Anda di halaman 1dari 13

Volume 15, Nomor 2, Hal.

41-52 ISSN:0852-8349
Juli – Desember 2013

DAMPAK PEMBERIAN SUBSIDI PRODUKSI TERHADAP


KESEIMBANGAN PASAR PADA PASAR PERSAINGAN SEMPURNA
DAN PASAR MONOPOLI

Amril
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi,
Kampus Pinang Masak, Mendalo Darat – Jambi 36361

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) dampak subsidi terhadap
keseimbangan pasar pada pasar persaingan sempurna dan pasar monopoli (2)
dampak subsidi terhadap efisiensi pasar, surplus pembeli-penjual pada pasar
persaingan sempurna dan pasar monopoli. Penelitian menggunakan metode
percobaan ekonomi.Pasar disimulasi dalam bentuk a) pasar persaingan sempurna
dengan barang non subsidi dan barang subsidi desentralisasi; b) pasar monopoli
dengan barang non subsidi dan barang subsidi desentralisasi. Data yang diperoleh
dianalisis pada masing-masing simulasi struktur pasar dan pada masing-masing jenis
barang. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa: (1) Harga keseimbangan empiris
lebih tinggi pada pasar monopoli dibandingkan persaingan sempurna dan lebih tinggi
pada kondisi subsidi dibandingkan non-subsidi baik pada sistem transaksi double
actionataupun desentralisasi; (2) Pasar monopoli dengan subsidi memiliki tingkat
efisiensi pasar lebih baik dibandingkan pasar persaingan sempurna baik dengan
subsidi maupun tanpa subsidi; (3) Alokasi surplus pada pasar monopoli hampir
seluruhnya dinikmati oleh penjual. Sebaliknya pada pasar persaingan sempurna,
surplus relatif lebih banyak dinikmati oleh pembeli, tetapi dengan selisih yang tidak
terlalu besar.Hasil penelitian ini menyarankan: (1) Pengambil kebijakan hendaknya
dapat merumuskan kebijakan yang mampu mencegah timbulnya monopoli yang
merugikan konsumen; (2) Pengujian hendaknya dapat dilanjutkan dengan berbagai
model simulasi lainnyasehingga dapat memperkuat teori-teori keseimbangan pasar
secara empiris.

Kata Kunci: Ekonomi Percobaan, Pasar Monopoli, Pasar Persaingan Sempurna,


Subsidi

PENDAHULUAN produsenakan berdampak pada


pengurangan biaya produksi
Subsidi adalah pembayaran yang yangditanggung produsen, yang
dilakukan pemerintah kepada peru- selanjutnya akan menurunkan harga
sahaan atau rumah tangga untuk barang tersebut di pasar.
mencapai tujuan tertentu yang Penurunan harga akan mem-
membuat mereka dapat memproduk-si berikan keuntungan kepada kon-
atau mengkonsumsi suatu produk sumen. Besar kecilnya penurunan
dalam kuantitas yang lebih besar atau harga akibat subsidi selain diten-tukan
pada harga yang lebih murah (Spencer oleh elastisitas permintaan dan
dan Amos, 1993).Dalam konteks penawaran, juga ditentukan oleh
subsidi yang diberikan kepada struktur pasar dari barang tersebut.

