Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Tumor pankreas adalah tumor yang berasal dari jaringan eksokrin dan
endokrin pankreas. Berdasarkan histopatologinya, tumor pankreas dibagi
menjadi tumor jinak dan tumor ganas. Menurut klasifikasi WHO tumor
primer eksokrin pankreas dibagi 3 bagian yaitu jinak, borderline, dan ganas.
Tumor eksokrin pankreas pada umumnya berasal dari sel duktus dan sel
asiner. Sekitar 90% tumor pankreas merupakan tumor ganas jenis
adenokarsinoma duktus pankreas atau yang disingkat kanker pankreas
(Padmomartono, 2014).
Kanker pankreas menduduki peringkat ke-12 kanker yang paling sering
di dunia dengan 338.000 kasus baru didiagnosa pada tahun 2012. Prevalensi
pasien tumor dan kanker pankreas di dunia yang bertahan hidup selama lima
tahun adalah 4.1 per 100.000. tumor ini bersifat fatal dan merupakan
penyebab kematian ketujuh dari kanker (WHO, 2012). Kanker pankreas
jarang terjadi pada usia < 40 tahun dan sering terjadi pada usia 60-80 tahun
dan lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan wanita dengan
perbandingan 1,2-1,5 : 1. Insidensi tumor pankreas adalah 1-10 kasus per
100.000 dan umumnya meningkat pada negara-negara berkembang (Ryan,
2014).
Di Amerika Serikat, tumor pankreas masuk dalam peringkat keempat
penyebab kematian setelah kanker paru, prostat, dan kolorektal. Pada tahun
2008 insidensi kanker pankreas di Amerika Serikat adalah 37.700 kasus dan
34.300 diantaranya meninggal karena penyakit ini. Survival rate penderita
tumor pankreas yang bertahan selama lima tahun < 5% (Hidalgo, 2010). Di
Indonesia, tumor pankreas tidak jarang ditemukan dan merupakan tumor
ganas ketiga terbanyak pada pria setelah tumor paru dan tumor kolon.
Insidensi tertinggi terjadi pada usia 50-60 tahun. Namun, data kepustakaan
tumor pankreas di Indonesia masih sangat sedikit. Data di RSUD Ulin
banjarmasin selama ± dua minggu kelompok berpraktek di ICU dari 10-15

1
2

pasien dengan penyakit tumor hanya terdapat 1 orang (6,7%) pasien yang
mengalami kasus tumor pankreas dan yang lainnya sekitar 14 orang (93,3%)
mengalami tumor otak.
Penyebab sebenarnya tumor pankreas masih belum jelas. Penelitian
epidemiologi menunjukkan adanya hubungan tumorr pankreas dengan
beberapa faktor eksogen (lingkungan) dan faktor endogen pasien. Faktor
eksogen meliputi kebiasaan merokok, diet tinggi lemak, alkohol, kopi, zat
karsinogen industri dan faktor endogen yaitu usia, penyakit pankreas
(pankreatitis kronik dan diabetes mellitus) dan mutasi genetik. Kanker
pankreas merupakan tumor yang membahayakan yang terjadi dalam waktu
yang lama dan berkembang cepat sebelum menunjukkan gejala klinis.
Mayoritas penderita kanker pankreas awalnya tidak menunjukkan gejala yang
spesifik sehingga sering terlambat didiagnosis, akibatnya pasien datang
dengan keadaan stadium lanjut dan termasuk salah satu kanker yang
prognosisnya paling buruk. Berdasarkan hal tersebut, kelompok tertarik untuk
membahas lebih dalam tentang kanker pankreas.

2. Tujuan
a) Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan secara
komprehensif pada pasien dengan kanker pankreas.
b) Tujuan Khusus
1. Meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam memberikan asuhan
keperawatan kritis pada pasien dengan tumor pankreas.
2. Sebagai bahan masukkan bagi rumah sakit dalam menggali dan
mencegah meningkatnya angka kejadian tumor pankreas di wilayah
pelayanan rumah sakit dan daerah sekitar.
3

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1. KONSEP TEORI


a. Anatomi dan Fisiologi

(sumber Hidayat, A.A., (2014).

Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi
utama: menghasilkan enzim pencernaan atau fungsi eksokrin serta
menghasilkan beberapa hormon atau fungsi endokrin. Pankreas terletak
pada kuadran kiri atas abdomen atau perut dan bagian kaput/kepalanya
menempel pada organ duodenum. Produk enzim akan disalurkan dari
pankreas ke duodenum melalui saluran pankreas utama. Pankreas dikenal
manusia sejak lama. Pankreas di identifikasi oleh dokter bedah Yunani
Herophilus yang hidup di tahun 335-280 SM. Pankreas dapat
didefinisikan sebagai organ kelenjar yang hadir dalam endokrin dan
sistem pencernaan dari semua vertebrata. Pankreas seperti spons dengan
warna kekuningan. Bentuk pankreas menyerupai seperti ikan. Pankreas
ini sekitar panjang 15 cm dan sekitar 3,8 cm lebar. Pankreas meluas
sampai ke bagian belakang perut, di belakang daerah perut dan melekat
ke bagian pertama dari usus yang disebut duodenum. Sebagai kelenjar
endokrin, menghasilkan hormon seperti insulin, somatostatin dan
glukagon dan sebagai kelenjar eksokrin yang mensintesis dan
4

mengeluarkan cairan pankreas yang mengandung enzim pencernaan


yang selanjutnya diteruskan ke usus kecil. Enzim-enzim pencernaan
berkontribusi pada pemecahan dari karbohidrat, lemak dan protein yang
hadir di paruh makanan yang dicerna.
1. Anatomi
Pankreas merupakan suatu organ berupa kelenjar dengan panjang dan
tebal sekitar 12,5 cm dan tebal + 2,5 cm. Pankreas terbentang dari atas
sampai ke lengkungan besar dari perut dan biasanya dihubungkan oleh
dua saluran ke duodenum (usus 12 jari). Organ ini dapat
diklasifikasikan ke dalam dua bagian yaitu kelenjar endokrin dan
eksokrin. Pankreas terdiri dari :
a) Kepala pankreas
Merupakan bagian yang paling lebar, terletak di sebelah kanan
rongga abdomen dan di dalam lekukan duodenum dan yang
praktis melingkarinya.
b) Badan pankreas
Merupakan bagian utama pada organ itu dan letaknya di belakang
lambung dan di depan vertebra lumbalis pertama.
c) Ekor pankreas
Merupakan bagian yang runcing di sebelah kiri dan yang
sebenarnya menyentuh limpa.
Pada pankreas terdapat dua saluran yang mengalirkan hasil sekresi
pankreas ke dalam duodenum.
 Ductus Wirsung, yang bersatu dengan duktus choledukus,
kemudian masuk ke dalam duodenum melalui sphincter oddi.
 Ductus Sartorini, yang lebih kecil langsung masuk ke dalam
duodenum di sebelah atas sphincter oddi. Saluran ini memberi
petunjuk dari pankreas dan mengosongkan duodenum sekitar 2,5
cm di atas ampulla hepatopankreatik.
Ada dua jaringan utama yang menyusun pankreas :
a) Asini berfungsi untuk mensekresi getah pecernaan dalam
duodenum.
5

b) Pulau Langerhans
Pulau Langerhans adalah kumpulan sel berbentuk ovoid,
berukuran 76x175 mm dan berdiameter 20 sampai 300 mikron
tersebar di seluruh pankreas, walaupun lebih banyak ditemukan di
ekor daripada kepala dan badan pankreas. Pulau-pulau ini
menyusun 1-2% berat pankreas. Pada manusia terdapat 1-2 juta
pulau. Masing-masing memiliki pasokan darah yang besar; dan
darah dari pulau Langerhans, seperti darah dari saluran cerna
tetapi tidak seperti darah dari organ endokrin lain, mengalir ke
vena hepatika. Sel-sel dalam pulau dapat dibagi menjadi beberapa
jenis bergantung pada sifat pewarnaan dan morfologinya. Pada
manusia paling sedikit terdapat empat jenis sel : sel A (alfa), B
(beta), D (delta), dan F. Sel A mensekresikan glukagon, sel B
mensekresikan insulin, sel D mensekresikan somastostatin, dan
sel F mensekresikan polipeptida pankreas. Sel B yang merupakan
sel terbanyak dan membentuk 60-70% sel dalam pulau, umumnya
terletak di bagian tengah pulau. Sel-sel ini cenderung dikelilingi
oleh sel A yang membentuk 20% dari sel total, serta sel D dan F
yang lebih jarang ditemukan. Pulau-pulau yang kaya akan sel A
secara embriologis berasal dari tonjolan pankreas dorsal, dan
pulau yang kaya akan sel F berasal dari tonjolan pankreas ventral.
Kedua tonjolan ini berasal dari tempat yang berbeda di
duodenum.
Granula sel B adalah paket-paket insulin dalam sitoplasma sel. Di
dalam sel B molekul insulin membentuk polimer dan juga
berikatan dengan seng. Perbedaan dalam bentuk paket mungkin
disebabkan perbedaan ukuran agregat seng atau polimer insulin.
Granula A yang mengandung glukagon berbentuk relatif seragam
dari spesies ke spesies. Sel D juga mengandung banyak granula
yang relatif homogen.
6

Sel beta yang ada di pulau langerhans memproduksi hormon


insulin yang berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah
dan secara fisiologi memiliki peranan yang berlawanan dengan
glukosa. Insulin menurunkan kadar gula darah dengan beberapa
cara. Insulin mempercepat transportasi glukosa dari darah ke
dalam sel, khususnya serabut otot rangka glukosa masuk ke dalam
sel tergantung dari keberadaan reseptor insulin yang ada di
permukaan sel target. Insulin juga mempercepat perubahan
glukosa menjadi glikogen, menurunkan glycogenolysis dan
gluconeogenesis, menstimulasi perubahan glukosa atau zat gizi
lainnya ke dalam asam lemak (lipogenesis), dan membantu
menstimulasi sintesis protein.

