Anda di halaman 1dari 16

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/274151760

Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan


Matematika GASING untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa SD

Conference Paper · November 2014

CITATIONS READS

0 3,731

1 author:

Sulistiawati --
College of Teacher Education
9 PUBLICATIONS 2 CITATIONS

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Analisis Hambatan Belajar Mahasiswa Papua Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan


Pemahaman Materi dan Menumbuhkan Karakter Percaya Diri Dalam Perkuliahan Aljabar Linear View
project

All content following this page was uploaded by Sulistiawati -- on 29 March 2015.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

PEMBELAJARAN PERKALIAN BILANGAN 1–10 DENGAN


MATEMATIKA GASING UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH DASAR

Sulistiawati
Pendidikan Matematika, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya,
Gd. Sure Lt.4 Jalan Scientia Boulevard Blok U/7, Gading Serpong, Tangerang, Banten
Surel: sulistiawati@stkipsurya.ac.id

Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi siswa yang memiliki kecenderungan sulit dalam
belajar materi perkalian terutama perkalian 1–10. Masih banyak siswa di minta untuk
menghafalkan perkalian dengan cara menghafalkan begitu saja tanpa mengerti makna
dari perkalian itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh
pembelajaran dengan Matematika GASING terhadap kemampuan konsep perkalian, terhadap
kemampuan tertulis perkalian bilangan 1–10, dan terhadap kemampuan mencongak perkalian
bilangan 1–10. Selain itu juga untuk mengetahui rata-rata peningkatan kemampuan pada konsep
perkalian, rata-rata peningkatan pada kemampuan tertulis bilangan 1–10, dan rata-rata
peningkatan pada kemampuan mencongak bilangan 1–10. Penelitian ini merupakan jenis
penelitian pre-experimental design dengan desain penelitian one group pretest-postest dengan
sampel penelitian siswa kelas V SD Negeri Cipinang Besar Selatan 19 Pagi Jakarta sebanyak 31
siswa dengan cara purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah
instrumen tes yang terdiri dari tes konsep perkalian, tes perkalian bilangan 1–10 secara tertulis,
dan tes perkalian bilangan 1–10 secara mencongak. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat
pengaruh yang signifikan pembelajaran dengan Matematika GASING terhadap kemampuan
tentang konsep perkalian, terdapat pengaruh yang signifikan pembelajaran dengan Matematika
GASING terhadap kemampuan tertulis perkalian bilangan 1–10, dan terdapat pengaruh yang
signifikan pembelajaran dengan Matematika GASING terhadap kemampuan mencongak
perkalian bilangan 1–10. Selain itu rata-rata peningkatan (N-gain) untuk konsep perkalian
tergolong kategori rendah sebesar 0,04; untuk perkalian bilangan 1–10 secara tertulis tergolong
kategori sedang sebesar 0,345; dan untuk perkalian bilangan 1–10 secara mencongak tergolong
kategori sedang sebesar 0,4.

Kata kunci: perkalian bilangan 1–10, Matematika GASING, perkalian secara


mencongak

A. Pendahuluan
Perkalian merupakan salah satu topik matematika yang diajarkan di Sekolah Dasar
kelas II semester 2. Perkalian adalah salah satu topik matematika yang sangat penting
dalam pembelajaran karena banyak penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagian
awal dari perkalian yaitu perkalian 1–10 merupakan perkalian yang sangat dasar yang
harus dikuasai oleh siswa karena menjadi pijakan untuk perkalian-perkalian berikutnya.
Siswa harus mampu menguasai perkalian 1–10 agar lancar dan mudah menuju
perkalian-perkalian di atasnya. Fakta bahwa hingga saat ini siswa masih kesulitan dalam
menerima pelajaran perkalian dan pembagian, mereka tidak hafal perkalian dasar
(perkalian dua bilangan satu angka) yang berarti perkalian 1–10 (Raharjo, dkk., 2009).
Masalah yang masih muncul dilapangan saat ini adalah bagaimana membelajarkan
siswa supaya terampil dalam perkalian dasar. Siswa sulit memahami dan sulit diajak
terampil perkalian dasar. Disisi lain perkalian dan pembagian adalah topik yang harus
dikuasai oleh siswa sejak dini karena selalu terkait dengan pelajaran matematika di
kelas berikutnya di jenjang yang lebih tinggi.
Di sekolah ada empat operasi bilangan dasar yang dipelajari yaitu penjumlahan,
perkalian, pengurangan, dan pembagian. Perkalian adalah salah satu dari empat operasi

