Anda di halaman 1dari 9

Hubungi Kami

DALAM DEKAPAN CINTA-CERPEN ISLAMI

Diposting oleh Maissya Star

Dalam Dekapan Cinta


oleh Imints Fasta pada 09 Oktober 2010 jam 0:21

Tuntunlah Aku tuk Raih Keridhoan-Nya

Ya Zaujie.. Genggamlah erat tanganku..


Tuntunlah aku mendekatkan diri pada-Nya...
bersama kita raih keridhoan-Nya...

Sebuah kisah tentang ujian dalam meraih sebuah kebahagiaan..

Jangan lupa, bacalah dengan menyebut nama tuhanmu..

Dia hidup dalam limpahan kemewahan.. Apapun yang ia inginkan pasti didapatkannya. Kemana-
mana selalu mengenakan sedan mewah dengan sopir pribadi yang setia mengantar jemputnya. Dia
adalah Silvia, anak seorang konglomerat di sebuah kota. Orangtuanya tidak pernah mengurusinya
sehingga ia bebas kemanapun ia suka bersama teman-temannya. Sang Ayah sibuk dengan bisnisnya
sehingga sering ke luar kota, sedangkan sang Ibu sibuk pula dengan butiknya sehingga sering bolak-balik
Singapur-Indonesia. Untungnya ada pak Parno dan istrinya, Pembantu dirumah konglomerat tersebut
yang sering mengawasinya.
Ia sering jalan-jalan bersama teman-temannya ke mall, tempat rekreasi, dan kemanapun yang ia
inginkan.. Sampai pada suatu ketika sampailai ia pada satu titik dimana ia merasakan kejenuhan dengan
segala apa yang ada. Limpahan kekayaan itu tidak membuat ia merasakan suatu kebahagiaan yang
diinginkannya.
Suatu saat setelah pulang dari berbelanja begitu banyak barang-barang yang tidak begitu
dibutuhkan olehnya, ia langsung menghempaskan diri diatas ranjang bersama barang-barang
belanjaannya yang tergeletak di samping tubuhnya. Lalu ia terbangun di tengah keheningan
disepertiganya malam. Ia lalu menatap wajahnya di cermin merasakan sebuah kepenatan yang
mendalam. Ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya.. Sebuah ketentraman pada jiwa. Selama
ini ia jauh dari tuhan.. Ia lalu mengambil mukena dan sholat malam setelah berwudhu.
“Ya Allah.. Selama ini aku jauh dari-Mu.”
“Aku Lupa akan fitrahku sebagai hamba-Mu”
“Aku lalai dengan limpahan kemewahan ini”
“Berilah aku petunjuk dalam menggapai keridho'an-Mu ya Allah.”
Lirih suaranya dalam melantunkan lirik-lirik do'a di tengah keheningan malam disertai butiran
airmata ketulusan.
Besoknya Ia lalu menemui pak Parno lalu mengatakan padanya kalau ia ingin belajar tentang
agama lebih dalam lagi.. Ia butuh seseorang yang bisa membimbingnya menjadi lebih baik lagi..
Melihat raut wajahnya Pak Parno dapat membaca kalau dia sedang dalam kegelisahan untuk mencari
ketenangan batin. Lalu Pak Parno menawarkan padanya untuk menikah.
“Menikahlah.. Carilah pemuda sholeh yang bisa membimbingmu menjadi seorang muslimah yang
sholehah.”
“Lalu pemuda seperti apa yang harus aku pilih.” Tanya Silvia.
“Pemuda yang takut pada Allah... Karena apabila ia mencintai, dia akan menyayangimu dan
apabila Ia benci, dia tidak akan menyakitimu.
>Imam Hasan Al-Bashri ketika ditanya seseorang, “Dengan siapa aku harus menikahkan
putriku?”, beliau menjawab, “Dengan laki-laki yang takut kepada Allah. Karena jika ia menyukainya ia
akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya ia tidak akan menganiayanya”.<
“Adakah pemuda yang seperti itu?” Tanya Silvia lagi.
“Ada..” Ucap Pak Parno. “Di seberang jalan sana ada seorang pemuda yang kerjaannya adalah
menjahit sepatu. Dia begitu hanif dan bijaksana. Selain seorang mahasiswa, dia juga menjadi Takmir
masjid Al-Hidaiyah di kampung sini.” Sambung pak Parno.
Karena jarang pergi ke masjid sehingga dia tidak mengetahuinya kalau di masjid yang ia merupakan
salah satu jama'ahnya ada seorang pemuda sholeh yang sering menjadi imam sekaligus menjaga masjid
itu.

