Anda di halaman 1dari 25

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN THT-KL REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN NOVEMBER 2017


UNIVERSITAS HASANUDDIN

PATULOUS TUBA

OLEH :
Yoriche Tallamma C 111 11 293
Syaiful Ulum C 111 11 306

PEMBIMBING :
dr. Masyita

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa :


Nama : Yoriche Tallamma ( C 111 11 293 )
Syaiful Ulum ( C 111 11 306 )

Judul referat : PATULOUS TUBA


Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Departemen Ilmu
Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, 24 November 2017

DokterPembimbing

dr. Masyita
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................................1

DAFTAR ISI .............................................................................................................................2

BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................................3

BAB II. TUBA EUSTACHIUS.....….......................................................................................4

BAB III. PATULOUS TUBA EUSTACHIUS........................................................................10

BAB IV. SIMPULAN .............................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................22

1
BAB I
PENDAHULUAN

Sudah sejak lama Eustachius menjelaskan tentang anatomi tuba eustakhius, dan
pemahaman fungsinya pada telinga tengah. Hubungan secara anatomi antara ruang telinga
tengah dan nasofaring kemudian diketahui namun peranan dari tuba masih belum jelas
diketahui. Hubungan ini pada awalnya diduga merupakan bagian organ dari sistem
pernafasan, namun dari pengamatan selanjutnya diketahui bahwa tuba ini mempunyai
peranan yang sangat vital pada cavum timpani, membran timpani dan telinga tengah secara
keseluruhan.

Gangguan fungsi dari tuba eustakhius (seperti gangguan membuka dan menutup,
gangguan mukosiliari klirens) dapat menyebabkan perubahan yang patologis di telinga
tengah. Hal ini akan menyebabkan gangguan pendengaran dan komplikasi yang lain dari
otitis media. Perubahan-perubahan patologis ini termasuk otitis media akut rekuren dan otitis
media efusi. Retraksi membran timpani yang kronis juga dapat menyebabkan atelektasis
telinga tengah dan otitis media adesif. Retraksi pada pars tensa membran timpani yang
terbentuk akibat adanya disfungsi tuba eustakhius yang kronis. Hal ini menyebabkan
terjadinya kolesteatoma dan komplikasi yang serius di kemudian hari. Bertentangan dengan
konsep saat ini, tuba Eustakhius tidak hanya sebuah tabung namun merupakan sebuah organ
yang terdiri dari lumen dengan mukosa yang melapisinya, kartilago, jaringan lunak yang
mengitarinya, otot-otot paratuba (tensor veli palatine, tensor timpani, levator veli palatine dan
salpingofaringeus). Istilah celah telinga tengah (middle ear cleft) sering digunakan untuk
menggambarkan tuba eustakhius, telinga tengah dan sel-sel mastoid.

2
BAB II
TUBA EUSTACHIUS

1. ANATOMI TUBA EUSTACHIUS

Gambar 1: Tuba Eustachius.

Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani.


bentuknya seperti huruf S. Seperti yang sudah diketahui tuba eustakhius
merupakan saluran yang menghubungkan kavum timpani dengan nasofaring.
Tuba eustakhius mempunyai ukuran yang lebih panjang pada dewasa
dibandingkan bayi dan anak. Pertumbuhan ukuran panjangnya terjadi sebelum
usia 6 tahun. Dilaporkan bahwa panjang tuba terpendek adalah 30 mm dan
terpanjang 40 mm (ukuran rata-rata 3138 mm). Pada tuba eustakhius dewasa,
bagian 1/3 posteriornya (11-44 mm) dibentuk oleh pars osseus, dan 2/3
anteriornya (20-25 mm) dibentuk oleh membran dan kartilago. Pada orang
dewasa, tuba eustakhius membentuk sudut 45o, sedangkan pada bayi hanya 10.

Dari muara sebelah bawah pada dinding lateral nasofaring berjalan ke


atas, belakang dan ke arah luar untuk sampai ke muara sebelah atas pada dinding
anterior kavum timpani. Sepertiga bagian atas (lateral) terbentuk oleh tulang
sedangkan duapertiga bagian bawah (medial) terdiri dari tulang rawan.

3
Orifisium nasofaringealis terletak setinggi ujung posterior dari konka
inferior. Tuba eustakhius pada bayi relatif lebih horizontal, lebih pendek dan
lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa.

