Anda di halaman 1dari 20

IMBALAN KERJA

PENGERTIAN
imbalan kerja adalah semua bentuk imbalan yangdiberikan oleh entitas sebagai pertukaran atas jasa yang diberikan
oleh pekerja, termasuk direktur dan manajemen. terdapat empat jenis imbalan kerja:
a) Imbalan kerja jangka pendek adalah imbalan kerja (selainpesangon pemutusan kerja) yang jatuh tempo
seluruhnyadalam waktu 12 bulan setelah akhir periode pekerjamemberikan jasanya.
b) Imbalan pascakerja adalah imbalan kerja (selain pesangonpemutusan kerja) yang terutang setelah
pekerjamenyelesaikan masa kerjanya.
c) Imbalan kerja jangka panjang lainnya adalah imbalan kerja(selain imbalan pascakerja dan pesangon pemutusan
kerja)yang tidak seluruhnya jatuh tempo dalam waktu 12 bulansetelah pekerja memberikan jasanya; dan
d) Pesangon pemutusan kerja adalah imbalan kerja yang terutang akibat
i. Keputusan entitas untuk memberhentikan pekerja sebelum usia pensiun normal, atau
ii. Keputusan pekerja menerima tawaran untuk mengundurkan diri secara sukarela dengan imbalan tertentu.

PRINSIP UMUM PENGAKUAN UNTUK SELURUH IMBALAN KERJA


Entitas harus mengakui biaya atas seluruh imbalan kerja yang menjadi hak pekerja akibat dari jasa yang
diberikankepada entitas selama periode pelaporan:
a) sebagai kewajiban, setelah dikurang jumlah yang telah dibayar baik secara langsung kepada pekerja atau
sebagai kontribusi kepada dana imbalan kerja. Jika pembayaran kontribusi melebihi kewajiban yang timbul dari jasa
sebelum tanggal pelaporan, maka entitas harus mengakui kelebihan tersebut sebagai aset dibayar dimuka yang aka
mengurangi pembayaran masa datang atau sebagai pengembalian kas.
b) sebagai beban, biaya tersebut diakui sebagai bagian biaya perolehan suatu ase tseperti persediaan atau aset
tetap
IMBALAN KERJA JANGKA PENDEK
Contoh Imbalan kerja jangka pendek mencakup:
upah, gaji, dan iuran jaminan sosial, cuti-berimbalan jangka pendek (seperti cuti tahunan dancuti sakit) dimana
ketidakhadiran diperkirakan terjadi dalamwaktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan saat pekerja memberikan
jasanya bagi laba dan bonus terutang dalam waktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan saat pekerja
memberikan jasa terkait; dan imbalan nonmoneter (seperti perawatan kesehatan,perumahan, mobil serta barang dan
jasa yang diberikansecara cuma-cuma atau subsidi) untuk pekerja saat ini.

Pengukuran Imbalan Kerja Jangka Pendek Secara Umum


Jika pekerja memberikan jasa kepada entitas selama periode pelaporan, maka entitas harus mengukur nilai yang
diakui sesuai dengan paragraf 23.2 pada nilai tidak-terdiskonto yang diperkirakan akan dibayar sebagai imbalan atas
jasa tersebut.
Pengakuan dan Pengukuran – Cuti Berimbalan JangkaPendek
Entitas mungkin mengkompensasi pekerja atas cuti untuk berbagai alasan termasuk cuti tahunan dan cuti sakit
Beberapa cuti berimbalan jangka pendek dapat diakumulasi –cuti bisa digeser ke periode berikutnya dan digunakan
untuk periode mendatang jika pekerja tidak menggunakannya secara penuh pada periode berjalan. Misalnya cuti
tahunan dan cuti sakit.
Entitas harus mengakui taksiran biaya cuti berimbalan yang dapat diakumulasi ketika pekerja memberikan jasa
yang meningkatkan hak mereka atas imbalan cuti masa mendatang. Entitas harus mengukur taksiran cuti berimbalan
yang dapat diakumulasi pada jumlah tambahan yang diperkirakan akan dibayar sebagai akibat tidak digunakannya
hak yangterakumulasi pada akhir periode pelaporan. Entitas harus menyajikan cuti berimbalan yang dapat
diakumulasi yang tidak digunakan yang diprediksi akan digunakan sebagai kewajibanlancar pada tanggal
pelaporan. Entitas harus mengakui biaya cuti berimbalan (yang tidak dapat diakumulasi) pada saat terjadinya cuti.
Entitas harusmengukur biaya cuti berimbalan yang tidak dapat diakumulasi pada jumlah gaji dan upah tidak-
terdiskonto yang dibayarkanatau terutang selama periode cuti.
Pengakuan – Bagi Laba dan Bonus
Entitas harus mengakui ekspektasi biaya untuk bagilaba dan bonus hanya jika
a) entitas telah memiliki kewajiban hukum atau kewajibankonstruktif kini untuk melakukan pembayaran
sebagaiakibat peristiwa masa lalu (ini berarti entitas tidak memilikialternatif realistis lainnya kecuali untuk
melakukanpembayaran); dan
b) estimasi kewajiban yang andal dapat dilakukan

IMBALAN PASCA-KERJA: PERBEDAAN ANTARA PROGRAM IURAN PASTI DAN IMBALAN PASTI

Imbalan pascakerja termasuk misalnya:


a) tunjangan pensiun, dan
b) imbalan pascakerja lain, seperti asuransi jiwa dan perawatan kesehatan pascakerja

Perjanjian dimana entitas memberikan imbalan pascakerja adalah program imbalan pascakerja. Entitas harus
menerapkan bagian ini untuk semua perjanjian tersebut baik entitas terlibat atau tidak terlibat atas pendirian entitas
terpisah yang menerima iuran dan membayar imbalan. Dalam beberapa kasus, perjanjian ini diwajibkan oleh hukum
dan bukan sekadar inisiatif entitas.
Program imbalan pascakerja diklasifikasikan sebagai program iuran pasti atau program imbalan pasti, bergantung
pada substansi ekonomis atas program sebagai turunan dari syarat dan kondisi utamanya.
a) Program iuran pasti adalah program imbalan pasca kerja dimana entitas membayar iuran tetap kepada entitas
erpisah (dana) dan tidak memiliki kewajiban hukum atau konstruktif untuk membayar iuran berikutnya atau
melakukan pembayaran langsung ke pekerja jika dana yang ada tidak mencukupi untuk membayar seluruh imbalan
pekerja terkait dengan jasa mereka pada periode kini dan periode lalu. Sehingga jumlah imbalan pascakerja yang
diterima pekerja ditentukan oleh jumlah iuran yang dibayar oleh entitas (dan mungkin juga oleh pekerja) ke program
imbalan pascakerja atau perusahaan asuransi, ditambah hasil investasi iuran tersebut.
b) Program imbalan pasti adalah program imbalan pascakerja selain iuran pasti. Dengan imbalan pasti, kewajiban
entitas adalah menyediakan imbalan yang telah disepakati kepada pekerja dan mantan pekerja, dan risiko aktuarial
(dimana imbalan akan lebih besar daripada yang diperkirakan) dan risiko investasi secara substantif berada pada
entitas. Jika pengalaman aktuarial atau investasi lebih buruk daripada yang diperkirakan, maka kewajiban entitas
akan meningkat.

