Anda di halaman 1dari 9

CEDERA KEPALA

I. Konsep Penyakit
1.1 Definisi
Cedera Kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang
disertai atau tanpadisertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa
diikuti terputusnya kontinuitas otak (Muttaqin, 2008).
1.2 Etiologi
1.2.1 Trauma tumpul
Kecepatan tinggi : tabrakan motor dan mobil
Kecepatan rendah : terjatuh atau dipukul
1.2.2 Trauma tembus :luka tembus peluru dari cedera tembus lainnya
1.2.3 Jatuh dari ketinggian
1.2.4 Cedera akibat kekerasan
1.2.5 Cedera otak primer adanya kelainan patologi otak yang timbul segera
akibat langsung dari trauma. Dapat terjadi memar otak dan laserasi.
1.2.6 Cedera otak sekunder
kelainan patologi otak disebabkan kelainan biokimia metabolisme,
fisiologi yang timbul setelah trauma.
1.3 Tanda gejala
Gangguan kesadaran, konfusi, abnormalitas pupil, piwitan tiba-tiba defisit
neurologis, gangguan pergerakan, gangguan penglihatan dan pendengaran,
disfungsi sensori, kejang otot, sakit kepala,vertigo, kejang, pucat, mual dan
muntah, pusing kepala, terdapat hematoma, sukar untuk dibangunkan, bila
fraktur, mungkin adanya cairan serebrospinal yang keluar dari hidung
(rhinorrohea) dan telinga (otorhea) bila fraktur tulang temporal.
1.4 Klasifikasi cedera kepala sebagai berikut:
1.4.1 Komosio Serebri (geger otak) Komosio serebri adalah gangguan fungsi
neurologik ringan tanpa adanya kerusakan struktur otak akibat cedera
kepala. Gejala-gejala yang terjadi adalah mual, muntah, nyeri kepala,
hilangnya kesadaran kurang dari 10 menit atau tanpa disertai anamnesia
retrogad yaitu hilangnya ingatan pada kejadiaan-kejadian sebelum
terjadinya kecelakaan/cedera.
1.4.2 Kontusio Serebri (memar otak)
Kontusio serebri adalah gangguan fungsi neurologik akibat cedera
kepala yang disertai kerusakan jaringan otak tetapi kontinuitas otak
masih utuh, otak mengalami memar dengan memungkinkan adanya
daerah yang mengalami perdarahan. Gejala yang timbul lebih khas
yaitu, penderita kehilangan gerakan, kehilangan kesadaran lebih dari 10
menit.
1.4.3 Hematoma Epidural
Hematoma epidural adalah suatu hematoma yang cepat terakumulasi di
antara tulang tengkorak dan durameter, biasanya disebabkan oleh
pecahnya arteri meningen media. Gejala yang ditimbulkan yaitu sakit
kepala, konfusi, kejang, defisit lokal, koma, dan jika tidak diatasi akan
membawa kematian. Gejala neurologik yang terpenting adalah pupil
mata anisokor (perbedaan besar/bentuk pupil mata), yaitu pupil
melebar. Pada perjalanannya, pelebaran pupil akan mencapai maksimal
dan reaksi cahaya yang pada mulanya positif akan menjadi negatif.
1.4.4 Hematoma Subdural
Hematoma subdural kebanyakan sering terjadi di atas konveksitas
hemisfer, dimana kebebasan bergerak dari otak adalah paling besar dan
lokasi yang relatif lebih jarang adalah di daerah fosa posterior, dimana
gerak lebih kecil.
1.4.4.1 Hematoma subdural akut
Biasanya ada hubungannya dengan cedera yang jelas dan sering
kali disertai laserasi (robek) atau kontusi (memar) otak.
Timbulnya gejala pada umunya tertunda dan ditandai secara
klinis oleh gangguan kesadaran yang fluktuatif. Hasil dari
hematoma subdural akut tergantung bukan saja hanya dari
tindakan bedah tetapi juga dari luka pada otak di dekatnya.
1.4.4.2 Hematoma subdural kronis
Hematoma subdural kronik terlihat paling sering pada pada
orang tua dan peminum alkohol. Pada penderita demikian
biasanya didapatkan sedikit atrofi otak yang berakibat
bertambah bebasnya pergerakan otak di dalam ruang tengkorak.
Gejala-gejalanya lebih kurang nyata, pemeriksaan CT scan
sangat memudahkan diagnostik.
1.4.5 Hematoma Intraserebral
Hematoma intraserebral biasanya terjadi karena cedera kepala berat,
ciri khasnya adalah hilang kesadaran dan nyeri kepala berat setelah
sadar kembali. Lebih dari 50% penderita hematoma intraserebral
disertai hematoma epidural dan hematoma subdural. Paling banyak
terjadi di lobus frontalis atau temporalis, dan tidak jarang ditemukan
multipel. Gambaran klinis bergantung pada lokasi dan besarnya
hematoma.
1.4.6 Fraktur Krani
Fraktur pada tengkorak dapat terjadi di tempat benturan maupun di
tempat yang jauh dari benturan. Penanggulangan fraktur tulang kepala
