Anda di halaman 1dari 8

Legal aspects of disaster nursing

1. Licensure
2. Good Samaritan law
3. Good rapport
4. Standard care
5. Standing order
6. Written consent for operation and procedures
7. Correct identity
8. Drug maintenance
9. Self discharge of the patient
10. Documentation
11. Protection of patient property
12. Reporting

ETIKA berdasarkan NORMA PROFESI


13. 1.menghargai klien
14. –Manusia utuh dan unik (umur, status social, latar belakang budaya, dan agama)
15. –menghargai keputusan yg dibuat klien & klg
16. 2.memberikan yang terbaik asuhan keperawatan yang bermutu
17. 3.mempertanggung jawab dan gugat pelayanan keperawatan yang diberikan
18. 4.Tidak menambah permasalahan
19. 5.bekerja sama dgn teman sejawat, tim kesehatan utk yan keperawatan terbaik

ASPEK LEGAL

SAMARITAN LAW menolong karena kerelaan menolong yang membutuhkan


•UU PENANGGULANGAN BENCANA uu NO 24 TH 2017
–TINDAKAN SAAT TANGGAP BENCANA
•UU KESEHATAN UU No. 36 Thn 2009
–(63) Pengobatan dan perawatan menggunakan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan
–Psl 32: Pada kondisi darurat pelayanan kesehatan diberikan tanpa uang muka
–Psl 53 (3):pelayanan kesehatan hrs mendahulukan pertolongan penyelamatan nyawa pasien
dibandingkan kepentingan lainnya
–Psl 58 (3): tuntutan ganti rugi tidak berlaku jika utk menyelamatkan nyawa dalam keadaan
darurat
–Psl 82; 83: pelayanan pada kondisi darurat dan bencana

•UU Rumah Sakit UU No 44 Thn 2009


–Psl 29: memberikan yan gadar dan bencana sesuai dgn kemampuan pelayanannya
–Psl 29: Memberikan yan gadar tanpa uang muka
–Psl 34: hak pasien
UU No 38 Th 2014 PASAL 28 (AYAT 3):
Praktik keperawatan didasarkan pada: kode etik, standar pelayanan, standar profesi, dan SOP
PASAL 35:
(1)Dalam kondisi darurat perawat dapat melakukan tindakan medis dan pemberian obat sesuai
kompetensinya
(2)Tujuan menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan lebih lanjut
(3)Keadaan darurat merupakan keadaan mengancam nyawa atau kecacatan
(4)Keadaan darurat ditetapkan oleh perawat dengan hasil evaluasi berdasarkan keilmuannya

UU No 38 Th 2014
PASAL 35:
(1)Dalam kondisi darurat perawat dapat melakukan tindakan medis dan pemberian obat sesuai
kompetensinya
(2)Tujuan menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan lebih lanjut
(3)Keadaan darurat merupakan keadaan mengancam nyawa atau kecacatan
(4)Keadaan darurat ditetapkan olehperawat dg hasil evaluasi berdasarkan keilmuannya
(5)Ketentuan keadaan darurat diatur Permen
Menurut Wagner (2015) Perawat menggunakan 4 prinsip etika yaitu otonomi, kebaikan,
nonmaleficence, dan keadilan, bersama dengan aturan moral seperti kesetiaan dan kejujuran.

PENTINGNYA NILAI DAN MORAL


PROFESI PERAWAT DALAM
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
BENCANA ALAM
Posted on November 29, 2016 by nersemergency

PENTINGNYA NILAI DAN MORAL PROFESI PERAWAT DALAM PENANGGULANGAN


BENCANA ALAM

1. Latar Belakang

Bencana merupakan hal yang tidak di prediksi sebelumnya, dan tidak mengenal waktu, tempat,
dan siapa yang akan menjadi target utamanya. Pada umumnya bencana terjadi secara luas, dan
dalam skala yang besar, sehingga korban yang terkena bencana tidak dapat dihitung jumlahnya.
Hal ini akan mengakibatkan kerugian materiil yang cukup besar pada manusia. Bencana
diartikan sebagai kemampuan yang mampu merusak fungsi sosial dengan kerugian secara
meluas yang berakibat pada manusia, material atau lingkungan yang melebihi kepasitas dan
memerlukan bantuan dari luar (Hodge. 2015).

