Anda di halaman 1dari 5

Nama : Angelica Lidya Y.

NIM : 201650076
Tugas E-Business

IT Doesn’t Matter by Nicholas G. Carr


Semenjak ada penemuan dan pengembangan mikroprosessor dengan teknologi
silicon pada tahun 1968 yang ditemukan oleh Insinyur Ted Hoff, menyebabkan dunia
IT berkembang dengan pesat. Pesatnya teknologi tersebut merubah tata cara berbisnis
dunia. Teknologi informasi pun menjadi tulang punggung bagi perdagangan dunia.

Karena perkembangan dan kekuatan Teknologi informasi yang semakin


meningkat inilah yang membuat perusahaan memandang bahwa sumber daya
teknologi informasi menjadi salah satu faktor yang kuat untuk mencapai kesuksesan.
Perusahaan pun banyak berinvestasi di bidang ini untuk membuat teknologi informasi
di perusahaan mereka meningkat dan lebih maju lagi dari perusahaan pesaing.

Pandangan tersebut merupakan sebuah kesalahan. Nilai strategis didapatkan


dari kelangkaan bukan dari benda yang bersifat ubiquity. Perusahaan akan
mendapatkan keuntungan dibanding pihak lain hanya karena perusahaan lain tidak
mampu atau tidak bisa melakukannya. Padahal, saat ini ketersediaan IT sangat mudah
didapatkan. Hal ini membuat potensi IT sebagai sumber daya potensial berubah hanya
menjadi faktor komoditas dari sebuah produksi.

Contoh nyata fenomena tersebut adalah pada fenomena mesin uap, jalur kereta
api, telegraph, telepon, generator listrik sampai mesin pembakaran internal. Ketika
sudah meningkat ketersediannya dan menjadi benda yang jamak,maka teknologi
tersebut bukan lagi menjadi strategic standpoint dalam meningkatkan value
perusahaan.

Keuntungan yang menghilang

Pemanfaatan infrastruktur teknologi akan menjadi sesuatu yang sangat


potensial jika teknologi tersebut merupakan teknologi yang sukar untuk diperoleh
kompetitor. Perusahaan akan memiliki keuntungan yang sangat tinggi jika mempunyai
hak milik akan sebuah teknologi. Namun lama-kelamaan dengan berkembangnya
teknologi akan mengakibatkan teknologi tersebut berubah menjadi infrastruktur
teknologi yang umum.

Analogi pemanfaatan teknologi informasi pada saat ini memiliki gejala yang
sama dengan pemanfaatan infrastruktur-infrastruktur teknologi lain pada awal-awal
abad 20-an. Jalur kereta api, pada awalnya merupakan sebuah infrastruktur penting
bagi perusahaan untuk dapat meningkatkan nilai dari perusahaan. Perusahaan-
perusahaan mulai berupaya untuk meningkatkan kemudahan distribusi produk mulai
dari pabrik, distributor sampai ke pelanggan dengan membangun jalur-jalur kereta api
pribadi. Tapi pada suatu titik, perusahaan-perusahaan tersebut sadar bahwa teknologi
tersebut tidak reliabel untuk dimiliki secara personal oleh perusahaan. Sehingga
teknologi tersebut menjadi infrastruktur umum yang dapat diakses oleh banyak pihak.
Pada titik tersebut potensi jalur kereta api sebagai nilai tambah menjadi menghilang.
Fenomena tersebut juga didukung oleh sejarah yang sama pada teknologi-teknologi
lain seperti, telegraph, telephone, mesin uap, stasiun pembangkit listrik.
Nama : Angelica Lidya Y.
NIM : 201650076
Tugas E-Business

Saat teknologi sudah menjadi infrastruktur yang jamak dan dapat diperoleh
dengan mudah. Keuntungan yang didapat bukan lagi menjadi keuntungan pribadi
perusahaan namun sudah menjadi keuntungan secara makro ekonomi. Poin utama
yang harus diperhatikan, seberapa besarpun potensi strategis dari suatu teknologi yang
mampu membedakan suatu perusahaan dengan perusahaan lain akan menurun
potensinya jika teknologi tersebut menjadi mudah diakses dan tersedia bagi semua.

Komoditisasi dari IT

Meskipun sedikit lebih kompleks dibanding teknologi-teknologi terdahulu, IT


memiliki fenomena yang mirip. Fungsi IT cenderung mengarah pada transportasi
atau pemindahan data. Sifat infrastruktur IT sebagai sarana transportasi ini akan lebih
menguntungkan jika disharing. Apalagi, IT memiliki kemungkinan yang sangat tinggi
untuk ditiru. Fungsi-fungsi yang semakin banyak diketahui oleh masyarakat umum
akan mendorong terbentuknya standarisasi teknis. Hal tersebut akan menjadi akhir
dari aplikasi propietary dan akan berubah menjadi “economic obsolence”. Bukan
hanya software yang mudah ditiru sebagai penyebab utama terjadinya economic
obsolence, penggunaan software yang generik tentu akan menyeragamkan bisnis
proses sebagian besar perusahaan.

