Anda di halaman 1dari 16

Siti Hana Halimatun Sa’diyah

1162020198

Belajar dan Pembelajaran PAI

UIN Sunan Gunung Djati Bandung

ASAS , PRINSIP DAN PENERAPAN TENTANG BELAJAR DAN


PEMBELAJARAN

A. PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Belajar Merupakan Tindakan dan Perilaku siswa yang kompleks, sebagai


tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah
penentu terjadi atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi
karena siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan
yang dipelajari oleh siswa adalah keadaan alam, benda-benda, hewan,
tumbuh-tumbuhan, manusia atau hal-hal yang akan dijadikan bahan belajar.

Belajar adalah proses mencari, memahami, menganalisis suatu keadaan


sehingga terjadi perubahan perilaku, dan perubahan tersebut tidak dapat
dikatakan sebagai hasil belajar jika disebabkan oleh karena pertumbuhan atau
keadaan sementara. (Syaifuddin Iskandar : 2008 : 1).

Sedangkan pembelajaran/ instruksional adalah usaha mengorganisasikan


lingkungan belajar sehingga memungkinkan siswa melakukan kegiatan belajar
untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media
dan sumber belajar tertentu yang akan mendukung pembelajaran itu nantinya.

B. ASAS BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


Ada 14 asas pembelajaran yang dapat digunakan sebagai dasar untuk
pengembangkan program pembelajaran inovatif. Keempat belas asas tersebut
adalah:

1. Lima prinsip dasar dalam pemenuhan hak anak: (a) non-diskriminasi,


(b) kepentingan terbaik bagi anak (best interests of the child), (c) hak
untuk hidup dan berkembang (right to life, continuity of life and to
develop), (d) hak atas perlindungan (right to protection), (e)
penghargaan terhadap pendapat anak (respect for the opinions of
children).

2. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari penuangan informasi ke


dalam benak siswa.

3. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri.

4. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah


kegiatan belajar aktif

5. Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar,


melihat, mengajukan pertanyaan, dan membahasnya dengan orang
lain.

6. Aktivitas pembelajaran pada diri siswa bercirikan: (a) yang saya


dengar, saya lupa; (b) yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat;
(c) yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan
orang lain, saya mulai pahami; (d) yang saya dengar, lihat, bahas, dan
terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan; dan (e) yang
saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai.

7. John Holt (1967) proses belajar akan meningkat jika siswa diminta
untuk melakukan hal-hal: (a) mengemukakan kembali informasi
dengan kata-kata sendiri, (b) memberikan contoh, (c) mengenalinya
dalam bermacam bentuk dan situasi, (d) melihat kaitan antara
informasi itu dengan fakta atau gagasan lain, (e) menggunakannya
dengan beragam cara, (f) memprediksikan sejumlah konsekuensinya,
(g) menyebuitkan lawan atau kebalikannya.

8. Ada 9 konteks yang melingkupi siswa dalam belajar: (a) tujuan, (b) isi
materi, (c) sumber belajar (sumber belajar bagaimanakah yang dapat
dimanfaatkan), (d) target siswa (siapa yang akan belajar), (e) guru, (f)
strategi pembelajaran, (g) hasil (bagaimana hasil pembelajaran akan
diukur), (h) kematangan (apakah siswa telah siap dengan hadirnya
sebuah konsep atau pengetahuan), (i) lingkungan (dalam lingkungan
yang bagaimana siswa belajar).

9. Kata kunci pembelajaran agar bermakna: (a) real-world learning, (b)


mengutamakan pengalaman nyata, (c) berpikir tingkat tinggi, (d)
berpusat pada siswa, (e) siswa aktif, kritis, dan kreatif, (f)
pengetahuan bermakna dalam kehidupan, (g) dekat dengan kehidupan
nyata, (h) perubahan perilaku, (i) siswa praktik, bukan menghafal, (j)
learning, bukan teaching, (k) pendidikan bukan pengajaran, (l)
pembentukan manusia, (m) memecahkan masalah, (n) siswa acting,
guru mengarahkan, (o) hasil belajar diukur dengan berbagai cara
bukan hanya dengan tes.

10. Pembelajaran yang memperhatikan dimensi auditori dan visual, pesan


yang diberikan akan menjadi lebih kuat.

11. Otak tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mengolahnya


melalui membahas informasi dengan orang lain dan juga mengajukan
pertanyaan tentang hal yang dibahas.
12. Otak kita perlu mengaitkan antara apa yang diajarkan kepada kita
dengan apa yang telah kita ketahui dan dengan cara kita berpikir.

