ulama dalam memahami
wahabi.
Semuanya kembali kepada individu masing-masing, bahwa sejatinya yang berhak
menentukan benar dan salah, sesat dan tidak sesatnya suatu aliran keagamaan
hanyalah Allah SWT yang maha adil dan maha mengetahui segala sesuatunya. Kita
sebagai manusia hanya dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap
tasamuh, tawazun dan amar makruf nahi munkar. Karena sejatinya islam itu adalah
agama yang mencintai kedamaian.
Sumber Ilmu Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
assalamu'alaikum.wr.wb.sekarang lagi marak maraknya masyarakat kebingungan mengenai apa itu
ahlus sunnah wal jama'ah,karna semua golongan mengaku ahlus sunnah wal jama'ah.
untuk membantu anda yang ingin tahu apa ahlus sunnah wal jama'ah saya postkan artikel mengenai
ahlus sunnah wal jama'ah dengan judul definisi ahlus sunnah waljama'ah.
semoga artikel ini berfaidah buat kita semua amin.

1. Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama'ah


Setelah menelaah dari berbagai referensi dan rujukan yang secara spesifik menjelaskan pengertian
Ahlussunnah wa Al Jamaah, bisa difahami bahwa definisi Ahlussunnah wa Al jamaah ada dua bagian
yaitu: definisi secara umum dan definisi secara khusus .
* Definisi Aswaja Secara umum adalah : satu kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen
mengikuti sunnah Nabi SAW. Dan Thoriqoh para shabatnya dalam hal aqidah, amaliyah fisik ( fiqih)
dan hakikat ( Tasawwuf dan Ahlaq ) .
* Sedangkan definisi Aswaja secara khusus adalah : Golongan yang mempunyai I’tikad / keyakinan
yang searah dengan keyakinan jamaah Asya’iroh dan Maturidiyah.

Pada hakikatnya definisi Aswaja yang secara khusus bukan lain adalah merupakan juz dari definisi
yang secara umum, karena pengertian Asya’iroh dan Ahlussunnah adalah golongan yang komitmen
berpegang teguh pada ajaran Rasul dan para sahabat dalam hal aqidah. namun penamaan golongan
Asya’iroh dengan nama Ahli sunnah Wa Al Jamaah hanyalah skedar memberikan nama juz dengan
menggunakan namanya kulli.
Syaih Al Baghdadi dalam kitabnya Al Farqu bainal Firoq mengatakan : pada zaman sekarang kita tidak
menemukan satu golongan yang komitmen terhadap ajaran Nabi dan sahabat kecuali golongan
Ahlussunnah wal jamaah. Bukan dari golongan Rafidah, khowarij, jahmiyah, najariyah,
musbihah,ghulat,khululiyah, Wahabiyah dan yang lainnya. Beliau juga meyebutkan; bahwa elemen
Alussunnah waljamaah terdiri dari para Imam ahli fiqih, Ulama’ Hadits, Tafsir, para zuhud sufiyah,
ulama’ lughat dan ulama’-ulama’ lain yang berpegang teguh paa aqidah Ahli sunnah wal jamaah.
secara ringkas bisa disimpulkan bahwa Ahlu sunnah wal jamaah adalah semua orang yang berjalan
dan selalu menetapkan ajaran Rasulullah SAW dan para sahabat sebagai pijakan hukum baik dalam
masalah aqidah, syari’ah dan tasawwuf.
II. Pengertian Sunnah dan ajaran-ajarannya
Kalimat Sunnah secara etimologi adalah Thoriqoh ( jalan ) meskipun tidak mendapatkan ridlo.
Sedangan pengertian Sunnah secara terminlogi yaitu nama suatu jalan yang mendapakan ridlo yang
telah ditempuh oleh Rasulullah SAW, para khulafa’ al Rosyidin dan Salaf Al Sholihin. Seperti yang
telah disabdakan oleh Nabi :

ِ ‫الخلَ َفا ِء ال َّرا‬ ِ ‫َس َّن‬ ُ َ‫َعل‬


‫ن بَ ْع ِدي‬
ْ ‫ش ِدينَ ِم‬ ُ ‫ة‬ ِ ‫س َّن‬
ُ ‫تي و‬ ُ ِ‫م ب‬
ْ ‫يك‬
Ikutilah tindakanku dan tindakan para khlafaurrosyidin setelah wafatku.
Sedangkan pengertian kalimat Jamaah adalah golongan dari orang-orang yang mempunyai
keagungan dalam Islam dari kalangan para Sahabat, Tabi’in dan Atba’ Attabi’in dan segenap ulama’
salaf As solihin.
Setiap ajaran yang berdasarkan pada Usul Al syari’ah dan Fur’nya dan pernah dikerjakan oleh para
nabi dan Sahabat sudah barang tentu merupakan ajaran yang sesuai dengan aqidah ahli sunnah wa
aal jamaah seperti : Shalat Tarawih, witir, baca shalawat, ziarah kubur, mendo’akan orang yang
sudah mati dll.
III. Definisi Bid’ah
Bid’ah dalam ma’na terminologi ( Syara’) menurut syaih Zaruq dalam kitabnya Iddah Al Marid yaitu
semua perkara baru dalam agama yang menyerupai salah satu dari bentuk ajaran agama namun
sebenarnya bukan termasuk dari bagian agama, baik dilihat dari sisi bentuknya maupun dari sisi
hakikatnya. Dan pekara tersebut berkesan seolah-olah bagian dari jaran Islam seperti : membaca
ayat-ayat Al-Qur’an dan Shalat dengan diiringi alat-alat musik yang diharamkan, keyakinan kaum
mu’tazilah, Qodariyah, Syi’ah, termasuk pula paham-paham liberal yang marak akhir-akhir ini. Karena
berdasarkan pada Ayat Al-Qur’an :
ْ َ‫ت اال َّ ُمكاَء َوت‬
" 35 ‫ص ِديَة " االنفال‬ ِ ‫ع ْن َد البَ ْي‬ ْ ‫صال َ ُت ُه‬
ِ ‫م‬ َ ‫َومَا َك‬
َ ‫ان‬
Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka
rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. QS: Al Anfal 35
Dan Hadits Nabi yang berbunyi:

