Anda di halaman 1dari 8

AGROVIGOR VOLUME 8 NO.

1 MARET 2015 ISSN 1979 5777 43

SERANGAN PENYAKIT LAYU BAKTERI Pseudomonas solanacearum DAN LANAS


Phytophthoranicotianae PADA GALUR-GALUR HARAPAN TEMBAKAU TEMANGGUNG

Supriyono

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat


Jl. Raya Karangploso Km. 4, Kotak Pos 199, Malang 65152

ABSTRACT
ABSTRAK
Tobacco temanggung have an important role
in the cigarette industry that serves as the Tembakau temanggung mempunyai
source of the flavoring and aroma of clove peranan yang cukup penting dalam industri
cigarettes. Tobacco plants are easily attacked rokok yang berfungsi sebagai sumber pemberi
by some kind of diseases such as black shank rasa dan aroma dalam rokok kretek.
and bacterial wilt, "which resulted in the Tanaman tembakau mudah diserang oleh
deaths of more than 50% of tobacco. Research beberapa jenis penyakit diantaranya lanasdan
to obtain lines resistant to major pathogens are layu bakteri, yang mengakibatkan kematian
conducted in the laboratory and home screen tembakau lebih dari 50%. Penelitian untuk
Plant Diseases and Inlittas Karangploso, memperoleh galur-galur yang tahan terhadap
Balittas, Malang. Source of disease inoculum penyakit layu bakteri P. solanacearum dan
obtained from several locations temanggung lanas P nicotianae yang dilakukandi
the tobacco planting disease (black shank, laboratorium dan rumah kasa Penyakit
bacterial wilt). The treatment consisted of 50 Tanaman dan Inlittas Karangploso, Balittas,
lines cross combinations were planted 5 plants Malang. Sumber inokulum penyakit diperoleh
/ polybag much as 40 polybags per lines. dari beberapa lokasi penanaman tembakau
Bacterial wilt pathogen inoculation is done at temanggung yang terserang penyakit (lanas,
planting time sprinkled with the bacterial layu bakteri). Perlakuan terdiri dari 50 galur
suspension into tobacco root holes 25 ml / kombinasi persilangan yang ditanam 5
plant with a population density of inoculum tanaman/polibag sebanyak 40 polibag tiap
108 cfu / ml, and for black shank fungus by galur. Inokulasi patogen layu bakteri
spraying the suspension on the base of the dilakukan pada saat tanam dengan cara
stem tobacco. Observations were made one menyiramkan suspensi bakteri ke dalam
week after planting by counting the sick lubang perakaran tembakau sebanyak 25
plants, healthy plants. The results showed that ml/tanaman dengan kerapatan populasi
the attack on the promising lines of tobacco inokulum 108 cfu/ml, dan untuk jamur lanas
black shank disease temanggung high enough dengan menyiramkan suspensi pada pangkal
and got 1 promising line are still fairly low batang tembakau. Pengamatan dilakukan satu
percentage of attacks that line no. 10 with a minggu setelah tanam dengan cara menghitung
17% attack and the average attack bacterial tanaman yang sakit, tanaman yang sehat.
wilt P. solanacearum quite low. Hasil penelitian menunjukan bahwa serangan
penyakit lanas pada galur tembakau
Keywords : Bacterial wilt P. solanacearum, temanggung cukup tinggi dan didapatkan1
Lanas P. nicotianae, promising galur harapan yang persentase seranganmasih
lines cukup rendah yaitu galur no. 10 dengan
serangan 17 % dan rata-rata serangan penyakit
layu bakteri P solanacearum cukup rendah.
Kata kunci: Layu bakteri P solanacearum,
Lanas P. nicotianae, Galur
harapan
44
Supriyono : Serangan Penyakit layu Bakteri Pseudomonas….

