Anda di halaman 1dari 18

BAB V

PEMERIKSAAN INSTALASI MIKROBIOLOGI

5.1 Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA)


Basil Tahan Asam (BTA) Atau mycrobacterium adalah bakteri aerob berbentuk
batang yang tidak membentuk spora. Walaupun tidak mudah diwarnai, jika telah diwarnai
bakteri ini tahan penghilangan warna (decalorisasi) oleh asam atau alkohol dan karena itu
dinamakan basil tahan asam. Adapun spesies Mycrobacterium, yaitu : Mycrobacterium
tuberculosis dan Mycrobacterium lepra.

Mycrobacterium tuberculosis
Ciri–ciri khas Mycobakterium tuberculosis dalam jaringan, basil tuberkel merupakan
batang ramping lurus berukuran kira-kira 0,4 x 3 µm. Pada perbenihan buatan terlihat bentuk
coccus dan filamen. Mycobakteria tidak dapat diklasifikasikan sebagai gram positif atau gram
negatif. Sekali diwarnai dengan zat warna basa, warna tersebut tidak dapat dihilangkan
dengan alkohol, meski dibubuhi dengan iodium.
Basil tuberkel yang sebenarnya ditandai oleh sifat tahan asam misalnya 95 % etil
alkohol yang mengandung 3 % asam hidroklorida (asam alkohol) dengan cepat akan
menghilangkan warna semua bakteri kecuali Mycobakteria. Sifat tahan asam ini bergantung
pada integritas struktur selubung berlilin. Pada dahak atau irisan jaringan, Mycobakteria
dapat diperlihatkan karena memberi fluoresensi kuning jingga setelah diwarnai dengan zat
warna fluorokrom (misalnya auramin, rodamin).
5.1.1 Pemeriksaan BTA Metode Manual
Alur Pemeriksaan

Periksa Identitas
Uji Kelayakan
Sampel Datang Pasien di Sampel
Sampel
dan Worksheet

Periksa Sampel
Validasi dan Sesuai Permintaan
Pembacaan Hasil
Verifikasi Hasil di Worksheet
(Tahap Analitik)

Quality Control :
- Sediaan BTA + 1, + 2, +3 disimpan didalam rak preparat dilakukan pembacaan
sebelum melakukan pemeriksaan BTA
- Untuk quality control sediaan yang dibuat dilihat Kualitas, Pewarnaan, Ukuran,
Kerataan dan Ketebalan dinyatakan baik jika lebih dari 80 %
- Untuk Uji Kualitas reagen, lakukan pewarnaan pada slide yang (+1) dan slide (-).
Biasanya digunakan saat pertama kali membuka reagen baru
1. Tahap Pra-Analitik
A. Pengumpulan bahan sputum untuk pemeriksaan BTA
Tujuan : Untuk mengetahui cara pengumpulan bahan sputum purulen yang
berasal dari paru-paru untuk pemeriksaan BTA
Alat : Pot plastik yang bermulut besar
Prosedur kerja
1. Siapkan pot dan beri label pada dinding luar pot
a. S (Sewaktu) : sputum dikumpulkan pada saat pasien datang pertama kali
ke laboratorium
b. P (Pagi) : sputum dikumpulkan di rumah pada saat setelah bangun tidur
pagi hari
c. S (Sewaktu) : sputum dikumpulkan pada saat mengumpulkan sputum
pagi
2. Berikan penjelasan pada pasien mengenai tujuan dari pemeriksaan tersebut
3. Berikan penjelasan pada pasien cara mengeluarkan dahak/sputum yang benar
4. Pasien diminta kumur-kumur dahulu, tarik nafas beberapa detik kemudian
batukkan
5. Pasien diminta untuk memasukkan dahak/sputum ke dalam pot kemudian
menyerahkan ke petugas
6. Petugas menilas kualitas dan kuantitas sputum
7. Lalu jika sputum memenuhi syarat langsung distribusikan ke instalasi
Mikrobiologi.

