Anda di halaman 1dari 12

TUGAS INDIVIDU

“DIARE (CUCI TANGAN)”


Disusun untuk melengkapi tugas Semester Pendek FP Gastrointestinal System

Disusun oleh :
Kenny Maharani 135070201111016
Reguler 2/PSIK 2013

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit diare masih merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah di negara
berkembang, tidak terkecuali di Indonesia. Diare sendiri adalah suatu keadaan pengeluaran
tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya yang ditandai dengan adanya
perubahan pada volume, keenceran dan frekuensi yang bisa sampai 3 kali dalam sehari
dengan disertai atau tanpa darah.
Setiap tahunnya di Indonesia angka kejadian diare terus mengalami peningkatan. Angka
kematian yang disebabkan oleh diare pun semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena
kurangnya akses pada air bersih dan fasilitas sanitasi dan pendidikan kesehatan.
Menurut para ahli, kesehatan setiap individu itu dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu
lingkungan sekitar tempat seseorang hidup, pola hidupnya sehari-hari, dan kebiasaan
menjaga kebersihan dirinya. Menjaga kebersihan tangan merupakan pertahanan awal
untuk menjaga kebersihan diri kita. Upaya untuk menjaga kebersihan tangan yaitu dengan
mencuci tangan dengan sabun. Mencuci tangan dengan sabun telah terbukti secara ilmiah
dapat mencegah penyebaran penyakit-penyakit seperti diare dan infeksi saluran
pernapasan atas (ISPA) yang dapat menyebabkan kematian khususnya di negara-negara
berkembang.
Upaya promotif dan preventif dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan bangsa
dan masyarakat dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu perilaku hidup bersih dan sehat
yang merupakan item dari tiga pilar pembangunan bidang kesehatan. Harapannya dengan
cuci tangan yang dikerjakan secara rutin oleh seluruh masyarakat akan dapat menurunkan
berbagai penyakit menular dan meningkatkan status kesehatan masyarakat.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi diare ?
2. Apa saja penyebab diare?
3. Apa saja faktor resiko terjadinya diare?
4. Apa saja upaya pencegahan terjadinya diare?
5. Apa definisi dari mencuci tangan?
6. Bagaimana cara mencuci tangan dengan sabun?
7. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku cuci tangan?
8. Bagaimana hubungan antara mencuci tangan dengan kejadian penyakit diare?
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DIARE
1. Definisi Diare
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak
seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi lebih
dari 3 kali dalam sehari dengan atau tanpa lendir darah (Hidayat, 2008 dalam Prayitno,
2013).
Menurut WHO (2000) yang dikutip dalam Muhziadi (2012), diare secara klinik
dibagi menjadi tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri dan diare
persisten.
Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak di
negara berkembang. Sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi. Banyak dampak
yang ditimbulkan oleh infeksi saluran cerna yaitu antara lain pengeluaran toksin yang
dapat menimbulkan gangguan reabsorpsi cairan dan elektrolit sehingga terjadilah
dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa yang dapat
menyebabkan kematian.

2. Penyebab Diare
Secara garis besar diare dibagi menjadi menjadi diare radang dan non radang. Diare
radang dibagi lagi menjadi diare infeksi dan non infeksi. Sedangkan diare non radang
bisa disebabkan karena hormonal, anatomis, obat-obatan dan lain-lain. Penyebab
infeksi bisa virus, bakteri, parasit, dan jamur, sedangkan non infeksi bisa karena alergi
dan radiasi (Wulandari, 2010).
Penyebab diare paling banyak adalah diare karena infeksi. Peradangan usus oleh
agen penyebab :
a. Faktor Infeksi
1) Infeksi enteral
Yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada
anak, meliputi :
a) Infeksi bakteri : Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella, Champylobacter,
Yersinia, Aeromonas dan sebagainya.
b) Infeksi virus : Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan sebagainya.
c) Infeksi parasit : Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris< Strongyloides),
Protozoa (E.histolytica, Giardia Lamblia, Trichomonas hominis), jamur
(C.albicans).
2) Infeksi parenteral
Yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan seperti Otitis Media
Akut (OMA), tonsillitis bronkopneumonia, dan ensefalitis. Keadaan ini terutama
terdapat pada anak dan bayi dibawah usia 2 tahun.
b. Faktor Malabsorbsi
1) Malabsorbsi Karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa),
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa).
2) Malabsorbsi Lemak
3) Malabsorbsi Protein
c. Faktor Makanan : Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
d. Faktor Psikologis : Rasa takut, cemas

