Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

1.2 Latar Belakang


Kehamilan adalah peristiwa sementara dalam kehidupan wanita, tetapi kehamilan
dengan penyakit jantung dapat menimbulkan perubahan yang mempunyai akibat yang
nyata. Kehamilan akan menimbulkan perubahan pada system kardiovaskuler. Penyakit
kardiovaskuler dapat dijumpai pada wanita hamil atau tidak hamil. Jelaslah bahwa wanita
dengan penyakit kardiovaskuler dan menjadi hamil, akan terjadi pengaruh timbal balik
yang dapat mengurangi kesempatan hidup wanita tersebut.
Adaptasi normal yang dialami seorang wanita yang mengalami kehamilan
termasuk system kardiovaskuler akan memberikan gejala dan tanda yang sukar dibedakan
dari gejala penyakit jantung. Kehamilan dapat mengubah fungsi serta fisiologis
kardiovaskuler sehingga dapat mempengaruhi tindakan maupun prognosis terhadap
jantungnya. Oleh karena kelainan jantung dapat mempengaruhi kehamilan, maka perlu
dipertimbangkan tindakan apa yang harus diambil serta nasihat apa yang perlu diberikan
pada masa kehamilan. Untuk hal tersebut perlu dipertimbangkan akibat keadaan dan
pengobatan jantung si ibu terhadap keadaan fetus yang akan dilahirkan.
Akhirnya setiap dokter yang merawat wanita dengan penyakit jantung mempunyai
tanggung jawab pemeliharaan baik waktu hamil maupun tidak hamil, pendidikan tentang
fertilitas, daya reproduksi, anjuran tentang hamil ataupun kelanjutan kehamilannya yang
telah terjadi, serta diskusi tentang kemungkinan pemberian kontrasepsi ataupun tindakan
sterilisasi.

A. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud kehamilan, epidomiologi, dan penyakit jantung?
2. Bagaimana Epidemiologi penyakit jantung dalam kehamilan?
3. Bagaimana efek kehamilan pada sistem kasdiovaskuler?
4. Penyakit jantung apa saja yang dapat mempengaruhi kehamilan?
5. Bagaimana sebaiknya penatalaksanaan kehamilan terhadap rawannya penyakit
jantung?
B. Tujuan Khusus
1. Memperoleh gambaran mengenai penyakit jantng pada ibu hamil

2. Dapat memahami tentang konsep asuhan keperawatan pasien dengan penyakit jantung
pada ibu hamil
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TINJAUAN PUSTAKA

A. Epidemiologi Penyakit Jantung Dalam Kehamilan


Hampir semua kelainan kardiovaskular, baik yang bawaan maupun yang diperoleh,
baik yang organik maupun yang fungsional, dapat dijumpai pada wanita
hamil,hanyafrekuensimasing-masingtidaksama.
Meskipun banyak kasus penyakit jantung dengan kehamilan dijumpai diklinik dan rumah
sakit di Indonesia, akan tetapi hanya sedikit yang pernah dilaporkan dalam tulisan ilmiah.
Dalam KOPAPDI-IV, Johan S. Masjhur melaporkan 15 kasus pasien penyakit jantung
postpartum di rumah sakit Dr. Hasan Sidikin, Bandung dan Aryanto Suwondo
mengemukakan 50 kasus kardiomiopati peripartum di rumah sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo, Jakarta.
Budi Susetyo melaporkan 36 kasus kardiomiopati peripartum di rumah sakit
Dr.Sutomo, Surabaya, antara tahun 1976-1980. Sedangkan Thamrin A. Mohammad Di
bagian Kebidanan rumah sakit Dr.Cipto Mangunkusumo, melaporkan antara bulan januari
1969- juni 1982 adanya 77 kasus kelainan jantung pada 10.322 kehamilan (0,74%). Pada
77 kasus ini, 67 orang menderita kelainan katup mitral dan 2 orang dengan kelainan katup
aorta.

