Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH INTERAKSI OBAT

Pil KB dan Hormon

Disusun oleh:
Dede Kurniawan (3351161578)
Fera Wahyuni (3351161496)
Luki Septiari (3351161583)
Silvy Febry Andini (3351161556)
Rahmawati A gobel (3351161417)

APOTEKER 23D

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjarkan kepada Allah SWT atas berkat, rahmat, dan

hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “PIL KB dan HORMON”

Makalah ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Interaksi Obat.

Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang

telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya. Dan

harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para

pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah

agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih

banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan

kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Cimahi, 05 juli 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 2
1.3 Tujuan Makalah ............................................................................ 2
1.4 Manfaat Makalah .......................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Kontrasepsi ................................................................. 3
2.2. Prinsip Kerja Kontrasepsi ............................................................ 3
2.3. Tujuan Kontrasepsi ....................................................................... 4
2.4. Syarat-Syarat Kontrasepsi ............................................................. 4
2.5. Kontrasepsi Pil KB........................................................................ 4
2.5.1. Profil dari Kontrasepsi Pil KB .......................................... 4
2.5.2. Jenis-Jenis Alat Kontrasepsi Pi KBl ................................ 5
2.6. Cara Kerja Pil KB ......................................................................... 9
2.7. Faktor Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi
Pil KB............................................................................................ 11
2.7.1. Umur ................................................................................. 11
2.7.2. Pendidikan ......................................................................... 11
2.7.3. Pengetahuan ...................................................................... 12
2.7.4. Pekerjaan ........................................................................... 12
2.7.5. Jumlah Anak...................................................................... 12
2.7.6. Ketersediaan Pelayanan Alat Kontrasepsi ........................ 12
2.7.7. Dukungan Keluarga .......................................................... 13
2.8. Interaksi Obat ................................................................................ 13
2.8.1 Interaksi Obat KB ............................................................. 15
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan ................................................................................... 18
BAB IV STUDI KASUS
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang dilihat dari jumlah penduduknya ada pada posisi
keempat di dunia, dengan laju pertumbuhan yang masih relatif tinggi. Esensi tugas
program Keluarga Berencana (KB) dalam hal ini telah jelas yaitu menurunkan fertilitas
agar dapat mengurangi beban pembangunan demi terwujudnya kebahagiaan dan
kesejahteraan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Seperti yang disebutkan dalam UU
No.10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
Sejahtera, definisi KB yakni upaya meningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat
melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan
keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga guna mewujudkan keluarga kecil,
bahagia dan sejahtera.
Undang-undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga menyatakan bahwa pembangunan keluarga adalah upaya
mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat. Keluarga
Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan,
mengatur kelahiran melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai hak reproduksi
untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Pengaturan kehamilan dalam program KB
dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi.
Pil KB merupakan salah satu kontrasepsi hormonal yang bertujuan untuk mencegah
terjadinya kehamilan yang ditambahkan ke dalam tubuh seorang wanita dengan cara
diminum (pil) Tujuan dari konsumsi pil KB adalah untuk mencegah, menghambat dan
menjarangkan terjadinya kehamilan yang memang tidak diinginkan. Untuk itu kepatuhan
mengkonsumsi pil KB secara teratur sesuai dengan dengan petunjuk tenaga kesehatan
harus dilakukan.
Kepatuhan mengkonsumsi pil KB bertujuan agar manfaat konsumsi pil KB yaitu
mencegah menghambat dan menjarangkan terjadinya kehamilan bisa dirasakan.
Ketidakpatuhan dalam mengkonsumsi pil KB tidak bisa menjamin bahwa akseptor pil KB
terhindar dari kehamilan. Hal ini dikarenakan pengkonsumsian yang tidak teratur
menjadikan pil KB tidak bisa bekerja secara optimal. Ketidakpatuhan ini disebabkan
karena kurangnya pengetahuan mereka tentang pil KB. Mereka cenderung menghemat
pengkonsumsian dengan meminum pil KB dibawah ukuran yang disarankan. Kebiasaan
ini menyebabkan masih mungkin akseptor pil KB mengalami kehamilan yang tidak
diinginkan (Depkes RI, 2001).
Di Indonesia diperkirakan kurang lebih 60% akseptor menggunakan pil
kontrasepsi. Jumlah ini tampaknya akan tetap tinggi dibandingkan dengan jumlah
akseptor yang mempergunakan cara kontrasepsi yang lain. Namun pada penggunaan pil
kontrasepsi ini ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya penurunan atau
kegagalan pada penggunaan pil kontrasepsi yang dapat menyebabkan kegagalan
mencegah kehamilan yaitu interaksi pada penggunaan bersamaan obat lain.
Interaksi obat terjadi jika efek suatu obat (index drug) berubah akibat adanya obat
lain (precipitant drug), makanan, atau minuman. Interaksi obat dapat menghasilkan efek
yang memang dikehendaki (Desirable Drug Interaction), atau efek yang tidak
dikehendaki (Undesirable/Adverse Drug Interactions = ADIs) yang lazimnya
menyebabkan efek samping obat dan/atau toksisitas karena meningkatnya kadar obat di
dalam plasma, atau sebaliknya menurunnya kadar obat dalam plasma yang menyebabkan
hasil terapi menjadi tidak optimal. Sejumlah besar obat baru yang dilepas dipasara setiap
tahunnya menyebabkan munculnya interaksi baru antar obat akan semakin sering terjadi.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat diperoleh rumusah masalah yaitu
dari penggunaan obat KB dapat memiliki beberapa resiko seperti hilangnya atau
menurunnya keefektifan dari obat KB tersebut yang diakibatkan adanya interaksi dengan
sejumlah obat yang lain.

