Anda di halaman 1dari 15

PT.

TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

Kegiatan : Pengembangan Dan Pegelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan


Pengairan Lainnya
Pekerjaan : Konstruksi Rehabilitasi jaringan Irigasi D.I Cipari/Ciwuni
Lokasi : Kec. Walantaka Kota Serang & Kec. Kragilan Kab. Serang
Waktu Pelaksanaan : 150 (Seratus Lima Puluh) Hari Kalender
Sumber Dana/TA : APBD Provinsi Banten/2018

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Metode konstruksi adalah bagian yang sangat penting dalam pekerjaan Konstruksi
Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. Cipari/Ciwuni, yaitu untuk mencapai tujuan dari
penyelesaian pekerjaan tersebut, yaitu biaya, kualitas dan waktu. Aspek teknologi, sangat
berperan dalam suatu pekerjaan konstruksi. Umumnya banyak diterapkan dalam metode-
metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Penggunaan metode yang efektif, efisien, cepat,
dan aman, sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi.
Sehingga target waktu, biaya dan mutu sebagaimana ditetapkan dalam kontrak kerja dapat
tercapai.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Dalam Metode Pelaksanaan ini, maksud dan tujuannya adalah untuk menjelaskan tahapan
dari pelaksanaan pekerjaan, baik pekerjaan utama maupun pekerjaan penunjang, sehingga
dapat dilihat keterkaitan dari masing – masing pekerjaan maupun antar pekerjaan
terhadap spesifikasi yang telah disyaratkan.

Hal – hal yang perlu mendapatkan perhatian dan pertimbangan dalam meyusun suatu
metode pelaksanaan antara lain meliputi :

1) Bahan material yang akan digunakan.


2) Tenaga kerja yang diperlukan, baik tenaga local maupun tenaga yang didatangkan
/tenaga yang terampil (skill labaour).
3) 3. Alat dan peralatan yang tepat yang digunakan, apakah alat manual atau alat
berat/mekanik.
4) Faktor eksternal seperti cuaca, ataupun adanya sistem buka tutup saluran irigasi
oleh kelompok tani setempat, sangat mempengaruhi hari – hari kerja yang efektif
dalam menyelesaikan pelaksanaan pekerjaan.

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 1


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

II. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup item/jenis pekerjaan pada pekerjaan Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I
Cipari/Ciwuni adalah sebagai berikut :

I. PERSIAPAN

1. Mobilisasi dan Demobilisasi Alat dan SDM


2. Direksikeet
3. Pembuatan Papan Nama Pekerjaan
4. Pengukuran (MC-0 s/d MC-100)
5. Pemasangan Bouw Plank
6. Sosialisasi (Awal dan Akhir)

II. PEKERJAAN TANAH / SALURAN


1. Pembersihan dan Pengupasan permukaan tanah- 1 M Pembersihan dan
striping/kosrekan
2. Pekerjaan Galian Tanah Biasa - 1 M3 Galian Tanah Biasa sedalam s.d 1 m
3. Galian Lumpur - Galian Lumpur sedalam 1 m
4. Timbunan dan Pemadatan - M3 Timbunan Tanah atau Urugan tanah
kembali termasuk perataan dan perapihan

III. PEKERJAAN PASANGAN


1. Pekerjaan Bongkaran
2. 1 M3 Pekerjaan Pasangan Batu belah
3. 1 M2 Pekerjaan Plesteran dengan mortar jenis PC-PP

IV. PEKERJAAN BETON


1. 1 M3 Beton Mutu fc'14,5 Mpa (K175), slump (12+2) cm
2. Pembesian dengan besi ulir U 39
3. Bekisting dan Perancah

V. PEKERJAAN LAIN-LAIN
1. Foto Dokumentasi dan Pelaporan
2. Penggambaran Shop Drawing dan Asbuilt Drawing

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 2


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

III. METODE PEKERJAAN

I. PERSIAPAN

1. Mobilisasi dan Demobilisasi Alat & SDM


Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah diterbitkannya Surat Perintah Mulai
Kerja (SPMK) oleh Pengguna Jasa, Penyedia Jasa harus sudah melaksanakan
mobilisasi baik mobilisasi bahan, peralatan yang digunakan maupun tenaga kerja.
Penyedia Jasa diharuskan menggunakan tenaga kerja setempat, kecuali untuk
pekerjaan tertentu yang perlu penanganan khusus maka tenaga untuk pekerjaan
tersebut didatangkan tenaga kerja dari luar lokasi pekerjaan.

