Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Farmasi didefinisikan sebagai profesi yang menyangkut seni dan ilmu
penyedian bahan obat, dari sumber alam atau sistemik yang sesuai, untuk
disalurkan dan digunakan pada pengobatan dan pencegahan penyakit.
Farmasi mencangkup pengetahuan mengenai identifikasi, pemilihan, aksi
farmakologis dan pengawetan terhadap obat-obatan. Seorang ahli farmasi
sangat penting memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan
menganalisis senyawa obat.
Analisis farmasi merupakan proses mengenal sifat-sifat kimia fisika
bahan obat disebut atau dengan identifikasi atau sering juga disebut analisa.
Analisis farmasi disebut sebagai teknik analisis obat adalah suatu kegiatan
yang diperlukan untuk melakukan pengujian kualitas bahan obat maupun
obat jadi. Analisis yang dimaksud adalah analisis yang mencangkup dua
konsep yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.
Analisis kualitatif merupakan identifikasi bahan baku obat dan analisis
kuantitatif merupakan penetapan kadar bahan baku obat maupun sediaan
obat dengan kandungan zat aktif tunggal. Metode analisis obat yang
diuraikan merupakan metode konvensional yang dapat dilakukan di
laboratorium sederhana dengan alat-alat yang sederhana pula. Analisis
kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen, spesies,
dan/atau senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel. Analisis kualitatif
berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu analit yang
dituju dalam suatu sampel. Analisis kuantitatif adalah analisis untuk
menentukan jumlah kadar dari suatu elemen atau spesies yang ada di dalam
sampel. Bidang farmasi terutama pada industri farmasi, analisis kimia
digunakan secara rutin untuk menentukan suatu bahan baku yang akan
digunakan, produk setengah jadi dan produk jadi. Hasilnya dibandingkan
dengan spesifikasi yang ditetapkan (Cartika, Harpolia, 2016).
Pengaruh pemberian suatu bahan baku yang tidak sesuai dengan standar
kefarmasian dalam analisis farmasi akan memberikan dampak serius pada
masyarakat yang menggunakan. Dampak serius dari penggunaan obat-oatan
yaitu berupa alergi. Pada kenyataannya untuk mengatasi penyakit penyakit
alergi ini diperlukan obat-obatan antihistamin. Alergi termasuk salah satu
jenis penyakit yang sering dijumpai dalam masyarakat. Manifestasi dari
alergi dapat berupa Asma Bronkhiale (pada saluran nafas bawah), rinitis
alergika (pada hidung), UrtikarialEksim (pada kulit). Selain itu, manifestasi
alergi terberat dapat berupa syok anafilaktik. Dari seluruh penyakit akibat
alergi, angka kejadian rhinitis diperkirakan lebih kurang sebanyak 200/0
(Asma antara 2-10%, dan Eksim 1-2 %) (Widjaja, M.C, 2002). Masyarakat
masih menganggap bahwa penyakit alergi ini dapat sembuh dengan
sendirinya.
Beberapa contoh golongan Antihistamin yang dapat digunakan sebagai
analisis kualitatif yaitu golongan Antihistamin H1 dan Antihistamin H2.
Oleh karena itu dalam percobaan ini kami melakukan Analisis kualitatif
antihistamin golongan H1 dan H2 yang dilakukan di Laboratorium Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Mandiri Gorontalo.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud percobaan
Maksud percobaan dalam melakukan praktikum ini yaitu; Analisis
secara Kualitatif golongan Antihistamin H1 dan Antihistamin H2
1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan dalam melakukan praktikum ini yaitu; Untuk
mengetahui Analisis secara Kualitatif golongan Antihistamin H1 dan
Antihistamin H2.
1.3 Prinsip percobaan
1.3.1 Analisis Antihistamin H1 dan Antihistamin H2
Antihistamin H1 dan Antihistamin H2 menghasilkan hasil positif
menggunakan pereaksi Cuprifil. Pereaksi cuprifil memiliki komposisi
NaOH, HCl dan CuSO4. NaOH berguna untuk menghasilkan positif
berwarna biru. HCl berguna untuk menstabilkan pH dari sampel yang
besifat basa. CuSO4 berfungsi untuk membetuk zat lebih komplek sehingga
membentuk hasil positif dengan berwarna biru (Rohman, Abdul. 2007).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Antihistamin
Histamin sendiri dikenal sebagai mediator kimia yang penting pada
peradangan dan secara khusus berperan dalam respon hipersensitivitas tipe
cepat. Hipersensitivitas atau yang dikenal dengan nama alergi adalah
perubahan reaksi tubuh atau pertahanan tubuh terhadap suatu benda asing
yang terdapat di dalam lingkungan hidup sehari-hari. Alergi termasuk salah
satu jenis penyakit yang sering dijumpai dalam masyarakat. Manifestasi dari
alergi dapat berupa Asma Bronkhiale (pada saluran nafas bawah), rinitis
alergika (pada hidung), UrtikarialEksim (pada kulit). Selain itu, manifestasi
alergi terberat dapat berupa syok anafilaktik. Dari seluruh penyakit akibat
alergi, angka kejadian rhinitis diperkirakan lebih kurang sebanyak
200/0(Asma antara 2-10%, dan Eksim 1-2 %) (Widjaja, M.C, 2002).
Antihistamin dalam dosis terapi, efektif untuk mengobati edema, eritem
dan pruritus, tetapi tidak dapat melawan efek hipersekresi asam lambung
akibat histamin. Antihistamin tersebut digolongkan dalam antihistamin
penghambat reseptor H1 (AH1). Setelah tahun 1972 ditemukan kelompok
antihistamin baru yang dapat menghambat sekresi asam lambung akibat
histamin. Antihistamin ini digolongkan sebagai antihistamin penghambat
reseptor H2 (AH2). Kedua jenis antihistamin ini bekerja secara kompetitif
yaitu dengan menghambat interaksi histamin dan reseptor histamin H1 atau
H2 (Ganiswara, SG. 1995).
2.1.1 Antihistamin H1
Antihistamin AH1 generasi pertama merupakan reseptor yang tidak
selektif, obat-obatan ini juga mempunyai afinitas yang tinggi terhadap
reseptor-reseptor dopaminergik, serotoergik, alpha-adrenergik, dan
kolinergik di otak. Semua antihistamin generasi pertama termasuk semua
obat-obatan tanpa resep dokter yang tersedia di pasaran menyebabkan efek-
efek yang tidak diinginkan seperti hilangnya kewaspadaan dalam
mengemudi dan bekerja, menurunkan ketangkasan dan dapat meningkatkan
efek buruk ethanol dalam menyebabkan kerusakan psikomotor. Penurunan

