Anda di halaman 1dari 15

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. Multiplle Intelligence
1. Pengertian Multiple Intelligences
Multiple Intelligences yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kecerdasan
majemuk atau kecerdasan ganda merupakan salah satu teori kecerdasan yang memperoleh
banyak pengakuan akhir-akhir ini. Teori ini dicetuskan oleh Howard Gardner, psikolog
dari Harvard. Mula-mula Gardner menemukan tujuh jenis kecerdasan tetapi kemudian
mengembangkannya menjadi delapan, dan membahas kemungkinan kecerdasan yang ke
Sembilan.
Menurut Gardner kecerdasan dalam multiple intelligences meliputi kecerdasan verbal-
lingustik (cerdas kata), kecerdasan logis-matematis (cerdas angka), kecerdasan visual-
spasial (cerdas gambar-warna), kecerdasan musikal (cerdas musik-lagu), kecerdasan
kinestetik (cerdas gerak), kecerdasan interpersonal (cerdas sosial), kecerdasan
intrapersonal (cerdas diri), kecerdasan naturalis (cerdas alam), kecerdasan eksistensial
(cerdas hakikat). Setiap kecerdasan dalam multiple intelligences memiliki indikator
tertentu. Kecerdasan majemuk anak diidentifikasi melalui observasi terhadap perilaku,
tindakan, kecenderungan bertindak, kepekaan anak terhadap sesuatu, kemampuan yang
menonjol, reaksi spontan, sikap, dan kesenangan.
Beberapa komponen kecerdasan yang dimiliki setiap individu menurut Lunenburg dan
Lunenburg (2014), diantaranya yaitu:
a. Linguistic Intelligence (kecerdasan linguistik)
Adalah kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif baik
secara lisan maupun tertulis. Ciri-ciri anak dengan kecerdasan linguistic yang menonjol
biasanya senang membaca, pandai bercerita, senang menulis cerita atau puisi, senang
belajar bahasa asing, mempunyai perbendaharaan kata yang baik, pandai mengeja, suka
menulis surat atau e-mail, senang membicarakan ide-ide dengan teman-temannya,
memiliki kemampuan kuat dalam mengingat nama atau fakta, menikmati permainan kata
(utak-atik kata, kata-kata tersembunyi, scrabble atau teka-teki silang, bolak-balik kata,
plesetan atau pantun) dan senang membaca tentang ide-ide yang menarik minatnya.
b. Logical-mathematical intelligence (kecerdasan logika-matematika)
Kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan
hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Guru dapat meningkatkan
kecerdasan logika-matematika siswa dengan mengajar menguraikan, sebab-akibat dan
hubungan skenario sebagai petunjuk untuk menulis, mengajar tata aturan bahasa dan
kalimat diagram, merancang kode abjad dan angka, mencari pola di dalam kelas, sekolah,
di luar ruangan, dan rumah.
c. Spatial intelligence (kecerdasan spasial)
Kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual secara tepat, seperti dimiliki para
pemburu, arsitek, navigator, dan dekorator.Anak-anak dengan kecerdasan visual – spatial
yang tinggi cenderung berpikir secara visual. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap
warna, garis, bentuk, ruang dan hubungan antarunsur tersebut. Seorang anak yang memiliki
kecerdasan dalam spasial biasanya lebih mengingat wajah ketimbang nama, suka
menggambarkan ide-idenya atau membuat sketsa untuk membantunya menyelesaikan
masalah, berpikir dalam bentuk gambar-gambar serta mudah melihat berbagai objek dalam
benaknya, dia juga senang membangun atau mendirikan sesuatu, senang membongkar
pasang, dan senang membaca. . Guru dapat meningkatkan kecerdasan spasial siswa dengan
menggunakan diagram untuk pengajaran konsep menulis, menggunakan gambar sebagai
petunujuk untuk menulis, berimajinasi sebelum menulis.

d. Bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinestetik-tubuh)


Kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan
dan perasaan seperti ada pada aktor, atlet, penari, pemahat, dan ahli bedah. Anak-anak
dengan kecerdasan bodily – kinesthetic di atas rata-rata, senang bergerak dan menyentuh.
Guru dapat meningkatkan kecerdasan kinestetik-tubuh siswa melalui aktivitas fisik, belajar
menggunakan bantuan tangan, bermain peran, dan latihan relaksasi fisik.
e. Musical intelligence (kecerdasan musik)
kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati bentu-bentuk
musik dan suara. Anak dengan kecerdasan musical yang menonjol mudah mengenali dan
mengingat nada-nada. Ia juga dapat mentranformasikan kata-kata menjadi lagu, dan
menciptakan berbagai permainan musik. Mereka pintar melantunkan beat lagu dengan baik
dan benar. Mereka pandai menggunakan kosakata musical, dan peka terhadap ritme,
ketukan, melodi atau warna suara dalam sebuah komposisi music. . Guru dapat
meningkatkan kecerdasan musik siswa melalui merangkum pembelajaran kedalam sebuah
lirik lagu dan menyanyikannya serta berbicara dengan menggunakan irama tertentu.
f. Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal)
Kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi,
watak, temperamen orang lain. Anak dengan kecerdasan interpersonal yang menonjol
memiliki interaksi yang baik dengan orang lain, pintar menjalin hubungan sosial, serta
mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi. Guru dapat
meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa dengan mendesain pembelajaran dengan
aktivitas kelompok, seminar dan dialog.

g. Intrapersonal intelligence (kecerdasan intrapersonal)


Kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan
untuk bertindak secara adaptatif berdasar pengenalan diri. Anak dengan kecerdasan intra
personal yang menonjol memiliki kepekaan perasaan dalam situasi yang tengah
berlangsung, memahami diri sendiri, dan mampu mengendalikan diri dalam situasi konflik.
Guru dapat meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa dengan memberi tugas individu,
kegiatan reflektif, seperti menulis jurnal dan penelitian independen.

h. Naturalist intelligence (kecerdasan natural)


Kemampuan untuk memahami, menghubungkan, mengkategorikan,
mengklasifikasikan dan menjelaskan hal yang ditemui di alam sekitar. Guru dapat
meningkatkan kecerdasan natural siswa dengan memberi belajar di alam, membedakan
makhluk hidup (tumbuhan dan hewan) dengan benda mati (batu dan awan), memberikan
sebuah isu mengenai hubungan kehidupan dengan ilmu.

i. Eksistensial-spiritual
Kemampuan untuk berpose dan merenungkan pertanyaan tentang keberadaan-
termasuk kehidupan dan kematian. Kecerdasan ini dimiliki dalam domain dari filsuf dan
pemimpin agama. Siswa dengan kecerdasan ini cenderung menjadi seseorang yang harus
meletakkan segala sesuatu ke dalam kerangka yang lebih besar, perspektif global, konteks
historis. Mereka memiliki kecenderungan untuk menjadi begitu terfokus pada gambaran
besar bahwa mereka sering melupakan rincian yang diperlukan. Kecerdasan kesembilan
ini belum sepenuhnya diterima oleh guru di dalam kelas.