Program Multi Pemberi Kerja dan Program Pemerintah


Program multi pemberi pekerja dan program
pemerintah diklasifikasikan sebagai iuran pasti atau imbalan pasti berdasarkan persyaratan dari program tersebut,
termasuk setiap kewajiban konstruktif di luar persyaratan formal. Namun, jika informasi yang memadai tidak
tersedia untuk menggunakan akuntansi imbalan pasti atas program multi pemberi pekerja yang ditetapkan sebagai
program imbalan pasti, maka entitas harus mencatat program tersebut seolah-olah program tersebut ditetapkan
sebagai program iuran pasti dan membuat pengungkapan.
Imbalan yang Dijamin
Entitas mungkin membayar premi asuransi untuk program imbalan pascakerja. Entitas harus memperlakukan
program seperti ini sebagai program iuran pasti, kecuali entitas memiliki kewajiban hukum atau kewajiban
konstruktif: (a)untuk membayar imbalan kerja secara langsung ketika jatuh tempo, atau (b)untuk membayar jumlah
tambahan jika perusahaan asuransi tidak membayar seluruh imbalan kerja masa mendatang terkait dengan jasa
pekerja periode sekarang dan periode sebelumnya.
Kewajiban konstruktif dapat muncul secara tidak langsung melalui program, mekanisme untuk penentuan premi
masa mendatang, atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa yang memiliki hubungan dengan perusahaan
asuransi. Jika entitas memiliki kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif tersebut, maka entitas harus
memperlakukan program tersebut sebagai program imbalan pasti.
IMBALAN PASCAKERJA: PROGRAM IURAN PASTI
Pengakuan dan Pengukuran
Entitas harus mengakui iuran yang terutang untuk periode berjalan:
a) sebagai kewajiban, setelah dikurangi dengan jumlah yang telah dibayar. Jika pembayaran iuran melebihi iuran
yang terutang sebelum tanggal pelaporan, maka entitas harus mengakui kelebihan tersebut sebagai aset.
b) sebagai beban, kecuali kecuali Bab lain mensyaratkan biaya tersebut diakui sebagai bagian biaya perolehan
suatu aset seperti persediaan atau aset tetap.
IMBALAN PASCA-KERJA: PROGRAM IMBALAN PASTI
Pengakuan
Dalam menerapkan prinsip pengakuan umum untuk program imbalan pasti, maka entitas mengakui:
a) kewajiban atas kewajiban yang timbul dalam program imbalan pasti neto setelah aset program (kewajiban
imbalan pasti atau defined benefit liability) dan
b) mengakui perubahan neto dalam kewajiban tersebut selama periode sebagai biaya program imbalan pasti
selama periode tersebut
Pengukuran Kewajiban Imbalan Pasti
Entitas harus mengukur kewajiban imbalan pasti untuk kewajiban dalam program imbalan pasti pada nilai neto dari
total jumlah berikut:
a) nilai kini dari kewajiban dalam program imbalan pasti (kewajiban imbalan pasti atau defined benefit obligation)
pada tanggal pelaporan (paragraf 23.15-23.20 memberikan panduan cara untuk mengukur kewajiban ini), dikurang;
b) nilai wajar aset program pada tanggal pelaporan (jika ada) yang digunakan untuk menutup secara langsung
kewajiban tersebut.
Diskonto
Entitas harus mengukur kewajiban imbalan pasti pada nilai kini yang terdiskonto. Entitas harus menentukan tingkat
suku bunga yang digunakan untuk mendiskontokan pembayaran masa datang berdasarkan referensi suku bunga
pasar obligasi perusahaan berkualitas tinggi pada tanggal pelaporan. Jika tidak terdapat pasar untuk obligasi
tersebut, maka entitas harus menggunakan suku bunga pasar obligasi pemerintah pada tanggal pelaporan. Mata uang
dan persyaratan obligasi perusahaan dan obligasi pemerintah harus konsisten dengan mata uang dan estimasi periode
pembayaran mendatang.

Metode Penilaian Aktuaria


Jika entitas mampu (tanpa biaya dan usaha yang tidak semestinya), maka entitas menggunakan metode projected
unit credit untuk mengukur kewajiban imbalan pasti dan beban yang terkait. Jika imbalan pasti didasarkan pada
tingkat gaji akan datang, maka metode projected unit credit mensyaratkan entitas untuk mengukur kewajiban
manfaat pasti dengan dasar yang mencerminkan estimasi kenaikan gaji akan datang. Sebagai tambahan, metode
projected unit credit
mensyaratkan entitas untuk membuat berbagai asumsi aktuarial dalam mengukur kewajiban imbalan pasti termasuk
tingkat diskonto, tingkat imbal hasil aset program, tingkat kenaikan gaji, perputaran pekerja, mortalitas, dan
kecenderungan tingkat biaya kesehatan (untuk program manfaat pasti kesehatan)
Jika entitas tidak mampu (tanpa biaya dan usaha yang tidak semestinya) untuk menggunakan metode projected unit
credit untuk mengukur kewajiban dan biaya program imbalan pasti, maka entitas diperkenankan untuk
membuatpenyederhanaan berikut dalam pengukuran kewajiban imbalan pasti untuk pekerja kini:
a) mengabaikan estimasi kenaikan gaji akan datang (diasumsikan gaji kini akan sama ketika pekerja kini
diekspektasikan mulai menerima manfaat imbalan pascakerja
b) mengabaikan jasa akan datang dari pekerja kini (diasumsikan penutupan program untuk pekerja yang ada saat
ini dan pekerja baru); dan
c) mengabaikan kemungkinan mortalitas pekerja kini selama masa jasa antara tanggal pelaporan dan tanggal
pekerja diekspektasikan mulai menerima manfaat imbalan pascakerja (yaitu diasumsikan semua pekerja kini akan
menerima manfaat pascakerja). Tetapi, mortalitas setelah jasa (usia harapan hidup) akan tetap perlu
dipertimbangkan. Entitas yang mengambil manfaat dari penyederhanaan pengukuran di atas harus memasukan
manfaat yang sudah menjadi vested dan belum vested dalam mengukur kewajiban imbalan pasti.
SAK ETAP tidak mensyaratkan entitas untuk menggunakan aktuaris independen untuk melakukan penilaian
aktuarial komprehensif yang diperlukan untuk menghitung kewajiban imbalan pasti. Tidak ada persyaratan untuk
penilaian aktuarial komprehensif harus dilakukan secara tahunan. Dalam periode di antara penilaian aktuarial
komprehensif (jika asumsi aktuarial utama tidak berubah secara signfikan) kewajiban imbalan pasti dapat diukur
dengan menyesuaikan pengukuran periode lalu untuk perubahan demografi pekerja seperti jumlah pekerja dan
tingkat gaji

