Anda di halaman 1dari 117

PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA

BAGIAN BARAT
Pelatihan Manajemen
Kualitas
September 2017
PROGRAM PELATIHAN
MANAJEMEN KUALITAS
Waktu Program
7:30 pagi Tiba di lokasi pelatihan
8:00 pagi Perkenalan Pelatihan Manajemen Kualitas
Masalah Sektor Jalan
Temuan dari Pemeriksaan Kualitas Pekerjaan Jalan
Bagaimana untuk memperbaiki kualitas
Pengendalian Kualitas
9:00 pagi Istirahat minum teh
Pengendalian Kualitas, Jaminan Kualitas
12:00 siang Istirahat Makan Siang
1:30 siang Pelatihan Kualitas dan pemeriksaan ke lokasi kerja terdekat
4:00 sore Tanya jawab dan umpan balik pelatihan
4:30 sore Akhir pelatihan
pelatihan manajemen kualitas
Pelatihan manajemen kualitas disajikan oleh ;
1. Russell Burke – Spesialis Transportasi / Insinyur Sipil World Bank
2. Agus Sjamsudin – Konsultan Transportasi World Bank
3. Julius Sohilait – Co-Team Leader CTC

Tujuan Pelatihan Manajemen Kualitas adalah untuk meningkatkan kualitas pekerjaan konstruksi
sipil melalui perbaikan manajemen kualitas.

Peningkatan Kualitas akan dicapai melalui;


• Pengendalian Kualitas - Penerapan standar konstruksi yang tinggi oleh Kontraktor
• Jaminan Kualitas - Penerapan standar pengawasan yang tinggi oleh Konsultan Desain &
Pengawasan
• Staf dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap yang tepat untuk memenuhi peran dan tanggung jawab mereka
dalam proyek tersebut
Pelatihan manajemen kualitas
Pelatihan Manajemen Kualitas yang dipresentasikan hari ini;;
 Merupakan hasil temuan dari Pemeriksaan Kualitas Pekerjaan Jalan World Bank pada paket;
 14,20 dan 21 pada bulan Maret 2017;
 5,7,8,12,13,15,17 pada bulan Mei 2017;
 16 pada bulan Agustus 2017 dan

 Berfokus pada peningkatan kualitas pekerjaan konstruksi sipil melalui perbaikan


manajemen kualitas.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan,
anggota Unit Manajemen Proyek, Konsultan Tim Inti, Konsultan Pengawasan Desain dan
Kontraktor Konstruksi yang mendampingi pemeriksaan atas bantuan mereka dalam;
 mengidentifikasi kekurangan kualitas (gagal uji);
 rekomendasi untuk tindakan perbaikan dan
 perbaikan kualitas kerja
MASALAH SEKTOR JALAN
Rendahnya kualitas pekerjaan konstruksi sipil secara konsisten telah
teridentifikasi sebagai faktor utama dalam pembangunan prasarana yang buruk

Pemeliharaan Standar deasin tidak


tidak memadai diterapkan secara sistematis
Kualitas
pekerjaan jalan
Kurangnya tidak optimal Kualitas desain teknis
penegakan dan umur serta yang buruk dan
peraturan kinerja jalan seringnya modifikasi
kelebihan relatif pendek kontrak pekerjaan
beban sipil

Tidak ada audit Kekurangan pengawasan


teknis kerja
independen
Perencanaan prasarana
yang buruk
MASALAH SEKTOR JALAN

Jalan sering kali mulai turun dalam


dua atau tiga tahun, bukan sesuai usia
desain sepuluh atau dua puluh tahun
Ringkasan gagal uji kualitas WINRIP

Pemeriksaan Kualitas Jalan Raya mendapati adanya gagal uji pada pekerjaan sipil Drainase, Aspal, Galian, Sarana
dan Base Camp di semua paket WINRIP yang diperiksa.
Jumlah gagal uji tertinggi yang ditemukan adalah;
• Beton Honeycomb – beton berlubang karena pemadatan yang kurang
• Tulangan baja – penutup pelindung yang tidak mencukupi (pracetak dan in situ)
• Jarak tulangan – jarak tidak konsisten, jumlah tulangan yang tidak mencukupi
• Unit pracetak yang rusak – unit retak dan terkelupas yang tidak diperbaiki/diganti
• Akses yang sulit ke properti/tepi jalan – ketinggian aspal jalan baru yang lebih tinggi
• Aspal - segregasi aggregat, berbekas roda, penampang yang tidak rata, retak, peningkatan kelembaban
• Galian untuk jalan baru - kedalaman kotakan terlalu dangkal
• Base Camp – Bahaya lingkungan akibat kontaminasi aspal dan bahan bakar diesel di lokasi
• Laporan Laboratorium - Pengujian material agregat lebih lambat dari jadwal/tidak ditandatangani


Drainase Beton

Efek beton berlubang - Penutupan tulangan baja Penutupan tulangan baja (in-situ)
pemadatan yang tidak memadai - (pracetak) terlalu rendah - korosi terlalu rendah - korosi dan pecah
berongga - kehilangan kekuatan dan pecah - kegagalan prematur - kegagalan prematur
Apa yang kami temukan
gagal uji
Drainase - Beton

Beton - jarak/jumlah tulangan Kelurusan yang tidak rata dari Unit beton yang rusak tidak
baja tidak benar - mengurangi Selokan U pracetak - celah besar diperbaiki/diganti - kegagalan beton
kekuatan beton antar unit - kegagalan prematur
penimbunan prematur
Apa yang kami temukan
gagal uji
Drainase

Penyumbatan Air drainase jalan mengalir Tutup drainase - bahaya


Gorong-gorong ke toko-toko terdekat perjalanan bagi pejalan
menyebabkan banjir kaki
Apa yang kami temukan
gagal uji
Drainase

Saluran air Selokan U in-situ tidak dibangun Pipa drainase dibangun


menghalangi pipa sesuai gambar rancangan - terlalu dengan gradien kemiringan -
pembuangan dangkal mengurangi kapasitas belakang yang salah
drainase
Apa yang kami temukan
Drainase gagal uji

Genangan air di bahu jalan -


drainase yang tidak memadai
Apa yang kami temukan
gagal uji
Aspal

Jalan baru terlalu tinggi Lapisan dasar aspal tidak Bagian jalan dihilangkan
Transisi ke properti dibutuhkan memuaskan - segregasi, berbekas - paket 7 & paket 8
ban, retak, bergelembung,
penampang tidak merata
Apa yang kami temukan
gagal uji
Aspal

Gelembung kelembaban sub Lubang uji pemadatan Aspal tumpah di jalan bahu -
permukaan melalui rutin kemungkinan kontaminasi
permukaan yang rusak Perbaikan tidak memadai
Apa yang kami temukan
gagal uji
Galian

Ketidakstabilan lereng – galian Ketinggian kotakan pengaspalan Tumpukan kelembaban di belakang


berlebihan di tempat terlalu dangkal - mengurangi dinding penahan – menimbun
pembuangan kekuatan jalan dengan bahan non-granular yang
tidak sesuai
Apa yang kami temukan
gagal uji
Galian

Kotakan pengaspalan jalan – Saluran air memotong jalan


tanda pengaman yang tidak melalui aspal - menyebabkan
memadai pada turunan kerusakan jalan
Apa yang kami temukan
gagal uji
Struktur

Dinding penahan batu - Dinding penahan batu - ditinggikan


perbaikan yang tidak agar sesuai dengan ketinggian jalan
memadai baru dan mencegah turunan
Apa yang kami
Base camp temukan
gagal uji

Kontaminasi aspal dan Sedimen air hujan tidak Laporan laboratorium tentang
bahan bakar diesel tertampung, genangan air di agregat/campuran desain lebih
lokasi lambat dari jadwal/tidak
ditandatangani
Apa yang kami temukan
Base camp
gagal uji

Kontaminasi tumpukan Tulangan baja yang tersimpan di atas


persediaan agregat/tanah tanah - membutuhkan penutup dan
lainnya penyimpanan kering untuk mencegah
korosi
Apa yang kami temukan
Peralatan
gagal uji

Ban dari Pneumatic Tire Roller (PTR) memerlukan


penggantian dan tekanan udara harus diperiksa -
peralatan yang salah menyebabkan pemadatan yang
buruk.
Apa yang kami temukan
Tanda Lalu
gagal uji
lintas

Kurangnya tanda peringatan untuk


pemotongan, peninggian, pelebaran, dan
lokasi kegiatan lainnya - mengarah ke
tempat kerja yang tidak aman untuk
pengendara dan pejalan kaki.
Apa yang kami temukan
Kesehatan dan gagal uji
Keselamatan
kerja

Mengenakan Peralatan Pelindung Diri yang


tidak memadai - menyebabkan kecelakaan
kerja
Gagal uji kualitas
apa, bagaimana dan siapa
Latihan 1

Apa alasan kita memiliki gagal uji kualitas

Bagaimana anda akan mencoba mencegah


gagal uji kualitas

Siapa yang bertanggung jawab atas kualitas


gagal uji kualitas
apa dan bagaimana
• Latihan 1
Jawaban untuk diskusi
Tidak mematuhi persyaratan sistem kualitas dalam Spesifikasi Umum

Pandu Kontraktor untuk menggunakan Metode yang tepat


Pandu Kontraktor untuk menggunakan material yang tepat
Pandu Kontraktor untuk menggunakan peralatanyang tepat,
Untuk menghasilkan kualitas tepat dari hasil.

Saya bertanggungjawab atas kualitas


Bagaimana memperbaiki kualitas
• Tujuan utama adalah menangani semua rantai kualitas

Desain Metode,
Tenaga yang Material & Insentif Pengendalian Hasil
kerja ahli Peralatan keuangan kualitas berkualitas
bagus Berkualitas

• Sekarang berfokus pada 2 jalur rantai kualitas

Desain Metode,
Tenaga yang Material & Insentif Pengendalian Hasil
kerja ahli Peralatan keuangan kualitas berkualitas
bagus Berkualitas
Bagaimana memperbaiki kualitas
Perbaikan Kualitas dalam jangka pendek akan
dicapai dengan fokus pada Pengendalian
Kualitas yang diatur oleh Kontraktor

Metode,
material &
peralatan
berkualitas
dan Jaminan Kualitas yang diatur oleh
Konsultan Pengawas Desain atas nama Insinyur

Pengendalian
kualitas

26
Bagaimana memperbaiki kualitas
Apa perbedaan antara Pengendalian Kualitas dan Jaminan Kualitas?

Pengendalian Kualitas Jaminan Kualitas


Fokus pada hasil Fokus pada proses
Memeriksa, menguji dan meng-audit Menganalisa hasil
data
Menemukan gagal uji Mencegah gagal uji
Contoh – Pernyataan Metode Kerja Contoh – Instruksi Kerja Pengawasan
• Dasar jalan, Agregat Kelas B • Pekerjaan batu, pembetonan
• Rencana Pengendalian Kualitas • Daftar periksa Pemeriksaan

27
pengendalian kualitas sarana beton

Latihan 2
Latihan ini akan melibatkan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1 Beton dan 7.3
Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana oleh tiap peserta pelatihan

Latihan ini akan didukung oleh video instruksi mengenai;


• Uji untuk penggolongan agregat jalan
• Pemadatan Beton Metode,
• Tutupan Tulangan material &
• Uji Kekuatan Tekanan Beton peralatan
berkualitas
pengendalian kualitas sarana beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Klausul Deskripsi Data pemeriksaan


spesifikasi
7.1.1.5 Toleransi (d) Toleransi kelurusan vertikal
7.1.1.7 Penyerahan (e)Kontraktor harus memberitahu
Insinyur ……………
7.1.1.8 Penyimpanan dan perlindungan semen………

7.1.1.2 Semen a) Semen yang digunakan dalam pekerjaan


beton harus …………..
7.1.2.2 Air yang digunakan dalam pencampuran harus………
pengendalian kualitas sarana beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Klausul Deskripsi Data pemeriksaan


spesifikasi
7.1.1.5 Toleransi (d) Toleransi kelurusan vertikal +/- 10mm
7.1.1.7 Penyerahan (e)Kontraktor harus memberitahu Secara tertulis minimal 24 jam sebelum
Insinyur …………… pencampuran atau pelapisan beton
7.1.1.8 Penyimpanan dan perlindungan semen……… Kontraktor harus menyediakan gudang
tahan cuaca
7.1.1.2 Semen a) Semen yang digunakan dalam pekerjaan Semen Portland
beton harus …………..
7.1.2.2 Air yang digunakan dalam pencampuran harus……… Bebas dari minyak, garam, asam, alkali,
gula dan material organik
pengendalian kualitas sarana beton

Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1 Beton
dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Video “Uji untuk penggolongan agregat jalan”


pengendalian kualitas sarana
beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1 Beton
dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana
Klausul Deskripsi Data pemeriksaan
spesifikasi
7.1.2.3 Penggolongan Agregat sesuai…………
7.1.2.4 b) Properti agregat. Agregat harus
bebas dari ……………
7.1.3.2 a) Campuran percobaan. Kontraktor
harus paling tidak …………………………
7.1.3.3 Persyaratan properti campuran
Semua beton yang digunakan
dalam pekerjaan harus……….
pengendalian kualitas sarana
beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1 Beton
dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana
Klausul Deskripsi Data pemeriksaan
spesifikasi
7.1.2.3 Penggolongan Agregat sesuai………… Tabel 7.1.2.1 Persyaratan Penggolongan Agregat
7.1.2.4 b) Properti agregat. Agregat harus Bahan organik dan harus sesuai dengan spesifikasi properti
bebas dari …………… yang diberikan pada Tabel 7.1.2.2 properti Agregat
7.1.3.2 a) Campuran percobaan. Kontraktor 35 hari sebelum dimulainya pembetonan, dilakukan
harus paling tidak ………………………… persiapan percobaan laboratorium yang akan disaksikan
oleh Insinyur
7.1.3.3 Persyaratan properti campuran Memenuhi persyaratan uji kekuatan tekanan dan tumpukan
Semua beton yang digunakan yang ditentukan pada Tabel 7.1.3.2
dalam pekerjaan harus……….
pengendalian kualitas sarana beton

Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Video “ Uji tumpukan beton”


pengendalian kualitas sarana beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Klausul Deskripsi Data pemeriksaan


spesifikasi
7.1.3.3 c) Persyaratan properti campuran beton yang tidak
memenuhi persyaratan tumpukan………
7.1.3.4 e) Pencampuran menggunakan tangan tidak diijinkan
kecuali…………….…
7.1.4.1 f) Persiapan lokasi Insinyur akan memeriksa semua
penggalian dan pondasi yang disiapkan
sebelum………….………
7.1.4.3 a) Pelapisan Kontraktor harus memberitahu Insinyur
secara tertulis paling tidak…………..
pengendalian kualitas sarana beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Klausul Deskripsi Data pemeriksaan


spesifikasi
7.1.3.3 c) Persyaratan properti campuran beton yang tidak Tidak dilapiskan dalam pekerjaan tersebut
memenuhi persyaratan tumpukan………
7.1.3.4 e) Pencampuran menggunakan tangan tidak diijinkan Dalam kasus darurat, tanpa persetujuan tertulis
kecuali…………….… dari insinyur
7.1.4.1 f) Persiapan lokasi Insinyur akan memeriksa semua Menyetujui penempatan bekisting atau tulangan
penggalian dan pondasi yang disiapkan baja atau beton
sebelum………….………
7.1.4.3 a) Pelapisan Kontraktor harus memberitahu Insinyur 24 jam sebelum kontraktor bermaksud untuk
secara tertulis paling tidak………….. mulai melapiskan beton. Kontraktor tidak boleh
melapiskan beton tanpa persetujuan tertulis
untuk melanjutkan
pengendalian kualitas sarana beton

Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Video “Pemadatan Beton”


pengendalian kualitas sarana beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Klausul Deskripsi Data pemeriksaan


spesifikasi
7.1.4.3 b) Pelapisan Beton harus tidak dilapiskan
ketika………….………
7.1.4.3 c) Pelapisan Segera sebelum beton dilapiskan,
bekisting harus …………….…
7.1.4.5 a) Pencampuran Beton harus dicampur
dengan……….………yang sudah disetujui
7.1.4.5 b) Pencampuran Pemberian perhatian harus
dilakukan selama pencampuran untuk memastikan
bahwa semua sudut dan ruang di sekitar batang
tulangan ……..
pengendalian kualitas sarana beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Klausul Deskripsi Data pemeriksaan


spesifikasi
7.1.4.3 b) Pelapisan Beton harus tidak dilapiskan Insinyur atau wakilnya tidak hadir untuk
ketika………….……… menyaksikan operasi pencampuran dan pelapisan
7.1.4.3 c) Pelapisan Segera sebelum beton dilapiskan, Jenuh dengan air atau dilapisi secara internal
bekisting harus …………….… dengan minyak mineral tidak berbekas
7.1.4.5 a) Pencampuran Beton harus dicampur Vibrator mekanik internal dan eksternal, harus
dengan……….………yang sudah disetujui dilengkapi dengan tuas tangan
7.1.4.5 b) Pencampuran Pemberian perhatian harus Diisi dengan benar tanpa pemindahan kandang
dilakukan selama pencampuran untuk memastikan penguat dan semua rongga dan gelembung udara
bahwa semua sudut dan ruang di sekitar batang terisi beton
tulangan ……..
pengendalian kualitas sarana beton

Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Video “Uji Kekuatan Tekanan Beton”


pengendalian kualitas sarana beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana
Klausul Deskripsi Data pemeriksaan
spesifikasi
7.1.5.1 a) Penyingkiran bekisting bekisting tidak boleh
disingkirkan dari permukaan vertikal …..………
7.1.5.2 c) Pelapisan Jika insinyur menyetujui pengisian rongga
besar honeycombs ..…
7.1.5.4 b) Perbaikan Beton harus segera diperbaiki setelah
dikeraskan dengan cukup….………
7.1.6.2 a) Sampling Pengendalian Kualitas Lapangan Terlepas
dari kuantitas, produksi beton harian harus diuji baik
untuk……..
7.1.6.2 b) Catatan Persyaratan Kekuatan Catatan semua uji harus
disimpan dengan…………..
pengendalian kualitas sarana beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana
Klausul Deskripsi Data pemeriksaan
spesifikasi
7.1.5.1 a) Penyingkiran bekisting bekisting tidak boleh Sampai 30 jam setelah selesainya penempatan
disingkirkan dari permukaan vertikal …..……… beton
7.1.5.2 c) Pelapisan Jika insinyur menyetujui pengisian Pekerjaan akan dikelupas menjadi material
rongga besar honeycombs ..…
7.1.5.4 b) Perbaikan Beton harus segera diperbaiki setelah Dengan menutupnya dengan selubung penyerap
dikeraskan dengan cukup….……… air yang harus benar-benar jenuh
7.1.6.2 a) Sampling Pengendalian Kualitas Lapangan Tumpukan dan kekuatan
Terlepas dari kuantitas, produksi beton harian
harus diuji baik untuk……..
7.1.6.2 b) Catatan Persyaratan Kekuatan Catatan semua uji Insinyur tapi hasilnya harus tersedia untuk
harus disimpan oleh………….. kontraktor
pengendalian kualitas sarana beton

Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Video “Tutupan atas tulangan baja”


pengendalian kualitas sarana beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Klausul Deskripsi Data pemeriksaan


spesifikasi
7.3.1.5 a) Tulangan baja Toleransi tulangan baja harus
ditempatkan sedemikian rupa sehingga ..………
7.3.1.6 b) Penyimpanan dan penanganan kontraktor harus
menangani dan menyimpan semua tulangan baja
…....…
7.3.2.2 Tumpuan untuk tulangan harus dibentuk dari….………

7.3.3.2 b) Penempatan dan pengikatan tulangan harus


diposisikan secara akurat……… ……..
pengendalian kualitas sarana beton
Latihan 2 - lanjutan Pengembangan daftar periksa Pengendalian Kualitas untuk Bagian 7.1
Beton dan 7.3 Tulangan baja dari Spesifikasi Umum Bagian 7 Sarana

Klausul Deskripsi Data pemeriksaan


spesifikasi
7.3.1.5 a) Tulangan baja Toleransi tulangan baja harus Tutupan beton minimum yang jelas harus seperti yang
ditempatkan sedemikian rupa sehingga ..……… ditunjukkan pada tabel 7.3.1 Tutupan Minimum untuk
Tulangan Baja agar terlihat
7.3.1.6 b) Penyimpanan dan penanganan kontraktor harus Untuk mencegah distorsi, kontaminasi, korosi, atau
menangani dan menyimpan semua tulangan baja …....… kerusakan
7.3.2.2 Tumpuan untuk tulangan harus dibentuk dari….……… Batang kawat ringan atau blok beton pra-potong dari beton
Kelas K250 - kayu, batu bata atau batu tidak boleh
digunakan sebagai tumpuan
7.3.3.2 b) Penempatan dan pengikatan tulangan harus diposisikan Sesuai dengan gambar dan dengan tutupan minimum yang
secara akurat……… …….. ditentukan pada tabel 7.3.1.5
Memperbaiki kualitas melalui
pengendalian kualitas
Metode,
Perbaikan Kualitas dalam jangka pendek akan dicapai melalui fokus pada Pengendalian material &
Kualitas yang dijalankan oleh Kontraktor. Ini akan melibatkan metode, material dan peralatan
peralatan berkualitas. berkualitas

Metode berkualitas melibatkan perbaikan kualitas melalui;

• tinjauan laporan
• audit kualitas oleh Konsultan Tim Inti(CTC) dan World Bank (WB),
• perbaikan teknik konstruksi
• material alternatif dan inovasi tanpa mengganggu fungsi dan karakteristik penting

46
Jaminan kualitas sarana beton
Latihan 3
Latihan ini akan melibatkan pengembangan Diagram Alir dan Prosedur
Untuk Verifikasi Beton (dari instruksi kerja
Pengawasan untuk pengecoran beton 7.1.4

Latihan ini akan didukung dengan instruksi video dalam format;


• QC vs QA vs QMS

Pengawasan
Kualitas
Jaminan kualitas sarana beton

Latihan 3 - lanjutan - pengembangan Diagram Alir dan Prosedur


Jaminan kualitas sarana Beton

Latihan 3 - lanjutan - pengembangan Diagram Alir dan Prosedur


Bagaimana kami akan memperbaiki
kualitas
Kami akan melakukan pemeriksaan pekerjaan konstruksi
sipil yang sedang berlangsung di lokasi terdekat
Menyelidiki dan memvalidasi dengan memeriksa dan
mengukur pekerjaan konstruksi yang sedang berjalan
dan membandingkannya dengan spesifikasi teknis
Mendiskusikan gagal uji kualitas yang ditemukan dan
metode untuk perbaikan
Melakukan peninjauan dan pemeriksaan sistem
Pengendalian Kualitas oleh Kontraktor dengan
menggunakan Pernyataan Metode Kerja
Melakukan peninjauan dan pemeriksaan sistem
Jaminan Kualitas oleh DSC dengan menggunakan
Instruksi Pengawasan Kualitas Kerja
Tanya jawab dan umpan balik pelatihan
manajemen kualitas
• Meninjau dan mendiskusikan Pelatihan
Manajemen Kualitas
• Sesi Tanya Jawab
• Umpan balik terhadap pelatihan
• Akhir pelatihan
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

PERSETUJUAN
DESKRIPSI NAMA & POSISI TANDATANGAN TANGGAL

DISUSUN
OLEH

DIPERIKSA
OLEH

DISETUJUI
OLEH

STATUS DOKUMEN

NO. DISTRIBUSI

TANGGAL
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

DAFTAR ISI
Daftar Isi
1. Ruang Lingkup 1
2. Tujuan 1
3. Referensi 1
4. Definisi 1
4.1 Material Anti Lengket 1
4.2 Beton 1
4.3 Faktor Air Semen 1
4.4 Concrete Slump 1
4.5 Kekuatan Kelenturan 1
4.6 Kekuatan Tekanan Beton 2
5. Ketentuan Umum 2
5.1 Pemantauan Kondisi Pelaksanaan 2
5.2 Ketentuan Material 2-3
5.3 Ketentuan Peralatan 3
5.4 Ketentuan untuk Setiap Prosedur Kerja 3
1. Persiapan 3
2. Persiapan Tempat Kerja 4
3. Pemasangan Sambungan Konstruksi 4
4. Pengecoran 5
5. Pemadatan 6
6. Diagram Alir dan Prosedur 7-8
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

1. Ruang Lingkup:
a. Ruang Lingkup Penerapan

Instruksi kerja ini berlaku untuk pengawasan Pengecoran Beton


b. Ruang Lingkup Kegiatan
Instruksi kerja ini berlaku untuk pengawasan Pengecoran Beton yang meliputi
penyediaan bahan, pengecoran, pemadatan dan penetapan akhir ketinggian
tertentu.

2. Tujuan:
Menyediakan prosedur pedoman untuk pengawasan Pekerjaan Pengecoran
Beton, agar diperoleh hasil yang sesuai dengan syarat/ketentuan yang berlaku.

3. Referensi:

1. Spesifikasi Umum 2010.


2. Gambar Kerja.

4. Definisi:

4.1 Material Anti Lengket:


Jenis material untuk mencegah penempelan campuran beton semen.

4.2 Beton:

Merupakan campuran semen Portland atau semen hidrolik lainnya, agregat halus,
agregat kasar dan air dengan atau tanpa Aditif/Bahan Tambahan untuk membentuk
massa yang padat.
4.3 Faktor Air Semen:

Jumlah rasio antara berat air bebas dan berat semen dalam beton

4.4 Concrete Slump:

Suatu ukuran viskositas campuran beton yang dikonversi dalam mm


ditentukan dengan instrumen kerucut Abram.

4.5 Kekuatan Kelenturan

Kekuatan beton diperoleh dari percobaan balok beton dengan memuat tiga (3) titik
yang diisi sampai runtuh.
1
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

4.6 Kekuatan Tekanan Beton


Jumlah beban per satuan luas yang menyebabkan obyek uji beton hancur jika diisi
dengan gaya tekan tertentu, yang dihasilkan oleh mesin penekan.
P
Kekuatan Tekanan Beton = (Kg/cm2 )
A
P = Beban Maksimum (Kg)
A = Area Penampang Obyek Uji (cm2)

5. Ketentuan Umum

5.1 Pemantauan Kondisi Pelaksanaan


a. Pengawasan Pekerjaan Pengecoran Beton hanya dilakukan di tempat
kerja, di mana permintaan tersebut telah disetujui oleh semua pihak
yang berwenang.
Permintaan yang telah disetujui, juga harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
1) Diserahkan setidaknya 24 jam sebelum dimulainya pengecoran beton.
2) Meliputi lokasi, kondisi kerja, kualitas beton serta tanggal dan waktu
pencampuran betonn.
(Sumber Spesifikasi Klausul 7.1.4.(3).a)
b. Pengecoran beton tidak boleh dilakukan saat Insinyur atau perwakilannya tidak
hadir untuk menyaksikan operasi pencampuran dan pengecoran secara
keseluruhan. (Spesifikasi Klausul 7.1.4.(3).b)
c. Pengawasan pelaksanaan pekerjaan Pengecoran Beton dilakukan sepanjang
waktu pelaksanaan kerja di setiap lokasi kegiatan, minimal 1 (satu) kali setiap
hari sampai pekerjaan dinyatakan selesai.

d. Pencatatan waktu harus dilakukan oleh petugas (inspektur).


e. Catatan penyimpangan atau kondisi sesaat yang dapat mempengaruhi
kualitas, harus dicatat di kolom Catatan yang telah disediakan.
5.2 Ketentuan Material

a. Beton
Beton harus disesuaikan dengan ketentuan pada bagian 7.1 sesuai dengan

2
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

kualitas yang digunakan. Kualitas beton untuk setiap jenis unit harus sesuai
dengan ketentuan.

b. Aditif/Bahan Tambahan
1) Penyedia Pekerjaan Konstruksi harus menyediakan karyawan dan bahan
tambahan yang diperlukan untuk membuat sambungan konstruksi
tambahan jika tiba-tiba pekerjaan harus dihentikan karena hujan atau
pasokan beton dihentikan. (Spesifikasi Klausul 7.1.4(4)e)
2) Aditif dapat digunakan untuk merekatkan sambungan konstruksi, cara
prosesnya harus sesuai dengan petunjuk dari pabrik. (Spesifikasi Klausul
7.1.4(4)f)

5.3 Ketentuan Peralatan

a. Pencampur beton;
b. Tangki Air;
c. Vibrator beton;
d. Pompa beton (jika diperlukan); dan
e. Peralatan lain.

5.4 Ketentuan untuk Setiap Prosedur Kerja


1. Persiapan

a. Pengawas harus memeriksa kesesuaian kesiapan material, peralatan,


tenaga kerja, metode kerja dan gambar kerja.
b. Pengawas perlu memeriksa pelaksanaan dan rincian gambar perancah telah
disetujui oleh Insinyur.
c. Pengawas perlu memeriksa material yang akan digunakan sudah
siap dan sesuai hasil uji dokumen yang sesuai dengan spesifikasi
teknis.
d. Petugas Penyedia Pekerjaan Konstruksi harus menunjukkan surat
rekomendasi dari instansi yang ditunjuk.
e. Harus dipastikan personel kegiatan yang bertugas telah tiba di
lokasi kegiatant.
f. Penyedia pekerjaan konstruksi menyediakan petugas kontrol
Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
g. Petugas Penyedia Pekerjaan Konstruksi harus bisa memasang
semen di tempat yang aman, tahan cuaca, kedap udara,
3
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

berlantai kayu dan ditutupi dengan plastik.


h. Petugas Penyedia Pekerjaan Konstruksi harus bisa meletakkan
semua material untuk beton secara aman.
i. Petugas Penyedia Pekerjaan Konstruksi harus sudah menyiapkan
pencahayaan untuk kegiatan pengecoran malam hari.
2. Persiapan Tempat Kerja

a. Penyedia Pekerjaan Konstruksi harus menyingkirkan sarana lama yang


akan diganti dengan beton baru agar memungkinkan dilakukannya
pekerjaan beton baru. (Spesifikasi Klausul 7.1.4(1)a)
b. Lokasi pekerjaan beton harus dibersihkan. (Spesifikasi Klausul 7.1.4(1)b)
c. Cara kerja yang stabil harus disediakan jika diperlukan untuk memastikan
agar semua sudut pekerjaan dapat diperiksa dengan mudah dan aman.
(Spesifikasi Klausul 7.1.4(1)b)
d. Pondasi tunggal, pondasi dan penggalian untuk pekerjaan beton harus
dijaga dan selalu kering dan beton tidak boleh dicor di tanah berlumpur
atau penuh dengan sampah atau di dalam air. (Spesifikasi Klausul
7.1.4(1)c)
e. Sebelum pengecoran beton dimulai, keseluruhan cetakan, tulangan dan
benda lain yang harus diletakkan dalam beton (seperti pipa atau
selubung) harus sudah terpasang dan diikat sehingga tidak bergeser saat
pengecoran. (Spesifikasi Klausul 7.1.4(1)d)
3. Pemasangan Sambungan Konstruksi

a. Jadwal pengecoran beton terkait harus disiapkan untuk segala


jenis sarana, lokasi sambungan konstruksi atau sambungan
konstruksi harus ditempatkan seperti pada Gambar.
Sambungan konstruksi tidak boleh ditempatkan pada persilangan elemen
struktural, kecuali ditentukan seperti itu. (Spesifikasi Klausul 7.1.4(4)a)

b. Sambungan konstruksi pada dinding sayap harus dihindari.


