Anda di halaman 1dari 8

Salah satu topik dalam ilmu Kimia adalah sifat koligatif larutan.

Topik sifat koligatif larutan

diajarkan pada kelas XII semester ganjil di SMA/MA. Sesuai dengan Kurikulum 2013, khususnya

yang tertuang pada silabus mata pelajaran Kimia peminatan bidang IPA, topik sifat koligatif

larutan ini tertuang pada kompetensi dasar nomor 1.1, nomor 1.2, nomor 2.1, nomor 2.2, nomor

2,3 yang bersal dari penjabaran kompetensi inti 1 dan 2, nomor 3.1, nomor 3.2 dan nomor 4.1,

nomor 4.2 yang berasal dari penjabaran KI 3 dan 4. Kompetensi dasar 3.1 yang terkait langsung

dengan topik belajar sifat koligatif larutan berbunyi, menganalisis penyebab adanya fenomena

sifat koligatif larutan pada penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan

tekanan osmosis dan kompetensi dasar 3.2 berbunyi membedakan sifat koligatif larutan elektrolit

dan larutan nonelektrolit. Pada kompetensi dasar nomor 4.1 yang berbunyi menyajikan hasil

analisis berdasarkan data percobaan terkait penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan

titik beku, dan tekanan osmosis larutan dan pada kompetensi dasar 4.2 berbunyi mengolah dan

menganalisis data percobaan untuk membandingkan sifat koligatif larutan elektrolit dengan sifat

koligatif larutan nonelektrolit yang konsentrasinya sama.

Saat melarutkan suatu zat terlarut dalam suatu pelarut murni, maka kemungkinan

besar akan terjadi hal-hal sebagai berikut.

1) Pada larutan akan lebih sukar menguap jika dibandingkan pelarut murninya karena

pada larutan mengalami penurunan tekanan uap akibat adanya partikel terlarut.

2) Jika dididihkan, larutan akan mendidih pada suhu yang lebih tinggi jika dibandingkan

pelarut murninya. Akibat adanya partikel terlarut akan menaikkan titik didih.

3) Jika dibekukan, larutan akan membeku pada suhu yang lebih kecil atau dibawah suhu

membeku pelarut murninya. Akibat adanya partikel terlarut akan terjadi penurunan titik

beku.
4) Jika larutan dihubungkan dengan pelarut murninya melewati membrane

semipermiabel, maka larutan akan mengalami kenaikan volume akibat tekanan

osmotik.

Besarnya perubahan keempat sifat tersebut bergantung pada jumlah partikel zat terlarut

dalam larutan. Sifat yang hanya bergantung pada jumlah partikel zat terlarut dan tidak bergantung

pada jenis zat terlarut disebut sifat koligatif larutan. Sifat koligatif terdiri atas penurunan tekanan

uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik.

1) Penurunan Tekanan Uap (ΔP)

Suatu zat cair dalam ruangan tertutup akan menguap, pakaian basah dapat menjadi

kering. Kejadian tersebut dapat terjadi karena air mengalami penguapan. Proses penguapan

adalah perubahan suatu wujud zat dari cair menjadi gas. Adakecenderungan bahwa suatu zat

cair akan mengalami penguapan. Kecepatan penguapan dari setiap zat cair tidak sama. Akan

tetapi, pada umumnya zat cair akan semakin mudah menguap jika suhunya tinggi.

Banyak sedikitnya uap di atas permukaan zat cair diukur berdasarkan tekanan uap zat

cair tersebut. Semakin tinggi suhu zat cair, semakin banyak uap yang berada di atas permukaan

zat cair. Hal ini berarti tekanan uapnya semakin tinggi. Jumlah uap di atas permukaan zat cair

akan mencapai kejenuhan pada tekanan tertentu, sebab jika jumalah uap sudah jenuh akan

menjadi pengembunan. Tekanan uap ini disebut tekanan uap jenuh.

Jenis zat dan suhu sangat memengaruhi besarnya tekanan uap jenuh. Zat yang memiliki

gaya tarik-menarik relatif kecil berarti mudah menguap dan mempunyai tekanan uap jenuh

relatif besar, contohnya atsiri, etanol, dan eter. Jika di dalam air terlarut zat yang sukar

menguap (nonvolatil) seperti garam maka proses penguapan akan terganggu. Penguapan air

merupakan peristiwa lepasnya molekul-molekul air dari permukaan air tersebut. Jika di atas
permukaan air terhalang oleh partikel-partikel zat yang terlarut di dalamnya, proses penguapan

akan terganggu. Akibatnya, jumlah uap air di atas permukaan air menjadi berkurang sehingga

tekanan uapnya akan turun. Besarnya penurunan tekanan uap air akibat adanya zat terlarut

disebut dengan penurunan tekanan uap larutan.

Sejak tahun 1987-1988, Franscois Marie Raoult telah mempelajari hubungan antara

tekanan uap dan konsentrasi zat terlarut, dan mendapatkan suatu kesimpulan bahwa, besarnya

tekanan uap larutan sebanding dengan fraksi mol pelarut dan tekanan uap dari pelarut

murninya.

