Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tumbuhan yang ada di bumi ini sangat banyak dan beraneka ragam. Bahkan di tiap daerah
memiliki jenis makhluk hidup yang khas, yang tidak ditemukan di daerah lain. Adanya
keanekaragaman tumbuhan ini menjadi suatu masalah dalam mengenal dan
mempelajarinya.Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mengatur keanekaragaman yang
ada. Dengan latar belakang ini, ada seorang tokoh Yunani yang mencetuskan ilmu taksonomi
yaituTheoprates pada tahun 370-285 SM yang kemudian dikembangkan oleh tokoh dari Swedia.
Ilmu taksonomi ini merupakan ilmu tentang klasifikasi, identifikasi dan tatanama
makhluk hidup. Ilmu taksonomi ini bertujuan untuk mempermudah pengenalan dan
pembelajaran terhadapmakhluk hidup serta mempermudah dalam mengkomunikasikannya
kepada orang lain. Ilmutaksonomi ini senantiasa berkembang dari masa ke masa, sehingga
muncul tokoh- tokoh baru dalam taksonomi dan pendapat-pendapat serta teori-teori tentang
taksonomi. Ilmutaksonomi ini melahirkan berbagai sistem klasifikasi yang berbeda-beda sesuai
dengandasaryang digunakan dalam kegiatan itu. Sistem klasifikasi yang dilahirkan dalam
sejarah perkembangan taksonomi yaitu periode tertua yang belum memiliki sistem normal,
sistemhabitus, sistem numerik, sistem filogenik dan sistem kontemporer.
Gymnospermae telah hidup di bumi sejak periode Devon (410-360 juta tahun yang lalu),
sebelum era dinosaurus. Pada saat itu, Gymnospermae banyak diwakili oleh kelompok yang
sekarang sudah punah dan kini menjadi batu bara: Pteridospermophyta (paku biji),
Bennettophyta dan Cordaitophyta. Anggota-anggotanya yang lain dapat melanjutkan
keturunannya hingga sekarang. Angiospermae yang ditemui sekarang dianggap sebagai penerus
dari salah satu kelompok Gymnospermae purba yang telah punah (paku biji).
Berikut ini akan dibahas lebih lanjut tentang periode tertua dan periode sistem habitus,
serta tentang Gymnospermae.

1
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan dalam makalah ini
adalah :
1. Bagaimana sejarah perkembangan taksonomi tumbuhan pada dua periode awal?
2. Bagaimana ciri-ciri umum dari sub divisi Gymnospermae?
3. Bagaimana cara perkembangbiakan dari sub divisi Gymnospermae?
4. Bagaimana klasifikasi dari sub divisi Gymnospermae?
5. Bagaimana manfaat atau peranan dari sub divisi Gymnospermae?

1.3. Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tu]ujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui sejarah perkembangan taksonomi tumbuhan pada dua periode awal.
2. Mengetahui ciri-ciri umum dari sub divisi Gymnospermae.
3. Mengetahui cara perkembangbiakan dari sub divisi Gymnospermae.
4. Mengetahui klasifikasi dari sub divisi Gymnospermae.
5. Mengetahui manfaat atau peranan dari sub divisi Gymnospermae.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Perkembangan Taksonomi Tumbuhan


Perbedaan dasar yang digunakan dalam mengadakan klasifikasi tumbuhan tentu saja
memberikan hasil klasifikasi yang berbeda-beda pula, yang dari masa ke masa menyebabkan
lahirnya sistem klasifikasi yang berlainan.
Mengingat tingkat peradabannya, manusia yang pertama-tama melakukan kegiatan dalam
bidang taksonomi tumbuhan, dalam hal ini kegiatan klasifikasi, tentulah cara memilah-milahkan
dan mengelompokkan tumbuhan hanya didasarkan atas kesamaan ciri-ciri yang langsung ada
kaitannya dengan kehidupan manusia, misalnya manfaatnya, yang menghasilkan kelompok
tumbuhan penghasil bahan pangan, penghasil bahan sandang, penghasil obat-obatan dan
seterusnya. Selanjutnya berdasar ciri-ciri lain yang mudah dilihat, yang dapat diamati dengan
mata bugil saja, misalnya perawakan (habitus) tumbuhan. Tumbuhan yangtinggi besar dan
berumur panjang, dikelompokan menjadi suatu golongan yang disebut_pohon (arbor) yang lebih
kecil dijadikan golongan lain yang disebut semak (frutex) dan yang kecil-kecil berumur pendek
dijadikan golongan terna (herba).
Sesuai dengan kemajuan peradaban serta perkembangan ilmu dan teknologi, ciri-ciri pada
tumbuhan yang pada mulanya tak dapat diamati (tidak tampak) dan oleh karena itu tidak
dipertimbangkan untuk dijadikan dasar dalarn mengadakan klasifikasi, seperti ciri-ciri anatomi,
kandungan zat-zat kimia dan lain-lain kemudian pun memperoleh perhatianuntuk digunakan
sebagai dasar dalam mengadakan klasifikasi. Demikian pula ciri-ciri yang baru kemudian
terungkapkan sebagai hasil studi bidang ilmu yang lain, seperti morfologi, anatomi, fisiologi,
palaeobotani, genetika, geografi tumbuhan dan lain-lain. Tentang keterkaitan taksonomi
turrnbuhan dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan lain, akan diberikan uraian yang lebih luas
dalam bab lain.
Sampai sekarang dalam dunia taksonomi tumbuhan dikenal berbagai sistem
klasifikasi,yang masing-masing diberi nama menurut tujuan yang ingin dicapai atau_dasar utama
yang merupakan landasan dilakukannya pengklasifikasian.Sistem klasifikasi yang bertujuan
praktis dengan tekanan utama pada tercapainya tujuan penyederhanaan obyek studi dalam bentuk
suatu ikhtisar ringkas seluruh tumbuhan sering kali disebut system buatan atau sistem artifisial.

3
Semua sistem klasifikasi yang diciptakan pada awal perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan
sampai kira-kira pertengahan abad ke-19 yang lalu dapat dikualifikasikan sebagai sistem buatan.
Dengan keterlibatan ilmu-ilmu lain dalam taksonomi tumbuhan muncul kemudian lain-lain
sistem klasifikasi yang tidak hanya bertujuan diperolehnya penyederhanaan obyek studi, tetapi
juga misalnya untuk mencerminkan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh alam, yang sistem
klasifikasinya pun disebut system alam.
Setelah lahirnya teori evolusi muncul,sistem filogenetik, yang mencita-citakan
tercerminnya jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara golongan tumbuhan yang satu dengan
yang lain serta urut-urutannya dalam sejarah perkembangan filogenetik tumbuhan.
Kemajuan dalam ilmu kimia semakin lebih banyak dapat mengungkap zat-zat apa saja
yang terkandung dalam tubuh tumbuhan atau organ-organnya, yang menyebabkan timbulnya
usul agar klasifikasi tumbuhan didasarkan pula atas kesamaan atau kekerabatan zat-zat kimia
yang terkandung di dalamnya.lnilah yang merupakan awal dan landasan bagi mereka yang
mendambakan sistem klasifikasi yang menuju ke terciptanya suatu aliran atau cabang dalam
taksonomi tumbuhan yang disebut kemotaksonomi.
Belakangan ini dengan berhasilnya teknologi canggih untuk menghasilkan alat serbaguna
yang kita kenal dengan nama komputer, yang telah mendapatkan tempat untuk digunakan dalam
berbagai bidang ilmu, ternyata taksonomi tumbuhan pun tidak bisa luput dari pengaruh alat yang
canggih ini. Dalam taksonomi tumbuhan sejak beberapa waktu yang lalu telah berkembang suatu
aliran yang dikenal sebagai taksimetri atau taksonometri yang berusaha untuk menentukan jauh
dekatnya hubungan kekerabatan antara dua takson tumbuhan melalui sistem pemberian nilai
untuk kemiringan yang terdapat pada organ yang sama pada dua kelompok tumbuhan yang
berbeda dan kemudian dengan penerapan analisis kelompok (cluster analysis) dibentuk
kelompok-kelompok untuk menggambarkan jauh dekatnya hubungan kekerabatan di antara
anggota-anggota kelompok.
Dalam garis besarnya, perkembangan sistem klasifikasi dari masa ke masa adalah sebagai
berikut:
 Periode tertua
 Periode sistem habitus
 Periode sistem numerik
 Periode sistem alam