Pemuda tersebut adalah salah seorang mahasiswa jurusan tekhnik informatika di sebuah
Perguruan Tinggi negeri. Sehari-harinya adalah menjual-beli dan memperbaiki sepatu-sepatu bekas guna
menambah keringanan orangtua. Selain itu dia tinggal di masjid turut memakmurkan masjid dengan
berbagai program untuk meperdayakan jama’ah dalam mengelola masjid. Kerna bagi dia,
pemberdayaan jamaah dari sebuah masjid dan masjid lain pun melakukannya merupakan sebuah dasar
kebangkitan islam.

Semenjak kehadirannya di daerah tersebut, Ia membawa perubahan yang luar biasa. Dengan
berbagai upaya ia mengusahakan agar semua umat muslim berjamaah di masjid. Meski tidak semua
yang datang namun setidaknya cukup banyak yang telah mau bergegas ke masjid bila mendengar Adzan
ketimbang duduk santai di rumah. Dia sangat mengutamakan hal tersebut karena selain menambah
ukhuah sesama muslim, juga menambah rasa persaudaraan.
>(Rosulullah Salallahu’alaihiwasallam bersabda: Sesungguhnya Serigala tidak akan memakan
jika Kambing tidak sedang bersendirian)<
Rasa ingin tahu Silvia terhadap pemuda itu pun semakin menguat. Ia lalu menyuruh Pak Parno
untuk mengenalkannya dengan pemuda tersebut. Ia hanya sekedar ingin melihat pemuda itu. Maka
suatu saat pak parno mengajaknya mengikuti kajian mingguan yang sering diadakan tiap minggu malam
di masjid tersebut guna menambah pengetahuan agama pada warga. Silvia datang bersama pak Parno
dan istrinya. Mereka kedua pembantu di rumah Silvia yang telah menjaga Silvia semenjak kecil karena
kedua orangtuanya sibuk akan urusan dunianya.

Pada malam itu ust. Jalil yang seharusnya ngisi tausyiah pada malam itu berhalangan hadir.
Biasanya kalau pengisi tausyiah berhalangan hadir maka mereka yang menjadi takmir yang
menggantikannya. Dan pada malam itu seorang pemuda berbusana muslim cokelat dengan kopiah
hitam dikepalanya berdiri dihadapan para jamaah menggantikan posisi pak Jalil kerna berhalangan
hadir. Cara penyampaiannya begitu menarik. Hanya satu hadits yang Ia bahas pada malam itu namun
pembahasannya begitu meluas. Pada malam itu dia bahas tentang “ Enam Kewajiban Muslim Terhadap
Muslim Yang Lain”

>(Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa


Sallam bersabda: "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa
dengannya ucapkanlah salam; bila ia mengundangmu penuhilah undangannya; bila dia meminta nasehat
kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya =
semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia
hantarkanlah (jenazahnya)". Riwayat Muslim.)<

Dia pun mulai membahas satu demi satu hadits di atas kemudian ia berikan pula tips bagaimana
membina hubungan yang baik antara sesame saudar kita. Diantaranya ia menjelaskan bahwasannya
apabila kita mendengar berita tentang aib saudara kita cukuplah berita itu sampai pada diri kita. Jangan
mengumbarkannya lagi. Setiap manusia pasti pernah mempunyai kesalahan dan sebaik-baiknya manusia
adalah yang mau mengakui dosanya dihadapan Allah dan berjanji takkan mengulanginya kembali.
Termasuk kita, kita pun pasti pernah mempunyai kesalahan dan tak ingin untuk diumbarkannya. Maka
dari itu kita pun harus menutupi aib saudara kita.

