Anda di halaman 1dari 27

Tugas Mata Kuliah Komunikasi Terapeutik

“Komunikasi pada Masalah Psikososial”

Disusun Oleh:

1. Amrina Rasyada 220120170012


2. Yori Yolanda 220120170033
3. Riza Arisanty Latifah 220120170035
4. Ahmad Mumtaz Tauba 220120170059

MAGISTER KEPERAWATAN PEMINATAN JIWA


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Psikososial merupakan suatu kondisi pada individu yang mencakup aspek psikis dan

sosial atau sebaliknya (Hoeksema, 2015). Psikososial menunjuk pada hubungan yang dinamis

antara faktor psikis dan sosial, yang saling berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain.

Psikososial sendiri berasal dari kata psiko dan sosial. Kata psiko mengacu pada aspek

psikologis dari individu (pikiran, perasaan dan perilaku) sedangkan sosial mengacu pada

hubungan eksternal individu dengan orang-orang di sekitarnya. Istilah psikososial berarti

menyinggung relasi sosial yang mencakup faktor-faktor psikologis (Chaplin, 2011).

Gangguan psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu baik yang

bersifat psikologis ataupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik dan dianggap

berpotensi cukup besar sebagai faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa atau gangguan

kesehatan secara nyata, atau sebaliknya masalah kesehatan jiwa yang berdampak pada

lingkungan sosial (Keliat, et all., 2011). Salah satu terapi dalam mengatasi masalah pasien

dengan psikososial yaitu melalui terapi komunikasi.

Komunikasi merupakan landasan interaksi kita dengan orang lain. Dalam kominikasi

terjadi pertukaran informasi yang baik dan efektif untuk membantu mereka melihat apa yang

dipikirkan dan bagaimana perasaannya. Hal ini membantu orang saling memahami dengan

lebih baik dan membawa mereka lebih dekat satu sama lain. Sehingga komunikasi merupakan

proses interaksi antara perawat dan pasien yang sangat penting dalam proses asuhan

keperawatan (Markides, 2011).


Komunikasi pada hakikatnya merupakan suatu proses sosial. Sebagai proses sosial,

dalam komunikasi selain terjadi hubungan antar manusia juga terjadi interaksi saling

mempengaruhi. Dengan kata lain komunikasi adalah inti dari semua hubungan sosial. Apabila

dua orang atau lebih telah mengadakan hubungan sosial, maka sistem komunikasi yang mereka

lakukan akan menentukan apakah sistem tersebut dapat mempererat atau meregangkan

hubungan, menurunkan atau menambah ketegangan serta menambah kepercayaan atau

menguranginya (Suryani, 2016). Sehingga dalam proses interaksi sosial untuk memahami,

mempengaruhi, membina hubungan saling percaya diperlukan komunikasi terapeutik.

Komunikasi terapeutik merupakah salah satu intervensi dalam keperawatan,

komunikasi terapeutik merupakan kunci dalam membina hubungan saling percaya antara

perawat dengan pasien. Komunikasi tersebut memegang peranan penting dalam mengatasi

masalah pasien dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses keperawatan

(Hidayat & Ekaputri, 2015). Sedangkan menurut Afnuhaji (2015), Komunikasi terapeutik

merupakan media utama yang digunakan untuk mengaplikasikan proses keperawatan dalam

lingkungan kesehatan jiwa. Keterampilan perawat dalam berkomunikasi terapeutik

mempengaruhi keefektifan banyak intervensi dalam keperawatan jiwa dan bertujuan

membantu klien untuk menjelaskan dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat

mengambil tindakan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kounikasi terapeutik merupakan

proses komunikasi antara perawat dengan pasien yang kegiatannya bertujuan untuk

kesembuhan pasien.

Tujuan komunikasi terapeutik yang dilakukan pada pasien yaitu untuk realisasi diri,

penerimaan diri dan peningkatan penghormatan, kemampuan membina hubungan

interpersonal yang tidak superfisial dan saling bergantung dengan orang lain, peningkatan
fungsi dan kemapuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan yang realistis,

peningkatan identitas dan integritas diri (Suryani, 2016). Dalam realisasi diri perawat berperan

sebagai media pemberi layanan terapeutik yang penting, dan mendorong untuk

memberdayakan pasien dan keluarganya (dukungan keluarga), serta menanamkan harapan

pada keluarga dan pasien sehingga keberadaan pasien tidak dipersepsikan sebagai beban oleh

keluarga (Fisher, 2011). Selain itu perawat harus mampu membina hubungan interpersonal,

karena komunikasi interpersonal perawat dengan pasien akan membantu kesembuhan pasien

(Swanburg, 2016).

Komunikasi terapeutik dalam pelaksanaannya memiliki beberapa tahapan. Suryani

(2015) memaparkan struktur dalam proses komunikasi terapeutik terdiri dari 4 tahap yaitu,

pertama tahap persiapan (pra interaksi): konselor menggali perasaan, mengidentifikasi

kelebihan dan kekurangannya. Konselor mencari informasi tentang klien dan kemudian

merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Kedua, tahap perkenalan

(orientasi): Membina rasa saling percaya, merumuskan kontrak bersama klien, menggali

pikiran, merumuskan tujuan. Ketiga, tahap kerja: Konselor dan klien bekerja sama untuk

mengatasi masalah yang dihadapi klien (eksplorasi, refleksi, berbagi persepsi, memfokuskan

dan menyimpulkan). Keempat, tahap terminasi (sementara atau akhir): Evaluasi, tindak lanjut

terhadap interaksi, membuat kontrak untuk pertemuan selanjutnya.

