Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

UNDESCENDSUS TESTIS

Oleh:

Annisa Abdillah, S.Ked


Eva Aprilia, S.Ked
Jefri Sandika, S.Ked
Popi Zeniusa, S.Ked

Preceptor:
Dr. Saut Hutagalung, Sp.U

SMF BAGIAN BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
RUMAH SAKIT UMUM DR. H. ABDOEL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Undescendcus testis (UDT) atau biasa disebut Kriptorkismus merupakan


kelainan bawaan genitalia yang paling sering ditemukan pada anak laki-laki.
Sepertiga kasus anak-anak dengan UDT adalah bilateral sedangkan dua-
pertiganya adalah unilateral. Insiden UDT terkait erat dengan umur kehamilan dan
maturasi bayi. Insiden meningkat pada bayi yang lahir prematur dan menurun
pada bayi-bayi yang dilahirkan cukup bulan. Peningkatan umur bayi akan diikuti
dengan penurunan insiden UDT. Prevalensinya menjadi sekitar 0,8 % pada umur
1 tahun dan bertahan pada kisaran angka tersebut pada usia dewasa.
Meskipun telah diteliti lebih dari 100 tahun, namun masih banyak aspek
UDT yang belum dapat dijelaskan dengan baik dan masih menjadi kontroversi.
Termasuk diantaranya mengenai fisiologi penurunan testis, etiologi dan petanda
molekuler tentang fertilitas dan potensi keganasannya, hingga terapi UDT. UDT
yang tidak diterapi jelas menimbulkan kerusakan bagi testis tersebut. Pemahaman
tentang morfogenesis kelainan akibat UDT, faktor hormonal dan molekuler yang
mempengaruhi, merupakan hal yang harus diketahui dalam melakukan diagnosis
maupun terapi kasus-kasus dengan UDT.
Diagnosis dan terapi dini diperlukan pada kasus-kasus UDT mengingat
terjadinya peningkatan risiko infertilitas, keganasan, torsio testis, bahkan sampai
ke stigma psikologis akibat skrotum yang ’kosong’.Esensi terapi rasional yang
dianut hingga saat ini adalah memperkecil terjadinya risiko komplikasi tersebut
dengan melakukan reposisi testis kedalam skrotum baik dengan menggunakan
terapi hormonal ataupun dengan cara pembedahan (orchiopexy).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 DEFINISI
Undescended testis atau kriptokidismus merupakan kalainan bawaan genitalia
yang sering terjadi pada laki-laki disebabkan oleh testis yang tidak turun ke
dalam kantung skrotum dan masih berada dijalurnya hingga bayi berusia 12
minggu. Kriptokidismus unilateral lebih sering ditemukan dibandingkan
dengan bilateral. Testis tidak turun ke skrotum biasanya disertai dengan
prosesus vaginalis yang tetap terbuka.

1.2 EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian pada UDT adalah sebagai berikut :
 Bayi prematur 30%, bayi cukup bulan 3%.
 Anak usia diatas 1 tahun 0,7-0,9%.
 Jarang diatas usia 1 tahun.

Insidensi UDT pada bayi sangat dipengaruhi oleh umur kehamilan bayi dan
tingkat kematangan atau umur bayi. Pada bayi prematur sekitar 30% dan
sekitar 3% pada bayi cukup bulan. Bayi dengan berat lahir < 900 gram
seluruhnya mengalami UDT, sedangkan dengan berat lahir < 1800 gram sekitar
68,5 % UDT. Dengan bertambahnya umur menjadi 1 tahun, insidennya
menurun menjadi 0,8 %, angka ini hampir sama dengan populasi dewasa

