Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit infeksi masih merupakan masalah medis yang sangat penting di


negara sedang berkembang maupun di negara maju oleh karena angka
kematiannya masih cukup tinggi. Diantara penyakit infeksi yang sangat
berbahaya adalah infeksi Susunan Saraf Pusat (SSP) termasuk ke dalamnya
meningitis. Meningitis merupakan inflamasi pada membran yang menutupi
organ sistem saraf pusat, yang biasanya dikenal dengan meningens (radang pada
arachnoid dan piamater). Respons imunologi terhadap patogen spesifik yang
lemah terkait dengan umur muda merupakan faktor resiko utama untuk
meningitis. Resiko terbesar pada bayi yaitu 95 % terjadi antara 1 bulan dan 5
tahun, tetapi meningitis dapat terjadi pada setiap umur.1
Penyebab tersering dari meningitis adalah mikroorganisme seperti
bakteri dan virus. Penyebab meningitis virus yang paling sering ditemukan yaitu
Mumpsvirus, Echovirus, dan Coxsackie virus. Bakteri penyebab meningitis
bermacam-macam antara lain yaitu Neisseria meningitidis, Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae, Listeria monocytogenes, bakteri batang
gram negatif (E.coli, Pseudomonas aeruginosa), dan lain-lain. Meningitis yang
disebabkan oleh bakteri berakibat lebih fatal dibandingkan meningitis penyebab
lain karena mekanisme kerusakan dan gangguan otak yang disebabkan oleh
bakteri lebih berat.1
Sekitar 1,2 juta kasus meningitis bakteri terjadi setiap tahunnya di dunia,
dan tingkat kematiannya mencapai 135.000 jiwa. Secara keseluruhan tingkat
kematian pasien meningitis bakteri antara 2-30% tergantung dari bakteri
penyebab meningitis. Jumlah kasus meningitis di Indonesia pada tahun 2010
terjadi pada laki-laki sebesar 12.010 pasien, pada wanita sekitar 7.371 pasien,
dan dilaporkan pasien yang meninggal dunia sebesar 1.025.1,2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Meningitis
2.1.1 Definisi
Meningitis merupakan suatu reaksi peradangan pada selaput otak
(meningen) yang melapisi otak dan medulla spinalis, sehingga melibatkan
arachnoid, piameter dan cairan serebrospinal (CSS). Proses inflamasi meluas di
seluruh ruang subarachnoid di sekitar otak, sumsum tulang belakang dan
ventrikel. Oleh karena itu meningitis merupakan suatu peradangan akut meningeal
dan parenkim otak terhadap infeksi bakteri yang umumnya ditandai dengan
peningkatan jumlah sel polimorfonuklear dalam cairan serebrospinal (CSS).1,2
Meningitis yang disebabkan oleh infeksi ini diklasifikasikan kepada akut
piogenik (biasanya disebabkan oleh bakteri), aseptik meningitis (biasanya karena
viral) dan meningitis kronik (tuberculous, spirochetal, atau cryptococcal).
Klasifikasi ini dibuat berdasarkan karakteristik dari eksudat pada pemeriksaan
LCS dan evolusi klinis daripada penyakit tersebut.1

2.1.2 Anatomi Lapisan Meningen


Otak dan medula spinalis dilapisi oleh meningen. Selain melapisi otak dan
medula spinalis, meningen juga berfungsi yang melindungi struktur saraf yang
halus, membawa pembuluh darah dan mensekresi cairan serebrospinal (CSS).
Selaput meningen terdiri dari 3 lapisan, yaitu:2
1. Duramater
Duramater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan endosteal
dan lapisan meningeal. Duramater merupakan selaput yang keras, terdiri atas
jaringan ikat fibrosa yang melekat erat pada permukaan dalam dari kranium.
Karena tidak melekat pada selaput arakhnoid dibawahnya, maka terdapat suatu
ruang potensial (ruang subdural), dimana sering dijumpai terjadinya
pendarahan.
2. Arakhnoid
Merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang, terletak antara piamater

1
sebelah dalam dan duramater sebelah luar yang meliputi otak. Selaput ini
dipisahkan dari duramater oleh ruang potensial, disebut spatium subdural, dan
dari piamater oleh spatium subarakhnoid yang terisi oleh CSS. Pendarahan
subarakhnoid umumnya disebabkan akibat cedera kepala.
3. Piamater
Piamater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Piamater adalah
membran vaskuler yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri dan
masuk ke dalam sulci yang paling dalam. Membran ini membungkus saraf otak
dan menyatu dengan epineuriumnya. Arteri-arteri yang masuk ke dalam otak
juga diliputi oleh piamater.

Gambar 1. Susunan Lapisan Meningen2

2.1.2 Klasifikasi Meningitis


A. Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi
pada cairan otak, yaitu:
 Meningitis serosa
Meningitis serosa ditandai dengan jumlah sel dan protein yang
meninggi disertai cairan serebrospinal yang jernih. Penyebab yang
paling sering dijumpai adalah kuman Tuberculosis dan virus.2
 Meningitis purulenta
Meningitis purulenta atau meningitis bakteri adalah meningitis

