Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS SENYAWA BIOAKTIF JALUR MEVALONAT SAPONIN PADA

BIJI BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill.)

RESUME JURNAL

Disusun guna untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah : Kimia Organik Bahan Alam Terestrial

Dosen Pengampu : Ratih Rizqi Nirwana, M. Si

Oleh :

1. Dwi Ratna Febriani (1503076043 )


2. Dawam Hafid (1503076057 )
3. Khoerussani Nur Fahmi (1503076058 )
4. Anisaturrohmah (1503076064 )

PENDIIDKAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2018
A. Identitas Jurnal
1. Judul Jurnal : Analisis Senyawa Metabolit Sekunder dan Uji Toksisitas
Ekstrak Etanol Biji Buah Alpukat (Persea americana Mill.)
2. Tahun :2012
3. Penulis : Mira Marlinda, Meiske S. Sangi Audy D. Wuntu
4. Penerbit : Jurusan Kimia, FMIPA, Unsrat, Manado
5. Jurnal : JURNAL MIPA UNSRAT ONLINE 1 (1) 24-28
B. Analisis Jurnal
1. Latar Belakang
Alpukat merupakan buah yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia.
Umumnya alpukat memiliki daging buah tebal berwarna hijau untuk mengobati
nyeri saraf, nyeri lambung, menurunkan darah tinggi dan mengobati batu ginjal.
Selain buah dan daunnya, biji buah alpukat juga bisa digunakan untuk mengurangi
kadar gula dalam darah (Hariana, 2004). Oleh sebab itu, biji buah alpukat diduga
memiliki senyawa-senyawa metabolit sekunder. Untuk menganalisis senyawa-
senyawa metabolit sekunder tersebut perlu dilakukan skrining fitokimia. Cara
ekstraksi Alpukat dapat menggunakan Solidphase Microextraction and Gas
Chromatography Mass (SPME). Metode ini memiliki keunggulan bebas pelarut,
sederhana, murah, cepat, dan serbaguna untuk ekstraksi senyawa volatil.
(Mercedez, 2004).
Senyawa aktif yang terdapat dalam tumbuhan hampir selalu toksik pada dosis
tinggi, oleh karena itu daya bunuh senyawa aktif terhadap organisme hewan dapat
digunakan untuk menapis ekstrak tumbuhan yang mempunyai bioaktivitas dan
juga memonitor fraksi bioaktif selama fraksinasi dan pemurnian.Salah satu
organisme yang sesuai untuk hewan uji adalah Artemia (udang laut) jenis Artemia
salina. Keistimewaan Artemia yaitu memiliki toleransi (kemampuan beradaptasi
dan mempertahankan diri) pada kisaran kadar garam yang sangat luas.
Dalam penelitian ini dilakukan analisis senyawa metabolit sekunder biji buah
alpukat mentega (hijau panjang) dan biji buah alpukat biasa (merah bundar) dalam
keadaan segar dan kering serta uji toksisitas ekstrak etanol biji buah alpukat
mentega dan biasa dalam keadaan segar dan kering.

1
2. Alat dan Bahan
a. Alat
1) Tabung reaksi
2) Blender
3) Penyaring
4) Hot Plate
5) Pisau
6) Baskom
7) Steenless
b. Bahan
1) Biji buah alpukat varietas hijau panjang atau disebut alpukat mentega
yang diperoleh dari perkebunan desa Maumbi Minahasa Utara,
Sulawesi Utara (Biji Alpukat A)
2) Biji buah alpukat varietas merah bundar atau disebut alpukat biasa (B)
3) Akuades,
3. Cara Kerja
a. Preparasi Sampel

Buah Alpukat Buah Alpukat


Buah Alpukat Buah Alpukat
A segar A segar
A kering B kering

dicuci
Dicuci
dipotong-potong keciL
Dikeringanginkan selama 1
dihancurkan
minggu
Diblender hingga halus,
Disaring dengan ayakan 65
Sampel Segar
mesh.
Sampel Kering

2
b. Uji Saponin

Sampel Alpikat Halus 2 gram

dimasukkan ke dalam tabung reaksi,


ditambahkan akuades hingga seluruh sampel terendam,
dididihkan selama 2-3 menit, didinginkan, kemudian
dikocok kuat-kuat.

Hasil + terbentuknya buih yang


stabil.