Pernyataan tersebut dikenal dengan Hukum Raoult dan dapat dituliskan sebagai

berikut.

P = P° Xpelarut

dengan: P = tekanan uap larutan; Xpelarut = fraksi mol pelarut; P° = tekanan uap pelarut murni.

Penurunan tekanan uap larutan (ΔP) merupakan sifat koligatif, bukan tekanan uap

larutan (P). oleh karena itu, perlu dicari hubungan antara penurunan tekanan uap larutan

dengan besarnya tekanan uap larutan. Besarnya penurunan tekanan uap larutan (ΔP)

merupakan selisih dari tekanan uap pelarut murni (P°) dengan tekanan uap larutan (P),

sehingga dapat dinyatakan:

∆P = P° – P

Oleh karena P = P° Xpelarut, maka persamaan tersebut dapat ditulis menjadi:

∆P = P° – (P° Xpelarut)

∆P = P° – (1 - Xpelarut)

Telah diketahui bahwa: Xpelarut + Xterlarut = 1, sehingga:

1 - Xpelarut = Xterlarut
Dengan demikian, nilai penurunan tekanan uap larutan dapat dirumuskan:

∆P = P° Xterlarut

dengan: ∆P = penurunan tekanan uap larutan; Xterlarut = fraksi mol zat terlarut

2) Kenaikan Titik Didih (∆Tb)

Jika suatu zat cair dinaikkan suhunya, semakin semakin banyak zat cair yang menguap.

Pada suatu suhu tertentu, tekanan uap zat cair di atas permukaan zat akan sama dengan tekanan

udara luar. Pada saat itulah zat cair mendidih. Suhu dimana tekanan uap di atas permukaan zat

cair sama dengan tekanan udara luar disebut dengan titik didih.

Titik didih air murni pada tekanan 1 atm adalah 100°C. Hal ini berarti pada saat air

dipanaskan sampai 100°C, tekanan uap air murni akan mencapai 1 atm atau 760 mmHg (sama

dengan tekanan udara luar). Dengan demikian, apabila tekanan udara luar kurang dari 1 atm

(misalnya di puncak gunung), maka titik didih air kurang dari 100°C.

Jika ke dalam air murni dilarutkan suatu zat yang sukar menguap, maka pada suhu

100°C tekanan uap air belum mencapai 1 atm. Hal ini berarti air belum menddih. Agar dapat

mendidih (tekanan uap air mencapai 1 atm), maka diperlukan suhu yang lebih tinggi. Besarnya

kenaikan suhu itulah yang disebut dengan kenaikan titik didih (ΔTb).

Seperti yang dijelaskan bahwa sifat koligatif tidak dipengaruhi oleh jenis (macamnya)

zat yang dilarutkan, tetapi ditentukan oleh jumlah partikel yang terlarut didalamnya,yang

dinyatakan dengan konsentrasi. Tetapan kenaikan titik didih molal (Kb) adalah besarnya

kenikan titik didih untuk 1 molal larutan. Nilai tetapan kenaikan titik didih molal (Kb) untuk

setiap pelarut tidak sama. Dengan mengetahui nilai tetapan kenaikan titik didih molal (Kb) dari

pelarutmya, nilai kenaikan titik didih dapat ditentukan dengan memerhatikan kemolalan
larutan. Hubungan antara kemolalan (m) dengan kenaikan titik didih (ΔTb) adalah sebagai

berikut.

ΔTb = Kb m

Titik didih larutan merupakan titik didih pelarut ditambah dengan besarnya kenaikan titik

didih, atau:

Tb= 𝑇𝑏° + ΔTb

Oleh karena molalitass larutan dirumuskan dengan:


1000
m=nx p

maka:

ΔTb = Kb m

1000
ΔTb = Kb (n x )
p

dengan: ΔTb = kenaikan titik didih molal; Kb = tetapan kenaikan titik didih molal; n = jumlah

mol zat terlarut; p = massa pelarut.

3) Penurunan Titik Beku (∆Tf)

Proses pembekuan adalah merapatnya partikel-partikel zat cair sehingga akan terjadi

gaya tarik-menarik antarmolekul zat cair yang sangat kuat dan akhirnya terbentuklah zat padat.

Adanya zat terlarut akan mengakibatkan proses pergerakan molekul-molekul pelarut terhalang

sehingga diperlukan suhu yang lebih rendah untuk dapat mendekatkan jarak antarmolekul agar

terjadi proses pembekuan. Dengan demikian, adanya zat terlarut pada suatu zat cair akan

mengakibatkan penurunan titik beku zat cair tersebut.


Penurunan titik beku larutan merupakan sifat koligatif, seperti halnya kenaikan titik

didih. Penurunan titik beku tidak dipengaruhi (ditentukan)oleh jenis (macam) zat yang terlarut,

tetapi ditentukan oleh seberapa banyak jumlah zat yang terlarut.

