Anda di halaman 1dari 16

Mk.

Manajemen Budidaya Air Tawar dan Payau

Dosen : Ir.Nurhidayah, M.Si

BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN BANDENG (Chanos chanos)


DITAMBAK

KELOMPOK II : ADAM SUBANDI


RAHIM

PRODI BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu jenis ikan air payau yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi. Jenis Ikan ini sudah dikenal oleh masyarakat luas
karena merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki nilai gizi yang
cukup tinggi serta ditunjang dengan rasanya yang enak dan memiliki kandungan
kolesterol yang rendah sehingga aman untuk kesehatan. Pengolahan produk ikan
bandeng yang semakin meningkat pada saat ini, seperti bandeng presto yang semua
tulang dan durinya menjadi lunak, yang menyebabkan meningkatnya jumlah yang
mengkonsumsi ikan bandeng, sehingga permintaan pasar akan ikan bandeng akhir-
akhir ini terus meningkat.

Kondisi ini memberikan peluang kepada pembudidaya untuk mengembangkan


usaha budidaya bandeng di seluruh wilayah Indonesia yang berpotensi sehingga
dapat memenuhi ketersediaan pasokan ikan bandeng.

Untuk memenuhi kebutuhan ikan bandeng yang terus meningkat dan


berkesinambungan hanya dapat dilakukan melalui pengembangan budidaya.
Dengan terus berkembangnya teknologi pembenihan ikan bandeng, memungkinkan
teknologi pembesaran ikan bandeng dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan,
sehingga tidak menjadi kendala dalam teknologi pembesarannya.

1.2 Tujuan

Untuk mengetahui cara budidaya pembesaran ikan bandeng ditambak.

1.3 Manfaat

Memberikan informasi kepada mahasiswa dan masyarakat bagaimana cara


budidaya pembesaran ikan bandeng ditambak.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Ikan Bandeng

ikan Bandeng (Chanos chanos), dalam bahasa inggris disebut milkfish ikan ini
menetas di laut dalam, setelah 2-3 minggu menetas kemudian bermigrasi ketepi
pantai dan bakau – bakau dan kembali lagi ketengah laut untuk berkembang biak.
Bentuk tubuh ikan bandeng ini adalah langsing seperti torpedo dan berenang cepat,
berwarna putih perak dan pemakan ganggang biru berupa tumbuhan plankton,
lumut, klekap (Herbivora) yang tumbuh di dasar perairan.

Klasifikasinya ikan bandeng sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Pisces
Subclass : Teleostei
Ordo : Malacopterygii
Family : Chanidae
Genus : Chanos
Spesies : Chanos chanos
2.2 Morfologi

Ikan bandeng memiliki ciri-ciri sebagai berikut, tubuh berbentuk torpedo,


seluruh permukaan tubuhnya tertutup oleh sisik yang bertipe lingkaran yang
berwarna keperakan, pada bagian tengah tubuh terdapat garis memanjang dari
bagian penutup insang hingga ke ekor. Ikan bandeng jantan sisipnya itu kelihatan
lebih cerah dari betinanya. Sirip dada dan sirip perut dilengkapi dengan sisik
tambahan yang besar, sirip anus menghadap kebelakang. Selaput bening menutupi
mata, mulutnya kecil dan tidak bergigi, terletak pada bagian depan kepala dan
simetris.
Ikan bandeng memiliki dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina, bandeng
jantan dapat diiketahui dari lubang anusnya yang hanya dua buah dan ukuran badan
agak kecil sedangkan bandeng betina memiliki lubang anus tiga buah dan ukuran
badan lebih besar dari ikan bandeng jantan.

2.3 Habitat dan Penyebaran

Bandeng merupakan jenis ikan yang dapat hidup diair laut dan iar tawar.
Mereka hidup di Samudra Hindia dan menyeberanginya sampai Samudra Pasifik,
mereka cenderung bergerombol di sekitar pesisir dan pulau – pulau dengan koral.
Ikan bandeng merupakan penjelajah yang tangguh yang mampu berenang sampai
ratusan kilometer. Ikan yang muda dan baru menetas hidup di laut untuk 2 – 3
minggu, lalu berpindah ke rawa – rawa bakau, daerah payau, dan kadangkala danau-
danau. Bandeng baru kembali ke laut kalau sudah dewasa dan bisa berkembang
biak.

