Anda di halaman 1dari 11

SEJARAH DESA TARO

Berbicara Desa Taro tak bisa lepas dengan keberadaan sapi putih di desa tersebut.
Demikian pula dengan kerajinan paras dan Pura Kahyangan Jagat, Pura Gunung Raung. Namun
belakangan ini, selain menyebut sapi putih masyarakat juga mulai menyebut-nyebut nama gajah.
Desa Adat Taro berjarak kurang lebih 40 kilometer dari Denpasar. Bisa ditempuh sekitar
satu jam dengan melewati kawasan hijau dengan udara sejuk. Konon, seperti diyakini masyarakat
setempat Desa Taro erat kaitannya dengan kedatangan Rsi Markandya. Made Puri, yang telah
menjadi Bendesa Adat Taro sejak tahun 1952 menuturkan tentang kedatangan Rsi Markandya.
Beliau berkata “Dari cerita tetua saya, konon desa ini ada berkat Rsi Markandya yang datang dari
Jawa dan dalam tapanya melihat sinar dari kawasan ini,” terangnya. Sinar inilah yang konon
menyebabkan Rsi Markandya datang dan hendak tinggal di kawasan yang dulu disebut Sarwada.
Sarwada merupakan singkatan dari Sarwa Ada (Serba Ada). Lama kelamaan desa ini berubah
nama dan disebut Desa Taro, ucapnya sejurus kemudian.
Secara geografis Desa Taro merupakan bagian dari kawasan Munduk Gunung Lebah,
dataran tinggi yang membujur dari Utara ke Selatan diapit oleh dua aliran sungai yakni sungai Oos
Ulu Luh di sebelah Barat dan sungai Oos Ulu Muani di sebelah Timur. Kedua aliran sungai ini
kemudian menyatu di tepi Barat Desa Ubud yang dikenal dengan nama Campuhan Ubud. Di
bagian Utara Desa Taro berbatasan dengan Desa Apuan, Kintamani, di Timur dengan Desa Sebatu,
Tegallalang, Selatan berbatasan dengan Desa Kelusa, Tegallalang, di Barat dengan Desa Puhu,
Payangan. Wilayah Desa Adat taro terdiri dari 14 Desa Adat yakni, Sengkaduan, Alas Pujung,
Tebuana, Let, Pisang Kaja, Pisang Kelod, Patas, Belong, Puakan, Pakuseba, Taro Kaja, Taro
Kelod, Tatag, dan Desa Adat Ked.

Profil Desa Taro

Sebagaimana dimaklumi adanya suatu nama desa dapat diyakini mempunyai suatu latar belakang atau
sejarah terhadap berdirinya suatu desa, sehingga nama tersebut dipakai. Namun untuk mengungkap sejarah
Desa Taro secara pasti belum bisa dipastikan, karena belum adanya lontar yang bisa menjadikan patokan
dalam menyusun sejarah Desa Taro.

Tetapi berdasarkan ceritera yang diproses di masyarakat yang disampaikan oleh para tokoh secara
pertemuan dan dapat dipercaya sebagai sejarah desa kelahiran Desa Taro dapat diuraikan sebagai berikut;

Nama Desa Taro sendiri muncul di Zaman Markandya Purana!!!!

Seperti sebelumnya, Rsi Markandya kembali ke Jawa Timur dan mengadakan samadi. Tak ada petunjuk
apa pun yang beliau peroleh selain perintah untuk kembali melakukan samadi di pasraman beliau di Bali.
Ketika petunjuk itu beliau turuti, Rsi Markandya melihat seberkas sinar cemerlang memancar dari sebuah
tempat. Ketika didekatinya, sinar tersebut berasal dari sebatang pohon. Di pokok pohon yang menyala
itulah Rsi Markandya mendirikan pura yang sekarang dinamakan Pura Gunung Raung.
Pura dengan pohon yang bersinar tersebut menjadi pusat desa. Karenanya, desa tersebut dinamakan Desa
Taro. Taro berasal dari kata ”taru” yang berarti pohon. Sedangkan nama pura dan pasramannya sama
dengan nama sebelumnya yakni Gunung Raung.