B. Efek Kehamilan Pada Sistem Kardiovaskuler


1. Aspek fisiologis
a. Perubahan hemodinamik
Pada wanita hamil akan terjadi perubahan hemodinamik karena peningkatan
volume darah sebesar 30-50% yang dimulai sejak trimester pertama dan mencapai
puncaknya pada usia kehamilan 32-34 minggu dan menetap sampai aterm.
Sebagian besar peningkatan volume darah ini menyebabkan meningkatnya
kapasitas rahim, mammae, ginjal, otot polos dan system vascular kulit dan tidak
memberi beban sirkulasi pada wanita hamil yang sehat. Peningkatan volume plasma
(30-50%) relatif lebih besar dibanding peningkatan sel darah (20-30%)
mengakibatkan terjadinya hemodilusi dan menurunya konsentrasi hemoglobin.
Peningkatan volume darah ini mempunyai 2 tujuan yaitu pertama mempermudah
pertukaran gas pernafasan, nutrien dan metabolit ibu dan janin dan kedua
mengurangi akibat kehilangan darah yang banyak saat kelahiran.
Peningkatan volume darah ini mengakibatkan cardiac output saat istirahat
akan meningkat sampai 40%. Peningkatan cardiac output yang terjadi mencapai
puncaknya pada usia kehamilan 20 minggu. Pada pertengahan sampai akhir
kehamilan cardiac output dipengaruhi oleh posisi tubuh. Sebagai akibat pembesaran
uterus yang mengurangi venous return dari ekstremitas bawah. Posisi tubuh wanita
hamil turut mempengaruhi cardiac output dimana bila dibandingkan dalam posisi
lateral kiri, pada saat posisi supinasi maka cardiac output akan menurun 0,6 l/menit
dan pada posisi tegak akan menurun sampai 1,2 l/menit. Umumnya perubahan ini
hanya sedikit atau tidak memberi gejala, dan pada beberapa wanita hamil lebih
menyukai posisi supinasi.
Tetapi pada posisi supinasi yang dipertahankan akan memberi gejala
hipotensi yang disebut supine hypotensive syndrome of pregnancy. Keadaan ini
dapat diperbaiki dengan memperbaiki posisi wanita hamil miring pada salah satu
sisi, Perubahan hemodinamik juga berhubungan dengan perubahan atau variasi dari
cardiac output. Cardiac output adalah hasil denyut jantung dikali stroke volume.
Pada tahap awal terjadi kenaikan stroke volume sampai kehamilan 20 minggu.
Kemudian setelah kehamilan 20 minggu stroke volume mulai menurun secara
perlahan karena obstruksi vena cava yang disebabkan pembesaran uterus dan
dilatasi venous bed. Denyut jantung akan meningkat secara perlahan mulai dari
awal kehamilan sampai akhir kehamilan dan mencapai puncaknya kira-kira 25
persen diatas tanpa kehamilan pada saat melahirkan.
Cardiac output juga berhubungan langsung dengan tekanan darah merata
dan berhubungan terbalik dengan resistensi vascular sistemik. Pada awal kehamilan
terjadi penurunan tekanan darah dan kembali naik secara perlahan mendekati
tekanan darah tanpa kehamilan pada saat kehamilan aterm. Resistensi vascular
sistemik akan menurun secara drastic mencapai 2/3 nilai tanpa kehamilan pada
kehamilan sekitar 20 minggu. Dan secara perlahan mendekati nilai normal pada
akhir kehamilan. Cardiac output sama dengan oxygen consumption dibagi
perbedaan oksigen arteri-venous sistemik Oxygen consumption ibu hamil
meningkat 20 persen dalam 20 minggu pertama kehamilan dan terus meningkat
sekitar 30 persen diatas nilai tanpa kehamilan pada saat melahirkan. Peningkatan
ini terjadi karena kebutuhan metabolisme janin dan kebutuhan ibu hamil yang
meningkat.
Cardiac output juga akan meningkat pada saat awal proses melahirkan. Pada
posisi supinasi meningkat sampai lebih dari 7 liter/menit. Setiap kontraksi uterus
cardiac output akan meningkat 34 persen akibat peningkatan denyut jantung dan
stroke volume, dan cardiac output dapat meltingkat sebesar 9 liter/menit. Pada saat
melahirkan pemakaian anestesi epidural mengurangi cardiac output menjadi 8
liter/menit dan penggunaan anestesi umum juga mengurangi cardiac output. Setelah
melahirkan cardiac output akan meningkat secara drastis mencapai 10 liter/menit
(7-8 liter / menit dengan seksio sesaria) dan mendekati nilai normal saat sebelum
hamil, setelah beberapa hari atau minggu setelah melahirkan. Kenaikan cardiac
output pada wanita hamil kembar dua atau tiga sedikit lebih besar dibanding dengan
wanita hamil tunggal. Adakalanya terjadi sedikit peningkatan cardiac output
sepanjang proses laktasi.
Perubahan unsur darah juga terjadi dalam kehamilan. Sel darah merah akan
meningkat 20-30% dan jumlah lekosit bervariasi selama kehamilan dan selalu
berada dalam batas atas nilai normal. Kadar fibronogen, factor VII, X dan XII
meningkat, juga jumlah trombosit meningkat tetapi tidak melebihi nilai batas atas
nilai normal. Kehamilan juga menyebabkan perubahan ukuran jantung dan
perubahan posisi EKG. Ukuran jantung berobah karena dilatasi ruang jantung dan
hipertrofi. Pembesaran pada katup tricuspid akan menimbulkan regurgitasi ringan
