Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

PERCOBAAN III
PEMISAHAN SENYAWA ORGANIK
Ekstraksi: Isolasi Kafein dari Teh dan Uji Alkaloid

Disusun oleh :

Nama : Dini Wahidah


NPM : 10060316211
Shift/ Kelompok : G/5
Tanggal Praktikum : 26 April 2018
Tanggal Pengumpulan : 03 Mei 2018
Nama Asisten : Nety Kurniaty, S.Si., M.Sc.

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT A


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2018 M/ 1439 H
PERCOBAAN III
“PEMISAHAN SENYAWA ORGANIK”
Ekstraksi: Isolasi Kafein dari Teh dan Uji Alkaloid

I. Tujuan Percobaan

 Isolasi kafein dari daun teh dengan cara ekstraksi padat- cair dekokta

dilanjutkan ekstraksi cair- cair.

 Pemurnian kafein hasil isolasi dengan cara rekristalisasi.

 Mengidentifikasi kafein hasil ekstraksi dengan cara uji KLT, uji alkaloid

dengan pereaksi dragendroff dan pereaksi meyer, dan uji titik leleh.

II. Prinsip Percobaan

 Ekstraksi adalah pemisahan berdasarkan perbedaan kepolaran.

 Rekristalisasi adalah pemurnian berdasarkan perbedaan kelarutan antara

zat atau senyawa yang akan dimurnikan dengan pengotor.

 KLT adalah pemisahan berdasarkan perbedaan kepolaran dan kecepatan

migrasi.

Uji Alkaloid adalah reaksi pengendapan antara senyawa alkaloid dengan

pereaksi meyer dan dragendorff.

Uji Titik Leleh adalah perubahan wujud dari padat menjadi cair pada suhu

titik leleh karena adanya pemanasan.

III. Teori Dasar

4.1 Ekstraksi

Ekstraksi adalah penyarian zat-zat aktif dari bagian tanaman obat. Adapun

tujuan dari ekstraksi yaitu untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam
simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke

dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian

berdifusi masuk ke dalam pelarut. (Achmad,1986).

4.1.1. Penggolongan Ekstraksi

A. Berdasarkan Bentuk

 Ekstraksi Padat Cair


Pada ektraksi padat-cair, zat yang diekstraksi terdapat didalam campuran

yang berbentuk padatan. Ekstraksi padat-cair dilakukan dengan melarutkan terlebih

dahulu zat yang akan diekstraksi. Ukuran zat padat yang mengandung bahan

organik dan kontak dengan pelarut sangatlah penting. Karena itulah peralatan

soxhlet sering dipakai dalam ekstraksi jenis ini. Jenis ekstraksi padat cair yaitu:

 Maserasi
 Perkolasi
 Refluks
 Ekstraksi Sinambung (Soxhlet)
(Stahl,1985).

 Ekstraksi Cair Cair


Pada ekstraksi cair-cair, zat yang diekstraksi terdapat dalam campuran yang
berbentuk cairan. ECC pada dasarnya adalah pemisahan senyawa berdasarkan atas
sifat ketertarikannya pada suatu fasa tertentu (fasa air ataupun fasa organik)
berdasarkan prinsip like dissolve like. Syarat pelarut pada ECC yaitu: tidak
bercampur dengan pelarut dalam campurannya, memiliki tingkat volatilitas tinggi,
dan inert (Stahl,1985).
Teknik ekstraksi dapat digolongkan menjadi 3, yaitu :
 Bertahap
Ekstraksi bertahap merupakan metode ekstraksi yang paling sederhana.
Pelaksanaan ekstraksi dilakukan dengan menggunakan alat corong pemisah. Zat
yang akan diekstrak dilarutkan dalam air kemudian dimasukkan dalam corong
pemisah. Pelarut pengekstrak (biasanya pelarut organik) ditambahkan kepada
larutan air agar zat terlarut dapat diekstrak ke dalam cairan pengekstrak. Campuran
dalam corong pemisah tersebut harus dikocok berulang kali, dan setelah didiamkan
beberapa saat, terbentuk dua lapisan (Stahl,1985).

Gambar 4.1. Corong pisah

 Ekstraksi Kontinyu (Ekstraksi sampai habis-ekstraksi serba terus)

Teknik ekstraksi kontinyu ini khususnya bagi zat dengan harga D sangat
kecil (< 1). Bila keadaan ini terjadi, maka ekstraksi bertahap dengan corong
pemisah menjadi kurang praktis, karena harus dilakukan ratusan kali.
Gambar 4.2. Alat ekstraksi kontinyu

Pada prinsipnya di dalam alat ekstraksi kontinyu terjadi aliran kontinyu


(terus menerus) dari pelarut melalui suatu larutan zat yang tidak di ekstrak
(Stahl,1985)

 Counter Current Craig Extraction (Ekstraksi dengan arah berlawanan


menurut Craig)

Gambar 4.3. Sel kaca yang khas untuk peralatan Craig


 Pemisahan Fase Padat/Solid Phase Extraction (SPE)

SPE merupakan metode ekstraksi yang digunakan untuk mengisolasi satu


jenis analit dari larutan dengan menggunakan fase padat dan fase cair. SPE juga
digunakan untuk memisahkan setiap bagian senyawa dari campuran. SPE banyak
digunakan sebagai salah satu mekanisme preparasi sampel sebelum dilakukan
pengukuran baik dengan spektrofotometer UV, KCKT, dll. Pada preparasi sampel
untuk analisis, SPE bertujuan untuk memurnikan senyawa uji dari senyawa lain
yang dapat mengganggu pengukuran. Prinsip SPE hampir mirip dengan Ekstraksi
Cair-Cair (Liquid Liquid Extraction / LLE). Dimana dasar pemisahan adalah
kemampuan senyawa untuk tertarik pada fase diam yang berupa padatan (sorbent)
dan fase gerak berupa liquid. Pemilihan sorbent SPE didasarkan pada sifat analit
yang akan dipisahkan sehingga mampu berinteraksi dengan fase diam. Oleh karena
itu, perlu difahami terkait sifat kepolaran serta ionogenik baik dari solut maupun
sorbent. Mekanisme retensi paling umum digunakan pada SPE biasanya didasarkan
pada beberapa interaksi diantaranya : interaksi gaya van der waals (interaksi
nonpolar), interaksi ikatan hidrogen, gaya dipol (interaksi polar), serta interaksi
kation-anion (interaksi ionik) (Brown, 1998)