Gambar 2. Perbedaan tuba eustachius anak dan dewasa

Tabel 1. Perbedaan tuba eustachius anak dan dewasa

Perkembangan tuba eustakhius dipengaruhi oleh perkembangan dari


bagian medial dari wajah. Fungsi tuba eustakhius berkembang menjadi normal

4
pada usia anak 5 sampai 6 tahun di mana tekanan udara telinga tengah menjadi
normal. Tuba eustakhius dapat dibagi menjadi 3 bagian diantaranya: bagian
kartilago (cartilaginous), antara (junctional) dan tulang (ossseus). Bagian
kartilago adalah bagian yang terletak di bagian proksimal dan bermuara di
nasofaring. Bagian tulang (osseus) terletak di bagian distal dan bermuara di
anterior telinga tengah. Bagian junction adalah bagian dimana bagian kartilago
dan bagian tulang terhubung dan sebelumnya diduga merupakan bagian yang
tersempit dari lumen tuba yang lebih dikenal sebagai isthmus. Dari penelitian tiga
dimensi saat ini terhadap 9 tulang temporal manusia oleh Sudo dkk, ditunjukkan
bahwa bagian isthmus dari lumen tuba lebih dekat di daerah distal dari bagian
kartilago dan bukan di daerah pertemuan dari bagian kartilago dan bagian tulang.
Mukosa yang melapisi seluruh lumen tuba sama dengan mukosa yang melapisi
saluran pernafasan.

Gambar 3. Tuba eustakhius menghubungkan hidung dan nasofaring


dengan telinga tengah dan mastoid sebagai suatu system

Suplai darah Tuba Eustakhius

Suplai darah tuba Eustakhius adalah dari 5 arteri yang kemudian


bersamasama menyuplai darah buat tuba eustakhius, diantaranya: arteri palatine
ascenden, cabang faringeal arteri maksilari interna, arteri dari kanalis pterygoid,
arteri faringeal ascenden dan arteri meningeal media. Drainase vena oleh pleksus

5
pterigoideus. Aliran limfatik tuba masuk ke dalam kelenjar-kelenjar retrofaring
dan servikal bagian dalam.

Persyarafan Tuba Eustachius

Orifisium faringeal dari tuba eustakhius di persyarafi oleh cabang dari


ganglion otik, n. sphenopalatinus dan pleksus faringeal. Sedangkan saraf
sensorisnya berasal dari pleksus timpanikus dan pleksus faringeal. Nervus
glossofaringeal di duga mempunyai peranan yang dominan pada persyarafan tuba
eustakhius. Saraf simpatis dari tuba tergantung pada ganglion sphenopalatinus,
ganglion otikus, sepasang nervus glossofaringeal, nervus petrosal dan n.
carticotympanikus.

Persyarafan dari m. tensor veli palatine dan m. tensor tympani berasal dari
bagian ventromedial nukleu motor trigeminal ipsilateral melalui n. trigeminus.
Musculus levator veli palatine menerima persyarafan dari n. ambigus melalui n.
vagus.

2. FISIOLOGI TUBA EUSTACHIUS

Secara fisiologi tuba Eustachius melakukan tiga peranan penting yaitu:

a. Ventilasi dan mengatur tekanan telinga tengah.

Dari ketiga fungsi fisiologis tuba eustakhius, fungsi yang paling utama
adalah sebagai regulasi tekanan (ventilasi) di dalam telinga tengah, dimana
pendengaran akan optimal jika tekanan gas di telinga tengah relatif sama
dengan tekanan udara di kanalis auditorius eksterna. Normalnya, pembukaan
aktif secara intermitten dari tuba eustakhius yang terjadi ketika m. tensor veli
palatine berkontraksi ketika proses menelan, menjaga tekanan udara di telinga
tengah.

Anak-anak memiliki fungsi tuba yang kurang efisien dibandingkan


dewasa. Namun fungsi tuba eustakhius mengalami perbaikan sesuai dengan
penambahan umur, sesuai dengan menurunnya insidensi infeksi telinga tengah
dari usia bayi ke usia dewasa. Selain karena adanya perbedaan anatomi antara
tuba eustakhius pada anak dan dewasa, juga ditemukanperbedaan fungsional

6
dalam kemampuan untuk membuka tuba eustakhius ketika proses menelan
untuk menyeimbangkan perbedaan tekanan antara telinga tengah dan
nasofaring.

