Anda di halaman 1dari 29

AKUNTANSI FORENSIK

PENCEGAHAN FRAUD
KASUS CITIBANK

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Forensik

Dosen Pengampu : Anis Chariri, SE, M.Com., Ph.D.,Akt.,CA

Disusun oleh:

Wulan Indri Widiar 12030117420068

Suhita Whini Setyahuni 12030117420059

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMIKA & BISNIS

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul “Pencegahan Fraud Studi Kasus Citibank” dengan baik
dan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Akuntansi Forensik
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini. Tanpa bantuan dari semua pihak
makalah ini tidak akan selesai tepat waktu.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh
karena itu kami mengharapkan pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang
membangun untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Semarang, 18 April 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................. i

Kata Pengantar ................................................................................. ii

Daftar Isi ................................................................................. iii

BAB I

A. Latar Belakang ................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah................................................................................. 3

C. Tujuan ................................................................................. 3

BAB II

A. Kasus Citibank .................................................................................. 4

B. Alur Penipuan oleh Malinda Dee .............................................. 5

C. Tindakan Penipuan Uang ...................................................................... 7

BAB III

A. Pelanggaran Hukum & Kode Etik Profesi .................................. 8

B. Pencucian Uang Oleh Malinda Dee .............................................. 11

C. Dampak Terhadap Profesi, Organisasi, dan Relasi ...................... 12

D. Pencegahan Fraud ...................................................................... 13

E. Perubahan Yang Dilakukan Manajemen Citibank .............................. 23

BAB IV

A. Kesimpulan .................................................................................. 25

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Malinda Dee ditangkap pada tanggal 23 Maret 2011 dengan tuduhan
penggelapan uang nasabah kurang lebih Rp 40 Miliar. Kabarnya puluhan nasabah
tertipu olehnya dan tindakan kriminalnya sudah dimulai sejak tahun 2009.
Kemampuan melayani Malinda yang membuat para nasabahnya merasa nyaman
dan akhirnya memberikan kepercayaan besar pada dirinyalah yang memudahkan
Malinda untuk menggelapkan uang mereka sedikit demi sedikit. Hasil uang yang
didapatkannya ini kemudian dicuci ke beberapa perusahaan yang dimilikinya
dengan partner-nya yang lain.
Sebagai Relationship Manager dan menjabat dengan pangkat Vice
President yang merupakan pangkat tertinggi untuk karyawan di Citibank tentunya
rasa percaya yang didapatkan Malinda Dee dari para nasabahnya akan lebih besar
daripada para karyawan lain karena integritas yang seharusnya dimiliki oleh
profesi tesebut. Namun sayangnya kepercayaan ini disalahgunakan olehnya untuk
memperkaya dirinya sendiri.
Semakin tinggi jabatan seseorang dalam profesinya tentunya tanggung
jawab yang dipikulnya juga akan lebih tinggi daripada orang lain. Itulah mengapa
integritas dan citranya juga akan lebih beresiko untuk hancur, tergantung cara
berperilakunya di mata orang-orang yang berelasi dengan dirinya.
Dengan tindakan kriminalnya Malinda Dee telah melakukan pelanggaran
kode etik profesinya. Dalam dunia perbankan,Malinda Dee dikategorikan sebagai
bankir yang menurut Kode Etik Bankir Indonesia memiliki pengertian sebagai
seseorang yang bekerja di Bank dan sedang atau pernah berkecimpung dalam
bidang teknis operasional dan non operasional perbankan. Bahkan Malinda Dee
dapat disebut sebagai Bankir Profesional mengingat pengalaman kerjanya di
dunia perbankan sudah lama dan jabatannya yang sudah sangat tinggi serta
tanggung jawab sosialnya juga tinggi. Kode etik Bankir mengatur pemilik profesi
bankir untuk berperilaku sesuai pedoman-pedoman yang telah diatur di dalamnya

1
dan juga mengatur hubungan seorang bankir dengan sesama karyawan,pihak lain,
dan lingkungan kerjanya.
Dengan adanya kasus ini banyak pihak yang dirugikan baik secara
finansial dan juga nama baik secara individual maupun organisasi. Citibank
sebagai organisasi tempatnya bekerja akan mendapatkan imbas yang cukup besar
dan para nasabah yang ditipu akan merasakan kerugian.
Selain melangar kode etik profesinya,Malinda Dee juga melakukan
pelanggaran hukum dengan melakukan Money Laundry atau tindakan pencucian
uang. Di Indonesia hukum mengenai Money Laundry dapat kita lihat pada
Undang-undang No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang. Dengan adanya pelanggaran ini kesalahan yang
dilakukan Malinda Dee telah berlapis-lapis dan tentunya akan menghancurkan
kapasitasnya sebagai seorang bankir di mata publik.
Motif Malinda untuk memperkaya diri sendiri yang memanfaatkan
profesinya dengan melanggar beberapa hukum dan norma yang ada dapat kita
lihat sebagai sebuah perilaku menyimpang. Robert Mz Lawang menyebutkan
bahwa perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari
norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari
mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.
Dari kasus Malinda Dee kita dapat mengetahui apa saja bentuk pelanggaran kode
etik yang telah dilakukannya dan bagaimana imbas yang didapat oleh Malinda
sendiri dan juga orang-orang yang berhubungan dengan dirinya bahkan organisasi
tempatnya bekerja, serta bagaimana pencegahan fraud dalam lingkup perbankan.

2
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan berbagai masalah
antara lain sebagai berikut :

1. Apa saja bentuk kecurangan dan pelanggaran kode etik profesi yang
dilakukan oleh Malinda Dee?
2. Apa saja bentuk hukuman yang didapatkan oleh Malinda Dee dalam
pelanggaran kode etik profesi yang dilakukannya?
3. Bagaimana imbas atau dampak yang didapatkan oleh profesi Bankir,
organisasi, dan individu lain yang memiliki relasi dengan Malinda Dee
dari adanya kasus tersebut?
4. Bagaimana cara pencegahan fraud di perbankan?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bentuk kecurangan dan pelanggaran kode etik profesi
yang dilakukan oleh Malinda Dee sebagai pelaku kecurangan.
2. Untuk mengetahui bentuk hukuman yang didapatkan oleh pelaku
kecurangan dalam pelanggaran kode etik profesi bankir yang
dilakukannya.
3. Untuk mengetahui dampak yang didapatkan oleh profesi Bankir,
organisasi, dan individu lain yang memiliki relasi dengan Malinda Dee
dari adanya kasus kecurangan yang dilakukan.
4. Untuk mengetahui cara pencegahan fraud di sebuah perusahaan atau
organisasi khususnya dalam lingkup perbankan.