dan menimbulkan bising bising sistolik normal grade 1 atau 2. Pembesaran rahim
keatas rongga abdomen akan mendorong posisi diafragma naik keatas dan
mengakibatkan posisi jantung berobah kekiri dan keanterior dan apeks jantung
bergeser keluar dan keatas. Perubahan ini menyebabkan perubahan EKG. sehingga
didapati deviasi aksis kekiri, sagging ST segment dan sering didapati gelombang T
yang inversi atau mendatar pada lead III.
b. Distribusi Aliran Darah
Aliran Darah pada wanita hamil tidak sepenuhnya diketahui. Distribusi
aliran darah dipengaruhi oleh resistensi vaskuler lokal. Renal blood flow meningkat
sekitar 30 persen pada trimester pertama dan menetap atau sedikit menurun sampai
melahirkan. Aliran darah kekulit meningkat 40 - 50 persen yang berfungsi untuk
menghilangkan panas. Mammary blood flow pada wanita tanpa kehamilan kurang
dari 1 persen dari cardiac output. Dan dapat mencapai 2 persen pada saat kehamilan
aterm.
Pada wanita yang tidak hamil aliran darah ke rahim sekitar 100 ml/menit (2
persen dari cardiac output) dan akan meningkat dua kali lipat pada kehamilan 28
minggu dan meningkat mencapai 1200 ml/menit pada saat kehamilan aterm,
mendekati jumlah nilai darah yang mengalir ke ginjalnya sendiri. Nilai semasa
kehamilan pembuluh darah rahim berdilatasi maksimal, aliran darah meningkat
akibat meningkatnya tekanan darah maternal dan aliran darah. Pada dasarnya
wanita hamil selalu menjaga aliran darah ke rahimnya, apabila redistribusi aliran
darah total diperlukan oleh ibu atau jika terjadi penurunan tekanan darah maternal
dan cardiac output, maka aliran darah ke uterus menurun dan tetap dipertahankan.
Vasokonstriksi yang disebabkan katekolamin endogen, obat vasokonstriksi,
ventilasi mekanix, dan beberapa obat anestetik yang berhubungan dengan pre
eklampsi dan eklampsi akan menurunkan aliran darah ke rahim. Pada wanita normal
aliran darah rahim mempunyai potensi dapat dibatasi. Dan pada wanita berpenyakit
jantung, pengalihan aliran darah dari rahim menjadi masalah karena aliran darah
sudah tidak teratur. Mekanisme perubahan hemodinamik juga tidak sepenuhnya
dimengerti, yang diakibatkan oleh perubahan volume cairan tubuh.
Total body water semasa kehamilan meningkat 6 sampai 8 lifer yang
sebagian besar berada pada ekstraseluler. Segera setelah 6 minggu kehamilan
volume plasma meningkat dan pada trimester kedua mencapai nilai maksimal 11/2
dan normal. Masa sel darah merah juga meningkat tetapi tidak untuk tingkatan yang
sama; hematokrit menurun semasa kehamilan meskipun jarang mencapai nilai
kurang dari 30 persen, Perobahan vascular berhubungan penting dengan perubahan
hemodinamik pada saat kehamilan. Arterial compliance meningkat dan terjadi
peningkatan kapasitas venous vascular.
Perubahan ini sangat penting dalam memelihara hemodinamik dari
kehamilan normal. Perubahan arterial yang berhubungan dengan peningkatan
fragilitas bila kecelakaan vaskuler terjadi yang sering terjadi pada kehamilan dapat
merugikan hemodinamik. Peningkatan level hormon steroid saat kehamilan inilah
yang menjadi alasan utama terjadinya perobahan pada vaskuler dan miokard.
c. Perubahan hemodinamik dengan exercise
Kehamilan akan merobah respons hemodinamik terhadap exercise. Pada
wanita hamil derajat exercise yang diberikan pada posisi duduk menyebabkan
peningkatan cardiac output yang lebih besar dibanding dengan wanita tanpa
kehamilan dengan derajat exercise yang sama. Dan maksimum cardiac output
dicapai pada tingkatan exercise yang lebih rendah. Peningkatan cardiac output
relatif lebih besar dari peningkatan konsumsi oksigen, sehingga terdapat perbedaan
oksigen arterio-venous yang lebih lebar dari yang dihasilkan pada wanita tanpa
kehamilan dengan derajat exercise yang sama. Keadaan ini menunjukkan pelepasan
oksigen ke perifer sedikit kurang efisien selama kehamilan.
Pada wanita tanpa kehamilan, latihan akan meningkatkan stroke volume
yang lebih besar dan sedikit peningkatan denyut jantung dari pada yang didapati
pada individu yang tidak terlatih. Pada saat kehamilan efek latihan ini tidak
kelihatan dan kemungkinan karena peningkahin stroke volume dibatasi akibat
kompresi vena kava inferior atau meningkatnya distensibility vena.
Exercise semasa kehamilan tidak jelas apakah lebih berbahaya atau lebih
bermanfaat pada wanita dengan penyakit jantung daripada pada wanita tanpa
kehamilan. Pada manusia, diketahui tipe exercise mempengaruhi hemodinamik
maternal dan perfusi uterus. Regular aerobic endurance exercise semasa hamil
berhubungan dengan berkurangnya berat kelahiran. Sebagian besar pengurangan
tersebut karena berkurangnya massa lemak janin dan tidak jelas apakah hal ini
merugikan. Pada tabel di bawah dapat dilihat perubahan hemodinamik saat
kehamilan normal, melahirkan dan post partum.