Karena bayi mempunyai mekanisme pembukaan tuba aktif yang


kurang efisien, biasanya bayi melakukan kompensasi dalam rangka untuk
menyeimbangkan tekanan di dalam telinga tengah yaitu dengan menangis,
dimana ketika menangis terdapat tekanan positif yang cukup tinggi di daerah
nasofaring sehingga terjadi aliran udara dari nasofaring ke dalam telinga
tengah melalui tuba sehingga tekanan telinga tengah menjadi sama.
Mekanisme ini juga dapat menjelaskan kenapa bayi selalu menangis ketika
berada pada pesawat terbang yang sedang turun. Proses ini menyebabkan
insufflating udara ke dalam telinga tengah.

Gambar 3.1 Proses menangis dapat mengkompensasi mekanisme pembukaan


tuba yang tdk efisien pada bayi karena tuba eustakhius yang pendek dan
floopy

b. Perlindungan terhadap tekanan bunyi nasofaring dan reflux sekresi dari


nasofaring.

Secara abnormal, tekanan suara tinggi dari nasofaring dapat dialirkan


ke telinga tengah jika tuba terbuka, dengan demikian mengganggu
pendengaran yang normal .Biasanya tuba Eustachius tetap tetutup dan

7
melindungi telinga tengah melawan suara tersebut. Tuba Eustachius yang
normal juga melindungi telinga tengah dari reflux sekresi nasofaring. Reflux
ini terjadi dengan mudah jika diameter tuba lebar (patulous tube), pendek
(seperti pada bayi), atau membran timpani yang perforasi (menyebabkan
infeksi telinga tengah yang persisten pada kasus perforasi membran timpani).
Tekanan tinggi di dalam nasofaring juga dapat memaksa sekresi nasofaring ke
dalam telinga tengah , misalnya meniup hidung dengan kuat.

c. Pembersihan sekresi telinga tengah.

Membran mukosa tuba Eustachius dan bagian anterior telinga tengah


dilapisi oleh sel ciliated columnar. Silia bergerak ke arah nasofaring.Ini
membantu untuk membersihkan sekresi dan debris dalam telinga tengah ke
arah nasofaring. Fungsi pembersihan dipengaruhi oleh pembukaan dan
penutupan yang aktif dari tuba.

8
BAB III

PATULOUS TUBA EUSTACHIUS

Tuba biasanya dalam keadaan tertutup dan baru terbuka apabila oksigen diperlukan
masuk ke dalam telinga tengah atau pada saat mengunyah, menelan dan menguap.
Pembukaan tuba dibantu oleh otot tensor velli palatine apabila perbedaan tekanan
berbeda Antara 20- 40 mmHg. Gangguan fungsi tuba dapat terjadi oleh beberapa hal,
seperti tuba terbuka abnormal, mioklonus palatal, palatoskisis, obstruksi tuba karena
beberapa penyebab (seperti radang adenoid, tumor nasofaring, radang nasofaring),
barotraumas, OMA, OMSK, OMS, dan otosklerosis.

Pada anak, mekanisme pembukaan tuba eustachius saat menelan sering kali menjadi
satu permasalahan. Hal ini disebabkan oleh, 1) Persisten kolaps kartilago tuba
eustachius 2) inefisien muskulus tensor veli palatine 3) atau kedua-duanya.

Gambar 3. Ketidakberhasilan mekanisme pembukaan tuba pada anak

9
A. DEFINISI

Patulous Tuba ialah tuba terus menerus terbuka, sehingga udara masuk
ke telinga tengah waktu respirasi.

B. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO

Umumnya idiopatik tetapi dapat juga disebabkan oleh hilangnya


jaringan lemak di sekitar mulut tuba sebagai akibat turunnya berat badan yang
hebat dan kehamilan terutama pada trimester ketiga diidentifikasi sebagai
faktor predisposisi penting.

Selain itu, faktor lain yang mungkin adalah penyakit kronis tertentu
seperti rinitis atrofi dan faringitis, gangguan fungsi otot seperti myasthenia
gravis, penggunaan obat anti hamil pada wanita dan penggunaan estrogen
pada laki-laki.

Gangguan neurologis yang dapat menyebabkan atrofi otot (misalnya,


stroke, multiple sclerosis, penyakit motor neuron) jugamungkin terlibat.
Pembentukan adhesi dalam nasofaring setelah adenoidectomy atau radioterapi
juga dapat mempengaruhi untuk terjadinya kelainan ini.. Faktor predisposisi
lainnya termasuk kelelahan, stres, kecemasan, latihan, dan sindrom sendi
temporomandibular.

