Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH INTERAKSI OBAT

GOUT

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Interaksi obat

Disusun oleh:

RAHMAD SUTRISNA (3351171047)


NISA AGNIA R. (3351171124)
EWITH RATIH IRIANTI T. (3351171187)
RINDA SEFTIANA (3351171039)
MEGA GALUH (3351171042)

KELOMPOK 4
KELAS D
APOTEKER 24

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjarkan kepada Allah SWT atas berkat, rahmat, dan

hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “GOUT” Makalah ini

ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Interaksi Obat.

Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang

telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya. Dan

harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para

pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah

agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih

banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan

kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Cimahi, 22 November 2017

Penulis
GOUT

A. DEFINISI
Gout merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan hiperurisemia, serangan
artritis akut (mendadak) dan berulang yang berkaitan dengan adanya kristal
mononatrium urat pada leukosit yang terdapat pada cairan sinovium (cairan sendi),
deposit kristal mononatrium urat, terbentuknya jaringan (tophi), dan nefrolitiasis asam
urat. Hiperurisemia dapat merupakan kondisi yang tidak bergejala, dengan konsentrasi
asam urat serum yang meningkat. Konsentrasi asam urat yang lebih besar dari 7,0
mg/dL adalah tidak normal dan berkaitan dengan peningkatan resiko gout. Artritis pirai
yang disebabkan oleh deposit kristal mononatrium urat terjadi akibat supersaturasi
cairan ekstraseluler yang mengakibatkan satu atau beberapa manifestasi klinik.

B. PATOFISIOLOGI
1. Asam urat merupakan produk akhir dari degradasi purin yang bersumber dari
dalam tubuh atau diet dan dianggap sebagai sampah yang harus dibuang. Kadar
asam urat yang berlebihan merupakan akibat dari over produksi (degradasi purin)
atau karena ekskresi yang rendah. Purin yang menghasilkan asam urat dapat
berasal dari tiga sumber, yaitu purin dari makanan, konversi asam nukleat jaringan
menjadi nukleotida purin, dan hasil sintesis basa purin.
2. Over produksi asam urat dapat terjadi karena peningkatan aktivitas fosforibosil
pirofosfat (PRPP) sintetase menyebabkan peningkatan konsentrasi PRPP, sebuah
enzim penentu sintesis purin dan menyebabkan produksi asam urat. Defisiensi
hipoxantin-guanin fosforibosil transferase (HGPRT) dapat pula menyebabkan
over produksi asam urat. HGPRT bertanggungjawab terhadap perubahan guanin
menjadi asam guanilat dan hipoxantin menjadi asam inosinat. Dua perubahan ini
memerlukan PRPP sebagai ko-substrat dan merupakan reaksi pemanfaatan
penting yang terlibat dalam sintesa asam nukleat. Defisiensi enzim HGPRT dapat
menyebabkan peningkatan metabolisme guanin dan hipoxantin menjadi asam urat
dan lebih banyak PRPP yang berinteraksi dengan glutamin pada tahap awal jalur
purin.
3. Over produksi asam urat juga dapat terjadi pada peningkatan peruraian asam
nukleat jaringan pada penyakit mieloproliferatif dan limfoproliferatif.
4. Dua pertiga asam urat yang diproduksi diekskresi melalui urin dan sisanya melalui
gastrointestinal (GI) setelah terdegradasi oleh bakteri kolon. Gangguan ekskresi
ginjal pada tubuli distal atau karena ginjal yang rusak, akan meningkatkan kadar
asam urat.
5. Obat-obat yang mengurangi klirens atau ekskresi asam urat seperti diuretik
(thiazid dan furosemid), asam salisilat, pirazinamid, isoniazid, etambutol, asam
nikotinik, etanol, levodopa, siklosporin, dan obat-obat sitotoksik, maka dapat
meningkatkan kadar asam urat, sehingga perlu diperhatikan.
6. Dalam kondisi normal, seseorang memproduksi asam urat 600-800 mg per hari,
dan yang diekskresi melalui urin kurang dari 600 mg sehari, sisanya diekskresi
melalui feses. Jumlah ekskresi < 1000 mg dianggap normal, tetapi jika > 1000 mg
sudah termasuk kategori over produksi pada pasien tanpa diet purin. Tetapi jika
ekskresi > 600 mg per hari pada seseorang yang diet purin sudah dianggap over
produksi.
7. Deposit kristal asam urat di sinovial menyebabkan inflamasi (vasodilatasi,
peningkatan permeabilitas vaskuler, dan aktifitas kemotaksis leukosit). Fagositosis
kristal asam urat oleh leukosit menyebabkan adanya enzim proteolitik ke dalam
plasma. Inflamasi ini menyebabkan nyeri sendi, eritema, panas, dan bengkak.
8. Nefrolitiasis asam urat dapat terjadi pada 10-25% penderita gout dengan faktor
predisposisi seperti kelebihan ekskresi asam urat berlebih melalui urin, urin yang
asam, dan tingginya kadar asam urat.

