Anda di halaman 1dari 14

JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 1

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PREDICTION, OBSERVATION AND


EXPLANATION (POE ) PADA PEMBELAJARAN FISIKA SISWA KELAS VII
SMP NEGERI 13 LUBUKLINGGAU TAHUN PELAJARAN 2015/2016

JURNAL

OLEH

WENI EFRICA
NIM 4111011

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN


PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU
2015
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 2

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PREDICTION, OBSERVATION AND


EXPLANATION (POE) PADA PEMBELAJARAN FISIKA SISWA KELAS VII
SMP NEGERI 13 LUBUKLINGGAU TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh
Weni Efrica 1, Ahmad Amin2, Yaspin Yolanda3

Program Study Pendidikan Fisika


(STKIP-PGRI) Lubuklinggau

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Prediction, Observation And


Explanation (POE) Pada Pembelajaran Fisika Siswa Kelas VII SMP Negeri 13
Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2015/2016”. Rumusan masalah penelitian ini adalah
Apakah hasil belajar kognitif fisika siswa kelas VII SMP Negeri 13 Lubuklinggau Tahun
Pelajaran 2015/2016 setelah menerapkan model pembelajaran Prediction, Observation
and Explanation (POE) secara signifikan tuntas?. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui ketuntasan hasil belajar kognitif fisika siswa kelas VII SMP Negeri 13
Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2015/2016 setelah menerapkan model pembelajaran
Prediction, Observation and Explanation (POE). Jenis penelitian adalah eksperimen semu
yang dilaksanakan tanpa adanya kelompok pembanding. Populasi pada penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 13 yang berjumlah 88 siswa dan sampel
penelitian ini adalah siswa kelas VII.2 berjumlah 29 siswa yang diambil secara acak.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik tes. Data yang terkumpul
dianalisis menggunakan uji-t. Berdasarkan hasil analisis uji-t dengan taraf kepercayaan α
= 0,05, diperoleh thitung (4,10) > ttebal (1,701), Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian
hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima kebenarannya sehingga dapat
disimpulkan setelah menerapkan model pembelajaran Prediction, Observation And
Explanation (POE) pada Pembelajaran fisika siswa kelas VII SMP Negeri 13
Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2015/2016 secara signifikan tuntas.

Kata kunci : Prediction, Observation And Explanation (POE); Hasil Belajar.


JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 3

I. PENDAHULUAN
Fisika merupakan cabang ilmu yang lebih banyak memerlukan pemahaman
dari pada penghafalan. Untuk itu, pembelajaran fisika tidak semata-mata mengajarkan
konsep-konsep, tetapi yang lebih penting adalah keterkaitan konsep-konsep tadi
dengan kenyataan keseharian kehidupan siswa. Karena sampai saat ini setiap belajar
fisika, dalam benak siswa pasti akan dipelajari adalah rumus-rumus rumit serta
hitungan yang sulit memusingkan kepala. Hal ini menjadi menakutkan yang selalu
menghantui setiap siswa pada pelajaran fisika. Akhirnya itu berdampak besar bagi
hasil belajar siswa.
Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, guru diharapkan memiliki model
pembelajaran yang tepat untuk menyampaikan pokok bahasan yang akan disampaikan
dapat membuat siswa menyenangi fisika melalui proses belajar yang efektif, efisien,
dan bermakna sehingga tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Berdasarkan hasil observasi dan informasi dari guru mata pelajaran fisika
kelas VII SMP Negeri 13 Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2014/2015 diperoleh
informasi bahwa hasil belajar fisika masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari
ulangan harian siswa pada materi pembelajaran fisika Suhu lebih kurang 77,6 % atau
90 siswa masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Kompetensi Dasar yang
diterapkan sekolah yaitu 70 dan 19,7% atau 26 siswa yang mencapai Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) Kompetensi Dasar (KD) dari empat kelas dengan jumlah
seluruh siswa adalah 116 siswa.
Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran fisika yang diterapakan
selama ini kurang bervariasi, pembelajaran konvensioanal yang diterapkan selama ini
membuat siswa kurang aktif di kelas. Kurang aktifnya siswa disebabkan karena siswa
hanya menerima saja apa yang disampaikan oleh guru tanpa bertanya ketika mereka
tidak mengerti atau mengalami kesulitan dalam belajar. Sehingga membuat siswa
kurang menyukai mata pelajaran fisika dan menganggap mata pelajaran fisika
merupakan mata pelajaran yang sulit. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran fisika
juga belum sesuai dengan apa yang di harapkan. Untuk dapat meningkatkan hasil
belajar fisika siswa diperlukan suatu model pembelajaran yang tidak hanya dapat
meningkatkan kemampuan kognitif, sehingga mata pelajaran fisika tidak
membosankan bagi siswa. Salah satu model pembelajaran yang menggabungkan
kemampuan siswa adalah model pembelajaran Prediction, Observation and
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 4

