Anda di halaman 1dari 81

UNIVERSITAS ANDALAS

HUBUNGAN UMUR, DURASI KERJA DAN PENCAHAYAAN DENGAN


KELUHAN SUBJEKTIF KELELAHAN MATA PADA PENJAHIT PASAR
RAYA KOTA PADANG TAHUN 2016

Oleh :

ANNE SINTIA
No. BP. 1210332007

Diajukan Sebagai Pemenuhan Syarat Untuk Mendapatkan


Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS ANDALAS


2016
PERNYATAAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

HUBUNGAN UMUR, DURASI KERJA DAN PENCAHAYAAN


DENGAN KELUHAN SUBJEKTIF KELELAHAN MATA
PADA PENJAHIT PASAR RAYA KOTA PADANG TAHUN
2016

Oleh :
ANNE SINTIA
No. BP :1210332007

Skripsi ini telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing Skripsi


Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Padang, September 2016


Menyetujui

Pembimbing I Pembimbing II

Nizwardi Azkha,SKM, MPPM, M.Pd,M.Si Septia Pristi Rahmah, SKM, MKM


NIP. 195510201976071001
PERNYATAAN PERSETUJUAN PENGUJI
Skripsi dengan judul :

HUBUNGAN UMUR, DURASI KERJA DAN PENCAHAYAAN DENGAN


KELUHAN SUBJEKTIF KELELAHAN MATA PADA PENJAHIT PASAR
RAYA KOTA PADANG TAHUN 2016

Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh :


ANNE SINTIA
No. BP : 1210332007

Telah diuji dan dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Andalas pada tanggal 30 Agustus 2016 dan dinyatakan
telah memenuhi syarat untuk diterima

Penguji I

Dr. Aria Gusti, SKM, M.Kes


NIP. 197208221995031002

Penguji II

Dr. dr. Fauziah Elytha, M.Sc


NIP. 195303121980032005

Penguji III

Ice Yolanda Puri, S.SiT, M.Kes


NIP. 197903262008122001
PERNYATAAN PENGESAHAN

DATA MAHASISWA:
Nama Lengkap : Anne Sintia
Nomor Buku Pokok : 1210332007
Tanggal Lahir : 12 Januari 1994
Tahun Masuk : 2012
Peminatan : Kesehatan Lingkungan &
Keselamatan & Kesehatan Kerja(K3)
Nama Pembimbing Akademik : Septia Pristi Rahmah, SKM, MKM
Nama Pembimbing I : Nizwardi Azkha,SKM, MPPM, M.Si, M.Pd
Nama Pembimbing II : Septia Pristi Rahmah, SKM, MKM
Nama Penguji I : Dr. Aria Gusti, SKM, M.Kes
Nama Penguji II : Dr. dr. Fauziah Elytha, M.Sc
Nama Penguji III : Ice Yolanda Puri, SsiT, M.Kes

JUDUL PENELITIAN:
HUBUNGAN UMUR, DURASI KERJA DAN PENCAHAYAAN DENGAN
KELUHAN SUBJEKTIF KELELAHAN MATA PADA PENJAHIT PASAR RAYA
KOTA PADANG TAHUN 2016

Menyatakan bahwa yang bersangkutan telah melaksanakan proses penelitian


skripsi, ujian usulan skripsi dan ujian hasil untuk memenuhi persyaratan akademik dan
administrasi untuk mendapatkan gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Fakultas
KesehatanMasyarakat Universitas Andalas.
Padang, 15 September 2016

Mengetahui, Mengesahakan,
a.n. Ketua Prodi IKM
Dekan FKM UNAND Sekretaris

Defriman Djafri, SKM, MKM, Ph.D Ade Suzana Eka Putri, Ph.D
NIP. 198008052005011004 NIP. 198106052006042001
PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :

Nama Lengkap : Anne Sintia


Nomor Buku Pokok : 1210332007
Tanggal Lahir : 12 Januari 1994
Tahun Masuk : 2012
Peminatan : Kesehatan Lingkungan &
Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3)
Nama Pembimbing Akademik : Septia Pristi Rahmah, SKM, MKM
Nama Pembimbing I : Nizwardi Azkha,SKM, MPPM, M.Pd,M.Si
Nama Pembimbing II : Septia Pristi Rahmah, SKM, MKM
Nama Penguji I : Dr. Aria Gusti,SKM, M.Kes
Nama Penguji II : Dr. dr. Fauziah Elytha, M.Sc
Nama Penguji III : Ice Yolanda Puri, S.SiT, M.Kes