C. FAKTOR RESIKO
Menurut Weaver et al (2010) gout dapat dipengaruhi oleh banyak faktor
yang meliputi genetik, usia, jenis kelamin, asupan makanan dan kalori, latihan
fisik dan kelelahan, obat-obat tertentu (diuretik, aspirin dosis rendah, etambutol,
pirazinamid, levodopa, ribavirin dan interferon), gangguan kesehatan seperti
sindrom metabolik, hipertensi, obesitas sentral, hipertrigliserida, gagal ginjal
kronik Faktor tersebut dapat mengganggu proses produksi, ekskresi maupun
kedua proses sehingga kadar asam urat dalam tubuh tidak bisa dikendalikan
dengan baik. Adapun faktor risiko yang mempengaruhi gout tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1) Umur
Penyakit asam urat timbul karena proses penuaan, khususnya pada wanita
menopause yaitu usia 45-60 tahun, pada laki-laki usia 30-40 tahun. Semakin
tua usia laki-laki maka kekerapan penyakit asam urat semakin tinggi. Pada
wanita menopause terjadi peningkatan asam urat karena jumlah hormon
estrogen mulai mengalami penurunan.
2) Faktor Keturunan (genetik)
Riwayat keluarga dekat yang menderita gout yang mempertinggi risiko.
Tentunya faktor genetik ini juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan lain yang
kemudian menyebabkan seseorang menderita gout.
3) Jenis Kelamin
Laki-laki berisiko terhadap penyakit gout, sedangkan perempuan
persentasenya lebih kecil dan baru muncul setelah menopause.
4) Obesitas
Obesitas tubuh bagian atas (obesitas abdominal) berhubungan lebih besar
dengan intoleransi glukosa atau penyakit diabetes melitus, hiperinsulinemia,
hipertrigliseridemia, hipertensi, dan gout dibanding obesitas bawah. Tingginya
kadar leptin pada orang yang mengalami obesitas dapat menyebabkan
resistensi leptin. Leptin adalah asam amino yang disekresi oleh jaringan
adiposa yang berfungsi mengatur nafsu makan dan berperan pada
perangsangan saraf simpatis, meningkatkan sensitifitas insulin, natriuresis,
diuresis dan angiogenesis. Jika resistensi terjadi di ginjal maka akan terjadi
gangguan 26 diuresis berupa retensi urine. Retensi urine inilah yang dapat
menyebabkan gangguan pengeluaran asam urat melalui urine, sehingga kadar
asam urat dalam darah orang yang obesitas tinggi.
5) Obat-obatan
Pengguna obat-obatan tertentu bisa memicu peningkatan kadar asam
urat atau membantu dalam mensekresikan asam urat. Salah satu jenis obat
yang membantu proses ekskresi asam urat yaitu jenis urikosurik seperti
probenesid dan sulfinpirazon. Obat jenis aspirin dapat menghambat proses
ekskresi asam urat sehingga memperparah keadaan pada hiperurisemia. Obat
antihipertensi yang memiliki dampak hampir sama dengan jenis aspirin. Obat
hipertensi memiliki efek samping menghambat metabolisme lipid dalam
tubuh. Timbunan lipid dalam tubuh yang mengganggu proses ekskresi asam
urat melalui urin. Salah satu obat antihipertensi yang memiliki efek
peningkatan kadar asam urat adalah tiazid.
6) Alkohol
Minuman alkohol juga dapat menimbulkan serangan gout karena alcohol
meningkatkan produksi asam urat. Kadar laktat darah meningkat sebagai
produk sampingan dari metabolisme normal alcohol. Asam laktat menghambat
ekskresi asam urat oleh ginjal sehingga terjadi peningkatan kadarnya pada
serum.

7) Latihan Fisik dan Kelelahan


Dampak pelatihan fisik yang berlebihan adalah adanya ketidakseimbangan
antara pelatihan fisik dengan waktu pemulihan. Pelatihan fisik berlebihan
dapat berefek buruk pada kondisi homoestasis dalam tubuh yang akhirnya
berpengaruh terhadap sistem kerja organ tubuh.