41
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora

Oleh karenanya, kebijakan pemerin- Penelitian ini akan mencoba


tah dalam pemberian subsidi produksi menerapkan metode percobaan
yang berorientasi pada kesejahteraan ekonomi dalam menguji teori ekonomi
konsumen selain harus memperhatikan pada pasar persaingan sempurna.
karakteristik / elastisitas permintaan Metode percobaan dalam ekonomi
dan penawaran, juga perlu adalah salah satu cara terbaik untuk
memperhatikan struktur pasar dari membangkitkan data yang jika dilihat
barang tersebut. dari kualitasnya kemungkinan dapat
Sebagai suatu tempat atau proses lebih baik daripada data yang tersedia
interaksi antara permintaan (pembeli) di publikasi. Melalui metode
dan penawaran (penjual) dari suatu percobaan ekonomi juga dapat
barang/jasa tertentu, pasar dapat dibangun syarat-syarat yang harus
menetapkan harga keseimbangan dipenuhi pada persaingan sempurna,
(harga pasar) dan jumlah yang selain itu juga dapat dikontrol faktor-
diperdagangkan. Dalam konteks ini, faktor lain yang mungkin
tingkah laku perusahaan (penjual) dan mempengaruhinya.
pembeli banyak ditentukan oleh Aspek teori yang diuji adalah
struktur pasar dimana proses interaksi dampak pemberian subsidi produksi
tersebut terjadi. terhadap keseimbangan pasar. Selain
Berdasarkan ciri-ciri konsentrasi, itu, juga diuji dampaknya terhadap
differensiasi produk, ukuran perusaha- efisiensi pasar, keragaman harga,
an, hambatan masuk, dan integrasi surplus pembeli - penjual. Kajian
vertikal serta diversifikasi, analisa aspek-aspek tersebut selanjutnya
ekonomi membedakan struk tur pasar dibandingkan antara struktur pasar
atas dua jenis pasar ekstrim yaitu pasar persaingan sempurna sebagai suatu
persaingan sempurna dan pasar bentuk ekstrim pasar dengan pasar
monopoli, serta diantara kedua jenis monopoli sebagai bentuk ekstrim
pasar ekstrim tersebut terdapat pasar lainnya.
monopolistis dan pasar ologipoli. Berdasarkan hal tersebut, maka
Pasar persaingan sempurna penelitian ini bertujuan untuk: (1)
merupakan struktur pasar yang ideal Menganalisis dampak subsidi terhadap
karena dianggap sistem pasar ini akan keseimbangan pasar pada pasar
menjamin terwujudnya kegiatan persaingan sempurna dan pasar
memproduksi barang-barang dan jasa- monopoli; (2) Menganalisis dampak
jasa yang sangat tinggi efisiensinya subsidi terhadap efisiensi pasar,
dibandingkan dengan struktur pasar surplus pembeli-penjual pada pasar
yang lain. Karena sifatnya persaingan sempurna dan pasar
menguntungkan bagi penjual pembeli, monopoli.
seringkali para ekonom mengharapkan Adapun manfaat dari hasil
terciptanya pasar persaingan penelitian adalah untuk: (1) menam
sempurna. Namun demi kian, syarat- bah khasanah ilmu pengeta huan
syarat yang harus dipenuhi bagi mengenai dampak subsidi produksi
terbentuknya pasar persaingan khususnya pasar monopoli dan pasar
sempurna relatif sulit terwujud dalam persaingan sempurna; (2) memberi
dunia nyata.Hal ini menyebabkan kan bantuan untuk perumusan
sulitnya menguji berbagai teori kebijakan yang terkait dengan regulasi
ekonomi yang terkait dengan pasar pasar dalam rangka meningkatkan
persaingan sempurna ini. keuntungan pembeli dan penjual.

52
Amril: Dampak Pemberian Subsidi Produksi Terhadap Keseimbangan Pasar pada
Pasar Persaingan Sempurna dan Pasar Monopoli

METODE PENELITIAN Barang yang diperjual belikan


barang imajiner. Selanjutnya, dari
Data yang Digunakan gambaran perancangan percobaan
Data yang dipergunakan dalam diatas dapat dinyatakan bahwa faktor-
penelitian ini adalah data yang faktor yang akan dilihat pengaruhnya
dikumpulkan dari hasil percobaan terhadap respons percobaan adalah :
ekonomi dengan melibatkan 20 orang 1. Jumlah Penjual, terdiri atas 2
mahasiswa sebagai pelaku percobaan taraf: 1 orang (monopoli) dan 5
(experimental unit). orang (Pasar Persaingan
Sempurna).
Rancangan Percobaan 2. Jenis barang terdiri atas dua:
Dua puluh (20) orang mahasiswa barang tanpa subsidi produksi dan
yangmenjadipelakupercobaan(experim barang dengan subsidi produksi.
ental unit), dibagi dalam 6 kelompok Masing-masing penjual dari tiap
percobaan ekonomi (kombinasi kelompok percobaan ekonomi di atas
perlakuan): diberikan unit cost untuk barang yang
1. Sebanyak 10 orang dipilih secara akan dijualnya. Demikian juga,
'acak' siapa yang menjadi masing-masing pembeli dari tiap
penjual(5 orang) dan siapa yang kelompok percobaan ekonomi di atas
menjadi pembeli (5 orang), diberikan unit value untuk barang yang
kemudian mereka melakukan akan dibelinya. Kumpulan nilai unit
simulasi percobaan ekonomi cost yang dipegang oleh para penjual
dengan barang tanpa subsidi di tiap kelompok percobaan akan
produksi, sebanyak 3 kali membentuk suatu kurva penawaran
(periode). teoritis, dan kumpulan nilai unit value
2. Sebanyak 10 orang dipilih secara yang dipegang oleh para pembeli di
'acak' siapa yang menjadi tiap kelompok percobaan akan
penjual(5 orang) dan siapa yang membentuk suatu. kurva permintaan
menjadi pembeli (5orang), teoritis.
kemudian mereka melakukan
simulasi percobaan ekonomi Analisis Data
dengan barang subsidi produksi, Data yang diperoleh dari hasil
sebanyak 3 kali (periode). percobaan dianalisis pada masing-
3. Sebanyak 6 orang dipilih secara masing simulasi struktur pasar (pasar
'acak' siapa yang menjadi penjual persaingan sempuna dan pasar
(1 orang) dan siapa yang menjadi monopoli) dan pada masing-masing
pembeli (5 orang), kemudian jenis barang (tanpa subsidi produksi
merekamelakukansimulasiperco- dan dengan subsidi produksi).Anali sis
baan ekonomi dengan barang mencakup aspek aspek keseim bangan
tanpa subsidi produksi, sebanyak harga dan kuantitas, efisiensi pasar,
3 kali (periode). keragaman harga, surplus pembeli,
4. Sebanyak 6 orang dipilih secara surplus penjual.Data yang diperoleh
'acak' siapa yang menjadi penjual dianalisis secara deskriptif.
(1 orang) dan siapa yang menjadi Konsep dan Definisi
pembeli (5orang), kemudian Konsep dan definisi mengenai
mereka melakukan simulasi per- respons dan cara menghitungnya
cobaan ekonomi dengan barang dalam simulasi percobaan ini adalah
subsidi produksi, sebanyak 3 kali. sebagai berikut:

51
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora

1. Unit value, merupakan nilai (rata-rata contract price)


maksimum dari suatu barang yang N = banyaknya contract price
bersedia dibayar oleh pembeli Pk = contract price ke-k
(maximum willingness to pay), K = 1,2,3, ……..N
dalam hal ini disebut juga secara 6. Surplus pembeli merupakan
ringkas sebagai anggaran. persentase kelebihan penerimaan
Profit pembeli = unit value - yang disebelah bawah dibatasi
contract price. contract price dan disebelah atas
2. Unit cost merupakan nilai dibatasi oleh kurva permintaan.
minimum dari suatu barang yang 7. Surplus penjual merupakan
bersedia dijual oleh penjual persentase kelebihan penerimaan
(minimum willingness to accept). yang disebelah bawah dibatasi
Profit penjual = contract price - oleh kurva penawaran dan
unit cost. disebelah atas dibatasi oleh
3. Contract price adalah harga yang contract price.
disepakati oleh penjual dan. 8. Harga keseimbangan pasar teoritis
pembeli di pasar simulasi. (HKT) adalah harga yang terjadi
4. Efisiensi pasar (EF) menunjukkan akibat perpotongan kurva
seberapa besar persentase profit permintaan dan penawaran
yang dapat diserap oleh penjual teoritis.
dan pembeli selama proses
transaksi dari total maksimum HASIL DAN PEMBAHASAN
yang mungkin.
EF = (TPB + TPJ) /(Profit Pasar Persaingan Sempurna
Maksimum) x 100 % Simulasi pada persaingan
dengan, sempurna ini dibedakan atas dua
TPB = Total Profit Pembeli sistem transaksi yaitu sistem double
TPJ = Total Profit Penjual auction dan sistem desentralisasi
5. Koefisien keragaman (CV) yang dimana pada kedua sistem tersebut
diamati adalah koefisien akan dilihat keseimbangan pasar pada
keragaman harga yang terjadi di saat sebelum diberikan subsidi dan
pasar terhadap harga sesudah diberikan subsidi. Hasil
keseimbangannya. percobaan pada masing-masing
N sistem transaksi diberikan sebagai
( p k  pe ) 2 berikut:
A2  k 1
Berdasarkan simulasi - simulasi
N
yang dilakukan pada pasar persa ingan
CV  ( A / Pe ) x 100% sempurna dengan dua sistem transaksi
dengan, yaitu double auction dan desentralisasi
A2 = keragaman harga yang pada kondisi subsidi dan non subsidi,
terjadi di pasar terhadap harga maka dapat diperbandingkanhasil
keseimbangan empiris yang diperoleh yang dirangkum pada
P = harga keseimbangan empiris tabel 1berikut:

52
Amril: Dampak Pemberian Subsidi Produksi Terhadap Keseimbangan Pasar
pada Pasar Persaingan Sempurna dan Pasar Monopoli

Tabel 1. Perbandingan Pasar Persaingan Sempurna Double Auction dan


Desentralisasi Pada Kondisi Subsidi dan Non-Subsidi

Pasar Persaingan Sempurna


Non-Subsidi Subsidi
Uraian
Double Desen- Double Desen-
auction tralisasi auction tralisasi
Harga keseimbangan teoritis 11.000 11.000 11.000 11.000
Harga keseimbangan empiris 10.563 10.382 9.974 10.593
Koefisien keragaman (%) 4,80 9,33 5,79 10,22
Efisiensi pasar (%) 39,11 47,07 76,18 51,65
% Surplus penjual 42,03 46,03 59,37 52,70
% Surplus pembeli 58,97 53,97 40,63 47,30