1.3. Tujuan Makalah


Adapun tujuan dibuatnya makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui obat apa saja yang dapat berinteraksi dengan obat KB dan
bagaimana mekanisme kerja dari adanya interaksi yang dapat
meningkatkan/menurunkan kerja obat KB
2. Agar dapat mengetahui penanganan pencegahan interaksi obat dengan obat KB

1.4. Manfaat Makalah


Menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian
Kontasepsi berasal dari kata kontra yaitu mencegah dan konsepsi yang berarti
penemuaanantara sel sperma dan sel telur yang mengakibatkan kehamilan.
Kontrasepsi merupakan upaya mencegah ovulasi, melumpuhkan sperma atau
mencegah penemuan sel telur dan sel sperma . Metode kontrasepsi bekerja dengan
dasar mencegah sel sperma laki-laki mencapai dan membuahi sel telur wanita atau
mencegah sel telur yang telah dibuahi untuk berimplantasi dan berkembang didalam
Rahim. Kontasepsi dapat bersifat reversible (kembali) atau permanen (tetap).
Kontrasepsi yang bersifat reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan
setiap saat tanpa efek lama dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan
kembali untuk memiliki anak. Sedangkan metode kontasepsi permanen atau sterilisasi
adalah metode kontasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan karena telah
melibatkan tindakan operasi.

2.2. Prinsip Kerja Kontrasepsi


Prinsip kerja kontrasepsi adalah meniadakan pertemuan sel telur dan sel
sperma. Ada tiga cara untuk mencapai tujuan ini, baik yang bekerja sendiri maupun
bersamaan. Pertama adalah menekan keluarnya sel telur (ovulasi), kedua menahan
masuknya sperma kedalam saluran kelamin wanita sampai mencapai ovum dan ketiga
adalah menghalangi nidasi. Contoh pertama adalah kontrasepsi hormonal steroid, baik
pil, suntikan maupun implant. Contoh kedua terdiri atas kondom, mangkok vagina,
spermisida, dan ligasi tuba dan vas deferens. Khusus diterapkan pada laki-laki adalah
sanggama terputus dan vasektomi, dimana pada kedua cara tersebut, sperma tersebut
tidak pernah mencapai saluran kelamin wanita. Contoh ketiga adalah IUD atau
AKDR. Cara kontrasepsi tersebut mempunyai efektifitas yang berbeda-beda dalam
memberikan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Namun perlu
diingat adanya 3 azas kontrsasepsi, yaitu:
a. Cara apapun yang dipakai lebih baik dari pada tidak memakai sama sekali
b. Cara terbaik hasilnya (efektifitas) adalah cara yang digunakan oleh pasangan
dengan terus-menerus.
c. Penerimaan pasangan terhadap suatu cara adalah unsur yang penting untuk
berhasilnya suatu cara kontrasepsi.

2.3. Tujuan Kontrasepsi


1. Untuk menunda kehamilan
2. Untuk menjarangkan kehamilan
3. Untuk menghentikan kehamilan / mengakhiri kehamilan / kesuburan

2.4. Syarat-Syarat Alat Kontrasepsi


Tidak ada satupun metode kontrasepsi yang aman dan efektif bagi semua klien
karena masing-masing mempunyai kesesuaian dan kecocokan individual bagi setiap
klien. Namun secara umum persyaratan metode kontrasepsi ideal adalah sebagai
berikut:
1. Aman, artinya tidak akan menimbulkan komplikasi berat jika digunakan
2. Berdaya guna, dalam arti jika digunakan sesuai dengan aturan akan dapat
mencegah kehamilan.
3. Dapat diterima, bukan hanya oleh klien melainkan juga oleh lingkungan budaya
di masyarakat.
4. Terjangkau harganya oleh masyarakat
5. Bila metode tersebut dihentikan penggunaannya, klien akan segera kembali
kesuburannya, kecuali untuk kontrasepsi mantap (Kusumaningrum, 2009).