ISBN 978-602-1034-06-4 99
Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

aritmetika dasar dan didefinisikan sebagai penjumlahan berulang (West dan Bellevue,
2011:1). Sebagai contoh 3 × 4 diartikan sebagai 4 + 4+ 4. Perkalian juga dapat
dikatakan sebagai operasi matematika penskalaan satu bilangan dengan bilangan
lainnya .
Matematika GASING merupakan salah satu solusi dalam pembelajaran matematika
yang menekankan pada logika sehingga siswa tidak perlu menghafal atau bergantung
pada rumus. GASING merupakan singkatan dari Gampang, AsyIk, dan menyenaNGkan.
Matematika GASING ini merupakan cara belajar matematika dengan mudah apapun
latar belakang pendidikan orang tersebut (Surya & Moss, 2012). Pembelajaran dengan
Matematika GASING memiliki ciri khas pembelajarannya dilakukan melalui tahapan-
tahapan atau langkah-langkah.
Dalam penelitian ini pembelajaran perkalian bilangan 1–10 dengan Matematika
GASING diberikan kepada siswa kelas V Sekolah Dasar (SD) Negeri Cipinang Besar
Selatan 19 Pagi Jakarta Timur. Siswa ini sebelumnya sudah pernah mendapatkan
pembelajaran perkalian dengan cara umum/konvensional ketika mereka berada di kelas
II atau kelas III. Secara umum penelitian ini ingin mengetahui hasil belajar siswa terkait
perkalian bilangan 1–10 dengan pembelajaran Matematika GASING. Hasil belajar
dilihat dalam tiga aspek kemampuan yaitu konsep perkalian, kemampuan perkalian
bilangan 1–10 secara tertulis, dan perkalian bilangan 1–10 secara mencongak.
Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini diantaranya 1) adakah pengaruh kemampuan
tentang konsep perkalian siswa pada perkalian bilangan 1–10 terhadap pembelajaran
dengan Matematika GASING?, 2) adakah pengaruh kemampuan tertulis siswa pada
perkalian bilangan 1–10 terhadap pembelajaran dengan Matematika GASING?, 3)
adakah pengaruh kemampuan mencongak siswa pada perkalian bilangan 1–10 terhadap
pembelajaran dengan Matematika GASING?, 4) bagaimana rata-rata peningkatan
kemampuan tentang konsep perkalian siswa setelah belajar dengan Matematika
GASING?, 5) bagaimana rata-rata peningkatan kemampuan tertulis siswa setelah
belajar dengan Matematika GASING?, dan 6) bagaimana rata-rata peningkatan
kemampuan mencongak siswa setelah belajar dengan Matematika GASING?.

B. Tinjauan Pustaka
1. Matematika GASING
Matematika GASING merupakan salah satu cara baru dalam pembelajaran
Matematika yang dikembangkan oleh Prof. Yohanes Surya dari Surya Institute. Istilah
GASING merupakana singkatan dari GAmpang, aSyik, dan MenyenaNGkan (Surya,
2013). Pembelajaran Matematika GASING terurut dari yang mudah sampai dengan
yang sulit dan mengarahkan siswa untuk menemukan faktor “AHA”nya oleh diri
sendiri. Selain itu pembelajaran dimulai dengan benda-benda konkret melalui kegiatan
bermain dan eksplorasi. Di dalam Matematika GASING ada yang disebut dengan titik
kritis GASING. Titik kritis GASING diartikan sebagai hal-hal dasar yang harus
dikuasai siswa agar dapat mengerjakan soal-soal dalam topik yang bersangkutan dengan
lancar atau tidak kesulitan lagi (Surya, 2013). Harapannya setelah siswa melewati titik
kritis GASING mampu mengerjakan setiap soal dengan baik.
Pembelajaran Matematika GASING pada topik perkalian dimulai dengan perkalian
bilangan 1–10, sekaligus merupakan cara untuk menuju titik kritis GASING Perkalian.
Titik kritis GASING perkalian sendiri adalah perkalian bilangan 100 ke bawah. Untuk
mencapai titik kritis GASING ini yang diperlukan adalah siswa harus mengerti konsep
perkalian dengan baik, kemudian dilanjutkan dengan bagaimana menghitung perkalian

ISBN 978-602-1034-06-4 100


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

bilangan 1, 10, 9, 2, dan 5. Selanjutnya adalah perkalian untuk bilangan yang sama,
perkalian bilangan 3 dan 4, dan yang terakhir adalah perkalian 8,7, dan 6 (Surya, 2013).
Gambaran untuk mencapai titik kritis perkalian tersebut dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:

Gambar 1
Titik Kritis GASING Perkalian
Gambar 1. Titik Kritis Gasing Perkalian

Dalam tulisan ini disajikan beberapa contoh pembelajaran perkalian bilangan 1–10
dengan Matematika GASING, seperti konsep perkalian, perkalian 1, dan perkalian
bilangan 9. Sebagai tahap pertama dalam pembelajaran perkalian dengan Matematika
GASING tujuannya adalah untuk mengenalkan konsep perkalian dengan Matematika
GASING kepada siswa. Pemahaman konsep perkalian dimulai dari tahap konkret
kemudian dilanjutkan dengan tahap abstrak atau penyajian dalam bahasa
matematikanya. Berikut ini contoh pengenalan konsep perkalian secara konkret.

Gambar 2. Konkret Perkalian 2×5

Dari gambar di atas, dalam pembelajaran dengan Matematika GASING dapat


dikatakan dengan “Ada 2 kotak masing-masing berisi 5 nanas”. Selanjutnya pernyataan
ini dapat digantikan dengan pernyataan “2 kotak isi 5” yang selanjutnya dilambangkan
2□5, dibaca “2 kotak 5”. Setelah konsep pernyataan dipahami oleh siswa, berikutnya
adalah mengenalkan konsep dengan simbol matematika. Simbol 2□5 dapat dituliskan
dalam 2×5 yang berarti 5+5 hasilnya 10.
Pengenalan konsep perkalian ini kepada siswa dilakukan beberapa kali sampai
siswa memahami dengan baik arti dari perkalian. Ada dua istilah dalam pengenalan
konsep perkalian ini yaitu istilah kotak dan istilah isi. Kotak disini merupakan pengali
sedangkan isi merupakan bilangan yang dikalikan. Setelah siswa memahami, dengan
indikasi dapat membedakan mana yang sebagai kotak dan mana yang sebagai isi,
selanjutnya adalah meminta siswa untuk berlatih konsep perkalian ini dari perkalian 1×1
sampai 10×10.
Pada pembelajaran konsep perkalian ini dikenalkan istilah komutatif kepada siswa,
sebagai contoh adalah 3×6 dan 6×3. Dalam pengenalan istilah komutatif ini kita dapat
langsung menjelaskan bahwa 3×6 adalah 3□6 = 6 + 6 + 6 = 18, sedangkan 6×3 adalah