Penyebaran ikan bandeng begitu luas, bahkan hampir setiap pantai di Indonesia
terdapat benih bandeng (nener). Penyebaran bandeng di Indonesia meliputi daerah-
daerah pantai di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali serta Pulau Buru.
Di pulau Jawa, nener sering ditangkap di pantai Banten, Jakarta, Cirebon,
Semarang, Gresik dan Surabaya. Sebagai ikan laut, bandeng juga tersebar mulai
dari pantai Afrika timur sampai ke Kepulauan Tuamotu sebelah timur Tahita, dan
dari Jepang selatan sampai Australia utara. Sifat yang menyolok dari ikan bandeng
ialah sifat euryhallin, yaitu tahan terhadap perubahan yang besar dalam hal salinitas
air, hal ini membuat bandeng dapat dipelihara dalam tambak air payau. Meskipun
kadar garam dalam tambak air payau sering turun-naik, kehidupan sehari – hari ikan
bandeng tidak terpengaruh dengan kondisi tersebut.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pemilihan Lokasi

Lokasi tambak budidaya ikan bandeng yang dipilih mempunyai persyaratan


antara lain :

1) Lahan mendapatkan air pasang surut air laut. Tinggi pasang surut yang ideal
adalah 1,5 – 2,5 m. Pada lokasi yang pasang surutnya lebih rendah dibawah
1 meter maka pengelolaan air menggunakan pompa.
2) Tersedia air tawar untuk mengatur kadar garam yang sesuai bagi
pertumbuhan ikan bandeng.
3) Tekstur tanah yang ideal adalah liat berpasir, karena tanah ini dapat
menahan air dengan baik.
4) Lokasi ideal terdapat sabuk hijau (green belt) yang ditumbuhi hutan
mangrove dengan panjang minimal 100 m dari garis pantai.
5) Keadaan sosial ekonomi mendukung operasional budidaya seperti
keamanan yang kondusif.

3.2 Persiapan Tambak

Persiapan lahan adalah proses penyiapan lahan tambak mulai pengeringan


lahan sampai siap ditebar benih untuk pembesaran ikan bandeng. Persiapan tambak
sangat menentukan keberhasilan budidaya. Tahapan Persiapan tambak adalah
sebagai berikut :