Disamping menimbulkan kerusakan pada alam, bidang kesehatan tidak luput dari masalah antara
lain lumpuhnya pelayanan kesehatan, korban nyawa, korban luka, masalah gizi, penyakit
menular, masalah ketersediaan air bersih, masalah lingkungan, dan stress atau gangguan jiwa.
Jika hal ini dibiarkan berlarut tanpa adanya solusi untuk mengtatasinya, maka masalah yang
terjadi akan semakin bertambah. Ketika terjadi bencana, pemikiran yang normal dan prosedur
yang biasanya dilakukan secara rutin tidak akan berlaku lagi (Wagner. 2015)

Perawat merupakan salah satu aspek penting dalam penanggulangan bencana. Perawat bisa
dengan mudah berhubungan langsung dengan masyarakat karena banyaknya jumlah perawat
yang terseedia, sehungga perawat menjadi ujung tombak dalam pelayanan kesehatan, salah
satunya penanggulangan bencana. Perawat sebagai profesi yang pekerjaanya selalu berada dalam
situasi yang menyangkut hubungan antar manusia, terjadi proses interaksi yang saling
mempengaruhi dan memberikan dampak pada pasien tersebut (Range & Rotherham, 2010).
Pada saat terjadi bencana, semua alur yang terjadi akan berubah secara total, termasuk alur
kesehatan. Pada saat tidak terjadi bencana, seorang perawat akan memprioritaskan pasien yang
sedang mengalami siatuasi yang gawat darurat terlebih dahulu. Hal ini berkebalikan ketika
terjadi suatu bencana dimana yang menjadi pritotas adalah korban bencana yang notabene
mengalami sedikit luka dan yang mendapat luka serius cenderung ditinggal. Peran perawat
adalah melayani kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, tetapi peran ini menjadi tidak penting
ketika terjadi bencana dimana kesehatan dan keselamatan masyarakat menjadi sangat rentan
(Wagner. 2015).

Hal ini merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan profesionalisme
dalam melakukan penanggulangan bencana dengan berdasarkan pada nilai dan moral , sehingga
diperlukan perawat yang mampu bertinteraksi dengan masyarakat yang masih menjunjung tinggi
nilai dan moral. Dalam situasi tersebut, dibutuhkan aplikasi nilai dan moral dalam diri seorang
perawat yang baik sehingga tercipta peran perawat yang mampu menghargai nilai dan moral
yang dimiliki dari pasien tersebut (Shahriari et al., 2013).

Dalam pengambilan keputusan, nilai merupakan aspek penting yang harus diperhatikan karena
akan mempengaruhi persepsi dan motivasi seseorang. Perawat harus menciptakan suasana saling
menghormati akan nilai dan kebiasaan yang dijunjung oleh masyarakat. Suasana dalam
menciptakan penghargaan akan nilai dan moral dari individu pasien tersebut meliputi
penghargaan akan hidup, penghargaan akan martabat, dan penghargaan akan hak klien (Naden &
Eriksson, 2005).

Perawat yang bekerja di lapangan terutama wilayah yang terkena bencana tidak hanya
bergantung pada pengetahuan teknik dan skill, tetapi juga pada nilai, kepercayaan, dan etik, yang
dimana hal ini akan mendasari dalam pembuatan keputusan. Kompetensi yang didasarkan pada
etik selalu menjadi bagian dari kualitas perawatan seorang tenaga kesehatan, termasuk perawat
dan dokter (Jormsri,2005).