2.5. Kontrasepsi Pil KB


2.5.1 Profil dari kontrasepsi pil KB yaitu:
1) Efektif dan reversible
2) Harus diminum setiap hari.
3) Pada bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan Perdarahan
bercak yang tidak berbahaya dan segera akan hilang.
4) Efek samping sangat serius sangat jarang terjadi.
5) Dapat dipakai oleh semua ibu usia reproduksi, baik yang sudah
mempunyai anak maupun belum.
6) Tidak dianjurkan pada ibu yang menyusui.
7) Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat.
2.5.2. Jenis-Jenis Alat Kontrasepsi Pil KB
a. Pil Kombinasi
Pil kombinasi dibuat dari dua hormon sintetis, yaitu semua pil
mengandung hormon estrogen dan progesteron. Kandungan estrogen di
dalam pil biasanya menghambat ovulasi dan menekan perkembangan telur
yang dibuahi. Mungkin juga dapat menghambat implantasi. Progesteron
dalam pil akan mengentalkan lendir serviks untuk mencegah masuknya
sperma. Hormon ini juga mencegah konsepsi dengan cara memperlambat
transportasi telur dan menghambat ovulasi.
Pil kombinasi terdiri dari 3 jenis yaitu :
1) Monofasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan
7 tablet tanpa hormon aktif.
2) Bifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan 2 dosis yang berbeda,
dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
3) Trifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda,
dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
Adapun keuntungan dalam menggunakan Pil Kombinasi sebagai
berikut :
 Memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektifitas
tubektomi), bila digunakan setiap hari.
 Risiko terhadap kesehatan sangat kecil.
 Tidak mengganggu hubungan seksual.
 Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang
(mencegah anemia), tidak terjadi nyeri haid.
 Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin
menggunakannya untuk mencegah kehamilan.
 Dapat digunakan sejak usia remaja hingga monopause.
 Mudah dihentikan setiap saat.
 Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan.
 Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.
 Membantu mencegah : kanker ovarium, kanker endometrium, kista
ovarium, penyakit radang panggul, kelainan jinak pada payudara,
kelainan jinak pada payudara, dimenore, akne.
Selain itu, adapun kerugian dalam menggunakan Pil Kombinasi
sebagai berikut :
 Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari. \
 Mual, terutama pada 3 bulan pertama
 Perdarahan bercak atau perdarahan sela, terutama 3 bulan pertama.
 Pusing
 Nyeri Payudara
 Berat badan naik sedikit, tetapi pada perempuan tertentu kenaikan berat
badan justru memiliki dampak positif.
 Berhenti haid (amenorea), jarang pada pil kombinasi
 Tidak boleh diberikan pada perempuan menyusui (mengurangi ASI)
 Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan depresi, dan
perubahan suasana hati, sehingga keinginan untuk melakukan
hubungan seks berkurang.
 Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan, sehingga resiko
struk, dan gangguan pembekuan darah pada vena dalam sedikit
meningkat. Pada perempuan usia > 35 tahun dan merokok perlu hati-
hati.
 Tidak mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual), HBV, HIV/AIDS.
a.3.
Penjelasan tentang efek samping pil kombinasi kepada klien seperti
halnya apa yang harus dilakukan jika terjadi masalah, akan meningkatkan
pemakaian yang aman dan efektif. Khususnya klien harus mengetahui
bahwa dalam 3 siklus pertama ada kemungkinan tejadi efek samping
seperti di bawah ini: Mual; rasa tidak enak di payudara; pendarahan antara
dua haid atau breakthrough bleeding; pusing; sakit kepala; penamabahan
berat badan; jerawat.
Adapun waktu mulai eenggunakan kontrasepsi pil kombinasi yaitu
sebagai berikut :
 Setiap saat selagi haid, untuk meyakinkan kalau perempuan tersebut
tidak hamil
 Hari pertama sampai hari ke 7 siklus haid
 Boleh menggunakan pada hari ke 8, tetapi perlu menggunakan metode
kontrasepsi yang lain (kondom) mulai hari ke 8 sampai hari ke 14 atau
tidak melakukan hubungan seksual sampai anda telah menghabiskan
paket pil tersebut
 Setelah melahirkan : Setelah 6 bulan pemberian ASI ekslusif; setelah 3
bulan dan tidak menyusui; pasca keguguran (setelah atau dalam waktu
7 hari).
 Bila berhenti menggunakan kontrasepsi injeksi, dan ingin
menggantikan dengan pil kombinasi, pil dapat segera diberikan tanpa
perlu menunggu haid.
b. Pil Mini
Mini pil (kadang-kadang disebut juga pil masa menyusui)
mengandung agen progestasional dalam dosis yang kecil, dan harus
dikonsumsi setiap hari secara berkesinambungan.
Di seluruh dunia, Mini Pil tidak mendapatkan penerimaan yang luas,
baik dari pihak wanita maupun dari petugas medis KB. Mini Pil bukan
menjadi pengganti dari Pil Oral Kombinasi, tetapi hanya sebagai
suplemen/tambahan yang digunakan wanita yang ingin menggunakan
kontrasepsi oral tetapi sedang menyusui atau untuk wanita yang harus
menghindari estrogen oleh sebab apapun.
Adapun keuntungan kontrasepsi pil mini dibagi atas 2 yaitu :
1) Keuntungan Kontrasepsi : Sangat efektif bila digunakan secara benar;
tidak mengganggu hubungan seksual; tidak mempengaruhi asi;
kesuburan cepat kembali; nyaman dan mudah digunakan; sedikit efek
samping; dapat dihentikan setiap saat; tidak mengandung estrogen.
2) Keuntungan Pil Mini tidak hanya digunakan untuk kontrasepsi saja,
tetapi dapat juga digunakan untuk wanita usia subur dengan
keuntungan: Mengurangi nyeri haid; mengurangi jumlah darah haid;
menurunkan tingkat anemia; mencegah kanker endometrium;
melindungi dari penyakit radang panggul; tidak meningkatkan
pembekuan darah; dapat diberikan pada penderita endometriosis;
kurang menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala, dan
depresi; dapat mengurangi keluhan premenstrual sindrom (sakit kepala,
perut kembung, nyeri payudara, nyeri pada betis, lekas marah); sedikit
sekali mengganggu metabolisme karbohidrat sehingga relatif aman
diberikan kepada perempuan pengidap kencing manis yang belum
mengalami komplikasi.
Sedangkan kerugian Pil Mini adalah :
 Hampir 30 – 60 % mengalami gangguan haid (perdarahan sela,
spotting, amenore)
 Peningkatan berat badan
 Harus digunakan setiap hari dan pada waktu yang sama
 Bila lupa satu pil saja, kegagalan menjadi lebih besar
 Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatis atau jerawat
 Risiko kehamilan ektopik cukup tinggi (4 dari 100 kehamilan),
tetapi risiko ini lebih rendah jika dibandingkan dengan perempuan
yang tidak menggunakan mini pil.
Efek sampingan utama dari kontrasepsi progestin adalah gangguan
siklus haid berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak, dan
amenorea. Perdarahan banyak dan lama jarang sekali terjadi. Sebagaian
besar penghentian pemakaian kontrasepsi progestin disebabkan gangguan
pola perdarahan.
Dalam menghadapi keluhan perdarahan pada pemakai kontrasepsi
progestin pertama-tama harus disingkirkan perdarahan yang berhubungan
dengan infeksi, kelainan faktor pembekuan, dan keganasan. Sampai saat
ini patofisiologi terjadinya perdarahan pada akseptor kontrasepsi progestin
masih belum banyak diketahui. Oleh karena itu pengobatannya masih
bermacam-macam. Terdapat beberapa cara pengobatan yang dipakai
menghentikan perdarahan pada akseptor kontrasepsi progestin, antara lain :
Konseling; pemeriksaan fisik, ginekologik, dan laboratorium; pemberian
progestin; pemberian estrogen; pemberian vitamin, ferum, atau placebo;
kuratase.
Untuk waktu mulai menggunakan kontrasepsi pil mini yaitu :
 Mulai hari pertama sampai hari ke 5 sampai hari ke 5 siklus haid. Tidak
diperlukan pencegahan dengan kontrasepsi lain.
 Dapat digunakan setiap saat, asal saja tidak terjadi kehamilan. Bila
menggunakannya setelah hari ke 5 siklus haid, jangan melakukan
hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan metode kontrasepsi
lain untuk 2 hari saja.
 Bila klien tidak haid (amenorea), mini pil dapat digunakan setiap saat,
asal saja diyakini tidak hamil.
 Bila menyusui antara 6 minggu dan 6 bulan pasca persalinan dan tidak
haid, mini pil dapat dimulai setiap saat. Bila menyusui penuh, tidak
memerlukan metode kontrasepsi tambahan. Bila lebih dari 6 minggu
pasca persalinan dan klien telah mendapat haid, mini pil dapat dimulai
pada hari 1-5 siklus haid. Mini pil dapat diberikan segera pasca
keguguran. Bila klien sebelumnya menggunakan kontrasepsi hormonal
lain dan ingin menggantinya dengan mini pil, mini pil dapat segera
diberikan, bila saja kontrasepsi sebelumnya digunakan dengan benar
atau Ibu tersebut sedang tidak hamil. Tidak perlu menunggu sampai
datangnya haid berikutnya.
 Bila kontrasepsi yang sebelumnya adalah kontrasepsi suntikan, mini pil
diberikan pada jadwal suntikan berikutnya. Tidak diperlukan
penggunaan metode kontrasepsi yang lain.