Setiap tahapan dalam komunikasi terapeutik memiliki teknik dalam berkomunikasi,

menurut Stuart (2013); Morissey & Callaghan (2011), ada beberapa teknik komunikasi

terapeutik, diantaranya: diam, offering self (menawarkan diri), pertanyaan terbuka, refleksi,

pengulangan, konfrontasi, verbalizing the implied, observasi, klarifikasi, exploring, giving

Recognition, focusing dan humor. Sehingga dalam makalah ini, kelompok akan membahas
bagaimana teknik komunikasi pada tiap tahapan dalam komunikasi terapeutik pada pasien

dengan masalah psikososial.

1.2 Tujuan

1.2.1 Mampu menganalisa research terkait komunikasi pada masalah psikososial

1.2.2 Mampu menjelaskan hasil analisa komunikasi pada masalah psikososial secara tepat
BAB II

TEORI DAN KONSEP

2.1 Definisi Psikososial

Hoeksema (2015) mendefinisikan Psikososial sebagai suatu kondisi pada individu

yang mencakup aspek psikis dan sosial atau sebaliknya. Psikososial menunjuk pada

hubungan yang dinamis antara faktor psikis dan sosial, yang saling berinteraksi dan

memengaruhi satu sama lain. Psikososial sendiri berasal dari kata psiko dan sosial. Kata

psiko mengacu pada aspek psikologis dari individu (pikiran, perasaan dan perilaku)

sedangkan sosial mengacu pada hubungan eksternal individu dengan orang-orang di

sekitarnya. Istilah psikososial berarti menyinggung relasi sosial yang mencakup faktor-

faktor psikologis (Chaplin, 2011).

Gangguan psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu baik yang

bersifat psikologis ataupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik dan dianggap

berpotensi cukup besar sebagai faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa atau gangguan

kesehatan secara nyata, atau sebaliknya masalah kesehatan jiwa yang berdampak pada

lingkungan sosial (Keliat, et all., 2011)

Ciri-ciri gangguan psikososial menurut Keliat, et all., (2011):

1. Cemas, khawatir berlebihan, takut

2. Mudah tersinggung

3. Sulit konsentrasi

4. Bersifat ragu-ragu

5. Merasa kecewa

6. Pemarah dan agresif


7. Reaksi fisikl seperti jantung berdebar, otot tegang, sakit kepala.

Masalah-masalah psikososial dalam keperawatan menurut (Nanda, 2012) yaitu :

1. Berduka

2. Keputusasaan

3. Ansietas

4. Ketidakberdayaan

5. Risiko penyimpangan perilaku sehat

6. Gangguan citra tubuh

7. Koping tidak efektif

8. Koping keluarga tidak efektif

9. Sindroma post trauma

10. Penampilan peran tidak efektif

11. HDR situasional

2.3 Tahapan Komunikasi Terapeutik

Menurut suryani (2015), tujuan komunikasi terapeutik untuk klien korban

kekerasan adalah untuk mendengarkan pengalaman trauma mereka dan memberikan

arahan serta infomasi yang mereka perlukan dalam situasi stres pascatrauma. Pada

dasarnya konseling memerlukan berbagai keterampilan dasar yang dapat dikaitkan dengan

tahapan komunikasi terapeutik yaitu keterampilan membangun hubungan saling percaya

(pra interaksi), mengidentifikasi masalah (orientasi), mendengarkan secara aktif serta

menyelesaikan masalah (kerja), dan memberdayakan korban (terminasi).

Tahapan komunikasi terapeutik pada klien dengan masalak psikososial menurut

Fitriarti (2017), berdasarkan penelitiannya yang dilakukan secara kualitatif meliputi:


1. Tahap Pra-interaksi

Tahap pra interaksi ini hal yang harus dilakukan konselor yaitu mengumpulkan data

tentang klien. Kegiatan ini juga penting dilaksanakan karena dengan mengetahui

informasi tentang klien, perawat dapat memahami klien dan mempermudah memulai

interaksi dengan klien. Pada pertemuan pertama konseling yang dilakukan oleh perawat

yaitu melakukan assessment awal untuk mencari tahu apa saja kebutuhan klien terhadap

permasalahan yang sedang dihadapinya. Selain itu perawat mengajak klien agar mau

bercerita tentang kasus kekerasan yang dialaminya dan mencari tahu bagaimana latar

belakang ekonomi, keluarga dan apakah klien memiliki support system atau tidak.

Tahap pra interaksi ini terjadi berbagai macam reaksi atau pelampiasan emosi pada

diri klien. Seorang klien yang mengalami penyangkalan dalam dirinya cenderung sulit

menerima kenyataan dan terkadang menyalahkan dirinya sendiri. Fase kemarahan ini

berupa perasaan marah klien terhadap peristiwa tersebut mengapa terjadi pada dirinya.

Pada kondisi tersebut emosional klien masih belum stabil untuk dapat berpikir jernih

terlebih mengambil keputusan terhadap kekerasan yang menimpanya. Sehingga dalam

hal ini klien membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh-kesah dari

permasalahan yang ia alami. Hal tersebut secara psikologis merupakan katarsis yaitu

suatu saluran untuk melampiaskan emosi seseorang dengan tujuan setelah pelampiasan

emosi tersebut kondisi psikologisnya dapat lebih baik (tenang). Hal itulah yang

mendorong perawat untuk membiarkan klien melampiaskan perasaan atau emosinya.