Awal mulanya diambil dari Markandya Purana. Markandya lahir di India dari restu Siwa di abad ke-4.
Beliau menuju Asia Tenggara, Kalimantan Timur, lanjut sampai ke Pulau jawa. Markandya karena diberi
restu oleh Siwa, maka Beliau di beri gelar Maha Yogi Markandya artinya dari pertapaan. Markandya sangat
kuat bahkan digoda Indra pun tapa Beliau tidak tergoyahkan. Akhirnya keluar Siwa memberi Beliau,
Markandya Maha artinya besar dan Yogi artinya pertapa. Karena Markandya minta umur panjang kepada
Tuhan (Siwa) mengetahui hal itu karena Tuhan Maha Tahu, apa yang dikehendaki sudah di ketahui.
Setelah Yogi Markandya ada di Indonesia di abad ke-4 sampailah di Pulau Kalimantan Barat lanjut ke Jawa
Barat. Beliau melihat ke timur sampai Gunung Damalung, di Gunung ini Beliau digoda banyak raksasa,
maka larilah Beliau ke Gunung Dieng, dari Gunung Dieng Beliau mampu mengalahkan raksasa (kejahatan)
yang ada di Gunung Damalung. Akhirnya pergilah Beliau ke Gunung Raung di Jawa Timur. Dari sini
Beliau melihat ke timur, ada kemilau sinar yang di tangkap pandangan Beliau, dari Gunung Raung ini
beliau mengangankan hendak menuju sinar itu. Anehnya pada saat itu sudah ada penduduk yang namanya
wong aga. Beliau mampu mengumpulkan tenaga 400 orang untuk mencari sinar di Timur itu. Perjalanan
Beliau lanjut ke Jawa Timur pada sinar itu ternyata sinar itu berada di Gunung Toh Langkir (Gunung
Agung).

Dari restu Siwa itulah Beliau mendapat kekuatan untuk mengetahui baik yang ada maupun yang belum ada
bahwa Gunung Agung itu puncaknya Himalaya yang ada di India.

Karena hutan yang ada di Pulau Jawa (panjang) sangat kramat banyak pengikut Beliau yang mati, akhirnya
Beliau kembali ke Gunung Raung beryoga, dari yoganya yang ke-2 (dua) dengan panca datu akhirnya
Beliau kembali menngumpulkan Wong Aga mampu sebanyak 800 orang, dan langsung Beliau mengajak
pengikutnya dengan membawa panca datu ke Gunung Agung.

Sampai di lereng Gunung Agung menemukan tumpukan batu, mungkin saja tumpukan batu itu tempat
pemujaan pengikut Beliau yang masih hidup yang pertama. Akhirnya panca datu itu ditanam di sana. Dari
lereng Gunung Agung, Beliau menuju ke barat dengan pengikut-pengikutnya sampailah di Ponorajon
(Penulisan). Sampai di Puncak Penulisan, Beliau berhenti sejenak, melihat ke barat. Dari kekuatan Beliau
tempat yoganya di Gunung Raung Beliau melihat ke timur Gunung Agung.

Melihat ke utara India tempat lahir Beliau, melihat ke selatan untuk persiapan tempat Beliau. Akhirnya
pengikut Beliau disuruh ke selatan membentuk rumah (asrama). Pengikut-pengikut Beliau lama tidak
datang ke Puncak Penulisan, turun Beliau berjalan ke selatan sampai di Pura Sabang Deet. Datanglah
pengikut-pengikut Beliau di sana, ditanya pengikut-pengikutnya mengapa tak datang ke Penulisan?

Karena tidak kurang makan juga minum sehingga tempat itu diberi nama Sarwa Ada (Taro). Dari sanalah
membagi-bagikan tanah perkebunan subak. Sekarang diberi nama Desa Puakan. Lanjutlah Beliau ke Sarwa
Ada (Taro).

Beliau melanjutkan perjalanan ke selatan sampai di sungai Wos campuhan, beryoga Beliau di sana bahwa
Sapta Gangga yang ada di India ada di sana seperti : Gangga, Saraswasti, Serayu, Narmada, Yamuna, Sindu,
sehingga Beliau membuat pelinggih bernama Pura Gunung Luah. Gunung artinya tinggi, Luah artinya
sungai.

