Anda di halaman 1dari 28

Bab I

Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Air merupakan sumber daya alam yang penting dan sering digunakan manusia untuk
bertahan hidup. Manusia memerlukan air dalam kehidupan sehari-hari seperti untuk
minum, mandi, pembangkit listrik dan lain-lain sehingga air merupakan komponen yang
penting dalam kehidupan manusia. Maka dari itu air harus dilindungi dari pencemaran
dalam proses pengambilan dari sarana air bersih, pendistribusian, penyimpanan,
pengambilan, pengolahan, dan penyajian air.1
Menurut data UNICEF tahun 2015 masih terdapat 663.000 juta orang yang
menggunakan air yang tidak aman. Kualitas air yang buruk menyebabkan berbagai
penyakit dan kematian, namun kekurangan air bahkan lebih membahayakan lagi. Tidak
tersedianya sumber air yang cukup menyebabkan kebersihan dasar seseorang menjadi
mustahil dan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit yang berkaitan dengan
kebersihan, seperti diare.4 Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang menjadi
masalah kesehatan masyarakat di dunia terutama di negara berkembang. Menurut data
WHO 2013 terdapat 1,7 miliar kasus diare setiap tahunnya, dan terdapat 760.000 kasus
kematian akibat diare pada anak balita setiap tahun.2 Menurut Riskesdas 2013, insiden
diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia adalah 3.5 %. Dengan insiden diare pada
kelompok usia balita di Indonesia mencapai 10,2%.6
Berdasarkan laporan WHO-UNICEF joint monitoring 2004 kinerja sektor Air
Minum di Indonesia dinilai masih rendah dibandingkan dengan negara lain di Asia
Tenggara. Diperkirakan penduduk Indonesia pada tahun 2015 adalah 218 Juta jiwa,
dimana 47 Juta jiwa atau 22% belum memiliki akses terhadap air bersih. Angka yang lebih
besar terlihat pada penduduk perdesaan, dimana diperkirakan 31% atau 36 Juta Jiwa yang
tidak memiliki akses terhadap air bersih.2
Data pada GLASS(Global Water Supply Water and Assesment) tahun 2014
menyatakan terdapat 748 juta orang di dunia yang masih belum mendapatkan akses
terhadap air bersih, 1.8 milyar orang menggunakan sumber air minum yang terkontaminasi
dan 1 milyar orang melakukan buang air besar sembarangan.6
Menurut data Millenium Development Global MDGs tahun 2015 ditargetkan di
Indonesia proporsi penduduk terhadap air bersih sebesar 67 %, namun hal ini belum
tercapai dengan didapatkannya cakupan penduduk terhadap air bersih sebesar 57,2%.7

1
Di Indonesia, banyak Sarana Air Bersih (SAB) dan sanitasi tidak berfungsi dengan
baik. Permasalahan ini antara lain disebabkan oleh kualitas konstruksi, pengelolaan yang
tidak jelas dan masyarakat kurang terlibat dalam proses pembangunan.8 Pengadaan air
bersih di Indonesia khususnya untuk skala yang besar masih terpusat di daerah perkotaan,
dan dikelola oleh Perusahan Air Minum (PAM) kota yang bersangkutan. Namun demikian
secara nasional jumlahnya masih belum mencukupi dan dapat dikatakan relatif kecil yakni
16,08 % ( Supas 1995). Untuk daerah yang belum mendapatkan pelayanan air bersih dari
PAM umumnya mereka menggunakan air tanah (sumur), air sungai, air hujan, air sumber
(mata air) dan lainnya. Permasalahan yang timbul yakni sering dijumpai bahwa kulaitas
air tanah maupun air sungai yang digunakan masyarakat kurang memenuhi syarat sebagai
air minum yang sehat bahkan di beberapa tempat bahkan tidak layak untuk diminum.9
Berdasarkan data yang diperoleh di UPTD Puskesmas DTP Loji, cakupan program
pengawasan sarana air bersih adalah 34,15%, dengan target 80 %, sehingga terbentuk besar
masalah sebesar 45,85 % sehingga perlu dilakukan evaluasi program pengawasan sarana
air bersih untuk menilai masalah, penyebab masalah, penyelesaian masalah dan tingkat
keberhasilan di UPTD Puskesmas DTP Loji periode Januari sampai dengan Juli 2017

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, masalah yang didapat berupa:
1. Menurut data UNICEF tahun 2015 masih terdapat 663 juta orang yang
menggunakan air tidak aman
2. Air merupakan sumber daya alam yang penting dan sering digunakan manusia dan
juga merupakan media penularan penyakit salah satunya diare
3. Data World Health Organization (WHO) tahun 2013 menunjukkan terdapat 1,7
milyar kasus diare di dunia setiap tahun dan membunuh Tujuh ratus enam puluh
ribu anak balita di dunia setiap tahun.
4. Data RISKESDAS 2013 insiden diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia
adalah 3.5 %. Dengan insiden diare pada kelompok usia balita di Indonesia
mencapai 10,2%
5. Berdasarkan laporan WHO-UNICEF joint monitoring 2004 kinerja sektor Air
Minum di Indonesia dinilai masih rendah dibandingkan dengan negara lain di Asia
Tenggara. Diperkirakan 22% penduduk Indonesia pada tahun 2015 belum memiliki
akses terhadap air bersih.