Ketika awal pertemuan dengan klien masih dalam keadaan emosi yang belum

stabil, perawat tidak memaksa untuk memulai konseling. Konselor memberikan

kesempatan klien untuk melampiaskan perasaan atau emosi yang sedang dirasakan.
Dalam psikologi hal tersebut dikenal dengan istilah katarsis. Katarsis pada kasus ini

yaitu ketika klien bercerita mengenai permasalahan yang dialami dapat menjadi suatu

terapi untuk mengurangi beban yang dirasakannya. Di dalam ruang konseling, perawat

siap mendengarkan keluh kesah klien sehingga klien dapat merasakan ada pihak yang

mendukungnya, mendengarkannya dan hal tersebut dapat berdampak positif terutama

bagi psikologis klien. Walaupun pada tahap ini masih ditemukan klien yang mengalami

fase kemarahan, perawat tidak memaksa untuk memulai konseling jika keadaan klien

masih krisis seperti itu. Namun ditunggu dulu hingga emosi klien tersebut stabil maka

akan dimulai konseling dan assessment.

2. Tahap Orientasi

Tahap kedua yaitu orientasi atau perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan

perawat saat pertama kali bertemu dengan klien. Pada saat berkenalan, perawat harus

memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien. Ketika perawat memperkenalkan

dirinya maka perawat tersebut bersikap terbuka pada klien, sehingga dapat diharapkan

klien mau membuka dirinya. Tujuan dari orientasi atau perkenalan ini yaitu untuk saling

membuka diri dan membangun hubungan saling percaya. Upaya untuk mempertahankan

atau memelihara hubungan saling percaya, perawat harus bersikap terbuka, jujur, ikhlas,

menerima klien apa adanya, menepati janji, serta menghargai klien.

Tahap orientasi ini juga diperlukan adanya kontrak antara perawat dengan klien.

Kontrak ini sangat penting untuk menjamin kelangsungan sebuah interaksi. Tugas

konselor adalah mengingatkan klien tentang kontrak yang telah dibuat. Kontrak yang

harus disetujui bersama dengan klien, antara lain adalah tempat, waktu pertemuan, dan
topik pembicaraan. Jika kontrak sudah dibuat pada pertemuan sebelumnya, tugas

perrawat pada tahap ini adalah mengingatkan klien tentang kontrak yang telah dibuat.

Tahap ini ada klien yang masih dalam fase kesedihan, masih menangis, dan perawat

mempersilakan klien untuk meluapkan emosinya tersebut dalam hal ini dapat dilihat

dari komunikasi non-verbal klien dengan mengungkapkan kesedihan dengan menangis,

dan sebagainya. Kondisi psikologis yang beragam pada tahap perkenalan ini mendorong

konselor untuk melakukan penanganan yang tepat. perawat tidak dapat memaksa

memulai konseling dengan penggalian masalah jika kondisi klien belum stabil. Oleh

karena itu perlu adanya kesabaran dalam menghadapi berbagai kondisi klien. Jika pada

tahap ini belum terjadi interaksi yang mendalam antara perawat dengan klien maka

perawat membuat kesepakatan atau kontrak dengan klien untuk dapat bertemu lagi di

pertemuan selanjutnya sembari menunggu keadaan psikologis klien membaik.

3. Tahap Kerja

Tahap ketiga yaitu tahap kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi

terapeutik Pada tahap ini, perawat dan klien bekerja sama untuk mengatasi masalah yang

dihadapi klien. Konselor dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang

lebih tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien.

Pada tahap ini, konselor perlu melakukan active listening karena tugas konselor pada

tahap ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Melalui active listening,

konselor membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi, cara mengatasi

masalahnya, serta mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah

dipilih.
Tahap ini konselor juga menggali masalah yaitu dengan kemampuan active

listening, refleksi, klarifikasi. Kemampuan mendengarkan secara aktif pada tahap ini

sangat diperlukan oleh konselor sebab dengan mendengarkan secara aktif ini bertujuan

untuk menangkap apa masalah yang terjadi pada klien dan konselor harus mampu

memberikan umpan balik atau feed back terkait masalah yang dihadapi klien dengan

melakukan refleksi dan klarifikasi. Komunikasi interpersonal yang seperti ini

mempertemukan para pelaku komunikasi secara bertatap muka, maka umpan balik atau

feed back dapat diketahui dengan segera. Umpan balik atau feed back ini pada saat

konseling dapat diberikan segera setelah komunikan menyimak pesan dari komunikator.

Hal tersebut dilakukan untuk menunjukkan bahwa konselor menyimak pesan yang

diceritakan oleh klien.

Perawat juga dapat menyarankan perlunya dibuat kesepakatan antara klien dengan

pelaku kekerasan sebagai bentuk batas toleransinya. Misalnya jika klien memaafkan

pelaku kekerasan, setidaknya klien memiliki kesepakatan yang tercatat hitam di atas

putih, jika kembali lagi terjadi kekerasan maka istri atau klien tersebut akan

melaporkannya (pelaku) pada polisi. Cara tersebut membuat klien memiliki kekuatan

atau bargaining power sehingga seorang klien atau wanita tidak dianggap lemah oleh

pelaku kekerasan tersebut.

