Anda di halaman 1dari 7

PEMBUATAN MEDIUM KULTUR JARINGAN TANAMAN :

MEDIUM MURASHIGE DAN SKOOG (MS)

Kelompok 3

Ragil Pratiwi G34080033


Rotua Citra Adhiguna LG G34080042
Ai Karwati G34080062
Faizal Abdul A G34080069
Fitria Dewi G34080081
Fajar Rizalrullah G34080099

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kultur jaringan(Tissue culture) adalah membudidayakan suatu jaringan


tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat sama dengan induknya.
Juga Merupakan metode untuk mengisolasi bagian tanaman seperti protoplas, sel,
jaringan dan organ (daun,batang, akar, biji,bunga,buah) dan menumbuhkan dalam
kondisi aseptik (Rahardja 1989). Menurut Nugroho dan Sugito (2004) Bagian
tanaman yang akan dikulturkan disebut eksplan. Jadi eksplan bisa berupa mata
tunas, anthera, batang, daun dan akar yang masih muda dan terdiri dari sel-sel
meristematis, yang mana sel-selnya masih aktif membelah-belah dan apabila
dikulturkan pada media tumbuh yang sesuai secara in vitro, maka eksplan tersebut
akan tumbuh dan berkembang biak menjadi banyak.
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur
jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang
akan diperbanyak. Media kultur yang baik seharusnya menyediakan unsur hara
baik makro maupun mikro, sumber vitamin dan asam amino, sumber karbohidrat,
zat pengatur tumbuh, senyawa organik sebagai tambahan seperti air kelapa,
ekstrak buah dll, bahan pemadat: agar-agar dan gelrite dan juga menyediakan
arang aktif untuk kasus tertentu untuk tanaman. Media Dasar Murashige Skoog
(MS) termasuk media kultur yang komposisi unsurnya lebih lengkap
dibandingkan media dasar lainnya,walaupun demikian perlu ditambah suplemen
seperti air kelapa untuk mendorong pertumbuhan jaringan. Kisaran indeks
keasaman (pH) media adalah 5,5 sampai 5,8.
Komposisi dalam media Murashige Skoog meliputi unsur-unsur
makro,mikro, vitamin, gula, asama mino dan zat pengatur tumbuh (ZPT), yang
penting untuk differensiasi sel. Menurut Marlina (2004) komposisi media yang
digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau
konsentrasinya. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan
pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro.
Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi
unsure hara makro, mikro, an vitamin untuk pertumbuhan tanaman

Tujuan

Praktikum ini bertujuan membuat medium kultur jaringan Murashige dan


Skoog (MS) dari larutan baku seperti garam anorganik, vitamin, zat pengatur
tumbuh, sukrosa, larutan hara makro dan mikro, setelah itu melakukan sterilisasi
medium pada autoklaf.
METODELOGI

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain labu takar, gelas
ukur, pipet mohr, pengaduk,tabung atau botol kultur, autoklaf, alumunium oil atau
kertas mika atau plastik, karet gelang, pH meter,neraca analitik gelas erlemeyer
keci dan besar, sedangkan bahan yang digunakan antara lain sukrosa, medium
padat berupa agar, aquades, larutan baku berupa garam-garam anorganik seperti
NH4NO3, KNO3, MgSO4.7H2O, KH2PO4, CaCl.2H2O, Fe EDTA ( (a)
FeSO4.7H2O dan b) Na2EDTA.2H2O), larutan hara mikro ( KI, H3BO3,
MnSO4.4H2O, ZnSO4.7H2O, Na2MoO4.2H2O, CuSO4.5H2O,dan CoCl2.6H2O ),
vitamin ( asam nikotinat, piridoksin HCl, tiamin HCl, dan mio-inositol), zat
pengatur tumbuh (IAA dan kinetin), KOH, HCl, dan asam amino seperti glisin.