Gambar 4.4. Alat SPE

B. Berdasarkan Waktu Kontak

• Ekstraksi Bertahap
– Maserasi
– Refluks
– ECC (corong Pisah)
• Ekstraksi Sinambung
– ECC (Craig)
– Sinambung dengan Alat Soxhlet
(Stahl,1985).
C. Berdasarkan Energi yang Digunakan

1. Cara Panas

 Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya


selama waktu tertentu dan dalam jumlah pelarut terbatas yang relative konstan
dengan adanya pendingin balik (Depkes RI, 2000)
 Sinambung (soxhlet)

Soxhletasi adalah proses untuk menghasilkan ekstrak cair yang dilanjutkan


dengan proses penguapan. Pada cara ini pelarut dan simplisia ditempatkan secara
terpisah. Sokhletasi digunakan untuk simplisia dengan khasiat yang relatif stabil
dan tahan terhadap pemanasan. Prinsip kerja soxhlet adalah penyarian secara terus-
menerus sehingga penyarian lebih sempurna dengan memakai pelarut yang relatif
sedikit. Jika penyarian telah selesai maka pelarutnya diuapkan dan sisanya adalah
zat yang tersari. Biasanya pelarut yang digunakan adalah pelarut yang mudah
menguap atau mempunyai titik didih yang rendah (Depkes RI, 2000).
 Digesti

Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang


lebih tinggi dari temperatur kamar, yaitu pada 40-50°C (Depkes RI, 2000).
 Dekokta

Rebusan (dekokta) merupakan simplisia halus yang dicampur dengan air

bersuhu kamar atau dengan air bersuhu > 90ºC sambil diaduk berulang-ulang dalam

pemanas air selama 30 menit (Voigt, 1994).


 Infusa

Infus adalah ekstraksi menggunakan pelarut air pada temperature penangas


air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperature terukur 90°C
selama 15 menit (Depkes RI, 2000)

2. Cara Dingin

Metoda ini untuk mengambil senyawa yang termolabil, mengekstraksi yang

belum diketahui. Metod ini tidak ada proses pemanasan selama proses ekstraksi

berlangsung, tujuannya untuk menghindari rusaknya senyawa yang dimaksud rusak

karena pemanasanan. Jenis ekstraksi dingin adalah maserasi dan perkolasi (Syukri,

2017).

 Maserasi

Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia

dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung

dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel

akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan

di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh

cairan penyari dengan konsentrasi rendah ( proses difusi ). Peristiwa tersebut

berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di

dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan

penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan.

(Syukri, 2007).
 Perlokasi

Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia dimaserasi

selama 3 jam, kemudian simplisia dipindahkan ke dalam bejana silinder yang

bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah

melalui simplisia tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel

simplisia yang dilalui sampai keadan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh

karena gravitasi, kohesi, dan berat cairan di atas dikurangi gaya kapiler yang

menahan gerakan ke bawah. Perkolat yang diperoleh dikumpulkan, lalu dipekatkan.

(Syukri, 2007)

Syarat pengekstrasi yang baik:

1. Dapat melarutkan komponen yang ingin diekstraksi.

2. Tidak larut pada larutan pertama

3. Hanya sedikit, atau bahkan tidak melarutkan pengotor.

4. Dapat dengan mudah dipisahkan dari komponen yang ingin didistilasi

(biasanya dengan distilasi)

5. Tidak bereaksi dengan larutan pertama.

6. Syarat pelengkap lainnya, seperti harga bahan, mudah tidaknya

terbakar, berbahaya atau tidaknya juga menjadi bahan pertimbangan

dalam memilih pengekstrasi. (Khopkar, 2007)

4.2 Rekristalisasi

Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari pengotornya

dengan cara mengkristalkan kembali zat padat tersebut setelah dilarutkan dengan

pelarut yang sesuai. Prinsip dasar dari pemisahan ini adalah berdasarkan perbedaan
kelarutan antara zat padat yang akan dimurnikan dengan zat pengotor. Hal ini

disebabkan karena konsentrasi total pengotor biasanya lebih kecil dari konsentrasi

zat padat yang akan dimurnikan, dalam kondisi dingin, konsentrasi pengotor yang

rendah akan tetap dalam larutan sementara zat yang berkonsentrasi tinggi akan

mengendap (Pinalia, A, 2011: 2)

Prinsip dasar dari proses rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat

yang dimurnikan dengan zat pengotornya. Syarat – syarat pelarut yang sesuai

adalah : pelarut tidak bereaksi dengan zat yang dilarutkan, pelarut hanya dapat

melarutkan zat yang akan dimurnikan dan tidak melarutkan zat pencemarnya. Titik

didih pelarut harus lebih rendah dari titik leleh zat yang akan dimurnikan agar zat

tersebut tidak terurai (Kotz, 2006:435- 436).

Dalam rekristalisasi, terdapat hal- hal yang perlu diperhatikan sehingga

proses pemurnian zat padat dapat berhasil yaitu pemilihan pelarut yang harus inert,

melarutkan zat terlarut, menghilangkan warna larutan, memindahkan zat padat,

mengkristalkan larutan, mengumpul dan mencuci kristal biasanya menggunakan

filtrasi, dan proses mengeringkan produk/ hasil. Rekristalisasi yang dianggap

berhasil adalah jumlah kristal yang terbentuk mendekati jumlah kristal sebelum

rekristalisasi ( tidak banyak kristal yang hilang, efisien). Selain itu, bentuk kristal

cenderung seragam untuk ukuran mendekati bulat (Underwood, 1996: 178)

Pelarut yang paling banyak digunakan dalam proses rekristalisasi adalah

pelarut cair, karena tidak mahal, tidak reaktif dan setelah melarutkan zat padat

organik bila dilakukan penguapan akan lebih mudah memperolehnya kembali.


Kriteria pelarut yang baik:

Tidak bereaksi dengan zat padat yang akan direkristalisasi.

Zat padatnya harus mempunyai kelarutan terbatas (sebagian) atau relatif tak

larut dalam pelarut, pada suhu kamar atau suhu kristalisasi.

Zat padatnya mempunyai kelarutan yang tinggi (larut baik) dalam suhu

didih pelarutnya.