D. TANDA & GEJALA KLINIS


Tanda
1. Timbulnya rasa nyeri yang menyiksa, pembengkakan, dan inflamasi. Serangan
diawali pada jari-jari kaki, angkle, bagian belakang yang berbentuk bulat (heel),
lutut, dan siku. Serangan dimulai pada malam hari dan mungkin menyebabkan
penderita terbangun dari tidurnya. Kemerah-merahan pada sendi, panas, dan
bengkak, jika tidak diterapi akan sembuh atau berakhir kira-kira 3-14 hari.
2. Serangan akut gout dapat terjadi walaupun tanpa adanya provokasi sebelumnya
atau dapat dipicu karena stress, trauma, minum alkohol, operasi, dan minum obat
yang dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah.

Gejala
Sekitar 50% serangan pertama artritis gout yang akut akan mengenai ibu jari
kaki atau yang lebih jarang lagi, punggung kaki, pergelangan kaki atau tumit yang
terasa panas, membengkak, kemerahan, nyeri, dan inflamasi dan bisa disertai dengan
demam. Gejala-gejala klinik hiperuresemia dapat dibagi dalam 4 stadium:
1. Stadium I
Tidak ada gejala yang jelas. Keluhan umum, sukar berkonsentrasi. Pada
pemeriksaan darah kadar asam urat tinggi.
2. Stadium II
Sendi menjadi bengkak dalam beberapa jam, menjadi panas, merah, sangat nyeri.
Kadang-kadang terjadi efusi di sendi-sendi besar. Tanpa terapi, keluhan dapat
berkurang sendiri setelah 4 sampai 10 hari, pmbengkakan dan nyeriberkurang,
dan kulit mengupassampai normal kembali. Kadang-kadang lebih dari satu sendi
yang diserang (migratory polyarthritis).
3. Stadium III
Pada stadium ini di antara serangan-serangan artritis akut, hanya terdapat waktu
yang pendek, yang disebut fase interkritis.
4. Stadium IV
Pada stadium ini penderita terus menderita artritis yang kronis dan tophi sekitar
sendi, juga pada tulang rawan dari telinga. Akhirnya sendi-sendi dapat rusak,
mengalami destruksi yang dapat menyebabkan cacat sendi.

E. DIAGNOSIS
1. Terdapat kristal monosodium urat di dalam cairan sendi, atau
2. Didapatkan kristal monosodium urat di dalam tofus, atau
3. Didapatkan 6 dari kriteria berikut:
a. Inflamasi maksimal pada hari pertama.
b. Serangan artritis akut lebih dari satu kali per tahun
c. Artritis monoartikular.
d. Sendi yang terkena berwarna kemerahan.
e. Sendi yang terkena mengalami inflamasi.
f. Serangan pada sendi metatarsal.
g. Adanya tofus (benjolan pada sendi).
h. Hiperurisemia
i. Kultur bakteri sendi negatif
j. Leukositosis dan laju endar darah (LED) meningkat.
F. TERAPI
Tujuan pengobatan adalah untuk menghentikan serangan akut, mencegah
kekambuhan, dan mencegah komplikasi karena adanya kristal asam urat di jaringan.

1. TERAPI NON FARMAKOLOGI


 Mengurangi makanan yang mempunyai kandunga purin tinggi.
 Menghindari konsumsi alkohol.
 Mengurangi stress.
 Mengurangi berat badan sehingga berat badan normal atau bahkan lebih rendah
10-15% dari berat badan normal.
 Minum dalam jumlah cukup.
 Mengurangi konsumsi lemak menjadi sekitar 15% dari total energi yang pada
orang sehat sekitar 25%. Jika konsumsi lemak tidak dikurangi, pembakaran lemak
menjadi energi akan menghasilkan keton yang akan menghambat ekskresi asam
urat.

