Anda di halaman 1dari 13

IDENTIFIKASI BORAKS PADA BAKSO DAN PERILAKU PENGGUNAAN BORAKS

PADA PENJUAL BAKSO DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKAPAKIR


KECAMATAN BOJONGLOA KALER KOTA BANDUNG TAHUN 2016

Dr. Yeni Mahwati, S.KM., M.Kes1, Dra. Nina Rosliana. MT 2, Holi Holiah, S.KM3
123
Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat, STIKes Dharma Husada Bandung
Jl. Terusan Jakarta No.75 Bandung

ABSTRAK

Boraks adalah senyawa kimia yang dapat membahayakan bagi tubuh manusia. Undang-Undang
Nomor 18 tahun 2012 menyatakan bahwa memberikan wewenang kepada Badan POM untuk
melakukan pengawasan keamanan, mutu dan gizi pangan yang beredar Data Puskesmas Sukapakir
tahun 2012 ditemukan uji boraks positif pada pengolahan cireng dan mie. Tujuan penelitian
mengetahui kemungkinan terdapat kandungan boraks pada bakso di Wilayah Kerja Puskesmas
Sukapakir Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung Tahun 2016. Jenis penelitian deskriptif
dengan pendekatan survey deskriptif jumlah sampel yang digunakan sebanyak 76 orang penjual bakso
menggunakan teknik total sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner dan uji boraks
(laboratorium dan uji kunyit dan tusuk gigi). Teknik dalam analisis penelitian ini dilakukan dengan
univariat. Hasil penelitian diketahui dari 76 sampel bakso menunjukan seluruhnya negatif dan hampir
seluruhnya tidak menggunakan boraks. Didapatkan pengetahuan baik sebanyak 36 orang atau 47,4%,
sikap postif sebanyak 52 orang atau 68,4%, pendidikan SD sebanyak 32 orang atau 42,1% dan tingkat
sosioekonomi tinggi sebanyak 49 orang 64,5%, serta toko obat yang ia ketahui sebagai tempat boraks
sebanyak 41 orang atau 53,9%. Disarakan pada pihak Puskesmas perlu diadakan pemberian
pengawasan tanda alat kontrol (label stiker makanan aman bebas boraks) serta meningkatkan
perhatian dari tenaga kesehatan dan dinkes, agar selalu tidak menggunakan boraks.
One aspect of life that needs attention is the problem of food and Distribution of food can be harmful
to health in the environment among which Borax is a chemical compound that can be harmful to the
human body. Data Puskesmas Sukapakir discovered borax test positive on cireng processing and
noodles. The purpose of research to describe the use of factors of borax in meatballs seller at sub-
district Puskesmas Sukapakir Bojongloa Kaler Bandung. The method Descriptive research with a
descriptive survey approach the number of samples used by 76 people meatball sellers using total
sampling technique. Tool data collection using questionnaires and test borax (laboratory and test
turmeric and a toothpick). Techniques in the analysis of this study conducted by univariate. The
survey results revealed 76 samples showed almost entirely negative meatballs and almost entirely
using borax. Good knowledge gained as many as 36 people or 47.4%, positive attitude as many as 52
people or 68.4%, elementary education as much as 32 people or 42.1% and a high socioeconomic
level as many as 49 people 64.5%, as well as drugstores that he known as a place of borax as many as
41 people or 53.9%. At the health center have suggested there should be the provision of supervisory
control tool marks (label stickers safe food free of borax) as well as increasing attention from health
professionals and health office, so always use borax.

Kata Kunci : Boraks, Penjual Bakso

STIKes Dharma Husada Bandung 1


digunakan dan dijual bebas dimasyarakat
PENDAHULUAN
adalah formalin dan boraks (Cahyadi, 2008).
Kesehatan merupakan salah satu upaya dari
Boraks adalah senyawa kimia dengan nama
pembangunan nasional yang diselenggarakan
Natrium Tetraborat (NaB4O7.10 H2O). Boraks
di semua bidang kehidupan guna terciptanya
berbentuk kristal putih, tidak berbau dan stabil
keadaan sehat yang adil dan merata yang
pada suhu ruangan. Boraks biasanya
artinya bahwa dalam pembangunan kesehatan
digunakan dalam pembuatan antiseptik dan
setiap orang mempunyai hak yang sama dalam
deterjen. Mengkonsumsi boraks tidak
memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-
menimbulkan akibat secara langsung, tetapi
tingginya dari segala aspek kehidupan dan
boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit
lapisan masyarakat mulai dari usia anak-anak
karena diserap dalam tubuh konsumen secara
sampai usia dewasa. Salah satu aspek
kumulatif. Dampak buruk penggunaan boraks
kehidupan yang perlu diperhatikan adalah
bagi kesehatan adalah iritasi saluran cerna
masalah pangan dengan diusahakan dalam
yang ditandai dengan sakit sakit kepala,
mengolah makanan menghasilkan produk
pusing, muntah, mual, diare, penyakit kulit
makanan yang disukai dan bermutu baik serta
yakni kemerah bata .an pada kulit, diikuti
aman untuk dikonsumsi. Keselamatan dan
dengan terkelupasnya kulit ari. Gejala lebih
kesehatan masyarakat harus dilindungi
lanjut adalah badan menjadi lemah, kerusakan
terhadap pangan yang tidak memenuhi syarat
ginjal, pingsan, bahkan shock hingga kematian
dan terhadap kerugian sebagai akibat produksi,
(Cahyadi, 2008).
peredaran dan perdagangan pangan yang tidak
benar (Depkes RI, 2001). Banyaknya penggunaan borak pada bakso
merupakan produk dari daging, baik daging
Pangan merupakan salah satu kebutuhan
sapi, ayam ikan maupun udang. Bakso dibuat
primer dari manusia selain sandang dan papan.
dari daging giling dengan bahan tambahan
Pangan memegang peranan penting dalam
utama garam dapur (NaCl), tepung tapioka,
kehidupan manusia, oleh karena itu
dan bumbu berbentuk bulat seperti kelereng
dibutuhkan suatu jaminan bahwa pangan yang
dengan berat 25-30 gr per butir, banyak orang
dikonsumsi sehari-hari oleh manusia memiliki
menyukai bakso dari anak-anak sampai orang
tingkat keamanan yang tinggi, sehingga
dewasa. Bakso biasanya di sajikan sebagai
manusia dapat bebas dari serangan penyakit
makanan bersama dengan mie, kuah kaldu
atau bahaya yang berasal dari makanan.
serta sayur dan bumbu sebagai pelengkapnya.
Pemerintah menyadari pentingnya keamanan
Sehingga dalam semangkuk mie bakso sudah
pangan yang dikonsumsi oleh manusia
terdapat karohidrat, dan vitamin. Dalam
sehingga menetapkan Undang-Undang Nomor
pengolahan makanan diharapkan agar
18 tahun 2012 yang mengatur pangan di
makanan yang kita olah dapat menjadi makan
Indonesia. Disamping itu terdapat Peraturan
yang disukai, baik serta aman untuk di
Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang
konsumsi (Widyaningsih, 2009).
keamanan, mutu dan gizi pangan, memberikan
wewenang kepada Badan POM untuk Penelitian yang terkait tentang boraks yang
melakukan pengawasan keamanan, mutu dan telah dilakukan oleh Rahmanita (2011) judul
gizi pangan yang beredar (Kemenkes, 2014). penelitianya tentang hubungan pengetahuan
sikap dan perilaku ibu di Kelurahan Beringin
Peredaran pangan tersebut dapat
Kota Jambi Mengenai jajanan anak SD yang
membahayakan kesehatan di lingkungan
mengandung pengawet terlarang dan pewarna
masyarakat. Salah satu penjaminan pangan
berbahaya menemukan hasil sebanyak 55
yang bermutu dan aman merupakan tanggung
(52,4%) reponden memiliki pengetahuan yang
jawab pemerintah, industri pangan dan
kurang, 68 (64,8%) responden memiliki sikap
konsumen, sesuai dengan tugas dan fungsinya
yang sedang, dan 69 (65,7%) responden dan
masing-masing. Banyak bahan kimia
memiliki perilaku yang sedang. Tidak terdapat
berbahaya yang biasanya digunakan untuk
hubungan bermakna antara pengetahuan dan
bahan industri yang digunakan sebagai bahan
sikap, p=0,07 dan tidak terdapat hubungan
tambahan pada makanan misalnya, rhodamin
bermakna antara sikap dan perilaku p=0,592
B, formalin, methanil yellow, dan boraks.
Namun yang paling berbahaya dan sering Penggunaan boraks pada makanan tersebut
dipengaruhi oleh kebutuhan setiap orang yang