2
6. Data GLASS (Global Water Supply Water and Assesment) tahun 2014 menyatakan
terdapat 748 juta orang di dunia yang masih belum mendapatkan akses terhadap air
bersih, 1.8 milyar orang menggunakan sumber air minum yang terkontaminasi dan
1 milyar orang melakukan buang air besar sembarangan
7. Data UNDP (United Nations Development Programme) baru 57,2% penduduk
Indonesia yang memiliki akses terhadap air bersih.
8. Menurut data MDGs (Millenium Development Global) tahun 2015 ditargetkan di
Indonesia proporsi penduduk terhadap air bersih sebesar 67 %, namun hal ini belum
tercapai dengan didapatkannya cakupan penduduk terhadap air bersih sebesar
57,2%.
9. Di UPTD Puskesmas DTP Loji, cakupan program pengawasan sarana air bersih
adalah 34,15 %, dengan target 80 %, sehingga terbentuk besar masalah sebesar
45,85 %

1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum :
1.3.1.1.Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengawasan sarana air
bersih di Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang, periode Januari sampai
dengan Juli 2017 dengan pendekatan sistem.

1.3.2. Tujuan Khusus :


1.3.2.1.Diketahuinya jumlah dan jenis sarana air bersih pada setiap desa di wilayah
kerja Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang pada periode Januari sampai
Juli 2017.
1.3.2.2.Diketahuinya cakupan penduduk yang menggunakan sarana air bersih
untuk keperluan sehari-hari di wilayah kerja Puskesmas Loji, Kabupaten
Karawang pada periode Januari sampai Juli 2017.
1.3.2.3.Diketahuinya cakupan penduduk yang tidak menggunakan sarana air bersih
untuk keperluan sehari-hari di wilayah kerja Puskesmas Loji, Kabupaten
Karawang pada periode Januari sampai Juli 2017.
1.3.2.4.Diketahuinya cakupan inspeksi sarana air bersih di wilayah kerja
Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang pada periode Januari sampai Juli
2017.

3
1.3.2.5.Diketahuinya cakupan sarana air bersih yang memiliki resiko pencemaran
rendah sedang di wilayah kerja Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang pada
periode Januari sampai Juli 2017.
1.3.2.6.Diketahuinya cakupan pengambilan sampel air dalam pelaksanaan program
pengawasan sarana air bersih di wilayah kerja Puskesmas Loji, Kabupaten
Karawang pada periode Januari sampai Juli 2017.
1.3.2.7.Diketahuinya cakupan sarana air bersih dengan pemeriksaan bakteriologis
yang memenuhi syarat kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Loji,
Kabupaten Karawang pada periode Januari sampai Juli 2017.

1.4. Manfaat
1.4.1 Bagi Evaluator:
1.4.1.1 Menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh saat di bangku kuliah.
1.4.1.2 Melatih serta mempersiapkan diri dalam mengatur suatu program
khususnya program upaya kesehatan lingkungan terutama sarana air bersih.
1.4.1.3 Mengetahui banyaknya kendala yang dihadapi dalam mengambil langkah
yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, antara
lain perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan.
1.4.1.4 Menumbuhkan minat dan pengetahuan mengevaluasi.
1.4.1.5 Mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis.

1.4.2 Bagi Perguruan Tinggi:


1.4.2.1 Mengamalkan Tridarma Perguruan Tinggi.
1.4.2.2 Mewujudkan kampus sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di
bidang kesehatan.
1.4.2.3 Mewujudkan Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) sebagai
universitas yang menghasilkan dokter yang berkualitas.
1.4.3 Bagi Puskesmas yang dievaluasi:
1.4.3.1 Mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam program upaya kesehatan
lingkungan terutama sarana air bersih di ruang lingkup kerja puskesmas
Loji.
1.4.3.2 Dapat mengetahui kendala apa saja yang ditemui pada saat pelaksanaan
program upaya kesehatan lingkungan terutama sarana air bersih.

4
1.4.3.3 Dapat meningkatkan motivasi pemegang program dan pelaksana program
agar dapat berjalan dengan baik.
1.4.3.4 Dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas program pengawasan sarana
air bersih, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
dengan adanya sarana air bersih

1.4.4 Bagi Masyarakat:


1.4.4.1 Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Tegalwaru.
1.4.4.2 Dengan tercapainya keberhasilan program, diharapkan dapat menurunkan
prevalensi berbagai penyakit masyarakat yang berhubungan dengan
program upaya kesehatan lingkungan terutama sarana air bersih.
1.4.4.3 Dengan tercapainya keberhasilan program, diharapkan dapat menjadi
contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia.
1.5. Sasaran
Seluruh sarana air bersih di wilayah kerja Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang,
Jawa Barat pada periode Januari hingga Juli 2017.

5
Bab II
Materi dan Metode

2.1. Materi
Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari laporan kegiatan bulanan mengenai
program pengawasan sarana air bersih di Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang periode
Januari sampai dengan Juli 2017, yang terdiri dari:
1. Pendataan jumlah dan jenis sarana air bersih per wilayah desa.
2. Pendataan jumlah penduduk yang menggunakan sarana air bersih.
3. Pendataan sarana air bersih yang diinspeksi.
4. Pemeriksaan sarana air bersih yang risiko tingkat pencemaran rendah.
5. Pengambilan sampel air dari sarana air bersih yang diinspeksi.
6. Pemeriksaan sarana air bersih dengan pemeriksaan kualitas bakteriologis.
7. Pencatatan dan pelaporan

2.2. Metode
Evaluasi program ini dilaksanakan dengan pengumpulan data, pengolahan data,
analisis data, dan interpretasi data dengan menggunakan pendekatan sistem dengan cara
membandingkan cakupan program pengawasan sarana air bersih di Puskesmas Loji,
Kabupaten Karawang periode Januari sampai juli 2017 terhadap tolok ukur yang
ditetapkan sehingga dapat ditemukan masalah yang ada dari program pengawasan sarana
air bersih di Puskesmas Loji kemudian dibuat usulan dan saran sebagai pemecahan
masalah tersebut berdasarkan penyebab masalah yang ditemukan dari unsur-unsur sistem.