Semua sambungan konstruksi harus tegak lurus terhadap sumbu
longitudinal dan umumnya harus ditempatkan pada titik dengan gaya
geser minimum. (Spesifikasi Klausul 7.1.4(4)b)

c. Jika sambungan vertikal dibutuhkan, tulangan baja harus melewati


sambungan sehingga membuat struktur tetap monolitik. (Spesifikasi
Klausul 7.1.4(4)c)
d. Groove tongue harus disediakan pada sambungan konstruksi dengan
kedalaman minimal 4 cm untuk dinding, pelat dan antara telapak pondasi
4
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

dan dinding.
Untuk pelat yang terletak di permukaan, sambungan konstruksi harus
ditempatkan sedemikian rupa sehingga pelat memiliki luas tidak lebih dari
40 m2, dengan dimensi yang lebih besar tidak lebih dari 1,2 kali dimensi
yang lebih kecil.
(Spesifikasi Klausul 7.1.4(4)d)
4. Pengecoran
a. Pelembaban cetakan

Segera sebelum pengecoran beton dimulai, cetakan harus


dibasahi dengan air atau diolesi minyak di dalamnya yang tidak
akan meninggalkan bekas. (Spesifikasi Klausul 7.1.4(3)c)
b. Pengecoran terus menerus
Penuangan beton harus dilanjutkan tanpa henti sampai sambungan
konstruksi yang telah disetujui sebelumnya atau sampai pekerjaan selesai.
(Spesifikasi Klausul 7.1.4(3)e)
c. Posisi pengecoran
Beton harus dicor sedemikian rupa untuk menghindari segregasi
partikel kasar dan halus dari campuran. Beton harus dicor di
cetakan sedekat mungkin dengan apa yang bisa dicapai pada
posisi akhir beton untuk mencegah drainase yang seharusnya
tidak lebih dari 1 (satu) meter dari awal pengecoran.
(Spesifikasi Klausul 7.1.4(3)f)
d. Ketinggian jatuh

Beton tidak boleh bebas jatuh ke dalam cetakan dengan tinggi lebih dari
150 cm. Beton tidak boleh dicor langsung ke air. (Sumber Spesifikasi
Klausul 7.1.4.3.h)
e. Metode tremi (drop bottom bucket)
1) Jika beton dicor di air dan pemompaan tidak dapat dilakukan dalam
waktu 48 jam setelah pengecoran, beton harus dicor dengan
metode tremi atau metode drop-bottom-bucket, dimana bentuk dan
jenis yang biasanya digunakan untuk tujuan ini harus disetujui oleh
Insinyur terlebih dahulu.
2) Tremi harus kedap air dan memiliki ukuran yang cukup
untuk memungkinkan drainase beton. Tremi harus selalu
penuh selama pengecoran.
5
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

Bila aliran beton terhambat, tremi harus ditarik sedikit dan


diisi penuh sebelum pengecoran dilanjutkan.
Tremi atau Drop-Bottom-Bucket, sebaiknya menguras
campuran beton di bawah permukaan beton yang telah dicor
sebelumnya. (Sumber Spesifikasi Klausul 7.1.4.3.h)

5. Pemadatan

a. Beton harus dipadatkan dengan getaran mekanis dari dalam atau dari
luar yang telah disetujui. (Spesifikasi Klausul 7.1.4(5)a)
b. Getaran harus disertai dengan penusukan secara manual dengan alat yang
sesuai untuk memastikan pemadatan yang tepat dan memadai.
(Spesifikasi Klausul 7.1.4(5)a)
c. Semua sudut serta di antara dan di sekitar tulangan baja terisi penuh
tanpa penyingkiran kerangka tulangan, dan setiap rongga udara dan
gelembung udara terisi. (Spesifikasi Klausul 7.1.4(5)b)
d. Vibrator harus digunakan dalam waktu yang terbatas, menghasilkan
pemadatan seperlunya tanpa menyebabkan segregasi pada agregat.
(Spesifikasi Klausul 7.1.4(5)c)
e. Vibrator mekanis dapat ditempatkan di atas cetakan untuk
menghasilkan getaran secara merata. (Spesifikasi Klausul
7.1.4(5)d)
f. Alat penggetar mekanis minimal harus 5000 rev/menit untuk
beton dengan jumlah maksimum 2,50 cm, dengan radius
minimal 45 cm getaran. (Spesifikasi Klausul 7.1.4(5)e)
g. Vibrator mekanis harus dimasukkan ke dalam beton basah secara
vertikal dan kemudian perlahan ditarik dan dimasukkan kembali ke
posisi lain yang tidak lebih dari 45 cm. (Spesifikasi Bagian 7.1.4(5)f)
h. Vibrator tidak boleh berada dalam satu titik lebih dari 30 detik.
(Spesifikasi Klausul 7.1.4(5)f)

i. Jumlah minimum vibrator mekanis ada pada Tabel 7.1.4. (1).

6
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

Tabel 7.1.4(1) Jumlah minimal vibrator mekanis dari dalam


Kecepatan pengecoran beton (m³/jam) Jumlah peralatan
4 2
8 3
12 4
16 5
20 6

7
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

6. Bagan AlirAlir
Diagram dandan
Tata Cara
Prosedur PROSEDUR UNTUK SETIAP LANGKAH KERJA
Pemeriksaan 1 (Persiapan)
• Periksa ulang lokasi kegiatan sesuai dengan
MULAI gambar kerja.
• Gambar implementasi dan detil perancah
telah disetujui oleh Insinyur.
• Material yang akan digunakan sudah
PERSIAPAN disiapkan, berikut ini adalah hasil uji
dokumen yang sesuai dengan spesifikasi
teknis.
• Ada orang yang bertanggung jawab atas
Dibongkar sesuai PERSIAPAN Penyedia Pekerjaan Konstruksi.
kebutuhan jika TEMPAT KERJA • Ada kontrol keamanan.
ada sarana lama • Periksa ulang kesiapan peralatan, pastikan
tidak ada perubahan kesiapan yang telah
dilakukan.
PEMASANGAN • Periksa ulang kesiapan tenaga kerja.
SAMBUNGAN • Periksa kesiapan penanganan lingkungan.
• Pekerjaan tidak boleh dimulai tanpa
KONSTRUKSI
persetujuan dari Insinyur.
• Periksa ulang kesiapan lokasi, jika ada
perubahan dari kondisi sebelumnya.
• Singkirkan sarana lama (jika perlu) sampai
PENGECORAN batas-batas sarana baru.
• Pencahayaan harus dipersiapkan untuk
kegiatan pengecoran malam hari.
Pemeriksaan 2 (Persiapan Tempat Kerja)
PEMADATAN • Tempat kerja telah dibersihkan.
• Stabilitas pekerjaan harus siap untuk
diperiksa.
• Lokasi pengendali pekerjaan beton harus
dikeringkan.
SELESAI
• Semua cetakan, tulangan dan benda lain
yang harus dimasukkan ke dalam beton
(seperti pipa, selubung) sudah terpasang
dan terikat erat.
• Cetakan dalam kondisi basah di
dalamnya.

8
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Pengawas dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA UNTUK PENGAWASAN
LEVEL 3
PENGECORAN BETON (7.1.4)
No. Dokumen : SMM – IK : 7.1.4 Tanggal Berlaku : 12 Juni 12, 2013
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 12, 2015
Peninjauan

Pemeriksaan 3 (Pemasangan Sambungan Konstruksi)


• Sambungan konstruksi harus ditempatkan sesuai dengan gambar yang ditunjukkan.
• Sambungan konstruksi tidak ada di dinding sayap.
• Tulangan baja di sambungan vertikal harus terus melewati sambungan.
• Tongue groove pada sambungan konstruksi ke dinding, pelat dan antara telapak
pondasi dan dinding minimal 4 cm.
• Pelat diletakkan di atas permukaan maksimum memiliki luas 40 m2.
• Penyediaan tenaga kerja tambahan dan material untuk sambungan konstruksi
tambahan.
• Bahan aditif yang disetujui untuk menempel sambungan konstruksi.
• Cara prosesnya harus sesuai dengan instruksi dari pabrik.
Pemeriksaan 4 (Pengecoran)
• Pengecoran tidak boleh dilakukan jika Insinyur/perwakilannya tidak hadir.
• Pengecoran sebaiknya tidak berhenti sampai konstruksi tersambung.
• Pengecoran beton harus terlindung dari segregasi..
• Aliran beton tidak boleh lebih dari 1 (satu) meter dari tempat pertama jatuhnya beton.
• Ketinggian bebas jatuh ke cetakan tidak lebih dari 150 cm.
Pemeriksaan 5 (Pemadatan)
• Pemadatan Beton menggunakan vibrator mekanis.
• Pemadatan disertai dengan penusukan secara manual.
• Setiap sudut di sekitar tulangan diisi dengan beton.
• Peralatan vibrator mekanis menghasilkan getaran secara merata.
• Peralatan vibrator mekanis dari tipe.
• Sebuah vibrator mekanis disisipkan secara vertikal ke dalam beton.
• Peralatan vibrator tidak berada di satu titik lebih dari 30 detik.
• Jumlah minimum vibrator disesuaikan dengan kecepatan pengecoran beton.

9
DAFTAR ISI

1. PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 2
2. DAFTAR PERSONIL ................................................................................................................................. 2
3. DAFTAR PERALATAN ............................................................................................................................. 2
4. SPESIFIKASI .............................................................................................................................................. 3
5. BAHAN-BAHAN DAN DESAIN CAMPURAN YANG DISETUJUI, DLL… ........................................... 3
6. RENCANA KESELAMATAN .................................................................................................................... 3
6.1. MANAJEMEN LALU-LINTAS ................................................................................................................... 3
6.2. SAFETY MEASURES ................................................................................................................................ 4
7. PELAKSANAAN KERJA .......................................................................................................................... 4
7.1. LANGKAH 1: TAHAP PERSIAPAN ......................................................................................................... 4
7.2. LANGKAH 2: PERSIAPAN LAHAN ........................................................................................................ 4
7.3. LANGKAH 3: PELAKSANAAN ................................................................................................................ 4
8. PEKERJAAN MALAM ............................................................................................................................... 5
9. PENGENDALIAN MUTU ........................................................................................................................... 5
10. MASALAH SOCIAL DAN LINGKUNGAN ............................................................................................... 6
11. PENJADWALAN ........................................................................................................................................ 6
12. SKETSA DAN GAMBAR .......................................................................................................................... 7

Page 1 of 7
PERNYATAAN METODE KERJA

Dasar Agregat Kelas B

1. Pendahuluan

 Item Pekerjaan Dasar Agregat Kelas B akan dijelaskan secara terperinci


seperti bagaimana merenceanakan pekerjaan ini, sebelum memasukkan
Permintaan Pekerjaan Proyek Perbaikan Jalan Nasional Indonesia Bagian
Barat (WINRIP) Paket 12, Kambang – Inderapura Pinjaman IBRD No.
8043 - ID.
 Item pekerjaan ini terdiri dari penyediaan, pemrosesan, pengangkutan,
penghamparan, penyiraman, dan pemadatan agregat pada permukaan
yang disiapkan dan disetujui, sesuai dengan gambar dibawah arahan
Insinyur.

2. Daftar Personil

No. Position Name Number

1 Pengawas Pekerjaan Tanah Yudi Hari Cahyadi 1


Mukkho, Medi,
2 Operator 3
Nanang
Itenra,Surya M, Udin,
3 Supir 5
Masri,David
4 Mandor Rio Irfandi 1
5 Flagman/Pemberi Tanda Basri, Abi 2

3. Daftar Peralatan

Page 2 of 7
No. Fungsi Merk Tipe Jumlah

1 Motor Grader Komatsu GD 511A 1 Unit


2 Dump Truck Hino FM 260 5 Unit
3 Vibro Roller SAKAI SV512 1 unit
4 Ekskavator Kobelco SK 200-8 1 Unit
5 Vibro Roller Liugong CLG 610 H 1 Unit
6 Wheel Loader Liugong CLG835C 1 Unit

4. Spesifikasi

 Metode berdasarkan Spesifikasi Umum Divisi 5, bagian 5.1.2

5. Bahan-bahan dan Desain Campuran yang disetujui, dll…

Material Agregat Kelas A dan B yang diperlukan berdasarkan Tabel 5.1.2.1


dan Tabel 5.1.2.2. Desain Campuran untuk pekerjaan ini telah disiapkan dan akan
dimasukkan kepada Insinyur.

6. Rencana keselamatan

6.1. Manajemen Lalu-Lintas

 Rambu lalu-lintas masing-masing 15


 Flagman/Pemberi tanda 2 orang
 Sketsa
AREA KERJA
Agregat Kelas A
and B

KURANGI
KECEPATAN

Page 3 of 7
6.2. Safety measures

 Kontrol / keamanan lokasi kerja.


 Kontrol / keamanan alat berat; Tanda peringatan, dll.
 Keselamatan personil: helm, sepatu keselamatan, memakai pakaian
reflektif.

7. Pelaksanaan Kerja

7.1. Langkah 1: Tahap Persiapan

Persiapan Shop Drawing. : Tersedia


Survey, verifikasi koordinat, pematokan. : Tersedia
Mobilisasi, verifikasi & pemasangan peralatan. : Tersedia

7.2. Langkah 2: Persiapan Lahan

a. Area yang disiapkan untuk meletakkan Material Dasar Agregat


dengan Spesifikasi Umum harus diselesaikan dan persetujuan
Insinyur harus didapatkan untuk paling tidak 100 m di depan agregat
dasar sepanjang waktu. Bagian perbaikan singkat harus berukuran
kurang dari 100 m, dan seluruh area harus disiapkan dan
mendapatkan persetujuan sebelum lapisan dasar agregat diletakkan.

7.3. Langkah 3: Pelaksanaan

 Material untuk Dasar Agregat harus dikirimkan ke area samping jalan


dalam bentuk campuran seragam dan harus dihamparkan pada area
yang lembab menurut rentang spesifikasi pada pasal 5.1.3.3.
Kelembaban material harus tersebar merata.
 Dasar Agregat harus dihamparkan dan dibentuk dengan metode yang
disetujui yang tidak menyebabkan segregasi material agregat halus dan
kasar. Material yang tersegregasi harus diperbaiki dan disingkirkan
atau diganti dengan material yang benar.

Page 4 of 7
Diagram Dasar Agregat Kelas A dan B

MULAI

Pembersihan
(Striping/ Clearing)

Survey/ Pematokan

Penggalian dengan
Ekskavator

Penghamparan
Dasar Agregat
Kelas A

Grade dengan
Motor Grader

Pemadatan dengan
Vibratory Roller

SELESAI

8. Pekerjaan Malam

Biasanya bekerja pada malam hari dianggap tidak resmi tetapi tergantung pada
Ketentuan

9. Pengendalian Mutu

Page 5 of 7
Pengendalian Mutu untuk pekerjaan ini adalah Formula Campuran Desain yang
telah dimasukkan ke uji laboratorium di Mataram. Formula Campuran Kerja untuk
mengecek gradasi dan material CBR.