Beliau akhirnya melihat ke utara asram Beliau Sarwa Ada Utare artinya Taro sehingga Desa Sarwa ada
disebut Desa Taro. Dari sana Beliau memprelina pengikut-pengikut Beliau yang telah meninggal. Timbul
kata banjar artinya suka-duka. Kembali pada pendeman Beliau di lereng Gunung Agung membangun pura
namanya Besakih yang artinya selamat. Sehingga sekarang disebut Pura Besakih.
Demikianlah awalnya Desa Taro, masih di dalam cerita Pulau Dawa (Pulau Panjang), sehingga Desa Taro
telah ada pada Caka 381 Caka menurut hitungan Masehi ditambah 78+381= 459 M.

Wisata Desa
Taman Wisata Lembu Putih

Desa Taro memiliki keunikan yaitu terdapatnya hewan sapi yang seluruh badannya berwarna putih dan
masyarakat setempat menyebutnya “Lembu Putih”. Hewan ini diyakini memiliki kesucian yang melebihi
hewan-hewan lainnya yang biasa digunakan oleh umat Hindu sebagai sarana upakara, Lembu Putih hanya
terdapat di Desa Taro Kaja, di desa lain mungkin ada tapi pasti berbeda dengan yang ada di Desa Taro ini,
hewan ini dipercaya sebagai "Lembu Nandini" yaitu kendaraan dari "Dewa Siwa". Lembu ini sangat di
sucikan, sehingga masyarakat tidak ada yang berani mengganggu ataupun memperlakukan seperti sapi
biasanya dan mendapatkan perlakuan yang istimewa.
Oh iya, lembu putih tersebut dipercaya memiliki daya magis yang mana dipercaya bisa
menyembuhkan berbagai penyakit. Selain itu lembu putih atau "Lembu Nandini" ialah kendaraan
dari "Dewa Siwa".
Hewan ini sangat di sucikan, sehingga warga sekitar tidak ada yang berani mengganggu ataupun
memperlakukan seperti hewan pada umumnya. Dalam proses menyembuhkan penyakit medis atau
non medis menggunakan cara yang cukup unik hlo Guys. Mereka biasanya mengambil kotoran,
air mani ataupun susunya guna cara pengoobatan.

Hal tersebut mengundang rasa penaasaran para ahli dari berbagai daerah ( domestik maupun
mancanegara ) untuk meneliti kashiat dari kotoran Lembu Putih. Adapun keistimewaan selain dari
warna kulitnya, bahkan warna mata dari Lembu ini juga serasi dengan warna kulitnya yakni
berwarna putih.

Guys, masyarakat Desa Taro sangat meyakini kesucian hewan ini dan mereka tak berani
memelihara secara pribadi apalagi membunuh hewan suci tersebut. Andai kata, ada lembu putih
yang lahir dari peliharaannya dan setelah berumur 6 bulan hewan tersebut diserahkan kepada Desa
untuk merawat.

Dalam inti pembahasan ini, para penduduk di Desa Taro Kaja memperlakukan hewan itu dengan
sangat istimewa, demikian pula dengan keturunan dengan berwarna lain. Selain disucikan, lembu
putih juga digunakankan sebagai sarana pelengkap ( saksi ) upacara Ngasti. Lembu Putih ini
dibawa ke tempat upacara dan dituntun mengelilingi areal atau tempat upacara sebanyak tiga kali.

Keunikan dari Lembu Putih ini membuat masyarakat Taro Kaja ingin menjadikan sebagai salah satu daya
tarik wisata yang dimaksudkan untuk menjaga kelestarian dari lembu ini dan memperkenalkannya ke
masyarakat luas. Tempat atau kandang dari Lembu ini sekarang sudah di tata sangat indah, sangat cocok
digunakan sebagai tempat rekreasi. jika ingin melihat secarang langsung lembu ini silakan datang ke Desa
Taro.

Selain disucikan sapi putih ini juga dimanfaatkan sebagai sarana pelengkap (saksi) upacara
di Bali yaitu Ngasti (dan yang setingkat dengan upacara itu). Lembu (Sapi) Putih ini dibawa ke
tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal atau tempat upacara
sebanyak tiga kali. Upacara ini disebut dengan Purwa Daksina. Rapya menerangkan, untuk dapat
menggunakan sapi putih di desanya, pihak desa menarik biaya sewa. Untuk satu kali upacara, baik
itu jaraknya jauh atau dekat pihak desa menarik ongkos lebih kurang Rp 600 ribu dengan 15 orang
pendamping. Memang, jumlah pendamping tersebut cukup banyak, namun diakuinya hal itu untuk
menjaga hal-hal yang tak diinginkan.

