Anda di halaman 1dari 4

KETIKA WARIS TIADA ARTI

Alkisah diceritakan dua orang bersaudara, Bagas dan Sigat yang dikenal oleh masyarakat
akan keelokan luhur hatinya. Mereka berasal dari keluarga yang bisa dikatakan sangat
berada. Mereka selalu berbuat kebaikan, tak pernah memandang resiko bagi dirinya, yang
penting pertolongan mereka akan menjadi sebuah kebaikan yang tiada taranya.

Suatu hari, Bagas bertemu denga seorang wanita yang mampu menarik hatinya akan pesona
rupanya nan cantik. Bagas pun berkeinginan untuk mempersuntik pujaan hatinya itu.

Adegan 1

Terpesona akan kecantikan sang wanita, Bagas memberanikan dirinya untuk berkenalan
dengan wanita itu. Namanya Sinta.

Bagas : Hai, boleh kenalan nggak? Bagas (menyodorkan tangan)

Kedai rempah di pinggir jalan


Dibeli untuk bumbu masakan
Adik manis tidakah marah
Kalau abang mau kenalan?
Sinta : (tersenyum malu menyambut uluran tangan Bagas) Sinta.

Kedai rempah di pinggir jalan


Menjula banyak bumbu yang lain
Mengapa marah hanya kenalan
Asal tidak menuju yang lain
Bagas : Nama yang cantik. Sesuai dengan paras wajahnya. Sinta tinggal di mana?

Sinta : Abang terlalu banyak memuji. Saya tinggal di dekat sini kok.

Bagas meminta persetujuan orang tuanya untuk meminang Sinta. Mengetahui gadis yang
dimaksud Bagas ialah Sinta, orang tua Bagas pun setuju.

Bagas : Bapak ... Ibu ... saya berkeinginan untuk mempersunting gadis pujaan yang saya
kenal. Namanya Sinta. Ia tinggal tidak jauh dari rumah kita.

Gula aren seperti batu

Di tarok di atas talam

Jatuh hatiku pada gadis itu

Asli cantik luar dan dalam

Bapak : Bapak setuju saja. Kalau memang itu pilihan kamu. Bapak juga sudah kenal lama
dengan keluar Sinta. Sinta itu berasal dari keluarga terpadang.
Bagas : terima kasih, Pak, atas restunya. Saya pun berharap ini pilihan yang terbaik.

Suatu hari kedua orang tua Bagas mengalami kecelakaan. Mereka pun meinggal alam
peristiwa itu. Bagas dan Sigat merasa sedih akan kehilangan orang tua yang mereka kasihi.

Adegan 2

Pada suatu hari orang tua Bagas pergi keluar kota untuk mengahdiri hajatan seorang kenalan
mereka. Malam itu hujan turun dengan deras, menyebabkan jalan mejadi licin ditambah lagi
kondisi jalan yang tidak rata menjadi salah satu penyebab kecelakan itu.

Pantun duka cita

Sinta pun datang ke rumah duka. Bermaksud menghibur dan mengguatkan hati Bagas.

Sinta : bang, saya turut berduka, ya. Semoga orang tua abang mendapatkan tempat yang
terbaik di sisi- Nya. Abang harus kuat. Yang sabar, ya, Bang. Kita hanya bisa
mengirimkan doa untuk mereka.

Bagas : Ya. Makasi, Ta. Terima kasih kamu sudah mau datang dan menghibur saya. Saya
benar-benar terpukul dengan peristiwa ini...

Sinta : pantun menghibur bagas

Adegan 3

Sinta membawakan makanan dan kopi hangat untuk Bagas.

Sinta : pantun pengantar untuk menyampaiakan maksud

Kopi hitam beli di niagara

Gula nya di warung si badu

Kopi hangat senja ceria

Ku persembahkan hanya untuk mu

Bagas :
aroma kopi menggetarkan nadi

Boleh kah langsung abang santap ?

Sinta : bagaimana dengan pembagian warisan dari orang tuamu, bang. Sudah abang urus?
Abang harus segera membaginya dari Sigat. Warisan tanah yang abang dapat nanti
kan bisa kita jual. Terus uangnya bisa kita bei perhiasan.

Bagas : Sinta, saya tidak suka kamu berbicara seperti itu. Apa pikiran kamu Cuma hanya
harta! Orang tua saya baru saja meninggal. Sedangkan kamu sibuk mendesak
penggurusan warisan. Saya tidak habis pikir dengan jalan pikiran kamu ini!

Adegan 4

Sinta : pantun meminta tolong pada Sigat

Pergi ke pasar membeli celana

Singgah sebentar di toko sepatu

Kakak ipar yang baik hatinya

Bolehkan adinda meminta sesuatu

Sigat : membalas pantun

Pergi ke pasar membeli celana

Jangan lupa beli baju

Ada apa wahai adinda

Saya berusaha memenuhi permintaan mu

Sinta : Gat, soal tanah warisan orang tua kamu, bagaimana kalau kita bekerjasama
memanfaatkan tanah itu.

Sigat : maksudnya?

Sinta : begini, saya mempunyai rencana untuk membuat perkebunan strobery. Setengah
dari keuntungan yang diperolehh dari hasil produksi akan saya berikan kepada kamu.
Bagaimana? Menarik bukan?
Sigat : umm, oke juga tuh idenya. Deal! Saya setuju.