Selain itu dalam pengadaan bahan-bahan/material lokasi seperti batu belah, pasir
pasang, pasir beton, kerikil beton/split beton, kayu/bambu dapat bekerja sama
dengan masyarat.

Jenis peralatan dan jumlah peralatannya agar disesuaikan dengan kebutuhan


pelaksanaan pekerjaan, yaitu :
1) Mobil Pickup
2) Concrete Mixer/Beton Molen
3) Pompa Air Diesel
4) Stamper
5) Theodolit
6) Waterpass

Dalam daftar kuantitas disediakan biaya untuk Mobilisasi dan Demobilisasi. Biaya
ini termasuk : biaya transportasi untuk personil dan alat – alat yang berkaitan
dengan pelaksanaan pekerjaan.

2. Direksikeet
Peleksanaan pekerjaan konstruksi dilapangan dapat berhasil dengan baik dari segi
waktu dan mutu apabila dikelola dengan tata kelola manajemen adminsitrasi yang
baik. Salah satu sarana untuk dapat mengelola dengan baik adalah tersedianya
tempat bagi pengawas proyek dan kontraktor yang berupa direksi keet, untuk :
 Membuat laporan, mempelajari gambar, membuat gambar kerja dan semua
administrasi proyek.
 Penempatan alat pengolah data proyek, alat komunikasi dll, sehingga
hubungan/komunikasi antara Direksi, Konsultan pengawas dan kontraktor
dapat berjalan dengan baik.
Selain bangunan direksi keet, juga diperlukan bangunan gudang untuk menyimpan
alat kerja dan material yang rentan terhadap cuaca dan yang mudah hilang seperti :
bor listrik, gerinda listrik, vibrator, semen, keramik, cat, kabel, alat sanitair dan
lainnya. Bangunan gudang menggunakan rangka kayu kaso, penutup dinding dari
multiplek 9 mm dan penutup atap menggunakan asbes/seng gelombang, lantai
dengan discreeding. Direksi keet lapangan dan gudang didirikan pada area yang
tidak mengganggu proses berlangsungnya pelaksanaan pekerjaan.

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 3


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

3. Papan Nama Proyek


Papan Nama Pekerjaan harus sudah dibuat dan dipasang pada saat awal
pelaksanaan pekerjaan. Dengan tujuan sebagai bagian dari keterbukaan informasi
publik kepada masyarakat luas, juga dapat menjadi media sosialisasi kepada
masyarakat setempat.

Uraian Pelaksanaan :
 Papan Nama ini dibuat dari Multiplex tebal 9 mm, dengan ukuran 60 x 80
cm, ditopang kayu kaso (5/7) kelas II (kayu borneo) dengan tinggi tiang 3 m
dari permukaan tanah dan dicat dengan warna dasar putih yang sesuai dan
huruf cetak berwarna hitam menggunakan banner plastik yang berisi
informasi mengenai cakupan kegiatan yang akan dilaksanakan.
 Tiang penyangga papan ditanam dengan kedalaman min. 25 cm dan diberi
adukan 1Pc:3Krkl:5Ps
 Kemudian papan nana tersebut dipasang pada lokasi yang mudah dilihat
oleh warga masyarakat, namun tidak sampai menggangu lalu-lintas.

4. Pengukuran
Pengukuran dilakukan untuk mengetahui ketinggian dan keadaan topografi daerah
pekerjaan secara memanjang dan secara melintang sebelum pekerjaan dimulai yang
disebut MC 0% (Mutual Check). Setelah pengukuran dilaksanakan maka akan
dihasilkan gambar yang akan dilengkapi dengan rencana letak bangunan dan
sebagai acuan pekerjaan di lapangan untuk menetapkan :

o Batas pekerjaan
o Posisi bangunan yang ada
o Posisi setiap pekerjaan yang akan dikerjakan
o Menentukan elevasi setiap pekerjaan yang akan dikerjakan