13. Proses belajar harus mengakomodasi tipe-tipe belajar siswa (auditori,


visual, kinestetik)

14. Resiprositas (kebutuhan mendalam manusia untuk merespon orang


lain dan untuk bekerja sama) merupakan sumber motivasi yang bisa
dimanfaatkan untuk menstimulasi kegiatan belajar.

C. PRINSIP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Suatu pelajaran tidak akan berhasil baik kalau tidak disertai dengan
prinsip belajar yang efektif dari pihak murid-murid. Sejak dahulu ahli-ahli
pendidikan telah berusaha untuk menemukan cara, prinsip, atau pendekatan
dalam proses belajar untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Ahli-ahli
psikologi pendidikan telah banyak jasanya dalam meneliti dan menemukan
prinsip-prinsip belajar yang dapat mempermanenkan hasil belajar. Dalam
proses perkembangannya ahli-ahli telah tampil mengemukakan pendapatnya
mengenai prinsip-prinip belajar.

1. Alvin C. Eurich

A.C. Eurich dari Ford Foundation menyimpulkan bahwa


a) Apapun yang dipelajari oleh murid, murid sendiri yang harus
mempelajari. Tidak seorangpun yang dapat melakukan kegiatan belajar
untuknya.

b) Setiap murid belajar menurut tempo atau kecepatannya sendiri, dan


untuk setiap kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar.

c) Seorang murid belajar lebih banyak kalau setiap langkah segera


diberikan penguatan.

d) Penguasaan penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara


keseluruhan lebih berarti.

e) Bila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, ia


lebih terdorong un tuk belajar; ia akan belajar dan mengingat lebih
baik (L.K. Davies, 1971).

2. Thorpe & Schmuller

Mereka menyarankan lima prinsip belajar yang utama, yang biasanya


memperlancar dan cenderung lebih mempermanenkan hasil belajar. Prinsip itu
adalh sebagai berikut:

a) Murid itu timbul motivasi jika ia mempunyai harapan atau kebutuhan


dalam kegiatan itu.

b) Belajar itu sesuai dengan tingkatan murid jika sesuai dengan


kemampuan fisik dan intelek murid.

c) Belajar itu dapat berpola jika murid itu dapat melihat hubungan yang
bermakna antara kegiatan dan tujuan
d) Belajar itu dapat dievaluasi jika murid mempunyai beberapa cara untuk
mengetahui kemajuan yang sedang dibuatnya.

e) Belajar itu terpadu dengan perkembangan pribadi-sosial jika murid itu


mengalami pertumbuhan dan penyesuaian diri yang memuaskan
(Tyson & Carrol, 1970).

3. Ted W. Ward & William A. Herzorg, Jr.

Menurut mereka, belajar yang efektif tergantung pada:

a. relevasi tujuan-tujuan pendidikan dengan nilai-nilai sosial;

b. penyesuaian diri dengan karakteristik belajr murid-murid;

c. penyesuaian diri dengan harapan-harapan pedagogik dari murid-murid


(Ward, Ted W. & Herzorg, William A, Jr., 1974).

4. Nichols, D. G.

Dalam makalahnya mengenai belajar efektif , Nichols mengemukakan


prinsip belajar semacam hipotesis dalam bentuk kalimat “jika maka” sebagai
berikut:

Jika seorang anak :


 mempunyai suatu ide mengenai apa yang akan dipelajari,

 menerima tujuan-tujuan ini sebagai suatu target belajar yang dapat


diterima,

 mengetahui dan menilai akibat-akibat positif dalam mencapai tujuan-


tujuan itu,

 diberikan tugas-tugas untuk dipelajari sesuai dengan kecakapannya,

 menerima balikan kemajuan yang beraturan menuju pada tujuan,

 diberikan bantuan secara individual berkenaan dengan kesulitan-kesulitan


khusus yang dihadapinya,

 menerima akibat positif yang mendahului prestasi belajar. Maka anak itu
akan belajar.

5. Carl Rogers

Berdasarkan pandangan student centered, Rogers menyimpulkan prinsip


belajarnya sebagai berikut:

JIKA

Individu atau kelompok dihadapkan pada suatu masalah, seorang pemimpin


yang berpengaruh (catalyst leader) memberikan suatu suasana yang selalu
memberikan kemungkinan (pemissive atmosphere); tanggung jawab itu betul-
betuldilimpahkan kepada individu atau kelompok;
MAKA

 tanggung jawab dan analisis masalah yang memadai itu dibuat;

 tuntunan diri-sendiri yang bertanggung jawab akan terjadi, kreativitas,


produktivitas dan mutu hasil yang ditujukan akan unggul bila
dibandingkan dengan metode-metode lainnya;

 moral dan kepercayaan individu dan kelompok berkembang.

