Anda di halaman 1dari 3

Komplikasi

Pneumothorax tension (terjadi pada 3-5% pasien pneumothorax), dapat


mengakibatkan kegagalan respirasi akut, pio-pneumothorax, hidro- pneumothorax/hemo-
pneumothorax, henti jantung paru dan kematian (sangat jarang terjadi);
pneumomediastinum dan emfisema subkutan sebagai akibat komplikasi pneumthorax
spontan, biasanya karena pecahnya esophagus atau bronkus, sehingga kelainan tersebut
ditegakkan (insidensinya sekitar 1%), pneumothorax simultan bilateral, insidensinya
sekitar 2%, pneumothorax kronik, bila tetap ada selama waktu lebih dari 3 bulan,
insidensinya sekitar 5% (Hisyam dan Budiono, 2009).

1. TENSION PNEUMOTHORAX
Komplikasi ini terjadi karena tekanan dalam rongga pleura meningkat sehingga
paru mengempis lebih hebat, mediastinum tergeser ke sisi lain dan mempengaruhi aliran
darah vena ke atrium kanan.
Tension pneumothorax terjadi pada 3-5% penderita dengan pneumotoraks. Tekanan
udara yang terdapat pada tension pneumosthorax adalah + 10 s/d 25 cmH2O. Nilai ini
jelas berbeda dengan tekanan subatmosfiryang biasanya terdapat pada pneumotoraks
biasa.
Pada tension pneumothorax tekanan positif dalam rongga pleura menetap karena
adanya mekanisme check valve selama inspirasi dan ekspirasi (terbanyak inspirasi). Bila
penderita melakukan inspirasi dalam udara masuk dalam rongga pleura tapi check valve
mencegah udara tersebut keluar lagi, sehingga paru makin mengempis.
Terlihat penderita dispnea dan takipnea, trakea terdorong ke sisi yang lain. Perkusi
dada sisi yang sakit timpani dan suara nafas menghilang. Letak jantung juga ikut
terdorong, pembuluh pena melebar dan aliran balik darah vena menurun, tekanan darah
menurun dan tekanan nadi mengecil.
Pada foto sinar tembus dada terlihat mediastinum terdorong dan diafragma pada sisi
sakit tertekan ke bawah.
Pengobatan adalah segera melakukan dekompresi dengan jarum, kateter kecil atau
pipa interkostal dan hubungkan dengan watersealed drainage.

2. PIO-PNEUMOTHORAX
Pio-pneumotoraks berarti terdapatnya pneumotoraks disertai empiema secara
bersamaan pada satu sisi paru. lnfeksinya berasal dari mikro-organisme yang membentuk
gas atau dari robekan septik jaringan paru atau esofagus ke arah rongga pleura.
Kebanyakan adalah dari robekan abses subpleura dan sering membuat fistula bronko-
pleura. Jenis kuman yang sering terdapat adalah: Stafilokokus aureus, Pseudomonas,
Klebsiella, M. tuberkulosis dll.
Pengobatannya adalah dengan memasang pipa torakostomi dan mengalirkan keluar
cairan pus dan udara dari rongga pleura supaya paru dapat mengembang kembali,
diberikan juga antibiotik yang adekuat secara sistemik. Kadang-kadang perlu juga
pembilasan rongga pleura dengan cairan antiseptik dan pemberian antibiotik secara lokal
ke dalam pleura.
Kadang-kadang terjadi empiema kronik dan kemudian paru-paru dilapisi fibrin
tebal dan terdapat pula fistula bronko-pleura, sehingga paru-paru tetap tidak bisa
mengembang walaupun sudah dipasang water sealed drainage.
Dalam hal ini dapat dilakukan beberapa tindakan seperti :
a. Bila ruang pneumotoraksnya relatif kecil, sekali waktu akan terjadi penempelan
jaringan paru dengan dinding dada, dan paru-paru tidak mengempis walaupun tekanan
intra pleura sama dengan tekanan udara luar (1 atmosfir). Dalam keadaan begini pipa
interkostal dapat dikunci (jangan dicabut karena masih diperlukan untuk pengaliran pus)
dan tidak dihubungkan dengan alat WSD. Ruang pneumotoraks umumnya akan menutup
dengan terbentuknya jaringan granulasi dan rongga pleura jadi mengecil. Pipa interkostal
secara bertahap ditarik keluar sampai lepas. Penyembuhan sempurna cara ini makan
waktu lama (bulanan sampai tahunan).
b. Bila ruang pneumotoraksnya agak besar (misal pada piopneumotoraks post
pneumektomi) diperlukan drainase yang agak permanen. Biasanya iga dekat ruang
pneumotoraks direseksi beberapa sentimeter dan dibuatkan flap Eloesser, sehingga
pengaliran pus keluar jadi lebih lancar.
c. Ruang pneumotoraks (rongga pleura) dapat didempetkan dengan membebaskan
jaringan paru dari lapisan permukaannya, sehingga pengembangannya lebih mudah. Cara
ini dinamakan dekortikasi dan cukup banyak dilakukan.
d. Bila penyebab pio-pneumotoraksnya adalah jaringan paru sendiri seperti
empiema tuberkulosis dan paru tetap tidak mau mengembang bahkan setelah lapisan
permuksaannya dibersihkan, ruang pneumotoraks masih dapat dihilangkan dengan
operasi torakoplasti yakni dengan mengempiskan dinding dada. Dinding dada
dikempiskan ke dalam dengan memotong beberapa iga. Jumlah iga yang dipotong
tergantung dari besarnya ruang pneumotoraks yang terjadi. Torakoplasti ini kurang begitu
disenangi karena efeknya membuat fungsi paru makin menurun dan bentuk dada secara
kosmetik menjadi kurang bagus.