Seusai mengikuti kajian tersebut mereka lalu kembali ke rumah. Dalam perjalanan pak Parno
menanyakan sesuatu pada Silvia.
“Neng Silvia, tahukah kamu siapa pemuda yang mengisi kajian tadi?” Silvia hanya menggelengkan
kepalanya. Sementara Bu Darmi istri pak parno hanya tersenyum menatapnya.
“Dia adalah Raihan pemuda yang bapak ceritakan kemarin.” Sambung pak parno.
Silvia sedikit salah tingkah setelah mendengar apa yang disampaikan pak Parno.. sesampai
dirumah dia lalu menghempaskan badannya kembali ke atas ranjangnya.

“Apa mungkin wanita yang berlumurkan dosa, jauh dari keshalihan seperti aku bisa mendapatkan
lelaki sholeh seperti itu? Selama ini aku melihat pemuda sholeh tidak ingin mendapatkan istri yang
begitu jauh dari agama seperti aku ini? Yang Hina lagi keji. Lalu pantaskah wanita seperti aku
diperistrikan orang yang sholeh?” Pertanyaan itu yang terus hadir dibenaknya. Ia merasa sungguh tidak
pantas wanita seperti dia mendapatkan lelaki shesholeh Raihan. Apalagi Ia pernah mendengar firman
Allah bahwa Lelaki baik-baik hanya diperuntuk wanita baik-baik dan lelaki keji diperuntuk wanita keji
pula.

Walaupun dia merasa dirinya hina hina lagi keji, namun dia tidak ingin mendapatkan lelaki
seperti itu pula. Batinnya semakin menangis membayangkan semua itu. Lalu suatu hari dia menemui
ustadjah sofi, Guru agamanya ketika masih SMA dahulu. Ia lalu menyampaikan keluh dan kesahnya pada
ustadjah tersebut.
“Batinku telah rindu untuk menikah ya ustadjah.. lelaki yang aku inginkan Ialah dia yang sholeh,
yang takut pada Allah dan mencintai Rosulnya. Namun bagaimana mungkin wanita seperti aku bisa
mendapatkan lelaki seperti itu?” Tanya Silvia
“Mayyahdillahu fahuwal muhtadi wamayyudhlil falantajidalahu waliyyammursida”
“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang
siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat
memberi petunjuk kepadanya.”
“Ketika Allah berkehendak, tak ada satu makhlukpun yang mampu mencegah-Nya. Seseorang
yang buruk dimata manusia, belum tentu buruk pula dimata Allah. Siapa tahu kamu mempunyai suatu
sisi positive yang bisa diandalkan dihadapan Allah. Tidak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Jika Ia telah
mengatakan Jadi, maka jadilah. Kamu menginginkan untuk kembali kepada-Nya itu sudah baik.” Cakap
Ustadjah Sofi.
“Tapi.. Bukankah lelaki sholeh mereka hanya menginginkan wanita yang sholehah?” Tanyanya
lagi.
“Kenakanlah jilbab yang menutupi hingga ke dadamu anakku.. lalu jiwailah apa yang engkau
kenakan itu. Mulai sekarang, mendekatlah pada Allah kerna sesungguhnya Allah itu dekat denganmu.
Kalau memang Allah menghendaki lelaki itu padamu maka dialah petunjuk Allah bagimu untuk
menuntunmu menjadi wanita yang lebih dekat pada-Nya.” Jelas ustadjah Sofi.
>(Kita sering melihat adakala seorang suami begitu terlihat baik sedangkan istrinya tidak,
ataupun sebaliknya. Pemikiran kita pun mulai terbalik dari surat Annur : 26. Padahal orang yang terlihat
baik di mata kita belum tentu baik pula dimta Allah. Begitupun orang yang terlihat buruk dihadapan kita
belum tentu buruk pula di hadapan Allah. Siapa tahu orang yang baik itu mempunyai satu sisi buruk yg
membuat Allah murka terhadapnya. Siapatahu pula orang yg terlihat buruk itu mempunyai satu sisi
kebaikan yang membuat Allah sayang padanya. Atau jika seorang lelaki itu benar baik dan wanita benar
burk, maka itu ujian baginya untuk bagaimana mengubah pasangannya itu menjadi lebih baik lagi)<

