Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sejak zaman dahulu masyarakat indonesia mengenal dan memakai tanaman


berkhasiat obat menjadi salah satu obat upaya dalam penanggulangan masalah
kesehatan yang dihadapi. Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dengan
perasan dingin biji Ricinus commmunis L. yang telah dikupas (Depkes RI, 1979).
Kandungan asam lemak pada minyak jarak 90% terdiri dari asam risinoleat, sedikit
mengandung asam dihidroksi stearat, linoleat, oleat dan stearat (Purwatiningrum,
2014).
Minyak jarak (Oleum ricini) termasuk golongan pencahar rangsang karena
merangsang otot polos usus sehingga meningkatkan peristaltik dan sekresi lendir
usus. Selain itu, minyak jarak bersifat emollient yaitu dapat melunakkan feses dan
memudahkan pengeluarannya. Penggunaan minyak jarak ini dapat ditemukan dalam
bentuk sediaan emulsi (Purwatiningrum, 2014).
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat,
terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan
yang cocok (Depkes RI, 1979). Emulsi mengandung dua zat yang tidak tercampur,
biasanya mengandung air dan minyak, di mana salah satu cairan terdispersi menjadi
butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Tujuan pembuatan emulsi ini adalah untuk
memperoleh sediaan yang stabil dan rata dari dua cairan yang tidak bercampur, untuk
pemberian obat yang mempunyai rasa lebih enak serta memudahkan absorpsi obat
(Ansel, 2005).
Dari latar belakang diatas kami membuat sediaan berbentuk emulsi dari
minyak jarak sebagai yang mudah digunakan. Digunakan bahan aktif dari minyak
jarak mengingat minyak jarak ini memiliki kandungan yang bermanfaat untuk tubuh
salah satunya anti inflamasi.

1.2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana formulasi dalam pembuatan sediaan emulsi dari minyak jarak sebagai
anti?

b. Bagaimana hasil uji yang dilakukan dari emulsi dari minyak jarak?
1.3. Tujuan

a. Untuk mengetahui formulasi dalam pembuatan sediaan emulsi sebagai anti dari
minyak jarak?

b. Untuk mengetahui hasil uji dari emulsi dari minyak jarak?

1.4. Manfaat

Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan sediaan emulsi dengan bahan aktif
minyak jarak yang berkhasiat sebagai gel anti inflamasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dasar

Emulsi (emulsion) adalah suatu sistem koloid yang fase terdispersi dan
medium pendispersinya berupa cairan yang tidak dapat bercampur. Misalnya
benzena dalam air, minyak dalam air, dan air susu. Mengingat kedua fase tidak dapat
bercampur, keduanya akan segera memisah. Untuk menjaga agar emulsi tersebut
mantap atau stabil, perlu ditambahkan zat ketiga yang disebut emulgator atau zat
pengemulsi (emulsifying agent). (Sumardjo, 547).
Emulsi dibuat untuk mendapatkan preparat atau sediaan yang stabil dan
merata atau homogen dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur.
Tujuan pemakaian emulsi adalah:
1. Untuk dipergunakan sebagai obat dalam atau per oral. Umumnya tipe emulsi
tipe O/W.
2. Untuk dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe O/W maupun W/O,
tergantung pada banyak faktor, misalnya sifat atau efek terapi yang dikehendaki.
(Syamsuni, 129).
Semua emulgator bekerja dengan membentuk film (lapisan) di sekeliling
butir-butir tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinya
koalesen dan terpisahnya cairan dispers sebagai fase terpisah. (Anief, 132).
Syarat emulgator adalah molekul-molekulnya mempunyai afinitas terhadap kedua
cairan yang membentuk emulsi. Daya afinitasnya harus parsial atau tidak sama
terhadap kedua cairan tersebut. Salah satu ujung emulgator larut dalam cairan yang
satu, sedangkan ujung yang lain hanya membentuk lapisan tipis (selapis molekul) di
sekeliling atau di atas permukaan cairan yang lain. (Sumardjo, 547). Beberapa zat
pengemulsi yang sering digunakan adalah gelatin, gom akasia, tragakan, sabun,
senyawa amonium kwartener, senyawa kolesterol, surfaktan, atau emulgator lain
yang cocok. Untuk mempertinggi kestabilan dapat ditambahkan zat pengental,
misalnya tragakan, tilosa, natrium karboksimetilselulosa. (Depkes RI, 9)
Tipe emulsi ada dua, yaitu oil in water (O/W) atau minyak dalam air (M/A),
dan water in oil (W/O). Emulsi tipe O/W (Oil in Water) atau M/A (minyak dalam
air) adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke
dalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal. Emulsi tipe
W/O (Water in Oil) atau M/A (air dalam minyak), adalah emulsi yang terdiri dari
butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal
dan minyak sebagai fase eksternal. Terdapat dua macam komponen emulsi:
1. Komponen dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam
emulsi, terdiri atas:
a. Fase dispers/ fase internal/ fase diskontinu/ fase terdispersi/ fase dalam, yaitu zat cair
yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lain.
b. Fase eksternal/ fase kontinu/ fase pendispersi/ fase luar, yaitu zat cair dalam emulsi
yang berfungsi sebagai bahan dasar (bahan pendukung) emulsi tersebut.
c. Emulgator, adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
2. Komponen tambahan, adalah bahan tambahan yang sering ditambahakan ke dalam
emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris,
colouris, pengawet (preservative), dan antioksidan. (Syamsuni, 119).
Dari emulsi yang paling baik, dapat diperoleh campuran surfaktan mana
yang paling baik (ideal). Ketidakstabilan emulsi dapat digolongkan:
1. Flokulasi dan creaming
Creaming merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapis cairan,
dimana masing-masing lapis mengandung fase dispers yang berbeda. Nama cream
berasal dari peristiwa pemisahan sari susu dari susu (milk). Sari susu tersebut dapat
dibuat Casein, keju, dan sebagainya.
2. Koalesen dan pecahnya emulsi (cracking atau breaking)
Creaming adalah proses yang bersifat dapat kembali, berbeda dengan proses
cracking (pecahnya emulsi) yang bersifat tidak dapat kembali. Pada creaming, flokul
fase dispers mudah didispersi kembali dan terjadi campuran homogen bila digojok
perlahan-lahan. Sedangkan pada cracking, penggojokan sederhana akan gagal untuk
mengemulsi kembali butir-butir tetesan dalam bentuk emulsi yang stabil.
3. Inversi
Adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi M/A ke tipe A/M
atau sebaliknya. (Anief, 147).