Titik didih pelarut tidak melebihi titik leleh zat padat yang akan

direkristalisasi. Cara rekristalisasi yang dilakukan ditentukan oleh jenis

pengotor yang akan dibuang atau di pisahkan (Horizon, 2003

: 18)

4.3 Kromatografi

Menurut IUPAC, kromatografi merupakan metode yang digunakan untuk

memisahkan campuran komponen dalam sampel, dimana setiap komponen akan

terdistribusi dalam dua fase yaitu fase diam (Stationary Phase) dan fase gerak

(Mobile Phase)

4.3.1. Macam- Macam Kromatografi

• Kromatografi lapis tipis (TLC)

KLT merupakan jenis kromatografi bidang planar (datar). Fase diam berupa

padatan, sedangkan fase gerak berupa cairan. Prinsip mekanisme kerjanya adalah

adsorpsi (penjerapan). Tehnik pengerjaannya adalah dengan menotolkan sampel

pada bidang datar, kemudian sampel tersebut dielusi oleh fase gerak berupa larutan.

Senyawa yang memiliki afinitas tinggi terhadap fase diam akan tertahan pada fase
diam, namun senyawa yang afinitasnya rendah akan terbawa oleh fase gerak. Hal

tersebut akan menghasilkan spot terpisah berupa pigmen (Brown, 1998).

• Kromatografi kertas (Paper Chrom)

KKt sama seperti KLT merupakan jenis kromatografi planar. Perbedaan

dengan KLT, pada KKt mekanismenya adalah Partisi, yaitu terjadinya proses

distribusi antara dua fase yaitu fase diam dan fase gerak. Kertas kromatografi tidak

berperan sebagai fase diam, melainkan hanya sebagai penyangga (Brown, 1998).

Gambar 4.5. Kertas kromatografi

Kertas terdiri selulosa murni. Adapun fase diam pada KKt adalah air yang

terjerap pada selulosa tersebut. Kertas terlebih dahulu diimpregnasi dengan air, atau

dapat pula dengan senyawa lipofil. Prosedur analisis KKt sama hampir sama

dengan KLT (Brown, 1998). Bedanya pada KKt selain mekanisme partisi, proses

pengembangannya dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:


– Menaik

Gambar 4.6. Jenis KKt menaik

– Menurun

Gambar 4.7. Jenis KKt menurun

– Radial
Gambar 4.8. Jenis KKt Radial

• Kromatografi kolom (Colum Chrom)

Kromatografi kolom merupakan salah satu metode yang sangat berguna

dalam pemisahan dan pemurnian suatu komponen dari campurannya. Termasuk

dalam liquid chromatography (LC). Mekanisme pemisahannya berdasarkan

perbedaan migrasi komponen-komponen akibat perbedaan distribusi pada dua fase

yang tidak saling bercampur. Perbedaan distribusi dapat disebabkan proses adsorpsi

(fase diam berupa zat padat dan fase gerak berupa zat cair) atau partisi (fase diam

dan fase gerak berupa zat cair). Fase diam berupa silika gel, alumina, selulosa,

kalsium karbonat, florisil. Fase gerak bisa pelarut murni atau campuran. Adsorben

dipak dalam sebuah kolom dan fase gerak melewati kolom dengan bantuan tekanan

atau gaya gravitasi sehingga komponen-komponen campuran dapat dipisahkan

(Brown, 1998).
Gambar 4.9. Peralatan Kromatografi Kolom

• Kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC)

Ciri teknik ini adalah penggunaan tekanan tinggi untuk mengirim fase gerak

kedalam kolom, sehingga laju dan pemisahan dapat ditingkatkan dengan besar.

Besar tekanan bisa mencapai 6000 psi. Fase diam : polimer yang terdapat dalam

kolom yang berfungsi menahan komponen campuran dan fase gerak : solven yang

berfungsi melarutkan zat komponen campuran (Brown, 1998).

Gambar 4.11. Peralatan SPE


• Kromatografi Penukar Ion (Ion Exchange)

Kromatografi yang didasarkan pada pertukaran ion baik ion positif atau

negatif yang terdapat didalam fase gerak dengan ion yang terdapat difase diam. Jadi

analit pada kromatografi ini adalah ion. Pada proses kromatografi elektrolit didalam

larutan akan berkontak dengan resin penukar ion. Ion aktif yang terdapat didalam

resin digantikan dengan ion yang terdapat didalam analit yang memiliki muatan

yang sama. Fase diam berupa resin berbentuk matriks polimer yang dimodifikasi

sehingga menjadi bermuatan. Resin merupakan fase diam penukar ion yang paling

sering digunakan. Resin biasanya berbahan dasar polimer stirena-divinilbenzena

dan poliakrilat. Fase diam untuk kromatografi penukar ion ini biasanya dikemas

dalam bentuk kolom. Terdiri dari matriks dengan gugus bermuatan yang menempel

secara kovalen. Dikenal dua tipe penukar ion resin penukar ion positif (kation) dan

resin penukar ion negatif (anion) (Brown, 1998).

4.4 Teh

4.4.1. Definisi Teh

Tanaman teh (Camellia sinensis) berasal dari negeri Cina. Tanaman ini

ditemukan secara tidak sengaja oleh Kaisar Shen Nung (2737 SM). Tahun 780 M,

seorang cendikiawan bernama Lu Yu membukukan temuan-temuannya tentang

manfaat dan kegunaan teh ke dalam sebuah literatur berjudul Cha Cing (Teh Classic

of Tea). Teh umumnya tumbuh di daerah yang beriklim tropis dengan ketinggian

antara 200-2000 mdpl, dengan suhu cuaca antara 14-25 ˚C (Alamsyah, 2006).
Tanaman teh (Camellia sinensis L. var. assamica) diklasifikasikan sebagai

berikut:

Devisi : Spermatophyte (tumbuhan biji)

Sub divisi : Angiospermae (tumbuhan biji terbuka)

Kelas : Dicotylydoneae (tumbuhan biji belah)

Sub kelas : Dialypetalae

Ordo (bangsa) : Guttiferales (Clusiales)

Famili (suku) : Camelliaceae (Tehaceae)

Genus (marga) : Camellia

Spesies (jenis) : Camellia sinensis

Varietas : Assamica

(Tuminah, 2004)

4.4.2. Kelompok Utama Teh

a. Black Tea (teh hitam ) adalah jenis teh yang dalam pengolahannya, melalui

proses fermentasi secara penuh.

b. Oolong Tea ( teh oolong ) adalah jenis teh yang dalam pengolahannya hanya

melalui setengah proses fermentasi.

c. Green Tea ( teh hijau ) adalah jenis teh yang dalam pengolahannya tidak melalui

proses fermentasi.
4.4.3 Komposisi Kimia Daun Teh Hijau

Secara umum teh hijau, teh hitam dan teh oolong berasal dari jenis tanaman

teh yang sama yakni Camelia sinensis, namun ada perbedaan yang cukup berarti

dalam kandungan polifenolnya karena perbedaan cara pengolahan. Kandungan

polifenol, senyawa antioksidan yang kemudian diyakini berkhasiat bagi kesehatan,

tertinggi diperoleh pada teh hijau, kemudian oolong, lalu disusul teh hitam. Daun

teh hijau memiliki kandungan 15-30% senyawa polifenol. Teh hijau diolah melalui

inaktivasi enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh tanpa

mengalami proses fermentasi. Perbedaan dari proses pengolahan teh tersebut

berpengaruh pada kandungan polifenolnya (Alamsyah, 2006).