C. Penyakit-Penyakit Jantung Yang Mempengaruhi Kehamilan


1. Penyakit Jantung Reumatik
Sebagian besar penyakit jantung pada kehamilan disebabkan oleh demam
rematik. Diagnosis demam rematik pada kehamilan sering sulit, bila berpatokan pada
criteria Jones sebagai dasar untuk diagnosis demam rematik aktif. Manifestasi yang
terbanyak adalah poliartritis migrant serta karditis. Perubahan kehamilan yang
menyulitkan diagnosis demam rematik adalah nyeri sendi pada wanita hamil mungkin
oleh karena sikap tubuh yang memikul beban yang lebih besar sehubungan dengan
kehamilannya serta meningkatnya laju endap darah dan jumlah leukosit. Bila terjadi
demam rematik pada kehamilan, maka prognosisnya akan buruk.
Adanya aktivitas demam rematik dapat diduga bila terdapat:
a. Suhu subfebris dengan takikardi yang lebih cepat dari semestinya
b. Leukositosis dan laju endap darah yang tetap tinggi
c. Terdengar desir jantung yang berubah-ubah sifatnya maupun tempatnya dan
reaktif protein positif dan ASTO 300 Todd unit atau lebih.
2. Kelainan Katup Jantung
Kelainan katup jantung yang sering dijumpai pada kehamilan berturut-turut
adalah mitral stenosis (MS), gabungan MS dengan mitral insufisiensi (MS-MI), mitral
insufisiensi (MI), aorta stenosis (AS), aorta insufisiensi (AI), gabungan antara AS dan
AI (AS-AI), penyakit katup pulmonal dan penyakit katup trikuspidal.
Angka kejadian kelainan katup jantung di RSCM (1983) berkisar 69%-79% dari
penyakit jantung dalam kehamilan. Peneliti di luar negeri mendapatkan angka antara
85%-95%, perbedaan ini kemungkinan besar disebabkan oleh perbedaan tingkat sarana
diagnostik. Mengingat Indonesia merupakan negara sedang berkembang dengan
tingkat sosioekonomi yang belum maju, sebenarnya diharapkan angka kejadian
kelainan katup jantung lebih tinggi dibandingkan dengan Negara yang sudah maju.
3. Kelainan Jantung Bawaan pada Kehamilan
Biasanya kelainan jantung bawaan oleh penderita sebelum kehamilan, akan
tetapi kadang-kadang dikenal oleh dokter pada pemeriksaan fisik waktu hamil. Dalam
usia reproduksi dapat dijumpai koarktatio aortae, duktus arteriosus Botalli persistens,
defek septum serambi dan bilik, serta stenosis pulmonalis. Penderita tetralogi Fallot
biasanya tidak sampai mencapai usia dewasa kecuali apabila penyakit jantungnya
dioperasi. Pada umunya penderita kelainan jantung bawaan tidak mengalami kesulitan
dalam kehamilan asal penderita tidak sianosis dan tidak menunjukkan gejala-gejala lain
di luar kehamilan
Penyakit jantung bawaan dibagi atas :
 golongan sianotik (right to left shunt)
 golongan asianotik (left to right shunt)
 Golongan sianotik
D. PROGNOSIS
a. Bagi ibu
Prognosis bagi wanita hamil dengan penyakit jantung tergantung pada
beratnya penyakit yang diderita menurut klasifikasi fungsional, umur penderita,
dan penyulit-penyulit lain yang tidak berasal dari jantung. Tentunya penanganan
yang tepat dan keinginan wanita untuk sembuh dengan mentaati berbagai
pantangan ikut pula menentukan prognosis.
Angka kematian ibu dalam keseluruhannya berkisara antara 1 dan 5%, dan
bagi penyakit yang berat sampai 15%. Menurut klasifikasi fungsionil angka
kematian ibu ditemukan sebagai berikut:

Kelas I 0,17%
Kelas II 0.28%
Kelas III 5,52%
Kelas IV 5,84%

2.2 DEFINISI

A. DEFINISI GANGGUAN KARDIOVASKULER PADA IBU HAMIL

Kehamilan akan menimbulkan perubahan pada sistem kardiovaskuler. Wanita


dengan penyakit kardiovaskuler dan menjadi hamil, akan terjadi pengaruh timbal balik
yang dapat merugikan kesempatan hidup wanita tersebut. Pada kehamilan dengan jantung
normal, wanita dapat menyesuaikan kerjanya terhadap perubahan-perubahan secara
fisiologis.
Penyakit jantung adalah penyebab utama ketiga kematian pada wanita berusia 25
tahun sampai 44 tahun. Karena relatif sering terjadi pada wanita usia subur, penyakit
jantung mempersulit pada sekitar 1 persen kehamilan (Leveno, Kenneth J, 2009).
Kehamilan dengan penyakit jantung selalu saling mempengaruhi karena
kehamilan dapat memberatkan penyakit jantung yang dideritanya. Penyakit jantung dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Jantung yang normal
dapat menyesuaikan diri terhadap segala perubahan sistem jantung dan pembuluh darah
yang disebabkan oleh kehamilan, yaitu dorongan diafragma oleh besarnya janin yang
dikandungnya sehingga dapat mengubah posisi jantung dan pembuluh darah sehingga
terjadi perubahan dari kerja jantung.
Yang dapat mempengaruhi antara lain:
a. Pengaruh peningkatan hormone tubuh
Terjadi haemodelusi darah dengan puncaknya pada kehamilan 28 – 32 minggu
b. Kebutuhan janin untuk pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim
c. Kembalinya darah setelah placenta lahir karena kontraksi rahim dan terhentinya
terhentinya peredaran darah placenta
d. Saat post partum sering terjadi infeksi.