mengevaluasi koleksi plasma nutfah dan


PENDAHULUAN melakukan hibridisasi.
Selain masalah tersebut di atas,
Tembakau sebagai bahan baku rokok tanaman tembakau biasanya juga mudah
terdiri antara lain terdiri dari tembakau diserang oleh beberapa jenis penyakit
temanggung, madura, kendal, muntilan, diantaranya lanas, layu bakteri, puru akar, dan
virginia, dan tembakau lokal lainnya. virus (Dalmadiyo, 1999). Pada tembakau
Tembakau tersebut pada umumnya temanggung penyakit yang utama adalah
mempunyai kandungan nikotin tinggi, penyakit “lincat” yang disebabkan oleh
terutama tembakau lokal atau rakyat kompleks patogen nematoda puru akar
(temanggung, madura, kendal, dan muntilan) (Meloidogyne sp.) dengan bakteri
yang sebagian besar digunakan sebagai bahan Pseudomonas (Ralstonia) solanacearum
baku rokok keretek. mengakibatkan kematian tembakau lebih dari
Menurut Rahman (2001) kebutuhan 50% dengan produktivitas lahan hanya 60 –
tembakau pada tahun 2000 mencapai 202.577 150 kg rajangan per ha, penyakit ini terutama
ton atau naik sebesar 10,6% dibandingkan tersebar di lahan tegal dengan ketinggian 750
kebutuhan tahun 1996. Kebutuhan tembakau – 1100 m dpl. Penyakit lanas terutama banyak
tersebut terdiri dari tembakau virginia dan ditemukan dan menimbulkan kematian cukup
tembakau rakyat masing-masing sebesar parah di lahan sawah maupun lahan tegal pada
46.045 ton (22,72%) dan 156.577 ton ketinggian lebih dari 1200 m dpl.
(77,28%). Hal ini sesuai dengan peningkatan Oleh karena itu genotipa-genotipa
produksi rokok. Produksi rokok pada tahun yang berkadar nikotin rendah perlu dilakukan
2000 mencapai 232,46 milyar batang, yang seleksi ketahanannya terhadap beberapa
terdiri dari rokok putih sebesar 25,78 milyar penyakit utama, sehingga nantinya setelah
batang dan rokok keretek sebesar 206,68 dilepas ke petani tidak menimbulkan masalah.
milyar batang. Penyakit yang diketemukan pada
Adanya isu-isu kesehatan dan tembakau di beberapa daerah penanaman dan
kampanye anti rokok melahirkan peraturan seringkali menimbulkan kerugian antara lain
pemerintah (PP) 81 tahun 1999 yang penyakit lanas (black shank) disebabkan oleh
diperbaharui PP 38 tahun 2000 tentang jamur Phytophthora nicotianae var.
pembatasan kadar tar dan nikotin di dalam nicotianae, layu bakteri (bacterial wilt)
rokok mesing-masing sebesar 20 mg dan 1,5 disebabkan oleh bakteri Pseudomonas
mg per batang. Bahkan di beberapa negara (Ralstonia) solanacearum, dan puru akar
anggota Uni Eropa memberlakukan peraturan disebabkanoleh nematoda Meloidogyne spp.
kandungan tar, nikotin, dan karbon monoksida Sedangkan penyakit lain yang pernah terjadi
masing-masing sebesar 10, 1, dan 10 mg per epidemi adalah penyakit kerupuk disebabkan
batang sigaret dan mulai berlaku pada Januari oleh virus Tobacco Leaf Curl Virus (TLCV) di
2004. Demikian juga Brazil mulai berlaku Bojonegoro, bethok dan mosaik ketimun yang
pada September 2002, sedangkan beberapa masing-masing disebabkan oleh virus Tobacco
negara lain kandungan tar maupun nikotin Etch Virus (TEV) dan Cucumber Mosaic Virus
masing-masing berkisar antara 10 – 16 mg dan (CMV), serta patik disebabkan oleh jamur
1 – 1,5 mg (Sepherd, 2000; Link, 2001). Hal Cercospora nicotianae pada tembakau cerutu
ini mempengaruhi produksi pabrik rokok yang besuki ( Dalmadiyo, 1999).
saat ini diarahkan ke arah ringan (mild). Salah Penyakait lanas pada tembakau
satu usaha untuk memproduksi rokok ringan disebabkan oleh jamur Phytophthora
ini adalah mendapatkan bahan baku tembakau nicotianae var. nicotianae atau seringkali
berkadar nikotin rendah. Usaha untuk disebut Phytophthora nicotianae saja.
mendapatkan galur tembakau berkadar nikotin Penyakit lanas ini dapat diketemukan di
rendah telah dimulai, yaitu dengan cara seluruh daerah penanaman tembakau baik di
lahan tegal maupun lahan sawah, antara lain di
45
Supriyono : Serangan Penyakit layu Bakteri Pseudomonas….