ISBN 978-602-1034-06-4 101


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

6□3 = 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 = 18. Hasil kedua perkalian ternyata memiliki hasil yang


sama yaitu 18. Dari sini dapat dikatakan bahwa 3×6 tidak sama artinya dengan 6×3
tetapi memiliki hasil yang sama. Hal yang perlu ditekankan adalah kedua perkalian
memiliki hasil yang sama namun artinya berbeda. Hasil yang sama dari kedua perkalian
inilah yang disebut dengan istilah komutatif, namun istilah komutatif sendiri tidak perlu
diberitahukan ke siswa.
Tahap kedua untuk mencapi titik kritis perkalian adalah perkalian bilangan 1, 10, 9,
2, dan 5. Pertama dimulai dengan pengenalan perkalian 1, kemudian perkalian 10,
perkalian 9, perkalian 2, dan perkalian 5. Urutan ini tidak dimulai dari bilangan yang
kecil ke bilangan yang besar namun lebih kepada bilangan yang mudah dikenal oleh
siswa dan mudah untuk menghafalkannya.
Perkalian 1 dimulai dengan cara konkret, misalnya dengan menunjukkan kartu berisi
gambar apel. Perkalian 1×1 dapat diperagakan dengan menunjukkan satu kartu yang
berisi satu apel, 2×1 dapat diperagakan dengan menunjukkan dua kartu yang berisi satu
apel, dan seterusnya. Setelah pengenalan secara konkret selanjutnya adalah menyajikan
apa yang telah diperagakan ke dalam bentuk tulisan dan bentuk abstraknya, seperti di
bawah ini.
Konkret Abstrak
1 x 1 = 1 □1 = 1 1x1=1
2 x 1 = 2 □1 = 1 + 1 = 2 2x1=2
3 x 1 = 3 □1 = 1 + 1 + 1 = 3 3x1=3
4 x 1 = 4 □1 = 1 + 1 + 1 + 1 = 4 4x1=4
5 x 1 = 5 □1 = 1 + 1 + 1 + 1 + 1 = 5 5x1=5
6 x 1 = 6 □1 = 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 = 6 6x1=6
7 x 1 = 7 □1 = 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 = 7 7x1=7
8 x 1 = 8 □1 = 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 = 8 8x1=8
9 x 1 = 9 □1 = 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 = 9 9x1=9
10 x 1 = 10 □1 = 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 = 10 10 x 1 = 10
Gambar 3. Konkret dan Abstrak Perkalian 1

Langkah selanjutnya setelah siswa mengetahui bentuk abstrak perkalian 1 adalah


menghafal perkalian 1. Dalam menghafal perkalian 1 ini caranya adalah dengan melihat
pola. Siswa diminta mengamati seperti 1×1=1, 2×1=2, ..., 10×1=10 dan dapat
menyimpulkan bahwa perkalian 1 hasilnya adalah bilangan itu sendiri.
Cara mencongak perkalian 9 adalah dengan menggunakan jari. Cara ini dapat
dikatakan “bukan matematika” tetapi memudahkan penghafalan. Untuk menghitung
3×9 tekuk jari nomor 3. Lihat di sebelah kiri jari adalah ada 2 jari, dan disebelah kanan
ada 7 jari. Jadi hasil perkalian ini 2 dan 7 yaitu 27. Untuk menghitung 6×9 tekuk jari
nomor 6. Lihat di sebelah kiri jari adalah ada 5 jari, dan disebelah kanan ada 4 jari. Jadi
hasil perkalian ini 5 dan 4 yaitu 54, dan seterusnya. Selain menggunakan jari, perkalian
9 dapat dihafal dengan melihat pola. Pola untuk 7×9 misalnya, cari dulu bilangan
sebelum 7 yaitu 6, setelah itu cari pasangan 9 dari 6 yaitu 3, maka jawabnya adalah 63.
Di sini perlu diingatkan bahwa perkalian 1×9 dan 10×9 sudah tidak perlu dihafal lagi
karena sudah termasuk dalam perkalian 1 dan 10.

2. Kemampuan Siswa dalam Perkalian


Dalam Matematika GASING, bagian akhirnya adalah siswa diharuskan dapat
menghitung secara mencongak. Oleh sebab itu dalam penelitian ini, dilihat kemampuan

ISBN 978-602-1034-06-4 102


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

perkalian siswa dalam tiga aspek, yaitu kemampuan pemahaman konsep perkalian,
kemampuan menghitung perkalian bilangan 1–10 secara tertulis, dan kemampuan
menghitung perkalian bilangan 1–10 secara mencongak. Kemampuan yang hendak
dilihat ini sesuai dengan apa yang diinginkan dalam Matematika GASING.
Mencongak dapat diartikan seseorang mampu menghitung di luar kepala tanpa
menggunakan alat bantu dan langsung menuliskan hasilnya. Menurut Depdiknas (2008)
mencongak adalah kemampuan menghitung di luar kepala, dalam artian dengan ingatan
saja dan yang dituliskan hasilnya (Depdiknas, 2008). Aktivitas pembelajaran yang
dilakukan adalah guru memberikan pertanyaan lisan kepada siswa dikelas kemudian
siswa langsung menuliskan jawabannya di kertas. Alternatif lain adalah guru
memberikan pertanyaan secara lisan kemudian siswa menjawab secara lisan dan relatif
cepat. Kemampuan mencongak sangat berguna agar siswa mampu menghitung dengan
cepat dalam waktu yang relatif singkat. Disamping itu kemampuan mencongak dapat
melatih daya nalar siswa sehingga akan bertambah baik.