2
yang bersifat akut dan menghasilkan eksudat berupa pus serta bukan
disebabkan oleh bakteri spesifik maupun virus. Penyebabnya antara
lain: Diplococcus pneumonia (pneumokokus), Neisseria meningitis
(meningokokus), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus,
Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae,
Peudomonas aeruginosa.3
B. Meningitis berdasarkan mikroorganisme penyebab:
 Meningitis Bakterial
Meningitis bakterial merupakan karakteristik inflamasi pada
seluruh meningen, dimana organisme masuk kedalam ruang arachnoid
dan subarachnoid. Meningitis bakterial merupakan kondisi emergensi
neurologi dengan angka kematian sekitar 25%. Meningitis bakterial jika
cepat dideteksi dan mendapatkan penanganan yang tepat akan
mendapatkan hasil yang baik. Meningitis bakterial sering disebut juga
sebagai meningitis purulen atau meningitis septik. Bakteri yang dapat
mengakibatkan serangan meningitis adalah; Streptococcus pneuemonia
(pneumococcus), Neisseria meningitidis, Haemophilus influenza,
(meningococcus),Staphylococcus aureus dan Mycobacterium
tuberculosis.3,4
 Meningitis Virus
Meningitis virus biasanya disebut meningitis aseptik. Sering terjadi
akibat lanjutan dari bermacam-macam penyakit akibat virus, meliputi;
measles, mumps, herpes simplek, dan herpes zoster .Virus penyebab
meningitis dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu virus RNA
(ribonuclear acid) dan virus DNA (deoxyribo nucleid acid).Contoh
virus RNA adalah enterovirus (polio), arbovirus (rubella), flavivirus
(dengue), mixovirus (influenza, parotitis, morbili). Sedangkan contoh
virus DNA antara lain virus herpes, dan retrovirus (AIDS). Meningitis
virus biasanya dapat sembuh sendiri dan kembali seperti semula
(penyembuhan secara komplit). Pada kasus infeksi virus akut, gambaran
klinik seperti meningitis akut, meningo-ensepalitis akut atau ensepalitis
akut. Derajat ringan akut meningo-ensepalitis mungkin terjadi pada

3
banyak infeksi virus akut, biasanya terjadi pada anak-anak, sedangkan
pada pasien dewasa tidak teridentifikasi.3,4

2.1.3 Etiologi Meningitis


Penyebab tersering dari meningitis adalah mikroorganisme seperti bakteri,
virus, parasit dan jamur. Mikroorganisme ini menginfeksi darah dan likuor
serebrospinal. Meningitis juga dapat disebabkan oleh penyebab non-infeksi,
seperti pada penyakit AIDS, keganasan, diabetes mellitus, cedera fisik atau obat –
obatan tertentu yang dapat melemahkan sistem imun (imunosupresif).5
Meningitis dapat terjadi karena terinfeksi oleh virus, bakteri, jamur
maupun parasit :
 Virus :
Meningitis virus umumnya tidak terlalu berat dan dapat sembuh secara alami
tanpa pengobatan spesifik.Kasus meningitis virus di Amerika serikat terutama
selama musim panas disebabkan oleh enterovirus; walaupun hanya beberapa
kasus saja yang berkembang menjadi meningitis. Infeksi virus lain yang dapat
menyebabkan meningitis, yakni :
1) Virus Mumps
2) Virus Herpes, termasuk Epstein-Barr virus, herpes simplexs, varicella-
zoster, Measles, and Influenza
3) Virus yang menyebar melalui nyamuk dan serangga lainnya (Arboviruses)
4) Kasus lain yang agak jarang yakni LCMV (lymphocytic choriomeningitis
virus), disebarkan melalui tikus.5
 Bakteri :
Salah satu penyebab utama meningitis bakteri pada anak-anak dan orang dewasa
muda di Amerika Serikat adalah bakteri Neisseria meningitidis. Meningitis
disebabkan oleh bakteri ini dikenal sebagai penyakit meningokokus.
Bakteri penyebab meningitis juga bervariasi menurut kelompok umur.4 Selama
usia bulan pertama, bakteri yang menyebabkan meningitis pada bayi normal
merefleksikan flora ibu atau lingkungan bayi tersebut yaitu, Streptococcus group
B, basili enterik gram negatif, dan Listeria monocytogenes.
Meningitis bakteri pada anak usia 2 bulan – 12 tahun biasanya karena H.

4
influenzae tipe B, Streptococcus pneumoniae, atau Neisseria meningitidis.
Penyakit yang disebabkan oleh H.influenzae tipe B dapat terjadi segala umur
namun seringkali terjadi sebelum usia 2 tahun.
Klebsiella, Enterobacter,Pseudomonas, Treponema pallidum, dan
Mycobacterium tuberculosis dapat juga mengakibatkan meningitis. Citrobacter
diversus merupakan penyebab abses otak yang penting.

Tabel 1. Bakteri penyebab tersering menurut umur dan faktor predisposisi5

Risk and/or Predisposing


Bacterial Pathogen
Factor

Age 0-4 weeks Streptococcus agalactiae (group B


streptococci)
E coli K1
Listeria monocytogenes

Age 4-12 weeks S agalactiae


E coli
H influenzae
S pneumoniae
N meningitides

Age 3 months to 18 years N meningitidis


S pneumoniae
H influenza

Age 18-50 years S pneumoniae


N meningitidis
H influenza

Age older than 50 years S pneumoniae


N meningitidis
L monocytogenes
Aerobic gram-negative bacilli

Immunocompromised state S pneumoniae


N meningitidis

5
L monocytogenes
Aerobic gram-negative bacilli

Intracranial manipulation, Staphylococcus aureus


including neurosurgery Coagulase-negative staphylococci
Aerobic gram-negative bacilli, including
P aeruginosa

Basilar skull fracture S pneumoniae


H influenzae
Group A streptococci

CSF shunts Coagulase-negative staphylococci


S aureus
Aerobic gram-negative bacilli
Propionibacterium acnes

2.1.4 Epidemiologi
Pada meningitis bakterialis, pneumokokus, influenza (H. influenzae), dan
bentuk meningitis meningokokus memiliki distribusi di seluruh dunia. H.
influenzae meningitis, sebelumnya sering terjadi pada bayi dan anak muda, tetapi
sekarang hampir tidak ditemukan lagi karena adanya program vaksinasi di negara
maju. Namun, kasus ini sering terjadi di Negara-negara kurang berkembang dan
frekuensinya meningkat pada orang dewasa (di Amerika Serikat ada 15.000 kasus
setiap tahun). Meningitis meningokokus sering terjadi pada anak dan remaja
tetapi juga ditemui pada dewasa, dengan penurunan jumlah kasus setelah usia 50
tahun. Meningitis pneumokokus terutama terjadi pada usia yang sangat muda dan
pada orang dewasa yang lebih tua. Perubahan epidemiologi meningitis bakteri ini
mungkin terjadi akibat meningkatnya insiden infeksi nosokomial, selain tejadi
karena adanya vasksinasi influenzae H.5