bergantung pada jenis fraktur. Terdapat beberapa bentuk fraktur tulang
kepala, yakni linear, stelata, komunutif, dan impresi. Patah tulang
impresi ialah fraktur dengan fragmen tulang terdorong ke dalam.
Diagnosa dibuat dengan foto rontgen kepala, termasuk foto tangensial
pada tempat yang dicurigai. Indikasi utamanya adalah gangguan
neurologik atau kejang. Patah tulang tengkorak dasar pada umumnya
terjadi pada petrosum, atap orbita, atau pada basis oksiput. Diagnosis
berdasarkan anamnesis dan gejala klinis, seperti perdarahan dari hidung
atau telinga, dan sekitar mastoid atau orbita.
1.5 Tingkat keparahan
Pengukuran tingkat keparahan pada pasien cedera kepala harus dilakukan
yaitu dengan Glasglow Coma Scale (GCS) yang pertama kali dikenal oleh
Teasdale dan Jennett pada tahun 1974 yang digunakan sebagai standar
internasional. Penilaian GCS awal saat penderita datang ke rumah sakit
sangat penting untuk menilai tingkat keparahan cedera kepala. GCS yang
dimaksudkan yaitu Pengukuran tingkat keparahan pada pasien cedera kepala
harus dilakukan yaitu dengan Glasglow Coma Scale (GCS) yang pertama kali
dikenal oleh Teasdale dan Jennett pada tahun 1974 yang digunakan sebagai
standar internasional. Penilaian GCS awal saat penderita datang ke rumah
sakit sangat penting untuk menilai tingkat keparahan cedera kepala. GCS
yang dimaksudkan yaitu:
1.5.1 Cedera kepala ringan/minor
GCS 14-15, dapat terjadi kehilangan kesadaran, amnesia, tetapi kurang
dari 30 menit, tidak ada fraktur tulang tengkorak
1.5.2 Cedera kepala sedang
GCS 9-13, kehilangan kesadaran dan amnesia lebih dari 30 menit
kurang dari 24 jam, dapat mengalami fraktur tulang tengkorak,diikuti
contusia serebral, laserasi dan hematoma intrakranial
1.5.3 Cedera kepala berat
GCS 3-8 , kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24
jam, juga meliputi kontusia serebral, laserasi atau hematoma
intrakranial
1.6 Patofisiologi
Menurut Long (1996) trauma kepala terjadi karena cidera kepala, kulit
kepala, tulang kepala, jaringan otak. Trauma langsung bila kepala langsung
terluka. Semua itu berakibat terjadinya akselerasi, deselerasi dan
pembentukan rongga. Trauma langsung juga menyebabkan rotasi tengkorak
dan isinya, kekuatan itu bisa seketika/menyusul rusaknya otak dan kompresi,
goresan/tekanan. Cidera akselerasi terjadi bila kepala kena benturan dari
obyek yang bergerak dan menimbulkan gerakan. Akibat dari akselerasi,
kikisan/konstusio pada lobus oksipital dan frontal batang otak dan cerebellum
dapat terjadi. Sedangkan cidera deselerasi terjadi bila kepala membentur
bahan padat yang tidak bergerak dengan deselerasi yang cepat dari tulang
tengkorak.
Pengaruh umum cidera kepala dari tengkorak ringan sampai tingkat berat
ialah edema otak, deficit sensorik dan motorik. Peningkatan TIK terjadi
dalam rongga tengkorak (TIK normal 4-15 mmHg). Kerusakan selanjutnya
timbul masa lesi, pergeseran otot.
1.7 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Radiologis : Foto rontgen polos , Compute Tomografik Scan
(CT-Scan), MRI (Magnetic Resonance Imaging)
1.8 Komplikasi
1.8.1 Hemorrhagie
1.8.2 Infeksi
1.8.3 Edema serebral dan herniasi
1.9 Penatalaksanaan
1.9.1 Stabilisasi kardiopulmoner mencakup prinsip-prinsip ABC (Airway-
Brating-Sirkulation).
1.9.2 Pemeriksaan umum untuk mendetekasi berbagai macam cedera atau
gangguan dibagian tubuh lainnya.
1.9.3 Pemeriksaan neurologis mencakup respons mata, motorik, verbal,
pemeriksaan pupil, reflek okulosefalik dan reflek okuloves tubuler.
Penilaian neurologis kurang bermanfaan bila tekanan darah penderita
rendah (syok).
1.9.4 Penanganan cedera-cedera bagian lainnya.
1.9.5 Pemberian pengobatan seperti antiedemaserebri, anti kejang, dan
natrium bikarbonat.
1.10 Pathway
II. Rencana Asuhan Klien Dengan Gangguan Cedera Kepala
2.1 Pengkajian
2.1.2 Pengkajian Primer
2.1.2.1 Airway
Kepatenan jalan napas, apakah ada sekret, hambatan jalan
napas.
2.1.2.2 Breathing
Pola napas, frekuensi pernapasan, kedalaman pernapasan,
irama pernapasan, tarikan dinding dada, penggunaan otot
bantu pernapasan, pernapasan cuping hidung.
2.1.2.3 Circulation
Frekuensi nadi, tekanan darah, adanya perdarahan, kapiler