Pengenalan, Perubahan, Pengurangan, dan Penyelesaian Program


Jika imbalan pasti sudah diperkenalkan atau diubah dalam periode sekarang, maka entitas harus menaikkan atau
menurunkan kewajiban imbalan pastinya untuk mencerminkan perubahan tersebut, dan mengakui kenaikan
(penurunan) sebagai beban (penghasilan) dalam mengukur laba atau rugi periode berjalan. Sebaliknya, jika program
mengalami penurunan (misalnya imbalan atau kelompok pekerja yang dilindungi berkurang) atau diselesaikan
(kewajiban pemberi kerja telah selesai dilaksanakan), maka kewajiban imbalan pasti harus diturunkan atau
dieliminasi, dan entitas harus mengakui keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi periode
berjalan.
Aset Program Imbalan Pasti
Jika kewajiban imbalan pasti pada tanggal pelaporan lebih kecil dibandingkan nilai wajar aset program pada tanggal
tersebut, maka program mengalami surplus. Entitas harus mengakui surplus tersebut sebagai aset program imbalan
pasti hanya jika surplus tersebut bisa dipulihkan melalui pengurangan iuran masa mendatang atau melalui
pengembalian dari program.
Biaya Program Imbalan Pasti
Entitas harus mengakui perubahan neto atas kewajiban imbalan pasti selama periode berjalan, selain perubahan yang
terkait dengan imbalan yang dibayarkan kepada pekerja selama periode atau iuran yang jatuh tempo dari pemberi
kerja, sebagai biaya program imbalan pasti selama periode. Biaya tersebut diakui seluruhnya sebagai beban dalam
laporan laba rugi, atau sebagian diakui dalam laporan laba rugi dan sebagian diakui dalam ekuitas (lihat paragraf
23.22) kecuali Bab lain mensyaratkan sebagai bagian biaya perolehan suatu aset seperti persediaan dan aset tetap.
Pengakuan-Pemilihan Kebijakan Akuntansi
Entitas disyaratkan untuk mengakui seluruh keuntungan dan kerugian aktuarial pada periode terjadinya.Entitas
harus:
a) mengakui seluruh keuntungan dan kerugian aktuarial dalam laporan laba rugi; atau
b) mengakui seluruh keuntungan dan kerugian aktuarial dalam ekuitas sebagai pilihan kebijakan akuntansi.
Entitas harus menerapkan kebijakan akuntansi yang dipilih secara konsisten untuk semua program imbalan pasti dan
semua keuntungan dan kerugian aktuarial.
Perubahan neto dalam kewajiban imbalan pasti yang diakui sebagai biaya program imbalan pasti meliputi:
a) perubahan dalam kewajiban imbalan pasti yang muncul dari jasa yang diberikan pekerja selama periode
pelaporan.
b) bunga atas kewajiban imbalan pasti selama periode pelaporan;
c) pendapatan atas setiap aset program dan perubahan neto dalam nilai wajar atas hak penggantian yang diakui
selama periode pelaporan;
d) keuntungan dan kerugian aktuarial selama periode pelaporan;
e) kenaikan atau penurunan dalam kewajiban imbalan pasti akibat dari pengenalan program baru atau mengubah
program yang telah ada selama periode pelaporan
f) penurunan dalam kewajiban imbalan pasti akibat dari pengurangan atau penyelesaian program yang telah ada
selama periode pelaporan.
Jasa pekerja akan memberikan kenaikan pada kewajiban program imbalan pasti meskipun imbalan tersebut bersifat
kondisional terhadap pekerjaan pada masa datang (dengan kata lain, belum vesting). Jasa pekerja sebelum tanggal
vesting memberikan kenaikan atas kewajiban konstruktif karena (pada setiap tanggal pelaporan berturut-turut)
jumlah atas jasa masa mendatang yang pekerja harus berikan sebelum menjadi hak atas imbalan adalah berkurang.
Dalam mengukur
kewajiban imbalan pasti, entitas harus memperhatikan kemungkinan bahwa sebagian pekerja tidak memenuhi syarat
vesting. Sama halnya, meski sebagian imbalan pascakerja (misalnya imbalan kesehatan pasca kerja) menjadi
terutang hanya jika kejadian tertentu terjadi ketika pekerja tidak lagi
dipekerjakan (misalnya sakit) maka suatu kewajiban dibentuk ketika pekerja memberikan jasa yang akan
menyediakan hak atas imbalan tersebut jika kejadian tertentu terjadi. Kemungkinan bahwa kejadian tertentu akan
terjadi mempengaruhi pengukuran kewajiban, tapi tidak menentukan
apakah kewajiban itu ada atau tidak.
Jika imbalan pasti berkurang sejumlah yang dibayarkan kepada pekerja dalam program yang disponsori pemerintah,
maka entitas harus mengukur kewajiban imbalan pasti dengan suatu dasar yang merefleksikan imbalan terutang
dalam program pemerintah, tapi hanya jika:
a) program tersebut dibuat sebelum tanggal pelaporan; atau
b) kejadian masa lalu atau bukti andal lain menunjukkan bahwa imbalan dari pemerintah akan berubah, misalnya,
terkait dengan perubahan masa datang tingkat inflasi dan tingkat gaji.
Penggantian
Jika entitas secara nyata yakin bahwa pihak lain akan mengganti sebagian atau seluruh biaya yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan kewajiban imbalan pasti, maka entitas harus mengakui haknya untuk mendapatkan penggantian
sebagai aset yang terpisah. Entitas harus mengukur aset
tersebut pada nilai wajar. Dalam laporan laba rugi, beban yang terkait dengan program imbalan pasti dapat disajikan
secara neto setelah jumlah pengakuan penggantian.

IMBALAN KERJA JANGKA PANJANG LAINNYA


Imbalan kerja yang termasuk dalam imbalan kerja jangka panjang lainnya, meliputi misalnya:
a) kompensasi cuti jangka panjang seperti cuti pengabdian atau cuti hari raya;
b) imbalan pengabdian;
c) imbalan cacat jangka panjang;
d) bagi hasil dan bonus yang terutang 12 bulan atau lebih setelah akhir periode di mana pekerja memberikan jasa
terkait;
e) kompensasi yang ditunda yang dibayarkan 12 bulan atau lebih setelah akhir periode kompensasi tersebut
diperoleh.

Entitas harus mengakui kewajiban untuk imbalankerja jangka panjang lainnya yang diukur pada nilai neto dari total
jumlah berikut:
a) ]nilai kini kewajiban imbalan kerja pada tanggal pelaporan,dikurang
b) nilai wajar aset program pada tanggal pelaporan (jika ada) di luar kewajiban yang akan diselesaikan secara
langsung.
Entitas harus mengakui perubahan dalam kewajiban tersebut sesuai dengan paragraf 23.21.

PESANGON PEMUTUSAN KERJA


perjanjian kontraktual atau perjanjian lainnya dengan pekerja atau perwakilan pekerja atau oleh kewajiban
konstruktif berdasarkan praktik bisnis, kebiasaan atau keinginan untuk bertindak adil, untuk melakukan pembayaran
(atau menyediakan imbalan lainnya) kepada pekerja ketika memberhentikan pekerjanya. Pembayaran tersebut
adalah pesangon pemutusan kerja.
Pengakuan
Karena pesangon pemutusan kerja tidak memberikan entitas manfaat ekonomi masa datang, maka entitas harus
segera mengakuinya sebagai beban dalam laporan laba rugi.
Ketika entitas mengakui pesangon pemutusan kerja, entitas juga mencatat pengurangan atas tunjangan pensiun atau
imbalan kerja lainnya.
Entitas harus mengakui pesangon pemutusan kerja sebagai kewajiban dan beban hanya ketika entitas mampu
menunjukkan komitmen, baik:
a) memutus masa kerja pekerja atau sekelompok pekerja sebelum masa pensiun normalnya; atau
b) memberikan pesangon pemutusan kerja sebagai akibat penawaran yang dibuat dalam rangka pengurangan
jumlah pekerja secara sukarela.

Entitas dianggap mampu menunjukkan komitmen untuk melakukan pemutusan hanya ketika entitas memiliki
program formal yang detail untuk melakukan pemutusan kerja dan tanpa kemungkinan realistis untuk menarik
program tersebut.

Pengukuran
Entitas harus mengukur pesangon pemutusan kerja pada estimasi terbaik pembayaran yang akan dibutuhkan untuk
menyelesaikan kewajiban pada tanggal pelaporan. Dalam kasus penawaran pengurangan pekerja secara sukarela,
pengukuran pesangon pemutusan kerja harus berdasarkan jumlah pekerja yang diekspektasikan akan menerima
tawaran tersebut.
Ketika pesangon pemutusan kerja terutang lebih dari 12 bulan setelah akhir periode pelaporan, nilainya harus diukur
pada nilai kini terdiskonto.