Terlihat bahwa harga keseim bangan memiliki tingkat efisiensi tertinggi


empiris pada pasar persa ingan yaitu mencapai 76,18persen. Ini
sempurna baik menggunakan sistem berarti bahwa 76,18 persen dari total
transaksi double auction atau profit maksimum mampu diserap
desentralisasi pada saat belum di penjual dan pembeli selama proses
berikan subsidi dan setelah diberikan transaksi dalam pasar jenis ini. Di
subsidi lebih kecil dibandingkan tempat kedua dengan efisiensi
dengan harga keseimbangan teori- tertinggi adalah masih berada pada
tisnya. barang non subsidi dengan sistem
Berdasarkan sistem transaksinya, transaksi dsentralisasi yaitu 51,65
harga keseimbangan empiris pada persen, diikuti oleh barang non-
sistem double auctionuntuk barang subsidi dengan sistem transaksi
non-subsidi cenderung lebih tinggi desentralisasi sebesar 47,07 persen
dibandingkan dengan sistem desen- dan yang paling rendah adalah
tralisasi, sedangkan untuk barang barang non-subsidi dengan sistem
subsidi harga keseimbangan empiris transaksi double auctionsebesar
pada sistem double auction cende- 39,11 persen. Mengacu pada hal
rung lebih rendah dibandingkan tersebut dapat dikemukakan bahwa
dengan sistem desentralisasi secara umum pasar persaingan
Dari sisi koefisien keragaman sempurna dengan barang subsidi
menunjukkan keragaman harga yang memiliki tingkat efisiensi pasar yang
lebih rendah berada pada barang lebih baik dibandingkan pasar
non-subsidi dengan sistem transaksi persaingan sempurna tanpa barang
double auction. Meskipun demikian, subsidi.
tidak terdapat pola perbedaan Lebih tingginya efisiensi pada
koefisien keragaman yang jelas antar pasar persaingan sempurna dengan
sistem transaksi. barang subsididisebabkan adanya
Dari sisi efisiensi pasar yaitu kekuasaan yang tinggi dari penjual
dimana harga semua sekuritas di untuk menentukan harga. Dalam
pasar yang di perdagangkan telah kondisi ini, penjual cenderung
mencerminkan semua informasi menetapkan harga yang rendah atau
yang tersedia, barang subsidi dengan tetap pada pembeli setelah barang
system transaksi doubleauction yang diperdagangkannya dikurangi

51
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora

dengan adanya subsidi, dan di sisi keuntungan kepada pembeli. Hal ini
lain karena barang yang tersedia terlihat dari kenyataan relatif
cenderung homogen dan penjual tingginya surplus konsumen sistem
cenderung banyak, maka pembeli double auctiondandesentralisasi pada
akan membeli barang yang barang non-subsidi dibandingkan
diinginkannya dengan mendapatkan sistem double auction dan
surplus yang tinggi atau tetap. desentralisasi pada barang subsidi.
Di lihat dari sisi persen surplus Pasar Monopoli
penjual dan pembeli, surplus yang Simulasi pada pasar monopoli ini
paling tinggi yang di nikmati oleh dibedakan atas dua sistem transaksi
penjual berada pada pada barang yaitu sistem double auction dan
subsidi dengan sistem transaksi sistem desentralisasi dimana pada
double auction yaitu sebesar59,37 kedua sistem tersebut akan dilihat
persen dan hanya 40,63 persen keseimbangan pasar pada saat
dinikmati oleh pembeli. Adapun sebelum diberikan subsidi dan
surplus yang paling rendah yang di sesudah diberikan subsidi.
nikmati oleh penjual berada pada Berdasarkan simulasi- simulasi
pada barang non-subsidi dengan yang dilakukan terlihat bahwa harga
sistem transaksi double auction yaitu keseimbangan empiris pada pasar
sebesar42,03 persen dan 58,97 monopolibaik menggunakan sistem
persen dinikmati oleh pembeli. transaksi double auction atau
Fakta lain yang menarik dari desentralisasi pada saat belum di
alokasi surplus ini adalah bahwa berikan subsidi dan setelah diberikan
sistem double auction atau subsidi lebih tinggi dibandingkan
desentralisasi pada barang non- dengan harga keseimbangan
subsidi cenderung lebih memberikan teoritisnya.
Tabel 2.Perbandingan Pasar Monopoli Double Auction dan Desentralisasi Pada
Kondisi Subsidi dan Non-Subsidi

Pasar Monopoli
Non-Subsidi Subsidi
Uraian
Double Desen- Double Desen-
auction tralisasi auction tralisasi
Harga keseimbangan teoritis 11.000 11.000 11.000 11.000
Harga keseimbangan empiris 13.173 13.213 12.247 12.457
Koefisien keragaman (%) 4,23 2,78 5,60 3,45
Efisiensi pasar (%) 89,70 91,86 92,55 96,48
% Surplus penjual 92,66 93,27 87,50 89,45
% Surplus pembeli 7,35 6,73 12,50 10,55

