Anda di halaman 1dari 8

BAB III

DASAR TEORI

III.1. Geomorfologi
Bentuklahan memiliki kesan topografi dan ekspresi topografi tersendiri yang
mencerminkan cirinya. Kesan topografi adalah konfigurasi permukaan bersifat
pemerian atau deskriptif suatu bentuklahan.
Aspek-aspek Geomorfologi menurut Verstappen(1985) ada empat aspek
utama dalam analisa pemetaan geomorfologi, yaitu:
1. Morfologi, yaitu studi bentuklahan yang mempelajari relief secara umum dan
meliputi:
a. Morfografi, adalah susunan dari obyek alami yang ada dipermukaan bumi,
bersifat pemerian atau deskriptif suatu bentuklahan, antara lain lembah, bukit,
perbukitan, dataran, gunung, gawir, teras, dan lain-lain.
b. Morfometri, adalah aspek kuantitatif dari suatu aspek bentuklahan, antara lain
kelerengan, bentuk lereng, panjang lereng, ketinggian, beda tinggi, bentuk
lembah, dan pola pengaliran.
2. Morfogenesa, asal–usul pembentukan dan perkembangan bentuklahan serta
proses–proses geomorfologi yang terjadi, dalam hal ini adalah struktur geologi,
litologi penyusun, dan proses geomorfologi merupakan perhatian yang penuh.
Morfogenesa meliputi:
a. Morfostruktur pasif, bentuklahan yang diklasifikasikan berdasarkan tipe
batuan yang menyusun bentukan tersebut. Hal ini berkaitan dengan resistensi
batuan dan pelapukan (denudasi).
b. Morfostruktur aktif, berhubungan dengan tenaga endogen seperti
pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran, termasuk intrusi, misal: gunungapi,
punggungan antiklin, gawir sesar, dan lain–lain.
c. Morfodinamika, berhubungan dengan tenaga eksogen seperti proses air,
fluvial, es, gerakan masa, dan aktivitas gunungapi.

1
III.2.Pola Pengaliran
Pola pengaliran adalah rangkaian bentuk aliran-aliran sungai pada daerah
lemah tempat erosi mengambil bagian secara aktif serta daerah rendah tempat air
permukaan mengalir dan berkumpul. Adapun macam-macam pola pengaliran adalah
sebagai berikut:

Gambar III.1. Macam-macam pola pengaliran dasar.


1. Dendritik
a. Bentuk menyerupai cabang-cabang pohon,
b. Mencerminkan resistensi batuan atau homogenitas tanah yang seragam, dan
c. Lapisan horisontal atau miring landai, kontrol struktur kurang berkembang.
2. Paralel
a. Terbentuk dari aliran cabang-cabang sungai yang sejajar atau paralel pada
bentangalam yang memanjang dan
b. Mencerminkan kelerengan yang cukup besar dan hampir seragam.
3. Trellis
a. Terbentuk dari cabang-cabang sungai kecil yang berukuran sama, dengan
aliran tegak lurus sepanjang sungai induk subsekuen yang paralel dan
b. Terdapat pada daerah lipatan, patahan yang paralel, daerah blok punggungan
pantai hasil pengangkatan dasar laut, daerah vulkanik atau metasedimen
derajat rendah dengan pelapukan yang berbeda-beda.
4. Rectangular
a. Aliran cabang sungai tegak lurus terhadap sungai induk,
b. Aliran memotong daerah secara tidak menerus, dan

2
c. Mencerminkan kekar/sesar yang saling tegak lurus, tidak serumit pola trellis.
5. Radial
a. Bentuk aliran seolah memancar dari satu titik pusat berasosiasi dengan tubuh
gunungapi atau kubah berstadia muda dan
b. Dalam konsep Davis, pola radial ini adalah menyebar dari satu titik pusat
(sentrifugal), sedangkan kalsifikasi lain menyatakan pola radial mencakup dua
sistem pola pengaliran yaitu, sentrifugal dan sentripetal.
6. Annular
a. Cabang sungai mengalir tegak lurus sungai utama yang melingkar dan
b. Pada struktur kubah, cekungan, atau pada intrusi stock yang tererosi.
2. Multibasinal
a. Pada daerah endapan antar bukit, batuan dasar yang tererosi,
b. Ditandai adanya cekungan-cekungan yang kering atau terisi air yang saling
terpisah, aliran yang terputus dan arah aliran yang berbeda-beda, dan
c. Pada daerah aktif gerakan tanah, vulkanik, dan pelarutan batugamping.
8. Contorted
a. Terbentuk dari aliran cabang-cabang sungai yang relatif tegak lurus terhadap
sungai induk subsekuen yang melengkung, dan
b. Dibedakan dari recurved trellis dengan ciri daerahnya yang tidak teratur,
dikontrol struktur sesar, lipatan menunjam, atau pada daerah labil.