Explanation (POE). Membuat prediksi atau dugaan (Prediction),observasi


(Observation),dan menjelaskan (Explanation).
Paul (2007:102) menyatakan bahwa dalam model pembelajaran POE
menggunakan tiga langkah utama yang harus dilakukan adalah kemampuan
memprediksi yaitu membuat dugaan terhadap suatu peristiwa fisika. Setelah itu, guru
menuliskan apa yang diprediksi siswa. Untuk menjawab pertanyaan tersebut guru
mengajak siswa melakukan kegiatan observasi yaitu melakukan pengamatan melalui
percobaan. Guru membimbing siswa melakukan kegiatan percobaan dengan
menggunakan data yang dihasilkan untuk disimpulkan. Kesimpulan yang diperoleh
kemudian dicocokkan dengan prediksi siswa. Apabila tepat, maka siswa semakin
yakin dengan konsep fisika yang mereka kuasai. Namun apabila prediksi tidak tepat,
maka guru akan membantu siswa menemukan penjelasan. Dengan demikian siswa
dapat memperbaiki kesalahan konsep fisika dalam diri mereka masing-masing.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini mengangkat judul sebagai berikut
“Penerapan Model Pembelajaran Prediction, Observation and Explanation (POE)
pada Pembelajaran Fisika Siswa Kelas VII SMP Negeri 13 Lubuklinggau Tahun
Pelajaran 2015/2016”.

II. LANDASAN TEORI


Winkel (dalam Jamil 2013:15) menyatakan bahwa belajar adalah suatu
aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan pemahaman,
keterampilan dan nilai sikap. Sudjana (dalam Rusman, 2010:1) menyatakan bahwa
belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di
sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan
dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman.
Gagne & Briggs (dalam Jamil 2013:37), menyatakan bahwa hasil belajar
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar
dan dapat diamati melalui penampilan. Rusman (2013:123), menyatakan bahwa hasil
belajar adalah sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang mencakup ranah
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar tidak hanya penguasaan konsep teori atau
pelajaran saja, tapi juga penguasaan kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat-bakat,
penyesuaian soal, macam-macam keterampilan, cita-cita, keinginan dan harapan.
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 5