Uraian Pelaksanaan :
 Mempersiapkan peralatan / alat ukur (waterpass dan theodolite), juru ukur,
patok – patok serta peralatan lainnya yang diperlukan untuk pengukuran.
 Pekerjaan ini kami mulai dengan memasang patok yang terbuat dari balok
kayu 4/6 dengan jarak yang telah ditentukan.
 Patok – patok yang telah terpasang tidak boleh goyang dan berpindah
tempat karena telah memiliki elevasi yang didasarkan pada BM sekitar
setelah dilakukan pengukuran.
 Setelah diperoleh data pengukuran, data tersebut diolah untuk mendapatkan
gambar kerja (working drawing) sebagai panduan pekerjaan di lapangan,
dan harus mendapat persetujuan dari Direksi dan Konsultan Pengawas.
 Setiap pekerjaan lapangan yang telah selesai dikerjakan, harus dilakukan
pengecekan dan pengukuran ulang (MC 100%) di lokasi pekerjaan
dimaksud dan dibuatkan gambar purna laksana (asbuilt drawing) sebagai
tanda pekerjaan selesai.

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 4


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

5. Pemasangan Bouwplank
 Setelah ukuran dan penempatan titik diketahui, selanjutnya pada lokasi tersebut
dipasang lengkap selanjutnya memasang patok-patok bowplank untuk
menentukan ketinggian hasil pengukuran.

 Bahan papan bowplank adalah ukuran 2/20-2 m dari kayu papan kering kuat
dan baik di ketam bagian atas supaya rata dan bahan patok dari kayu 5/7
panjang menyesuaikan.

 Kedudukannya harus kuat dan tidak mudah goyah

 Berjarak cukup dari rencana galian, diusahakan bouwplank tidak goyang


akibat pelaksanaan galian

 Terdapat titik atau dibuat tanda-tanda.

 Sisi atas bouwplank harus terletak satu bidang (horizontal) dengan papan
bouwplank lainnya.

 Letak kedudukan bouwplank harus seragam (menghadap kedalam bangunan


semua)

 Garis benang bouwplank merupakan as (garis tengah) daripada pondasi dan


dinding batu.

6. Sosialisasi
Kontraktor akan mengadakan sosialisasi yang berkenaan dengan pelaksanaan
pekerjaan tersebut diatas pada masyarakat yang terkait, aparat desa, Lurah, RT dan
RW dengan didampingi oleh Pengguna Jasa atau perwakilannya, yang wilayahnya
dilewati untuk jalan logislik maupun mobilisasi / demobilisasi alat. Juga untuk
menerangkan pekerjaan yang dilakukan didaerah tersebut dan manfaatnya bagi
masyarakat sekitarnya serta menampung aspirasi masyarakat sehingga pekerjaan
dapat berjalan dengan lancar.

II. PEKERJAAN TANAH/SALURAN

1. Pembersihan dan Pengupasan permukaan tanah (Striping/Kosrekan)


 Semua lahan dalam batas daerah pelaksanaan yang perlu diadakan
pembersihan seperti ditentukan Direksi harus dibersihkan dari semua pohon
dan benda-benda yang mengganggu, serta harus dibuang dari tempat
pekerjaan kecuali ada ketentuan lain dari Direksi.

 Penebangan pepohonan, tumbuh-tumbuhan, semak belukar dan sebagainya.


Kosrekan dari akar tumbuh-tumbuhan yang ada pembongkaran tonggak,
sampah sisa bangunan dan dinding, serta lumpur.

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 5


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

 Semua pembongkaran dan pembersihan seperti tersebut diatas dan tanah yang
tidak memenuhi syarat-syarat konstruksi harus dibuang ketempat yang
ditunjuk oleh Direksi secara tertulis.

2. Galian Tanah Biasa ( sedalam s.d 1 m)


 Pekerjaan Galian tanah biasa yang dimaksud adalah galian tanah untuk pondasi
atau tubuh konstruksi, penggalian harus dilaksanakan mengikuti profil-profil
yang telah ada dan samapi kedalaman sesuai rencana atau sesuai petunjuk dan
perintah Direksi.

 Kemiringan tebing/tanah galian dibuat sedemikian rupa dan disesuaikan


dengan kondisi tanah setempat agar tidak terjadi longsor.

 Apabila penggalian sampai elevasi rencana tanah dasarnya tidak sesuai


persyaratan/tidak cocok untuk tanah pondasi, maka atas perintah Direksi,
Penyedia Jasa harus mengganti lapisan tanah tersebut dengan tanah yang baik
dan dipadatkan sampai tingkat kepadatan tertentu sesuai petunjuk Direksi.