2. TERAPI FARMAKOLOGI
 Gout Artritis Akut
a. Antiinflamasi Nonsteroid (AINS)
NSAID adalah terapi utama untuk serangan akut gouty arthritis karena
keunggulan efikasi dan toksisitas yang minimal pada penggunaan jangka pendek.
Indometasin secara historis telah menjadi NSAID pilihan dalam terapi gout akut.
Belum ada bukti yang menyatakan salah satu NSAID lebih unggul dari yang lain
dalam terapi gout, tetapi indometasin, naproxen dan sulindak telah di-approve
oleh FDA untuk indikasi gout. Faktor utama dalam keberhasilan terapi dengan
NSAID adalah memulai terapi sesegera mungkin, dengan dosis maksimum pada
saat onset gejala, dilanjutkan selama 24 jam setelah hilangnya serangan akut dan
dilakukan tappering dosis selama 2 – 3 hari. Pada sebagian besar pasien,
hilangnya gejala dapat terjadi 5 – 8 hari setelah terapi dimulai. Mekanisme aksi
NSAID menghambat enzim cyclooxygenase-1 dan 2 sehingga mengurangi
pembentukan prekusor prostaglandin yang merupakan mediator inflamasi.
Semua NSAID memiliki resiko efek samping yang sebanding, antara lain :
 sistem gastrointestinal : gastritis, perdarahan dan perforasi
 ginjal : penurunan klirens kreatinin, renal papillary necrosis
 kardiovaskuler : retensi cairan dan natrium, peningkatan tekanan darah
 sistem saraf pusat : gangguan fungsi kognitif, sakit kepala, pusing

Oleh karena itu, penggunaan semua NSAID harus diwaspadai pada pasien
dengan riwayat ulkus lambung, gagal janting kongestif, hipertensi yang tidak
terkontrol, insufisiensi renal, penyakit arteri koroner dan pasien yang menerima
terapi antikoagulan.

Tabel 1. Regimen Dosis NSAID untuk terapi Gout artritis akut

b. Kortikosteroid
Kortikosteroid dapat digunakan dalam terapi gout akut pada kasus resistensi
atau pada pasien yang kontraindikasi atau tidak berespon terhadap NSAID dan
kolkisin, serta pasien dengan nyeri gout yang melibatkan banyak sendi.
Kortikosteroid dapat digunakan secara sistemik maupun dengan injeksi
intraartikuler. Mekanisme aksinya mengurangi inflamasi dengan cara menekan
migrasi polimorphonuclear leukocyte dan menurunkan permeabilitas kapiler.
Pada pasien gout yang melibatkan berbagai sendi, digunakan prednison
(atau obat yang ekuivalen) 30 – 60 mg secara oral selama 3 – 5 hari. Untuk
mencegah terjadinya rebound akibat putus obat, hendaknya dilakukan tappering
dosis dengan penurunan 5 mg selama 10 – 14 hari. Sebagai alternatif, jika
pasien tidak dapat menggunakan terapi oral, dapat diberikan injeksi
intramuskuler kortikosteroid aksi panjang seperti metilprednisolon. Jika tidak
terdapat kontraindikasi, dapat diberikan kolkisin dosis rendah sebagai adjunctive
therapy pada kortikosteroid injeksi. Pada serangan akut yang terbatas pada 1 atau
2 sendi, dapat digunakan triamcinolone acetonide 20 – 40 mg secara
intraarticular.
Kortikosteroid memiliki banyak efek samping, sehingga harus digunakan
dengan hati-hati pada pasien diabetes, riwayat masalah gastrointestinal,
gangguan perdarahan, penyakit jantung, gangguan psikiatrik. Penggunaan
kortikosteroid jangka panjang sebaiknya dihindari karena menimbulkan resiko
osteoporosis, penekanan jalur hipotalamus-pituitari, katarak dan deconditioning
otot.

Tabel 2. Regimen Dosis Kortikosteroid untuk terapi Gout artritis akut

c. Kolkisin
Kolkisin adalah obat antimitotik yang sangat efektif dalam mengatasi
serangan gout akut, tetapi memiliki rasio manfaat-resiko yang paling rendah
diantara obat-obat gout yang tersedia. Mekanisme aksi dari kolkisin adalah
mengurangi motilitas leukosit sehingga mengurangi fagositosis pada sendi serta
mengurangi produksi asam laktat dengan cara mengurangi deposit kristal asam
urat yang berperan dalam respon inflamasi.
Ketika diberikan dalam 24 jam pertama setelah serangan, kolkisin
memberikan respon dalam beberapa jam setelah pemberian pada 2/3 pasien.
Meskipun sangat efektif, penggunaan kolkisin oral dapat menyebabkan efek
samping gastrointestinal (dose dependent) meliputi nausea, vomiting dan diare,
selain itu juga dapat terjadi neutropenia dan neuromiopati aksonal. Oleh karena
itu, kolkisin hanya digunakan pada pasien yang mengalami intoleransi,
kontraindikasi, atau ketidakefektifan dengan NSAID.
Kolkisin dapat diberikan secara oral maupun parenteral. Jika tidak ada
kontraindikasi atau kondisi insufisiensi renal, dosis awal yang biasa digunakan
adalah 1 mg, dilanjutkan dengan 0,5 mg setiap 1 jam sampai sakit pada sendi
reda, atau terjadi ketidaknyamana pada perut atau diare, atau pasien telah
menerima dosis total 8 mg. Untuk terapi profilaksis, dosisnya harus diturunkan
tidak lebih dari 0,6 mg per hari pada setiap hari yang berlainan. Kolkisin i.v
menimbulkan efek samping yang serius sehingga sebaiknya dihindari jika ada
terapi lain yang lebih aman.