Vakuola dalam sel daun teh mengandung zat-zat yang larut dalam air,

seperti katekin, kafein, aneka asam amino, dan berbagai gula. Enzim pengoksida

terdapat dalam sitoplasma yaitu polifenol oksidasi, klorofil, dan karoten. Daun teh

mengandung 30-40 % polifenol yang sebagian besar dikenal sebagai katekin.

Komposisi daun teh terkenal sangat kompleks. Lebih dari 400 komponen kimiawi

telah diidentifikasi terkandung dalam daun teh. Jumlah komponen kimiawi ini

berbeda-beda tergantung pada tanah, iklim, dan usia daun teh ketika dipetik

(Alamsyah, 2006). Komposisi aktif utama yang terkandung dalam daun teh adalah

kafein, tanin, tehophylline, tehobromine, lemak, saponin, minyak esensial, katekin,

karotin, vitamin C, A, B1, B2, B12 dan P, fluorite, zat besi, magnesium, kalsium,

strontium, tembaga, nikel, seng, dan fosfor. Semakin tua daun teh semakin banyak

mengandung tanin (Fulder, 2004).


Tabel 1. Komposisi Kimia Daun The Hijau

No. Komponen Kimia % (b/b) Berat Kering

1 Kafein 7.43

2 (-) Epikatekin 1,98

3 (-) Epikatekin galat 5,20

4 (-) Epigalokatekin 8,42

5 (-) Epigalokatekingalat 20,29

6 Flavonol 2,32

7 Teanin 4,70

8 Asam glutamate 0,50

9 Asam Aspartate 0,50

10 Arginin 0,74

11 Asam amino lain 0,74

12 Gula 6,68

13 Bahan yang dapat mengendapkan alcohol 12,13

14 Kalium 3,96

Sumber: Tuminah 2004

4.4.4 Senyawa Aktif dalam Daun Teh Hijau

Teh hijau adalah jenis teh yang dibuat dengan cara menginaktivasi enzim

oksidase dan fenolase yang ada dalam pucuk daun teh segar. Proses pengolahan teh

hijau melalui beberapa tahapan yaitu pemanasan, penggulungan, pengeringan.

Proses pemanasan ini bertujuan untuk menginaktifkan enzim katekol oksidase.

Dengan inaktifnya enzim tersebut maka tanin yang terdapat dalam daun teh akan
tetap utuh dan tersimpan dalam jaringan tanaman sehingga dengan demikian kadar

tanin dalam teh hijau akan tetap tinggi. Pemanasan diartikan sebagai pelayuan daun

dengan cara penguapan maupun penyangraian (Alamsyah, 2006).

Jenis polifenol dalam tanaman pada umumnya adalah asam fenolat,

flavonoid, dan tannin. Ada sekitar 4000 jenis polifenol yang masuk ke dalam grup

flavonoid. Flavonoid merupakan hasil metabolit sekunder tanaman yang secara luas

terdistribusikan dalam tanaman. Pengelompokan flavonoid dibedakan berdasarkan

cincin heterosiklik-oksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut

pola yang berlainan pada rantai C3. Flavonoid dapat digolongkan menjadi enam

kelas, yaitu flavon, flavanon, isoflavon, flavonol, flavanol, dan antosianin. Kelas

utama flavonoid yang ditemukan di dalam teh adalah flavanol dan flavonol

(Alamsyah, 2006).

Katekin merupakan kelompok terbesar dari komponen daun teh, terutama

kelompok katekin flavanol. Katekin teh masuk ke dalam kelas flavanol. Katekin

yang utama dalam teh adalah epicatechin (EC), epicatechin gallate (ECG),

epigallocatechin (EGC), dan epigallocatechin gallate (EGCG). Perubahan aktivitas

katekin selalu dihubungkan dengan sifat seduhan teh, yaitu rasa, warna dan aroma

(Hartoyo, 2003). Katekin teh bersifat antimikroba (bakteri dan virus), antioksidan,

antiradiasi, memperkuat pembuluh darah, melancarkan sekresi air seni, dan

menghambat pertumbuhan sel kanker. Katekin merupakan senyawa tidak berwarna,

larut dalam air, serta menyebabkan rasa pahit dan rasa yang tajam pada seduhan teh

(Alamsyah, 2006).
Katekin mudah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh pemaparan

oksigen, panas, dan cahaya. Jika katekin teroksidasi, maka EGCG, ECG, EGC, dan

GC akan mengalami epimerisasi menjadi gallocatechin gallate (GCG), catechin

gallate (CG), gallocatechin (GC), dan catechin (C). Jenis flavonoid yang lain adalah

flavonol, tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan flavanol. Flavonol yang

terdapat di dalam teh adalah quercetin, myricetin, dan kaempferol. Berbeda dengan

katekin, flavonol tidak dipengaruhi oleh enzim polifenol oksidase (Alamsyah,

2006).

Kadar total empat katekin dalam teh hijau adalah sekitar 25% atas dasar

berat kering. EGCG adalah katekin teh paling berlimpah yakni menyumbang 65%

dari kandungan katekin total dalam teh hijau. EGCG diketahui juga memiliki

aktivitas antioksidatif sangat kuat. Stabilitas katekin sangat dipengaruhi oleh pH

dan suhu. Menurut penelitian Julian tahun 2011, semakin tinggi pH dan suhu, maka

jumlah katekin pun akan semakin menurun (Alamsyah, 2006).

