Anda di halaman 1dari 20

GEOLOGI DAERAH KOKAP DAN SEKITARNYA

KABUPATEN KULON PROGO


DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

LAPORAN PEMETAAN GEOLOGI

Oleh :

Andreas Tambunan
F1D215025

PRODI TEKNIK GEOLOGI


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2017
GEOLOGI DAERAH KOKAP DAN SEKITAR NYA

KABUPATEN KULON PROGO


DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Oleh:

ANDREAS TAMBUNAN
F1D215025

Menyetujui,
Tim Dosen

1. Ir. Yulia Morsa Said, MT. 1.


NIP. 196207011989021001

2. D. M. Magdalena Ritonga, ST., MT. 2.


NIK. 201501072007

Jambi, Juli 2018


Mengetahui,
Ketua Program Studi Teknik Geologi

Ir. Yulia Morsa Said, MT


NIP. 196207011989021001
HALAMAN PERSEMBAHAN

Pada halaman ini penulis mempersembahkan laporan kuliah lapangan


pemetaan geologi 2 ini kepada:
1. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan kepada penulis.
2. Dosen – dosen Teknik Geologi, Teknik Kebumian, Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Jambi..
3. Saudara-saudara dari kelompok 13.
4. Saudara-saudari seperjuangan, MENGKARANG 03.
5. Keluarga besar Teknik Geologi Mengkarang Universitas Jambi
6. Pihak – pihak yang membantu dalam pembuatan laporan ini
7. Para pembaca sekalian.
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan laporan kuliah
lapangan pemetaan geologi 2 di Kulon Progo.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada orangtua yang selalu
mendoakan dan mendukung penulis dari awal kuliah lapangan 2 dilaksanakan
hingga penyusunan laporan ini selesai. Ucapan rasa terimakasih penulis sampaikan
juga kepada dosen-dosen Teknik Geologi yang dengan penuh kesabaran telah
membimbing penulis selama kuliah lapangan pemetaan geologi.
Penulis juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ir. Yulia Morsa Said, MT., selaku Ketua Program Studi Teknik
Geologi, Universitas Jambi.
2. Seluruh dosen Teknik Geologi yang selalu memberikan dorongan
dan bimbingan kepada kami.
3. Saudara-saudara kelompok 13 yaitu Husin dan Anjas Rizky
Wifisono yang telah bersama-sama ikut dalam menyelesaikan
kuliah lapangan ini.
4. Saudara-saudari MENGKARANG 03 yang ikut berjuang bersama.
5. Kakak-kakak Angkatan Teknik Geologi, Universitas Jambi, yang
senantiasa memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna.
Penulis berharap kritik dan saran dari para pembaca sebagai referensi perbaikan
laporan-laporan berikutnya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi yang
membacanya.
SARI
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Geologi merupakan ilmu (sains) yang mempelajari mengenai bumi, materi
penyusunnya, sejarah dan proses pembentukannya, serta proses yang terjadi dan
hasil proses tersebut. Ilmu geologi meliputi beberapa cabang ilmu seperti :
geomorfologi, stratigrafi, geologi struktur, geologi sejarah, petrologi,
kristalografi dan mineralogi, paleontologi dan sebagainya yang saling
berhubungan dan menunjang satu sama lain dalam pemahaman di bidang
geologi.
Dalam bidang geolog, dibutuhkan kemampuan baik dalam teori maupun
lapangan yang cukup agar dapat mengumpulkan dan mengolah data-data
geologi. Teori didapatkan dari perkuliahan dan pengumpulan data didapatkan
dari kegiatan lapangan, kemudian diaplikasikan ke dalam sebuah pemetaan
geologi, yang kemudian akan diolah sesuai teori menjadi sebuah sejarah geologi
yang menceritakan proses geologi yang terjadi di masa lalu dan bagaimana hasil
dari proses tersebut di masa sekarang.
Pemetaan geologi merupakan sebuah aspek yang sangat penting dalam
pembelajaran dan pengembangan kemampuan seorang ahli geologi karena
dalam pemetaan geologi seorang ahli geologi tidak hanya mempraktikkan teori
yang telah dipelajarinnya, melainkan juga mengasah kemampuan di lapangan
dalam mengamati dan mendapatkan data-data yang lengkap dan akurat.
Kelengkapan dan keakuratan data tersebut kemudian akan mempengaruhi hasil
penafsiran yang logis, tepat, dan akurat.
Oleh karena itu, untuk memperoleh ilmu mengenai pemetaan geologi,
maka dilakukan Kuliah Lapangan 2 yang dilakukan di Kabupaten Kulon Progo
ini agar calon geologist dapat mengetahui cara melakukan pemetaan yang
benar, dimulai dari analisis topografi, pengumpulan data-data geologi serta
analisisnya yang akhirnya akan menghasilkan peta geologi dan peta pendukung
lainnya.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan yang dilakukan dalam pemetaan ini yaitu:
1. Menentukan pola pengaliran dan stadia daerah yang berkembang di daerah
pemetaan
2. Mengetahui kondisi geomorfologi dan proses pembentukannya di daerah
pemetaan
3. Megetahui struktur yang berkembang di daerah penelitian dan cara
analisisnya
4. Mengetahui stratigrafi daerah pemetaan hingga penentuan satuan batuan
dan hubungan antar satuan batuannya
5. Mengetahui potensi geologi positif dan negatif dan pengaruhnya terhadap
daerah sekitarnya