Gambar 1. Algoritma terapi pada serangan gout akut

 Hyperuricemia In Gout
a. Xantin Oksidase Inhibitor
Allopurinol adalah obat yang direkomendasikan di USA untuk menghambat
sintesis asam urat. Mekanisme aksinya adalah allopurinol dan metabolitnya
oxipurinol memblok tahapan akhir dari sintesis asam urat dengan cara
menghambat enzim Xantin oxidase, yaitu enzim yang mengubah xantin menjadi
asam urat. Selain itu, allopurinol juga meningkatkan ekskresi asam urat melalui
ginjal dengan cara mengubah asam urat menjadi prekusor oxipurine, hal ini
mengurangi pembentukan batu asam urat dan nefropati.
Allopurinol banyak digunakan sebagai drug of choice untuk menurunkan
kadar asam urat pada pasien underexcretors dan overproducers. Allopurinol
spesifik digunakan untuk pasien dengan kategori :
 Pasien yang mengalami Overproducers (Underexcretors) asam urat
 Pasien dengan recurrence Tophaceous deposit atau batu asam urat
 Pasien dengan komplikasi gagal ginjal (Dosis diturunkan)
Dosis terapi adalah 100 mg/hari – 300mg/hari selama 1 minggu kemudian
dinaikkan sesuai kebutuhan sampai kadar asam urat 6 mg/dl. Kadar asam urat
dalam darah dapat dicek tiap seminggu sekali. Untuk pasien dengan komplikasi
tophaceous gout, diberikan dosis 400 mg/ hari- 600 mg/ hari. Dosis maksimum
yang direkomendasikan adalah 800 mg/dl. Dosis normal 300 mg/hari untuk
pasien dengan fungsi ginjal normal dan diturunkan sampai 200 mg/hari untuk
pasien dengan CrCl 60 ml/min dan diturunkan lagi sampai 100mg/hari untuk
pasien dengan CrCl 30 ml/min.
Pada 5% pasien penggunaan allopurinol tidak dapat ditoleransi efek
sampingnya. Efek samping ringan pada penggunaan allopurinol adalah skin
rash, leukopenia, gangguan GI, sakit kepala, dan urtikaria. Efek samping berat
yang terjadi adalah rash berat, hepatitis, interstitial nephritis, dan eosinofilia.
Reaksi hipersensitivitasdapat terjadi pada dosis 200-400 mg/hari. Dan terjadi
biasanya pada penderita gangguan ginjal.

b. Uricosric Drug
Obat Uricosuric meningkatkan ekskresi asam urat dengan cara
penghambatan reabsorbsi asam urat pada tubulus postsecretory ginjal. Gout
dapat dicegah dengan cara penurunan konsentrasi asam urat dalam darah hingga
<5 mg/dl. Obat yang biasanya digunakan adalah probenesid dan sulfinpirazon.
Probenesid diberikan pada dosis inisial 250 mg dua kali sehari untuk 1
minggu. Kemudian ditingkatkan sampai 500 mg 2x sehari sampai kadar asam
urat dalam darah kurang dari 6 mg/dl, atau dosis ditingkatkan sampai 2 g (dosis
maksimal). Sedangkan sulfinpirazone diberikan 50 mg dua kali sehari 3-4 hari
kemudian ditingkatkan 100 mg 2 kali sehari dan ditingkatkan 100 mg tiap
minggu sampai dosis maksimal 800 mg/hari.
c. Pegloticase
Pegloticase (Krystexxa) adalah uricase rekombinan pegylated yang
mengurangi serumasam urat dengan mengkonversi asam urat menjadi allantoin,
yang larut dalam air. Pegloticase diindikasikan untuk terapi antihyperuricemic
pada orang dewasa refrakter terhadap terapi konvensional.
Dosisnya adalah 8 mg infus IV selama ± 2 jam setiap 2 minggu. Karena
potensi menimbulkan reaksi alergi, pasien harus pra-perawatan dengan
antihistamines dan kortikosteroid.