C. EPIDEMIOLOGI

Insiden Patulous Tuba adalah sebanyak 0,3-6,6%, dan 10-20% dari


orang yang mengalaminya mencari bantuan medis karena merasa begitu
terganggu dengan gejalanya. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita
dibandingkan pada pria dan biasanya terjadi pada remaja dan orang dewasa,
jarang ditemukan pada anak-anak.

D. GAMBARAN KLINIS

Keluhan pasien biasanya berupa rasa penuh dalam telinga atau


autofoni (gema suara sendiri terdengar lebih keras), sampai bisa terdengar
bunyi napas sendiri dan bisa mengganggu pertuturan. Keluhan ini kadang-

10
kadang sangat mengganggu, sehingga pasien mengalami stress berat. Vertigo
dan gangguan pendengaran juga dapat terjadi karena tuba terbuka abnormal
memungkinkan perubahan tekanan yang berlebihan terjadi di telinga tengah,
perubahan tekanan kemudian dikirim ke telinga bagian dalam melalui gerakan
tulang pendengaran. Beberapa pasien mungkin mengalami kesulitan makan
karena suara mengunyah ditransmisikan ke telinga. Gejala mungkin
berhubungan dengan perubahan siklus yang terjadi dalam mukosa tuba
eustachius. Beberapa pasien merasa lega dengan peningkatan kongesti
mukosa yang terkait dengan cara berbaring, menempatkan kepala di antara
lutut, atau selama infeksi saluran pernapasan atas.

Kompresi vena jugularis menghasilkan kongesti vena peritubular dan


bisa meringankan gejala. Pasien kadang-kadang mengendus berulang-ulang
untuk menutup tabung eustachius, dan ini dapat mengakibatkan tekanan
negatif telinga tengah jangka panjang. Dekongestan atau tabung ventilasi
dalam membran timpani dapat memperburuk gejala.

E. PEMERIKSAAN FISIS

Pada pemeriksaan klinis dapat dilihat membran timpani yang atrofi,


tipis dan bergerak pada respirasi (a telltale diagnostic sign). Membran
timpani dapat menjadi atrofi sekunder akibat gerakan membran timpani yang
konstan dari bernapas atau mengendus. Disebabkan tuba yang terbuka
abnormal, perubahan tekanan dalam nasofaring sangat mudah dipindahkan ke
telinga tengah sehinggakan pergerakan membran timpani bisa dilihat pada
waktu inspirasi dan ekpirasi. Pergerakan ini lebih jelas jika pasien bernapas
setelah menutup lobang hidung yang bersebelahan. Membran timpani
bergerak ke medial pada waktu inspirasi dan ke lateral pada waktu ekspirasi.
Jika pasien duduk tegak, gerakan kecil pars flaccida terjadi, yang menghilang
ketika pasien terlentang.

11
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

CT scan dalam bidang aksial telah digunakan untuk menunjukkan


adanya tuba terbuka abnormal. CT scan mungkin berguna dalam membuat
diagnosis pada beberapa pasien. Radiologi hanya membantu dalam diagnosis
patensi anatomi. Timpanometri dapat mendeteksi gerakan dari membran
timpani dengan respirasi hidung, terutama dengan pasien dalam posisi
tegak.Suara distorsi dari respirasi hidung dan pertuturan dapat didengar
dengan mikrofon ditempatkan di meatus eksternal. Dengan sonotubometry,
suara uji dimasukkan ke ruang depan hidung dan mikrofon dipasang ke dalam
meatus auditori eksternal. Dengan tuba terbuka abnormal, tingkat tekanan
suara di kanalis eksternal berada pada tingkat maksimum, karena tabung tidak
menutup, tidak ada penurunan mendadak dalam suara yang ditransmisikan.

G. PENATALAKSANAAN

Dalam kondisi normal, tabung eustachius ditutup dan hanya dibuka


pada waktu menelan atau autoinflation. Biasanya, penutupan tabung
eustachius dikelola oleh faktor luminal dan ekstraluminal, yang meliputi
elastisitas intrinsik tabung, tegangan permukaan lembab luminal, dan tekanan
jaringan ekstraluminal. Tonus otot tensor veli palatini melebarkan lumen
jadinya kerusakan pada tensor veli palatini setelah operasi bibir sumbing
dapat mengakibatkan tuba terbuka abnormal. Berat badan juga dapat
menyebabkan pembukaan abnormal yang disebabkan oleh berkurangnya
tekanan jaringan dan hilangnya deposit lemak di daerah tabung eustachius.
Kehamilan mengubah tekanan pembukaan tabung eustachius karena
perubahan tegangan permukaan, estrogen yang bekerja pada prostaglandin E
mempengaruhi produksi surfaktan. Jaringan parut di ruang postnasal akibat
adenoidectomy dapat menyebabkan traksi tuba dalam posisi terbuka.