Jawa Tengah (Temanggung, Wonosobo, 1986); serta di India pada tanaman kentang
Magelang, Kendal, Klaten, Boyolali, dan dan terong masing-masing sebesar 30 – 70%
Surakarta), Yogyakarta (Sleman), Jawa Timur dan 62 – 65% (Sinha, 1986).
(Bojonegoro, Jombang, Mojokerto, Jember, Gejala penyakit tanaman tembakau
Bondowoso, Probolinggo, dan Madura), yang terserang layu bakteri adalah layu
Lombok, dan Bali. sepihak pada satu sisi daun maupun tanaman,
Penyakit lanas dapat timbul mulai dari bentuk daun tidak setangkup, pangkal batang
pembibitan sampai di pertanaman, Gejala di atau sebagian akar busuk berwarna cokelat dan
pembibitan (lanas bibit) adalah bibit daunnya apabila dipotong kemudian dimasukan ke
“lodoh” atau “lonyot” seperti tersiram air dalam air akan terlihat aliran massa bakteri
panas dan busuk mulai pangkal batang sampai seperti asap rokok (oose). Pada batang yang
ujung bibit, dan penyebarannya agak merata. daunnya layu apabila disayat akan terlihat
Gejala penyakit di pertanaman ada dua jenis laur-alur berwarna cokelat pada silemnya.
gejala, yaitu (1) daun yang masih hijau Penyakit puru akar pada pertanaman
mendadak terkulai, layu, dan akhirnya tembakau disebabkan oleh nematoda
tanaman mati; pangkal batang busuk berwarna Meloidogyne spp. yang dikenal dengan
cokelat, dan apabila dicabut pembusukan sebutan nematoda puru (bengkak) akar.
hanya terjadi di pangkal batang saja sedangkan Nematoda ini merupakan nematoda
akarnya masih sehat, (2) daun menguning, endoparasit sangat penting karena bersifat
layu, dan kemudian kering mulai dari bawah, polifagus, berkembang biak cepat dan banyak,
tanaman mati; pangkal batang dan akar busuk dan mudah menyesuaikan diri dengan
berwarna cokelat. Pangkal batang yang busuk lingkungan. Tanaman inang nematoda puru
pada kedua jenis gejala tersebut apabila akar antara lain tembakau, tomat, terong,
dibelah maka akan terlihat empulurnya cabai, kentang, tebu, kenaf, yute, serta
bersekat-sekat (mengamar). Selain itu gejala beberapa gulma anatara lain rumput teki,
penyakit lanas dapat terjadi pada daun (lanas wedusan, dan krokot. Perkembang biakan
daun) dengan gejala bercak bercincin (gelap- nematoda puru akar secara partenogenesis,
terang) berwarna cokelat. satu induk betina dapat menghasilkan antara
Penyakit layu bakteri (bacterial wilt) 200 – 500 butir telur yang terbungkus dalam
pada tanaman tembakau disebabkan oleh kantong gelatinous. Nematoda mampu
bakteri Pseudomonas solanacearum (E. F. menyesuaikan diri dengan lingkungan
Smith) E. F. Smith atau Ralstonia terutama dengan kepadatan populasi dan
solanacearum E. F. Smith, pertama kali sumber makanan. Apabila sumber makanan
dilaporkan pada tahun 1864 oleh Honing cukup banyak maka sebagian besar
dengan sebutan penyakit lendir. Penyakit ini populasinya adalah betina dan sebaliknya,
banyak menimbulkan kerugian pada demikian juga apabila kerapatan populasinya
pertanaman tembakau deli dan tembakau rendah maka jumlah betinannya lebih banyak
temanggung (Semangun, 1988; Dalmadiyo et (Wallace, 1973).
al., 2000). Daerah lain yang pernah dilaporkan Gejala tanaman tembakau yang
ada penyakit layu bakteri adalah Blitar, terserang nematoda puru akar adalah
Mojokerto, dan Bali pada pertanaman pertumbuhannya terhambat (kerdil), tepi daun
tembakau virginia dengan tingkat serangan mengering, layu pada siang hari (layu
rendah. Selain tembakau, penyakit layu bakteri sementara) dan apabila diikuti oleh cekaman
ini dapat menyerang tanaman kentang dan air maupun serangan patogen lain maka
tomat dengan intensitas serangan masing- tanaman tembakau akan cepat mati.
masing antara 4 – 32% dan 2 – 30% Pengendalian penyakit tanaman
(Machmud, 1986). Di Filipinan dilaporkan biasanya lebih banyak dilakukan secara
bahwa tingkat serangan bakteri tersebut pada pencegahan (preventip) dengan berbagai cara
tanaman tomat, terong, dan tembakau masing- yang dipadukan sesuai teknologi PHT.
masing sebesar 15%, 10%, dan 5% (Hayward, Varietas tahan merupakan salah satu cara
46
Supriyono : Serangan Penyakit layu Bakteri Pseudomonas….