4
 Periode sistem filogenetik
 Periode sistem klasifikasi kontemporer
Berikut ini akan dibahas dua periode awal (periode tertua dan periode habitus) secara lebih
rinci.
a. Periode Tertua
Dalam periode ini secara formal belum dikenal adanya sistem klasifikasi yang diakui
(sejak ada kegiatan dalam taksonomi sampai kira-kira abad ke-4 sebelum Masehi).
Mengingat, bahwa sejak semula kehidupan manusia bergantung pada bahan-bahan
yang berasal dari tumbuhan, tidaklah berlebihan kiranya bila seperti telah disebutkan,
manusia sejak dahulu kala telah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk lingkup
taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan yang mana yang berguna
baginya dan yang mana yang tidak, termasuk pemberian nama, sehingga apa yang
ditemukan dapat dikomunikasikan kepada pihak lain. Dalam zaman pra sejarah orang
telah mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting seperti yang
kita kenal sampai sekarang. Jenis-jenis tumbuhan itu diperkirakan telah dikenal sejak 7
sampai 10 ribu tahun yang lalu, telah dibudidayakan oleh bangsa Mesir. Tidak hanya
bangsa Mesir yang menempati lembah Sungai Nil bagian hilir di Afrika, tetapi juga
bangsa Cina di Asia Timur, bangsa Asiria di lembah Sungai Efrat dan Tigris di Timur
Tengah, dan bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Amerika Selatan, sejak
beberapa ribu tahun yang lalu telah mengenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan
penghasil bahan pangan, bahan sandang, dan bahan obat, yang berarti bahwa
sebenarnya mereka pun telah menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu
sistem klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan, sehingga tidak salah
kiranya, bila periode ini kita namakan periode sistem manfaat, yang dapat dianggap
sebagai sistem buatan yang tertua. Jelaslah, bahwa sejak berpuluh-puluh abad yang lalu
orang telah terjun dalam kegiatan-kegiatan taksonomi tumbuhan, walaupun
pengetahuan yang telah mereka kumpulkan belum begitu berarti, juga belum ditata,
belum menunjukkan hubungan sebab dan akibat, sehingga belum dapat disebut sebagai
"ilmu pengetahuan" (science) menurut ukuran sekarang.
Sekalipun tidak ada bukti-bukti konkrit yang berujud peninggalan-peninggalan yang
berupa dokumen-dokumen atau bentuk karya tulis lainnya, tidak perlu rasanya

5
diragukan lagi, bahwa sesuai dengan pernyataan Bloembergen, bahwa permulaan
taksonomi tumbuhan harus digali dari kedalaman sejarah peradaban manusia di bumi
ini.

b. Periode Sistem Habitus


Periode ini kira-kira dari abad ke-4 sebelum Masehi sampai abad ke-17.
Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru dianggap dimulai dalam abad ke-
4 sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang dipelopori oleh Theophrastes (370-
285 S.M.) murid seorang filsuf Yunani kenamaan Aristoteles. Aritstoteles sendiri
adalah murid filsuf Yunani yang mashur Plato.
Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa Yunani dengan Theophrastes sebagai
pelopornya juga diikuti oleh kaum herbalis serta ahli-ahli botani, dan nama itu terus
dipakai sampai selama lebih 10 abad. Pengklasifikasian tumbuhan terutama didasarkan
atas perawakan (habitus), yang golongan-golongan utamanya disebut dengan nama
pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. Sistem klasifikasi ini bersifat
dominan dari kira-kira abad ke-4 sebelum Masehi sampai melewati abad pertengahan,
dan selama periode ini ahli-ahli botani, herbalis, dan filsuf telah menciptakan sistem-
sistem klasifikasi yang pada umumnya masih bersifat kasar, narnun sering dinyatakan
telah mencerminkan adanya hubungan kekerabatan antar golongan yang terbentuk.
Theophrastes sendiri yang dianggap sebagai bapaknya Ilmu Tumbuhan, dalam
karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah memperkenalkan dan memberikan
deskripsinya untuk sekitar 480 jenis tumbuhan. Dalam karya ini sistem klasifikasi yang
diterapkan oleh Theoprastes telah mencerminkan falsafah guru dan eyang gurunya
(Aristoteles dan Plato), yaitu suatu sistem klasifikasi tumbuhan yang berdasarkan
bentuk dan tekstur. Selain golongan-golongan pohon, perdu, semak, dan seterusnya
seperti telah disebut di atas, ia juga mengadakan pengelompokan menurut umur dan
membedakan tumbuhan berumur pendek (anual), tumbuhan berumur 2 tahun (bienial),
serta tumbuhan berumur panjang (perenial). Theophrastes telah pula dapat
membedakan bunga majemuk yang berbatas (centrifugal) dan yang tidak berbatas
(centripetal), telah pula dapat membedakan bunga dengan daun mahkota yang bebas
(polipetal atau dialipetal) dan yang berlekatan (gamopetal atau simpetal), bahkan ia

6
telah dapat pula mengenali perbedaan letak bakal buah yang tenggelam dan yang
menumpang. Apa pun yang telah dilakukan oleh Theophrastes, hasil klasifikasi
tumbuhan yang ia ciptakan masih dianggap nyata-nyata merupakan suatu sistem
artifisial.

Gambar 1. Contoh habitus tumbuhan. Gambar 2. Contoh habitus tumbuhan.


Kiri depan: semak-semak, latar belakang: perdu. Kiri dan tengah depan: terna, yang berbatang besar:
(Sumber: Gembong, 1991) pohon. (Sumber: Gembong, 1991)

Selama periode sistem habitus yang cukup panjang ini dapat dikemukakan tokoh-tokoh
lain yang memainkan peran yang cukup penting dan dianggap telah memberikan saham
yang cukup besar dalam perkembangan taksonomi tumbuhan, antara lain dapat disebut:
DIOSCORIDES (50-?). Tokoh ini adalah seorang yang berkebangsaan Romawi dan
hidup dalam zaman pemerintahan Kaisar Nero dalam abad pertama sesudah Masehi.
Nama Dioscorides muncul setelah 4 abad sejak munculnya Theophrastes yang selama
itu tidak dikenal adanya tulisan-tulisan dalam bidang taksonomi tumbuhan yang
dianggap berarti.
Dioscorides yang rupa-rupanya tidak mengenal karya Theophrastes, menyatakan
pentingnya untuk pemberian candra atau deskripsi bagi setiap tumbuhan di samping
pemberian namanya. Dengan candra atau deskripsi orang akan dapat menggambarkan
tumbuhan yang dimaksud, dan dapat menggunakan candra itu untuk pengenalan
tumbuhan. Sistem klasifikasi yang diciptakan Dioscorides didasarkan atas manfaat dan.
sifat-sifat morfologi turnbuhan.
PLINIUS (23-79) hanya menghasilkan karya-karya yang merupakan kompilasi saja dari
karya-karya yang telah terbit sebelumnya yang ditambah dengan bahan-bahan dari
dongeng atau ceritera-ceritera, takhayul, dan kepercayaan-kepercayaan yang diwariskan
dari generasi ke generasi secara lisan di kalangan rakyat. Ia berpendapat, bahwa semua