2.1.5 Patofisiologi Meningitis


Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran penyakit di

6
organ atau jaringan tubuh yang lain. Virus / bakteri menyebar secara hematogen
sampai ke selaput otak, misalnya pada penyakit faringitis, tonsilitis, pneumonia,
bronkopneumonia dan endokarditis. Penyebaran bakteri/virus dapat pula secara
perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan yang ada di dekat selaput
otak, misalnya abses otak, otitis media, mastoiditis, trombosis sinus kavernosus
dan sinusitis. Penyebaran kuman bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan
fraktur terbuka atau komplikasi bedah otak.Invasi kuman-kuman ke dalam ruang
subaraknoid menyebabkan reaksi radang pada pia dan araknoid, CSS (Cairan
Serebrospinal) dan sistem ventrikulus. Mula-mula pembuluh darah meningeal
yang kecil dan sedang mengalami hiperemi; dalam waktu yang sangat singkat
terjadi penyebaran sel-sel leukosit polimorfonuklear ke dalam ruang
subarakhnoid, kemudian terbentuk eksudat.4
Dalam beberapa hari terjadi pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam
minggu kedua selselplasma. Eksudat yang terbentuk terdiri dari dua lapisan,
bagian luar mengandung leukosit polimorfonuklear dan fibrin sedangkan di
lapisaan dalam terdapat makrofag. Proses radang selain pada arteri juga terjadi
pada vena-vena di korteks dan dapat menyebabkan trombosis, infark otak, edema
otak dan degenerasi neuron-neuron. Trombosis serta organisasi eksudat perineural
yang fibrino-purulen menyebabkan kelainan kraniales. Pada meningitis yang
disebabkan oleh virus, cairan serebrospinal tampak jernih dibandingkan
Meningitis yang disebabkan oleh bakteri.4
Pada meningitis TB terjadi akibat penyebaran infeksi secara hematogen ke
meningen. Dalam perjalanannya meningitis TB melalui 2 tahap. Mula-mula
terbentuk lesi di otak atau meningen akibat penyebaran basil secara hematogen
selama infeksi primer. Penyebaran secara hematogen dapat juga terjadi pada TB
kronik, tetapi keadaan ini jarang ditemukan. Selanjutnya meningitis terjadi akibat
terlepasnya basil dan antigen TB dari fokus kaseosa (lesi permulaan di otak)
akibat trauma atau proses imunologik, langsung masuk ke ruang subarakhnoid.
Meningitis TB biasanya terjadi 3–6 bulan setelah infeksi primer.4
Kebanyakan bakteri masuk ke cairan serebro spinal dalam bentuk kolonisasi
dari nasofaring atau secara hematogen menyebar ke pleksus koroid, parenkim
otak, atau selaput meningen. Vena-vena yang mengalami penyumbatan dapat

7
menyebabkan aliran retrograde transmisi dari infeksi. Kerusakan lapisan dura
dapat disebabkan oleh fraktur , paska bedah saraf, injeksi steroid secara epidural,
tindakan anestesi, adanya benda asing seperti implan koklear, VP shunt, dll.
Sering juga kolonisasi organisme pada kulit dapat menyebabkan meningitis.
Walaupun meningitis dikatakan sebagai peradangan selaput meningen, kerusakan
meningen dapat berasal dari infeksi yang dapat berakibat edema otak,
penyumbatan vena dan memblok aliran cairan serebrospinal yang dapat berakhir
dengan hidrosefalus, peningkatan intrakranial, dan herniasi.4

2.1.6 Diagnosis Meningitis


Anamnesis
Awitan gejala akut (<24 jam) disertai trias meningitis yaitu demam, nyeri
kepala hebat dan kaku kuduk. Gejala lain yaitu mual, muntah, fotofobia, kejang
fokal atau umum, gangguan kesadaran. Mungkin dapat ditemukan riwayat infeksi
paru-paru, telinga, sinus, ataupun katup jantung. Pada bayi atau neonatus, gejala
bersifat nonspesifik seperti demam, iribilitas, letargi, muntah, dan kejang.

Pemeriksaan Fisik dan Neurologis


a. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang sangat penting untuk memperkuat
temuan-temuan dalam anamnesis. Terdiri atas inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi. Sikap sopan santun dan rasa hormat terhadap tubuh dan pribadi pasien
yang sedang dipriksa harus diperhatikan dengan baik oleh pemeriksa.4
Pemeriksaan fisis harus selalu dimulai dengan penilaian keadaan umum
pasien. Dengan penilaian keadaan umum ini dapat diperoleh kesan apakah pasien
dalam keadaan distress akut yang memerlukan pertolongan segera, atau pasien
dalam keadaan yang relatif stabil sehingga pertolongan dapat diberikan setelah
dilakukan pemeriksaan fisik yang lebih lengkap.
Pemeriksaan harus mencakup :
1. Gejala vital. Periksan jalan nafas, kadaan respirasi dan sirkulasi. Pastikan
bahwa jalan nafas terbuka dan pasien dapat bernafas. Otak membutuhkan
pasokan oksigen yang kontinu, demikian glukosa. Tanpa oksigen sel-sel otak