‫ قال‬: ‫عن أم المؤمنين أم عبد هللا عائشة رضي هللا عنها قالت‬
‫ه َذا مَا‬ َ ‫َث فِي أَ ْم ِرنَا‬ ْ َ‫َن أ‬
َ ‫حد‬ ْ ‫" م‬: ‫رسول هللا صلى هللا عليه وسلم‬
‫"لَ ْيسَ ِم ْن ُه َف ُه َو َرد‬.
Dari A’isyah RA. Rasulullah bersabda : barang siapa menciptakan hal baru dalam urusanku yang
bukan termasuk dari golongan urusanku maka akan tertolak.
HR. Bukhari dan Muslim

Kalimat ‫ أحدث‬dalam Hadits diatas mengandung pengertian menciptakan dan membuat-buat suatu
perkara yang didasari dari hawa nafsu. Sedangkan kalimat ‫ أمرنا‬mengandung suatu pengertian agama
dan Syari’at yang telah di Ridlohi oleh Allah SWT.
Rasulullah juga bersabda dalam sebuah Hadits :

‫وروى مسلم في صحيحه أن رسول هللا صلى هللا عليه وسلم‬


ِ ‫خي ُر الهَد‬
‫ى‬ َ ‫ َو‬,‫هللا‬
ِ ‫َاب‬ُ ‫ث ِكت‬ َ ‫خي ُر ال‬
ِ ‫ح ِدي‬ َ ":‫ه‬ ُ ‫كان يقول في‬
ِ ‫خط َب ِت‬
‫ و َُكل‬,‫حدَثَاتُهَا‬ْ ‫ور ُم‬ ُ َّ ‫ح‬ ُ
ِ ‫َشر األ ُم‬
َ ‫ و‬,‫مد صلى هللا عليه وسلم‬ َ ‫هدَى ُم‬
" ‫ة" ورواه البيهقي وفيه زيادة‬ ٌ َ‫ض َالل‬ َ ِ‫ و َُكل ب‬,‫ة‬
َ ‫دعة‬ ٌ ‫دع‬
َ ِ‫حدَثة ب‬ ْ ‫ُم‬
‫"وكل ضاللة في النار‬
Rosululloh bersabda: “ paling bagusnya Hadits adalah Kitabnya Allah, dan paling bagusnya petunjuk
adalah petunjuk Rasulullah SAW, dan paling jeleknya perkara adalah semua perkara yang baru, dan
setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat”. HR. Muslim dan juga
diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dengan tambahan kalimat “ setiap perkara sesat menempat
dineraka” .

Dari adanya dua Hadits diatas para ulama’ menjelaskan bahwa secara prinsip, bid’ah adalah
berubahnya Suatu hukum yang disebabkan karena meyakini suatu perkara yang bukan merupakan
bagian dari agama sebagai salah satu bagian dari agama, bukan berarti setiap perkara baru lantas
dikategorikan bid’ah, karena banyak hal baru yang sesuai dengan Usul Al Syar’ah dan tidak
dikategorikan bid’ah, atau hal-hal baru yang sesuai dengan Furu’ Al Syari’ah yang masih mungkin di
tempuh dengan jalan Analogi atau qiyas sehingga tidak termasuk kategori Bid’ah . berarti tidak
semua ritual yang baru serta-merta dikategorikan sebagai perbuatan bid’ah seperti ritual tahlil tujuh
hari,40 hari dan seratus hari dari kematian mayat, ziarah kubur, tawassul, mendoakan orang mati dll.
Imam Muhmmad Waliyuddin As Syabsiri dalam Syarah Arba’n Nawawi mengupas pengertian Hadits
Nabi yang berbunyai :