Tabel 1: Data prevalensi UDT berdasarkan umur oleh Scorer dan Farrington (
1971)
Age Weight (g) Incidence (%)
Premature 451-910 100.0
911-1810 62.0
1811-2040 25.0
2041-2490 17.0
Full term 2491-2720 12.0
2721-3630 3.3
3631-5210 0.7
1 year 0.7-0.8
1.3 EMBRIOLOGI DAN PENURUNAN TESTIS
Pada minggu ke-6 umur kehamilan primordial germ cells mengalami migrasi
dari yolk sac ke-genital ridge. Dengan adanya gen SRY (sex determining
region Y), maka akan berkembang menjadi testis pada minggu ke-7. Testis yg
berisi prekursor sel-sel Sertoli besar (yang kelak menjadi tubulus seminiferous
dan sel-sel Leydig kecil) dengan stimulasi FSH yang dihasilkan pituitary
mulai aktif berfungsi sejak minggu ke-8 kehamilan dengan mengeluarkan MIF
(Müllerian Inhibiting Factor), yang menyebabkan involusi ipsilateral dari
duktus mullerian. MIF juga meningkatkan reseptor androgen pada membran
sel Leydig. Sel- Pada minggu ke-10-11 kehamilan, akibat stimulasi chorionic
gonadotropin yang dihasilkan plasenta dan LH dari pituitary sel-sel Leydig
akan mensekresi testosteron yang sangat esensial bagi diferensiasi duktus
Wolfian menjadi epididimis, vas deferens, dan vesika seminalis.

Penurunan testis dimulai pada sekitar minggu ke-10. Walaupun


mekanismenya belum diketahui secara pasti, namun para ahli sepakat bahwa
terdapat beberapa faktor yang berperan penting, yakni: faktor endokrin,
mekanik (anatomik), dan neural. Terjadi dalam 2 fase yang dimulai sekitar
minggu ke-10 kehamilan segera setelah terjadi diferensiasi seksual. Fase
transabdominal dan fase inguinoscrotal. Keduanya terjadi dibawah kontrol
hormonal yang berbeda.

Fase transabdominal terjadi antara minggu ke-10 dan 15 kehamilan, di mana


testis mengalami penurunan dari urogenital ridge ke regio inguinal. Hal ini
terjadi karena adanya regresi ligamentum suspensorium cranialis dibawah
pengaruh androgen (testosteron), disertai pemendekan gubernaculum (ligamen
yang melekatkan bagian inferior testis ke-segmen bawah skrotum) di bawah
pengaruh MIF. Dengan perkembangan yang cepat dari regio abdominopelvic
maka testis akan terbawa turun ke daerah inguinal anterior. Pada bulan ke-3
kehamilan terbentuk processus vaginalis yang secara bertahap berkembang ke-
arah skrotum. Selanjutnya fase ini akan menjadi tidak aktif sampai bulan ke-7
kehamilan

Fase inguinoscrotal terjadi mulai bulan ke-7 atau minggu ke-28 sampai
dengan minggu ke-35 kehamilan. Testis mengalami penurunan dari regio
inguinal ke-dalam skrotum dibawah pengaruh hormon androgen.
Mekanismenya belum diketahui secara pasti, namun diduga melalui mediasi
pengeluaran calcitonin gene-related peptide (CGRP). Androgen akan
merangsang nervus genitofemoral untuk mengeluarkan CGRP yang
menyebabkan kontraksi ritmis dari gubernaculum. Faktor mekanik yang turut
berperan pada fase ini adalah tekanan abdominal yang meningkat yang
menyebabkan keluarnya testis dari cavum abdomen, di samping itu tekanan
abdomen akan menyebabkan terbentuknya ujung dari processus vaginalis
melalui canalis inguinalis menuju skrotum. Proses penurunan testis ini masih
bisa berlangsung sampai bayi usia 9-12 bulan.