3. Galian Lumpur (sedalam 1 m)


 Galian tanah yang dimaksud adalah galian tanah lumpur untuk saluran. Galian
harus dikerjakan/dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana baik dimensi
maupun elevasinya.

 Apabila galian melebihi elevasi rencana, maka kelebihan tersebut adalah


merupakan tanggung jawab / resiko Penyedia Jasa. Apabila dipandang perlu
oleh Direksi maka kelebihan tersebut harus diisi kembali.

 Apabila sampai elevasi rencana, keadaan tanahnya tidak sesuai dengan


persyaratan maka Penyedia Jasa harus segera melaporkan kepada Direksi untuk
diambil langkah lebih lanjut.

 Tanah hasil galian harus dibuang ketempat pembuangan yang disetujui Direksi
atau ketempat yang telah direncanakan. Pembuangan hasil galian dilaksanakan
sedemikian rupa dengan menggunakan peralatan yang memenuhi syarat sesuai
kondisi lapangan.

 Penumpukan hasil galian harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak


mencemari lingkungan dan membahayakan daerah sekitar. Penumpukan harus
diatur serapih mungkin sesuai arahan dan petunjuk Direksi.

4. Timbunan dan Pemadatan


 Tanah yang dipergunakan untuk timbunan diperoleh dari tempat yang telah
disetujui oleh direksi atau usulan dari pelaksana/Penyedia Jasa yang disetujui
direksi. Bahan yang dipakai harus bersih dari kotoran, akar, humus dan
kotoran. Jika perlu dihilangkan terlebih dahulu lapisan-lapisan yang dianggap
tidak baik untuk penimbunan.

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 6


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

 Tanah yang akan dipergunakan untuk penimbunan harus dihancurkan


terlebih dahulu dan tidak boleh berbentuk gumpalan-gumpalan tanah dan
harus dibersihkan dari kotoran yang dapat membusuk.

 Untuk mencapai nilai pemadatan yang optimal diperlukan kadar air yang
optimum pada tanah timbunan.

 Pemadatan dapat dilakukan dengan alat pemadatan manual atau mekanik.

III. PEKERJAAN PASANGAN

1. Bongkar Pasangan Batu (manual)


 Pekerjaan Bonkaran Pasangan Lama disesuaikan dengan dimensi dan titik
yang telah diarahkan oleh Direksi.

 Pekerjaan Bongkaran pasangan lama yang akan dilaksanakan harus disetujui


dan sesuai instruksi dari Direksi.

 Material bekas hasil bongkaran harus dibuang ketempat pembuangan yang


telah disetujui oleh Direksi.

2. Pasangan Batu Belah


 Batu belah yang dipergunakan untuk pekerjaan pasangan harus berbentuk
rapih dimensi 15 – 20 cm sehingga pada pasangan tidak terdapat rongga –
rongga besar diantara batu belah itu sendiri, celah diantara batu belah itu
tidak boleh tebal dan bila terjadi rongga yang besar harus diisi dengan batu
belah yang kecil.

 Batu belah yang dipakai harus dibasahi dahulu sehingga kenyang/ jenuh air
dan tidak menghisap air yang berada pada mortel/adukannya.

 Pemasangan batu belah harus disusun dengan rapi dan ruang antara batu
belah (rolah) harus diisi dengan mortel/adukan.

 Apabila diperkirakan akan turun hujan, maka sebelum pekerjaan ditinggalkan


pasangan batu harus ditutup dengan kertas semen, papan – papan dan
sebagainya guna melindungi agar pasangan baru tidak langsung tertimpa air
hujan, yang mungkin merusak pasangan tersebut.

 Tembok yang langsung terletak diatas tanah harus terlebih dahulu didasari
lapisan spesi setebal 2 cm dengan campuran yang sama dengan spesi tembok
permukaan tembok yang kelihatan, tidak diplester tetapi dibuat sebagai
pekerjaan halus dengan batu belah yang diratakan dan disiar dengan spesi 1
PC : 2 psr.

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 7


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

 Pasangan batu belah keseluruhannya menggunakan spesi/adukan 1 PC : 4


psr.

3. Plesteran dengan Mortar (1PC : 3 Psr)


 Pekerjaan Plesteran digunakan untuk menghaluskan permukaan khusus pada
bagian muka bangunan sehingga terlindung dari air dan hal lainnya. Tebal
plesteran dibuat 1,00 cm, dengan campuran spesi 1 PC : 3 psr, pekerjaan
plesteran harus rata, lurus dan rapih.