ِ ‫َة‬
‫هللا‬ ُ ‫ه لَ ْعن‬
ِ ‫حدَثا اَ ْو آوَى ُمحدثا َف َعلي‬ َ ‫َن أَحد‬
َ ‫َث‬ ْ ‫م‬
Barang siapa menciptakan perkara baru atau melindungi pencipta perkara baru mak dia berhak
mendapatkan laknat Allah.
Hadits tersebut diatas memasukkan berbagai bentuk bentuk bid’ah seper Aqad fasid, memberi hukum
tanpa Ilmu, penyelewengan dan semua hal yang tidak sesuai dengan syari’at. Namun apabila perkara
baru itu masih sesuai dengan qonun syari’at maka tidak termasuk kategori bid’ah seperti menulis
mushaf, meluruskan madzhab, menulis ilmu nahwu ,Khisab dll.
Syaih Izzuddin ibni Abdis Salam menggolongkan perkara baru ( Bid’ah ) menjadi lima hukum yaitu :
1. Bid’ah wajib seperti : mempelajari ilmu nawu, dan lafad-lafad yang ghorib dalam Al-Qur’an dn
Hadits dan semua disiplin ilmu yang menjadi perantara untuk memahami syari’at.
2. Bid’ah Haram seperti : Faham Madzhab Qodariah, Jabariah dan Mujassimah.
3. Bid’ah Sunnah Seperti : Mendirikan Pondok, Madrasah dan semua perbuatan baik yang tidak
pernah ditemukan pada masa dahulu.
4. Bid’ah Makruh Seperti : Menghias MAsjid dan Al-Qur’an.
5. Bid’ah Mubah seperti : Mushofahah (Jabat tangan) setelah Shalat Subuh dan Ashar dll.
IV. Kriteria penggolongan Bid’ah
Dalam menggolongkan perkara baru yang menimbulkan konsekwensi hukum yang berbeda-beda,
Ulama’ telah membuat tiga kriteria dalam persoalan ini .
1. Jika perbuatan itu mempunyai dasar yang kuat berupa dalil-dalil syar’i, baik parsial ( juz’i ) atau
umum, maka bukan tergolong bid’ah, dan jika tidak ada dalil yang dibuat sandaran, maka itulah
bid’ah yang dilarang.
2. Memperhatikan apa yang menjadi ajaran ulama’ salaf ( Ulama’ pada abad I,II dan III H , jika
sudah diajarkan oleh mereka, atau memiliki landasan yang kuat dari ajaran kaidah yang mereka buat,
maka perbuatan itu bukan tergolong Bid’ah.
3. Dengan jalan Qiyas. Yakni mengukur perbuatan tersebut dengan beberapa amaliah yang telah ada
hukumnya dari Nash Al-Qur’an dan Hadits. Apabila identik dengan perbuatan haram, maka perbuatan
baru itu tergolong Bid’ah yang diharamkan. Apabila memiliki kemiripan dengan yang wajib, maka
tergolong perbuatan baru yang wajib. Dan begitu seterusnya.
V. Hal-hal baru yang tidak tergolong Bid’ah
Dari pengertian Bid’ah diatas, memberikan suatu natijah atau kesimpulan bahwa ada sebagian amal
Bid’ah yang sesuai dengan syari’at dan justru ada yang hukumnya sunnat dan fardlu kifayah. Oleh
sebab itu Imam Syafi’i berkata :

" ‫س َّنة او إِجمَاعا او أثرا فهو ال ِب ْد َع ُة‬ ُ ‫ف كِتَابا اَو‬َ َ‫خال‬ َ ‫حد‬
َ ‫َث َو‬ ْ َ‫ما أ‬
‫شيئا من ذلك َف ُه َو‬ َ ‫ف‬ ْ ِ‫خال‬ ْ َ‫ير وَل‬
َ ‫م ُي‬ ِ ‫خ‬ َ ‫أحد‬
َ ‫َث ِمنَ ال‬ ْ ‫ َومَا‬,‫الضالَّ ُة‬
َّ
‫مود َُة‬ ْ ‫" ال ِب ْد َع ُة الم‬
ُ ‫َح‬
“ Perkara baru yang tidak sesuai dengan Kitab Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Atsar sahabat termasuk
bid’ah yang sesat, dan perkara baru yang bagus dan tidak bertentangan dengan pedoman-pedoman
tersebut maka termasuk Bid’ah yang terpuji “
1. Ziarah kubur.
Tidak diragukan sama sekali, bahwa hukum berziarah ke makam kerabat atau auliya’ adalah sunnah,
dan hal ini telah disepakati oleh semua ulama’. Terdapat banyak Hadits yang menjelaskan
kesunnahan ziarah kubur, diantaranya adalah :

‫ت‬ُ ‫عن بريدة قال رسول هللا صلى هللا عليه وسلم " َق ْد ُك ْن‬
ُ َ َ ‫ور َف َق ْد ُأ ِذ‬
ُ ِ‫ن ل‬ ُ ‫ن ِزيَا َر ِة‬ ْ ‫نَهَي ُت ُك‬
ْ ‫م َع‬
ِ ‫بر أ ِ ِّم‬
‫ه‬ ِ ‫في ِزيَار ِة ق‬
ِ ‫محَمد‬ ِ ‫الق ُب‬
‫ رواه الترمذي‬.‫ها فإنَّهَا تُ َذ ِكِّ ُر اآلخر َة‬ َ ‫َف ُزو ُر‬
“ dari Buraidah. Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda “ saya pernah melarang kamu berziarah kubur,
tetapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah kemakam ibunya. Maka sekarang
berziarahlah ! karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat. HR. Al Thirmidzi
Ziarah kubur juga sunnah mu'akkad dilakukan di makam Rasulullah SAW dan juga makam para nabi
yang lain, bahkan ada sebagian ulama' yang mewajibkan ziarah kubur kemakam Rasulullah SAW bagi
orang yang mendatangi kota madinah. Namun sebaiknya ketika seseorang hendak melakukan ziarah
ke makam Rosul hendaklah niat ziarah ke masjid Nabawi dan setelah itu baru melaksanakan ziarah ke
makam Rosul dengan cara mengucapakan kalimat " ‫ل هللا‬ َ ‫َسو‬ َ ‫السال َ ُم َعلَي‬
ُ ‫ك يَا ر‬ َّ " dengan sura pelan dan
penuh tata karma. Tersebut dalam sebuah Hadits:

َ ‫َن زَا َرنِي ب َْع َد َممَاتِي َف َكأَنَّمَا زَا َرنِي فِي‬


‫حيَاتِي } َروَا ُه‬ ْ ‫م‬
ْ ‫ن مَاج‬
، ‫َه‬ ْ ‫}ال َّدا َر ُق‬
ُ ‫ وَا ْب‬، ‫طنِي‬
Barang siapa berziarah padaku setelah wafatku, maka seakan akan dia berziarah padaku pada masa
hidupku
َ ‫ش َف‬
‫اع ِتي عن ابن عمر رضي هللا عنه أن‬ َ ‫له‬ُ ‫ت‬ ْ َ‫جب‬َ ‫َن زَا َر َقب ِْري َو‬
ْ ‫م‬
‫ النبي صلى هللا عليه وسلم قال‬:"Dari Ibnu Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah
bersabda : barang siapa berziarah kemakamku, maka pasti akan mendapatkan Syafa'at ( pertolongan
) ku" HR. Al Thobroni
2.Tawassul.
Kalimat Tawassul secara bahasa adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wasilah artinya
adalah sesuatu yang dijadikan Allah SWT. Sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah
SWT. Dan pintu menuju kebutuhan yang diinginkan. Allah SWT berfirman :

‫ه ُدوا فِي‬ ِ ‫سيلَ َة َوجَا‬ ِ ‫ه ْال َو‬ َ َّ ‫يَا أَيهَا الَّ ِذينَ آَ َم ُنوا اتَّ ُقوا‬
ِ ‫َللا وَا ْبت َُغوا إِلَ ْي‬
َ ‫ح‬
‫ون‬ ُ ِ‫م تُ ْفل‬ْ ‫ه لَ َعلَّ ُك‬
ِ ِ‫سبِيل‬َ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri
kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
QS: Al Maidah : 35
Dengan demikian, tawassul tidak lebih dari sekedar upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT,
sedangkan wasilah adalah sebagai media dalam usaha tersebut. Tujuan utamanya tidak lain adalah
mendekatkan diri kepada Allah SWT, tidak ada sedikitpun keyakinan menyekutukan Allah SWT.( Syirik
).

Kebolehan Tawassul juga telah disebutkan oleh Nabi dalam Haditsnya :

‫ل‬
ِ ‫ه‬ ْ َ‫َسلُوا بِي َوبِأ‬ َّ ‫" تَو‬, ‫قال رسول هللا صلى هللا عليه وسلم‬
‫ل بِنَا‬ٌ ‫س‬ ِ ِّ ‫هللا فإن َّ ُه َال ُي َرد ُم َت َو‬
ِ ‫الى‬َ ‫َيتي‬
ِ ‫"ب‬
" Rasulullah SAW bersabda : Bertawassullah kalian dengan aku dan dengan para keluargaku,
sesungguhnya orang yang bertawassul dengan aku tidak akan ditolak"( HR.Ibnu Hibban )
3. Tabarruk ( Mencari Berkah )
Secara Etimologi kata berkah berarti tambah, berkembang. Selanjutnya kata barokah digunakan
dalam pengertian bertambahnya kebaikan dan kenuliyaan. Jadi Barokah adalah rahasia dan
pemberian Allah SWT yang dengannya akan bertambah amal- amal kebaikan., mengabulkan
keinginan, menolak kejahatan dan membuka pintu menuju kebaikan dengan anugrah Allah SWT. Dari
pengertian ini barokah adalah bagian dari rahmat dan anugerah Allah SWT. Allah SWT berfirman :

‫ مريم‬.‫ت‬ َ ‫ني ُم َبا َركا أَ ْي َنمَا ُك ْن‬


ِ َ‫ج َعل‬ َ ‫ َو‬31
" Dan dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada " QS : maryam 31

"‫ت "هود‬ ِ ‫ل البَي‬ َ ‫يكم أَه‬ ُ َ‫هللا َوبَ َر َكاتُ ُه َعل‬


ِ ‫َم ُة‬
ْ ‫ َرح‬73
" Rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait !
Para ulama' telah banyak membicarakan hukum mengambil barokah, dan berkesimpulan bahwa
mengambil barokah dari orang , tempat atau benda hukumnya adalah boleh dengan syarat tidak
dilakukan dengan cara-cara yang menyimpang syari'at Allah SWT.
Berikut adalah dalil-dalil kebolehan mengambil berkah :

