Anda di halaman 1dari 11

PENERAPAN BUDAYA KESELAMATAN PASIEN PADA PERAWAT

PELAKSANA DI RSUD ARIFIN ACHMAD


Yulia Febrianita1)
1)
DIII Keperawatan Universitas Abdurrab
Jl.Cipta Karya –Panam
Email: yulia.febrianita@univrab.ac.id

ABSTRACT
Harvard School of Public Health states that worldwide 43 million people are injured each year due to
unsafe care. Good patient safety culture can reduce incidents related to patient safety. Efforts to
improve patient safety culture by establishing patient safety champion. This research aims to
determine relationship of the patient’s safety champion role through the patient’s safety culture
application at the Arifin Achmad hospital. This research method used the non experimental research
type, by maintaining quantitative, correlation and design analysis were cross sectional, the used
sample was 166 nurses, where research inpatient hospital Arifin Achmad. Analysis data by using chi
square and regression logistic. The result shows patient’s safety culture application categorized well,
This research recommends to need in making the patient’s health champion empowerment to increase
the patient’s safety culture.
Key Word : culture, patient’s safety
ABSTRAK
Harvard School of Public Health menyatakan bahwa di seluruh dunia 43 juta orang terluka setiap
tahun karena perawatan yang tidak aman. Budaya keselamatan pasien yang baik dapat mengurangi
insiden yang berkaitan dengan keselamatan pasien. Upaya untuk meningkatkan budaya keselamatan
pasien dengan mendirikan safety reporter keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan peran juara keselamatan pasien melalui aplikasi kultur keselamatan pasien di
rumah sakit Arifin Achmad. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian non eksperimental,
dengan mempertahankan analisis kuantitatif, korelasi dan desain bersifat cross sectional, sampel
yang digunakan adalah 166 perawat, dimana penelitian di RS rawat inap Arifin Achmad. Analisis
data dengan menggunakan chi square dan regresi logistik. Hasilnya menunjukkan aplikasi budaya
keselamatan pasien dikategorikan baik, Penelitian ini merekomendasikan untuk kebutuhan dalam
membuat pemberdayaan champion keselamatan pasien untuk meningkatkan budaya keselamatan
pasien.

Kata kunci: budaya, keamanan pasien

PENDAHULUAN
kesehatan (Cahyono, 2008; Fleming &
Penerapan budaya keselamatan Wentzel, 2008). Penerapan keselamatan
pasien yang adekuat akan menghasilkan pasien di rumah sakit dapat mendeteksi
pelayanan keperawatan yang bermutu. resiko yang akan terjadi dan
Pelayanan kesehatan yang bermutu tidak meminimalkan dampaknya terhadap
cukup dinilai dari kelengkapan teknologi, pasien dan petugas kesehatan khususnya
sarana prasarana yang canggih dan perawat.
petuugas kesehatan yang profesional, Pelayanan yang aman dan nyaman
namun juga ditinjau dari proses dan hasil serta berbiaya rendah merupakan ciri dari
pelayanan yang diberikan (Ilyas, 2009). perbaikan mutu pelayanan. Perbaikan
Rumah sakit harus bisa memastikan mutu pelayanan kesehatan dapat dilakukan
penerima pelayanan kesehatan terbebas dengan memperkecil terjadinya kesalahan
dari resiko pada proses pemberian layanan dalam pemberian layanan kesehatan.
Penerapan budaya keselamatan pasien April 2015 dengan Kapasitas tempat tidur
akan mendeteksi kesalahan yang akan dan 668 unit dengan jumlah perawat sebanyak
telah terjadi (Fujita et al., 2013; Hamdan & 564 orang, dari total tenaga medis
Saleem, 2013). Budaya keselamatan pasien persentase tenaga keperawatan sebesar
tersebut akan meningkatkan kesadaran 46,3 %. Karakteristik perawat pelaksana
untuk mencegah error dan melaporkan di RSUD Arifin Achmad berdasarkan data
jika ada kesalahan (Jeffs, Law, & Baker, ketenagaan keperawatan, jumlah perawat
2007). Hal ini dapat memperbaiki outcome pelaksana SPK 6 orang, D III Keperawatan
yang dihasilkan oleh rumah sakit terumah 450, S1 Keperawatan 114 orang. Jumlah
sakitebut. perawat pelaksana di ruang rawat inap
Budaya keselamatan pasien yang adalah sebanyak 284.