Silvia lalu beritahukan itikad baiknya itu pada kedua orangtuanya saat mereka telah berkumpul
dirumah. Ia menyampaikan bahwa ia telah ingin menikah dan kedua orangtuanya pun menyetujuinya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari orangtua, lewat bantuan pak parno akhirnya Raihan menikahi
wanita cantik anak konglomerat kaya tersebut. Raihan mampu menuntunnya menjadi wanita yang
sangat sholehah. Ia paham akan kewajibannya sebagai seorang istri serta tanggungjawabnya terhadap
suami.
***

Setelah menikah, ia mengikuti suami pulang ke kampung halaman dan meninggalkan segala
bentuk kemewahan yang selama ini dinikmatinya. Ia lalu memilih untuk hidup dengan segala
kesederhanaan bersama suami. Ia sangat merasa bahagia berada dalam dekapan cinta seorang suami
yang setia. Yang sederhana dan mencintainya dengan setulus hati. Meski pun kemana-mana tak lagi
memakai mobil sedan. Tak lagi punya uang yang cukup tuk berbelanja apa yang di inginkannya namun ia
tetap mensyukurinya kerna islam telah menjadi pedoman baginya atas tuntunan suaminya.
Namun, seseorang takkan sampai pada puncak keimanan sebelum ia diuji oleh Allah. Takkan
sampai pada kebahagiaan sejati sebelum ia melewati ujian dari Sang Khalik.
Pada suatu ketika ibu dari sang suami jatuh sakit sehingga harus dirawat Rumah Sakit hingga ia
menemukan ajalnya. Sang suami harus membayar administrasi Rumah Sakit serta biaya pengobatan
sang bunda hingga uang simpanannya habis. Uang untuk makan dirumah pun tak seberapa yang di
pegang sang Istri. Raihan lalu mencari pekerjaan sampingan sebagai buruh di perusahaan penyuplai
semen yang mengangkut semen keluar masuk gudang. Kerna gajinya sebagai tenaga honorer di
Perusahaan Listrik Negara (PLN) tak cukup untuk biaya makan ditambah perawatan sang bunda yang
masih tertunggak di Rumah Sakit.
Melihat suaminya pulang dengan segala kelelahan, Silvia merasa kasihan. Ia selalu mengusap
keringat di wajah sang suami yg lelah seusai bekerja tersebut dengan penuh haru. Ia selalu menyambut
suaminya pulang dengan senyuman tulusnya lalu memasakkan air panas untuk suaminya mandi. Seusai
mandi Raihan lalu membuka penutup saji diatas meja makan namun tak ada makanan apapun. Ia
menyadari kalau sudah tak ada pegangan pada istrinya. Ia lalu menatap kebelakang setelah mendengar
suara dibelakangnya.
“Kita puasa ya Zaujie..” Kata silvia sambil mendekat kearah sang Suami. Raihan lalu mengangguk
seraya berkata insya Allah esok dia akan mencarikan uang untuk makan mereka besok.
Besok pagi Silvia tak bisa melihat suaminya pergi bekerja dengan perut kosong yang hanya
berbekalkan air putih hangat. Ia lalu pergi ke rumah tetangga meminta menyuci baju mereka yang kotor
demi mendapatkan uang yang halal agar ketika suami pulang nanti sudah disajikan makanan untuk
suaminya. Sungguh hal ini sangat sulit tuk ia lakukan. Anak seoarang konglomerat kaya berubah menjadi
seorang tukang cuci. Namun ini harus ia lakukan demi rasa sayangnya pada suami. Meskipun ketika
mencuci ia sering meneteskan airmata.
Ketika suaminya pulang betapa kagetnya Ia. Banyak makanan yang dihidangkan diatas meja.
“Darimana engkau mendapatkan semua ini ya Zaujati?” Tanya Raihan.
Silvia lalu menjelaskan apa yang dilakukan olehnya saat suaminya berangkat kerja.
“Walillahi.. aku tidak bisa memakan makanan ini.” Cakap sang suami kerna merasa malu pada
dirinya sendiri yg tak mampu menafkahi istri dengan baik.
Sang istri lalu menunduk seraya berkata.
“Maafkan aku ya Zaujie.. aku melakukan ini tanpa sepengetahuanmu.”
“Kamu tidak salah.. aku yang salah. Aku tidak mampu menjadi suami yang baik untukmu.”
Suaminya lalu mendekatinya memegang kedua tangannya. Ia yang tertunduk pun mengangkat
kepalanya menatap mata suaminya yang sangat disayanginya itu. Lalu suaminya berkata padanya.
“Maafkan aku yang telah menikahimu.. aku hanya bisa membawamu ke dalam jurang
kesengsaraan. Namun aku berjanji.. aku takkan pernah menyakitimu dengan fisikku ini.”
“Bagiku akhunlah lelaki terbaik yang Allah berikan untukku. Dan aku patut untuk menjaganya..
Engkaulah petunjuk Allah sebagai jalan hidaiyah untukku. Dan aku menyayangimu.”
Sang suami lalu memeluknya dengan airmata haru… Allah telah memberikannya seorang istri
yang sangat tegar. Dan ia akan terus mensyukurinya.
Sang istri yang berada dalam dekapan ketulusan sang suami pun merasakan cinta yang luar
biasa ketika berada dalam pelukannya.

