Anda di halaman 1dari 3

KERANGKA ACUAN KEGIATAN

PELACAKAN PENDERITA KATARAK


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIMPANG PERIUK TAHUN 2017

1. Latar Belakang
a) Dasar Hukum
1) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 Tentang
Kewenangan Pemerintah Dankewenangan Propnsi Sebagai Daerah Otonom
3) Kepmenkes Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 Tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
4) Kepmenkes Nomor 1437/MENKES/SK/X/2005 tentang rencana Strategi Nasional
Penanggulangan Gangguan Penglihatan Dan Kebutaan Untuk Mencapai Vision 2020
b) Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang telah mencanangkan diri untuk memusatkan perhatian
pada masalah kebutaan melalui komitmennya terhadap VISION 2020, the Global
Initiative for the Elimination of Avoidable Blindness. Prevalensi kebutaan di Indonesia
merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, yaitu 1,5%, dengan 52% dari jumlah
tersebut (0,78%) disebabkan oleh katarak. Dalam kaitan dengan kelompok usia,
prevalensi kebutaan katarak ditemukan semakin tinggi seiring bertambahnya umur,
yaitu 20/1000 pada kelompok usia 45-59 tahun, dan tertinggi (50/1000) pada kelompok
usia >60 tahun. Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 melaporkan bahwa pada tahun
2025, jumlah penduduk kelompok usia >55 tahun diperkirakan akan meningkat
menjadi 61 juta, yaitu sekitar seperempat keseluruhan penduduk Indonesia. Dengan
adanya kasus- kasus lama yang belum tertangani akibat rendahnya tingkat operasi
katarak di Indonesia, ditambah dengan peningkatan kasus baru sebanyak 0,1% (24
0.000 kasus baru) setiap tahun, akan terus terjadi penumpukan kasus katarak antara
kasus-kasus lama dan penambahan kasus-kasus baru sehingga terjadi apa yang dikenal
sebagai backlog katarak.
Hal yang patut disadari adalah bahwa kebutaan bukan hanya merupakan beban
pribadi penderita tetapi juga beban bagi orang-orang di sekeliling penderitayang
menjadi caregiver penderita Kondisi ini memberi dampak buruk terhadap produktivitas,
kualitas hidup, serta kesejahteraan baik individu maupun keluarga, dan dalam lingkup
lebih besar, komunitas serta negara. Oleh karena itu, selain sebagai masalah kesehatan
masyarakat (public health), kebutaan dan gangguan penglihatan juga sudah menjadi
masalah sosial ekonomi yang harus diatasi secara sungguh-sungguh guna memutus
rantai kebutaan kemiskinan, dan memperoleh kembali sumber daya manusia yang
hilang. Dengan masalah tersebut diatas maka Puskesmas Simpang Periuk
melaksanakan program penjaringan katarak.
2. Maksud dan tujuan :
a. Maksud kegiatan
Pelaksanaan kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan derajat kesehatan
indera penglihatan masyarakat dan mampu memahami pentingnya manfaat dari
pelacakan penderita katarak di wilayah kerja Puskesmas Simpang Periuk
b. Tujuan kegiatan
1) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan dan kader
2) Meningkatnya kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat untuk memelihara
kesehatan mata.
3) Meningkatnya jangkuan pelayanan kesehatan indera penglihatan kepada
masyarakat melalui penjaringan katarak
3. Pelaksanaan kegiatan
a. Urutan kegiatan
Pemeriksaan kesehatan mata masyarakat diadakan setiap 6 bulan sekali dalam satu
tahun di 9 kelurahan yang ada di wilayah kerja BLUD Puskesmas Simpang Periuk
b. Batasan kegiatan
1. Melaksanakan penjaringan katarak diluar gedung dengan melibatkan kader
posyandu, tokoh masyarakat, dan pemerintahan desa
2. penyuluhan kesehatan pada sektor program penjaringan katarak
3. Melaksanakan deteksi dini pemeriksaan mata.
4. Meningkatkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
5. Melaksanakan monitoring dan evaluasi
6. Rujukan kasus-kasus penyakit mata
4. Indikator keluaran dan keluaran
a. Indikator keluaran
Diketahui jumlah masyakat beserta hasil pelacakan penderita katarak
b. Keluaran
Dengan melakukan pelacakan penderita katarak diharapkan dapat mendeteksi sedini
mungkin kelainan kesehatan mata pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas
Simpang Periuk.
5. Tempat pelaksanaan kegiatan
Kegiatan diselenggarakan 6 bulan sekali setiap tahun di SD,SMP,SMA wilayah kerja
Puskesmas Simpang Periuk tahun 2017 sesuai dengan jadwal kegiatan masing-masing.
6. Biaya.
Biaya kegiatan ini akan dibebankan pada pembiayaan BOK tahun anggaran 2017
sebesar Rp 1.800.000, (satu juta delapan ratus ribu rupiah).

Mengetahui, Lubuklinggau, Januari 2017


Pimpinan BLUD Puskesmas Simpang Periuk Pelaksana Kegiatan
Kec. Lubuklinggau Selatan II

dr. Willy Prima Lukita Uci Suminta, S.Kep


NIP. 19800209 200604 2 006 NIP. 19850501 200904 2 001