STIKes Dharma Husada Bandung 2


tidak ada batasnya. Setelah kebutuhan yang positif penggunaan borkas sebanyak 17
satu terpenuhi, akan muncul kebutuhan jajanan makanan atau 9,4 % (Dinkes, 2015).
lainnya. Oleh karena itu, perlakuan yang
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di
dilakukan oleh seseorang berpedoman pada
Wilayah Kerja Puskesmas Sukapakir
prinsip ekonomi. Motif ekonomi adalah alasan
Kecamatan Bojongloa kaler mengenai borkas,
seseorang untuk melakukan sesuatu atau
ditemukan 76 penjual bakso yang ramai
dorongan dari dalam diri manusia untuk
dikunjungi pembeli setiap harinya yaitu
berbuat atau bertindak secara ekonomis untuk
penjual bakso keliling jajanan yang digemari
memperoleh keuntungan. Keadaan
oleh semua kelompok umur dan golongan
perekonomian Indonesia yang semakin sulit,
masyarakat disekitarnya. Hal ini dikawatirkan
harga bahan-bahan yang semakin meningkat
bakso yang dijual oleh penjual keliling
memacu penjual untuk lebih cerdik dalam
tersebut terdapat bahan tambahan makanan
memproduksi atau menjual makanan dengan
terlarang yaitu boraks yang dapat
harga tetap terjangkau (Koentjaraningrat,
membahayakan konsumen. Oleh karena itu,
2011).
penulis ingin mengetahui apakah bakso yang
Menurut Peraturan Mentri Kesehatan dijual tersebut mengandung boraks.
No.722/Menkes/Per/IX/1988) dan Peraturan
Adapun alasan peneliti memilih di wilayah
Mentri Kesehatan No.1168/2012 serta
Puskesmas Sukapakir Kecamatan Bojongloa
Undang-Undang No.7/1996 tentang
Kaler karena belum ada penelitian yang terkait
perlindungan pangan, namun dalam
tentang boraks khususnya pada bakso.
kenyataannya masih sering sekali ditemukan
Puskesmas hanya pernah melakukan uji boraks
kasus penggunaan boraks dalam berbagai
pada pengolahan cireng yang dijual pada
industri makanan di tanah air yaitu Indonesia.
daerah sekitar SMPN 33 yang letaknya berada
Hasil pemeriksaan laboratorium Badan POM
di wilayah Puskesmas Sukapakir Kecamatan
(Pemeriksa Obat dan Makanan) Denpasar
Bojongloa Kaler tersebut, selain itu ditemukan
terhadap bakso dan ikan segar di Jembrana
juga pada pengolahan makanan mie dan
(Bali), dari 35 sampel (22 penjual di
hasilnya positif mengandung bahan boraks.
Kec.Negara, 5 di Kecamatan Melaya, 7 di
Selain pelaku penjual yang menggunakan
Kecamatan Mendoyo dan satu penjual di
bahan berbahaya tersebut dalam produk
Kecamatan Perkutatan), 19 sampel (54, 29
mereka mungkin karena keinginan untuk
persen) diantaranya dinyatakan positif
mendapatkan untung yang besar dan
mengandung boraks. Jumlah kandungan
kurangnya pengetahuan terhadap bahaya yang
boraks yang ditemukan bervariasi antara 0, 63
terkandung dalam boraks pada kesehatan
ppm sampai 132, 142 ppm ( Menkes, 2014).
manusia. Menurut Suparinto dan Hidayati
Data Jawa Barat menurut Laporan pengamatan (2010) menyatakan dampak pada boraks dapat
Badan POM tahun 2014 ditemukan prevalensi menyebabkan racun dalam tubuh yaitu
formalin pada makanan sebesar 6,9 persen, penyakit gangguan ginjal, bahkan kematian
sedangkan prevalensi yang mengandung jika kadar boraks masuk dalam tubuh terus
boraks pada bakso sebanyak 75,8 persen, dari menerus.
data yang menunjukan diatas dapat diketahui
Faktor lain yang dapat mempengaruhi penjual
bahwa banyak makanan yang beredar
bakso yang menggunakan boraks diantaranya
dipasaran, sehingga dapat membahayakan dari
dipengaruhi oleh faktor predisposisi yang
segi lingkungan dan kesehatan bagi tubuh
mencakup pengetahuan, sikap, sistem nilai
manusia. Data Kota Bandung ditemukan
yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan,
Hanya empat sample yang dinyatakan bebas
tingkat sosial ekonomi. Faktor kedua, adalah
dari boraks dan formalin dan selebihnya
faktor pemungkin mencakup ketersediaan
ditemukan 52,38% boraks dalam bakso,
sarana dan prasarana atau fasilitas, faktor
ditemukan 42,60% dari 30 sampel bakso yang
ketiga yaitu faktor penguat yang mencakup
diambil dari pasar di daerah Bekasi dan
tokoh masyarakat, tokoh agama, petugas,
Jakarta (LPBP, 2014).
undang-undang, peraturan-peraturan
Berdasarkan data Dinkes Kota Bandung dapat menghentikan penggunaan boraks pada
diketahui dari 30 kecamatan dengan 180 makanan tidaklah cukup hanya dengan sebuah
sampel jajanan makanan, yang menunjukan