Pengaturan sekresi insulin seperti sekresi glukagon yaitu langsung


ditentukan oleh kadar gula dalam darah dan berdasarkan dari
mekanisme umpan balik (feed back negative system). Bagaimana
pun hormon lainnya secara tidak langsung juga dapat
mempengaruhi produksi insulin. Sebagai contoh hormon
pertumbuhan manusia (HGH) meningkatkan kadar glukosa darah
dan meningkatnya kadar glukosa mengerakkan (menyebabkan)
sekresi insulin. Hormon adrenocorticotropi (ACTH) yang
distimulasi oleh sekresi glukocortikoid menghasilkan
hyperglikemia dan secara tidak langsung juga menstimulasi
pelepasan insulin. Peningkatan kadar asam amino dalam darah
menstimulasi pelepasan insulin. Hormon-hormon pencernaan
seperti stomatch dan interstinal gastrin, sekretin, cholecystokinin
(CCK) dan Gastric Inhibitory Peptide (GIP) juga menstimulasi
sekresi insulin, GHIH (Somatostatin) menghalangi sekresi insulin.

2. Fisiologi
Pankreas merupakan kelenjar eksokrin (pencernaan) sekaligus
kelenjar endokrin.
7

a. Fungsi endokrin
a) Sel pankreas yang memproduksi hormon disebut sel pulau
Langerhans, yang terdiri dari sel alfa yang memproduksi
glukagon dan sel beta yang memproduksi insulin.
b) Glukagon.
Efek glukagon secara keseluruhan adalah meningkatkan kadar
glukosa darah dan membuat semua jenis makanan dapat
digunakan untuk proses energi. Glukagon merangsang hati
untuk mengubah glikogen menurunkan glukosa
(glikogenolisis) dan meningkatkan penggunaan lemak dan
asam amino untuk produksi energi. Proses glukoneogenesis
merupakan pengubahan kelebihan asam amino menjadi
karbohidrat sederhana yang dapat memasuki reaksi pada
respirasi sel.Sekresi glukagon dirangsang oleh hipoglikemia.
Hal ini dapat terjadi pada keadaaan lapar atau selama stres
fisiologis, misalnya olahraga.
c) Insulin.
Efek insulin adalah menurunkan kadar glukosa darah dengan
meningkatkan penggunaan glukosa untuk produksi energi.
Insulin meningkatkan transport glukosa dari darah ke sel
dengan meningkatkan permeabilitas membran sel terhadap
glukosa (namun otak, hati, dan sel-sel ginjal tidak bergantung
pada insulin untuk asupan glukosa). Di dalam sel, glukosa
digunakan digunakan pada respirasi sel untuk menghasilkan
energi. Hati dan otot rangka mengubah glukosa menjadi
glikogen (glikogenesis) yang disimpan untuk digunakan di lain
waktu. Insulin juga memungkinkan sel-sel untuk mengambil
asam lemak dan asam amino untuk digunakan dalam sintesis
lemak dan protein (bukan untuk produksi energi). Insulin
merupakan hormon vital; kita tidak dapat bertahan hidup untuk
waktu yang lama tanpa hormon tersebut. Sekresi insulin
dirangsang oleh hiperglikemia. Keadaan ini terjadi setelah
8

makan, khususnya makanan tinggi karbohidrat. Ketika glukosa


diabsorbsi dari usus halus ke dalam darah, insulin disekresikan
untuk memungkinkan sel menggunakan glukosa untuk energi
yang dibutuhkan segera. Pada saat bersamaan, semua
kelebihan glukosa akan disimpan di hati dan otot sebagai
glikogen.

b. Fungsi eksokrin
a) Kelenjar eksokrin pada paankreas disebut acini, yang
menghasilkan enzim yang terlibat pada proses pencernaan
ketiga jenis molekul kompleks makanan.
b) Enzim pankreatik amilase akan mencerna zat pati menjadi
maltosa. Kita bisa menyebutnya enzim “cadangan” untuk
amilase saliva.
c) Lipase akan mengubah lemak yang teremulsi menjadi asam
lemak dan gliserol. Pengemulsifan atau pemisahan lemak pada
garam empedu akan meningkatkan luas permukaan sehingga
enzim lipase akan dapat bekerja secara efektif.
d) Tripsinogen adalah suatu enzim yang tidak aktif, yang akan
menjadi tripsin aktif di dalam duodenum. Tripsin akan
mencerna polipeptida menjadi asam-asam amino rantai
pendek.
e) Cairan enzim pankreatik dibawa oleh saluran-saluran kecil
yang kemudian bersatu membentuk saluran yang lebih besar,
dan akhirnya masuk ke dalam duktus pankreatikus mayor.
Duktus tambahan juga bisa muncul. Duktus pankreatikus
mayor bisa muncul dari sisi medial pankreas dan bergabung
dengan duktus koledokus komunis untuk kemudian menuju ke
duodenum.
f) Pankreas juga memproduksi cairan bikarbonat yang bersifat
basa. Karena cairan lambung yang memasuki duodenum
bersifat sangat asam, ia harus dinetralkan untuk mencegah
9

kerusakan mukosa duodenum. Prose penetralan ini


dilaksanakan oleh natrium bikarbonat di dalam getah pankreas,
dan pH kimus yang berada di dalam duodenum akan naik
menjadi sekitar 7,5.
g) Sekresi cairan pankreas dirangsang oleh hormon sekretin dan
kolesistokinin, yang diproduksi oleh mukosa duodenum ketika
kismus memasuki intestinum tenue.
h) Sekretin meningkatkan produksi cairan bikarbonat oleh
pankreas, dan kolesistokinin akan merangsang sekresi enzim
pankreas.
b. Pengertian
Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua
fungsi utama: menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon
penting seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan
berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari), (Sylvia, 2013)
Kanker berawal dari kerusakan materi genetika atau DNA (Deoxyribo
Nuclead Acid) sel. Satu sel saja yang mengalami kerusakan genetika
sudah cukup untuk menghasilkan suatu jaringan baru, sehingga kanker
disebut juga penyakit seluler. Kanker adalah istilah umum yang
digunakan untuk menggambarkan gangguan pertumbuhan seluler dan
merupakan kelompok penyakit dan bukan hanya penyakit tunggal.
Kanker Pankreas merupakan tumor ganas yang berasal dari sel-sel
Yang melapisi saluran pankreas. Sekitar 95% tumor ganas pankreas
merupakan adenokarsinoma. Tumor-tumor ini lebih sering terjadi pada
laki-laki dan agak lebih sering menyerang orang kulit hitam. Tumor ini
jarang terjadi sebelum usia 50 tahun dan rata-rata penyakit ini
terdiagnosis pada penderita yang berumur 55 tahun. (Brunner &
Suddarth, 2013).
Tumor pankreas adalah tumor yang berasal dari jaringan eksokrin
dan endokrin pankreas. Berdasarkan histopatologinya, tumor pankreas
dibagi menjadi tumor jinak dan tumor ganas. Menurut klasifikasi WHO
tumor primer eksokrin pankreas dibagi 3 bagian yaitu jinak, borderline,
10

dan ganas. Tumor eksokrin pankreas pada umumnya berasal dari sel
duktus dan sel asiner. Sekitar 90% tumor pankreas merupakan tumor
ganas jenis adenokarsinoma duktus pankreas atau yang disingkat kanker
pankreas (Padmomartono, 2014). Pembagian stadium kanker pancreas
antara lain:
1) Stadium I: tumor hanya berada di dalam pankreas, tingkat
kelangsungan hidup dalam 5 tahun sekitar 30%.
2) Stadium II: tumor menginvasi pada jaringan terdekat, seperti dinding
usus 12 jari, dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun sekitar
10%.
3) Stadium III: telah ada penyebaran pada kelenjar getah bening,
dengan rata-rata tingkat kelangsungan hidup 8-12 bulan.
4) Stadium IV : telah ada metastasis pada hati dan bagian lain, dengan
rata-rata tingkat kelangsungan hidup 3-6 bulan.

c. Etiologi
Adapun etiologi dari Kanker Pankreas yaitu :
1. Faktor Resiko Eksogen
Merupakan adenoma yang jinak dan adenokarsinoma yang ganas yang
berasal dari sel parenkim (asiner atau sel duktal) dan tumor kistik.
Yang termasuk faktor resiko eksogen adalah makanan tinggi lemak dan
kolesterol, pecandu alkohol, perokok, orang yang suka mengkonsumsi
kopi, dan beberapa zat karsinogen.
2. Faktor Resiko Endogen
Penyakit DM, pankreatitis kronik, kalsifikasi pankreas (masih belum
jelas), (Setyono, 2013)
Penyebaran kanker/tumor dapat langsung ke organ di sekitarnya atau
melalui pembuluh darah kelenjar getah bening. Lebih sering ke hati,
peritoneum, dan paru. Tapi agak jarang pada adrenal, Lambung,
duodenum, limpa.
Kanker di kaput pankreas lebih banyak menimbulkan sumbatan pada
saluran empedu disebut è Kolestasis Ekstrahepatal.
11

Tumor akan masuk dan menginfiltrasi duodenum sehingga terjadi


perdarahan di duodenum. Kanker yang letaknya di korpus dan kauda
akan lebih sering mengalami metastasis ke hati, bisa juga ke limpa.
(Setyono, 2010)
d. Tanda dan Gejala
Penyakit kanker pankreas dapat tumbuh pada setiap bagian pankreas,
adalah pada bagian kaput, korpus atau kauda dengan menimbulkan gejala
klinis yang bervariasi menurut lokasi lesinya dan bagaiman pulau
langerhans yang mensekresikan insulin.
Tumor yang berasal dari kaput pankreas (yang merupakan lokasi paling
sering) akan memberikan gambaran klinik tersendiri. Dalam kenyataannya,
karsinoma pankreas memiliki angka keberhasilan hidup 5 tahunan, paling
rendah bila dibandingkan dengan karsinoma lainnya. (Tjokronegoro, 2011)
Gejala khas yaitu :
1. Nyeri pada abdomen yag hebat khususnya pada epigastrium. Rasa sakit
dan nyeri tekan pada abdomen yang juga disertai nyeri pada punggung,
terjadi akibat iritasi dan edema pada pankreas sehingga timbul
rangsangan pada ujung-ujung saraf.
2. Ikterus Karena sumbatan pada duktus koledikus.
3. Kadang-kadang timbul perdarahan gastrointestinal yang terjadi akibat
erosi pada duodenum yang disebabkan oleh tumor pankreas.
4. Gangguan rasa nyaman menyebar sebagai rasa nyeri yang
menjengkelkan ke bagian tengah punggung dan tidak berhubungan
dengan postur tubuh maupun aktivitassinoma pankreas.
5. Serangan nyeri dapat dikurangi dengan duduk membungkuk.
6. Umumnya terjadi ansietas è Dimana sel-sel ganas dari kanker pankreas
sering terlepas dan masuk ke dalam rongga peritoneum sehingga
meningkatkan kemungkinan terjadinya metastasis.
7. Timbulnya gejala defisiensi insulin yang terdiri atas glukosuria,
hiperglikemia dan toleransi glukosa yang abnormal è Diabetes dapat
menjadi tanda dini kanker pankreas.
12

e. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi adalah :
1. Masalah dengan metabolisme glukosa
Tumor dapat mempengaruhi kemampuan pankreas untuk
memproduksi insulin sehingga dapat mendorong permasalahan di
metabolisme glukosa, termasuk diabetes.
2. Jaundice
Terkadang diikuti dengan rasa gatal yang hebat. Menguningnya kulit
dan bagian putih mata dapat terjadi jika tumor pankreas menyumbat
saluran empedu,yaitu semacam pipa tipis yang membawa empedu dari
liver ke usus dua belas jari. Warna kuning berasal dari kelebihan
bilirubin. Asam empedu dapat menyebabkan rasa gatal jika kelebihan
bilirubin tersebut mengendap di kulit.
3. Nyeri.
Tumor pankreas yang besar akan menekan lingkungan sekitar saraf,
menimbulkan rasa sakit di punggung atau perut yang terkadang bisa
menjadi hebat
4. Metastasis.
Metastasis. Ini adalah komplikasi paling serius dari kanker atau tumor
ganas pankreas. Pankreas Anda dikelilingi oleh sejumlah organ vital,
termasuk juga perut Anda, limpa kecil, liver, paru-paru dan usus.
Karena kanker pankreas jarang terdeteksi pada stadium awal, kanker
ini seringkali menyebar ke organ-organ tersebut atau ke dekat ujung
limpa.
5. Selain itu dapat pula mengakibatkan gangguan pada sistem
pencernaan lainnya seperti: kanker pancreas, DM type 2, kolelitiasis,
kolesistitis
13

f. Patofisiologi
Pathway

(Sumber: Sujono Riyadi, 2013).


14

Pada umumnya tumor meluas ke Retroperitoneal ke belakang


pankreas, melapisi dan melekat pada pembuluh darah. Secara mikroskopik
terdapat infiltrasi di jaringan lemak peripankreas, saluran limfe, dan
perineural. Pada stadium lanjut, kanker kaput pancreas sering bermetastasis
ke duodenum, lambung, peritoneum, hati dan kandung empedu.
Kanker pancreas pada bagian badan dan ekor pancreas dapat
metastasis ke hati, peritoneum, limpa, lambung dan kelenjar adrenal kiri.
Karsinoma di kaput pancreas sering menimbulkan sumbatan pada saluran
empedu sehingga terjadi kolestasis ekstra-hepatal. Disamping itu akan
mendesak dan menginfiltrasi duodenum, sehingga dapat menimbulkan
peradangan di duodenum. Karsinoma yang letaknya di korpus dan kaudal,
lebih sering mengalami metastasis ke hati dan ke limpa.
Konsumsi alcohol, infeksi bakteri/virus akan serta faktor-faktor yang
beresiko mengakibatkan edema pada pancreas (terutama daerah ampula
vater). Edema pada ampulla akan berakibat aliran balik getah empedu dari
duktus koledokus ke dalam duktus pankreatikus. Dengan demikian didalam
pancreas akan terjadi peningkatan kadar enzim yang mengakibatkan
peradangan pada pancreas. Proses peradangan ini kalau ditumpangi
mikroorganisme maka akan berakibat terbawanya toksik kedalam darah
yang merangsang hipotalamus untuk meningkatkan ambang suhu tubuh
(muncul panas).
Adanya refluks enzim akan meningkatkan volume enzim dan distensi
pada pancreas yang merangsang reseptor nyeri yang dapat dijalarkan ke
daerah abdomen dan punggung. Kondisi ini memunculkan adanya keluhan
nyeri hebat pada abdomen yang menjalar sampai punggung.
Distensi pada pancreas yang melampaui beban akan berdampak pada
penekanan dinding duktus dan pancreas serta pembuluh darah pancreas.
Pembuluh darah dapat mengalami cidera bahkan sampai rusak sehingga
darah dapat keluar dan menumpuk pada pancreas atau jaringan sekitar yang
berakibat pada ekimosis pinggang dan umbilicus.
15

Kerusakan yang terjadi pada pancreas secara sistemik dapat


meningkatkan respon asam lambung sehingga salah satu pertahanan untuk
mengurangi tingkat kerusakan. Akan tetapi kelebihan ini justru akan
merangsang respon gaster untuk meningkatkan ritmik kontraksinya yang
dapat meningkatkan rasa mual dan muntah.
Mual akan berdampak pada penurunan intake cairan sedangkan
muntah akan berdampak peningkatkan pengeluaran cairan tubuh. Dua
kondisi ini menurunkan volume dan komposisi cairan tubuh yang secara
otomatis akan menurunkan volume darah. Penurunan volume darah inilah
yang secara klinis akan berakibat hipotensi pada penderita.
Penurunan volume darah berkontribusi pada penurunan pengikatan
oksigen dan penyediaan nutrisi bagi sel sehingga terjadi penurunan perfusi
sel termasuk otak. Kondisi seperti inilah yang dapat menimbulkan agitasi
pada penderita. Ditambah lagi mual akan menurunkan komposisi kalsium
darah yang berdampak pada penurunan eksitasi system persarafan. (Sujono
Riyadi, 2013).

g. Diagnosa Medik
1. USG :
USG abdomen merupakan pilihan metode survei dan diagnosis kanker
pankreas. Yang ditandai dengan sederhana, non-invasif, non-radioaktif,
dapat multi-sumbu pengamatan permukaan, dan lebih jelas melihat
struktur pancreas dengan internal saluran empedu atau tanpa obstruksi
dan lokasi obstruksi. Keterbatasan USG adalah bidang pandang kecil
yang rentan terhadap perut, gas usus, dan somatotip. Selain itu, USG juga
bergantungan dengan pengalaman dokter yang memeriksa dan peralatan
yang digunakan, subjektivitas tertentu, jika perlu, mengingat kombinasi
dari pencitraan maka dapat ditambahkan dengan pemeriksaan resonansi
CT dan magnetik (MRI) serta tes laboratorium.
2. CT :
CT saat ini menjadi metode alat pemeriksa yang terbaik untuk pankreas
dengan pemeriksaan noninvasif, terutama digunakan untuk diagnosis
16

kanker pankreas dan pementasan. Dapat melihat ukuran dan lokasi lesi
secara luas, tetapi diagnosis kualitatif tidak akurat, tidak kondusif untuk
menampilkan hubungan antara tumor dan struktur sekitarnya. CT dapat
dengan akurat menentukan apakah sudah ada metastasis pada hati dan
kelenjar getah bening. CT menjadi banyak digunakan dalam beberapa
tahun terakhir bidang diagnosis tumor dan sebagai sarana untuk
menentukan langkah pengobatan, anda dapat lebih akurat menilai sifat
dan tingkat lesi stadium tumor ganas dan pilihan pengobatan dengan nilai
yang lebih tinggi.
3. MRI
Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan resonansi
magnetik Kolangiopankreatografi (MRCP) : Bukan sebagai metode
pilihan untuk diagnosis kanker pankreas, tetapi ketika pasien alergi
dengan kontras ketingkatkan CT maka dapat dilakukan pemeriksaan scan
MRI,tetapi tidak untuk mendeteksi tingkatan stadiumnya. Selain itu,
beberapa lesi sulit untuk dikarakterisasi, berdasarkan pemeriksaan CT
dapat digantikan dengan melakukan MRI, untuk melengkapi kekurangan
dari gambar CT. MRCP dilakukan untuk menentukan perbandingan
tanpa obstruksi bilier dan tempat obstruksi, penyebab obstruktif memiliki
keuntungan jelas, dan Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography
(ERCP), empedu transhepatik saluran pencitraan alat invasif, dan lebih
aman.

h. Penatalaksanaan
Tindakan bedah yang harus dilakukan biasanya cukup luas jika ingin
mengangkat tumor terlokalisir yang masih dapat direseksi. Namun
demikian, terapi bedah yaitu Definitive (eksisi total lesi), Tidak dapat
dilakukan karena pertumbuhan yang sudah begitu luas. Tindakan bedah
tersebut sering terbatas pada tindakan paliatif.
Meskipun tumor pankreas mungkin resisten terhadap terapi radiasi
standar, pasien dapat diterapi dengan radioterapi dan kemoterapi
(Fluorourasil, 5-FU) . jika pasien menjalani pembedahan, terapi radiasi
17

introperatif (IORT = Intraoperatif Radiation Theraphy) dapat dilakukan


untuk memberikan radiasi dosis tinggi pada jaringan tumor dengan cedera
yang minimal pada jaringan lain serta dapat mengurangi nyeri pada terapi
radiasi tersebut. (Brunner & Suddarth, 2002)

2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


a. Pengkajian
1. Data Subjektif
 Nyeri midepigastrium bervariasi keparahannya, dapat menyebar
kepunggung bagian bawah dan berkurang dengan duduk condong ke
depan
 Kehilangan selera makan
 Mual
 Keletihan
 Kulit gatal
Data Objektif
 Tanda obstruktsi biliaris
 Ikhterus
 Feses dempul,diare
 Urine gelap dan pekat
 Penurunan berat badan yang cepat
2. Faktor resiko
 Merokok
 Diet tinggi protein dan lemak
 Zat pengawet makanan, nitrat
 Riwayat keluarga dengan kanker pankreas
 Penyalahgunaan alkohol
3. Pemeriksaan diagnostik
 Pertanda tumor, CEA,CA19-9
 Bilirubin serum, fosfatase, basa amilase dan lipase meningkat
 Panel kimia darah lengkap, gula darah puasa
18

 Uji fungsi hati


 Pemeriksaan koagulasi
 Pencitraan/pemeriksaan kedokteran nuklir

4. Penatalaksanaan multidisiplin dan penatalaksanaan terapeutik


 Konsultasi penatalaksanaan nyeri,analgetik dan antiemetik
 Vitamin K, enzim oankreas, garam empedu dan insulin
 Konsultasi ahli diet klinis deit terapeutik
 Konsultasi farmasi klinis diet nutrisi parenteral
 Terpai parenteral dan elektrolit
 Selang nasogastrik; aspirasi
 Kemoterapi,terapi radiasi dan kemoradioterapi
 Intervensi pembedahan
 Kateter urine menetap
 Penempatan endoscopik stent di pankreasatau duktus billiaris umum
 Pelayanan sosial

Pengkajian fisik di ICU sangat penting dilakukan sekurang-kurangnya


sekali sekali setiap hari pada pasien high dependency care dan setiap kali
shif pada pasien kritis. Sedangkan pengkajian rutin dapat berupa data
objektif dan data subjektif.
Pada saat pengkajian fisik lakukan mulai dari kepala ke bawah dan
lakukan secara cepat pengkajian ABC (airway, breathing,sirculation):
A : Airway: Apakah pernafasan pasien Adekuat? Pola nafas?
Apakah pergerakan kedua dinding dada sama?
B : Breathing: Bagaimana saturasi oksigen pasien? Bagaimana cara
pemberian terapi oksigen? Apakah adekuat?