3
BAB II

PEMBAHASAN
A. Kasus Citibank
Malinda Dee menjadi karyawan di Citibank sejak Agustus 1989. Saat
ditangkap polisi, Malinda menduduki jabatan Relationship Manager Citibank di
Kantor Cabang Citibank Landmark, Jakarta Selatan, dengan pangkat Vice
President. Pangkat tersebut merupakan pangkat yang tertinggi untuk karyawan
Citibank. Sejak diterima, Malinda dikenal sebagai salah satu aset yang berharga
di Citibank karena prestasi Malinda Dee dalam pekerjaannya terbilang bagus,
yakni kemampuannya dalam membawa nasabah kaya untuk menggunakan jasa
Citibank, hal tersebut membuatnya diberi keleluasaan oleh pihak Citibank dalam
mencari nasabahnya sendiri.
Pada 25 Maret 2011, Mabes Polri mengungkap kasus penggelapan dana
nasabah di Citibank atas laporan para nasabah. Delapan penyidik dari Direktorat
Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri menangkap
Malinda di apartemennya kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Polisi menyita
sejumlah barang bukti, antara lain dokumen-dokumen transaksi, uang tunai dan 1
unit mobil merek Ferari. Tersangka Malinda Dee diserahkan dari penyidik Polri
kepada Kejari Jakarta Selatan pada pukul 09.45 WIB. Malinda diduga sudah
melakukan aksinya sejak tahun 2009 lalu. Dari tiga perusahaan yang menjadi
nasabah Citibank, Malinda dapat mencuri uang dari para nasabah tersebut hingga
Rp17 miliar.
Jaksa Penuntut Umum mendakwa Malinda melakukan penggelapan dan
pencucian uang dalam kurun waktu 22 Januari 2009 hingga 7 Februari 2011
melalui 117 transaksi, dimana 64 transaksi di antaranya dalam bentuk pecahan
rupiah senilai Rp27,36 miliar dan 53 transaksi senilai 2,08 juta dolar AS.
Jaksa menuntut Malinda atas kejahatan yang telah dilakukannya selama ini
dengan pasal berlapis, yaitu pasal dalam Undang-Undang Perbankan dan pasal
Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang. Pertama, dia dijerat Pasal 49
ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana diubah dengan
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan juncto Pasal 55 ayat 1

4
dan pasal 65 KUHP.Kedua, Pasal 3 ayat 1 Undang-Undang Nomor 15 Tahun
2002 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No 25 Tahun 2003 tentang
Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 65 KUHP. Ketiga, Pasal 3 Undang-Undang
No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP, yang ancamannya adalah dipenjara
selama 15 tahun.

B. Alur Penipuan oleh Malinda Dee


Selama ini Malinda Dee melakukan pembobolan dana nasabah dengan
cara meraih kepercayaan terhadap nasabah tersebut dan menyalahgunakan
kepercayaan para nasabah yang kaya terhadap dirinya. Malinda terlebih dahulu
memperlakukan mereka secara istimewa, yang salah satu contohnya adalah
dengan melayani para nasabah yang kaya di ruang khusus di kantor Citibank.
Perlakuan ini tidak hanya diberikan Malinda dalam waktu singkat, tetapi hingga
puluhan tahun sampai para nasabah sangat percaya terhadap Malinda karena
perlakuan istimewanya tersebut.
Dari hal tersebut Malinda mencermati pola transaksi nasabah yang
bersangkutan, kemudian mengajukan blanko kosong untuk ditandatangani agar
memudahkan transaksi. Blanko inilah yang dia gunakanan untuk menarik dana
dengan mencuri uang tersebut sedikit-demi sedikit tanpa disadari oleh pemilik
rekening melalui persekongkolan jahat dengan bawahannya, Dwi Herawati,
Novianty Iriane dan Betharia Panjaitan selaku Head Teller Citibank. Malinda
memerintahkan bawahannya mentransfer uang ke beberapa perusahaan miliknya.
Malinda juga menggunakan surat kuasa dari nasabah, sehingga nasabah seolah-
olah datang ke bank untuk melakukan transaksi. Lalu Malinda meminta teller
Citibank yang bernama Dwi untuk membantu melakukan pencatatan palsu
terhadap beberapa transfer uang, yang nilainya antara Rp1 miliar hingga Rp 2
miliar. Catatan tersebut merupakan manipulasi transfer uang dari rekening
nasabah ke beberapa rekening milik Malinda di dalam maupun di luar Citibank.
Rohly Pateni, merupakan salah satu nasabah Citibank yang menjadi
korban dari Malinda. Menurut Rohly Pateni, dia sangat percaya kepada Malinda

5
karena sudah 18 tahun menjadi nasabah dari Citibank dan ditangani Malinda.
Rohly Pateni jarang mengecek rekening banknya karena sibuk bekerja, yang
membuat Malinda memanfaatkan hal tersebut.
Untuk menghilangkan bukti kejahatannya, Dia membuat perusahaan
pribadinya yang dialiri dana nasabah Citibank atas nama orang lain. Malinda
mengalirkan dana nasabah yang berhasil dicuri ke empat perusahaan miliknya
yaitu, PT Sarwahita Global Manajemen, PT Porta Axell Amitee, PT Qadeera
Agilo Resources, dan PT Axcomm Infoteco Centro. Keempat perusahaan tersebut
merupakan perusahaan yang didirikannya bersama dengan Reniwati, Roy
Sanggilawang, dan Gesang Timora. Reniwati merupakan Citigold Executive Head
di Citibank Landmark. Selain itu, Malinda juga telah menggunakan dana nasabah
untuk menyicil angsuran mobil super mewah seperti Ferrari. Kemudian dari
keempat perusahaan ini, Malinda kembali menarik uang untuk kepentingan
pribadinya, Andhika suami sirinya, maupun adiknya, Visca Lovitasari serta
suami Visca, Ismail bin Janim.
Andhika menampung uang curian itu dengan membuka banyak rekening
dengan identitas berbeda karena menggunakan KTP palsu. Dia juga diseret ke
muka pengadilan dengan tuduhan melakukan tindak pidana pencucian uang
dengan menerima dan menampung uang yang diduga hasil tindak pidana istri
sirinya. Andhika didakwa melanggar Pasal 6 ayat (1) huruf a, b, d, f UU Tindak
Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP, dan Pasal 5 ayat (1) UU
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 65
ayat (1) KUHP, dan Pasal 263 Ayat (2) KUHP dengan ancaman hukuman
maksimal 15 tahun penjara. Adapun Visca ditetapkan diadili setelah menampung
dana dari Melinda senilai lebih dari Rp 8 miliar, dalam kurun waktu 24 Januari
2007 sampai tanggal 19 Oktober 2010. Tahap pertama Melinda menyetor sebesar
Rp2.063.723.000. Lalu, Malinda mengirim lagi Rp.5.429.199.000 dan selanjutnya
Rp 66juta, dan terakhir Rp 401.480.000. Jaksa mengatakan, dari tiap transaksi itu,
Visca mendapat imbalan sebesar Rp 5 juta. Sedangkan suaminya, Ismail yang
juga diadili didakwa menampung uang dari Melinda sekira Rp 20,4 miliar sejak
bulan Januari 2010 hingga Oktober 2010 dalam 51 kali transaksi.