Menurut Suparno (2007:102), POE adalah singkatan dari Prediction,


Observation, and Explaination. Pembelajaran dengan model POE menggunakan tiga
langkah utama dari metode ilmah, yaitu (1) prediction atau membuat prediksi, (2)
observation yaitu melakukan pengamatan mengenai apa yang terjadi, (3) explaination
yaitu memberikan penjelasan. Penjelasan tentang kesesuaian dugaan (prediksi) dengan
fakta (hasil observasi).
1) Prediksi (Prediction)
Membuat prediksi/dugaan merupakan langkah pertama dalam pembelajaran
POE. Guru memberikan sebuah persoalan fisika kepada siswa, kemudian siswa
merumuskan dugaan berdasarkan persoalan tersebut. Siswa diberi kebebasan
seluas-luasnya dalam memberikan prediksi. Mereka juga harus mempersiapkan
alasan atas prediksi yang mereka berikan berdasarkan konsep sains yang telah
dikuasai sebelumnya. Dalam langkah ini guru dapat mengetahui seberapa besar
pemahaman siswa tentang konsep sains yang sedang diajarkan.
2) Observasi (Observation)
Langkah kedua dalam pembelajaran POE adalah melakukan observasi,
siswa diajak melakukan percobaan, mengamati, atau melakukan pengukuran.
Tujuan utama dilakukannya observasi adalah mencari tahu jawaban dari prediksi
yang diberikan siswa. Dalam langkah ini guru dapat mengetahui kemampuan
siswa dalam mempersiapkan alat dan bahan, dan menggunakan sesuai dengan
langkah-langkah percobaan yang seharusnya.
3) Penjelasan (Explaination)
Langkah terakhir membuat penjelasan, siswa diberi kesempatan untuk
menjelaskan hasil observasi dan kesesuaiannya dengan prediksi awal. Apabila
prediksi benar, maka siswa akan yakin dengan konsepnya. Namun, apabila
prediksi siswa tidak benar maka guru akan membantu siswa dalam mencari
penjelasan. Dengan demikian siswa akan menemukan konsep sebenarnya dari
persoalan fisika yang sedang dipelajari.
Langkah-langkah model pembelajaran POE adalah sebagai berikut:
Sintak Model POE
No Fase Kegiatan Guru
1 Prediction 1. Guru mengajukan persoalan fisika
2. Guru membagi lembar prediksi kepada siswa
3. Siswa memprediksi tentang persoalan yang telah
diberikan oleh guru.
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 6

2 Observation 1. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk


melakukan observasi, dimana setiap kelompok
melakukan percobaan.
2. Siswa mendiskusikan dan menarik kesimpulan
dari observasi dan mencocokkan dengan
prediksinya, apakah sudah tepat atau belum
tepat.
3 Explanation 1. Jika prediksi awal sudah tepat dengan percobaan
maka guru mempersilakan kepada perwakilan
masing-masing kelompok untuk
mempresentasikan atau menjelaskan mengenai
prediksi awal dengan hasil percobaan yang telah
dilakukan.
Sumber: Suparno (2007:104)

III. METODOLOGI PENELITIAN


Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII SMP Negeri 13 Lubuklinggau Tahun
Pelajaran 2015/2016. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus tahun 2015. Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 13 Lubuklinggau
yang terdiri dari 3 kelas dengan jumlah siswa 88 siswa. Pengambilan sampel dalam
penelitian ini secara acak (simple random sampling) dengan cara pengundian. Sampel
yang diambil yakni kelas VII.2. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu yang
dilaksanakan tanpa adanya kelompok atau kelas pembanding.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berjumlah delapan
soal uraian yang sebelumnya telah di uji cobakan terlebih dahulu dan divalidasi.
Langkah-Langkah Penelitian
Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Melakukan Uji Coba Soal Instrumen
a. Melakukan uji validasi soal
b. Melakukan uji reliabilitas soal
c. Melaksanakan uji daya pembeda soal
d. Melakukan uji tingkat kesukaran soal
2. Melakukan Pre-Test
3. Melakukan Perlakuan dengan Model Prediction,Observation And Explanation
4. Melakukan Post-Test
5. Melakukan Analisis Data Pre-Test dan Post-Test
Hipotesis yang diuji berbentuk:
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 7

Ha : Rata-rata hasil belajar kognitif fisika secara klasikal kelas VII SMP Negeri 13
Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2015/2016 setelah menerapkan model
pembelajaran Prediction, Observation And Explanation (POE) secara
signifikan tuntas. (µ0 ≥ 70)
Ho : Rata-rata hasil belajar kognitif fisika secara klasikal kelas VII SMP Negeri 13
Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2015/2016 setelah menerapkan model
pembelajaran Prediction, Observation And Explanation (POE) secara
signifikan tidak tuntas. (µ0 < 70)
Menghitung harga koefisien korelasi antara skor masing-masing butir soal dengan
skor total mengunakan rumus korelasi product moment.