Berdasarkan sistem transaksinya, pada sistem double auction


harga keseimbangan empiris pada cenderung lebih rendah dibanding
sistem desentralisasiuntuk barang kan dengan sistem desentralisasi
non-subsidi cenderung lebih tinggi Dari sisi koefisien keragaman
dibandingkan dengan sistem double menunjukkan keragaman harga yang
auction, sedangkan untuk barang lebih rendah berada pada barang
subsidi harga keseimbangan empiris non-subsidi dengan sistem transaksi

52
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora

desentralisasi. Meskipun demikian, sama sekali tidak mendapatkan


tidak terdapat pola perbedaan surplus.
koefisien keragaman yang jelas antar Hal ini juga menjadi faktor yang
sistem transaksi. menjelaskan relatif tingginya harga
Dari sisi Efisiensi pasar yaitu keseimbangan empiris pada pasar
dimana harga semua sekuritas di monopoli baik tanpa barang subsidi
pasar yang di perdagangkan telah maupun dengan barang yang sudah
mencerminkan semua informasi disubsidi. Selain itu, hal ini juga
yang tersedia, barang subsidi dengan menjadi faktor yang menjelaskan
system transaksi desentralisasi memi alokasi surplus pada pasar monopoli
liki tingkat efisiensi tertinggi yaitu yang hampir seluruhnya dinikmati
mencapai 96,48persen. Ini berarti oleh penjual. Surplus yang paling
bahwa 96,48 persen dari total profit tinggi yang di nikmati oleh penjual
maksimum mampu diserap penjual berada pada pada barang non-subsidi
dan pembeli selama proses transaksi dengan sistem transaksi desentra
dalam pasar jenis ini. Di tempat lisasi yaitu sebesar93,27persen dan
kedua dengan efisiensi tertinggi hanya 6,73 persen dinikmati oleh
adalah masih berada pada barang pembeli. Adapun surplus yang paling
subsidi dengan sistem transaksi rendah yang di nikmati oleh penjual
double auctionyaitu 92,55 persen, berada pada pada barang subsidi
diikuti oleh barang non-subsidi dengan sistem transaksi double
dengan sistem transaksi auction yaitu sebesar87,50 persen
desentralisasi sebesar 91,86 persen dan 12,50 persen dinikmati oleh
dan yang paling rendah adalah pembeli.
barang non-subsidi dengan sistem Fakta lain yang menarik dari
transaksidouble auctionsebesar 89,70 alokasi surplus ini adalah bahwa
persen. Mengacu pada hal tersebut sistem double auction atau
dapat dikemukakan bahwa secara desentralisasi pada barang subsidi
umum pasar monopoli dengan cenderung lebih memberikan
barang subsidi memiliki tingkat keuntungan kepada pembeli. Hal ini
efisiensi pasar yang lebih baik terlihat dari kenyataan relatif
dibandingkan pasar monopoli tanpa tingginya surplus konsumen sistem
barang subsidi. double auction dan desentralisasi
Lebih tingginya efisiensi pada pada barang subsidi dibandingkan
pasar monopoli dengan barang sistem double auction dan
subsidi disebabkan adanya desentralisasi pada barang non-
kekuasaan yang tinggi dari penjual subsidi.
tunggal untuk menentukan harga.
Dalam kondisi ini, penjual Perbandingan Pasar Persaingan
cenderung menetapkan harga yang Sempurna dan Monopoli
tinggi, dan di sisi lain karena Perbandingkan antara pasar
keterbatasan jumlah barang yang persaingan sempurna dengan pasar
tersedia, pembeli terpaksa menerima monopoli pada sistem transaksi
harga tinggi tersebut meskipun double auction diberikan untuk di
hanya mendapatkan surplus yang perhatikan pada tabel yang terdiri
kecil, dibandingkan sama sekali dari uraian – uraian yang telah
tidak membeli dengan konsekuensi tersedia berikut ini :

52
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora

Tabel 3 Perbandingan antara Pasar Persaingan Sempurna dan Monopoli dengan


Sistem TransaksiDouble Auction

Pasar Persaingan
Pasar Monopoli
Uraian Sempurna
Non Subsidi Subsidi Non Subsidi Subsidi
Harga keseimbangan teoritis 11.000 11.000 11.000 11.000
Harga keseimbangan empiris 10.563 9.974 13.173 12.247
Koefisien keragaman (%) 4,80 5,79 4,23 5,60
Efisiensi pasar (%) 39,11 76,18 89,70 92,55
% Surplus penjual 42,03 59,37 92,66 87,50
% Surplus pembeli 58,97 40,63 7,35 12,50