6
Selain orang – orang tersebut, terdapat keterlibatan Wakil Gubernur
Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Marsekal Madya TNI Rio Mendung
Thalieb. Dia menjadi Komisaris Utama PT Sarwahita Group Managemen, yakni
salah satu perusahaan milik Malinda. Dia mengaku tak melakukan bisnis dalam
perusahaan tersebut, tidak jelas apakah pengakuan ini benar atau tidak karena
tidak pernah ada pemeriksaan terhadap Rio Mendung Thalieb. Lalu pihak lain
yang juga terlibat adalah 50 orang pejabat negara yang menjadi nasabah Malinda
yang uangnya berasal dari pencucian uang hasil korupsi, yang merupakan dugaan
dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

C. Tindak Pencucian Uang


Secara harafiah, money loundering merupakan pencucian uang atau
pemutihan uang hasil kejahatan. Sebenarnya tidak ada definisi yang umum untuk
dapat menjelaskan tindak pidana tersebut, namun baik dari negara-negara maju
maupun berkembang telah memiliki definisi tersendiri untuk masing-masing
negara berdasarkan prioritas dan prespektif yang berbeda. Namun para ahli hukum
di Indonesia telah sepakat untuk mendefinisikan money laundering sebagai tindak
pencucian uang (Sutedi Adrian, 2010).
Tindak pencucian uang menurut Sutan Remy Sjahdeini, merupakan sebuah
rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi terhadap uang
haram, atau uang yang berasal dari kejahatan dengan maksud untuk
menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul uang tersebut dari pemerintah atau
otoritas yang berwenang, kemudian memasukkan uang tersebut ke dalam suatu
sistem keuangan sehingga uang tersebut kemudian dapat dikeluarkan dari sistem
keuangan itu sebagai uang yang halal.
Di Indonesia, tindak pencucian uang telah diatur dalam UU Nomor 8
Tahun 2010 mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang. Menurut Undang-udang tersebut tindak pencucian uang dibedakan menjadi
3 macam, seperti :
a. Tindak pidana pencucian uang aktif (setiap orang yang menempatkan,
mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan,

7
menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan
uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana),
b. Tindak pidana pencucian uang pasif (setiap orang yang menerima atau
menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan,
penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya
atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Namun, dikecualikan
bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana
diatur dalam undang-undang ini). (Pasal 5 UU RI No. 8 Tahun 2010),
c. Mereka yang menikmati hasil tindak pidana pencucian uang (setiap orang
yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber lokasi,
peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas harta
kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana.
Sanksi bagi pelaku tindak pidana pencucian uang yaitu hukuman penjara paling
lama maksimum 20 tahun, dengan denda paling banyak 10 miliar rupiah.

8
BAB III
ANALISIS
A. Pelanggaran Hukum dan Kode Etik Bankir
Kasus Malinda Dee merupakan kasus pelanggaran ganda, yaitu
pelanggaran terhadap kode etik profesi sebagai bankir dan pelanggaran terhadap
hukum yang berlaku di Indonesia. Sebagai seorang karyawan Citibank, sudah
seharusnya Malinda mengikuti kode etik profesi Bankir dan kode etik yang
diterapkan oleh Bank Indonesia. Namun karena kepentingan pribadinya, Malinda
mengesampingkan kode etik yang ada dan melanggar aturan perundang-undangan
yang berlaku di Indonesia.
Dari 9 pilar kode etik bankir, ada 3 kode etik yang dilanggar oleh Malinda,
yaitu :
1. Setiap bankir harus patuh dan taat kepada ketentuan perundang-
undangan dan peraturan yang berlaku. Hal ini diperkuat dengan adanya
dukungan dari Undang - Undang , yang tercantum dalam UU No. 7 tahun
1992 yang telah disempurnakan dengan UU No. 10 tahun 1998 pasal 49
ayat 2b.
Malinda terbukti tidak patuh dan taat pada ketentuan perundang-undangan
dan peraturan yang berlaku karena ia melakukan penggelapan dan
pencucian uang, dimana tindakan tersebut bertentangan dengan pasal
dalam Undang-Undang Perbankan dan pasal Undang-Undang Tindak
Pidana Pencucian Uang.
2. Seorang bankir tidak menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan
pribadi.
Malinda melanggar kode etik ini karena dia telah terbukti
menyalahgunakan wewenangnya sebagai Relationship Manager Citibank
(dengan pangkat Vice President) dengan mengajukan blanko kosong untuk
ditandatangani nasabah. Blanko inilah yang Malinda gunakan untuk
mencuri uang nasabahtanpa disadari oleh pemilik rekening. Selain itu,
Malinda juga menggunakan surat kuasa dari nasabah, meminta teller