PENGUNGKAPAN
Imbalan Kerja Jangka Pendek
Bagian ini tidak mensyaratkan secara spesifik pengungkapan imbalan kerja jangka pendek.
Program Iuran Pasti.
Entitas harus mengungkapkan jumlah biaya iuran pasti untuk periode dan jumlah yang diakui dalam laporan laba
rugi sebagai beban untuk program iuran pasti. Jika entitas
memperlakukan program imbalan pasti multi pemberi kerja sebagai program iuran pasti karena informasi yang
memadai tidak tersedia untuk menggunakan akuntansi imbalan pasti (lihat paragraf 23.10), maka entitas harus
mengungkapkan fakta bahwa program tersebut adalah program imbalan pasti dan alasan dicatat sebagai program
iuran pasti, bersama dengan semua informasi yang tersedia mengenai surplus atau defisit program dan implikasinya
terhadap entitas (jika ada).
Program Imbalan Pasti
Entitas harus mengungkapkan informasi berikut tentang program imbalan pasti (kecuali program multi pemberi
kerja yang dicatat sebagai program iuran pasti sesuai dengan paragraf 23.10, dimana menerapkan pengungkapan
dalam paragraf 23.37). Jika entitas memiliki lebih dari satu program imbalan pasti, maka pengungkapan ini dibuat
secara total erpisah untuk setiap program atau pengelompokkan tersebut dianggap paling bermafaat:
a) penjelasan umum jenis program, termasuk kebijakan pendanaan.
b) kebijakan akuntansi entitas untuk mengakui keuntungan dan kerugian aktuarial (dalam laporan laba rugi atau
ekuitas) dan jumlah atas keuntungan dan kerugian aktuarial yang diakui selama periode berjalan.
c) penjelasan naratif jika entitas menggunakan penyederhanaan pada paragraf 23.17 dalam mengukur kewajiban
imbalan pasti.
d) tanggal penilaian aktuarial komprehensif paling kini dan (jika tidak dilakukan pada periode pelaporan)
penjelasan mengenai penyesuaian untuk mengukur kewajiban imbalan pasti pada tanggal pelaporan.
e) rekonsiliasi saldo awal dan saldo akhir kewajiban imbalan pasti yang menunjukkan keuntungan dan kerugian
aktuarial yang diakui selama periode
f) rekonsiliasi saldo awal dan saldo akhir atas nilai wajar aset program dan saldo awal dan saldo akhir setiap hak
penggantian yang diakui sebagai aset, ditunjukkan secara terpisah (jika dapat diterapkan):
I. iuran
II. imbalan yang dibayarkan; dan
III. perubahan lainnya dalam aset program.
g) total biaya yang terkait dengan program imbalan pasti untuk periode, diungkapkan secara terpisah jumlah:
I. diakui dalam laporan laba rugi sebagai beban; dan
II. termasuk biaya perolehan suatu aset
h) untuk setiap kategori besar aset program, dimana seharusnya termasuk tetapi tidak terbatas pada instrumen
ekuitas, instrumen utang, properti, dan semua aset lainnya, persentase dan jumlah masing-masing kategori tersebut
berdasarkan nilai wajar aset program pada tanggal pelaporan.
i) jumlah yang termasuk nilai wajar aset program untuk:
I. setiap kelompok instrumen keuangan yang dimiliki entitas; dan
II. setiap properti yang dikuasai oleh, atau aset lainnya yang digunakan oleh, entitas;
j) pengembalian aktual aset program.
k) asumsi aktuarial utama yang digunakan, termasuk, jika dapat diterapkan:
I. tingkat diskonto;
II. tingkat imbal hasil yang diekspektasikan atas setiap aset program untuk periode yang disajikan dalam laporan
keuangan
III. ekspektasi tingkat kenaikan gaji;
IV. tingkat tren kenaikan biaya kesehatan; dan
V. asumsi aktuatial material lainnya.
Rekonsiliasi di (e) dan (f) di atas tidak perlu disajikan untuk periode lalu.
Imbalan Jangka Panjang Lainnya
Untuk setiap kategori imbalan jangka panjang lainnya yang diberikan oleh entitas kepada pekerja, maka entitas
harus mengungkapkan sifat imbalan, jumlah kewajiban dan status pendanaan pada tanggal pelaporan.
Pesangon Pemutusan Kerja
Untuk setiap kategori pesangon pemutusan kerja yang diberikan oleh entitas kepada pekerja, maka entitas harus
mengungkapkan sifat imbalan, kebijakan akuntansi, dan jumlah atas kewajiban dan status pendanaan pada tanggal
pelaporan.
Ketika terdapat ketidakpastian tentang jumlah pekerja yang akan menerima tawaran pesangon pemutusan kerja,
maka timbul kewajiban kontinjensi. Bab 18 Kewajiban Diestimasi dan Kontijensi mensyaratkan entitas untuk
mengungkapkan informasi tentang kewajiban kontijensi kecuali kemungkinan terjadinya penyelesaian kecil sekali.
AKUNTANSI DANA PENSIUN
AKUNTANSI DANA PENSIUN
Sebagaimana disebutkan dalam Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan –PSAK– No.18 tentang Akuntansi Dana
Pensiun bahwa pengertian Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang
menjanjikan manfaat pensiun

Akuntansi dan Pelaporan Dana Pensiun


Program Pensiun dapat dibedakan menjadi dua yaitu Program Pensiun luran Pasti (PPIP) dan Program Pensiun
Manfaat Pasti (PPMP).Dana Pensiun dapat berupa Dana Pensiun Pemberi Kerja atau Dana Pensiun Lembaga
Keuangan. Dana Pensiun Pemberi Kerja dapat menyelenggarakan PPIP atau PPMP, sedangkan Dana Pensiun
Lembaga Keuangan hanya dapat menyelenggarakan PPIP.
10 Pembentukan dan pengelolaan Dana Pensiun harus didasarkan pada peraturan perundangan yang berlaku

Kewajiban Aktuaria
Dalam laporan keuangan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, perlu diungkapkan penjelasan yang
memadai mengenai sumber perhitungan kewajiban aktuaria seperti metode penilaian dan asumsi aktuarial yang
digunakan aktuaris, nama aktuaris dan tanggal laporan aktuaris yang terakhir

Frekuensi Penilaian Aktuarial


Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP wajib memiliki laporan aktuaris sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku. Dalam laporan keuangan Dana Pensiun harus disebutkan tanggal laporan aktuaris terakhir yang
digunakan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan yang bersangkutan.

Laporan Keuangan Dana Pensiun


Laporan keuangan Dana Pensiun terdiri dari laporan aktiva bersih, laporan perubahan aktiva bersih, neraca,
perhitungan hasil usaha, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan .
20 Khusus untuk Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, laporan mengenai kewajiban aktuaria dan
perubahannya perlu disusun sebagai lampiran laporan keuangan
Sebagai informasi tambahan atas laporan keuangan perlu disajikan antara lain portofolio investasi, rincian biaya
yang merupakan beban Dana Pensiun selama satu periode sesuai dengan Peraturan Dana Pensiun (untuk Dana
Pensiun Pemberi Kerja) atau rincian biaya yang dapat dipungut dari Peserta atau dibebankan pada rekening Peserta
selama satu periode sesuai dengan Peraturan Dana Pensiun (untuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan)