Gambar 2. Algoritma terapi pada gout dan hiperurisemia


3. INTERAKSI OBAT

Obat-obat yang digunakan disini mengurangi bengkak, radang, nyeri akibat


penyakit arthritis. Dua kelompok obat yang dipakai adalah kortikosteroida dan non-
kortikosteroida (juga disebut antiflogistika non-steroida).
a. Kortikosteroida
Nama paten:
- Aristocort (triamsonolon) - Delta-Cortef (Prednisolon)
- Colestone (betametason) - Deltasone (prednison)
- Cortef (hidrokortison) - Hidrokortison (berbagai pabrik)
- Decadron (deksametason) - Kenacort (triamsinolon)
- Medrol (Metilprednisolon) - Orasone (prednison)
- Meticorten (prednison) - Prednison (berbagai pabrik)
b. Non-Kortikosteroida
- Aspirin (anacin, ascriptin, aspergum, bayer, bufferin, CAMA, Ecotrin, Empirin,
measurin, momentum, pabirin, persistin, st. Joseph aspirin, dll).
- Anaprox (naproksen) - naflon (Fenoprofen)
- Butazolidin (Fenilbutazon) - Naprosyn (naproksen)
- Clinoril (Sulindak) - Pontel (asam mefenamat)
- Feldene (piroksikam) - Rufen (ibuprofen)
- Indocin (Indometacin) - Tandearil (Oksifenbutason)
- Meclomen (Meclofenamat) - tolectin (tolmetin)
- Motrin (Ibuprofen) - zomax (zomepirak)

Interaksi Kelompok Kortikosteroid


No. Interaksi Efek
1. Kortikosteroida dengan- Kombinasi ini dapat mnyababkan tubuh

Asetazolamida kehilangan terlalu banyak kalium dan menahan

(Diamox) terlalu banyak natrium. Gejala kekurangan

kalium: lemah otot, mengelurkan urin terlalu

banyak, tekanan darah rendah, dll. Gejala

kelebihan natrium: udem, haus, mengeluarkan


urin sedikit, hipertensi, dll.

2. Kortikosteroida dengan Kombinasi ini menyebabkan tubuh terlalu

Antasida (yang banyak kalium dan menahan terlalu banyak

mengandung natrium.

Magnesium) Nama paten antasida: alkets, aludroks,

BiSoDol, Cemalox, Kodrol, dll.

3. Kortikosteroida dengan Kombinasi ini menyebabkan efek antikoagulan

Antikoagulan berkurang, kombinasi ini secara paradox dapat

menyebabkan pendarahan hebat.

Nama paten antikoagulan:

Anthrombin- K (warfarin), Coufarin

(Warfarin), Hedulin (Fenindion), Liquamar

(fenindion), Miradon (Anisindion), dll.

4. Kortikosteroida dengan Kombinasi ini dapat mengakibatkan efek

Aspirin (Anacin, aspirin berkurang

Ascriptin, Aspergum,

Bayer, dll.)

5. Kortikosteroida dengan Kombinasi ini mengakibatkan efek

Barbiturat kortikosiroid menjadi berkurang.

(Fenobarbital, Alurate,

Amytal, Butisol,
Buticap, Carbrital,

Seconal, dll).

6. Kortikosterid dengan Kombinasinya dapat mengakibatkan efek obat

Obat Diabetes diabetes dapat berkurang.

Nama paten obat diabetes (nama generik dalam

kurung):

 Diabinese (Klorpropamid) Tolinase


(Tolasamida)
 Dymelor (Asetoheksamida) Insulin
(Suntikan)
 Orinase (Tolbutamida)

7. Kortikosteroida dengan Mengakibatkan efek kortikosteroida meningkat

Pil KB (Brevicon, (ES: toksik jika kadar terlalu tinggi).

Demulen, Enovid,

Leostrin, Lo- Ovral,

dll.)

8. Kortikosteroid dengan Mengakibatkan efek digitalis meningkat.

Digitalis Digitalis dapat digunakan untuk mengobati

layu jangtung dan untuk mengembalikan

denyut jantung yang tidak teratur menjadi

normal. Akibatnya denyut menjadi tidak

normal karena terlalu banyak digitalis.

Nama paten digitalis (nama generk dalam

kurung)

 Laoxin (Digoksin)
 Crystidigin (Digitoksin)
 Purodigin (Digitoksin)
 Digifortis (digitalis)

9. Kortikosteroid dengan Kombinasi ini mengakibatkan tubuh terlalu

Diuretika banya kehilangan kalium dan banyak menahan

natrium. Obat yang berinteraksi seperti ini

disebut diuretika ‘penghilang kalium’ dan

beberapa nama patennya adalah:

 Anydron (Siklotiazida)
 Hidromox (Kuinetazon)
 Aquatag (Benztiazida)
 Lasix (Furosemida)
 Diulo (Metolazon)
 Renese (Politiazida), dll

10. Kortikosteroid dengan Kombinasi keduanya dapat meningkatkan efek

Estrogen (Emen, dari kortikosteroida.