6
Bab III
Kerangka Teoritis

3.1. Kerangka Teoritis

Lingkungan

Masukan Proses Keluaran Dampak

Umpan Balik

Gambar 1. Bagan Unsur Sistem

Bagan di atas menerangkan sistem menurut Ryans, adalah gabungan dari elemen-
elemen yang saling dihubungkan dengan suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai
salah satu kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan.
Pendekatan sistem adalah prinsip pokok atau cara kerja sistem yang diterapkan
pada waktu menyelenggarakan pekerjaan administrasi. Dibentuknya suatu sistem pada
dasarnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan.Untuk terbentuknya
sistem tersebut perlu dirangkai beberapa unsur atau elemen sedemikian rupa sehingga
secara keseluruhan membentuk suatu kesatuan dan secara bersama-sama berfungsi untuk
mencapai kesatuan.
Ada 6 unsur yang saling berhubungan dan mempengaruhi pada sistem, yaitu :
1. Masukan (input) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan
dibutuhkan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut, terdiri dari tenaga (man), dana
(money), sarana (material), metode (method), mesin atau alat yang digunakan
(machine), jangka alokasi waktu (minute), lokasi masyarakat (market), dan informasi
(information).
2. Proses (process) adalah kumpulan bagian atau elemen yang ada di dalam sistem dan
berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. Menurut

7
Geore Robert Terry terdiri dari unsur perencanaan (planning), pengorganisasian
(organizing), pelaksanaan (actuating), dan pemantauan (controlling).
3. Keluaran (output) adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari
berlangsungnya proses dalam sistem.
4. Lingkungan (environment) adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem
tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem, terdiri dari lingkungan fisik dan
non fisik.
5. Umpan balik (feed back) adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan
keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan dari sistem tersebut, berupa
pencatatan dan pelaporan yang lengkap, monitoring, dan rapat bulanan.
6. Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran dari suatu sistem.

3.2. Tolok Ukur


Tolok ukur merupakan nilai acuan atau standar yang telah ditetapkan pada tiap
variabel sistem yang terdiri dari variabel masukan, proses, keluaran dan umpan balik.
Tolok ukur digunakan sebagai pembanding atau target yang harus dicapai dalam program
pengawasan sarana air bersih. (Dapat dilihat pada lampiran I)

8
Bab IV
Penyajian Data

4.1. Sumber Data


Sumber data dalam evaluasi ini diambil dari data sekunder yang berasal dari:
 Data Geografi dan Demografi Puskesmas Loji Kabupaten Karawang tahun 2017
 Laporan penduduk yang memiliki sarana air bersih di wilayah kerja Puskesmas
Loji tahun 2017
 Pencatatan kegiatan program pengawasan sarana air bersih di Puskesmas Loji
Kabupaten Karawang tahun 2017
 Laporan Triwulan dan Tahunan Puskesmas Loji Kabupaten Karawang tahun 2017

4.2. Data Umum

4.2.1. Data Geografis

1. Luas Wilayah Kerja UPTD Puskesmas DTP Loji


Puskesmas Loji berada di lingkungan wilayah Kecamatan Tegalwaru, yang
lokasinya terletak di bagian selatan Kabupaten Kawarang yaitu kp. Munjul RT.01/02 Desa
Cintalaksana Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Karawang. Jarak dari Puskesmas Loji ke
Kota Kabupaten ± 35 km, dengan waktu tempuh 90 menit menggunakan roda empat. Luas
wilayah Kerja 10.768 KM2 Terbagi menjadi 9 desa, 40 RW, dan 114 RT. Dengan jumlah
penduduk 35.959 orang.
Iklim dan Sumber Air
 Sesuai dengan bentuk morfologinya, Loji merupakan dataran tinggi dengan
temperatur udara rata-rata 25-32°C

 Loji mempunyai sumber air yang melimpah dan jernih, berasal dari beberapa
air terjun yang mengalir deras, yang berfungsi sebagai pencucian pakaian,
mengaliri lahan pertanian dan irigasi

2. Batas Wilayah Kerja UPTD Puskesmas DTP Loji

UPTD Puskesmas DTP Loji secara administratif berbatasan dengan :

Sebelah utara : Kecamatan Ciampel Kabupaten Karawang


Sebelah selatan : Kecamatan Cariu Kabupaten Bogor

9
Sebelah barat : Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang
Sebelah Timur : Kecamatan Sukasari Kabupaten Purwakarta

Wilayah Administrasi

Wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Loji terdiri dari 9 desa, 40 RW, dan 114
RT. 9 desa tersebut adalah:
1. Desa Kutamaneuh
2. Desa Kutalanggeng
3. Desa Cintalanggeng
4. Desa Cintawargi
5. Desa Cintalaksana
6. Desa Mekarbuana
7. Desa Wargasetra
8. Desa Cigunungsari
9. Desa Cipurwasari
Seluruh desa di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Loji relatif dapat dijangkau
dengan kendaraan bermotor roda dua.