4. Tahap Terminasi

Tahap keempat yaitu tahap terminasi merupakan akhir dari pertemuan

konselorklien. Tahap terminasi ada yang sifatnya terminasi sementara dan terminasi

akhir. Terminasi sementara yaitu ketika perawat akan bertemu dengan klien kembali

pada waktu yang telah disepakati bersama. Terminasi akhir terjadi jika perawat telah
menuntaskan secara keseluruhan proses konseling. Pada tahap terminasi ini dilakukan

evaluasi objektif antara perawat dengan klien apakah sejauh ini konseling yang telah

dilaksanakan mampu mencapai harapan klien atau sebaliknya. Perawat perlu

mengetahui bagaimana perasaan klien setelah berinteraksi dengan konselor, apakah

klien merasa interaksi dapat membantu mengatasi kecemasannya, apakah ada manfaat

dari konseling yang telah dijalaninya ataukah konseling menimbulkan suatu dampak

yang tak diinginkan oleh klien.

Perawat juga perlu mengajak klien untuk bertemu di pertemuan berikutnya atau

disebut dengan kontrak pertemuan. Kontrak ini penting dibuat agar terdapat kesepakatan

antara konselor dengan klien untuk pertemuan berikutnya. Kegagalan pada tahap

terminasi dapat terjadi apabila terminasi dilakukan secara tiba-tiba atau dilakukan

sepihak tanpa penjelasan. Ketika kegiatan terminasi yang dilaksanakan kurang baik

dapat menyebabkan rangkaian kegiatan proses komunikasi terapeutik pada klien

berjalan tidak efektif. Hal tersebut dapat menyebabkan klien merasa bahwa terminasi

atau perpisahan terjadi secara tiba-tiba sehingga tidak tercapai tujuan yang jelas dari

pelaksanaan konseling. Hal tersebut dapat mengakibatkan klien tetap mengalami

tekanan psikologis sebab merasa konselor tidak memberikannya dukungan dan tidak

sesuai dengan harapannya.

2.3 Teknik Komunikasi Terapeutik Pada Tiap Tahapan Usia

2.3.1 Penerapan Komunikasi Terapeutik pada Bayi dan Anak

Dalam melakukan komunikasi pada anak, perawat perlu memperhatikan usia dan

tingkat tumbuh kembang anak. Apakah aspek penting yang harus dilakukan dalam

berkomunikasi pada bayi dan anak? Bagaimana teknik dan penerapannya? Berikut ini
akan diuraikan perkembangan komunikasi, mulai bayi, toddler dan prasekolah, dan usia

sekolah.

a. Penerapan komunikasi terapeutik pada bayi (0 – 1 tahun)

Hasil penelitian Maclean (2017) menjelaskan bahwa komunikasi terapeutik yang

dapat dilaksanakan pada bayi masih bersifat non verbal seperti: Body language, eye contact

dan facial expressions. Perawat dituntut untuk mempelajari serta mengenali tangisan bayi

karena sebelum bayi mampu berbicara dengan kata-kata, dia menggunakan kode-kode

khusus untuk menyampaikan keinginannya yang disebut sebagai bentuk komunikasi

prabicara (prespeech).

Komunikasi ini bersifat sementara, berlangsung selama tahun pertama kelahiran

bayi dan akan berakhir seiring dengan perkembangan bayi. Komunikasi prabicara meliputi

tangisan, celoteh, isyarat, dan ekspresi emosional. Bentuk komunikasi prabicara ini harus

dikenali dan dipahami orang dewasa supaya apa yang diinginkan anak dapat terpenuhi atau

maksudnya dapat tersampaikan.

b. Penerapan komunikasi terapeutik pada kelompok toddler (1—3 tahun) dan prasekolah

(3—6 tahun).

Pada kelompok usia ini, anak sudah mampu berkomunikasi secara verbal ataupun

nonverbal. Berdasarkan hasil penelitian Solikhah (2013) maka implementasi komunikasi

terapeutik pada kelompok toddler dan prasekolah sebagai berikut.

1) Informing: memberi tahu apa yang terjadi pada diri anak.

2) Silent: memberi kesempatan pada anak untuk menyentuh alat pemeriksaan yang akan

digunakan.
3) Restating: nada suara rendah dan bicara lambat. Jika anak tidak menjawab, harus

diulang lebih jelas dengan pengarahan yang sederhana.

4) Bersalaman dengan anak saat memulai interaksi karena bersalaman dengan anak

merupakan cara untuk menghilangkan perasaan cemas.

5) Sharing Perception: mengajak anak menggambar, menulis, atau bercerita untuk

menggali perasaan dan fikiran anak.

Sedangkan menurut Lyon (2014) yang harus dihindari perawat dalam proses

komunikasi adalah:

1) Hindarkan sikap mendesak untuk dijawab seperti kata-kata, “jawab dong”.

2) Mengalihkan aktivitas saat komunikasi, misalnya dengan memberikan mainan saat

komunikasi.

3) Menghindari konfrontasi langsung.

4) Jangan sentuh anak tanpa disetujui dari anak.

c. Komunikasi terapeutik pada usia sekolah (7—11 tahun)

Pada masa ini, anak sudah mampu untuk memahami komunikasi penjelasan

sederhana yang diberikan. Pada masa ini, anak akan banyak mencari tahu terhadap hal-hal

baru dan akan belajar menyelesaikan masalah yang dihadapinya berdasarkan pengetahuan

yang dimilikinya. Pada masa ini, anak harus difasilitasi untuk mengekspresikan rasa takut,

rasa heran, penasaran, berani mengajukan pendapat, dan melakukan klarifikasi terhadap

hal-hal yang tidak jelas baginya. Implementasi komunikasi dalam keperawatan sebagai

berikut.
Berdasarkan hasil penelitian Lyon (2014) komunikasi terapeutik pada anak usia

sekolah dapat secara signifikan menghasilkan respon kooperatif dari anak, komunikasi

terapeutik yang dapat diimplementasikan diantaranya:

1) Observasi: memperhatikan tingkat kemampuan bahasa anak dengan menggunakan

katakata sederhana yang spesifik.