3. Faktor Resiko Terjadinya Diare


Terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : pengetahuan,
sikap, perilaku, sosial ekonomi, petugas, penderita, kesehatan lingkungan yang
meliputi: pengadaan air bersih, pencemaran, kontaminasi, perantara penyakit, serta
tempat kerja.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Amrullah (2014), ada beberapa faktor
resiko yang mempengaruhi kejadian diare yaitu :
a. Pengetahuan
Penyakit diare banyak ditemukan pada masyarakat dengan tingkat pengetahuan
rendah. Saat ini banyak kejadian penyakit infeksi, terutama jika tingkat pengetahuan
dan pemahaman mengenai suatu penyakit masih rendah. Rendah atau kurangnya
pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang diare ini kemungkinan terjadi
karena kurang atau tidak jelasnya informasi yang diterima oleh individu.
Sumber pemahaman dan pengetahuan tentang diare sebenarnya bisa diperoleh
dari berbagai cara, antara lain dari media massa, media elektronik, penyuluhan
kesehatan dan lain-lain.

b. Sikap
Hasil penelitan semakin menguatkan pendapat para ahali yang telah terlebih
dahulu dikemukakan bahwasanya penyakit diare banyak terjadi dimana masyarakat
relatif kurang serius dalam menyikapi terjadinya suatu penyakit.
Masyarakat memandang bahwa diare bukan merupakan penyakit yang berbahaya,
dan hal tersebut sudah tertanam kuat dalam benak mereka, mereka cenderung
meremehkan diare karena tanda dan gejalanya yang ringan dan tidak perlu terlalu
diwaspadai serta mereka menganggap penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya
dan kurangnya minat untuk mencari pengobatan dan perawatan jika tanda dan gejala
yang terjadi masih ringan.
Di negara berkembang, tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penyakit yang
masih rendah mendukung pola pembentukan sikap bagaimana seseorang merespon
kejadian suatu penyakit. Namun pembentukan dan perubahan sikap tidak hanya
dipengaruhi oleh pengetahuan, namun juga dipengaruhi oleh adanya tamabahan
informasi tentang suatu obyek, persuasi, dan tekanan sosial. Jika hal-hal ini
memberikan pengaruh positif maka sikap yang terbentuk juga baik, begitupun
sebaliknya.
Jadi, pembentukan dan perubahan sikap seseorang yang baik akan semakin besar
bila sumber dipandang andal, dapat dipercaya dan disukai oleh target. Tetapi ada
saatnya seseorang kehilangan minat dalam menyikapi suatu obyek yang sedang
terjadi, hal ini bisa dikarenakan oleh sifat dari individu, satatus kesehatan dan tingkat
pengetahuan.
c. Perilaku
Diare sering terjadi dimana masyarakat atau seseorang memiliki perilaku
kesehatan yang buruk. Perilaku kesehatan yang buruk atau kurang seperti contohnya
membuang samapah sembarangan, kurang atau sulit menjaga kebersihan baik
kebersihan diri sendiri maupun kebersihan lingkungan, tidak membiasakan mencuci
tangan sebelum makan, membuang kotoran disembarang tempat. Hal tersebut sering
sekali dilakukan oleh masyarakat kita, karena kesadaran untuk menjalani perilaku
hidup bersih dan sehat masih relatif rendah, sehingga tindakan tersebut sudah
dianggap biasa dan sudah mendarah daging.
Namun selain perilaku esehatan yang baik banyak faktor lain yang bisa
mendukung peningkatan staus kesehatan, diantaranya kesehatan lingkungan dan
keadaan tempat tinggal, jika lingkungan dan tempat tinggal memiliki higiene dan
snaitasi yang buruk (meskipun perilaku kesehatan baik), maka hal ini juga
mempengaruhi kejadian dan penyebaran suatu penyakit.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhziadi (2012), faktor-faktor yang


