Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bentuk lahan merupakan bentuk pada permukaan bumi sebagai hasil
perubahan bentuk permukaan bumi oleh proses – proses gemorfologi yang
beroperasi dipermukaan bumi. Semua perubahan fisik maupun kimia pada
permukaan bumi oleh tenaga-tenaga geomorfologi. Semua tenaga yang ditimbulkan
oleh medium alam yang berada dipermukaan bumi termasuk di atmosfer. Proses
merupakan perubahan bentuk lahan dalam waktu relatif pendek akibat adanya gaya
eksogen serta waktu perkembangan relatif pendek. Bentuk lahan atau Landform
adalah bentukan alam di permukaan bumi khususnya di daratan yang terjadi karena
proses pembentukan tertentu dan melalui serangkaian evolusi tertentu pula.
Maluku utara merupakan daerah yang tersusun dari pegunungan-
pegunungan bawah laut dan dataran-dataran yang kompleks, berupa rangkaian
pulau-pulau dan gugusan pulau-pulau yang dipisahkan oleh basin-basin kecil dan
palung-palung. Dalamnya palung umumnya 2000-4000 m dan tinggi rata-rata 1500
m. Maluku utara merupakan bagian kulit bumi yang terangkat kuat dengan
ketinggian rata-rata beberapa ribu meter diatas daerah sekililingnya yang tenggelam.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana proses pembentukan geomorfologi Maluku utara ?
2. Bagaimana sejarah perkembangan geomorfologi Maluku utara ?
3. Bagaimana hasil bentukan lahan Maluku Utara ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui proses pembentukan geomorfologi Maluku Utara
2. Mengetahui bagaimana sejarah perkembangan geomorfologi Maluku Utara
3. Mengetahui bagaimana hasil bentukan lahan Maluku Utara

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONDISI UMUM MALUKU UTARA

https://www.google.com/search?q=Peta+administrasi+maluku+utara&client=firefox
b&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiXptmAmMXZAhVGNY8KH
QURBO0Q_AUICygC&biw=1366&bih=619#imgrc=uiX4EqcbPpvatM.

Daerah dengan julukan ” Bumi Seribu Pulau” ini semakin mengkukuhkan dirinya
sebagai salah satu daerah kepulauan di Indonesia yang memiliki 632 pulau besar
dan kecil dengan luasnya sekitar712.479,69 km2 dengan panjang pantai 10.662,92 km2.
Luas total wilayah Provinsi Maluku Utara mencapai 140.255,32 km². Sebagian
besar merupakan wilayah perairan laut, yaitu seluas 106.977,32 km² (76,27%).
Sisanya seluas 33.278 km² (23,73%) adalah daratan.
Ditinjau dari penyebaran pulaunya, di Maluku terdapat 2 pulau besar yang
dikelilingi oleh pulau-pulau sedang dan kecil, yaitu kelompok Pulau Halmahera
termasuk Pulau Bacan dan pulau-pulau kecil lainnya seperti Tidore, Makian

2
danTernate. dan kelompok Pulau Seram termasuk pulau-pulau Ambon, Haruku,
Saparua, Lease, Kelang, Buano, Mampa dan sebagainya. Selain itu, terdapat pula
kelompok-kelompok pulau yang sedang besarnya seperti Kepulauan Tanimbar,
Kepulauan Aru, Kepulauan Kei, dan Kepulauan Sula di samping pulau-pulau
tersendiri (soliter) seperti Pulau Buru, Pulau Obi, dan Pulau Wetar.
Sisanya merupakan pulau-pulau kecil yang luas rata-ratanya kurang dari 500 km
yang sebagian besar tidak berpenghuni.

Wilayah ini memiliki relief yang beraneka ragam dengan perkembangan yang aktif
dan terus berlangsung secara intensif khususnya pembentukan gunungapi.
Meskipun merupakan suatu kompleks gugusan kepulauan akan tetapi secara
fisiografis maluku dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu Maluku Utara dan Maluku
Selatan. Pembagian ini terkait dengan kondisi geologi dimana Maluku Utara
sebagian dihubungkan dengan rangkaian pulau-pulau Asia Timur, dan sebagian
dengan sistem Melanesia, sedang Maluku Selatan (Busur Banda) merupakan suatu
bagian dari Sistem Pegunungan Sunda.

B. PROSES GEOMORFOLOGI MALUKU UTARA


Bentang lahan pada pulau-pulau di kawasan Maluku Utara mayoritas
merupakan perbukitan dan pegunungan. Paparan dataran rendah yang tidak terlalu
luas hanya dapat dijumpai di sepanjang pantai dan muara sungai. Pada beberapa
barisan pegunungan terdapat puncak-puncak gunung berapi, dan beberapa
diantaranya masih aktif. Gunung api yang paling aktif adalah Gunung Gamalama
atau Gunung Kie-Tobona (Piek Van Ternate) di pulau Ternate dan Gunung
KieMutubu di Pulau Tidore, yang termasuk dalam Kepulauan busur vulkanik Zona
Ternate.
Kawasan Maluku Utara yang dilalui garis katulistiwa, memiliki iklim tropis
musiman. Iklim di kawasan ini sangat dipengaruhi oleh angin muson yang berasal
dari pemanasan yang terjadi pada massa daratan Asia dan Australia. Iklim di
kawasan ini bersifat musiman dengan curah hujan yang rendah, kecepatan angin

3
yang tinggi dan intensitas penyinaran yang tinggi. Hal tersebut membuat kawasan
ini menjadi lebih kering, sedangkan iklim basah dengan curah hujan yang melebihi
penguapan tidak terjadi di sini.
Di kawasan Maluku Utara rata-rata mencapai 3.000 mm per tahun, dengan jumlah
hari hujan antara 153-266 hari per tahun. Suhu udara rata-rata 26,3º C, dengan suhu
udara maksimum 30,1º C dan suhu minimum 23,5º C.
Persebaran flora dan fauna (biogeografis) secara alami sangat dipengaruhi
oleh faktor geologis. Namun demikian, persebaran yang disebabkan oleh faktor
manusia (translokasi) juga memiliki peranan yang sangat penting bagi biogeografis.
Kawasan Maluku Utara secara biogeografis termasuk dalam kawasan Wallacea
yang merupakan kawasan peralihan diantara dua wilayah besar yaitu Oriental dan
Australia.