2) Informing: menjelaskan sesuatu yang ingin diketahui anak.

3) Sharing perception: pada usia ini, keingintahuan pada aspek fungsional dan prosedural

dari objek tertentu sangat tinggi.

4) Giving Recognize: pujian yang diberikan perawat dapat meningkatkan rasa percaya

diri pada anak.

Sementara penelitian dari Santoso (2013) menjelaskan bahwa beberapa tehnik

komunikasi yang sebaiknya dihindari perawat, diantaranya:

1) Giving Advice

Memberi nasihat dan saran pada anak selama wawancara dapat membuat anak

merespon secara tidak kooperatif

2) Konfrontasi

Jangan menyakiti atau mengancam sebab ini akan membuat anak tidak mampu

berkomunikasi secara efektif.

2.3.2 Penerapan Komunikasi Terapeutik pada Remaja

Menurut Anjaswani (2016) remaja sudah punya pemikiran dan perasaan sendiri

tentang hal yang ia bicarakan pada. Perhatikanlah bagaimana penerapan komunikasi

terapeutik pada remaja berikut ini. Komunikasi terbuka, “Bagaimana sekolahmu hari ini?”,

“Apa yang membuatmu merasa senang hari ini di sekolah?”. Komunikasi dua arah, yaitu
bergantian yang berbicara dan yang mendengarkan. Jangan mendominasi pembicaraan

serta sediakan waktu untuk remaja untuk menyampaikan pendapatnya. Lyon (2014)

menyebutkan berbagai tehnik komunikasi yang dapat dilakukan pada remaja diantaranya:

a. Listening

Mendengar aktif artinya tidak hanya sekadar mendengar, tetapi juga memahami dan

menghargai apa yang diutarakan remaja. Terima dan refleksikan emosi yang

ditunjukkan, misalnya dengan mengatakan, “Ibu tahu kamu merasa kesal karena diejek

seperti itu.”

b. Offering Self

Sediakan waktu yang cukup untuk berkomunikasi dengan remaja. Jika sedang tidak

bisa, katakan terus terang daripada Anda tidak fokus dan memutus komunikasi dengan

remaja.

c. Observasi

Jangan memaksa remaja untuk mengungkapkan sesuatu yang dia rahasiakan karena

akan membuatnya tidak nyaman dan enggan berkomunikasi. Anak remaja sudah mulai

memiliki privasi yang tidak boleh diketahui orang lain termasuk orang tuanya.

d. Sharing perception

Utarakan perasaan anda jika ada perilaku remaja yang kurang tepat dan jangan

memarahi atau membentak.

e. Exploring

Dorong remaja untuk mengatakan hal-hal positif tentang dirinya.

f. Observasi
Perhatikan bahasa tubuh remaja. Orang tua harus bisa menangkap sinyal-sinyal emosi

dari bahasa tubuhnya.

g. Giving Recognize

Hindari komentar menyindir atau meremehkan anak. Berikan pujian pada aspek terbaik

yang dia lakukan sekecil apapun.

h. Humor

Guyonan dapat meningkatkan rasa nyaman dan kedekatan interpersonal remaja dengan

perawat, hindari ceramah panjang dan menyalahkan remaja.

2.3.3 Teknik Komunikasi pada Orang Dewasa dan Penerapannya

Berikut ini teknik komunikasi terapeutik yang secara khusus yang harus

diterapkan saat berkomunikasi dengan orang dewasa (Anjaswarni, 2016).

a. Penyampaian pesan langsung kepada penerima tanpa perantara. Dengan penyampaian

langsung, klien akan lebih mudah untuk menerima penjelasan yang disampaikan.

Penggunaan telepon atau media komunikasi lain, misalnya tulisan akan dapat

menimbulkan salah persepsi karena tidak ada feedback untuk mengevaluasi secara

langsung.

b. Saling memengaruhi dan dipengaruhi, maksudnya komunikasi antara perawat dan

pasien dewasa harus ada keseimbangan dan tidak boleh ada yang mendominasi.

Perawat jangan selalu mendominasi peran sehingga klien ditempatkan dalam keadaan

yang selalu patuh. Teknik ini menekankan pada hubungan saling membantu a

(helping-relationship).

c. Melakukan komunikasi secara timbal balik secara langsung, maksudnya komunikasi

timbal balik dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya salah persepsi. Hubungan


dan komunikasi secara timbal balik ini menunjukkan pentingnya arti hubungan

perawat-klien.

d. Komunikasi secara berkesinambungan, tidak statis dan bersifat dinamis.