A B
Gambar 1. A: Skema penurunan testis menurut Hutson. B: Peranan
gubernaculum dan CSL pada diferensiasi seksual rodent.
1.4 ETIOLOGI
Banyak hal yang dapat mempengaruhi terjadinya UDT, yaitu sebagai berikut :

Tabel 2: Berbagai kemungkinan penyebab UDT


A Androgen deficiency/blockade
Pituitary/placental gonadotropin deficiency
Gonadal dysgenesis
Androgen sythesis defect (rare)
Androgen receptor defect (rare)
B Mechanical anomalies
Prune belly syndrome (bladder blocks inguinal canal)
Posterior urethral valves(bladder blocks inguinal canal)
Abdominal wall defects (low abdominal pressure/gubernacular
rupture)
Chromosomal/malformation syndrome (? Connective tissue defect
block migration)
C Neurological anomalies
Myelomeningocele (GNF dysplasia)
GFN/CGRP anomalies
D Aquired (?) anomalies
Cerebral palsy (cremaster spasticity)
Ascending/retractile testes (? Fibrous remnant of processus vaginalis
(Dikutip dari : Hutson JM, Hasthorpe S, Heys CF. Anatomical and Functional
of Testicular Descent and Cryptorchidism. Endocrine Reviews 1997; 18 (2):
259-75)

Selain itu, terdapat juga beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan testis
ke dalam skrotum, yaitu sebagai berikut :
 Perbedaan pertumbuhan relatif tubuh terhadap funikulus spermatikus
atau gubernaculum.
 Peningkatan tekanan abdomen.
 Faktor hormonal, seperti testosteron, estrogen ekstrinsik.
 Perkembangan epididimis.
 Perlekatan gubernakular.
 Genito-femoral nerve/calcitonin gene-related peptide (CGRP)
 Sekunder pasca-operasi inguinal yang menyebabkan jaringan ikat.

1.5 KLASIFIKASI
Terdapat 3 tipe UDT, yaitu :
1. UDT sesungguhnya (true undescended): testis mengalami penurunan
parsial melalui jalur yang normal, tetapi terhenti. Dibedakan menjadi
teraba (palpable) dan tidak teraba (impalpable).
2. Testis ektopik: testis mengalami penurunan di luar jalur penurunan yang
normal.
3. Testis retractile: testis dapat diraba/dibawa ke-dasar skrotum tetapi
akibat refleks kremaster yang berlebihan dapat kembali segera ke-kanalis
inguinalis, bukan termasuk UDT yang sebenarnya.

Pembagian lain membedakan true UDT menurut lokasi terhentinya testis,


menjadi: abdominal, inguinal, dan suprascrotal.

Gambar 2: Kemungkinan lokasi testis pada true UDT dan ektopik testis.
1.6 DIAGNOSIS
1.6.1 Anamnesis
Pada anamnesis harus digali adalah tentang prematuritas penderita
(30% bayi prematur mengalami UDT), penggunaan obat-obatan saat
ibu hamil (estrogen), riwayat operasi inguinal. Harus dipastikan juga
apakah sebelumnya testis pernah teraba di skrotum pada saat lahir atau
tahun pertama kehidupan (testis retractile akibat refleks cremaster
yang berlebihan sering terjadi pada umur 4-6 tahun). Riwayat keluarga
tentang UDT, infertilitas, kelainan bawaan genitalia, dan kematian
neonatal.

1.6.2 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan sebaiknya dilakukan di ruangan yang tenang dan hangat.
Pemeriksaan secara umum harus dilakukan dengan mencari adanya
tanda-tanda sindrom tertentu, dismorfik, hipospadia, atau genitalia
ambigua.

Saat pemeriksaan fisik, kondisi pasien harus dalam keadaan relaksasi


dan posisi seperti frog-leg atau crosslegged. Pada pasien gemuk, dapat
dilakukan dalam posisi sitting cross-legged atau baseball catcher’s.
Tangan pemeriksa harus dalam keadaan hangat saat akan memeriksa
pasien.
 Inspeksi regio skrotum
Hipoplasia kulit skrotum karena tidak pernah ditempati oleh
testis.
 Palpasi
Pemeriksaan palpasi dimulai dari antero-superior iliac spine,
meraba daerah inguinal dari lateral ke medial dengan tangan yang
tidak dominan. Jika teraba testis, testis dipegang dengan tangan
yang dominan dan ditarik kea rah skrotum. Hasil yang diperoleh
adalah testis tidak teraba dikantung skrotum, melainkan di
inguinal atau ditempat lain.