pengendalian penyakit yang cukup efektif, pupuk kandang, tanah steril, aquades steril,
kompatibel, aman, murah, dan mudah kapas steril, alkohol, spiritus, dan lain-lain.
dilakukan. Menurut Modjo (1991) penggunaan Sedangkan peralatan yang akan digunakan
varietas tahan ini merupakan tulang punggung antara lain laminar flow, petridis, tabung
dari PHT. reaksi, mikroskop dan perlengkapannya,
Untuk merakit varietas tahan, saat ini lampu spiritus, kompor, blender, pisau (cutter),
telah dimiliki 20 galur hasil persilangan gunting, jarum preparat, batang gelas L, mixer,
tembakau temanggung dengan tembakau hand counter, autuclove, nampan pesemaian
virginia dan ada 8 galur berkadar nikotin (tray), pinset, alat sterilisasi tanah, dan lain-
antara 2,23 – 3,29% serta lebih rendah lain.
dibanding varietas Kemloko 1. Dua puluh c. Metode
galur tersebut perlu diseleksi ketahanannya Pembibitan dilakukan pada tray
terhadap ketiga macam patogen utama (layu dengan tanah steril campuran tanah, pupuk
bakteri, nematoda puru akar, dan lanas) kandang dan pasir dengan perbandingan 2 : 2 :
terutama 8 galur berkadar nikotin rendah 1 berumur 35 hari .
tersebut. Disamping itu juga terus dilakukan Isolasi dan perbanyakan inokulum
persilangan beberapa genotipe lain untuk jamur patogen lanas digunakan media apel
memperoleh kombinasi persilangan baru manalagi dan CMA (corn meal agar). Umur
dalam rangka mengantisipasi terjadinya inokulum untuk diinokulasikan adalah 15 hari
pematahan sifat ketahanan varietas yang setelah diinkubasikan pada suhu + 200 C,
diperoleh terhadap penyakit tersebut. inokulum layu bakteri digunakan media NA
Untuk memperoleh galur-galur yang (nutrient agar), dan TTZC (tripenyl
tahan terhadap penyakit layu bakteri P. tetrazolium chloride agar) dan diinkubasikan
solanacearum dan lanas P. nicotianae pada pada suhu ruang.
bebarapa galur harapan tembakau temanggung Inokulasi patogen layu bakteri
dilakukan pada saat tanam dengan cara
METODE PENELITIAN menyiramkan suspensi bakteri ke dalam
lubang perakaran tembakau sebanyak 25
a. Waktu dan Tempat ml/tanaman dengan kerapatan populasi
Penelitian ini dilakukan di inokulum 108 cfu/ml dan untuk jamur lanas
laboratorium dan rumah kasa Penyakit dengan menyiramkan suspensi pada pangkal
Tanaman dan Inlittas Karangploso, Balittas, batang tembakau.
Malang. Sumber inokulum penyakit diperoleh Pengamatan dilakukan satu minggu
dari beberapa lokasi penanaman tembakau setelah tanam dengan cara menghitung
temanggung yang terserang penyakit (lanas, tanaman yang sakit, tanaman yang sehat.
layu bakteri).
HASIL DAN PEMBAHASAN
b. Bahan dan Alat
Bahan penelitian yang akan digunakan Perkembangan intensitas serangan
antara lain benih tembakau 50 genotipe patogen lanasP. Nicotianae (Tabel. 1) dan
kombinasi persilangan, inokulum penyakit, serangan penyakit layu bakteri P.
media untuk menumbuhkan dan memelihara solanacearum (Tabel 2) pada genotipe-
patogen (PDA, NA, CMA, apel manalagi), , genotipe tembakau Temanggung
polibag, minyak tanah, gas LPJ, pupuk NPK,
47