C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian
one group pretest-postest design. Penelitian kuantitatif one group pretest-postest design
adalah penelitian dengan membandingkan nilai pretes dan postes (Sugiyono, 2010).
Dalam hal ini adalah nilai pretes dan postes siswa pada pembelajaran perkalian 1–10
dengan Matematika GASING. Desain penelitian ini adalah:
O1 X O2
Keterangan:
O1 : nilai pretes
X : pembelajaran perkalian bilangan 1–10 dengan Matematika GASING
O2 : nilai postes
(Sumber : Sugiyono, 2010)

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Cipinang Besar
Selatan 19 Pagi Jakarta Timur yang berjumlah 31 orang. Pembelajaran yang dilakukan
menggunakan panduan buku Matematika GASING Volume 1. Pembelajaran ini
dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa yang sebelumnya telah diberikan pelatihan
tentang Matematika GASING sebanyak tiga orang berasal dari Sekolah Keguruan dan
Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya, Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Negeri
Jakarta (UNJ) berama-sama dengan guru Matematika di SD Negeri Cipinang Besar
Selatan 19 Pagi Jakarta Timur. Pemilihan kelas sebagai sampel dalam penelitian ini
bersifat purposive sampling.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tes yaitu tes tertulis dan
tes mencongak. Tes tertulis diberikan pada saat pretes dan postes untuk memperoleh
data tentang kemampuan tertulis siswa tentang konsep perkalian dan perkalian bilangan
1–10. Tes tertulis yang diberikan untuk konsep perkalian sebanyak 4 butir soal
sedangkan untuk tes tertulis perkalian bilangan 1–10 sebanyak 100 butir soal. Tes
mencongak diberikan pada saat pretes dan postes adalah untuk memperoleh data tentang
kemampuan perkalian bilangan 1–10 siswa secara mencongak. Untuk tes mencongak ini
siswa diberikan kesempatan menjawab dalam durasi waktu maksimal 10 detik tiap butir
soal dari 50 soal yang diberikan. Jika siswa tidak mampu menjawab dalam durasi waktu
tersebut maka dianggap gagal. Sebelum diberikan tes, instrumen yang digunakan
dilakukan validasi terlebih dahulu oleh rekan dosen di STKIP Surya. Validasi instrumen

ISBN 978-602-1034-06-4 103


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

berupa judgment materi dari pakar Matematika GASING STKIP Surya. Validasi
selanjutnya adalah mengenai keterbacaan soal yang didisikusikan dengan dosen-dosen
Program Studi Pendidikan Matematika STKIP Surya yang paham tentang isntrumen.
Prosedur dalam penelitian ini diantaranya: 1) mengidentifikasi masalah dan tujuan,
2) menentukan desain penelitian sesuai masalah dan tujuan penelitian, 3) menyusun
instrumen tes dilanjutkan dengan validasi, 4) memberikan pretes konsep perkalian,
perkalian bilangan 1–10, dan tes mencongak, 5) memberikan pembelajaran perkalian
bilangan 1–10 dengan Matematika GASING, 6) memberikan postes konsep perkalian,
perkalian bilangan bilangan 1–10, dan tes mencongak, 7) melakukan analisis terhadap
hasil tes, 8) Membuat kesimpulan dari hasil penelitian, 9) menulis laporan penelitian.
Pelaksanaan penelitian ini berlangsung dari Maret sampai April 2014.
Analisis data dalam penelitian ini berupa analisis kuantitatif. Analisis dilakukan
terhadap hasil pretes dan postes untuk tes konsep perkalian, tes tertulis perkalian 1-10,
dan tes mencongak. Uji statistik yang digunakan adalah uji non parametrik untuk dua
sampel yang berkorelasi (2 related sample). Uji non parametriknya adalah uji wilcoxon.
Penelitian menggunakan uji non parametrik wilcoxon karena asumsi-asumsi untuk
menggunakan uji parametrik, seperti normalitas dan homogenitas tidak dapat dipenuhi.
Desain penelitian one-group pretest-postest mengakibatkan asumsi homogenitas
tidaklah mungkin dipenuhi dari awal, sehingga dalam penelitian ini tidak perlu
dilakukan uji normalitas. Dengan demikian uji hipotesis menggunakan uji wilcoxon.
Analisa data kuantitatif selanjutnya adalah untuk melihat besarnya peningkatan
sebelum dan sesudah pembelajaran dengan Matematika GASING yang dihitung dengan
rumus gain ternormalisasi yang dikembangkan oleh Meltzer (2002). Rumus gain
tersebut seperti berikut ini:
skor postes  skor pretes
N-gain ( g ) 
skor ideal  skor pretes

Nilai gain yang diperoleh selanjutnya diinterpretasikan menurut klasifikasin indeks N-


gain menurut Hake (1999) sebagai berikut:
Tabel 1. Interpretasi Indeks N-gain
Indeks N-gain ( g ) Interpretasi
g  0,7 Tinggi
0,3  g  0,7 Sedang
g  0,3 Rendah