B. Klasifikasi
Klasifikasi asosiasi penyakit jantung New York pada ibu hamil:
Kelas 1 : pasien tidak terbatas dalam kegiatan fisik. Kegiatan fisik biasa tidak menyebabkan
kelelahan yang tidak semestinya, Palpitasi, sesak nafas atau nyeri angina.
Kelas 2 : pasien sedikit terbatas kegiatan fisikya. Kegiatan fisik biasa menyebabkan kelelahan,
palpitasi, sesak nafas, atau nyeri angina.
Kelas 3 : pasien jelas terbatas dalam kegiatan fisiknya. Kegiatan fisik yang kurang dari biasa
menyebabkan kelelahan, palpitasi, sesak nafas, atau nyeri angina.
Kelas 4 : pasien tidak mampu melakukan sembarangan kegiatan fisik tanpa merasa tidak enak.
Gejala-gejala insufisiensi jantung atau sindrom angina bisa ada sekalipun dalam keadaan
istirahat. Bila melakukan kegiatan fisik rasa tidak enak bertambah berat.
(Raybura, William F, 2001)

C. Etiologi
Etiologi kelainan jantung dapat berupa kelainan primer maupun sekunder.
Kelainan Primer, kelainan primer dapat berupa kelainan kongenital, bentuk kelainan katub,
iskemik dan cardiomiopati.
Kelainan Sekunder, kelainan sekunder berupa penyakit lain, seperti hipertensi, anemia berat,
hipervolumia, perbesaran rahim, dll.

D. Patofisiologi
Pada saat kehamilan curah jantung meningkat hingga 30 sampai 50 persen. Hampir
separuh dari peningkatan total tersebut terjadi pada 8 minggu, dan maksimal pada pertengahan
kehamilan. Peningkatan dini curah jantung terjadi akibat meningkatnya isi sekuncup disertai
berkurangnya resistensi vaskuler dan penurunan tekanan darah. Pada tahap kehamilan
selanjutnya juga terjadi peningkatan denyut nadi istirahat, dan isi sekuncup semakin
meningkat, mungkin berkaitan dengan meningkatnya pengisisan diastolic akibat meningkatnya
volume darah.
Karena pada awal kehamilan terjadi perubahan hemodinamik yang signifikan, wanita
dengan disfungsi jantung yang berat dapat mengalami perburukan gagal jantung sebelum
pertengahan kehamilan. Pada wanita yang lain, gagal jantung terjadi pada trimester ketiga saat
hypervolemia normal pada kehamilan mencapai puncaknya. Akan tetapi, pada sebagian besar
kasus gagal jantung terjadi peripartum saat timbul tambahan beban hemodinamik. Kondisi ini
merupakan saat kemampuan fisiologis jantung mengubah curah jantung secara cepat sering
kesulitan menghadapi penyakit jantung structural (Leveno, Kenneth J, 2009).

E. Manifestasi Klinik
Gejala-gejala seperti kelelahan, dan sesak nafas ringan dan tanda-tanda klinik seperti
desah sistolik, suara jantung ketiga, dan edema bisa jadi tanda-tanda penyakit jantung
merupakan hal fisiologik selama kehamilan. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk
menetapkan penyakit jantung jika ada sembarangan gejala dan tanda berikut, sesak nafas yang
cukup berat buat mengganggu kegiatan, ortopnea progresif, sesak nafas malam hari yang
paroksimal, nyeri dada seperti angina menyertai setiap kegiatan fisik atau stress, emosional,
desah sistolik yang lebih dari III, IV (diastolic, prediastolik atau terus-menerus), pembesaran
jantung yang nyata, aritmia berat, sianosis, dan pelebaran ujung-ujung jari (clubbing)
(Raybura, William F, 2001).
1. Cepat merasa lelah
2. Jantungnya berdebar-debar
3. Sesak nafas apalagi disertai sianosis (kebiruan)
4. Edema tungkai atau terasa berat pada kehamilan muda
5. Mengeluh tentang bertambah besarnya Rahim yang tidak sesuai
(Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998).
1. Dyspnea atau ortopnea progresif
2. Batuk malam hari
3. Hemoptysis
4. Sinkop
5. Nyeri dada
6. Sianosis
7. Jari gada
8. Distensi menetap vena jugularis
9. Murmur sistolik derajat 3/3 atau lebih
10. Murmur diastolic
11. Kardiomegali
12. Aritmia persisten
13. Bunyi jantung kedua terpisah menetap
(Leveno, Kenneth J, 2009)

F. Komplikasi
Penyakit jantung pada ibu hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
janin dalam rahim dalam bentuk :
a. Dapat terjadi keguguran
b. Persalinan prematuritas atau berat lahir rendah
c. Kematian perinatal yang makin meningkat
d. Pertumbuhan dan perkembangan bayi mengalami hambatan intelegensia atau fisik
(Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998).