Ada banyak sekali teori dan prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli
yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari
berbagai prinsip belajar tersebut terdapat prinsip yang relatif berlaku umum
yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi
siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam
upaya meningkatkan cara mengajarnya. Adapun prinsip-prinsip Belajar dan
Pembelajaran yaitu :

1. Perhatian dan Motivasi

Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari


kajian teori belajr pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya
perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Barliner, 1984 : 335).
Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran
sesuai dengan kebutuhannya.

Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan


belajar mengajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan
mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin
dan kemudi pada mobil (Gage dan Barliner, 1984 : 372).

“Motivation is the concept we use when describe the force action on or within
organism to initiate and direct behavior””. Demikian menurut H.L Petri (Petri,
Herbert L, 1983:3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam
pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam
mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan
estetik sampai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan
salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang
dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan,
nilai-nilai dan keterampian.

Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga
bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang tua, teman dan
sebaginya. Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik dan motif ekstrinsik.
Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang
dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh
mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan
yang dipelajarinya. Sedangkan Motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang
ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya, sebagai
contoh, siswa belajar dengan sungguh-sungguh bukan disebabkan ingin
memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan naik
kelas atau mendapatkan ijazah. Naik kelas dan mendapatkan ijazah adalah
penyerta dari keberhasilan belajar.

2. Keaktifan

Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif,
jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja
tanpa mengadakan transformasi. Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif,
konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari,
menemukan, dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam
proses belajar mengajar anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah,
mencari dan menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan menarik
kesimpulan.
Thorndike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum “Law
of exercise”-nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-
latihan. Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan.
Keaktifan itu beraneka ragam, mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati
sampai pada kegiatan psikis yang susah untuk kita amati. Kegiatan fisik dapat
berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan,
dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah
pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan maslaah yang dihadapi,
membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil
percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.

Para guru memberikan kesempatan belajar kepada para siswa, memberikan


peluang dilaksanakannya implikasi prinsip keaktifan bagi guru secara optimal.
Peran guru mengorganisasikan kesempatan belajar bagi masing-masing siswa
berarti mengubah peran guru dari bersifat didaktis menjadi lebih bersifat
mengindividualis, yaitu menjamin bahwa setiap siswa memperoleh
pengetahuan dan keterampilan di dalam kondisi yang ada (Sten, 1988 : 224).
Hal ini berarti pula bahwa kesempatan yang diberikan oleh guru akan
menuntut siswa selalu aktif mencari, memperoleh, dan mengolah perolehan
belajarnya. Untuk dapat menimbulkan keaktifan belajar pada diri siswa, maka
guru di antaranya dapat melaksanakan perilaku-perilaku berikut :

1. menggunakan multimetode dan multimedia,

2. memberikan tugas secara individual dan kelompok,

3. memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam


kelompok kecil (beranggota tidak lebih dari 3 orang),

4. memberikan tugas untuk membaca bahan belajar, mencatat hal-hal yang


kurang jelas, serta
5. mengadakan tanya jawab dan diskusi.

3. Keterlibatan Langsung / Berpengalaman

Dalam Belajar yang menggunakan pengalaman langsung, siswa tidak


sekedar mengamati secara langsung tetapi ia juga harus menghayati, terlibat
langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.

Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh Jhon


Dewey dengan “Learning by doing”. Belajar sebaiknya dialami melalui
perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik
individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (problem
solving). Guru kapasitasnya hanya bertindak sebagai pembimbing dan
fasilitator.

Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan sebagai keterlibatan


fisik semata, namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental
emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan
perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam
pembentukan sikap dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam
pembentukan keterampilan.

4. Pengulangan

Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan barang kali yang


paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Menurut teori
ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas
daya pengamat, menanggap, mengingat, menghayal, merasakan, berfikir dan
sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan
berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam,
maka daya-daya yang dilatih dengan mengadakan pengulangan-pengulangan
akan menjadi sempurna. Penguasaan secara penuh dari setiap langkah
memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti (Davies, 1987 : 32).
Dari pernyataan inilah pengulangan masih diperlukan dalam kegiatan
pembelajaran. Implikasi adanya prinsip pengulangan bagi siswa adalah
kesadaran siswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang
untuk satu macam permasalahan. Dengan kesadaran ini, diharapkan siswa
tidak merasa bosan dalam melakukan pengulangan. Bentuk-bentuk perilaku
pembelajaran yang merupakan implikasi prinsip pengulangan, diantaranya
menghafal unsur-unsur kimia setiap valensi, mengerjakan soal-soal latihan,
menghafal nama-nama latin tumbuhan, atau menghafal tahun-tahun terjadinya
peristiwa sejarah.