Kemunculan internet mendorong terjadinya komoditisasi IT dengan


menyediakan jalur pengiriman yang sempurna untuk aplikasi generik. Terlebih lagi
pada saat ini perusahaan memenuhi kebutuhan teknologi hanya dengan membeli web
service dari pihak ketiga. Vendor-vendor utama saat ini pun mulai berpikir untuk
menempatkan diri sebagai “IT utilities”. Sehingga, perusahaan mulai merubah
aplikasi yang dikembangkan sendiri dengan aplikasi yang generik.

Kesimpulan dari semua alasan yang telah dikemukakan. IT akan menjadi


subyek yang mengalami penurunan harga yang sangat cepat. Dikarenakan batasan-
batasan keunggulan dari kompetitor mulai hilang dan IT menjadi komoditas yang bisa
diakses dengan mudah oleh semua pihak.

Seperti infrastruktur-infrastruktur teknologi terdahulu, IT menyediakan


kesempatan untuk perusahaan memiliki keuntungan kompetitif hanya pada saat
teknologi tersebut dimiliki secara pribadi (propieatary). Namun akan mengalami
penurunan kegunaan jika teknologi tersebut sudah jamak dimiliki oleh masyarakat.

Contoh perusahaan yang mengalamai fenomena tersebut adalah,


1. AHS (American Hospital Supply dengan “ASAP (Analytical Systems
Automated Purchasing)”
2. American airlines dengan “Sabre Reservation System”
3. Federal Express dengan “Package-Tracking System”
4. Mobil Oil dengan teknologi “Automated Speedpass payment System”
5. Reuter dengan “financial information network”
6. E-bay dengan usahanya yang mampu merubah industri dengan IT.
Dari contoh diatas, memiliki fenomena yang mirip. Keunggulan pemanfaatan
infrastruktur IT hanya terjadi ketika kompetitor lain belum memiliki teknologi
tersebut. Namun ketika teknologi sudah dapat dimiliki secara luas maka keunggulan
tersebut menurun dengan cepat. Namun tidak bisa dipungkiri terdapat perusahaan-
Nama : Angelica Lidya Y.
NIM : 201650076
Tugas E-Business

perusahaan yang dapat memanfaatkan inovasi IT untuk menjadi keunggulan utama


perusahaan tersebut. Contohnya terjadi pada Walmart dan Dell Computer.

Tetapi, pada saat ini kesempatan untuk meningkatkan keuntungan dari


investasi berbasis IT mengalami trend penurunan. Berdasarkan sejarah, teknologi
yang mampu memberikan dampak besar terhadap perubahan perilaku industri pada
suatu titik akan mengalami penurunan dikarenakan waktu perkembangan teknologi
tersebut sudah mendekati akhir. Pada saat ini IT berada pada posisi penurunan
tersebut. Ciri-ciri teknologi IT yang dinilai sudah mulai mendekati akhir
perkembangan antara lain, sebagai berikut,
a. Kekuatan IT melampaui kebutuhan perusahaan.
b. Harga dari fungsionalitas IT menjadi sangat murah sampai pada titik
dimana teknologi dapat dimiliki oleh orang banyak.
c. Kapasitas dari jaringan distribusi universal tidak seimbang dengan
rendahnya kebutuhan industri.
d. Vendor mulai memposisikan diri sebagai suplier komoditi atau sebagai
bagian dari utilitas perusahaan.
e. Gelembung investasi IT yang telah meledak, yang secara historis menjadi
indikasi yang jelas bahwa teknologi telah mencapai akhir masa
perkembangan.

Walaupun nilai dari IT mengalami penurunan namun tetap terdapat beberapa


perusahaan yang mengalami perkecualian karena memiliki aplikasi yang memiliki
spesifikasi yang sangat tinggi.

Perubahan paradigma investasi IT (From Ofensif to Defensif)

Trend penurunan kegunaan IT dalam memberikan nilai tambah ke perusahaan


seharusnya disikapi dengan bijak dengan pengelolaan IT yang lebih baik. Apalagi
investasi IT memiliki resiko operasional yang relatif besar. Resiko operasional yan
berhubungan erat dengan IT antara lain, technical gliches, keusangan, berhentinya
layanan, vendor atau partner tidak terpercaya, pelanggaran keamanan, bahkan
terorisme. Dan yang paling utama adalah perusahaan mulai beralih dari sistem yang
terkontrol dengan ketat dan propieatary menjadi terbuka dan di-share.

Pada saat ini sudah seharusnya, manajemen investasi IT sudah melakukan


perubahan paradigma berinvestasi terhadap IT.Berdasarkan gejala-gejala yang timbul,
paradigma investasi yang terus berupaya melakukan investasi IT hanya demi
memperoleh posisi strategis dalam kompetisi menjadi kurang tepat. Seharusnya
perusahaan saat ini lebih berpikir kearah bagaimana untuk memanfaatkan teknologi
IT yang sudah dimiliki untuk dapat menghasilkan keuntungan yang maksimal (Pola
Defensif).