 Sebelum pekerjaan plesteran dilakukan, maka bidang dasar harus dibuat kasar
dan bersih. Setelah pekerjaan plesteran selesai dan cukup kering, berikutnya
harus dipelihara dengan siraman air secara rutin. Lokasi secara rinci untuk
plesteran tersebut akan ditunjukkan dalam gambar rencana atau ditunjukkan
Direksi.

IV. PEKERJAAN BETON

1. Beton Mutu fc’ 14,5 Mpa (K-175), slump (12+2) cm


 Beton Mutu K 175 adalah adukan beton dengan karakteristik kuat tekan
karakteristik 175 kg/cm2. Adukan beton dibuat dengan concrete mixer/beton
molen dengan type dan kapasitas yang mendapat persetujuan direksi.
Kecepatan aduk sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuatnya. Kapasitas
aduk tidak boleh lebih dari yang diijinkan.

 Pelaksanaan pekerjaan beton harus mengikuti peraturan-peraturan dan


ketentuan-ketentuan sesuai dengan spesifikasi teknik.

 Semua adukan yang dipakai untuk bangunan yang akan dikerjakan harus
terdiri dari bahan-bahan yang memenuhi syarat dan harus dicampur dengan
perbandingan yang sesuai berdasarkan mix design, dicor dan dituang sesuai
dengan ketentuan-ketentuan dan persyaratan teknik.

 Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton struktural dengan mutu


K 175, Penyedia Jasa harus membuat Rancangan Campuran Beton (Job Mix
Disain). Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik
yang diperoleh dari pengujian benda uji kubus umur 28 hari.

 Mutu beton untuk masing-masing komponen struktur adalah seperti yang


dijelaskan dalam Gambar Bestek dan Bill of Quantity.Job Mix Disain adalah
hasil pekerjaan ahli beton pada Laboratorium Beton yang diakui oleh
Pemerintah.

 Material Pasir dan Batu Pecah yang dipakai untuk Job Mix Disain haruslah
material yang akan dipakai nantinya pada pelaksanaan dilapangan dan

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 8


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

material tersebut tersedia dalam jumlah yang cukup dilokasi pekerjaan sampai
volume pekerjaan beton selesai dikerjakan.

Campuran Beton:
 Beton harus dibentuk dari Portland Cement, pasir, kerikil/batu pecah, air
seperti yang ditentukan sebelumnya, semuanya dicampur dalam
perbandingan yang sesuai dan diolah sebaik-baiknya sampai pada ketentuan
yang tepat.

 Ukuran maximum agregat kasar dalam beton untuk bagian-bagian dari


pekerjaan tidak boleh melampaui ukuran yang sepraktis mungkin hingga
tercapai pengecoran yang tepat dan memuaskan atau ukuran yang ditetapkan
oleh Direksi.

 Perbandingan antara bahan-bahan pembentuk beton yang dipakai untuk


berbagai pekerjaan (sesuai kelas/mutu) harus ditetapkan dari waktu kewaktu
selama berjalannya pekerjaan, demikian juga pemeriksaan terhadap agregat
dan beton yang dihasilkan.

 Perbandingan campuran dan faktor air semen yang ditetapkan atas dasar
beton yang dihasilkan, yang mempunyai kepadatan yang tepat, kekedapan,
keawetan dan kekuatan yang dikehendaki, dengan tidak memakai semen
terlalu banyak.

 Faktor air semen beton (tidak terhitung air yang dihisap oleh agregat) tidak
boleh melampaui 0,55 (dari beratnya).

 Pengujian dari beton dilakukan oleh Direksi dan perbandingan-perbandingan


campuran harus dirubah jika perlu untuk tujuan atau penghematan yang
dikehendaki, dalam kepadatan, kekedapan keawetan atau kekuatan, dan
kontraktor tidak berhak mengajukan tambahan biaya atau penambahan atau
kompensasi yang disebabkan oleh perubahan tersebut.

 Banyaknya air yang dipakai untuk beton harus diatur menurut keperluan
untuk menjamin beton dengan konsitensi yang baik dan untuk menyesuaikan
variasi kandungan lembab atau gradasi (perbutiran) dari agregat sewaktu
dituangkan dalam mesin pengaduk (mixer).