‫ن‬ ْ ‫َة ِم‬ٌ ‫سكِين‬ َ ‫ه‬ ِ ‫وت فِي‬ُ ‫م ال َّتا ُب‬ ُ ‫ه أَ ْن ي َْأتِي َُك‬ِ ِ‫ن آَيَ َة ُم ْلك‬َّ ِ‫م إ‬
ْ ‫م نَ ِبي ُه‬ ْ ‫ل لَ ُه‬
َ ‫و ََقا‬
َّ ِ‫ملُ ُه ْالم ََالئِ َك ُة إ‬
‫ن‬ ِ ‫ح‬ َ ‫ها ُر‬
ْ َ‫ون ت‬ َ ‫ل‬ ُ َ‫وسى وَآ‬ َ ‫ل ُم‬ ُ َ‫ك آ‬
َ ‫ما تَ َر‬ َّ ‫ة ِم‬ٌ َّ‫م َوبَ ِقي‬ْ ‫َربِِّ ُك‬
248 ‫ البقرة‬. َ‫م ُم ْؤ ِم ِنين‬ ْ ‫م إِ ْن ُك ْن ُت‬ ْ ‫ك َآلَيَة لَ ُك‬ َ ِ‫فِي َذل‬
Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah
kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari
peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.QS: Al-Baqarah 248

َ ‫س‬
‫ت‬ َ ‫ أَم‬: ‫ قال ثابت ألنس رضي هللا عنه‬:‫عن ابن جدعان‬
ْ ‫َس‬
‫ رواه البخاري‬. ‫م َف َقبَّلَهَا‬
ْ ‫النبي صلى هللا عليه وسلم قال نَ َع‬
َ
" Dari Ibnu Jad'an, berkata Tsabit kepada Anas ra : Apakah tanganmu pernah menyentuh Nabi SAW ?
Anas menjawab : ya, maka Tsabit menciumnya ". HR. Bukhori
Diriwayatkan oleh Al Khotib dari Ali dari Maimun, berkata : aku mendengar Imam Syafi'I berkata : "
sesungguhnya aku mengambil barokah dari Abu Khanifah dan aku mendatangi makamnya setiap hari,
maka jika aku mempunyai hajat, aku shalat dua rakaat dan mendatangi makam Abu Hanifah lalu
berdo'a meminta kepada Allah SWT. Tidak lama kemudian hajatku terpenuhi".
Kesimpulannya, mengambil barokah dari orang-orang yang shaleh adalah perbuatan yang terpuji.
Apa yang dilakukan oleh para sahabat Nabi serta pengukuhan dari Rasulullah SAW cukup untuk
dijadikan sebagai dalil.

4. Selamatan & Berdo'a untuk orang mati


Ritual mendoakan orang mati sudah biasa dilakukan bahkan sudah menjadi adat orang jawa setiap
kali ada salah satu keluarga yang meninggal mereka mengadakan selamatan dihari ke-7 atau ke-40
dari kematian keluarganya dengan mengundang tetangga setempat dan dimintai bantuan untuk
membaca surat Yasin, Tahlil dan berdo'a untuk mayat.
Hal tersebut diatas diperbolehkan menurut Syari'at, bahkan bagian dari amal ibadah yang pahalanya
bisa sampai kepada yang meninggal. Bukankah bacaan Al-Qur'an, Tahlil dan bersedekah, menyajikan
suguhan untuk para tamu adalah bagian dari amal Ibadah. Dalam sebuah Hadits dinyatakan :