G. Pemeriksaan penunjang
EKG, untuk mengetahui kelainan irama dan gangguan konduksi, adanya kardiomegali,
tanda penyakit pericardium , iskemia atau infark, bisa ditemukan tanda-tanda aritmia.
Pemeriksaan radiologi untuk mengetahui dehidrasi dalam kehamilan namun jika
memang diperlukan dapat dilakukan dengan memberikan pelindung di abdomen dan pelvis.
1. Elektrokardiografi
Terdapat beberapa perubahan akibat kehamilan yang perlu dipertimbangkan saat
menginterpretasikan hasil pemeriksaan elektrokardiografi. Sebagai contoh, karena pada
kehamilan lanjut diafragma terangkat, rata-rata terjadi deviasi 15 derajat sumbu kiri di
elektrokardiogram sedemikian rupa sehingga dapat ditemukan perubahan ST ringan di sadapan
inferior. Selain itu, kontraksi premature atrium dan ventrikel relative sering terjadi. Kehamilan
tidak mengubah temuan voltase.
2. Ekokardiografi
Metode yang aman, cepat dan terpercaya untuk mengetahui fungsi dan anatomi bilik,
katup, dan pericardium. Luasnya penerapan ekokardiografi, sebagian besar penyakit jantung
selama kehamilan dapat diagnosis secara noninvansif dan akurat. Sebagai perubahan normal
yang dipicu oleh kehamilan dan terlihat pada ekokardiografi adalah regurgitasi tricuspid dan
peningkatan signifikan ukuran atrium kiri dan luas potongan melintang outflow ventrikel kiri .
Akan tetapi, sepanjang kehamilan dan masa nifas perlu diberikan perhatian khusus terhadap
pencegahan dan deteksi dini gagal jantung. Infeksi terbukti merupakan factor penting yang
memicu gagal jantung. Setiap pasien harus dianjurkan untuk menghindari kontak dengan
mereka yang mengidap infeksi saluran napas, termasuk demam salesma, dan melaporkan setiap
serta mengurangi risiko aritmia yang mengancam jiwa. Wanita yang bersangkut harus diberi
antibiotic profilaksis jika terdapat regurgitasi, kerusakan katup, atau factor risiko lain.
(Leveno, Kenneth J, 2009)

H. Penatalaksanaan
Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada
derajat fungsinya
Kelas I : tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan, penanganannya biasa secara
berobat jalan. Pasien harus beristirahat beberapa kali sehari untuk mengurangi kerja jantung.
Kelas II : biasanya tidak memerlukan terapi tambahan kurangi kerja fisik terutama antara
kehamilan 28 – 36 minggu
Kelas III : memerlukan digitalisasi/ obat lainnya sebaiknya dirawat di rumah sakit sejak
kehamilam 28 – 30 minggu
Kelas IV : harus dirawat di rumah sakit dan diberikan pengobatan bekerjasama dnegan
kardiologi
Penatalaksanaan harus melibatkan ahli kandungan, ahli jantung, ahli anestesi dan ahli
bedah jantung, hipertensi pulmonal dan sindrom marfan merupakan kontra indikasi untuk
hamil. Sebagian besar otot-otot kardiovaskuler dapat digunakan pada kehamilan dengan
mempertimbangkan potensi resiko terhadap ibu dan bayi. Indikasi untuk operasi sama dnegan
wanita yang tidak hamil. Jika ada indikasi untuk operasi cardiopulmonary bypasss support
harus dnegan aliran tinggi.
Kegagalan jantung harus ditangani secara agresif dengan istirahat baring, oksigen,
turniket (rotating tourniquets), digoksin (0,5 mg intravena selama 10 menit diikuti dengan 0,25
mg intravena tiap 2- 4 jam sampai 2mg jika diperlukan), dan morfin (10 -15 mg intravena tiap
2 – 4 jam). Takikardi ibu yang jelas harus diobati dengan pemberian propranolol (0,2 – 0,5 mg
intravena tiap 3 menit sampai denyut jantung turun menjadi 110 kali per menit), digoksin, atau
kardioversi (25 – 100 watt-detik).
Asosiasi jantung Amerika menganjurkan pemberian antibiotika pada pasien-pasien
hamil dengan penyakit katup jantung sebelum dilakukan bedah sesar atau kateterisasi uretra,
atau dalam persalinan melalui vagina yang berkomplikasi. Pemakaian beta agonis untuk
mengatasi partus premature adalah kontra indikasi pada penderita dengan penyakit jantung
yang jelas. Sulfas magnesikus dapat dipergunakan dengan hati-hati, karena dengan dosis tinggi
mungkin terjadi keracunan jantung.
(Raybura, William F, 2001)
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

A. Pengkajian Primer

1. Airways

- Sumbatan atau penumpukan secret

- Wheezing atau krekles

2. Breathing

- Sesak dengan aktifitas ringan atau istirahat- RR lebih dari 24 kali/menit, irama ireguler dangkal

- Ronchi, krekles

- Ekspansi dada tidak penuh

- Penggunaan otot bantu nafas

3. Circulation

- Nadi lemah , tidak teratur

- Takikardi

- TD meningkat / menurun

- Edema

- Gelisah

- Akral dingin

- Kulit pucat, sianosis

- Output urine menurun

B. Pengkajian Sekunder

1. Aktifitas

Gejala :

- Kelemahan

- Kelelahan
- Tidak dapat tidur

- Pola hidup menetap

- Jadwal olah raga tidak teratur Tanda :

- Takikardi

- Dispnea pada istirahat atau aaktifitas

2. Sirkulasi

Gejala : riwayat IMA sebelumnya, penyakit arteri koroner, masalah tekanan darah, diabetes
mellitus.