9
Citibank membantu melakukan pencatatan palsu terhadap beberapa
transfer uang, danmemerintahkan bawahannya mentransfer uang ke empat
perusahaan miliknya. Dana nasabah juga digunakan Malinda untuk
kepentingan pribadinya, seperti membeli mobil mewah, serta membiayai
kehidupan suami dan adiknya.
3. Seorang bankir tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan
citra profesinya dan lembaga.
Tindakan penggelapan dan pencucian uang yang dilakukan oleh Malinda
jelas merupakan suatu perbuatan tercela yang dapat merugikan citra
profesi bankir dan lembaga (Citibank).
Selain melanggar 9 pilar kode etik bankir, Malinda juga melanggar salah
satu dari kode etik yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, yaitu : Pegawai
dilarang menyalahgunakan jabatan, wewenang, dan atau fasilitas yang diberikan
oleh Bank Indonesia.Namun kode etik tersebut hampir sama dengan salah satu
kode etik bankir, seperti yang sudah dijelaskan di poin kedua di atas.
Dari kasus pelanggaran kode etik bankir di atas, menunjukkan bahwa
Malinda juga melanggar prinsip – prinsip kode etik profesi pada umumnya.
Malinda tidak memiliki prinsip tanggung jawab terhadap dana nasabah yang
seharusnya ia kelola dengan baik, dan tidak melakukan pertimbangan
professional dalam semua kegiatan yang dia lakukan. Malinda juga mengabaikan
prinsip kejujuran karena ia telah menipu nasabah – nasabahnya. Selain itu,
Malinda tidak memiliki prinsip integritas karena ia tidak memilik kejujuran dan
komitmen dalam menjalankan profesinya serta tidak dapat memelihara dan
meningkatkan kepercayaan nasabah.
Pelanggaran kode etik bankir yang dilakukan Malinda Dee sudah termasuk
dalam aspek kriminalitas, sehingga kasus ini juga merupakan pelanggaran hukum.
Malinda melanggar ketentuan hukum yang berkaitan dengan Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan Pasal 55 ayat 1 dan pasal 65 KUHP;
Undang-Undang No 25 Tahun 2003 tentang Pidana Pencucian Uang Pasal 65
KUHP; dan UU Nomor 8 Tahun 2010 mengenai Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang.

10
Berdasarkan tiga macam jenis pencucian uang yang ada menurut UU
Nomor 8 Tahun 2010 , Malinda termasuk ke dalam jenis “Tindak pidana
pencucian uang aktif”, karena Malinda mentransfer, membelanjakan,
membayarkan, dan menghibahkan dana nasabah untuk keperluan pribadinya, dan
yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana karena
uang 50 orang pejabat negara yang menjadi nasabah Malinda berasal dari
pencucian uang hasil korupsi, yang merupakan dugaan dari Pusat Pelaporan dan
Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Sementara itu, suami, adik, adik ipar, dan
para petinggi perusahaan Malinda yang dialiri dana hasil curian Malinda termasuk
ke dalam jenis “Mereka yang menikmati hasil tindak pidana pencucian
uang”.Pihak – pihak tersebut masuk ke dalam jenis ini karena mereka
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber lokasi, peruntukan,
pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.

B. Pencucian Uang oleh Malinda Dee


Bankir yang profesional adalah bankir yang memiliki integritas pribadi,
keahlian dan tanggungjawab sosial yang tinggi serta wawasan yang luas agar
mampu melaksanakan manajemen bank yang profesional pula. Dalam
melaksanakan pekerjaannya, seorang Bankir harus berpedoman pada kode etik
profesi yang ada. Kode etik tersebut menjadi pijakan dalam berperilaku dan
bertindak agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar serta tidak merugikan diri
sendiri dan orang lain.
Malinda Dee melakukan pekerjaannya sebagai Relationship Manager
tanpa memperhatikan kode etik profesi seorang bankir. Konsekuensi dari perilaku
menyimpang yang ia lakukan adalah harus menerima sanksi seperti yang telah
diatur dalam Ikatan Bankir Indonesia. Karena pelanggaran yang dilakukan
Malinda termasuk pelanggaran kode etik berat, maka dapat dikenakan sanksi oleh
Dewan Pimpinan Pusat berupa pemberhentian sebagai Bankir. Selain karena
pelanggaran kode etik berat, pemberhentian tersebu tjuga dikarenakan Malinda
telah dijatuhi hukuman oleh pengadilan yang telah mempunyai kekuataan hukum

11
yang tetap karena melakukan tindak pidana. Citibank pun memberikan sanksi
terhadap Malinda dengan memberhentikannya sebagai karyawan. Di lain pihak,
pandangan atau respect masyarakat terhadap Malinda akan menurun, karena
pelanggaran etika akan menimbulkan ketidaksukaan dari suatu kelompok tertentu,
dan tentunya Malinda akan merasa tersisih dari masyarakat sekitar.

C. Dampak Terhadap Profesi, Organisasi dan Relasi


Kasus Malinda Dee tidak hanya melibatkan dirinya dan pihak - pihak lain yang
ikut membantu tindak kriminalnya, namun juga ikut melibatkan profesi yang
digelutinya dan organisasi atau lembaga tempatnya bekerja. Dalam hal ini, profesi
yang ikut terkena dampak negatif adalah profesi bankir, dan organisasi atau
lembaga yang ikut terkena imbas perbuatan Malinda adalah Citibank. Selain itu,
kasus besar ini tentunya juga akan memberikan kerugian terhadap orang – orang
terdekat Malinda, seperti keluarganya. Jadi, meskipun tidak ikut terlibat namun
secara teori dan fakta, profesi sejenis, organisasi tempat bekerja, dan keluarga
juga akan ikut merasakan imbas dari perbuatan tercela yang dilakukan Malinda.
Secara lebih rinci, dampak yang ikut dirasakan oleh pihak – pihak lain
yang bersangkutan dengan Malinda namun tidak ikut membantu tindak
kriminalnya, antara lain:
a. Profesi Bankir
Dengan adanya kasus Malinda Dee, mau tidak mau profesi Bankir akan
mendapatkan imbasnya juga. Dari kasus ini, kepercayaan masyarakat
terhadap seorang bankir akan berkurang dan citra profesi seorang bankir
akan menurun. Selain itu, prosedur perbankan menjadi lebih diperketat
sehingga akan lebih membatasi ruang gerak bankir.
b. Citibank
Citibank sebagai tempat Malinda bekerja, akan dilanda krisis reputasi dan
krisis kepercayaan dari masyarakat. Dengan adanya kasus yang
melibatkan beberapa karyawannya, reputasi perusahaan pasti akan
menurun. Masyarakat akan menjadi ragu untuk menyimpan uang nya di
Citibank, dan apakah uangnya akan benar – benar aman, karena Bank ini

12
tidak dapat mengontrol dan mengawasi perilaku karyawannya dengan
baik. Jika tidak mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat dan
menjamin keamanan dana nasabahnya, Citibank bisa dilanda krisis
keuangan.
c. Keluarga
Perbuatan tidak beretika seorang pegawai senior yang seharusnya menjadi
panutan para juniornya ini dapat menurunkan reputasi dan nama baik
keluarga di mata masyarakat.