berhubungan dengan terjadinya penyakit diare antara lain :
a. Lingkungan
Lingkungan yang tidak sehat sudah pasti dapat meningkatkan resiko terjadinya
penyakit diare, namun pada lingkungan yang sehat pun tidak menutup kemungkinan
dapat terjadi penyakit diare juga. Pada lingkungan yang sehat juga bisa terjadi diare
apabila seseorang sering melakukan kegiatannya di luar lingkungan tempat
tinggalnya. Begitu pula sebaliknya pada lingkungan yang tidak sehat belum tentu
seseorang terjangkit diare, apabila dia bisa mengantisipasinya.
Jadi dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa lingkungan yang sehat
dan tidak sehat dapat menyebabkan terjadinya penyakit diare, namun tidak semata-
mata hanya karena lingkungan, tapi juga bisa dipengaruhi oleh perilaku atau sikap
tiap individu dalam menjaga kesehatannya.
b. Makanan
Penyakit diare sebagian besar disebabkan oleh bakteri dan virus. Bakteri dan
virus ini bisa ditularkan melalui media utama yaitu air. Diare dapat terjadi bila
seseorang menggunakan air yang telah tercemar baik tercemar dari sumbernya,
tercemar selama perjalanan sampai menuju rumah-rumah atau tercemar pada saat
disimpan di rumah.
Makanan yang bisa menyebabkan diare adalah makanan yang tercemar, basi,
beracun, terlalu banyak lemak mentah (sayuran) dan kurang matang. Namun
mengkonsumsi makanan bersih pun tidak menutup kemungkinan dapat terjangkit
diare, karena makanan bersih belum tentu makanan itu sehat dan bisa dikonsumsi.

4. Pencegahan Terjadinya Diare


Kegiatan yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit diare yang benar dan efektif
adalah :
a. Perilaku Sehat
1) Menggunakan air bersih yang cukup
Salah satu penyebab terbesar terjadinya diare adalah infeksi bakteri. Bakteri
tersebut dapat masuk dalam tubuh manusia melalui makanan, minuman atau
benda yang tercemar dengan tinja, misalnya jari-jari tangan, tempat makan atau
minum yang dicuci dengan aiar tercemar.
Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap serangan diare yaitu dengan
menggunakan air bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari
sumbernya sampai penyimpanan di rumah.
2) Mencuci tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting
dalam penularan kuman diare dalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan
sabun, terutama setelah buang air besar, setelah membuang tinja anak, sebelum
menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makanan pada anak, dan sebelum
makan. Hal ini dapat mengurangi angka kejadian penyakit diare.
3) Menggunakan jamban
Upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan
resiko terhadap penyakit diare. Setiap keluarga dalam masyarakat harus
mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh seluruh anggota
keluaraga, selain itu jamban juga harus dibersihkan secara teratur, dan jangan
lupa gunakan alas kaki bila akan buang air besar.
4) Sarana pembuangan air limbah
Air limbah baik limbah pabrik atau limbah rumah tangga harus dikelola
dengan sedemikian rupa agara tidak menjadi sumber penularan penyakit. Sarana
pembuangan limbah yang tidak memenuhi syarat akan menimbulkan bau,
mengganggu estetika dan dapat menjadi tempat tumbuhnya nyamuk dan
bersarangnya binatang-binatang kotor lain.

b. Penyehatan Lingkungan
1) Penyediaan air bersih
Penyediaan air yang bersih baik secara kuantitas dan kualitas mutlak
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Untuk mencegah
terjadinya penyakit diare, penyediaan air bersih yang cukup disetiap rumah
tangga sangat diperlukan. Disamping itu perilaku hidup bersih juga harus tetap
dilaksanakan.

2) Pengelolaan sampah
Pengelolaan sampah sangat penting untuk mencegah penularan penyakit diare.
Tempat sampah harus disediakan, sampah harus dikumpulkan setiap hari dan
dibuang ke tempat penampungan sementara.

B. KONSEP CUCI TANGAN


1. Definisi Mencuci Tangan
Mencuci tangan adalah proses mekanik untuk melepaskan kotoran dan debris dari
kulit tangan (Kemenkes RI, 2011 dalam Saptiningsih, 2014).
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan
membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk
menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Hal ini mutlak dilakukan karena
tangan adalah bagian tubuh kita yang paling banyak tercemar kotoran dan bibit
penyakit, terutama penyakit diare. Cuci tangan yang betul tidak hanya dipengaruhi oleh
cara mencucinya, tetapi juga oleh air yang digunakan dan lap tangan yang digunakan.
Saat-saat yang tepat untuk kita mencuci tangan adalah setelah buang air besar,
setelah membersihkan tinja bayi dan balita, sebelum makan, sebelum memberi makan
bayi, dan sebelum menyiapkan makanan.