Penilaian Aktiva Dana Pensiun


Aktiva Dana Pensiun dinilai sesuai dengan SAK yang berlaku, namun mengingat tujuan Dana`Pensiun dan
kekhususan informasi yang diperlukan maka dalam neraca, untuk aktiva tertentu disamping nilai historis perlu
ditentukan pula nilai wajarnya. Selisih antara nilai historis dan nilai wajar disajikan sebagai Selisih Penilaian
Investasi.
Untuk tujuan penyusunan laporan aktiva bersih dan laporan perubahan aktiva bersih, investasi Dana Pensiun dinilai
berdasarkan nilai wajar (fair value). Surat-surat berharga dinilai berdasarkan harga pasar karena dianggap sebagai
nilai yang paling tepat untuk mengukur nilai surat berharga pada tanggal laporan dan hasil investasi selama periode
tersebut. Surat-surat berharga yang nilai jatuh temponya sudah ditetapkan dan memang dimaksudkan untuk
membayar manfaat pensiun dinilai berdasarkan nilai jatuh temponya dengan asumsi tingkat pengembalian yang
tetap. Jika suatu investasi tidak mempunyai nilai wajar maka perlu diungkapkan alasan mengapa nilai wajar tidak
dapat ditentukan. Aktiva operasional dinilai berdasarkan nilai buku
Penyajian Informasi dalam Laporan Keuangan
Laporan keuangan Dana Pensiun perlu mengungkapkan informasi relevan antara lain sebagai berikut:
a) laporan aktiva bersih
i. nilai aktiva pada akhir periode dengan klasifikasi yang tepat
ii. dasar penilaian aktiva,
iii. investasi sesuai dengan rincian jumlah investasi menurut jenis,
iv. kewajiban selain daripada kewajiban aktuaria
b) laporan perubahan aktiva bersih:
• biaya jasa kini (iuran normal) yang jatuh tempo baik yang berasal dari pemberi kerja atau pemberi kerja dan
peserta atau peserta,
• biaya jasa lalu (iuran tambahan) yang jatuh tempo,
• hasil investasi antara lain bunga, dividen, dan sewa,
• pendapatan lain-lain,
• manfaat yang sudah dibayarkan dan yang masih terhutang, dirinci untuk peserta yang pensiun, yang meninggal
atau yang cacat, juga untuk pembayaran manfaat secara sekaligus,
• beban administrasi,
• beban investasi,
• beban lain-lain
• pajak penghasilan,
• keuntungan atau kerugian dari pelepasan investasi dan penurunan atau kenaikan nilai investasi,dan
• pengalihan dana ke/dan dari Dana Pensiun lain;
c) neraca:
• posisi keuangan Dana Pensiun
• nilai historis, khusus untuk investasi ditentukan juga nilai wajarnya;
d) perhitungan hasil usaha:
• pendapatan dan beban investasi,
• beban administrasi,
• pendapatan lain-lain;
e) laporan arus kas:
laporan arus kas disajikan sesuai dengan sifat kegiatan usaha Dana Pensiun selama periode
pelaporan;
f) catatan atas laporan keuangan, mencakup:
• penjelasan mengenai program pensiun serta perubahan yang terjadi selama periode laporan, antara lain:
i. nama pendiri Dana Pensiun dan mitra pendiri (jika ada),
ii. kelompok karyawan yang menjadi peserta program pensiun,
iii. jumlah peserta program pensiun dan jumlah pensiunan,
iv. jenis program pensiun,
v. iuran yang berasal dari peserta, jika ada,
vi. untuk PPMP, penjelasan mengenai manfaat pensiun yang dijanjikan,
vii. penjelasan mengenai rencana penggabungan, pemisahan, pemindahan kelompok peserta dan pembubaran
Dana Pensiun (jika besar kemungkinannya terjadi);
• penjelasan singkat mengenai kebijakan akuntansi yang penting,
• penjelasan mengenai kebijakan pendanaan,
• rincian portofolio investasi, dan
• perhitungan kewajiban aktuaria, metode penilaian, asumsi aktuarial, nama dan tanggal laporan aktuaris terakhir
(dalam hal PPMP).

AKUNTANSI DANA PENSIUN


Laporan Keuangan Dana Pensiun
Laporan keuangan Dana Pensiun, baik yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti
(PPMP) maupun Program Pensiun luran Pasti (PPIP) mencakup:
(a) Laporan Aktiva Bersih
(b) Laporan Perubahan Aktiva Bersih
(c) Neraca
(d) Perhitungan Hasil Usaha
(e) Laporan Arus Kas
(f) Catatan Atas Laporan Keuangan

Laporan Aktiva Bersih


Laporan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang jumlah aktiva bersih yang tersedia untuk membayar
kewajiban manfaat pensiun kepada peserta pada tanggal laporan. Total seluruh aktiva Dana Pensiun tidak termasuk
piutang jasa lalu (past service) yang belum jatuh tempo,dikurangi seluruh kewajiban kecuali kewajiban aktuaria,
menunjukkan jumlah aktiva bersih yang tersedia untuk manfaat pensiun pada tanggal laporan. Aktiva untuk tujuan
penyusunan laporan
ini, dinilai sesuai dengan penjelasan pada butir 28.

Laporan Perubahan Aktiva Bersih


Laporan ini berisi informasi tentang perubahan atas jumlah aktiva bersih yang tersedia untuk
manfaat pensiun, serta menguraikan penyebab perubahan tersebut yang diperinci atas
pertambahan dan atau pengurangan yang terjadi selama suatu periode tertentu.

Neraca, Perhitungan Hasil Usaha dan Laporan Arus Kas


Neraca, laporan hasil usaha dan laporan arus kas disusun berdasarkan Kerangka Dasar Penyusunan dan Pelaporan
Laporan Keuangan yang berazas utama biaya historis. Khusus untuk investasi, ditentukan juga nilai wajarnya.
Selisih antara nilai historis dan nilai wajar disajikan sebagai Selisih Penilaian Investasi. Selisih Penilaian Investasi
bukan merupakan unsur hasil usaha, tetapi akan mengoreksi nilai historis menjadi nilai wajar.
Untuk penyusunan laporan keuangan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, penentuan kewajiban aktuaria
berdasarkan laporan aktuaris terakhir. Di dalam Neraca, selisih antara nilai kewajiban aktuaria dan aktiva bersih
disajikan sebagai Selisih Kewajiban Aktuaria.
Dalam Neraca Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, piutang kepada pemberi kerja sehubungan dengan jasa
masa lalu karyawan diakui sebesar jumlah yang telah jatuh tempo pada tanggal laporan.

Penilaian Aktiva Dana Pensiun


Untuk tujuan penyusunan laporan aktiva bersih dan laporan perubahan aktiva bersih, aktiva
dinilai sebagai berikut:
(a) uang tunai, rekening giro dan deposito di bank dinilai menurut nilai nominal;
(b) sertifikat deposito, Surat Berharga Bank Indonesia, Surat Berharga Pasar Uang dan surat
pengakuan hutang lebih dari setahun dinilai berdasarkan nilai tunai;
(c) surat berharga berupa saham dan obligasi yang diperjualbelikan di bursa efek, dinilai menurut
nilai pasar yang wajar pada tanggal laporan;
(d) penyertaan pada perusahaan yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek, dilaporkan
berdasarkan nilai appraisal sebagai hasil penilaian independen;
(e) investasi pada tanah dan bangunan dilaporkan berdasarkan nilai appraisal sebagai hasil penilaian
independen;
(f) piutang dilaporkan berdasarkan jumlah yang dapat ditagih, setelah memperhitungkan penyisihan
piutang tak tertagih; dan
(g) aktiva operasional antara lain komputer, peralatan kantor dan peralatan lainnya dilaporkan
berdasarkan nilai buku.

Bila suatu aktiva, misalnya gedung digunakan sebagian untuk investasi dan sebagian untuk kegiatan operasional,
maka penggolongan aktiva sebagai investasi atau aktiva operasional ditentukan berdasarkan yang mana yang lebih
signifikan.

Pengungkapan
Informasi tentang hal tersebut di bawah ini perlu diungkapkan secukupnya dalam catatan atas laporan keuangan,
antara lain:
a. penjelasan mengenai program pensiun serta perubahan yang terjadi selama periode laporan,
b. nama pendiri Dana Pensiun dan mitra pendiri (jika ada);
- kelompok karyawan yang menjadi peserta program pensiun;
- jumlah peserta program pensiun dan jumlah pensiunan;
- jenis program pensiun;
- iuran yang berasal dari peserta, jika ada;
- untuk PPMP, penjelasan mengenai manfaat pensiun yang dijanjikan;
- penjelasan mengenai rencana penggabungan, pemisahan, pemindahan kelompok peserta dan pembubaran Dana
Pensiun (jika besar kemungkinannya terjadi);
c. penjelasan singkat mengenai kebijakan akuntansi yang penting,
d. penjelasan mengenai kebijakan pendanaan,
e. rincian portofolio investasi,
f. perhitungan kewajiban aktuaria, metode penilaian, asumsi aktuarial, nama dan tanggal laporan aktuaris terakhir
(dalam hal PPMP).
Masa Transisi
Jika penerapan Pernyataan ini mengakibatkan perubahan kebijakan akuntansi, perubahan
tersebut dilaporkan secara prospektif.
Tanggal Efektif
Pernyataan ini mulai berlaku untuk laporan keuangan Dana Pensiun yang mencakup periode yang dimulai pada atau
setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan .

Deskripsi kasus
JAKARTA - PT Indosat Tbk (ISAT) mengakui jika pihaknya memang telah melakukan rasionalisasi jumlah
karyawannya dengan memberhentikan sekira 1.200 karyawannya. Pemberhentian ini pun tampaknya masih akan
dilakukan lagi oleh perseroan
Chief Corporate Services Officer Indosat Noor SDK Devi menuturkan jika pengurangan jumlah karyawan
merupakan hal yang biasa dilakukan perusahaan-perusahaan untuk memaksimalkan anggarannya dalam raangka
mengurangi beban keuangan perseroan
"Rasionalisasi itu kita akan lakukan tiap tahun," jelasnya usai konferensi pers RUPSLB, di kantornya, Jakarta,
Selasa (8/2/2011).Hanya saja, dia menyebut jika pemberhentian karyawan yang dilakukannya ini mirip dengan
program pensiun dini. Dia mengaku karyawan yang diberhentikan ini pun mendapatkan uang pensiun. "Sifatnya ini
voluntary," ungkapnya.
Sebelumnya, Indosat membantah kabar mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) 1.200 karyawannya. Namun,
perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia itu tak memungkiri perpindahan sumber daya manusia
sebagai hal yang biasa dalam bisnis. "Itu cuma gosip," tampik Dirut Indosat Harry Sasongko, kala itu. (ade)

Analisis kasus
Landasan teori UU No. 13 thn 2003, tentang Ketenagakerjaan
• Pasal 150 tentang Ketentuan mengenai pemutusan hubungan kerja dalam undang-undang ini meliputi
pemutusan hubungan kerja yang terjadi di badan usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan,
milik persekutuan atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara, maupun usaha-usaha sosial dan
usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan
dalam bentuk lain.
• Pasal 156 (1) Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha diwajibkan membayar uang pesangon dan
atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima.
Kewajiban kontijensi
Kewajiban kontijensi adalah kewajiban yang tergantung pada terjadinya atau tidak
terjadinya satu atau lebih kewajian masa depan untuk meneguhkan jumlah hutangnya, pihak
yang dibayarkan, tanggal pembayaran, atau keberadaannya. Kontijensi didefinisikan sebagai
kondisi situasi atau serangkaian situasi yang ada melibatkan ketidakpastian mengenai
keuntungan (kontijensi keuntungan) atau kerugian (kontijensi kerugian) bagi perusahaan yang
akhirnya akan diselesaikan apabila satu atau lebih kejadian masa depan terjadi atau tidak terjadi.
Kewajiban yang terjadi sebagai akibat dari kerugian disebut kerugian kontijensi. Kontinjensi atau
lebih dikenal dengan peristiwa atau transaksi yang mengandung syarat merupakan transaksi
yang paling banyak ditemukan dalam kegiatan bank sehari-hari. Kontinjensi yang dimiliki oleh
suatu bank dapat berakibat tagihan atau kewajiban bagi bank yang bersangkutan. PSAK No.
31 mengatur akuntansi untuk transaksi kontinjensi dalam suatu perusahaan. Istilah kewajiban
bersyarat digunakan untuk menyatakan kewajiban yang kemungkinan timbulnya tergantung
padaterjadi atau tidaknya satu peristiwa di masa yang akan datang. Dengan demikian pada
tanggal neraca belum terdapat kepastian mengenai ada tidaknya kewajiban tersebut.
Kontinjensi adalah suatu keadaan yang masih diliputi oleh ketidakpastian mengenai
kemungkinan diperolehnya laba atau rugi oleh suatu perusahaan, yang baru akan terselesaikan
dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa di masa yang akan datang.
Transaksi yang bersifat kontinjensi (bersyarat) ini belum mengikat bank untuk melakukan
tagihan ataupun kewajiban riil saat ini, akan tetapi secara antisipatif kontinjensi tersebut akan
menjadi kewajiban atau tidak sangat tergantung terjadi atau tidak terjadinya peristiwa yang
berkaitan dengan kontinjensi ini di masa yang akan datang.
Standar mengidentifikasikan bahwa kejadian kontijensi terbagi menjadi tiga yaitu
kejadian kontijensi dengan kemungkinan besar, kejadian kontijensi dengan cukup mungkin, dan
kejadian kontijensi dengan kemungkinan kecil. Suatu kontijensi kerugian harus diakrualkan
dengan pembebanan ke beban (pengeluaran) dan suatu kewajiban akan dicatat hanya jika dua
kondisi ini memenuhi. Kondisi yang pertama adalah informasi yang tersedia sebelum penerbitan
laporan keuangan menunjukan bahwa kemungkian besar suatu kewajiab telah terjadi pada
tanggal laporan keuangan. Kondisi yang kedua adalah jumlah kerugian yang diestimasi dengan
layak. Siapa yang sebenarnya harus dibayar atau tanggal pembayaran yang tepat tidak perlu
diketahui untuk mencatat suatu kewajiban. Apa yang harus diketahui adalah apakah ada
kemungkian besar bahwa suatu kewajiban telah terjadi.Konsep dan prosedur akuntansi yang
berkaitan dengan pos-pos kontijensi relatif masih baru dan belum terselesaikan. Para akuntan
yang berpraktek mengungkapkan keprihatinan atas keberagaman yang terjadi atas
penafsiran reasonable, reasonably possible, dan remote. Praktek saat ini sangat mengandalkan
bahasa eksak yang digunakan sebagai tanggapan yang diterima dari para ahli hukum, akibatnya
akrual dan pengungkapan kontijensi sangat berbeda-beda dalam praktek.

a. Perkara pengadilan, tuntutan dan pengenaan


Faktor-faktor berikut ini yang harus dipertimbangkan dalam menentukan apakah suatu
kewajiban harus dicatat berkenaan dengan perkara pengadilan yang ditunda atau mengancam dan
tuntutan atau pengenaan yang sebenarnya atau yang mungkin adalah sebagai berikut:
a) Periode waktu dimana terjadi penyebab dasar dari tindakan
b) Kemungkinan dari suatu hasil yang tidak menguntungkan
c) Kemampuan untuk membuat taksiran yang layak atas jumlah kerugian
Untuk melaporkan kerugian dan kewajiban dalam laporan keuangan, penyebab perkara
pengadilan harus terjadi pada atau sebelum tanggal laporan keuangan. Tidak menjadi masalah
apakah perusahaan tidak sadar akan adanya atau kemungkinan adanya tuntutan hukum atau
klaim sesudah tanggal pelaporan keuangan tetapi sebelum laporan tersebut diterbitkan. Untuk
perkara atau gugutan yang ditunda jarang diramalkan dengan suatu kepastian. Dan sekalipun
bukti yang tersedia pada tanggal neraca tidak menguntungkan tergugat, hampir tidak layak untuk
mengharapkan perusahaan mempublikasikan dalam laporan keuangan estimasi dir jumlah uang
dari kemungkinan hasil negatif.
Berkenaan dengan gugatan yang belum diajukan dan klaim dan pengenaan yang belum
dinyatakan, perusahaan harus menentukan tingkat probabilitasnya bahwa gugtan tersebut akan
diajukan atau pengenaan yang diteguhkan dan probabilitas dari hasil yang menguntungkan.
b. Pengungkapan kontijensi kerugian
Untuk melaporkan kerugian dan kewajiban dalam laporan keuangan perusahaan
perusahan dapat membebankan kedalam beban dan hutang perusahaan. Kontijensi yang
melibatkan tuntutan atau pengenaan yag belum dinyatakan tidak perlu diungkapkan apabila tidak
ada penuntut yang datang kecuali jika dianggap memiliki kemungkinan yang besar ahwa suatu
tuntutan akan dinyatakan dan terdapat cukup kemungkinan bahwa hasilnya akan dapat
menguntungkan. Kewajiban lain yang harus diungkapkan sekalipun memiliki kerugian yang
kecil adalah sebagai berikut:
1. Jaminan atas hutang pihak lain
2. Kewajiban bank komersial menurut standby letters of credit
3. Jaminan untuk membeli kembali piutang (atau kekayaan lain yang berkaitan) yang telah
dijual atau digadaikan.

