Anda di halaman 1dari 13

UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP 2017/2018

Nama : Bara Yudistira Baklaes Waktu:


NIM : 03042681721008 Penguji: Dr.Ir. Endang Wiwik DH,MSc
Mata Kuliah : Pemodelan dan Evaluasi Cadangan
Prodi : S2 Teknik Pertambangan
Hari/Tanggal : 5 Mei 2018

1. Perusahaan pertambangan X mempunyai data eksplorasi nikel seperti di bawah ini

a. Data koordinat batas IUP perusahaan

Easting Northing
-5 67
37 67
37 53
105 53
105 1
53 1
53 -12
-5 -13
-5 67

b. Data eksplorasi lubar bor yang menunjukan tubuh biji nikel dan saplorite

Lubang Koordinat Evaluasi Kedalaman Kadar Keteragan


bor Easting Northing collar Dari Ke Ni(%)
DH1 5 -4 254 4 9 2.4
DH2 3 24 250 1 5 2.2
DH3 29 25 251 1 6 2.3
DH4 4 60 252 3 7 1.6
DH5 28 44 254 5 10 2.1
DH6 31 5 253 2 7 2.3
DH7 57 30 250 0.5 5 2
DH8 12 44 251 2 6 2.3
DH9 63 48 252 1 5.5 2.2
DH10 89 28 250 1 6 2.4
DH11 81 7 251 1 5.5 1.5
DH12 52 17 251 0.25 5 2.1
DH13 96 46 249 0.25 4.5 2.2
DH14 102 8 250 0.25 4.75 1.3
c. Bidang sesar geser di temukan pada lokasi A(67,1) dan lokasi B(83,53)
Soal: Buat model endapan nikel, hitung cadangannya dan jelaskan penyebaran dan
genesa nikel tersebut.
2. Perusahaan pertambangan P mempunyai data eksplorasi batubara seperti di bawah ini
Buat model endapan batubara berdasarkan data eksplorasi di bawah ini dan tentukan
cadangan an jelaskan penyebarannya dan genesa batubaranya.
Data bor perusahaan P

Koordinat Kedalaman Batubara Tebal


Hole Overburden
Elev Seam
ID X Y Z Top Bottom Elev top (m)
Bottom I(m)
LP-01 352560 9571370 188 21.7 33.7 166.3 154.3 21.7 12
LP-02 352540 9571190 200 27.5 39.4 172.5 160.6 27.5 11.9
LP-15 352866 9571408 195 195 195 0 0
LP-04 352663 9570959 235 193.4 184 41.6 9.4
LP-05 352811 9571104 225 41.6 51 166.5 157.8 58.5 8.7
LP-13 353050 9571410 206 58.5 67.2 147.5 138.8 58.5 8.7
LP-14 352882 9571265 207 36.7 48.3 170.3 158.7 36.7 11.6
LP-06 232065 9570663 306 306 306 0 0
LP-10 353276 9571548 232 232 232 0 0
LP-11 353108 9571457 238 238 238 0 0
LP-08 353740 9571240 247 247 247 0 0
LP-07 353594 9570706 281 281 281 0 0
LP-09 353990 9571470 275 275 275 0 0
LP-12 352908 9571534 210 210 210 0 0
LP-16 352660 9571500 203 34.7 43.9 168.3 159.1 34.7 9.2
LP-20 352029 9571219 196 40.6 54.7 155.4 141.3 40.6 14.1
LP-18 352177 9571409 185 3.7 15.4 181.3 169.6 3.7 11.7
LP-19 352278 9571268 201 8.8 23.3 192.2 177.7 8.8 14.5
LP-03 352422 9571079 201 21.5 35.5 179.5 165.5 21.5 14
LP-21 352027 9571380 205 33.3 35.6 171.7 169.4 33.3 2.3
39.5 52.8 165.5 152.2
LP-17 352324 9571495 190 5 6.8 185 183.2 5 1.8
190 7.5 22.8 182.5 167.2
190 50 58 140 132
LP-22 352175 9571625 179 6.8 19.4 172.2 159.6 6.8 12.6
179 40.3 40.8 138.7 138.2

3. Jelaskan selengkapnya persyaratan utama dalam evaluasi dan pemodelan cadangan


mineral.
4. Diskusikan tentang model geothermal.
Jawaban.