3
produktivitas pekerja yang disebabkan oleh antihistamin sedatif banyak
ditemukan dalam studi klinik. Kasus kecelakaan yang paling sering terjadi
pada penggunaan obat-obat antihistamin sedatif adalah luka bakar, diikuti
dengan luka terbuka dan luka tusuk, juga patah tulang dan dislokasi sendi
(Buske, M. & Laurance Du. 2002.
A. Cetirizin
Cetirizin adalah metabolit karboksilat dari antihistamin generasi
pertama hidroksizin, diperkenalkan sebagai antihistamin yang tidak
mempunyai efek sedasi. (dipasarkan pada Desember 1995). Obat ini
tidak mengalami metabolisme, mulai kerjanya lebih cepat dari pada
obat yang sejenis dan lebih efektif dalam pengobatan urtikaria kronik.
Efeknya antara lain menghambat fungsi eosinofil, menghambat
pelepasan histamin dan prostaglandin D 2. Cetirizin tidak menyebabkan
aritmia jantung, namun mempunyai sedikit efek sedasi sehingga bila
dibandingkan dengan terfenadin, astemizol dan loratadin obat ini lebih
rendah (Andri, L.,Dkk, 1993).

Gambar 1: Struktur Kimia Cetirizine


B. CTM
Klorfeniramin maleat adalah turunan alkilamin yang merupakan
antihistamin dengan indeks terapetik (batas keamanan) cukup besar
dengan efek samping dan toksisitas yang relatif rendah. Klorfeniramin
maleat juga merupakan obat golongan antihistamin penghambat
reseptor H1 (AH1) (Siswandono, 1995).
Pemasukan gugus klor pada posisi para cincin aromatik feniramin
maleat akan meningkatkan aktifitas antihistamin. Berdasarkan struktur
molekulnya, memiliki gugus kromofor berupa cincin pirimidin, cincin
benzen, dan ikatan –C=C- yang mengandung elektron pi (π)
terkonjugasi yang dapat mengabsorpsi sinar pada panjang gelombang
tertentu di daerah UV (200-400 nm), sehingga dapat memberikan nilai
serapan (Rohman, Abdul, 2007).