c. Biaya garansi dan jaminan


Jaminan/Garansi Produk (warranty or product guarantee) adalah suatu janji yang dibuat
oleh penjual kepada pembeli untuk meperbaiki kekurangan dalam kuantitas, kualitas, atau kerja
suatu produk. Garansi ini biasanya digunaka oleh perusahaan sebagai teknik promosi penjualan.
Jaminan dan garansi adakalanya diiringi dengan biaya dimasa yang akan datang atau biasa
disebut biaya purna jual. Walaupun jumlah, dan waktu kejadian yang tidak menentu dimasa yang
akan datang, perusahaan mungkin ataupun harus mengestimasikan dengan layak atas perkiraan
tersebut. Jumlah kewajiban merupakan taksiran dari semua biaya yang akan dikeluarkan sesudah
penjualan, sesudah penyerahan dan sejumlah biaya yang terjadi untuk mengoreksi kerusakan
atau kecacatan barang yang disyaratkan menurut ketentuan jaminan. Terdapat dua pendekatan
dalam mencatat kerugian kotijenji dari suatu produk yang berupa jamian yaitu metode kas dan
metode akrual.
Dasar Kas pengakuan metode ini mensyaratkan bahwa biaya jaminan dibebankan pda
saat terjadinya suatu transaksi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jaminan diakui pada
saat penjual menempati jaji kepada konsumen atas perjanjian yang dilaksanakan. Metode ini
merupakan metode yang diakui dalam perpajakan perusahaan. Seringkali dibenarkan untuk
akuntansi atas dasar kecepatan pemprosesan bila jaminan jumlahnya tidak material dan waktu
jaminan relatif pendek. Metode dasar kas disyaratkan bila kewajiban tidak diakrualkan dalam
tahun berjalan karena tidak mungkin kewajiban tersebut terjadi dan jumlah kewajiban tersebut
tidak dapat diperkirakan dengan layak.
Dasar Akrual dapat digunakan apabila pelanggan akan mengajukan tuntutan berdasarkan
jaminan berkenaan dengan produk atau jasa yang telah dijual dan taksiran yang layak atas biaya
yang terlibat didalamnya.Menurut metode akrual, biaya jaminan dibebankan dalam biaya operasi
pada tahun berjalan. Metode akrual merupakan metode yang diterima secara umum. Penggunaan
metode akrual dikalsifikasikan lagi menjadi dua pendekatan yaitu metode beban dan metode
penjualan. Apabila perusahaan tidak memisahkan antara produk dengan jaminan maka
perusahaan dapat menggunakan metode beban. Namun apabla perusahaan memisahkan harga
antara harga jual dan jaminan maka pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan penjualan.
Apabila jaminan merupakan bagian yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan dari
penjualan dan dipandang sebagai kerugian kontijensi maka metode yang digunakan
adalah metode beban sebagai berikut:
Kas Rp xxx,-
Penjualan Rp xxx,-
(Jurnal untuk mencatat penjualan barang dengan kewajiban jaminan yang diakui)

Beban Jaminan Rp xxx,-


Kas Rp xxx,-
(Jurnal untuk mencatat pembayaran jaminan oleh perusahaan)

Beban Jaminan Rp xxx,-


Kewajiban Kontijensi atas Jaminan Rp xxx,-
(Jurnal untuk mencatat kewajiban kontijensi atas jaminan oleh perusahaan)
Metode kedua yang digunakan dalam mencatat jaminan adalah pendekatan penjualan.
Pendekatan ini dicirikan dengan pemisahan antara jaminan dengan harga penjualan yang
dilakukan oleh perusahaan. Adapun jurnal adalah sebagai berikut:
Kas Rp xxx,-
Penjualan Rp xxx,-
Pendapatan Jaminan yang belum dihasilakan Rp xxx,-
(Jurnal untuk mencatat kewajiban kontijensi atas jaminan oleh perusahaan)

Pendapatan jaminan yang belum dihasilkan Rp xxx,-


Pendapatan Jaminan Rp xxx,-
(Jurnal untuk mencatat kewajiban kontijensi atas jaminan oleh perusahaan)
*) Tulisan tersebut merupakan hasil Resume Buku Akuntansi Intermediate, Kieso and Weagant,
1995, Bhinarupa Akhsara.Dirangkum Oleh Sandhi Idhar Rosydi. Diposkan oleh Sandhi Idhar
Rosydi di 8:11:00 PM. Label: Akuntansi

 Kewajiban kontinjensi adalah:


a) kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu, dan keberadaannya menjadi pasti
dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa depan yang tidak
sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah; atau
b) kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak
diakui karena: (i) tidak terdapat kemungkinan besar (not probable ) pemerintah
mengeluarkan sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis untuk menyelesaikan
kewajibannya; atau (ii) jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.

 Keuntungan kontinjensi
Keuntungan kontinjensi (gain contingencies) adalah klaim atau hak untuk menerima aktiva
(atau memiliki kewajiban yang menurun) yang keberadaannya tidak pasti tetapi pada akhirnya
akan menjadi sah. Jenis keuntungan kontoinjensi yang khas adalah :
1. Penerimaan yang mungkin atas uang dari hadia, sumbangan, bonus, dan lain sebagainya.
2. Kemungkinan pengembalian dana dari pemerintah atas kelebihan pajak
3. Penundaan kasus pengadilan yang hasilnya mungkin menguntungkan
4. Kerugian pajak yang dikompensasi ke depan

 Kerugian Kontinjensi
Kerugian kontingensi (loss contiengencies) adalah situasi yang melibatkan ketidakpastian
atas kemungkinan terjadinya kerugian. Kewajiban yang terjadi sebagai akibat dari kerugian
kontinjensi menurut defenisinya disebut sebagai kewajiban kontinjen. Kewajiban kontijen
(contiegencies liabilities) adalah kewajiban yang bergantung pada terjadinya atau tidak
terjadinya satu atau lebih kejadian di masa depan untuk mengkonfirmasi jumlah hutang, pihak
yang dibayar, tangal pembayaran, atau keberadaannya.
Apabila terdapat kerugian kontinjensi, maka kemungkinan bahwa kejadian di masa depan akan
menguatkan terjadinya kewajiban dapat berkisar dari sangat mungkin hingga kurang mungkin.