3. Data Demografis
Berdasarkan data dari masing-masing desa, penduduk wilayah kerja UPTD
Puskesmas DTP Loji Kecamatan Tegalwaru pada tahun 2016 berjumlah 35.959 jiwa yang
terdiri dari laki-laki sebanyak 18.125 jiwa dan perempuan sebanyak 17.834 jiwa.
Penyebaran penduduk di Puskesmas Loji Kecamatan Tegalwaru bervariasi yaitu
jumlah penduduk terkecil dimiliki oleh desa Cipurwasari dan penduduk terbesar dimiliki
oleh desa Wargasetra.
Data persentase tingkat pendidikan menunjukkan bahwa pendidikan SD (59,34 %)
merupakan pendidikan dengan persentase tertinggi dibandingkan dengan tamatan
pendidikan lain. Sedangkan pendidikan dengan persentase terkecil adalah penduduk
dengan tamatan Akademi/Perguruan Tinggi (4 %).

4. Data Fasilitas Kesehatan

Fasilitas kesehatan yang ada di UPTD Puskesmas Loji Kecamatan Tegalwaru


dapat di kategorikan menjadi fasilitas negara dan fasilitas swasta. Fasilitas tersebut yang
ada antara lain :

10
1. Sarana Kesehatan
 Pustu : 2 Buah
 Polindes :-
 Klinik 24 jam : 1 Buah
 Praktek Dokter Swasta : 1 Buah
 Pondokan Bidan : 13 Buah
 Rumah Bersalin : 1 Buah
 Apotik : 4 Buah
 Praktek Bidan Swasta : 1 Buah
 BP : - Buah
 Posyandu : 38 Buah
 Posbindu : 9 Buah
4.3 Data Khusus
4.3.1. Masukan

1. Tenaga
a. Dokter/ Kepala Puskesmas : 1 orang (sebagai penanggung jawab)
b. Petugas kesehatan lingkungan : 1 orang (sebagai koordinator
sekaligus pelaksana program kesehatan sarana air bersih)
Tidak terdapat data tertulis yang melibatkan peran serta POKMAIR
2. Dana
Dana untuk pelaksanaan program diperoleh dari:
 APBD : Tidak tersedia data rincian dana program
 BOK : Tidak tersedia data rincian dana program

3. Sarana
a) Sarana medis:
 Sanitarian kit : pH meter
b) Sarana non medis: +
 Infocus : Ada, 1 buah
 Layar : Ada, 1 buah
 Leaflet : Ada
 Lembar balik : Ada
 Poster : Ada
 Alat tulis : cukup

11
 Buku pedoman Kesling : Ada namun terbatas ( hanya 1)
 Checklist pemeriksaan SAB : Ada
 Formulir pengiriman sampel : Ada
 Sarana transportasi : Ada
 Botol steril, tas/ kotak pengepakan botol: Ada

4. Metode
 Melakukan pendataan jumlah dan jenis sarana air bersih dan pengguna
sarana air bersih
Pendataan dilakukan dengan mengambil data sekunder yang dilakukan
oleh ketua RT yang kemudian dilaporkan ketua RW kemudian
dikumpulkan disetiap desa pada akhir tahun.
 Pemeriksaan/inspeksi sarana air bersih.
Inspeksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui keadaan
perumahan dan lingkungan di daerah sasaran. Pemeriksaan dilakukan
setiap 1 kali sebulan di tiap-tiap desa dengan mengunjungi rumah yang
berbeda setiap bulannya melalui kaidah survei di wilayah kerja UPTD
Puskesmas DTP Loji. Pada keadaan yang tidak memungkinkan untuk
melaksanakan survei secara menyeluruh dapat dilakukan secara
terbatas dengan mengambil sampel yang mewakili sarana air bersih di
suatu wilayah. Pengawasan atau inspeksi sarana air bersih diperiksa
berdasarkan formulir pengawasan sarana air bersih yang telah
disiapkan. Adapun indikator yang dinilai adalah tidak berwarna, tidak
berbau, tidak keruh, tidak berasa, dan suhu dibawah suhu kamar.
 Pengambilan sampel air
Pengambilan sampel air dilakukan apabila ditemukan kasus penyakit
yang bersumber dari pencemaran air didapatkan dari klinik sanitasi
tetapi hanya dibatasi satu tahun dua kali pengambilan untuk 10 sarana
dan biasanya dilakukan pada periode bulan april dan oktober.
Untuk sumur pompa, sampel diambil setelah 5 menit air keluar, untuk
sumur gali, sampel diambil dengan kedalaman 20 cm di bawah
permukaan air, dan untuk PAM, sampel diambil setelah 2 menit air
keluar. Pemeriksaan air hanya dilakukan untuk parameter
bakteriologisnya saja, jumlah air yang diambil sebanyak 100 ml,

12
kemudian diberi etiket dan dikirim ke laboratorium. Kualitas
bakteriologis ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium
kesehatan masyarakat, kemudian ditetapkan sesuai standar kualitas air
bersih terhadap kandungan bakteriologis sesuai dengan Permenkes 416
tahun 1990.
 Pencatatan dan Pelaporan
- Pencatatan
Data kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh petugas lapangan
dimasukkan ke dalam format pencatatan pengawasan air bersih
(register dan formulir lain yang diperlukan) seterusnya membuat
penyajian/visualisasi data dalam bentuk peta, grafik atau tabel yang
diperbaharui secara periodik (bulanan, triwulan dan tahunan).
- Pelaporan
Puskesmas yang melaksanakan kegiatan ini melaporkannya kepada
Kepala puskesmas sebelum diserahkan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota sesuai format yang telah ada.