1.3 Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian


Secara administratif, daerah penelitian terletak di 3 kecamatan yaitu:
Kaligesing, Girimulyo, dan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Secara geografis, daerah penelitian terletak di zona UTM 49M
dengan koordinat 9136492-9139492,401000-404200 m.
Perjalanan ke Yogyakarta dari Jambi selama 4 jam dengan menggunakan
pesawat udara, dari Yogyakarta ke Kulon Progo selama 1 jam menggunakan
bus, dan dari kampus lapangan ke daerah pemetaan selama 20 menit
menggunakan angkutan umum. Pada pelaksanaan pemetaan ini, semua lokasi
pengamatan dicapai dengan berjalan kaki.

1.4 Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup penelitian meliputi Kecamatan Girimulyo, Kecamatan
Kaligesing, dan Kecamatan Kokap seluas 4 x 3 km. Daerah pemetaan terletak
di koordinat UTM 49M 9136492-9139492,401000-404200 m. Penelitian yang
dilakukan adalah geomorfologi, pola pengaliran, stratigrafi, geologi struktur
dan potensi geologi.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari pemetaan geologi ini antara lain untuk memberikan gambaran
dan pengalaman bagi mahasiswa geologi dalam melakukan pemetaan geologi
dan aplikasinya dan mendapatkan informasi-informasi tentang geologi
di daerah penelitian.
BAB II

METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Metodologi Penelitian

Pengumpulan data dilakukan dengan menganalisa topografi daerah pemetaan,


geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, sejarah geologi, litologi serta
potensi geologinya. Ada 4 tahap yang harus dilakukan yaitu: studi
pendahuluan, pengamatan lapangan, pengolahan data, dan penyusunan
laporan. Peta dasar yang digunakan dalam pemetaan adalah peta topografi
berskala 1:25.000.
1. Studi Pendahuluan
 Analisis peta topografi
2. Pengamatan Lapangan
 Orientasi medan untuk pengenalan daerah pemetaan secara umum serta
pengecekan batas peta geologi dan geomorfologi yang dilakukan
bersama dosen pembimbing selama 1 hari pada tanggal Juli 2017.
 Pengamatan detail berupa pemetaan geologi yang mencakup
penelusuran lintasan dan pendokumentasian data geologi di sepanjang
lintasan selama hari pada tanggal Juli 2017. Adapun dokumentasi
tersebut berupa catatan mengenai lokasi pengamatan, kondisi
geomorfologi di sekitar lapangan pengamatan, pemerian deskripsi
batuan, pengukuran data struktur geologi, sketsa, foto dan pengambilan
sampel batuan.
3. Pengolahan Data
 Pembuatan peta lintasan pengamatan, peta geomorfologi, penampang
geomorfologi, peta lintasan MS, peta pola aliran, penampang profil
batuan, peta geologi, penampang geologi, analisis struktur kekar dan
sesar.
4. Penyusunan Laporan
 Pembuatan laporan disertai lampiran berupa peta lintasan, peta
geomorfologi, peta pola pengaliran, MS (Measure Section), penampang
profil batuan, peta geologi, analisis kekar, sesar dan tabulasi deskripsi
lokasi pengamatan.