 Bila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi non hormonal dan ibu
tersebut ingin menggantinya dengan mini pil, mini pil diberikan pada
hari 1-5 siklus haid dan tidak memerlukan metode kontrasepsi lain.
 Bila kontrasepsi sebelumnya yang digunakan adalah AKDR (termasuk
AKDR yang mengandung hormon), mini pil dapat diberikan pada hari
1-5 siklus haid.
2.6. Cara Kerja Pil KB
Cara Kerja Pil KB Kontrasepsi Pil KB kombinasi mempunyai mekanisme
kerja menekan ovulasi, mencegah implantasi, transfor gamet, fungsi corpus luteum
dan mengentalkan lendir serviks. Kandungan dan mekanisme kerja pil kontrasepsi
menurut Hartanto (1994) adalah sebagai berikut:
1) Mekanisme kerja Esterogen
a. Ovulasi Esterogen menghambat ovulasi melalui efek pada hipotalamus,
yang kemudian mengakibatkan supresi pada FSH (folikel stimulating
hormone) dan LH (luthenizing hormone) kelenjar hipofise. Penghambatan
tersebut tampak dari tidak adanya esterogen pada pertengahan siklus, tidak
adanya puncak-puncak FSH dan LH pada pertengahan siklus dan supresi
post ovulasi, peninggian progesteron dalam serum dan pegnadiol dalam urin
yang terjadi pada keadaan normal. Ovulasipun tidak selalu dihambat oleh
esterogen dalam pil kontrasepsi kombinasi (yang berisi esterogen 50 mg atau
kurang).
b. Implantasi Implantasi dari blastocyist yang sedang berkembang terjadi 6
hari setelah fertilisasi, dan ini dapat dihambat apabila lingkungan
endometrium tidak berada dalam keadaan optimal. Kadar esterogen dan
progesteron yang berlebihan atau kurang/inadekuat atau keseimbangan
esterogen –progesteron yang tidak tepat menyebabkan pola endometrium
yang abnormal sehingga menjadi tempat yang tidak baik untuk implantasi.
Implantasi dari yang telah dibuahi juga dapat dihambat oleh estradiol dosis
tinggi yang diberikan sekitar pertengahan siklus pada senggama yang tidak
dilindungi, ini disebabkan karena terganggunya perkembangan endometrium
yang normal.
c. Transfor gamet/ovum Pada percobaan binatang, transfor gamet/ovum
dipercepat oleh esterogen, ini disebabkan karena efek hormonal pada sekresi
dan peristaltik tuba serta kontraktilitas uterus.
d. Luteolysis Luteolysis yaitu degenerasi dari corpus luteum yang
menyebabkan penurunan yang cepat dari produksi esterogen dan progesteron
oleh ovarium yang selanjutnya menyebabkan dilepaskannya jaringan
endometrium. Degenerasi corpus luteum menyebabkan kadar penurunan
kadar progesteron serum dan selanjutnya mencegah implantasi yang normal.
Ini merupakan efek yang mungkin disebabkan oleh pemberian esterogen
dosis tinggi pasca senggama.
2) Mekanisme kerja progesteron
a. Ovulasi Ovulasi sendiri dapat dihambat karena terganggunya fungsi poros
hipotalamus – hipofise – ovarium dan karena modifikasi dari FSH dan LH
pada pertengahan siklus yang disebabkan oleh progesterone.
b. Implantasi Implantasi mungkin dapat dicegah bila diberikan progesteron pra
ovulasi. Pemberian progesteron eksogenus yang dapat mengganggu puncak
FSH dan LH sehingga meskipun terjadi ovulasi, produksi progesteron yang
berkurang dari corpus luteum menyebabkan penghambatan dari implantasi.
Pemberian esterogen secara sistemik dan untuk jangka waktu yang lama
menyebabkan endometrium mengalami keadaan istirahat dan atropi.
c. Transfor gamet/ovum Pengangkutan ovum dapat diperlambat bila diberikan
progesteron sebelum terjadi fertilisasi. Pengangkutan ovum yang lambat
dapat menyebabkan peninggian insiden implantasi ektopik pada wanita yang
memakai kontrasepsi yang hanya mengandung progesterone.
d. Luteolysis Pemberian jangka lama progesteron saja mungkin menyebabkan
fungsi corpus luteum yang inadekuat pada siklus haid yang mempunyai
ovulasi.
e. Lendir serviks yang kental Dalam 48 jam setelah pemberian progesteron
sudah tampak lendir serviks yang kental, sehingga mortilitas dan daya
penetrasi dari spermatozoa sangat terhambat. Lendir serviks yang tidak
ramah untuk spermatozoa adalah lendir yang jumlahnya sedikit, kental dan
seluler serta kurang menunjukkan ferning dan spinderbarkeit.
2.7. Faktor Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi Pil KB
2.7.1. Umur
Masa kehidupan reproduksi wanita pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga
periode yaitu, reproduksi muda (15-19 tahun), reproduksi sehat (20-35 tahun) dan
reproduksi tua (36-45 tahun). Pembagian ini didasarkan atas data epidemiologi yang
menyatakan bahwa risiko kehamilan dan persalinan baik bagi ibu maupun bagi anak
lebih tinggi pada usia kurang dari 20 tahun, paling rendah pada usia 20-35 tahun,
dan menigkat setelah usia lebih dari dari 35 tahun. Jenis kontrasepsi yang digunakan
sebaiknya disesuaikan dengan tahap masa reproduksi tersebut.
Umur merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku seseorang
termasuk dalam penggunaan alat kontrasepsi. Mereka yang berumur tua mempunyai
peluang kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang
muda.
2.7.2. Pendidikan
Pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk bertindak dan
mencari solusi dalam hidupnya. Tingkat pendidikan ibu merupakan salah satu
faktor yang penting dalam menentukan baik buruknya status kesehatan keluarga
dan dirinya. Dengan berbekal pengetahuan yang cukup, seorang ibu akan lebih
banyak memperoleh informasi yang dibutuhkan, dengan demikian mereka dapat
memilih serta menentukan alternatif yang terbaik untuk kepentingan keluarganya.
Orang yang mempunyai pendidikan yang lebih tinggi biasanya akan bertindak
lebih rasional, sehingga akan lebih mudah untuk menerima gagasan baru.
Demikian juga halnya dengan menentukan pola perencanaan keluarga dan
pengguanaan kontrasepsi serta peningkatan kesejagteraan keluarga.
Dengan pendidikan yang tinggi seseorang dapat lebih mudah untuk menerima
ide atau masalah baru seperti penerimaan, pembatasan jumlah anak, dan keinginan
terhadap jenis kelamin tertentu. Pendidikan juga meningkat kesadaran wanitA
terhadap manfaat mempunyai jumlah anak sedikit. Wanita yang berpendidikan
lebih tinggi cenderung membatasi jumlah kelahiran dibandingkan dengan yang
tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah.
2.7.3. Pengetahuan
Pengetahuan (kognitif) merupakan faktor yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang, karena perilaku yang didasari oleh pengetahuan
akan lebih lama (long lasting) daripada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan.
2.7.4. Pekerjaan
Pekerjaan dari peserta KB dan suami akan mempengaruhi pendapatan dan
status ekonomi keluarga. Suatu keluarga dengan status ekonomi atas terdapat
perilaku fertilitas yang mendorong terbentuknya keluarga besar. Status pekerjaan
dapat berpengaruh terhadap keikutsertaan dalam KB karena adanya faktor
pengaruh
lingkungan pekerjaan yang mendorong seseorang untuk ikut dalam KB, sehingga
secara tidak langsung akan mempengaruhi status dalam pemakaian kontrasepsi.29
2.7.5. Jumlah Anak
Menurut Mantra (2006) kemungkinan seorang ibu untuk menambah kelahiran
tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Seorang ibu mungkin
menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga
umur anak yang masih hidup. Semakin sering seorang ibu melahirkan anak, maka
akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan. Hal ini berarti jumlah
anak akan sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan dapat meningkatkan taraf hidup
keluarga secara maksimal.
2.7.6. Ketersediaan Pelayanan Alat Kontrasepsi
Ketersediaan pelayanan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk tersedia atau
tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). Untuk
dapat digunakan, pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah
diperoleh. Promosi metode kontrsasepsi melalui kontak langsung oleh petugas
program KB, oleh dokter dan sebagainya dapat meningkatkan secara nyata
pemilihan metode kontrasepsi
2.7.7. Dukungan Keluarga
Program KB dapat terwujud dengan baik apabila ada dukungan dari
pihakpihak tertentu. Menurut Sarwono (2007) ikatan suami isteri yang kuat sangat
membantu ketika keluarga menghadapi masalah, karena suami/isteri sangat
membutuhkan dukungan dari pasangannya. Hal itu disebabkan orang yang paling
bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri. Dukungan
tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik. Masyarakat di
Indonesia khususnya di daerah pedesaan sebagai peran penentu dalam pengambilan
keputusan dalam keluarga adalah suami, sedangkan isteri hanya bersifat
memberikan sumbang saran.
Hartanto (2004) mengatakan bahwa metoda kontrasepsi tidak dapat dipakai
istri tanpa kerjasama suami dan saling percaya. Keadaan ideal bahwa pasangan
suami istri harus bersama memilih metoda kontrasepsi yang terbaik, saling
kerjasama dalam pemakaian, membiayai pengeluaran kontrasepsi, dan
memperhatikan tanda bahaya pemakaian.
2.8. Interaksi Obat