8
akan mati dalam waktu 5 menit. Karena itu, harus ada sirkulasi darah untuk
menyampaikan oksigen dan glukosa ke otak. Jadi waktu untuk memulihkan
pernafasan dan sirkulasi darah adalah singkat.
2. Kulit. Perhatikan tanda trauma, simata penyakit hati, bekas suntikan, kulit
basah karena keringat (misalnya pada hipoglikemi, syok), kulit kering
(misalnya pada koma diabetic), perdarahan misalnya demam berdarah, DIC).
3. Kepala. Perhatikan tanda trauma, hematoma di kulit kepala, hematoma
disekitar mata, perdarahan di liang telingan dan hidung.
4. Thoraks, jantung, paru, abdomen, ekstremitas.

b. Pemeriksaan Neurologis6
Pada tiap penderita koma atau kesadaran menurun harus dilakukan
pemeriksaan neurologis, perhatikan sikap penderita waktu berbaring apakah
tenang dan santai yang menandakan bahwa penurunan kesadaran tidak dalam.
Adanya gerakan menguap dan menelan menandakan bahwa turunnya kesadaran
tidak dalam. Kelopak mata yang terbuka dan rahan yang tergantung di dapatkan
pada penurunan kesadaran yang dalam. Perlu diketahui bahwa tidak ada batasan
yang tegas antara tingkat kesadaran. Secara umum data dikatakan bahwa semakin
kuat rangsang yang dibutuhkan untuk membangkitkan jawaban, semakin dalam
penurunan tingkat kesadaran.4
a. GCS (Glasgow Coma Scale)
GCS digunakan untuk memperhatikan tanggapan (respons) penderita
terhadap rangsang dan memberi nilai pada respons tersebut.6
b. Saraf kranial 1-12
Saraf-saraf kranial langsung berasal dari otak dan meninggalkan tengkorak
melalui lubang-lubang pada tulang yang dinamakan foramina, terdapat 12
pasang saraf kranial yang dinyatakan dengan nama atau dengan angka
romawi. Saraf-saraf tersebut adalah olfaktorius (I), optikus (II),
Okulomotorius (III), troklearis (IV), trigeminus (V), abdusens (VI), fasialis
(VII), vestibula koklearis (VIII), glossofaringeus (IX), vagus (X), asesorius
(XI), hipoglosus (XII). Saraf kranial I, II, VII merupakan saraf sensorik murni,
saraf kranial III, IV, XI dan XII merupakan saraf motorik, tetapi juga

9
mengandung serabut proprioseptif dari otot-otot yang dipersarafinya. Saraf
kranial V, VII, X merupakan saraf campuran, saraf kranial III, VII dan X juga
mengandung beberapa serabut saraf dari cabang parasimpatis sistem saraf
otonom.
c. Kaku kuduk
Kaku kuduk merupakan gejala yang sering dijumpai pada kelianan rangsang
selaput otak. Terdapat 3 cara untuk melakukan pemeriksaan kaku kuduk :
1. Fleksi Kepala. Untuk pemeriksaan kaku kuduk dapat dilakukan dengan tangan
pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring.
Kemudia kepala ditekuk (flexi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada.
Selama penekukan ini diperhatikan adanya tahanan. Bila terdapat kaku kuduk,
kta dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. Kaku kuduk dapat
bersifat ringan atau berat. Pada kaku kuduk yang berat kepala tidak dapat
ditekuk, malah sering kepala terkedik ke belakang.7
2. Brudzinski I (Brudzinski’s neck sign)
Untuk memeriksa tanda ini dilakukan dengan tangan yang ditempatkan
dibawah kepala pasien yang sedang berbaring, kita tekukkan kepala sejauh
mungkin sampai dagu mencapai dada. Tangan yang satu lagi sebaiknya
ditempatkan di dada pasien untuk mencegah diangkatnya badan. Bila tanda
brudzinski positif, maka tindakan ini mengakibatkan flexi kedua tungkai.
Sebelumnya perlu diperhatikan apakah tungkai nya tidak lumpuh, tentulah
tungkai tidak akan diflexikan.7
3. Brudzinski II (Brudzinski’s contralateral leg sign)
Pada pasien yang sedang berbaring, satu tungkai diflexikan pada persendian
panggul, sedangkan tungkai yang satu lagi berada dalam keadaan ekstensi
(lurus). Bila tungkai yang satu ini ikut pula terflexikan, maka disebut tanda
brudzinski II positif.7

4. Tanda Kernig
Pada pemeriksaan ini, pasien yang sedang berbaring diflexikan pahanya pada
persendian panggul sampai membuat sudut 90O. Setelah itu tungkai bawah di
ekstensikan pada persendian lutut. Biasanya kita dapat melakukan ekstensi ini

10
sampai sudut 135O, antara tungkai bawah dan tungkai atas. Bila terdapat
tahanan dan rasa nyeri sebelum tercapai sudut ini, maka dikatakan bahwa
tanda kernig positif. Pada meningitis tandanya biasanya positif bilateral.7
5. Tanda Lasegue
Pemeriksaan dilakukan dengan cara pasien yang sedang berbaring diluruskan
(ekstensi) kedua tungkainya. Kemudian satu tungkai diangkat lurus, di
bengkokan (fleksi) pada persendian panggulnya. Tungkai yang satunya lagi
harus dalam keadaan lurus (ekstensi). Pada keadaan normal kita dapat
mencapai sudut 70O sebelum timbul rasa sakit dan tahanan. Bila sudah timbul
rasa sakit dan tahanan sebelum kita mencapai 70O, maka tanda lasegue
positif.7

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Pungsi Lumbal
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan protein
cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan tekanan
intrakranial.
1) Pada Meningitis Serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel
darah putih meningkat, glukosa dan protein normal, kultur (-).
2) Pada Meningitis Purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan keruh,
jumlahsel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur (+)
beberapajenis bakteri.