2.2 Analisis Hasil


Dalam pemetaan ini, peneliti melakukan beberapa analisis data untuk
melengkapi dalam pembuatan laporan. Analisis yang dilakukan yaitu;
1. Melakukan analisis struktur geologi yang didapat dari lapangan yaitu
berupa data arah jurus, kemiringan dan struktur kekar batuan dan juga
analisis sesar dan penentuan nama sesar.
2. Melakukan analisis stratigrafi dengan menggunakan prinsip-prinsip
stratigrafi untuk mengetahui umur dan mengelompokkan satuan batuan
serta kesebandingan dengan formasi yang ada pada literatur.
3. Melakukan analisis petrologi untuk mengetahui pemerian deskripsi batuan
secara megaskopis melalui singkapan di lapangan dan sampel batuan
kemudian diklasifikasi menurut jenis batuannya.
4. Melakukan analisis petrografi untuk mengetahui pemerian deskripsi
batuan secara mikroskopis

2.3 Hasil Penelitian


Hasil penelitian ini merupakan hasil akhir peneliti dari data-data yang telah
di analisa. Hasil penelitian yang diperoleh ini dapat berupa :
1. Peta Lokasi Pengamatan
2. Peta Geomorfologi
3. Peta Pola Pengaliran
4. Peta Geologi.
5. Potensi geologi
.
BAB III
GEOLOGI REGIONAL

3.1 Fisiografi Regional


Fisiografi regional dataran Yogyakarta termasuk dalam Pegunungan
Kulon. Pegunungan Kulon di bagian utara dan timur dibatasi oleh lembah
Progo, dan di bagian selatan dan barat dibatasi oleh dataran pantai Jawa
Tengah. Dan pada bagian barat-laut pegunungan ini memiliki hubungan
dengan Pegunungan Serayu.

Gambar 3.1. Peta fisiografi Jawa Tengah (Van Bemmelen, 1949)

Menurut Van Bemmelen (1949), Pegunungan Kulon ditafsirkan sebagai


dome (kubah) besar dengan bagian puncak datar dan sayap-sayap curam,
dikenal sebagai “Oblong Dome”. Dome ini mempunyai arah utara timur laut –
selatan barat daya, dan diameter pendek 15-20 Km, dengan arah barat laut-timur
tenggara. Inti dome terdiri dari 3 gunung api Andesit tua yang pada sekarang
ini telah tererosi cukup dalam, dan mengakibatkan beberapa bagian bekas dapur
magmanya telah tersingkap. Bagian tengah dari dome ini adalah Gunung Gajah
yang merupakan gunung api tertua yang menghasilkan kandungan Andesit
hiperstein augit basaltic. Gunung api Ijo adalah gunung api yang terbentuk
setelahnya yang berada dibagian selatan.
3.2 Geomorfologi Regional
Pegunungan Kulon Progo merupakan bagian dari Satuan Pegunungan
Serayu Selatan (Van Bemmelen, 1949). Satuan Pegunungan Serayu Selatan
secara umum berarah barat-timur, tetapi Pegunungan Kulon Progo sendiri
mempunyai arah sebaran hampir utara-selatan yang berarti menyimpang dari
arah umum Pegunungan Serayu Selatan tersebut. Pegunungan Kulon Progo
merupakan suatu kubah berbentuk menyerupai dome (dome like) dengan
sumbu panjangnya berarah utara timurlaut-selatan baratdaya dengan panjang
32 km, sedangkan sumbu pendek berarah barat baratlaut-timur tenggara,
panjang 15-20 km.

Gambar 3.2 Diagram Blok Kubah Kulon Progo (van Bemmelen, 1949)

Kompleks pegunungan Kulon Progo, bagian utara dibatasi oleh dataran


rendah Kedu (Magelang) yang merupakan endapan Gunung Merapi dan
Gunung Sumbing, bagian timur dibatasi oleh lembah Progo dengan dataran
Yogyakarta yang tersebar ke arah selatan sampai Pantai Selatan, bagian selatan
dibatasi oleh endapan aluvial dan bagian barat dibatasi endapan aluvial
Bagelan yang terbentang luas. Bentuk Pegunungan Kulon Progo membelok ke
arah baratlaut dan bersambung dengan deretan Pegunungan Serayu Selatan.
Dataran tinggi Jonggrangan merupakan tempat tertinggi di seluruh daerah
Kulon Progo dengan ketinggian mencapai 750 m di atas permukaan air laut.
Dataran tinggi ini tersusun oleh litologi batugamping terumbu menempati
bagian atas, sehingga menampakkan adanya gejala topografi karst berupa gua,
stalagtit dan stalagmit dan sungai bawah tanah. Bagian Punggungan
Pegunungan Kulon Progo hampir semuanya terkikis oleh sejumlah sungai
membentuk serangkaian lembah. Lembah-lembah sungai umumnya berbentuk
huruf V dengan tebing relatif terjal. Di beberapa tempat terdapat air terjun yang
mencapai ketinggian 30 m. Daerah dengan litologi lunak mempunyai jurus dan
kemiringan berubah-ubah sehingga akan berkembang sesuai dengan pola trelis.
Stadia erosi di Pegunungan Kulon Progo sangat dipengaruhi oleh susunan
litologi, semakin keras dan kompak litologi penyusunnya akan semakin tahan
terhadap proses pelapukan. Daerah yang tersusun oleh batupasir akan
mempunyai tingkat pelapukan lebih intensif dibandingkan dengan daerah yang
mempunyai litologi penyusun breksi. Morfologi di kompleks Pegunungan
Kulon Progo terbentuk pada awal Pleistosen bersama-sama dengan
pembentukan struktur sesar yang tersebar di daerah ini.