baik dapat memperkecil insiden yang Jumlah tenaga perawat sebanyak 284
berhubungan dengan keselamatan pasien. orang yang tersebar di 12 ruang rawat
Penelitian Harvard School of Public Inap dan beberapa poliklinik di RS Arifin
Health (HSPH) (2011) menyebutkan Achmad. RS Arifin Achmad juga telah
bahwa dari seluruh dunia 43 juta orang membentuk tim keselamatan pasien dan
dirugikan setiap tahun akibat perawatan telah menunjuk champion keselamatan
yang tidak aman. Sekitar 70% dari pasien pasien di masing-masing unitnya, akan
yang mengalami kesalahan medis tetapi ditemukan juga beberapa kejadian
menderita cacat ringan atau sementara, yang tidak diharapkan (KTD) dalam
7% pasien cacat permanen dan 13,6% masalah keselamatan pasien di RS Arifin
kasus berakibat fatal (Collinson, Throne, Achmad. Kejadian tidak diharapkan
Dee, MacIntyre, & Pidgeon, 2013). Data (KTD) tersebut antara lain di temukannya
dari National Patient Safety Agency, kesalahan dalam cara pemberian obat,
menyebutkan dari kurun waktu April- yakni dosis, jenis dan waktu pemberian
September 2012 di London Inggris pada obat sebesar 2 kejadian pada tahun 2014,
pelayanan kesehatan akut spesialis terjadi angka pasien jatuh 2013 sebanyak 8
insiden yang tidak diinginkan sebanyak kejadian, tahun 2014 sebanyak 13
56.1%. Perumah sakitentase insiden kejadian, tahun 2015 (januari-agustus)
terumah sakitebut menimbulkan kerugian sebanyak 5 kejadian. Kasus yang
ringan sebanyak 34.3 %, kerugian sedang dilaporkan terkait pelaporan kejadian
sebanyak 21.1%, kerugian berat sebanyak yang tidak diharapkan adalah kasus yang
0.5% dan sebanyak 0.2% berkibat fatal. membiarkan pasien yang harus dirawat 3
Data insiden tersebut berbeda kali pelaporan, kasus pasien meninggal
dengan data di Indonesia. Indonesia belum karena operasi 1 kali pelaporan, data ini
memiliki sistem pencatatan kesalahan memberikan gambaran masih adanya
secara nasional. Pelaporan data tentang masalah keselamatan pasien di RS Arifin
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) dan Achmad yang perlu menjadi perhatian
Kejadian Nyaris Cedera (KNC) belum mengingat insiden kejadain tidak
banyak dilakukan. Data tentang KTD dan diharapkan di rumah sakit diharapkan pada
KNC di Indonesia masih sulit ditemukan nilai zerro defect (tingkat insidensi 0%).
untuk dipublikasikan. Namun diperkirakan (Data Penanggungjawab Keselamatan
dampak kerugian akibat KTD dan KNC Pasien RS Arifin Achmad). Sehingga
tersebut cukup besar. Dampak dari KTD dirasakan perlu adanya upaya lain untuk
dapat berupa cacat ringan, sedang hingga meningkatkan mutu pelayanan yang lebih
berat, bahkan dapat berakibat fatal dan terstruktur salah satunya dengan kehadiran
kematian. champion keselamatan pasien. Selain itu
RS Arifin Achmad didirikan pada juga ditemukan Angka kejadian HAIs
tahun 1950–an yang merupakan Rumah (ISK, AIDP, VAP) sebesar 15,07 %, angka
Sakit Tipe B Pendidikan. Data pada bulan infeksi pasca operasi (ILO) periode
januari-juni 2015 sebanyak 0,95%. Angka optimal, dan masih adanya budaya
plebitis 5,81 %, sepsis 1,15%, HAP menyalahkan dan takut melaporkan
0,525% dan dekubitus 0,92% (Data PPI kesalahan.
RS Arifin Achmad). Berdasarkan latar belakang,
Tim keselamatan pasien juga fenomena dan studi dokumentasi serta
menyatakan bahwa dukungan dan wawancara yang dilakukan di RS Arifin
komitmen dari pihak manajemen rumah Achmad, maka peneliti tertarik ingin
sakit sudah baik yang ditandai dengan melakukan penelitian yang berjudul
penyediaan sarana dan fasilitas yang “Penerapan budaya keselamatan pasien
dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan pada perawat pelaksana di ruang rawat
keselamatan pasien. Hal ini juga didorong inap di RS Arifin Achmad tahun 2015.
oleh rencana rumah sakit untuk
melaksanakan akreditasi KARS pada
tahun 2016 yang mengharuskan rumah METODE PENELITIAN
sakit memperkuat setiap aspek dalam item Penelitian ini merupakan penelitian
penilaian akreditasi termasuk upaya kuantitatif. Desain atau pendekatan yang
pelaksanaan keselamatan pasien. digunakan adalah deskriptif. Populasi
Berdasarkan wawancara tersebut juga dalam penelitian ini adalah seluruh
teridentifikasi beberapa hambatan yang perawat pelaksana yang bekerja di ruang
berkaitan dengan budaya keselamatan rawat inap RS Arifin Achmad tahun 2015
pasien di antaranya pelaporan kejadian dengan jumlah 284 orang. Jumlah sampel
yang masih minim dan tidak sesuai dengan yang diperlukan sebanyak 166 perawat .