Sumber : Data diolah


Harga keseimbangan empiris tertinggi adalah pasar monopoli
(rata-rata Contract Price) pada pasar dengan barang non subsidi yaitu
persaingan sempurna baik pada 89,70 persen, diikuti oleh pasar
barang non-subsidi atau subsidi lebih persaingan sempurna dengan barang
kecil dibandingkan dengan pasar subsidi sebesar 76,18 persen dan
monopoli.Selain itu, harga yang paling rendah adalah pasar
keseimbangan empiris pada pasar persaingan sempurna dengan barang
persaingan sempurna pada barang non-subsidi sebesar 39,11 persen.
non-subsidi atau subsidi juga lebih Mengacu pada hal tersebut dapat
rendah dibandingkan harga dikemukakan bahwa secara umum
keseimbangan teoritisnya, sedangkan pasar monopoli dengan barang
harga keseimbangan empiris pada subsidi memiliki tingkat efisiensi
pasar monopoli lebih tinggi pasar yang lebih baik dibandingkan
dibandingkan harga keseimbangan pasar persaingan sempurna.
teoritisnya. Lebih tingginya efisiensi pada
Dari sisi koefisien keragaman pasar monopoli disebabkan adanya
baik pada barang non-subsidi atau kekuasaan yang tinggi dari penjual
barang subsidi menunjukkan tunggal untuk menentukan harga.
keragaman harga yang lebih rendah Dalam kondisi ini, penjual
pada pasar monopoli dibandingkan cenderung menetapkan harga yang
pasar pasar persaingan sempurna. tinggi dan dengan adanya subsidi
Meskipun demikian, tidak terdapat atas barang tersebut, maka penjual
pola perbedaan koefisien keragaman tunggal pada pasar ini akan lebih
yang jelas antar sistem transaksi. banyak menyerap keuntungan
Dari sisi efisiensi pasar, pasar (surplus) atas barang yang
monopoli dengan barang subsidi diperdagangkannya, ini berarti
memiliki tingkat efisiensi tertinggi produsen (penjual) ingin menyerap
yaitu mencapai 92,55 persen. Ini semua keuntungan dari barang yang
berarti bahwa 92,55persen dari total diperdagangkannya, pembeli
profit maksimum mampu diserap terpaksa menerima harga tinggi
penjual dan pembeli selama proses meskipun hanya mendapatkan
transaksi dalam pasar jenis ini. Di surplus yang kecil, dibandingkan
tempat kedua dengan efisiensi sama sekali tidak membeli dengan

52
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora

konsekuensi sama sekali tidak Sebaliknya pada pasar persaingan


mendapatkan surplus. sempurna baik untuk barang non-
Hal ini juga menjadi faktor yang subsidi atau barang subsidi,
menjelaskan relatif tingginya harga meskipun surplus relatif lebih
keseimbangan empiris pada pasar banyak dinikmati oleh pembeli,
monopoli dibandingkan pasar tetapi dengan selisih yang tidak
persaingan sempurna. Selain itu, hal terlalu besar dibandingkan dengan
ini juga menjadi faktor yang surplus yang dinikmati oleh penjual.
menjelaskan alokasi surplus pada Pada pasar persaingan sempurna
pasar monopoli baik untuk barang dengan barang non-subsidi, surplus
non-subsidi maupun untuk barang yang dinikmati penjual sebesar 42,03
subsidi yang hampir seluruhnya persen dan surplus yang dinikmati
dinikmati oleh penjual. Seperti oleh pembeli sebesar 48,97 persen.
terlihat pada Tabel 5.11, pada pasar Pada pasar persaingan sempurna
monopoli dengan barang non- dengan barang subsidi, surplus yang
subsidi, 92,66 persen dari total dinikmati oleh penjual sebesar
surplus dinikmati oleh penjual dan 59,37persen dan surplus yang
hanya 7,35 persen dinikmati oleh dinikmati oleh pembeli sebesar 40,62
pembeli. Pada pasar monopoli persen.
dengan barang subsidi, 87,50 persen Selanjutnya, perbandingan pasar
dinikmati oleh penjual dan hanya persaingan sempurna dan monopoli
12,50 persen yang dinikmati oleh pada sistem transaksi desentralisasi
pembeli. diberikan pada tabel berikut:
Tabel 4 Perbandingan Pasar Persaingan Sempurna dan Monopoli dengan Sistem
TransaksiDesentralisasi