10. Masalah social dan lingkungan

Lokasi ini tidak memiliki masalah lingkungan dan social. Jika ada masalah, dapat
diselesaikan bersama dengan masyarakat desa. Khususnya penggalian untuk
parit drainase dan saluran air, sebelum pekerjaan dilakukan, kami berkonsultasi
dengan warga jika ada klaim terhadap lahan,

11. Penjadwalan

 Perkiraan Volume Dasar Agregat Kelas B : 1.120,00 CuM

Hari 1 2 3 4 5 6 7

Pembersihan
Pematokan
Penggalian dengan
Ekskavator
Penghamparan Dasar
Agg. Kelas B
Grade dengan Motor
Grader
Pemadatan dengan
Vibratory Roller
Selesai

Page 6 of 7
12. Sketsa dan Gambar

Rencana Kerja untuk musim ini pada Sta.53+800 to Sta.55+200 (pemilihan acak )

338
337

STA 55 + 237.378
RCP Ø 0.60 M L = 10
REPLACE BC 1.00 M

341

Page 7 of 7
DAFTAR ISI

1. PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 2
2. DAFTAR PERSONIL ................................................................................................................................. 2
3. DAFTAR PERALATAN ............................................................................................................................. 3
4. SPESIFIKASI .............................................................................................................................................. 3
5. BAHAN-BAHAN DAN DESAIN CAMPURAN YANG DISETUJUI, DLL… ........................................... 3
6. RENCANA KESELAMATAN .................................................................................................................... 3
6.1. MANAJEMEN LALU-LINTAS ................................................................................................................... 3
6.2. TINDAKAN KESELAMATAN ................................................................................................................... 4
7. PELAKSANAAN KERJA .......................................................................................................................... 4
7.1. LANGKAH 1: TAHAP PERSIAPAN ......................................................................................................... 4
7.2. LANGKAH 2: PERSIAPAN LAHAN ........................................................................................................ 4
7.3. STEP 3: PELAKSANAAN ......................................................................................................................... 4
8. PEKERJAAN MALAM ............................................................................................................................... 5
9. PENGENDALIAN MUTU ........................................................................................................................... 5
10. MASALAH SOSIAL DAN LINGKUNGAN ............................................................................................... 5
11. SKETSA DAN GAMBAR .......................................................................................................................... 6
PERNYATAAN METODE KERJA

PERSIAPAN GRADE

1. Pendahuluan

 Pekerjaan ini terdiri dari persiapan, skarifikasi, dan pemadatan permukaan


tanah dari permukaan berkerikil untuk penempatan Dasar Agregat di jalur
yang tidak ditujukan untuk Pekerjaan Pemulihan.
 Pekerjaan melibatkan penggalian kecil atau skarifikasi dan pengisian diikuti
dengan pemadatan dan pengujian bahan tanah atau granular, dan
perawatan permukaan yang disiapkan sampai bahan pengaspalan
diletakkan di atasnya, semua sesuai dengan Gambar dan spesifikasi atau
sesuai petunjuk Insinyur.

2. Daftar Personil

No. Jabatan Nama Jumlah

1 Pengawas Pekerjaan Tanah Yudi Hari Cahyadi 1


Mukkho, Medi,
2 Operator 2
Nanang
3 Supir Itenra, David 2

4 Mandor Rio Irfandi 1


5 Flagman/Pemberi Tanda Basri, Abi 2
3. Daftar Peralatan

No. Fungsi Merk Tipe Jumlah

1 Motor Grader Komatsu GD 511 A 1 Unit


2 Dump Truk Hino FM 260 2 Unit
3 Vibro Roller SAKAI SV512 1 unit
4 Ekskavator Kobelco SK 200-8 1 Unit

4. Spesifikasi

 Metode ini berdasarkan Spesifikasi Umum Divisi 3, bagian 3.3 Klausul


3.3.3

5. Bahan-bahan dan Desain Campuran yang disetujui, dll…

Tidak ada material dan dan Desain Campuran untuk item kerja ini.
6. Rencana Keselamatan

6.1. Manajemen Lalu-Lintas

 Rambu lalu-lintas masing-masing 19


 Flagman/Pemberi tanda 2 orang
 Sketsa

PERSIAPAN
GRADE

KURANGI
KECEPATAN
6.2. Tindakan Keselamatan

 Kontrol / keamanan lokasi kerja.


 Kontrol / keamanan alat berat; Tanda peringatan, dll.
 Keselamatan personil: helm, sepatu keselamatan, memakai pakaian
reflektif.

7. Pelaksanaan Kerja

7.1. Langkah 1: Tahap Persiapan

Persiapan Shop Drawing. : Tersedia


Survey, verifikasi koordinat, pematokan. : Tersedia
Mobilisasi, verifikasi & pemasangan peralatan. : Tersedia
7.2. Langkah 2: Persiapan Lahan

a. Sebelum melakukan pekerjaan, lokasi harus bersih dari material-


material yang tidak penting, setelah itu kami lakukan Grade dengan
Motor Grade untuk membersihkan lokasi dari rumput.
b. Tanah dasar (Subgrade) harus dipadatkan dengan ketentuan Pasal
3.2.3.3 dari Spesifikasi ini. Persyaratan pemadatan dan jaminan mutu
untuk subgrade tertuang pada pasal 3.2.4 di Spesifikasi ini.
.
7.3. Step 3: Pelaksanaan

Persiapan Grade untuk tanah dasar dapat dibentuk di Tanggul Biasa,


Tanggul Pilihan, dan Dasar Agregat, atau di tanah yang ada pada
patok. Material yang akan digunakan di masing-masing instansi harus
sesuai arahan Insinyur.
Diagram Penggalian untuk Persiapan Grade

MULAI

Pembersihan

Pematokan

Grade
dgn Motor Grader

Material
Pemadatan
dgn Vibro Roller

SELESAI

8. Pekerjaan Malam

Biasanya bekerja pada malam hari dianggap tidak resmi tetapi tergantung pada
Ketentuan

9. Pengendalian Mutu

Tidak ada Pengendalian Mutu untuk material ini.

10. Masalah Sosial dan Lingkungan

Lokasi ini tidak memiliki masalah lingkungan dan sosial. Jika ada masalah,
diskusi bisa dilakukan dengan masyarakat. Kasus, khususnya Persiapan Grade
untuk Tanggul Biasa atau Basis Agregat, tergantung dari kasus item kerja,
Manajemen Lalu Lintas akan mengikutinya.

 Estimsi Volume Persiapan Grade : 4.480,00 M2


 Lokasi Persiapan Grade sepanjang jalan, Sisi Kanan atau Kiri
Hari 1 2 3 4 5 6 7

Pembukaan Lahan
Pematokan
Grade dengan Motor
Grader
Pemadatan dengan
Vibro
Selesai

11. Sketsa dan Gambar

Rencana Kerja untuk musim ini pada Sta.53+800 to Sta.55+200

MATCH LINE STA 53+938


338
337
MATCH LINE STA 54+988

341
LAPORAN METODE KERJA
PEMASANGAN BATU

1. PENDAHULUAN

Dalam laporan ini akan dijelaskan tentang metode kerja pekerjaan batu
untuk dinding penahan pada Proyek Perbaikan Jalan Nasional Indonesia
Bagian Barat (WINRIP) Paket 12: Kambang - Inderapura..

2. DAFTAR PERSONIL

NO JABATAN NAMA JUMLAH

1. Pengawas Drainase & Struktur Sugito 1


2. Pengawas Pekerjaan Tanah Yudi Hari Cahyadi 1
3. Teknisi Laboratorium Firman, Chadi 2
4. Surveyor Budi Harianto 1
5. Mandor Rio Irfandi 1
6. Tenaga Kerja Terampil Rizal, Zulkifli 2
7. Tenaga Kerja Non-Terampil 20

3. DAFTAR PERALATAN

NO JENIS PERALATAN JUMLAH CATATAN

1 Ekskavator 1 buah
2 Peralatan Survey 1 Set
3 Pengaduk Beton 3 buah Jumlah dapat
4 Tank Air 1 buah disesuaikan sesuai
5 Peralatan Laboratorium : dengan kondisi
Mortar kubus 3 Set pekerjaan di
lapangan

4. SPESIFIKASI
Pekerjaan ini mengacu pada Spesifikasi / Kontrak (Lampiran-1)
Bagian 7.9 mengenai pemasangan batu.
5. MATERIAL YANG DISETUJUI DAN DESAIN CAMPURAN
Pengambilan sampel untuk pasir dan batu untuk pekerjaan ini telah
dilakukan oleh Kontraktor di bawah pengawasan Insinyur, dan pengujian
material telah berjalan sampai sekarang.
Uji-coba campuran adukan semen juga sudah dilakukan, dan masih
menunggu hasil akhir uji kuat tekan untuk menjaga kekuatan tekan yang
ditentukan yaitu 50 kg / cm2.
Pada prinsipnya, sebelum memulai pekerjaan, hasil uji kuat tekan dari
campuran uji coba dan hasil uji material harus memenuhi persyaratan
spesifikasi.

Material yang akan digunakan untuk pekerjaan ini terdiri dari:


1. Pasir : Pasir alam (pasir sungai).
Sumber : Sungai Muara Sakai, Sungai Air Haji
2. Batu : Batu belah.
Source : Base Camp (Nagari Tanah Bakali)
3. Semen : Tiga Roda
Sumber : Tiga Roda
4. Air : Air tawar (bukan air laut).

Peta tambang material terlampir dalam laporan ini

6. RENCANA KESELAMATAN

6.1.Manajemen Lalu-Lintas

Area konstruksi akan ditutup dengan pagar sementara dengan kerucut


karet di depan dan di belakang pagar sementara. Flagman/pemberi tanda
harus berjaga-jaga selama konstruksi berlangsung.
Tanda-tanda konstruksi jalan sementara lainnya juga akan dipasang,
seperti Petugas yang bekerja dengan rambu tambahan (W14), Tanda
Peringatan Pekerjaan Jalan Raya (T1c), Wajib Ambil Lajur Kanan (I 3b), dan
bendera.

Manajemen lalu-lintas ditunjukkan oleh gambar di bawah ini :

Keterangan :
W14 : Petugas yang sedang bekerja dengan rambu tambahan.
T1c : Peringatan Pekerjaan Jalan dengan Lampu
T6 : Bendera / Flagman.
I3b : Wajib Ambil Lajur Kanan.
RC : Kerucut Karet
W14 T1c T6 13b W14

Dinding Penahan

Material Timbunan

RC Pagar Sementara RC

JALAN

Area Awal Penyempitan Area Akhir


Jalan Penyempitan Jalan

Area Konstruksi
Area Perdekatan

6.2. Tindakan Keselamatan.


Sebelum memulai kerja, koordinator kesehatan dan keselamatan
kerja harus mengendalikan lokasi kerja dan harus menyiapkan langkah-
langkah keselamatan untuk menghindari kecelakaan kerja selama masa
konstruksi.
Semua pekerja harus dilengkapi helm pengaman, sepatu
keselamatan, sarung tangan keselamatan, jaket pengaman, jas hujan dan
lainnya jika perlu.

7. PELAKSANAAN PEKERJAAN

7.1. Tahap Persiapan


Rekayasa lapangan untuk pekerjaan ini telah dilakukan oleh
kontraktor di bawah pengawasan Insinyur. Shop Drawing dinding penahan
juga sudah dibuat dan sudah disetujui oleh Insinyur.
Untuk verifikasi koordinat, kemudian dilanjutkan dengan pematokan
dinding penahan akan dilakukan oleh kontraktor di bawah pengawasan
Insinyur sesegera sebelum konstruksi dinding penahan dimulai.
Bagian percobaan akan dilakukan untuk mendemonstrasikan metode
kerja sampai hasilnya diterima oleh Insinyur

7.2. Persiapan Area Kerja.

Pondasi untuk pemasangan batu akan digali dengan ekskavator atau


tenaga manusia, tergantung kondisi lokasi.
Tingkat pemadatan/tanah pondasi harus mengacu pada shop drawing
yang disetujui dan akan dilakukan dengan survei bersama antara kontraktor
di bawah pengawasan konsultan pengawasan.
Penggalian harus dipastikan bebas dari air, sehingga sangat penting
untuk melakukan pengalihan saluran air dan membangun drainase
sementara untuk mencegah agar air hujan mengalir ke area konstruksi.
Tenaga kerja untuk pengeringan (pemompaan) juga disiapkan untuk
pengeringan jika diperlukan.

7.3. Pelaksanaan

1) Di bawah dinding penahan harus berupa landaian yang baik (1:10),


dengan permukaan halus dan dipadatkan oleh pemadat yang
direkomendasikan. Tingkat elevasi / tingkat pemadatan mengacu pada
shop drawing yang telah disetujui.
2) Tanah pondasi harus diuji terlebih dahulu dengan uji penetrasi kerucut atau
uji lain yang sesuai untuk mengidentifikasi daya dukung tanah yang asli.
3) Pemasangan patok kayu untuk mendeteksi dimensi dinding penahan
harus dilakukan dengan menggunakan peralatan survei yang sesuai dan
harus mengacu pada shop drawing yang telah disetujui.
4) Batu kosong (blinding stone) akan diletakkan setebal 20 cm untuk
pondasi batu bata.
5) Lapisi dengan mortar setebal 3-5 cm, lalu dilanjutkan dengan
menempatkan batu pada jalur pertama
Batu besar pilihan harus digunakan untuk alas bagian bawah dan
diletakkan di sudut-sudut.
Hati-hati dalam mengelompokkan batu, jangan kelompokkan batu
dengan ukuran yang sama.
Sebelum diletakkan, batu harus dibersihkan dan dibasahi agar
sambungan dengan mortar lebih mudah dilakukan.
Ketebalan mortar harus berada pada kisaran 2 cm sampai 5 cm untuk
memastikan rongga antar batu.
Pekerjaan ini juga dilengkapi dengan lubang resapan seperti yang
ditunjukkan pada gambar, harus ditempatkan tidak lebih dari 2 meter ke
tengah dan berdiameter 50 mm.
Sambungan ekspansi juga harus dibuat pada jarak maksimum 20 meter.
Sambungan harus memiliki lebar 30 mm dan harus meluas melalui
dinding yang utuh.
6) Dalam 14 hari setelah selesai melakukan pekerjaan pemasangan batu,
atau sesuai petunjuk Insinyur, backfill harus ditempatkan. Backfill harus
dibentukdi lapisan demi lapisan dengan ketebalan tertentu menggunakan
bahan yang direkomendasikan dan dipadatkan sampai mencapai
kerapatan yang dibutuhkan dengan uji kepadatan lapangan. Tahap
penyelesain permukaan harus memiliki kemiringan yang baik untuk
mengalirkan air.

Prosedur pelaksanaan pekerjaan ini dirangkum oleh diagram di bawah ini.

DIAGRAM METODE PEKERJAAN DINDING PENAHAN


MULAI

Menentukan Lokasi

Penggalian sampai dasar tanah

Tidak

Periksa elevasi dasar tanah Periksa Ulang

Tidak

Periksa menggunakan Uji Penetrasi Periksa Ulang

Pemasangan batu

Backfilling Lapisan demi Lapisan

Selesai

8. PENGENDALIAN MUTU

Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor harus menyerahkan Request


for Work. Permintaan ini harus dilampirkan dengan daftar simak (checklist)
untuk memeriksa persiapan material yang akan digunakan, peralatan, tenaga
kerja, keselamatan dan manajemen lalu lintas.

Semua bahan harus diuji sebelum digunakan.

Uji coba campuran untuk mortar harus dilakukan sampai hasil kuat tekan
mencapai 50 kg / cm2.

Selama masa konstruksi, sampel mortar diambil secara berkala, sehingga


untuk setiap 100 m3 batu bata harus diambil sekurangnya 12 kubus sampel
mortar, dan akan diuji pada 28 hari.

Untuk bahan pasir dan batu, pengambilan sampel dan pengujian akan
dilakukan jika bahan persediaan berbeda, atau sesuai arahan Insinyur.

9. MASALAH LINGKUNGAN DAN SOSIAL

Bahan limbah dan bahan yang tidak digunakan sangat dilarang untuk
dibuang ke laut untuk menghindari polusi.
Untuk menghindari masalah sosial, kontraktor melakukan kerja sama
dengan masyarakat setempat untuk memasok bahan batu dan pasir, dan juga
merekrut masyarakat setempat sebagai pekerja terampil dan tidak terampil..