Langkah Kerja

Larutan Labu ukur 1 liter


baku diisi sepertiganya
dikeluarkan dengan aquades atau
dari kulkas air destilata

Persiapan
pembuatan media

Satu persatu larutan


Bahan seperti sukrosa, baku baku
CaCl.2H2O, dan Fe ditambahkan ke dalam
EDTA ditimbang gelas erlenmeyer
sebanyak yang
tercantum pada tabel 2

Tambahkan sukrosa yang telah


aquades ditimbang sebanyak30gr
secukupnya ditambahkan ke dalam
sampai volume Erlenmeyer, kemudian
total 1 liter diaduk sampai larut
seluruhnya
Campuran dipindahkan ke dalam Untuk membuat medium padat,
Erlenmeyer besar. Sambil diaduk setelah campuran medium
teteskan setetes demi setetes larutan diukur pH-nya, tambahkan agar
KOH 1N atau HCl 1N hingga 6-8 g/L medium dan aduk
tercapai pH5,6-5,8, untuk mengukur sampai merata. Panaskan sampai
nilai pH campuran gunakan pHmeter mendidih, sambil diaduk

Sterilkan dalam Tuangkan medium ke dalam tabung


autoklaf selama atau botol kultur sebanyak yang
20 menit, pada diperlukan(kira-kira 1/5 dari
suhu 1210c kapasitas tabung) dan tabung/ botol
tekanan 15 psi ditutup dengan alumunium foil atau
kertas atau plastik tahan autoklaf

media diautoklaf, dinginkan di


suhu ruang, dan perbaiki perekat
tutup botol/tabungnya

simpan media dalam lemari di ruang


khusu sampai saatnya diperlukan
untuk digunakan
HASIL DAN PEMBAHASAN

Media merupakan suatu bahan yang penting untuk pertumbuhan kultur.