Aygestin, DES, Estinyl,

Estrace, Estratab, Evex,

dll.)

11. Kortikosteroida dengan Efek merugikan dari masing-masing keduaya

Indometasin (Indocin) dapat meningkat jika dikombinasikan.

12. Kortikosteroida dengan Kombinasi ini dapat menyebabkan tubuh

Pencahar terlalu banyak kehilangan kalium dan menahan

terlalu banyak natrium.


13. Kortikosteroida dengan Kombinasi ini dapat menyebabkan tubuh

Levodopa (Dopar, terlalu banyak kehilangan kalium dan menahan

Loradopa, Sinemet) terlalu banyak natrium.

14. Kortikosteroida dengan Efek kortiosteroid dapat berkurang. Akibatnya

Fenitoin kondisi artritis tidak terawasi. Fenitoin

digunakan untuk mengendalikan kejang pada

kelainan seperti ayan. Dua oabt sejenis

Fenitoin adalah Mesantoin (Mefenitoin) dan

peganone (Etotoin).

15. Kortikosteroid dengan Efek Kortikosteroida dapat berkurang. Dimana

Primidon (Mysoline) primidon digunakan un tuk mengendalikan

kejang pada kelainan seperti ayan.

16. Kortik osteroida dengan Efek kortikosteroid dapat berkurang. Dimana

Rifampisin (Rifadin, rifampisin digunakan untuk pengobatan

Rimactane) tuberculosis dan diberikan pada pasien yang

diduga mengidap meningitis.

17. Kortikosteroid dengan Kombinasi ini dapat mengakibatkan kepekaan

Vaksin Cacar terhadap infeksi karena sistem kekebalan tubuh

menjadi tertekan. Sediaan kortikosteroid

topikal yang dijual bebas (krim, slaep,

semprot) adalah caladryl hidrocortisone,

caldecort, dan lain-lain.


(Harness. 1984: 17-30)

Interaksi kelompok Non-Kortikosteroid


No. Interaksi obat Efek
1. Obat Non- Efek pemblok Beta dapat berkurang. Pemblok

Kortikosteroid dengan beta dapat digunakan untuk mengobati nagina,

Obat jantung pemblok aritmia jantung, dna tekanan darah tinggi.

beta Nama paten pemblok Beta:

 Blocadren (Timolol)
 Lopressor (Metoprolol)
 Corgard (nadolol)
 Tenormin (atenolol)
 Inderal (Propranolol)
 Viksen (Pindolol)

2. Obat Non- Efek diuretika dapat berkurang. Diuretika

Kortikosteroid dengan menghilangkan udem dan digunakan untuk

Diuretika mengobati tekanan darah tinggidan layu

jantung.

Nama paten diuretika (nama generik dalam

kurung):

 Aldactazine
(Hidroklorotiazida/spironolakton)
 Anydron (Siklotiazida)
 Awatag (Benztiazida)

3. Obat Non- Efek litium dapat meningkat. Litium adalah

Kortikosteroid dengan obat antipsikotika yang digunakan untuk

Litium (Eskalith, mengobati kelainan manik-depresif.

Lithane, Lithobid,
Lithonate, Lithotab)

(Harness. 1984: 17-30)


Interaksi Masing-masing Obat Non-Kortikosteroid
No. Interaksi Obat Efek
1. Aspirin dengan Efek aspirin dapat berkurang. Nama paten

Antasida Antasida: Delcid, Di-Gel, maalox, Mylanta,

Riopan, WinGel, AlternaGel

2. Aspirin dengan Kerja sulfipirazon dapat berkurang.

Sulfipirazon (anturane) Sulfipirazon dapat digunakan untuk mengobati

pirai.

3. Aspirin dengan Kerja antikoagulan dapat meeningkat.

Antikoagulan Antikoagulan igunakan untuk mengencerkan

darah dan mencegah pembekuan.

Nama paten antikoagulan:

Anthrombin – K (warfarin), Coufarin

(Warfarin), Hedulin (Fenindion), dll.

4. Aspirin dengan Kerja metotreksak dapat meningkat. Dimana

Metotreksat metotreksat dapat digunakan untuk pangobatan

kanker dan psoriasis.