SPO yang telah ditetapkan, pelaksanaan 6
sasaran keselamatan pasien yang belum

HASIL DAN PEMBAHASAN


Penerapan Budaya Keselamatan

Variabel Frekuensi Persentase (%)


Kategori
Penerapan
budaya
Keselamatan 89 53,6
Pasien 77 46,4
a. Negatif
b. Positif
Sub Frekuensi Persentase (%)
Variabel
Kategori

Kerjasama
antar unit
a. Negatif 75 45,2
b. Positif 91 54,8
Kerjasama
dalam unit 62 37,3
a. Negatif 104 62,7
b. Positif
Operan
a. Negatif 86 51,8
b. Positif 80 48,2
Pelaporan
a. Negatif 73 44,0
b. Positif 93 56,0
Respon tidak
menghukum 97 58,4
a. Negatif 69 41,6
b. Positif
Komunikasi
terbuka 65 39,2
a. Negatif 101 60,8
b. Positif
Umpan balik
a. Negatif 74 44,6
b. Positif 92 55,4
Pembelajaran
organisasi 65 39,2
a. Negatif 101 60,8
b. Positif
Persepsi
a. Negatif 60 36,1
b. Positif 106 63,9

Hasil penelitian ini menunjukkan negatif, berarti budaya keselamatan pasien


lebih dari setengah responden memiliki diterapkan dengan kurang baik di rawat
budaya keselamatan negatif (53,6%) dan inap RSUD AA. Menurut O Toole yang
hasil observasi terkait penerapan budaya dikutip Jianhong (2009) budaya
keselamatan pasien (56%) perawat keselamatan dipelayanan kesehatan
memiliki budaya keselamatan pasien diartikan sebagai keyakinan, nilai perilaku
negatif, berarti budaya keselamatan pasien yang dikaitkan dengan keselamatan pasien
diterapkan dengan kurang baik di rawat yang secara tidak sadar dianut bersama
inap RS AA. Menurut peneliti, penerapan oleh anggota organisasi termasuk perawat
budaya keselamatan pasien yang kurang pelaksana yang secara langsung terlibat
baik di ruang rawat inap RS AA yaitu dalam memberikan asuhan keperawatan
dikarenakan untuk merubah budaya yang aman bagi pasien.
seseorang memerlukan waktu, serta Budaya keselamatan pasien
pengetahuan dan pemahaman. Dan juga merupakan suatu hal yang penting karena
perlunya penugasan yang jelas serta membangun budaya keselamatan pasien
adanya reward dan punishment dalam merupakan suatu cara untuk membangun
sebuah program, walaupun RS AA telah program keselamatan pasien secara
menjalankan program keselamatan pasien keseluruhan, karena apabila kita lebih
sejak tahun 2012, sudah berjalan kurang fokus pada budaya keselamatan pasien
lebih 4 tahun. maka akan lebih menghasilkan hasil
Hasil penelitian ini menunjukkan keselamatan yang lebih apabila
lebih dari setengah responden memiliki dibandingkan hanya memfokuskan pada
budaya keselamatan negatif (53,6%) dan programnya saja (Fleming, 2006).
hasil observasi terkait penerapan budaya Membangun kesadaran akan nilai
keselamatan pasien (56%) perawat keselamatan pasien, menciptakan
memiliki budaya keselamatan pasien kepemimpinan dan budaya yang terbuka
dan adil merupakan langgkah pertama di Amerika. Komite ini telah melakukan
dalam menerapkan keselamatan pasien penelitian-penelitian yang bertujuan untuk
rumah sakit (Depkes, 2008). Walshe & mengidentifikasi instrumen yang dijadikan
Boaden (2006) menyatakan bahwa alat untuk menilai budaya keselamatan.
kesalahan medis sangat jarang disebabkan AHRQ merumuskan dimensi-dimensi
oleh faktor kesalahan manusia secara yang menjadi tolak ukur bagi penerapan
individu, namun lebih banyak disebabkan budaya keselamatan pasien.