Kandungan katekin pada daun teh dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan Katekin dalam 100 g daun teh

Katekin g/100 g daun

Epigalokatekin 2.35

Galoketakin 0.37

Epikatekin 0.63

Katekin 0.35

Epigalokatekin galat (EGCG) 10.55

Epikatekin galat 2.75


Sumber: Suryatno (2003).

Tanin merupakan fenol yang larut dalam air yang merupakan bagian dari

reaksi fenol dan mempunyai kemampuan untuk mengikat alkaloid, gelatin, dan

protein. Tanin memiliki sifat fisik yaitu berbentuk serbuk warna putih, kuning

sampai kecoklatan dan berubah menjadi coklat tua bila kena sinar matahari,

mempunyai rasa spesifik (sepat). Tanin adalah suatu senyawa fenol aktif pada

penyamakan kulit dan penyebab rasa sepet, sebagai senyawa fenol maka tanin

memiliki sifat-sifat menyerupai alkohol yang salah satunya adalah bersifat

antiseptik (Alamsyah, 2006).

Secara kimia, tanin dibagi menjadi dua golongan yaitu tanin terhidrolisis

dan tanin terkondensasi . Tanin yang dapat dihidrolisis akan menghasilkan senyawa

seperti asam galat, asam elegat, atau asam-asam lainnya. Sedangkan tanin

terkondensasi merupakan tanin yang terjadi karena proses kondensasi flavonol .

Tanin pada teh merupakan tanin yang tidak dapat dihidrolisa atau tanin

terkondensasi. Tanin tersebut mempunyai sifat larut dalam air, alkohol, gliserin,

aseton, tidak larut dalam eter, benzen, berasa sepat, berwarna kuning, amorf, ringan

dan tidak berbau. Di dalam air, tanin tersebut akan berbentuk koloid. Apabila airnya

diuapkan maka akan tinggal bubuk yang berwarna merah kecoklatan. Tanin

terkondensasi sering disebut proantosianidin yang merupakan polimer katekin dan

epikatekin (Alamsyah, 2006).

4.4.5. Dampak Teh Untuk Kesehatan


Dampak Positif :
a. Menurunkan Berat Badan
b. Mengurangi resiko penyakit jantung dan stroke
c. Mencegah Kanker
d. Meningkatkan metabolisme tubuh
e. Mencegah Diabetes

 Dampak Negatif:

a. Terkena resiko anemia

Kandungan kafein, fluorin, dan tannin pada teh di ketahui


menghambat penyerapan zat besi yang berasal dari makanan. Zat besi
sangat dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah. Jika kondisi ini
terus berlangsung maka bukan tidak mungkin penderita akan mengalami
anemia. Resiko bahaya kafein juga berdampak pada masalah kesehatan
lainnya.

b. Resiko batu ginjal

Teh memiliki kandungan zat oxalate yang merupakan penyebab


utama pembentukan batu ginjal. Resiko batu ginjal tersebut kebanyakan
diderita oleh usia diatas 40 tahun, dan kalangan pria memiliki potensi lebih
besar menderita batu ginjal daripada wanita.

c. Sakit maag

Minum teh di saat perut sedang kosong ternyata membuat asam


lambung semakin meingkat. Asam lambung terus di produksi dalam
lambung untuk membantu proses penyerapan makanan di dalam lambung.

d. Resiko keguguran pada ibu hamil

Untuk ibu hamil sangat di perhatikan untuk tidak mengkonsumsi teh


terlalu banyak. Studi yang baru-baru ini dilakukan menemukan bahwa
komposisi teh yang mengandung kafein dapat merangsang kontraksi pada
rahim. Akibatnya, untuk ibu hamil di usia muda akan membuat kandungannya
berpotensi mengalami keguguran.
e. Resiko bayi lahir prematur

Selain itu, kafein yang ada pada teh juga akan membuat bayi lahir prematur
karena kontraksi rahim yang semakin kuat karena kandungan teh tersebut. Bahaya
lainnya, pada seorang ibu yang menyusui jika mengkonsumsi teh terlalu banyak
akan membuat terhabatnya produksi kelenjar ASI.

f. Resiko kanker

Pertumbuhan sel kanker ini bisa disebabkan oleh jenis teh tertentu seperti
teh celup. Pembuatan teh celup menggunakan serbuk teh yang dibungkus dalam
kertas yang dibuat dari senyawa chlorine.

g. Resiko jantung

Kadar kafein dalam teh akan membuat jantung berdetak lebih cepat,
dikarenakan tekanan darah yang meningkat. Selain itu konsumsi konsumis teh pada
penderita penyakit jantung akan menimbulkan perasaan gelisah hingga mengalami
arrhytmia yang artinya detak jantung tidak berirama. Bagi penderita penyakit
jantung ini merupakan kondisi yang berbahaya dan bisa berakibat pada kondisi
yang lebih kritis.

h. Mengurangi nafsu makan

Bagi anak-anak yang sering mengalami masalah susah makan sebaiknya


jangan diberikan minuman teh. Secara praktis akan membuat anak semakin
bersemangat, namun bahayanya dibaliknya justru membuat anak kehilangan nafsu
makan. Hal itu disebabkan oleh saat teh masuk ke dalam organ pencernaan akan
membuat selaput lendir menurun yang akibatnya akan mengganggu proses
penyerapan. Kondisi tersebut akan membuat rangsangan untuk malas makan.

i. Sering sakit kepala

Kondisi ini adalah akibat dari konsumsi teh baik manis atau tawar secara
berlebihan. Minum teh seperti yang diulas di awal bisa membuat terhambatnya
penyerapan zat besi oleh tubuh yang akhirnya pembuatan sel darah merah pun
semakin menurun. Kekurangan darah akan mempengaruhi organ tubuh seperti otak.

IV. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah corong pisah, corong

buchner, rotary evaporator, KLT (chamber, plat KLT), labu erlenmeyer, neraca

analitik, melting block, penangas air, pipet tetes, pipa kapiler, dan spatula.

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah aquades, aseton panas,

daun teh, diklorometana, etil asetat, kalsium klorida anhidrat, kertas saring,

metanol, natrium karbonat, n- heksan, pereaksi Meyer, dan pereaksi Dragendroff.

V. Prosedur Percobaan

Pada percobaan kali ini praktikan melakukan beberapa percobaan

diantaranya Ekstraksi padat / cair, uji kromatografi lapis tipis, dan uji alkaloid.