C : Circulation: Bagaimana heart rate pasien ? irama? Bagaimana


tekanan darahnya? Bagaimana warna tangan dan kaki? Berikut
adalah standar penilaina berdasarkan Gaslow coma sacale(GCS)
19

E = Buka mata (eyes) Nilai: Spontan 4, Respon terhdap


perintah lisan 3, Respon terhadap rangsangan sakit 2,
Tidak ada respon 1.
M = Motorik respons: Sesuai perintah 6, Terlokasi pada tempat
sakit 5, Menarik terhadap rangsang sakit 4, Fleksi
abnormal 3, Respon ekstensor 2, Tidak ada respon 1
V = Verbal response
Bicara sesuai, terorientasi 5, Bicara kacau 4, Bicara tidak
sesuai 3, Kata-kata tak berarti 2, Tidak ada respon verbal
1, Terintubasi T
Ketiga tersebut di gabungkan atau dijumlahkan menjadi
penilaian GCS = E M V (urutan yang sering di gunakan
urutannya untuk berkomunikasi dengan dokter atau petugas
kesehatan lain adalah Eyes (E) motorik (M) Verbal (V)) Jumlah
sekor :
15 = Compos mentis (CM)
14 – 11 = Somnolen
11 – 8 = Apatis
8 – 7 = Soporus
misalkan : E3 M5 V4 = 12 ( kesadaran somnolen) Pada
pemerikasaan Pernafasan.
Ø Lihat pergerakan dada, samakah?
Ø Auskultasi sura nafas.
Ø Cek mode pemberian oksigen.
Ø Cek saturasi oksigen dan analisa gas darah.
Pada pemeriksaan Kardiovaskuler
Ø Tanda-tanda vital seperti heart rate, tekanan darah,
temperature,CVP.
Ø Auskultasi suara jantung.
Ø Kaji IV line.
Ø Cek sirkulasi perifer seperti warna jaringan perifer,
kehangatan dan nadi.
20

Pada pemerikasaan Pencernaan:


Ø Cek Naso Gastrik Tube (NGT) jika ada
Ø Cek jenis makanan, kecepatan dan tolernsi.
Ø Auskultasi peristaltik.
Ø Kapan terakhir BAB da BAK.

Pada pemerikasaan Ginjal:


Ø Cek urine output
Ø Cek setatus cairan dan balance kumulatif.
Ø Cek kadar ureum dan kreatinin darah.
Pada pemerikasaan Endokrin
Ø Cek gadar gula darah. Apa perlu insulin?

Pada pemerikasaan Kulit:


Ø Kaji resiko pasien terhadap terjadinya area yang tertekan dan
apakah sudah menggunakan alat-alat bantu yang tepat.
Ø Inspeksi kulit adanya tanda-tanda area yang tertekan.
Ø Cek luka dan lakukan dressing.

Pemeriksaan fisik secara B6 di ICU pada pasien dengan tumor


pankreas:

Hal-hal yang perlu diingat dalam pemeriksaan fisik adalah :


1. Pemeriksaan fisik dilakukan pada saat pasien masuk, dan diulang
kembali dalam interval waktu tertentu sesuai kondisi pasien.
2. Setiap pemeriksaan harus dikomunikasikan kepada pasien.
3. Privacy pasien harus terus dipertahankan (walaupun pasien dalam
keadaan koma)
4. Tehnik yang digunakan adalah : inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi.
5. Pemeriksaan dilakukan secara “Head to toe”
6. Pemeriksaan dilakukan pada semua sistem tubuh.
21

B 1 : Breathing (Pernafasan/Respirasi)
- Pola napas : Dinilai kecepatan, irama, dan kualitas.
- Bunyi napas: Bunyi napas normal; Vesikuler, broncho
vesikuler.
- Penurunan atau hilangnya bunyi napas dapat menunjukan
adanya atelektasis, pnemotorak atau fibrosis pada pleura.
- Rales (merupakan tanda awal adanya CHF. emphysema)
merupakan bunyi yang dihasilkan oleh aliran udara yang
melalui sekresi di dalam trakeobronkial dan alveoli.
- Ronchi (dapat terjadi akibat penurunan diameter saluran
napas dan peningkatan usaha napas)
- Bentuk dada : Perubahan diameter anterior – posterior
(AP) menunjukan adanya COPD
- Ekspansi dada : Dinilai penuh / tidak penuh, dan
kesimetrisannya.
- Ketidaksimetrisan mungkin menunjukan adanya
atelektasis, lesi pada paru, obstruksi pada bronkus,
fraktur tulang iga, pnemotoraks, atau penempatan
endotrakeal dan tube trakeostomi yang kurang tepat.
- Pada observasi ekspansi dada juga perlu dinilai : Retraksi
dari otot-otot interkostal, substrernal, pernapasan
abdomen, dan respirasi paradoks (retraksi abdomen saat
inspirasi). Pola napas ini dapat terjadi jika otot-otot
interkostal tidak mampu menggerakan dinding dada.
- Sputum.
Sputum yang keluar harus dinilai warnanya, jumlah dan
konsistensinya. Mukoid sputum biasa terjadi pada
bronkitis kronik dan astma bronkiale; sputum yang
purulen (kuning hijau) biasa terjadi pada pnemonia,
brokhiektasis, brokhitis akut; sputum yang mengandung
22

darah dapat menunjukan adanya edema paru, TBC, dan


kanker paru.
- Selang oksigen
Endotrakeal tube, Nasopharingeal tube, diperhatikan
panjangnya tube yang berada di luar.
- Parameter pada ventilator
- Volume Tidal
- Normal : 10 – 15 cc/kg BB.
- Perubahan pada volume tidal menunjukan adanya
perubahan status ventilasi penurunan volume tidal secara
mendadak menunjukan adanya penurunan ventilasi
alveolar, yang akan meningkat PCO2. Sedangkan
peningkatan volume tidal secara mendadak menunjukan
adanya peningkatan ventilasi alveolar yang akan
menurunkan PCO2.
- Kapasitas Vital : Normal 50 – 60 cc / kg BB
- Minute Ventilasi
- Forced expiratory volume
- Peak inspiratory pressure

B 2 : Bleeding (Kardiovaskuler / Sirkulasi)


- Irama jantung : Frekuensi ..x/m, reguler atau irreguler
- Distensi Vena Jugularis
- Tekanan Darah : Hipotensi dapat terjadi akibat dari
penggunaan ventilator
- Bunyi jantung : Dihasilkan oleh aktifitas katup jantung
· S1 : Terdengar saat kontraksi jantung / sistol ventrikel.
Terjadi akibat penutupan katup mitral dan trikuspid.
· S2 : Terdengar saat akhir kotraksi ventrikel. Terjadi
akibat penutupan katup pulmonal dan katup aorta.
· S3 : Dikenal dengan ventrikuler gallop, manandakan
adanya dilatasi ventrikel.
23

- Murmur : terdengar akibat adanya arus turbulansi darah.


Biasanya terdengar pada pasien gangguan katup atau
CHF.
- Pengisian kapiler : normal kurang dari 3 detik
- Nadi perifer : ada / tidak dan kualitasnya harus diperiksa.
Aritmia dapat terjadi akibat adanya hipoksia miokardial.
- PMI (Point of Maximal Impuls): Diameter normal 2 cm,
pada interkostal ke lima kiri pada garis midklavikula.
Pergeseran lokasi menunjukan adanya pembesaran
ventrikel pasien hipoksemia kronis.
- Edema : Dikaji lokasi dan derajatnya.

B 3 : Brain (Persyarafan/Neurologik)
`1 - Tingkat kesadaran
Penurunan tingkat kesadaran pada pasien dengan
respirator dapat terjadi akibat penurunan PCO2 yang
menyebabkan vasokontriksi cerebral. Akibatnya akan
menurunkan sirkulasi cerebral.
Untuk menilai tingkat kesadaran dapat digunakan suatu
skala pengkuran yang disebut dengan Glasgow Coma
Scale (GCS).

GCS memungkinkan untuk menilai secara obyektif


respon pasien terhadap lingkungan. Komponen yang
dinilai adalah : Respon terbaik buka mata, respon
motorik, dan respon verbal. Nilai kesadaran pasien
adalah jumlah nilai-nilai dari ketiga komponen tersebut.
Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan
respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan,
tingkat kesadaran dibedakan menjadi :
24

Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal,


sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan
tentang keadaan sekelilingnya.

Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk


berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat,
waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi,
kadang berhayal.

Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran


menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah
tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang
(mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu
memberi jawaban verbal.

Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur


lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.

Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak


ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada
respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga
tidak ada respon pupil terhadap cahaya).
Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari
berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan
kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena
berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan
berlebihan di dalam rongga tulang kepala.

Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya


hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular
mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran
25

berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas


(kecacatan) dan mortalitas (kematian).
Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal
dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan
salah satu bagian dari vital sign.
GCS (Glasgow Coma Scale) yaitu skala yang digunakan
untuk menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah pasien
dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon
pasien terhadap rangsangan yang diberikan.
Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal
yaitu reaksi membuka mata , bicara dan motorik. Hasil
pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan
rentang angka 1 – 6 tergantung responnya.