Di tempat penangkaran seluas 3 hektar ini, pengunjung tidak hanya akan melihat lembu
putih.Tempat ini telah ditata sedemikian rupa sehingga pengunjung bisa merasa nyaman.Traveler
dapat melihat aneka tanaman hias dan buah di tempat ini,rumput pun tumbuh dengan
rapi.Tempat ini juga menyediakan balebengong sebagai tempat bersantai.Bagi yang membawa
anak kecil, tersedia pula arena bermain untuk mereka.Area ini juga bisa digunakan sebagai
tempat berkemah.Di Desa Taro traveler juga dapat melihat kebun tanaman obat dan
upacara.Mereka pun memutuskan untuk mulai menanam bibit tanaman langka.

“Kebun tersebut ada di dekat obyek wisata lembu putih. Kami memang sengaja menanamnya
supaya bisa dimanfaatkan oleh warga di sini ataupun warga desa lain yang membutuhkan,” ujar
Wayan Suardika.

Ia mengatakan, masyarakat Desa Taro juga terbuka bagi pengunjung yang ingin mengenal jenis
tanaman obat dan upacara beserta kegunaannya.

Masyarakat di sini memang masih memiliki budaya menanam.Hal ini bisa dilihat dari
pekarangan rumah warga yang ditanami aneka tumbuhan.

Elephant Safari Park Taro Ubud


Kini, Desa Taro tak lagi hanya dikenal dengan sapi putihnya, karena sejak beberapa tahun silam
perangkat Desa Adat Taro telah bekerjasama dengan investor untuk mengembangkan pariwisata
di desanya dengan membuat pariwisata gajah

tempat istimewa untuk menikmati kegiatan wisata naik gajah di Bali dibandingkan tempat
lainnya, arealnya cukup luas terletak di atas lahan 3,5 hektar, taman safari ini diresmikan oleh
menteri Pariwisata tahun 2000, menjadi bagian dari Asosiasi Kebun Binatang Dunia (World Zoo
Association), dan tempat yang diakui dunia sebagai perlindungan binatang memenuhi standard
Internasional, semua binatang diberlakukan dengan baik, sehingga keselamatan, pemeliharaan
adalah menjadi prioritas yang diutamakan.

Naik Gajah di Bali dengan lokasi pada Elephant Safari Park Taro Ubud, anda bisa menyaksikan
pemandangan alam hutan yang masih alami dan asri, tempat rekreasi petualangan ini dikelilingi
oleh hutan yang menjadi cagar alam nasional, sehingga hutan tetap terjaga dengan baik, apalagi
sekarang menjadi salah satu objek wisata di Bali yang digemari. Binatang tinggi besar ini
didatangkan langsung dari habitat aslinya di pulau Sumatra.

Jika anda mengambil paket wisata naik gajah di Bali, maka sudah termasuk tiket masuk ke
Elephant Safari Park Taro Ubud, yang mana saat di lokasi anda bisa melakukan sejumlah
aktifitas seperti berfoto dengan gajah, memberi mereka makan, juga termasuk pertunjukan gajah
pintar yang mampu melukis, bermain basket dan bermain bola. Atraksi tersebut akan menjadi
pemandangan menarik, apalagi untuk anak-anak anda tercinta.

Selain itu Elephant Safari Park Taro Ubud dilengkapi museum dengan berbagai koleksi tentang
gajah, termasuk kerangka dari pendahulunya. Sehingga bisa belajar lebih banyak tentang asal-
usul tentang binatang tersebut. selain berwisata juga untuk kepentingan edukasi, tersedia juga
cinderamata dengan produksi aksesoris dari binatang tersebut. Jadi jika anda memilih
kenyamanan, pelayanan, tempat bersih , fasilitas bintang 5, maka harga yang ditawarkan akan
tidak menjadi masalah.
Desa Wisata Delod Sema

Pura Gunung Raung Taro, Bali

Ini salah satu pura tertua di Bali. Letaknya di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Pura
ini erat sekali kaitannya dengan perjalanan Rsi Markandya, seorang resi dari Pasraman Gunung Raung,
Jawa Timur, ke Bali untuk menyebarkan ajaran Sanatana Dharma (Kebenaran Abadi) yang kini dikenal
dengan sebutan Hindu Dharma.
Di desa Taro, Pura Gunung Raung ini terletak persis di tengah-tengah desa dan menjadi pembatas Banjar
Taro Kaja (utara) dan Banjar Taro Kelod (selatan). Ini adalah sesuatu yang unik, sebab pada umumnya
letak pura di Desa Kuno di Bali adalah di daerah hulu dan di daerah hilir desa.