2. Tahap Analitik
a. Pembuatan Preparat BTA
Tujuan : untuk mengetahui cara pembuatan preparat BTA
Bahan : sputum/dahak
Alat :
 Kaca sediaan yang baru, bersih (frosted end slide)
 Lidi dengan ujung runcing
 Lidi dengan ujung berserabut (raughend)
 Wadah pembuangan berisi desinfektan (lysol 5%)
 Lampu spiritus
 Safety cabinet
 Pensil
Cara kerja :
1. Pemberian nomor identitas sediaan sesuai dengan identitas pada pot dahak dengan
pensil pada bagian yang buram.
2. Pembuatan sediaan apus dahak.
a. Ambil pot dahak.
b. Buka pot dengan hati-hati untuk menghindari droplet.
c. Buat sediaan apus pada kaca sediaan yang beridentitas sama dengan pot
dahak, dengan urutan sebagai berikut:
 Pipihkan lidi tusuk sate sampai berbentuk seperti kipas.
 Pilih dan ambil bagian dari dahak yang purulen menggunakan lidi
tusuk sate yang telah dipisahkan.
 Oleskan dahak pada permukaan kaca sediaan dengan ukuran 2x3 cm
kemudian ratakan dengan spiral kecil-kecil.
 Buang lidi tusuk sate ke dalam wadah pembuangan berisi desinfektan
(lysol 5%).
 Keringkan sediaan di udara.
 Fiksasi sediaan. Pastikan apusan menghadap ke atas. Lewatkan 3x
melalui api dari lampu spiritus.
 Lakukan pewarnaan Ziehl-Neelsen.
3. Cara penanganan dahak yang encer.
Sediaan dibuat berlapis-lapis. Buat apusan seperti biasa, setengah kering buat apusan
lagi diatasnya. Demikian diulang 2-3 kali sampai ketebalan dianggap cukup.

b. Pewarnaan Ziehl-Neelsen
Prinsip : dinding sel bakteri tahan asam yang terdiri dari atas lapisan peptido-
Glikan dan senyawa lipida yang mempunyai sifat mudah menyerap
sehingga bila diwarnai dengan carbol fuchsin maka dinding sel
tersebut akan meresap zat warna dengan baik bila dipanaskan.
Selanjutnya asam mycolat yang terdapat di pori-pori dinding sel akan
berikatan dengan fuchsin sehingga warna merah sulit dilunturkan
dengan asam alkohol. Sedangkan zat warna methylene blue
merupakan counter stain sebagai warna dasar.
Tujuan : untuk mewarnai preparat BTA
Bahan : preparat BTA
Reagen :
 Larutan carbol fuchsin 1%
 Asam alkohol (HCl alkohol 3%)
 Larutan methylene blue 0,1%

Alat :
 Rak pewarnaan
 Timer
 Lampu spiritus
 Korek api
 Air yang mengalir berupa air ledeng
 Rak pengering
Cara kerja :
1. Letakkan sediaan di atas rak dengan jarak minimal 1 jari telunjuk.
2. Tuangkan carbol fuchsin 1% menutupi seluruh permukaan sediaan.
3. Panaskan sediaan dengan sulut api sampai keluar uap (jangan sampai mendidih)
biarkan selama 10 menit.
4. Bilas carbol fuchsin secara perlahan dengan menggunakan air mengalir mulai dari
slide yang frosted.
5. Tuangkan asam alkohol 3% pada sediaan biarkan selama 3 menit.
6. Bilas dengan air mengalir sampai bersih.
7. Tuangkan methylene blue 0,1% hingga menutupi sediaan biarkan selama 60 detik.
8. Buang methylene blue dari seduaan satu per satu secara perlahan dengan cara dibilas
dengan air mengalir.
9. Keringkan sediaan pada rak pengering.

c. Pemeriksaan Identifikasi BTA


Tujuan :
 Menegakkan diagnosis dan menetukan klasifikasi/type
 Menilai kemajuan pengobatan
 Menentukan tingkat penularan
Bahan : preparat BTA yang sudah diwarnai
Reagen :
 Oil imersi
Alat :
 Mikroskop binokuler
 Tisu
Cara kerja :
a. Letakkan sediaan pada meja mikroskop dengan sediaan menghadap ke atas.
b. Teteskan 1 tetes minyak imersi di atas lapisan dahak.
c. Putar lensa objektif 100x dengan hati-hati ke atas sediaan apus, sesuaikan fokus
dengan hati-hati sampai sel terlihat jelas.
d. Carilah Basil Tahan Asam (BTA) yang berbentuk batang berwarna merah sepanjang
garis tengah dari ujung kiri ke kanan atau sebaliknya.

e. Sediaan dahak yang telah diperiksa kemudian direndam dalam lysol selama 15-30
menit lalu disimpan dalam kotak sediaan.