STIKes Dharma Husada Bandung 3


peraturan dengan pendekatan perubahan membuktikan bahwa uji kunyit dapat
perilaku (Notoatmodjo, 2010). mendeteksi boraks disertai tusuk gigi dengan
alasan disamping tusuk gigi bersifat ekonomis
Berdasarkan hasil wawancara pada penjual
dan praktis serta mudah dibawa kemana-mana
bakso dalam hal penggunaan pemakaian
juga simpel didukung tata cara penggunaan
boraks, tidak ada penjual yang menambahkan
tusuk gigi pada bakso.
boraks pada baksonya, dikarenakan
pengetahuan yang baik, akan tetapi para Penemuan uji boraks pada bakso sangat
penjual hanya menebak bahwa dengan beragam diantaranya dengan cara Supernatan
menggunakan bahan berbahaya boraks dalam yaitu bakso dipanaskan di atas penangas air,
produknya penjual menggap bahwa produknya ditambahkan H2SO4 pekat dan etanol, apabila
bisa bertahan lama dan mengerti bahaya dibakar nyala api berwarna hijau maka bahan
dampak dari boraks tersebut. Selain itu tujuan makanan tersebut mangndung boraks, selain
penggunaan boraks antara lain untuk: efisiensi penemuan tersebut ada cara lain diantaranya
karena dengan bahan berbahaya ini harganya yaitu dengan uji boraks menggunakan
murah, mudah didapat dan hanya dengan tradisional diantaranya yaitu dengan kunyit
menambahkan sedikit saja pada produknya dan tusuk gigi. Cara menggunakanya yaitu
sudah bisa mendapatkan hasil yang baik dan tusukkan gigi ke kunyit terlebih dahulu,
maksimal. Alasan yang kedua adalah untuk kemudian tusukkan pada makanan yang akan
memperbaiki nilai estetika karena bahan diuji selama 5 detik, maka akan kelihatan
tersebut membuat tampilan bakso dalam mie apakah makanan tesebut mengandung boraks
menjadi lebih menarik, antara lain: tidak atau tidak, karena kunyit akan bereaksi
berair, kenyal, dan memiliki warna yang cerah. terhadap bahan kimia. bila terdapat kandungan
Alasan lain penggunaan bahan tersebut adalah boraxnya, maka tusuk gigi tesebut akan
untuk meningkatkan daya tahan produk, berwarna merah bata .
dimana seperti kita ketahui pangan segar
Berdasarkan latar belakang dan fenomena
dalam suhu kamar hanya dapat bertahan 1-2
diatas yang diperkuat oleh hasil temuan-
hari, tetapi dengan menambahkan boraks dapat
temuan penelitian yang lain dan jurnal-jurnal,
bertahan sampai 15 hari, dan ini sangat
maka peneliti tertarik untuk melakukan
menguntungkan penjual.
penelitian mengetahui Boraks Pada Bakso dan
Untuk memperkuat alasan peneliti tentang Perilaku Penggunaan Boraks pada penjual
boraks dicantumkan beberapa temuan-temuan Bakso di Wilayah Kerja Puskesmas Sukapakir
tentang boraks yaitu yang dilakukan Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung
Hikmawati di kota Medan tahun 2010, Tahun 2016
diperoleh hasil Sampel bakso, dari 12 sampel
diperoleh 100% positif mengandung boraks,
METODOLOGI PENELITIAN
dan 65 sampel lainya negatif, namun tidak
selaras dengan penelitian Andi di Makasar Pada penelitian ini menggunakan penelitian
(2012) yang menemukan hasil bakso yang deskriptif yaitu suatu metode penelitian untuk
dijual adalah negatif. Penelitian Pramutia mendeskriptifkan atau menguraikan suatu
(2013) di Makasar bakso yang diuji tidak keadaan di dalam suatu komunitas atau
menunjukan tanda-tanda perubahan warna Masyarakat (Notoatmodjo, 2010). Pada
pada Kurkumin dan nyala api yang artinya penelitian ini bertujuan untuk Identifikasi
tidak terdapat boraks, akan tetapi 45 dari 2 Boraks Pada Bakso dan Perilaku Penggunaan
bakso ada yang menunjukan boraks terdapat 5 Boraks pada penjual Bakso di Wilayah Kerja
sampel bakso, begitupun penelitian Rahman Puskesmas Sukapakir Kecamatan Bojongloa
(2011) dilakukan di Bali yang tidak Kaler Kota Bandung
menemukan hasil uji laboratorium bahwa Pendekatan waktu dalam pengumpulan data
bakso tidak mengandung boraks. menggunakan pendekatan survey deskriptif
Selain itu pihak dinas melalui Puskesmas adalah suatu desain penelitian yang digunakan
hanya dilakukan 1 kali dalam setahun terakhir untuk menyediakan informasi yang
yaitu pada tahun 2012 dengan uji boraks hanya menggambarkan tentang prevalensi yang
4 sampel bakso, oleh karena itu peneliti ingin digunakan dalam penelitian ini yaitu untuk
mencoba terjun langsung dengan mengetahui Identifikasi Boraks Pada Bakso

STIKes Dharma Husada Bandung 4


dan Perilaku Penggunaan Boraks pada penjual menyusun instrumen hubungan faktor
Bakso di Wilayah Kerja Puskesmas Sukapakir pengetahuan, sikap, tingkat pendidikan,
Kecamatan Bojongloa Kaler Tahun 2016. tingkat sosial ekonomi, tempat penyedia
boraks dengan penggunaan boraks pada
Sedangkan untuk uji boraks dilakukan dengan
penjual bakso. Selanjutnya instrumen tersebut
cara pemeriksaan sampel bakso yang diambil
disusun menjadi instrumen yang digunakan
dari setiap sampel pada penjual bakso masing-
untuk mengumpulkan data, sebelumnya
masing 2 sampel, kemudian dilakukan uji
dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada
laboratorium dan dilakukan uji kunyit dan
instrumen tersebut (Notoatmodjo, 2012).
tusuk gigi.
Sedangkan untuk mendeteksi boraks pada
bakso peneliti dapat melakukan dengan cara
Variabel penelitian
tradisional yaitu menggunakan kunyit dan
Variabel adalah suatu sifat yang akan diukur tusuk gigi, serta langkah-langkah dan cara
atau diamati yang nilainya bervariasi antara kerja (terlampir).
satu objek ke objek lainnya dan terukur
Pada deteksi boraks ini dilakukan pemeriksaan
(Rianto, 2011). Variabel pada penelitian ini
awal dari 76 sampel mengggunakan tusuk gigi,
yang digunakan yaitu faktor pengetahuan,
apabila ditemukan postif boraks dari jumlah
sikap, tingkat pendidikan, tingkat sosial
sampel tersebut dilanjutkan dengan tes
ekonomi, tempat penyedia boraks
penegasan di Laboratorium kesehatan kota
Bandung dengan metode kurkumin.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian Uji Validitas dan Reliabilitas
atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2012).
Uji validitas dilakukan untuk menguji
Berdasarkan data yang diperoleh populasi
ketepatan setiap item dalam mengukur
dalam penelitian ini adalah seluruh penjual
instrumennya. Teknik uji yang digunakan
bakso keliling di Wilayah Kerja Puskesmas
adalah teknik Korelasi Item-Total melalui
Sukapakir Kecamatan Bojongloa Kaler Kota
Koefisien Korelasi Product-Moment dengan
Bandung sebanyak 76 orang.
ketentuan: bila r hasil > r tabel, maka
Sampling adalah suatu cara yang ditempuh pertanyaan yang diuji kevalidannya
dengan pengambilan sampel yang benar-benar korelasikan dengan skor total seluruh item
sesuai dengan keseluruhan obyek penelitian. Instrumen (Arikunto, 2014).
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian
Teknik korelasi yang dipakai adalah teknik
ini adalah total sampling. Total sampling
korelasi “product moment” yang dirumuskan
adalah teknik pengambilan sampel dimana
sebagai berikut :
jumlah sampel sama dengan populasi 𝑵(∑ 𝑿𝒀)−(∑ 𝑿 ∑ 𝒀)
(Sugiyono, 2014). Alasan mengambil total rxy =
√{∑ 𝑿𝟐−(∑ 𝑿)𝟐}−{𝑵 ∑ 𝑿𝟐 −(∑ 𝑿)𝟐 }
sampling karena menurut Sugiyono (2007) Keterangan :
jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh rxy : Indeks dua variabel korelasi
populasi dijadikan sampel penelitian X : Skor rata-rata dari X
semuanya. Jadi jumlah sampel dalam Y : Skor rata-rata dari Y
penelitian ini yaitu sebanyak 76 orang.
Pada peneliti ini dengan jumlah Responden
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang yang dibutuhkan sebanyak 30 orang dengan r
digunakan untuk pengumpulan data. Instrumen tabel 0,361 dan ditentukan berdasarkan nilai
yang digunakan dalam pengumpulan data baku dimana, jika r hitung >0,361= Valid, dan
kuantitatif dalam penelitian ini berupa <0,361=tidak valid.
kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah
pertanyaan atau pernyataan tertulis yang Hasil uji validitas yang dilakukan terhadap 30
digunakan untuk memperoleh informasi dari orang diketathui bahwa masing-masing
responden dalam arti laporan tentang variabel menunjukan nilai tertinggi untuk
pribadinya atau hal-hal yang diketahui variabel pengetahuan yaitu sebesar 974 dan
(Notoatmodjo, 2012). Langkah-langkah nilai terendah sebesar 581. Variabel sikap nilai
penyusunan kuesioner dilakukan dengan tertinggi sebesar 957 dan nilai terendah
sebesar 769. Vaiabel perilaku diketahui nilai