Di dalam penentuan prioritas korban pada bencana, perawat melakukan pemilahan yang sangat
berbeda dengan pemilihan prioritas yang terjadi di klinik. Pada penentuan prioritas di klinik
pasien dengan kondisi gawat darurat yang akan menjadi prioritas perawatan, sedangkan pada
bencana korban dengan luka minimum yang akan menjadi prioritas utama. Tujuan dari
pemilahan prioritas pada bencana adalah memaksimalkan keselamatan untuk korban terbanyak
melalui penggunaan sumberdaya yang paling efisien (Jacqueline M. 2015). Keadaan inilah yang
bisa mengakibatkan yang disebut moral distress yang artinya terjadi suatu pertentangan pada diri
perawat dan tenaga kesehatan lain baik secara psikologi, emosional, dan fisik ketika tindakan
mereka tidak sesuai dengan nilai etika dan prinsip atau komitmen perawat (McCarthy, 2015).
Oleh karena terjadi pertentangan nilai dan moral dalam hal penentuan prioritas pasien pada
bencana dimana korban yang dengan luka minimum yang di dahulukan yang korban dengan luka
yang parah cenderung dibiarkan. Hal ini akan menjadi suatu pertentangan baik dalam diri
perawat maupun masyarakat. Mengingat pentingnya saling menghormati tentang nilai dan norma
yang ada dimasyarakat, maka penulisi ingin menganalisis lebih lanjut tentang pentingnya nilai
dan norma bagi profesi keperawatan dalam membuat keputusan secara etis di wilayah yang
terjadi bencana.
2. Pembahasan

Nilai dapat diartikan sebagai sesuatu yang menjadi dasar orang atau masyarakat melakukan
sesuatu. Nilai sendiri menjadi suatu standart atau tolak ukur seseorang dalam bersikap atau
berperilaku. Nilai merupakan pandangan dan evaluasi individu atau masyarakat terhadap apa
yang baik dan diinginkan ataukah sesuatu itu tidak baik dan tidak diinginkan (Rich & Butts,
2010). Nilai juga dibentuk dari latar belakang budaya,suku bangsa, trqadisi dannilai yang
dipegang oleh keluartga (Shahriari et al., 2013). Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai
merupakan suatu cara pandang manusia terhadap sesuatu yang membuat manusia dapat
melakukan sesuatu demi sesuatu yang menurutnya berharga. Sedangkan untuk nilai profesi
keperawatn merupakan hal yang diperoleh melalui informasi, lingkungan, dan budaya sekitar.

Nilai sendiri menurut Wirght dalam Jormsri et al (2005). Mengatakan bahwa ada 3 cara nilai
mempengaruhi pembuatan keputsan etik : (1) kerangka nilai dari suatu masalah dan penilaian
masyarakat atas dasar masalah nilai, (2) alternatif pemecahan masalah berdasarkan nialai yang
berlaku untuk potensi tindakan mereka, (3) nilai mengarahkan penialaian atau penalaran dalam
menyelesaikan suatu masalah. Shariari et al., (2013) mengatakan bahwa terdapat 10 komponen
dalam nilai yaitu; (1) Human dignity (martabat manusia) adalah dimana invidiu pasien, keluarga
pasien dan lingkungan pasien dihormati (2) Social Justice (keadilan sosial) merupakan
persamaan dalam mendapatkan akses kesehatan dan diperlakukan sama baik dari status ekonomi,
sosial, dan status budaya, (3) Altruism artinya adalah perawat berperan dalam memberikan
bantuan kepada klien, bersedia menghormati dan menghargai dalam usaha mendapatkan
kesehatannya kembali, (4) Autonomi dalam pengambilan keputusan artinya perawat berperan
dalam pengambilan keputusan , baik dalam menerima ataupun menolak suatu tindakan,
intervensi dan perawatan. Sehingga perawat dapat membantu pasien mendapatkan haknya dalam
menerima informasi tentang diagnosa, pengobatan, dan pencegahan dalam pengambilan
keputusan yang tidak tepat, (5) Precision and accuracy in caring merupakan keahlian klinisi dan
pengetahuan perawat untuk memenuhi kebutuhan pasien, meningkatkan kesehatan mereka dan
meredakan dari rasa nyeri dan penderitaan, (6) Responsibilty berkaitan dengan komitmen,
tanggung jawab pemenuhan hak pasien, dan menghormati keputusan pasien, (7) Human
relationship meliputi asuhan keperawatan termasuk tindakan efektif dalam suatu hubungan yang
berdasar saling menghormati dan memahami, (8) Individual and profesional competency
merupakan erat kaitannya dengan keperawatan sebagai suatu profesi yang profesional dan
berkompeten sehingga keperawatan dapat tumbuh dan berkembang, (9) Sympathy merupakan
erat kaitannya dengan memahami pasien dan kebutuhan keluarganya dan memberikan perawatan
berdasar komunikasi yang adil, (10) Trust erat kaitannya dengan kejujuran dalam perkataan dan
perbuatan.