4. Hasil
Metode Hasil
Pengujian
AS AK BS BK
Aquades
Saponin +++ +++ +++ +++

AS = biji buah alpukat A segar, AK = biji buah alpukat A kering, BS = biji buah
alpukat B segar, BK = biji buah alpukat B kering. (-) = tidak terdeteksi, (+) =
intensitas lemah, (++) = intensitas kuat, (+++) = Intensitas sangat kuat

5. Pembahasan
Dari hasil skrining fitokimia biji buah alpukat A segar dan kering serta biji
buah alpukat B segar dan kering mengandung senyawa saponin. Hal ini terlihat
dari busa stabil yang dihasilkan. Menurut Robinson (1995) senyawa yang
memiliki gugus polar dan nonpolar bersifat aktif permukaan sehingga saat
dikocok dengan air, saponin dapat membentuk misel.Pada struktur misel, gugus
polar menghadap ke luar sedangkan gugus nonpolarnya menghadap ke dalam.
Keadaan inilah yang tampak seperti busa. Berdasar percobaan yng telah dilkaukan
terbukti bahwa biji buah alpukat A segar dan Kering dan biji buah Alpukat B
segar dan kering mengandung saponin dengan intensitas yang sangat kuat.

3
Dari analisis yang dilakukan (Meiske Sangi,dkk, 2008) diperoleh 29 sampel
(63,04%) mengandung saponin. Saponin memiliki glikosil yang berfungsi sebagai
gugus polar dan gugus steroid dan triterpenoid sebagai gugus nonpolar. Senyawa
yang memiliki gugus polar dan nonpalar bersifat aktif permukaan sehingga saat
dikocok dengan air saponin dapat membentuk misel. Pada struktur misel gugus
polar menghadap ke luar sedangkan gugus nonpolarnya menghadap ke dalam.
Keadaan inilah yang tampak seperti busa, karena itu dalam analisis ini dilihat
kemampuan sampel dalam membentuk busa.
Hasil penelitian (Hazena Misgi Damayanti,dkk, 2015) menunjukkan bahwa
ekstrak biji alpukat mengandung senyawa saponin. Hasil ini konsisten dengan
penelitian Zuhrotun (2007) dan Marlinda dkk. (2012) yang menyatakan bahwa
dalam ekstrak etanol biji alpukat terdapat senyawa saponin alkaloid, triterpenoid,
tanin dan flavonoid. Senyawa saponin telah diketahui dapat membentuk busa
karena adanya kombinasi struktur senyawa penyusunnya, yaitu rantai sapogenin
nonpolar dan rantai samping polar yang larut dalam air. Saponin mempunyai rasa
pahit, berbusa dalam air, mempunyai sifat detergen yang baik (Robinson, 1995).

6. Kesimpulan
Berdasarkan hasil skrining fitokimia, senyawa-senyawa metabolit sekunder
yang terdapat pada biji buah alpukat A segar dan kering, serta biji buah alpukat B
segar dan kering terbukti mengandung saponin.

4
DAFTTAR PUSTAKA

Achmad, S.A. Kimia Organik Bahan Alam. Karnunika, Jakarta.1986.


Bawa, I. G. A. G. Isolasi dan Identifikasi Golongan Senyawa Toksik Dari Daging
Buah Pare (Momordica charantia L.). Jurnal Kimia. 2009, 2, 117-124.
Harborne, J.B. Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Terjemahan K. Padmawinata dan I. Soediro. ITB, Bandung.1987
Hariana, A. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Penebar Swadaya, Depok.2004
Makalalag, A. Skrining Fitokimia dan Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Daun Turi
(Sesbania Grandiflora Pers). [Sripsi]. UNSRAT, Manado.2011
Robinson, T. Kandungan Senyawa Organik Tumbuhan Tinggi. Diterjemahkan oleh
Prof. Dr. Kosasih Padmawinata. ITB, Bandung.1995
Sangi, M.; Runtuwene, M.R.J.; Simbala, H.E.I. dan Makang, V.M.A. Analisis
Fitokimia Tumbuhan Obat di Kabupaten Minahasa Utara.Chemistry
Progress. 2008, 1,47-53.
Sudarmaji, S.; Haryono, B. dan Suhardi. Prosedur Analisis untuk Bahan Makanan
dan Pertanian. Libery, Yogyakarta.1989

Zuhrotun, A. Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Etanol Biji Buah Alpukat (Persea


americana Mill.) Bentuk Bulat [Karya Ilmiah]. UNPAD, Jatinangor.2007
Hazena Misgi Damayanti, dkk. Ekstrak Biji Alpukat Sebagai Pembusa Deterjen:
“Pemanfaatan Potensi Bahan Alam Dan Menekan Biaya Produksi”.
Alternatif Medicine. 2015.

Guzmán-Gerónimo, R. I., López, M. G., & Dorantes-Alvarez, L. (2008). Microwave


processing of avocado: Volatile flavor profiling and olfactometry.
Innovative Food Science and Emerging Technologies, 9(4), 501–506.
https://doi.org/10.1016/j.ifset.2008.05.003

López, M. G., Guzmán, G. R., & Dorantes, A. L. (2004). Solid-phase microextraction


and gas chromatography-mass spectrometry of volatile compounds from
avocado puree after microwave processing. Journal of Chromatography A,
1036(1), 87–90. https://doi.org/10.1016/j.chroma.2004.03.020