1) Perbaikan sarana dan prasarana


Memperbaiki secara menyeluruh mulai pintu air, pematang, caren, saringan,
saluran pemasukan, saluran pengeluaran dan peralatan lainnya seperti
pompa air, jala lingkar (untuk sampling pertumbuhan ikan).
2) Pengeringan Lahan
Lama pengeringan tergantung cuaca dan kondisi tanah. Tanah yang
mempunyai ketebalan lumpur dalam membutuhkan waktu lebih dari 3
minggu sedangkan tanah liat berpasir membutuhkan waktu cukup 10 hari.
Tujuan pengeringan ini adalah mempercepat penguapan gas racun-racun,
memberantas hama penyakit, mempercepat proses penguraian dan
menaikan pH tanah.
3) Pengangkatan Lumpur
Endapan lumpur sisa pemeliharaan periode sebelumnya berwarna hitam dan
terletak ditengah tambak atau didekat pintu pengeluaran. Lumpur ini banyak
mengandung bahan organik dan gas-gas beracun seperti asam sulfida
sehingga lumpur ini perlu diangkat. Endapan lumpur diangkat kepermukaan
tanggul.
4) Pengapuran Tanah
Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan pH tanah serta membunuh
bakteri pathogen yang ada dan organisme hama. Kapur yang digunakan
untuk pekerjaan ini adalah kapur pertanian (CaCO3). Dosis yang digunakan
tergantung pada kondisi pH tanah. Semakin rendah pH tanah maka
kebutuhan kapur untuk pengapuran semakin banyak.
5) Pemupukan
Dalam pemeliharaan ikan bandeng penyediaan makanannya dapat berupa
makanan alami dan makanan buatan. Jenis makanan alami ditambak dapat
berupa klekap, lumut, plankton, dan organisme dasar atau benthos. Namun
demikian jarang sekali semua jenis tersebut dapat hidup dan tumbuh dalam
tempat dan waktu yang bersamaan. Hal ini tergantung dari keadaan kualitas
tanah dan air serta kedalaman air ditambak.
Dalam penumbuhan pakan alami tersebut mempunyai tata cara yang
berbeda tergantung dari jenis pakan alami yang diinginkan. Sehubungan
dengan hal tersebut kebutuhan jenis pupuk yang digunakan untuk proses
penumbuhannya pun berbeda. Untuk penumbuhan klekap yang merupakan
kumpulan jasad renik yang disusun oleh algae biru, benthos, diatom,
bakteria, dan organisme renik hewani, diperlukan pupuk organik seperti
dedak halus, bungkil kelapa, kotoran sapi, kotoran kerbau, dan kotoran
ayam.
Jumlah pupuk yang digunakan tergantung dari kesuburan tanah
tersebut, pada umumnya dosis pupuk organik berupa dedak halus
diperlukan 500-1000 kg/ha, bungkil kelapa diperlukan 500-1000 kg/ha,
kotoran kerbau/sapi 1000-3000kg/ha, kotoran ayam jumlah pupuk organik
yang diperlukan 500 kg/ha.
Penggunaan pupuk anorganik dalam penumbuhan klekap terdiri dari
pupuk Urea dan TSP yang digunakan dengan perbandingan 2:1. Dosis
pupuk urea adalah 100 kg/ha dan TSP 50 kg/ha. Aplikasi pupuk anorganik
dilakukan setelah didahului oleh pemasukan air tahap pertama setinggi 5-10
cm dan dikeringkan kembali. Pada pemasukan air berikutnya dilakukan
dengan ketinggian 10-15 cm yang selanjutnya dilakukan penebaran pupuk
anorganik sesuai dengan dosis tersebut. Penggunaan pupuk organik
dilakukan dengan cara diletakkan pada beberapa tempat dibagian tambak
secara merata sebelum dilakukan pemasukan air tahap pertama.
Untuk penumbuhan pakan alami jenis lumut yang komposisi
utamanya adalah alga hijau berfilamen diperlukan kedalaman air antara 40-
60 cm. Kisaran kadar garam yang diperlukan untuk penumbuhan lumut
adalah 25 promil atau lebih. Jenis lumut yang umum tumbuh ditambak
adalah lumut sutera (Chaetomorpha sp), dan lumut perut ayam
(Enteromorpha sp). Jenis algae hijau filamen lainnya juga merupakan jenis
lumut adalah Cladophora sp. dan Vaucheria sp.
6) Pengisian air sebelum tebar
Pada saat terjadi pasang naik cukup tinggi air dimasukkan kedalam
tambak setelah melalui saringan di pintu air pemasukan (inlet). Ketinggian
air dipelataran tambak lebih kurang 10 cm. Kemudian pintu air pemasukan
ditutup dan air dalam tambak dibiarkan selama tiga hari, dengan tujuan
untuk memperbaiki struktur tanah agar berada pada kondisi baik untuk
pertumbuhan pakan alami.
Pada saat pemasukan air berikutnya dilakukan penggunaan Saponin
(tea seed) untuk pemberantasan hama yang ada di dalam tambak dan untuk
merangsang pertumbuhan phytoplankton. Setelah diberi saponin, tambak
dibiarkan hingga 5-7 hari. Setelah diyakini bahwa berbagai hama di dalam
tambak telah mati, maka pengisian air kembali dilakukan.
Pada tahap ini ketinggian air dipelataran cukup 10 cm dan dibiarkan
selama 3 hari untuk dilakukan pemupukan dasar. Kemudian setelah
pemupukan dilakukan penambahan air pada tambak dilakukan secara
bertahap sesuai dengan pertumbuhan pakan alami (klekap). Pada ketinggian
air 40 cm dari pelataran tambak maka air tambak dipertahankan untuk
persiapan penebaran benih ikan.