2.3.4 Tehnik Komunikasi Terapeutik pada Lansia

Berdasarkan hasil penelitian Ayuningtyas (2017) dengan metode observasi, pasien

lansia sangat memerlukan komunikasi yang baik dan empati serta perhatian yang “cukup”

dari berbagai pihak. Banyak hambatan dari komunikasi terapeutik pada pasien lansia yang

terjadi, terutama resisten. Perilaku resisten biasanya diperlihatkan pasien pada masa

penyembuhan terhadap penyakit tertentu dikarenakan adanya rasa lelah, marah dan sedih

terhadap penyakit yang dideritanya. Hasil dari penelitian ini merekomendasikan adanya

pendekatan untuk berkomunikasi pada pasien lansia dengan baik. Oleh karena itu

komunikasi terapeutik harus dapat diimplementasikan secara optimal bagi pasien lansia.

a. Pendekatan Terapeutik pada Lanjut Usia

Berdasarkan kondisi di lapangan, nyatanya perawatan bagi lanjut usia mempunyai

pendekatan-pendekatan sebagai berikut:

1) Pendekatan Fisik

Perawatan fisik secara umum bagi pasien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian, yakni

pasien lanjut usia yang masih aktif dan pasif.

Untuk mengetahui perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa

dicapai dan dikembangkan, dan penyakit yang dapat dicegah atau ditekan

progresivitasnya bagi pasien lansia.

2) Pendekatan Psikis
Mengadakan pendekatan edukatif pada pasien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai

supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, dan sebagai sahabat yang

akrab.

Untuk mendukung mental pasien lansia ke arah pemuasan pribadi sehingga seluruh

pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa

lanjut usia ini mereka dapat merasa puas dan bahagia.

3) Pendekatan Sosial

Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercarita merupakan salah satu upaya perawat

dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesama

klien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka.

Untuk mendukung pasien lansia agar tetap bersosialiasi dengan baik dengan lingkungan

di sekitarnya, yaitu mengadakan komunikasi dan melakukan rekreasi, misalnya jalan

pagi, menonton film, atau hiburan-hiburan lain serta selalu dirangsang untuk mengetahui

dunia luar.

4) Pendekatan Spiritual

Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya

dengan Tuhan atau agama yang di anutnya, terutama bila pasien lanjut usia dalam keadaan

sakit atau mendekati kematian.

Untuk memberikan ketenangan kepada pasien lansia, terutama ketika menghadapi

ketakutan menghadapi kematian.

b. Tehnik komunikasi terapeutik pada lansia.

1) Memberikan rasa aman & nyaman

a) Menjaga agar tingkat kebisingan minimum.


b) Menjamin alat bantu dengar yang berfungsi dengan baik.

c) Yakinkan bahwa kacamata bersih dan pas.

d) Jangan berbicara dengan keras/berteriak, bicara langsung dengan telinga yang dapat

mendengar dengan lebih baik.

2) Listen

Menjadi pendengar yang setia, sediakan waktu untuk mengobrol.

3) Hubungan Interpersonal

Berdiri di depan klien, jangan terlalu jauh dari lansia.

4) Konkrit

Pertahankan penggunaan kalimat yang pendek dan sederhana.

5) Silent

Beri kesempatan bagi klien untuk berpikir.

6) Sharing perception

Mendorong keikutsertaan dalam aktivitas sosial, seperti perkumpulan orang tua,

kegiatan rohani.

7) Informing

Berbicara pada tingkat pemahaman klien.

8) Reflection

Selalu menanyakan respons, terutama ketika mengajarkan suatu tugas atau keahlian.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Komunikasi Terapeutik pada Anak Korban Kekerasan Sexsual

Masalah kekerasan pada anak adalah isu umum yang sedang diperhatikan di

masyarakat. Ini adalah sebuah masalah kesehatan jiwa yang diderita anak-anak di semua usia

dari berbagai tingkatan ekonomi dan latar belakang budaya. Meskipun tidak dianggap secara

khusus sebagai kelainan jiwa yang memiliki faktor risiko lingkungan namun berdampak

jangka pnajang dan mempengaruhi kehidupan seseorang. Pada abad 20-an, terjadi perubahan

definisi kekerasan bukan hanya fisik tetapi juga terdapat kekerasan seksual. Data UNICEF

2011, populasi kekerasan mencapai 7 miliar jiwa, Sepertiga dari jumlah populasi yaitu 2,2

miliar di antaranya berusia di bawah 18 tahun (Okpaku, 2014).

Menurut Rutter et al (2008 dlm Vascarolis, 2013), kekerasan bisa berbentuk fisik,

emosional, seksual yang mempengaruhi berbagai respon seseorang dan bisa terjadi di mana

saja. Definisi kekerasan sulit dipastikan karena dipengaruhi faktor budaya dan sosial. WHO

(2006 dlm Vascarolis, 2013) menyatakan ada empat tipe kekerasan yaitu fisik, seksual,

emosional, dan penelantaran, atau bisa juga kekerasan fisik dan emosional. Menurut Cappa &

Khan (2011 dlm Vascarolis, 2013), 34 kasus hukum kekerasan pada anak adalah akibat

budaya memberi hukuman yang dilakukan oleh orang tua sendiri.

Data statistika sangat mengkhawatirkan bahwa sekitar 75 % pelaku dari pelecehan

seksual dilakukan oleh anggota keluarga sendiri. Kekerasan seksual terjadi dalam waktu yang

panjang, hubungan berkelanjutan, diperkirakan berlangsung rata-rata empat tahun (PMI, 2007
dlm Okpaku, 2014). Selain anggota keluarga, orang lain yang dipercaya seperti guru, imam,

pendeta, babysitter, atau kolega keluarga dapat terlibat (Breaks,2011 dlm Okpaku, 2014).

Korban kekerasan seksual biasanya dilakukan laki-laki terhadap perempuan, tetapi

dapat juga dilakukan oleh perempuan terhadap laki-laki atau antara jenis kelamin yang sama.