10. PENJADWALAN

Eksekusi dinding penahan akan dimulai dari sta. 52 + 377 sampai Sta.52 +
387 dengan panjang 10 m. Perkiraan Volume 7.93 M3.

No Kegiatan I II III IV
1. Persiapan Lahan
2. Penggalian dan
Pematikan/ Pemasangan
patok
3. Material stocking
4. Pemasangan batu
5. Back Filling

14 hari
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) No Pinjaman IBRD: 8043-ID

INSTRUKSI KERJA UNTUK KERJA BATU (7.9)


LEVEL 3
No. Dokumen : SMM – IK : 7.9 Tanggal Efektif : 12 Juni 2013
No. Revisi : 00 Tanggal Diperiksa : 12 Juni 2017

PERSETUJUAN

DESKRIPSI NAMA & JABATAN TTD TANGGAL

DISUSUN
OLEH

DIPERIKSA
OLEH

DISETUJUI
OLEH

STATUS DOKUMEN

NO. DISTRIBUSI

TANGGAL
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) No Pinjaman IBRD: 8043-ID

INSTRUKSI KERJA UNTUK KERJA BATU (7.9)


LEVEL 3
No. Dokumen : SMM – IK : 7.9 Tanggal Efektif : 12 Juni 2013
No. Revisi : 00 Tanggal Diperiksa : 12 Juni 2017

DAFTAR ISI
Daftar Isi
1. Ruang Lingkup 1
2. Tujuan 1
3. Referensi 1
4. Definisi 1
4.1 Pemasangan Batu 1
4.2 Drainase Berpori 1
4.3 Contraction Joint 1
5. Ketentuan Umum 1
5.1 Ketentuan Pelaksanaan Supervisi 1-2
5.2 Ketentuan Material 2-3
5.3 Ketentuan Peralatan 3
5.4 Ketentuan untuk setiap Prosedur Kerja 3
1. Persiapan 3-4
2. Persiapan Pondasi 4
3. Pemasangan Batu 4
4. Penempatan Adukan 4
5. Lubang Peresapan dan Contraction Joint 5
6. Pekerjaan Akhir Pemasangan Batu 5-6
6. Diagram dan Prosedur 7-8
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) No Pinjaman IBRD: 8043-ID

INSTRUKSI KERJA UNTUK KERJA BATU (7.9)


LEVEL 3
No. Dokumen : SMM – IK : 7.9 Tanggal Efektif : 12 Juni 2013
No. Revisi : 00 Tanggal Diperiksa : 12 Juni 2017

1. Ruang Lingkup:

a. Ruang Lingkup Aplikasi

Instruksi kerja ini berlaku untuk pengawasan pemasangan batu.


b. Ruang Lingkup Aktivitas
Instruksi kerja ini berlaku untuk pengawasan pemasangan batu meliputi penyediaan
bahan, penggalian, pondasi dan semua pekerjaan persiapan untuk melengkapi
struktur.
2. Tujuan:

Untuk memberikan panduan prosedur pengawasan pemasangan batu agar diperoleh hasil
sesuai dengan syarat / ketentuan yang berlaku.

3. Referensi:

1. Spesifikasi Umum 2010.

2. Gambar Kerja.

3. Metode Pelaksanaan.

4. Definisi:

4.1 Pemasangan Batu

Batu Masonry terdiri dari batu, adukan dan drainase berpori, hanya digunakan untuk
struktur seperti dinding penahan, pelat gorong-gorong dan head-wall.

4.2 Drainase Berpori

Drainase berpori adalah material berpori untuk backfill pada pondasi drainase beton
atau drainase atau pipa bawah tanah atau untuk mencegah butiran tanah halus
terbawa dan terkikis oleh rembesan air bawah tanah.

4.3 Delatasi (Contraction Joint)

Celah (30 mm) yang dibentuk untuk memisahkan struktur, sehingga struktur panjang
tidak lebih dari 20 m, pembentukan celah haruslah sedemikian rupa, sehingga
membentuk sambungan yang tegak dan sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan.

5. Ketentuan Umum

5.1 Ketentuan Pelaksanaan Supervisi


1
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) No Pinjaman IBRD: 8043-ID

INSTRUKSI KERJA UNTUK KERJA BATU (7.9)


LEVEL 3
No. Dokumen : SMM – IK : 7.9 Tanggal Efektif : 12 Juni 2013
No. Revisi : 00 Tanggal Diperiksa : 12 Juni 2017

a. Pengawasan Kerja pemasangan batu hanya dilakukan di tempat kerja dan


permintaan tersebut telah disetujui oleh semua pihak yang berwenang.
b. Pengawasan pelaksanaan pemasangan batu dilakukan sepanjang waktu
pelaksanaan kerja di setiap lokasi kegiatan, minimal 1 (satu) kali setiap hari
sampai pekerjaan dinyatakan selesai..

c. Pencatatan waktu dilakukan oleh petugas (pengawas) bila dianggap pencatatan


perlu dilakukan.

d. Catatan penyimpangan atau kondisi sementara yang dapat mempengaruhi


kualitas harus dicatat di kolom Catatan yang telah disediakan.

5.2 Ketentuan Material

a. Batu

1) Batu harus bersih, keras, tidak ada bagian yang tipis atau retak dan harus
dari jenis yang tahan lama. Jika perlu, batu harus dibentuk untuk
menghilangkan bagian tipis atau tidak kuat.
(Spesifikasi Klausul 7.9.2.1.a))
2) Batu harus berbentuk datar, runcing atau oval dan bisa dipasangkan
secara bersamaan.
(Spesifikasi Klausul 7.9.2.1.b)
3) Kecuali diinstruksikan oleh Insinyur, batu harus memiliki
ketebalan tidak kurang dari 15 cm, lebarnya tidak kurang dari
satu setengah kali ketebalan dan panjangnya tidak kurang dari
satu setengah kali lebarnya. (Spesifikasi Klausul 7.9.2.1.c)

b. Adukan untuk Pemasangan Batu

Kecuali diinstruksikan lain oleh Insinyur, semen adukan untuk


pemasangan batu harus memiliki kekuatan tekan minimal 50 kg / cm 2
pada hari ke 28. Dalam adukan semen, kapur akan ditambahkan
sebanyak 10% dari berat semen. (Spesifikasi Klausul 7.8.2.2.b)
c. Drainase Berpori

1) Untuk Backfill

(a) Bahan berpori harus dipadatkan lapis demi lapis dengan


ketebalan masing-masing lapisan tidak lebih dari 15 cm
untuk mencapai kerapatan di atas 95% dari kepadatan
kering maksimum yang ditentukan sesuai dengan SNI 03-
1742-1989. Setiap metode pemadatan yang disetujui dapat
2
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) No Pinjaman IBRD: 8043-ID

INSTRUKSI KERJA UNTUK KERJA BATU (7.9)


LEVEL 3
No. Dokumen : SMM – IK : 7.9 Tanggal Efektif : 12 Juni 2013
No. Revisi : 00 Tanggal Diperiksa : 12 Juni 2017

digunakan untuk mendapatkan kerapatan yang dibutuhkan


(Spesifikasi Klausul 2.4.3.1.c)

(b) Selimut drainase (kurang dari 20 cm) dari material berpori


yang akan ditutupi dengan bahan tanah harus dipadatkan
secukupnya sebelum lapisan pertama endapan tanah
diletakkan di atasnya. Tanggul tanah berikutnya harus
dipadatkan dengan kuat sehingga lapisan bahan berpori di
bawah dapat mencapai kerapatan yang dibutuhkan.
(Spesifikasi Klausul 2.4.3.1.e)
2) Membuat Lubang Peresapan

Bila filter kantung harus dibuat di belakang lubang sulingan,


maka bahan filter harus diperluas ke pondasi atau bahan
berpori untuk backfill paling sedikit 30 cm dari ujung lubang ke
segala arah, kecuali jika Insinyur memberikan arahan lain.
(Spesifikasi Klausul 2.4.3.5.f)

5.3 Ketentuan Peralatan

a. Peralatan lain

b. Pengaduk Beton
c. Tanker Air

5.4 Ketentuan untuk Setiap Langkah Kerja

1. Persiapan

a. Pengawas harus memeriksa kesesuaian kesiapan bahan, peralatan,


tenaga kerja, metode kerja dan gambar kerja.
b. Harus dipastikan bahwa pekerja telah ditugaskan dan berada di
lokasi kegiatan sesuai dengan tugasnya
c. Acuan seperti tanda elevasi telah terpasang.

d. Penyedia pekerjaan konstruksi (Kontraktor) harus menyediakan


petugas kontrol Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

e. Penyedia pekerjaan konstruksi harus menyediakan petugas


pengelola lingkungan.

f. Tanda untuk Pekerjaan Jalan.

3
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) No Pinjaman IBRD: 8043-ID

INSTRUKSI KERJA UNTUK KERJA BATU (7.9)


LEVEL 3
No. Dokumen : SMM – IK : 7.9 Tanggal Efektif : 12 Juni 2013
No. Revisi : 00 Tanggal Diperiksa : 12 Juni 2017

Penyedia Jasa harus menyediakan rambu jalan atau peralatan


penanganan lalu lintas. Ketentuan dan penempatan tanda-tanda ini harus
sesuai dengan pedoman tanda sementara untuk Pekerjaan Jalan No. Pd-
T-12-2003. Penyedia layanan harus menyediakan peralatan dalam waktu
48 jam dan harus memasang dan merawat peralatan selama masa
pelaksanaan. (Spesifikasi Klausul 1.8.2.14)

2. Persiapan Pondasi

a. Posisi pondasi dasar


Kecuali, jika tidak ditentukan atau ditunjukkan pada Gambar, dasar dasar
untuk struktur dinding penahan harus tegak lurus, atau tingkatan
selanjutnya juga tegak lurus terhadap permukaan dinding. Untuk struktur
lainnya, pondasi dasar harus horisontal atau tingkatan selanjutnya juga
horisontal. (Spesifikasi Klausul 7.9.3.1.b)

b. Kantung Penyaring
Lapisan dasar air resapan (berpori) dan kantong penyaring
harus disediakan jika diperlukan dan harus sesuai dengan
ketentuan Bagian 2.4, Drainase Berpori. (Spesifikasi Klausul
7.9.3.1.c)

c. Pondasi Beton
Bila ditunjukkan pada Gambar, atau diminta oleh Insinyur, pondasi beton
bisa saja diperlukan. Beton yang digunakan harus sesuai dengan
ketentuan dalam Bagian 7.1 ini. (Spesifikasi Klausul 7.9.3.1.d)

3. Pemasangan Batu

Pondasi adukan baru harus setebal 3 cm dan harus dipasang pada pondasi
yang disiapkan tepat sebelum penempatan batu pada lapisan pertama. Batu
besar yang dipilih harus digunakan untuk lapisan dasar dan di sudutnya.
Perhatian harus diberikan untuk menghindari pengelompokan batu dengan
ukuran yang sama. (Spesifikasi Klausul 7.9.3.2.a)

4. Penempatan Adukan
a. Sebelum pemasangan, batu harus dibersihkan dan dibasahi dan dalam
waktu yang cukup untuk memungkinkan penyerapan air mendekati titik
jenuh. Pondasi yang akan menerima setiap batu juga harus dibasahi dan
kemudian pondasi adukan harus disebarkan di sisi batu yang
bersebelahan dengan batu yang akan dipasang. (Spesifikasi Klausul
7.9.3.3.a)
b. Tebal pondasi mortir harus berkisar antara 2 cm sampai 5 cm dan
merupakan persyaratan minimum untuk memastikan bahwa keseluruhan

4
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) No Pinjaman IBRD: 8043-ID

INSTRUKSI KERJA UNTUK KERJA BATU (7.9)


LEVEL 3
No. Dokumen : SMM – IK : 7.9 Tanggal Efektif : 12 Juni 2013
No. Revisi : 00 Tanggal Diperiksa : 12 Juni 2017

rongga antara batu yang terpasang terisi penuh. (Spesifikasi Klausul


7.9.3.3.b)

5. Lubang Peresapan dan Contraction Joint

a. Penempatan Lubang Peresapan

Dinding batu harus dilengkapi dengan lubang sulingan. Kecuali jika


ditunjukkan pada Gambar atau diinstruksikan oleh Insinyur, lubang
sulingan harus ditempatkan dengan jarak tidak lebih dari 2 m dari sumbu
ke sumbu lainnya dan diameternya harus 50 mm. (Spesifikasi Klausul
7.9.3.4.a)

b. P e n e m p a t a n Contraction Joint

Dalam struktur yang panjang, seperti dinding penahan, maka


Contraction Joint harus diatur agar panjang struktur tidak lebih
dari 20 m. Contraction Joint harus memiliki lebar 30 mm dan
harus dilanjutkan sampai seluruh tinggi dinding. Batu yang
digunakan untuk pembentukan sambungan harus dipilih,
sehingga membentuk koneksi vertikal yang bersih dengan
dimensi yang ditentukan di atas. (Spesifikasi Klausul 7.9.3.4.b

c. Drainase Berpori

Tanggul di belakang Contraction Joint, harus berupa material berbutir


kasar dengan gradasi yang dipilih, agar tanah yang ditahan tidak mudah
hanyut. (Spesifikasi Klausul 7.9.3.4.c)

6. Pekerjaan Akhir Pemasangan Batu

a. Sambungan antar Batu

Sambungan antar batu harus dilakukan secara merata ke seluruh


permukaan pekerjaan, tapi jangan sampai menutupi batu ketika
pekerjaan dilakukan. (Spesifikasi Klausul 7.9.3.5.a)

b. Adukan Tahan Cuaca

Kecuali ada ketentuan lain, permukaan horizontal seluruh batu harus


dilakukan di samping adukan tahan cuaca setebal 2 cm, dan dilakukan
sampai permukaannya rata dan memiliki kemiringan melintang untuk
memastikan drainase air hujan dan sudut yang bulat. Lapisan tahan cuaca
harus dimasukkan ke dalam dimensi struktur yang diperlukan. (Spesifikasi
5
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) No Pinjaman IBRD: 8043-ID

INSTRUKSI KERJA UNTUK KERJA BATU (7.9)


LEVEL 3
No. Dokumen : SMM – IK : 7.9 Tanggal Efektif : 12 Juni 2013
No. Revisi : 00 Tanggal Diperiksa : 12 Juni 2017

Klausul 7.9.3.5.b)

c. Pembersihan dan Perawatan

1) Begitu batu itu ditempatkan, dan sementara adukan masih baru,


seluruh permukaan batu harus dibersihkan dengan benar.
(Spesifikasi Klausul 7.9.3.5.c)

2) Permukaan yang sudah jadi harus dirawat sesuai


kebutuhan kerja beton. (Pemeliharaan dan pembasahan).
(Spesifikasi Klausul 7.9.3.5.d)
(Specifications Clause 7.9.3.5.d)

d. Penimbunan (backfilling)

Jika hasil pemasangan batu cukup kuat, dan dalam waktu 14 (empat
belas) hari setelah pekerjaan selesai, penimbunan kembali harus
dilakukan sesuai yang dipersyaratkan, atau sesuai dengan yang diminta
oleh Insinyur, sesuai dengan ketentuan yang berkaitan dengan Bagian
3.2 , Timbunan, atau Bagian 2.4, Drainase Berpori. (Spesifikasi Klausul
7.9.3.5.e)

e. Bidang Antar-muka

Landaian yang bersebelahan dengan bahu jalan harus


dipotong, untuk mendapatkan bidang antarmuka yang padat
dan halus sehingga akan memberikan drainase yang halus dan
mencegah gerusan di pinggir pekerjaan batu.