Dalam Dekapan Cinta..


Aku Terbang Bebas Menembus Awan Lepas
Dalam Dekapan Cinta...
Akulah Ratu Dari Seluruh Penjuru Istana..
Dalam Dekapan Cinta..
Sembilu menyayat Takkan Ku Rasa..
Dalam Dekapan Cinta
Akulah isteri dari seoarang lelaki sahaja.

Cinta yang tulus mampu mengalahkan segalanya.. untuk apa harta berlimpah jika tanpa cinta
yang tulus? Untuk apa pangkat yang tinggi jika tanpa kasih sayang yang nyata?
Ketika kita dicintai oleh orang yang benar-benar mencintai kita, kita akan merasakan betapa indahnya
dunia ini.. namun perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki butuh pengorbanan.
Seorang Silvia anak konglomerat kaya rela menanggalkan kehidupan masa lalunya yang penuh
kemewahan demi mendapatkan sosok pemuda sholeh yang mencintainya sepenuh hati juga sebuah
pengorbanan.
(Bersambung...)
Semoga Kisah Ini Dapat Memberi Pengajaran Bagi Kita Semua…

Ditulis pada Rabu 15 September 2010

Oleh : Imints Fasta

Saat batin Rindu Menikah..

SAMBUNGANNYA.....