Sejumlah obat yang diberikan bersamaan dengan pil mengurangi


keamanannya dengan jalan induksi enzim (mikrosomal hati) hingga hormon-hormon
dalam pil dipercepat penguraiannya. Hal ini terutama berlaku bagi pil sub-50.
Karena itu, risiko akan perdarahan break-through(perdarahan antara dua periode
menstruasi) dan spotting (perdarahan ringan berupa bercak-bercak) juga lebih besar.
1) Inteaksi Obat Kontrasepsi Dengan Antelmintik.
Sebuah studi pada 25 wanita dengan penyakit schistosomiasis aktif tanpa tanda-
tanda penyakit hati, penggunaan obat kontrasepsi bersamaan dengan
antischistosomal memiliki efek pada kadar plasma steroid dari obat kontrasepsi
oral, selain itu studi lain terdapat bukti bahwa wanita dengan schistosomiasis aktif
tanpa tanda-tanda penyakit hari dapat meningkatkan resiko kerusakan hati saat
menggunakan obat kontrasepsi.
2) Interaksi Obat Kontrasepsi Dengan Antibakteri (sepalosporin)
Beberapa kasus kegagalan dari kombinasi obat kontrasepsi oral telah dilaporkan
saat penggunaan bersamaan dengan cefalexin, cefalexin dan clindamisin dan
sefalosporin lain. Interaksi yang terjadi dari mulai ringan sampai sangat
berbahaya.Mekanisme interaksi yang terjadi adalah penurunan bakteri di saluran
intestinal akan menghasilkan penurunan resirkulasi enterohepatic dari
ethinylestradiol danmenurunkan kadarnya dalam serum.
3) Interaksi Obat Kontrasepsi Dengan Obat yang Meningkatkan Metabolisme dan
Klirens.
Penggunaan obat kontrasepsi kurang dapat diandalkan selama penggunaan
barbiturate dan fenitoin. Studi terkontrol menunjukan bahwa fenitoin dan
fenobarbital dapat mengurangi tingkat steroid dari kontrasepsi. Mekanisme
interaksi yang terjadi adalah meningkatkan metabolisme dan kliren obat
kontrasepsi dari tubuh, sehingga mengurangi efek obat kontrasepsi, dan dalam
beberapa kasus, memungkinkan terjadinya ovulasi.
4) Interaksi Obat Kontrasepsi Dengan Penghambat Enzim Sulfontransferase
Penggunaan etoricoxib dapat meningkatkan kadar etinilestradiol 50% sampai
60% dan meningkatkan kadar estrogen terkonjugasi di HRT.Hal ini terjadi
dikarenakan terjadinya penghambatan sulfotranferase.
5) Interaksi Obat Kontrasepsi Dengan Inhibitor CYP3A4
Seorang wanita yang menggunakan kombinasi obat kontrasepsi oral dengan
nefazodone mengalami peningkatan efek samping obat kontrasepsi. Hal ini
dikarenakan terjadinya inhibisi enzim CYP3A4
6) Interaksi Obat Kontrasepsi (Medroxyprogesteron atau Megestrol) dengan
Aminoglutethimide
Penggunaan aminoglutethimide 250 mg empat kali sehari dapat
mengurangi tingkat medroxyprogesteron atau magestrol 160 mg setiap hari
pada wanita pascamenopause.Interaksi mungkin terjadi karena
aminoglutethimide menginduksi enzim, meningkatkan metabolism progesteron,
dan menurunkan efek dari kedua obat.
2.8.1 Interaksi Obat KB