rxy =

Dimana, rxy = Koefisien korelasi variabel x dan y, n = Banyaknya sampel, x


= Skor butir masing-masing responden, y = Skor total dari keseluruhan responden.
Suherman dan Sukjaya (1990:177) menyatakan kriteria validitas dijelaskan seperti
pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2.
Interpretasi untuk Validitas
Koefisien Korelasi Kriteria Validitas
rxy ≤ 0,00 Tidak Valid
0,00 < rxy ≤ 0,20 Validitas Sangat Rendah
0,20 < rxy ≤ 0,40 Validitas Rendah (Kurang)
0,40 < rxy ≤ 0,60 Validitas Sedang (Cukup)
0,60 < rxy ≤ 0,80 Validitas Tinggi
0,80 < rxy ≤ 1,00 Validitas Sangat Tinggi

Distribusi (Tabel t) untuk α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk = n-1).


Kaidah keputusannya adalah jika t hitung > ttabel berarti valid sebaliknya thitung  ttabel
berarti tidak valid.
Selanjutnya nilai koefisien korelasi dimasukkan kerumus thitung yang
hasilnya akan dibandingkan dengan nilai yang ada pada ttabel. Sugiyono (2013:184),
menjelaskan rumus thitung sebagai berikut:

thitung =

Dimana, t = nilai thitung, r = nilai koefisien korelasi, n = jumlah sampel. Jika nilai
thitung ttabel berarti soal tersebut valid dan sebaliknya thitung < ttabel berarti soal tidak
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 8

valid. Distribusi (tabel t) yang digunakan adalah untuk α = 0,05 dan derajat
kebebasan ( dk = n - 1).

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


HASIL PENELITIAN
Penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Prediction, Observation
And Explanation (POE) ini dilaksanakan di kelas VII SMP Negeri 13 Lubuklinggau
Tahun Pelajaran 2015/2016 pada tanggal 29 Juli sampai 29 Agustus 2015. Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII yang berjumlah 88 siswa, dari tiga
kelas diambil satu kelas untuk dijadikan sebagai sampel penelitian ini yaitu kelas
VII.2 dengan jumlah 29 siswa untuk diterapkan model pembelajaran Prediction,
Observation And Explanation (POE). Pada saat pelaksanaan pembelajaran peneliti
bertindak sebagai pengajar (guru). Sebelum pelakasaan dimulai, terlebih dahulu
dilakukan uji coba instrument tes yang berguna untuk mengetahui kualitas soal yang
digunakan. Uji coba instrument tes untuk mengetahui validitas soal, realibilitas soal,
Thitung, daya pembeda soal , dan tingkat kesukaran soal.
Uji coba instrumen dilaksanakan di kelas VIII.1 di SMP Negeri 13
Lubuklinggau pada tangal 28 Juli 2015 dengan jumlah siswa yang mengikuti tes yaitu
sebanyak 28 siswa pada materi pengukuran. Berdasarkan hasil analisis uji coba
instrumen, sebanyak sepuluh soal yang diujikan sudah memenuhi syarat yaitu validasi
tinggi, daya pembeda sedang, dan tingkat kesukaran sedang sehingga soal dapat
digunakan sebagai alat tes, baik tes kemampuan awal (pre-test) maupun tes
kemampuan akhir (post-test).
Sebelum pemberian perlakuan diadakan pre-test terlebih dahulu, pelaksanaan
pre-test ini bertujuan untuk mengetahui apakah sudah ada di antara siswa yang sudah
mengetahui tentang materi yang akan diajarkan atau sebagai kegiatan menguji
tingkatan siswa terhadap materi yang akan disampaikan, kegiatan pre-test dilakukan
sebelum kegiatan pengajaran dimulai. Manfaat dari diadakanya pre-test adalah untuk
mengetahui kemampuan awal siswa mengenai pelajaran yang akan disampaikan.
Pelakasanaan pre-test dilakukan pada pertemuan pertama yaitu pada tangal 5 Agustus
2015 yang diikuti oleh 29 siswa dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal
siswa pada materi pengukuran sebelum diberikan perlakuan pada penelitian
Setelah diadakan pre-test, siswa akan diberikan perlakuan dalam pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran Prediction, Observation And Explanation
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 9