karena kesalahan sistem di rumah sakit,
yang mengakibatkan rantai – rantai dalam Dimensi kerja sama tim antar unit
sistem terputus. Masalah keselamatan pasien tidak hanya
Menurut peneliti, penerapan budaya masalah individu atau salah satu
keselamatan pasien yang kurang baik di kelompok. Oleh karena itu kerja sama tim
ruang rawat inap RSUD AA yaitu antar unit di rumah sakit sangat berperan
dikarenakan untuk merubah budaya dalam penerapan budaya keselamatan
seseorang memerlukan waktu, serta pasien yang pada gilirannya berperan
pengetahuan dan pemahaman. Dan juga dalam pelaksanaan keselamatan pasien di
perlunya penugasan yang jelas serta rumah sakit. Budaya keselamatan positif
adanya reward dan punishment dalam lainnya yaitu: kesadaran untuk bekerja
sebuah program, walaupun RSUD AA secara tim, melakukan analisis secara
telah menjalankan program keselamatan sistematik apabila terjadi KTD,
pasien sejak tahun 2012, sudah berjalan mendukung staf terkait dengan KTD,
kurang lebih 4 tahun. Selain itu, RSUD menjalin komunikasi dan melibatkan
AAjuga telah melakukan berbagai pasien dalam pengambilan keputusan serta
pelatihan maupun seminar terkait melakukan penilaian risiko sebagai
keselamatan pasien, serta didukung dengan langkah preventif terjadinya KTD (Reis,
karakterisitik responden terkait pernah 2006). Budaya keselamatan pasien
mengikuti pelatihan keselamatan pasien setidaknya mengandung unsur
sebanyak 96,4%. Selain itu tingkat kepemimpinan dan komitmen tinggi akan
pendidikan responden keseluruhan keselamatan pasien, keyakinan bahwa
pendidikan tinggi D III Keperawatan suatu KTD sebenarnya dapat diantisipasi,
84,9% dan S1 Keperawatan/ Ners 15,1 %, dan melaporkan secara rutin dan
hal ini belum dapat mempengaruhi seorang membahas KTD secara terbuka.
perawat dapat menerapkan budaya Hasil penelitian ini menunjukkan
keselamatan pasien yang baik, pada bahwa pada dimensi kerjasama antar unit
penelitian orang lain bertolak belakang ini 75 perawat (45,2%) memiliki budaya
dengan hasil penelitian ini yang negatif, dan 91 perawat (54,8%) memiliki
menyatakan bahwa bahwa seseorang budaya positif, serta dari hasil observasi
dengan tingkat pendidikan yang lebih justru perawat yang memiliki budaya
tinggi memiliki pengetahuan dan negatif 139 perawat (83,7%) dan budaya
keterampilan yang baik dalam positif 27 perawat (16,2%). Dari dua
menyelesaikan pekerjaannya termasuk instrument penelitian terlihat perbedaan
menjalankan program keselamatan pasien, hasil, menurut penelitian hal tersebut
dan pendidikan yang tinggi akan berusaha dikarenakan kekurangan dari salah satu
untuk mengaktualisasikan diri terhadap instrumen penelitian seperti kuisioner
pekerjaannya. adalah tingkat kebenaran hasil yang
Dalam penelitian ini menggunakan ditemukan kurang, dan dari hasil penelitian
kuisioner yang terdiri dari 9 dimensi menunjukkan bahwa masih terdapatnya
menurut Agency for Health Care Research perawat yang belum menerapkan budaya
and Quality (AHRQ) merupakan suatu keselamatan pasien Penerapan budaya
komite yang menangani kualitas kesehatan keselamatan pasien yang adekuat harus
ditunjang oleh seluruh unit di rumah sakit 80 perawat (48,2%). Hal ini
tersebut (Lee, Huang, Weng, Hsieh, & menunujukkan peran champion belum
Wu, 2014). Unit-unit ini diharapkan dapat optimal dalam meningkatkan dimensi kerja
bekerja sama membentuk suatu sistem sama tim dalam unit.
kerja sehingga proses pelayanan kesehatan Berdasarkan hasil penelitian masih banyak
dapat berjalan dengan optimal. perawat yang sulit untuk bersikap biasa
Terwujudnya pelayanan kesehatan pada rekan sesama tim yang telah
yang bermutu dan aman tergantung pada melakukan kesalahan. Respon anggota tim
kokohnya sistem yang dibangun dari unit- terhadap anggota tim lain yang melakukan
unit yang ada di rumah sakit (Kaufman & kesalahan masih cenderung menyalahkan.
McCaughan, 2013). Pendekatan sistem Budaya menyalahkan (blaming culture)
merupakan hal penting yang masih berkembang di rumah sakit. Hal ini
mempengaruhi peran perawat dalam mempengaruhi kerja sama tim di unit. Tim
menerapkan keselamatan pasien. yang baik adalah tim yang dapat
Pendekatan sistem merupakan hal yang memperlakukan rekan kerja yang lain
berpengaruh terhadap pengelolaan obat dengan baik, saling menghargai dan saling
yang aman oleh perawat serta dapat mendukung dalam melakukan tugas dalam
dilakukan melalui pelaporan insiden yang tim (Seibert, et al., 2011). Adanya blaming
efektif dan tidak memihak. Walaupun culture menciptakan lingkungan yang
perawat merupakan bagian penting dari tidak kondusif dalam tim. Anggota tim
‘sharp end’, akan tetapi pendekatan sistem yang bersalah sering kali dihukum secara
yang lebih baik merupakan hal yang paling sosial dengan dikucilkan atau dijauhi oleh
efektif untuk mencegah terjadinya anggota tim lain (McGuire, et al., 2013).