Gambar 2: Struktur Kimia CTM

C. Loratadin
Loratadin merupakan antihistamin trisiklik dan merupakan derivat
azatadin, tetapi pHnya lebih kecil dan lebih polar dibanding senyawa
induknya sehingga distribusi dalam SSP kecil. Efek samping loratadin
tidak memperlihatkan efek sedatif yang secara klinis bermakna pada
pemberian dosis 10 mg. Efek samping yang sering dilaporkan rasa
kecapaian, sakit kepala, mulut kering, jantung berdebar, gangguan
pencernaan seperti mual dan muntah. Studi penelitian klinis terkontrol
efek samping loratadin sebanding dengan plasebo, dimana loratadin
tidak memperlihatkan sifat sedatif atau antikolinergik yang secara klinis
bermakna (Tjay, T. H., dan Rahardja, K. 2007).
Loratadin memiliki rumus molekul C22H23ClN2O2 dengan berat
molekul (BM) 382,88 g/mol dan digunakan sebagai obat anti-rhinitis
alergi dengan mekanisme antagonis reseptor histamin H1. Loratadin

5
berbentuk serbuk berwarna putih tulang dan tidak larut dalam air, tetapi
mudah larut dalam alkohol, aseton dan kloroform (Sweetman, S.C.,
2009).

Gambar 3 : Struktur Kimia Loratadin


2.1.2 Antihistamin H2
Setelah tahun 1972, ditemukan kelompok antihistamin baru yang dapat
menghambat sekresi asam lambung akibat histamin yaitu burinamid,
metilamid dan simetidin. Ternyata antihistamin generasi kedua ini memberi
harapan untuk pengobatan ulkus peptikum, gastritis atau duodenitis.
Antihistamin generasi kedua mempunyai efektifitas antialergi seperti
generasi pertama, memiliki sifat lipofilik yang lebih rendah sulit menembus
sawar darah otak. Reseptor H1 sel otak tetap diisi histamin, sehingga efek
samping yang ditimbulkan agak kurang tanpa efek mengantuk. Obat ini
ditoleransi sangat baik, dapat diberikan dengan dosis yang tinggi untuk
meringankan gejala alergi sepanjang hari, terutama untuk penderita alergi
yang tergantung pada musim. Obat ini juga dapat dipakai untuk pengobatan
jangka panjang pada penyakit kronis seperti urtikaria dan asma bronkial.
Peranan histamin pada asma masih belum sepenuhnya diketahui. Pada dosis
yang dapat mencegah bronkokonstriksi karena histamin, antihistamin dapat
meredakan gejala ringan asma kronik dan gejala-gejala akibat menghirup
alergen pada penderita dengan hiperreaktif bronkus. Namun, pada
umumnya mempunyai efek terbatas dan terutama untuk reaksi cepat
dibanding dengan reaksi lambat, sehingga antihistamin generasi kedua
diragukan untuk terapi asma kronik (Ganiswara, SG. 1995).
A. Antimo (Dimenhidrinat-difenhidramit)
Difenhidramin merupakan generasi pertama obat antihistamin.
Dalam proses terapi difenhidramin termasuk kategori antidot, reaksi
hipersensitivitas, antihistamin dan sedatif. Memiliki sinonim
Diphenhydramine HCl dan digunakan untuk mengatasi gejala alergi
pernapasan dan alergi kulit, memberi efek mengantuk bagi orang yang
sulit tidur, mencegah mabuk perjalanan dan sebagai antitusif, anti mual
dan anestesi topikal (Ganiswara, SG. 1995).

Gambar 4: Struktur Kimia Difenhidramin


2.2 Uraian sampel
A. Cetirizin (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Cetirizine Hydrochloride
Sinonim : Cetirizine
Berat molekul : 461,8
Rumus molekul : C21H25ClN2O3,2HCl
Khasiat : Antihistamin
Kelarutan : Bebas larut dalam air, praktis tidak larut dalam
aseton dan metal klorida
Pemerian : Putih atau hampir putih bubuk
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai sampel
A. CTM (Ditjem POM, 1979)
Nama lain : Chlorpheniramini Maleas
Rumus molekul : C6H19ClN2.C4H4O4
Berat molekul : 390,67
Khasiat : Antihistaminikum