4.3.2. Proses
4.3.2.1 Perencanaan
 Pendataan jumlah sarana air bersih
Pendataan 1 kali setahun tentang jumlah sarana air bersih dan
jumlah pengguna dengan mengumpulkan data sekunder dari
RT/RW di setiap desa
 Pemeriksaan / inspeksi sarana air bersih
Tidak terdapat perencanaan tertulis mengenai cara melakukan
inspeksi sarana air bersih, waktu dan lokasi yang akan dilakukan
inspeksi sarana air bersih.
 Pengambilan sampel air
Pengambilan sampel air dilakukan apabila ditemukan kasus
penyakit yang bersumber dari pencemaran air didapatkan dari klinik
sanitasi tetapi hanya dibatasi satu tahun dua kali pengambilan untuk
10 sarana dan biasanya dilakukan pada periode bulan april dan
oktober. Pengambilan sampel air dilakukan sesuai dengan jenis
sarana air bersih. Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan

13
alat-alatnya seperti kotak air/ termos/ botol steril, tempat
penyimpanan botol/ kotak/ termos, alat tulis, formulir inspeksi
sanitasi air bersih, formulir pengiriman sampel, formulir hasil
pemeriksaan sampel, dan sarana transportasi. Kemudian, ditentukan
titik pengambilan sampel
 Pemeriksaan bakteriologis
Pemeriksaan bakteriologis terhadap sampel air dilakukan minimal
2x/tahun di laboratorium yang telah ditunjuk, kualitas air bersih
terhadap kandungan bakteriologis sesuai dengan Permenkes No 416
tahun 1990.
 Pencatatan dan pelaporan :
Pencatatan : dilakukan setiap kegiatan dilaksanakan
Pelaporan : dilakukan bulanan, triwulan, dan tahunan.
4.3.2.2 Pengorganisasian
Dibuat struktur organisasi, kepala puskesmas sebagai penanggungjawab
program, melimpahkan kekuasaan kepada Koordinator program
(programmer), kemudian programmer melakukan koordinasi dengan
pelaksana program pengawasan sarana air bersih di Puskesmas Loji.

Bagan Struktur Organisasi

Kepala Puskesmas

Ibu Hj Wiwin
Widaningsih, SKM

Ka. Tata Usaha

Bp Didi Suryadi

Staff Promkes
Penanggungjawab dan Pelaksana Program
Kesling

Ari

Ketua RT/RW
Gambar Struktur Organisasi Program Kesehatan Lingkungan (Pengawasan Air Bersih) UPTD
Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang.

14
4.3.2.3 Pelaksanaan:
 Pendataan jumlah sarana air bersih
Pendataan dilakukan.1 kali setahun tentang jumlah dan jnsarana air
bersih dan jumlah pengguna.
 Pemeriksaan sarana air bersih
Pemeriksaan dilakukan seminggu 3 kali terhadap sarana air bersih yang
ada dilakukan oleh petugas kesehatan lingkungan dibantu RT dengan
mendatangi rumah penduduk yang menggunakan SAB di wilayah kerja
Puskesmas Loji dan mengisi formulir inspeksi sanitasi oleh petugas
kesling.
 Pemeriksaan bakteriologis
Pemeriksaan bakteriologis sarana air bersih dilakukan hanya 2 kali
dalam setahun.
Pencatatan dan pelaporan :
- Pencatatan : dilakukan setiap kegiatan dilaksanakan
- Pelaporan : dilakukan bulanan, triwulan, dan tahunan.

4.3.2.4 Pengawasan:
Adanya pencatatan yang sistemik secara berkala tentang kegiatan
pengawasan kualitas sarana dan air bersih dilaksanakan 3 kali per minggu.
Kemudian data ini di rekap setiap bulan dan dilaporkan ke kepala
puskesmas untu diteruskan ke dinas kesehatan Kabupaten kerrawang.
Adanya rapat triwulanan Puskesmas tentang hasil pencapaian pengawasan
program sarana air bersih.
.
4.3.3 Keluaran
4.3.3.1 Pendataan data dasar jumlah sarana air bersih yang ada
Jumlah sarana air adalah 9386 buah yang terdiri dari, SGL (sumur gali) dan pompa
listrik, PMA (Pemanfaatan mata air ). Jumlah SGL 6969, Pompa listrik 220, PMA
2197

4.3.3.2 Data jenis sarana air bersih yang ada atau yang di inspeksi Januari
sampai juli 2017
Jenis sarana air bersih yang ada di wilayah kerja Puskesmas Loji, terdiri dari:

15
Sumur Gali Lindung (SGL)= 1689 buah
Pompa Listrik= 336 buah
Pemanfaatan mata air = 279 buah

4.3.3.3 Cakupan jumlah penduduk yang menggunakan air bersih januari


sampai juli 2017
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘𝑑𝑖𝑙𝑜𝑘𝑎𝑠𝑖𝑦𝑎𝑛𝑔𝑚𝑒𝑛𝑔𝑔𝑢𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛𝑎𝑎𝑖𝑟𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑑𝑒 𝑗𝑎𝑛𝑢𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑗𝑢𝑙𝑖
𝑥100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘𝑑𝑖𝑙𝑜𝑘𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝑗𝑎𝑛𝑢𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑗𝑢𝑙𝑖
7754
𝑐𝑎𝑘𝑢𝑝𝑎𝑛 ∶ 𝑥100% = 21,56%
35959

4.3.3.4 Cakupan jumlah penduduk yang tidak menggunakan air bersih


𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘𝑑𝑖𝑙𝑜𝑘𝑎𝑠𝑖 − 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘𝑑𝑖𝑙𝑜𝑘𝑎𝑠𝑖𝑦𝑎𝑛𝑔𝑚𝑒𝑛𝑔𝑔𝑢𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛𝑎𝑎𝑖𝑟𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
𝑥10
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘𝑑𝑖𝑙𝑜𝑘𝑎𝑠𝑖