STIKes Dharma Husada Bandung 5


tertinggi sebesar 688 dan nilai terendah 4. Setelah dilakukan pemeriksaan bakso
sebesar 374. Hasil uji validitas menunjukan selama 1 minggu, peneliti membagikan
bahwa r tabel tidak ada yangmenunjukan lebih kuesioner, dan dibacakan oleh peneliti.
rendah dari nilai r hitung maka dinyatakan 5. Kuesioner ini bertujuan untuk mengetahui
seluruh item pernyataan tersebut adalahvalid pengetahuan, sikap dan perilaku,
dan sudah layak digunakan penelitian kepada pendidikan responden.
76 orang. 6. Setelah pertanyaan dalam kuesioner
tersebut terisi penuh, peneliti memeriksa
jawaban responden, barangkali mungkin
Uji Reliabilitas
ada item pertanyaan yang belum terisi.
Menurut Notoatmodjo (2014), reliabilitas 7. Setelah dilakukan pemeriksaan kuesioner
adalah indeks yang menunjukan sejauh mana tersebut peneliti melakukan analisis dan
suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat dipaparkan dalam BAB IV.
diandalkan. Uji reliabilitas dilakukan untuk
menguji kehandalan atau konsistensi
Teknik Pengolahan dan Analisa Data
instrument. Item-item yang dilibatkan dalam
uji reliabilitas adalah seluruh item yang valid Proses pengolahan data ini melalui tahap-tahap
atau setelah item yang tidak valid disisihkan. sebagai berikut : Editing (Pengeditan Data),
Coding (Pengkodean), Data Entry (Pemasukan
Untuk mengukur reliabilitas secara statistik
Data), Cleaning Data (Pembersihan Data).
digunakan koefisien reliabilitas alpha
Pada analisis data ini dilakukan Analisis
cornbach Azwar (2009)yang dirumuskan
Univariat yaitu analisa yang menjelaskan atau
sebagai berikut:
𝒌 𝟏−∑ 𝒔𝟐𝒋
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel
α = [𝒌−𝟏] − [ 𝒔𝟐𝒙 ] penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini
Dimana : hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan
 : Koefisien reliabilitas alpha persentase dari tiap variabel (Notoatmodjo,
K : Banyaknya item pernyataan 2014). Adapun analisis dalam penelitian ini
s2 j : Varians skor setiap item yaitu menggunakan rumus persentase
s2 x : Varians skor total frekuensi yaitu untuk mengetahui hasil
persentase dalam setiap kategori dari jawaban
Jumlah Responden yang dibutuhkan sebanyak responden digunakan rumus sebagai berikut:
30 orang. Ketentuannya bila r alpha >
konstanta (0,6) maka pertanyaan tersebut 𝒇
𝑷= 𝟏𝟎𝟎%
reliabel (Riyanto, 2011). 𝑵
Keterangan :
Hasil uji reliabilitas dapat dipaparkan sebagai P = presentase untuk setiap kategori
berikut, untuk variabel pengetahuan diketahui f = jumlah setiap kategori
nilai alpha cornbach sebesar 982, variabel N = jumlah total responden
sikap sebesar 958 dan variabel perilaku
sebesar 731. Hasil reliabilitas dari masing-
masing variabel dinyatakan sudah reliabel dan HASIL DAN PEMBAHASAN
sudahlayak digunakan untuk penelitian.
Tabel 4.1 Identifikasi Boraks Pada Bakso
Pengumpulan data ini dilakukan tahapan uji Laboratorium dan kunyit dan tusuk gigi
sebagai berikut : dengan di Wilayah Kerja Puskesmas
1. Peneliti meminta ijin kepada penjual Sukapakir
bakso dengan cara menggunakan informed No Uji Uji kunyit Keterangan
consent dan diijinkan. Sampel laboratorium dan tusuk
gigi
2. Peneliti mengujikan pemeriksaan sampel Sampel 1 Negatif Negatif Negatif,
bakso yang kemungkinan ada kandungan Sampel 2 Negatif Negatif Negatif,
boraks didalam bakso dengan uji Sampel 3 Negatif Negatif Negatif,
Sampel 4 Negatif Negatif Negatif,
laboratorium (sampel 1-10) dan uji kunyit Sampel 5 Negatif Negatif
dan tusuk gigi (sampel 1-76). Sampel 6 Negatif Negatif
Sampel 7 Negatif Negatif
3. Pada pengambilan sampel bakso tersebut Sampel 8 Negatif Negatif
peneliti dibantu oleh 1 orang natural Sampel 9 Negatif Negatif
leader Sampel 10 Negatif Negatif