D. Hasil dan Pembahasan


1. Kemampuan Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING Secara
Tertulis
a. Kemampuan Konsep Perkalian
1) Statistik Deskriptif Skor Pretes dan Postes pada Kemampuan tentang Konsep
Perkalian
Kemampuan awal (pretes) dan kemampuan akhir (postes) siswa meliputi skor
maksimum ( X maks ) dan skor minimum ( X min ), skor rata-rata ( X ), dan standar deviasi
( S ). Data-data tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

ISBN 978-602-1034-06-4 104


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

Tabel 2. Statistik Deskriptif Kemampuan Konsep Perkalian


Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Pretest 31 0.00 25.00 1.1935 4.91541
Postest 31 0.00 25.00 6.0323 10.63166
Valid N (listwise) 31

Dari tabel di atas diketahui bahwa rata-rata kemampuan awal siswa dalam konsep
perkalian sebesar 1.1935 dan 6.0323, yang nampak cukup berbeda. Untuk mengetahui
apakah perbedaan antara skor pretes dengan berbeda cukup signifikan atau tidak
dilakukan uji perbedaan kemampuan siswa tentang konsep perkalian. Uji yang
digunakan adalah uji wilcoxon.

2) Uji Perbedaan Kemampuan Siswa tentang Konsep Perkalian


Uji wilcoxon merupakan uji non parametrik untuk dua sampel yang berkorelasi
untuk data yang termasuk ordinal. Data dalam penelitian tergolong ke dalam data
ordinal. Pasangan uji hipotesisnya sebagai berikut:

H0 : Tidak terdapat perbedaan kemampuan siswa tentang konsep


perkalian
HA : Terdapat perbedaan kemampuan siswa tentang konsep perkalian.

Kriteria pengujian H0 ditolak jika nilai absolut Z hitung  Z 1 , dan H0 diterima jika

2

nilai absolut Z hitung  Z 1 . Berdasarkan perhitungan uji Wilcoxon untuk statistik non

2
parametrik dengan SPSS tentang konsep perkalian dengan Matematika GASING, hasil
perhitungan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3. Uji Perbedaan Kemampuan Skor Pretes dan Skor Postes Konsep Perkalian
Kemampuan Tes Absolut Asymp. Sig Kesimpulan Keterangan
Z (2-tailed)
hitung

Kemampuan Pretes Terdapat


2,107 0,035 H0 ditolak
Tertulis Perkalian Postes Perbedaan
Nilai absolut Z hitung  2,107  Z tabel  1,96 , dengan demikian H 0 ditolak. Jadi,
terdapat perbedaan kemampuan tentang konsep perkalian siswa sebelum dan sesudah
pembelajaran dengan Matematika GASING. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran Matematika GASING mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
kemampuan tentang konsep perkalian siswa pada perkalian bilangan 1–10.

b. Kemampuan Tertulis Perkalian Bilangan 1-10


1) Statistik Deskriptif Skor Pretes dan Postes Siswa pada Kemampuan Tertulis
Perkalian 1-10
Kemampuan awal (pretes) dan kemampuan akhir (postes) siswa meliputi skor
maksimum ( X maks ) dan skor minimum ( X min ), skor rata-rata ( X ), dan standar deviasi
( S ). Data-data tersebut dapat dilihat pada tabel 1.

ISBN 978-602-1034-06-4 105


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

Tabel 4. Statistik Deskriptif Kemampuan Tertulis Perkalian 1-10


Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Pretest 31 7.00 100.00 80.4839 26.50518
Postest 31 24.00 100.00 88.0645 17.26641
Valid N (listwise) 31

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa, tes tertulis kemampuan perkalian bilangan 1–
10 rata-rata kemampuan awal dan kemampuan akhir siswa cukup berbeda. Untuk
melihat apakah perbedaan ini signifikan atau tidak dilakukan uji perbedaan kemampuan
tertulis siswa pada perkalian bilangan 1–10 terhadap pembelajaran dengan Matematika
GASING.

2) Uji Statistik dengan Uji Non Parametrik Uji Wilcoxon


Untuk melihat apakah terdapat perbedaan kemampuan tertulis siswa pada perkalian
bilangan 1 – 10 terhadap pembelajaran dengan Matematika GASING sebelum dan
sesudah pembelajaran, maka data diuji dengan uji dua sampel berpasangan yaitu uji
wilcoxon. Pasangan hipotesis yang akan diuji adalah:

H0 : Tidak terdapat perbedaan kemampuan tertulis siswa pada perkalian bilangan


1–10 terhadap pembelajaran dengan Matematika GASING.
HA : Terdapat perbedaan kemampuan tertulis siswa pada perkalian bilangan 1–10
terhadap pembelajaran dengan Matematika GASING.

Kriteria pengujian H0 ditolak jika nilai absolut Z hitung  Z 1 , dan H0 diterima jika

2

nilai absolut Z hitung  Z 1 .Berdasarkan perhitungan uji Wilcoxon untuk statistik non

2

parametrik dengan SPSS untuk perkalian bilangan 1–10 secara tertulis, hasil
perhitungan dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5. Uji Perbedaan Kemampuan Skor Pretes dan Skor Postes Kemampuan Tertulis
Kemampuan Tes Absolut Asymp. Sig Kesimpulan Keterangan
Z (2-tailed)
hitung

Kemampuan Tertulis Pretes Terdapat


4,101 0,000 H0 ditolak
Perkalian Postes Perbedaan

Nilai absolut Z hitung  4,101  Z tabel  1,96 , dengan demikian H 0 ditolak. Jadi,
terdapat perbedaan kemampuan tertulis siswa pada perkalian bilangan 1 – 10 terhadap
pembelajaran dengan Matematika GASING. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran Matematika GASING mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
kemampuan tertulis siswa pada perkalian bilangan 1 – 10.