kesalahan. Dimensi Operan
Operan merupakan kegiatan rutin yang
Hasil penelitian ini sejalan dengan krusial yang dilakukan perawat setiap
penelitian Sammer, et al (2010) yang harinya. Informasi penting yang berkaitan
menyatakan bahwa penerapan budaya dengan pasien disampaikan melalui operan
kerja sama antar unit pada perawat ke unit pada setiap shift. Penelitian ini
lain dirumah sakit lemah, dikarenakan menunjukkan 86 perawat (51,8 %)
beban kerja perawat yang berat, serta memiliki budaya negatif dan 80 perawat (
perawat belum memahami keterkaitan 48,2%) memiliki budaya positif,
tugas mereka dengann unit lain. sedangkan dari hasil observasi ditemukan
Dimensi Kerja Sama Tim dalam Unit 48 perawat memiliki budaya negastif
Penerapan budaya keselamatan pasien (28,9%) dan 118 perawat memiliki budaya
dikatakan berhasil apabila semua elemen positif (71,1%) . Hal ini menunjukkan
yang ada di dalam rumah sakit sudah banyak perawat yang menerapkan
menerapkan budaya keselamatan pasien keselamatan pasien pada saat operan, akan
dalam pekerjaannya sehari-hari (Hudson, tetapi masih ditemukan juga perawat yang
2009; Reilling, 2006). Ruang rawat belum menerapkan budaya keselamatan
sebagai unit terkecil harus dapat saat operan. Informasi penting yang
menerapkan kerjasama tim yang adekuat berkaitan dengan perawatan pasien sering
guna menjamin pelaksanaan keselamatan hilang saat pergantian shift. Masalah
pasien di ruangan. Hasil penelitian terjadi saat melakukan pertukaran
menunjukkan bahwa 62 perawat (37,3%) informasi antar unit. Hal-hal buruk yang
memiliki budaya negatif, dan 104 perawat tidak diinginkan terkait keselamatan pasien
(62,7%) memiliki budaya positif sering terjadi ketika memindahkan pasien
sedangkan dari hasil observasi ke unit lain seperti ICU dan ruangan
menunjukkan budaya negatif terdapat pada lainnya.
86 perawat (51,8%), budaya positif pada Dimensi Pelaporan
Pelaporan kejadian merupakan suatu pasien, manfaat lainnya adalah keterlibatan
sistem yang penting dalam membantu staf pada manajemen risiko, meningkatkan
mengidentifikasi masalah KP dan dalam kesadaran staf, kesalahan dan keluhan
menyediakan data pada organisasi sebagai yang terjadi akan sampai pada jajaran
sistem pembelajaran (Walshe & Boaden, manajemen lebih cepat dan kejadian
2006). Tenaga profesional merupakan kesalahan yang lebih besar dapat dicegah
pekerja yang perfeksionis sehingga apabila (Jeff, Law & Baker, 2007).
terjadi kesalahan, maka akan Pelaporan yang baik akan tercipta jika
mengakibatkan permasalahan psikologis organisasi menciptakan lingkungan yang
yang dapat berdampak pada penurunan aman untuk pelaporan dan proses belajar.
kinerja. Pada penelitian ini menunjukkan Champion dapat berkontribusi terhadap
bahwa dimensi pelaporan pada tempat jalannya pelaporan kejadian dengan
penelitian masih berada pada budaya menciptakn lingkungan yang nyaman dan
negatif. Perawat yang tidak menerapkan meminimalkan budaya blaming culture.
pelaporan (budaya negatif) 73 perawat Champion juga dapat melakukan
(44%), dan 93 perawat (56%) yang pengarahan guna mendorong motivasi
menerapkan pelaporan (budaya positif), perawat dalam melaporkan kejadian
sedangkan dari hasil observasi ditemukan kesalahan.
139 perawat (83,7%) memiliki budaya Dimensi Respon Tidak Menghukum
negatif dan 27 perawat (16,2%) memiliki Hasil penelitian pada dimensi respon tidak
budaya positif. menghukum didapatkan perbedaan
Hasil penelitian sejalan dengan penelitian proporsi yaitu 87 perawat (52,4%) yaitu
Sammer,. et al (2010) yang mengatakan berada pada budaya negatif, sedangkan
bahwa budaya pelaporan sangat lemah, yang berada pada budaya positif 79
dan dalam penelitian tersebut menyatakan perawat (47,6%). Hal ini menunjukkan
bahwa pelaporan yang lemah diakibatkan bahwa perawat mayoritas perawat berada
takut disalahkan. Pelaporan merupakan pada budaya negatif pada dimensi respon
unsur penting dari keselamatan pasien. tidak menghukum. Respon dalam
Informasi yang adekuat akan digunakan menanggapi kesalahan yang dilaporkan
sebagai data untuk proses pembelajaran merupakan hal yang sensitif. Oleh karena
dalam meningkatkan upaya keselamatan itu, pertanyaan individu perlu dihindari,
pasien (Stewart & Usher, 2010). Perawat dan fokus pada apa yang terjadi, bukan
yang merasa aman bahwa akan siapa yang melakukan, hambatan dalam
diperlakukan secara adil dan tidak melakukan kerja yang baik, serta kejadian
mendapat hukuman karena laporan yang mungkin bisa timbul.