(POE) pada tanggal 12 Agustus 2015 dan 14 Agustus 2015 siswa melakukan
percobaan tentang pengukuran yang dilakukan selama dua jam pelajaran. Kemudian
dilanjutkan dengan pemberian tes akhir (post-test) pada tanggal 19 Agustus 2015.
Post-tes merupakan bentuk pertanyaan yang diberikan setelah pelajaran atau materi
disampaikan. Peneliti memberikan post-test dengan maksud apakah siswa sudah
mengerti dan memahami mengenai materi yang telah diberikan. Manfaat dari
diadakannya post-test ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan
akhir siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dengan model pembelajaran
Prediction, Observation And Explanation (POE). Hasil post-test ini dibandingkan
dengan hasil pre-test yang telah dilakukan sehingga akan diketahui seberapa efek
penerapan dari pengajaran yang telah dilakukan, sehingga dapat diketahui bagian-
bagian mana dari bahan pengajaran yang masih belum dipahami oleh sebagian besar
siswa.
1. Deskripsi dan Analisis Data Kemampuan Awal Siswa (Pre-Test)
Adapun data hasil pre-test siswa mengenai materi pengukuran secara rinci
dapat dilihat pada lampiran C, dan hasil rekapitulasi perhitungannya sebagai
berikut :
a. Nilai rata-rata dan Simpangan Baku Pre-Test
Adapun data hasil pre-test siswa mengenai materi pengukuran secara rinci
dapat dilihat pada lampiran C, dan hasil rekapitulasi perhitungannya sebagai
berikut :
Tabel 5.2
Rekapitulasi Hasil Pre-test
Nilai Rata-Rata 26,63
Simpangan Baku 8,79
Nilai Tertinggi 49
Nilai Terendah 14
Selisih Nilai 35

Berdasarkan tabel 5.2 di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata 26,63
simpangan baku 8,79 nilai tertinggi 49 nilai terendah 14 dan selisih nilai
sebesar 35, artinya rata-rata hasil belajar siswa sebelum menerapkan model
pembelajaran Prediction, Observation And Explanation (POE) secara
signifikan belum tuntas.
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 10

2. Deskripsi dan Analisis Data Kemampuan Akhir Siswa (Post-Test)


Kemampuan akhir siswa dalam penguasaan materi pengukuran adalah hasil
belajar siswa seteleh mengikuti proses pembelajaran. Kemampuan akhir melalui
post-test yang diikuti oleh 29 siswa. Pelaksanaan post-test bertujuan untuk
mengetahui kemampuan akhir siswa setelah diberikan perlakuan dengan
menggunakan model pembelajaran Prediction, Observation And Explanation
(POE).
a. Rata-rata dan Simpangan baku Post-Test
Adapun data hasil Post-Test siswa mengenai materi pengukuran secara
rinci dapat dilihat pada lampiran C, dan hasil rekapitulasi perhitungannya
sebagai berikut :
Tabel 5.3
Rekapitulasi Hasil Tes Akhir (Post-Test)
Nilai Rata-Rata 78,29
Simpangan Baku 10,88
Nilai Tertinggi 92
Nilai Terendah 45
Selisih Nilai 47

Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata 78,29
simpangan baku 10,88 nilai tertinggi 92 nilai terendah 45 dan selisih nilai
sebesar 47, artinya rata-rata hasil belajar siswa setelah menerapkan model
pembelajaran Prediction, Observation And Explanation (POE) secara signifikan
tuntas.
b. Uji Normalitas Post-Test
Hasil perhitungan uji normalitas skor post-test dapat dilihat pada tabel
5.4. Penjelasan lebih lanjut pada lampiran C.
Tabel 5.4.
Hasil Uji Normalitas Post-Test
Tes hitung Dk tabel Kesimpulan
Akhir 9,33 5 11,1 Normal