Supriyono : Serangan Penyakit layu Bakteri Pseudomonas….

Tabel 1. Rata-rata tingkat serangan penyakit lanas pada genotipe –genotipe BC3F4 tembakau
temanggung

No Kode Persentase serangan penyakit


Persilangan
minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu
ke I ke II ke III ke IV ke V ke VI
1 0202/10/1/3/1 0,5 2,5 10,5 18,5 25,5 27,5
2 0202/10/1/3/2 1 2,5 11,5 19,5 31,5 37,5
3 0206/13/1/3 2,5 12,5 23,5 42 51,5 52,5
4 0206/13/1/3 2 12 15,5 27 53 64
5 0203/23/2/2/1 1,5 9,5 16 25 38,5 38,5
6 0203/23/2/2 1,5 2 8,5 19 41,5 42,5
7 0206/32/2/3 2,5 12 21,5 29,5 50,5 51
8 0206/32/1/2 2 6 10,5 16,5 36 47,5
9 0206/32/1/3/1 5 13,5 27,5 39,5 54,5 57
10 0206/32/1/3 1 2,5 7,5 8 14 17
11 0206/02/3/3/2 10,5 24,5 29,5 35,5 45,5 45,5
12 0206/02/3/3 1,5 2,5 7,5 7,5 10,5 20
13 0202/10/1/2/3 4 9,5 `10,5 24 33,5 34,5
14 0202/10/1/2 2,5 10,5 27,5 22 43 54
15 0203/04/2/2/1 1,5 8 8 20 35,5 37,5
16 0206/33/2/1/3 2,5 6,5 23 23 24,5 31,5
17 0206/33/2/1 2 7,5 8,5 25,5 34 34,5
18 0202/7/1/1/3 5 16 23 23 42 43
19 0202/07/1/1 6,5 17,5 17,5 31 39 44,5
20 0203/11/2/1/2 1,5 6 22 22 34 34,5
21 0203/11/21 11 28,5 28,5 47 64,5 70,5
22 0205/08/3/3/1 3 4 20 20 37 48,5
23 0205/08/3/3 2,5 12 22 25 50 51
24 0203/04/2/3/1 3 9 19 19 36,5 56
25 0203/04/2/3 5,5 12,5 16,5 35 38,5 52,5
26 0202/07/1/2/3 2 5 13 13,5 26,5 30
27 0202/07/1/2 3 3,5 5 14,5 22 33
28 0203/12/1/1/2 1 8 15,5 15,5 40 49
29 0203/12/1/1 1 4 4 14,5 23 39,5
30 0202/17/1/2/1 2,5 3 33,5 35,5 60 68
31 0202/17/1/2 9 19 25 35 55 67,5
32 0206/10/3/1/2 7,5 20 39,5 41 69 69
33 0206/10/3/1 5 12 12 17,5 23 25
34 0206/02/1/3/2 8,5 17 38 38 47 56,5
35 0206/02/1/3 4,5 5,5 5,5 20,5 37 37,5
36 0202/15/1/3/3 4 13,5 31,5 38,5 58 73
37 0205/08/2/3/1 9 19 24 32,5 46 49
38 0206/32/1/1/2 7,5 19,5 33,5 33,5 44 55,5
39 0206/02/3/1/3 7,5 12,5 14 16 27 45
40 0206/02/3/1 0 0,5 2 3 9 14
41 0202/10/2/3/1 3 6,5 19 26 47,5 49
42 0202/09/1/3/1 2 4,5 10,5 13,5 33 51,5
43 0202/09/1/3 2 10,5 16,5 16,5 43 43,5
44 0206/09/2/1/2 1,5 5,5 12 15,5 21 42,5
45 0206/09/2/1 9,5 27 34,5 47,5 60,5 60,5
46 0205/10/1/3 1 5,5 10 11 25 29,5
47 0205/10/1/3 3,5 10 17 24,5 32,5 35
48
Supriyono : Serangan Penyakit layu Bakteri Pseudomonas….