Eye (respon membuka mata) :


(4) : spontan
(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka
mata).
(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri,
misalnya menekan kuku jari)
(1) : tidak ada respon

Verbal (respon verbal) :


(5) : orientasi baik
(4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya
berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu.
(3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata
masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya
“aduh…, bapak…”)
(2) : suara tanpa arti (mengerang)
(1) : tidak ada respon
26

Motor (respon motorik) :


(6) : mengikuti perintah
(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan
stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(4) : withdraws (menghindar / menarik extremitas atau
tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang
nyeri)
(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi
kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi
rangsang nyeri).
(2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi
di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi
saat diberi rangsang nyeri).
(1) : tidak ada respon

Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan


dalam simbol E…V…M…
Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang
tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3
yaitu E1V1M1.

Refleks pupil
- Reaksi terhadap cahaya (kanan dan kiri)
- Ukuran pupil (kanan dan kiri; 2-6mm)
- Dilatasi pupil dapat disebabkan oleh : stress/takut,
cedera neurologis penggunaan atropta, adrenalin, dan
kokain. Dilatasi pupil pada pasien yang menggunakan
respirator dapat terjadi akibat hipoksia cerebral.
Kontraksi pupil dapat disebabkan oleh kerusakan
batang otak, penggunaan narkotik, heroin.
27

B 4 : Bladder (Perkemihan – Eliminasi Uri/Genitourinaria)


- Kateter urin
- Urine : warna, jumlah, dan karakteristik urine, termasuk
berat jenis urine.
- Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan
dapat terjadi akibat menurunnya perfusi pada ginjal.
- Distesi kandung kemih

B 5 : Bowel (Pencernaan – Eliminasi Alvi/Gastrointestinal)


- Rongga mulut
Penilaian pada mulut adalah ada tidaknya lesi pada mulut
atau perubahan pada lidah dapat menunjukan adanya
dehidarsi.
- Bising usus
Ada atau tidaknya dan kualitas bising usus harus dikaji
sebelum melakukan palpasi abdomen. Bising usus dapat
terjadi pada paralitik ileus dan peritonitis. Lakukan
observasi bising usus selama ± 2 menit. Penurunan
motilitas usus dapat terjadi akibat tertelannya udara yang
berasal dari sekitar selang endotrakeal dan nasotrakeal.
- Distensi abdomen
Dapat disebabkan oleh penumpukan cairan. Asites dapat
diketahui dengan memeriksa adanya gelombang air pada
abdomen. Distensi abdomen dapat juga terjadi akibat
perdarahan yang disebabkan karena penggunaan IPPV.
Penyebab lain perdarahan saluran cerna pada pasien
dengan respirator adalah stres, hipersekresi gaster,
penggunaan steroid yang berlebihan, kurangnya terapi
antasid, dan kurangnya pemasukan makanan.
- Nyeri
- Dapat menunjukan adanya perdarahan gastriintestinal
- Pengeluaran dari NGT : jumlah dan warnanya
28

- Mual dan muntah.

B 6 : Bone (Tulang – Otot – Integumen)


- Warna kulit, suhu, kelembaban, dan turgor kulit.
Adanya perubahan warna kulit; warna kebiruan
menunjukan adanya sianosis (ujung kuku, ekstremitas,
telinga, hidung, bibir dan membran mukosa). Pucat pada
wajah dan membran mukosa dapat berhubungan dengan
rendahnya kadar haemoglobin atau shok. Pucat, sianosis
pada pasien yang menggunakan ventilator dapat terjadi
akibat adanya hipoksemia. Jaundice (warna kuning) pada
pasien yang menggunakan respirator dapat terjadi akibat
penurunan aliran darah portal akibat dari penggunaan FRC
dalam jangka waktu lama.
Pada pasien dengan kulit gelap, perubahan warna tersebut
tidak begitu jelas terlihat,. Warna kemerahan pada kulit
dapat menunjukan adanya demam, infeksi. Pada pasien
yang menggunkan ventilator, infeksi dapat terjadi akibat
gangguan pembersihan jalan napas dan suktion yang tidak
steril.
- Integritas kulit
- Perlu dikaji adanya lesi, dan dekubitus

b. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri
2. Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan anoreksia, gangguan sekresi insulin, mual diare, keletihan,
(Nanda NIC NOC 2017)
29

c. Intervensi dan Rasional


1. Nyeri berhubungan dengan perburukan proses penyakit
1) Intervensi
a) Kaji sifat,intensitas,lokasi,durasi, dan faktor pencetus dan pereda
nyeri
b) Gunakan skala penilaina nyeri yang konsisten untuk menetapkan
nilai dasar dan deviasi yang mengidentifikasi intervensi selanjutnya
c) Kaji tanda nonverbal nyeri khusus pada pasien
d) Dapatkan informasi dari pasien mengenai pengalaman nyeri masa
lau dan metode pereda nyeri yang digunakan
e) Kendalikan faktor lingkungan yang dapat meningkatkan persepsi
nyeri: suhu,suara,pencahayaan
f) Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang nyaman
g) Bantu pasien untuk mencapai kondidi ketegangan fisik minimal
melalui teknik-teknik seperti relaksasi, musik, visualisasidan
pengalihan untuk mengurangi kebutuhan akan medikasi
h) Berikan lingkungan yang nyaman memberikan kesempatan untun
istirahat siang hari di periode tiudr yang tidak terganggu pada
malam hari
i) Kolaborasi dengan dokter,berikan mediksi analgesik sesuai
kebutuhan, observasi efek terapeutik dan efek samping
j) Diskusikan dan mulai tindakan pereda nyeri nonivasif: relaksasi
,stimulasi kutaneus, distraksi, terapi panas /dingin, (Nanda NIC
NOC 2017).

2. Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan


dengan anoreksia, gangguan sekresi insulin, mual diare, keletihan.
1) Intervensi
a) Kaji status nutrisi setiap hari: berat badan, elektron protein
total,albumin serum,hemoglobin,turgor kulit dan massa otot
b) Tentukan julam dan tipe makanan yang disukai dan mampu
ditoleransi pasien
30

c) Berikan higiene oral sebelum dan sesudah makan


d) Berikan anastetik oral sebelum makan pada mukosa oral bila
perlu
e) Tawarkan diet tinggi kalori,tinggi protein dengan variasi rasa,
tekstur dan sajian makanan untuk meningkatkan selera makan
f) Sajikan makanan porsi kecil dan sering serta kudapan yang
bernutrisi tinggi kalori
g) Bantu pasien umtuk makan jika keletihan merupakan faktor
penyebab gangguan nutrisi
h) Sajikan makanan dengan cara menaarik dan menyenangkan
i) Berikan suasana yang menyenangkan guan meningkatkan
keingninan untuk makan,dorong orang terdekat untuk makan
bersama pasien, pindahkan pispot/urinal dari daerah
tersebut,pertahankan ventilasi yang baik dalam ruangan, sajikan
makanan segera setelah makanan datang, pindahkan nampan
segera setelah selesai makan
j) Kolaborasi dengan ahli diet klinis : hitung jumlah kalori dan
nutrien yang diperlukan untuk mempertahankan/menaikkan berat
badab mendukung kebutuhan metabolik dan mempertahankan
glukosa darah dalam batas normal
k) Pertahankan jumlah kalori
l) Dorong keluarga untuk membawakan makanan favorit pasien dari
rumah
m) Kolaborasi dengan dokter, berikan antiemetik sebelum makan bila
perlu, (Nanda NIC NOC 2017)

d. Evaluasi (Secara Teori), Nanda NIC NOC 2015


Diagnosa 1: Nyeri dapat teratasi.
Diagnosa 2: Kebutuhan nutrisi & cairan dapat terpenuhi.
31

BAB III

TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN
A. Identitas Pasien
Nama : Tn. A
Umur : 47 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Swasta
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Banjar / Indonesia
Tanggal masuk RS : 17 Oktober 2017 jam 11.00 WITA
Tanggan masuk ICU : 24 Oktober 2017 jam 11.00 WITA
Tanggal Pengkajian : 25 Oktober 2017 jam 08.00 WITA
No RM : 1.36.xx.xx
Diagnosa : Post Op Laparatomi Reseksi atas indikasi
Tumor Pankreas Distal.
Sumber Data : Pasien, keluarga dan status pasien.
B. Keadaan Umum
Pasien tampak lemah,gelisah, keringat dingin, kesadaran compos mentis,
GCS 15 E: 4, V: 5, M: 6. Pasien tampak anemis, bicara tidak mengeluarkan
suara, ekspresi wajah meringis, terdapat luka operasi yang dibalut kassa di
perut sebelah kiri, ada rembesan darah pada balutan luka, terpasang drainase
jumlah cairan pada drain 100 cc/ jam, TTV: TD. 110/60 mmHg. Nadi. 129
x/menit, Respirasi.30x/menit, Temperatur. 37,1°C, SPO2 89%.
C. Keluhan Utama
Pasien mengatakan daerah luka operasi terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk.
P= cedera fisik luka operasi, Q= seperti ditusuk-tusuk, R= abdomen kiri
atas, S= 6 (0-10, nyeri sedang), T= hilang-timbul.
32

D. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien mengatakan tidak pernah dirawat di rumah sakit dan tidak
memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi, maupun Diabetes
Melitus.
2. Riwayat kesehatan Sekarang
Sehari sebelum masuk rumah sakit ketika di rumah pasien mengeluh
ada benjolan di perut, kemudian keesokkan harinya pada tanggal 17
oktober 2017 pasien memeriksakan diri ke poliklinik penyakit dalam
RSUD Ulin Banjarmasin, hasil pemeriksaan di poliklinik menunjukkan
adanya tumor pada daerah pankreas pasien, lalu pasien dianjurkan rawat
inap di ruang Tulip 1C untuk persiapan operasi. Pasien dirawat di ruang
Tulip 1C selama ± 1 minggu, tanggal 24 Oktober 2017 pasien baru
menjalani operasi laparatomi reseksi tumor pankreas. Setelah di operasi
pasien dipindahkan ke ruang ICU untuk di observasi lebih lanjut, pasien
masuk ICU dengan kesadaran apatis GCS 13, E4V4M5, pasien tampak
anemis, drainase positif ada cairan darah, selama di ICU pasien di
observasi setiap satu jam sampai pada saat pengkajian.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang memiliki riwayat
penyakit hipertensi, Diabetes, maupun penyakit yang dialoami oleh
pasien.
E. Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Pernafasan
Pasien tampak sesak, sumbatan pada jalan nafas tidak ada, frekuensi
pernafasan 28 x/menit, pasien bernafas menggunakan oksigen Nasal
Kanul 4 liter/menit, SPO2 97 %.pasien tidak menggunakan ventilator
dan ETT, dan hanya menggunakan monitor.
2. Sistem Kardiovaskular
Nadi 129 x/menit, tekanan darah 110/60 mmHg, pulsasi kuat, akral
dingin, warnah kulit pucat, dan sianosis,
33