Pasar Persaingan
Pasar Monopoli
Uraian Sempurna
Non Subsidi Subsidi Non Subsidi Subsidi
Harga keseimbangan teoritis 11.000 11.000 11.000 11.000
Harga keseimbangan empiris 10.382 10.593 13.213 12.457
Koefisien keragaman (%) 9,33 10,22 2,78 3,45
Efisiensi pasar (%) 47,07 51,65 91,86 96,48
% Surplus penjual 46,03 52,70 93,27 89,45
% Surplus pembeli 53,97 47,30 6,73 10,55

Sumber : Data diolah

Terlihat bahwa harga non-subsidi atau subsidi juga lebih


keseimbangan empiris (rata-rata rendah dibandingkan harga
Contract Price) pada pasar keseimbangan teoritisnya,
persaingan sempurna baik pada sedangkan harga keseimbangan
barang non-subsidi atau subsidi empiris pada pasar monopoli lebih
lebih kecil dibandingkan dengan tinggi dibandingkan harga
pasar monopoli. Selain itu, harga keseimbangan teoritisnya.
keseimbangan empiris pada pasar
persaingan sempurna pada barang

52
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora

Meskipun demikian, tidak terdapat yang kecil, dibandingkan sama sekali


pola perbedaan koefisien keragaman tidak membeli dengan konsekuensi
yang jelas antar sistem transaksi. sama sekali tidak mendapatkan
Dari sisi efisiensi pasar, pasar surplus.
monopoli dengan barang subsidi Hal ini juga menjadi faktor yang
memiliki tingkat efisiensi tertinggi menjelaskan relatif tingginya harga
yaitu mencapai 96,48 persen. Ini keseimbangan empiris pada pasar
berarti bahwa 96,48 persen dari total monopoli dibandingkan pasar per
profit maksimum mampu diserap saingan sempurna. Selain itu, hal ini
penjual dan pembeli selama proses juga menjadi faktor yang
transaksi dalam pasar jenis ini. Di menjelaskan alokasi surplus pada
tempat kedua dengan efisiensi pasar monopoli baik untuk barang
tertinggi adalah pasar monopoli non-subsidi maupun untuk barang
dengan barang non subsidi yaitu subsidi yang hampir seluruhnya
91,86 persen, diikuti oleh pasar dinikmati oleh penjual. Seperti
persaingan sempurna dengan barang terlihat pada Tabel 5.11, pada pasar
subsidi sebesar 51,65 persen dan monopoli dengan barang non-
yang paling rendah adalah pasar subsidi, 93,27 persen dari total
persaingan sempurna dengan barang surplus dinikmati oleh penjual dan
non-subsidi sebesar 47,07 persen. hanya 6,73 persen dinikmati oleh
Mengacu pada hal tersebut dapat pembeli. Pada pasar monopoli
dikemukakan bahwa secara umum dengan barang subsidi, 89,45 persen
pasar monopoli dengan barang dinikmati oleh penjual dan hanya
subsidi memiliki tingkat efisiensi 10,55 persen yang dinikmati oleh
pasar yang lebih baik dibandingkan pembeli.
pasar persaingan sempurna. Sebaliknya pada pasar persaingan
Lebih tingginya efisiensi pada sempurna baik untuk barang non-
pasar monopoli disebabkan adanya subsidi atau barang subsidi, meskipun
kekuasaan yang tinggi dari penjual surplus relatif lebih banyak dinikmati
tunggal untuk menentukan harga. oleh pembeli, tetapi dengan selisih
Dalam kondisi ini, penjual cenderung yang tidak terlalu besar dibandingkan
menetapkan harga yang tinggi dan dengan surplus yang dinikmati oleh
dengan adanya subsidi atas barang penjual. Pada pasar persaingan
tersebut, maka penjual tunggal pada sempurna dengan barang non-subsidi,
pasar ini akan lebih banyak menyerap surplus yang dinikmati penjual
keuntungan (surplus) atas barang yang sebesar 46,03 persen dan surplus yang
diperdagangkannya, ini berarti dinikmati oleh pembeli sebesar 53,97
produsen (penjual) ingin menyerap persen. Pada pasar persaingan
semua keuntungan dari barang yang sempurna dengan barang subsidi,
diperdagangkannya, dan di sisi lain surplus yang dinikmati oleh penjual
karena keterbatasan jumlah barang sebesar 52,70 persen dan surplus yang
yang tersedia, pembeli terpaksa dinikmati oleh pembeli sebesar
menerima harga tinggi tersebut 47,30persen.
meskipun hanya mendapatkan surplus

52
Amril: Dampak Pemberian Subsidi Produksi Terhadap Keseimbangan Pasar pada
Pasar Persaingan Sempurna dan Pasar Monopoli