َ ‫س ِئ‬
‫ل‬ ُ ‫ن ال َن ِبيَّ صلى عليه وسلم‬ َّ َ‫ أ‬,‫ن أَنَس رضي هللا عنه‬ ْ ‫َع‬
‫م‬ْ ‫حج َعن ُه‬ ُ َ‫ن مَوتَانَا َون‬ ْ ‫ق َع‬ ُ ‫ص َّد‬
َ ‫هللا إِنَّا نَ َت‬
ِ ‫ل‬ َ ‫س ْو‬ُ ‫ل يا َر‬ ُ ِ‫السائ‬
َ ‫فقال‬
‫م‬ ْ ‫ل إِلَ ْي ِه‬ُ ‫ص‬ِ َ‫م إنَّ ُه لَي‬ْ ‫ نَ َع‬: ‫ل‬َ ‫م ؟ َقا‬ ْ ‫ك إِلَ ْي ِه‬ َ ِ‫ل َذل‬ ُ ‫ص‬ِ َ‫ل ي‬ْ ‫ه‬َ ‫م‬ ْ ‫َونَ ْد ُعو لَ ُه‬
.‫م‬ ْ ‫ه ِديَ إِلَ ْي ِه‬ ْ ‫ْق إذاَ ُأ‬ َّ
ِ ‫م بالطب‬ ُ ‫ح أَح‬
ْ ‫َد ُك‬ ُ ‫ه َكمَا ي َْف َر‬ َ ‫ح‬
ِ ِ‫ون ب‬ ُ ‫م لَي َْف َر‬
ْ ‫وَإِنَّ ُه‬
‫رواه ابو حفص العكبري‬
Dari Anas ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya seseorang: " wahai Rasulullah SAW, kami
bersedekah dan berhaji yang pahalanya kami peruntukkan orang-orang kami yang telah meninggal
dunia dan kami berdoa untuk merek, apakah pahalanya sampai pada mereka ? Rasulullah SAW
menjawab : Iya, pahalanya betul-betul sampai kepada mereka dan mereka sangat merasa gembira
sebagaimana kalian gembira apabila menerima hadiah. HR. Abu Khafs Al Akbari.
VI. Sekilas Pembaharuan Agama
Ketika keintelektualan lebih mengedepankan nafsu serta semangat yang menggebu-gebu dengan
dalih memurnikan agama tanpa disertai dengan pemahaman agama secara benar, maka yang terjadi
justru pembaharuan- pembaharuan yang menyimpang dari ajaran yang telah dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW. pada pembahasan ini akan mengetengahkan pembaharu-pembaharu ( Mujaddid)
Islam yang telah melakukan banyak penyimpangan dari ajaran Islam yang murni.
1. Faham Ibnu Taimiyah
Di akhir masa 600 H, muncullah seorang laki-laki yang jenius yang telah banyak menguasai berbagai
jenis disiplin ilmu, dialah Taqiyuddin ahmad bin Abdul Hakim yang dikenal dengan nama Ibnu
Taimiyah. Ia dilahirkan di desa Heran, sebuah desa kecil di Palestina. Ia hidup sezaman dengan
Imam Nawawi salah satu ulama; terbesar madzhab Syafi'i.
Ia merupakan sosok pribadi yang memiliki karakter pemberani, yang selalu mencurahkan segala
sesuatu untuk madzhabnya, dengan keberanian yang ia miliki, ia telah menemukan hal baru yang
sangat tabu dan jauh dari kebenaran, karena yang menjadi dasar pendiriannya ialah mengartikan
ayat-ayat dan hadits-hadits nabi Muhammad yang berkaitan dengan sifat-sifat tuhan menurut arti
lafadznya yang dlohir, yakni hanya secara harfiyah saja, oleh sebab itu menurut Ibnu Taimiyah "
Tuhan itu memiliki muka, tangan, rusuk dan mata, duduk bersila, dating dan pergi, tuhan adalah
cahaya langit dan bumi karena katanya semua itu disebut dalam Al Qur'an".
Kontroversi yang ia ucapkan tidak hanya terbatas pada permasalahan ilmu kalam, melainkan juga
menyinggung beberapa permasalahan ilmu fiqih :
* Bepergian dengan tujuan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW setelah beliau wafat hukumnya
maksiat
* Talak tiga tidak terjadi ketika diucapkan dengan sekaligus ( hanya jatuh satu )
* Seorang yang bersumpah akan mencerai istrinya , lalu ia melanggar sumpahnya, maka perceraian
itu tidak terjadi.
2. Faham Wahabi
Pada pertengahan kurun ke 12 muncul seorang yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab yang
berdomisili di Najd yang termasuk kawasan Hijaz, ia dilahirkan pada tahun 1111 H, dan meninggal
pada tahun 1207 H. pada mulanya ia memperdalam ilmu agama dari ulama'-ulama; ahli sunnah di
makkah dan madinah termasuk diantaranya adalah syaih Muhammad Sulaiman Al Kurdi dan syaih
Muhammad Hayyan Assindi, diantara guru yang pernah mengajarkan ilmu kepadanya, jauh sebelum
ia membuat pergerakan telah berfirasat kalau disuatu hari nanti ia tergolong orang yang sesat dan
menyesatkan, itupun akhirnya menjadi kenyataan, firasat ini juga dirasakan oleh ayah dan
saudaranya ( Syeh Sulaiman ).
Muhammad bin Abdul Wahab pada masa mudanya banyak membaca buku-buku karangan Ibnu
Taimiyah dan pemuka-pemuka lain yang sesat, sehingga ahirnya membangun faham Wahabiyah
yang terpusat ditanah Hijaz sebagai penerus tongkat estafet dari ajaran Ibnu Taimiyah, bahkan lebih
extrim dan radikal daripada Ibnu Taimiyah sendiri, sebab ia sangat mudah memberikan label kafir
kepada setiap orang yang tidak mau mengikuti fahamnya. Langkah yang ia tempuh dalam
mengembangkan fahamnya ialah dengan memberikan tambahan- tambahan baru dari ajaran Ibnu
Taimiyah yang semula dianutnya.
* Poin-poin dasar faham wahabiyah
1. Allah adalah suatu jisim yang memiliki wajah, tangan dan menempat sebagaimana mahluq juga
sesekali naik dan turun ke bumi.
2. Mengedapankan dalil Naqli daripada dalil aqli serta tidak memberikan ruang sedikitpun pada akal
dalam hal-hal yang berkenaan dengan agama ( keyakinan)
3. Mengingkari Ijma' ( Konsensus )
4. Menolak Qiyas ( Analogi )
5. Tidak memperbolehkan Taqlid kepada Ulama' Mujtahidin dan mengkufurkan kepada siapapun yang
taqlid kepada mereka
6. Mengkufurkan kepada ummat Islam yang tidak sefaham dengan ajarannya
7. Melarang keras bertawassul kepada Allah melalui perantara para Naabi, Auliya' dan orang- orang
sholeh
8. Memvonis kafir kepada orang yang bersumpah dengan menyebut nama selain Allah
9. menghukumi kafir kepada siapa saja yang bernadzar untuk selain Allah.
10. Menghukumi kafir kepada secara muthlak kepada siapapun yang menyembelih disisi makam para
nabi atau orang-orang Sholeh.

