Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KASUS

TINEA KRURIS
(PENDEKATAN DIAGNOSIS SECARA KLINIS)

Disusun Oleh :
Imelva Yulviani Girsang
1261050069

Dokter Pembimbing :
dr. Syahfori W. M.Sc Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT & KELAMIN


PERIODE 03 APRIL – 06 MEI 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2017
TINEA KRURIS
(PENDEKATAN DIAGNOSIS SECARA KLINIS)

Imelva Yulviani Girsang

Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

PENDAHULUAN

Mikosis superfisialis merupakan infeksi jamur pada kulit yang disebabkan


oleh kolonisasi jamur atau ragi. Penyakit yang termasuk mikosis superfisialis adalah
dermatofitosis, pitiriasis versikolor, dan kandidiasis superfisialis. Mikosis superfisialis
cukup banyak diderita penduduk negara tropis. Indonesia merupakan salah satu
negara beriklim tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi, merupakan
suasana yang baik bagi pertumbuhan jamur, sehingga jamur dapat ditemukan hampir
di semua tempat.1
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan tubuh yang mengandung zat
tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, serta kuku yang
disebabkan oleh golongan jamur dermatofita, yang mampu mencernakan keratin.
Insiden dan prevalensi dermatofitosis cukup tinggi di dalam masyarakat baik di dalam
maupun diluar negeri.2 Di Indonesia, dermatofitosis merupakan 52% dari seluruh
dermatomikosis dan tinea kruris dan tinea korporis merupakan dermatofitosis
terbanyak.3

Berdasarkan urutan kejadian dermatofitosis, tinea korporis (57%), tinea


unguinum (20%), tinea kruris (10%), tinea pedis dan tinea barbae (6%), dan sebanyak
1% tipe lainnya. Di berbagai negara saat ini terjadi peningkatan bermakna
dermatofitosis. Tinea kruris sebagai salah satu dermatofitosis, disebabkan oleh jamur
golongan dermatofita, terutama suatu kelas Fungi imperfecti, yaitu Genus
Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Tinea kruris sering ditemukan
pada kulit lipat paha, genitalia, daerah pubis, perineum dan perianal. Penyakit ini
merupakan penyakit terbanyak yang ditemukan di daerah inguinal, yaitu sekitar 65-
80% dari semua penyakit kulit di inguinal. Tinea kruris lebih sering pada rentang usia
51-60 tahun dan tiga kali lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan
wanita. Orang dewasa lebih sering menderita tinea kruris bila dibandingkan dengan
anak-anak.4

Faktor penting yang berperan dalam penyebaran tinea kruris adalah kondisi
kebersihan lingkungan yang buruk, daerah pedesaan yang padat, dan kebiasaan
menggunakan pakaian yang ketat atau lembab. Obesitas dan diabetes melitus juga
merupakan faktor resiko tambahan oleh karena keadaan tersebut menurunkan
imunitas untuk melawan infeksi. Penyakit ini dapat bersifat akut atau menahun,
bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup.

Kebanyakan tinea kruris disebabkan oleh Species Tricophyton rubrum dan


Epidermophyton floccosum, dimana E. floccosum merupakan spesies yang paling
sering menyebabkan terjadinya epidemi. T. Mentagrophytes dan T. verrucosum jarang
menyebabkan tinea kruris. Tinea Kruris seperti halnya tinea korporis, menyebar
melalui kontak langsung ataupun kontak dengan peralatan yang terkontaminasi, dan
dapat mengalami eksaserbasi karena adanya oklusi dan lingkungan yang hangat, serta
iklim yang lembab. Autoinfeksi dapat terjadi dari sumber penularan yang jauh
letaknya seperti tinea pedis, yang sering disebabkan oleh T. rubrum atau T.
mentagrophytes.5