7
tumbuhan di bumi ini diciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia. Sistem klasikkasi
yang diikuti Plinius adalah sistemnya Dioscorides yang telah membedakan pohon-
pohonan, bangsa gandum, sayuran, tanaman obat-obatan, rumput-rumputan, dan
seterusnya.
Sampai lebih dari sepuluh abad karya-karya Dioscorides dan Plinius merupakan "kitab
suci" bagi para mahasiswa dan siapa saja yang belajar ilmu tumbuhan, dan orang
mengira, bahwa semua tumbuhan di bumi kita ini telah termuat dalam buku-buku kedua
tokoh tadi, yang sesungguhnya baru merupakan sebagian kecil saja, yaitu hanya
tumbuh-tumbuhan yang terdapat di sekitar Laut Tengah.
Sampai abad pertengahan boleh dikatakan tidak ada kemajuan yang berarti dalam
perkembangan taksonomi tumbuhan. Asas-asas lama tidak mengalami pembaharuan
atau tidak tampak muncul hasil-hasil yang baru. Karya-karya yang dihasilkan terbatas
pada penterjemahan pustaka-pustaka lama, dengan paling banyak disertai tafsiran-
tafsiran baru oleh para penterjemahnya sendiri.
Tokoh yang menonjol dalam masa itu adalah A. MAGNUS (1193-1280) yang antara
lain dianggap telah dapat membedakan Monocotyledoneae dari Dicotyledoneae atas
dasar sifat-sifat batangnya.
Menjelang abad ke-16 bangkit lagi perhatian terhadap ilmu tumbuhan yang akan
membawa perkembangan taksonomi ke arah yang lain. Gambar-gambar tumbuhan
yang dibuat semakin bermutu, keterangan-keterangan lebih lengkap, namun masih
tercampur dengan data-data mengenai penggunaannya.
Sistem klasifikasi yang diciptakan ahli-ahli taksonomi tumbuhan dalam masa itu tetap
merupakan sistem artifisial, yang didasarkan terutama atas sifat-sifat morfologi
tumbuhan, namun tidak terbatas pada perawakan saja, tetapi juga telah dilibatkan sifat-
sifat berbagai organ seperti buah, bunga, dan daun. Dari masa ini sebagian tokohnya
yang terkemuka telah muncul pula orang-orang yang berkebangsaan lain yang tinggal
di Eropa, seperti misalnya dari Jennan, Belgia, Negeri Belanda, dan lain-lain.
Dari sederetan nama-nama tokoh terkemuka dalam bidang taksonomi tumbuhan dari
masa itu dapat kita sebut antara lain:
O. BRUNFELS (1464-1534), yang tergolong dalam kaum herbalis, telah menghasilkan
karya tentang terna yang dihiasi gambar, yang sebagian besar merupakan bahan-bahan

8
kompilasi dari karya-karya Theophrastes, Dioscorides, dan Plinius. Sayang, buku itu
memuat banyak konsep-konsep yang keliru serta kekisruhan akibat dimasukkannya
berbagai informasi yang bersumber dari ceritera rakyat dan takhayul ("gugon tuhon").
Brunfels, yang berkebangsaan Jerman, semula adalah seorang biarawan, kemudian
menjadi kepala sekolah, pendeta, dan akhirnya seorang dokter, tercatat sebagai orang
pertama yang membedakan golongan Perfecti (tumbuhan yang menghasilkan bunga)
dan Imperfecti (tumbuhan yang tidak menghasilkan bunga).
Kaum herbalis terutama dianggap berjasa karena karya-karyanya yang dapat
dikualifikasikan sebagai Taksonomi deskriptif. Dalam golongan mereka ini nama-nama
yang patut diketengahkan adalah:
J. BOCK (1489-1554) (HIERONYMUS TRAGUS) adalah seorang herbalis, yang
pernah pula menjadi guru, pendeta, dan kemudian dokter yang mempunyai hobi ilmu
tumbuhan. Ia masih menggolongkan tumbuhan menjadi terna, semak, dan pohon, tetapi
mengaku telah berupaya untuk menempatkan tumbuhan yang menurut anggapannya
sekerabat dalam kategori yang sama.
L. FUCHS (1501-1566), kelahiran Bavaria (Jerman Barat), adalah seorang Guru Besar
dalam ilmu kedokteran di Tübingen, Jerman Barat, yang terkenal dengan karya-
karyanya dalam bidang ilmu tumbuhan yang tenar pada masanya.
R. DODONEUS (1516-1585), seorang dokter kelahiran Mechelen, Belgia. Pernah
menjelajahi Perancis, Jerman, dan Italia, dan menjadi dokter kota kelahirannya,
kemudian dokter pribadi Kaisar Maximilian II, akhirnya Guru Besar di Leiden Negeri
Belanda. Ia adalah penulis Het Cruyde boek yang pada masanya sangat mashur dan
berkali-kali dicetak ulang.
M. de L'OBEL (1538-1616), yang bila menulis, sering menggunakan namanya yang di
Latinkan menjadi LOBELIUS. Ia mengabdi kepada raja Inggris Jacobus I, dan menulis
buku ilmu tumbuhan bergambar yang sangat tenar pula pada masanya.
J. GERARD (1545-1612), berkebangsaan Inggris, pernah mengadakan perjalanan di
Denmark dan Rusia, pemilik sebuah kebun botani di London, dan penulis sebuah karya
besar tentang ilmu tumbuhan.
C. L'CLUSE (CLUSIUS) (1526-1609), berkebangsaan Belgia, dengan tujuan
mendalami botani telah menjelajahi sebagian besar benua Eropa, pernah mengabdi di

9
lingkungan kekaisaran di Wina di samping menjabat direktur Kebun Raya di
Schonbrunn (Wina), sejak 1593 menjadi Guru Besar di Leiden (Negeri Belanda)
sampai ajalnya. Ia menghasilkan sejumlah besar karya dalam bidang ilmu tumbuhan.
Banyak di antara kaum herbalis yang namanya diabadikan sebagai nama tumbuhan.
Perhatikan misalnya nama-nama suku: Gesneriaceae, Lobeliaceae, Clusiaceae, dan
nama-nama marga: Fuchsia, Gesneria, Lobelia, Gerardia, Clusia, dan lain-lain. Mulai
berakhirnya abad ke-16, di samping tujuan praktis untuk penyederhanaan obyek studi
yang berupa ikhtisar ringkas dari dunia tumbuhan, mulai tampak adanya upaya untuk
mencari asas-asas baru dalam mengadakan klasifikasi tumbuhan, untuk membentuk
golongan-golongan yang bersifat alami seperti yang dikehendaki oleh alam, terutama
dengan memanfaatkan hasil-hasil penelitian dari bidang morfologi.
Usaha itu dipelopori oleh:
A. CAESALPINUS (1519-1602), yang merupakan ahli ilmu tumbuhan berkebangsaan
Italia dan seorang dokter yang sering disebut sebagai ahli taksonomi tumbuhan yang
pertama. Karyanya yang berjudul de Plantis, memuat suatu bab tentang dasar-dasar
klasifikasi yang ia terapkan. Di samping perawakan, ia telah membeda-bedakan
tumbuhan berdasar sifat-sifat buah dan biji, dan ia telah pula membedakan tumbuhan
berdasarkan kedudukan bakal buahnya. Sayang, bahwa kesimpulan-kesimpulan yang ia
ambil lebih didasarkan atas penalaran dan bukan melalui analisis hasil observasinya.
Bagaimanapun, pandangan Caesalpinus banyak mempengaruhi cara berpikir taksonomi
yang menyusul kemudian seperti de Tournefort, Ray, dan Linnaeus.
J. BAUHIN (1541-1631), seorang dokter berkebangsaan Perancis dan Swis yang
menerbitkan karya tulis bergambar yang komprehensif, berjudul Historia Plantarum
Universalis yang memuat candra (deskripsi) dan sinonima sekitar 5.000 jenis
tumbuhan.
C. BAUHIN (1560-1624), adik J. Bauhin, menerbitkan bukunya yang berjudul Pinax
Theatri Botanici yang memuat nama dan sinonima sekitar 6.000 jenis tumbuhan. Ia
adalah orang pertama yang memprakarsai pemberian nama ganda bagi tumbuhan, telah
membedakan kategori marga dan jenis, namun ia tetap menggunakan bentuk dan
tekstur sebagai dasar klasifikasi seperti yang dilakukan kaum herbalis.