KESIMPULAN DAN SARAN demikian surplus dalam pasar


Kesimpulan monopoli lebih banyak dinikmati
1. Harga keseimbangan empiris relatif oleh penjual dibandingkan oleh
lebih tinggi pada pasar monopoli pembeli. Oleh karenanya,
dibandingkan pasar persaingan pengambil kebijakan hendaknya
sempurna dan lebih tinggi pada dapat merumuskan kebijakan yang
kondisi barang subsidi dibanding mampu mencegah timbulnya
kan dengan barang non-subsidi baik monopoli pada komoditi komoditi
pada sistem transaksi doubleactio yang diperda gangkan agar tidak
nataupun desentralisasi merugikan masyarakat sebagai
2. Dari sisi koefisien keragaman pada konsumen.
kondisi barang subsidi dan barang 2. Pemerintah sebagai pengambil
non-subsidi baik pada sistem kebijakan hendaknya dapat
transaksi double actionataupun merumuskan kebijakan yang
desentralisasimenunjukkan mampu mencegah timbulnya
keragaman harga yang lebih rendah berbagai bentuk pasar yang ekstrim
pada pasar monopoli dibandingkan seperti monopoli pada komoditi-
pasar pasar persaingan sempurna. komoditi yang diperdagangkan
Meskipun demikian, tidak terdapat agar tidak merugikan masyarakat
pola perbedaan koefisien keraga sebagai konsumen.
man yang jelas antar sistem tran 3. Pemerintah harus memperbanyak
saksi. menciptakan pasar dengan bentuk
3. Secara umum pasar monopoli pasar persaingan sempurna, karena
dengan barang subsidi memiliki dengan bentuk pasar inilah
tingkat efisiensi pasar yang lebih terciptanya pasar yang ideal agar
baik dibandingkan pasar persaingan produsen maupun konsumen sama-
sempurna baik dengan subsidi sama mendapatkan untung tanpa
maupun tanpa subsidi. harus merugikan salah satu pihak.
4. Alokasi surplus pada pasar 4. Pengujian dalam simulasi ini
monopoli yang hampir seluruhnya hendaknya dapat dilanjutkan
dinikmati oleh penjual. Sebaliknya dengan melakukan berbagai model
pada pasar persaingan sempurna, simulasi lainnya seperti simulasi
meskipun surplus relatif lebih pada kasus pemungutan pajak,
banyak dinikmati oleh pembeli, dampak pembagian subsidi,
tetapi dengan selisih yang tidak simulasi perbankan dan lain
terlalu besar dibandingkan dengan sebagainya sehingga dapat mem
surplus yang dinikmati oleh perkuatteori - teori keseimbangan
penjual. pasar secara empiris.

Saran-Saran DAFTAR PUSTAKA


Dari temuan penelitian ini, dapat
disarankan hal-hal sebagai berikut: Davis, D.D. And C.A. Holt. 1993.
1. Meskipun pasar monopoli relatif Experimental Economics. Prin
memiliki tingkat efisiensi pasar ceton University Press,. Prin
yang lebih tinggi dibandingkan ceton
pasar persaingan sempurna, namun

51
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora

Friedman, D dan Sunder. 1994. Krugman, P.dan R. Wells. 2004.


Experimental Methods: A Microeconomics. Worth
Premier for Economist. Publishers. New York
Crambidge University Press. Mas-Colell, A dkk . 1995.
Melbourne. Microeconomic Theory.
Handoko, R dan P. Patriadi, Oxford University Press. New
2005.”Evaluasi Kebijakan York
Subsidi Non BBM”.Kajian Pindyck, R.S dkk. 2009.
Ekonomi dan Keuangan, 9:42- Microeconomics. Pearson
64. Prentice Hall. New Jersey
Hey, J.D. 1991. Experiment in Smith, V.L. 1976. “Experimental
Economics. Blackwell. Cam Economics: Induced Value
bridge Theory.” American Economic
Juanda,B dan R. Sembel. 1997.“ Per Review 66 (May 1976): 274-
cobaan Ekonomi Eksperi 279
mental dan Ekspektasi Spencer, Milton H. & Amos O.,M.,
Rasional.”Buletin Ekonomi Jr., 1993. Contemporary
Vol I, No. 1, FE-UKI Economics, Edisi ke-8, hal.
Juanda, B. 2010.“Ekonomi 464, Worth Publishers, New
Eksperimental untuk York
Pengembangan Teori Ekonomi Suparmoko, M. 2003. Keuangan
dan Pengkajian Negara dalam Teori dan
Kebijakan”.Orasi Ilmiah Guru Praktik, Edisi ke-5. BPFE,
Besar Tetap Bidang Ilmu Yogyakarta.
Ekonomi. FEM IPB. 25
September 2010

52
Amril: Dampak Pemberian Subsidi Produksi Terhadap Keseimbangan Pasar pada
Pasar Persaingan Sempurna dan Pasar Monopoli

51