Tabel 2. Perbedaan perubahan LCS pada meningitis


Meningitis
Tes Meningitis Virus Meningitis TBC
Bakterial
Tekanan LP Meningkat Biasanya normal Bervariasi
Warna Keruh Jernih Xanthochromia
Jumlah sel > 1000/ml < 100/ml Bervariasi
Jenis sel Predominan PMN Predominan MN Predominan MN
Protein Sedikit meningkat Normal/meningkat Meningkat
Glukosa Normal/menurun Biasanya normal Rendah

11
Tabel 3. Typical CSF Finding in Meningitis8

b. Pemeriksaan darah
Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, Laju EndapDarah
(LED), kadar glukosa, kadar ureum, elektrolit dan kultur.
1) Pada Meningitis Serosa didapatkan peningkatan leukosit dan glukosa.
2) Pada Meningitis Tuberkulosa didapatkan juga peningkatan LED.
3) Pada Meningitis Purulenta didapatkan peningkatan leukosit, protein,neutrofil.
c. Pemeriksaan Radiologis
Pada pemeriksaan foto polos kepala, dapat ditentukan apakah terdapat fraktur
tulang tengkorak dan infeksi sinus-sinus paranasales, sebagai penyebab atau
faktor resiko meningitis. Pemeriksan foto dadadilakukan untuk menentukan
adanya pneumonia, abses paru, proses spesifik, dan massa tumor.CT Scan dan
MRI dapat dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat edema
otak, ventrikulitis, hidrosefalus, dan massa tumor.
1) Pada Meningitis Serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin
dilakukan CT Scan.
2) Pada Meningitis Purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid,
sinusparanasal, gigi geligi) dan foto dada.

12
d. Tes Tuberkulin
Tes tuberkulin dilakukan untuk menentukan adanya proses spesifik.
Pemeriksaan elektrolit perlu dilakukan pada meningitis bakterial karena dapat
terjadi dehidrasi dan hiponatremia terutama dalam 48-72 jam pertama.7
Meningitis bakterial9
- Darah perifer lengkap dan kultur darah. Pemeriksaan gula darah dan
elektrolit jika ada indikasi.
- Pungsi lumbal sangat penting untuk menegakkan diagnosis dan
menentukan etiologi :
 Didapatkan cairan keruh atau opalesens dengan Nonne (-)/(+) dan
Pandy (+)/(++).
 Jumlah sel 100-10.000/m3 dengan hitung jenis predominan
polimorfonuklear, protein 200-500 mg/dl, glukosa <40 mg/dl. Pada
stadium dini jumlah sel dapat normal dengan predominan limfosit.
 Apabila telah mendapat antibiotik sebelumnya, gambaran LCS dapat
tidak spesifik.
- Pada kasus berat, pungsi lumbal sebaiknya ditunda dan tetap diberikan
pemberian antibiotik empirik (penundaan 2-3 hari tidak mengubah nilai
diagnostik kecuali identifikasi kuman, itupun jika antibiotiknya senstitif)
- Jika memang kuat dugaan kearah meningitis, meskipun terdapat tanda-
tanda peningkatan tekanan intracranial, pungsi lumbal masih dapat
dilakukan asalkan berhati-hati. Pemakaian jarum spinal dapat
meminimalkan komplikasi terjadinya herniasi.
- Kontraindikasi mutlak pungsi lumbal hanya jika ditemukan tanda dan
gejala peningkatan tekanan intracranial oleh karena lesi desak ruang.
- Pemeriksaan CT-Scan dengan kontras atau MRI kepala (pada kasus berat
atau curiga ada komplikasi seperti empiema subdural, hidrosefalus dan
abses otak)
- Pada pemeriksaan elektroensefalografi dapat ditemukan perlambatan
umum.

13
Meningitis Tuberkulosis 9
- Pemeriksaan meliputi darah perifer lengkap, laju endap darah, dan gula
darah. Leukosit darah tepi sering meningkat (10.000-20.000 sel/mm3).
Sering ditemukan hiponatremia dan hipokloremia karena sekresi
antidiuretik hormon yang tidak adekuat.
- Pungsi lumbal :
 Liquor serebrospinal (LCS) jernih, cloudy atau xantokrom
 Jumalh sel meningkat antara 10-250 sel/mm3 dan jarang melebihi 500
sel/mm3. Hitung jenis predominan sel limfosit walaupun pada stadium
awal dapat dominan polimorfonuklear.
 Protein meningkat di atas 100 mg/dl sedangkan glukosa menurun
dibawah 35 mg/dl, rasio glukosa LCS dan darah dibawah normal
 Pemeriksaan BTA (basil tahan asam) dan kultur M.Tbc tetap
dilakukan.
 Jika hasil pemeriksaan LCS yang pertama meragukan, pungsi lumbal
ulangan dapat memperkuat diagnosis dengan interval 2 minggu.
- Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), enzyme-linked
immunosorbent assay (ELISA) dan Latex particle agglutination dapat
mendeteksi kuman Mycobacterium di cairan serebrospinal (bila
memungkinkan).
- Pemeriksaan pencitraan CT-Scan atau MRI kepala dengan kontras dapat
menunjukkan lesi parenkim pada daerah basal otak, infark, tuberkuloma,
maupun hidrosefalus.
- Foto rontgen dada dapat menunjukkan gambaran penyakit Tuberkulosis.
- Uji Tuberkulin dapat mendukung diagnosis
- Elektroensefalografi (EEG) dikerjakan jika memungkinkan dapat
menunjukkan perlambatan gelombang irama dasar.
Meningitis Viral
- Pemeriksaan hematologi dan kimia harus dilakukan
- Pemeriksaan LCS merupakan pemeriksaan yang penting dalam pemeriksaan
penyebab meningitis. CT Scan harus dilakukan pada kasus yang berkaitan
dengan tanda neurologis abnormal untuk menyingkirkanlesi intrakranial atau