ISBN 978-602-1034-06-4 106


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

c. Kemampuan Perkalian 1–10 dengan Matematika GASING Secara Mencongak


1) Statistik Deskriptif Tes Kemampuan Mencongak Perkalian 1–10 dengan
Matematika GASING.
Statistik Deskriptif untuk kemampuan mencongak dapat dilihat pada tabel 6 di
bawah ini.
Tabel 6. Statistik Deskriptif Kemampuan Mencongak Perkalian 1-10
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Sebelum 31 21 100 74.48 18.419
Sesudah 31 64 100 86.65 12.246
Valid N (listwise) 31
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa, tes mencongak kemampuan perkalian
bilangan 1–10 rata-rata kemampuan awal dan kemampuan akhir siswa cukup berbeda.
Untuk melihat apakah perbedaan ini signifikan atau tidak dilakukan uji perbedaan
kemampuan mencongak siswa pada perkalian bilangan 1–10 terhadap pembelajaran
dengan Matematika GASING.

2) Uji Perbedaan Kemampuan Tes Mencongak Siswa pada Perkalian Bilangan 1 -


10
Untuk melihat apakah terdapat perbedaan kemampuan mencongal siswa pada
perkalian bilangan 1 – 10 terhadap pembelajaran dengan Matematika GASING sebelum
dan sesudah pembelajaran, maka data diuji dengan uji dua sampel berpasangan yaitu uji
t apabila asumsi bahwa data berdistribusi normal dan variansi kedua distribusi
populasinya sama. Berdasarkan perhitungan uji normalitas dan uji homogenitas
diketahui bahwa data berdistribusi normal namun asumsi homogenitas tidak dipenuhi.
Oleh karena itu uji statistik yang digunakan adalah uji non parametrik, yaitu uji
wilcoxon. Uji wilcoxon digunakan untuk dua sampel yang berpasangan. Pasangan
hipotesis yang akan diuji adalah:

H0 : Tidak terdapat perbedaan kemampuan mencongak siswa pada


perkalian bilangan 1 – 10 terhadap pembelajaran dengan Matematika
GASING.
HA : Terdapat perbedaan kemampuan mencongak siswa pada perkalian
bilangan 1 – 10 terhadap pembelajaran dengan Matematika GASING.

Berdasarkan perhitungan uji Wilcoxon untuk statistik non parametrik dengan SPSS
untuk perkalian bilangan 1 – 10 secara mencongak, hasil perhitungan dapat dilihat pada
tabel 7 di bawah ini.

Tabel 7. Uji Perbedaan Kemampuan Skor Pretes dan Skor Postes Kemampuan Mencongak
Kemampuan Tes Absolut Asymp. Kesimpulan Keterangan
Z hitung Sig (2-
tailed)
Kemampuan Pretes 4,157 0,000 H0 ditolak Terdapat
Mencongak Perkalian Postes Perbedaan

Nilai Z hitung  4,157  Z tabel  1,96 , dengan demikian H 0 ditolak. Jadi, terdapat
perbedaan kemampuan mencongak siswa pada perkalian bilangan 1 – 10 terhadap
pembelajaran dengan Matematika GASING. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

ISBN 978-602-1034-06-4 107


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

pembelajaran Matematika GASING mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap


kemampuan mencongak siswa pada perkalian bilangan 1 – 10.

2. Peningkatan (N-gain) Kemampuan Siswa dalam Perkalian Bilangan 1 – 10


dengan Matematika GASING
Untuk melihat peningkatan kemampuan siswa dalam perkalian bilangan 1 – 10,
analisis yang digunakan adalah dengan menghitung selisih skor pretes dan skor postes
untuk tes konsep perkalian, tes tertulis perkalian bilangan 1-10, maupun tes mencongak.
Untuk melihat peningkatan ini digunakan uji terhadap satu perlakukan yaitu uji t. Uji t
dapat digunakan jika data memiliki sebaran normal.

a. Peningkatan dalam Konsep Perkalian


1) Uji Normalitas Skor Peningkatan (N-gain) Kemampuan tentang Konsep
Perkalian
Uji normalits untuk peningkatan kemampuan tentang konsep perkalian siswa yang
belajar menggunakan pembelajaran Matematika GASING dihitung menggunakan SPSS
yaitu uji satu sampel dengan One-Sample kolmogorv-Smirnov. Pasangan hipotesis yang
diuji adalah:

H0 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal


HA : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal

Kriteria pengujian adalah pada taraf signifikansi   0,05 dan n  30 . H0 diterima


jika sig. > taraf signifikansi yang berarti data berdistribusi tidak normal, sedangkan jika
sig. < taraf signifikansi maka H0 ditolak yang berarti data berdistribusi tidak normalData
peningkatan kemampuan tertulis perkalian bilangan 1-10 seperti tertera pada tabel 8 di
bawah ini.

Tabel 8. Uji Normalitas Skor N-gain Siswa tentang Konsep Perkalian


Aspek Kolmogorov- Smirnov
Kesimpulan Keterangan
Kemampuan Statistic Sig.
Konsep
2.205 0,000 H0 diterima Normal
Perkalian
Dari data skor N-gain tentang konsep perkalian berdistribusi normal. Selanjutnya
dilakukan uji hipotesis satu rata-rata dengan menggunakan uji t.