10
R. MORISON (1620-1683), Guru Besar ilmu tumbuhan di Universitas Oxford, Inggris,
penulis Plantarum Historia Universalis Oxoniensis yang sangat mashur pada waktu itu.
Ia pernah pula menjadi pemimpin Kebun Raya milik Pangeran Gaston de Bourbon di
Blois, Perancis.
A. RIVINUS (A. BACHMANN) (1652-1723), Guru Besar Ilmu Tumbuhan di Leipzig,
Jerman Timur, penulis berbagai karya dalam ilmu tumbuhan, bersama dengan de
Tournefort konseptor untuk pengertian marga (genus).
J.P. de TOURNEFORT (1656-1708), berkebangsaan Perancis, pada usia 21 tahun telah
menjadi Guru Besar Ilmu Tumbuhan di Paris. la telah menjelajahi Eropa dan Asia
Depan untuk mengumpulkan tumbuhan, yang ia susun dalam suatu sistem klasifikasi
yang terutama berdasarkan sifat-sifat bunga. Sistem klasifikasi de Tournefort diterima
baik di seluruh Eropa dan Perancis. Sistem klasifikasinya terus dipertahankan sampai
diungguli oleh sistem ciptaan de Jussieu. Bersama-sama dengan Rivinus ia dianggap
sebagai konseptor pengertian marga, yang intinya sampai sekarang tetap belum
berubah.

2.2. Sub Divisi Gymnospermae


Istilah gymnospermae berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu Gymnos
“telanjang”, dan Sperma “Biji”. Jadi gymnospermae adalah tumbuhan yang tidak memiliki
pembungkus biji sehingga bijinya tampak dari luar atau berada pada permukaan daun buah.
Pada tumbuhan berbunga (Angiospermae atau Magnoliphyta), biji atau bakal biji selalu
terlindungi penuh oleh bakal buah sehingga tidak terlihat dari luar. Pada Gymnospermae, biji
nampak (terekspos) langsung atau terletak di antara daun-daun penyusun strobilus atau runjung.
Gymnospermae berasal dari Progymnospermae melalui proses evolusi biji. Hal tersebut
dapat dilihat dari bukti-bukti morfologi yang ada. Selanjutnya Progymnospermae dianggap
sebagai nenek moyang dari tumbuhan biji. Progymnospermae mempunyai karakteristik yang
merupakan bentuk antara Trimerophyta dan tumbuhan berbiji. Meskipun kelompok ini
menghasilkan spora, tetapi juga menghasilkan pertumbuhan xylem dan floem sekunder seperti
pada Gymnospermae. Progymnospermae juga sudah mempunyai kambium berpembuluh yang
bifasial yang mampu menghasilkan xilem dan floem sekunder. Kambium berpembuluh
merupakan ciri khas dari tumbuhan berbiji. Salah satu contoh Progymnospermae adalah tipe

11
Aneurophyton yang hidup pada jaman Devon, sudah menunjukkan system percabangan tiga
dimensi dengan stelenya yang bertipe protostele. Contoh lainnya adalah tipe Archaeopteris yang
juga hidup di jaman Devon. Kelompok ini dianggap lebih maju karena sudah menunjukkan
adanya system percabangan lateral yang memipih pada satu bidang dan sudah mempunyai
struktur yang dianggap sebagai daun. Batangnya mempunyai stele yang bertipe eustele yang
menunjukkan adanya kekerabatan dengan tumbuhan berbiji yang sekarang.
Mempunyai sistem akar tunggang dan batang tegak lurus atau bercabang-cabang. Akar dan
batang berkambium, sehingga selalu mengadakan pertumbuhan menebal sekunder. Strobilus atau
kerucut mengandung 2 daun buah (tempat menempel bakal biji), yaitu makrosporangium
dan mikrosporangium yang terpisah satu sama lain. Penyerbukan hampir selalu dengan bantuan
angin (anemogami). Serbuk sari langsung jatuh pada bakal biji, dengan jarak waktu penyerbukan
sampai pembuahannya relatif panjang. Sel kelamin jantan umumnya berupa spermatozoid
yang masih bergerak dengan aktif.

2.3. Ciri-Ciri Umum Gymnospermae


Ciri – ciritumbuhan berbiji terbuka atau Gymnospermsae adalah sebagai berikut :
a. Tumbuhan kormophyta.
b. Pada umumnya perdu atau pohon, tidak ada yang berupa herba.
c. Batang dan akar berkambium sehingga dapat tumbuh membesar (mengadakan
pertumbuhan menebal sekunder).
d. Umumnya batang memiliki saluran resin.
e. Bentuk perakaran tunggang.
f. Daun sempit, tebal dan kaku, Tulang daun tidak beraneka ragam.
g. Memiliki strobilus sebagai alat reproduksi. Alat kelamin terpisah, serbuk sari terdapat
dalam strobilus jantan dan sel telur terdapat dalam strobilus betina.
h. Dalam reproduksinya mengalami pembuahan tunggal.
i. Biji tidak ditutupi atau dibungkus oleh daun buah.
j. Berkas pembuluh pengangkutan kolateral terbuka. Xilem pada Gymnospermae hanya
terdiri atas trakeid saja sedangkan floemnya tanpa sel-sel pengiring.

12
2.4. Perkembangbiakan Gymnospermae
Organ reproduksi pada gymnospermae disebut konus atau strobilus. Tumbuhan berbiji
terbuka tidak memiliki bunga, sporofil terpisah-pisah atau membentuk srobilus jantan dan betina.
Makrosporofil dan makrosporangium yang tampak menempel pada strobilus betina. Letak
makrosporofil dan mikrosporofil terpisah. Sel kelamin jantan berupa spermatozoid yang masih
bergerak aktif. Di dalam strobilus jantan terdapat banyak anteridium yang mengandung sel-sel
induk butir serbuk. Sel-sel tersebut bermeiosis dari setiap sel induk terbentuk 4 butir serbuk yang
bersayap. Pada strobilus betina terdapat banyak arkegonium. Pada tiap-tiap arkegonium terdapat
satu sel induk lembaga yang bermeiosis sehingga terbentuk 4 sel yang haploid. Tiga mati, dan
satu sel hidup sebagai sel telur. Arkegonium ini bermuara pada satu ruang arkegonium.
Pada Gymnospermae sering terjadi poliembrioni, walaupun hanya ada satu embrio yang
terus berkembang karena adanya pembelahan beberapa arkegonia. Air sudah tidak digunakan
sebagai media fertilisasi karena adanya pembentukan buluh serbuk pada serbuk sari yang
berkecambah.
Pada Coniferophyta dan Gnetophyta spermanya tidak mempunyai flagel, sehingga buluh
serbuk menghantarkannya langsung ke mulut arkegonia. Serta pada Cycas dan Gingko
fertilisasinya merupakan bentuk antara kondisi pada paku-pakuan dan tumbuhan tanpa biji
lainnya, yaitu spermanya mampu berenang bebas dan bentuk pada tumbuhan berbiji yaitu
spermanya tidak mampu bergerak bebas.
Gametofi jantan umumnya bersifat haustorial, yaitu menyerap makanan dari ovulum ketika
tumbuh, walaupun dibutuhkan buluh serbuk tetapi tidak langsung masuk ke arkegonium. Buluh
serbuk tersebut tumbuh dan menetap di dalam nuselus selama berbulan-bulan sebelum menuju
gametofit betina. Setelah sampai di mulut gametofit betina, buluh serbuk robek dan melepaskan
sel sperma yang berflagel banyak. Sperma tersebut kemudian menuju ke arkegonium dan
membuahi telur. Dengan adanya buluh sperma tersebut maka tumbuhan berbiji tidak ada lagi
yang bergantung pada ketersediaan air pada fertilisasinya.
Proses Penyerbukan dan Pembuahan
Penyerbukan yang terjadi pada tumbuhan berbiji terbuka selalu dengan cara anemogami
(penyerbukan dengan bantuan angin). Serbuk sari jatuh langsung pada bakal biji. Selang waktu
antara penyerbukan sampai pembuahan relatif panjang. Pembuahan yang terjadi pada
gymnospermae disebut pembuahan tunggal (setiap inti generatif melebur dengan inti sel telur).