2.2 Tinjauan bahan


a. Oleum ricini

Oleum ricini atau castor oil atau minyak jarak berasar dari biji Ricinus
communis suatu trigliserida risinoleat dan asam lemak tidak jenuh.Di dalam usus
halus minyak jarak dihidrolisis oleh enzim lipase menjadi gliserol dan asam
risinoleat.Asam risinoleat inilah yang merupakan bahan aktif sebagai
pencahar.Minyak jarak juga bersifaat emolien.Sebagai pencahar obat ini tidak banyak
digunakan lagi karena banyak obat yang lebih aman.Obat ini merupakan bahan
induksi diare pada penelitian diare secara eksperimental pada hewan percobaan
(Agoes, 1992).

2.3. Alasan Penggunaan Bahan

2.4 Evaluasi
Evaluasi sediaan yang dilakukan adalah evaluasi organoleptis, evaluasi
pH, evaluasi daya sebar, evaluasi homogenitas dan evaluasi daya lekat.

Evaluasi yang pertama adalah uji organoleptis menggunakan panca indera


yang meliputi, bau, warna, tekstur, dan bentuk sediaan yang dibuat. Konsistensi
pelaksaannya menggunakan subjek respoden (dengan kriteria tertentu)dengan
menerapkan kritrieranya pengujian, persentase masing – masing kriteria yang
diperoleh dan pengambilan keputusan dengan analisa statistik.

Evaluasi kedua adalah Uji Ph, uji pH menggunakan pH ukur untuk


mengetahui pH pada sediaan, dengan cara mengambil 500mg sediaan dan di
tambah dengan 5ml aquadest kemudian di aduk. Masukkan alat pengatur Ph ke
dalam campuran sediaan tersebut dan lihat pH yang terbentuk.

Evaluasi ketiga adalah uji homogenitas . uji ini dilakukan untuk


mengetahui homogenitas sediaan yang ditaruh diatas kaca transparan lalu diamati
permukaan kaca transparan apakah susunan partikel yang tersebar merata tanpa
adanya butir – butir kasar.

Evaluasi ke empat adalah uji daya sebar. Uji ini dilakukan untuk
mengetahui daya sebar salep atau sediaan sebanyak 500 mg kemudian letakkan
sediaan ditengah – tengah lempeng kaca bersakla yang ditutup dengan tutup
lempeng kaca. Pemberian beban ditambah setelah 5 menit dengan beban antara
lain 50 gram, 100 gram , dan 150 gram.
Evaluasi ke lima adalah uji daya lekat , uji ini dilakukan untuk
mengetahui waktu yang dibutuhkan krim untuk melekat pada kulit. Caranya yaitu
dengan meletakkan sediaan pada lempeng kaca kemudian tutup dengan objek
glass lalu tutup lagi dengan lempeng kaca. Beri beban 1kg. Jepit ujung objek glass
dengan penjepit yang ada pada alat. Setelah 5 menit angkat lempeng kaca bagian
atas beserta beban. Catat waktu yang diperlukan hingga objek glass terlepas dari
lempeng kaca.

BAB III

METODOLOGI
3.1. Bentuk sediaan krim yang dipilih

EMULCIN merupakan emulsi yang digunakan untuk

3.2. Alat

Alat- alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain cawan porselin, mortir,
stamper, batang pengaduk, spatula, sendok tanduk, timbangan analitik, waterbath, sudip,
beaker glass, gelas ukur, perkamen, kaca arloji, pipet tetes, dan lap.

3.3. Bahan

Bahan- bahan yang digunakan dalam praktikum pembuatan krim antinyeri ini adalah

3.4. Formulasi

N BAHAN KHASIAT RENTANG FORMULAS


O I
%
1 -

5 -

7 -