2) Uji satu rata-rata Skor N-gain Kemampuan tentang Konsep Perkalian


Untuk menjawab hipotesis bagaimana rata-rata peningkatan kemampuan tentang
konsep perkalian siswa setelah belajar dengan Matematika GASING, dilakukan uji satu
rata-rata. Uji yang digunakan adalah uji t karena asumsi uji ini dapat dilakukan yaitu
normlitas terpenuhi. Pasangan hipotesis statistiknya sebagai berikut:

H0 : Rata-rata peningkatan kemampuan tentang konsep perkalian dengan


pembelajaran Matematika GASING termasuk tidak kategori minimal 0,04.
HA : Rata-rata peningkatan kemampuan tentang konsep perkalian dengan
pembelajaran Matematika GASING termasuk kategori kurang dari 0,04.

ISBN 978-602-1034-06-4 108


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

Kriteria pengujian hipotesis adalah Ho ditolak jika t hitung  t tabel dan Ho diterima
jika thitung  ttabel . Hasil uji satu rata-rata skor N-gain kemampuan tentang konsep
perkalian adalah sebagai berikut:

Tabel 9. Uji Satu Rata-rata Skor N-gain Kemampuan Tertulis Perkalian Bilangan 1-10
Aspek Asymp.Sig.
Uji-t Kesimpulan Keterangan
Kemampuan (2-tailed)
Konsep
Perkalian -0,080 0,937 H0 diterima Peningkatan rendah

Selain itu, diperoleh bahwa test value sebesar 0,04 dengan nilai thitung = -0,080 dan
nilai sig. (2-tailed) = 0,937 >   0,05 maka Ho diterima. Hal ini berarti rata-rata
peningkatan kemampuan tertulis dengan pembelajaran Matematika GASING termasuk
kategori minimal 0,04. Berdasarkan hasil perhitungan dengan SPSS diperlihatkan
bahwa rata-rata N-gain kemampuan tertulis adalah 0.0382 dan simpangan baku =
0,1231. Kategori rata-rata peningkatan N-gain tentang konsep perkalian tergolong
rendah.

b. Peningkatan (N-gain) Kemampuan Tertulis Bilangan 1-10


1) Uji Normalitas Skor Peningkatan (N-gain) Kemampuan Tertulis Bilangan 1-10
Uji normalits untuk peningkatan kemampuan tertulis siswa yang belajar
menggunakan pembelajaran Matematika GASING dengan menggunakan SPSS yaitu uji
satu sampel dengan One-Sample Kolmogorv-Smirnov. Pasangan hipotesis yang diuji
adalah:

H0 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal


HA : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal

Kriteria pengujian adalah pada taraf signifikansi   0,05 dan n  30 . H0 diterima


jika sig. > taraf signifikansi yang berarti data berdistribusi tidak normal, sedangkan jika
sig. < taraf signifikansi maka H0 ditolak yang berarti data berdistribusi tidak normalData
peningkatan kemampuan tertulis perkalian bilangan 1-10 seperti tertera pada tabel 10 di
bawah ini.

Tabel 10. Uji Normalitas Skor N-gain Siswa


Aspek Kolmogorov- Smirnov
Kesimpulan Keterangan
Kemampuan Statistic Sig.
Tertulis
0.721 0,675 H0 diterima Normal
Perkalian

Dari data di atas diperoleh bahwa data berdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan
uji hipotesis satu rata-rata dengan menggunakan uji t.

2) Uji satu rata-rata Skor N-gain Kemampuan Tertulis Perkalian Bilangan 1-10
Untuk menjawab hipotesis Bagaimana rata-rata peningkatan kemampuan tertulis
siswa setelah belajar dengan Matematika GASING, dilakukan uji satu rata-rata. Uji
yang digunakan adalah uji t karena asumsi uji ini dapat dilakukan yaitu normlitas
terpenuhi. Pasangan hipotesis statistiknya sebagai berikut:

ISBN 978-602-1034-06-4 109


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

H0 : Rata-rata peningkatan kemampuan tertulis dengan pembelajaran


Matematika GASING minimal 0,345.
HA : Rata-rata peningkatan kemampuan tertulis dengan pembelajaran
Matematika GASING kurang dari 0,345

Kriteria pengujian hipotesis adalah Ho ditolak jika t hitung  t tabel dan Ho diterima
jika thitung  ttabel . Hasil uji satu rata-rata skor N-gain kemampuan tertulis perkalian
bilangan 1-10 adalah sebagai berikut:

Tabel 11. Uji Satu Rata-rata Skor N-gain Kemampuan Tertulis Perkalian Bilangan 1-10
Aspek Asymp.Sig.
Uji-t Kesimpulan Keterangan
Kemampuan (2-tailed)
Tertulis
Perkalian 0,003 0,998 H0 diterima Peningkatan tinggi

Untuk test value sebesar 0,345, nilai thitung = 0,003 dan nilai sig. (2-tailed) = 0,998 >
  0,05 maka Ho diterima. Hal ini berarti rata-rata peningkatan kemampuan tertulis
dengan pembelajaran Matematika GASING minimal 0,345. Berdasarkan perhitungan
SPSS rata-rata peningkatannya sebesar 0,345 dan standar deviasinya 0,348.

c. Peningkatan (N-gain) Kemampuan Mencongak Perkalian


1) Uji Normalitas Skor Peningkatan (N-gain) Kemampuan Mencongak Perkalian 1-10
Uji normalits untuk peningkatan kemampuan mencongak perkalian siswa yang
belajar menggunakan pembelajaran Matematika GASING dengan menggunakan SPSS
yaitu uji satu sampel dengan One-Sample kolmogorv-Smirnov. Pasangan hipotesis yang
diuji adalah:
H0 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
HA : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal

Kriteria pengujian adalah pada taraf signifikansi   0,05 dan n  30 . H0 diterima


jika sig. > taraf signifikansi yang berarti data berdistribusi normal, sedangkan jika sig. <
taraf signifikansi maka H0 ditolak yang berarti data berdistribusi tidak normal. Data
peningkatan kemampuan mencongak perkalian bilangan 1-10 seperti tertera pada tabel
12 di bawah ini.