3.3 Persiapan Benih

Dalam persiapan benih ikan bandeng yang akan ditanam dalam proses
pembesaran terdapat beberapa tahapan kegiatan yang harus dilakukan terlebih
dahulu. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a) Kegiatan Peneneran
Kegiatan peneneran adalah pemeliharaan benih ikan bandeng dari
ukuran nener hingga mencapai ukuran 5-7 cm. Ukuran benih ikan ini sudah
dapat digunakan pada kegiatan penggelondongan. Luas tambak untuk
kegiatan peneneran relatif lebih kecil dan biasa dikenal dengan sebutan baby
box. Perbandingan luas petak peneneran, penggelondongan, dan
pembesaran adalah 1:9:90. Lama pemeliharaan dipetak peneneran berkisar
30-45 hari tergantung pada kondisi pakan alami dan ukuran ikan.
b) Kegiatan Penggelondongan
Kegiatan penggelondongan adalah lanjutan pemeliharan benih dari
ukuran gelondongan kecil (pre-fingerling) hingga mencapai ukuran
gelondongan. Kegiatan penggelondongan ini dilakukan kurang lebih selama
30 hari atau pada saat ukuran berat ikan antara 3-5 gr/ekor. Setelah kegiatan
penggelondongan baru benih ikan bandeng dapat dipelihara di petak
pembesaran.

3.4 Penebaran Benih

Faktor-faktor penebaran benih yang harus diperhatikan adalah sebagai


berikut (Mudjiman, 1988) :

a. Padat Tebar
Benih ikan bandeng yang ditebar dipetak pembesaran untuk menghasilkan
ikan ukuran konsumsi disesuaikan dengan metode pembesaran ikan
bandeng yang dilaksanakan. Untuk metode tradisional yang disempurnakan
padat tebarnya adalah 2-3 ekor/ m2. Lama pemeliharaan pada pembesaran
ikan bandeng dengan metode tradisional yang disempurnakan adalah 4
bulan.
b. Waktu Penebaran
Penebaran benih bandeng harus segera dilaksanakan setelah petakan tambak
siap untuk pemeliharaan. Warna air tambak terlihat kehijauan oleh plankton.
Keterlambatan penebaran akan memberikan peluang hama dan penyakit
berkembang didalamnya. Waktu penebaran dilakukan sore hari atau
menjelang matahari terbenam pukul 16.00 – 18.00 atau pagi hari sebelum
matahari terbit sampai pukul 07.30 karena pada waktu ini kondisi fluktuasi
suhu tidak mencolok, parameter air dan lingkungan tidak banyak berubah.
c. Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah proses penyesuaian biota yang dipelihara dengan
lingkungan baru yang akan digunakan untuk budidaya ikan. Melalaui proses
adaptasi ini secara fisiologi dan kebiasaan hidupnya secara perlahan-lahan
disesuaikan dengan lingkungan barunya.
Dalam kegiatan aklimatisasi sebelumnya telah disediakan petakan
khusus yaitu petakan yang sangat sempit yang dibuat hanya untuk
sementara dalam kegiatan aklimatisasi atau penyesuaian benih pada tambak.
Ukuran petak ini disesuaikan dengan banyaknya benih yang akan
ditebarkan.
Petakan ini dibuat di dekat pintu air dan dibatasi oleh pematang yang
sempit (kecil). Diatas pematang dibangun atap yang terbuat dari gedek
bambu yang dilapisi dengan plastik atau dari daun kelapa (welit).
Kegunaan atap ini adalah sebagai pelindung bagi benih dari sengatan
sinar matahari yang kuat dan hujan, karena air hujan yang langsung
mengalir kepetak aklimatisasi dapat menyebabkan kematian pada benih.
Petak aklimatisasi ini diperlukan baik pada musim kemarau maupun pada
musim hujan.

3.5 Pemberian Pakan

Pakan merupakan komponen penting karena mempengaruhi pertumbuhan


ikan, lingkungan budidaya serta memiliki dampak fisiologis dan ekonomis.
Kelebihan pemberian pakan akan menyebabkan bahan organik yang mengendap
terlalu banyak sehingga akan menurunkan kualitas air demikian juga kekurangan
pakan akan menyebabkan pertumbuhan ikan turun dan tubuhnya lemah sehingga
daya tahan terhadap penyakit menurun. Pakan disebarkan secara merata ke dalam
tambak.