STIKes Dharma Husada Bandung 6


Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa hasil 49 orang atau 64,5%, dan toko obat yaitu 41
uji boraks yang dilakukan dengan dua cara orang atau 53,9%.
yaitu sampel bakso 1-10 menggunakan uji
laboratorium dan kemudian dilakukan ulang
Pembahasan
uji boraks antara sampel bakso 1-76 dengan
cara menggunakan uji kunyit dan tusuk gigi Berdasarkan tabel 4.1 dari 76 sampel diketahui
dan hasilnya dapat dilihat (lampiran), dari pada sampel bakso dari 1 sampai 10 dilakukan
hasil uji tersebut bahwa keduanya dapat dengan uji laboratorium, kemudian dilanjutkan
mendeteksi boraks pada bakso dan dari sampel bakso 1-76 dilakukan dengan uji
menunjukan negatif dan uji kunyit dan tusuk kunyit dan tusuk gigi. Hasil uji tersebut
gigi ternyata bisa mendeteksi boraks. menunjukan hampir seluruhnya sampel bakso
tersebut negatif.
Tabel 4.2 Gambaran Penggunaan Boraks Pada sampel bakso dilakukan 2 uji 10 bakso
pada penjual bakso di Wilayah Kerja diantaranya dilakukan dengan uji
Puskesmas Sukapakir Laboratorium dengan tahapan sebagai berikut :
Penggunaan boraks f %
sampel diambil (dibeli) dari penjual bakso
Menggunakan boraks 0 0
yang dijual di sekitar Wilayah kerja
Tidak menggunakan boraks 76 100
Total n=76 100.0 Puskesmas Sukapakir Waktu pengambilan
Sampel 1 sampai dengan sampel 10 diambil
Berdasarkan 4.2 diketahui tentang penggunaan pada pagi hari dan dibantu oleh natural leader.
boraks dari 76 orang hampir seluruhnya 76 Identifikasi boraks menggunakan metode Easy
orang atau 100% penjual bakso tidak Test dengan cara, campur sampel yang telah
menggunakan boraks dicincang dengan HCL teknis dengan jumlah
yang sama banyak, tambahkan reagen cair
Tabel 4.3 Gambaran pengetahuan penjual sebanyak 10 tetes, campur, tempelkan kertas
bakso tentang boraks di Wilayah Kerja uji pada sampel amati perubahan yang terjadi.
Puskesmas Sukapakir Kertas uji tidak ada yang berubah menjadi
Pengetahuan f %
merah bata . bata dan menunjukan tidak
Baik 36 47,4 adanya kandungan boraks pada sampel bakso.
Cukup 32 42,1 Sedangkan uji boraks dengan menggunakan
Kurang 8 10,5 kunyit dan tusuk gigi tahapannya sebagai
Sikap berikut, sampel bakso diambil (membeli) dari
Positif 52 68,4
penjual bakso yang dijual di sekitar Wilayah
Negatif 24 31,6
kerja Puskesmas Sukapakir Waktu
Tingkat pendidikan
pengambilan Sampel 1 sampai dengan sampel
Tidak Sekolah 9 11,8
SD 32 42,1 76, kemudian, tusukkan tusuk gigi pada kunyit
SMP 26 34,2 terlebih dahulu, kemudian tusukkan pada
SMA 9 11,8 makanan yang akan diuji, setelah kira-kira 5
Sosioekonomi detik, maka akan terlihat apakah makanan
Rendah 27 35,5 tersebut mengandung boraks dan tidak ada
Tinggi 49 64,5 yang menunjukan perubahan warna, kunyit
Tempat Boraks tidak bereaksi terhadap bahan kimia termasuk
Toko Obat 41 53,9 boraks yaitu dengan tidak ada perubahan
Toko Bahan Kue 33 43,4 warna. Bila makanan mengandung boraks,
Toko Kimia 2 2,6 maka tusuk gigi tersebut akan berwarna merah
Total n=76 100.0 bata. Hasilnya menunjukan tidak ada
perubahan warna pada tusuk gigi tersebut
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa artinya bakso tidak menunjukan positif.
pengetahuan penjual bakso dari 76 orang
tentang boraks hampir separuhnya memiliki Sejalan dengan yang telah dilakukan pada
penelitian Limit Of Detection (LOD) metode
pengetahuan baik yaitu 36 orang atau 47,4%,
memiliki sikap postif sebanyak 52 orang atau identifikasi boraks dengan kertas kurkumin.
68,4%, tingkat pendidikan SD yaitu 32 orang Hal ini bertujuan untuk mengetahui
atau 42,1%, tingkat sosioekonomi tinggi yaitu konsentrasi terkecil boraks pada sampel yang

STIKes Dharma Husada Bandung 7


masih bias dideteksi dengan metode ini. Proses dan C yang beredar di SDN Kompleks
penentuan LOD dilakukan dengan cara yang Mangkura tidak teridentifikasi adanya boraks
sama seperti perlakuan pada sampel. Hasil dan bebas dari kandungan boraks. Tidak dapat
yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.1. dilakukan penelitian kuantitatif untuk
Dari tabel tersebut dapat diketahui 10 sampel mengetahui kadar boraks dari jajanan bakso
bakso tidak menunjukan negatif begitupun karena pada penelitian menghasilkan nilai
pada bakso 76 sampel hasilnya sama yang negatif (tidak mengandung boraks).
menunjukan negatif.
Asumsi peneliti hampir semua bakso
Menurut Cahyadi (2010) secara teori menunjukan hasilnya negatif, baik hasil uji
dijelaskan bahwa senyawa asam boraks ini laboratorium maupun hasil uji kunyit dan
mempunyai sifat-sifat kimia sebagai berikut: tusuk gigi. Hal tersebut pembinaan kepada
jarak lebur sekitar 171°C, larut dalam 18 responden adalah terus melakukan
bagian air dingin, 4 bagian air mendidih, 5 pemantauan dan pembinaan, karena walapun
bagian gliserol 85% dan tak larut dalam eter. tidak ada bakso yang menunjukan positif
Kelarutan dalam air bertambah dengan boraks, akan tetapi banyak item uji yang
penambahan asam klorida, asam sitrat atau terdapat didalam bakso seperti mie, kecap,
asam tetrat. Mudah menguap dengan saos yang kemungkinan terdapat kandungan
pemanasan dan kehilangan satu molekul boraks. Selain itu ditinjau dari karakteristik
airnya pada suhu 100°C yang secara perlahan responden juga berbeda-beda, memiliki
berubah menjadi asam metaborat (HBO2). pengetahuan baik, sikap positif, dan
Asam boraks merupakan asam lemah dan pendidikan SD. Walapun pendidikan rendah
garam alkalinya bersifat basa. Satu gram asam akan tetapi mereka tahu bahaya dari boraks
boraks larut sempurna dalam 30 bagian air, tersebut, pernyataanya bahwa boraks yang
menghasilkan larutan yang jernih dan tak terkandung didalam bakso, jika dikonsumsi
berwarna. Asam boraks tidak tercampur terus menerus akan menyebabkan sakit bahkan
dengan alkali karbonat dan hidroksida. kematian.
Kurkumin mempunyai rumus molekul Untuk memperkuat pada penelitian ini bahwa
C21H20O6 (BM = 368). Sifat kimia kurkumin hasil menunjukan dari 76 bakso yang diperiksa
yang menarik adalah sifat perubahan warna dan hasilnya negatif. Hal tersebut senada
akibat perubahan pH lingkungan. Kurkumin dengan penelitian Rahman (2011) dilakukan di
berwarna kuning atau kuning jingga pada Bali yang tidak menemukan hasil uji
suasana asam, sedangkan dalam suasana basa laboratorium bahwa bakso tidak mengandung
berwarna merah bata (Svehla, 2012). boraks. Penelitian Sinta (2012) yang
menemukan sama bahwa sampel bakso dari 35
Bakso yang menggunakan boraks memiliki
yaitu negatif, senada dengan yang telah
kekenyalan khas yang berbeda dari kekenyalan
dilakukan Irma (2010) di Manado menunjukan
bakso yang menggunakan banyak daging.
dari 65 sampel bakso adalah negatif, diperkuat
Kerupuk yang mengandung boraks kalau
dengan penelitian Dandik (2011) dari sampel
digoreng akan mengembang dan empuk,
bakso yang diteliti sebanyak 110 sampel
teksturnya bagus dan renyah. Ikan basah yang
menunjukan negatif dan tidak mengandung
tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar,
boraks.
insang berwarna merah bata dan tidak
cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas
formalin. Tahu yang berbentuk bagus, kenyal, Gambaran penggunaan boraks pada
tidak mudah hancur, awet hingga lebih dari 3 penjual bakso tentang boraks di Wilayah
hari, bahkan lebih dari 15 hari pada suhu Kerja Puskesmas Sukapakir
lemari es, dan berbau menyengat khas
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui
formalin. Mie basah biasanya lebih awet
bahwa dari 76 orang tidak menggunakan
sampai 2 hari pada suhu kamar (25 derajat
boraks dari hasil uji laboratorium dan uji
celcius), berbau menyengat, kenyal, tidak
kunyit dan tusuk gigi membuktikan bahwa
lengket dan agak mengkilap (Yuliarti, 2013).
hasilnya menunjukan negatif yang artinya
Selaras dengan penelitian Pramutia (2013) seluruhnya para penjual bakso tidak
bahwa bakso yang dianalisis dengan metode menambahkan bahan makanan boraks
nyala api membuktikan bahwa sampel A, B, kedalam baksonya.