Berbeda dengan nilai, moral merupakan tolak ukur dari benar atau salah sebuah perilaku manusia
dalam mengambil suatu keputusan untuk melakuykan suatu tindakan. Oleh Aristotle dalam
Broadi (2002) mengatakan bahwa penalaran moral adalah suatu kebijaksanaan yang berfokus
untuk pencapaian yang baik. Penalaran ini berfokus pada pencapaian yang baik untuk
mengetahuai cara bertindak dalam situasi tertentu, melakukan pertimbangan yang matang, yang
konsisten dan mempunyai karakter yang bagus. Pertimbangan, penilaian, dan keputusan adalah
langkah menuju perubahan dalam pengetahuan menuju suatu tindakan (Broadie dalam Rich &
Butts, 2010).

Ada 3 kompetensi moral menurut Jormsri et al yaitu (1) moral perception diartikan sebagai
dimensi afektif dimana kesadaran dan ekspresi individu terhadap nilai-nilai, (2) moral judgement
adalah dimensikognitif dimana individu menilai sersuatu berdasarkan penalaran yang wajar dan
berpikir kritis, (3) moral behavior adalah dimensi perilaku yang melibatkan penerapan individu
dari nilai-nilai untuk bertindak. Terdapart 7 indikator tentang moral keperawatan menurut
Jormsri et al (2005) yaitu (1) loving kindness ekspresi manusia dengan berbagai karakter, (2) (2)
compassion adalah rasa kasihan/iba terhadap penderitaan oranglain, (3) Sympathetic joy adalah
suatu perasaan bahagia saat melihat orang bahagia ketika berhasil memberikan bantuan dan
dukungan kepada meraka yang bertahan dari penderitaan, (4) equanimity adalah menerima
mereka apa adanya, (5) responsibility dalam profesi perawat adalah perawat harus bertanggung
jawab kepada pasien sebagai klien, (6) discipline adalah perawat harus lebih berhati-hati dalam
menata kehidupan mereka untuk perkembangan personal dan dapat mengontrol diri mereka
dengan membantu daripada mengeksploitasi tindakan mereka, (7) honesty berfokus pada
menghargai manusia dengan memegang kebenaran, menghindari penipuan dan berusaha keras
berbuat baik kepada oranglain, (8) respect for human values, dignity and rights, adalah melihat
manusia sebagai tetangga dan penduduk dari dunia dan berpikir mereka bahwa meraka sama dan
unik.

Kompetensi perawat adalah kemampuan perawat dalam menguasai ketrampilan keperawatan


dasar, termasuk didalamnya meliputi (1) komptensi klinis meliputi assesment dan kemampuan
bertindak, penilaian klinis dan kemampuan skill, (2) Kompetensi umum meliputi komunikasi,
berfikir kritis, dan kemampuan pemecahan masalah, (3) kompetensi moral yang meliputi
kemampuan individu untuk hidup dengan cara yang sesuai dengan kode dan peran moral serta
bertanggung jawab.

Secara garis besar perawat harus membuat keputusan berdasarkan nilai dan moral, terutama
perawat yang ada di klinik. Hal ini juga berlaku ketika perawat harus mengambil keputusan
ketika berada dalam suatu bencana dengan mempertimbangkan nilai dan moral. Dalam
mengambil keputusan di wilayah bencana akan terasa sulit karena nilai dan norma semua
berubah secara total. Seperti yang dikatakan oleh Wagner et al (2015) bahwa ketika perawat
harus mengganti sistem triase yang secara tradisional ke sistem triase bencana, perawat akan
merasakan suatu pertentangan karena tidak sesuai dengan norma dan nilai yang selama ini
dilakukan oleh perawat ketika di klinik.