Gambar 3. Teknik pemeriksaan testis. A: Menyusuri kanalis


inguinalis dimulai dari SIAS. B&C: Bila teraba testis,
‘menggiring ‘ testis dengan ujung-ujung jari. D: Memanipulasi
ke-dalam skrotum.

1.6.3 Pemeriksaan Laboratorium


Pada anak dengan UDT unilateral tidak memerlukan pemeriksaan
laboratorium lebih lanjut. Sedangkan pada UDT bilateral tidak teraba
testis dengan disertai hipospadia dan virilisasi, diperlukan
pemeriksaan analisis kromosom dan hormonal (yang terpenting adalah
17-hydroxyprogesterone) untuk menyingkirkan kemungkinan
intersex.

Setelah menyingkirkan kemungkinan intersex, pada penderita UDT


bilateral dengan usia ≤3 bulan dan tidak teraba testis, pemeriksaan
LH, FSH, dan testosteron akan dapat membantu menentukan apakah
terdapat testis atau tidak. Bila umur telah mencapai di atas 3 bulan
pemeriksaan hormonal tersebut harus dilakukan dengan melakukan
stimulasi test menggunakan hCG (human chorionic gonadotropin
hormone). Ketiadaan peningkatan kadar testosteron disertai
peningkatan LH/FSH setelah dilakukan stimulasi mengindikasikan
anorchia.

Prinsip stimulasi test dengan hCG atau hCG test adalah mengukur
kadar hormon testosteron pada keadaan basal dan 24-48 jam setelah
stimulasi. Respon testosteron normal pada hCG test sangat tergantung
umur penderita. Pada bayi, respon normal setelah hCHG test
bervariasi antara 2-10x bahkan 20x. Pada masa kanak-kanak,
peningkatannya sekitar 5-10x. Sedangkan pada masa pubertas, dengan
meningkatnya kadar testosteron basal, maka peningkatan setelah
stimulasi hCG hanya sekitar 2-3x.

1.6.4 Pemeriksaan Pencitraan


USG hanya dapat membantu menentukan lokasi testis terutama di
daerah inguinal, di mana hal ini akan mudah sekali dilakukan
perabaan dengan tangan. Pada penelitian terhadap 66 kasus rujukan
dengan UDT tidak teraba testis, USG hanya dapat mendeteksi 37,5%
(12 dari 32) testis inguinal; dan tidak dapat mendeteksi testis intra-
abdomen. Hal ini tentunya sangat tergantung dari pengalaman dan
kwalitas alat yang digunakan.

CT scan dan MRI mempunyai ketepatan yang lebih tinggi


dibandingkan USG terutama diperuntukkan testis intra-abdomen (tak
teraba testis). MRI mempunyai sensitifitas yang lebih baik untuk
digunakan pada anak-anak yang lebih besar (belasan tahun). MRI juga
dapat mendeteksi kecurigaan keganasan testis.
1.6.5 Laparoskopi
Metode laparoskopi pertama kali digunakan untuk mendeteksi UDT
tidak teraba testis pada tahun 1976. Metode ini merupakan metode
invasif yang cukup aman oleh ahli yang berpengalaman. Sebaiknya
dilakukan pada anak yang lebih besar dan setelah pemeriksaan lain
tidak dapat mendeteksi adanya testis di inguinal.

Beberapa hal yang dapat dievaluasi selama laparoskopi adalah:


kondisi cincin inguinalis interna, processus vaginalis (patent atau non-
patent), testis dan vaskularisasinya serta struktur wolfian-nya. Tiga hal
yang sering dijumpai saat laparoskopi adalah: blind-ending pembuluh
darah testis yang mengindikasikan anorchia (44%), testis intra-
abdomen (36%), dan struktur cord (vasa dan vas deferens) yang
keluar ke-dalam cincin inguinalis interna.