STIKes Dharma Husada Bandung 8


Hal ini dihubungan dari hasil uji boraks iritasi pada lambung, dan atau menyebabkan
menunjukan negatif dan hasil kuesioner yang gangguan pada ginjal, hati, dan testes (Suklan,
menunjukan pengetahuan responden sebagian 2013)
besar memiliki pengetahuan baik sebanyak 36
Selaras dengan penelitian Habsah (2012) yang
orang (47,4), sikap postif sebanyak 52 orang
mendapatkan hasil hampir seluruhnya 74%
(68,4), pendidikan SD sebanyak 32 orang atau
memiliki pengetahuan yang baik, disebabkan
(42,1%) walapun pendidikan SD akan tetapi
karena informasi yang ia dapatkan terhadap
mereka tahu dari informasi yang ia dapatkan
bahaya yang terkandung dalam boraks sangat
dari media televisi dan surat kabar bahwa
berbahaya bagi tubuh dan kesehatan.
bahaya boraks dapat berbahaya dalam tubuh
dan berdampak pada kesehatan seperti Menurut Koentjaraningrat (2011) menyatakan
penyakit hati dan kematian. Oleh karena itu bahwa pengetahuan merupakan perlakuan
mereka tidak menggunakan boraks yang melibatkan penafsiran melalui proses
dilarang oleh pemerintah. pemikiran tentang apa yang dilihat, didengar,
dialami atau dibaca sehinggga pengetahuan
Pandangan peneliti bahwa diketahui hampir
memengaruhi tingkah laku, percakapan, serta
seluruhnya dari penjual bakso tidak
perasaan seseorang. Diperkuat oleh teori
menggunakan boraks karena dipengaruhi oleh
Robert Kwick (2014) yang menyatakan bahwa
pengetahuan baik, sikap bositif dan informasi
perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu
yang ia dapatkan dari media massa, media
organisme yang dapat diamati dan dipelajari.
elektronik juga media surat kabar yang
Perilaku tidak sama dengan sikap. Sikap
mengatakan bahwa boraks adalah bahan
hanyalah sebagian dari perilaku manusia.
berbahaya bagi tubuh.
Dalam proses pembentukan dan atau
perubahan, perilaku dipengaruhi oleh beberapa
Gambaran pengetahuan penjual bakso faktor yang berasal dari dalam dan dari luar
tentang boraks di Wilayah Kerja individu itu sendiri
Puskesmas Sukapakir
Pandangan peneliti dari hasil jawaban
Berdasarkan hasil penelitian tentang kuesioner responden menyatakan bahwa
pengetahuan penjual bakso diketahui bahwa hampir seluruh pertanyaan tentang pengertian
dari 76 orang tentang boraks yang memiliki boraks berhasil ia jawab dengan benar yaitu
pengetahuan baik sebanyak 36 orang (47,4), menyatakan zat berbahaya yang tidak diijinkan
yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak digunakan dalam berbagai campuran makanan.
32 orang (42,1) dan yang memiliki Walapun para penjual bakso memiliki
pengetahuan kurang sebanyak 8 orang pengetahuan kurang akan tetapi mereka tidak
(10,5%). Hasil uji statistik didapatkan paling mencampurkan bahan makanan seperti boraks
banyak pengetahuan tentang boraks di kedalam baksonya. Hal ini diketahui bahwa
Wilayah Kerja Puskesmas Sukapakir yaitu pengetahuan kurang mereka tahu informasi
baik. Hal ini pengetahuan yang dimiliki oleh dari media elektronik seperti televisi, radio dan
penjual bakso sangat ditentukan dengan surat kabar bahwa borkas adalah racun dalam
pengguna boraks dengan segala informasi tubuh yang dapat berdampak kematian.
yang diterima dari luar terutama tentang
pentingnya keteraturan perilaku boraks
Gambaran sikap penjual bakso tentang
sebagaimana dalam Peraturan Menteri
boraks di Wilayah Kerja Puskesmas
Kesehatan No. 722/MenKes/Per/IX/88 boraks
Sukapakir
dinyatakan sebagai bahan berbahaya dan
dilarang untuk digunakan dalam pembuatan Hasil penelitian sikap penjual bakso dari 76
makanan. Dalam makanan boraks akan orang yang memiliki sikap postif sebanyak 52
terserap oleh darah dan disimpan dalam hati. orang (68,4%), yang memiliki sikap negatif
Karena tidak mudah larut dalam air boraks sebanyak 24 orang (31,6%). Hasil uji statistik
bersifat kumulatif. Dari hasil percobaan didapatkan di Wilayah Kerja Puskesmas
dengan tikus menunjukkan bahwa boraks Sukapakir paling banyak sikap positif. Hal ini
bersifat karsinogenik. Selain itu boraks juga sikap dapat dirumuskan sebagai kecendrungan
dapat menyebabkan gangguan pada bayi, untuk merespon (secara positif atau negatif)
gangguan proses reproduksi, menimbulkan terhadap orang, objek atau situasi tertentu.