No Kode Persentase serangan penyakit


Persilangan minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu
ke I ke II ke III ke IV ke V ke VI
48 0203/23/1/3/2 7 21 34 34 53,5 56,5
49 0203/23/1/3 4,5 7,5 10 10 19,5 22
50 0206/28/1/3/1 2,5 4,5 10,5 11,5 26,5 39,5

Tabel 2. Rata-rata tingkat serangan penyakit layu bakteri Pseudomonas solanacearum pada
genotipe –genotipe BC3F4 tembakau temanggung

No Kode Persentase serangan penyakit


Persilangan
minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu
ke I ke II ke III ke IV ke V ke VI
1 0202/10/1/3/1 0 1 6 6.5 7 7
2 0202/10/1/3/2 0,5 5 7.5 7,5 8 10,5
3 0206/13/1/3 2 4 10,5 12,5 19,5 20,5
4 0206/13/1/3 1,5 15,5 15,5 15,5 16 16
5 0203/23/2/2/1 1 5,5 6,5 12,5 13 13
6 0203/23/2/2 1 1 11 11,5 11,5 11,5
7 0206/32/2/3 1,5 4,5 7,5 8 10,5 10,5
8 0206/32/1/2 0 0 11,5 12,5 12,5 12,5
9 0206/32/1/3/1 5 5 12 20,5 22,5 22,5
10 0206/32/1/3 0 0 2 2,5 3,0 3,0
11 0206/02/3/3/2 0,5 1 6,5 7,5 7,5 7,5
12 0206/02/3/3 0,5 0,5 1,5 1,5 2 4,5
13 0202/10/1/2/3 1,5 1,5 3,5 4,5 4,5 5,5
14 0202/10/1/2 1 3,5 6,5 8,5 8,5 10
15 0203/04/2/2/1 1 4,5 4,5 6,5 8,5 10,5
16 0206/33/2/1/3 0 1 2,5 3,5 4,5 8,5
17 0206/33/2/1 0,5 1,5 3,5 4,5 10,5 13,5
18 0202/7/1/1/3 2,5 6,5 14,5 14,5 16,5 16,5
19 0202/07/1/1 4,5 5,5 6,5 7,5 8,5 10,5
20 0203/11/2/1/2 0,5 0,5 9,5 9,5 10,5 10,5
21 0203/11/21 1,5 2,0 2,5 10,5 11,0 12,5
22 0205/08/3/3/1 2,0 3,5 8,5 9,5 9,5 12,5
23 0205/08/3/3 1,5 2,5 5,5 6,5 7 8,5
24 0203/04/2/3/1 2 12,5 19,5 25,5 29,5 40,5
25 0203/04/2/3 2 3,5 10,5 20,5 21,5 22,5
26 0202/07/1/2/3 0,5 4,5 9 9 9 9
27 0202/07/1/2 0 4,5 5 5,5 5,5 6,0
28 0203/12/1/1/2 0 1,5 5,5 5,5 5,5 10,5
29 0203/12/1/1 0,5 1,5 1,5 3,5 4,5 4,5
30 0202/17/1/2/1 0,5 0,5 3,5 3,5 6,5 10,5
31 0202/17/1/2 3,5 3,5 3,5 3,5 6,5 6,5
32 0206/10/3/1/2 0,5 0,5 3,5 3,5 7,5 7,5
33 0206/10/3/1 4,0 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5
34 0206/02/1/3/2 2 2 4,5 4,5 4,5 5
35 0206/02/1/3 3,5 3,5 3,5 8,5 9,5 9,5
36 0202/15/1/3/3 0 1,5 3,5 3,5 3,5 3,5
37 0205/08/2/3/1 2,5 3,5 3,5 4,5 5,5 6,5
38 0206/32/1/1/2 1 1,5 1,5 1,5 2,5 3,5
39 0206/02/3/1/3 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 4,5
40 0206/02/3/1 0 0 0,5 2,5 2,5 3,5
41 0202/10/2/3/1 1 1 2,5 3,0 4,5 4,5
49
Supriyono : Serangan Penyakit layu Bakteri Pseudomonas….