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan hasil
skripsi saya yang berjudul :
“HUBUNGAN UMUR, DURASI KERJA DAN PENCAHAYAAN DENGAN
KELUHAN SUBJEKTIF KELELAHAN MATA PADA PENJAHIT PASAR RAYA
KOTA PADANG TAHUN 2016”
Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan tindakan plagiat, maka saya akan
menerima sanksi yang telah ditetapkan.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Padang,September 2016

Anne Sintia
No.BP:1210332007
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Anne Sintia


Tempat/Tanggal Lahir : Payakumbuh / 12 Januari 1994
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : JL. Manatahan Gg. Daya No. 143 Pekanbaru
Agama : Islam
Status Kelurga : Belum Menikah
No. Telp/Hp : 082385982147
E-mail :annesintia94@gmail.com
Riwayat Pendidikan Formal
1999 – 2000 : TK Angkasa Pekanbaru
2000 – 2006 : SD 046 Angkasa Pekanbaru
2006 – 2009 : SMP N 8 Pekanbaru
2009 – 2012 : SMA N 4 Pekanbaru
2012 – 2016 :Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ANDALAS

Skripsi, 27Juli 2016

Anne Sintia, No.BP. 1210332007

HUBUNGAN UMUR, DURASI KERJA DAN PENCAHAYAAN DENGAN


KELUHAN SUBJEKTIF KELELAHAN MATA PADA PENJAHIT PASAR
RAYA KOTA PADANG TAHUN 2016

xiv + 52 halaman,15 tabel, 6 gambar, 9 lampiran

ABSTRAK

Tujuan Penelitian
Penjahit memiliki risiko mengalami kelelahan mata karena pekerjaan monoton yang
terus-menerus melihat objek kecil. Hasil Riskesdas (2013) menunjukkan prevalensi
kerusakan fungsi penglihatan dan mempunyai tajam penglihatan kurang dari 6/18
pada umur produktif (15-54 tahun) sebesar 1,49% dan prevalensi kebutaan sebesar
0,5%. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara umur, durasi
kerja dan pencahayaan dengan keluhan subjektif kelelahan mata pada penjahit Pasar
Raya Kota Padang Tahun 2016.

Metode
Desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilakukan di Pasar
Raya Kota Padang bulan Februari sampai Juli 2016. Variabel yang diteliti adalah
umur, durasi kerja dan pencahayaan terhadap keluhan subjektif kelelahan mata.
Jumlah sampel 51 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data
secara univariat dan bivariat dengan 95% CI (α = 0,05)

Hasil
Hasil analisis didapatkan 72,5% penjahit mengalami keluhan subjektif kelelahan
mata, 66,7% memiliki umur berisiko, 76,5% memiliki durasi kerja yang tidak
normal, 74,5% intensitas pencahayaan tidak memenuhi syarat. Variabel yang
memiliki hubungan yang bermakna adalah umur dan pencahayaan, sedangkan
variabel yang tidak berhubungan adalah durasi kerja.

Kesimpulan
Terdapat hubungan yang bermakna antara umur dan pencahayaan dengan keluhan
subjektif kelelahan mata.Diharapkan dinas pasar meningkatkan intensitas
pencahayaan dan meletakkan benda-benda yang memiliki kontras yang dapat
menyejukkan mata.

Daftar Pustaka : 33 (1991 – 2016)


Kata Kunci : kelelahan mata, penjahit, pencahayaan

i
FACULTY OF PUBLIC HEALTH
ANDALAS UNIVERSITY

Undergraduate Thesis, 27 July 2016

Anne Sintia, No.BP. 1210332007

THE RELATION BETWEEN AGE, DURATION OF WORK AND LIGHTING


WITH SUBJECTIVE GRIEVANCE OF VISUAL FATIGUE AT TAILOR OF
PASAR RAYA PADANG CITY IN 2016

xiv + 52 pages, + 15 tables, 6 figures, 9appendices

ABSTRACT

Objective
Tailors have some risks in getting visual fatigue because of monotonous work that
constantly see small objects. Riskesdas (2013) showed the prevalence of visual
function demage less than 6/18 in the productive age (15-54 years) of 1,49% and a
blindness prevalence of 0,5%.The objective of this research is to know the relation
between age, duration of work and lighting with subjective grievance of visual
fatigue at tailors of Pasar Raya Padang City in 2016.