1.7 TERAPI
Tujuan terapi UDT yang utama dan dianut hingga saat ini adalah memperkecil
risiko terjadinya infertilitas dan keganasan dengan melakukan reposisi testis
kedalam skrotum baik dengan menggunakan terapi hormonal ataupun dengan
cara pembedahan (orchiopex).
1.7.1 Terapi Hormonal
Terapi hormonal untuk mengatasi UDT masih dalam kontroversi.
Hormon-hormon seperti hCG, gonadotropinreleasing hormone
(GnRH) atau LH-releasing hormone (LHRH) sering digunakan untuk
menangani UDT di Eropa dengan tingkat kesuksesan antara 10-50%.
Tingkat kesuksesan yang lebih tinggi mungkin terjadi pada anak yang
mengalami acquired UDT. Pada anak yang mengalami kegagalan
migrasi gubernakulum menuju skrotum secara kongenital, terapi
hormonal kelihatannya memiliki tingkat kesuksesan yang sangat
rendah. Namun penggunaan hormon-hormon tersebut belum disetujui
oleh United States Food and Drug Administration.
Terapi hormonal meningkatkan produksi testosteron dengan
menstimulasi berbagai tingkat jalur hipotalamus-pituitary-gonadal.
Terapi ini berdasarkan observasi bahwa proses turunnya testis
berhubungan dengan androgen. Tingkat testosteron lebih tinggi bila
diberikan hCG dibandingkan GnRH. Semakin rendah letak testis,
semakin besar kemungkinan keberhasilan terapi hormonal.

International Health Foundation menyarankan dosis hCG sebanyak


250 IU/ kali pada bayi, 500 IU pada anak sampai usia 6 tahun dan
1000 IU pada anak lebih dari 6 tahun. Terapi diberikan 2 kali
seminggu selama 5 minggu. Angka keberhasilannya 6 – 55%. Secara
keseluruhan, terapi hormon efektif pada beberapa kelompok kasus,
yaitu testis yang terletak di leher skrotum atau UDT bilateral. Efek
samping adalah peningkatan rugae skrotum, pigmentasi, rambut pubis
dan pertumbuhan penis. Pemberian dosis lebih dari 15000 IU dapat
menginduksi fusi epiphyseal plate dan mengurangi pertumbuhan
somatik.

1.7.2 Terapi Pembedahan


Pembedahan untuk menangani UDT disebut dengan orchidopexy.
Prinsip dasar orchidopexy adalah:
 Mobilisasi yang cukup dari testis dan pembuluh darah
 Ligasi kantong hernia
 Fiksasi yang kuat testis pada skrotum
 Testis sebaiknya direlokasi pada subkutan atau subdartos
pouch skrotum.
Indikasi absolut dilakukan operasi pembedahan primer adalah:
 Kegagalan terapi hormonal
 Testis ektopik
 Terdapat kelainan lain seperti hernia dengan atau tanpa
prosesus vaginalis yang terbuka.

Biasanya orchidopexy langsung dilakukan jika testis telah pasti


diketahui terletak pada leher skrotum atau pada daerah inguinal. Jika
testis terletak pada daerah intraabdomen, laparoskopi dapat dilakukan
terlebih dahulu untuk menentukan letak testis. Kemudian, akan
diputuskan apakah orchidopexy akan dilakukan dalam satu atau dua
tahap. Waktu yang optimal untuk melakukan orchidopexy adalah saat
anak berusia antara 3-12 bulan, di mana usia 6-12 bulan adalah waktu
yang paling baik. Pembedahan dalam menangani UDT dibedakan
berdasarkan apakah testis dapat teraba atau tidak. Kesembuhan post
operasi dari prosedur orchidopexy sangat cepat, di mana setelah
beberapa hari, pasien dapat kembali melakukan aktivitas penuh.
Olahraga mungkin perlu dihindari dalam 1-2 minggu. Pemeriksaan
lebih lanjut perlu dilakukan setelah 6-12 bulan untuk meyakinkan
bahwa atrophy tidak terjadi. Saat anak telah berumur 14 tahun,
pemeriksaan terhadap pubertas dan kemungkinan terjadinya
infertilitas dan keganasan juga perlu dilakukan.