A. Ekstraksi Padat/ Cair: ekstraksi kafein dari teh

Dimasukkan 25 g daun teh kering dan 20 g natrium karbonat ke dalam labu

erlenmeyer 250 mL, lalu ditambahkan 150 mL air mendidih. Dibiarkan campuran

selama 7 menit, kemudian didekantasi campuran ke dalam labu erlenmeyer lain. Ke

dalam daun teh ditambahkan 50 mL air panas lalu segera di dekantasi ekstrak teh

dan disaring.
Gambar Pemisahan berdasarkan perbedaan wujud zat ( antara wujud cair

dan padat) dengan cara dekantasi

Untuk mengekstrak sisa kafein yang mungkin ada, dididihkan air berisi

daun teh selama 20 menit, lalu didekantasi ekstraknya. Didinginkan ekstrak teh

hingga suhu kamar, lalu dilakukan ekstraksi dalam corong pisah dengan

penambahan 100 mL diklorometana. Dikocok corong pisah secara pertahan selama

5 menit (supaya tidak terbentuk emulsi), sambil membuka keran corong pisah untuk

mengeluarkan tekanan udara/ gas dari dalam corong pisah. Diulangi ekstraksi

dengan menambahkan 100 mL diklorometana ke dalam corong pisah.

Gambar ECC menggunakan corong pisah


Digabungkan ekstrak diklorometana lalu tambahkan kalium klorida

anhidrat, sambil diaduk/ digoyang selama 10 menit. Secara hati- hati, didekantasi

ekstrak diklorometana jangan sampai gumpalan kalsium klorida anhidrat ikut

terbawa atau disaring ekstrak diklorometana menggunakan penyaringan biasa.

Gambar penyaringan dengan corong buchner

Kemudian, dievaporasu menggunakan rotary evaporator.

Gambar Bagian- Bagian Rotary Evaporator

Dilakukan rekristalisasi menggunakan 5 mL aseton panas, lalu dipindahkan

dengan pipet ke dalam labu erlenmeyer kecil, dan dalam keadaan panas,

ditambahkan n- heksan. Tetes demi tetes sampai terbentuk kekeruhan. Didinginkan


dengan cara direndam dalam air es. Kristal yang terbentuk disaring dengan

penyaringan isap (vakum).

B. Uji Kromatografi Lapis Tipis (TLC)

Dilarutkan sedikit sampel kristal kafeinn hasil ekstraksi dari daun teh

dengan sedikit diklorometana atau kloroform. Kemudian sampel ini ditotolkan di

atas plat TLC sampai nodanya cukup tebal. Dilakukan elusi TLC menggunakan

eluen etil asetat: metanol= 3:1 dan dilakukan elusi juga dengan eluen kloroform

:metanol= 9:1. Dilakukan elusi sampai batas plat, dikeluarkan dan dikeringkan di

udara. Disemprot plat yang telah dikembangkan dengan pereaksi semprot

Dragendroff dan setelah itu dipanaskan hingga kering. Adanya alkaloid akan

ditunjukkkan oleh noda pada plat berwarna jingga. Ditentukan Rf masing- masing

noda, dibandingkan.

C. Uji Alkaloid

Dilarutkan kristal kafein dalam air. Diteteskan 1-2 tetes pereaksi Meyer.

Larutan mengandung alkaloid, maka akan terjadi endapan kuning muda. Ke dalam

larutan kafein lainnya dimasukkan 1-2 tetes pereaksi Dragendroff, pengujian positif

akan ditunjukkan dengan terjadinya endapann jingga,.

VI. Hasil Pengamatan dan Perhitungan

4.1 Ekstraksi padat/ cair: ekstrak kafein dari teh

Bobot awal sampel = 25 g

Berat kertas saring = 0,52 g


Bobot kristal = 0,07 g

(𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠 𝑠𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔+𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑘𝑟𝑖𝑠𝑡𝑎𝑙)−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠 𝑠𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔


% rendemen= x100 %
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

0,59 𝑔−0,52 𝑔
= x 100 %
25 𝑔
0,07 𝑔
= x 100 %
25 𝑔

= 0,28 %

Data Pengamatan : Kelompok I

Bobot awal sampel = 25 g

Berat perkamen = 0,5 g

Bobot kristal = 0,17 g

(𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑎𝑚𝑒𝑛+𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑘𝑟𝑖𝑠𝑡𝑎𝑙)−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑎𝑚𝑒𝑛


% rendemen= x100 %
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

0,17 𝑔
= x 100 %
25 𝑔
0,17 𝑔
= x 100 %
25 𝑔

= 0,68 %

Titik leleh kafein


Lelehan pertama : 237 oC
Lelehan sempurna : 239 oC
Titik leleh kafein (literatur) : 238 °C

4.2 Uji Kromatografi Lapis Tipis

Jarak noda dan larutan dengan batas bawah pelat


Eluen Jarak noda Jarak larutan
Etil asetat-metanol 3,4 cm 4,9 cm
Kloroform-metanol 2,3 cm 4,4 cm
Rf noda pada eluen etil asetat-metanol (3:1)
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ
𝑅𝑓 = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ
3,3
𝑅𝑓 = 4,4 = 0,75

Rf noda pada eluen kloroform-metanol (9:1)


2,3
𝑅𝑓 = 4,4 = 0,52

4.3 Uji Alkaloid


Hasil uji alkaloid
Senyawa Pereaksi Meyer Pereaksi Dragendorff
Kafein Bening, kekuningan Bening, endapan putih