Methode
The design of this research is quantitative by using cross sectional in Pasar Raya
Padang City on February till July 2016. The variables are age, duration of work and
lighting toward subjective grievance on visual fatigue. With amount 51 respondents.
Data was collected by questionnaire. Then data will be analysed in univariat and
bivariat with 95% CI (α = 0,05).

Result
The result of analysis gets that 72,5% tailors experienced subjective grievance on
visual fatigue, 66,7% have age risky, 76,5% have abnormal duration of work, 74,5%
the intensity of lighting was not eligible. Variables that have meaningful relation were
age and lighting, while the variables that didn’t deal is duration of work.

Conclusion
There were a meaningful relation between age and lighting with subjective grievance
of visual fatigue. We do hope that government must enhance the lighting of intensity
in work place and putting objects that have contrast can make eyes refresh.

References : 33 (1991-2016)
Keywords : visual fatigue, tailors, lighting

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat,

karunia dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “HUBUNGAN UMUR, DURASI KERJA DAN PENCAHAYAAN

DENGAN KELUHAN SUBJEKTIF KELELAHAN MATA PADA PENJAHIT

PASAR RAYA KOTA PADANG TAHUN 2016”.

Dalam menyusunskripsi ini, peneliti banyak mendapatkan bantuan,

bimbingan, dorongan, dan petunjuk dari berbagai pihak. Untuk itu peneliti ingin

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA selaku Rektor Universitas

Andalas

2. Bapak Defriman Djafri, SKM, MKM, PhD selaku Dekan Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

3. Ibu Ade Suzana Eka Putri, Ph.Dselaku Ketua Program Studi Ilmu

Kesehatan Masyarakat yang telah membimbing peneliti dalam penulisan

skripsi ini.

4. Bapak Nizwardi Azkha SKM, MPPM, M.Pd, M.Si sebagai pembimbing

I yang selalu memberikan bimbingan, pemikiran, dan arahan dengan

penuh semangat dan ketulusan pada peneliti selama penelitian.

5. Ibu Septia Pristi Rahmah, SKM, MKM sebagai Pembimbing II yang

selalu memberikan bimbingan, pemikiran, dan arahan dengan penuh

semangat dan ketulusan pada peneliti selama penelitian.

6. Bapak Dr. Aria Gusti, SKM., M.Kes selaku penguji I yang telah

memberikan saran dan masukan kepada peneliti.

iii
7. IbuDr. dr. Fauziah Elytha, M.Sc selaku penguji II yang telah

memberikan saran dan masukkan kepada peneliti.

8. Ibu Ice Yolanda Puri, S.Si.T., M. Kes selaku penguji III yang telah

memberikan saran dan masukkan kepada peneliti.

9. Ibu Septia Pristi Rahmah, SKM, MKMselaku Pembimbing Akademik

yang telah memberikan semangat kepada peneliti.

10. Keluarga, teman-teman, dan semua pihak yang secara langsung maupun

tidak langsung telah membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian

skripsi ini.

Peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan daripenelitian skripsi

ini, baik dari materi maupun teknik penyajian, mengingat kurangnya pengetahuan

dan pengalaman peneliti. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran

yang sifatnya membangun. Akhirnya peneliti berharap semoga penelitian skripsi ini

dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang.

Semoga semua bantuan, bimbingan, semangat, dan amal kebaikan yang telah

diberikan dijadikan amal shaleh dan diridhai Allah SWT. Amin.

Padang, September 2016

Anne Sintia

iv
DAFTAR ISI

PERNYATAAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

PERNYATAAN PENGESAHAN

PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT

ABSTRAK..........................................................................................................................................i
KATA PENGANTAR................................................................................................iii

DAFTAR ISI............................................................................................................... v

DAFTAR TABEL........................................................................................................x

DAFTAR GAMBAR................................................................................................xii

DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN........................................................................xiii

BAB 1 : PENDAHULUAN.........................................................................................1

1.1 Latar Belakang....................................................................................................1

1.2 Perumusan Masalah............................................................................................5

1.3 Tujuan Penelitian................................................................................................5

1.3.1 Tujuan Umum..............................................................................................5

1.3.2 Tujuan Khusus.............................................................................................5

1.4 Manfaat Penelitian..............................................................................................6

1.5 Ruang Lingkup Penelitian.................................................................................. 6

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA............................................................................... 7

2.1 Mata....................................................................................................................7