Persentase serangan penyakit


Kode
No minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu
Persilangan
ke I ke II ke III ke IV ke V ke VI
42 0202/09/1/3/1 1,5 1,5 2,5 3,5 4 5,0
43 0202/09/1/3 2 7,5 9,5 11,5 15,5 16
44 0206/09/2/1/2 1 1,5 2,5 2,5 4,5 6
45 0206/09/2/1 3,5 3,5 4,5 5 7 8,5
46 0205/10/1/3 0 0 2 2 2 2
47 0205/10/1/3 2 5 10 12.5 12.5 15
48 0203/23/1/3/2 0 1.5 3.5 4 4 4
49 0203/23/1/3 1.5 2 3 3 4 4.5
50 0206/28/1/3/1 0.5 0.5 1 1.5 1.5 1.5

Hasil pengamatan menunjukan bahwa ketahanan yang mempunyai keunggulan tahan


serangan penyakit sudah mulai terjadi pada terhadap penyakit lanas.
minggu pertama, pada awal serangan penyakit Serangan penyakit lanas terjadi pada
lanas yang lebih dominan dibandingkan pangkal batang yang membusuk hitam dan
dengan serangan penyakit layu bakteri akan empulurnya bersekat-sekat. Pemanfaatan
tetapi setelah tanaman berumur empat minggu varietas tahan merupakan cara pengendalian
mulai terjadi komplek serangan penyakit yaitu penyakit yang aman dan efektif, varietas tahan
munculnya penyakit layu bakteri dengan menyebabkan patogen yang ada disekitar
gejala berupa pertumbuhan daun asimetris atau tanaman tidak mampu tumbuh dan
layu disatu sisi yang serangan penyakit berkembang pada tanaman tersebut (Mc
semakin meningkat . Serangan penyakit pada Garvey et al., 1999). Penggunaan varietas
minggu pertama sudah ada yang menunjukan tahan terhadap P. Nicotianae menurunkan
serangan yang cukup tinggi yaitu mencapai penggunaan fungisida sampai 74 % (Johson et
9,5 % pada genotipe nomor 45 (Tabel 1.). al., 2008)
Tetapi ada yang belum menunjukan serangan, Serangan penyakit layu bakteri dengan
yang baru muncul serangan pada minggu gejala berupa pertumbuhan daun asimetris atau
kedua, yang terjadi pada genotipe yang layu disatu sisi yang meningkatkan serangan
serangan penyakitnya cukup rendah yaitu penyakit menjadi lebih parah dimana pada
pada genotipe nomor 10, 12, 31, 36 dan 49 tanam pertama serangannya mencapai 87,5 %
(Tabel 1.) Serangan penyakit terendah 5 % sedangkan pada tanam kedua mencapai 73 %.
dan serangan tertinggi mencapai 87,5 %. Keparahan serangan penyakit ini disebabkan
Tanam kedua ( Tabel 2) karena genotipe-genotipe tersebut rentan
perkembangan serangan penyakit utama yang terhadap patogen sehingga patogen mampu
terendah 14 % dan yang paling tinggi tumbuh , berkembangbiak dan menyebar dan
mencapai 73 %. Pada pengamatan tersebut menimbulkan keparahan serangan pada
bahwa genotipe-genotipe yang serangannya tanaman tersebut.
terendah dan yang sama pada tanam kedua
yaitu nomor 10, 12. Sedangkan nomor 31, 36 KESIMPULAN
dan 49 pada tanam kedua serangan
penyakitnya cukup tinggi (Tabel 2.) Hal ini Dari hasil penelitian dapat
disebabkan karena belum stabilnya ketahanan disimpulkan bahwa galur-galur harapan
genotipe-genotipe tersebut. Serangan penyakit tembakau temanggung ada satu galur harapan
yang rendah ini menunjukan bahwa genotipe- yang serangan gabungan penyakit layubakteri
genotipe tersebut mengalami peningkatan P. solanacearum dan lanas P nicotianae paling
ketahanan yang merupakan persilangan dari rendah yaitug alurnomer 10.
varietas Prancak 95 sebagai sumber
ketanananya atau tetua dalam perbaikan
50 Supriyono : Serangan Penyakit layu Bakteri Pseudomonas….