14
hidrosefalus obstruktif sebelum pungsi lumbal (LP). Hal berikut ini
merupakan karakteristik LCS yang digunakan untuk mendukung diagnosis
meningitis viral:
 Sel: Pleocytosis dengan hitung WBC pada kisaran 50 hingga >1000x
109/L darah telah dilaporkan pada meningitis virus, Sel mononuclear
merupakan predominan, tetapi PMN dapat merupakan sel utama pada 12-
24 jam pertama.
 Protein: Kadar protein LCS biasanya sedikit meningkat, tetapi dapat
bervariasi dari normal hingga setinggi 200 mg/dL.
- Studi Pencitraan : Pencitraan untuk kecurigaan meningitis viral dan ensefalitis
dapat termasuk CT Scan kepala dengan dan tanpa kontras, atau MRI dengan
kontras. CT scan dengan contrast menolong dalam menyingkirkan patologi
intrakranial. Scan contrast harus didapatkan untuk menyingkirkan cerebritis,
abses intrakranial, empyema subdural, atau lesi lain. MRI dengan kontras
merupakan standar kriteria pada memvisualisasikan patologi intrakranial pada
encephalitis viral. HSV-1 lebih sering mempengaruhi basal frontal dan lobus
temporal dengan gambaran sering lesi bilateral yang difus.
- Tes Lain : Semua pasien yang kondisinya tidak membaik secara klinis dalam
24-48 jam harus dilakukan rencana kerja untuk mengetahui penyebab
meningitis. EEG dapat dilakukan jika ensefalitis atau kejang subklinis
dicurigai pada pasien yang terganggu,
- Prosedur : Pungsi Lumbal merupakan prosedur penting yang digunakan dalam
mendiagnosis meningitis viral. Prosedur potensial lain, tergantung pada
indikasi individu dan keparahan penyakit, termasuk monitoring tekanan
intrakranial, biopsi otak, dan drainase ventricular atau shunting.

15
Tabel 3 Gambaran cairan serebrospinal pada meningitis berdasarkan agen
etiologinya

2.1.8 Diagnosis
Meningitis Bakterial
Diagnosis meningitis bakterial tidak dapat dibuat hanya dengan melihat
gejala dan tanda saja. Manifestasi klinis seperti demam, sakit kepala, muntah,
kaku kuduk dan adanya tanda rangsang meningeal kemungkinan dapat pula terjadi
pada meningismus, meningitis TBC dan meningitis aseptic. Hampir semua
penulis mengatakan bahwa diagnosis pasti meningitis hanya dapat dibuat dengan
pemeriksaan cairan serebrospinalis melalui pungsi lumbal. Oleh Karena itu setiap
pasien dengan kecurigaan meningitis harus dilakukan pungsi lumbal.10
Umumnya cairan serebrospinal berwarna opalesen sampai keruh, tetapi
pada stadium dini dapat diperoleh cairan yang jernih.Reaksi Nonne dan Pandy
umumnya didapatkan positif kuat. Jumlah sel umumnya ribuan per milimeter
kubik cairan yang sebagian besar terdiri dari sel polimorphonuclear (PMN). Pada
stadium dini didapatkan jumlah sel hanya ratusan permilimeter kubik dengan
hitung jenis lebih banyak limfosit daripada segmen. Oleh karena itu pada keadaan
sedemikian, pungsi lumbal perlu diulangi keesokan harinya untuk menegakkan
diagnosis yang pasti. Keadaan seperti ini juga ditemukan pada stadium
penyembuhan meningitis purulenta. Kadar protein dalam CSS meninggi. Kadar
gula menurun tetapi tidak serendah pada meningitis tuberkulosa. Kadar klorida

16
kadang-kadang merendah.
Meningitis Tuberkulosis
Diagnosis dapat ditentukan atas dasar gambaran klinis serta yang
terpenting ialah gambaran CSS. Diagnosis pasti hanya dapat dibuat bila
ditemukan kuman tuberkulosis dalam CSS. Uji tuberkulin yang positif, kelainan
radiologis yang tampak pada foto roentgen thorak dan terdapatnya sumber infeksi
dalam keluarga hanya dapat menyokong diagnosis. Uji tuberkulin pada Meningitis
tuberkulosis sering negatif karena reaksi alergi (false-negative), terutama dalam
stadium terminalis.
Meningitis Viral
Diagnosis biasanya dapat dibuat berdasarkan gejala klinis, kelainan CSS
dan perjalanan penyakit yang self-limited. Biakan CSS terhadap kemungkinan
penyebab mikroorganisme lain harus dikerjakan (fungus, leptospira,
mikobakterium) agar kemungkinan mikroorganisme penyebab lain dapat
disingkirkan.
Selain biakan CSS, pemeriksaan lain seperti uji tuberkulin, foto Rontgen
thorak, mencari sumber tuberkulosis harus dikerjakan agar dapat menyingkirkan
kemungkinan meningitis tuberkulosa.

2.1.9 Gejala Klinis


Meningitis mempunyai karakteristik yakni onset yang mendadak dari
demam, sakit kepala dan kaku leher (stiff neck).Biasanya juga disertai beberapa
gejala lain, seperti :
 Mual
 Muntah
 Fotofobia (sensitif terhadap cahaya)
 Perubahan atau penurunan kesadaran
Meningitis Bakterial
Tidak ada satupun gambaran klinis yang patognomonik untuk meningitis
bakterial.Tanda dan manifestasi klinis meningitis bakterial begitu luas sehingga
sering didapatkan pada anak-anak baik yang terkena meningitis ataupun
tidak.Tanda dan gambaran klinis sangat bervariasi tergantung umur pasien, lama