Tabel 12. Uji Normalitas Skor N-gain Kemampuan Mencongak Perkalian 1-10
Aspek Kolmogorov- Smirnov
Kesimpulan Keterangan
Kemampuan Statistic Sig.
Tertulis
0.810 0,528 H0 diterima Normal
Perkalian

Dari data di atas diperoleh bahwa data berdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan
uji hipotesis satu rata-rata dengan menggunakan uji t.

2) Uji satu rata-rata Skor N-gain Kemampuan Mencongak Perkalian Bilangan 1-10
Untuk menjawab hipotesis bagaimana rata-rata peningkatan kemampuan
mencongak siswa setelah belajar dengan Matematika GASING, dilakukan uji satu rata-

ISBN 978-602-1034-06-4 110


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

rata. Uji yang digunakan adalah uji t karena asumsi uji ini dapat dilakukan yaitu
normlitas terpenuhi. Pasangan hipotesis statistiknya sebagai berikut:

H0 : Rata-rata peningkatan kemampuan tertulis dengan pembelajaran


Matematika GASING minimal 0,4.
HA : Rata-rata peningkatan kemampuan tertulis dengan pembelajaran
Matematika GASING kurang dari 0,4
Kriteria pengujian hipotesis adalah Ho ditolak jika t hitung  t tabel dan Ho diterima
jika thitung  ttabel . Hasil uji satu rata-rata skor N-gain kemampuan tertulis perkalian
bilangan 1-10 adalah sebagai berikut:

Tabel 13. Uji Satu Rata-rata Skor N-gain Kemampuan Mencongak Perkalian Bilangan 1-10
Aspek Asymp.Sig.
Uji-t Kesimpulan Keterangan
Kemampuan (2-tailed)
Tertulis
Perkalian 0,000 1,000 H0 diterima Peningkatan sedang

Untuk test value sebesar 0,4, nilai thitung = 0,000 dan nilai sig. (2-tailed) = 1,000 <
  0,05 maka Ho diterima. Hal ini berarti rata-rata peningkatan kemampuan
mecongak dengan pembelajaran Matematika GASING minimal 0,4. Berdasarkan
perhitungan SPSS rata-rata peningkatannya sebesar 0,4.

E. Simpulan dan Saran


Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka diperoleh beberapa kesimpulan
terkait dengan pertanyaan penelitian yang diajukan. Kesimpulan dalam penelitian ini
diantaranya: 1) pembelajaran dengan Matematika GASING berpengaruh terhadap
kemampuan tentang konsep perkalian bilangan 1-10 siswa, 2) pembelajaran dengan
Matematika GASING berpengaruh terhadap kemampuan tertulis perkalian bilangan 1-
10 siswa, 3) pembelajaran dengan Matematika GASING berpengaruh terhadap
kemampuan mencongak perkalian bilangan 1-10 siswa, 4) rata-rata kemampuan konsep
perkalian siswa termasuk dalam ketegori rendah, 5) rata-rata kemampuan siswa dalam
kemampuan tertulis perkalian bilangan 1-10 termasuk dalam kategori sedang, dan 6)
rata-rata kemampuan siswa dalam kemampuan mencongak perkalian bilngan 1-10
termasuk dalam kategori sedang.
Berdasarkan hasil dan pembahasan serta kesimpulan di atas, nampak bahwa
kemampuan siswa tentang konsep perkalian tergolong rendah. Siswa masih memiliki
kesulitan memahami sesuatu yang bersifat konseptual. Untuk itu pada pembelajaran
perkalian selanjutnya sebaiknya perlu penekanan yang lebih tinggi tentang konsep
perkalian ini.
Materi perkalian bilangan 1-10 merupakan bagian awal dalam belajar perkalian dengan
Matematika GASING. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilanjutkan untuk
membelajarkan bilangan-bilangan yang lebih besar dengan Matematika GASING.

F. Daftar Pustaka
Raharjo, M., Waluyati, A., & Sutanti, T. 2009. Pembelajaran Operasi Hitung Perkalian
dan Pembagian Bilangan Cacah di SD. Jakarta: Depdiknas Pusat Pengembangan
dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika.

ISBN 978-602-1034-06-4 111


Pembelajaran Perkalian Bilangan 1–10 dengan Matematika GASING

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta.


Surya, Y. 2013. Modul Pelatihan Matematika GASING SD Bagian 1. Tangerang: PT.
Kandel
Surya, Y. & Moss, M. 2012. Mathematics Education in Rural Indonesia. Proceeding in
the 12th International Congress on Mathematics Education: Topic Study Group 30,
6223-6229.
West, L & Bellevue, N.E. 2011. An Introduction to Various Multiplication Strategies.
Retrieved May, 5 2014. [Online] Available at
http://scimath.unl.edu/MIM/files/MATExamFiles/WestLynn_Final_070411_LA.pd
f.

ISBN 978-602-1034-06-4 112

View publication stats