3. Evaluasi cadangan adalah bagian penting dalam perencanaa tambang karena merupakan
tahap untuk menilai dan memperkirakan kuantitas dan nilai ekonomis cadangan. Sedangkan
aspek penting agar hasil eksplorasi yang telah dilakukan mempunyai nilai kuantitatif adalah
analisis dan perhitungan cadangan.

Beberapa persyaratan dalam evaluasi dan pemodelan cadangan batubara adalah:

1) Dapat mencerminkan secara tepat kondisi geologi, karakteristik, dan sifat endapan,

2) Dilaksanakan sesuai dengan tujuan evaluasi,

3) Harus didasarkan pada data faktual yang diolah secara objektif,

4) Harus memberikan hasil yang dapat diuji ulang (diverifikasi),

5) Harus menghasilkan tingkat kepercayaan hasil perhitungan:

 Kebenaran dan pengetahuan dalam interpretasi seam batubara

 Kepadatan data (grid density) yang cukup

 Asumsi dan pendekatan variabel dalam interpretasi dapat


dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan teknis.

 Pendekatan rumus perhitungan tidak melanggar kaidah matematika yang ada.

Evaluasi cadangan batubara ini merupakan pekerjaan (tahap) lanjutan dari hasil
Pemodelan Sumberdaya Batubara. Pada tahapan ini mulai diterapkan (diidentifikasikan)
batasan-batasan teknis maupun ekonomis yang dapat menjadi pembatas dari model
sumberdaya batubara yang telah diterapkan (dimodelkan) sebelumnya. Selain itu, pada
tahapan ini diharapkan telah dapat dikuantifikasi jumlah batubara yang realistis dan layak
yang dapat diperoleh melalui penambangan dengan metoda & sistem penambangan yang
dipilih sesuai dengan model sumberdaya yang telah diketahui. Secara umum, aspek-aspek
penting yang akan diuraikan & dipelajari adalah sebagai berikut :
 Penentuan & pemilihan pit potensial
 Konsep nisbah kupas (stripping ratio)
 Faktor-faktor pembatas dan losses
 Metode-metode perhitungan cadangan batubara
 Konsep optimasi jumlah cadangan tertambang.

Beberapa pengertian/definisi dasar yang berhubungan dengan evaluasi cadangan batubara


(diadopsi dari : geological survey circular 891, 1983) adalah :
 Coal (batubara) : suatu batuan yang dapat terbakar yang tersusun lebih dari 50% berat
(lebih dari 70% volume) material karbonan (carbonaceous), termasuk inherent
moisture yang terbentuk material (bagian) tumbuhan yang telah mengalami kompaksi,
perubahan fisik-kimia oleh panas & tekanan dalam skala waktu geologi.
 Coal bed (seam) : seluruh lapisan (batubara dan parting) yang terdapat diantara batas
roof (atap) dan floor (lantai).
 Bone coal (bone) : impure coal yang mengandung banyak lempung atau material-
material detrital berukuran halus dan kadang-kadang dikonotasikan dengan istilah
silty coal atau shally coal atau sandy coal.
 Impure coal (coaly) : suatu batubara (coal) yang mengandung lebih dari 33% berat abu
dan dapat diasosiasikan sebagai parting dalam suatu lapisan (seam) batubara.
 High ash coal : batubara yang mengandung lebih dari 15% abu dalam basis as-
received.
 High sulfur coal : batubara yang mengandung lebih dari 3% sulfur dalam basis as-
received.
 Recoverable coal : batubara yang dapat/bisa diekstrak dari suatu lapisan batubara pada
saat penambangan. Term “Recoverable” ini biasanya dikombinasikan dengan
sumberdaya (resources) bukan dengan cadangan (reserve).
 Mineable coal : kapasitas (jumlah) cadangan batubara yang dapat ditambang
(tertambang) pada kondisi teknologi penambangan sekarang, dengan telah
mempertimbangkan faktor lingkungan, hukum & perundang-undangan serta peraturan
yang berlaku (legalitas), serta kebijakan pemerintah yang diterapkan.