D. Pencegahan Fraud
Efektifitas pengendalian fraud dalam bisnis, pada prosesnya merupakan tanggung
jawab pihak manajemen. Diperlukan pemahaman yang tepat dan menyeluruh
tentang fraud oleh manajemen, sehingga dapat memberikan arahan dan
menumbuhkan awareness untuk pengendalian risiko fraud pada Bank. Strategi
anti fraud merupakan wujud komitmen manajemen Bank dalam mengendalikan
fraud yang diterapkan dalam bentuk sistem pengendalian fraud. Strategi ini
menuntut manajemen untuk mengerahkan sumber daya agar sistem pengendalian
fraud dapat diimplementasikan secara efektif dan berkesinambungan.
Beberapa langkah fraud prevention yang dapat diterapkan oleh manajemen
Citibank adalah sebagai berikut :
1. Lingkungan Pencegahan
1.1 Good Corporate Governance
Selama ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, pelaksanaan
pencegahan fraud telah dilaksanakan oleh Bank, antara lain pelaksanaan
tata kelola yang baik (Good Corporate Governance). Penerapan GCG
dengan menerapkan 3 elemen :
a. Prinsip GCG
Dalam dunia perbankan dimana kepercayaan menjadi salah satu key
success factor,pelaksanaan good corporate governance menjadi suatu
kebutuhan. Namun, pada kenyataannya masih terdapat celah dalam sistem
pengendalian internal bank yang memungkinkan terjadinyafraud seperti

13
pada kasus Citibank Indonesia. Manajemen Perusahaan perlu menerapkan
prinsip GCG di seluruh jajaran manajemen citibank, yaitu Transparency,
Accountability, Responsibility, Independency, dan Fairness.
Terwujudnya good corporate governance sendiri tidak dapat dipisahkan
dengan sistem pengendalian internal yang efektif dan efisien.

b. Struktur GCG
Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good
Corporate Governance bagi Bank Umum. Pada pasal 12 ayat 1 disebutkan
bahwa Dewan Komisaris wajib membentuk:

a. Komite audit
b. Komite Pemantau Risiko
c. Komite Remunerasi dan Nominasi (boleh secara terpisah)
Peraturan Bank Indonesia Nomor 1/6/PBI/1999 Tentang Penugasan
Direktur Kepatuhan dan Penerapan Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank
Umum. Peraturan ini mewajibkan bank untuk menugaskan salah satu
anggota direksi atau anggota pimpinan kantor cabang (untuk kantor
cabang bank asing) sebagai Direktur Kepatuhan. Standar Pelaksanaan
Fungsi Audit Intern Bank mewajibkan bank untuk:

a. Menyusun Piagam Audit Intern.


b. Membentuk Satuan Kerja Audit Intern (SKAI), yang
bertanggungjawab langsung kepada direktur utama. Kepala SKAI
diangkat dan diberhentikan oleh direktur utama Bank dengan
persetujuan dari dewan komisaris.
c. Menyusun panduan audit intern.
Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 1/6/PBI/1999, piagam audit
disusun oleh Direktur Utama dan disetujui oleh Dewan Komisaris. Namun
dalam pelaksanaannya di Citibank tidak demikian. Piagam audit disusun
dan disetujui oleh Manajemen (Direksi).

14
Citibank tidak memiliki komite remunerasi dan nominasi seperti yang
diwajibkan oleh Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 Pasal 12
ayat 1.

Posisi SKAI masih berada dibawah kewenangan langsung pihak top


manajemen dan tidak memiliki hubungan langsung dengan komite audit.
Hal ini dapat menjadi salah satu kelemahan apabila top manajemen
melakukan fraud.

1.2 Tone at The Top


Citibank harus menerapkan keteladanan yang berasal dari top manajemen
untuk menjadi role model bagi seluruh karyawan Citibank. Budaya jujur
dan sikap antifraud harus terus digaungkan oleh top manajemen dalam
usaha melakukan pencegahan fraud. Not everyone is honest, sebuah fakta
yang menyedihkan. Pada kondisi integritas yang rendah, kontrol yang
lemah, akuntabilitas yang rendah, dan tekanan yang tinggi, peluang
seseorang menjadi tidak jujur akan semakin besar. Dan bank-bank di
Indonesia saat ini dihadapkan pada dua pilihan sederhana: menciptakan
lingkungan dengan potensi fraud yang rendah (low fraud environment)
atau menyusul kerugian-kerugian atas tindakan fraudster bank-bank
terdahulu.
Low fraud environment bisa diciptakan dengan adanya dukungan dari
budaya kejujuran yang tinggi, keterbukaan, dan program khusus bantuan
kepada personel. Untuk menciptakan dukungan tersebut, paling tidak bank
harus mempekerjakan orang-orang yang jujur dan selalu memberikan
pelatihan kepada mereka mengenai kesadaran akan fraud, menciptakan
lingkungan kerja yang positif, membuat dan melakukan diseminasi atas
kode perilaku yang miudah dimengerti, serta membuat program bantuan
kepada para personel.
Pada praktiknya, Citibank belum sepenuhnya usaha menciptakan budaya
antifraud yang berkesinambungan, mengingat kasus Malinda Dee
dilakukan oleh orang yang mempunyai posisi kunci di perusahaan. Kasus