Manifestasi klinis tinea kruris adalah rasa gatal yang meningkat saat
berkeringat atau terbakar pada daerah lipat paha, genital, sekitar anus dan daerah
perineum. Berupa lesi yang berbentuk polisiklik atau bulat berbatas tegas, efloresensi
polimorfik, dan tepi lebih aktif.4 Secara klinis tinea kruris biasanya tampak sebagai
papulovesikel eritematosa yang multipel dengan batas tegas dan tepi meninggi.
Terdapat central healing yang ditutupi skuama halus pada bagian tengah lesi, dengan
tepi yang meninggi dan memerah sering ditemukan. Pruritus sering ditemukan, seperti
halnya nyeri yang disebabkan oleh maserasi ataupun infeksi sekunder. Tinea kruris
yang disebabkan oleh E. floccosum paling sering menunjukkan gambaran central
healing, dan paling sering terbatas pada lipatan genitokrural dan bagian pertengahan
paha atas. Sebaliknya, infeksi oleh T. rubrum sering memberikan gambaran lesi yang
bergabung dan meluas sampai ke pubis, perianal, pantat, dan bagian abdomen bawah.
Tidak terdapat keterlibatan pada daerah genitalia.5
Pemeriksaan mikologis langsung sediaan kerokan kulit langsung dengan KOH
10-20%. Pada sediaan KOH tampak hifa bersepta dan bercabang tanpa penyempitan.
Terdapatnya hifa pada sediaan mikroskopis dengan potasium hidroksida (KOH) dapat
memastikan diagnosis dermatofitosis. Pemeriksaan mikroskopik langsung untuk
mengidentifikasi struktur jamur merupakan teknik yang cepat, sederhana, terjangkau,
dan telah digunakan secara luas sebagai teknik skrining awal. Teknik ini hanya
memiliki sensitivitas hingga 40% dan spesifisitas hingga 70%. Hasil negatif palsu
dapat terjadi hingga pada l5% kasus, bahkan bila secara klinis sangat khas untuk
dermatofitosis.4
Sensitivitas, spesifisitas, dan hasil negatif palsu pemeriksaan mikroskopik
sediaan langsung dengan kalium hidroksida (KOH) pada dermatofitosis sangat
bervariasi. Pemeriksaan mikroskopik sediaan langsung KOH memiliki sensitivitas
dan spesifisitas yang lebih rendah serta hasil negatif palsu sekitar l5%- 30%, namun
teknik ini memiliki kelebihan tidak membutuhkan peralatan yang spesifik, lebih
murah dan jauh lebih cepat bila dibandingkan dingan kultur. Dengan alasan ini
modifikasi teknik pemeriksaan sediaan langsung dibutuhkan untuk meningkatkan
manfaat penggunaannya secara rutin.4
Penggunaan lampu wood menghasilkan sinar ultraviolet 360 nm, (atau sinar
“hitam”) yang dapat digunakan untuk membantu evaluasi penyakit kulit dan rambut.
Dengan lampu Wood, pigmen fluoresen dan perbedaan warna pigmentasi melanin
yang subtle bisa divisualisasi. Lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan
adanya eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata.1
Penatalaksanaan tinea kruris berupa terapi medikamentosa dan non-
medikamentosa. Penatalaksanaan medikamentosa dapat dimulai berdasarkan hasil
pemeriksaan mikroskopik langsung pada sampel kulit. Pemeriksaan mikroskopik
tidak dapat membedakan spesies namun umumnya semua spesies dermatofit diyakini
memberikan respon yang sama terhadap terapi anti jamur sistemik dan topikal yang
ada.4
Pada kebanyakan kasus tinea kruris dapat dikelola dengan pengobatan topikal.
Namun, steroid topikal tidak direkomendasikan. Agen topikal memiliki efek
menenangkan, yang akan meringankan gejala lokal. Terapi topikal untuk pengobatan
tinea kruris termasuk: terbinafine, butenafine, ekonazol, miconazole, ketoconazole,
klotrimazole, ciclopirox. Formulasi topikal dapat membasmi area yang lebih kecil
dari infeksi, tetapi terapi oral diperlukan di mana wilayah infeksi yang lebih luas yang
terlibat atau di mana infeksi kronis atau berulang. Infeksi dermatofita dengan krim
topikal antifungal hingga kulit bersih (biasanya membutuhkan 3 sampai 4 minggu
pengobatan dengan azoles dan 1 sampai 2 minggu dengan krim terbinafine) dan
tambahan 1 minggu hingga secara klinis kulit bersih.4