Terdapat 2 jenis orchidopexy, antara lain:


 Palpable UDT
Penanganan utama pada palpable UDT adalah orchidopexy dan
membuat kantong subdartos. Tingkat kesuksesan dari tindakan
tersebut mencapai 95%, dengan testis tetap berada di dalam
skrotum dan tidak mengalami atrophy. Pembedahan biasanya
dilakukan dengan anastesi umum, dan pasien dalam posisi supinasi.
Insisi dilakukan sepanjang garis Langer, di atas annulus internal.
Aponeurosis oblique eksternal diinsisi ke arah lateral dari annulus
eksternal sesuai dengan arah seratseratnya, dan dilakukan dengan
hati-hati agar tidak melukai saraf ilioinguinalis. Testis dan
spermatic cord lalu dibebaskan. Vas deferens dan pembuluh-
pembuluh darahnya dipisahkan dari Tunica vaginalis. Prosesus
vaginalis dipisahkan dari struktur cord dan diligasi di annulus
internal. Pemotongan secara retroperitoneal pada annulus internal
dapat memperpanjang cord sehingga testis dapat mencapai
skrotum.

Sebuah tembusan dibuat dari kanalis inguinalis ke dalam skrotum


dengan menggunakan satu jari atau sebuah clamp besar. Kantong
subdartos dibuat dengan meletakkan satu jari melalui tembusan dan
meregangkan kulit skrotum. Insisi sepanjang 1-2 cm dilakukan
pada kulit skrotum yang diregangkan dengan jari tersebut. Sebuah
clamp lalu diletakkan di jari operator, dan ujungnya dipandu ke
dalam kanalis inguinalis dengan menarik jari. Clamp kemudian
digunakan untuk menjepit jaringan di antara testis. Clamp lalu
ditarik untuk membawa testis ke dalam kantong. Menjepit testis
atau vas deferens secara langsung harus dihindari agar tidak
menimbulkan luka.

Jika testis sudah berada di dalam kantong, leher kantong dijahit


sehingga menjadi lebih sempit untuk mencegah testis tertarik naik
kembali. Saat ini, pengukuran dan biopsi testis bisa dilakukan.
Kulit skrotum lalu ditutup. Aponeurosis oblique eksternal
disatukan kembali dengan penjahitan absorbable. Kulit dan
jaringan subkutis ditutup dengan penjahitan subkutis. Setelah
beberapa minggu, luka bekas operasi perlu diperiksa, dan 6-12
bulan kemudian pemeriksaan testis perlu dilakukan. Posisi dan
kondisi akhir dari testis perlu diperhatikan. Walaupun jarang
terjadi, atrophy dan retraksi dapat muncul sebagai komplikasi.
 Nonpalpable UDT
Penanganan nonpalpable UDT dapat dimulai dengan eksplorasi
inguinal ataupun laparoskopi diagnostik. Laparoskopi diagnostik
dapat dilakukan melalui umbilikus. Apabila pembuluh-pembuluh
darah testis terlihat keluar dari annulus internal, insisi pada daerah
inguinal dilakukan untuk menentukan lokasi testis. Orchidopexy
dilakukan jika testis dapat ditemukan. Jika pembuluh-pembuluh
darah berakhir di dalam kanalis inguinalis, ujung dari pembuluh
darah tersebut dapat diambil untuk dilakukan pemeriksaan
patologis. Adanya sisa dari jaringan testis atau hemosiderin dan
kalsifikasi merupakan indikasi dari kemungkinan terjadinya
perinatal torsion dan resorption testis.