3.3 Stratigrafi Regional


Berdasarkan system umur yang ditentukan oleh penyusun batuan stratigrafi
regional menurut Wartono Rahardjo dkk(1977), Wirahadikusumah (1989), dan
Mac Donald dan partners (1984), daerah penelitian dapat dibagi menjadi 4
formasi, yaitu :

a. Formasi Nanggulan
Formasi Nanggulan mempunyai penyusun yang terdiri dari batu
pasir, sisipan lignit, napal pasiran dan batu lempungan dengan konkresi
limonit, batu gamping dan tuff, kaya akan fosil foraminifera dan
moluska dengan ketebalan 300 m. berdasarkan penelitian tentang umur
batuannya didapat umur formasi nanggulan sekitar eosen tengah sampai
oligosen atas. Formasi ini tersingkap di daerah Kali Puru dan Kali Sogo
di bagian timur Kali Progo. Formasin Nanggulan dibagi menjadi 3,
yaitu

1. Axinea Beds
Formasi paling bawah dengan ketebalan lapisan sekitar 40 m,
terdiri dari abut pasir, dan batu lempung dengan sisipan lignit yang
semuanya berfasies litoral, axiena bed ini memiliki banyak fosil
pelecypoda.
2. Yogyakarta beds
Formasi yang berada di atas axiena beds ini diendapkan secara
selaras denagn ketebalan sekitar 60 m. terdiri dari batu lempung
ynag mengkonkresi nodule, napal, batu lempung, dan batu pasir.
Yogyakarta beds mengandung banyak fosil poraminifera besar dan
gastropoda.
3. Discocyclina beds
Formasi paling atas ini juga diendapkan secara selaras diatas
Yogyakarta beds denagn ketebalan sekitar 200m. Terdiri dari batu
napal yang terinteklasi dengan batu gamping dan tuff vulakanik,
kemudian terinterklasi lagi dnegan batuan arkose. Fosil yang
terdapat pada discocyclina beds adalah discocyclina.
b. Formasi Andesit Tua
Formasi ini mempunyai batuan penyusun berupa breksi andesit,
lapili tuff, tuff, breksi lapisi , Aglomerat, dan aliran lava serta batu pasir
vulkanik yang tersingkap di daerah kulon progo. Formasi ini
diendapkan secara tidak selaras dengan formasi nanggulan dengan
ketebalan 660 m. Diperkirakan formasi ini formasi ini berumur
oligosen – miosen.

c. Formasi Jonggrangan
Formasi ini mempunyai batuan penyusun yang berupa tufa, napal,
breksi, batu lempung dengan sisipan lignit didalamnya, sedangkan pada
bagian atasnya terdiri dari batu gamping kelabu bioherm diselingi
dengan napal dan batu gamping berlapis. Ketebalan formasi ini 2540
meter. Letak formasi ini tidak selaras dengan formasi andesit tua.
Formasi jonggrangan ini diperkirakan berumur miosen. Fosil yang
terdapat pada formasi ini ialah poraminifera, pelecypoda dan
gastropoda.

d. Formasi Sentolo
Formasi Sentolo ini mempunyai batuan penyusun berupa batu pasir
napalan dan batu gamping, dan pada bagian bawahnya terdiri dari napal
tuffan. Ketebalan formasi ini sekitar 950 m. Letak formasi initak selaras
dengan formasi jonggrangan. Formasi Sentolo ini berumur sekitar
miosen bawah sampai pleistosen.