Untuk ketebalan, penyebaran lapisan batubara, serta evaluasi cadangan, beberapa


catatan khusus yang perlu diperhatikan adalah :
1) Suatu penentuan ketebalan batubara belum dapat dikatakan komplit (valid) jika :
a. Pengukuran tebal dilakukan pada singkapan dimana batuan disekitarnya
memperlihatkan gejala slumping,
b. Pengukuran tebal dilakukan pada suatu singkapan batubara yang lapuk (tidak segar),
c. Pengukuran tebal dilakukan pada titik bor yang tidak menembus dengan baik roof &
floor lapisan batubara,
d. Pengukuran tebal dilakukan pada daerah yang diketahui mengalami erosi bidang
pada roof/floor lapisan batubara,
e. Pengukuran tebal dilakukan dengan cara membuat channel pada suatu lapisan
batubara, namun diketahui lapisan tersebut telah mengalami perubahan letak
(perpindahan) atau pada bongkah.
2) Tingkat keyakinan geologi terhadap model sumberdaya yang dikonstruksi :
a. Jarak antar titik informasi,
b. Konsep dalam pengkorelasian batubara,
c. Tingkat ketelitian (detil) dalam mengidentifikasikan struktur geologi.
3) Derajat kelayakan ekonomis suatu pembukaan tambang batubara dipengaruhi oleh :
a. ketebalan lapisan batubara & overburden,
b. rank dan kualitas batubara,
c. biaya (cost) penambangan,
d. perkiraan harga jual batubara,
e. serta perkiraan (target) keuntungan.