DAFTAR PUSTAKA Rahman, H. M. Y. 2001. Kebijaksanaan


pengembangan industri rokok.
Dalmadiyo, G. 1999. Pengendalian penyakit Makalah pada Diseminasi Pedoman
secara terpadu. Prosiding Semiloka dan Petunjuk Teknis GMP pada
Teknologi Tembakau. Balittas, Industri Rokok Kretek di Malang pada
Malang, 14 – 30 p. 11 Oktober 2001. 18 p.

Garner, W. W. 1951. The production of Rochman, F. Suwarso, Soerjono, Soebiyakto,


tobacco. Revised First Edition. dan Anik Herwati 1995. Pengujian
McGraw-Hill Book Co, Inc. New potensi hasil dan mutu beberapa
York, Toronto, London. 520 p. varietas tembakau burley. Laporan
Hasil Penelitian TA 1994/1995.
Johnson, C.S., J.A. Pattison, E.M. Clevinger, Balittas, Malang. 15 p.
T.A. Melton, B.A. Fortnum, and Mila,
2008. Clarifying the source of black Rochman, F. dan Suwarso. 2000. Kultivar
shank resistance in flue-cured tobacco. lokal tembakau temanggung dan usaha
On line. Plant Helth Progress. doi: perbaikannya. Tembakau temanggung.
10.1094/PHP-2008-0618-02-RS. Monograf No. 5. Balittas, Malang. pp.
http://www.plantmanagementnetwork. 7 – 13.
org/pub/php/research/2008/shank.
Sinha, K. S. 1986. Bacterial wilt in India. In
Martoredjo, T., B. Hadisutrisno, B. Triman, J. Persley, G. J. (Ed.) Bacterial wilt
K. Sumodiryo, Y. M. S. Maryudani, S. disease in Asia and the South Pacific :
Sumowiyarjo, Mulyadi, Edi Martono, Proceedings of Symposium of
S. D. Djudawi, T. Sukmaranda. 1983. Bacterial Wilt Diseases and
Laporan penelitian studi kasus International Workshop Held
serangan penyakit akar tembakau. PCARRD, Los Banos, Phillipines, 8 –
Dept. I. Hama dan Dept. I. Penyakit 10 October 1985. 28 – 29 p.
Tumbuhan, Fak. Pertanian, UGM.
Yogyakarta. 37 p. Tso, T. C. 1999. Seed to smoke. In Davis, D.
L. and M. T. Nielson (Eds.) Tobacco:
McGarvey,J.A.,T.P. Denny, and M.A. Schell. Production, chemistry, and
1999. Spatial-temporal and technology. pp. 1 – 31.
quantitatve analysis of growth and
EPS I production by Ralstonia Suwarso, A. Rakhman SK, Anik Herwati, F.
solanacearum in resistant and Rochman, dan Sesanti Basuki. 1999.
susceptible tomato ccultivars. Perakitan, penyabaran, dan upaya
Phytopathology. 89: 1233-1239. mempertahankan varietas unggul
tembakau. Prosiding Semiloka
Rachman, A., M. Sholeh, F. Kadarwati, dan Teknologi Tembakau, Balittas,
Mukani. 2000. Karakterisasi dan Malang. pp. 58 – 66.
evaluasi wilayah pengembangan
tembakau cerutu besuki. Laporan Wallace, H. R. 1973. Nematode ecology and
Hasil Penelitian TA 1999. Balittas, plant disease. Edward Arnold Ltd.
Malang. London. 228 p.