2. Multiplle Intelligences dalam pembelajaran

Dalam proses pembelajaran yang menstimulasian multiple intelligences siswa,


mendorong guru untuk mendesain bahan pelajaran (isi kurikulum) yang akan disajikan
berbeda dengan proses pembelajaran yang konvensional. Dalam proses pembelajaran yang
menstimulasi multiple intelligences, guru secara dinamis terus menerus dan dengan cara
yang kreatif, selalu berpindah dari satu metode ke metode lain. Pandangan teori multiple
intelligences tentang penggunaan metode pembelajaran adalah bahwa guru dapat
menggunakan berbagai macam metode untuk diterapkan. Ini berarti tidak ada satu metode
pembelajaran yang paling cocok untuk semua siswa. Kemampuan guru dalam proses
pembelajaran akan tercermin pada keterampilannya melakukan improvisasi dalam
mengunakan berbagai metode pembelajaran.
Setiap anak memiliki sisi kuat dan lemah dalam area kecerdasan, pada pembelajaran
dengan menggunakan satu atau dua area kecerdasan, misalnya dengan kecerdasan spasial
saja. Siswa yang memiliki kecerdasan spasial yang kuat akan menikmati pembelajaran
serta dapat meningkatkan sisi briliannya sedangkan siswa yang memiliki kecerdasan
spasial lemah tidak menikmati pembejaran dan tidak dapat meningkatkan sisi briliannya
(Yalmanci dan Gozum, 2013). Kecerdasan seseorang “yang lemah” dapat berubah menjadi
kecerdasan yang terkuat apabila mereka diberikan kesempatan untuk berkembang
(Amstrong, 2013). Siswa akan belajar dengan baik ketika mereka tertarik dengan sesuatu.
Mereka belajar dengan bermain (Eberle, 2011).
Pembelajaran menerapkan teori multiple intelligences memungkinkan pembelajaran
lebih bervariasi menyesuaikan dengan ke delapan area intelligences seperti area Body-
kinestetik dengan aktivitas membuat animasi menggunakan anggota tubuh dan area
Musikal dengan membuat presentasi power poin dengan musik. Pembelajaran dengan teori
multiple intelligences lebih meningkatkan skor keberhasilan dan juga setelah 3 minggu
siswa masih dapat mengingat apa yang telah diajarkan (Yalmanci dan Gozum, 2013). Hal
ini menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut tidak hanya masuk ke dalam short term
memory namun masuk ke dalam long term memory.
Berikut ini merupakan implementasi dari 4 multiple intelligences yang dipilih dalam
penelitian:
a. Kecerdasan Spasial:
Penyajian pikiran secara visual. Banyak informasi yang dapat disajikan secara visual
dalam bentuk peta, bagan, grafik, dan diagram untuk menghasilkan tingkat pemahaman
dan ingatan yang paling tinggi. Mind map (peta pikiran merupakan cara penyajian secara
visual yang dikembangkan ahli belajar untuk belajar. Pemetaan pikiran digunakan sebagai
alat pemecahan masalah, pemikiran kritis, pencatatan, dan pencetusan gagasan. Peta
pikiran sudah terbukti dapat meningkatkan kreativitas, pemahaman, dan ingatan (Lwin,
2008)
Simbol-simbol gambar. Gambar sangat penting untuk memahami siswa yang
cenderung menggunakan kecerdasan spasial, guru yang dapat mendukung pengajarannya
dengan menggunakan gambar, simbol, dan kata-kata akan dapat meraih pemelajar dengan
jangkauan yang lebih luas. Sebagai contoh dengan membuat simbol-simbol gambar yang
melukiskan konsep yang sedang dipelajari, misalnya menunjukkan tiga jenis benda dengan
menggambarkan sebuah benda padat (gambar tanda/simbol yang tebal/padat), benda cair
(tanda-tanda melengkung renggang), dan benda gas (titik-titik kecil) (Amstrong, 2013).
b. Kecerdasan Interpersonal
Aktivitas berbagi dalam kelompok (peer sharing). Berbagi merupakan strategi
kecerdasan multiple yang paling mudah dilaksanakan. Yang perlu guru lakukan adalah
mengatakan pada siswa untuk berbalik kepada orang yang ada didekatnya dan bagilah
topik yang dipelajari. Rekan berbagi juga dapat berkembang menjadi tutor kelompok (satu
siswa membimbing atau mengajar materi khusus untuk siswa lain) (Amstrong, 2013).
Campbell dkk. (2002) menjelaskan bahwa untuk mengembangkan kecerdasan
interpersonal antara lain dengan belajar kelompok, mengerjakan suatu proyek,resolusi
konflik, pengenalan terhadap ekspresi dan emosi orang lain.
c. Kecerdasaan Intrapersonal
Campbell dkk. (2002), menyatakan bahwa kecerdasan intapersonal dapat
dikembangkan dengan mengagumi diri sendiri, refleks, perasaan, organisasi waktu,dan
perencanaan untuk masa depan, self analisis.Hubungan-hubungan pribadi. Siswa
seringkali bertanya tentang “Apa maksud semua ini harus dilakukan dalam hidup saya?”.
Guru membantu siswa menjawab pertanyaan ini dengan membuat hubungan-hubungan
antara apa yang diajarkan dan kehidupan pribadi siswa. Strategi ini meminta guru untuk
menjalin hubungan-hubungan pribadi dengan siswa, perasaan, dan pengalaman ke dalam
pengajaran. Guru dapat melakukan ini melalui pertanyaan-pertanyaan seperti “Berapa
banyak dari Anda yang pernah...?”, misalnya untuk memperkenalkan pelajaran sistem
kerangka, Guru bertanya “Berapa banyak orang disini yang pernah patah tulang?”. Siswa
kemudian berbagi pengalaman dan cerita sebelum melanjutkan ke pelajaran anatomi
(Amstrong, 2013).
d. Kecerdasan Musikal-ritmik
Kecerdasan musikal dapat dilatihkan dengan memberikan siswa tugas menyanyi,
membuat lagu, atau mengungkapkan materi dalam bentuk suara. Mengajak siswa
menyanyikan lagu-lagu dengan syair sederhana dengan irama dan birama yang mudah
diikuti dapat digunakan untuk mengembangkan kecerdasan musikal .