Jenis pakan yang diberikan adalah pakan buatan dan pakan alami. Pakan
buatan berbentuk pellet dengan berbagai ukuran yang disesuaikan dengan ukuran
(size) ikan. Kandungan nutrisi yang dibutuhkan dalam pakan ikan bandeng (Chanos
chanos Forskal) antara lain protein, karbohidrat, lemak, asam lemak, vitamin serta
mineral.

Pakan hidup adalah organisme hidup dalam tambak yang berfungsi sebagai
pakan ikan. Pada umumnya jenis pakan ini adalah plankton. Fungsi plankton
disamping sebagai pakan alami bagi ikan adalah penghasil oksigen dalam air.

3.6 Monitoring Pertumbuhan

Monitoring pertumbuhan dimaksudkan untuk mengetahui pertumbuhan


dalam petakan tambak secara individu, populasi dan biomas yang dilakukan secara
periodik. Pengamatan pertumbuhan dilakukan dalam pengambilan contoh (sampel)
dan pemeriksaan ikan dengan dilakukan penjalaan (Jala tebar). Untuk mengamati
respon ikan terhadap pakan serta kesehatan ikan dapat diamati menggunakan anco,
sedangkan pengamatan pertumbuhan dan kelangsungan hidup dilakukan
pengamatan langsung berupa jumlah yang mati. Data yang terkumpul selanjutnya
dapat digunakan untuk menentukan jumlah pakan yang akan diberikan.

Monitoring pertumbuhan ini digunakan untuk menentukan jumlah pakan,


infeksi hama penyakit serta waktu panen yang tepat. Pengambilan sampel atau
sampling dilakukan tidak hanya pada satu titik tambak, atau hanya pada sisi tambak
dimana ikan sering diberi pakan, tetapi harus dilakukan pada lima titik tambak,
yaitu bagian tengah tambak dan empat titik yang lainnya yaitu empat sudut pada
tambak. Hal ini bertujuan agar sampling atau pengambilan sampel yang dilakukan
dapat benar – benar mewakili organisme yang dibudidayakan di tambak secara
akurat.
3.7 Perawatan Tambak Selama Pemeliharaan

Untuk keberhasilan usaha pembesaran bandeng maka perlu dilakukan


perawatan dengan baik selama pemeliharaan. Perawatan tersebut meliputi
pengaturan air, perawatan pintu dan pematang, pemupukan susulan serta pemberian
pakan tambahan.

a. Pengaturan Air
Selama pemeliharaan, kualitas dan kedalaman air harus diperhatikan, sehingga
benih dapat hidup dengan layak. Pergantian air yang teratur mempunyai
keuntungan dalam menjaga kualitas air tetap baik. Selain itu, unsur hara dan
organisme makanan benih ikan bandeng dapat disuplai ke tambak. Bila air
tambak tidak pernah atau jarang diganti, akan menyebabkan terakumulasinya
bahan beracun di tambak dan itu sangat berbahaya bagi kehidupan benih.
Pergantian air dilakukan secara teratur bersamaan dengan adanya air pasang.
Caranya adalah dengan mengeluarkan setengah atau sepertiga bagian air
tambak sebelum terjadi air pasang, kemudian diganti dengan air pasang yang
baru sampai ketinggian air semula.
Pada saat setelah terjadi hujan, maka air di tambak perlu segera diganti,
karena air hujan akan mengencerkan salinitas. Hal ini dapat membahayakan
kehidupan ikan yang sedang dipelihara. Kemudian juga untuk menjaga
salinitasnya agar tetap stabil dan baik (payau) diperlukan juga sumber air tawar,
sumber air tawar bisa diperoleh dari air sungai.
b. Perawatan Pintu dan Pematang
Untuk menunjang keberhasilan pemeliharaan benih, pematang dan pintu
tambak harus selalu diperiksa dan dirawat dengan baik. Maksud perawatan ini
adalah untuk mencegah terjadinya kebocoran atau rembesan air dari dalam
tambak serta mencegah hilangnya benih. Demikian pula saringan di pintu
tambak harus dibersihkan dengan sikat, untuk memudahkan dalam pertukaran
air.
c. Pemupukan Susulan
Sebelum kondisi makanan alami di tambak menipis (habis), segera dilakukan
pemupukan susulan. Pemupukan ini dimaksudkan untuk mensuplai unsur hara
kedalam tambak, sehingga dapat menunjang pertumbuhan makanan alami.
Jumlah pupuk yang diberikan tergantung dari kesuburan makanan alami yang
ada. Sebagai patokan dapat digunakan pupuk Urea dan TSP dengan dosis
masing-masing 10 kg/ha. Dapat juga ditambah dedak halus sebanyak 100
kg/ha. Selain sebagai pupuk, dedak halus juga berfungsi sebagai makanan
tambahan.
Mudjiman juga mengatakan bahwa pemupukan sebaiknya dilakukan pada
saat ada air pasang. Hal ini di maksudkan bila hasil pemupukan berpengaruh
kurang baik terhadap kualitas air (seperti terjadi blooming), maka dengan
segera dapat dilakukan pertukaran air. Pemupukan tidak boleh dilakukan pada
saat akan turun hujan, karena air hujan dapat mengencerkan hasil pemupukan
tersebut. Selain itu dalam melakukan pemupukan, pelataran tidak boleh
diinjak-injak, karena akan merusak klekap yang tumbuh
d. Makanan Tambahan
Pemberian makanan tambahan dilakukan apabila keadaan makanan alami
sudah tidak dapat lagi menunjang pertumbuhan bandeng yang dipelihara. Jenis
makanan buatan yang digunakan adalah pelet. Jumlah makanan yang diberikan
kira – kira 5% dari berat total tubuh per hari. Pemberian makanan dilakukan
dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.