VII. Pembahasan

7.1 Ekstraksi padat/ cair: ekstrak kafein dari teh

Pada percobaan ini dilakukan isolasi kafein dari daun teh dengan cara
ekstraksi padat-cair dekokta dilanjutkan ekstraksi cair- cair. Dilakukan ekstraksi
padat- cair dengan cara panas. Dilakukan ekstraksi padat- cair karena kafein yang
ada di dalam teh wujudnya padat. Dipilih cara panas (dekokta) karena senyawa
yang akan ditarik termostabil. Selain itu, dipilih dekokta karena paling murah,
aman, praktis, tinggal direbus. Terlebih dahulu ditimbang daun teh sebanyak 25
ditambahkan dengan natrium karbonat (Na2CO3), karena natrium karbonat
(Na2CO3) berperan sebagai basa yang bersifat nonpolar, sehingga tanin dari teh
tidak ikut larut bersama kafein, tetapi akan membentuk garam dengan natrium
karbonat (Na2CO3). Lalu ditambahkan 150 mL air mendidih digunakan sebagai
pelarut, lalu ditambahkan lagi dengan air panas sebesar 50 ml untuk meningkatkan
pelarutan di dalam larutan teh, lalu di lakukan dekantasi, yang dimana dekantasi
tersebut merupakan pemisahan antara zat padat dengan cairan dengan cara
penyaringan. Ampas teh akan tertahan di dalam kertas saring, sedangkan cairan
ekstrasi akan masuk kedalam labu erlenmeyer. Setelah semua ekstrak terkumpul
dalam labu erlenmeyer, kemudian didinginkan hingga mencapai suhu kamar
dengan direndam air keran.
Lalu pindahkan kedalam corong pisah untuk dilakukan proses ekstraksi cair
cair cair yang dimana akan menghasilkan senyawa yang terpisah antara senyawa
Air dan diklorometan dengan penambahan 100 mL diklorometana (CH2Cl2) untuk
diekstraksi kembali. Kocok corong pisah dan isinya perlahan selama 5 menit dan
buka keran setiap 3-4 kali kocokan, agar gas CO2 yang dihasilkan tidak
terakumulasi didalam yang akan bisa merusak dan menekan corong pisah karena
tekanan. Kemudian diulangi ekstraksi dengan penambahan diklorometana kembali.
Ekstraksi diulangi karena terlalu pekat, bisa jadi belum semua zat aktif keluar.
Dipilih diklorometana (DCM) karena bersifat non polar, untuk menarik kafein yang
juga bersifat non polar. Sesuai dengan prinsip like dissolve like , dimana pelarut
polar akan melarutkan senyawa polar dan pelarut non polar akan melarutkan
senyawa non polar (Khopkar, 2008:21). Terdapat 3 spesi yang ada di dalam corong
pisah, spesi kafein-yang berwarna bening kekuningan, terletak didasar corong
pisah, spesi pelarut air-yang mengandung banyak zat yang tidak dibutuhkan, berada
diatas campuran, dan spesi emulsi yang berada diantara spesi air dan kafein. Spesi
kafein yang bisa juga disebut sebagai fase diklorometana dapat terbentuk karena
kafein yang merupakan senyawa organik nonpolar dapat larut pada diklorometana
yang juga merupakan senyawa organik nonpolar. Sedangkan tanin adalah senyawa
organik polar yang pastinya akan larut dalam kepolaran senyawa lain yaitu air.
Tanin yang sudah berada dalam bentuk garam atau anion fenolik akan
mengakibatkan material dalam sampel yaitu diklorometana dapat membentuk
emulsi dengan air. Garam tanin ini berfungsi sebagai surfaktan anion yang mampu
membentuk emulsi apabila diguncang terlalu kuat. Itulah sebabnya corong pisah
yang berisi sampel ekstraksi teh tidak boleh dikocok/ diguncang terlalu kuat, yaitu
agar tidak terbentuk emulsi yang akan mengganggu kemurnian ekstraksi.
Hasil ekstraksi kafein dicampurkan dengan diklorometana, dan akan
terbentuk dua fasa, dan fasa diklorometana akan berada di bagian bawah karena BJ
lebih besar yaitu 1,33 g/ml daripada BJ air yaitu 1 g/ml. Lalu ditambahkan kalsium
anhidrat kedalam kabungan ekstrasi dan emulsi penambahan kalsium anhidrat
bertujuan untuk menarik air yang berada pada fraksi diklorometan, digunakan
kalsium klorida anhidrat karena tidak bereaksi dengan senyawa diklorometan,
kalsium klorida anhidrat hanya akan menarik molekul air yang berada pada fraksi
diklorometan sehingga dihasilkan fraksi diklorometan yang lebih murni.
Kemudian, dilanjutkan dengan evaporasi, dimana prinsip evaporasi adalah
pemisahan ekstrak dari diklorometana dengan pemanasan dipercepat oleh putaran
labu alas bulat, cairanya dapat menguap 5 – 10 oC dibawah titik didih pelarutnya
disebabkan karena adanya penurunan tekanan dari penggunaan vakum dengan
mengunakan vakum uap penyaringan akan menguap naik kedalam kondensor dan
menghasilkan molekul pelarut yang murni yang di tamping dalam labu, dengan
dilakukan evaporasi untuk mencegah uap diklorometan yang bersifat karsinogenik
melayang di udara terbuka dengan mengunakan evaporasi gas yang ditampung akan
lebih aman. Kemudian, di lakukan rekristalisasi menggunakan aseton panas,
digunakan aseton panas bertujuan untuk menarik pengotor polar yang mudah
menguap, setalah itu ditambahkan juga ligroin ( n-heksan ) tetes demi tetes pada
keadaan panas untuk membentuk warna yang keruh, lalu didinginkan labu
erlenmayer pada suhu kamar dengan cara direndam dalam es batu dan disaring
dengan penyaring Buchner, dan menghasilkan kristal pada penyaring Buchner yang
berwarna putih.

Berdasarkan percobaan kelompok kami memperoleh kristal kafein sebesar


0,07 g sehingga tidak dilakukan uji titik leleh kristal kafein. Adapun % rendemen
yang diperoleh yaitu sebesar 0,28% menunjukkan kafein belum murni. Menurut
literatur hasil rendemen yang paling baik yaitu 100%. Hasil % rendemen yang
diperoleh tidak sesuai dengan literatur. Hal ini disebabkan karena masih terdapat
zat pengotor, kesalahan dalam prosedural, kristal tidak terambil semua.

Sedangkan hasil percobaan kelompok I, diperoleh berat kristal 0,17 g


selanjutnya dilakukan uji titik leleh. Berdasarkan hasil percobaan kelompok I
diperoleh suhu awal melelehnya kafein adalah 237˚ C dan meleleh sempurna pada
suhu 239˚C. Hal ini sesuai dengan literatur, dimana berdasarkan MSDS titik leleh
adalah 238 °C. Adapun % rendemen yang diperoleh yaitu sebesar 0,68 %
menunjukkan kafein belum murni. Menurut literatur hasil rendemen yang paling
baik yaitu 100%. Hasil % rendemen yang diperoleh tidak sesuai dengan literatur.
Hal ini disebabkan karena masih terdapat zat pengotor, kesalahan dalam prosedural,
atau kristal tidak terambil semua.