3. Tahap Pasca Analitik


Pembacaan hasil:
Pemeriksaan hasil sediaan dahak dilakukan dengan menggunakan skala IUATLD
(International Union Against Tuberculosis and Lung Disease), sebagai berikut:
a. Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapangan pandang, hasil negatif.
b. Ditemukan 1-9 BTA / 100 LP  scanty
c. Ditemukan 10-99 BTA / 100 LP  1+
d. Ditemukan 1-10 BTA / 1 LP  2+, minimal pemeriksaan 50 LP hasil 2+
e. Ditemukan > 10 BTA / 1 LP  3+, minimal pemeriksaan 20 LP hasil 3+
Penulisan gradasi hasil pembacaan penting untuk menunjukkan keparahan
penyakit dan derajat penularan penderita tersebut.

Interpretasi:
Positif bila ditemukan bakteri berbentuk batang berwarna merah.

Pelaporan:
 Negatif
 +n (dituliskan jumlah BTA yang ditemukan)
 1+
 2+
 3+
5.1.2 Pemeriksaan BTA Metode GeneXpert
Sistem GeneXpert MTB/RIF adalah sistem real-time PCR otomatis yang mendeteksi
DNA kompleks MTB pada sputum dengan hasil mikroskopis BTA positif dan negatif. Secara
bersamaan mengidentifikasi mutasi pada gen rpoB yang berhubungan dengan resistensi
terhadap rifampicin.
Sistem GeneXpert MTB/RIF terdiri dari mesin GeneXpert, komputer, barcode
scanner dan memakai catridge Xpert MTB/RIF tunggal, sekali pakai yang berisi reagen.

Alur Pemeriksaan

Periksa Identitas
Uji Kelayakan
Sampel Datang Pasien di Sampel
Sampel
dan Worksheet

Periksa Sampel
Validasi dan Sesuai Permintaan
Pembacaan Hasil
Verifikasi Hasil di Worksheet
(Tahap Analitik)

Quality Control :
Pemeriksaan GenExpert dilakukan pengkalibrasian alat jika jumlah sampel telah memenuhi
batas maksimal, yaitu 2000 sampel.

Tahap Pra-Analitik
A. Pengolahan Spesimen
Spesimen Dahak
 Beri label identitas pada setiap catridge. Identitas spesimen dapat ditempel atau ditulis
pada bagian sisi catridge.
 Bukalah penutup pot dahak, tambahkan sample buffer dengan perbandingan 1 bagian
volume sampel dan 2 bagian volume sampel buffer yang tersedia.
Catatan:
a. 1 sample buffer untuk pengolahan 1 spesimen dahak, TIDAK diperbolehkan
menggunakan sample buffer yang sama untuk spesimen dahak berbeda.
b. Apabila volume dahak > 4 ml, maka disarankan untuk membagi spesimen
menjadi 2 bagian. Satu bagian digunakan untuk pemeriksaan Xpert MTB/RIF,
satu bagian lainnya disimpan dalam pot dahak baru sebagai cadangan.

 Tutup kembali pot dahak, kemudian kocok dengan kuat sampai campuran dahak dan
sample buffer menjadi homogen.
 Diamkan selama 10 menit pada suhu ruang.
 Kocok kembali campuran, lalu diamkan selama 5 menit.
 Bila masih ada gumpalan, kocok kembali agar campuran dahak dan sample buffer
menjadi homogen sempurna dan biarkan selama 5 menit pada suhu kamar.
 Buka penutup catridge dan pot dahak. Gunakan pipet yang disediakan untuk
memindahkan spesimen dahak yang telah diolah sebanyak 2 ml (sampai garis batas
pada pipet) ke dalam catridge secara perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya
gelembung yang bisa menyebabkan error.
 Tutup catridge secara perlahan dan masukkan catridge ke dalam mesin GeneXpert.
Catatan:
Jika spesimen yang doilah telah dimasukkan ke dalam catridge, maka pemeriksaan
harus dilakukan dalam kurun waktu 4 jam. Saat mengolah beberapa spesimen dalam
satu waktu, pengisian spesimen ke dalam catridge dilakukan satu persatu. Tutup
catridge terlebih dahulu sebelum mengisi catridge berikutnya.