tersebut akan mendorong peningkatan Fokus pada perawat yang melakukan
frekuensi pelaporan kejadian. Hambatan kesalahan akan mempengaruhi kinerja
dalam pembuatan laporan dapat perawat karena mempunyai dampak pada
disebabkan beberapa hal anatara lain: psikologis perawat (Yahya, 2006).
perasaan takut disalahkan, belum Dimensi ini berfokus pada respon tidak
memahami cara pembuatan laporan dan menghukum terhadap kesalahan dan
kurang menyadari keuntungan pelaporan melihat suatu kejadian dari dua sisi. Selain
(Jeff, Law & Baker, 2007). National melihat akuntabilitasperawat juga juga
Patient Safety Agency (2009) menyatakan memperhatikan kesalahan dari sistem
bahwa respon tidak menghukum akan (Sammer et al, 2010). Fokus pada
meningkatkan pelaporan. Pelaporan yang kesalahan sistem akan lebih efektif
adekuat termasuk Kejadian Nyaris Cedera dibandingkan fokus pada kesalahan yang
(KNC) akan memberikan manfaat yang diperbuat, karena kesalahan medis sangant
signifikan. Manfaat utama adalah jarang disebabkan oleh faktor manusia
keselamatan pasien adalah keselamatan secara tunggal (Kachalia, 2013). Kualitas
hubungan antara champion dan perawat pentingnya berkomunikasi terbuka terkait
akan menentukan outcome. Hubungan keselamatan pasien. Keterbukaan
positif yang terbina antar champion dan merupakan salah satu komponen budaya
perawat pelaksana meningkatkan keselamatan pasien. Komunikasi terbuka
kepercayaan perawat terhadap champion merupakan prinsip yang harus diterapkan
dan mendorong pelaporan kesalahan. oleh tenaga kesehatan dalam
Perawat sering merasa kesalahan yang berkomunikasi dengan pasien, kelurga,
dilaporkan akan membawa dampak negatif rekan sejawat dan anggota tim kesehatan
sehingga kesalahan yang ada tidak lainnya. Dimensi komunikasi terbuka
dilaporkan. memiliki nilai rendah pada keterlibatan
Dimensi Komunikasi Terbuka dalam berdiskusi mengenai keselamatan
Komunikasi yang adekuat harus dibangun pasien. Sebagian besar merasa takut jika
dalam pelayanan keperawatan yang mendiskusikan masalah keselamatan
mengedepankan budaya keselamatan pasien, selain itu perawat tidak
pasien. Hal ini merupakan upaya untuk mendapatkan feedback dari atasan maupun
memenuhi hak pasien dalam pelayanan rekan kerja mengenai keselamatan pasien
kesehatan. Faktor penting lain dalam yang telah dilakukan. Hubungan saling
komunikasi yang erat kaitannya dengan percaya yang terbina antara perawat dan
minimizing liability adalah informed champion serta antara rekan satu tim
consent (persetujuan pasien atas tindakan diharapkan mampu membentuk
atau pelayanan yang diberikan). kepercayaan diri dan mau terbuka
Rekam medis dan dokumentasi asuhan sehingga dapat belajar dari kesalahan yang
keperawatan merupakan catatan tertulis telah diperbuat (Ali & Panther, 2008;
tentang aktivitas pelayanan kesehatan atau Reiling, 2006).
keperawatan dan merupakan catatan yang Dimensi Umpan Balik
dapat dijadikan sebagai alat bukti atas Dimensi umpan balik pada penelitian ini
tindakan atau pelayanan keperawatan yang berada pada budaya positif dengan jumlah
diberikan (Slater, et al., 2012). Berbagai perawat 98 (59%), sedangkan yang berada
bentuk kesalahan dapat diminimalisasi pada budaya negatif 68 perawat (41 %).