Tanda :

- Tekanan darah

Dapat normal / naik / turun

Perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri

- Nadi

Dapat normal , penuh atau tidak kuat atau lemah / kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler
lambat, tidak teratus (disritmia)

- Bunyi jantung

Bunyi jantung ekstra : S3 atau S4 mungkin menunjukkan gagal jantung atau penurunan
kontraktilits atau komplain ventrikel

- Murmur

Bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot jantung

- Friksi ; dicurigai Perikarditis

- Irama jantung dapat teratur atau tidak teratur

- Edema

Distensi vena juguler, edema dependent , perifer, edema umum,krekles mungkin ada dengan
gagal jantung atau ventrikel

- Warna

Pucat atau sianosis, kuku datar , pada membran mukossa atau bibir
3. Integritas ego

Gejala : menyangkal gejala penting atau adanya kondisi takut mati, perasaan ajal sudah dekat,
marah pada penyakit atau perawatan, khawatir tentang keuangan , kerja , keluarga

Tanda : menoleh, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah, marah, perilaku
menyerang, focus pada diri sendiri, koma nyeri

4. Eliminasi

Tanda : normal, bunyi usus menurun. 5. Makanan atau cairan

Gejala : mual, anoreksia, bersendawa, nyeri ulu hati atau terbakar

Tanda : penurunan turgor kulit, kulit kering, berkeringat, muntah, perubahan berat badan

6. Hygiene

Gejala atau tanda : lesulitan melakukan tugas perawatan

7. Neurosensori

Gejala : pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau istrahat )

Tanda : perubahan mental, kelemahan

8. Nyeri atau ketidaknyamanan

Gejala :

- Nyeri dada yang timbulnya mendadak (dapat atau tidak berhubungan dengan aktifitas ),
tidak hilang dengan istirahat atau nitrogliserin (meskipun kebanyakan nyeri dalam dan viseral)

- Lokasi :

Tipikal pada dada anterior, substernal , prekordial, dapat menyebar ke tangan, ranhang, wajah.
Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher.

- Kualitas :

“Crushing ”, menyempit, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat .

- Intensitas :

Biasanya 10(pada skala 1 -10), mungkin pengalaman nyeri paling buruk yang pernah dialami.

- Catatan : nyeri mungkin tidak ada pada pasien pasca operasi, diabetes mellitus , hipertensi,
lansia

9. Pernafasan:

Gejala :
- dispnea tanpa atau dengan kerja

- dispnea nocturnal

- batuk dengan atau tanpa produksi sputum

- riwayat merokok, penyakit pernafasan kronis.

Tanda :

- peningkatan frekuensi pernafasan

- nafas sesak / kuat

- pucat, sianosis

- bunyi nafas ( bersih, krekles, mengi ), sputum

10. Interkasi social

Gejala :

- Stress

- Kesulitan koping dengan stressor yang ada missal : penyakit, perawatan di RS

Tanda :

- Kesulitan istirahat dengan tenang

- Respon terlalu emosi ( marah terus-menerus, takut )

- Menarik diri

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. resiko penurunan curah jantung b.d peningkatan volume sirkulasi, distritmia, perubahan
kontraktilitas, miokard dan perubahan inotropik pada jantung

2. Kelebihan volume cairan b.d resiko tinggi terhadap factor resiko meliputi peningkatan
volume sirkulasi, perubahan pada fungsi ginjal, ketidakteraturan diet

3. perfusi jaringan b.d perubahan resiko tinggi terhadap utero plasenta. Factor resiko meliputi
perubahan pada volume sirkulasi, pirao kanan ke kiri
3.3 INTERVENSI

No Dx Tujuan Intervensi Rasional

1 resiko penurunan 1. Pantau ttv klien 1. Permulaan


Setelah dilakukan tindakan
curah jantung b.d tahap
keperawatn selama 3x24
peningkatan volume dekompensasi
jam Klien dapat
sirkulasi, distritmia, karena toleran
mempertahankan curah
perubahan terhadap beban
jantung yang adekuat
kontraktilitas, miokard sirkulasi, infeksi
dengan
danperubahan atau ansietas dapat
Kriteria Hasil
inotropik pada jantung terlihat pertama-
1. Mengidentifikasi
tama dari
perilaku untuk
perubahan yang
meminimalkan stressor dan
membahayakan
memaksimalkan fungsi
pada pola tanda
2. Mentoleransi tekanan
vital, berkenaan
dari peningkatan volume
dengan
darah sesuai indikasi
peningkatan suhu,
sampai dengan nadi dalam
2. berikan informasi nadi, pernapasan,
batas yang tepat secara
tentang perlunya dan TD.
individu
istirahatyang adekuat
3. Mendemonstrasikan
2.Meminimalkan
sirkulasi plasenta yang
stress jantung dan
adekuat
menghemat
energy, klien kelas
3. selidiki adanya keluhan IV memerlukan
nyeri dada dan palpitasi, tirah baring
anjjurkan pemb atasan selama kehamilan
kafein dengan cepat 3. · Klien dengan
prolaps katup
mitral dapat
terjadi aritmia
terlihat pada nyeri
dada dan palpitasi,
pembatasan kafein
dapat menurunkan
ferkuensi
terjadinya