Penentuan dan Pemilihan Pit


Penentuan & pemilihan pit potensial merupakan sebagai langkah awal dalam
melakukan evaluasi cadangan batubara. Penentuan pit potensial ini diperlukan untuk dapat
memperkirakan/memprediksi suatu areal sumberdaya batubara yang potensial untuk nantinya
akan dikembangkan menjadi suatu lokasi pit penambangan. Data-data awal yang diperlukan
merupakan data-data yang
diperoleh/dihasilkan pada saat melakukan model sumberdaya, yaitu
 Peta topografi : untuk mengetahui (melihat) variasi topografi (terutama daerah
tinggian – lembah).
 Peta geologi lokal : untuk mengetahui variasi litologi, pola sebaran & kemenerusan
lapisan batubara, serta pola struktur geologi.
 Peta iso-ketebalan : untuk mengetahui variasi ketebalan dari batubara, sehingga jika
disyaratkan ketebalan minimum yang akan dihitung, maka peta ini dapat digunakan
sebagai faktor pembatas.
 Peta elevasi top (atap / roof) batubara ; untuk mengetahui pola kemenerusan lapisan
batubara.
Langkah awal yang dilakukan untuk penentuan pit potensial ini adalah
membuat (mengkonstruksi) peta iso-overburden, yaitu dengan cara melakukan
overlay antara peta struktur roof (elevasi top) batubara dengan peta topografi. Nilai
kontur pada peta iso-overburden merupakan refleksi dari ketebalan overburden. Peta
iso-overburden secara umum (gamblang) dapat menggambarkan (merefleksikan)
kondisi sebaran batubara terhadap variasi topografi pada areal tertentu
4. Definisi model menurut English Thesaurus adalah gambaran sederhana yang
digunakan untuk memberikan pemahaman tentang kejadian-kejadian atau suatu
kondisi yang ada di alam. Definisi model menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah contoh dari sesuatu yang akan dibuat atau telah ada. Model geologi 3
dimensional menyatukan kedua definisi tersebut sehingga model geologi 3
dimensional adalah model yang dibuat sebagai gambaran sederhana keadaan geologi
untuk memberikan pemahaman tentang kondisi geologi bawah permukaan dengan
cara memberikan visualisasi data yang terintegrasi. Sistem panas bumi mencakup dua
komponen utama dalam pembuatan model geologi 3 dimensional yaitu pemodelan
stratigrafi dan struktur. Kedua komponen tersebut menghasilkan model geologi
berupa stratigrafi yang terpengaruh struktur. Model yang dihasilkan digunakan untuk
mempermudah pemahaman kondisi geologi bawah permukaan pada lokasi tersebut.
Dibutuhkan beberapa aspek penting untuk menghasilkan model yang baik. Beberapa
aspek tersebut adalah kemampuan memodelkan struktur dan hubungan antar formasi
geologi, kemampuan melakukan integrasi model dengan data sumur bor atau data
tambahan lainnya, memiliki kemampuan menginterpolasi yang tepat, kemampuan
menghasilkan model yang dapat digunakan pada sarana pemodelan lanjutan, dan
memiliki efisiensi yang baik dalam proses pembuatannya. Aspek-aspek tersebut
dibutuhkan untuk menghasilkan model yang baik dan mudah diubah ketika
didapatkan data baru. Selain itu aspek-aspek tersebut juga mempengaruhi proses
pemodelannya. Struktur merupakan hal yang sangat penting dalam pemodelan
geologi. Tanpa adanya struktur, maka tidak akan ada jalan bagi uap, panas, atau
bahkan gas dan minyak untuk mencapai permukaan (Zakrevsky, 2011). Struktur
merupakan hal yang penting terutama pada sistem panas bumi hidrotermal yang
berkembang di Indonesia. Hal ini dikarenakan struktur menjadi jalur sirkulasi air dan
memberikan titik manifestasi panas bumi. Selain struktur, hubungan antar formasi
yang merupakan bidang lemah antar batuan juga berperan sebagai jalur sirkulasi air
sistem panas bumi hidrotermal. Pada gambar 1 menunjukkan bagaimana sebuah data
sumur (a) dapat menghasilkan dua hubungan antar formasi geologi yang berbeda (b
dan c) (Corbel et al., 2010). Sebuah sarana pemodelan harus mampu menghasilkan
hubungan antar formasi yang dirasa tepat oleh pembuatnya.

Model yang dibuat harus sesuai dengan data yang dimiliki. Kriteria ini dibutuhkan
karena model yang dibuat seringkali hanya berdasarkan intuisi pembuatnya dan tidak
mempedulikan data yang dimiliki dikarenakan pembuatan model berdasarkan data
memakan waktu yang sangat lama (Cowan et al., 2002). Satu hal yang tidak dapat
dipisahkan dari pemodelan adalah metode interpolasi (algoritma) yang digunakan
(Mallet and Mallet, 2002). Saat ini telah banyak metode interpolasi yang dapat
digunakan seperti krigging, IDW, RBF, natural neighbor, dll. Sarana pemodelan
dituntut dapat menghasilkan model yang tepat. Model yang dihasilkan akan berbeda
antara satu metode interpolasi dan metode yang lain. Gambar 2 menunjukkan contoh
perbedaan persebaran suhu dengan menggunakan metode interpolasi yang berbeda.