Dari tabel 5.4 menunjukkan bahwa nilai hitung data tes akhir (post-
test) lebih kecil tabel (9,33 < 11,1). Berdasarkan ketentuan pengujian
normalitas dengan menggunakan uji coba kecocokan (Chi-kuadrat) dapat
disimpulkan bahwa data Post-Test berdistribusi normal pada taraf
kepercayaan = 5% dan derajat kebebasan (dk) = 5.
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 11

c. Uji Hipotesis Post-Test


Untuk menarik kesimpulan dari post-test, maka dilakukan pengujian
hipotesis secara statistik. Berdasarkan hasil uji normalitas yaitu post-test
berdistribusi normal. Hipotesis statistik yang diuji dalam perhitungan uji-t
untuk post-test adalah (lihat pada lampiran C).
Ha : Rata-rata hasil belajar kognitif fisika secara klasikal kelas VII SMP
Negeri 13 Tahun Pelajaran 2015/2016 setelah menerapkan model
pembelajaran POE (prediction, observation and explanation) secara
signifikan tuntas. (µo ≥ 70)
Ho : Rata-rata hasil belajar fisika secara klasikal kelas VII SMP Negeri 13
Tahun Pelajaran 2015/2016 setelah menerapkan model pembelajaran
POE (prediction, observation and explanation) secara signifikan tidak
tuntas. (µo < 70 )
Selanjutnya thitung dibandingan dengan ttabel pada daftar distribusi t
dengan derajat kebebasan dk = n-1 =29-1 =28. Hasil uji untuk pos-test
menunjukkan bahwa hasil analisis uji-t mengenai kemampuan akhir siswa
menunjukkan bahwa thitung > ttabel Ho ditolak dan Ha diterima dengan =5%
dan tingkat kepercayaan 95% karena thitung > ttabel yaitu thitung = 4,10 dan ttabel
= 1,701 maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima
kebenarannya (Lampiran C).
Rekapitulasi hasil uji hipotesis dapat dilihat pada Tabel 6.1.
Tabel 6.1.
Rekapitulasi hasil Uji hipotesis
No Uraian Data Hasil Kesimpulan
1. Derajat Kebebasan (dk) 28 Ha : diterima
2. Taraf Kepercayaan ( ) 5% Ho :ditolak
3. t Hitung 4,10 thitung > ttabel
4. t Tabel 1,701

Berdasarkan hasil analisis yang telah dijelaskan, maka dapat


dikatakan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima
kebenarannya, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar
kognitif fisika secara klasikal kelas VII SMP Negeri 13 Lubuklinggau Tahun
Pelajaran 2015/2016 setelah menerapkan model pembelajaran Prediction,
Observation and Explanation (POE) secara signifikan tuntas.
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 12

PEMBAHASAN
Adanya ketuntasan hasil belajar kognitif fisika secara klasikal dapat dilihat
dari perbandingan rata-rata nilai kognitif siswa pada saat pre-test dan post-test.
Analisis hasil pos-test (Lampiran C), dapat dilihat ketuntasan hasil belajar antara
kemampuan awal siswa dengan kemampuan akhir siswa. Ketuntasan yang
dihipotesiskan µo = 70. Nilai rata-rata kognitif siswa pre-test adalah 25,89 < 70 jadi
tidak terdapat ketuntasan karena jumlah siswa yang tidak tuntas sebanyak 0% dan
jumlah yang tuntas sebanyak 0% sedangkan nilai rata-rata kognitif siswa post-test
adalah 76,96 > 70 karena jumlah siswa yang tidak tuntas sebanyak 24,13% dan jumlah
siswa yang tuntas sebanyak 75,8% sehingga hasil belajar fisika tuntas secara klasikal.
Jadi secara deskriptif dapat dikatakan bahwa hasil post-test siswa setelah mengikuti
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Prediction, Observation And
Explanation (POE) signifikan tuntas.