III.3.Stratigrafi
Menurut Sandi Stratigrafi Indonesia (1996) bahwa stratigrafi dalam arti sempit
dapat dinyatakan sebagai ilmu pemerian lapisan-lapisan batuan. Dalam arti luasnya
ilmu ini membahas aturan, hubungan dan kejadian macam-macam batuan di
alam.Dengan kata lain stratigrafi didefinisikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari
tentang aturan, hubungan, dan pembentukan (genesa) macam-macam batuan di alam
dengan ruang dan waktu yang berkaitan dengan sejarah, komposisi, dan umur relatif
serta distribusi perlapisan batuan.
Untuk membedakan suatu lapisan dengan lapisan lain, dilakukan
penggolongan stratigrafi. Penggolongan stratigrafi secara umum adalah

3
pengelompokan bersistem lapisan-lapisan batuan menurut berbagai cara, untuk
mempermudah pemerian, aturan dan hubungan antara lapisan batuan satu terhadap
yang lain.
Dalam Sandi Stratigrafi Indonesia (1996) menjelaskan bahwa pengelompokan
batuan berdasarkan 3 sistem yaitu;
1. Satuan Lithostratigrafi
Dalam pembagian ini penentuan satuan-satuan didasarkan pada gejala-
gejala batuan yang diamati di lapangan. Penentunan batas satuan tidak
ditentukan oleh waktu.
2. Satuan Biostratigrafi
Dalam pembagian ini penentuan lapisan-lapisan batuan di bumi secara
bersistem menjadi satuan-satuan berdasarkan kandungan dan persebaran fosil.
Dengan kata lain penentuan lapisan batuan dipersatukan berdasarkan
kandungan fosil atau ciri-ciri paleontologi sebagai pembeda daripada tubuh
batuan sekitarnya.
3. Satuan Kronostratigrafi
Penggolongan lapisan batuan secara bersistem menjadi satuan
bernama berdasarkan waktu terjadinya. Pembagian ini merupakan kerangka
untuk menyusun urutan peristiwa geologi. Satuan Kronostratigrafi adalah
suatu tubuh lapisan yang terbentuk dalam selang waktu tertentu.

III.4.Struktur Sedimen
Struktur sedimen merupakan struktur yang disebabkan oleh proses
pengendapan dan keadaan energi pembentukannya

III.4.1. Struktur Erosional


1. Flute Cast
Flute cast dapat terbentuk dengan panjang yang bervariasi mulai dari
beberapa sentimeter saja hingga puluhan sentimeter. Flutes terbentuk oleh
erosi pada permukaan muddy sedimen oleh pusaran atau eddies dengan
adanya arus turbulent dan sisa jejak yang ditinggalkan oleh proses erosi

4
tersebut terisi oleh material sedimen seiring dengan menurunnya
kecepatan aliran. Flute cast merupakan penciri dari batupasir dengan
pengendapannya sistem arus turbudit.
2. Groove Cast
Grove cast berbentuk tonjolan memanjang pada lapisan dibawah
permukaan, lebarnya berkisar dari beberapa milimeter sampai beberapa
puluh sentimeter dan juga dapat melebar secara lateral. Groove cast berada
pada lapisan dibawah permukaan dapat paralel satu sama lain dan
menunjukkan variasi khusus hingga beberapa puluh derajad bahkan lebih.