17
sakit di rumah sebelum diagnosis dan respon tubuh terhadap infeksi.
Meningitis pada bayi baru lahir dan prematur sangat sulit didiagnosis,
gambaran klinis sangat kabur dan tidak khas.Demam pada meningitis bayi baru
lahir hanya terjadi pada ½ dari jumlah kasus.Biasanya pasien tampak lemas dan
malas, tidak mau makan, muntah-muntah, kesadaran menurun, ubun-ubun besar
tegang dan membonjol, leher lemas, respirasi tidak teratur, kadang-kadang disertai
ikterus kalau sepsis.Secara umum apabila didapatkan sepsis pada bayi baru lahir
kita harus mencurigai adanya meningitis.
Bayi berumur 3 bulan – 2 tahun jarang memberi gambaran klasik
meningitis. Biasanya manifestasi yang timbul hanya berupa demam, muntah,
gelisah, kejang berulang, kadang-kadang didapatkan pula high pitch cry (pada
bayi). Tanda fisik yang tampak jelas adalah ubun-ubun tegang dan membonjol,
sedangkan tanda Kernig dan Brudzinsky sulit di evaluasi. Oleh karena insidens
meningitis pada umur ini sangat tinggi, maka adanya infeksi susuan saraf pusat
perlu dicurigai pada anak dengan demam terus menerus yang tidak dapat
diterangkan penyebabnya.
Pada anak besar dan dewasa meningitis kadang-kadang memberikan
gambaran klasik.Gejala biasanya dimulai dengan demam, menggigil, muntah dan
nyeri kepala.Kadang-kadang gejala pertama adalah kejang, gelisah, gangguan
tingkah laku.Penurunan kesadaran seperti delirium, stupor, koma dapat juga
terjadi.Tanda klinis yang biasa didapatkan adalah kaku kuduk, tanda Brudzinski
dan Kernig.Nyeri kepala timbul akibat inflamasi pembuluh darah meningen,
sering disertai fotofobia dan hiperestesi, kaku kuduk disertai rigiditas spinal
disebabkan karena iritasi meningen serta radiks spinalis.
Kelainan saraf otak disebabkan oleh inflamasi lokal pada perineurium,
juga karena terganggunya suplai vaskular ke saraf.Saraf – saraf kranial VI, VII,
dan IV adalah yang paling sering terkena.Tanda serebri fokal biasanya sekunder
karena nekrosis kortikal atau vaskulitis oklusif, paling sering karena trombosis
vena kortikal. Vaskulitis serebral menyebabkan kejang dan hemiparesis.10
Manifestasi Klinis yang dapat timbul adalah:8
1. Gejala infeksi akut.
a. Lethargy.

18
b. Irritabilitas.
c. Demam ringan.
d. Muntah.
e. Anoreksia.
f. Sakit kepala (pada anak yang lebih besar).
g. Petechia dan Herpes Labialis (untuk infeksi Pneumococcus).
2. Gejala tekanan intrakranial yang meninggi.
a. Muntah.
b. Nyeri kepala (pada anak yang lebih besar).
c. Moaning cry /Tangisan merintih (pada neonatus)
d. Penurunan kesadaran, dari apatis sampai koma.
e. Kejang, dapat terjadi secara umum, fokal atau twitching.
f. Bulging fontanel /ubun-ubun besar yang menonjol dan tegang.
g. Gejala kelainan serebral yang lain, mis. Hemiparesis, Paralisis,
Strabismus.
h. Crack pot sign.
i. Pernafasan Cheyne Stokes.
j. Hipertensi dan Choked disc papila N. optikus (pada anak yang
lebih besar).
3. Gejala ransangan meningeal.
a. Kaku kuduk positif.
b. Kernig, Brudzinsky I dan II positif. Pada anak besar sebelum gejala
di atas terjadi, sering terdapat keluhan sakit di daerah leher dan
punggung.
Pada anak dengan usia kurang dari 1 tahun, gejala meningeal tidak dapat
diandalkan sebagai diagnosis.Bila terdapat gejala-gejala tersebut diatas, perlu
dilakukan pungsi lumbal untuk mendapatkan cairan serebrospinal (CSS).
Meningitis Tuberkulosis
Secara klinis kadang-kadang belum terdapat gejala meningitis nyata walaupun
selaput otak sudah terkena. Hal demikian terdapat pada tuberlukosis miliaris
sehingga pada penyebaran miliar sebaiknya dilakukan pungsi lumbal walaupun
gejala meningitis belum tampak.

19
1. Stadium prodromal
Gejala biasanya didahului oleh stadium prodromal berupa iritasi selaput otal.
Meningitis biasanya mulai perlahan-lahan tanpa panas atau hanya terdapat
kenaikan suhu ringan, jarang terjadi akut dengan panas tinggi. Sering di jumpai
anak mudah terangsang (iritabel) atau anak menjadi apatis dan tidurnya sering
terganggu. Anak besar dapat mengeluh nyeri kepala, malaise, anoreksia, obstipasi,
mual dan muntah juga sering ditemukan. Belum tampak manifestasi kelainan
neurologis.
2. Stadium transisi
Stadium prodromal disusul dengan stadium transisi dengan adanya kejang. Gejala
diatas menjadi lebih berat dan muncul gejala meningeal, kaku kuduk dimana
seluruh tubuh mulai menjadi kaku dan opistotonus. Refleks tendon menjadi lebih
tinggi, ubun-ubun menonjol dan umumnya juga terdapat kelumpuhan urat saraf
mata sehingga timbul gejala strabismus dan nistagmus. Suhu tubuh menjadi lebih
tinggi dan kesadaran lebih menurun hingga timbul stupor. Kejang, defisit
neurologis fokal, paresis nervus kranial dan gerakan involunter (tremor,
koreoatetosis, hemibalismus).
3. Stadium terminal
Stadium terminal berupa kelumpuhan, koma, pupil melebar dan tidak bereaksi
sama sekali. Nadi dan pernafasan menjadi tidak teratur, kadang-kadang menjadi
pernafasan Cheyne-Stokes (cepat dan dalam). Hiperpireksia timbul dan anak
meninggal tanpa kesadarannya pulih kembali
Tiga stadium diatas biasanya tidak mempunyai batas yang jelas antara satu
dengan yang lainnya, namun jika tidak diobati umumnya berlangsung 3 minggu
sebelum anak meninggal.
Meningitis Viral
Biasanya gejala dari meningitis viral tidak seberat meningitis dan dapat sembuh
alami tanpa pengobatan yang spesifik.
Umumnya permulaan penyakit berlangsung mendadak, walaupun kadang-
kadang didahului dengan panas selama beberapa hari. Gejala yang ditemukan
pada anak besar ialah panas dan nyeri kepala mendadak yang disertai dengan kaku
kuduk. Gejala lain yang dapat timbul ialah nyeri tenggorok, nausea, muntah,