Belum cukup sebulan Raihan bekerja di perusahan penyuplai semen tersebut, tak lama kemudian ia
jatuh sakit. Ia telah merasa kurang enak badan semenjak beberapa hari sebelumnya namun ia tetap
memaksakan diri untuk tetap bekerja meski sesekali batuk menghampirinya. Dony, teman kerjanya telah
mengatakan kalau besok hari ia tak usah dating namun Ia tetap saja datang untuk bekerja dan pada saat
itulah batuk disertai darah keluar dari mulutnya. (hemoptisis)
Sang istri yang mengurung diri di rumah saat suaminya pergi bekerja telah merasakan
kegelisahan. Dan ternyata firasatnya itu benar saat suaminya dibawah pulang sudah dalam keadaan
lemah tak berdaya oleh teman kerjanya.
Belum genap sebulan suaminya bekerja sehingga gaji bulanannya belum diterima. Istrinya lalu
berlarian kerumah-rumah tetangga untuk menjual gelang emas miliknya yang diberikan ayahnya ketika
masih gadis dahulu.. Meski harga tak sesuai dengan yang seharusnya namun ia harus menjualnya demi
keselamatan suaminya.
Setelah mendapatkan uang, ia lalu membawa suaminya ke Rumah sakit di kota naik angkutan.
Disana ia duduk di samping ranjang suaminya agar ketika suami siuman dari ketidaksadarannya ia telah
menyambutnya dengan senyuman lalu melakukan apa yang diinginkan suaminya..
Awalnya dokter mengira suaminya hanya menderita Tubercolosis atau bronkiektasis namun
ternyata setelah pemeriksaan ia di Vonis menderita Tumor karsinoma paru.
Sebenarnya jika hanya sekedar menderita karsinoma paru tidak sampai membawa penderita
pingsan namun karena bekerja keras yang ditambahi kurang makan membuat daya tahan tubuh raihan
lemah sehingga ia tak sadarkan diri.
Silvia tetap berada disamping ranjang suaminya.. Menunggu dan terus menunggu.. Hingga kadang
ia tertidur dalam penantiannya kemudian bangun lagi. Hingga suatu malam ia terbangun di sepertiganya
malam. Ia lalu menatap kearah jarum jam yang terus berbunyi setiap detiknya itu.
Jarum jam menunjukkan pukul 03:00 dini hari.. Ia lalu berwudhu lalu tepet di samping ranjang
suaminya Ia menangis mengeluh pada Allah atas apa yang dihadapinya ini..
“Ya Allah.. Jika memang sakit yang kurasa ini adalah cinta-Mu padaku karena Engkau ingin aku
terus mengeluh pada-Mu, aku ridho jiwa ini untuk terus disakiti.. Namun ya Allah.. Hambamu yang hina
dan kotor ini memohon pada-Mu.. Jangan Engkau biarkan Suami hamba terus diam dan kaku di ranjang
itu ya Allah.. Hamba mohon ya Allah.. hamba mohon.. Hamba sangat mencintainya…
Keheningan malam menjadi saksi bahwa ada seorang wanita yang syujud simpuh pada Robbnya..
Aliran air mata bak gersang mendamba hujan mengalir membasahi sajadah panjang yang
dibentangkannya..
Ketika Allah rindu pada hambanya, Ia akan mengirimkan sebuah kado istimewa melalui
malaikat Jibril yg isinya adalah ujian. Dalam hadits kudsi Allah berfirman. "Pergilah pada hambaku lalu
timpakanlah berbagai ujian padanya karna Aku ingin mendengar rintihannya." (HR Thabrani dari Abu
Umamah)
Setelah sholat lail yang dilanjutkannya dengan sholat subuh, ia kembali lagi duduk di dekat
ranjang suaminya. Menatap wajah lelaki sholeh yang dicintainya tersebut dengan sesekali mengusap
kepalanya dengan usapan ketulusan. Ia lalu tertidur disamping suaminya dengan tangan yang terus
menggenggam erat tangan suaminya..
Tak lama kemudian ia merasa ada gerakan dari tangan suaminya. Ia lalu secepatnya bangun dari
tidurnya. Ia melihat raihan mulai mencoba membuka mtanya. Hati gembira yang teramat sangat setelah
tiga hari menunggu di bangsal itu. Ia lalu menyambut kesadaran suaminya itu dengan senyuman
cerianya dan melupakan segala kepenatan yang dihadapinya agar suaminya pun bahagia ketika
menatapnya.