B. Lembar Kegiatan Siswa


1. Pengertian LKS
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) merupakan sumber belajar penunjang yang di
dalamnya terdapat tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar Kegiatan Siswa
(LKS) dilengkapi oleh petunjuk kerja dan langkah-langkah yang dapat digunakan untuk
menyelesaikan suatu tugas (Daryanto dan Dwicahyono, 2014). Prastowo (2013)
menyatakan LKS adalah suatu bahan ajar cetak berupa lembaran-lembaran yang berisi
materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang dikerjakan
oleh siswa yang mengacu pada kompetensi dasar. Tugas yang diberikan ke siswa dapat
berupa tugas teoritis dan atau tugas praktis. Upaya untuk memaksimalkan pemahaman
siswa dalam pencapaian hasil belajar yang harus ditempuh adalah dengan penggunaan LKS
sebagai panduan belajar.
2. Kriteria LKS yang Baik
Secara umum LKS memuat: 1) kompetensi yang akan dicapai; 2) informasi yang
berkaitan dengan materi; 3) ringkasan materi; 4) petunjuk penggunaan; 5) langkah kerja
dan permasalahan yang dijadikan bahan diskusi; 6) hasil diskusi; 7) latihan soal; 8)
penilaian. Berdasarkan penjelasan Darmojo dan Kaligis (1992) LKS yang dikembangkan
setidaknya memiliki karakter yang dilandasi tiga syarat sebagai berikut.
a. Syarat didaktis yaitu:
1) Mengajak siswa aktif dalam pembelajaran, di dalam LKS terdapat aktivitas-aktivitas
yang dapat memotivasi siswa untuk belajar.
2) Menekankan pada proses dalam menemukan konsep, berfungsi sebagai petunjuk bagi
siswa untuk mencari informasi bukan hanya sebagai alat pemberitahu informasi.
3) Memberi variasi rangsangan melalui berbagai macam media dan kegiatan.
4) Mengembangkan komunikasi sosial, emosional, moral, dan estetika pada siswa,
sehingga tidak hanya ditunjukkan untuk mengenal fakta-fakta dan konsep-konsep
akademis tetapi juga kemapuan sosial dan psikologis.
5) Pengalaman belajar ditentukan oleh tujuan pengembangan pribadi siswa bukan materi
pembelajaran.
b. Syarat konstruksi yaitu:
1) Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan siswa.
2) Menggunakan struktur kalimat yang jelas.
3) Memiliki urutan sesuai tingkat kemampuan siswa, dari hal-hal sederhana menuju hal-
hal yang lebih kompleks.
4) Menghindari pertanyaan yang terlalu terbuka.
5) Tidak mengacu pada sumber belajar di luar kemampuan siswa.
6) Menyediakan ruang yang cukup pada LKS untuk menulis ataupun menggambarkan
hal-hal yang ingin disampaikan siswa.
7) Menggunakan kalimat sederhana dan pendek.
8) Menggunakan lebih banyak ilustrasi daripada kalimat.
9) Dapat digunakan anak dengan tingkat kemampuan yang bervariasi, baik yang lamban
maupun cepat.
10) Memiliki tujuan belajar yang jelas dan bermanfaat.
11) Memiliki identitas dalam rangka memudahkan administrasi.
c. Syarat teknis yaitu:
1) Menggunakan huruf cetak, bukan latin atau romawi.
2) Menggunakan huruf dengan ukuran besar agak tebal untuk topik bahasan, bukan huruf
dengan ukuran standar yang bergaris bawah;
3) Menggunakan kurang dari atau sama dengan 10 kata dalam satu baris.
4) Menggunakan keserasian perbandingan dengan gambar.
3. Tujuan Penyusunan LKS
Prastowo (2013) menyatakan, terdapat beberapa tujuan penyusunan LKS, yaitu:
a. Menyajikan bahan ajar yang mempermudah siswa untuk melakukan interaksi dengan
materi yang diberikan oleh guru,
b. Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan siswa dalam menguasai materi yang
diberikan,
c. Melatihkan siswa belajar mandiri,
d. Memudahkan guru dalam memberikan tugas kepada siswa.