3. Sistem Saraf Pusat


Kesadaran Compos mentis, GCS 15 E 4 V 5 M 6,
4. Sistem Gastrointestinal
I: saat di inspeksi tampak ada distensi abdomen
A: Bising usus positif ˂ 25 x/menit
P: Saat di palapsi perut pasien tampak kencang, tidak ada massa di
abdomen
P: Terdapat nyeri tekan di abdomen
5. Sistem Perkemihan
Warnah urine kuning, distensi kandung kemih tidak ada, pasien
menggunakan kateter urine dengan nomor kateter 16 sejak tanggal 24
Oktober 2017, jumlah cairan urine 5-10 cc/jam.
6. Sistem Hematologi
Terpasang drainase pada daerah operasi, jumlah darah yang keluar pada
drainase sebanyak 100 cc/24 jam,berwarnah merah kehitaman.
7. Sistem Muskuluskeletal
kekuatan Otot :
5555 5555
5555 5555
Turgor kulit tidak elastis, terdapat luka oerasi pada daerah abdomen
kuadran kiri atas tertutup kasa, fraktur tidak ada, setelah pasien sadar
pasien mampu bangun dan duduk di tempat tidur, ADL dibantu oleh
perawat skala ketergantungan 2.
8. Alat Invasif yang digunakan
Pasien menggunakan kateter urine sejak tanggal 24 oktober 2017,
drainase sejak tanggal 24 oktober 2017, menggunakan IV Line di
tengan sebelah kiri dan menggunakan NGT No. 16 sejak tanggal 24
oktober 2017.
9. Riwayat Psikososial dan Spiritual
Pasien dan keluarga menerima keadaan sakit yang dialami oleh pasien,
afek pasien: gelisah, pasien tidak merasa rendah diri atau malu dengan
keadaannya.hubungan dengan keluarga sangat harmonis hal ini tampak
34

jelas ketika jam besuk pasien keluarga bergantian mengunjungi pasien,


apabila mengalami masalah yang sulit pasien dan keluarga hanya
mampu berserah kepada Tuhan.
10. Resiko cedera/ jatuh: ada
11. Status fungsional
Aktivitas dan mobilitas perlu bantuan orang
12. Skala Nyeri
Nyeri ada yaitu nyeri akut lokasi abdomen, durasi terus-menerus, skor
nyeri 6 dari skala 0-10 (nyeri sedang), nyeri tidak berkurang meskipun
pasien diberi obat
35

13. Hasil pemeriksaan Penunjang


PEMERIKSAAN HASIL NILAI SATUAN METODA ANALISIS
NORMAL
HEMATOLOGI
Hemoglobin 8,2 14.00 – 12.00 g/dl Colorimetric Penurunan belakang
hemoglobin terjadi
karena ketidakmampuan
sumsum tulang belakang
memproduksi sel darah
merah.
Leukosit 24,2 4.10 – 6.00 Ribu/UL Impedance
Eritrosit 4.50 4.10 – 6.00 Juta/ul Impedance
Hematokrit 36,7 42,00 – 52.00 Vol % Analyzer
calculates
Trombosit 304 150 – 450 Ribu/ul Impedance
RDW-CV 15.4 12.1 – 14.0 % Analyzer Peningkatan RDW-CW
calculates menunjukan adanya
anemia defisiensi besi,
defisiensi asam folat dan
vitamin B12.
MCV MCH MCHC
MCV 81.6 75.0 – 96.0 Ft Analyzer
calculates
MCH 27.7 28.0 – 32.0 Pg Analyzer
calculates
MCHC 34.0 33.0 – 37.0 % Analyzer
calculates
36

15. Terapi dan Drug Study

No Nama Obat Indikasi Kontraindikasi Efek Peran


Samping Perawat
1 Ceftriaxone mengobati hipersensitifitas, mual, melakukan tes
2x1 gram meningitis, hiperbilirubin. muntah, alergi terhadap
mengatasi sakit perut, obat
pneumonia, pusing, ceftriaxone.
gonore sakit kepala,
(kencing lidah
nanah), bengkak,
infeksi kulit berkeringat,
dan jaringan vagina
lunak. Infeksi terasa gatal
pada pasien dan
neutropenia mengeluark
(kelainan an cairan,
darah), diare,
mengatasi demam,
sepsis, menggigil,
peradangan nyeri otot,
pelvis, sariawan.
infeksi
saluran
kemih,
infeksi
saluran
pernapasan
bawah,
infeksi intra-
abdomen, flu
dan pilek,
otitis media.

2 Ranitidin Tukak pada Riwayat alergi Nyeri dada, Kaji adanya


2x50mg lambung dan terhadap sakit mual dan
duodenum golongan obat tenggorokan muntah.
(usus 12 jari). ini, ibu yang , mual Kolaborasi
Gastritis atau sedang mnyusui, dengan dokter
sakit maag, gagal ginjal untuk
mencegah melakukan
timbulnya pemeriksaan
gejala asam dan
lambung memberikan
37

terapi sesuai
dengan order.
3 Tramadol Nyeri akut Memiliki Sakit Memantau
2x100mg dan kronik riwayat kepala, tanda-tanda
yang berat, hipersensitivitas limbung, vital,
nyeri akibat atau alergi lelah, mengobservasi
trauma berat, terhadap obat mengantuk, tanda dan
nyeri akibat tramadol, banyak gejala dari
gangguan mendapatkan berkeringat, obat.
saraf, nyeri pengobatan kulit
setelah dengan kemerahan,
operasi penghambat gatal, mulut
monoamin kering,
oksidase mual,
(MAO), muntah,
mengalami perut
keracunan akut kembung,
alkohol, sulit buang
hipnotika, dan air kecil dan
obat-obat yang sulit buang
mempengaruhi air besar
sistem saraf
pusat lainnya.
3 Infus RL Mengembalik Hipernatremia, Hati-hati Memastikan
1000cc/24 an kelainan ginjal, pada botol infus
jam keseimbanga kerusakan sel pemberian yang diberikan
n elektrolit hati, asidosis penderita benar, dengan
pada keadaan laktat. edema perhitungan
dehidrasi dan perifer tetesan yang
syok pulmoner tepat
hopovolemik
4 Infus D5 Sebagai Hiperglisernia, Hiperglisem Memastikan
1000cc/24 larutan nutrisi diabetes ia, efek botol infus
jam dengan insipidus, osmotiknya yang diberikan
kandungan penderita dapat benar, dengan
kalori sekitar dengan anuria, menyebabk perhitungan
200 kalori intracranial atau an iritasi tetesan yang
per liter, juga intraspinal lokal, tepat
dipergunakan anuria,
untuk oliguria dan
menambah circulatory
volume collapse
peredarahan
darah pada
keadaan
dehidrasi dan
shockl
38

II. ANALISA DATA

No. DATA ETIOLOGI MASALAH


1. DS : Penurunan Ketidakefektifan
Pasien mengatakan pusing dan konsentrasi perfusi jaringan
badan terasa lemas, tidak hemoglobin dalam perifer
bertenaga. darah
DO :
- Pasien tampak lemah,
terbaring diatas tempat tidur
- Wajah Pasien tampak pucat
- Konjungtiva anemis.
- Bibir Pasien tampak pucat
- Turgor kulit tidak elastis
- Skala aktivitas III memerlukan
bantuan dan pengawasan
orang lain secara minimal dan
alat.
- Akral teraba dingin
- CRT 5 detik
- TD : 110/60 mmHg
- N : 129 x/m
- R : 23 x/m
- T : 37,1 0C
- HB 9 gr/dl
2. DS : Cedera Fisik : Nyeri Akut
Pasien mengatakan “Luka operasi Luka post OP
terasa sakit seperti ditusuk-
tusuk/ditekan”
P. Cidera Fisik : luka operasi
Q. Seperti ditusuk tusuk
R. Abdoment luka post OP
Laparatomy atas indikasi
tumor pankreas
S. 6 (0 – 10) nyeri sedang
T. 5 – 10 menit ( hilang timbul)
DO:
- Pasien tampak meringis
- TTV:
TD : 110/60 mmHg
N : 129 x/m
R : 23 x/m
T : 37,1 0C
- Pasien Tampak gelisah
- Skala nyeri 6 (0 – 10)
39

3. Faktor Resiko Resiko Infeksi


- Prosedur invasif
 Terpasang infus di radialis
sinistra RL
 Terpasang NGT
 Terpasang kateter ukuran
16
 Terpasang Drain pada
tanggal 24-07-2017
 Luka tertutup kasa dan
tampak ada rembesan darah
pada kasa

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan kosentrasi
hemoglobin dalam darah
2. Nyeri akut berhubungan dengan cidera fisik luka post Op
3. Resiko infeksi dengan faktor resiko prosedur invasif dan luka post Op.

IV. INTERVENSI DAN RASIONAL


1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
konsentrasi hemoglobin dalam darah
No Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1. Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi tanda-tanda 1. Tanda-tanda vital
keperawatan selama 1x7 jam vital. merupakan acuan
diharapkan perfusi jaringan 2. Observasi warna kulit untuk mengetahui
perifer pasien normal dengan dan temperatur keadaan umum
kriteria hasil : permukaan tubuh. pasien.
a. Tanda-tanda vital dalam 3. Observasi 2. Mengetahui
batas normal : konjungtiva dan tanda-tanda
TD : 120/80 mmHg. mukosa oral. kekurangan
N : 60-100 x/menit. 4. Observasi capilery cairan.
RR : 16-20 x/menit. refill time. 3. Untuk
S : 36-37,5OC 5. Monitor hasil mengetahui kadar
b. Turgor kulit elastis laboratorium oksigen yang
c. Konjungtiva tidak anemis. hemoglobin. masuk kedalam
d. Mukosa oral tidak anemis. 6. Kolaborasi dengan jaringan tubuh.
e. CRT <3 detik. dokter dalam 4. Oksigen dalam
f. Hb meningkat dalam pemeriksaan darah.
rentang normal. ketidakefektifan 5. Memantau hasil
perfusi jaringan. laboratorium
guna
menegakkan
40

diagnosa,
penurunan
hemogobin
menyebabkan
suplai oksigen
dalam darah.
6. Kolaborasi untuk
menentukan
intervensi yang
tepat pada pasien
untuk
meningkatkan
ketidakefektifan
perfusi jaringan
perifer.

2. Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik luka operasi.


No Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1. Setelah dilakukan tindakan 1. Berikan posisi yang 1. Untuk menurunkan
keperawatan selama 1 x 2 jam nyaman dan gunakan ketegangan atau
diharapkan nyeri berkurang bantal untuk spasme otot dan
dibuktikan dengan kriteria hasil menyokong daerah untuk
: yang sakit. mendistribusikan
a. Pasien melaporkan 2. Ajarkan pasien teknik kembali pada
karakteristik nyeri. napas dalam. bagian tubuh.
b. Pasien mengungkapkan 3. Anjurkan untuk 2. Untuk
perasaan nyaman setelah meningkatkan istirahat. meminimalkan
nyeri berkurang. 4. Monitor tanda-tanda atau mengurangi
c. Paien mampu melakukan vital . nyeri.
teknik relaksasi untuk 5. Observasi reaksi non 3. Istirahat yang
mengurangi nyeri. verbal nyeri. cukup membantu
6. Observasi keadaan mengurangi nyeri.
nyeri PQRST. 4. Tanda-tanda vital
7. Kolaborasi dengan membantu
dokter dalam mengetahui adanya
pemberian obat sesui nyeri.
indikasi. Tramadol 5. Untuk mengetahui
2x100 Mg. respon non verbal
nyeri.
6. Untuk
memfasilitasi
pengkajian yang
akurat tentang
tingkat nyer pasien.
7. Penggunaan agen
farmakologi untuk
mengurangi nyeri.
41

3. Resiko infeksi dengan faktor resiko


No Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1 Setelah dilakukan tindakan 1. Menimalkan resiko 1. Mencuci tangan
keperawatan selama 1x 7 jam infeksi dengan adalah cara untuk
diarapkan resiko infeksi tidak mencuci tangan mencegah
terjadi. Dibuktikan dengan sebelum dan setelah penularan
ktiteria hasil : memberikan patogen dan
a. Tidak ada patogen yang perawatan, sarung tangan
terlihat dalam kultur. menggunakan sarung dapat melindungi
b. Suhu dalam rentang normal tangan untuk tangan pada saat
: 36-37,5oC. mempertahankan memegang luka
c. Sekresi pernapasan bersih asepsis pada saat yang dibalut atau
dan tidak berbau. memberikan melakukan
d. Urine tetap berwarna perawatan langsung. berbagai
kuning jernih. 2. Pantau suhu setian 1 tindakan.
e. Luka insisi dan darin jam. 2. Suhu yang terus
terlihat bersih. 3. Gunakan teknik meningkat
f. Pasien terbebas dari infeksi. aseptik yang ketat setelah
pada saat pembedahan
membersihkan kateter dapat merupakan
urine. tanda awitan dan
4. Berikan asupan cairan komplikasi
3-4 liter setiap hari pulmonal, infeksi
bila tidak luka, saluran
dikontraindikasikan. kemih, atau
5. Berikan asupan tromboflebitis.
nutrisi yang adekuat. 3. Untuk
menghindari
penyebaran
patogen.
4. Untuk membantu
menipiskan
sekresi mukosa.
5. Membantu
menstabilkan
berat badan,
meningkatan
tonus otot dan
membantu
penyembuhan
luka.
42

V. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

No Dx Jam Implementasi Paraf Evaluasi


Keperawatan
1. Ketidakefektifan 10.00 1. Mengobservasi JAM 14.00 WITA
perfusi jaringan tanda-tanda vital. S : Pasien mengatakan
perifer 10.05 2. Mengobservasi warna pusing dan badan terasa
berhubungan kulit dan temperatur lemas.
dengan permukaan tubuh. O:
penurunan 10.10 3. Mengobservasi - Tanda-tanda vital
konsentrasi konjungtiva dan dalam rentang normal
hemoglobin mukosa oral. P : 122x/menit
dalam darah 10.15 4. Mengobservasi RR: 23 x/menit
capilery refill time. T: 36,8°C
10.20 5. Memonitor hasil SPO2 : 98%
laboratorium - Pasien tampak
hemoglobin. terbaring lemah diatas
10.30 6. Berkolaborasi dengan tempat tidur, wajah
dokter dalam tampak pucat, tidak
pemeriksaan cerewet
ketidakefektifan - konjungtiva anemis,
perfusi jaringan mukosa oral anemis
- Turgor kulit tidak
elastis
- Konjungtiva tidak
anemis
- CRT 5 detik
- HB tetap 8,2 gr/dl
belum ada hasil
pemeriksaan lab darah
lengkap.
- Berkolaborasi dengan
dokter dalam
pemeriksaan.
- ketidakefektifan
perfusi jaringan.
A : Masalah
keperawatan
ketidakefektifan perfusi
jaringan belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
1. Kaji tanda-tanda vital
2. Kaji warna kulit dan
temperature
3. Kaji konjungtiva dan
mukosa oral
43

4. Kaji capilery refill


time
5. Monitor hasil
laboratorium
hemaglobin

2. Nyeri akut 10.00 1. Memberikan posisi Jam 14.00 WITA


berhubungan yang nyaman dan
dengan cedera gunakan bantal untuk S: Pasien mengatakan
fisik luka operasi menyokong daerah nyeri di bagian perut.
yang sakit. P: cedera fisik luka
10.05 2. Mengajarkan pasien operasi
teknik napas dalam. Q : Nyeri terasa seperti
10.10 3. Menganjurkan untuk tertusuk-tusuk
meningkatkan R : Nyeri hanya
istirahat. dirasakan dari perut
10.15 4. Memonitor tanda- sampai ke bagian
tanda vital . epigastrium
10.20 5. Mengobservasi reaksi S : Skala nyeri Pasien 5
10.30 non verbal nyeri. (sedang)
10.45 6. Mengobservasi T : Nyeri dirasakan terus
keadaan nyeri menerus
PQRST. - pasien mengatakan
10.00 7. Berkolaborasi dengan nyaman dengan
dokter dalam posisi semi fowler.
pemberian obat sesui - pasien mengatakan
indikasi. Tramadol tidur sering
2x100 Mg terbangun karena
nyeri
O:
- skala nyeri 5, nyeri di
bagian abdomen
terasa tertusuk-tusuk
dan dirasakan setiap
saat.
- pasien tampak
meringis menahan
sakit dan gelisah.
- Posisi semi fowler.
- pasien mampu
melakukan teknik
relaksasi napas dalam
dan pasien suka.
- mendengarkan musik
untuk mengurangi
rasa nyeri
- TTV : P:122 x/mnt,
R: 23x/mnt, T:
44

36,8ºC, SPO2: 98%.


A : Masalah nyeri akut
belum teratasi.
P: lanjutkan intervensi
1. Lakukan penkajian
nyeri PQRST
2. Observasi reaksi non
verbal nyeri dari
ketidaknyamanan
3. Berikan posisi yang
nyaman
4. Ajarkan teknik
relaksasi nafas dalam
dan mendengar lagu
kesukaan
5. Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan
pencahayaan dan
kebisingan
6. Anjurkan untuk
meningkatkan
istirahat
7. Memonitor tanda
tanda vital
3. Resiko infeksi 10.00 1. Meminimalkan JAM 14.00 WITA
dengan faktor resiko infeksi dengan
resiko : mencuci tangan S: -
 Luka jahitan sebelum dan setelah O:
post operasi memberikan - tidak terdapat tanda-
 Tidak ada perawatan, tanda infeksi pada
puss. menggunakan sarung area sekitar luka
 Tidak ada tangan untuk operasi dan pada
tanda-tanda mempertahankan daerah yang
perubahan asepsis pada saat terpasang alat infasid
tapi masih memberikan - TTV: TD 110/ 60
merasa nyeri. perawatan langsung. mmHg. Nadi: 129
 Tanda-tanda 10.05 2. Memantau suhu x/menit. RR: 30 x
vital : TD : setian 1 jam. /menit, temperatur:
110/60 10.10 3. Menggunakan teknik 37 °C. SPO2 89%
mmHg. Nadi aseptik yang ketat - Luka tertutup kasa.
:129 x/menit, pada saat A: masalah resiko
Respirasi : membersihkan infeksi belum terjadi
30x/menit, kateter urine. P: lanjutkan intervensi
Temperatur : 10.15 4. Memberikan asupan 1. Menimalkan resiko
38,2°C, SPO2 cairan 3-4 liter setiap infeksi dengan
: 89%. hari bila tidak mencuci tangan
45

 Terpasang dikontraindikasikan. sebelum dan setelah


infus di 10.20 5. Memberikan asupan memberikan
radialis nutrisi yang adekuat perawatan,
sinistra RL menggunakan
 Terpasang sarung tangan untuk
NGT mempertahankan
 Terpasang asepsis pada saat
kateter ukuran memberikan
16 perawatan langsung.
 Terpasang 2. Pantau suhu setian 1
Drain pada jam.
tanggal 24- 3. Gunakan teknik
07-2017. aseptik yang ketat
 Luka tertutup pada saat
kasa membersihkan
 tampak ada kateter urine.
rembesan 4. Berikan asupan
darah pada cairan 3-4 liter setiap
kasa. hari bila tidak
dikontraindikasikan.
5. Berikan asupan
nutrisi yang adekuat
46