 Penambahan air untuk mencairkan beton kaku hasil pengadukan yang terlalu
lama atau yang menjadi kering sebelum dipasang sama sebelah tidak
diperkenankan.

2. Pembesian
 Pekerjaan pembesian mencakup pengadaan dan pemasangan besi tulangan
sesuai dengan spesifikasi dan gambar, atau sebagaimana diperintahkan oleh
Direksi. Besi tulangan berupa besi ulir/polos, kawat pengikat untuk mengikat

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 9


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

tulangan harus kawat baja yang telah dilunakkan. Dalam pemasangan


pembesian/tulangan harus diperhatikan :
- Panjang dan pembengkokan tulangan
- Diameter tulangan
- Rangkaian/susunan penulangan dan jarak antara tulangan
- Kekencangan/kekuatan kawat pengikat
- Letak penahan jarak terhadap ketebalan selimut beton

 Penggunaan baja tulangan yang mengalami pembengkokan pada awalnya


baja tulangan tersebut harus dalam keadaan lurus dan bebas dari tekukan-
tekukan, bengkokan-bengkokan atau kerusakan. Dalam pengerjaan
pembengkokan tulangan tindakan pengamanan harus diambil untuk
menjamin bahwa sifat fisik dari baja tidak terlalu banyak berubah.

 Tulangan harus dibersihkan sesaat sebelum pemasangan untuk


menghilangkan kotoran, lumpur, oli cat, karat dan kerak, percikan adukan
atau lapisan lainnya yang dapat mengurangi atau merusak pelekatan dengan
beton.

 Tulangan harus secara tepat ditempatkan sesuai dengan gambar dan dengan
kebutuhan selimut penutup minimum yang disyaratkan atau yang
diperintahkan direksi.

3. Bekisting dan Perancah


 Cetakan untuk beton yang sesuai dengan bentuk yang dikehendaki harus
dibuat sedemikian rupa kuatnya. Cetakan dapat terbuat dari logam,
lembaran plywood, papan kayu yang dipres atau dari papan kayu yang
diserut halus, dan dalam keadaan baik sebagaimana dikehendaki untuk
menghasilkan permukaan yang sempurna seperti yang ditentukan.

 Permukaan cetakan harus menghasilkan permukaan beton yang halus dan


rata. Cetakan tersebut harus berkekuatan dan mempunyai kekuatan tetap
dalam tempat dan bentuk selama pembebanan dan selama berlangsungnya
pekerjaan penggetaran untuk pemadatan beton.

 Sebelum beton dicor, permukaan dari cetakan-cetakan harus diminyaki


dengan minyak yang biasa diperdagangkan untuk mencegah secara efektif
lekatnya beton pada cetakan dan tidak akan mengotori beton. Semua
material untuk melepaskan lekatan boleh dipakai hanya setelah disetujui
oleh Direksi.

 Penggunaan minyak cetakan harus hati-hati untuk mencegah kontak


dengan besi tulangan dan mengakibatkan kurangnya daya lekat.

 Cetakan harus cukup rapat untuk mencegah kebocoran adukan. Cetakan ini
dapat disanggah selama pengecoran beton pada pilar-pilar beton (concrete
pier), kaki logan (metal pedestral) atau oleh cara-cara lain yang disetujui

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 10


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

oleh Direksi. - Penyangga cetakan (perancah) harus berdiri pada pondasi


yang baik sehingga tidak akan ada kemungkinan penurunan cetakan selama
pelaksanaan pengecoran.

Waktu dan Cara Pembukaan Cetakan :


 Waktu dan cara pembukaan dan pemindahan cetakan harus sesuai dengan
petunjuk Direksi dan pekerjaan ini harus dikerjakan dengan hati-hati untuk
menghindarkan kerusakan pada beton.

 Beton yang masih muda tidak diijinkan untuk dibebani. Segera setelah
cetakan- cetakan dibuang, permukaan beton harus diperiksa dengan hati-
hati dan permukaan yang tidak beraturan harus segera diperbaiki sampai
disetujui Direksi.