4. Manfaat LKS
Manfaat LKS menurut Majid (2011) yaitu memudahkan guru dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran, siswa akan belajar secara mandiri dan belajar memahami serta
mengerjakan suatu tugas dalam bentuk tugas tertulis. Penelitian yang pernah dilakukan
mengungkapkan bahwa LKS dapat meningkatkan ketertarikan siswa dalam pembelajaran
dan memiliki kualitas yang berpengaruh pada kesuksesan yang positif dalam memahami
materi pelajaran.
5. Langkah-langkah Pembuatan LKS
Berdasarkan penjabaran Depdiknas (2004) langkah-langkah penyusunan LKS terdiri
dari:
a. Menganalisis kurikulum;
b. Menyusun peta kebutuhan LKS;
c. Menentukan judul-judul LKS; dan
d. Menulis LKS, yang terdiri dari beberapa tahap antara lain:
1) Merumuskan kompetensi dasar,
2) Menentukan alat penilaian,
3) Menyusun materi, dan
4) Memperhatikan struktur bahan ajar.

C. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) berbasis Multiple Intelligences


Lembar Kegiatan Siswa berbasis Multiple Intelligences berbeda dengan LKS pada
umumnya. LKS ini terdapat unsur kecerdasaan yang berbeda dalam setiap soalnya. Hal ini
bertujuan agar siswa yang memiliki tingkat kecerdasaan dominan akan menjadi aktif dalam
pembelajaran dan tingkat kecerdasan yang lain dapat dikembangkan. Sehingga siswa dapat
dengan mudah memahami materi. Kecerdasan yang akan dikembangkan dalam LKS ini
ada 4 yaitu Spasial-visual, Interpersonal, Intrapersonal, dan Musikal-ritmik. Keempat
kecerdasan tersebut akan diintegrasikan kedalam kegiatan pembelajaran, siswa akan
bermain dengan stasiun cerdas quantum teaching, stasiun-stasiun untuk jenis kemampuan
yang berbeda. Penyusunan LKS ini memerlukan perancangan dan pengorganisasian agar
sesuai dengan tujuan pembelajaran serta kecerdasan yang ingin dikembangkan (Vesa dan
Anggaryani, 2014).