 Pengakuan
Banyak peristiwa masa lalu yang dapat menimbulkan kewajiban kini. Walaupun demikian,
dalam beberapa peristiwa yang jarang terjadi, misalnya dalam tuntutan hukum, dapat timbul
perbedaan pendapat mengenai apakah peristiwa tertentu sudah terjadi atau apakah peristiwa
tersebut menimbulkan kewajiban kini. Jika demikian halnya, perusahaan menentukan apakah
kewajiban kini telah ada pada tanggal neraca dengan mempertimbangkan semua bukti yang
tersedia, termasuk misalnya pendapat ahli. Bukti yang dipertimbangkan mencakup, antara lain,
bukti tambahan yang diperoleh dari peristiwa setelah tanggal neraca. Atas dasar bukti tersebut,
apabila besar kemungkinan bahwa kewajiban kini belum ada pada tanggal neraca, pemerintah
mengungkapkan adanya kewajiban kontingensi. Pengungkapan tidak diperlukan jika
kemungkinan arus keluar sumber daya kecil. Kewajiban kontingensi dapat berkembang ke arah
yang tidak diperkirakan semula. Oleh karena itu, kewajiban kontingensi harus terus-menerus
dikaji ulang untuk menentukan apakah tingkat kemungkinan arus keluar sumber daya bertambah
besar (probable). Apabila kemungkinan itu terjadi, maka manajemen akan mengakui kewajiban
diestimasi dalam laporan keuangan periode saat perubahan tingkat kemungkinan tersebut terjadi,
kecuali nilainya tidak dapat diestimasikan secara andal. Pengukuran Besaran kewajiban
kontingensi tidak dapat diukur secara eksak. Untuk itu diperlukan pertimbangan profesional oleh
pihak yang berkompeten. Penyajian dan Pengungkapan Kewajiban kontingensi tidak disajikan
pada neraca , namun demikian perusahaan harus mengungkapkan kewajiban kontingensi pada
Catatan atas Laporan Keuangan untuk setiap jenis kewajiban kontingensi pada tanggal neraca.
 Pengukuran
Besaran kewajiban kontingensi tidak dapat diukur secara eksak. Untuk itu diperlukan
pertimbangan profesional oleh pihak yang berkompeten
 Penyajian Dan Pengungkapan
Kewajiban kontingensi tidak disajikan pada neraca, namun demikian harus mengungkapkan
kewajiban kontingensi pada Catatan atas Laporan Keuangan untuk setiap jenis kewajiban
kontingensi pada tanggal neraca
Pengungkapan tersebut dapat meliputi:
1. karakteristik kewajiban kontingensi;
2. estimasi dari dampak finansial yang diukur;
3. indikasi tentang ketidakpastian yang terkait dengan jumlah atau waktu aruskeluar
sumber daya;
4. kemungkinan penggantian oleh pihak ketiga
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan apakah kewajiban harus
dicatat berkaitan dengan perkara pengadilan yang ditunda atau yang mengancam dan klaim serta
pengenaan aktual atau yang mungkin, yaitu: a. Periode waktu di mana penyebab tindakan yang
mendasari terjadi, b. Probabilitas hasil yang tidak menguntungkan, c. Kemampuan untuk
membuat estimasi yang layak atas jumlah kerugian Jika sangat mungkin bahwa pelanggan akan
mengajukan klaim menurut jaminan yang berhubungan dengan barang atau jasa yang telah di
jual dan estimasi yang layak atas biaya yang terlibat dapat dilakukan, maka metode akrual harus
digunakan. Biaya jaminan menurut dasar akrual dapat dibebankan ke beban operasi pada tahun
penjualan. Premi, penawaran kupon, dan rabat diberikan untuk menstimulasi penjualan, dan
biayanya harus dicatat sebagai beban pada periode penjualan yang memperoleh manfaat dari
rencana premi.
PENYAJIAN DAN LAPORAN
Akun kewajiban lancar umumnya disajkan sebagai klasifikasi pertama dalam kelompok
kewajiban dan ekuitas pemegang saham pada neraca. Dalam kelompok kewajiban lancar akun-
akun itu dapat dicatat menurut jatuh temponya, dalam jumlah yang menurun, atau menurut
preferensi likuidasinya. Informasi yang terinci dan bersifat tambahan mengenai kewajiban lancar
harus memadai untuk memenuhi persyaratan pengungkapan penuh. Jika kerugian sangat
mungkin atau dapat diestimasi, tetapi tidak keduanya, dan jika paling sedikit terdapat
kemungkinan yang layak bahwa kewajiban mungkin akan terjadi, maka pengungkapan harus
dibuat dalam catatan mengenai sifat kontinjensi dan estimasi diberikan untuk kerugian yang
mungkin. Dua rasio yang digunakan untuk menganalisis likuiditas adalah rasio lancar dan rasio
cepat. Dalam PSAK No. 31, kontinjensi harus disajikan sedemikian rupa sehingga bila dikaitkan
dengan pos-pos aktiva dan pasiva dapat menggambarkan posisi keuangan bank secara wajar.
Kontinjensi merupakan transaksi yang belum mengubah posisi aktiva dan pasiva bank pada
tanggal pelaporan, tetapi harus dilaksanakan oleh bank apabila persyaratan yang telah disepakati
dengan nasabah terpenuhi. Kontinjensi ini dapat bersifat tagihan atau kewajiban baik dalam
rupiah maupun dalam valuta asing. PSAK No. 31 menyatakan bahwa sistematika penyajian
laporan komitmen dan kontinjensi disusun berdasarkan urutan tingkat kemungkinan
pengaruhnya terhadap perubahan posisi keuangan dan hasil usaha bank. Selanjutnya komitmen
dan kontijnensi baik yang bersifat sebagai tagihan maupun kewajiban masing-masing disajikan
secara tersendiri tanpa pos lawan. Dengan demikian, pengungkapan dalam laporan dilakukan
dengan single entry melalui rekening administratif yang merupakan pos di luar neraca (off
balance-sheet).
 Azas Konservatif dalam Kontinjensi
Pengungkapan data transaksi kontinjensi dalam laporan keuangan dikaitkan
dengan penerapan konsep atau azas konservatif atau berhati-hati dalam prinsip akuntansi.
Keuntungan dan Kelemahan dari Mengkonvergensi IFRS

Dengan mengadopsi IFRS, suatu bisnis dapat menyajikan laporan keuangan dengan dasar yang sama
sebagai pesaing asing, membuat perbandingan lebih mudah. Selain itu, perusahaan dengan anak perusahaan di
negara-negara yang memerlukan atau mengizinkan IFRS mungkin dapat menggunakan salah satu bahasa akuntansi
perusahaan-lebar.. Perusahaan-perusahaan juga mungkin perlu mengkonversi ke IFRS jika mereka adalah anak
perusahaan dari sebuah perusahaan asing yang harus menggunakan IFRS, atau jika mereka memiliki investor asing
yang harus menggunakan IFRS.. Perusahaan juga dapat merasakan manfaat dengan menggunakan IFRS jika mereka
ingin meningkatkan modal di luar negeri.
Walaupun sebuah keyakinan oleh beberapa keniscayaan penerimaan global IFRS, yang lain percaya bahwa US
GAAP adalah standar emas, dan bahwa sesuatu akan hilang dengan penerimaan penuh IFRS. Selanjutnya, emiten
AS tertentu tanpa pelanggan atau operasi yang signifikan di luar Amerika Serikat IFRS mungkin menolak karena
mereka mungkin tidak memiliki pasar IFRS insentif untuk menyiapkan laporan keuangan. Mereka mungkin percaya
bahwa biaya yang signifikan terkait dengan mengadopsi IFRS lebih besar daripada manfaatnya.

4. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil dan Menengah (SAK-EMKM)

Exposure DraftStandar Akuntabilitas Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (ED SAK EMKM)
disusun untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangna entitas mikro, kecil dan menengah. Undang-undang No 20
Tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil, dan menengah dapat digunakan sebagai acuan dalam mendefinisikan dan
memberikan rentang kuantitatif EMKM. ED SAK ditujukan untuk digunakan oleh entitas yang tidak atau belum
mampu memenuhi persyaratan akuntansi yang diatur dalam SAK-ETAP. ED SAK EMKM berlaku efektif tanggal 1
Januari 2018.