OBAT A OBAT B MEKANISME


Efek antikoagulan dapat berkurang. Antikoagulan
digunakan untuk mengencerkan darah dan mencegah
pembekuan.
Antikoagulan
Akibatnya darah akan membeku walaupun pasien
menggunakan antikoagulan.
Antikoagulan yg palig sering dipai adalah Coumadin.
Efek pil KB dapat berkurang. Akibatnya ririko hamil
meningkat sampai 25 kali, kecuali kalau digunakan
metode kontrasepsi lain. Perdarahan merupakan simptom
kemungkinan adanya interaksi.
Antikonvulsan
Efek antikonvulsif dapat berkurang. Antikonvulsan
digunakan untuk mengendalikan kejang seperti ayan.
Akibatnya kejang tak terkendali dengan baik. Dilantin
adalah antikonvulsan yg paling banyak digunakan.
Efek antidepresan dapat meningkat atau berkurang.
Antidepresan digunakan untuk mengurangi depresi
PIL KB mental dan memperbaiki suasana hati. Akibatnya jika
terjadi peningkatan kerja antidepresan , dapat terjadi efek
samping merugikan akibat terlalu banyak anti depresan.
Gejala yg dilaporkan antara lain penglihatan kabur, mulut
Antidepresan
kering, sulit kencing, sembelit, takhikardia, simptom
(Jenis Siklik)
psikosis toksik (agitasi, disorientasi, meracau), aritmia
jantung, nanar, mungkin terjadi konvulsi. Jika efek
antidepresan menurun, depresi tak terkendali dengan
baik, antidepresan yg paling banyak digunakan adalah
Elavil dan Sinequan. Catatan : antidepresan trazadon
(Desyrel) tidak berinteraksi.

Efek pil KB dapat berkurang. Akibatnya risiko hamil


meningkat sampai 25 kali kecuali digunakan metode
Barbiturat kontrasepsi lain. Perdarahan menunjukkan kemungkinan
adanya interaksi. Barbiturat digunakan sebagai sedativa
atau pil tidur.

Efek kortikosteroida dapat meningkat. Kortikosteroida


digunakan untuk artritis, alergi berat, asma, kelainan
PIL KB Kortikosteroid endokrin, leukemia, kolitis dan enteritis (radang sal.
Usus), serta berbagai penyakit kulit, paru-paru dan mata.
Akibatnya terjadi efek samping merugikan akibat terlalu
banyak kortikosteroida. Gejala yg dilaporkan antara lain
berat badan meningkat, bengkak, haus dan kencing
berlebihan, nyeri dalam, turunnya daya tahan tubuh
terhadap infeksi, tak bertenaga.
Efek pil KB dapat berkurang. Akibatnya risiko hamil
dapat meningkat kecuali jika digunakan metode
kontrasepsi lain. Perdarahan menunjukkan kemungkinan
adanya interaksi.
Efek trankuilansia tertentu dapat meningkat (Librium,
Trankuilansia Limbitrol, SK-Lygen, valium); efek trankuilansia lain
dapat berkurang. Trankuilansia digunakan untuk
mengurangi rasa gelisah dan cemas. Dapat juga
digunakan untuk insomnia. Trankuilansia yg berinteraksi
disini adalah dari kelompok benzodiazepin. Valium
adalah trankuilansia yg paling banyak digunakan.
Efek kafein dapat meningkat. Kafein adalah stimulan yg
terdapat dalam kopi, teh, minuman kola, dan dalam pil
pelangsing yg dijual bebas, sediaan flu/batuk, nyeri, dan
Kafein sediaan untuk rasa tak enak pada saat haid. Akibatnya
kemungkinan terjadi efek samping merugikan akibat
“kafeinisme”. Gejala gelisah, agitasi, mudah terangsang,
insomnia, sakit kepala.
Efek asam folat dapat berkurang. Asam folat adalah salah
satu unsur vitamin B kompleks. Akibatnya mungkin
terjadi kekurangan asam folat. Waspadalah terhadap
Asam Folat gejala seperti tak bertenaga, mudah lupa, pucat, gelisah,
(Vit B9) mudah terangsang, dan gejala saluran cerna. Untuk
menanggulangi efek akibat interaksi ini, gunakan
tambahan vitamin yg mengandung asam folat atau
makanlah buah segar dan sayuran hijau setiap hari.
Efek piridoksin dapat berkurang. Piridoksin adalah salah
satu unsur vit B kompleks. Akibatnya kemungkinan
terjadi kekurangan piridoksin. Amati gejala seperti mati
rasa atau kesemutan pada kaki atau betis bagian bawah,
Piridoksin lemah, lesi pada kulit, anemia. Untuk menanggulangi
PIL KB
(vitamin B6) efek akibat interaksi ini, gunakan tambahan yg
mengandung piridoksin. Makanan yg mengandung
piridoksin antara lain bebijian utuh dan polong-polongan
(kapri, buncis).
Kombinasi ini dapat menyebabkan sakit kuning
kolestatik. Gejala sakit kuning antara lain kulit dan mata
Troleandomisin berwarna kuning. Troleandomisin adalah suatu
(TAO) antibiotika. Dokter hendaknya menghindari pemberian
antibiotika ini pada wanita pemakai pil KB.