V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan di SMP
Negeri 13 Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2015/2016 tentang penerapan Model
Pembelajaran Prediction, Observation And Explanation (POE), dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar kognitif fisika siswa kelas VII SMP Negeri 13 Lubuklinggau
Tahun Pelajaran 2015/2016 setelah menerapkan model pembelajaran Prediction,
Observation And Explanation (POE) signifikan tuntas. Rata-rata hasil belajar kognitif
siswa sebesar 76,96% dan persentase jumlah siswa yang tuntas mencapai 75,8%.

VI. SARAN
Sehubungan dengan hasil penelitian yang dicapai pada penelitian ini, beberapa
hal yang penulis sarankan kepada pihak-pihak terkait sebagai berikut:

1. Untuk penelitian selanjutnya untuk dapat melaksanakan penelitian pada materi


lainnya tentang perbandingan model POE dengan model pembelajaran lainnya
dengan ranah kognitif C3, C4 dan C5 dan aktivitas belajar siswa.
2. Dalam pelaksanaan pembelajaran hendaknya kegiatan belajar mengajar siswa
dilakukan secara berkala di laboratorium. Sehingga melatih kemampuan berpikir
siswa dalam percobaan ilmiah.
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 13

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharismi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Rineka Cipta.

Aris, dkk. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran POE (Prediction, Observation And
Explanation) terhadap Pemahaman Konsep dan Sikap Ilmiah ditinjau dari gaya
belajar siswa di SMA Negeri 3 Singaraja Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal
Inkuiri Pendidikan Sains. (2), 3.

Atriyanti, dkk. 2014. Penerapan Model Pembelajaran POE (Prediction, Observation And
Explanation) untuk meningkatkan Ketercapaian Kompetensi Dasar Siswa di SMA
Negeri 1 Tengaran. Jurnal Chemistry in Education, (4), 1.
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Renika Cipta.
Giancoli. 2001. Fisika Edisi ke 5 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Ismiati. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Prediction, Observation and Explanation
(POE) terhadap hasil belajar pada materi pengukuran siswa kelas X SMA Negeri
8 Lubuklinggau. Skripsi tidak diterbitkan. Lubuklinggau: Jurusan Matematika dan
Pengetahuan Alam STKIP PGRI Lubuklinggau.
Kanginan, Marthen. 2002. Fisika. Jakarta: Erlangga.
Kurniatin, S. 2006. IPA Terpadu Kelas VII SMP. Jakarta: Erlangga.
Nurdin, dkk. 2011. Belajar dengan Pendekatan PAIKEM. Jakarta: Bumi Askara.
Punjani, dkk. Pengaruh Model Pembelajaran POE (Prediction, Observation And
Explanation) terhadap Pemahaman Konsep Fisika dan Sikap Ilmiah ditinjau dari
gaya belajar siswa di SMA Negeri 3 Singaraja Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal
Pendidikan Sains, (3).
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
. 2013. Belajar dan pembelajaran Berbasis Komputer. Bandung: Alfabeta.
Slameto. 2010. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
. 2007. Statistika Untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2010. Statistika Untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.
. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyarto, dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Pusat Perbukuan.
Suherman dan Sukjaya, 1990. Petunjuk Praktis Untuk Melaksanakan Evaluasi Pendidikan
Matematika. Bandung: Wijayakusumah.
Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika. Yogyakarta: Sanata Dharma.
JURNAL PENDIDIKAN (2015) 1-14 14

Suprihatiningrum, Jamil. 2013. Srategi Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.


Tipler, Paul. 1998. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.
Wahyuni, dkk. 2014. Efektivitas Implementasi Pembelajaran Model PBL Diintegrasikan
dengan Prediction, Observation and Explanation (POE) terhadap Prestasi Belajar
Siswa ditinjau dari Kreativitas dan Kemampuan Inferensi Siswa kelas XI SMA
Negeri 1 Bojonegoro. Jurnal Pendidikan Biologi, (7), 7.