7.2 Uji Kromatografi Lapis Tipis


Pada uji kromatografi lapis tipis (KLT), kafein ditotolkan pada dua pelat
KLT yang sudah diberi batas atas dan batas bawah berulang-ulang sampai muncul
noda. Setelah itu, salah satu pelat dimasukkan ke dalam eluen etil asetat-metanol
(3:1), dan pelat lainnya dimasukkan ke dalam eluen kloroform-metanol (9:1). Eluen
harus berada di bawah batas bawah pelat, dan di atas atau tepat pada batas atas pelat.
Setelah itu, pelat dilihat dibawah sinar ultra violet, perbandingan antara noda
dengan batas bawah pelat, dan batas atas dengan batas bawah pelat adalah Rf.
Berdasarkan hasil percobaan dari kelompok I, diperoleh nilai Rf noda hasil
percobaan menggunakan eluen etil asetat-metanol (3:1) adalah 0,75. Nilai Rf noda
hasil percobaan menggunakan eluen kloroform-metanol (9:1) adalah 0,52.
Berdasarkan literatur nilai Rf yang baik itu sebesar 0,2 – 0,8 , nilai Rf yang
diperoleh pada percobaan sesuai dengan literatur dimana hasil tersebut kandungan
kafein murni baik untuk digunakan.
Setelah dibandingkan nilai Rf noda hasil percobaan menggunakan eluen etil
asetat- metanol (3:1) adalah 0,69 dan nilai Rf noda hasil percobaan menggunakan
eluen kloroform- metanol (9:1) adalah 0,52. Hasil yang diperoleh tidak sesuai
dengan literatur dimana, nilai Rf dengan eluen kloroform-metanol (9:1) seharusnya
lebih besar, karena kloroform dan kafein sama-sama senyawa non-polar, sehingga
lebih mudah untuk berikatan. Hal ini menjelaskan kebenaran bahwa sampel
alkaloid bersifat nonpolar karena memiliki nilai Rf yang lebih besar pada eluen
kloroform sebagai senyawa nonpolar dibandingkan dengan eluen etil asetat yang
memiliki sifat lebih polar.
7.3 Uji Alkaloid
Berdasarkan hasil perolehan data dari kelompok I, hasil uji alkaloid
menggunakan pereaksi Dragendorff, kristal kafein yang dilarutkan membentuk
endapan putih. Menurut literatur seharusnya kristal kafein yang sudah dilarutkan
membentuk endapan berwarna jingga saat diuji dengan perekasi Dragendroff akan
membentuk endapan berwarna jingga. Hal ini disebabkan pereaksi Dragendroff
yang digunakan sudah terkontaminasi oleh senyawa lain, sehingga tidak terjadi
reaksi apa-apa sehingga dengan menggunakan pereaksi Dragendroff, kafein tidak
terbukti termasuk senyawa alkaloid. Sedangkan saat diuji menggunakan pereaksi
Meyer, kristal kafein yang sudah dilarutkan membentuk endapan berwarna kuning.
Hal ini sesuai dengan literarur dimana, kristal kafein yang sudah dilarutkan
membentuk endapan berwarna kuning muda saat diuji dengan perekasi Meyer,
sehingga kafein terbukti kafein memiliki sifat alkaloid.

VIII. Kesimpulan

Berdasarkan percoban yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa

1. Kafein dapat diisolasi dari daun teh dengan ekstraksi 25 g daun teh menjadi

0,07 g kristal kafein dengan % rendemen sebesar 0,28 %.

2. Pada uji kromatografi lapis tipis, diperoleh nilai Rf noda hasil percobaan

menggunakan eluen etil asetat- metanol (3:1) adalah 0,69 dan nilai Rf noda

hasil percobaan menggunakan eluen kloroform- metanol (9:1) adalah 0,52.

Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan literatur dimana, nilai Rf dengan

eluen kloroform-metanol (9:1) seharusnya lebih besar, karena kloroform

dan kafein sama-sama senyawa non-polar, sehingga lebih mudah untuk

berikatan.

3. Uji alkaloid dengan menggunakan pereaksi Meyer menunjukkan endapan

berwarna kuning muda, sedangkan menggunakan pereaksi dragendorff


menunjukkan endapan berwarna putih. Menurut literatur, jika direaksikan

dengan pereaksi Meyer menunjukkan endapan berwarna kuning muda,

sedangkan menggunakan pereaksi dragendorff menunjukkan endapan

jingga.

IX. Daftar Pustaka

Achmad S. A.(1986). Kimia Organik Bahan Alam, Universitas Terbuka:

Jakarta.

Andi Nur Alamsyah. (2006). Taklukan Penyakit Dengan Teh Hijau. Agro

Media Pustaka: Jakarta, Hal. 34-36, 46-58, 59-60.

Brown, Phyllis.,(1998), Advances in Chromatography, CRC, New Jersey

Day, R.A. dan Underwood, (1987), Analisis Kimia Kuanlitatif, Erlangga,

Jakarta, hal. 178

Ditjen POM.(2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.

Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Fulder. (2004). Khasiat Teh Hijau. Prestasi Pustaka: Jakarta

Horizon, (2003), Analisa Kuaitatif, Erlangga, Jakarta, hal. 18

Khopkar, S. M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press: Jakarta

Khopkar, S. M. 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press: Jakarta

Kotz JC, Treichel MP, Weaver CG, (2006), Chemistry and Chemical

Reactivity Ed ke-6, Thomson Brooks/Cole, Belmont, 435- 436

Pinalia, A., (2011), Penentuan Metode Rekristalisasi Yang Tepat Untuk

Meninngkatkan Kemurnian Kristal Amonium Perklorat, dalam


Majalah Sains dan Teknologi Dirgantara, Volume 6 No.2, Penelitian

bidang Propelan Pusat Teknologi Roket, LAPAN, Jakarta, hal. 2

Stahl, Egon., (1985), Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi,

ITB: Bandung.

Voigt, R., (1994), Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Industri, Edisi kelima,

Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.

Sulistiowati. 2004. Teh (Camellia sinensis O.K. var Assamica (Mast)) sebagai Salah Satu

Sumber Antioksidan. Cermin Dunia Kedokteran. Hal. 52-54.

Syukri. (2007). Kimia Dasar 2. Penerbit ITB. Bandung

Tuminah, S., 2004, Teh (Camellia Sinensis O.K. v. Assamica (mast))

sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan, pusat penelitian dan

pengembangan pemberantasan penyakit, Cermin Dunia Kedokteran,

14(4), 24-25