 Waktu pembongkaran cetakan terhitung sejak selesai pengecoran, harus


terlebih dahulu disetujui Direksi, pada umumnya setelah beton berumur 3
minggu. Apabila ada jaminan bahwa setelah cetakan acuan dibongkar,
beban yang bekerja pada bagian konstruksi itu tidak akan melampaui 50 %
dari beban rencana total, maka pembongkaran cetakan dan acuan itu dapat
dilakukan setelah beton berumur 2 minggu. Jika tidak ditentukan lain,
cetakan samping dari balok, dan dinding boleh dibongkar setelah 3 hari.

 Cetakan-cetakan balok dapat dibongkar setelah dari semua


penunjangnya/perancah kelihatan baik dan baik pula pembetonannya.

 Bagian-bagian konstruksi dimana terjadi sarang-sarang kerikil harus


diperbaiki dengan penuh keahlian.

Perawatan :
 Semua beton harus dirawat dengan air. Direksi berhak menentukan cara
perawatan yang harus dipakai pada bagian-bagian pekerjaan.

 Beton dirawat dengan air, harus tetap basah paling sedikit 14 hari terus
menerus segera sesudah beton cukup keras untuk mencegah kerusakan,
dengan cara menutupnya dengan bahan yang dibasahi air atau dengan
pipa-pipa berlubang, penyiraman mekanis, atau cara lain yang disetujui
Direksi yang akan menjaga agar permukaan selalu bersih.

Perlindungan :
 Penyedia Jasa harus melindungi semua beton terhadap kerusakan-kerusakan
sebelum penerimaan terakhir oleh Direksi.

 Permukaan beton yang terbuka harus dilindungi terhadap sinar-sinar


matahari yang langsung paling sedikit 3 (tiga) hari sesudah pengecoran.
Perlindungan semacam itu harus dibuat efektif segera setelah pengecoran
beton tanpa cetakan atau sesudah pembukaan cetakan-cetakan tersebut.

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 11


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

V. PEKERJAAN LAIN-LAIN

1. Foto Dokumentasi & Pelaporan


Penyedia Jasa harus membuat Pelaporan dan Foto Dokumentasi yaitu :
 Foto Dokumentasi
Laporan dokumentasi yang menunjukkan tempat kemajuan dan penyelesaian
pekerjaan. Untuk setiap titik pengambilan diambil 3 (tiga) kali ( 0%, 50% dan
100% ) dengan diberi catatan/keterangan mengenai nama objek pekerjaan
yang di foto serta disusun sesuai dengan urutan-urutan pelaksanaan pekerjaan
dan masing-masing dicetak 5 (lima) rangkap cetak foto. Pada waktu serah
terima pekerjaan foto tersebut diserahkan kepada direksi dalam keadaan
tersusun dalam bentuk laporan dokumentasi.

 Laporan Harian
Laporan pelaksanaan harian berisi tentang pekerjaan yang dilaksanakan,
volume, tenaga kerja, bahan, peralatan serta waktu dan kondisi cuaca
pelaksanaan pekerjaan pada hari kerja. Laporan ini harus dibuat setiap hari
kerja dengan disahkan oleh pihak direksi dan konsultan (bila ada)

 Laporan Mingguan
Laporan mingguan berisi rekapitulasi pelaksanaan pekerjaan tiap minggu
dengan melampirkan laporan harian yang telah disahkan dan dilaporkan, serta
jadwal pelaksanaan yang berisi rencana serta kemajuan pekerjaan. Laporan ini
harus dibuat setiap minggu dengan disahkan oleh pihak direksi dan konsultan
Pengawas.

 Laporan Bulanan
Laporan bulanan berisi rekapitulasi pelaksanaan pekerjaan tiap bulan dengan
melampirkan laporan harian dan mingguan yang telah dilaporkan dan
disahkan serta jadwal pelaksanaan yang berisi rencana serta kemajuan
pekerjaan. Laporan ini dibuat secara utuh setiap bulan dengan disahkan oleh
pihak direksi dan konsultan (bila ada) dan diserahkan selambatlambatnya akhir
bulan dibuat 5 rangkap.

 Laporan Dokumen Mutual Check (MC)


Laporan ini berisi berita acara beserta lampiran pelaksanaan mutual check dan
dibuat 5 rangkap.

 Laporan Amandemen
Laporan ini berisi dokumen perubahan beserta berita acara beserta
lampirannya dan dibuat 5 rangkap.

 Laporan PHO dan FHO


Laporan ini berisi dokumen serah terima pekerjaan, berita acara beserta
lampirannya dan dibuat 5 rangkap.