KASUS
Seorang perempuan, berinisial R usia 57 tahun, seorang ibu rumah tangga
yang ditinggal di Jln. Cendrawasih II No. 23 Duren Sawit (No. RM 00-02-21-54)
datang ke poli kulit dan kelamin Rumah Sakit UKI pada tanggal 6 April 2017 dengan
keluhan terdapat bercak-bercak kemerahan pada sekitar kemaluan dan lipat paha sejak
2 bulan yang lalu. Bercak awalnya timbul di sekitar kemaluan kemudian menjalar ke
sekitar lipat paha dan disertai rasa gatal. Pasien mengaku semakin gatal ketika
berkeringat dan pada saat cuaca panas.
Satu tahun yang lalu pasien pernah mengalami keluhan yang sama, bercak di
sekitar kemaluan dan disertai gatal namun enak bulan kemudian pasien sudah
mencoba berobat ke poli kulit dan kelamin di Rumah Sakit UKI dan keluhan
berkurang, namun sejak 2 bulan yang lalu pasien kembali merasakan keluhan yang
sama dan menjalar ke sekitar lipat paha.
Sehari-hari pasien mandi dua kali sehari namun sering juga mandi hanya
sekali sehari ketika sedang malas dan selalu ganti baju setelah mandi, handuk dan
pakaian pakai milik sendiri, namun pasien memiliki kebiasaan memakai celana ketat
yang dipakai berulang kali tanpa dicuci.
Pasien tidak memiliki riwayat alergi. Anggota keluarga pasien di rumah tidak
ada yang memiliki keluhan serupa. Keluarga pasien juga tidak pernah mengalami
keluhan serupa dan tidak ada riwayat alergi.
Keadaan umum pasien baik, status gizi kesan cukup, kesadaran kompos
mentis, dan tanda vital dalam batas normal. Hasil pemeriksaan dermatologis
didapatkan kulit pasien berwarna sawo matang, rambut kepala dan alis tampak hitam,
pada regio cruris dextra terdapat makula eritem berbatas tegas dengan ukuran plakat
tersebar regional dengan tepi aktif terdapat central healing dan skuama halus
berwarna putih.
Dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan menggunakan KOH 10% dan
didapatkan kumpulan hifa-hifa sejati, dan spora berderet atau sering disebut artospora.
PEMBAHASAN
Tinea kruris adalah jenis kedua dari dermatofitosis yang paling umum di
seluruh dunia, namun lebih sering terjadi pada zona tropis, seperti Indonesia. Penyakit
ini merupakan salah satu bentuk klinis tersering di Indonesia dan ditemui terutama
pada musim panas dengan tingkat kelembaban tinggi.6
Pendekatan diagnosis sementara kasus ini dilakukan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang. Pasien ini adalah seorang perempuan
berusia 57 tahun, berkulit sawo matang, ibu rumah tangga, mengeluh terdapat bercak
– bercak kemerahan pada daerah kemaluan dan lipat paha sejak 2 bulan yang lalu.
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang jarang berpergian keluar rumah,
pasien suka mandi hanya sekali sehari jika tidak pergi keluar rumah, pasien juga
memiliki kebiasan menggunakan celana ketat yang digunakan lebih dari sekali pakai
lalu dicuci. Pada Tinea Kruris faktor penting yang berperan dalam penyebaran
penyakitnya adalah kondisi kebersihan lingkungan yang buruk, daerah pedesaan yang
padat, dan kebiasaan menggunakan pakaian yang ketat atau lembab.4
Bercak-bercak kemerahan disertai gatal yang dikeluhkan pasien terletak
disekitar kemaluan dan lipat paha. Lesi tinea kruris terutama terdapat pada kulit lipat
paha, genitalia, daerah pubis, perineum dan perianal. Penyakit ini merupakan penyakit
terbanyak yang ditemukan di daerah inguinal, yaitu sekitar 65-80% dari semua
penyakit kulit di inguinal. Tinea kruris lebih sering pada rentang usia 51-60 tahun.
Orang dewasa lebih sering menderita tinea kruris bila dibandingkan dengan anak-
anak.4 Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas,
peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengahnya. Efloresensi terdiri atas
macam-macam bentuk yang primer dan sekunder (polimorf). Bila penyakit ini
menjadi menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan
keluarnya sedikit cairan biasanya akibat garukan.7
Gambaran klinis tinea kruris dapat menyerupai infeksi oleh Candida albicans.
Namun, pada kandidosis, lebih sering ditemukan pada wanita dan lesi yang ditemukan
lebih meradang dan lembab disertai sejumlah lesi satelit (makula dan pustul putih)
yang berukuran kecil dan banyak.6 Kandidosis pada daerah lipat paha mempunyai
konfigurasi hen and chicken. Kelainan ini biasanya biasanya basah dan berkrusta.
Pada wanita ada tidaknya fluor albus dapat membantu pengarahan diagnosis. Pada
penderita-penderita diabetes melitus, kandidosis merupakan penyakit yang sering
dijumpai. Psoriasis pada sela paha dapat menyerupai tinea cruris, lesi-lesi pada
psoriasis biasanya lebih merah, skuama lebih banyak dan lamelar. Eritrasma
merupakan penyakit yang tersering berlokalisasi di sela paha. Efloresensi yang sama
yaitu, eritema dan skuama, pada seluruh lesi merupakan tanda-tanda khas penyakit
ini. Pemeriksaan dengan lampu Wood dapat menolong dengan adanya fluoresensi
merah (coral red).7
Keluhan lain yang dinyatakan pasien yaitu merasakan gatal yang semakin
berat berat pada saat pasien berkeringat dan pada saat cuaca panas. Terdapat rasa
gatal yang meningkat saat berkeringat atau terbakar pada daerah lipat paha, genital,
sekitar anus dan daerah perineum.6 Pada Candidiasis juga dapat disertai keluhan gatal,
namun tergantung dari lokasi infeksi seperti Vulvovaginitis dimana infeksi terjadi
pada lokasi vagina. Gejala klinis pada Psoriasis keadaan umum tidak dipengaruhi,
kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma dan sebagian penderita mengeluh
gatal ringan. Pada Eritrasma dapat disertai gatal namun penderita cenderung
mengeluhkan nyeri/perih.7