7
Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam 4 bagian air, dalam 10 bagian etanol
95%P dan dalam 10 bagian kloroform P, sukar larut
dalam eter p.
Kegunaan : Sampel
B. Loratadin (Dirjen POM, 1995)
Nama Resmi : Loratidine
Nama lain : Loratidin
Rumus Molekul : C22H23ClN2O2
Farmakologi : Kompetisi dengan histamin bebas untuk mengikat
reseptor H1. Antagonis kompetitif ini akan
menghambat efek histamin pada reseptor H1 di
saluran gastrointestinal, uterus, pembuluh Darah
dan otot bronkus. Peran spesifik, selektif pada
reseptor H1 perifer menghasilkan aktivitas
antagonis. Tidak memiliki aktivitas antikolinergik,
atau α-adrenergik blocker yang cukup dalam uji in
vitro
Dosisi : Dosis Dewasa, usia lanjut, anak 12 tahun tahun atau
lebih : 10 mg (1 tablet) sehari sekali. Anak-anak usia
2 – 12 tahun : BB > 30 kg, 10 mg sehari. BB ≤ 30
kg, 5 mg sehari. Khasiat dan keamanan penggunaan
pada anak-anak usia dibawah 2 tahun belum
terbukti.
Efek samping : Loratadine tidak memperlihatkan efek mengantuk,
lelah, sakit kepala, somnolensi, mulut kering,
gangguan pencernaan, nausea, gastritis dan alergi
yang menyerupai ruam.
Khasiat : Antihistamin
Kegunaan : Sebagai Sampel
C. Antimo (Dimenhidrinat-difenhidramit) (Gunawijaya, F. A. 2000)
Berat Molekul : 291.82
Rumus Molekul : C17H21NO.C7H7CIN4O2
Farmakologi : Dimenhidrinat mempunyai efek depresi sistem
saraf pusat, antikolinergik, antiemetik, antihistamin,
dan anestesi lokal. Efek antiemetik dimenhidrinat
tercapai dalam 15-30 menit setelah dosis oral dan
Dosis/Cara pakai : Dewasa dan anak (12 tahun ke atas): 50-100 mg tiap
4-6 jam, tidak lebih dari 400 mg dalam 24 jam, atau
seperti petunjuk dokter. Anak usia 6 - <12 tahun:
25-50 mg tiap 6-8 jam, tidak lebih dari 150 mg
dalam 24 jam, atau seperti petunjuk dokter.
Interaksi Obat : Meningkatkan efek obat-obat penekan SSP,
meningkatkan efek obat-obat antikolinergik (seperti
antidepresi trisiklik), menutupi gejala awal
ototoksisitas bila diberikan bersama-sama dengan
obat-obat ototoksik (seperti aminoglikosida)
Penyimpanan : Dalam suhu kamar dan dalam wadah tertutup rapat,
tidak tembus cahaya.
Khasiat : Antihistaminikum dan Antiemetikum,
Kegunaan : Sebagai sampel.
2.3 Uraian bahan
A. Aquadest (Dirjen POM, 1979)
Sinonim : Aqua destillata
Berat molekul : 18,02
Rumus molekul : H2O
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan
tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Zat pengencer dan sebagai komposisi Fehling A

9
B. HCl (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Acidum Hydrochloridum
Nama Lain : Asam klorida
Rumus Molekul : HCl
Berat Molekul : 36,46
Pemerian : Cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang;
jika diencerkan dengan 2 bagian air, asap dan bau
akan hilang.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Zat tambahan dan sebagai komposisi Fehling A
C. NaOH (Dirjen POM, 1979)
Sinonim : Natrii hydroxydum
Berat molekul : 40,00
Rumus molekul : NaOH
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol
(95%)
Pemerian : Bentuk batang, butiran,massa hablur atau keeping,
kering, keras, rapuh, dan menunjukkan susunan
hablur; putih, mudah meleleh basah, sangat alkalis
dan korosif.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
D. CuSO4 (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Cupri Sulfat
Nama Lain : Tembaga (II) sulfat
Rumus Kimia : CuSO4
Berat Molekul : 159,60
Pemerian : Serbuk keabuan
Kelarutan : Larut perlahan-lahan dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Zat adatif dan sebagai komposisi Fehling A
BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain; buret, bunsen,
corong, erlenmeyer, gegep kayu, gelas kimia, kaca arloji, lumpang alu, pipet
tetes, plat tetes, rak tabung reaksi, sendok tanduk, spatula, statif dan klem
serta tabung reaksi.
3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain:
Aquadest, Cuprifil (komposisi; NaOH, CuSO4, HCl) dan sampel (CTM,
Cetririzine, Loratadin dan Antimo).
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Antihistamin H1
A. Cetirizin
- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
- Digerus tablet cetrizin
- Dimasukkan kedalam tabung reaksi
- Ditambahkan 5 tetes aquades
- Ditambahkan 2 tetes NaOH
- Ditambahkan 2 tetes HCl
- Ditambahkan 1 CuSO4
- Diamati perubahan warna positif (biru)
B. CTM (Chlorpeniramine-maleate)
- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
- Digerus tablet CTM
- Dimasukkan kedalam tabung reaksi
- Ditambahkan 5 tetes aquades
- Ditambahkan 2 tetes NaOH
- Ditambahkan 2 tetes HCl
- Ditambahkan 1 CuSO4
- Diamati perubahan warna positif (biru).