Keberadaan Pura Gunung Raung di Desa Taro berhubungan dengan perjalanan Dang
Hyang Markandya, seorang Rsi dari Pasraman Gunung Raung Jawa Timur ke Bali. Sebagai
seorang ”dang hyang” yang sudah berstatus orang suci tentunya beliau terpanggil untuk melakukan
penyebaran pendidikan kerohanian yang dalam Sarasamuscaya 40 disebut ”panadahan upadesa”.
Dang Hyang Markandya adalah orang suci yang sudah apta atau dapat kepercayaan umat. Dang
Hyang Markandya pun menjadi sosok orang suci yang senantiasa dijadikan tumpuan untuk
memohon penyucian diri oleh umat. Dalam perjalanan sucinya, sebagai cikal bakalnya beliau
mendirikan Pura Basukian sebagai pura yang paling awal didirikan di Pura Besakih. Setelah itu
barulah Dang Hyang Markandya berasrama di Taro yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya
Pura Gunung Raung di Desa Taro tersebut.
Pura Gunung Raung ini terletak di antara Banjar Taro Kaja dan Banjar Taro Kelod. Pura
ini menjadi perbatasan dari kedua banjar tersebut. Desa Taro ini terletak di Kecamatan Tegallalang
Kabupaten Gianyar. Pura Gunung Raung ini terletak di hilir atau teben dari Banjar Taro Kaja dan
di hulu atau luwan Banjar Taro Kaja. Pendirian pura inilah yang ada kaitannya dengan riwayat
perjalanan Rsi atau Dang Hyang Markandya dari Jawa Timur ke Bali.
Dalam lontar Bali Tatwa diceritakan perjalanan Rsi Markandya dari Jawa Timur ke Bali.
Pada mulanya Rsi Markandya berasrama di Damalung Jawa Timur. Beliau mengadakan perjalanan
suci (tirthayatra) ke arah timur dan sampailah beliau di Gunung Hyang. Di tempat ini beliau tidak
mendapatkan tempat yang ideal. Selanjutnya, Rsi Markandya melakukan perjalanannya ke arah
timur lagi. Dalam perjalanan menuju ke timur itu beliau menemukan tempat di Gunung Raung
Jawa Timur. Di tempat inilah beliau membangun asrama untuk beberapa lama. Di Asrama Gunung
Raung, Rsi Markandya melakukan samadi. Dalam samadinya beliau mendapatkan petunjuk agar
beliau mengadakan perjalanan ke Pulau Bali. Pada suatu hari yang baik beliau mengadakan
perjalanan ke Bali diikuti oleh 8.000 pengikut.
Sampai di suatu tempat dengan hutannya yang lebat beliau berkemah dan membangun
areal pertanian. Namun entah apa sebabnya sebagian besar pengikut beliau kena wabah penyakit
dan meninggal. Tinggal hanya 4.000 pengikut saja. Rsi Markandya kembali ke Jawa Timur mohon
petunjuk pada Sang Hyang Pasupati. Setelah melalui samadi Rsi Markandya mendapatkan
petunjuk bahwa kesalahannya adalah tidak mengaturkan sesaji untuk mohon izin merabas hutan.
Setelah itu Rsi Markandya kembali menuju Bali dan terus menuju Gunung Agung atau disebut
juga Ukir Raja. Beliau diikuti lagi oleh pengiring yang disebut Wong Age.
Sampai di Gunung Agung beliau mengadakan upacara dengan menanam Panca Datu di
Besakih yaitu di Pura Basukian sekarang. Setelah itu barulah beliau membangun lahan pertanian
dengan hati-hati untuk mengembangkan kehidupan agraris. Pengembangan areal pertanian terus
dilakukan oleh rombongan Rsi Markandya sampai ke Gunung Lebah. Sampai ke Desa Puakan, di
desa inilah beliau mengadakan penataan kehidupan petani seperti pembagian tanah, dan lain - lain.
Desa itulah terus bernama Desa Puakan. Beliau juga mengadakan pembukaan areal pertanian
sampai di Desa Sarwa Ada. Setelah semua pengikutnya mendapatkan areal pertanian untuk
mengembangan kehidupan agraris lalu beliau membangun suatu pasraman yang mirip dengan
pasramannya di Gunung Raung Jawa Timur. Setelah itu kembali Rsi Markandya mendapatkan
beberapa kesulitan. Untuk itu Rsi Markandya kembali ke Jatim dan mengadakan samadi. Dalam
samadi itulah beliau mendapat petunjuk agar melakukan samadi di pasraman beliau di Bali.
Setelah kembali ke Bali lalu beliau mengadakan samadi ternyata Rsi Markandya melihat ada sinar
di suatu tempat. Nyala itu ternyata berasal dari sebatang pohon yang menyala. Di pohon yang
menyala itulah Rsi Markandya mendirikan Pura Gunung Raung sekarang.
Oleh karena berasal dari pohon yang menyala akhirnya tempat itu dinamakan Desa Taro
yang berasal dari kata ”taru” yang artinya pohon. Pura dan pasramannya dibuat mirip dengan yang
ada di Gunung Raung, karena itulah pasraman dengan puranya diberi nama Pura Gunung Raung
di Desa Taro sekarang. Di Desa Taro ada sapi putih yang konon keturunan Lembu Nandini. Sampai
tahun 1974 keturunan sapi putih itu masih ada beberapa ekor saja. Sapi putih itu sangat
dikeramatkan oleh penduduk di Desa Taro. Dang Hyang Markandya adalah seorang rsi yang
menganut paham Waisnawa. Tetapi dengan adanya sapi putih itu dapat ditarik kesimpulan bahwa
Rsi Markandya juga amat menghormati keberadaan paham Siwaistis yang memang merupakan
suatu sekte dalam agama Hindu. Sekte itu adalah sampradaya atau perkumpulan perguruan
nonformal untuk mendalami ajaran agama Hindu yang merupakan agama yang terbuka untuk siapa
saja. Masing-masing sampradya memang memiliki ciri khasnya sendiri seperti Ista Dewata yang
dipilih dan sistem Adikari atau metode pendalaman kerohanian. Tetapi dasarnya semuanya sama
yaitu kitab suci Weda.