STIKes Dharma Husada Bandung 9


Sikap penjual bakso memandang bahwa sanitasi serta persyaratan kesehatan juga
boraks dapat berbahya bagi kesehatan. rendah. Sebagai akibatnya sikap dan perilaku
yang ditunjukkannya juga tidak sesuai dengan
Selaras dengan penelitian Ira (2013) yang
nilai-nilai yang diharapkan. Seperti dapat
menunjukan hasil bahwa sebagian responden
diketahui bahwa meskipun telah ada peraturan
dari 105 orang, responden memiliki sikap yang
yang melarangnya, penggunaan boraks dan
sedang, dan 69 (65,7%) responden dan
bahan pewarna yang berbahaya masih banyak
memiliki perilaku yang sedang.
dilakukan dalam pembuatan makanan,
Menurut Notoatmodjo, (2012) Sikap adalah terutama bakso. Pemakaian bahan-bahan
merupakan reaksi atau respon seseorang yang tersebut dalam pembuatan makanan tidak
masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau makin berkurang tetapi makin bertambah.
objek. Sikap tidak dapat langsung dilihat,
Menurut pandangan peneliti walapun ia
tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu
berpendidikan SD akan tetapi ia tahu bahaya
dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata
boraks yang akan menyebabkan kematian
menunjukkan konotasi adanya kesesuaian
apabila terus menerus dikonsumsi kedalam
reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam
tubuh. Hal ini walapun berpendidikan rendah
kehidupan sehari-hari adalah merupakan
dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang
reaksi yag bersifat emosional terhadap
sebagian besar para penjual bakso banyak
stimulus sosial.
yang tidak menggunakan boraks, maka semua
Pandangan peneliti dari hasil jawaban orang tidak menggunakan boraks.
kuesioner paling banyak menjawab sangat
setuju bahwa borks dalam bakso jika
Gambaran sosioekonomi penjual bakso
dikonsumsi dalam jumlah banyak dapat
tentang boraks di Wilayah Kerja
menyebabkan demam dan depresi.
Puskesmas Sukapakir
Berdasarkan hasil penelitian sosioekonomi
Gambaran tingkat pendidikan penjual
penjual bakso dari 76 orang yang memiliki
bakso tentang boraks di Wilayah Kerja
sosioekonomi rendah sebanyak 27 orang
Puskesmas Sukapakir
(35,5), yang memiliki sosioekonomi tinggi
Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat sebanyak 49 orang (64,5). Statistik
pendidikan penjual bakso dari 76 orang yang menunjukan bahwa di Wilayah Kerja
tidak sekolah sebanyak 9 orang atau (11,8%), Puskesmas Sukapakir paling banyak
pendidikan SD sebanyak 32 orang atau sosioekonomi tinggi. Hal ini pendapatan hasil
(42,1%), pendidikan SMP sebanyak 26 orang dari menjual bakso yaitu sebesar dua juta
atau (34,2%) dan pendidikan SMA sebanyak 9 rupiah perbulan, selain itu responden
orang atau (11,8%). Hasil statistik didapatkan beranggapan bahwa dengan tidak
paling banyak penjual bakso dengan menggunakan boraks pun ia laku dalam
pendidikan SD. Hal ini walapun berpendidikan berjualan sekitar tempat yang ia kunjungi
rendah akan tetapi ia tahu bahwa boraks sangat seperti masyarakat sekitar wilayah tersebut.
berbahaya bagi kesehatan dan boraks juga
Selaras dengan hasil penelitian Neng Lia
sangat dilarang oleh pemerintah.
(2013) yang menunjukan hasil hampir seluruh
Selaras dengan penelitian Yunarni (2009) yang pedagang bakso memiliki pendapatan dua
menunjukan hasil bahwa pedagang dengan ratus ribu rupiah perhari jika dikaikan satu
tingkat pendidikan tamat pendidikan dasar 9 bulan mencapai lima juta perbulan.
tahun atau lebih sebesar 60% dan tingkat
Pada dasarnya keluarga yang sosial
pendidikan tidak ada hubungan dengan
ekonominya rendah akan mendapat kesulitan
keberadaan boraks pada bakso
untuk membantu seseorang mencapai
Sedangkan menurut Sri (2006) berbeda kesehatan yang optimal (Supartini, 2004).
pandangan bahwa pendidikan menyatakan Sebaliknya dengan ekonomi keluarga yang
para penjul bakso pada umumnya memiliki meningkat, maka kemampuan dalam
pendidikan rendah. Karena pendidikannya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
yang rendah ini maka pengetahuannya tentang keluarga dalam hal ini penjual bakso dapat
kaidah-kaidah kebersihan (higiene) dan

STIKes Dharma Husada Bandung 10


meningkatkan sosioekonomi mereka dari segi menunjukan negatif, alasannya besar
keluarga (Notoatmodjo, 2010). kemungkinan jika dikaitkan dengan hasil
kuesioner menunjukan pengetahuan baik
Pandangan peneliti dari pernyataan responden
tentang boraks pada responden, mereka tahu
bahwa sebagian memiliki tingkat
dari informasi media televisi ataupun surat
sosioekonomi yang tinggi dan dengan
kabar bahwa boraks adalah bahan tambahan
demikian semakin tingkat sosioekonomi tinggi
makanan yang dilarang oleh pemerintah dan
maka mereka mampu membeli daging untuk
dapat membahayakan dalam tubuh.
mencampurkan bahan bakso seperti mie, toge
dan bahan lainya yaitu saos dan kecap, Kemudian dilihat dari tingkat sosioekenomis
sehingga mereka termotivasi untuk menjual diketahui bahwa pendapatan responden dalam
bakso tanpa adanya bahan tambahan boraks penghasilan menjual bakso perhari cukup
kedalam baksonya. tinggi, sehingga mampu membeli daging dan
mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Maka
dari itu responden tidak menggunakan boraks.
Gambaran tempat boraks yang diketahui
oleh penjual bakso di Wilayah Kerja Sedangkan jika dikaitkan dengan dinas
Puskesmas Sukapakir kesehatan tentang pemeriksaan deteksi boraks
dari dines melalui puskesmas hanya dilakukan
Hasil penelitian menunjukan bahwa tempat
1 kali dalam setahun itupun hanya jumlah
boraks yang diketahui oleh penjual bakso dari
sampel terbatas yaitu 4 sampel bakso saja, dan
76 orang yang mengatakan toko obat sebanyak
besar kemungkinan dari informasi
41 orang atau (53,9%), yang mengatakan toko
pemeriksaan dalam setahun itulah para penjual
bahan kue sebanyak 33 orang (43,4%) dan
bakso dilakukan penyuluhan dan diberikan
yang mengatakan toko kimia sebanyak 2 orang
tanda alat kontrol seperti label stiker makanan
atau (2,6%). Hasil statistik menunjukan bahwa
aman bebas boraks dan penjual bakso tidak
sebagian responden tahu bahwa tempat penjual
menggunakan boraks dan hasilnya negatif.
boraks adalah toko obat. Hal ini pernyataan
responden adalah salah yang pada dasarnya
penjualan boraks dijual di toko kimia, maka SIMPULAN DAN SARAN
dari itu responden menjawab tempat penjualan
Simpulan
boraks tidak dapat dijual bebas.
1. Berdasarkan hasil uji boraks didapatkan
Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya dari 76 sampel bakso di Wilayah Kerja
untuk pangan dengan nama kimianatrium Puskesmas Sukapakir menunjukan tidak
tetrabonat. Dapat dijumpai dalam bentuk padat mengandung boraks atau negatif.
dan jika larut dalam air akan menjadi natrium 2. Hampir seluruhnya dari 76 orang penjual
hidroksida dan asam boraks. Boraks atau asam bakso di Wilayah Kerja Puskesmas
boraks biasa digunakan sebagai bahan Sukapakir tidak menggunakan boraks
pembuat deterjen, bersifat antiseptik dan atau 100%
mengurangi kadar air. Bahan berbahaya ini 3. Didapatkan gambaran pengetahuan
haram digunakan untuk makanan. penjual bakso tentang boraks di Wilayah
Kerja Puskesmas Sukapakir menunjukan
Pandangan peneliti seharusnya boraks tidak
pengetahuan baik sebanyak 36 orang atau
dijual bebas baik ditoko obat, toko kimia dan
47,4%.
toko bahan kue, karena sudah jelas bahwa
4. Didapatkan gambaran sikap penjual bakso
pemerintah telah mengharamkan boraks
tentang boraks di Wilayah Kerja
sebagai bahan tambahan, selain berbahaya
Puskesmas Sukapakir sikap postif
dalam tubuh boraks juga dapat menyebabkan
sebanyak 52 orang atau 68,4%.
kematian.
5. Didapatkan gambaran tingkat pendidikan
Simpulan akhir pada penelitian ini selain uji penjual bakso tentang boraks di Wilayah
laboratorium ternyata kunyit dan tusuk gigi Kerja Puskesmas Sukapakir SD sebanyak
juga dapat mendeteksi boraks, disamping 32 orang atau 42,1%.
harganya ekonomis tusuk gigi juga sangat 6. Didapatkan gambaran Sosioekonomi
praktis dan bisa dibawa kemana-mana, penjual bakso tentang boraks di Wilayah
sehingga mempermudah peneliti untuk Kerja Puskesmas Sukapakir
melakukan uji boraks tersebut dan hasilnya