3.8 Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit yang sering mengganggu kegiatan budidaya ikan bandeng
adalah sebagai berikut:

a. Jenis-jenis hama berupa:


 Ikan pemangsa seperti Kakap, Kerong-kerong, Payus, Bulan-bulan
dan jenis ikan penyaing seperti Tilapia, dan Belanak.
 Ketam/kepiting, Belut, Tonang, yang merupakan hama yang sering
membuat lubang dan merusak pematang pada tambak.
 Ular air dan Burung seperti, Pucuk ikan, Bangau, dan lainnya,
sebagai pemangsa yang sering mengancam kehidupan ikan dalam
kegiatan budidaya di tambak.

Selain itu perlu diperhatikan pengontrolan tambak secara terus-menerus yaitu


mengurangi atau membasmi organisme pengganggu atau pemakan bentik yang
tumbuh di sekitar tambak. Larva chironomid, cacing polychaete, dan siput yang
merupakan sumber penyakit. Penggunaan kapur dan urea pada saat persiapan
tambak akan membasmi organisme tersebut.

b. Metode Pengandalian Hama


Ada 2 metode pengendalian hama yaitu :

1. Secara fisik dan

2. Secara kimiawi

Secara fisik antara lain dengan cara :

a. Pengeringan dasar tambak

b. Pemasangan saringan pada pintu air

c. Pemasangan perangkap

d. Pemasangan tali-tali tidak berwarna (nylon) yang direntangkan di atas tambak


untuk mencegah burung pemangsa.

Tabel 1. Jenis pestisida dan dosis penggunaan berdasarkan jenis hama

No Jenis hama Peptisada Dosis


1 Berbagai jenis ikan liar Bungkil biji teh 15 – 20 kg
Rotenon 3 – 5 kg
Akar tuba 7 – 10 kg
2 Trisipan (sumpil) Brestan 60 g 0,5 kg
Basudin 60 EC 0,5 It
Sumition 50 EC 0,1 It
Diazinon 60 EC 0,1 It
Brantasan (bubuk) 0,3 kg
3 Larva chironomid Sumition 50 EC 0,1 It
4 Kepiting Sevin (bubuk) 2 kg
c. Cara Pemakaian Pestisida
1. Bungkil biji teh ditumbuk hingga halus (bubuk), kemudian
direndam dalam air selama semalam. Disebar merata ke dalam
tambak.
2. Bubuk rotenon dicampur dengan air secukupnya, kemudian disebar
merata ke dalam tambak.
3. Akar tuba ditumbuk hingga halus (bubuk), direndam dalam air
selama satu malam, kemudian diambil ekstraknya dan disebarkan
merata kedalam tambak.
4. Brestan dicampur air secukupnya, kemudian disebar merata ke
dalam tambak. Setelah aplikasi tambak harus direklamasi (genangi
tambak dengan air laut atau payau selama 1 malam, lalu kuras)
5. Sevin, dengan membuat umpan dari ikan rucah yang dilumuri
dengan bubuk sevin, kemudian ditaruh disekitar lubang kepiting
(pada saat pemeliharaan) atau disebar merata pada saat persiapan
tambak (tambak berair sekitar 10 cm) dan setelah aplikasi tambak
perlu dicuci.
d. Penyakit pada Bandeng
Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan
gangguan pada ikan, sehingga dapat menimbulkan kerugian dalam
bereproduksi. Timbulnya penyakit pada ikan disebabkan oleh
ketidakserasian antara 3 faktor, yaitu kondisi lingkungan, kondisi ikan itu
sendiri, dan organisme patogen.
Jenis penyakit yang pernah dilaporkan yang menyerang ikan
bandeng adalah :
 Sisik atau kulit kotor penyakit ini disebabkan oleh Caligus Sp dan
Piscicolla Sp, gejalanya yaitu nafsu makan ikan berkurang, susunan sisik
rusak, ikan terlihat malas.
 Sirip ekor patah dan rusak penyakit ini disebabkan oleh Fiorrot disease.

