Anda di halaman 1dari 5

PROSEDUR PEMBEDAHAN TELINGA

1. Prosedur Pembedahan Telinga Luar


a. Miringitomi Bilateral dengan Slang
Prosedur miringitomi bilateral dengan slang/saluran (bilateral
myriotomy with tubes , BMT). Dilakukan dibawah anestesi umum dengan
sedikit instrument dan sebuah mikroskop. Dibuat insisi dipars lensa membran
timpani dan efusi disedot diikuti oleh pemasangan saluran-saluran
timpanostomi berongga yang kecil.
Insisi di membrane timpani dapat dibuat di kuadran anteroinferior jika
slang/saluran dibiarkan pada tempatnya untuk jangka waktu yang lama atau
dikuadran psteroinferior jika waktunya singkat. (Glasscock & Shambaugh.
1990).
Prosedur
Langkah penting :
1) Tidak memerlukan persiapan kulit
2) Kepala dan mikroskop ditempatkan pada posisinya
3) Saluran telinga luar dibersihkan dengan kuret telinga
4) Membran timpani dinsisi dengan pisau miringotomi
5) Cairan disedot
6) Saluran timpanostomi dipasang dengan menggunakanfosep alligator
7) Saluran timpanostomi terpasang
8) Penyedotan selesai
9) Diberikan tetes telinga antibiotic
Komplikasi pemasangan saluran timpanostomi ialah kolesteatoma dan otorea
akut atau kronik. Mikroorganisme pseudomonas sering menjadi penyebab
otorea kronik . setelah operasi , anak dapat segera kembali menjalankan
aktivitasnya sehari-hari, dengan pemakaian sumbat telinga untuk aktivitas di
air. Sekitar 20% anak yang menjalani BMT harus menjalani prosedur tersebut
dua kali atau lebih (Schawrtz, 1987).
2. Prosedur Pembedahan Telinga Tengah
a. Stapedektomi/ Stapedetomi
Pembedahan stapes telah berkembang dari stapedektomi total pada
awalnya , menjadi stapedektomi parsial , kemudian menjadi stapedektomi
fenestra kecil (small fenestra stapedectomy, SFS) atau stapedetomi (Conrad,
1990). Prosedur melibatkan pengangkatan lesi otosklerotik di kaki stapes dan
pemasangan suatu implan untuk mempertahankan mekanisme penghantaran .
Sebagian ahli otology menyelipkan sebuah vena atau tandur jaringan ikat
diantara piston dan fenestra . sebagian besar ahli otology memotong tendon
stapedius untuk , menghindari nekrosis lentikular , yang dapat menyebabkan
prosthesis terlepas dari tempatnya .
Prosedur
Langkah penting :
1. Instrumen di tempatkan di Meja Mayo diatas kepala
2. Anastetik local, biasanya lidokain dengan epinefrin disuntikkan ke dalam
empat kuadran kanalis untuk mengontrol perdarahan
3. Kanalis dibersihkan, speculum dipasang , dan mikroskop dipasang.
Di antara piston dan fenestra. Sebagian besar ahli otology memotong
tendon stapeditis untuk menghindari nekrosis kontikular, yang dapat
menyebabkan prosthesis terlepas dari tempatnya.
Laser karbon dioksida dan laserkalium, titanil, fosfat, dapat digunakan
untuk membuat lubang di kakai stapes untuk insersi prostesi. Laser dapat
digunakan untuk meghilangkan jaringan ikat dan membuka jendela oval untuk
revisi (Smalley, 1990). Laser KTF menghilangkan jaringan ikat dan
menghasilkan focus yang tajam dan mengurangi kekhawatiran mengenai
perlengketan yang berkaitan dengan pemakaian laser karbon dioksida. Agar
berkas sinar tidak menembus struktur-struktur telinga dalam dan
menimbulkan kerusakan sensorineural, amaka pemakaian alat laser ini harus
berhati-hati. Apabila menggunakan laser karbon dioksida makan ukuran spot
harus dikurangi sampai kurang dari 0,3 mm untuk mencegah tulang hangus
dan berbentuk tepi yang bergerigi (smalley, 1990). Agar berhasil maka laser
karbon dioksida harus koksial dan parfokal. Pda penggunaan lase,
pengeluaran darah minimal. Pasien mungkin menyatakan adanya perbaikan
pendengaran saat masih d ruang operasi. Seperti pada pemakaian laser
lainnya, lapangan pemedahan harus di tutup dengan handuk basah, laser