6
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) No Pinjaman IBRD: 8043-ID

INSTRUKSI KERJA UNTUK KERJA BATU (7.9)


LEVEL 3
No. Dokumen : SMM – IK : 7.9 Tanggal Efektif : 12 Juni 2013
No. Revisi : 00 Tanggal Diperiksa : 12 Juni 2017

6. Diagram dan Prosedur.


PROSEDUR DARI SETIAP LANGKAH KERJA

Verifkasi 1 (Persiapan)
• Periksa ulang lokasi pekerjaan sesuai
dengan gambar kerja
• Periksa kembali ketersediaan bahan,
pastikan tidak ada perubahan
• Periksa dan amati kesiapan peralatan,
pastikan tidak ada perubahan kesiapan
yang telah dilakukan
• Periksa ulang kesiapan tenaga kerja, jumlah
dan kualifikasi, pastikan tidak ada
perubahan kesiapan yang telah dilakukan
• Terdapat orang yang bertanggung jawab
atas kontraktor untuk jika ada kondisi-
kondisi khusus
• Terdapat petugas kontrol Kesehatan dan
Keselamatan Kerja
• Kesiapan tanda untuk pekerjaan di jalan
• Terdapat kesiapan penanganan lingkungan
Verifikasi 2 (Persiapan Pondasi)
• Gambarkan pemasangan sebagai panduan
posisi, dimensi , elevasi atas dan elevasi
bawah pondasi
• Elevasi dan dimensi dasar pondasi sesuai
dengan gambar kerja
• Pemasangan pondasi sesuai dengan
gambar kerja.

Verifikasi 3 (Pemasangan Batu)


• Pemasangan pondasi adukan minimal 3 cm.
• Batu besar yang dipilih ditempatkan pada
lapisan dasar
• Hindari pergeseran dan pemindahan batu
yang telah terpasang
• Sebelum pemasangan, batu harus
dibersihkan dan dibasahi.

7
PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) No Pinjaman IBRD: 8043-ID

INSTRUKSI KERJA UNTUK KERJA BATU (7.9)


LEVEL 3
No. Dokumen : SMM – IK : 7.9 Tanggal Efektif : 12 Juni 2013
No. Revisi : 00 Tanggal Diperiksa : 12 Juni 2017

Verifikasi 4 (Penempatan Adukan)


• Pondasi harus dilembabkan sebelum pondasi adukan disebar.
• Tebal pondasi adukan pada kisaran 2-5 cm, adalah persyaratan minimum untuk
mengisi rongga di antara batu-batuan tersebut.
Verifikasi 5 (Lubang Sulingan dan Delatasi)
• Jarak lubang sulingan adalah 2 m dari masing-masing sumbu
• Diameter lubang sulingan adalah 50 mm
• Buat delatasi setiap struktur sepanjang 20 m (maksimum)
• Delatasi tegak lurus dengan lebar 30mm
• Timbunan di belakang delatasi haruslah material drainase berpori.

Verifikasi 6 (Pekerjaan Akhir Pemasangan Batu)


• Sambungan antar batu datar tapi tidak menutupi batu
• Permukaan horizontal memungkinkan adukan tahan cuaca memiliki ketebalan 2cm
• Proses backfill akan dilakukan 14 (empat belas) hari kerja setelah pemasangan batu
selesai
• Hilangkan landaian yang berdekatan dengan bahu jalan untuk drainase yang halus.

8
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

PERSETUJUAN

URAIAN NAMA & POSISI TTD TANGGAL

DISUSUN
OLEH

DIPERIKSA
OLEH

DISETUJUI
OLEH

STATUS DOKUMEN

NO. DISTRIBUSI

TANGGAL
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

DAFTAR ISI
Daftar Isi
1. Ruang Lingkup 1
2. Tujuan 1
3. Acuan 1
4. Definisi 1
4.1 Formula Campuran Kerja (JMF) 1
4.2 Campuran Aspal Panas (Hot Mix) 1

4.3 Ketebalan Camuran Aspal Sebenarnya 1


4.4 Standar Ketebalan Pekerjaan 1

4.5 Penggilasan Awal (Breakdown Rolling) 1


4.6 Penggilasan Antara (Intermediate Rolling) 2
4.7 Penggilasan Akhir (Finishing Rolling) 2
5. Ketentuan Umum 2
5.1 Ketentuan Pelaksanaan Supervisi 2
5.2 Ketentuan Material 2-3
5.3 Ketentuan Peralatan 3
5.4 Ketentuan Toleransi 3-4
5.5 Ketebalan lapisan perata dan sebagai lapisan penguat 4

5.6 Ketentuan Rambu Jalan dan Pengendali Lalu Lintas 4


5.7 Pengawasan K3 4
5.8 Kondisi Cuaca yang Diizinkan untuk Bekerja 4
5.9 Kecepatan Alat Penghampar 4-5
5.10 Ketentuan dalam Setiap Langkah Kerja 5
1. Persiapan 5
2. Pengangkutan 5-7
3. Penghamparan 7-8
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

4. Pemadatan Awal 8-10


5. Pemeriksaan Kerataan 10
6. Perbaikan 10
7. Penggilasan Antara 10-11
8. Penggilasan Akhir 11-12
9. Pemeriksaan Kerataan 12
10. Perbaikan 12
6. Diagram dan Prosedur 13-15
7. Daftar Periksa
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

1. Ruang Lingkup
a. Ruang Lingkup Penerapan
Instruksi kerja diterapkan untuk mengawasi penghamparan dan pemadatan
Campuran Aspal Panas.
b. Ruang Lingkup Kegiatan
Instruksi kerja diterapkan untuk mengawasi penghamparan dan pemadatan
Campuran Aspal Panas sebagai lapisan gradasi, lapisan pondasi (dasar), lapisan
perekat (binder) atau lapisan permukaan (wear) pada pondasi atau permukaan jalan
yang telah dipersiapkan sesuai dengan persyaratan spesifikasi.

2. Tujuan
Untuk menyediakan prosedur panduan pemantauan pelaksanaan penghamparan dan
pemadatan Campuran Aspal Panas agar mendapatkan hasil yang memuaskan sesuai
dengan syarat/kondisi yang berlaku.

3. Acuan
1. Spesifikasi Umum
2. Formula campuran kerja (Job Mix Formula)
3. Gambar kerja
4. Metode penerapan

4. Definisi

4.1 Formula Campuran Kerja (Job Mix Formula)


JMF adalah sebuah dokumen yang menyatakan bahwa rancangan campuran
laboratorium yang terdaftar dapat diproduksi dengan pemasangan pencampur
aspal (Instalasi Pencampur Aspal, AMP), dilapiskan dan dipadatkan di lapangan
dengan peralatan yang telah ditetapkan dan memenuhi tingkat kerapatan.
(Spesifikasi bab 6.3.3.3.d.iii)

4.2 Campuran Aspal Panas (Hot Mix).


Campuran Aspal Panas (Hot mix) adalah campuran agregat dan material aspal yang
dicampur dan dipanaskan. Pemadatan hamparan harus dilakukan sesuai suhu yang
diinginkan. (Resource Asphalt Institute)

4.3 Ketebalan Campuran Aspal yang Sebenarnya


Ketebalan lapisan aspal yang sebenarnya di setiap ruas didefinisikan sebagai
ketebalan rata-rata semua uji yang diambil dari ruas tersebut. (Spesifikasi bab
6.3.1.4.b)
4.4 Kepadatan Standar Kerja
4
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

Kepadatan Standar Kerja adalah kepadatan rata-rata semua obyek uji yang diambil
dari uji penghamparan (Percobaan Pemadatan) yang memenuhi persyaratan.
(Spesifikasi bab 6.3.3.5)

4.5 Penggilasan Awal (Breakdown Rolling)


Penggilasan awal adalah pemadatan awal yang dilakukan setelah penghamparan
pada interval suhu yang ditentukan. Penggilas pemadatan awal bisa berupa roda baja
statis atau bergetar.

4.6 Penggilasan Antara (Intermediate Rolling)


Penggilasan antara adalah pemadatan utama yang berfungsi untuk mendapatkan
kerapatan, jumlah lintasan dan interval suhu campuran aspal yang diinginkan.
Penggilasan antara dilakukan setelah selesai pemadatan awal. Pemadatan dengan
penggilasan antara umumnya dilakukan dengan penggilas ban karet pneumatik.

4.7 Penggilasan Akhir (Finishing Rolling)


Penggilasan atau pemadatan akhir harus dilakukan untuk memperbaiki tampilan
permukaan dan dilakukan pada interval suhu tertentu. Pemadatan umumnya
dilakukan dengan penggilas pemadat (roller compactor).

5. Ketentuan Umum
5.1 Ketentuan Pelaksanaan Supervisi
a. Pelaksanaan supervisi penghamparan Campuran Aspal Panas dilakukan di lokasi
kerja setelah permintaan tersebut disetujui oleh semua pihak yang berwenang.
b. Supervisi penghamparan Campuran Aspal Panas dilakukan sepanjang
waktu selama pelaksanaan pekerjaan di lapangan mulai dari
penerimaan campuran aspal, setiap langkah kegiatan hingga
selesainya pemadatan.
c. Frekuensi laporan minimal 1 (satu) catatan pada setiap urutan lintasan yang
dipadatkan
d. Waktu pencatatan ditentukan oleh petugas lapangan (pemeriksa), pada saat
dianggap bahwa catatan uji pengambilan (pick-test) perlu dilakukan
e. Catatan penyimpangan atau kondisi seketika yang dapat
mempengaruhi kualitas, harus dicatat dalam catatan lapangan yang
telah disediakan.

5.2 Ketentuan Material


Campuran Aspal Panas
a. Lapisan Tipis Beton Aspal (HRS)
Lapisan Tipis Aspal Beton (Lataston) yang selanjutnya disebut HRS, terdiri dari
dua jenis campuran, HRS Pondasi (HRS - Base) dan HRS Lapisan Aus (HRS
5
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

Wearing Course, HRS-WC) dan ukuran maksimum agregat dari masing-masing


campuran adalah 19 mm. (Spesifikasi bab 6.3.1.2.b)
b. Aspal Beton (AC)
Lapisan Aspal Beton (Laston) yang selanjutnya disebut AC, terdiri dari tiga
jenis campuran, AC Lapisan Aus (AC-WC), AC antar lapisan (AC-Lapisan
Perekat, AC-BC) dan AC Dasar (AC-Dasar) Jumlah maksimum agregat tiap
campuran adalah 19 mm, 25,4 mm, 37,5 mm. Setiap jenis campuran
dikondisikan dengan menggunakan material aspal polimer atau Aspal yang
dimodifikasi dengan Aspal Multigrade atau Aspal Alami atau disebut AC-WC
Termodifikasi (modified), AC-BC termodifikasi, dan AC-Base termodifikasi.
(Spesifikasi bab 6.3.1.2.c).

5.3 Ketentuan Peralatan


a. Kompresor
Kompresor digunakan untuk membersihkan permukaan area yang akan
dilapisi oleh Lapisan Utama (Prime Coat) / Tack Coat.
b. Penyemprot Aspal.
Penyemprot digunakan untuk menghamparkan Lapisan Prime Coat / Tack Coat.
c. Dump Truck.
Jumlah truk untuk mengangkut campuran aspal harus cukup dan dikelola
sehingga peralatan penghamparan dapat beroperasi terus menerus pada
kecepatan yang disetujui. (Spesifikasi bab 6.3.4.10.e)
d. Penyempurna Aspal.
Peralatan penghampar (mesin sendiri) yang mampu melapisi dan membentuk
campuran aspal sesuai dengan garis, kemiringan, dan bagian melintang yang
dibutuhkan. (Spesifikasi bab 6.3.4.11.a)
e. Penggilas Tandem (Tandem Roller)
Setiap alat penghampar harus disertai setidaknya satu penggilas roda baja dan
penggilas ban. (Spesifikasi bab 6.3.4.12.a)

f. Penggilas Ban Pneumatic (Pneumatic Tired Roller)

Paling tidak harus dilengkapi dengan ban karet pemadat tambahan (penggilas
ban) untuk setiap kapasitas produksi melebihi 40 ton per jam. (Spesifikasi bab
6.3.4.12.a)

g. Truk Tangki Air

6
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

Tangki air berfungsi sebagai persediaan air untuk alat pemadatan.

5.4 Ketentuan Toleransi

Perbedaan kerataan lapisan permukaan rusak (HRS-WC dan AC-WC) yang


telah selesai, harus memenuhi hal berikut:
a. Kerataan melintang
Bila diukur dengan penggaris lurus 3 m yang diletakkan tepat di atas
permukaan jalan tidak boleh melebihi 5 mm untuk lapisan rusak dan lapisan
antara atau 10 mm untuk lapisan pondasi.
Perbedaan setiap dua titik pada tiap bagian melintang tidak boleh lebih dari 5
mm ketinggian yang dihitung dari bagian penampang yang ditunjukkan pada
Rencana Gambar.
(Spesifikasi bab 6.3.1.4.h.i)

b. Kerataan longitudinal
Setiap ketidakrataan jika diukur dengan Roll profilometer tidak boleh melebihi 5
mm. (Spesifikasi bab 6.3.1.4.h.ii)

5.5 Ketebalan lapisan perata dan sebagai lapisan penguat


Bila campuran aspal digunakan sebagai lapisan gradasi dan juga (penguat),
ketebalan lapisan tidak boleh melebihi 2,5 kali nominal ketebalan yang disebutkan di
Tabel 6.3.1. (1). (Spesifikasi bab 6.3.1.4.i)

5.6 Ketentuan Rambu Jalan dan Pengendali Lalu Lintas


a. Penyedia jasa harus menyediakan rambu jalan atau peralatan
pengendalian lalu lintas. Ketentuan dan penempatan rambu-rambu ini
setidaknya harus sesuai dengan pedoman rambu sementara untuk
Pekerjaan Jalan No. Pd-T-12-2003.
b. Penyedia jasa harus menyediakan peralatan dalam waktu 48 jam dan untuk
memasang dan merawat peralatan selama Masa Pelaksanaan. (Spesifikasi bab
1.8.2.14)
5.7 Pengawasan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Untuk melindungi pekerjaan, menjaga keselamatan umum dan kelancaran lalu lintas
yang melintasi atau di sekitar lokasi kerja, Penyedia Jasa harus memasang dan
memelihara rambu lalu lintas, penghalang dan fasilitas serupa di setiap tempat dimana
kegiatan akan mengganggu lalu lintas umum.

5.8 Kondisi Cuaca yang Diijinkan Untuk Bekerja.


Campuran hanya bisa dihamparkan saat permukaan yang sudah disiapkan sudah kering
dan tidak akan hujan. (Spesifikasi Bagian 6.3.1.7).

7
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

5.9 Kecepatan alat penghampar


Kecepatan alat penghampar harus dijaga konstan selama proses
penghamparan untuk mendapatkan tekstur dan ketebalan yang dibutuhkan
(sesuai Percobaan Pemadatan).
Kecepatan alat itu disesuaikan dengan kapasitas produksi unit pencampur
aspal (AMP)

V : Kecepatan alat penghampar (km/jam).


P : Produksi AMP sebenarnya (Ton/jam).
Lh : Luas Penghamparan

Tr : Desain Ketebalan
KSK : Standar Kepadatan Kerja (JSD), kepadatan rata-rata (Gmb)
hasil dari percobaan Marshall dalam penciptaan Formula
Campuran Kerja (JMF).
1,0 :
panjang unit pengukur / jalan.
(Sumber Buku Panduan I item c).3.a)

5.10 Ketentuan dalam Setiap Langkah Kerja

1. Persiapan
a. Pengawas harus memeriksa ulang kesesuaian kesiapan, peralatan,
dan tenaga kerja.
b. Harus dipastikan penanggungjawab kegiatan telah ditetapkan dan berada di
lokasi kegiatan.
c. Referensi seperti tongkat penunjuk ketinggian telah terpasang dengan
benar.
d. Pengawasan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Penyedia pekerjaan konstruksi harus menyediakan petugas
pengawas kesehatan dan keselamatan kerja.
e. Penyedia pekerjaan konstruksi harus menyediakan petugas
pengelolaan lingkungan.
f. Kesiapan lapangan dapat diperiksa sesuai daftar periksa persiapan
penghamparan campuran aspal panas (IK - 6.3.6.1).