Efek pil KB dapat meningkat. Jika vitamin digunakan


sewaktu-waktu resiko hamil meningkat pada saat vitamin
tak digunakan. Ini disebabkan adanya efek balik karena
kadar hormon pil KB dalam darah turun. Kemungkinan
Vitamin C terjadinya interaksi terlihat jika terjadi perdarahan.
Interaksi ini terjadi pada kadar vitamin C yg tinggi, yaitu
1000 mg atau lebih per hari. Interaksi dapat dicegah jika
kadar vit C yg digunakan hanya 250-500 mg.

(Sumber: Harkness, Richard, 2013)


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
a. Kontrasepsi merupakan upaya mencegah ovulasi, melumpuhkan sperma
atau mencegah penemuan sel telur dan sel sperma.
b. Pil KB adalah alat kontrasepsi pencegah kehamilan atau pencegah
konsepsi yang digunakan dengan cara per-oral atau kontrasepsi
c. Jenis-jenis dari pil KB ada 5, yaitu pil kombinasi atau combination oral
contraceptive pill, mini pill, pil sekuenseal, once a month pill, dan morning
after pill.
d. Penggunaan pil KB jenis pil oral kombinasi
BAB IV
STUDI KASUS

Skenario Kasus
Tn. N datang ke apotek untuk menebus obat istrinya dengan membawa resep
yang diperolehnya dari dokter spesialis kandungan.

dr. Gita Grahana, Sp.OG


SIP: 777/DU/357.1/77.46.243.2009
Praktek : Klinik Pelangi
Jl. Panderman 5 Bandung
022-555777

Bandung, 14 Mei 2016

R/ Mycroginon No. I
SUC
R/ Vitamin B 6 No. X
S3ddI

Pro : Ny.Maria (24 tahun)


Alamat : Jl. Gajah Mada No.8
No.telp : 08225678921
Informasi Obat
 Mycroginon
Komposisi : Lynestrenol
Indikasi : Kontrasepsi oral
Dosis : Sehari 1 tablet pada waktu yang sama tanpa putus dari 1 siklus
menstruasi sekitar waktu makan malam
Kontraindikasi : Hamil, penyakit hati berat, ikterik kolestatil, riawayat ikterik,
pruritus berat atau herpes gestasionis dalam kehamilan,
Sindrom Rotor & Dubin-Johnshon pendarahan vagina yang
tak terdiagnosa, riwayat kehamilan tuba. Wanita muda dengan
siklus yang belum teratur
Efek Samping : Retensi cairan, perubahan BB, gangguan GI, ikterik
kolestatik,
sakit kepala, migren, perubahan mood, kloasma, ruam,
pendarahan intermenstrual, amenorea pasca
medikasi,penurunan toleransin glukosa, payudara melunak.
Jika timbul perdarahan ringan tidak teratur pada bulan-bulan
pertama pengobatan dapat diteruskan (kecuali perdarahan
parah)
Perhatian : Gagal ginjal, disfungsi ginjal. Hipertensi, epilepsi, migren,
tromboembolisme. Lakukan pemeriksaan fisik secara teratur 3
bulan sekali atau 6 bulan sekali

 Vitamin B6
Komposisi : Vitamin B6
Indikasi : Suplementasi B6, sebagai koenzim dalam asam amino,
karbohidrat dan metabolisme lipid
Dosis : Sehari 3x1 tablet 10 mg atau sehari 2x1tab 25mg
Efek samping : Neuropathy; unstable gait; drowsiness; somnolence
Perhatian : Kehamilan: Kategori A. (Kategori C dalam dosis yang
melebihi RDA.) Laktasi: diekskresikan dalam ASI; dapat
menghambat laktasi. Anak-anak: Keamanan dan kemanjuran
tidak didirikan dalam dosis melebihi kebutuhan nutrisi
Drug Related Problem (DRP)

PERMASALAHAN PENYELESAIAN

Reaksi obat yang tidak diinginkan : Efek Dibarengi dengan Vitamin B6 untuk mengatasi E.S
samping dari excluton adalah mual dan Mycroginon dan pengaruh hormon.
muntah
Pasien menyusui diberi kontrasepsi dan Diganti susu formula selama menggunakan PIL KB
vitamin B6, padahal keduanya
terdistribusi dalam ASI
Pyridoxin berinteraksi dengan Pemberian kedua obat diberi jeda minimal 1jam.
kontrasepsi oral (kadar pyridoxin
menurun)

Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)

 Mycroginon diberikan sejumlah satu strip berisi 28 tablet, merupakan kontrasepsi oral
diminum sehari sekali satu tablet pada jam yang sama setiap harinya. Digunakan untuk
kontrasepsi oral. Selama 28 hari.
 Kontrasepsi boleh digunakan pada saat hari pertama haid, atau kapan pun namun selama 7
hari awal penggunaan jika ingin berhubungan seksual supaya menggunakan alat
kontrasepsi lain misalnya kondom. Jika pasien lupa 1x peminuman kurang dari 3 jam
boleh langsung diminum ketika ingat namun jika selama 2 hari kedepan harus
menggunakan kondom bila berhubungan. Jika pasien lua lebih dari 3 jam maka bisa
langsng minum pada saat ingat atau pada jadwal berikutnya langsnung minum 2 pil dan
harus menggunakan kondom selama 7 hari berikutnya jika ingin berhubungan. Disimpan
pada suhu ruangan memiliki eso pusing dan mual saat pertama digunakan
 B6 diberikan sejumlah 10 tablet atau piridoxine digunakan sebagai suplemen digunakan
sehari 3 kali 1 tablet setelah makan. Digunakan sampai obat habis, pemakaian vit b6 tidak
boleh digunakan bersamaan dengan kontrasepsi oral.
 Jika lupa selama 2 hari berturut’’ maka digunakan 1 tab dan buang 1 tab yang lain,
kemudian dilanjutkan kontrasepsi oral pada hari itu dan gunakan kondom saat
berhubungan.
 Jika lupa 3 hari berturut’’ hentikan kontrasepsi oral dan gunakan kondom dan tunggu
sampai haid berikutnya. Untuk memulai lai kontrasepsi.