15
Malinda Dee mencerminkan belum adanya keteladanan dari jajaran
manajemen, baik top manajemen, maupun middle manajemen.
1.3 Kebijakan dan Prosedur
Tujuan penyusunan kebijakan dan prosedur penerapan strategi anti fraud
berkutat pada 4 pilar yakni pencegahan, deteksi, investigasi-pelaporan, sanksi.
Fokus pembahasan pada makalah ini ialah pada pencegahan fraud. Berikut
tujuan pencegahan fraud, yakni :
1. Sebagai dasar tindakan yang diambil oleh Bank dalam melakukan
enforcement, kontrol dan pencegahan terhadap terjadinya suatu tindak
kejahatan yang dapat merugikan Bank secara financial maupun dapat
mempengaruhi kinerja operasional Bank secara keseluruhan
2. Sebagai bentuk penegasan dari Bank dan untuk disadari dan dipahami
secara menyeluruh pada setiap level organisasi Bank bahwa fraud
merupakan bentuk tindak kejahatan dan tindakan yang tidak bermoral
khususnya dalam organisasi perbankan.
3. Untuk memberikan arahan dalam internalisasi budaya anti fraud,
peningkatan kewaspadaan maupun peningkatan kesadaran risiko fraud
pada tiap aktifitas kegiatan Bank
4. Sebagai panduan dalam melakukan pengendalian tindak fraud melalui
upaya-upaya yang tidak hanya ditujukan untuk pencegahan namun juga
untuk mendeteksi dan melakukan investigasi serta memperbaiki sistem
sebagai bagian dari strategi yang bersifat integral dalam mengendalikan
fraud.
Pedoman dan kebijakann antifraud minimal harus meliputi :
• Definisi fraud
• Deskripsi komunikasi dan publikasi kebijakan.
• Deskripsi implementasi pengendalian antifraud.
• Deskripsi pelatihan (untuk karyawan).
• Deksripsi pengukuran audit fraud yang proaktif.
• Deskripsi pengujian pengendalian antifraud.
• Deskripsi kebijakan dan prosedur investigasi.

16
• Deskripsi analisis bukti.
• Deksripsi resolusi untuk fraud
• Deskripsi prosedur pelaporan kejadian/insiden.
Citibank belum mempunyai kebijakan dan prosedur yang efektif.

2. Persepsi Deteksi
Berdasarkan teori fraud triangle (segitiga kecurangan), tekanan, kesempatan,
dan rasionalisasi yang datang secara bersamaan akan memperbesar peluang
terjadinya fraud. Namun, jika salah satu saja dari elemen segitiga tersebut
hilang, fraud tidak akan terjadi. Pada sisi bank, menghilangkan kesempatan
terjadinya fraud adalah yang paling mungkin ditindaklanjuti. Berikut disajikan
perihal usaha yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kesempatan terjadinya
fraud di bank.
2.1 Pengawasan
Para pelaku fraud biasanya menggunakan hasil jarahannya untuk
mendukung gaya hidup yang mahal. Dengan mengawasi gaya hidup setiap
personel dan fasilitas-fasilitas pribadi di sekelilingnya, bank bisa
melakukan langkah pencegahan. Sebab, para personel yang berpotensi
melakukan fraud seakan-seakan merasakan terus diawasi.
Dalam kasus Malinda Dee, seharusnya manajemen dapat lebih peka
melihat “changes in behavior” pada Malinda, perubahan gaya hidup
mewahnya sudah tampak sebelum kasusnya terungkap. Pencegahan dapat
dilakukan dengan cara pertama, manajemen Citibank mengamati gaya
hidup dan tindak tanduk MD. Jika gaya hidupnya melampaui
pendapatannya harus diklarifikasi dan diinvestigasi asal usul sumber
pendapatan lainnya apakah terkait jabatannya atau tidak. Kedua, jika hasil
investigasi ada kecurigaan maka harus segera diambil tindakan tertentu
yang dapat mencegah akibat dari perbuatan tersebut lebih meluas.
Dengan mengembangkan sikap peduli dan curiga dari pimpinan, akan
menciptakan fraud prevention yang bisa mencegah atau mendeteksi dini
terjadinya fraud.

17
2.2 Anynomous Tip
Adanya Mekanisme untuk memantau kegiatan yang mencurigakan pada
rekening dan transaksi, sehingga apabila diperlukan, kegiatan yang
berpotensi mencurigakan tersebut dapat dilaporkan kepada pihak
pemerintah berwenang yang bersangkutan sesuai undang-undang yang
berlaku. Pelaporan tersebut harus mempunyai sebuah platform yang aman,
sehingga para pelapor merasa terlindungi dan tidak terancam oleh pelaku
fraud. Citibank perlu membangun sistem whistle blower sebagai upaya
pencegahan terjadinya fraud, sehingga siapa saja yang melihat atau
menyaksikan kejadian fraud dapat segera melapor ke jajaran manajemen
melalui sistem tersebut.
2.3 Penuntutan
Ketakutan akan hukuman jelas akan mengurangi perilaku tidak jujur.
Hukuman yang tegas dan konsisten akan membuat para personel berpikir
seribu kali sebelum memastikan siap terlibat melakukan fraud. Jika hanya
diberhentikan, terkadang tidak cukup kuat untuk mencegah fraud.
Hukuman yang lebih berarti, misalnya, memberi tahu kepada keluarga
atau orang-orang terdekat mengenai perilaku tidak jujur yang dilakukan
seorang personel.
Malinda Dee diproses secara hukum dan dijatuhi hukuman penjara selama
7 tahun dan denda 10 Miliar rupiah. Konsekuensi hukum yang diterima
Malinda Dee akan menjadi sinyal yang kuat dan membuat karyawan lain
yang berpotensi melakukan fraud berfikir dua kali sebelum melakukan
fraud. Hal ini akan memperkuat persepsi deteksi dan meningkatkan
pencegahan fraud.
2.4 Surprise Audit
Sering kali, investigasi terhadap fraud dilakukan setelah ada korban, yang
artinya bersifat reaktif. Audit yang bersifat pro-aktif diharapkan akan
membangun kesadaran para personel bahwa apa yang mereka lakukan
setiap saat bisa saja “di-review”. Hal ini akan memberikan para personel