Laki-laki Penyerangan Seksual Pelecehan seksual biasanya dilakukan oleh laki-laki terhadap

perempuan, tetapi dapat dilakukan oleh perempuan terhadap laki-laki atau antara orang

dengan jenis kelamin yang sama (Varcarolis, 2013). Korban pelecehan yang tidak ditangani

akan berakibat gangguan kejiwaan, kecanduan obat terlarang, perilaku kriminal, dan berisiko

tinggi melakukan bunuh diri.

Efek dari pelecehan seksual anak dapat berlangsung seumur hidup. Rasa tegang, distorsi

konsep diri, kebingungan tentang dunia mereka, gangguan makan, perilaku destruktif, dan

penurunan dalam kemampuan afektif. Di luar trauma fisik seperti risiko penularan penyakit

menular seksual human immunodeficiency virus (HIV) atau tekanan psikologis yang akan

menjadi trauma (Vascarolis, 2013). Anak-anak yang mengalami pelecehan seksual 4,7 kali

lebih rentan mengalami depresi, kecanduan obat, kecemasan, dan gangguan kepribadian

(PMI,2007 dlm Okpaku, 2014).

Kasus pelecehan seksual anak banyak terjadi namun sering diabaikan karena dianggap

tabu di masyarakat dan tidak ada saksi yang melihat interaksi antara orang tua dan anak-anak

(Rutter et al, 2008 dlm Vascarolis, 2013). Penelitian Bassani et al (2009 dlm Vascarolis, 2013)

di Brazil Selatan mengungkapakan ada 1936 kasus kekerasan seksual. 1,6% merupakan anak

laki-laki, dan 5,6% merupakan anak perempuan yang mengalami kekerasan seksual di bawah

usia 12 tahun. Pada tahun 2008 di Amerika Serikat, terdapat 3,3 juta laporan kasus kekerasan,

71% korban penelantaran anak, 9% kekerasan seksual, dan 7% kekerasan secara emosional
(Troino, 2011 dlm Vascarolis, 2013). Penelitian Hauser et al (2011 dlm Vascarolis, 2013)

mengungkapkan hal serupa, dari 2504 responden, 12,6% mengalami kekerasan seksual.

Sebuah tinjauan studi tentang kekerasan seksual menunjukkan grafik beragam, kekerasan

seksual anak perempuan lebih tinggi daripada anak laki-laki.

Menurut Vascarolis (2013), diagnosa kepearawatan yang muncul pada korban

kekerasan seksual yaitu Rape-Trauma Syndrom yang merupakan bagian dari post traumatic

stress disorder (PTSD). Ada dua fase pada rape-trauma sindrom fase akut yang berlangsung

selama 2 Minggu bahkan hingga satu tahun jika tidak ditangani dan fase jangka panjang (the

long-term phase).

a. Fase Akut

Reaksi yang timbul pada fase ini perubahan kognitif, afektif, dan perilaku secara

spontan. Respon umum yang diberikan adalah shock, mati rasa, dan ketidakpercayaan.

Seseorang menjadi tampil kaku dan diam. Selain itu, korban mengalami penurunan fungsi

kognitif, kesulitan membuat keputusan, memecahkan masalah, atau berkonsentrasi.

Mereka menangis, berteriak, gelisah atau bahkan tak bisa tersenyum.

b. The Long-Term Phase

Pada fase ini penting untuk mengajarkan korban bagaimana menyiapkan mentalnya

untuk tidak merasa menjadi gila atau hilang akal. Mereka juga penting memahami bahwa

semua korban akan bertahan dengan perjuangan masing-masing. Gejala PTSD berkaitan

dengan korban perilaku seksual yaitu:

 Re-experiencing the trauma: mengalami mimpi buruk tentang kejadian yang

dialami, terbayang-bayang, dan menganggu keseharian.


 Social withdrawal: Tahap ini disebut “psychic numbing”

 Avoidance behaviors and actions: menghindari semua tempat dan aktivitas, pikiran

dan perasaan yang memanggil memori kejadian yang dialami

 Increased psychological arousal characteristic: mudah terkejut, gangguan tidur,

sulit konsentrasi,

 Fears and phobias : takut sendiri, takut berhubungan seksual, takut di ruangan atau

di luar ruangan, dll.

 Nightmares and difficulty sleeping: mimpi buruk, merasa diteror, tidur terganngu,

dan sulit tidur.

Intervensi komunikasi terapeutik yang dilakukan kepada korban kekerasan seksual pada

anak yaitu:

1. Menemani klien.

Orang dengan tingkat kecemasan tinggi butuh seseorang, jangan membiarkan ia sendirian

hingga level kecemasannya turun.

2. Mendekati klien tanpa judgmen hindari bertanya dengan kata “Mengapa”.

Tingkah laku perawat menjadi tindakan terapeutik yang penting. Memunculkan rasa kaget,

ketakutan, persaan jijik, ketidakpercayaan, dapat meningkatkan kecemasan dan rasa malu.

3. Bangun rasa percaya diri klien

Keadaan klien jangan diceritakan kepada siapa pun kecuali kepada tenaga kesehatan yang

kaitannya dengan pengobatan dan perawatan klien.

4. Mendengarkan klien dan biarkan klien bicara namun jangan memaksa klien bicara.

Ketika seseorang merasa dimengerti, mereka meresa lebih bisa mengontrol keadaan.
5. Katakan bahwa klien berada pada tempat yang aman.