Dengan menggunakan beberapa aspek yang disebutkan sebelumnya, didapatkan beberapa


perangkat lunak yang memenuhi aspek-aspek tersebut seperti Schlumberger Petrel, Intrepid
Geomodeller, Leapfrog Geothermal, dll. Dalam penelitian ini penyusun memilih untuk
menggunakan perangkat lunak Leapfrog Geothermal® karena perangkat lunak ini merupakan
perangkat lunak yang dibuat khusus untuk pemodelan sistem panas bumi. Fitur yang dimiliki
perangkat lunak Leapfrog Geothermal. Perangkat lunak Leapfrog Geothermal® mampu
memodelkan struktur dengan menggunakan data bor atau pembuat model menarik garis
strukturnya. Jika pembuat model menggunakan kedua metode tersebut dalam 1 model maka
perangkat lunak Leapfrog Geothermal® memberikan prioritas penggunaan data yang sama.
Pemberian proporsi yang seimbang ini memberikan keuntungan pada pembuatan struktur
geologi yang lebih akurat. Perangkat lunak Leapfrog Geothermal® memiliki kekurangan
karena struktur hanya bisa menghilang atau berhenti jika keluar batas pemodelan atau
dipotong oleh struktur yang lebih muda. Padahal sering dijumpai struktur yang menghilang
tanpa ada penerusannya pada peta geologi. Perangkat lunak Leapfrog Geothermal®
memberikan kebebasan kepada pengguna dalam menentukan hubungan antar formasinya. Hal
ini membuat pembuat model harus mengeri apakah satuan yang dimodelkan sebagai deposit,
intrusi, atau yang lain. Perangkat lunak Leapfrog Geothermal® mempermudahnya menjadi
empat hubungan utama, yaitu deposit (pengendapan selaras), erosi (pengendapan tidak
selaras), intrusi, dan vein. Perangkat lunak Leapfrog Geothermal® menggunakan data bor
sebagai dasar pemodelan untuk mempersingkat proses pembuatan menjadi lebih cepat dan
memastikan integrasi data bor dengan modelnya. Perangkat lunak Leapfrog Geothermal®
menggunakan Radial Bassis Function sebagai metode interpolasinya. Metode interpolasi ini
adalah metode interpolasi global yang dirancang untuk melakukan interpolasi pada
persebaran data yang acak, tidak rata, dan jarak antar data cukup jauh (Franke, 2014).
Kondisi persebaran data yang acak, tidak rata, dan jarak antar data yang cukup jauh sering
ditemui di lokasi pengembangan panas bumi sehingga metode interpolasi ini adalah metode
interpolasi yang tepat untuk menghasilkan model yang baik. Perangkat lunak Leapfrog
Geothermal® terintegrasi dengan sarana pemodelan fluida Tough2, Feflow, dan Modflow.
Ketiga sarana pemodelan tersebut adalah sarana pemodelan yang umum digunakan pada
pemodelan fluida, air tanah, ataupun transfer panas. Selain model yang dihasilkan perangkat
lunak Leapfrog Geothermal® dapat digunakan pada ketiga sarana pemodelan tersebut, model
yang dihasilkan oleh ketiga sarana pemodelan tersebut juga dapat digunakan pada perangkat
lunak Leapfrog Geothermal® untuk dilakukan simulasi fluida. Perangkat lunak Leapfrog
Geothermal® tidak memisahkan proses pemodelan dan interpretasi untuk meningkatkan
efisiensi dalam pembuatanmodel . Ahli komputer dan ahli kebumian harus bekerja bersama
dalam pembuatan model. Ahli kebumian berperan sebagai pengarah pembuatan model dan
ahli komputer berperan sebagai pembuat model. Perangkat lunak Leapfrog Geothermal®
membuat proses penggunaan menjadi cukup mudah sehingga ahli kebumian dengan
pengetahuan dasar komputer yang cukup dapat mengambil kedua peran sebagai ahli
kebumian dan ahli komputer sekaligus untuk meminimalkan penggunaan tenaga kerja. Proses
pemodelan yang digunakan penyusun dalam membuat model tersusun dari input dan kalibrasi
data, pembuatan model stratigrafi, pembuatan model struktur geologi, pembuatan model
geologi, dan analisa kualitas model. Gambar 3 menunjukkan bagan proses pemodelannya.