Point Assesment

1. Menanyakan latar belakang penebus obat

2. Menanyakan latar belakang pasien (pekerjaan)

3. Menanyakan tanggal ke dokter

4. Menanyakan alamat dan no.telepon pasien

5. Apa informasi yang disampaikan oleh dokter ?

6. Apakah pasien sudah menikah?

7. Apabila jawabannya Ya, ditanyakan : Apakah menstruasinya teratur? Apakah Ibu


sedang hamil?

8. Kapan terakhir kali punya anak?

9. Apakah sebelumnya pernah menggunakan alat kontrasepsi?

10. Apa alasan ingin menggunakan kontrasepsi lagi?

11. Jika pernah menggunakan, tanyakan : Apa jenis kontrasepsi yang Ibu pakai dan
bagaimana cara menggunakannya?

12. Berapa lama Ibu menggunakan alat kontrasepsi tersebut?

13. Bagaimana efek yang Ibu rasakan? Ada keluhan atau merasa nyaman?

14. Lanjutan dari no.10 , jika jawaban Tidak maka ditanyakan : Apa alasan ingin
menggunakan alat kontrasepsi?

15. Tanyakan pada pasien apakah pernah mencoba/ menggunakan KB tanggalan?

16. Apa obat yang sedang digunakan sekarang atau sempat digunakan?
Dialog/Percakapan (Konseling)
Pasien : Selamat siang mbak
Apoteker : Iya selamat siang pak, saya Runi apoteker diapotek sini
ada yang bisa saya bantu ?
Pasien : Begini mbak saya ingin menebus resep
Apoteker : Maaf resep ini untuk siapa ya ?
Pasien : Untuk istri saya mbak
Apoteker : Nama istri bapak siapa ya ?
Pasien : Nama istri saya Maria
Apoteker : Umurnya berapa pak ?
Pasien : 24 tahun
Apoteker : Berat badannya pak ?
Pasien : 55 kg
Apoteker : Pekerjaan istri bapak sehari-hari ?
Pasien : Istri saya ibu rumah tangga
Apoteker : Apakah istri bapak sedang hamil atau sedang menyusui ?
Pasien : Tidak mbak , istri saya sedang tidak hamil dan tidak sedang menyusui
Apoteker : Kalau keluhan yang istri bapak rasakan ?
Pasien : Tidak ada
Apoteker : Apakah istri bapak sedang mengkonsumsi obat ?
Pasien : Tidak ada
Apoteker : Apakah isteri bapak memiliki alergi ?
Pasien : Sepertinya tidak ada
Apoteker : Oh begitu ya pak, terimakasih atas infonya, sebentar saya siapkan dulu
obatnya nanti saya panggil bapak kembali.
Passien : Iya mbak saya tunggu
Apoteker : Resep untuk Ny.Maria
Pasien : Iya mbak saya
Apoteker : Maaf pak saya mau bertanya kapan yah isteri bapak terakhir menstruasi ?
Pasien : Kalau tidak salah untuk bulan ini belum, tapi tiap bulannya pada tanggal 3 ,
berarti harusnya besok itu isteri saya menstruasi
Apoteker : Oh begitu ya. Pak ini obatnya ada microgynon sebagai obat kb dan vitamin
B6 untuk mengurangi mual dan muntah yang disebabkan oleh microginon.
Untuk microgynon dikonsumsi pada saat hari pertama menstruasi di makan
pil yang putih sehari 1 tablet. Lalu bisa dilanjutkan pada pil yang kuning jika
menstruasinya sudah selesai sehari 1 tablet. Agar nanti istri bapa tidak pusing
saat mengkonsumsinya bisa dilihat dibelakang kemasan ada alur penggunaan
pil kb nya, sehingga lebih mudah mengkonsumsinya . Oh iya isteri bapa tiap
hari makan pagi jam berapa yah ?
Pasien : Sekitar pukul 7 mbak
Apoteker : Oh kalau begitu maka untuk pil kb nya di konsumsi setelah makan saja.
Disarankan tiap hari pada jam yang sama. Dan juga untuk vitamin B6 nya di
konsumsi 1 jam setelah mengkonsumsi pil kb nya .
Pasien : Oh iya mbak saya mengerti
Apoteker : Kalau begitu apakah bapak bisa mengulangi kembali apa yang saya
ucapkan?
Pasien : Bisa mbak. Obatnya ada 2 ada microgynon sebagai pil kb dan vitamin B6
untuk mengurangi mual muntahnya. Pil kb di konsumsi dikonsumsi pada saat
hari pertama menstruasi di makan pil yang putih. Lalu bisa dilanjutkan pada
pil yang kuning jika menstruasinya sudah selesai. Diminumnya setiap hari 1
tablet setelah makan lalu untuk vitamin b6 di konsumsi 1 jam setelah pil kb
Apoteker : Baik sudah benar pak. kalau begitu apakah ada yang bisa saya bantu kembali
Pasien : Tidak mbak terimakasih
Apoteker : Baik pak, semoga istri bapak sehat selalu.
DAFTAR PUSTAKA

Ament PW, Bertolino JG, Liszewski JL. Clinical pharmacology: clinically significant
drug interactions. Am Fam Physician. 2000; 61: 1745-5
Baxter, Karen. 2008. Stoackley Drug Interaction 8th. Pharmaceutical Press.
London.
Mujati,Inti. 2013. Situasi Keluarga Berencana di Indonesia. Buletin Jendela Data
dan Informasi Kesehatan. Kementerian Kesehatan Indonesia. Halaman 5-
6.
Proverawati, Atikah, dkk. 2010. Panduan Memilih Kontrasepsi. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Harkness, Richard. 2013. Interaksi Obat diterjemahkan oleh Goeswin Agoes dan
Mathilda B Widianto. Bandung: ITB.
Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Sinar
Harapan
Saifuddin, Abdul Bari (2006). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi,
edisi 2, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
SPrawirohardjo, Sarwono., (2005). Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahadja. 2013. Obat-Obat Penting Edisi Ke-6.
Jakarta: PT. Gramedia.