Perkembangan ajaran Wahabiyah yang disinyalir melalui cendekiawan-cendekiawan pada akhirnya


juga sampai di tanah air kita Indonesia, hal ini diawali dengan maraknya pergerakan-pergerakan
diawal abad ke-20 yang bertopeng keagamaan.
Diawali dengan terbentuknya organisasi Wathoniyah pada tahun 1908 M. kemudian disusul organisasi
Serikat Islam pada tahun yang sama, hanya saja berkecimpung dalam masalah perdagangan. Dan
puncaknya dibentuklah sebuah ormas pada tanggal 18 Desember 1912 oleh seorang cendekiawan
yang berfaham Wahabi, kendati organisasi ini lebih berorientasi pada masalah social keagamaan,
namun kelahirannya dibumi pertiwi ini menyebabkan keretakan diantara Muslim Indonesia yang pada
umumnya berhaluan faham Ahli Sunnah Wal jamaah,
Propaganda yang dilakukan oleh cendekiawan wahabi ialah dengan melakukan pendekatan pada
masyarakat awam, setelah terpedaya kemudian mereka mengeluarkan trik-trik baru yang justru lebih
berbahaya dampaknya, yaitu dengan menanamkan benih-benih permusuhan dan rasa sentiment
pada para ulama' salaf dan golongan yang tidak sefaham dengan mereka.
3. Faham Ahmadiyah
Pendiri golongan ini bernama Mirza Ghulam Ahmad, ia dilahirkan didesa Qodliyan Punjab Pakistan
pada tahun 1836 M. dia tidak hanya mengaku sebagai imam Mahdi yang ditunggu, Mujaddid dan juru
selamat,tetapi stelah ia berumur 54 tahun ia memproklamirkan diri sebagai nabi yang paling akhir
sesudah nabi Muhammad SAW dan benar-benar mendapatkan wahyu dari Allah SWT.
 Poin-Poin faham Ahmadiyah yang menyimpang dari Syari'at
1. Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi terahir
2. Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa yang dijanjikan.
3. Syari'at Islam belum sempurna, tetapi disempurnakan oleh Syari'at Mirza Ghulam Ahmad.
4. Jaringan Islam Liberal
Belakangan ini gegap gempita pemikiran dan aliran yang muncul dikalangan Islam di Indonesia
begitu deras, sehingga berimplikasi pada sebuah kebebasan yang seakan tak terbatas. Disana-sini
bermunculan aliran dan sekte-sekte, termasuk salah satunya adalah Jaringan Islam Liberal ( JIL ).
Sebagai komunitas yang berslogan " Menuju Islam yang ramah, toleran dan membebaskan " JIL hadir
layaknya sebuah alternatif yang begitu intelektual dan cerdas. Mereka begitu Ofensif sehingga
berhasil menciptakan jaringan dengan tidak kurang dari 51 koran dan membuat radio 68 Hyang
beberapa acaranya dipancarluaskan oleh jaringan KBR 68 H diseluruh Indonesia. Maka tak heran
apabila pemikiran-pemikirannya begitu kuat mempengaruhi ummat.
Madzhab liberal merupakan aliran pemikiran Islam Indonesia yang menekankan pada kebebasan
berfikir dan tidak lagi terikat dengan madzhab-madzhab pemikiran keagamaan ( terutama Islam )
pada umumnya, melampaui batas-batas cara berpikir sectarian organisasi dan politik. Bagi Madzhab
liberal, yang paling penting adalah perlunya tradisi kritis dan perlunya Dekonstruksi atas pemahaman
lama yang telah berkembang ratusan tahun. Islam seharusnya difahami secara modern dan rasional,
karena Islam merupakan agama yang rasional dan mengutamakan rasionalitas yang dalam bentuk
konkritnya berupa Ijtihad. Islam harus dipahami secara kontekstual, progressif dan emansipatoris.
Dengan pemahaman seperti ini maka Islam akan mengalami kemajuan, bukannya kemunduran.
VII. Metode Pembentengan Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah
Dalam membentengi aqidah Ahlus Sunnah wal jamaah agar tetap eksis dan menjadi panutan
masyarakat, tentunya perlu diterapkan metode yang jitu dan tidak terkesan radikal. Upaya
penyampaian tentang pentingnya mempertahankan aqidah ahli sunnah wal jamaah bisa ditempuh
dengan berbagai macam cara, seperti memberikan pemahaman yang mendalam tentang hakikat
aswaja dan bahayanya mengikuti faham- faham sesat yang banyak bermunculan melalui pertemuan-