8
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

2. Pengangkutan
a. Tutup terpal
Setiap muatan harus ditutup dengan kanvas / terpal atau bahan lain yang
sesuai untuk melindungi campuran aspal.
Jika perlu, truk harus ditutup rapat dan seluruh penutup harus diikat agar
campuran aspal mempunyai suhu tertentu (Spesifikasi bab 6.3.4.10.b)

b. Jumlah minimum truk sebelum memulai penghamparan.


1) Penyedia jasa tidak diizinkan untuk memulai penghamparan
sampai minimum tiga (3) truk tiba di lokasi untuk memasok
aspal ke peralatan penghampar.
2) Jika penghamparan harus dihentikan, maka teknisi akan mengizinkan
untuk melanjutkan jika minimal tiga (3) truk tiba di lokasi untuk
memasok aspal ke peralatan penghampar (Spesifikasi Bab 6.3.4.10.e)
c. Pemantauan Pengiriman
Cocokkan dan catatlah data mengenai jumlah kendaraan, suhu
dan waktu keberangkatan, suhu dan waktu penerimaan
(perhatikan perbedaan suhu dan waktu).
d. Kisaran Suhu Campuran Aspal Panas.
Tabel 6.3.5.1 Ketentuan viskositas dan suhu aspal
untuk pencampuran dan pemadatan aspal tipe I
(Asphalt Pen. 60-70)
Kisaran Suhu
Viskositas Aspal Aspal Tipe I (°C)
No. Prosedur Pelaksanaan (PA.S)

1 Pencampuran obyek uji Marshall 0,2 155 ±1

2 Pemadatan obyek uji Marshall 0,4 145 ±1

Pencampuran, kisaran target suhu


3 0,2 - 0,5 145 – 155
penuangan campuran aspal dari
4 ± 0,5 135 – 150
alat pencampur ke dalam truk
5 Penyediaan alat penghampar 0,5 - 1,0 130 – 150

6 Pemadatan pertama (roda baja 1-2 125 – 145

7 Pemadatan antara (roda karet) 2 - 20 100 – 125

9
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

8 Pemadatan akhir (roda baja) < 20 > 95

e. Suhu Campuran Aspal (Aspal Tipe II / Aspal Termodifikasi)


1. Suhu pencampuran dan pemadatan untuk setiap jenis aspal
yang digunakan berbeda.
2. Penentuan suhu pencampuran dan pemadatan masing-masing
jenis aspal harus dilakukan pada pengujian laboratorium.
3. Berdasarkan hasil uji laboratorium untuk jenis aspal tersebut,
hubungan antara viskositas dan suhu dapat diperoleh.
(Spesifikasi bab 6.3.5.5)
f. Identifikasi visual
Campuran aspal dapat ditolak jika secara visual terlihat bahwa:
1) Suhu terlalu tinggi, asap biru keluar dari aspal di atas dump truck atau
terlihat saat pembongkaran ke alat penghampar (Akhir).
2) Campu ran as pal be ton (gumpalan ), periks a suh u.
3) Terdapat pelelehan, kemungkinan kesalahan atau kerusakan katup
penimbang aspal.
4) Campuran aspal tidak homogen, ada agregat yang tidak tertutup oleh
aspal
5) Campuran aspal yang dikirim tidak sesuai dengan alokasi, (contoh:
rencana penghamparan AC-WC tapi yang dikirim adalah AC Dasar).
6) Campuran terlalu halus atau terlalu kasar sebagai indikasi kerusakan
pada AMP atau penimbangan agregat yang tidak konsisten.
3. Penghamparan
a. Pengawasan kinerja alat penghampar
1) Sebelum memulai penghamparan, sepatu (screed) dari alat
penghampar harus dipanaskan. Campuran aspal harus dihamparkan
dan diratakan sesuai dengan kemiringan, ketinggian dan bentuk
penampang yang dibutuhkan. (Spesifikasi bab 6.3.6.3.a)
2) Vibrator pada screed dari alat penghampar harus dalam kondisi
berjalan baik selama penghamparan dan pembentukan. (Spesifikasi
bab 6.3.6.3.c)
3) Hopper tidak boleh kosong, campuran aspal yang tersisa harus dijaga,
suhu tidak boleh kurang dari yang ditentukan pada Tabel 6.3.5 (1).
(Spesifikasi bab 6.3.6.3.d)
4) Jika terdapat segregasi, celah atau alur di permukaan, maka alat
penghampar harus dihentikan dan tidak boleh dijalankan lagi sampai

10
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

penyebabnya ditemukan dan diperbaiki. (Spesifikasi bab 6.3.6.3.f)

b. Metode Penghamparan.
1) Penghamparan harus dimulai dari jalur yang lebih rendah menuju jalur
yang lebih tinggi jika pekerjaan dilakukan lebih dari satu jalur.
(Spesifikasi bab 6.3.6.3.b)
2) Sambungan longitudinal dan melintang, pada lapisan berturut-turut
harus diatur sedemikian sehingga sambungan suatu lapisan tidak
segaris dengan yang lain.
3) Sambungan longitudinal harus diatur sedemikian rupa sehingga
sambungan pada lapisan atas berada di jalur terpisah. (Spesifikasi
bab 6.3.6.5.a)
4) Campuran aspal tidak boleh dihamparkan di samping campuran aspal
yang telah dipadatkan sebelumnya, kecuali jika ujungnya dipotong
secara tegak lurus atau dipanaskan dengan menggunakan api
(dengan menggunakan pembakar). Jika tidak ada pemanasan, maka
sambungan vertikal harus dilapisi dengan lapisan perekat. (Spesifikasi
bab 6.3.6.5.b)
c. Ketebalan hamparan lunak.
1) Ketebalan hamparan lunak sama atau lebih tebal dari pada ketebalan
hasil eksperimen (Percobaan Pemadatan) yang disetujui untuk
memastikan ketebalan yang dibutuhkan tercapai.
2) Selain itu, cara manualnya adalah dengan menggunakan batang besi
yang ditandai dengan target ketebalan hamparan lunak, kontrol
ketebalan lunak juga dilakukan dengan mengukur panjang hasil
penghamparan setiap dump truck.
d. Kecepatan Penyempurna.
1) Alat penyempurna Harus dioperasikan pada kecepatan yang tidak
menyebabkan retak, celah, atau bentuk ketidakrataan lainnya pada
permukaan.
2) Kecepatan penghamparan harus disetujui oleh Teknisi (Spesifikasi bab
6.3.6.3.e)

e. Pemantauan selama pekerjaan penghamparan.


Selama pekerjaan penghamparan, fungsi berikut harus dipantau dan dikontrol
secara elektronik atau manual sesuai kebutuhan untuk memastikan
ketinggian desain dan toleransi yang disyaratkan, termasuk ketebalan lapisan
aspal:
11
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

1) Ketebalan hamparan aspal lunak harus diperiksa, sebelum


dilakukan pemadatan (diperlukan pemeriksaan manual).
2) Kemiringan sepatu (screed) alat penghampar untuk memastikan
pemenuhan kemiringan melintang dan ketinggian super yang
dibutuhkan.
3) Ketinggiannya sesuai pada sambungan hamparan aspal,
sebelum pemadatan diizinkan.
4) Untuk memastikan sambungan longitudinal vertikal, harus
menggunakan siku profil baja dengan tinggi 5mm, lebih kecil
dari pada rencana ketebalan dan dipaku pada jalan yang lebih
rendah.
5) Perbaikan penampang permukaan aspal lama yang panjang
dengan menggunakan tongkat grader, kawat baja atau hasil
survei penandaan. (Spesifikasi bab 6.3.6.3.i)
4. Pemadatan Awal.
a. Pemeriksaan permukaan.
Setelah campuran aspal dihamparkan, permukaan harus
diperiksa, dan semua gagal uji harus diperbaiki. (Spesifikasi bab
6.3.6.4.a).

b. Suhu Campuran Aspal.


Suhu Campuran Aspal dalam kondisi lunak harus dipantau dan penggilasan
harus dimulai pada kisaran viskositas aspal yang ditunjukkan pada 6.3.5.
(1). (Spesifikasi bab 6.3.6.4.a).
C. Kecepatan Alat Pemadat.
Kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km / jam
untuk ukuran roda baja, dan harus selalu dijaga agar tidak
mengakibatkan pergeseran campuran panas. Garis,
kecepatan dan arah pembilasan tidak boleh berubah secara
tiba-tiba atau dengan cara yang menyebabkan campuran
aspal jalan terdorong. (Sumber Bagian Spesifikasi 6.3.6.4.g)

D. Metode Pemadatan.
1) Posisi Roda Penggerak dan Jumlah Lintasan.
Pemadatan awal harus dilakukan dengan pemadat roda baja.
Pemadatan awal harus dioperasikan dengan roda penggerak

12
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

berada di dekat penyebar. Setiap titik perkerasan harus


menerima minimal 2 (dua) jalur penggilasan awal. (Spesifikasi
bagian 6.3.6.4.c)

2) Urutan Pemadatan
Pemadatan harus dimulai titik dimana sambungan
memanjang dan kemudian dari tepi luar. Selanjutnya,
penggilasan dilakukan sejajar dengan sumbu jalan secara
berurutan, kecuali untuk superelevasi tikungan harus dimulai
dari tempat terendah dan bergerak ke arah yang lebih tinggi.
Lintasan berikutnya harus tumpang tindih setidaknya
setengah lebar roda dan jalur seharusnya tidak berakhir pada
titik kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya.
(Spesifikasi artikel 6.3.6.4.e)

3) Ketika menggilas sambungan longitudinal, alat pemadat


untuk pemadatan awal pertama-tama harus memampatkan
lapisan yang sebelumnya dihamparkan tidak lebih dari 15 cm
dari lebar roda pemadat yang memadatkan tepi sambungan
yang tidak dipadatkan.
Pemadatan dengan jalur berurutan harus dilanjutkan dengan
memindahkan posisi alat pemadat secara bertahap di atas
sambungan, sampai sambungan yang padat terbentuk.
(Spesifikasi bagian 6.3.6.4.f)

4) Sambungan melintang dikerjakan terlebih dahulu dengan


membuat sambungan longitudinal sebagai medium sepanjang (60
- 100) cm, dengan lebar pinggiran 15 cm pada campuran yang
tidak dipadatkan. Kemudian, padatkanlah sambungan melintang
sejauh 15 cm ke dalam campuran yang tidak dipadatkan.

(A) Jika jalurnya berdampingan dengan jalur lain yang telah


dihamparkan secara padat.
- Pemadatan sambungan melintang.
- Pemadatan sambungan memanjang.
- Pemadatan tepi luar.
- Pemadatan pertama (Penggilasan Awal) harus dimulai dari sisi
terendah ke arah yang lebih tinggi.
- Pemadatan antara, sesuai dengan prosedur pemadatan di atas.
- Penggilasan Akhir.

13
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

(B) Jika jalur tidak berdampingan dengan jalur lainnya.


- Pemadatan sambungan melintang.
- Pemadatan tepi luar.
- Pemadatan pertama (Penggilasan Awal) harus dimulai dari sisi
terendah ke arah yang lebih tinggi
- Pemadatan antara, sesuai dengan prosedur pemadatan di atas.
- Penggilasan Akhir.

5. Pemeriksaan Kerataan
A. Permukaan jalan harus diperiksa dengan garis lurus sepanjang 3
meter dan harus tegak lurus dan sejajar dengan sumbu jalan.
B. Pemeriksaan toleransi kerataan yang dipersyaratkan harus dilakukan
segera setelah pemadatan awal. (Bagian spesifikasi 6.3.7.1.a dan b)
6. Perbaikan
Jika ada penyimpangan, maka harus diperbaiki dengan menyingkirkan atau
menambahkan material sesuai kebutuhan. (Spesifikasi bagian 6.3.7.1.b)
7. Penggilasan Antara
A. Pemeriksaan Suhu Hamparan
Suhu campuran aspal dalam keadaan lunak harus dipantau dan
pembilasan harus dimulai dalam kisaran viskositas aspal yang
ditunjukkan pada Tabel 6.3.5. (1). (Spesifikasi artikel 6.3.6.4.a)

B. Metode Penghamparan
1) Pemadatan kedua atau utama harus dilakukan dengan menggunakan
pemadat roda karet sedekat mungkin dengan pembilasan awal.
(Spesifikasi bagian 6.3.6.4.c)
2) Kecepatan pemadat tidak boleh melebihi 10 km / jam untuk roda
karet dan harus selalu dijaga agar tidak mengakibatkan pergeseran
campuran panas.
Garis, kecepatan dan arah penggilasan tidak boleh diubah secara tiba-
tiba atau dengan cara yang menyebabkan pencampuran aspal.
(Sumber Spesifikasi bagian 6.3.6.4.g)
3) Jumlah lintasan paling sedikit sama dengan jumlah lintasan dalam Uji
Pemadatan.
4) Roda pemadat harus dibasahi dengan cara ekstraksi terus menerus
untuk mencegah pelekatan campuran aspal ke roda pemadat, namun
air yang berlebihan tidak diijinkan. Roda karet mungkin sedikit
dilumasi agar campuran aspal tidak melekat pada roda. (Spesifikasi
bagian 6.3.6.4.i)
8. Penggilasan Akhir

14
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

A. Pemeriksaan Suhu Hamparan


Suhu campuran aspal dalam keadaan lunak harus dipantau dan
pembilasan harus dimulai dalam kisaran viskositas aspal yang
ditunjukkan pada Tabel 6.3.5. (1). (Artikel 6.3.6.4.a
Spesifikasi)

B. Metode Penghamparan
1) Pemadatan atau penyelesaian akhir harus dilakukan dengan
pemadat roda baja tanpa vibrator. (Spesifikasi Bagian
6.3.6.4.c)
2) Kecepatan pemadat tidak boleh melebihi 4 km / jam untuk roda
baja dan harus selalu dijaga agar tidak mengakibatkan
pergeseran campuran panas. Garis, kecepatan dan arah
penggilasan tidak boleh diubah secara tiba-tiba atau dengan
cara yang menyebabkan pencampuran aspal. (Sumber
Spesifikasi bagian 6.3.6.4.g)
(3) Jumlah lintasan paling sedikit sama dengan jumlah lintasan
dalam Uji Pemadatan.
(4) Roda pemadat harus dilembabkan dengan cara ekstraksi terus
menerus untuk mencegah pelekatan campuran aspal ke roda
pemadat, namun kelebihan air tidak diperbolehkan.
(Spesifikasi bagian 6.3.6.4.i)
(5) Ketika permukaan sedang dipadatkan dan sudah selesai,
Penyedia Jasa, akan memangkas tepi trotoar agar rapi. Setiap
bahan yang berlebihan harus dipotong tegak lurus setelah
pemadatan akhir. (Bagian spesifikasi 6.3.6.4.m)

9. Pemeriksaan Kerataan
A. Setelah pembilasan akhir, kerataan lapisan ini harus diperiksa
kembali dan kekasaran permukaan yang melampaui batas
yang disyaratkan dan setiap lokasi yang gagal uji dalam hal
tekstur, pemadatan atau komposisi harus diperbaiki sesuai
arahan Teknisi. (Spesifikasi bagian 6.3.7.1.b)
B. Pembukaan jalan harus diperiksa dengan penggaris lurus 3
(tiga) m, yang disediakan oleh Kontraktor, dan harus
dilakukan secara tegak lurus dan sejajar dengan sumbu jalan
sesuai dengan petunjuk oleh Teknisi untuk memeriksa
keseluruhan permukaan jalan. (Artikel 6.3.7.1.a Spesifikasi)