disiapkan dalam mode stand byjika tidak digunakan dan di meja alat harus
selalu disediakan air steril untuk memadamkan api atau ledakan yang
mungkin timbul.
Hasil-hasil yang tercatat antara lain adalah:
1. Prosedur-prosedur vena dan polietilen: 73% memperlihatkan penutupan
permanen celah udara-tulang, dan 5% masih mengalami perbaikan 6
sampai 11 tahun setelah perasi.
2. Rekonstruksi piston melalui bagian posterior kaki stapes: 91%
memperlihatkan penutupan dan 4% memeprlihatkan perbaikan 3 sampai 6
tahun pascaoperatif (Morrison, 1971). Sekitar 90% telinga yang dioperasi
akan memperoleh kembali pengerannya secara permanen dan 1% akan
secara permanen bertambah buruk (Conrad, 1990).
b. Timpanoplasti
Perforasi membrane timpani yang menetap mungkin memerlukan
penutupan secara pembedahan. perforasi kronik mungkin relative tidak
menimbulkan nyeri namun menyebabkan timbulnya otorea yang berbau
busuk. Perforasi sentral (jenis tumbotimpani) dapat diperbaiki dengan
prosedur pembedaan sederhana. Perforasi marginal lebih sering memerlukan
rekonstruksi pembedahan (timpanoplasti) membrane timapi. Perforasi di
superior posterior pars tensa dan perforasi di pars flaksida (posisi lonteng)
membrane timpani memiliki korelasi tinggi dengan pementukan kolesteatoma
(Falcione,1990). Kolesteatoma terjadi akibat migrasi sel kulit dan telinga
eksterna melalui perforasi di membrane timpani.
Terdapat lima jenis Timpanoplasti:
1) Penutupan perforasi membrane timpani dengan suatu tandur, seperti pada
miringoplasti
2) Penutupan perforasi dengan tandur, terutama otak dengan badan inkus
3) Melekatkan tandur ke stapes jika tidak terdapat maleus dan inkus
4) Invaginasi tandur ke dalam jendela oval jika semua tulang pendengaran
tidak ada kecuali kaki stapes yang bergerak
5) Invaginasi tandur ke dalam jendela oval seperti IV tetapi disertai adanya
kaki stapes yang tidak dapat begerak
Pendekatkan dapat dilakukan melaui kanails telinga, belakang daun
telinga, atau melalui keduanya. Ahli bedah mengatakan sisa-sisa membrane
timpani. Bagian telinga tengah yang sakit kemudian diankat dengan picks,
kuret, atau bor. Diperlukan irigasi untuk membersihkan kotoran dan
mempertahankan agar lapangan operasi tetap bersih.
Tandur fasia temporalis, yang dapat diambil sebelum atau setelah prosedur
pembedahan teliga, dapat dibiarkan atau mengering pada suatu permukaan
dasar atau ditekan untuk mempermudah penangannaya. Ahli bedah akan
memangkas tandur dan menempatkannya dengan pick atau forsep alligator.
Tandur dapat dilekatkan di tempatnya dengan spons gelatinosa.
Dalam hal ini di sini perlu diperhatikan anestesi nitrosa oksida. Nitrosa
oksid, yang 34 kalilebih mudah larut dibandingkan nitrogen, masuk ke
rongga-rongga berisi udara misalnya telinga tengh lebih leih cepat
dibandingkan udara yang keluar sehingga terjadi peningkatan tekanan telinga
tengah. Dengan demikian, konsentrasi nitrosa oksida yang dihirup harus
dibatasi sampai 50%, dengan penghentian inhalasi selama paling sedikit 5
menit sebelum tandur dipasang (Stoeliting & Miller, 1989)
c. Mastoidektomi
Pada tahun 1873, Hermann schwartz menyusun indikasi dan teknik
operasi mastoid sederhana (Glasscock & Shambaugh, 1990). Mastoidektomi
adalah pengangkatan prosesus mastoideus secara pembedahan untuk
menghilangkan tulang yang sakit. Pada mastoidektomi dapat dilakukan
pengangakatan proseus matoideus secara pembedahan untuk menghilangkan
tulang yang sakit. Pada mastoidektomi dapat dilakukan pengangkatan
sebagian tulang pendengaran dan dinding kanalis atau apabila diperlukan
pengangkatan yang radikal, pengangkatan seluruh tulang pendengaran dan
dinding kanalis.