Kondisi akut dari penyakit ini adalah self-limiting dan tidak


memerlukan pengobatan.Pasien dengan tuba terbuka abnormal yang sedang
hamil dan mereka dengan gejala ringan (kebanyakan pasien) perlu
diinformasi saja.Pasien yang memiliki gejala selama kehamilan bebas gejala
setelah melahirkan. Pasien disarankan untuk melakukan hal berikut:

12
• Menambah atau mendapatkan kembali berat badan yang hilang

• Berbaring atau meletakkan kepala lebih rendah ketika gejala terjadi

Pemberian obat topikal (obat nasal) dengan antikolinergik mungkin


efektif untuk beberapa pasien. Estrogen (Premarin) tetes hidung (25 mg dalam
30 mL normal saline, 3 tetes tid) atau obat oral larutan jenuh kalium iodida (10
tetes dalam segelas jus buah tid) telah digunakan untuk menginduksi
pembengkakan pembukaan tuba eustachius. Obat hidung yang mengandung
asam klorida encer, chlorobutanol, dan benzil alkohol telah dibuktikan efektif
pada beberapa pasien. Hal ini telah dilaporkan dapat ditoleransi dengan baik
dengan sedikit atau tidak ada efek samping. Persetujuan oleh Food and Drug
Administration (FDA) masih tertunda. Bila tidak berhasil dapat
dipertimbangkan untuk memasang pipa ventilasi (Grommet).

H. DIAGNOSIS BANDING

I. Obstruksi Tuba

Obstruksi tuba eustakhius dapat terjadi secara fungsional atau mekanik atau
bahkan keduanya. Obstruksi mekanik disebabkan dari (a) penyebab intrinsik seperti
peradangan atau alergi atau (b) penyebab ekstrinsik seperti tumor dinasofaring.
Obstruksi fungsional disebabkan oleh karena peningkatan kelenturan tulang rawan
yang tidak membuka secara fisiologis atau kegagalan mekanisme membuka tuba
aktif karena fungsi tensor veli palatini yang berkurang. Pada bayi dan anak-anak
memiliki tulang rawan yang lebih banyak sehingga lumen tuba eustakhius lebih
lentur yang menyebabkan tuba eustakhius kurang terbuka saat kontraksi otot tensor
veli palatini.

13
Gambar 5. Perbedaan lumen tuba eustakhius pada dewasa dan anak saat menelan.

Obstruksi tuba mekanik dapat terjadi secara intrinsik ataupun ekstrinsik.


Secara intrinsik disebabkan oleh kelainan mukosa lumen karena inflamasi yang
dapat menyempitkan diameter lumen. Inflamasi tersering karena infeksi atau alergi.
Secara ekstrinsik dapat disebabkan oleh obstruksi karena tumor yang
menyempitkan atau menghalangi lumen tuba eustakhius.

Gejala oklusi tuba termasuk otalgia, yang dapat ringan sampai berat, gangguan
pendengaran, sensasi “popping”, tinitus dan gangguan keseimbangan atau bahkan
vertigo. Tanda-tanda gejala oklusi tuba eustakhius bervariasi dan tergantung pada
lamanya gejala dan tingkat keparahan. Gejalanya diantaranya, retraksi membran
timpani, pergerakan kaku pada membran timpani, transudate terlihat di belakang
membran timpani dan gangguan pendengaran konduktif. Dalam kasus yang parah
seperti barotrauma, membran timpani tertarik secara signifikan dengan pendarahan
di lapisan subepitel, haemotympanum atau kadangkadang terjadi perforasi.

Patensi lumen tuba eustakhius juga dapat terjadi kelainan diantaranya tuba
patulous dan semipatulous. Tuba patulous yaitu terbukanya lumen tuba eustakhius
walaupun saat istiahat, sedangkan pada semipatulous, lumen tuba eutakius tertutup

14
saat istirahat namun mempunyai resistensi yang rendah dibandingkan resistensi
pada lumen tuba yang normal.

a. Obstruksi fungsional tuba eustachius

Obstruksi fungsional yang persisten dengan tekanan negatif pada telinga


tengah yang ditanda retraksi bermakna membran timpani, hal tersebut disebut
atelektasis. Tekanan negatif pada telinga tengah memudah terjadi aspirasi
bakteri dan virus dari nasofaring. Jika terjadi aspirasi bakteri dan virus dari
nasofaring ke telinga tengah dapat menyebabkan otitis media. Jika tidak terjadi
aspirasi, makayang terjadi adalah otitis media dengan efusi.