11
C. Loratadin
- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
- Digerus tablet Loratadin
- Dimasukkan kedalam tabung reaksi
- Ditambahkan 5 tetes aquades
- Ditambahkan 2 tetes NaOH
- Ditambahkan 2 tetes HCl
- Ditambahkan 1 CuSO4
- Diamati perubahan warna positif (biru).
3.3.2 Antihistamin H2
A. Antimo (Dimenhidrinat-dipenhidramin)
- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
- Digerus tablet Dimenhydrinate
- Dimasukkan kedalam tabung reaksi
- Ditambahkan 5 tetes aquades
- Ditambahkan 2 tetes NaOH
- Ditambahkan 2 tetes HCl
- Ditambahkan 1 CuSO4
- Diamati perubahan warna positif (biru).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
Metode uji Sampel Pereaksi Hasil Gambar
Analisis Sampel +
Antihistamin Aquadest + Warna biru
H1 Cetirizin Cuprifil (NaOH (+) Golongan
2 tetes + HCl 2 Antihistamin
tetes + CuSO4 1 H1)
tetes

Sampel +
Aquadest +
Warna biru
CTM Cuprifil (NaOH
(+) Golongan
2 tetes + HCl 2 Antihistamin
H1)
tetes + CuSO4 1
tetes
Sampel +
Aquadest +
Warna biru
Loratadin Cuprifil (NaOH
(+) Golongan
2 tetes + HCl 2 Antihistamin
H1)
tetes + CuSO4 1
tetes
Uji Sampel +
Antihistamin
Aquadest +
H2 Antimo Warna biru
Cuprifil (NaOH
(+) Golongan
2 tetes + HCl 2 Antihistamin
H2)
tetes + CuSO4 1
tetes
4.2 Pembahasan
Analisis farmasi mencakup analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.
Analisis secara kualitatif sendiri yaitu suatu analisis yang menunjukkan
keberadaan suatu zat atau unsur tertentu dalam suatu sampel, sedangkan