STIKes Dharma Husada Bandung 11


sosioekonomi tinggi sebanyak 49 orang Cahyadi, 2013. Analisis dan Aspek Kesehatan
64,5%. Bahan Tambahan Pangan. Cetakan
7. Didapatkan gambaran tempat boraks yang Revisi. PT. Bumi Aksara. Jakarta
diketahui oleh penjual bakso di Wilayah
Depkes RI, 2001. Farmakope Indonesia Edisi
Kerja Puskesmas Sukapakir toko obat
sebanyak 41 orang atau 53,9%. III. Jakarta : Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan
Depkes RI, 2002. Peraturan Menter Kesehatan
Saran
Nomor 1168/Menkes/Per/X/1999 tentang
1. Bagi Puskesmas
Perlu diadakan pemberian pengawasan Bahan Tambahan Makanan; Jakarta
tanda alat kontrol (label stiker makanan Ditjen POM. 1979. Farmakope
aman bebas boraks pada setiap penjual Indonesia.
bakso) bahwa ia telah bebas dari bahan Emil Salim, 2012. Lingkungan Hidup dan
penggunaan boraks, dan serta diberikan Pembangunan. PT. Bumi Aksara. Jakarta
informasi yang edukatif dan lebih
Hidayat, 2007. engantar Kebutuhan Dasar
meningkatkan perhatian dari tenaga
kesehatan dan dinkes, agar selalu tidak Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses
menggunakan boraks. Keperawatan Buku 1, Jakarta: Salemba
2. Bagi Masyarakat Medika
Memberikan pemahaman tentang deteksi Hidayati, 2011. Membuat Pewarna Alami.
boraks sederhana kepada masyarakat dan Surabaya : Trubus Agrisarana.
teman sejawat dengan kunyit dan tusuk Koentjaraningrat, 2011. Manusia dan
gigi, sehingga dapat dijadikan bagaimana
Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta:
cara uji boraks yang terkandung dalam
bakso. Djambatan
3. Bagi Penjual Bakso Menkes, 2014. Tentang Kasus Penggunaan
Diharapkan dapat menggali lebih dalam Boraks Dalam Berbagai Industri
kepada responden yang masih memiliki Makanan Di Tanah Air.
pengetahuan kurang, sikap negatif dan Misyka, 2014. Judul Analisis Faktor Resiko
pendidikan rendah tentang informasi
Pencemaran Bahan Toksik Boraks Pada
bahaya penggunaan boraks, baik dari
Bakso Di Kelurahan Ciputat. Diunduh
media massa, maupun media elektronik.
4. Peneliti Selanjutnya dari
Lebih menggali lebih dalam lagi dari http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstr
penjual bakso, sehingga dapat menemukan eam/123456789/25614/1/MISYKA%20
penomena yang lain, seperti uji boraks NADZIRATUL%20HAQ%20-
pada mie, saos dan kecap. %20fkik.pdf. Diakses pada tanggal 12
Februari (Jurnal Tersedian Online).
DAFTAR PUSTAKA
Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2012). Mujiantol, 2013. Awas, Bahaya Dibalik
Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta. Lezatnya Bakso. Penerbit Yayasan
Rineka Cipta. Lembaga Konsumen Indonesia; Pondok
Aminah dan Himawan, 2009. Bahan-bahan Gede.
Berbahaya Dalam Kehidupan. Notoatmodjo, 2012. Pendidikan dan Perilaku
Salamadani, Bandung Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, 2014. Prosedur penelitian suatu Notoatmodjo, 2014. Ilmu Kesehatan
pendekatan praktik. Jakarta : PT Rineka Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta
Cipta Nursalam, 2015. Konsep Dan Penerapan
Azwar, 2009. Metodologi penelitian. Metodologi Penelitian Ilmu keperawatan.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika
Cahyadi, 2010. Bahan Tambahan Pangan. PT. Peraturan Menteri Kesehatan No. 722/
Bumi Aksara. Jakarta MenKes/Per/IX/88 tentang boraks

STIKes Dharma Husada Bandung 12


Ponco, 2002. Bakso Jajanan Mengandung Silalahi dkk, 2012 dalam Jurnal. Indra.
Boraks. Penerbit Kompas; Perumnas Tentang Identifikasi Dan Penetapan
.Bekasi. Kadar Boraks Dalam Bakso Jajanan Di
Purwanto, 2011. Metodologi Penelitian Kota Manado. Diunduh dari
Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/pha
Riandini, 2010. Bahan Kimia dalam Makanan rmacon/article/download/3104/2648.
dan Minuman. Shakti Adiluhung. Diakses pada tanggal 11 Februari 2016
Bandung. (Jurnal Tersedia Online).
Riyanto, 2011. Aplikasi Metodologi Suklan H, 2012. Makanan Kesehatan dan
Penelitian Kesehatan. Yogyakarta. Nuha Katering, Penerbit CV Miswar, Jakarta.
Medika. Syah, 2013 Manfaat Dan Bahaya Tambahan
Robbins & Coulter, 2007. Manajemen dan Pangan. Himpunan Alumni Fakultas
Motivasi(edisi kesepuluh). Jakarta: Teknologi Pertanian IPB. Bandung.
Erlangga. T. Djajadinngrat, 2012. Untuk Generasi Masa
Robert Kwick, 2014 dalam Notoatmodjo, Depan: “Pemikiran, Tantangan dan
Soekidjo. 2003, Pendidikan Dan Perilaku Permasalah Lingkungan, ITB.
Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta. Wawan dan Dewi, 2010. Teori & Pengukuran
Rohman dan Sumantri, 2013. Analisis Pengetahuan Sikap Dan Prilaku Manusia,
Makanan. Institut Teknologi Bandung. Yogyakarta, Nuha medika.
Bandung. Widyaningsih, 2009. Alternatif Pengganti
Saparinto dan Hidayati, 2014. Bahan Formalin Pada Produk Pangan. Trubus
Tambahan Pangan. Cetakan I. Kanisius. Agirasana, Surabaya.
Yogyakarta.

STIKes Dharma Husada Bandung 13