dengan melakukan pencatatan secara Hasil penelitian menyatakan bahwa
adekuat atas aktivitas pelayanan mayoritas perawat memiliki budaya
keperawatan yang diberikan. Selain itu positif, hal ini didukung oleh penelitian
pemenuhan atas hak pasien dengan Walshe & Boaden (2006) yang
mengacu pada penerapan standar profesi menyatakan bahwa budaya keselamatan
dan kode etik keperawatan seharusnya pasien akan meningkat apabila adanya
dijadikan dasar pemahaman yang tepat umpan balik yang baik terhadap kesalahan,
bagi perawat agar perawat dapat serta tidak menghukum. Tenaga
menyadari peran pentingnya dalam profesional merupakan pekerja yang
mendukung peningkatan budaya perfeksionis sehingga apabila terjadi
keselamatan pasien.Hasil penelitian kesalahan, maka akan mengakibatkan
menyatakan bahwa 87 perawat (52,4%) permasalahan psikologis yang dapat
berada pada budaya negatif dan 79 perawat berdampak pada penurunan kinerja
(47,6%) berada pada budaya positif. Hal pemberian umpan balik pada staf saat
ini menunjukkan mayoritas perawat berada mereka memberikan pelaporan kejadian
pada budaya negatif dalam penerapan berfokus pada pembelajaran tentang
komunikasi terbuka. Penelitian Sammer kejadian dengan akar masalah bukan pada
(2010) menghasilkan bahwa lemahnya pelaku dapat meningkatkan pelaporan
komunikasi pada penerapan budaya kejadian (NPSA, 2009). Umpan balik yang
keselamatan pasien dikarenakan takut baik adalah respon yang diberikan kepada
disalahkan serta perawat tidak memahami perawat pelaksana yang tidak menghukum,
mendengarkan dan memberikan tanggapan Pembelajaran didukung oleh umpan balik
terhdapa informasi yang diberikan oleh dan dukungan organisasi serta rekan satu
perawat pelaksana ( Walston, et al., 2010). tim di rumah sakit. Pembelajaran efektif
Beberapa hambatan dalam sistem untuk mencegah proses yang yang tidak
pelaporan kejadian di antaranya takut akan aman dan terjadinya kesalahan (McGuire,
hukuman, fokus pada hukuman, fokus et al., 2013)
pada ketidakjelasan identitas, bentuk dari Kejadian yang berhubungan dengan
pelaporan kejadian, kebingungan dari keselamatan pasien merupakan proses
hukuman kejadian yang tidak belajar untuk menjadi lebih baik. perawat
diharapkan/kejadian nyaris cedera, merupakan bagian dari budaya
sentinel, pengaruh yang tidak signifikan keselamatan pasien mampu belajar dari
dalam peningkatan kualitas pelayanan, kesalahan yang terjadi baik itu kejadian
kurangnya dukungan dari profesi dan yang tidak diinginkan ataupun kejadian
kurangnya umpan balik dari supervisor/ nyaris cedera. Pemberdayaan champion
manajer (Armellino, et al., 2010; Disch, et keselamatan pasien merupakan metode
al., 2011; Firth-Cozens, 2001). pengarahan yang dapat menciptakan
Dimensi Pembelajaran Organisasi pembelajaran di dalamnya. Champion
Dimensi pembelajaran terbentuk ketika dapat sebagai role model untuk
individu belajar dari kesalahan dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang
meningkatkan kemampuan sebagai bagian berkesinambungan (Hellings, et al., 2010;
dari sistem. Pembelajaran dimulai ketika McGuire, et al., 2013) Champion juga
pemimpin menjadi role model bagi dapat mengevaluasi proses pelaksanaan
perawat tidak hanya pada budaya yang upaya keselamatan pasien di unitnya
lemah melainkan juga budaya yang kuat masing-masing. Evaluasi dari proses
(Reiling, 2006; Sammer et al, 2010). Hasil belajar meningkatkan kesempatan untuk
penelitian mengenai dimensi pembelajaran berbagi ilmu yang didapat serta
terdapat perawat berada pada budaya meningkatkan proses belajar (Clancy,
negatif 87 perawat (52,4%),sedangkan 2011; Fleming, 2006; Sammer et al, 2010).
yang berada pada budaya positif 79 Dimensi Persepsi Umum terhadap
perawat (47,6%). Hal ini menunjukkan Keselamatan Pasien
masih kurangnya penerapan budaya Dimensi persepsi terhadap keselamatan
keselamatan pasien pada dimensi pasien pada penelitian ini hasilnya
pembelajaran organisasi. menunjukkan berada pada budaya positif
Salah satu faktor yang menghambat dengan perawat 92 (55,4%) dan yang
terbentuknya budaya keselamatan adalah berada pada budaya negatif 74 perawat
resistennya individu atau organisasi (44,6%). Hal ini menunjukkan mayoritas
terhadap proses perubahan (Kaufman & perawat berada pada budaya positif.