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 12


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

2. Penggambaran Shop Drawing dan Asbuilt Drawing


Dalam memulai, mengerjakan dan mengevaluasi pekerjaan baik untuk saluran-
saluran, bangunan air dan bendung, harus berdasarkan data ketinggian dan posisi
yang pasti sesuai dengan kondisi lapangan. Untuk ini Penyedia Jasa harus
menyediakan serangkaian alat ukur berikut tenaga kerjanya untuk keperluan ini.
Semua gambar-gambar yang disiapkan oleh Penyedia jasa haruslah gambar-
gambar yang telah ditanda tangani oleh Direksi, dan apabila ada perubahan harus
diserahkan kepada Direksi untuk mendapat persetujuan sebelum program
pelaksanaan dimulai.
Gambar-gambar yang harus disiapkan Penyedia jasa adalah :
 Gambar-gambar Pelaksanaan (Shop Drawing)
Penyedia jasa harus menggunakan gambar kontrak sebagai dasar untuk
mempersiapkan Gambar Pelaksanaan. Gambar itu dibuat lebih detail untuk
pekerjaan tetap dan dimana mungkin dapat memperlihatkan penampang
melintang dan memanjang dari beton, pasangan batu, pengaturan batang
pembesian termasuk rencana pembengkokan, pemotongan dan daftar besi
beton, tipe bahan yang digunakan, mutu, tempat dan ukuran yang tepat.
Penyedia jasa harus menyediakan 1 (satu) set gambar-gambar lengkap di
lapangan.Apabila ada pekerjaan dilaksanakan sebelum ada persetujuan Direksi
adalah menjadi resiko Penyedia jasa. Persetujuan Direksi terhadap gambar-
gambar tersebut tidak akan meringankan tanggung jawab Penyedia jasa atas
kebenaran gambar tersebut.

 Gambar-gambar Pekerjaan Sementara


Semua gambar yang disiapkan oleh Penyedia jasa harus terperinci, dan
diserahkan kepada Direksi sebelum tanggal pelaksanaan pekerjaan atau dalam
waktu yang telah ditentukan dalam Kontrak. Gambar-gambar harus
menunjukan detail dari pekerjaan sementara seperti Cofferdam, tanggul
sementara, pengalihan aliran dan sebagainya. Gambar Perencanaan yang
diusulkan Penyedia jasa yang dipakai dalam pelaksanaan Konstruksi (sah) juga
harus diserahkan kepada Direksi sebanyak 3 (tiga) rangkap.

 Gambar-Gambar Purnalaksana / Terlaksana (As Built Drawing)


Selama masa pelaksanaan, Penyedia jasa harus memelihara satu set gambar
yang telah dilaksanakan paling akhir untuk tiap-tiap pekerjaan. Pada gambar
yang memperlihatkan perubahan yang sudah diberikan sesuai dengan kontrak,
sejauh gambar tersebut sudah dilaksanakan dengan benar kemudian dicap,
Gambar terlaksana (As Built Drawing) harus dibuat di atas kertas A3 bila
pekerjaan telah diselesaikan 100 %.

3. Pekerjaan Akhir
Pada akhir pekerjaan Penyedia Jasa harus :
 Membongkar semua bangunan-bangunan sementara dan mengeluarkannya
dari lokasi pekerjaan, kecuali bangunan-bangunan sementara tersebut masih

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 13


PT. TAMORA CIPTA UTAMA [METODE PELAKSANAAN]

diperlukan dalam masa pemeliharaan atau terhadap sesuatu yang dinyatakan


lain oleh Direksi.

 Melakukan perapihan kembali seperti membersihkan lapangan dari sisa bahan


bangunan, sisa bongkaran bangunan sementara, tanah/Lumpur, sampah,
rumput, dan lain-lain sesuai petunjuk Direksi.

 Melakukan perbaikan-perbaikan terhadap pekerjaan yang rusak atau cacat dan


harus selesai sebelum masa pemeliharaan berakhir (serah terima kedua).
Penyedia Jasa harus selalu menjaga kerapihan lapangan sampai batas waktu
pemeliharaan selesai.

Jakarta, 04 Mei 2018


PT. TAMORA CIPTA UTAMA

FREDDY SILABAN, BE
Direktur Utama

Konstruksi Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I CIpari/Ciwuni | TA.2018 Page 14