Fungsi tuba eustakhius terganggu pada pasien celah palatum karena: (a)
kelainan torus tubarius, yang menunjukkan kepadatan elastin yang tinggi
menyebakan lumen tuba eustakhius sulit untuk membuka, (b) tensor veli
palatini otot tidak menempel ke dalam tubarius torus dalam kasus 40% kasus
dari kalainan celah palatum. Otitis media dengan efusi sering terjadi pada pasien
ini. Bahkan setelah operasi, diperlukan pemasangan gromet untuk ventilasi
telinga tengah.

Pada sindrom Down fungsi tuba eustakhius menurun karena berkurangnya


tonus otot tensor veli palatini dan bentuk yang abnormal dari nasofaring. Anak-
anak dengan sindrom ini rentan terhadap otitis media yang berulang atau otitis
media dengan efusi.

15
Gambar 6 Mekanisme obstruksi fungsional tuba eustakhius

b. Obtruksi mekanik tuba eustachius

Pada obstruksi intrinsik paling terjadi karena inflamasi pada lumen yang dapat
disebabkan oleh virus, bakteri atau alergi. Obstuksi pada bagian tulang dari tuba
eutakius biasanya disebabkan inflamasi akut atau kronik. Obtruksi total dapat
terjadi pada ujung muara telinga tengah. Obstruksi juga dapat terjadi pada
bagian tulang rawan dari tuba eustakhius. Patogenesis obstruksi intrinsik sama
halnya dengan obstruksi fungsional.

Pada obstruksi ektrinsik dapat terjadi karena tekanan dari luar lumen yang
disebabkan oleh tumor nasofaring, adenoid atau lesi pada dasar tengkorak.
Adenoid menyebabkan disfungsi tuba oleh karena (a) obstruksi mekanik
pembukaan tuba, (b) bertindak sebagai reservoir untuk organisme patogen, (c)
dalam kasus alergi , sel mast dari jaringan adenoid melepaskan mediator
inflamasi yang menyebabkan penyumbatan tuba eustakhius. Dengan demikian,

16
adenoid bisa menyebabkan otitis media dengan efusi atau otitis media akut
berulang. Adenoidektomi dapat membantu mengurangi kedua kondisi tersebut.

Gambar 7. Mekanisme obstruksi mekanik intrinsik tuba eustakhius

17
Gambar 8. Mekanisme obstruksi mekanik ekstrinsik tuba eustakhius

c. Barotrauma (Aero-Otitis Media)

Perpindahan udara dari telinga tengah ke faring melalui tuba eustakhius


terjadi secara pasif bila terdapat tekanan lebih tinggi pada telinga tengah. Dalam
situasi sebaliknya, di mana tekanan udara nasofaring yang tinggi, udara tidak
dapat masuk ke telinga tengah kecuali tabung dibuka secara aktif oleh kontraksi
otot seperti menelan, menguap atau manuver valsava. Bila tekanan atmosfer
lebih tinggi dari telinga tengah (90 mmHg), tuba eustakhius akan "terkunci",
yaitu jaringan lunak faring ujung tabung masuk ke dalam lumennya. Jika
terdapat edema tuba eustakhius, bahkan perbedaan tekanan yang kecil
menyebabkan tuba eustakhius "terkunci". Tekanan negatif tiba-tiba di telinga
tengah menyebabkan retraksi membran timpani, hiperemis dan pembengkakan
pembuluh darah, transudasi dan pendarahan. Kadang-kadang meskipun jarang,

18
ada pecah membran labirin dengan vertigo dan gangguan pendengaran
sensorineural.