5. Indometasin dengan Efek antikogulan dapat meningkat .

Antikoagulan Nama paten antikogulan: Atrombin- K


(Warfarin), coumadin (Warfarin), hedulin

(Fenindion), dll.

6. Indometasin dengan Dapat menyebabkan tukak lambung dan

kortikosteroid pendarahan.

7. Indometasin dengan Efek fenilpropanolamin dapat meningkat.

Fenilpropanolamin Fenilpropanolamin adalah suatu pelega hidung,

cenderung menaikkan tekanan darah. Obat ini

sering ditulis sebagai PPA

(Phenylpropanolamine)

8. Asam mefenamat Efek antikoagulan dapat meningkat.

dengan Antikoagulan Antikoagulan digunakan untuk mengencerkan

darah. Akibatnya resiko pendarahan meningkat.

Nama paten antikoagulan:

Dikumarol (berbagai pabrik), Coumadin

(warfarin), Miradon (Anisindion), dan lain-lain.

9. Fenilbutason (Asolid, Efek obat diabetes meningkat. Efek diabetes

Butazolidin) dengan menurunkan kadar gula darah. Akibatnya kadar

Obat diabetes gula darah dapat turun terlalu rendah.

Nama paten obat diabetes:

Diabinese (Klorpromida), Dynelor

(Asetoheksamida), Orinase (Tolbutamida),


tolinase (lolazamida).

10. Fenilbutazon dengan Efek fenitoin dapat meningkat. Fenitoin adalah

Fenitoin antikonvulsan yang dapat mengontrol kejan

pada ayan

(Harness. 1984: 17-30)


STUDI KASUS

Bapak JA 78 tahun obesitas, didiagnosis serangan akut gout. Riwayat penyakit hipertensi dan
gagal jantung. Riwayat pengobatan: enalapril 5mg , atenolol 100mg , HCT 5 mg, aspirin
80mg untuk hipertensi dan gagal jantungnya. Setelah konsutasi ke dokter

Dokter meresepkan:

R/ kolkisin 500mg 2x1 untuk 7 hari

Metode PAM

Problem

 Pasien memiliki riwayat hipertensi, gagal jantung dan didiagnosa serangan akut gout
 Pasien telah diberikan enalapril mengobati tekanan darah tinggi, gagal jantung
congestive dan untuk meningkatkan pertahanan hidup setelah serangan jantung
 Pasien telah menerima kolkisin untuk mengatasi gout akut. Sebaiknya kolkisin diganti
karena memiliki efek samping yang besar dan memiliki onset yang lama
 Terdapat interaksi antara atenolol dan aspirin yang dapat meningkatkan serum
potassium dan merupakan interaksi potensial
 Terdapat interaksi antara enalapril dan aspirin yang dapat meningkatkan toksisitas
dari masing-masing obat. Merupakan interaksi signifikan.

Assessment/action

 Konfirmasi kepada dokter untuk mengganti kolkisin dengan obat allupurinol


 Mengganti aspirin dengan golongan AINS sebagai terapi lini pertama pada
pengobatan gout. Yang direkomendasikan adalah piroxicam 20mg, dosis awal 40mg
sehari sebagai dosis tunggal atau terbagi. (pada awal sehari 1x1 tablet, selanjutnya
sehari 2x1 tablet maksimal selama 6 hari)
 Penatalaksanaan interaksi yang terjadi antara atenolol-aspirin, enalapril-aspirin adalah
dengan cara diberi jeda waktu pada saat konsumsi obat.

Monitoring

 Jika obat antihipertensi dan gagal jantung diberikan perlu dilakukan monitoring:
 Laju klirens
 Efektifitasnya
 Pastikan pasien menghindari makanan yang banyak mengandung purin(kacang-
kacangan, jeroan, melinajo), serta rajin berolahraga ringan
 Pastikan pasien melakukan diet terkait obesitasnya untuk membantu mengurangi
tekanan darah pasien karena hipertensi dan riwayat gagal jantung
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.


Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.

Dipiro, Joseph T, et al. Pharmacotherapy : A Pathopysiologic Approach, 7th Edition.


McGraw-Hill, New York.

Dipiro, Joseph T, et al. Pharmacotherapy : A Pathopysiologic Approach, 9th Edition.


McGraw-Hill, New York.

Lacy, C. F., Armstrong, L. L., Goldman, M. P., Lance, L. L., 2010. Drug Information
Handbook. Lexi Comp. Nort America.

Sukandar, Elin Yulinah, dkk. 2008. ISO FARMAKOTERAPI Buku I. PT.ISFI: Jakarta.