pertemuan khusus atau melalui majelis Dzikir, ketika Masyarakat berkumpul di Masjid untuk
melaksanakan Shalat atau pengajian dan berbagai moment keagamaan lainnya.
Islam mengajarkan pada penganutnya untuk berda'wah dan mengajak sesama menuju kejalan yang
benar dengan cara-cara yang terpuji, hal itu telah diuraikan dalam Al-Qur'an dan Hadits. Seperti
halnya ajaran tentang mengajak masuk Islam dengan hikmah atau dalil dan hujjah juga dengan
mau'idlah yang ada dalam ayat Al-Qur'an, dan hal itu tentu harus dengan menggunakan adab dan
tata karma yang baik. Karena agama Islam identik dengan nasihat yang halus dan jauh dari
kekerasan.
Banyak media yang bisa kita gunakan untuk menyampaikan nilai-nilai Aswaja kepada masyarakat luas
yang selama ini masih minim dipraktekkan sebab kurangnya rasa peduli dari para nahdliyin.
 Pengoptimalan Fungsi Masjid
Sebenarnya fungsi asal dibangunnya masjid selain untuk shalat seperti yang telah dijelaskan oleh
Imam Samarqondi adalah sebagai tempat untuk Dzikir, Takbir, Tahlil, Menyiarkan Islam dan
menjauhkan dari perbuatan syirik. Oleh sebab itu sudah saatnya para Ta'mir masjid dan pemuka
agama mengaplikasikan fungsi- fungsi tersebut dengan mengadakan Khalaqah diwaktu-waktu
tertentu untuk menyampaikan nilai-nilai faham Aswaja dengan tujuan menyelamatkan masyarakat
dari pengaruh faham yang sesat dan menyesatkan.
Oleh karenanya pengoptimalan fungsi masjid dengan cara digunakan sebagai media penyampaian
aqidah yang tegak sangat mutlaq diperlukan dizaman sekarang, mengingat bahayanya faham-faham
baru yang berkedok Islam namun jauh melenceng dari nilai-nilai Islam secara sempurna.
Apabila upaya pengoptimalan tersebut telah kita lakukan, sedikit banyak masyarakat akan faham
tentang Aswaja dan bahaya akiran-aliran sesat. Dan masjid yang kita miliki semakin tampak manfaat
dan fungsi-fungsinya. Jangan sampai Masjid yang kita rawat dan kita tempati sehari-hari diambil alih
oleh golongan- golongan yang tidak bertanggung jawab seperti yang telah diberitakan dalam sebuah
situs NU Online yaitu :
Kehidupan beragama di Indonesia semakin tidak aman. Sekelompok orang yang mengatasnamakan
Islam telah serampangan mengambil alih masjid-masjid milik warga (Nahdlatul Ulama) NU dengan
alasan bid’ah dan beraliran sesat.
Allah SWT berfirman dalam Al Qur'an :
‫ه‬
ِ ِ‫سبِيل‬ َّ ‫ض‬
ْ ‫ل َع‬
َ ‫ن‬ ْ ‫م بِم‬
َ ‫َن‬ ُ َ‫ه َو أَ ْعل‬ُ ‫ك‬ َّ ‫ن إ‬
َ َّ‫ن َرب‬ ِ ُ ‫س‬ ْ َ‫ي أ‬
َ ‫ح‬ ِ ‫م بِالَّتِي‬
َ ‫ه‬ ْ ‫ة َوجَاد ِْل ُه‬ َ ‫ة ْالح‬
ِ ‫َس َن‬ ِ َ‫م ْوعِظ‬ ْ ‫ةو‬
َ ‫َال‬ َ ‫ِك‬
ِ ‫م‬ ْ ِ‫ك ب‬
ْ ‫الح‬ َ ِِّ‫يل َرب‬ َ ‫ع إِلَى‬
ِ ِ‫سب‬ ُ ‫ا ْد‬
ْ
ُ ‫م بِال‬
125 ‫ النحل‬. َ‫م ْه َت ِدين‬ َ
ُ َ‫ه َو أ ْعل‬
ُ ‫َو‬
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk. "QS: An Nahl 125
ْ ‫َف ُقوال َ لَ ُه َق ْوال لَّيِّنا لَّ َعلَّ ُه يَ َت َذ َّك ُر أَ ْو ي‬
َ ‫َخ‬
44 : ‫شى طه‬
maka berbicaralah kamu berdua ( Musa dan Harun ) kepadanya( Fir'aun ) dengan kata-kata yang
lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." QS : Thaha 44
ْ ُ ُ
ْ ‫ح‬
‫سنا‬ ِ ‫ وَقولوا لِل َّن‬83 ‫البقرة‬
ُ ‫اس‬
serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." QS : Al Baqarah 83
Ayat-ayat diatas menjelaskan pada Ummat Islam bahwa ajakan menuju jalan Allah yang oleh ulama'
ditafsiri dengan Agama Islam harus dengan menggunakan Hikmah, dan hikmah yang dimaksud
dalam ayat tersebut diatas oleh ulama ditafsiri dengan burhan (dalil) atau hujjah, Allah juga
memerintahkan untuk mengajak dengan Mau'idlah atau peringatan yang bagus.
Dalam surat Thaha diatas Allah memerintahkan pada nabi Musa dan Harus AS. Untuk bertutur kata
yang halus kepada Fir'aun, agar Fir'aun bisa sadar atau takut kepada Allah. Sampai selentur itu
ajaran Allah untuk berda'wah, padahal kita ketahui bersama bagaimana kekejaman dan kerasnya
fir'aun dalam menentang agama Allah SWT.
akhirul kalam wassalamu'alaikum.wr.wb.