3. HIDRO/HEMOPNEUMOTHORAX
Pada lebih kurang 25% penderita pneumotoraks ditemukan juga sedikit cairan
dalam pleuranya. Cairan biasanya bersifat serosa, serosanguinea atau kemerahan
(berdarah). Jika pneumotoraks baru saja terjadi, hendaknya segera ditentukan apakah
terjadi juga hidrotoraks. Untuk itu perlu dilakukan tindakan torakosentesis. Hidrotoraks
dapat timbul dengan cepat setelah terjadinya pneumotoraks pada kasus-kasus
trauma/perdarahan intra pleura atau perforasi esophagus (cairan lambung masuk ke dalam
rongga pleura).
Bila terjadi hemo-pneumotoraks, pemasangan pipa interkostal tetap dipertahankan
untuk mengembangkan paru dan mengukur jumlah darah yang hilang. Pada
pneumotoraks spontan perdarahan terjadi karena robeknya bagian perlengketan (adhesi)
antarapleura viseralis dan parietalis.
Pada pneumotoraks traumatik, perdarahan terjadi pada dinding dada (jarang) dan
jaringan paru (lebih sering). Sesudah paru-paru kembali mengembang, biasanya
perdarahan intra pleura akan segera berhenti. Tetapi bila tetap berlanjut setelah dilakukan
terapi konservatif, perlu dipertimbangkan operasi torakotomi untuk mengikat pembuluh
darah yang bocor.

4. PNEUMOMEDIASTINUM & EMFISEMA SUBKUTAN

Adanya pneumomediastinum dapat ditentukan dengan pemeriksaan foto dada.


Insidensinya adalah 1% dari seluruh pneumotoraks. Kelainan ini dimulai dari robeknya
alveoli kedalam jaringan interstisium paru dan kemudian diikuti oleh pergerakan udara
yang progresif ke arah mediastinum (menimbulkan pneumomediastinum) dan ke arah
lapisan fasia otot-otot leher (menimbulkan emfisem subkutan).
Pneumomediastinum jarang menunjukkan kelainan klinis, walau secara potensial ia
dapat menyebabkan tamponade saluran darah besar. Untuk mencegah komplikasi yang
jarang terjadi ini, dilakukan tindakan dekompresi pada mediastinum tersebut.
Emfisem subkutan sering juga terjadi setelah tindakan pemasangan pipa interkostal.
Udara datang dari rongga pleura keluar menelusuri arah luka pipa sampai ke jaringan
subkutis. Adanya emfisem subkutan menunjukkan tidak baiknya pemasangan pipa
interkostal.

5. PNEUMOTHORAX SIMULTAN BILATERAL


Keadaan ini timbul sebagai kelanjutan pneumomediastinum yang secara sekunder
berasal dari emfisem jaringan interstitial paru. Sebab lain bisa juga dari emfisema
mediastinal yang berasal dari perforasi esofagus.
Pengobatan penyakit ini tergantung dari berat-ringannya gejala. Bila ringan,
pengobatannya sama dengan pneumotoraks spontan primer lainnya.
Bila berat (timbul sesak nafas), perlu operasi torakotomi untuk mengobati sumber
penyebabnya atau melakukan obliterasi secepatnya pada salah satu rongga pleura yang
terkena.

6. PNEUMOTHORAX KRONIK
Pneumotoraks dinyatakan kronik bila ia tetap ada selama waktu lebih dari 3 bulan.
Pneumotoraks kronik ini terjadi bila fistula bronko-pleura tetap membuka. lnsidensi
pneumotoraks kronik dengan fistulabronko-pleura ini adalah 5% dari seluruh
pneumotoraks.
Faktor penyebabnya adalah :
a. adanya perlengketan (adhesi) pleura yangmenyebabkan robekan paru tetap
terbuka.
b. adanya fistula bronko-pleura yang melaluibulla atau kista.
c. adanya fistula bronko-pleura yang melaluilesi penyakit seperti nodul reumatoid
atau tuberkuloma.
Pengobatan yang terbaik adalah dengan menutup fistula bronko-pleura. Sebagian
besar dilakukan dengan operasi torakotomi. Dengan operasi ini selain menutup fistula
dilakukan juga pemotongan adhesi atau kalau perlu dilakukan pula dekortikasi.
Terkadang rongga pleura dihilangkan dengan melakukan abrasi pleura parietalis atau
pleurektomi.