Korban merasa bersalah dan malu, perkuat bahwa mereka masih hidup dan dapat

mengurangi rasa bersalahnya dan menata self-esteemnya.

3.2 Komunikasi Terapeutik pada Pasien End of Life

Kontribusi perawat pada perawatan end of life adalah mendengarkan dua periode yang

harus dimengerti yakni hospice carre dan palliative care. Hospice care adalah model untuk

kualitas, merawat orang-orang dengan penyakit akhir di kehidupan atau luka. Sebuah

pendekatan yang berorientasi medical expert, management nyeri, dan emosional dan

dukungan spiritual yang dibutuhkan oleh pasien. Menurut National Hospice and Palliative

Care Association (2015), dukungan menjadi hal yang sangat penting dan disukai oleh pasien

karena pasien meyakini kematian akan membebaskan dari rasa nyeri dan keluarga akan

menerima dukungan dari perawat. Hospice care dilakukan minimal 6 bulan dan residental

setting, dirumah serta rumah hospice dan mengerti bahwa kematian merupakan bagian yang

normal didalam kehidupan. Sedangkan Palliative care adalah perawatan total pasien yang

mengalami penyakit yang tidak berespon terhadap terapi rehabilitasi yang diberikan.

Mengontrol nyeri dan gejala lainnya, psikological, osial dan masalah spiritual. Tujuan dari

perawatan palliative adalah meningkatkan kualitas hidup pasien dan anggota keluarganya.

Komunikasi pada pasien dengan end of life adalah suatu proses interaksi pikiran yang

memiliki sebuah hubungan terhadap kematian seseorang dan hal tersebut adalah bagian yang

normal dari kehidupan. Komunikasi ini berfokus pada meyakini pasien untuk menerima

penyakit yang dialami. Ketika pasien menerima penyakitnya merupakan hadiah dari Allah

SWT maka menjadi pilihan yang benar bagaimana hidup dikehidupannya yang indah dan

bermakna. Perawat dapat menggunakan teknik komunikasi seperti mendengarkan apa yang
pasien pikirkan dan menyarankan untuk merefleksikan diri bagaimana mengetahui seseorang

mengubah kehidupannya. Selain ini kita dapat menggunakan teknik silent (diam) untuk

memberikan kesempatan kepada pasien dalam menjawab pertanyaan dari perawat (Riley,

2016)
Daftar Pustaka

Afnuhazi, R. (2015). Komunikasi Terapeutik Dalam Keperawatan Jiwa.Yogyakarta:Gosyen


Publishing.
Hidayat, A. Y., & Ekaputri, Y. S. (2015). PENERAPAN TEKNIK NAPAS DALAM PADA
PASIEN DIAGNOSIS KEPERAWATAN ANSIETAS DENGAN DIABETES
MELLITUS SERTA TUBERCOLOSIS PARU DI RUANGAN UMUM RSMM
BOGOR. Jurnal Keperawatan Jiwa. Volume, 3(2), 89-96.
Anjaswarni, Tri. (2016) Komunikasi dalam Keperawatan. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.
Heather, H. (2012). NANDA Internasional diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi 2012
2014. Terjemahan oleh Made Sumarwati dan Nike Budhi S. Jakarta: EGC.
Keliat, B. A., & Akemat, S. (2011). Keperawatan kesehatan jiwa komunitas: CMHN (Basic
Course). Jakarta: EGC.
Lyon, J. G., Cariski, D., Keisler, L., Rosenbek, J., Levine, R., Kumpula, J., ... & Blanc, M. (2014).
Communication partners: Enhancing participation in life and communication for adults
with aphasia in natural settings. Aphasiology, 11(7), 693-708.
MacLean, S., Kelly, M., Geddes, F., & Della, P. (2017). Use of simulated patients to develop
communication skills in nursing education: An integrative review. Nurse education
today, 48, 90-98.
Nolen-Hoeksema, S., & Rector, N. A. (2015). Abnormal psychology. Boston: McGraw-Hill.
Okpaku, S. O. (Ed.). (2014). Essentials of global mental health. Cambridge University Press.
Riley, J. 2016. Communication in Nursing Eighth Edition. Elsevier
Solikhah, U. (2013). Efektifitas Lingkungan Terapetik terhadap Reaksi Hospitalisasi pada
Anak. Jurnal Keperawatan Anak, 1(1).
Undang-undang RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga
Varcarolis, E. M. (2013). Essentials of Psychiatric Mental Health Nursing-E-Book: A
Communication Approach to Evidence-Based Care Revised Reprint. Elsevier Health
Sciences
Fitriarti, E. A. (2017). KOMUNIKASI TERAPEUTIK DALAM KONSELING (Studi Deskriptif Kualitatif
Tahapan Komunikasi Terapeutik dalam Pemulihan Trauma Korban Kekerasan Terhadap Istri di
Rifka Annisa Women’s Crisis Center Yogyakarta). Profetik: Jurnal Komunikasi, 10(1), 83-99.

Suryani,(2016) Komunikasi Terapeutik : Teori & Praktek,E.2, Jakarta,EGC


Markides, Markos MA, 2011,The Importance of Good Communication Between Patient and
Health Professionals. Journal of Pediatric Hematology/Oncology: October 2011 - Volume 33
- Issue - p S123–S125 doi: 10.1097/MPH.0b013e318230e1e5
Stuart, G. W. (2014). Principles and Practice of Psychiatric Nursing-E-Book. Elsevier Health
Sciences.