2 Kelebihan volume Setelah dilakukan tindakan 1 kaji faktor-faktor diet 1 diet yang tidak
cairan b.d resiko tinggi keperawatan selama 3x24 yang dapat mempercepat tepat khususnya
terhadap factor resiko jam klien dapat volume retensi ciaran berlebihan, defisiensi protein
meliputi peningkatan cairan seimbang dengan berikan informasi sesuai dan kelebihan
volume sirkulasi, kriteria hasil kebutuhan natrium,
perubahan pada fungsi 1 menunjukan memperberat
ginjal, keseimbangan cairan yang 2 selidiki batukyang tidak retensi cairan.
ketidakteraturan diet stabil jelas
2 penambahan berat badan 2 batuk tidak
cepat berhubungan
dengan masalah
pernafasan dapat
menandakan
terjadinya gejala

3 kolaborasi berikan 3 membantu


diuretic menghilangkan
(klorotiazid,hidroklotiazid) tahanan cairan
berlebihan pada
tindakan
konservatif dari
istirahat dan
penurunan
masukan natrium
3 perfusi jaringan b.d Setelah dilakukan tindakan 1 · Perhatikan factor-faktor 1 Adanya masalah
perubahan resiko keperawatan selama 3x24 individu dan status jantung
tinggi terhadap utero jam klien dapat perfusi sebelum hamil sebelumnya
plasenta. Factor resiko tidak terjadi dengan dipengaruhi oleh
meliputi perubahan Kriteria Hasil peningkatan
pada volume sirkulasi, 1 menunjukkan TD, GDA kebutuhan
pirao kanan ke kiri dan hitung sel darah putih sirkulasi selama
2Mendemonstrasikan kehamilan dapat
perfusi Plasenta adekuat mengakibatkan
sesuai indikasi kerusakan
oksigenisasi
jaringan

2 Takikardi
(frekuensi jantung
lebih besar) pada
istirahat,
2 · Kaji TD, dan nadi peningkatan TD,
dan perubahan
perilaku pada
mendekati
kegagalan jantung
awal atau hipoksia
3 Memudahkan
frekuensi
pernapasan
dengan
menurunkan
tekanan dari
pembesaran uterus
pada diafragma
dan membantu
meningkatkan
3 Berikan informasi diameter vertikel
tentang penggunaan posisi untuk ekspansi
tegak yang diubah selama paru
tidur dan istirahat
BAB IV

PENUTUP

3.3 Kesimpulan

1. Kehamilan ialah hasil dari pertemuan sperma dan sel telur. Epidemiologi ialah salah
satu bagian dari pengetahuan Ilmu Kesehatan Masyarakat (Public Health) yang
menekankan perhatiannya terhadap keberadaan penyakit dan masalah kesehatan
lainnya dalam masyarakat, sedang penyakit jantung ialah sebuah kondisi yang
menyebabkan Jantung tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
2. Epidemiologi penyakit jantung dalam kehamilan Hampir semua terjadi, baik yang
bawaan maupun yang diperoleh, baik yang organik maupun yang fungsional, dapat
dijumpai pada wanita hamil, hanya frekuensi masing-masing tidak sama.
3. Efek-efek kehamilan pada sistem kasdiovaskuler antara lain Perubahan hemodinamik,
Distribusi Aliran Darah, serta Perubahan hemodinamik dengan exercise.
4. Macam penyakit jantung yang mempengaruhi kehamilan ialah Penyakit Jantung
Reumatik, Kelainan Katup Jantung, dan Kelainan Jantung Bawaan pada Kehamilan.
5. Penatalaksanaan atau Penanganan wanita hamil dengan penyakit jantung, yang
sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau kardilogi,
banyak ditentukan oleh kemampuan fungsionil jantungnya. Baik dari segi persalinan,
penanganan secara umum, serta pada masa laktasi. Prognosis bagi wanita hamil dengan
penyakit jantung tergantung pada beratnya penyakit yang diderita menurut klasifikasi
fungsional, umur penderita, dan penyulit-penyulit lain yang tidak berasal dari jantung

3.Saran
Penanganan yang tepat dan keinginan wanita untuk sembuh dengan mentaati berbagai
pantangan serta mengikuti semua aturan sesuai dengan sistem kesehatan akan mengurangi
tingkat epidemiologi penyakit jantung pada saat kehamilan. Tentunya juga akan mengurangi
angka kematian pada bayi dan ibu hamil di negara indonesia.