D. Materi Virus
1. Pengertian Virus
Virus adalah gen penyebab infeksi yang hanya dapat hidup di dalam sel hidup, yaitu
pada sel hewan (temasuk manusia), tumbuhan, jamur, dan bakteri (Nurhayati, 234:2006).
Pada awalnya virus dianggap sebagai zat kimiawi biologis. Bahkan akar bahasa latin untuk
kata virus berati ‘racun’. Karena virus mampu menyebabkan berbagai macam penyakit dan
dapat menyebar di antara organisme, para peneliti pada akhir 1800-an menganggap ada
kesamaan antara bakteri dan mengajukan virus sebagai bentuk kehidupan yang paling
sederhana. Akan tetapi virus tidak dapat bereproduksi atau melaksanakan aktivitas
metabolisme di luar sel inang. Kebanyakan ahli biologi yang mempelajari virus saat ini
mungkin akan setuju bahwa virus tidak hidup, namun berada di wilayah abu-abu antara
bentuk kehidupan dan zat kimiawi (Campbell, Reece, 2010). Virus adalah agen infeksius
yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mikroskop cahaya dan mereka bukan sel, mereka
tidak memiliki inti sel, organel, atau sitoplasma. Ketika mereka menyerang sel-sel pejamu
yang rentan, virus menampilkan beberapa sifat organisme hidup sehingga tampak di
perbatasan antara hidup dan tak hidup. Virus dapat mereplikasi, atau memperbanyak,
hanya di dalam sel inang
1. Struktur Tubuh Virus
Bentuk virus bervariasi dari segi ukuran, bentuk dan komposisi kimiawinya. Bentuk
virus ada yang berbentuk bulat, oval, memanjang, silindariis, dan ada juga yang berbentuk
T. Ukuran Virus sangat kecil, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop
elektron, ukuran virus lebih kecil daripada bakteri. Ukurannya berkisar dari 0,02
mikrometer sampai 0,3 mikrometer (1 μm = 1/1000 mm). Unit pengukuran virus biasanya
dinyatakan dalam nanometer (nm). 1 nm adalah 1/1000 mikrometer dan seperjuta
milimeter. Virus cacar merupakan salah satu virus yang ukurannya terbesar yaitu
berdiameter 200 nm, dan virus polio merupakan virus terkecil yang hanya berukuran 28
nm

Gambar 2.1. Bentuk Tubuh Virus (Campbell, Reece, 2010).


2. Susunan Tubuh Virus
Gambar 2.2. Struktur Tubuh Virus

a. Kapsid
Kapsid adalah lapisan pembungkus tubuh virus yang tersusun atas protein. Kapsid
terdiri dari sejumlah kapsomer yang terikar satu sama lain.
Fungsi :
1) Memberi bentuk virus
2) Pelindung dari kondisi lingkungan yang merugikan
3) Mempermudah penempelan pada proses penembusan ke dalam sel
b. Isi
Terdapat di sebelah dalam kapsid berupa materi genetik/ molekul pembawa sifat
keturunan yaitu DNA atau RNA. Virus hanya memiliki satu asam nukleat saja yaitu satu
DNA/ satu RNA saja, tidak kedua-duanya. Asam nukleat sering bergabung dengan protein
disebut nukleoprotein. Virus tanaman/ hewan berisi RNA/ DNA, virus fage berisi DNA.
c. Kepala
Kepala virus berisi DNA, RNA dan diselubungi oleh kapsid. Kapsid tersusun oleh
satu unit protein yang disebut kapsomer.
d. Ekor
Serabut ekor adalah bagian yang berupa jarum dan berfungsi untuk menempelkan
tubuh virus pada sel inang. Ekor ini melekat pada kepala kapsid. Struktur virus ada 2
macam yaitu virus telanjang dan virus terselubung (bila terdapat selubung luar (envelope)
yang terdiri dari protein dan lipid). Ekor virus terdiri atas tabung bersumbat yang
dilengkapi benang atau serabut. Khusus untuk virus yang menginfeksi sel eukariotik tidak
memiliki ekor.
3. Perkembangbiakan Virus
Virus memanfaatkan metabolisme sel penjamu untuk membantu sintesis protein virus
dan virion baru; jenis sel yang dapat diinfeksi oleh virus dapat sedikit dapat banyak. Untuk
tujuan diagnosti, sebagian besar virus ditumbuhkan dalam biakan sel, baik turunan sel
sekunder atau kontinu; pemakaian telur embrionik dan hewan percobaan untuk membiakan
virus hanya dilakukan untuk investigasi khusus. Jenis biakan sel untuk mengembangbiakan
virus sering berasal dari jaringan tumor, yang dapat digunakan secara terus menerus.
Replikasi virus dalam biakan sel dapat di deteksi dengan. Tahap-tahap replikasi :
a. Peletakan/ Adsorpsi adalah tahap penempelan virus pada dinding sel inang. Virus
menempelkan sisi tempel/ reseptor site ke dinding sel bakteri
b. Penetrasi sel inang yaitu enzim dikeluarkan untuk membuka dinding sel bakteri.
Molekul asam.nukleat (DNA/RNA) virus bergerak melalui pipa ekor dan masuk ke
dalam sitoplasma sel melalui dinding sel yang terbuka. Pada virus telanjang, proses
penyusupan ini dengan cara fagositosis virion (viropexis), pada virus terselubung
dengan cara fusi yang diikuti masuknya nukleokapsid ke sitoplasma.
c. Eklipase : asam nukleat virus menggunakan asam nukleat bakteri untuk membentuk
bagian-bagian tubuh virus
d. Pembentukan virus (bakteriofage) baru : bagian-bagian tubuh virus yang terbukti
digabungkan untuk menjadi virus baru. 1 sel bakteri dihasilkan 100 – 300 virus baru
e. Pemecahan sel inang : pecahnya sel bakteri. Dengan terbentuknya enzim lisoenzim
yang melarutkan dinding sel bakteri sehingga pecah dan keluarlah virus-virus baru
yang mencari sel bakteri lain