Air Trjun Yeh Pekat

Yeh Pikat Adalah Salah Satu Sumber Air Yang Tersedia Di Sekitar Desa Taro. Ini Bukan Sekadar Air
Biasa Musim Semi, Karena Warga Desa Percaya Itu Memiliki Kekuatan Penyembuhan Dan Pemurnian.
Aliran dari Yeh Pikat ini juga memiliki Peran Penting Untuk Ritual Lokal Dan Upacara, Terutama
Selama Kremasi. Salah Satu Dari Sekian Banyak Ritual Dalam Proses Krimasi Adalah Untuk
Mendapatkan Air Suci Dari Mata Air Alami Untuk Memurnikan Orang Mati Sehingga Roh Dapat
Dimurnikan Dan Bersatu Dengan Sumber Kehidupan Ini "Ida Sanghyang Widhi Wasa" Tuhan Yang
Maha Kuasa. Upacara Ini Disebut Panahan, Di Mana Semua Simbolik Meninggal Dibawa ke Sungai Dan
Mendapatkan Pemurnian Yang Menarik Upacara Di The Yeh. Proses Ini Didampingi Angklung Dan
Gong
Sumber :

http://taro.desa.id/desa-taro/

http://saskariana.blogspot.co.id/2013/06/taman-wisata-lembu-putih_7.html

https://obyekwisataterlengkap.blogspot.co.id/2016/12/lembu-putih-gianyar-wisata-langka.html

https://www.tripadvisor.co.id/Attraction_Review-g608497-d13375126-Reviews-
Delodsema_Traditional_Village-
Tegalalang_Bali.html#photos;geo=608497&detail=13375126&ff=298959803&albumViewMode=hero&
aggregationId=101&albumid=101&baseMediaId=298959803&thumbnailMinWidth=50&cnt=30&offset=
-1&filter=7&autoplay=