13
Mikropil terdedah ke udara bebas. Pembuahan pada gymnospermae disebut pembuahan tunggal,
karena tiap-tiap inti sperma membuahi satu sel telur.
Strobilus jantan - serbuk sari - jatuh pada tetes penyerbukan (ujung putik) - buluh serbuk -
membelah - inti tabung dan inti spermatogen - inti spermatogen - membelah - dua inti sperma -
membuahi sel telur di dalam ruang arkegonium - zigot - lembaga di dalam biji - tumbuhan baru.

Gambar 3. Siklus hidup pinus (gymnospermae) (Sumber: Nyeng, 2010)

2.5. Klasifikasi Gymnospermae


Tumbuhan Sub Divisio Gymnospermae dikelompkkan dalam beberapa kelas, sebagai
berikut:

a. Kelas (Classis) Pteridospermae


Pteridospermae (Paku biji) adalah tumbuhan fosil yang telah hidup sejak zaman Devon,
mencapai puncak perkembangannya dalam zaman Carbon dan Perm, dan telah punah
dalam zaman Mesozoikum. Tumbuhan yang termasuk dalam kelas ini merupakan
peralihan dari tumbuhan Pterydophyta dan Gymnospermae.
Ciri-ciri kelas ini yaitu:
 Memiliki daun yang menyerupai daun tumbuhan paku.
 Sporofilnya menyerupai daun biasa tetapi belum terkumpul menjadi bunga.
 Batangnya kecil seperti liana atau tumbuh tegak.
 Kayu sekunder mempunya trakheida dengan noktah-noktah halaman dan jari-jari
teras yang lebar.

14
Dalam Pteridopspermae dikenal dengan 2 suku (familia), yaitu:

1) Suku Lyginopteridaceae
Batang ada yang memanjat, Tidak atau sedikit saja bercabang, Mempunyai teras atau
tidak, Unsur-unsur kayu seperti pada Gymnospermae tersusun radier, Baik akar
maupun batangnya mempunyai kambium dan memperlihatkan pertumbuhan menebal
sekunder. Tajuk pohon berbentuk kipas, Bakal biji mempunyai piala. Contohnya:
Lyginopteris oldhamia.

Gambar 7. Lyginopteris oldhamia (Sumber


Juhriah, 2014)

2) Suku Medullosaceae
Ciri-ciri :
 Batangnya mempunyai banyak stele.
 Masing-masing memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder.
 Bakal biji tidak mempunyai piala.

Bangsa (Ordo): Caytoniales


Disamping kedua suku tadi, sekelompok tumbuhan dari ordo ini merupakan tumbuhan
yang juga telah punah dan dekat hubungan kekerabatannya dengan Pterydospermae. Ciri-
cirinya adalah daun bertangkai, pada ujungnya terdapat 3-6 segmen. Daun-daun fertil
memiliki segmen menyirip, ujungnya melengkung sehingga membentuk seperti lekukan
yang di dalamnya terdapat beberapa bakal biji. Jalan masuk ke lekukan itu berupa suatu
celah yang fungsinya dapat dianggap seperti kepala putik.

15
b. Kelas (Classis) Cycadinae
Ciri-ciri kelas Cycadinae ini adalah sebagai berikut :
 Habitus (perawakan) menyerupai pohon palem, berkayu, batangnya tidak atau sedikit
bercabang, mengalami penebalan sekunder, dan korteksnya tebal.
 Daun majemuk menyirip tersusun dalam roset batang dan menggulung sewaktu
masih muda.
 Sporofil tersusun dalm bentuk strobilus letaknya terminalis.
 Beberapa jenis Cycadinae memiliki batang amat pendek, jenis yang lain
dapat mencapai tinggi 9 meter, tetapi kebanyakan tingginya sekitar 2 meter.
 Semua anggotanya berumah dua.
 Strobilus yang dihasilkan berukuran besar.
 Penyerbukan sering dibantu oleh serangga yang tertarik dengan aroma yang
dihasilkan strobilus jantan dan betina.
 Tumbuhan kelas ini merupakan tumbuhan biji yang primitif, hidup di daerah tropis
dan subtropis.
Kelas ini hanya terdiri dari satu bangsa (ordo) yaitu Cycadales dengan satu suku
(familia) yaitu Cycadaceae.

1) Bangsa Cycadales
Adapun ciri – ciri umum dari bangsa (ordo) Cycadales adalah :
 Termasuk tanaman berperawakan pohon, serupa palem, termasuk tanaman
menahun. Tinggi tanaman dapat mencapai kurang lebih 4 meter.
 Berumah dua, artinya ada tanaman jantan yang menghasilkan strobilus jantan dan
tanaman betina yang menghasilkan strobilus betina.
Anggota ordo ini menghasilkan strobilus yang besar. Meskipun demikian, rata–
rata reproduksinya rendah. Dari 15 – 20 strobilus yang dihasilkan tumbuhan Cycas
jantan, hanya satu atau dua saja yang siap melepaskan serbuk sarinya. Strobilus
jantan ini menghasilkan aroma yang membuat serangga tertarik untuk datang.
Setelah datang, serangga tersebut akan memakan strobilus dan berkembang biak.
Pada saat yang sama, strobilus betina menghasilkan bau yang dapat mengusir
serangga yang datang kepadanya. Setelah beberapa waktu, strobilus betina

16
menghasilkan aroma yang justrumenarik serangga yang berasal dari strobilus
jantan. Sambil membawa mikrospora dari strobilus jantan, serangga tersebut
menuju strobilus betina dan terjadilah polinasi.
 Daun berbagi menyirip, tersusun roset batang, daun muda menggulung.
 Mirip palma, berkayu berbentuk pohon.
 Daun-daun majemuk tersusun dalam roset batang yang menyirip dan menggulung
sewaktu masih muda.
 Strobilus terminalis, uniseksualis, dioecious.
 Strobilus jantan mengandung banyak sekali mikrosporofil yang tersusun spiral
dengan mikrosporangia pada permukaan bawah.
 Gamet jantan (spermatozoid) motil di lingkungan air, penting untuk penyerbukan.
 Jumlah ovuli dua atau lebih pada tiap megasporofil.
 Megasporofil mirip bulu ayam, tersusun longgar di ujung batang atau tersusun
rapat dan kompak.
Anggota Cycadaceae yang terdapat di Indonesia adalah marga Cycas antara lain;
C.rumphii. Jenis ini dalam akarnya terdapat ganggang Anabaena sp (simbiosis)
sehinggadapat mengikat Nitrogen. Marga lainnya terutama terdapat di benua
Amerika adalah: Dioon, Zamia, Ceratozamia, Microcycas. Di benua Asia ada marga
Encephalortos dan Stangeria, sedang di Afrika adalah marga Macrozamia serta
Australia ada marga Bowenia. Semuanya meliputi 9 marga dengan 65 jenis.