C. Garis Melintang
1) Bila diukur dengan penggaris lurus 3 meter yang ditempatkan

15
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

tepat di atas permukaan jalan, tidak boleh melebihi 5 (lima)


mm untuk lapisan permukaan dan lapisan antara atau 10 mm
untuk lapisan pondasi. (Spesifikasi bagian 6.3.1.4.h.i)
2) Perbedaan dua titik pada setiap penampang melintang tidak
lebih dari 5 (lima) mm dari perhitungan ketinggian
penampang melintang yang ditunjukkan dalam Gambar.
(Spesifikasi bagian 6.3.1.4.h.i)

D. Tampilan Permukaan Jalan


1) Kerataan lapisan permukaan atau lapisan permukaan jalan
harus diperiksa kerataannya segera setelah pekerjaan selesai
dengan menggunakan aparatus kerataan NAASRA-Meter
sesuai SNI 03-3426-1994. (Spesifikasi bagian 6.3.7.1.c)
2) Pengukuran / pembacaan kerataan harus dilakukan setiap
interval 100 m. (Spesifikasi bagian 6.3.7.1.c)

10. Perbaikan
Jika terdapat tingkat kekasaran di luar persyaratan, maka akan
diperbaiki sesuai arahan Teknisi.

16
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

6. Diagram dan Prosedur


Prosedur setiap langkah kerja
Pemeriksaan 1 (Persiapan)
Mulai

· Periksa kembali lokasi kegiatan


dan data pendukung sesuai gambar
kerja
- Periksa ketersediaan material, pastikan
tidak ada perubahan.
· Periksa dan amati kesiapan alat,
pastikan tidak ada perubahan kesiapan
yang telah dilakukan.
· Periksa kembali kesiapan tenaga kerja, jumlah
dan kualifikasi untuk memastikan tidak ada
perubahan kesiapan yang telah dilakukan.
· Ada orang yang bertanggung
jawab atas penyedia jasa untuk
mengatasi kondisi khusus.
· Ada petugas pengawas keselamatan dan
kesehatan.
· Ada kesiapan dalam pengendalian lalu lintas.
· Ada kesiapan penanganan lingkungan.
· Periksa kesiapan lapangan (Pada
Daftar Persiapan IK
penghamparan Campuran Aspal
Panas).
· Periksa pengendalian lalu lintas.
· Cuaca memenuhi persyaratan.
· Ada data Percobaan Pemadatan yang valid.
Pemeriksaan 2 (Angkutan)
· Setiap truk kargo harus ditutup dengan terpal.
· Tik e t pe n giriman , u n tu k
me n e n tu k an be rat campu r an ,
s u h u dan jam be ra n gk at d ari AM P
· Pada saat memulai penghamparan,
jumlah minimum truk harus tiga (3) unit.
· Periksa dan pastikan suhu campuran aspal

17
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

panas di atas truk memenuhi persyaratan


· Periksa secara visual kondisi campuran aspal panas.

Pemeriksaan 3 (Penghamparan)
· Pelataran bongkaran tidak boleh menggerakkan dump truck.
· Pembongkaran dilakukan harus selangkah demi selangkah.
· Sebelum penghamparan, sepatu (screed) harus dipanaskan..
· Pastikan pengunci vibrator bekerja dengan benar. .
· Pemasangan balok kayu atau bahan lain yang disetujui pada penghamparan.
· Melakukan penghamparan dengan memberi prioritas pada sisi terendah.
· Perhatikan apakah teksturnya tidak rata, harus memuaskan secara visual.
· Periksa secara teratur suhu campuran yang dihamparkan (setidaknya 1x setiap
jarak 50 meter).
· Hoper jangan sampai kosong.
· Periksa ketebalan dan kerapatan hamparan (sesuai Percobaan Pemadatan)..
· Amati mekanisme kerja akhir.

Pemeriksaan 4 (Pemadatan Awal)


· Alat pemadat menggunakan penggilas roda baja.
· Pemeriksaan kerataan hamparan permukaan.
· Periksa dan catat suhu hamparan (125º C - 145º C).
· Kecepatan alat pemadatan maksimal 4 km / jam.
· Jumlah pemadat lintasan minimal dua (2) lintasan (melintas).
· Sistem pembasahan roda pemadat berfungsi..
· metode pemadatan yang sesuai. (Lihat Persyaratan Umum Metode Pemadatan).

Pemeriksaan 5 (Pemeriksaan Kerataan)


· Pemeriksaan kerataan dilakukan segera setelah pemadatan awal..

Pemeriksaan 6 (Perbaikan)
· Hasil pemeriksaan kerataan, apakah sudah sesuai?
· Jika “Tidak”, pastikan untuk melakukan perbaikan.

18
]]] PROYEK PERBAIKAN JALAN NATIONAL INDONESIA BAGIAN BARAT (WINRIP)
Konsultan Supervisi dan Desain (DSC) Pinjaman IBRD No: 8043-ID
INSTRUKSI KERJA PENGAWASAN
LEVEL 3 PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS (6.3.6)
No. Dokumen : SMM – IK : 6.3.6 Tanggal Mulai : 12 Juni 2013
Berlaku
No. Revisi : 00 Tanggal : 12 Juni 2017
Peninjauan

Pemeriksaan 7 (Pemadatan Antara)


· Alat pemadatan roda karet pembersih
· Temperatur hamparan masih dalam kisaran persyaratan. (100º C - 125º C)
· Kecepatan alat pemadatan maksimal 10 km / jam
· Jumlah lintasan pemadatan paling sedikit setara dengan jumlah Percobaan
Pemadatan
· Sistem pembasahan roda pemadat berfungsi.
· metode pemadatan yang sesuai.

Pemeriksaan 8 (Pemadatan Akhir)


· Alat pemadat Roda Baja.
· Temperatur hamparan masih dalam kisaran persyaratan (90º C - 125º C)..
· Kecepatan alat pemadatan maksimal 4 km / jam
· jumlah lintasan sesuai dengan percobaan pemadatan.
· Sistem pembasahan roda pemadat berfungsi.

Pemeriksaan 9 (Pemeriksaan Kerataan)


· Setelah penggilasan akhir, kerataan lapisan ini harus diperiksa.
· Pemeriksaan kerataan permukaan menggunakan penggaris lurus 3 m dilakukan tegak lurus dan
sejajar sumbu jalan
· Setelah pekerjaan selesai, periksa kerataan dengan alat pengukur NAASRA.
· Pembacaan kerataan dilakukan setiap interval 100.

Pemeriksaan 10 (Perbaikan)
· jika terjadi ketidaksesuaian maka dianjurkan untuk diperbaiki

19
DAFTAR SIMAK INSPEKSI
TANGGAL : …………………………………. Cuaca :……………………

No. Paket
Nama Paket
Kontraktor
Konsultan Renardet SA

No. Barang 2.1


Deskripsi Penggalian untuk Parit Drainase dan Saluran Air
Pos Dari : Untuk :

STATUS
Penanggung
SN Pekerjaan jawab
Diterima Ditolak
(√) (x)
1 Elevasi 1.Surveyor
2. Kepala Pengawas
2 Penjajaran 3.Pengawas

3 Ketersediaan Peralatan
1.Pengawas
 Ekskavator 2.Kepala
 Dump Truk Pengawas
3.SSE
 Pompa Air (Jika ada air)
4 Keamanan
 Kerucut lalu-lintas 1.Kepala
Pengawas
 Barikade 2.Pengawas
 Rambu Peringatan/Pemberitahuan/Peraturan 3.SSE
 Flagman / Pemberi tanda

Pengawas Surveyor Kepala Pengawas

Insinyur Pengendali Mutu Insinyur Pengawas Area Kerja


PROYEK PERBAIKAN JALAN NASIONAL INDONESIA BARAT (WINRIP)
Konsultan Desain dan Supervisi (DSC) – Padang, Sumatera Barat – Indonesia
No. Pinjaman IBRD: 8043-ID
Kerjasama antara Renardet, S.A., PT. Cipta Strada, PT. Daya Creasi Mitrayasa, PT. Seecons dan PT. Yodya Karya (Persero)

Status Uji Pengendalian Mutu


Jumlah Akhir Juml Jumlah Uji yang sudah dilakukan
No. Jumlah
Deskripsi Unit Bulan Frekuensi Uji Minimal ah Bulang Sekara Ket.
Item Asli Sebelum Saat Ini Sisa Sebelum Sisa
Ini Uji ini ng

Kantor: Jl. Silungkang No. 10, Jati Baru, Padang, Sumatera Barat – Indonesia
Email: winrip.pdg@gmail.co
RENCANA INSPEKSI DAN PENGENDALIAN MUTU

Pengujian dan Inspeksi


No. Deskripsi Acuan No. Acuan Tahap/Frekuensi Kriteria Penerimaan Output/Catatan
Barang Operasi/Uji/Inspeksi Spesifikasi Prosedur Kontraktor Konsultan PPK

6.3.5a AC-WC Kasar-Halus


3 minggu sebelum Syarat-syarat JMP
produksi atau setiap Penilaian Kelas A dari
Marshall X
JMF Asphalt Institute
Method
pergantian bahan Penyediaan Spek. R S Evaluasi JMF
bangunan atau Agg. Max. Uk=19mm
properti fisik Konten aspal min=5-7%
Marshall Method T-165 sebelum produksi atau Sesuai JMF
Uji Coba Campuran setiap pergantian bahan X W S Laporan Hasil Uji
bangunan atau properti fisik
Semen Aspal/Uji Kualitas Specs. Tiap 40 ton AASHTO M 20 X H/W S Laporan Hasil Uji
Komposit Agregat
3
Grading AASHTO T-27 Tiap 75 m Specs. X H/W S Laporan Hasil Uji
3
Uji Plastisitas AASHTO T-90/T-89 Tiap 75 m Non-plastik X H/W S Laporan Hasil Uji
3
AASHTO T-84 Tiap1,500 m Material yang sama dari sumber Laporan Hasil Uji
Sp. Gr. & Penyerapan X W S
yang telah disetujui
3
Abrasi AASHTO T-96 Tiap 1,500 m Maks. 30% X H/W S Laporan Hasil Uji
3
Kekuatan oleh Sodium Sulfat AASHTO T-104 Tiap 1,500 m Tidak lebih dari 12% X H/W S Laporan Hasil Uji
3
Permukaan patah AASHTO M-62 Tiap 1,500 m Min. 50% X H/W S Laporan Hasil Uji

Pengisi Mineral Laporan Hasil Uji

Grading AASHTO T-37 Specs. Laporan Hasil Uji


3 X H/W S
Tiap 75 m
3
Uji Plastisitas AASHTO T-90 Tiap 75 m Tidak lebih dari 4 X H/W S Laporan Hasil Uji
RENCANA PENGENDALIAN MUTU

Barang Deskripsi Unit Jumlah Frekuensi Uji No. Uji Ket.


No. Minimum
3.4.1 Pembersihan Lahan (Clearing m2 100,000 EC-sesuai 1
dan Grubbing) kebutuhan
7.1.4 Beton Struktural K 350 m3 295.00
Setiap 2000
 Tes Kualitas/Semen kantong kantong dan
kelipatannya
3
AGREGAT HALUS m
 Analisis 1 tiap 75 m3 atau 4
Ayakan/Grading kelipatannya
 Gravitasi Spesifik 1
 Bobot Unit 1
 Kotoran Organik 1 1
1-setiap 1.500 m3
 Kekuatan oleh sodium atau kelipatannya
1
sulfat
 Tanah liat dan partikel 1
gembur
AGREGAT KASAR
 Grading 1-tiap 75 m3 4
 Gravitasi Spesifik 1
 Kekuatan oleh sodium 1
sulfat
1 – tiap 1,500 cum
 Tanah liat dan partikel 1
gembur
 Abrasi 1
 Air 1 – QT dari setiap
sumber
 Campuran beton dan daya 1 (terdiri dari 6 set)
3
tekan tiap 75 m dan
kelipatannya
K E M E N T R I A N P E K E R J A A N U M U M
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA
BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL II

P R O V I N S I S U M A T E R A B A R A T
KEGIATAN WESTERN INDONESIA NATIONAL ROADS IMPROVEMENT PROJECT (WINRIP)
SATKER PELAKSANAAN JALAN NASIONAL WILAYAH II PROVINSI SUMATERA BARAT
PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN (PPK 15)
PAKET PEKERJAAN PAKET 12 KAMBANG - INDERAPURA (WINRIP) IBRD LOAND NO. 8043-ID

: /REQ/LMA.CTA-PAKET 12 WINRIP/ /2016


:
PERMINTAAN MEMULAI PEKERJAAN (REQUEST FOR WORK)
Diajukan Tanggal Untuk Pelaksanaan Tanggal
Lokasi / STA

Jenis Pekerjaan 1.2 Mobilization


Jumlah / Volume LS
SKETSA :

TENAGA KERJA : PERALATAN : MATERIAL : Peralatan K3L :


1 Supervisor Jml = Org 1 Exca Jml = Buah 1 Vol = M³ 1 Jml = Buah
2 K3 & Dok. Jml = Org 2 Vib. Roller Jml = Buah 2 Vol = M³ 2 Jml = Buah
3 Driv. Exc+DT Jml = Org 3 M.Greader Jml = Buah 3 Vol = M³ 3 Jml = Buah
4 Pekerja Jml = Org 4 DT Jml = Buah 4 Vol = M³ 4 Jml = Buah
5 Jml = Org 5 M.Tangki Air Jml = Buah 5 Vol = M³ 5 Jml = Buah
CATATAN HASIL PENGECEKAN
1. Kontraktor

2. Konsultan Pengawas

Diperiksa Oleh : Diajukan Oleh :


Consulting Supervision Contractor
PT. Daya Creasi Mitrayasa PT. Lancarjaya Mandiri Abadi -
PT. Cahaya Tunggal Abadi, JO.
K E M E N T R I A N P E K E R J A A N U M U M
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA
BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL II

P R O V I N S I S U M A T E R A B A R A T
KEGIATAN WESTERN INDONESIA NATIONAL ROADS IMPROVEMENT PROJECT (WINRIP)
SATKER PELAKSANAAN JALAN NASIONAL WILAYAH II PROVINSI SUMATERA BARAT
PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN (PPK 15)
PAKET PEKERJAAN PAKET 12 KAMBANG - INDERAPURA (WINRIP) IBRD LOAND NO. 8043-ID

NO. DATA PENDUKUNG NOMOR DOKUMEN STATUS PEMERIKSAAN KETERANGAN

1 Formula Campuran Kerja atau No. Ada Tidak


Formula Campuran Rencana No. Ada Tidak
(JMF atau JMD)
2 Gambar kerja. No. Ada Tidak
3 Berkas Pekerjaan sebelumnya No. Ada Tidak
4 Status Peralatan
- Peralatan Lapangan Dsm Ya Tidak
- Peralatan Unit Produksi Dsm Ya Tidak
5 Status bahan mentah No. Ya Tidak
6 Status bahan olahan No. Ya Tidak
7 Status bahan jadi No. Ya Tidak
8 Status Tenaga Kerja Dsm Ya Tidak
9 Kesiapan Lapangan Dsm Ya Tidak
10 SOP atau Inst. Kerja No. Ada Tidak
11 Jadwal Pelaksanaan Reques Ya Tidak
12 Pengendalian lalu lintas (SOP) No. Ada Tidak
13 Perlengkapan pendukung Dsm. Ada Tidak

DIPERIKSA OLEH : CATATAN / REKOMENDASI PEMERIKSAAN


PT. DAYA CREASI MITRAYASA

Keterangan :
Dsm : Daftar Simak, kegiatan pengecekan dengan menggunakan format standar. Hasilnya merupakan lampiran
sebagai pendukung/rekomendasi Permintaan Pekerjaan (Request).
No. : No dokumen (Bukti Kerja), dicatat dari system penomoran bukti kerja yang diterapkan pada organisasi.