Pendekatan diagnosis sementara secara klinis pada kasus ini adalah Tinea
Cruris karena pada kasus ini terdapat bercak kemerahan yang terdapat di sekitar
kemaluan yang kemudian menjalar ke lipatan paha. Keluhan disertai gatal dan
semakin gatal pada saat berkeringat. Kemudian pada pemeriksaan kerokan kulit
dengan KOH 10%, dibawah mikroskop didapatkan kumpulan hifa sejati dan spora
berderet atau sering disebut artospora.

Tinea Cruris merupakan dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan
sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan
penyakit yang berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat berbatas pada daerah
genitokrural saja, atau meluas ke daerah sekitas anus, daerah gluteus dan perut bagian
bawah, atau bagian tubuh yang lain. Kelainan kulit yang tampak pada sela paha
merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah
tengahnya. Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk yang primer dan sekunder
(polimorf). Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam disertai
sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan. Tinea Cruris
merupakan salah satu bentuk klinis yang sering dilihat di Indonesia.7
Kandidiasis merupakan penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut yang
disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans dan dapat
mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, dan paru, kadang-kadang dapat
menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis. Dapat menyerang semua
umur, baik laki-laki maupun perempuan. Panas, kebersihan kulit, kelembapan kulit
menyebabkan perspirasi meningkat. Dimana lesi pada Kandidiasis berupa bercak
yang berbatas tegas, berbisik, basah, dan eritematosa. Lesi tergantung lokasi infeksi.7

Psoriasis merupakan penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik,


dan residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan
skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan; disertai fenomena tetesan lilin,
Auspitz, dan Kobner. Terdapat predileksi pada skalp, perbatasan daerah tersebut
dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah
lumbosakral. Gejala klinisnya keadaan umum tidak dipengaruhi, kecuali pada
psoriasis yang menjadi eritroderma. Sebagian penderita mengeluh gatal ringan.7

Eritrasma ialah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang


disebabkan oleh Corynebacterium minitussismum, ditandai dengan adanya lesi berupa
eritema dan skuama halus terutama di daerah ketiak dan lipat paha. Leli kulit dapat
berukuran sebesar miliar sampai plakat, lesi eritroskuamosa, berskuama halus kadang-
kadang dapat terlihat merah kecoklat-coklatan. Variasi ini rupanya bergantung pada
area lesi dan warna kulit penderita. Eritrasma memiliki hubungan erat dengan
diabetes mellitus yang menyerang pria dewasa dan dianggap tidak begitu menular.
Pada penderita eritrasma keluhan dapat disertai gatal namun cenderung perih/nyeri.7

RANGKUMAN

Dilaporkan satu kasus Tinea Kruris pada seorang Perempuan berusia 57 tahun.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, manifestasi klinis dengan gambaran
makula eritem berbatas tegas dengan ukuran plakat tersebar regional dengan tepi aktif
terdapat central healing dan skuama halus pada regio cruris dextra. Pada pemeriksaan
kerokan kulit dengan KOH 10%, didapatkan kumpulan hifa sejati dan spora jamur
berderet atau artospora yang spesifik pada Tinea Kruris.7
DAFTAR PUSTAKA

1. Hidayati NA, Suyoso S, Hinda D, Sandra E. Mikosis superfisialis di divisi


mikologi unit rawat jalan penyakit kulit dan kelamin rsud dr. Soetomo
surabaya tahun 2003–2005. Surabaya: Department Kesehatan Kulit dan
Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2009; 21(1)1-8.
2. Rihatmadja R. Anatomi dan faal kulit. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S,
editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin (7th ed). Jakarta: Balai Penerbit
FKUI, 2015; p. 3-6.
3. Agustine R. Perbandingan sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan sediaan
langsung koh 20% dengan sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi pada tinea
kruris. [Tesis]. Padang: Fakultas Kedokteran Universitas Andalas; 2012.
4. Yossela, Tanti. Diagnosis and Treatment of Tinea Cruris. J Majoroty. Vol 4
No. 2. Lampung; 2015
5. Adiguna MS. Update treatment in inguinal intertrigo and its differential.
Denpasar: Fakultas Kedokteran Universitas Udayana; 2011.
6. Budiman, MA. Referat: Tinea Kruris. Palembang: Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya; 2015
7. Menaldi SL, Bramano K, Indriatmi W. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin edisi
ke-7. Jakarta, Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
2015.