McCaughan, 2013). Hal ini dapat dicirikan Keterlibatan staf adalah aspek kunci dari
oleh ketidakmampuan untuk menerima budaya keselamatan positif. Hal ini
hal-hal baru dan cenderung untuk selalu bermanfaat untuk melibatkan kelompok-
mengedepankan cara-cara lama yang kelompok dalam merencanakan dan
dipertahankan, walaupun cara baru melaksanakan survei. Staf dapat terlibat
merupakan cara yang lebih efektif dalam proses dengan memiliki perwakilan
(Thomas & Classen, 2014). Pembelajaran pada panitia pengarah, membantu dalam
dilakukan untuk mengambil nilai dari distribusi survei pada tingkat departemen
kesalahan yang terjadi sehingga dapat atau berkontribusi sebagai informan
mencegah kesalahan tersebut berulang. dalam survei budaya keselamatan
Sistem pembelajaran tersebut harus (Fleming, 2007). Tujuannya adalah agar
dilakukan dengan baik sehingga dapat setiap staf terlibat dan merasa ikut andil
mengurangi resistensi terhadap perubahan.
dalam setiap proses pengembangan budaya bahwa champion keselamatan pasien
keselamatan di organisasinya. merupakan upaya positif dalam
Peningkatan pengetahuan staf melalui peningkatan penerapan budaya
diskusi yang dilakukan champion saat keselamatan pasien. Dimensi-dimensi pada
interaksi mengubah persepsi perawat budaya keselamatan pasien tersebut saling
pelaksana mengenai upaya keselamatan mempengaruhi dan tidak dapat berdiri
pasien yang dilakukan di rumah sakit. Hal sendiri dan keterlibatan semua elemen di
ini meningkatkan kesadaran dan cara rumah sakit sangat diperlukan dalam
berpikir perawat dalam mempersepsikan penerapan budaya keselamatan pasien
keselamatan pasien itu sendiri. Hasil (Hudson, 2009; Jeff, Law & Baker, 2007;
penelitian ini memberikan informasi Reilling, 2006).
[5]
Fleming, M. (2006). Patient safety
culture: sharing& learning from
each other.
http://www.capch.org/patientsafety
SIMPULAN culture. diperoleh 12 Februari
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka 2016.
[6]
kesimpulan yang didapatkan adalah Fujita, S., Seto, K., Ito, S., Wu, Y.,
sebagai berikut : Penerapan budaya Huang, C.-C., & Hasegawa, T.
keselamatan pasien pada perawat (2013). The characteristics of
pelaksana berada pada budaya positif. patient safety culture in Japan,
Taiwan and the United States.
UCAPAN TERIMA KASIH BMC Health Services Research,
13, 20-20. doi: 10.1186/1472-
Terima kasih kepada universitas abdurrab 6963-13-20.
[7]
atas bantuan dana hibah penelitian yang Gillies Dee Ann. (2010). Manajemen
telah diberikan kepada peneliti. Serta Keperawatan: Suatu pendekatan
responden maupun tempat penelitian yaitu Sistem. Philadelphia: WB Saunders
RSUD Arifin Achmad termakasih atas Company.
[8]
kerjasamanya. Hastono, S. P. (2007). Analisis data
kesehatan. Jakarta: Fakultas
REFERENSI Kesehatan Masyarakat Universitas
[1]
Cahyono, B. (2008). Membangun Indonesia.
[9]
budaya keselamatan pasien dalam Hudson, P. (2009). Safety culture-theory
praktik kedokteran.Yogyakarta: and
Penerbit Kanisius. practice.http://www.ftp.rta.nato.int/
[2]
Dharma, K. K. (2011). Metodologi public/pubFultext/RTO/MP/RTO-
penelitian keperawatan: Panduan MP-032///MP-032-08.pdf.
melaksanakan dan menerapkan Diperoleh tanggal 12 Februari
hasil penelitian. Jakarta: TIM 2016.
[3] [10]
Departemen Kesehatan RI. (2011). Hughes, R. G. (2008). Patient safety
Panduan nasional keselamatan and quality: an evidence-based
pasien rumah sakit (patient safety). handbook for nurses. Rockville
Jakarta: Depkes RI. MD: Agency for healthcare
[4]
Ferguson, J & Fakelman, R. (2007). The reasearch and quality publication,.
culture factor. Proquest Health http:/www.ahrq.gov/QUAL/nurseh
Management, 1 (22), 33-40. doi: dbk/.
10.1111/j.1365-2702.2010.03285.
[11]
Ilyas Y. (2009). Perencanaan Sumber
Daya Manusia Rumah Sakit. Jawa
Barat: CV Usaha Prima.
[12]
Jeffs, L., Law, M., & Baker, G. R.
(2007). Creating reporting &
learning cultures in helath-care
organizations. The Canadian
Nurse, 103(3), 16.
[13]
Kachalia, A. (2013). Improving patient
safety through transparency. The
New England Journal Of Medicine,
369(18), 1677-1679. doi:
10.1056/NEJMp1303960
[14]
Kaufman, G., & McCaughan, D.
(2013). The effect of organisational
culture on patient safety. Nursing
Standard, 27(43), 50-56.
[15]
KKP-RS (2008). Pedoman pelaporan
insiden keselamatan pasien (IKP).
Jakarta: KKP-RS.