Spesimen Non Dahak


Hal penting sebelum melakukan pengolahan spesimen Non-Dahak
 Pengelolaan spesimen non dahak harus dilakukan didalam BSC untuk menghindari
terhirupnya aerosol saat proses pengolahan spesimen oleh petugas laboratorium
 Spesimen non-dahak yang dapat diperiksa dengan Xpert MTB/RIF terdiri atas cairan
serebrospinal (CSF), jaringan biopsi, bilasan lambung (gastric lavage), dan aspirasi
cairan lambung (gastric aspirate).
 Seluruh spesimen non-dahak harus diproses sesegera mungkin untuk mendapatkan
hasil pemeriksaan yang optimal, terutama untuk spesimen CSF. Selama transportasi,
spesimen harus disimpan pada suhu 2-8⁰C dan sudah harus diproses maksimal dalam
waktu 7 hari.
1. Cairan Serebrospinal (CSF)
Catatan : Volume minimal cairan yang diambil sebanyak 1 ml dan harus dipastikan tidak
bercampur dengan darah.
a. Kriteria Kualias Spesimen CSF yang baik
Cairan harus bening, tidak menggumpal dan tidak mengandung darah atau nanah
b. alat dan bahan
 Conical tube/screw-capped tube 15 l steril
 Mesin sentrifuge
 Pipet steril
 Mikro tips steril berfilter
 Spidol marker permanen
 Desinfektan
 Sarung tangan
 Prosedur pengolahan spesimen
1) Jika volume cairan CSF yang didapat 0,1-1 ml, maka :
 Tambahkan sample buffer ke dalam spesimen hingga volume akhir mencapai 2 ml
 Kocok seluruh campuran hingga homogen
 Diamkan selama 5 menit untuk menghindari aerosol
 Buka penutup cartridge, kemudian buka tempat penampung spesimen. Gunakan pipet
yang disediakan untuk memindahkan spesimen CSF yang telah diolah sebanyak 2 ml
(sampai garis batas pada pipet) ke dalam cartridge secara perlahan-lahan untuk
mencegah terjadinya gelembung yang bisa menyebabkan error.
 Tutup cartridge secara perlahan dan masukan cartridge ke dalam mesin GeneXpert.

2) Jika volume cairan CSF yang di dapa >1-5 ml, maka :


 Tambahkan sample buffer sesuai volume spesimen (rasio 1:1)
 Kocok seluruh campuran hingga homogen
 Diamkan selama 5 menit untuk menghindari aerosol
 Buka penutup cartridge, kemudian buka tempat penampung spesimen. Gunakan pipet
yang disediakan untuk memindahkan spesimen CSF yang telah diolah sebanyak 2 ml
(sampai garis batas pada pipet) ke dalam cartridge secara perlahan-lahan untuk
mencegah terjadinya gelembung yang bisa menyebabkan error.
 Tutup cartridge secara perlahan dan masukan cartridge ke dalam mesin GeneXpert.
3) Jika volume cairan CSF yang didapat >5 ml, maka:
 Seluruh spesimen dipindahkan ke dalam tabung konikal steril, kemudian
 Disentrifugasi pada kecepatan 3000 g selama 15 menit
 Supernatan kemudian dibuang ke dalam wadah yang berisi desinfektan (contoh: fenol
5%)
 Pelet diresuspensi dengan sample buffer hingga volume akhir mecapai 2 ml
 Kocok seluruh campuran hingga homogen
 Diamkan selama 5 menit untuk menghindari aerosol
 Buka penutup cartridge, kemudian buka tempat penampung spesimen.
 Gunakan pipet yang disediakan untuk memindahkan spesimen CSF yang telah diolah
sebanyak 2 ml (sampai garis batas pada pipet) ke dalam cartridge
 Secara perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya gelembung yang bisa menyebabkan
error.
 Tutup cartridge secara perlahan dan masukkan cartridge ke dalam mesin GeneXpert.