Pada tahap input dan kalibrasi data dilakukan digitasi data dan korelasi data yang didapatkan.
Data yang dimiliki terkadang berupa gambar atau tulisan sehingga perlu diubah menjadi data
digital. Data juga dikorelasikan untuk melihat penyebaran data dan hubungannya satu sama
lain karena seringkali data yang didapatkan memiliki data yang berbeda. Misal pada dua bor
yang berdekatan ditemukan nama litologi yang berbeda seperti lava dan andesit, data tersebut
perlu dianalisa dan dilakukan koreksi data pada data agar data tidak bertentangan. Data
struktur juga dilakukan koreksi dan penyederhanaan agar struktur dapat dimodelkan dengan
baik. Jika data yang dimiliki tidak memeuhi kaidah cross-cutting relationship maka perangkat
lunak Leapfrog Geothermal® tidak mampu memodelkannya. Gambar 4 menunjukkan
struktur pada lapangan (atas) dan struktur yang disederhanakan untuk dimodelkan (bawah).

Pada tahap pembuatan model stratigrafi dilakukan pembuatan model stratigrafi dengan
menggunakan data yang telah dikoreksi dan dibuat satuan stratigrafi baru yang mencakup
semua satuannya. Penyusun membuat garis batasbatas satuan geologi dan menentukan
hubungan masingmasing satuan stratigrafi terhadap satuan stratigrafi yang lain. Model
dihasilkan dengan garis batas satuan geologi yang diinterpolasikan dengan data bor dan data
geologi permukaannya. Gambar 5 menunjukkan model stratigrafi yang dihasilkan. Model
tersebut hanya berisi lapisan-lapisan batuan dan hubungannya satu sama lain tanpa adanya
kehadiran struktur sehingga pada beberapa bagian terlihat batas satuan saling berpotongan.

Tahap pembuatan model struktur geologi dilakukan tanpa adanya unsur stratigrafi. Tahap ini
dilakukan dengan cara penyusun membuat garis struktur pada permukaan beserta sudut
kemiringan strukturnya. Yang paling penting dalam pembuatan model struktur adalah
menentukan usia relatif dan hubungan antar strukturnya. Gambar 6 menunjukkan bagaimana
struktur yang lebih tua (ungu dan hijau) menghilang pada struktur yang lebih muda (biru
muda) dan saling memotong dengan struktur yang lainnya.

Pada tahap pembuatan model geologi dilakukan penyatuan model stratigrafi dan model
struktur. Tahap ini dilakukan dengan menentukan lapisan batuan apa yang dipotong oleh
suatu struktur. Model yang dihasilkan juga disesuaikan dengan data penampang geologi yang
dimiliki dengan menggunakan data garis. Gambar 7 menunjukkan proses penyesuaian model
yang dihasilkan dengan penampang geologi untuk menghasilkan model yang sesuai dengan
penampang geologi.

Pada tahap analisa kualitas model dilakukan pemeriksaan model terhadap data yang dimiliki.
Jika pada model terdapat kenampakan yang menyalahi data seperti penyebaran stratigrafi
yang terubah karena struktur atau ketidaksamaan dengan data bor maka proses pembuatan
model geologi perlu diulangi. Jika model yang dihasilkan tidak menyalahi data maka model
geologi 3 dimensional sistem panas bumi telah dapat diterima. Model yang dihasilkan dapat
memberikan visualisasi untuk mempermudah dalam pemahaman kondisi geologi. Dengan
menggunakan model yang dihasilkan dapat dibuat beberapa penampang geologi baru atau
melihat penyebaran satuan geologi secara 3 dimensional sehingga mempermudah proses
eksplorasi ataupun pengembangan lapangan panas bumi. Selain visualisasi, model yang
dihasilkan juga bisa digunakan untuk memperkirakan jalur pemboran baru (sumur prognosis)
seperti yang ditunjukkan pada gambar 8. Dengan perkiraan jalur pemboran tersebut, maka
dapat dibuat rencana pemboran yang lebih matang dan dapat memberikan hasil yang lebih
baik.

3.
.