4. Klasifikasi Virus
Nama famili ditandai dengan akhiran viridae. Nama subfamili diberi akhiran virinae Nama
akhiran genus diberi akhiran virus. Lwoff, Horne & Tournie adalah ahli dalam taksonomi
virus, berdasarkan kriteria.
a. Jenis asam nukleat (DNA/ RNA) berantai ganda/ tunggal
b. Ukuran dan morfologi tmsk tipe simetri kapsid
c. Adanya enzim spesifik, terutama polimerase RNA & DNA yang penting bagi replikasi
genom
d. Kepekaan terhadap zat kimia & keadaan fisik
e. Cara penyebaran alamiah
f. Gejala yang timbul
g. Ada tidaknya selubung
h. Banyaknya kapsomer untuk virus ikosohedarial/ diameter nukleokapsid untuk virus
helikoidal
Saat ini telah lebih dari 61 famili virus diidentifikasi, diantaranya mempunyai anggota yang
mampu menyerang manusia dan binatang. Menurut RNA, famili virus dibagi menjadi:
a. Picontohrnaviridae
b. Rhabdoviridae
c. Caliciviridae
d. Flaviviridae
5. Peran Virus
Didalam kehidupan, virus memiliki 2 peran, yaitu peran virus sebagai
mikroorganisme yang menguntungkan, maupun yang merugikan.
Virus yang menguntungkan: Virus berperan penting dalam bidang rekayasa genetika
karena dapat digunakan untuk cloning gen (reproduksi DNA yang secara genetis identik).
Sebagai contoh adalah virus yang membawa gen untuk mengendalikan pertumbuhan
serangga. Virus juga digunakan untuk terapi gen manusia sehingga diharapkan penyakit
genetis, seperti diabetes dan kanker dapat disembuhkan.
Virus yang merugikan :Virus yang dapat merugikan karena menyebabkan berbagai jenis
penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan
6. Penyakit – Penyakit Akibat Virus
Proses infeksi virus dapat melalui berbagai jaringan.
a. Melalui saluran pernafasan , contoh : virus influenza penyebab influensa, virus rubeola
penyebab campak, ronavirus penyebab SARS, virus variola penyebab penyakit cacar,
virus varicella penyebab penyakit cacar air.
b. Melalui saluran pencernaan, contoh : virus hepatitis A,B, poliomyelitis penyebab
polio, rotavirus penyebab diare
c. Melalui kulit dan mukosa genitalia, contoh : virus herpes simplex1 penyebab
stomatitis, flavivirus penyebab DBD, rabies penyebab rabies, cytomegalovirus
penyebab hepatitis
d. Melalui plasenta, contoh : virus rubella, cytomegalovirus

E. Kerangka Berfikir

LKS yang baik berupa : Multiple intelligences dapat membangkitkan


1. Petunjuk, langkah-langkah motivasi siswa untuk belajar, menyediakan siswa
untuk menyelesaikan tugas. untuk belajar sesuai dengan minat, bakat dan
2. Tugas harus jelas sesuai talentanya, meningkatkan kemampuan siswa
kompetensi dasar yang akan dalam bidang yang mereka sukai, sampai pada
dicapai. memberikan pengaruh positif dalam suasana
3. Menekankan pada proses belajar yang menyenangkan dan tidak membatasi
untuk menemukan konsep siswa. Multiple intelligences terdapat kecerdasan
Gambar 2.3. Kerangka berfikir peneliti yang akan dilakukan