5. Tantangan

Dari teori Medan yang dikemukakan oleh Kurt Lwewin, bahwa siswa
dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis.
Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai,
tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka
timbullah motif untuk mengatasi hambatan tersebut dengan mempelajari
bahan belajar tersebut.apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar
telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan yang baru
pula, demikian seterusnya.

Agar anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan
baik, maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi oleh
siswa dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya.
Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung maslaah yang perlu
dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang
memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep-konsep,
prinsip-prinsip, dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari
dan menemukan konsep-konsep dan generalisasi tersebut.

Penggunaan metode eksperimen, inquiry, discovery juga memberikan


tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh.
Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan
menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum
yang tidak menyenangkan.

6. Umpan Balik dan Penguatan

Prinsip belajar yang berkaitan dengan umpan bailk dan penguatan


terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditionong dari B.F.
Skinner. Kalau pada teori Conditionong yang diberikan kondisi adalah
stimulusnya, maka pada Operant Conditioning yang diperkuat adalah
responsnya. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan
mendapatkan hasil yang baik. Hasil, apalagi hasil yang baik, akan merupakan
umpan balik yang menyenangkan dan berpengaruh baik untuk usaha belajar
selanjutnya. Namun dorongan belajar itu menurut B.F. Skinner tidak saja oleh
penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau
dengan kata lain penguatan positif ataupun negatif dapat memperkuat belajar
(Gage dan Barliner, 1984:272).Sebagai contoh siswa yang belajar dengan
sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan, maka nilai
yang baik akan mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Sebaliknya,
anak yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa
takut tidak naik kelas. Karena takut tidak naik kelas, maka anak tersebut
terdorong untuk belajar lebih giat lagi. Dalam hal ini nilai buruk dan rasa takut
akan mendorong anak tersebut untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut
dengan penguatan negatif dan di sini siswa mencoba untuk menghindar dari
peristiwa yang tidak menyenangkan. Format sajian dapat berupa tagnya
jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan sebagainya merupakan
cara belajar terjadinya umpan balik dan penguatan.

7. Perbedaan Individual

Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang yang
sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya.
Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-
sifatnya.

Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu


dengan yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo
(kecepatan)nya sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi
kecepatan belajar (Davies, 1987 : 32). Kesadaran bahwa dirinya berbeda
dengan siswa lain, akan membantu siswa menentukan cara belajar dan sasaran
belajar bagi dirinya sendiri. Implikasi adanya prinsip perbedaan individual
bagi siswa di antaranya adalah menentukan tempat duduk di kelas, menyusun
jadwal belajar, atau memilih bahwa implikasi adanya prinsip perbedaan
individu bagi siswa dapat berupa perilaku fisik maupun psikis.

Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa.
Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya
pembelajaran. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita
kurang memperhatikan masalah perbedaan individu. Umumnya proses
pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan
kemampuan yang rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula
dengan pengetahuannya.

Pembelajaran yang klasikal yang mengabaikan perbedaan individu dapat


diperbaiki dengan berbagai cara. Antara lain dengan penggunaan metode atau
strategi belajar mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan kemampuan
siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media instruksional akan membantu
melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk
memperbaiki pembelajaran klasikal adalah dengan memberikan tambahan
pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang pandai, dan memberikan
bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang. Disamping itu dalam
memberikan tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan
kemampuan siswa, sehingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang
akan merasakan berhasil dalam di dalam pembelajaran.

Setiap guru tentunya harus menyadari bahwa menghadapi banyak siswa


di dalam suatu kelas berarti menghadapi berbagai macam keunikan atau
karakteristik. Konsekuensinya adalah guru harus mampu menghadapi dan
melayani setiap siswa dengan karakteristik mereka masing-masing. Implikasi
prinsip perbedaan individual bagi guru berwujud perilaku-perilaku yang
diantaranya adalah:

 Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat


melayani kebutuhan siswa sesuai dengan karakteristiknya

 Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyaksikan pesan


pembelajaran
 Mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perilaku
pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan

 Memberikan remediasi ataupun pertanyaan kepada siswa yang


membutuhkan.