Anda di halaman 1dari 3

Cedera Kepala

Head injury terbagi 2:


 Closed: tidak menembus lapisan durameter
 Open: menembus lapisan durameter atau merobek parenkim otak

Spektrum cedera kepala:


 Laserasi
 Kontusio (gaya coup dan contracoup) seperti salt and pepper pada CT Scan
 Fraktur (impresi atau mendelep sedikit)
 Perdarahan (ekstradural, subdural, subarachnoid, epidural, intraparenkim)
 Diffuse axonal injury. Terjadi pada daerah antara coup dan counter coup. Dap
at mengenai semua hemisfer dan menimbulkan edema. Klinis bisa koma atau
disfungsi neurologis.

Epidural haemorrhage
 Lucid interval (temporary shut down pada jaras yang mengatur kesadaran sehi
ngga pasien sadar dan tidak bergantian)
 Progresivitas cepat
 Pembuluh darah: arteri meningea media
 CT Scan: bikonveks atau cembung (Umumnya di temporal)

Subdural haemorrhage
 Biasanya pada orangtua (>50 tahun), balita, atau konsumsi antikoagulan
 Pembuluh darah: bridging vein
 CT Scan: bikonkaf atau cekung (seperti bulan sabit)
 3 tipe:
 Akut: 3 hari - 3 minggu
 Subakut: 3 minggu - 3 bulan
 Kronik: >3 bulan

 Kategori cedera kepala ditentukan dari:
 GCS
 Ringan: 13-15
 Sedang: 9-12
 Berat: 3-8
 Untuk pediatrik, dilihat dari verbal (senyum/menangis)
 Durasi pingsan
 Ringan: <30 menit
 Sedang: >30 menit
 Berat: >24 jam
 Defisit neurologis: Bila ada, termasuk sedang atau berat.

Untuk CKR, observasi 24 jam dan harus ditentukan apakah butuh CT Scan atau tidak.
Apabila tidak, pasien boleh dipulangkan setelag observasi tetapi harus selalu ada kelu
arga yang menjaga. Istirahat di rumah minimal 1 minggu dan tidak boleh kerja fisik. Ed
ukasi pula mengenai tanda-tanda bahaya seperti peningkatan TIK agar dapat segera d
ibawa ke IGD.

GCS 15 yang memerlukan CT Scan:


 Pendarahan dari telinga atau hidung
 Tanda fraktur basis cranii (battle sign)
 Lansia >65 tahun
 Konsumsi blood thinner (antikoagulan)
 Amnesia >30 menit (retrograde)
 >1x muntah
 Kejang atau defisit neurologis lainnya
 Mekanisme trauma: jatuh dari ketinggian >1 meter; KLL (terlempar dari kendar
aan); pejalan kaki tertabrak

Resusitasi awal:
 ABC + imobilisasi
 IV cairan isotonik (NaCl 0,9%, RL, RA). Jangan hipotonik seperti Dx
 Intubasi bila GCS <8, gargling (lakukan bagging dan jaw thrust bila tidak dapat
intubasi)
 Cari sumber perdarahan sekaligus suntik antitetanus
 Pemeriksaan darah
 Pada syok hemoragik, lakukan resusitasi cairan dan elevasi kaki
 Pada syok neurogenik, berikan vasopressor (epinefrin)

Terapi lanjutan:
 IV isotonik
 Mannitol untuk menurunkan TIK (kecuali hipotensi)
 Steroid
 Antikonvulsan
 Elevasi kepala 30 derajat