2. Kelenjar Getah Bening (Lymph Node) dan Jaringan (Tissues)


a. Jenis Spesimen
1) Kelenjar Getah Bening (Lymph Node)
Sampel yang dapat diterima berupa biopsi jaringan langsung dan biopsi menggunakan
jarum (FNAB/Fine Needle Aspirate Biopsy)
2) Jaringan (Tissues)
Jaringan yang dapat diperiksa menggunakan Xpert MTB/RIF adalah semua jaringan baik
steril maupun tidak steril.

b. Alat dan Bahan


 PBS 1x steril  Gunting steril
 Conical tube steril 15 ml  Pinset steril
 Mortar steril  Spidol marker permanen
 Pipet steril  Desinfektan
 Mikro tips steril berfilter  Sarung tangan
c. Prosedur pengolahan spesimen
 Spesimen jaringan dipotong hingga kecil dalam mortar steril
 Tambahkan 2 ml PBS 1x pada spesimen
 Gerus jaringan sampai homogen
 Pindahkan campuran sebanyak ± 0,7 ml menggunakan mikropipet ke dalam tabung
konikal steril.

Catatan : jangan memindahkan campuran yang masih menggumpal atau tidak dapat
dihancurkan
Tambahkan sample buffer 2x dari volume campuran (1,4 ml).
 Kocok campuran sebanyak 10-20x atau vorteks selama 10 detik hingga homogen
 Diamkan campuran selama 10 menit pada suhu ruang, kemudian kocok kembali 10-
20x atau vorteks selama 10 detik
 Diamkan campuran selama 5 menit pada suhu ruang
 Buka penutup cartridge, kemudian buka tempat penampung spesimen. Gunakan
pipet yang disediakan untuk memindahkan spesimen yang telah diolah sebanyak 2
ml (sampai garis batas pada pipet) ke dalam cartridge secara perlahan-lahan untuk
mencegah terjadinya gelembung yang bisa menyebabkan error
 Tutup cartridge secara perlahan dan masukkan cartridge ke dalam mesin GeneXpert.

3. Feses
 Campur ±1 gram feses dengan 10 ml PBS
 Vortex/kocok sampai homogen
 Biarkan larutan mengendap ± 10 menit
 Ambil 1 mil supernatan, masukkan ke dalam tabung pengolahan ke dua
 Tambahkan 1 mil (1:1) sampel reagen MTB/RIF
 Homogenkan, diamkan selama 10 menit
 Homogenkan kembali, diamkan 5 menit
 Buka penutup cartridge, kemudian buka tempat penampung spesimen. Gunakan pipet
yang disediakan untuk memindahkan spesimen yang telah diolah sebanyak 2 ml
(sampai garis batas pada pipet) ke dalam cartridge secara perlahan-lahan untuk
mencegah terjadinya gelembung yang bisa menyebabkan error.
 Tutup cartridge secara perlahan-lahan dan masukkan cartridge ke dalam mesin
GeneXpert.

4. Substansi yang dapat menghambat pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF


Kelancaran pemeriksaan Xpert MTB/RIF dievaluasi berdasarkan adanya 32 substansi yang
berpotensi menghambat jalannya pemeriksaan. Substansi yang bersifat endogenus dapat
meliputi darah, nanah (sel darah putih), sel saluran pernapasan, mucin, DNA manusia dan
asam lambung.

B. Tahap Analitik
Tujuan : untuk mendeteksi bakteri tuberkulosis dan mengetahui resistensi dari obat
rifampisin (TB MDR)
Prinsip : Suatu teknis sintesis untuk mengamplifikasi atau melipat gandakan fragmen
DNA target secara invitro dengan eksponensial yang menggunakan primer
atau pemula DNA yang tepat. Proses tersebut mirip dengan proses replikasi
DNA in vivo
Alat :
 Alat GeneXpert
Bahan :
 Catridge yang sudah berisi sampel yang diencerkan dengan buffer
Prosedur kerja :
CARA CEPAT GENEXPERT
1. Memulai system dan software
 Hidupkan genexpert
 Hidupkan komputer
 Buka jendela kerja Cepheid dengan cphd sebagai password.
2. Proses Xpert MTB/RIF
 Tambahkan reagen sampel ke dalam sputum yang segar dengan perbandingan
2:1
 Kocok lalu diamkan hingga 10 menit
 Kocok lalu diamkan lagi 5 menit
 Isi pipet diatas tanda batas lalu pindahkan ke dalam cartridge
 Masukkan catridge ke GeneXpert
3. Pengoperasian GeneXpert
1. Klik icon “Create a test”.
2. Pada kotak isian “Sample ID”, ketikkan nama pasien dengan huruf kapital
3. Pada kotak isian “Notes”, isi dengan jenis sampel (misal: SPUTUM, LCS,
dll).
4. Klik tab “Scan Catridge Barcode”, lalu arahkan scanner ke catridge untuk
mengscan barcodenya.
5. Klik tab “Start test”
6. Hasil tes akan keluar 2 jam kemudian.