Jika melalui laparoskopik diagnostik testis diketahui berada pada


daerah intraabdomen, terdapat beberapa pilihan tindakan. Pada
Fowler-Stephens orchidopexy, dilakukan ligasi pembuluh-
pembuluh darah testis secara laparoskopik atau laparotomy, yang
membuat kelangsungan hidup testis bergantung pada arteri
cremaster. Untuk alasan ini, Fowler-Stephens orchidopexy adalah
pilihan yang kurang tepat jika sebelumnya telah dilakukan
eksplorasi inguinal yang membahayakan suplai vaskuler ke testis.
Setelah ligasi dilakukan, orchidopexy dilakukan setelah sekitar 6
bulan untuk memberikan waktu pertumbuhan sirkulasi kolateral.
Tingkat kesuksesan dari prosedur ini mencapai lebih dari 90%,
dengan testis tetap berada di dalam skrotum dan tidak mengalami
atrophy. Tindakan lain yang dapat dilakukan jika testis berada pada
daerah intraabdomen adalah orchidopexy mikrovaskuler
(autotransplantasi) dan orchidectomy.
DAFTAR PUSTAKA

Brook CGD, Hindmarsh PC, eds. Clinical Pediatric Endocrinology. London:


Blackwell Science Ltd, 2001: 222-6.

Copp HL, Shortliffe LD. Undescended Testes and Testicular Tumors. Dalam:
Holcomb GW, Murphy JP, penyunting. Ashcraft’s Pediatric Surgery.
Amerika Serikat: Saunders Elesevier, 2010; hal 676-683.

Danon M, Friedman SC. Ambiguous Genitalia, Micropenis, Hypospadias, and


Cryptorchidism. In: Lifshitz F, ed. Pediatric Endocrinology. New York:
Marcel Dekker, 1996: 281-301.

Docimo SG, Silver RI, Cromie W. The Undescended Testicle: Diagnosis and
Management. Am Fam Physician 2000; 62: 2037-44.

Ferlin A, Simonato M, Bartoloni L et al. The INSL3-LGR8/GREAT Ligand-


Receptor Pair in Human Cryptorchidism. J Clin Endocrinol Metab 2003; 88:
4273–9.

Foresta C, Zucarello D, Garolla A, Garolla A, Ferlin A. Role of Hormones,


Genes, and Environment in Human Cryptorchidism. The Endocrine Society.
2008:29(5):560-580.

Gill B, Kogan S. Cryptorchidism – Current Concept. Pediatr Clin North Am 1997;


44 (5): 1211-27.

Hutson JM. Orchidopexy. Dalam: Puri P, Höllwarth M, penyunting. Pediatric


Surgery. Jerman: Springer, 2006; hal 555-576.

Hutson J. Cryptorchidism. Dalam: Puri P, Höllwarth M, penyunting. Pediatric


Surgery: Diagnosis and Management. Jerman: Springer, 2009; hal 919-926.

Kolon TF, Patel RP, Huff DS. Cryptorchidism: diagnosis, treatment, and long-
term prognosis. Urol Clin North Am 2004; 31 (3): 469-80.

Mouriquand, PDE. Undescended testes in children: the paediatric urologist’s point


of view. European Journal of Endocrinology. 2008;159:S83-S86.

Ritzen M, Hintz RL. Hypospadias/virilization. In: Hoechberg Z, Haifa, eds.


Practical Algorithms in Pediatric Endocrinology. Druck, Basel
(Switzerland): Karger AG, 1999: 38-9.
Styne DM. The Testes – Disorders of Sexual Differentiation and Puberty in the
Male. In: Sperling MA, ed. Pediatric Endocrinology. Philadelphia:
Saunders, 2002: 570-73.

Wilcox DT, Creighton S, Woodhouse CRJ, Mouriquand PDE. Urogenital


Implications of Endocrine Disorders in Children and Adolescents. In: John

Zhang RD, Wen XH, Kong LS et al. A quantitative (stereological) study of the
effects of experimental unilateral cryptorchidism and subsequent orchiopexy
on spermatogenesis in adult rabbit testis. Reproduction 2002; 124: 95–105.