2. Cara Mencuci Tangan dengan Sabun


Mencuci tangan dapat menggunkan segala jenis sabun baik itu sabun mandi biasa,
sabun antiseptik ataupun sabun cair. Mencuci tangan dengan sabun dan air dilakukan
selama 40-60 detik (Kemenkes RI, 2011 dalam Saptiningsih, 2014). Langkah-langkah
mencuci tangan yang benar menggunakan sabun adalah :
a. Basahi tangan dengan air
b. Tuangkan sabun 3-5 cc
c. Gosok kedua telapak tangan hingga merata
d. Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya
e. Gosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari
f. Jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci
g. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya
h. Gosok dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan ditelapak kiri dan sebaliknya
i. Bilas kedua tangan dengan air
j. Keringkan dengan handuk atau tisu sekali pakai sampai benar-benar kering
k. Gunakan handuk atau tisu untuk menutup keran
l. Tangan sudah bersih

3. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Mencuci Tangan


Saptiningsih (2014) pernah melakukan sebuah penelitian untuk menganalisa faktor-
faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku mencuci tangan. Dari hasil
penelitian didapatkan beberapa faktor yang berhubungan dan yang tidak berhubungan
dengan perilaku mencuci tangan.
a. Pengetahuan
Tingkat pengetahuan seseorang tentang pentingnya mencuci tangan cukup
memiliki pengaruh terhadap kebiasaan melakukan cuci tangan. Namun tidak
selamanya seseorang yang memiliki pengetahuan pentingnya mencuci tangan
melaksanakan perilaku mencuci tangan. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal,
bisa karena sarana fisik yang kurang memadai seperti contohnya kurangnya tempat
cuci tangan. Hal lain yang dapat mempengaruhi perilaku mencuci tangan adalah
kepercayaan, kebiasaan, nilai-nilai, faktor sosio-demografi, lingkungan fisik, dan
sarana. Saat orang tua membiasakan anaknya untuk mencuci tangan sejak dini, maka
kesadaran seseorang untuk membiasakan mencuci tangan akan tinggi.
b. Motivasi
Motivasi adalah suatu dorongan yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Motivasi memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai berikut :
Mendorong manusia untuk berbuat, motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan
dikerjakan dan menentukan arah perbuatan untuk seseorang berperilaku.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa motivasi yang tinggi
dapat mempengaruhi perilaku cuci tangan. Motivasi ini berasal dari pengetahuan
yang tinggi tentang pentingnya mencuci tangan, sehingga mendorong seseorang