Cycas ini merupakan tumbuhan biji yang primitive. Golongan sikas ditemukan di
daerah tropis hingga sub-tropis. Ciri yang khas untuk tumbuhan ini adalah batang
yang tidakbercabang, daun majemuk menyirip atau berbagi menyirip.yang tersusun
sebagai tajuk di puncak batang (roset batang) yang memanjang. Seluruh anggotanya
berumah dua. Tanaman ini merupakan sumber bahan kertas, kayu lunak, bahan
bangunan, bahan plastik, pernis, terpentin, damar, dan tinta cetak.
Cycas biasa disebut sikas adalah tanaman jurasik yang berumur kurang lebih 240 juta
tahun dan diperkirakan merupakan makanan dinosaurus yang herbivora. Sikas
bahkan dipercaya sudah tumbuh sebelum tanaman berbunga. Distribusi sikas yang
sangat luas menunjukkan tanaman ini sangat dominan pada masa prehistorik, sikas

17
dapat ditemui di benua Amerika, Australia, Asia, Afrika. Umur sikas yang begitu tua
memberikan kesan prehistorik yang kuat sehingga menjadi buruan banyak kolektor
tanaman.
Sikas hanya tumbuh didaerah beriklim tropis seperti di Asia, Australia, Amerika
Tengah dan Selatan hingga Afrika. Beberapa jenis sikas diketahui telah punah di
alam habi
tatnyasedangkan sebagian lainnya terancam punah yang disebabkan karena aktivitas
illegal para kolektor tanaman hias yang secara membabi buta mengambil sikas dari
alam bebas seirring dengan tingginya permintaan dan nilai komersial yang dapat
diperoleh dari usaha jaul beli tanaman hias

Gambar 5. (a) Cycas sp. (b) Strobilus betina Cycas sp (c) Strobilus jantan Cycas sp (Sumber
Juhriah, 2014)

Gambar 6. (a) Cycas rumphii (b) Daun muda (c) Cycas rumphii jantan (d) Cycas rumphii
betina (Sumber Juhriah, 2014)

Cycas merupakan satu-satunya genus dalam suku Cycadaceae yang masih


banyakdijumpai. Masyarakat awam di Indonesia mengenal pakis haji dari beberapa
spesies yang biasa ditanam di taman-taman menyerupai palem, yaitu C. rumphii, C.
javana, serta C. revoluta (sikas jepang).

18
Mayoritas tanaman sikas masih digunakan sebagai tanaman hias dalam penataan taman,
baik untuk kebutuhan landscape maupun sebagai tanaman hias dalam pot. Namun
demikian, beberapa jenis sikas juga mempunyai manfaat di bidang lain, misalnya C.
revoluta yang dikenal sebagai salah satu tanaman obat yang telah digunakan di
beberapa negara.

c. Kelas (Classis) Bennettitinae


Tumbuhan anggota kelas ini sudah punah, sisa yang ditemukan dimasukkan dalam satu
suku yaitu Benettitaceae dengan ciri-ciri: Tumbuhan dengan habitus berkayu, batang
bercabang paying menggarpu, mempunyai teras dengan sedikit kayu. Pertulangan daun
menyirip. Strobilus terletak di ketiak daun, kadamng-kadamg demgam tangkai yang
panjang, kadang-kadang dengan tangkai yang pendek yang muncul dari bagian batang
yang telah tua, kadang pula muncul di ujung (terminal) pada cabang yangf menggarpu.
Strobilus dapat berisi hanya mikrosporifil saja tapi dapat bjuga berisi mikrosporofil dan
makrosporofil. Mikrosporofil menyerupai daun menyirip ganda dan tersusun membentuk
karangan. Makrosporofil banyak terdapat di bagian atas strobilus. Sebagian berbentuk
tangkai dengan suatu bakal biji pada ujungnya, sebagian mandul dan berbentuk sisikm di
antara bakal-bakal biji. Bakal biji dengan 1integumen dan suatu ruang serbuk sari.
Lembaga dengan dua daun lembaga.

d. Kelas (Classsis) Cordaitinae


Anggota kelas ini juga telah punah. Ciri-ciri anggotanya adalah: Umumnya berupa pohon
yang tinggi, bercabang-cabang dan terdapat pertumbuhan sekunder. Daun tunggal,
bangun lanset atau pita, pertulangan daun sejajar, duduk daun tersebar namun pada
ujung-ujung cabang amat berdekatan. Strobilus jantan terasusun dalam 2 baris pada
tangkai yang tebal. Mkrosporofil masing-masing dengan 3-6 kantong sari. Strobilus
betina dengan susunan yang sama. Setiap strobilus juga mempunyai sisik-sisik dengan
diantaranya terdapat bakal biji. Bakal biji dengan 1 integumen dengan ruang serbuk sari
yang panjang. Biji pipih kadang-kadang bersayap.
Kelas Cordaitinae meliputi ordo Cordaitales yang didalamnya terdapat suku Cordaitaceae
atau Pityaceae. Contoh Cordaites laevis

19
Gambar 7. Cordaites laevis (Sumber
Suhadiyah dan Masniawati, 2014)

e. Kelas (Classis) Ginkyoinae


Anggota kelas ini yang masih ada adalah Ginkyo biloba (Ginko) yang berasal dari
Cina. Ginkyo merupakan pohon besar, dapat mencapai ketinggian lebih dari 30 meter.
Daunnya bertangkai panjang dan lebar berbentuk seperti kipas, dengan belahan yang
berlekuk dalam. Tulang daun berbentuk menggarpu. Ginko merupakan tumbuhan
Gymnospermae yang meranggas, berumah dua, biji keras berwarna kekuningan,
berukuran sebesar kelereng, berbau tidak enak. Bijinya mempunyai kulit luar berdaging
dan kulit dalam yang keras. Daunnya dapat dijadikan obat asma dan mengatur tekanan
darah buahnya dapat di jadikan bahan ramuan untuk makanan tambahan (suplemen) yang
berfungsi menjernihkan daya ingat.
Kelas ini terdiri atas bangsa Ginkyoales dan suku Ginkyoaceae. Contoh spesisesnya yaitu
Ginkyo biloba.

Gambar 7. Ginkyo biloba (Sumber: Juhriah, 2014)

20
Ciri khas tumbuhan ini adalah:
 Mempunyai daun yang berbentuk seperti kipas dengan lebar 5 sampai 10 sentimeter
dan tinggi batang mencapai 30 meter. Selain itu, daunnya juga ada yang berbentuk
mirip daun paku kelompok suplir.
 Ketika musim penyerbukan tiba, tanaman ini mengeluarkan bau yang kurang sedap
dan dijauhi oleh manusia. Habitus pohon tinggi lebih dari 1000 kaki, daun berubah
warna dan menggugurkan daunnya pada musim rontok.
 Tumbuhan berumah dua (diesis)
 Gamet jantan motil, penyerbukan di air.
 Daun muda menggulung, melebar bentuk kipas, daun terbagi dua simetris karena
lekukan yang dalam, mengalami perkembangan.
 Strobilus jantan berbentuk kerucut; strobilus betina dngan 2 ovuli yang berbeda
kematangannya; ovulum mempunyai pembungkus berdaging yang dapat berubah
warna.
 Lembaga mempunyai 2 cotyledon.

f. Kelas (Classis) Coniferae atau Coniferinae


Tumbuhan anggota kelas ini banyak anggotanya yang masih dapat dijumpai hingga
sekarang. Tumbuhan ini terdapat pada hutan di daerah beriklim dingin di kutub utara
maupun hutan pada pegunungan di daerah tropis. Ciri utama kelas Coniferinae adalah
adanya tajuk berbentuk kerucut (Coniferae berasal dari kata conus = ‘kerucut’ dan ferein
= ‘mendukung’). habitusnya dapat berupa semak, perdu, atau pohon. Batang besar
berkayu Daun-daunnya berbentuk jarum, sehingga sering disebut pohon jarum, pada
umumnya conifer tidak mengalami gugur daunt namun selalu hijau sepanjang tahun
sehingga disebut juga tumbuhan evergreen. Tumbuhan ini berumah dua, tetapi ada juga
yang berumah satu, memiliki strobilus berbentuk kerucut. Ada dua macam strobilus,
yaitu strobilus betina yang mengandung bakal biji dan strobilus jangtan yang
mengandung serbuk sari. Strobilus jantan menghasilkan serbuk sari yang mengandung sel
sperma. Dengan bantuan angin, serbuk sari sampai kebakal biji yang menempel pada
sisik strobilus betina. Selanjutnya terbentuk buluh serbuk yang membawa sel sperma

21
untuk bertemu dengan sel telur yang ada didalam bakal biji. Setelah terjadi fertilisasi,
terbentuklah biji yang bersayap tipis.Biji diterbangkan angin kemana-mana, jika jatuh di
tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi kecambah, dan berkembang menjadi tumbuhan
baru.
Kelas coniferinae terdiri atas lima ordo yaitu ordo Taxales, ordo Araucariales, ordo
Podocarpales, ordo Pinales, dan ordo Cupressales. Berikut ini deskripsi tiap ordo dari
kelas Coniferinae :