3.8 Pemanenan

Setelah ikan bandeng mencapai ukuran konsumsi, maka dilakukan


pemanenan. Panen dapat dilakukan secara bertahap (selektif) maupun secara total.
a. Panen Bertahap
budidaya bandeng lengkapPanen bandeng secara bertahap dapat dilakukan
dengan metode menyerang air atau yang dikenal dengan sebutan ngerocok.
Hal ini sesuai dengan sifat bandeng yang selalu menentang arus (aliran air).
Caranya adalah pada saat surut air tambak dikeluarkan sebagian. Kemudian
pada saat terjadi pasang yang cukup tinggi, air baru dimasukan ke tambak
melalui pintu air yang ditutup dengan saringan kasar, ikan bandeng akan
segera menyongsong datangnya air baru tersebut. Dengan demikian, ikan
akan terkumpul dalam petak penangkapan (catching pond). Selanjutnya
ikan tersebut ditangkap dengan menggunakan jaring.
b. Panen Total
Pada umumnya panen bandeng secara total dilakukan dengan cara
pengeringan tambak. Caranya adalah air dalam tambak dikeluarkan secara
perlahan-lahan sampai air yang ada didalam tambak hanya mengisi bagian
pada caren saja. Ikan bandeng akan berkumpul di caren tersebut.
Pemanenan dapat dilakukan dengan alat berupa jaring yang ditarik (diseret)
sepanjang caren. Dapat juga menggunakan kerai bambu yang didorong
sepanjang caren oleh beberapa orang. Dengan kerai ini, ikan dikumpulkan
disuatu tempat tertentu yang luasnya terbatas (sempit). Selanjutnya
dilakukan penangkapan dengan alat tanggok (scoop net).

3.9 Pemasaran

Pemasaran merupakan lanjutan aktivitas pasca panen yang menentukan


harga. Tinggi rendahnya harga di tingkat petani pembudidaya ikan bandeng
seringkali merupakan manipulasi dari pedagang pengumpul atau perantara untuk
mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Harga sangat dipengaruhi oleh tingkat permintaan dari konsumen dan


penawaran dari produsen yang efektif, pasok uang harga, barang subtitusi, faktor
musim, margin pemasaran, pola distribusi, kebijaksanaan harga dan harga tingkat
umum.
BAB VI

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dalam melakukan usaha budidaya pembesaran ikan bandeng meliputi beberapa


tahap antara lain :

1. Pemilihan lokasi tambak


2. Persiapan tambak
 Perbaikan sarana dan prasarana
 Pengeringan lahan
 Pengangkatan lumpur
 Pengapuran tanah
 Pemupukan
 Pengisian air sebelum tebar
3. Persiapan benih
 Kegiatan peneneran
 Kegiatan penggolondongan
4. Penebaran benih
 Padat tebar
 Waktu penebaran
 Aklimatisasi
5. Pemberian pakan
6. Monitoring pertumbuhan
7. Pemeliharaan tambak selama pemeliharaan
8. Pengendalian hama dan penyakit
9. Pemanenan
 Panen bertahap
 Panen total