28205
𝑐𝑎𝑘𝑢𝑝𝑎𝑛 ∶ 𝑥100% = 78,43 %
35959

4.3.3.5 Cakupan sarana air bersih yang diinspeksi


𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑆𝐴𝐵𝑦𝑎𝑛𝑔𝑑𝑖𝑖𝑛𝑠𝑝𝑒𝑘𝑠𝑖𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝑗𝑎𝑛𝑢𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑗𝑢𝑙𝑖
𝑥100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑆𝐴𝐵𝑦𝑎𝑛𝑔𝑎𝑑𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
2304
𝑐𝑎𝑘𝑢𝑝𝑎𝑛: 𝑥100% = 30.06%
7508

Target :80 % dalam setahun (Berdasarkan Target Dinas Kesehatan Kab. Karawang)

4.3.3.6 Cakupan sarana air bersih yang resiko tingkat pencemaran rendah
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝐴𝐵 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑛𝑐𝑒𝑚𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ
𝑥100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝐴𝐵𝑦𝑎𝑛𝑔𝑑𝑖𝑖𝑛𝑠𝑝𝑒𝑘𝑠𝑖
813
𝑐𝑎𝑘𝑢𝑝𝑎𝑛: 𝑥100% = 35,28%
2304

16
4.3.3.7 Cakupan pengambilan sampel air
Jumlah SAB yang diinspeksi yang airnya diambil untuk sampel
x 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝐴𝐵 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑛𝑐𝑒𝑚𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ

5
𝑐𝑎𝑘𝑢𝑝𝑎𝑛: 𝑥100% = 0.61%
818

4.3.3.8 Cakupan pemeriksaan bakteriologis pada SAB


Belum bisa diketahui dikarenakan hasil pemeriksaan air belum keluar.

a.3.4 Lingkungan
1. Lingkungan Fisik
 Lokasi : Semua lokasi sarana air dapat dijangkau dengan sarana
transportasi yang ada (sepeda motor), meskipun ada beberapa daerah yang
medan jalan cukup sulit..
 Iklim :Sebagian jalan banyak yang rusak dan becek terutama
ketika hujan tetapi tidak mempengaruhi pelaksanaan program secara
signifikan
 Kondisi Geografis :masih ada beberapa daerah yang mengalami kekeringan
disaat musim kemarau, seperti desa kutalanggeng.
2. Lingkungan Non Fisik
 Sosial ekonomi : Mayoritas bekerja sebagai buruh dan petani
 Tingkat pendidikan : Mayoritas tidak tamat SD
 Perilaku masyarakat :Mayoritas sudah menggunakan sarana air bersih
namun pengetahuaan akan sarana air bersih yang memenuhi syarat sehat
masih kurang.
a.3.5 Umpan Balik.
 Adanya rapat kerja bersama Kepala Puskesmas satu bulan sekali yang
membahas laporan kegiatan evaluasi program yang telah dilaksanakan
a.3.6 Dampak
 Menurunnya angka morbiditas dan mortalitas penyakit berbasis
lingkungan, seperti diare, penyakit kulit, dan tifoid belum dapat dinilai.

17
 Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran tentang sarana air bersih
sehingga dapat meningkatkan jumlah sarana air bersih di wilayah kerja
UPTD Puskesmas DTP Loji.
 Dampak tidak langsung yaitu masalah akses untuk air bersih tidak lagi
menjadi permasalahan serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

18
Bab V

Pembahasan Masalah
Tabel 1.Masalah dari Variabel Keluaran
No Variabel Tolak Ukur Pencapaian Masalah
1 Cakupan penduduk 80% 4.09% (+)
yang mengunakan air 75,1%

dari sarana air bersih


2 Cakupan sarana air 80% 30.06%% (+)
bersih yang di inspeksi 49,94%

3 Cakupan pengambilan 80% 0.61% (+)


sampel air 79,39%

4 Cakupan sarana air 80% 35,28% 44,72


bersih yang resiko
tingkat pencemaran
rendah

Tabel 2. Masalah dari Variabel Masukan


No Variabel Tolak Ukur Pencapaian Masalah
1 Tenaga (Man) Tersedianya tenaga Tidak adanya data tentang POKMAIR (+)
pemberdayaan masyarakat
dalam menjalankan program
pengawasan sarana air
bersih
1 Dana (Money) Tersedianya dana untuk Dana yang tersedia dirasa masih kurang (+)
pengawasan air bersih yang dikarenakan sasaran yang harus
dianggarkan oleh dinas dikunjungin dalam sebulan sebanyak 12
sebanyak 10 hari dikali 50 hari.
ribu.

19
Tabel 3. Masalah dari Variabel Proses
No Variabel Tolak Ukur Pencapaian Masalah
1 Perencanaan Terdapatnya perencanaan Tidak terdapat perencanaan tertulis (+)
tertulis terhadap kegiatan terhadap kegiatan pengawasan sarana air
pengawasan sarana air bersih bersih meliputi siapa yang melakukan,
meliputi siapa yang dimana tempat kegiatan dilakukan,
melakukan, dimana tempat kapan kegiatan dilakukan dan bagaimana
kegiatan dilakukan, kapan cara melakukan
kegiatan dilakukan dan
bagaimana cara melakukan
2 Pengorganisasian Terdapatnya struktur Struktur organisasi sudah jelas, namun (+)
organisasi yang jelas dalam koordinasi belum maksimal
pelimpahan tugas untuk
program pengawasan sarana
air bersih
3 Pelaksanaan Dilakukannya pengambilan Tidak semua sarana air bersih yang (+)
sampel air terhadap SAB beresiko diambil sampel airnya karena
yang mempunya resiko hanya dijatah 10 sarana dalam setahun
pencemaran rendah