Selain tidak sesuai dengan nilai dan norma perawat, tidak adanya kejelasan panduan dan
standart, yang dimana bisa menyulitkan perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam melakukan
pembuatan keputusan. Lewat pembekalan insiden kritis (CSID) pemberi layanan kesehatan bisa
berdiskusi tentang kejadian dan memastikan personel triase bahwa distress moral adalah normal
dan reaksi terkejut ketika nilai etik yang mereka lakukan setiap hari berbanding terbalik.
Disamping terdapat bahaya yang bisa dengan cepat terjadi pada saat bencana, perawat dalam
mengambil keputusan juga mengalami kesulitan hal ini diakibatkan karena perawat mendapat
tekanan baik yang bersifat emosional, psikologi, spiritual dan moral. Selain itu, dengan adanya
sistem triase yang berbeda perawat secara psikologis ada pertentangan dalam pembuatan
keputusan.

3. Kesimpulan

Perawat disamping rentan terhadap penyakit menular juga sangat rentan pada suatu konflik nilai
dan moral hal ini disebabkan karena perawat lebih banyak berinteraksi langsung dengan pasien
daripada tenaga kesahatan lain. Untuk dapat membuat suatu keputusan yang tidak melawan
nilai yang ada baik dalam diri perawat maupun masyarakat, perawat harus bekerja profesional
dengan disertai moral kompeten meliputi yang diutarakan loving kindness, compassion,
sympathetic joy, equanimity, responsibility, discipline, honesty, respect for human dignity, values
and rights. Secara garisd besar perawat haruslah menghargai dan menghormati pasiennya dengan
memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas sesuai kode etik keperawatan PPNI
sehingga konflik-konflik nilai dan moral tidak akan terjadi

4. Saran

Saat ini banyak perawat yang mengabaikan etika kepada pasien. Apalagi perawat-perawat muda
saat ini sudah hilang rasa kepekaan terhadap nilai dan moral pasien. Orientasi perawat saat ini
hanyalah mencapai materi sebanyak-banyaknya sehingga etika tersebut terabaikan. Perawat saat
ini sudah mulai adanya kemerosotan atau penurunan kualitas dari segi pelayanan. Padahal
perawat justru yang ditonjolkan adalah pelayanan caring ini yang membedakan dengan profesi
lain. Padahal perawat adalah profesi yang paling banyak dan lama berinterkasi dengan pasien.
Perawat sendiri sekarang kurang meng-update ilmu pengetahuan melalui jurnal-jurnal terbaru
tentang keperawatan sehingga materi-materi konvensional yang masih mereka lakukan sehingga
keperawatan tidak berkembang.
References

Beauchamp TL, Childress JF. . (2008). The Principle Of Biomedical Ethics The Principle of
Biomedical Ethics. UK Oxford: Oxford University Press

Hodge Angela J., MSN, RN, ACNS-BC, CEN CHEP, EMT-P, Elaine L. Miller, PhD, RN,
CRRN, FAAN, FAHA,, & and Mary Kate Dilts Skaggs, MSN, RN, NE-BC, Cincinnati and
Portsmouth, OH. (2015). NURSING SELF-PERCEPTIONS OF EMERGENCY
PREPAREDNESS AT A RURAL HOSPITAL. Journal Emergency Nursing(0099-1767). doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.jen.2015.07.012

Jormsri, P., Kunaviktikul, W., Ketefian, S., & Chaowalit, A. (2005). Moral competence in
nursing practice. Nurs Ethics 14. doi: 10.1191/0969733005ne828oa

McCarthy Jhon, Chris Gastmans. (2015). Moral distress: A review of the argument-based
nursing ethics literature. Nursing Ethic,.22(1),131-152

Range, L. M., & Rotherham, A. L. (2010). Moral distress among nursing and non-nursing
students. Nursing Ethics, 17(2), 225-32. doi:http://dx.doi.org/10.1177/0969733009352071

Rich and Butts, (2010). Foundation of Ethical Nursing Practice. Joane and Barnett Learning :
LCC

Shahriari, M., Mohammadi, E., Abbaszadeh, A., & Bahrami, M. (2013). Nursing ethical values
and definitions:A literature review. Iranian Journal of Nursing and Midwifery Research, 8(1).

Wagner Jacqueline M., BSN, RN,CEN, and Michael D. Dahnke, PhD, Pomona, NJ, and
Philadelphia, PA. (2015). NURSING ETHICSAND DISASTER TRIAGE: APPLYING
UTILITARIAN ETHICAL THEORY. Emergency Nurse Association, 41(300), 6.