refill.
2.1.2.4 Disability
Tingkat kesadaran, GCS, adanya nyeri.
2.1.2.5 Exposure
Suhu, lokasi luka.
2.1.3 Pengkajian sekunder
2.1.3.2 Informasi yang diperlukan adalah:
a. Identitas pasien: Nama, Umur, Sex, Suku, Agama,
Pekerjaan, Alamat
b. Keluhan utama
c. Mekanisma trauma, waktu dan perjalanan trauma
d. Pernah pingsan atau sadar setelah trauma
e. Amnesia retrograde atau antegrade
f. Keluhan : Nyeri kepala seberapa berat, penurunan
kesadaran, kejang, vertigo
g. Riwayat mabuk, alkohol, narkotika, pasca operasi kepala
h. Penyakit penyerta : epilepsi, jantung, asma, riwayat operasi
kepala,hipertensi dan diabetes melitus, serta gangguan faal
pembekuan darah
2.1.3.2 Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan kapan cedera terjadi. Bagaimana mekanismenya.
Apa penyebab nyeri/cedera. Darimana arah dan kekuatan
pukulan?
2.1.3.3 Riwayat penyakit dahulu
Apakah klien pernah mengalami kecelakaan/cedera
sebelumnya, atau kejang/ tidak. Apakah ada penyakti sistemik
seperti DM, penyakit jantung dan pernapasan. Apakah klien
dilahirkan secara forcep/ vakum. Apakah pernah mengalami
gangguan sensorik atau gangguan neurologis sebelumnya. Jika
pernah kecelakaan bagimana penyembuhannya. Bagaimana
asupan nutrisi.
2.1.3.4 Riwayat penyakit keluarga
Apakah ibu klien pernah mengalami preeklamsia/ eklamsia,
penyakit sistemis seperti DM, hipertensi, penyakti degeneratif
lainnya.
2.2 Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
2.2.1 Diagnosa 1 : ketidakefektifan pola napas
2.2.1.1 Definisi : inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak memberi
ventilasi adekuat.
2.2.1.2 Batasan karakteristik : bradipnea, dipnea, fase ekspirasi
panjang, ortopnea, penggunaan otot bantu pernapasan,
penggunaan posisi tiga titik, peningkatan diameter anterior
posteior, penurunan kapasitas vital, penurunan tekanan
ekspirasi, penurunan tekanan inspirasi, penurunan ventilasi
selama semenit, pernapasan bibir, pernapasan cuping hidung,
perubahan ekskursi dada, pola napas abnormal (mis: irama,
frekuensi, kedalaman), takipnea.
2.2.1.3 Faktor yang berhubungan
Cedera medula spinalis, deformitas dinding dada, deformitas
tulang, disfungsi neuromuskular, gangguan neurologis (mis:
EEG positif, trauma kepala, gangguan kejang), hiperventilasi.
2.2.2 Diagnosa 2 : risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak
2.2.2.1 Definisi : rentan mengalami penurunan sirkulasi jaringan otak
yang dapat mengganggu kesehatan.
2.2.2.2 Faktor risiko : tumor otak (mis: gangguan serebrovaskular,
penyakit neurologis, trauma, tumor)
2.3 Perencanaan
2.3.1 Diagnosa 1
2.3.1.1 Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernapasan. Catat
ketidakteraturan pernapasan.
2.3.1.2 Pantau dan catat kompetensi reflek gangguan menelan dan
kemampuan pasien untuk melindungi jalan napas sendiri.
Pasang jalan napas sesuai indikasi.
2.3.1.3 Auskultasi suara napas, perhatikan daerah hipoventilasi dan
adanya suara tambahan yang tidak normal misal: ronkhi,
wheezing, krekel.
2.3.1.4 Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya, posisi miirng
sesuai indikasi.
2.3.1.5 Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam yang efektif
bila pasien sadar.
2.3.2 Diagnosa 2
2.3.2.1 Tentukan faktor-faktor yang menyebabkan koma/penurunan
perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK.
2.3.2.2 Pantau /catat status neurologis secara teratur dan bandingkan
dengan nilai standar GCS
2.3.2.3 Evaluasi keadaan pupil, ukuran, kesamaan antara kiri dan
kanan, reaksi terhadap cahaya.
2.3.2.4 Pantau tanda-tanda vital: TD, nadi, frekuensi nafas, suhu
2.3.2.5 Bantu pasien untuk menghindari /membatasi batuk, muntah,
mengejan.
2.3.2.6 Kolaborasikan pemberian obat sesuai indikasi, misal: diuretik,
steroid, antikonvulsan, analgetik, sedatif, antipiretik

III. Daftar Pustaka


Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika.

Amin Huda Nurarif & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
berdasarkan Nanda NIC NOC edisi revisi jilid 2. Jogjakarta :
Mediaction

Timneurotrauma RSUD dr.Soetomo Fak. Kedokteran UNAIR. 2014. Pedoman


Tatalaksana Cedera Otak. Surabaya.
Banjarmasin, Januari 2018

Preseptor Klinik

( )