Dari seluruh daerah Kulon Progo, pegunungan Kulon Progo sendiri


termasuk dalam formasi Andesit tua. Formasi ini mempunyai litologi yang
penyusunnya berupa breksi andesit, aglomerat, lapili, tuff, dan sisipan aliran
lava andesit. Dari penelitian yang dilakukan Purmaningsih (1974) didapat
beberapa fosil plankton seperti Globogerina Caperoensis bolii, Globigeria
Yeguaensis” weinzeierl dan applin dan Globigerina Bulloides blow. Fosil
tersebut menunjukka batuan berumur Oligosen atas. Karena berdasarkan hasil
penelitian menunjukkan pada bagian terbawah gunung berumur eosin bawah,
maka oleh Van bemellen andesit tua diperkirakan berumur oligosen atas
sampai miosen bawah dengan ketebalan 660 m

3.4 Struktur Geologi Regional


Suyanto dan Roskamil (1975) mengemukakan, tektonostratigrafi
wilayah Jawa Tengah bagian selatan, terutama merupakan tinggian di bagian
barat dibatasi tinggian dan rendahan Kebumen serta di bagian timur dibatasi
oleh rendahan Yogyakarta. Tinggian Kulon Progo dicirikan oleh komplek
Gunung Api purba yang berada diatas batuan berumur Paleogen dan ditutupi
oleh batuan karbonat yang berumur Neogen. Cekungan Kulon Progo telah
mengalami beberapa kali tektonik. Van Bemmelen (1949) mengemukakan
bahwa tektonik pertama terjadi setelah formasi Nanggulan terendapkan pada
Kala Oligosen-Miosenn. Pada kala ini juga terbentuk tiga buah Gunung Api
yaitu G. Gadjah, G. Ijo dan G. Menoreh yang merupakan inti Kubah Kulon
Progo. Ketiga Gunung Api tersebut mengahasilkan Formasi Andesit Tua. G.
Gadjah merupakan gunung yang paling tua dan terletak dibagian tengah.
Gunung ini mempunyai kubah dengan sumbu panjang mengarah utara-selatan
dengan panjang 15 km dengan sumbu pendek mengarah ke barat-timur dengan
panjang 3-5 km. Gunung Ijo terletak di bagian selatan dan terbentuk setelah G.
Gadjah. Inti dari G. Ijo tersingkap berbentuk bundar dengan diameter sekitar
10 km. G. Ijo dikelilingi oleh breksi augit-hiperstand dengan kemiringan 15°-
20°. G. Menoreh terletak di bagian utara dan terbentuk paling akhir. Adanya
intrusi dasit dari kegiatan yang lebih dalam mengakibatkan G.. Menoreh
membentuk stratur kubah dengan pusat di G. Gandul. Kubah ini tertutup
lapisan breksi yang mempunyai kemiringan sebesar 40° kearah selatan.

Pada awal Miosen Atas terjadi pengangkatan beberapa kali, terjadi


transgresi dan terjadi pengendapan Formasi Jonggrangan yang memounyai
hubungan menjari dengan Formasi Senrtolo. Pada awal Pleistosen daerah
Kulon Progo mengalami tektonik aktif yang mengakibatkan pembentukan
bentang alam tinggian serta terjadinya pelipatan dan sesar, seperti terlihat di
bagian utara Pegunungan Kulon Progo (Daerah Salaman Magelang) yang
tersesarkan dan sebagian tenggelam di bawah kaki G. Merapi. Juga dibagian
timur dan barat Pegunungan Kulon Progo yang berbatasan dengan dataran
Yogyakarta dan dataran Pantai Jawa Tengah dengan memperlihatkan elevasi
yang sangat tajam. Kubah Kulon Progo dikelilingi sesar-sesar yang membentul
pola redier sebagai akibat peristiwa naiknya kubah (updoming) pada Kala
Pleistosen. Sesar-sesar di bagian selatan yang paling banyak dijumpai di
sekitaran G. Ijo. Disebelah utara G. Menoreh terdapat sesar turun yang
memisahkan kompleks Pegunungan Kulon Progo dengan dataran rendah Kedu
(Magelang).

Budiadi (2008) mempresentasikan keberadaan geologi Kulon Progo


berdasarkan pengamatan hilistik (keserbacakupan) pola struktur, pola sungai,
pola morfologi, kegiatan magma dan lingkungan tektonik yang teruji secara
statistic.

Kesimpulan umum menunjukkan bahwa tektonik aktif berpengaruh


terhadap pembentukan geomorfologi Pegunungan Kulon Progo, yang
terindikasi sebagai akibat Pola Meratus, Pembahasan khusus menyimpulkan
bahwa arah kelurusan sungai memiliki hubungan genesis dengan arah
kelurusan struktur yang dibangun sejak Zaman Tersier hingga masa kini.

Anda mungkin juga menyukai