III.4.2. Struktur Pengendapan


1. Perlapisan dan Laminasi
Perlapisan dan laminasi dihasilkan dari perubahan gejala sedimentasi,
dapat pula diartikan sebagai perubahan ukuran butir sedimen, warna atau
komposisi mineralogi. Perbedaan dari keduanya ialah perlapisan berukuran
lebih dari 1cm sedangkan laminasi berukuran kurang dari 1cm.
2. Ripple, Dune dan Sand Wave
Merupakan bedform yang berkembang baik pada sedimen yang
berukuran pasir. Migrasi dari ripple, dune dan sandwave pada kondisi
perkembangan sedimentasi menghasilkan berbagai variasi tipe dan
perlapisan silang siur maupun cross stratifikasi. Partikel tersebut
digerakkan oleh air maupun angin yang dapat menggerakkan partikel
sedimen yang berukuran pasir.
3. Cross Stratification
Cross stratifikasi merupakan struktur sedimen internal pada bagian
besar jenis pasir. Banyak perlapisan silang siur terbentuk sebagai hasil dari
pengendapan selama proses pengenadapan selama proses migrasi dari
riplle, dune dan sandwave. Cross bedding skala besar merupakan penciri
khas dari aeolian sandstone. Cross bedding juga dapat terbentuk pada
konglomerat, yang berasal dari braided stream. Cross Stratifikasi ini

5
bermanfaat untuk melakukan interpretasi sedimentologi, termasuk
melakukan analisis arah arus purba (paleocurrent).

III.4.3. Struktur Biogenic


1. Trace Fosil
Merupakan istilah yang digunakan untuk melihat cara
pembentukannya dari fosil jejak tersebut. Keseluruhan struktur yang dibuat
hewan pada sedimen yang belum terkonsolidasi, sedimen klastis ataupun
karbonat.
2. Bioturbation
Bioturbasi merupakan kekacauan dari struktur sedimen yang
disebabkan oleh aktivitas organisme dan tumbuhan.

III.5. Geologi Struktur


Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang
bentuk (arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Adapun deformasi
batuan adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan sebagai akibat dari gaya
yang bekerja di dalam bumi. Beberapa kalangan berpendapat bahwa geologi struktur
lebih ditekankan pada studi mengenai unsur-unsur struktur geologi, seperti perlipatan
(fold), rekahan (fracture), patahan (fault), dan kekar (joint) yang merupakan bagian
dari satuan tektonik (tectonic unit), sedangkan tektonik dan geotektonik dianggap
sebagai suatu studi dengan skala yang lebih besar, yang mempelajari obyek-obyek
geologi seperti cekungan sedimentasi, rangkaian pegunungan, lantai samudera, dan
sebagainya.
Kekar merupakan rekahan pada batuan rapuh yang belum mengalami
pergeseran akibat adanya tegasan yang lemah. Sesar merupakan rekahan pada batuan
rapuh yang telah mengalami pergeseran akibat adanya tegasan yang kuat, ada 3 tipe
dasar sesar yaitu: sesar naik, sesar mendatar, dan sesar turun. Lipatan merupakan
lengkungan yang terbentuk akibat tegasan yang lebih kecil dari elastisitas batuan (W.
Kenneth Hamblin, 1975)

6
Deformasi pada batuan dapat berbentuk lipatan maupun patahan/sesar. Dalam
ilmu geologi struktur dikenal berbagai bentuk perlipatan batuan, seperti sinklin dan
antiklin. Jenis perlipatan dapat berupa lipatan simetri, asimetri, serta lipatan rebah
(recumbent/overtune), sedangkan jenis-jenis patahan adalah patahan normal (normal
fault), patahan mendatar (strike slip fault), dan patahan naik (trustfault).
Cara mengamati struktur :
1. Membaca peta topografi dan citra penginderaan jauh
- Kelurusan (lineament) gawir, lembah, sungai, jalur tetumbuhan, dan
rona,
- Ketidak-selarasan (kontras) bentang alam,
- Pembelokan sungai yang tajam,
- Pergeseran batas-batas satuan geomorfik, dan
- Perulangan atau hilangnya satuan geomorfik.
2. Mengamati langsung di lapangan
- Bidang atau jalur sesar (bidang gawir, jalur hancuran/breksiasi, gouge,
milonit),
- Air terjun, mataair-mataair,
- Penyimpangan arah struktur (hilang atau terulangnya lapisan), dan
- Perubahan yang mencolok kedudukan bidang lapisan atau foliasi.

7
8