13
analisis secara kuantitatif yaitu suatu analisis yang menyatakan jumlah suatu
zat atau unsur dalam sampel. Pada percobaan ini kami menggunakan
analisis kualitatif uji identifikasi golongan Antihistamin H1 dan
Antihistamin H2.
Identifikasi golongan Antihistamin H1 kami menggunakan sampel
Cetirizin, CTM (Chlorpeniramine maleat) dan Loratadin. Pada uji kualitatif
golongan antihistamin H1 sampel cetirizin, CTM dan loratadin dengan
mengambil sampel secukupnya menggunakan sendok tanduk dan digerus
menggunakan mortir. Kemudian kami masukan masing-masing sampel ke
dalam tabung reaksi dan ditambahkan aquadest 5 tetes dan dikocok
perlahan-lahan. Kemudian di lanjutkan dengan menambahkan masing-
masing 2 tetes NaOH 2 tetes HCl dan 1 tetes CuSO4. Setelah melakukan
perlakuan tersebut diperoleh hasil positif golongan Antihistamin H1
ditandai dengan perubahan warna menjadi biru.
Identifikasi golongan antihistamin H2 dengan menggunakan sampel
Antimo (Dimenhidrinat-dipenhidramin) dengan perlakuan yang sama
seperti identifikasi golongan antihistamin H1 yakni dengan mengambil
sampel secukupnya dengan sendok tanduk dan digerus menggunakan
lumpang & alu. Setelah itu dimasukkan ke dalam tabung reaksi sampel
tersebut dan ditambahkan aquadest secukupnya. Kemudian di lanjutkan
dengan menambahkan masing-masing 2 tetes NaOH, 2 tetes HCl dan 1 tetes
CuSO4. Setelah melakukan perlakuan tersebut diperoleh hasil positif
golongan Antihistamin H2 ditandai dengan perubahan warna menjadi warna
biru.
Terdapat penambahan NaOH, HCl dan CuSO4 pada identifikasi
Antihistamin H1 dan Antihistamin H2 NaOH untuk menghidrolisis aquadest
agar tidak dapat bereaksi dengan pereaksi lain, penamabahan HCl berguna
untuk menstabilkan pH dari sampel dimana keempat sampel tersebut besifat
basa sehingga dinetral dengan HCl. Pada saat penambahan CuSO4
berfungsi untuk membetuk zat lebih komplek sehingga membentuk warna
yakni warna biru (Rohman, Abdul. 2007).
.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Hasil percobaan yang diperoleh dalam percobaan ini dapat disimpulkan
bahwa metode analisis kualitatif yang digunakan dalam uji antihistamin
yaitu menggunakan uji golongan Antihistamin H1 dan uji golongan
Antihistamin H2 yang masing-masing perlakuannya menggunakan pereaksi
cuprifil. Pereaksi cuprifil sendiri memiliki komposisi NaOH, HCl dan
CuSO4 untuk menentukan positif senyawa golongan antihistamin.
5.2 Saran
A. Untuk laboratorium
Sebaiknya rekan-rekan penanggung jawab alat dan bahan
laboratorium agar selalu memfokuskan diri terhadap tanggung
jawabnya sebagai penanggung jawab Laboratorium.
B. Untuk Asisten
Dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan terhadap
praktikan saat melakukan praktikum diperlukan penjelasan-penjelasan
yang bijak jika terjadi kesalahan dalam melakukan perlakuan untuk
masing-masing uji. Sehingga kami sebagai praktikan mampu
meminimalisir kesalahan yang terjadi pada praktikum selanjutnya.
C. Untuk Praktikan
Dalam melakukan uji kualitatif dan kuantitatif sebaiknya
diperhatikan alat-alat yang digunakan, terutama pada penggunaan alat
titrasi. Dikarenakan dapat mempengaruhi hasil akhir titrasi yang tidak
diinginkan.

15
DAFTAR PUSTAKA
Andri L, Senna GE, Betteli C. 1993. "A comparison of the efficacy of cetirizine and
terfenadine. A double blind controlled study of chronic idiopathic urticaria".
Allergy 48: 358-65.

Buske, M. & Laurance Du. 2002. "International Journal on Immunorehabilitation".


I.R.E.N.E; Sicthburg, USA.

Cartika, Dra. Harpolia, M.Farm., Apt. dkk., 2016.,. “Modul Bahan Ajar Cetak
Farmasi Kimia Farmasi". Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber
Daya Manusia Kesehatan. Jakarta Selatan.

Dirjen POM. 1979. “Farmakope Indonesia Edisi III”. Depkes RI. Jakarta

Dirjen POM. 1995. “Farmakope Indonesia Edisi IV”. Depkes RI: Jakarta.

Ganiswara, SG. 1995. "Farmakologi dan Terapi edisi 4". Bagian Farmakologi
FKUI; Jakarta

Gunawijaya, F. A. 2000. “Manfaat Penggunaan Antihistamin Generasi Ketiga”.


FK Univ. Trisakti

Hastia, F. (2010). “Penetapan kadar rifampisin dan isoniazid dalam sediaan tablet
secara multikomponen dengan metode spektrofotometri ultraviolet”.
Universitas Sumatera Utara; Medan.

Rohman, Abdul. 2007. "Kimia Farmasi Analisis". Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Siswandono. 1995. “Kimia Medisinal”. Airlangga University Press. Surabaya.

Sweetman, S.C., 2009. Martindale The Complete Drug Reference". Thirty Sixth
Edition. Pharmaceutical Press; New York

Tjay, T. H., dan Rahardja, K. 2007. "Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan
Efek-Efek Sampingnya". Edisi ke VI. Jakarta: PT Elex Media Komputindo;
Jakarta.

Widjaja, M.C. 2002. "Mengatasi Diare Dan Keracunan Pada Balita". Kawan
Pustaka; Jakarta.