Silvia lalu segera memanggil suster untuk memeriksa suaminya yang tengah sadarkan diri. Suster
lalu memeriksa Raihan dan mengatakan kalau kondisinya sudah cukup membaik. Ucapan hamdala lalu
terlontar dari bibir Silvia. Namun kata dokter perlu istirahat selama dua hari lagi hingga sembuh total
baru raihan bisa pulang dengan persyaratan jangan kerja berat dulu..
Setelah dokter dan perawatnya pergi, raihan lalu bertanya pada Silvia.
“Siapa yang membayar seluruh administrasi dan biaya pengobatanku ini?”
Silvia yang tengah duduk disamping ranjang sambil membaca buku lalu mengangkat kepalanya
tersenyum pada suaminya.
“Tidak usah dipikirkan.. Semua akan baik-baik saja. Yang penting Akang bisa sembuh dulu.”
Raihan lalu terdiam.. kemudian Ia menatap tangan istrinya yang sedang memegang buku
membuat ia curiga.. Ia lalu menyuruh Silvia mengangkat buku yang dipegangnya lebih tinggi lagi. Silvia
heran mendengar permintaan suaminya tersebut namun ia menurutinya. Dan ketika tangan di
angkatnya lebih tinggi, tangan bajunya yang sedikit longgar terturun sehingga suaminya melihat sudah
tak ada gelang lagi di pergelangan tangan istrinya. Raihan lalu memalingkan wajah dari arah Silvia.
Perlahan airmatanya pun jatuh membasahi bantal yang ia tiduri.
Silvia masih saja heran terhadap suaminya yang memalingkan wajah darinya. Dia masih saja tak
sadarkan diri bahwa sang suami telah mengetahui apa yang dilakukan olehnya.
Ia lalu mendekati suaminya dan terlihatlah airmata di wajah suaminya tersebut..
“Kang.. kenapa menangis??” Tanya Silvia sendu.
Raihan tak menjawabnya dan tak mau menatapnya.. Ia merasa malu menatap istrinya sendiri. Ia
malu pada dirinya yang hanya menyusahkan anak orang.
“Apa salahku Kang? Kenapa tak mau menatapku.” Tanya sivia lagi..
“Aku malu Sil.. Aku malu.. Aku hanya seorang suami yang menyusahkan istri. Aku bahkan tidak bias
memberikan apa-apa untukmu..
“Ada apa kang..? Aku tak dapat memahaminya.” Tanya silvia lagi. Belum paham akan maksud
suaminya.
“Tolong jawab.. Dimana gelang di tangan kirimu?”
Silvia lalu tertunduk menangis. Menggenggam erat tangan suaminya yang masih saja memalingkan
wajah tersebut lalu menciumnya.
“Maafkan aku Kang.. Aku telah menjualnya..” Ucap Silvia seduh..
“Aku tak bisa memaafkan diriku.. aku tak bisa.. Ya Allah.. Ampuni hamba-Mu ini..” Rintih Raihan.
Silvia pun terseduh mendengar rintihan suaminya tersebut.. Raihan lalu memalingkan wajah menatap
istrinya yang tertunduk menangis di samping ranjangnya itu seraya berkata padanya.
“Jika engkau tak sabar lagi bertahan denganku, aku ikhlaskan segala apapun yang engkau putuskan
pada diriku.” Cakap raihan.
Silvia mengangkat wajahnya. Lalu dengan mata berkaca ia berkata pada suaminya.
“Aku menikah denganmu bukan kerna bahagiamu saja.. Namun susahmu juga. Seberat apapun
musibah yang menimpa dirimu.. Aku akan tetap bersamamu. Karena aku tahu cintamu tulus untukku.”
Raihan lalu menguatkan diri untuk bangun dari tidurnya. Ia lalu mendekap erat istrinya penuh
ketulusan.
"Terima kasih atas kesetiaanmu.”

Ketika aku di dekap..


Syurga itu terasa dekat..
Ketika aku di dekap..
Hilanglah sudah segala penat..

Alangkah indahnya jika seorang wanita berada dalam dekapan seorang lelaki sholeh yang tulus
mencintainya.. Segala kesusahanpun akan ditempuhinya demi mendapatkan ketulusan cinta itu…
Sebuah cinta yang semata karena Allah..
Semoga kita semua termasuk orang orang yang ditegarkan hati dan jiwanya..

Ditulis pada selasa, 21 Sept 2010


oleh : Imints Fasta

Silahkan share... atau kalau ingin copy ke catatan jgn lupa sertakan sumber.. jgn asal maen copy aja
tanpa menghargai penulisnya..
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150257394325052