C. Tahap Pasca Analitik


1. Pembacaan hasil pemeriksaan pada alat GeneXpert
Lihat hasil tes di VIEW RESULT, VIEW TEST dan klik/pilih hasil tes yang sesuai
nama sampel untuk melihat hasilnya.
2. Pencatatan hasil di buku arsip
3. Verifikasi dan validasi hasil pemeriksaan
Interpretasi hasil :
- Jika pada pemeriksaan ditemukan bakteri tuberkolosis dan terjadi resistensi
rifampisisn, maka akan dilakukan pengobatan TB-MDR
- Jika pada pemeriksaan ditemukan bakteri tuberkolosis dan tidak terjadi resistensi
rifampisisn, maka pasien masih bisa diobati dengan pengobatan kategori 1 dan 2
- Jika pada pemeriksaan tidak ditemukan bakteri tuberkolosis, maka tidak perlu
dilakukan pengobatan TB
5.2 Pemeriksaan Mycrobacterium leprae
Mycrobacterium leprae adalah bakteri tahan asam yang dapat menyebabkan penyakit
kusta. Pada tahun 1873 dr.Armour Hansen telah menemukan dan membuktikan adanya
bakteri kusta dengan memeriksa jaringan kulit penderita kusta.
Masa inkubasi menurut beberapa ahli 2-5 tahun. Bahkan untuk masa pengobatan
sendiri juga lama, untuk type lepramatous dianjurkan makan obat seumur hidup.

Alur Pemeriksaan

Pasien Datang Ke Pengambilan Sampel


Laboratorium Dilakukan Oleh Petugas
Membawa Lembar Laboratorium
Permintaan

Pembuatan sediaan dan


Pembacaan Hasil pemeriksaan BTA
(Tahap Analitik)

Validasi dan Verifikasi

Quality Control :
Lakukan pembacaan terhadap sediaan yang disimpan dalam rak preparat sebelum
melakukan pemeriksaan.

A. Tahap Pra Analitik


1. Pengambilan Sampel untuk Pemeriksaan Morbus Hansen
Tujuan : untuk mengetahui cara pengumpulan bahan kusta yang diambil secara
langsung pada kulit penderita untuk pemeriksaan BTA
Bahan : sekret/bubur jaringan
Alat :
 Mess/pisau bedah no. 15
 Kapas
 Alkohol swab
 Objek glass
 Pensil & spidol
 Plester
 Lampu spiritus
 Korek api
Lokasi :
 Cuping telinga kanan-kiri
 Tangan kanan-kiri
 Kaki kanan-kiri
 Atau pada lesi yang aktif (permukaan kulit menonjol & kemerahan)
Cara kerja :
a. Tulis identitas pasien & lokasi apusan yang dibuat diujung objek glass dengan pensil
& membuat 2 lingkaran dengan spidol untuk batas apusan.
b. Keluarkan pisau bedah dari dalam bungkus, pastikan mata pisau tidak terkontaminasi.
c. Bersihkan lokasi kulit hipopigmentasi & mati rasa dengan alkohol swab, biarkan
mengering.
d. Jepit kulit dengan jempol & telunjuk sampai tampak pucat.
e. Tanpa membuka jepitan, buat irisan sepanjang 5 mm & dalam 2 mm.
f. Kerok irisan sekali atau 2 kali menggunakan pisau untuk mengumpulkan cairan dan
bubur jaringan, tidak boleh ada darah pada sampel tersebut karena akan mengganggu
pewarnaan dan pembacaan.
g. Lepaskan jepitan pada kulit dan hapus darah dengan kapas alkohol. Tutup luka.
h. Buat hapusan dari kerokan kulit pada objek glass pada sisi yang sama dengan letak
keterangan lokasi pengambilan sampel. Buat apusan berbentuk lingkaran. Fiksasi
dengan melewatkannya di atas nyala api sebanyak 3x.
i. Ulangi langkah di atas pada lokasi lain.
2. Pewarnaan Ziehl-Neelsen
Prinsip : dinding sel bakteri tahan asam yang terdiri dari atas lapisan peptido-
Glikan dan senyawa lipida yang mempunyai sifat mudah menyerap
sehingga bila diwarnai dengan carbol fuchsin maka dinding sel
tersebut akan meresap zat warna dengan baik bila dipanaskan.
Selanjutnya asam mycolat yang terdapat di pori-pori dinding sel akan
berikatan dengan fuchsin sehingga warna merah sulit dilunturkan
dengan asam alkohol. Sedangkan zat warna methylene blue
merupakan counter stain sebagai warna dasar.
Tujuan : untuk mewarnai preparat BTA
Bahan : preparat BTA
Reagen :
 Larutan carbol fuchsin 1%
 Asam alkohol (HCl alkohol 3%)
 Larutan methylene blue 0,1%