4. Hubungan Mencuci Tangan dengan Kejadian Penyakit Diare


Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara perilaku mencuci tangan
dengan insiden terjadinya diare. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rosidi (2010)
yang dikutip dalam Purwandari (2013) mengatakan bahwa ada hubungan antara
kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian diare, 94% anak SD yang terbiasa mencuci
tangan, sedangkan 6% tidak terbiasa mencuci tangan, kejadian diare selama satu bulan,
96% anak tidak mengalami diare dan 4% anak mengalami diare. Kondisi ini
menggambarkan bahwa cuci tangan dapat menurunkan kejadian diare.
Cuci tangan pakai sabun (CTPS) dapat mengurangi diare sebanyak 31% dan
menurunkan penyakit infeksi saluran napas atas (ISPA) sebanyak 21%. Riset global
juga menunjukkan bahwa kebiasaan CTPS tidak hanya mengurangi, tapi juga
mencegah kejadian diare hingga 50% dan ISPA hingga 45% (Fajriyati, 2013 dalam
Purwandari, 2013).
Cuci tangan merupakan tindakan mendasar dalam perilaku hidup bersih dan sehat.
Perilaku cuci tangan tidak serta merta terbentuk dalam diri seseorang. Penekanan
pentingnya cuci tangan sejak dini perlu dilakukan secara terus-menerus sehingga akan
terbentuk kebiasaan cuci tangan tanpa harus diingatkan lagi. Perilaku cuci tangan akan
berhasil ketika sudah tertanam kebiasaan dan juga tersedia sarana dan prasarana untuk
cuci tangan. Penyediaan air bersih dan sabun untuk cuci tangan sangat diperlukan.
Upaya promotif dan preventif dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan bangsa
dan masyarakat dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu perilaku hidup bersih dan
sehat yang merupakan item dari tiga pilar pembangunan bidang kesehatan. Harapannya
dengan cuci tangan yang dikerjakan secara rutin oleh seluruh masyarakat akan dapat
menurunkan berbagai penyakit menular dan meningkatkan status kesehatan
masyarakat.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Diare merupakan salah satu penyakit yang banyak terjadi di negara berkembang.
Kejadian diare setiap tahunnya mengalami peningkatan, dan diare merupakan salah satu
penyakit yang dapat menimbulkan kematian.
Diare banyak disebabkan oleh bakteri atau virus yang terbawa dari tangan yang
menyentuh atau memegang makanan, minuman atau barang lain yang tercemar. Dalam
upaya untuk mengatasi penyebaran bakteri penyebab diare untuk tidak masuk ke dalam
tubuh manusia diperlukan pencegahan sederhana.
Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu tindakan preventif untuk
mencegah diare dan terbukti telah berperan penting dalam menurunkan angka kejadian
diare di dunia. Namun tidak hanya promosi tentang pentingnya ccui tangan saja yang
harus dilakukan, namun juga harus ada peningkatan sarana dan prasarana yang memadai
dalam menjaga keberlangsungan kegiatan cuci tangan.

B. SARAN
Tenaga kesehatan pun diharapkan untuk dapat meningkatkan perhatian terhadap faktor-
faktor lain yang dapat menyebabkan diare dan terus mengkampanyekan program cuci
tangan untuk meningkatkan kesadaran pada masyarakat tentang pola hidup bersih dan
sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Amrullah, Akhmad E, Lailil F, Khofi H. 2014. Studi deskriptif tentang Faktor Resiko yang
Mempengaruhi Kejadian Diare di Posyandu Balita Desa Darsono RT 01 Rw 02 di
Wilayah Kerja Puskesmas Arjasa Kabupaten Jember. Online. Diakses dari
[http://jurnal.stikesdrsoebandi.ac.id/index.php/jkes/article/viewFile/6/7] diakses pada
2 Agustus 2016
Muhziadi. 2012. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kasus Diare di Pusesmas Ulee
Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2012. Online. Diakses dari [http://www.ejournal.
uui.ac.id/jurnal/MUHZIADI-ddk-jurnal_skripsi_muhzi_edit.pdf] diakses pada 2
Agustus 2016
Prayitno, Setiyo I, Sodikin, Umi Solikhah. 2013. Efektifitas Pemberian Buku Saku Diare
terhadap Pengetahuan Ibu tentang Cara Pencegahan dan Penanganan Diare pada
Anak di RSUD dr.R. Goeteng Troenadibrata Purbalingga. Online. Diakses dari
[http://medisains.ump.ac.id/index.php/medisains/article/viewFile/68/63] diakses
pada 2 Agustus 2016
Purwandari, Retno, Anisah A., Wantiyah. 2013. Hubungan Antara Perilaku Mencuci Tangan
dengan Insiden Diare pada Anak Usia Sekolah di Kabupaten Jember. Online.
Diakses dari [http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/download/
2362/3199] diakses pada 2 Agustus 2016
Saptiningsih, Monica, Yosi M.W, Maria M. 2014. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan
Perilaku Mencuci Tangan pada Anak Sekolah Dasar negeri 03 Kertajaya
Padalarang. Online. Diakses dari [http://ejournal.stikesborromeus.ac.id/file/ jurnal
%205.pdf]diakses pada 2 Agustus 2016
Wulandari, Atik Sri. 2010. Hubungan Kasus Diare dengan Faktor Sosial Ekonomi dan
Perilaku. Online. Diakses dari [http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/jurnal/
Vol1.no2.Juli2010/HUBUNGAN%20KASUS%20DIARE%20DENGAN
%20FAKTOR%20SOSIAL%20EKONOMI%20DAN%20PERILAKU.pdf] diakses
pada 2 Agustus 2016