18
rasa takut akan tertangkap jika melakukan fraud, sehingga diharapkan
akan mengurangi perilaku kecurangan di bank.
Dalam kasus Malinda Dee bisa dipastikan tidak ada pengecekan atau audit
rutin, dan jika prosedur audit tahunan yang diterapkan menggunakan
sampling akan gagal mendeteksi kecurangan yang dilakukan Malinda.
Malinda juga menggunakan tanda tangan asli pada slip penarikannya,
sehingga proses penelusuran menjadi lebih sulit. Dengan diterapkan
surprise audit yang rutin, diharapkan potensi perekayasaan transaksi lebih
cepat terungkap, karena auditor dapat datang kapan saja tanpa terjadwal.
2.5 Pelaksanaan Kebijakan Etika dan Fraud
Konsistensi pelaksanaan kebijakan dan prosedur fraud penting untuk
menciptakan iklim antifraud. Mempunyai sederet peraturan jika tidak
dilaksanakan akan sia-sia. Dalam kasus Malinda Dee, pembuatan
kebijakan fraud belum maksimal dan penerapannya juga belum efektif.
Longgarnya suatu kebijakan dan tidak adanya pengawasan akan
menciptakan opportunity yang dapat mendorong seseorang melakukan
fraud.
2.6 Catch Me if You can!
Upaya pengusutan kasus fraud yang terjadi di tubuh perusahaan secara
tuntas merupakan persepsi deteksi yang sangat ampuh. Hal ini
mengindikasikan bahwa perusahaan tidak main-main dalam memerangi
kasus fraud dan akan meningkatkan fraud prevention.
Citibank melalui pengacaranya Otto Hasibuan, melakukan penuntutan
hukum terhadap Malinda Dee dan mempublikasikan kejahatan yang
dilakukannya. Citibank juga terus melakukan investigasi terhadap dugaan
kejahatan yang dilakukan Malinda. Semua pihak yang diduga terlibat
dalam internal Citibank juga diperiksa. Upaya yang ditempuh Citibank
telah tepat, karena tanpa upaya yang serius untuk mengusut kasus, akan
memperlemah persepsi deteksi dan meningkatkan peluang terjadinya
fraud.

19
3. Pendekatan Klasik
3.1 Preventive Approach
Preventive approach dilakukan dengan mendesain sistem yang dapat
mengurangi terjadinya fraud atau minimal jumlah kerugian tidak material
apabila perusahaan tidak melakukan pengawasan. Pemisahan fungsi
merupakan usaha yang dilakukan perusahaan untuk mencegah terjadinya
fraud. Dalam kasus Malinda Dee, Citibank telah melakukan pemisahan
fungsi, namun karena Malinda melakukan koalisi kejahatan dengan fungsi
lainnya di perusahaan dan juga lemhanya pengendalian atas kas, kejahatan
tetap terjadi.
3.2 Detective Approach
Dalam detective approach, manajemen akan membuat pengendalian
akuntansi dan fungsi internal audit untuk mengawasi potensi terjadinya
fraud. Internal audit secara periodik akan memverifikasi legitimasi
(kesesuaian dengan aturan) transaksi dan mengkonfirmasi keberadaan aset.
Manajemen bergantung pada pengendalian akuntansi untuk mendeteksi
potensi kejahatan yang mungkin terjadi.
Dari sini dapat ditelaah, bahwa Citibank mempunyai kelemahan pada
fungsi internal audit dan pengendalian internal, dimana kasus Malinda Dee
tetap aman selama 3 tahun lamanya.
3.3 Observation Approach
Observation approach bergantung pada observasi fisik atas aset dan
karyawan. Manajemen mengawasi karyawan yang melakukan aktivitas
yang mencurigakan atau perilaku yang tidak biasa. Barang-barang yang
bernilai dan mudah dipindahkan seperti : kas, persediaan, dan aset lainnya
juga akan diawasi, salah satunya dengan menggunakan kamera.
Malinda Dee mempuyai ruangan khusus untuk rapat private dengan para
nasabah eksklusif. Melalui pendekatan Observation approach, seharusnya
Citibank mengawasi gerak-gerik Malinda dan apa yang dilakukan di
ruangan khusus tersebut dengan memasang CCTV atau perekam suara jika
perlu. Jadi setiap manajer yang hendak meeting dengan nasabah dapat

20
diawasi untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan yang
berujung pada fraud.
3.4 Investigative Approach
Investigative approach merupakan action perusahaan setelah ditemukan
adanya bukti-bukti yang mencurigakan atas sebuah kasus fraud.
Perusahaan harus menindaklanjuti bukti-bukti tersebut dengan cepat
sebelum mengarah kepada fraud. Jelas dalam kasus Malinda Dee,
perusahaan terlambat mengambil langkah dan baru bergerak setelah fraud
terjadi.
4. Pengukuran Pencegahan Lainnya
Selain pendekatan-pendekatan umum yang dijelaskan sebelumnya,
pencegahan fraud dapat juga dilakukan dengan pendekatan spesifik , yaitu :
4.1 Pengecekan Background Karyawan
Employee melalui pengendalian system rekrutmen, proses mutasi dan
rotasi karyawan dan kebijakan cuti wajib (block leave). Sistem rekrutmen
dengan memperhatikan catatan kriminal dan riwayat hutang. Perusahaan
sebaiknya tidak menerima karyawan baru yang memiliki indikasi tersebut.
Pemberian cuti dan rotasi kerja juga harus dilakukan secara rutin. Apabila
ada indikasi menolak cuti dan rotasi, perusahaan perlu mencurigai dan
menindaklanjuti hal tersebut. Dalam kasus Malinda Dee, tidak adanya
rotasi kerja merupakan kelemahan manajemen Citibank yang membuat
Malinda merasa mempunyai power dan opportunity untuk melakukan
fraud.
4.2 Internal Control
Menciptakan internal kontrol yang baik adalah salah satu langkah yang
bisa ditempuh bank dalam mencegah terjadinya fraud. Semua berharap,
fraud (penipuan/ kecurangan) pada sistem perbankan kita setidaknya
mereda. Sebab, memang fraud tidak mungkin bisa dihilangkan hingga
nihil. Namun, tentu harapan berkurangnya fraud ini sangat bergantung
pada kesiapan masing-masing bank untuk mencegahnya.
1. Menciptakan kontrol internal yang baik