20
penurunan kesadaran, nyeri pada kuduk dan punggung, fotophobia, parestesia,
myalgia. Gejala pada bayi tidak khas. Bayi mudah terangsang dan menjadi
gelisah. Mual dan muntah sering dijumpai tetapi gejala kejang jarang didapati.
Bila penyebabnya Echovirus atau Coxsackie, maka dapat disertai ruam dengan
panas yang akan menghilang setelah 4-5 hari. Pada pemeriksaan ditemukan kaku
kuduk, tanda Kernig dan Brudzinski kadang-kadang positif.
Variasi lain dari infeksi viral dapat membantu diagnosis, seperti :
 Gastroenteritis, rash, faringitis pada infeksi enterovirus
 Manifestasi kulit, seperti erupsi zoster, makulopapular rash dari campak
dan enterovirus, erupsi vesikular dari herpes simpleks dan herpangina dari
infeksi coxsackie virus A
 Faringitis, limfadenopati dan splenomegali mengarah ke infeksi EBV
 Immunodefisiensi dan pneumonia, mengarah ke infeksi adenovirus, CMV
atau HIV
 Parotitis dan orchitis ke arah virus Mumps

2.1.10 Pengobatan
Meningitis Virus
Meningitis virus bersifat self-limiting disease, sehingga yang perlu
dilakukan adalah dengan mengobati atau mengatasi penyakit yang mendasari
terjadinya meningitis tersebut.11

21
Meningitis Bakterial
Tabel 3. Antibiotik Meningitis Bakterialis

Meningitis Tuberkulosis 12

22
2.1.11 Komplikasi 1
a. Komplikasi mayor
 Cerebral – Edema otak dengan risiko herniasi
 Komplikasi pembuluh darah arteri: arteritis vasospasme, fokal kortikal,
hiperfusi gangguan serebrovaskular autoregulasi
 Septik sinus/trombosis venous terutama sinus sagitalis superior,
tromboflebitis kortikal
 Hidrosefalus
 Serebritis
 Subdural efusi (pada bayi dan anak )
 Abses otak, subdural empiemi
b. Komplikasi ekstrakranial
 Septic shock
 DIC
 Respiratory distress syndrome
 Arteritis (septik atau reaktif)
 Gangguan elektrolit hipernatremi, SIADH
 Komplikasi spinal mielitis

2.1.12 Prognosis 1
Prognosis pada meningitis bakteri adalah buruk pada usia yang lebih
muda, infeksi berat,disertai DIC. Mortalitas bergantung pada virulensi kuman
penyebab, daya tahan tubuh pasien, terlambat atau cepatnya mendapat pengobatan
yang tepat dan pada cara pengobatan dan perawatan yang diberikan.
Prognosis pada meningitis tuberkulosis pada pasien yang tidak diobati
biasanya meninggal dunia. Yang berumur 3 tahun mempunyai prognosis lebih
buruk daripada yang tua. Hanya 18% dari yang hidup mempunyai fungsi
neurologis dan intelektual normal.
Prognosis pada meningitis virus, penyakit ini self limited dan
penyembuhannya sempurna.Dijumpai setelah 3-4 hari pada kasus ringan dan
setelah 7-14 hari pada keadaan yang berat.
DAFTAR PUSTAKA

23
1. Israr YA. Meningitis. Faculty of Medicine, University of Riau. Arifin Achmad
General Hospital of Pekanbaru. 2008: 1-6.
2. Harsono. Buku ajar neurologi klinis. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press. 2008: 161-3, 183-8.
3. Mesranti. Meningitis. Sumatera Utara. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara. 2011. Diunduh dari:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23705/4/Chapter%20II.pdf.
4. Pratiwi FHC. Infeksi Meningitis. Jakarta: Universitas Kedokteran Universitas
Kristen Krida Wacana. 2016: 1-39.
5. Setiyohadi B, Subekti I. Pemeriksaan Fisis Umum. In: Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Ilmu penyakit dalam. Edisi 5.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2009: 29
6. Lumbantobing SM. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta :
Balai Penerbit FK UI. 2010: 8–84.
7. Dewanto G, Suwono WJ, Riyanto B, Turana Y. Panduan praktis diagnosis dan
tata laksana penyakit saraf. Cetakan Ke-1. Jakarta: EGC. 2009: 43-8.
8. Mandal A. Meningitis Symptoms. 2012. Diunduh dari: http://www.news-
medical.net/health/Meningitis-Symptoms-(Indonesian).aspx.
9. Pudjiadi AH,dkk. Ed. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Jilid 1. Jakarta :Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia;.
2010: 189-96.
10. Saharso D, dkk. Infeksi Susunan Saraf Pusat. Dalam : Soetomenggolo TS,
Ismael S, penyunting. Buku Ajar Neurologi Anak. Jakarta: BP IDAI.
11. Allan H. Ropper, Martin A. Samuels. Adams and Victor’s Principles of
Neurology. United States of America: McGraw-Hill Companies.2009: 667-78.
12. Dewanto G, Suwono WJ, Riyanto B, Turana Y. Panduan praktis diagnosis dan
tata laksana penyakit saraf. Cetakan Ke-1. Jakarta: EGC. 2009:43-8.

24