1) Bangsa (Ordo) Taxales


Ordo ini terdiri atas pohon-pohon atau semak-semak, dengan daun yang tersebar
berbentuk lanset, strobilus berumah dua, yang terpisah-pisah atau merupakan bulir
dalam ketiak daun, dengan mikrosporofil yang berbentuk perisai atau sisik yang
masing-masing dengan 2-8 kantong sari, serbuk sari tanpa gelembung udara, dan
pada perkecambahan tidak membentuk sel-sel protalium, bakal biji berpasangan
diatas sisik- sisik biji atau di ujungnya, setelah persarian sisik-sisik tidak berkayu dan
membesar, jadi tidak membentuk suatu kerucut.
Ordo ini terdiri atas dua familia diantaranya adalah Taxaceae dan Cephalotaxaceae.
a) Suku (Familia) Taxaceae
Memiliki daun yang berbentuk lanset yang tersebar, strobilus jantan terpisah
dalam ketiak daun atau dalam bulir-bulir kecil di ketiak daun. Mikrosporofil bangun
perisai dengan 2-8 kantong sari, serbuk sari pada perkecambahannya hanya memiliki
satu sel generative dan satu sel buluh serbuk sari. Biji yang diselubungi oleh salut biji
atau arillus, biji memiliki dua daun lembaga, Contoh spesiesnya adalah Taxus
baccata.

Gambar 8. Taxus baccata (Sumber:


Juhriah, 2014)

22
b) Suku (Familia) Cephalotaxaceae
Familia Cephalotaxaceae memiliki ciri yaitu habitus berupa pohon atau perdu
dengan daun garis, dalam daun terdapat satu saluran resin. Tumbuhan berumah dua,
strobilus jantan berkumpul atau berupa bulir-bulir pendek di ketiak daun, tiap
strobilusterdiri atas 12 mikrosporofil, masing-masing dengan 3 kantong sari, serbuk
sari tanpa gelembung udara, strobilus betina dalam ketiak-ketiak, sisik-sisik, yang
terdapat pada tunas yang pendek, sisik-sisik biji itu duduknya bersilang, masing-
masing dengan 2 bakal biji pada sisi atasnya, kulit biji yang luar tebal berdaging, kulit
biji yang dalam keras, memiliki dua daun lembaga.
Anggotanya tersebar luas di Asia timur contohnya Cephalotoraxus fartanei.

2) Bangsa (Ordo) Araucariales


Ordo Araucariales meliputi satu familia yaitu Araucariaceae dengan ciri pohon-pohon
yang daunnya tersebar, berbentuk jarum atau lebar dengan saluran-saluran resin
didalamnya, tumbuhan ini berumah satu atau berumah dua. Strobilus jantan
ukurannya besar, diketiak atau diujung cabang-cabang yang pendek dengan
mikrosporofil yang bertangkai dan berbentuuk sisik, yang pada bagian bawahnya
banyak mengandung mikrosporangium yang panjang. Strobilus betina pada ujung
cabang-cabang yang pendek, penuh dengan makrosporofil yang tersusun dalam satu
spiral, dengan disebelaah atasnya masing-masing dengan satu bakal biji yang
diselubungi dengan struktur yang melekat pada makrosporofil.
Familia Araucariaceae meliputi dua genus yaitu Araucaria dan Agathis. Contoh
speciesnya adalah Araucaria cunninghamii dan Agathis alba

Gambar 9. Araucaria cunninghamii dan Agathis alba (Sumber :


Juhriah, 2014)

23
3) Bangsa (Ordo) Podocarpales
Ordo Podocarpales meliputi familia Podocarpaceae yang memiliki cirri-ciri berupa
perdu atau pohon dengan daun berbentuk sisik, jarum dan lanset duduknya tersebar
atau bersilang, dengan satu atau tiga saluran resin didalamnya. Umumnya berumah
dua strobilus jantan diketiak dengan ukuran yang agak panjang dengan banyak
mikrosporofil, masing-masing dengan dua kantong serbuk sari. Memiliki epimatium,
memiliki dua daun lembaga, serbuk sari kebanyakan dengan gelembung udara,.
Contoh spesiesnya adalah Podocarpus imbricate.

Gambar 10. Podocarpus imbricate. (Sumber : Juhriah,


2014)

4) Bangsa (Ordo) Pinales


Ordo ini meliputi satu familia yaitu Pinaceae, dengan cirri tumbuhan berkayu, daun
berbentuk jartum, duduknya tersebar pada sirung panjang, atau pada sirung panjang
terdapat daun dengan struktur berdaging sedangkan pada sirung pendek terdapat daun
dengan bentuk jarum. Daun-daun tersebut dengan satu atau dua berkas pengangkut
dan saluran resin, pada umumnya tumbuhan ini berumah satu. Strobilus jantan
terminal pada sirung pendek, dengan banyak mikrosporofil bertangkai yang tersusun
dalam satu spiraldengan dua lkantong sari, serbuk sari dengan dua gelembung udara.
Strobilus betina terminal atau aksilar, dengan banyak sisik penutup yang tersusun
dalam spiral, pada ketiak sisik penutup terdapat satu sisik biji dengan pada sisi
atasnya dua bakal bii yang mikrofilnya menghadap ke sumbu. Biji memiliki sayap
dan memiliki daun lembaga sebanyak 2-15. Contoh spesiesnya adalah Pinus merkusii.

24
Gambar 11. Pinus merkusii (Sumber : Juhriah,
2014)

5) Bangsa (Ordo) Cupressales


Ordo ini memiliki ciri sebagai berikut :
 Berupa perdu atau pohn dengan daun yang berbentuk jarum atau sisik yang
duduknya tersebar, berhadapan, atau berkarang.
 Strobilus jantan dengan mikrosporofil yang bertangkai pendek dengan suatu sisik
lebar dengan 2-9 kantong sari.
 Strobilus betina dengan sisik yang tersusun dalam spiral atau berhadapan dengan
1-9 bakal biji.
Ordo ini meliputi dua Familia yaitu sebagai berikut :

1) Suku (Familia) Taxodiaceae


Familia ini meliputi tumbuhan berupa pohon dengan daun berbentuk jarum
duduknya tersebar atau berhadapan, dan kadang-kadan pada sirung panjang terdapat
daun berbentuk sisik dan pada sirung pendek terdapat daun menyerupai bentuknya
jarum. Daunnya memiliki satu saluran resin, strobilus jantan terminal, atau aksilar
atau kadang berkumpul didalam satu malai. Serbuk sari tanpa gelembung udara.
Strobilus betina terpisah-pisah, terminal, dengan sedikit atau banyak spiral. Biji
memiliki sayap yangsempit, memiliki lembaga dengan 2-9 daun lembaga. Contoh
speciesnya adalah Taxodiumdistichum.

Gambar 12. Taxodiumdistichum (Sumber :


Juhriah, 2014)

25
2) Suku (Familia) Cupressaceae
Suku ini memiliki ciri-ciri antara lain:Habitus perdu atau pohon, bercabang
banyak. Daun kebanyakan bentuk sisik jarang berbentuk jarum, duduk bersilang atau
merupakan karangan yang trdiri dsari 3 daun. Daun memiliki saluran atau ruang
resin. Bisanya berumah dua jarang berumah satu. Strobilus jantan terletak diujung
ranting yang pendek tetapi dapat juga di ketiak daun. Mikrosporofil duduk bersilang
atau merupakan karangan yang terdiri dari 3 sprofil, bertamngkai pendek dengan
sisik lebar dan 2 – 6 kantong sari. Strobilus betina dengan satu atau beberapa pasang
sisik yang duduknya bersilang, masing-masing dengan beberapa bakal biji. Setelah
penyerbukan sisik-sisik tersebut membesar dan mengayu, saling menutupi seperti
susunan genting atau seperti perisai yang tepinya saling berdampingan rapatPada
genus Juniperus bakal biki berjumlah 1 – 3, letaknya di ujung dan setelah
penyerbukan diselubungi oleh sisik-sisik berdaging. Lembaga dengan 2 daun
lembaga. Suku ini terdiri dari 140 jenis yang terbagi dalam 15 marga. Contoh
jenisnya Juniperuscommunis (buahnya dipakai untuk pembuatan minuman keras
“juniper”. Thuja gigantean, T occidentalis, menghasilkan kayu bangunan

Gambar 13. Thuja occidentalis (Sumber : Juhriah,


2014)

g. Kelas (Classis) Gnetinae


Gnetinae merupakan kelas dari subdivision gymnospermae yang meliputi tumbuhan
berkayu, yang batangnya bercabang atau tidak, tidak memiliki saluran resin, daaunnya
tunggal, berhadapan, bunga berkelamin tunggal, majemuk, terdapat dalam ketiak daun
pelindung yang besar, memiliki tenda bunga. Lembaga dengan idua daun lembaga.
Kelas ini terdiri atas 3 ordo (bangsa), yaitu Ephedrales, Gnetales dan Welwitschiales.