20
Bab VI
Perumusan Masalah

6.1. Masalah sebenarnya (menurut keluaran)


 Cakupan jumlah penduduk menggunakan SAB 4,9 % dari target 80% dengan besar
masalah 75,1%
 Cakupan inspeksi SAB 30,06 % dari target 80% dengan masalah sebesar 49,94%.
 Cakupan pengambilan sampel air 0.61% dengan masalah sebesar 79,39%

6.2. Masalah dari unsur lain (penyebab)


 Masukan
1. Tenaga
Tidak ada data tentang POKMAIR
2. Dana
Dana masih kurang.
 Proses
1. Perencanaan
Tidak terdapat perencanaan tertulis terhadap kegiatan pengawasan sarana air
bersih meliputi siapa yang melakukan, dimana tempat kegiatan dilakukan, kapan
kegiatan dilakukan dan bagaimana cara melakukan
2. Pengorganisasian
Tidak terdapat pengorganisasi program pengawasan sarana air bersih
2. Pelaksanaan
Pengambilan sampel air kepada depot air minum saja

21
Bab VII

Prioritas Masalah

Masalah menurut keluaran:

A. Cakupan jumlah penduduk menggunakan SAB 4,9 % dari target 80% dengan besar
masalah 75,1%
B. Cakupan inspeksi SAB 30,06 % dari target 80% dengan masalah sebesar 49,94%.
C. Cakupan pengambilan sampel air 0.61% dengan masalah sebesar 79,39%

Tabel 5. Prioritas Masalah


No Parameter Masalah

A b c

1 Besarnya masalah 3 4 5

2 Berat ringannya masalah 5 4 5

3 Keuntungan sosial karena terselesainya masalah 5 4 3

4 Sumber daya yang tersedia untuk menyelesaikan masalah 1 3 1

5 Teknologi yang tersedia 3 5 1

Jumlah 17 20 15

Keterangan derajat masalah:


5 = sangat penting
4 = penting
3 = cukup penting
2 = kurang penting
1 = tidak penting

Yang menjadi prioritas masalah:

22
1. Cakupan jumlah penduduk menggunakan SAB 4,9 % dari target 80%
dengan besar masalah 75,1%
2. Cakupan inspeksi SAB 30,06 % dari target 80% dengan masalah sebesar
49,94%.

23
Bab VIII
Penyelesaian Masalah

8.1 Masalah 1
Cakupan jumlah penduduk menggunakan SAB 4,9 % dari target 80% dengan besar
masalah 75,1%
Penyebab Masalah :
a. Tenaga
Kurangnya tenaga pada program kesehatan lingkungan di UPTD
Puskesmas DTP Loji, Kabupaten Karawang dimana petugas bertugas
sebagai koordinator sekaligus pelaksana program kesehatan lingkungan,
bekerja sendiri sehingga kurang optimal. Tidak memiliki kader desa untuk
membantu pelaksanaan program, tidak mengadakan kerjasama lintas
program maupun lintas sektoral.
b. Dana
Tidak ada rincian laporan perincian dana yang diterima dan dana yang
dikeluarkan untuk program upaya kesehatan lingkungan mengenai
pengawasan sarana air bersih.
c. Perencanaan
Perencanaan kegiatan pengawasan sarana sarana air bersih hanya dilakukan
1 kali dalam sebulan dan belum adanya jadwal kegiatan pengawasan dalam
bentuk tertulis.
Penyelesaian Masalah :

A. Tenaga
Melakukan penambahan tenaga kesehatan lingkungan dengan latarbelakang
lulusan kesehatan lingkungan atau melakukan kerjasama lintas program.
Melakukan pelatihan kader-kader kesehatan lingkungan untuk di setiap desa
sehingga dapat membantu dalam pendataan sarana air bersih. Serta membentuk
kerjasama lintas sektoral dalam menambah pengawasan sarana air bersih.
B. Dana
Dilakukan rincian laporan dana yang telah diterima dan yang telah dikeluarkan
unruk program sarana air bersih, dan dilakukan pencarian sumber-sumber dana
yang baru di Puskesmas untuk pelatihan kader.

24
C. Perencanaan Membuat perencanaan tertulis terhadap semua kegiatan pengawasan
sarana air bersih meliputi siapa yang melakukan, dimana tempat kegiatan
dilakukan, kapan kegiatan dilakukan. Serta merencanakan jadwal pengawasan
sarana air bersih secara lebih berkala minimal 1 bulan sebelumnya sehingga
pelaksana program memiliki rencana yang sistematis dalam memenuhi target

8.1 Masalah 2

Cakupan sarana air bersih yang di inspeksi 29,12 % dari target 80 % dengan masalah
sebesar 63,6 %

Penyebab Masalah :

a. Tenaga
Kurangnya tenaga untuk melakukan inspeksi kualitas sarana air
bersih, tidak adanya tenaga lulusan kesehatan lingkungan, tidak
memiliki kader untuk membantu pelaksanaan program, tidak
mengadakan kerjasama lintas program dan lintas sektoral.
b. Dana
Tidak ada rincian laporan penggunaan dana yang diterima dan
dana yang digunakan untuk program upaya kesehatan
lingkungan mengenai pengawasan sarana air bersih.
c. Sarana
Tidak lengkapnya sarana yang digunakan untuk membantu
program pengawasan sarana air bersih, seperti tidak adanya
sanitarian kit, leaflet, dan lembar balik.
d. Perencanaan
Perencanaan kegiatan pengawasan sarana sarana air bersih
hanya dilakukan 1 kali dalam sebulan dan belum adanya jadwal
kegiatan pengawasan dalam bentuk tertulis
e. Pelaksanaan
Pelaksanaan belum optimal, dimana pada pelaksanannya hanya
dilakukan 1 kali sebulan. Selain itu dalam pelaksanaannya tidak
terdapat jadwal dan target pemeriksaan yang tepat sehingga