Mekanisme bisa terjadi saat menyelam bawah laut, terbang atau perjalanan
udara, trauma kepala tumpul, dan terapi oksigen hiperbarik. Pada perjalanan
udara. Sebagai acuan tekanan, permukaan laut adalah 1atmosfer (ATM),
ketinggian 18.000 kaki adalah ½ ATM. Selama lepas landas di dalam pesawat
terbang, tekanan udara menurun pada tingkat perkiraan 15 mmHg setiap
ketinggian 400 kaki. Selama mendarat, relatif tekanan udara meningkat.
"Tekanan" di dalam pesawat terbang adalah relatif dan tidak semua pesawat
yang sama. Sebuah pesawat biasanya bertekanan 8,5 psi, yang diartikan bahwa
dalam kabin pesawat hingga ketinggian 16.000 kaki memiliki tekanan sama
pada ketinggian permukaan laut, namun pada ketinggian 40.000 kaki, di dalam
kabin pesawat memmiliki tekanan yang sama dengan 7.000 kaki. Secara
keseluruhan, kabin bertekanan dapat mengurangi tetapi tidak akan
menghilangkan risiko barotrauma. Otalgia dirasakan ketika perbedaan tekanan
yang melintasi membran timpani melebihi 60 mm Hg dan lumen tuba
eustakhius "terkunci" pada 90 mmHg. Membran timpani dapat terjadi perforasi
pada tekanan, diperlukan tekanan 100 mmHg sampai 500 mmHg. Implosive
trauma telinga disebabkan oleh peningkatan secara akut tekanan telinga tengah
atau tekanan tulang pendengaran memaksa kaki stapes ke vestobullum. Trauma
telinga ledakan ini disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan cerebrospinal
(CSF) atau manuver valsava yang terlalu kuat, mengakibatkan peningkatan
tekanan intracochlear dan kemungkinan pecahnya oval atau round window.

Pada saat menyelam, nyeri biasanya terjadi karena ketidakmampuan atau


kegagalan untuk menyamakan tekanan telinga tengah. Gejala lain antara lain
nyeri pada wajah, gigi atau telinga, gangguan pendengaran mendadak, vertigo,
tinnitus, atau rasa penuh di telinga. Pada pemeriksaa dapat termasuk perdarahan
petekie, blebs di saluran telinga luar, efusi serosa, retraksi membran timpani,
gangguan pendengaran konduktif atau kadang-kadang gangguan pendengaran
sensorineural, dan hingga membran timpani pecah. Sebagai acuan tekanan,
permukaan laut adalah 1 ATM, 33 meter di bawah permukaan laut ialah 2
ATM, dan 150 meter di bawah permukaan air laut ialah 3 ATM. Farmer
menggambarkan sistem penilaian untuk barotrauma telinga tengah : tipe I

19
adalah rasa penuh pada telinga dan nyeri, tapi pada otoskopi normal, tipe II
adalah rasa nyeri, penurunan pendengaran, membran timpani eritema, efusi ,
dan hemotimpanum, dan tipe III adalah membran timpani perforasi.

Manajemen barotrauma tujuannya adalah untuk mengembalikan aerasi telinga


tengah. Hal ini dilakukan dengan kateterisasi atau politzerisation. Pada kasus
ringan, dapat diberikan tetes hidung dekongestan, nasal dekongestan atau
antihistamin oral. Dengan adanya cairan atau kegagalan medikamentosa,
miringotomi dapat dilakukan untuk "membuka " tuba eustakhius dan aspirasi
cairan. Pencegahan barotrauma dapat dicegah dengan langkah-langkah berikut :

1. Hindari perjalanan udara saat terjadi infeksi saluran pernapasan atas atau
alergi.

2. Menelan berulang kali selama pesawat mendarat. Mengunyah permen atau


permen karet.

3. Jangan biarkan tidur selama mendarat karena saat tidur tidak dapat
menelan.

4. Autoinflation tabung oleh Valsava harus dilakukan sebentar-sebentar


selama keturunan .

5. Gunakan semprot hidung vasokonstriktor dan tablet antihistamin dan


dekongesan sistemik, setengah jam sebelum mendarat teruatama pada
orang dengan riwayat episode.

6. Pada barotrauma berulang, harus dicurigai polip hidung, deviasi septum,


alergi dan sinusitis kronis.

20
KESIMPULAN

Tuba eustachius tidak hanya merupakan sebuah tabung namun sebuah organ yang
merupakan bagian dari sistem organ. Rongga hidung, palatum dan faring merupakan bagian
ujung proksimal dari tuba eustakhius dan telinga tengah serta sistem sel-sel gas mastoid
merupakan ujung bagian distal dari tuba eustakhius. Oleh karena itu fungsi dari tuba inipun
pasti berhubungan dengan sistem ini.