Alat :
 Rak pewarnaan
 Timer
 Lampu spiritus
 Korek api
 Air yang mengalir berupa air ledeng
 Rak pengering
Cara kerja :
a. Letakkan sediaan di atas rak dengan jarak minimal 1 jari telunjuk.
b. Tuangkan carbol fuchsin 1% menutupi seluruh permukaan sediaan.
c. Panaskan sediaan dengan sulut api sampai keluar uap (jangan sampai mendidih)
biarkan selama 10 menit.
d. Bilas carbol fuchsin secara perlahan dengan menggunakan air mengalir mulai dari
slide yang frosted.
e. Tuangkan asam alkohol 3% pada sediaan biarkan selama 3 menit.
f. Bilas dengan air mengalir sampai bersih.
g. Tuangkan methylene blue 0,1% hingga menutupi sediaan biarkan selama 60 detik.
h. Buang methylene blue dari seduaan satu per satu secara perlahan dengan cara dibilas
dengan air mengalir.
i. Keringkan sediaan pada rak pengering.

B. Tahap Analitik
Tujuan :
 Menegakkan diagnosis dan menetukan klasifikasi/type
 Menilai kemajuan pengobatan
 Menentukan tingkat penularan
Bahan : preparat BTA yang sudah diwarnai
Reagen :
 Oil imersi
Alat :
 Mikroskop binokuler
 Tisu
Cara kerja :
a. Letakkan sediaan pada meja mikroskop dengan sediaan menghadap ke atas.
b. Teteskan 1 tetes minyak imersi di atas lapisan dahak.
c. Putar lensa objektif 100x dengan hati-hati ke atas sediaan apus, sesuaikan fokus
dengan hati-hati sampai sel terlihat jelas.
d. Carilah Basil Tahan Asam (BTA) yang berbentuk batang berwarna merah sepanjang
garis tengah dari ujung kiri ke kanan atau sebaliknya.

e. Sediaan yang telah diperiksa kemudian direndam dalam lysol selama 15-30 menit lalu
disimpan dalam kotak sediaan.

C. Tahap Pasca Analitik


Pembacaan hasil dan pelaporan
Pembacaan hasil menurut Ridley Sistem, yaitu :
1. (-) : tidak ditemukan BTA dalam 100 lapangan pandang
2. ( + 1 ) : 1 – 10 basil lepra dalam 100 lapangan pandang
3. ( + 2 ) : 1 – 10 basil lepra dalam 10 lapangan pandang
4. ( + 3 ) : 1 -10 basil lepra dalam rata-rata satu lapangan pandang
5. ( + 4 ) : 10 – 100 basil lepra dalam rata-rata satu lapangan pandang
6. ( + 5 ) : 100 – 1000 basillepra dalam rata-rata satu lapangan pandang
7. ( + 6 ) : > 1000 basil lepra dalam satu lapangan pandang