26
1) Bangsa (Ordo) Ephedrales
Ordo ini hanya terdiri dari satu suku yaitu Ephedraceae dengan ciri-ciri:Habitus perdu
bercabang banyak dengan sisik yang duduknya bersilang, Bumnga dalam
bulir,terletak pada ujung sirung di ketiak daun pelindung yang besar yang setelah
penyerbukan menjadi berdaging atau melebar. Bunga jantan dengan 2 daun tenda
bunga (tepala) dan 2 sampai 8 anthera masing-masing dengan 2-3 ruang. Bunga
betina dengan tenda bunga berbentuk pembukluh, di dalamnya terdapat satu bakal
bijidengan integumen memanjang. Tenda bunga menjadi keras dan menyelubungi
buah. Suku ini hanya terdiri dari satu margay ITU: Ephedra dengan anggota sekitar
35 jenis yang tersebar di daerah panas dan daerah iklim sedang. Contoh : Ephedra
altissima

Gambar 14. Gnetum gnemon (Sumber : Juhriah,


2014)

2) Bangsa (Ordo) Gnetales


Ordo Gnetales ini dicirikan dengan:
 Batang pohon yang lurus kira-kira 20 meter dan bercabang.
 Akarnya tunggang.
 Tulang daun menyirip, tipis dan melebar.
 Berumah dua karena strobilus jantan dan betina terletak pada pohon yang berbeda.
Namun ada pula yang berumah satu, strobilus jantan dan betina.
Ordo Gnetales meliputoi familia Gnetaceae, dengan cirri sebagai berikut :

 Anggota kelompok ini berupa pohon, barcabang,


 Batang memiliki kambium, floeterma dan buluh-buluh kayu tanpa saluran resin.
 Daun tunggal, duduk daun berhadapan dengan pertulangan daun menyirip.
27
 Bunga majemuk bercabang dichasial (anak paying menggarpu), terletak di ketiak
daun.
 Ujung bunga majemuk berbentuk bulir dengan bunga yang berkarang dalam
ketriak daun pelindung.
 Bunga jantan dengan tenda bunga berbentuk pembuluh dan pada perpanjangan
sumbu bunga. Memiliki 1 – 2 kantong sari.
 Bunga betina dengan tenda bunga berbentuk pembuluh, satu bakal biji deengan 2
integumen.
 Biji diselubungi suatu mantel yang terdiri dri integument luar dan tenda bunga
berdaging yang akhirnya berwarna merah jika buah telah masak.
Suku ini hanya terdiri dari satu marga yaitu Gnetum dengan sekitar 30 jenis
yangsemuanya hidup di daerah tropis.
Contoh yang terkenal dari kelompok ini adalah Gnetum gnemon (melinjo), yang daun
dan bijinya dapat dimakan, sedangkan kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku kertas, serat tali, dan perabot rumah tangga. Melinjo banyak digunakan oleh
orang Indonesia untuk sayur – sayuran dan emping.

Gambar 15. Gnetum gnemon (Sumber : Juhriah, 2014)

3) Ordo Welwitschiales
Ordo ini meliputi satu familia yaitu familia welwitschiaceae dengan ciri:
 tumbuhan berupa batang hipokotil yang menebal seperti umbi dan akar tunggang
yang menebal menembus tanah.
 Batang epikotil dan tidak terdapat daun daun, kecuali dua daun yang berhadapan,
berbentuk pita dengan ukuran sekitar 2 meter, yang padaujungnya mati tetapi
pangkalnya terus tumbuh selama tumbuhan masih hidup.

28
 Berbunga majemuk terdapat pada tepi batang hipokotil, bercabang seperti anak
paying menggarpu, dengan hunga-bunga yang tersusun dalam bulir yang keluar
dari ketiak daun pelindung yang besar dan tersusun berhadapan.
 Bunga jantan dengan 4 tepala yang tersusun dalam 2 lingkaran dan 6 benang sari
yang pangkalnya berlekatan dengan kepala sari yang terdiri atas 3 kantong sari,
ditemhah terdapt bakal biji yang rudimenter.
 Memiliki bunga betina dengan tenda bunga yang berlekatan, kanan kiri melebar
seperti sayap.
 Bakal biji dengan satu integument berbentuk pembuluh yang memanjang. Suku
ini hanya terdiri atas satu Genus, yaitu Welwitschia.
Contoh speciesnya adalah Welwitschia mirabilis, hidup endemic di daerah gurun
dekat pantai Afrika barat daya dan Angola.

Gambar 16. Welwitschia mirabilis(Sumber:


Juhriah, 2014)

2.6. Manfaat Atau Peranan Gymnospermae


Secara umum Gymnospermae memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia, di
antaranya adalah sebagai berikut :
a. Tanaman hias, misalnya cemara dan pakis haji.
b. Penghasil minyak cat (terpentin), misalnya pinus/tusam.
c. Bahan pembuat kertas dan korek api, misalnya kayu pinus dan kayu tumbuhan melinjo
d. Sayur – mayur, misalnya melinjo.
e. Sumber makanan, misalnya melinjo.
f. Bahan untuk obat dan kosmetik, yaitu Ginkgo biloba

29
BAB III

PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai
berikut :
1. Dua periode awal pada sejarah perkembangan taksonomi tumbuhan adalah periode tertua
(dalam periode ini secara formal belum dikenal adanya sistem klasifikasi yang diakui)
dan periode sistem habitus (taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru
dianggap dimulai dalam abad ke-4 sebelum Masehi).
2. Ciri umum dari Gumnospermae adalah berbiji terbuka.
3. Gymnospermae berkembang biak secara generative dengan biji.
4. Sub divisi Gymnospermae diklasifikasikan kedalam 7 kelas, yaitu: kelas Pteridospermae,
kelas Cycadinae, kelas Bennettitinae, kelas Cordaitinae, kelas Ginkyoinae, kelas
Coniferae atau Coniferinae, dan kelas Gnetinae.
5. Gymnospermae memilki banyak manfaat bagi manusia mulai dari sebagai makanaan
sampai sebagai obat ataupun tanaman hias.

3.2. Saran
Berdasarkan hasil penulisan makalah ini penulis ingin memberikan beberapa saran sebagai
berikut :

1. Masih banyak penelitian lainnya yang dapat dilakukan oleh mahasiswa, khususnya
yang berkaitan denganperan gymnospermae bagi manusia.
2. Diharapkan kepada pemerintah dan masyarakat agar dapat lebih
memaksimalkanpemanfaatan gymnospermae di bidang pengobatan.

30
DAFTAR PUSTAKA

Juhriah. 2014. Buku Ajar Sistematika Tumbuhan. UNHAS Press. Makassar.

Nyeng, Mey. 2010. Gymnospermae. Tersedia pada: https://meynyeng.wordpress.com/2010/06/


01/gymnospermae/ Diakses pada tanggal 03 Maret 2018.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1991. Taksonomi Umum. UGM Press. Yogyakarta.

31