Ada tiga fungsi dari tuba eustakhius, diantaranya:

a. Sebagai pengatur tekanan (ventilasi) dari telinga tengah yang menyeimbangkan


tekanan gas di dalam telinga tengah dan tekanan atmosfir

b. Sebagai pelindung terhadap telinga tengah dari tekanan suara dan sekresi dari
rongga nasofaring.

c. Sebagai klirens (drainase) cairan yang dihasilkan di dalam telinga tengah yang
kemudian dialirkan ke nasofaring. Dari ketiga fungsi fisiologis tuba eustakhius,
fungsi yang paling utama adalah sebagai regulasi tekanan (ventilasi) di dalam
telinga tengah, dimana pendengaran akan optimal jika tekanan gas di telinga
tengah relatif sama dengan tekanan udara di kanalis auditorius eksterna.

Metoda dalam menilai fungsi tuba terutama menilai ventilasi tuba sudah banyak
tersedia bagi para klinisi dan harus digunakan sesuai indikasinya, mulai dari yang sederhana
hingga dengan menggunakan alat yang sudah canggih. Obstruksi tuba eustakhius dapat
terjadi secara fungsional atau mekanik atau bahkan keduanya. Obstruksi mekanik disebabkan
dari (a) penyebab intrinsik seperti peradangan atau alergi atau (b) penyebab ekstrinsik seperti
tumor di nasofaring. Patensi lumen tuba eustakhius juga dapat terjadi kelainan diantaranya
tuba patulous dan semipatulous. Tuba patulous yaitu terbukanya lumen tuba eustakhius
walaupun saat istiahat, sedangkan pada semipatulous, lumen tuba eutakius tertutup saat
istirahat namun mempunyai resistensi yang rendah dibandingkan resistensi pada lumen tuba
yang normal.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. O’reilly, Robert C. Sando, Isamu. Anatomy and Physiology of the Eustachian Tube. In:
Cummings Otolaryngology: Head & Neck Surgery, 5th Edition. Mosby. 2010

2. Bluestone, Charles D, Klein, Jerome. Otitis Media and Eustachian Tube Dysfunction In:
Pediatric Otolaryngology. 4th Edition. Saunders, 2003

3. Bluestone, Charles D. Anatomy and Physiology of the Eustachian Tube System. In :


Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fourth Edition. Edited by: Bailey B.J.
Lippincott Williams & Wilkin. 2006.

4. Snow Jr, JB; Ballenger, JJ. Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery.
6th edition. BC Decker. 2003

5. Vicente, Javier. Trinidad, Almudena. Et al. Evolution of Middle Ear Changes After
Permanent Eustachian Tube Blockage. Arch Otolaryngol Head and Neck Surgery. Vol
133. June 2007

6. Straetmans, Masja. Heerbeek, Niels. Schilder, M. Eustachian Tube Function Before


Reccurence of Otitis Media With Effusion. Arch Otolaryngol Head and Neck Surgery.
Vol 131. Feb 2005

7. Martino, Ercole. Walther, Leif Erik. Westhofen, Martin. Endoscopic Examination of the
Eustachian Tube: A Step by Step Approach. Otology &Neurotolgy. Vol 26 .No. 6; page
1112-117. 2005

8. Effect of Surface Tension and Surfactant Administration on Eustachian Tube

Mechanics. J ApplPhysiolVol 93; page 1007-1014. 2002 Grimmer, JF. Poe, Dennis S.

Update on Eustachian Tube Dysfunction and the Patulous Eustachian Tube.

CurrOpinOtolaryngol Head Neck Surg. Vol 13; page 277-282. Lippincott Williams,

2005

9. Heerbeek, Niels. Avoort, Stijn. Sonotubometry. Arch Otolaryngol Head and Neck

Surgery. Vol 133. Aug 2007

10. Avoort, Stijn. Herbeek, Niels. Sonotubometry in Children With Otitis Media With

Effusion Before and After Insertion of Ventilation Tube. Arch Otolaryngol Head and

Neck Surgery. Vol 135. May 2009

22
11. Lino, Yukiko. Kakizaki, Keiko. Saruya, Shoji. Et al. Eustachian Tube Function in

Patients With Eosinophilic Otitis Media Associated With Bronchial Asthma Evaluated

by Sonotubometry. Arch Otolaryngol Head and Neck Surgery. Vol 132. Oct 2006

12. Yagi, Nobuya. Haji, Tomoyuki. Honjo, Iwao. Eustachian tube patency detected by a

photoelectric method. The Laryngoscope. Vol 97, Issue 6, page 732-736, June 1987.

13. Dhingra PL. Disease of Ear Nose Throat. First Edition. Elsevier. 2007. Jackler RK,

Brackman DE. Neurotology. Second Edition. Elsevier. Philadelphia. 2005.

23