21
Kontrol internal yang bagus, paling tidak harus mencakup kontrol
lingkungan yang bagus, sistem akuntansi yang bagus, dan kontrol
prosedur (aktivitas) yang juga bagus. Becermin dari sebuah pernyataan
Committee of Sponsoring Organization (COSO) “the control
environment sets the tone of the organization, and is largely
responsible for employees being conscious (and therefore vigilant)
about controls”. Intinya, kontrol lingkungan harus mencakup
integritas; nilai etika dan kompetensi sumber daya manusia (SDM);
gaya dan filosofi manajemen; gaya manajemen dalam mengalokasikan
wewenang, tanggung jawab, dan pengembangan SDM; serta perhatian
dan arahan dewan direksi.
Sementara, sistem akuntansi yang bagus harus memberikan informasi
yang benar, lengkap, dan tepat waktu. Kontrol prosedur yang bagus
harus mencakup kontrol fisik atas aset-aset, otorisasi yang tepat,
segregasi tugas, pengecekan independen, dan dokumentasi yang
lengkap. Perlu dicermati, tidak ada sistem kontrol internal yang kebal
terhadap fraud serta efektivitasnya akan sangat bergantung pada
kompetensi orang-orang di bank yang harus memastikan pelaksanaan
internal kontrol yang tepat dan solid. Sistem kontrol internal hanyalah
salah satu elemen program pencegahan fraud yang komprehensif.
2. Membangun rintangan bagi terjadinya kolusi.
Jika fraud terjadi disertai dengan kolusi, akan lebih sulit untuk bisa
mendeteksinya. Dan, karena kolusi biasanya dibangun dalam waktu
yang tidak singkat, cara yang jitu adalah merotasi personel (job
transfer) secara periodik.
3. Memberikan informasi kepada nasabah mengenai kebijakan bank.
Contoh mudahnya adalah perilaku suap untuk memperoleh kucuran
dana. Bank bisa membuat surat secara periodik kepada nasabah terkait
yang menjelaskan mengenai kebijakan perusahaan yang tidak
menerima segala jenis suap atau hadiah. Bank juga bisa memberikan
syarat bahwa bank memiliki hak yang bisa digunakan sewaktu-waktu

22
untuk mengaudit laporan keuangan nasabah yang memperoleh
pinjaman. Hal ini juga diharapkan akan mengurangi niat nasabah
melakukan kecurangan.

E. Perubahan Yang Dilakukan Manajemen Citibank Setelah Kasus


Malinda Dee
Setelah terjadinya kasus Malinda Dee dan beberapa kasus terkait penagihan kredit
dengan customer, Citibank bekerja keras meraih kembali kepercayaan nasabah.
Pasca kasus-kasus yang menimpa Citibank di tahun 2010-2011, Citibank
menerima ujian berat. Selain sanksi dari BI berupa penghentian layanan kartu
kredit selama 2 tahun dan juga penghentian penagihan kredit dengan jasa pihak
ketiga, anggota komisi XI DPR juga beramai-ramai mengembalikan kartu kredit
Citibank karena kecewa dengan pelayanan Citibank. Namun, Citibank kini telah
banyak berbenah. Citibank mulai menerapkan Good Corporate Governance dan
melaporkan Integrated Corporate Governance Report mulai periode 31 Desember
2015.
Berdasarkan Integrated Report tentang Corporate Governance tanggal 31
Desember 2016, didapat data sebagai berikut :
1. Menerapkan prinsip GCG Transparansi yang dibuktikan dengan
mengungkapkan semua aktivitas keuangan dan non keuangan dalam
annual report dan integrated report.
2. SKAI masih bertanggung jawab pada top manajemen dan belum dirubah
pola pertanggungjawabannya ke komite audit.
3. Komite Audit dan Komite Pemantau resiko telah dibentuk sesuai dengan
peraturan BI tentang prinsip GCG.
4. Belum mempunyai komite remunerasi di Indonesia, dengan alasan yang
disebutkan dalam integrated report bahwa seluruh kebijakan HRD di
Indonesia harus mendapat persetujuan dari HRD regional hingga Global
International Benefit Unit.

23
5. Mempunyai kebijakan dan prosedur fraud yaitu Citi Fraud Management
Standard, yang berisi diantaranya : anti bribery and corruption, anti money
laundering.
6. Mempunyai code of conduct (kode etik) dan menggaungkan prinsip
integritas.
7. Mempunyai aturan tentang suspicious activity reporting, dimana
mewajibakan semua karyawan citibank untuk ikut melaporkan aktivitas
yang mencurigakan dalam rangka usaha untuk melakukan pencegahan
fraud.

24
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa kasus tersebut sudah
melanggar kode etik perbankan yang dapat merugikan pihak nasabah. Hubungan
antara bank dengan nasabahnya ternyata tidaklah seperti hubungan kontraktual
biasa, tetapi dalam hubungan tersebut terdapat pula kewajiban bagi bank untuk
tidak membuka rahasia dari nasabahnya kepada pihak lain mana pun kecuali jika
ditentukan lain oleh perundang-undang yang berlaku. Menurut pasal 1 angka 28
undang-undang perbankan, yang dimaksud dengan rahasia bank adalah segala
sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan
simpanannya
Melinda Dee dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU No 7 tahun 1992
sebagaimana diubah dengan UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau
pasal 6 UU No 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU No 25 tahun 2003
sebagaimana diubah dengan UU no 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian
Uang dan pastinya pelaku dikenakan sanksi berupa denda dan hukuman penjara.
Dari tindakan fraud tersebut dapat dicegah dengan beberapa tindakan
1)Sosialisasi Budaya Anti Fraud yang dilakukan tidak hanya kepada pihak intern
Bank namun juga kepada pihak ekstern yang berhubungan dengan Bank, 2)
Identifikasi Kerawanan (Vulnerability Identification) dilaksanakan oleh Pejabat
Anti Fraud yang ditunjuk untuk melakukan proses identifikasi kerawanan
terhadap potensi terjadinya fraud di unit kerja atau karyawan yang menjadi
tanggung jawabnya. 3) Pelaksanaan Know Your Employee melalui pengendalian
system rekrutmen, proses mutasi dan rotasi karyawan dan kebijakan cuti
wajib (block leave), 4) Penegakan Kode Etik Perusahaan (Code of Conduct), 5)
Peningkatan Efektivitas Supervisi.

25
DAFTAR PUSTAKA

Tomie W. Singelton, Aaron, J.2006. Fraud Auditing and Forensic


Accounting Third Edition. John Wiley & Sons, Inc.
http://www.bankina.co.id/home1.php?id=362
https://mukhsonrofi.wordpress.com/2011/04/11/tujuh-langkah-mencegah-
kejahatan-perbankan/
http://feralufhidaranipranita.blogspot.co.id/2013/11/kasus-citibank.html
Laporan Pelaksanaan Tata Kelola Terintegrasi, Integrated Corporate
Governance Report Konglomerasi Keuangan Citi Indonesia, 31 Desember 2016
Zabihollah Rezaee. 2007. Corporate Governance Post- Sarbanes Oxley-
Regulations, Requirements, and Integrated Processes. John Wiley & Sons, Inc.

26