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pengkajian
1. Usia dan Jenis Kelamin
Tumor pankreas adalah tumor yang berasal dari jaringan eksokrin
dan endokrin pankreas. Berdasarkan histopatologinya, tumor pankreas
dibagi menjadi tumor jinak dan tumor ganas. Menurut klasifikasi WHO
tumor primer eksokrin pankreas dibagi 3 bagian yaitu jinak, borderline,
dan ganas. Tumor eksokrin pankreas pada umumnya berasal dari sel
duktus dan sel asiner. Sekitar 90% tumor pankreas merupakan tumor ganas
jenis adenokarsinoma duktus pankreas atau yang disingkat kanker
pankreas (Padmomartono, 2009).
Berdasarkan pengkajian didapatkan bahwa pasien berusia 47 tahun
dan berjenis kelamin laki-laki. Adapun hasil pengkajian sama dengan teori
terdapat kesamaan yang menyatakan bahwa angka kejadian Tumor
pankreas pada usia 40-tahun serta lebih sering terjadi pada anak laki-laki.
2. Keluhan Utama
Menurut Hidayati (2013), keluhan utama pada pasien dengan pos
op laparatomi reseksi adalah lemah, menunjukan keadaan anemia.
Berdasarkan pengkajian didapatkan bahwa keluhan utama pasien
adalah ibu Pasien mengatakan anak lemas. Hal ini terjadi dikarenakan
adanya penurunan kadar hemaglobin, leukosit dan trombosit pada anak
(pansitopeni). Ketidakmampuan sum-sum tulang belangkang untuk
memproduksi sel darah merah.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Sehari sebelum masuk rumah sakit ketika di rumah pasien mengeluh ada
benjolan di perut, kemudian keesokkan harinya pada tanggal 25 oktober
2017 pasien memeriksakan diri ke poliklinik penyakit dalam RSUD Ulin
Banjarmasin, hasil pemeriksaan di poliklinik menunjukkan adanya tumor
pada daerah pankreas pasien, lalu pasien dianjurkan rawat inap di ruang
Tulip 1C untuk persiapan operasi. Pasien dirawat di ruang Tulip 1C selama
± 1 minggu, tanggal 24 Oktober 2017 pasien baru menjalani operasi
47

laparatomi reseksi tumor pankreas. Setelah di operasi pasien dipindahkan ke


ruang ICU untuk di observasi lebih lanjut, pasien masuk ICU dengan
kesadaran apatis GCS 1, E4V4M5, pasien tampak anemis, drainase positif
ada cairan darah, selama di ICU pasien di observasi setiap satu jam sampai
pada saat pengkajian.
4. Pemeriksaan Fisik
Menurut Hidayati (2013), pemeriksaan fisik pada pasien
dengan tumor pankreas ditemukan tanda dan gejala seperti
pucat, lemah, konjungtiva anemis, CRT > 3 detik, ekimosis,
purpura.
Berdasarkan pengkajian pada hari rabu 24 oktober 2017,
didapatkan bahwa pasien terlihat pucat, lemah, konjungtiva
anemis, CRT 5 detik Pada kasus Tn.A tidak terdapat kesenjangan
antara teori dan kenyataan yang ada di lapangan.
B. Diagnosa Keperawatan
Menurut wilkinson (2016) kelebihan atau kekurangan oksigenasi atau
eliminasi karbondioksida di membran kapiler-alveolarTujuan utamanya
adalah pasien mampu mencapai Respiratory Status: Ventilation, perencanaan
untuk diagnosa ini yang sesuai dan sudah dilakukan serta sesuai dengan
Nursing Interventions Classification (NIC) dan Nursing Outcomes
Classification (NOC), yaitu tanda vital dalam rentan normal ( TD : 120/80
mmHg, Suhu : 36-37,5 oC, Nadi : 60-100x/menit, dan semua perencanaan
sesuai dengan Nursing Interventions Classification (NIC) yaitu: berikan
terapi oksigen sesuai dengan petunjuk dokter, monitor aliran oksigen,
tambahkan air oksigen jika habis, lakukan pengecekan jika oksigen habis
dalam tabung, ganti ohsigen serta tabung oksigen jika habis dan monitor
TTV. Dari perencanaan yang telah di susun semua bisa terlaksana.
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah Menurut Wilkinson (2016)
ketidakefektifan perfusi jaringan perifer adalah penuruan sirkulasi darah
ferifer yang dapat mengganggu kesehatan.
48

Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik luka operasi. Menurut


NANDA 2009-2011 nyeriakut adalah pengalaman sensorik dan emosional
yang tidak menyenagkan dan muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau
potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa
(interentional assosiation for the study of pain), awitan yang tiba-tiba atau
lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir dapat diantisipasi atau
diprediksi dengan berlangsung kurang dari 6 bulan. Dari data tersebut dan
berdasarkan keluhan pasien, penulis memunculkan diagnosa nyeri akut, ini
karena sesuai denngan tandadan gejala serta skala nyeri yang pasien rasakan.
Nyeri akut adalah keadaan ketika individu mengalami dan melaporkan
adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak
menyenangkan selama enam bulan atau kurang.
Diagnosa tersebut ditegakkan bila ada data mayor yang mendukung
yaitu pengungkapan tentang deskriptor nyeri, dan data minor yaitu
ketidakaktifan fisik atau imobilitas, perubahan pola tidur, dan perubahan
kemampuan untuk melanjutkan aktifitas sebelumnya. Alasan diagnose
tersebut diangkat karena saat pengkajian didapatkan data subjektif yaitu
pasien mengatakan merasakan nyeri bagian perut dibekas luka operasi, dan
data obyektif yaitu : Pasien meringis karena nyeri P: Nyeri dirasakan karena
tindakan operasi Q: Nyeri seperti ditusuk-tusuk, R: Letak nyeri berada
dibagian perut dalam, S: Skala nyeri 7, T: Nyeri dirasakan saat beralih baring
Diagnosa tersebut penulis prioritaskan karena keluhan yang dirasakan
pasien saat itu dan apabila masalah itu tidak segera ditangani akan
menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien dan bisa mengganggu aktifitas
klien sehingga akan timbul rasa ketakutan untuk melakukan gerakan dan
tindakan.
Tindakan keperawatan untuk mengatasi diagnosa ini adalah mengkaji
karakteristik skala nyeri, mengevaluasi tanda-tanda vital, mengajarkan
penggunaan teknik relaksasi, kalaborasi pemberian analgetik.
Kekutan dari tindakan ini adalah bekerja sama dalam mengurangi rasa
nyeri. Kelemahannya adalah terkadang klien tidak bisa di ajak buat kerjasama
dan melakukan ajaran yang diberikan.
49

Resiko infeksi dengan faktor resiko


Menurut NANDA 2015-2017 resiko infeksi adalah mengalami
peningkatan resiko terserang organisme patogenik. Resiko infeksi bisa
terjadi karena adanya tarauma pada kulit/tusukan yang disengaja atupun
tidak disengaja dan memungkinkan mikroorganisme patologik masuk dan
bisa menjadi infeksi.
Resiko infeksi adalah peningkatan resiko masukya organisme
pathogen . Diagnosa tersebut dapat ditegakan jika ada faktor-faktor resiko
yaitu ketidak adekuatan pertahanan tubuh primer (kulit tidak utuh, trauma
jaringan, penurunan kerja silia,perubahan peristaltik), ketidak adekuatan
imun buatan, malnutrisi, trauma, kerusakan jaringan. Alasan diagnose
tersebut di angkat karena ditemukan faktor-faktor resiko yang mendukung
yaitu secara subyektif yaitu pasien mengatakan sakit pada saat dimedikasi
karena terdapat luka jahitan yang masih belum kering dean data obyektif
yaitu pasien meringis kesakitan terdapat luka jahitan post operasi, tidak
ada puss, tidak ada tanda-tanda perubahan tapi masih merasa nyeri dengan
tanda-tanda vital, TD: 110/70 mmHg,N: 80 x/menit, Rr: 24 x/menit, S: 36
°C. Diagnose tersebut penulis prioritaskan sebagai diagnose ke empat
karena masalah tersebut belum terhadap terjadinya infeksi, masalah ini
dapat diminimalkan dengan perawatan luka post operasi dengan teknik
aseptic serta nutrisi yang adekuat sehingga tidak menimbulkan terjadinya
infeksi Tindakan keperawatan untuk mengatasi diagnosa ini adalah
observasi dan laporkan tanda dan gejala( infeksi seperti kemerahan,
panas), kaji temperatur klien tiap 4 ajm, catat dan laporkan nilai
laboratorium (leukosit, protein, serum, albumin), istirahat yang adekuat,
cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan (Nanda Nic & Noc,
2015). Kekuatan dari tindakan ini adalah bekerja sama dalam mematuhi
anjuran perawatan agar luka tetap kering. Kelemahannya adalah dapat
terjadi infeksi.
50

BAB V
PENUTUP

1. Kesimpulan

Kanker Pankreas merupakan tumor ganas yang berasal dari sel-sel yang
melapisi saluran pankreas. Sekitar 95% tumor ganas pankreas merupakan
Adenokarsinoma. Tumor-tumor ini lebih sering terjadi pada laki-laki dan
agak lebih sering menyerang orang kulit hitam. Tumor ini jarang terjadi
sebelum usia 50 tahun dan rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada penderita
yang berumur 55 tahun. (Brunner & Suddarth, 2001).

Kanker Pankreas pada bagian badan dan ekor pancreas dapat metastasis ke
hati, peritoneum, limpa, lambung dan kelenjar adrenal kiri. Karsinoma di
kaput pancreas sering menimbulkan sumbatan pada saluran empedu
sehingga terjadi kolestasis ekstra-hepatal. Disamping itu akan mendesak dan
menginfiltrasi duodenum, sehingga dapat menimbulkan peradangan di
duodenum. Karsinoma yang letaknya di korpus dan kaudal, lebih sering
mengalami metastasis ke hati dan ke limpa. Tindakan bedah yang harus
dilakukan biasanya cukup luas jika ingin mengangkat tumor terlokalisir
yang masih dapat direseksi. Namun demikian, terapi bedah yaitu Definitive
(eksisi total lesi), Tidak dapat dilakukan karena pertumbuhan yang sudah
begitu luas. Tindakan bedah tersebut sering terbatas pada tindakan paliatif.
Meskipun tumor pankreas mungkin resisten terhadap terapi radiasi standar,
pasien dapat diterapi dengan radioterapi dan kemoterapi (Fluorourasil, 5-
FU) . jika pasien menjalani pembedahan, terapi radiasi introperatif (IORT =
Intraoperatif Radiation Theraphy) dapat dilakukan untuk memberikan
radiasi dosis tinggi pada jaringan tumor dengan cedera yang minimal pada
jaringan lain serta dapat mengurangi nyeri pada terapi radiasi tersebut.
51

2. Saran

Diharapkan perawat dapat bertindak secara profesional dalam


memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan tumor pankreas,
mampu mengkaji masalah pasien dengan akurat sehingga dapat
dirumuskan suatu doagnosa yang tepat dan dapat di rancang intervensi
yang tepat untuk pasien, melasanakkan implementasi secara tepat
sehingga pada evaluasi dapat diperoleh hasil yang diharapkan dan sesuai
dengna tujuan sehingga masalah dapat teratasi.