Beberapa perusahaan saat ini sudah melakukan terobosan dengan berupaya


mengidentifikasi kerentanan yang mereka miliki daripada melakukan investasi pada
teknologi baru. Secara lebih jauh, bencana yang paling menakutkan yang dihadapi
oleh perusahaan-perusahaan adalah pengeluaran yang berlebih. Padahal investasi IT
akan mengalami penurunan harga yang sangat signifikan. Hal ini mendorong
Nama : Angelica Lidya Y.
NIM : 201650076
Tugas E-Business

perusahaan untuk melakukan penghematan besar-besaran untuk pengeluaran pada


investasi IT. Perusahaan harus pandai dalam menentukan skala prioritas pembelian IT.

Pada tahapan yang lebih tinggi, penghematan dilakukan dengan cara


melakukan evaluasi terhadap hasil yang didapatkan dari investasi sebuah sistem.
Perusahaan tersebut berupaya lebih kreatif dalam mencari alternatif yang lebih murah
dan sederhana bahkan membuka peluang untuk melakukan outsourcing.

Pengeluaran yang tinggi terhadap investasi pada IT sebenarnya akibat dari


strategi dagang para vendor-vendor IT. Vendor tersebut memiliki kemampuan
strategis untuk mendorong perusahaan-perusahaan terus menerus mengeluarkan
investasi untuk pembelian dan upgrade infrastruktur IT yang mereka miliki. Oleh
karena itu, perusahaan harus bijak dalam menyikapinya.

Selain bijak dalam melakukan investasi IT, perusahaan juga harus


menghilangkan kecerobohan dalam pemanfaatan IT yang selama ini dilakukan.
Sebagian besar infrastruktur IT pada saat ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang
tidak berguna bagi perusahaan.

Strategi investasi yang sangat bagus untuk dilakukan pada saat ini adalah
dengan melakukan penundaan investasi IT hingga pada saat yang tepat. Kebiasaan
perusahaan yang kurang sabar dan takut tertinggal teknologi menyebabkan investasi
IT menjadi membesar. Biaya riset dan investasi IT akan sangat tingi dan tidak relevan
dengan keuntungan yang didapatkan. Dilain pihak terdapat perusahaan yang
memiliki strategi cerdas. Perusahan tersebut mampu untuk mendapatkan keuntungan
lebih dengan cara menunggu sampai teknologi tersebut terstandarisasi dan telah
tersedia best practices yang solid.
Pendapat bahwa pengurangan pengeluaran untuk IT dapat merusak posisi
kompetitif suatu perusahaan tidak sepenuhnya benar. Bahkan menurut statistik yang
dikeluarkan oleh “Alineam Consulting Firm” menyatakan, 25 Perusahaan teratas yang
memperoleh keuntungan tertinggi dari investasi IT justru memiliki pengeluaran relatif
kecil dibanding perusahaan pada umumnya.

Tata cara pengelolaan IT yang baik pada saat ini harusnya tidak lagi berupaya
mencari keuntungan secara agresif dari investasi IT, namun lebih kearah mengatur
manajemen risiko dan biaya dengan cermat. Dengan pola fikir defensif terhadap
investasi IT pada saat ini akan menyelamatkan perusahaan dari investasi yang
mubazir.
Nama : Angelica Lidya Y.
NIM : 201650076
Tugas E-Business

Makna :
Dengan perkembangan IT yang semakin maju memang membawa dampak yang
sangat besar terhadap perkembangan investasi di perusahaan , namun bukan berarti
hal itu harus dijadikan sebagi patokan dasar untuk berinvestasi , melainkan hal itu
hanya menjadi salah satu komponen yang mendukung besarnya investasi yang
didapat. Walaupun investasi pada IT akan sangat menguntungkan , namun bukan
berarti perusahaan tersebut hanya terpaku/bergantung untuk berinvestasi pada IT saja ,
sebab jika hanya mengandalkan IT saja, maka perusahaan tersebut lama-kelamaan
akan tertinggal , sebab pada dasarnya IT selalu akan mengalami penurunan yang
signifikan , apalagi jika teknologi IT yang digunakan tersebut sangat berdampak besar
terhadap kehidupan , maka IT tersebut akan mengalami standarisasi hingga membuat
nya menjadi teknologi yang umum digunakan oleh khalayak umum dan membuat
kecanggihan, keunggulan dan kehebatan dari IT tersebut perlahan-lahan memudar dan
menjadi hal yang biasa. Sehingga efektivitas IT tersebut terhadap investasi perusahaan
akan menurun. Maka dari itu untuk memperoleh kesuksesan , perusahaan tidak hanya
bisa mempergunakan IT sebagai investasi utamanya , karena hal itu akan selalu
berubah seiring dengan perkembangan zaman. Namun bukan berarti perusahaan tidak
dapat memanfaatkan IT secara maksimal , melainkan perusahaan dapat
memaksimalkan penggunaan IT secara bijak dalam mengatur manajemen keuangan,
biaya dan segala risiko perusahaan yang ada dengan cermat, sehingga perusahaan
dapat menghindari investasi yang sia-sia dan memaksimalkan pendapatan/profit yang
didapat.