Media untuk pertumbuhan kultur dapat berupa media padat dan media cair. Media
padat biasanya digunakan untuk mengkulturkan kalus kemudian diinduksi
menjadi tanaman lengkap, sedangkan media cair biasanya digunakan untuk kultur
sel. Komponen yang penting dalam suatu media adalah senyawa anorganik,
sumber karbon, vitamin, zat pengatur tumbuh, dan suplemen organik (Yuwono
2008). Media Dasar Murashige Skoog (MS) yang digunakan pada praktikum ini
termasuk media kultur yang komposisi unsurnya lebih lengkap dibandingkan
media dasar lainnya,walaupun demikian perlu ditambah suplemen seperti air
kelapa untuk mendorong pertumbuhan jaringan, akan tetapi pada praktikum ini
tidak dilakukan penambahan air kelapa. Keistimewaan media MS adalah
kandungan nitrat, kalium, dan amoniumnya yang tinggi (Wetter dan Constabel
1991).
Senyawa anorganik yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan
tumbuhan ada yang mikro dan makro. Umumnya media mengandung senyawa
anorganik makro nitrat dan potassium dengan konsentrasi 25 mM. Senyawa
essensial lain yang penting adalah ammonium namun konsentrasi yang diperlukan
lebih rendah dari nitrat. Unsur makro lain yang penting adalah kalsium, sulfat, dan
magnesium dengan konsentrasi 1-3 mM. Unsur mikro yang dibutuhkan adalah
iodine (I), boron (B), mangan (Mn), zinc (Zn), molybdenium (Mo), tembaga (Cu),
kobalt (Co), dan besi (Fe) (Yuwono 2008).
Tanaman dalam kultur bersifat heterotrof, yaitu tidak dapat mensintesis
suatu senyawa untuk memenuhi kebutuhan karbonnya sendiri. Salah satu
komposisi dalam media adalah vitamin. Vitamin yang banyak digunakan adalah
thiamin, piridoxin, dan asam nikotinat. sedangkan suplemen organik yang biasa
digunakan adalah asam amino, peptone, ekstrak malt, dan ekstrak khamir. Zat
pengatur tumbuh yang diberikan dalam media tergantung kebutuhan kultur. Hal-
hal lain yang penting dalam media adalah komposisi agar, pengaturan pH, dan air
(Yuwono 2008). Dalam membuat media kultur dari komposisi larutan baku MS
dilakukan dengan hanya melarutkan dalam sejumlah tertentu aquades yang
kualitasnya memenuhi persyaratan, lalu pH-nya diatur, dimasukkan dalam botol-
botol kultur, kemudian disterilkan. (Wetherell 1982). pH diatur dari kisaran 5,6
sampai 5,8 dengan 1N KOH atau 1N HCl. Pengaturan pH ini bertujuan agar
menyediakan PH yang cocok untuk pertumbuhan eksplan.Kalau pH kurang dari 5
atau lebih dari 7 akan menghambat pertunbuhan dan perkembangan eksplan. Hal
ini terkait dengan pengaruhnya pada ketersediaan unsur hara yang terlarut.
Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang
akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral,
vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar,
gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh yang ditambahkan juga bervariasi, baik
jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang
dilakukan. Zat pengatur tumbuh yang diberikan dalam media MS adalah auksin
(IAA) dan sitokinin (kinetin). Kedua homon ini mempengaruhi pertumbuhan akar,
tunas, dan kalus berdasarkan keseimbangan konsentrasi dari kedua ZPT tersebut
yang terkandung dalam media. Pada konsentrasi yang hampir tepat sama antara
auksin dan sitokinin akan menghasilkan kalus. Apabila sitokinin lebih besar dari
auksin akan menginduksi tunas, sedangkan konsentrasi auksin lebih besar dari
sitokinin akan menginduksi perakaran yang lebi cepat (Trigiano and Gray 2000).
Hasil media yang telah dituang ke dalam tabung atau botol kultur
selanjutnya disterilkan dengan menggunakan autoklaf selama 20 menit dengan
suhu 1210ctekanan 15 psi hal ini bertujuan untuk bekerja secara aseptik dan media
tidak terkontaminasi selama proses pembuatannya. Sterilisasi sendiri dapat
dilakukan dengan beberapa cara yang umum digunakan adalah dengan autoklaf,
pemanasan kering dalam oven, penyaringan, dan sterilisasi dengan bahan kimia.
Pemilihan cara sterilisasi dipertimbangkan dari sifat bahan yang akan disetrilisasi.
Media MS yang telah disterilkan kemudian didingikan, setelah itu disimpan dalam
kulkas dengan suhu 40c agar komposisi bahan dalam media tidak rusak. Media
MS yang telah dibuat diperoleh dalam keadaan steril artinya tidak terkontaminasi,
dan digunakan dalan inisiasi kalus pada biji padi dalam praktikum selanjutnya.
Simpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
pembuatan media MS berhasil dilakukan dengan tidak adanya kontaminasi atau
dapat dikatakan pekerjaan yang dilakukan telah aseptik. Media MS yang
digunakan ini terdiri atas garam-garam anorganik, vitmin ZPT,asam amino,
larutan hara makro dan mikro

Daftar Pustaka
Marlina N. 2004. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk
Konservasi In Vitro Mawar (Rossa spp.). Buletin Teknik Pertanian. 9(1):4-
6.
Nugroho A dan Sugito H. 2004. Teknik Kultur Jaringan. Penebar Swadaya:
Jakarta
Rahardja PC. 1989. Kultur Jaringan: Teknik Perbanyakan Tanaman secara
Modern. Penebar Swadaya: Jakarta.
Trigiano, RN and Gray DJ. 2000. Plant Tissue Culture Concepts and Laboratory
Exercises. Boca Raton: CRC Press.
Yuwono T. 2008. Bioteknologi Pertanian. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
Press.
Wetter LR and Constabel F. 1991. Metode Kultur Jaringan Tanaman.
Diterjemahkan oleh Widianto MB. Bandung: ITB Press.