C. SEJARAH GEOMORFOLOGI MALUKU UTARA


Maluku Utara merupakan wilayah kepulauan yang terdiri atas pulau-pulau
volkanik dan pulau-pulau non volkanik. Pulau vulkanik menempati bagian barat
termasuk diantaranya adalah Pulau Ternate, Pulau Tidore, Pulau Moti, Pulau Mare,
Pulau Makian, dan Pulau Sangihe. Sedangkan pulau non volkanik antara lain Pulau
Bacan, Pulau Kasiruta, Pulau Talaud, dan Pulau Obi. Pulau Halmahera sendiri
termasuk pulau vulkanik meskipun aktivitas vulkanik yang aktif tidak terdapat
seluruh wilayahnya. Bagian utara Pulau Halmahera merupakan lokasi aktivitas
vulkanik yang aktif. Pulau-pulau non vulkanik Maluku Utara saat ini berkembang
dibawah pengaruh proses marin terutama deposisi marin. Zona gunungapi yang
terletak di bagian utara Pulau Halmahera membentuk satu pola jaringan dengan
gunungapi yang berada di pulau lain antara lain Pulau Ternate, Tidore, Mare, Moti
dan Makian. Bentuklahan volkanik tererosi kuat terbentang dari timur ke barat pada
zona vulkanik holosen yang aktif. Gunung Dukono adalah gunungapi aktif yang
berada pada zona timur bagian utara. Gunung Dukono merupakan gunungapi
holosen yang besar, posisinya bersambungan dengan patahan yang mengarah barat

4
laut – tenggara. Zona gunungapi yang terletak di bagian utara Pulau Halmahera
membentuk satu pola jaringan dengan gunungapi yang berada di pulau lain antara
lain Pulau Ternate, Tidore, Mare, Moti dan Makian. Bentuklahan volkanik tererosi
kuat terbentang dari timur ke barat pada zona vulkanik holosen yang aktif. Gunung
Dukono adalah gunungapi aktif yang berada pada zona timur bagian utara. Gunung
Dukono merupakan gunungapi holosen yang besar, posisinya bersambungan dengan
patahan yang mengarah barat laut – tenggara. Blok barat laut berada di bagian tepi
Pulau Halmahera, dibatasi dari graben tengah oleh escapment yang membentang
dari pesisir timur hingga pesisir barat. Graben Tengah sendiri berbatasan langsung
dengan zona gunungapi dan banyak mendapat pengaruh aktivitas vulkanik terutama
dari Gunungapi Dukono dan Gunungapi Ibu. Di dalam Graben Tengah terdapat
dataran rendah. Blok bagian timur memanjang arah utara selatan dan menempati
sebagian besar sisi barat Pulau Halmahera. Dataran rendah kobe yang sempit
memisahkan blok bagian timur halmahera di sebelah barat dengan dataran relief
berombak di sebelah timurnya. Dataran relief berombak menempati bagian yang
luas di timur Pulau Halmahera. Sepanjang pesisir utara dan selatan dataran ini
terbentuk dari pesisir pengangkatan. Sedangkan bagian tengah merupakan pesisir
pengenggelaman yang dipengaruhi oleh aktivitas marin
daritelukbali.(http://geodarsana.blogspot.co.id/2013/04/geomorfologi-
maluku.html?m=1)

Maluku utara merupakan bagian kulit bumi yang terangkat kuat dengan
ketinggian rata-rata beberapa ribu meter diatas daerah sekelilingnya yang
tenggelam. Pegunungan bawah laut itu menghubungkan Ujung selatan Mindanao
dengan Minahasa (dengan bagian utara Sulawesi), terdiri dari pulau-pulau vulkanis
Saranggani (termasuk Filipina) pulau-pulau Kawio (sejumlah karang kecil dan
pulau-pulau vulkanis sangihe).

5
D. BENTUKAN LAHAN MALUKU UTARA
Bentuk lahan merupakan bentuk pada permukaan bumi sebagai hasil
perubahan bentuk permukaan bumi oleh proses – proses gemorfologi yang
beroperasi dipermukaan bumi . semua perubahan fisik maupun kimia pada
permukaan bumi oleh tenaga – tenaga geomorfologi . Semua tenaga yang
ditimbulkan oleh medium alam yang berada dipermukaan bumi termasuk di
atmosfer . Proses merupakan perubahan bentuk lahan dalam waktu relatif pendek
akibat adanya gaya eksogen serta waktu perkembangan relatif pendek. Bentuk lahan
atau Landform adalah bentukan alam di permukaan bumi khususnya di daratan
yang terjadi karena proses pembentukan tertentu dan melalui serangkaian evolusi
tertentu pula.

6
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Bentukan lahan pada Indonesia adalah marin, struktural, dan vulkanik, dan
pada Maluku Utara merupakan kepulauan yang terdiri atas pulau-pulau kecil yang
berjumlah sangat banyak diantaranya pulau-pulau volkanik dan pulau-pulau non
volkanik.

7
DAFTAR PUSTAKA