Seperti halnya kenaikan titik didih, ukuran penurunan titik beku larutan bergantung

pada besarnya tetapan penurunan titik beku molal (Kf) pelarutnya. Tetapan penurunan titik

beku molal (Kf) adalah besarnya penurunan titik beku untuk setiap molal zat terlarut dalam

suatu larutan. Nilai tetapan penurunan titik beku molal (Kf) untuk setiap pelarut tidak sama.

Penurunan titik beku larutan sebanding dengan hasil kali antara kemolalan larutan (m) dengan

tetapan penurunan titik beku molal (Kf), dan dinyatakan dengan persamaan:

ΔTf = Kf m

1000
ΔTb = Kb (n x )
p

dengan: ΔTf = penurunan titik beku molal; Kf = tetapan penurunan titik didih molal; n = jumlah

mol zat terlarut; p = massa pelarut.

4) Tekanan Osmotik (π)

Peristiwa bergeraknya partikel-partikel dari suatu larutan yang lebih encer atau pelarut

murni ke larutan yang lebih pekat melalui dinding semipermeabel disebut dengan osmosis.

Tidak semua molekul atau partikel dapat melewati dinding semipermeabel. Hanya molekul

atau partikel yang berukuran kecil yang dapat melewati pori-pori lapisan dinding

semipermeabel. Jika dua larutan yang berbeda konsentrasi saling berhubungan dengan

penyekat membran semipermeabel, akan terjadi kecenderungan di mana partikel-partikel

bergerak untuk mendapatkan kondisi kesetimbangan. Caranya, molekulmolekul yang lebih

kecil (pelarut) dari larutan yang berkonsentrasi rendah akan menerobos masuk melalui dinding
semipermeabel untuk menuju ke larutan yang lebih pekat. Proses ini menimbulkan tekanan

pada dinding semipermeabel dan disebut sebagai tekanan osmosis. Besarnya tekanan osmosis

diukur dengan alat osmometer, dengan memberikan beban pada permukaan larutan yang naik

sehingga menjadi sejajar dengan permukaan sebelumnya. Berdasarkan pengamatan Jacobus

Henricus van’t Hoff, pada larutan ideal berlaku hukum gas ideal sehingga dari persamaan gas

ideal:

PV=nRT

maka tekanannya:

nRT
P= V

Jika tekanan osmosis larutan dilambangkan dengan π, dari persamaan di atas akan diperoleh:

nRT
π= V

𝑛
oleh karena menyatakan konsentrasi suatu larutan (M), maka nilai tekanan osmosis suatu
𝑉

larutan dapat dinyatakan dengan:

π=MRT

dengan: π = tekanan osmosis; M = konsentrasi molar; R = tetapan gas ideal (0,082 L atm K-1

mol-1); T = suhu mutlak (K).

Sebelumnya, telah dibahas bahwa sifat koligatif hanya bergantung pada jumlah partikel

yang terlarut di dalamnya, dan tidak bergantung pada jenis zat yang terkandung di dalam larutan.

Dalam konsentrasi yang sama, larutan elektrolit mengandung jumlah partikel yang lebih banyak

daripada larutan nonelektrolit. Hal ini disebabkan di dalam larutan elektrolit, zat terlarut akan

terionisasi.

Menurut van’t Hoff, besarnya nilai sifat koligatif larutan elektrolit akan lebih besar

daripada nilai sifat koligatif larutan nonelektrolit. Pada larutan elektrolit, zat terlarut mengalami
ionisasi. Dari reaksi ionisasi, terdapat faktor perkalian sebesar {1 + (n – 1) α}. Nilai ini disebut

dengan faktor van’t Hoff dan diberi lambang (i). Nilai sifat koligatif larutan elektrolit lebih tinggi

daripada larutan nonelektrolit yang konsentrasinya sama akibat terjadinya ionisasi pada larutan

elektrolit sehingga jumlah partikel yang ada dalam larutan bertambah. Dengan memerhatikan

faktor van’t Hoff, maka rumusan sifat-sifat koligatif untuk larutan elektrolit harus dikalikan

dengan (i).

i = {1 + (n – 1) α}

dengan: n = jumlah ion yang dihasilkan dari setiap satu satuan rumus kimia terlarut; α = derajat

ionisasi (untuk larutan elektrolit kuat umumnya dianggap = 1).

Selanjutnya, penerapan dalam penggunaan sifat koligatif larutan yaitu, antara lain:

1) Cairan anti beku pada radiator mobil

Di daerah beriklim dingin, ke dalam air radiator biasanya ditambahkan etilen glikol. Dengan

penambahan etilen glikol ke dalam air radiator, maka senyawa ini akan mudah menurunkan

titik beku sehingga dalam keadaan dingin pun cairan radiator tidak membeku. Selain itu, cairan

beku ini juga menaikkan titik didih sehingga mengurangi penguapan yang terjadi pada radiator.

2) Campuran pendingin

Untuk cairan pendingin pada pabrik es dan membuat es putar yang memiliki titik beku jauh di

bawah 0°C..

3) Pembuatan cairan fisiologis

Cairan fisiologis merupakan cairan yang isotonik dengan cairan tubuh kita. Contoh cairan

fisiologis adalah cairan infuse dan obat tetes mata.