25
mempengaruhi jumlah kuantitas sarana air bersih yang
diperiksa.
Penyelesaian Masalah :

a. Tenaga
Penambahan tenaga kesehatan lingkungan yang direkrut dari tenaga
kesehatan lain di Puskesmas atau perekrutan tenaga yang ahli dalam
bidang kesehatan lingkungan yang berasal dari luar puskesmas.
Dilakukan pelatihan kader-kader kesehatan lingkungan ditiap desa.
Serta melakukan kerja sama lintas program dalam inspeksi sarana
air bersih.
b. Dana
Dilakukan pelaporan dana yang telah diterima dan yang telah
digunakan unruk program sarana air bersih, dan dilakukan
pencarian sumber-sumber dana yang baru di Puskesmas untuk
pelatihan kader
c. Sarana Mengalokasikan dana yang ada untuk melengkapi sarana
yang belum lengkap.
d. Perencanaan Membuat perencanaan tertulis terhadap semua
kegiatan pengawasan sarana air bersih meliputi siapa yang
melakukan, dimana tempat kegiatan dilakukan, kapan kegiatan
dilakukan. Serta merencanakan jadwal pengawasan sarana air
bersih secara lebih berkala minimal 1 bulan sebelumnya sehingga
pelaksana program memiliki rencana yang sistematis dalam
memenuhi target.
e. Pelaksanaan Mengikuti perencanaan yang telah dibuat untuk
memenuhi target serta membuat jadwal pelaksanaan sebelum
dilakukan kegiatan pemeriksaan pengawasan sarana air
bersihminimal 1 bulan sebelumnya dan tetapkan target pemeriksaan
dari wilayah yang akan diperiksa sehingga pelaksana program
mengetahui dengan jelas berapa jumlah sarana air bersih yang harus
di inspeksi pada setiap pemeriksaan untuk memenuhi targetnya.
Pemeriksaannya harus dilakukan berkala melalui bantuan tenaga
lain di Puskesmas maupun melalui kerja sama lintas program

26
Bab VIII
Penutup
9.1. Kesimpulan
Dari hasil evaluasi program yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
Program cakupan sarana air bersih di Puskesmas Loji periode Januari sampai dengan
juli 2017 dikatakan tidak berhasil karena masih belum tercapainya dengan tolak ukur
yang sudah ditentukan. Dari hasil kegiatan program, didapatkan :
 Cakupan jumlah penduduk menggunakan SAB 4,9 % dari target 80%
dengan besar masalah 75,1%
 Cakupan inspeksi SAB 30,06 % dari target 80% dengan masalah
sebesar 49,94%.
 Cakupan pengambilan sampel air 0.61% dengan masalah sebesar
79,39%

9.2. Saran

 Saran bagi Kepala Puskesmas sebagai penanggung jawab program :


• Membuat rencana tertulis meliputi siapa yang melakukan, dimana tempat
kegiatan dilakukan, kapan kegiatan dilakukan dan bagaimana cara melakukan
untuk menjalankan setiap kegiatan pengawasan air bersih yang dilakukan di
Puskesmas Loji
• Membuat susunan organisasi untuk program pengawasan sarana air bersih
mulai dari penanggung jawab program sampai pelaksana program beserta
anggota-anggotanya agar kegiatan dapat berjalan efektif dan efesien.
• Melakukan pemberdayaan masyarakat dengan cara membentuk POKMAIR di
setiap desa

Besar harapannya semoga melalui saran di atas dapat membantu berjalannya


program pengawasan sarana air bersih pada periode yang akan datang sehingga
dapat mencapai tingkat keberhasilan sesuai target yang diharapkan.

27
Daftar Pustaka

1. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat. Buku Kumpulan Peraturan dan Pedoman
Teknis Kesehatan Lingkungan Buku II. 2004
2. World Health Organization. Diarrhoeal Disease. [online]. 2013. Available from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/ 6 April 2016
3. Trihono. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2007.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Diunduh dari:
https://www.k4health.org/sites/default/files/laporanNasional%20Riskesdas%2020
07.pdf 6 April 2016
4. Kementrian Kesehatan RI. Buletin jendela data dan informasi kesehatan: situasi
diare di Indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan; 2011.h. 9-11.
5. Winlar W. Faktor yang mempengaruhi kejadian diare pada anak kurang dua tahun di
kelurahan Turangga. Fakultas kedokteran Kristen Maranatha. Diunduh dari
http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/diare/faktor.pdf 6 April 2016
6. World Health Organization. Water global analysis and assessment of sanitation and
drinking water report. [online]. 2014. Available from :
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/139735/1/9789241508087_eng.pdf?ua=1
&ua=1 6 April 2016
7. Peter Stalker. Kita suarakan MDG’s demi pencapaiannya di Indonesia. [online].
2015. Diunduh dari :
http://www.undp.org/content/dam/indonesia/docs/MDG/Let%20Speak%20Out%
20for%20MDGs%20-%20ID.pdf 6 April 2016

28