2.1.1 Anatomi Mata.............................................................................................. 7

2.1.1.1 Anatomi Kelopak Mata.........................................................................7

2.1.1.2 Anatomi Bola Mata...............................................................................7

v
2.1.2 Mekanisme Penglihatan .............................................................................. 9
2.2 Kelelahan Mata ................................................................................................ 11

2.2.1 Gejala – Gejala Kelelahan Mata ...............................................................12

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelelahan Mata ....................................... 14

2.3.1 Umur ......................................................................................................... 14

2.3.2 Durasi Kerja .............................................................................................. 15

2.3.3 Pencahayaan .............................................................................................. 16

2.3.3.1 Sumber Pencahayaan .........................................................................17

2.3.3.2 Standar Pencahayaan di Ruangan ......................................................19

2.4 Cara Mengukur Kelelahan Mata ...................................................................... 20

2.5 Pengendalian Kelelahan Mata .......................................................................... 22

2.6 Kegiatan Menjahit ............................................................................................ 23

2.7 Telaah Sistematis ............................................................................................. 25

2.8 Kerangka Teori................................................................................................. 27

2.9 Kerangka Konsep ............................................................................................. 28

2.10 Hipotesa ......................................................................................................... 28

BAB 3 : METODE PENELITIAN ......................................................................... 29

3.1 Jenis Penelitian ................................................................................................. 29

3.2 Waktu dan Tempat ........................................................................................... 29

3.3 Populasi dan Sampel ........................................................................................ 29

3.3.1Populasi ..................................................................................................... 29
Sampel .......................................................................................................

3.3.2 29

vi
3.4 Definisi Operasional......................................................................................... 31
3.5 Metoda Pengukuran Pencahayaan.................................................................... 32

3.5.1 Prinsip ....................................................................................................... 32

3.5.2 Peralatan .................................................................................................... 32

3.5.3 Prosedur Kerja ........................................................................................... 33

3.5.3.1 Persiapan ............................................................................................33

3.5.3.2 Penentuan Titik Pengukuran ..............................................................33

3.5.3.3 Persyaratan Pengukuran .....................................................................33

3.5.3.4 Tata Cara ............................................................................................33

3.6 Teknik Pengumpulan Data ............................................................................... 34

3.6.1 Data Primer ............................................................................................... 34

3.6.2 Data Sekunder ........................................................................................... 34

3.7 Teknik Pengolahan Data .................................................................................. 34

3.8 Teknik Analisa Data ......................................................................................... 35

3.8.1 Analisis Univariat...................................................................................... 35

3.8.2 Analisis Bivariat ........................................................................................ 35

BAB 4 : HASIL ......................................................................................................... 37

4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ............................................................... 37

4.2 Gambaran Umum Pekerjaan ............................................................................38

4.3 Karakteristik Responden .................................................................................. 38

4.3.1 Umur ......................................................................................................... 38

4.3.2 Jenis Kelamin ............................................................................................ 39

vii
4.3.3 Lama Kerja ................................................................................................ 39
4.4 Analisis Univariat............................................................................................. 39

4.4.1 Keluhan Subjektif Kelelahan Mata ........................................................... 39

4.4.2 Umur ......................................................................................................... 40

4.4.3 Durasi Kerja .............................................................................................. 41

4.4.4 Pencahayaan .............................................................................................. 41

4.5 Analisis Bivariat ............................................................................................... 41

4.5.1 Hubungan Umur dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata................... 41

4.5.2 Hubungan Durasi Kerja dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata ....... 42

4.5.3 Hubungan Pencahayaan dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata ....... 43

BAB 5 : PEMBAHASAN ......................................................................................... 44

5.1 Ketebatasan Penelitian ..................................................................................... 44

5.2 Analisis Univariat............................................................................................. 44

5.2.1 Keluhan Subjektif Kelelahan Mata ........................................................... 44

5.2.2 Umur ......................................................................................................... 45

5.2.3 Durasi Kerja .............................................................................................. 46

5.2.4 Pencahayaan .............................................................................................. 47

5.3 Analisis Bivariat ............................................................................................... 48

5.3.1 Hubungan Umur dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata................... 48

5.3.2 Hubungan Durasi Kerja dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata ....... 49

5.3.3 Hubungan Pencahayaan dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata ....... 50

BAB 6 : KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 51

viii
6.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 51
6.2 Saran ................................................................................................................. 51

6.2.1 Bagi Dinas Pasar Kota Padang .................................................................. 51

6.2.2 Bagi Penjahit ............................................................................................. 52

6.2.3 Bagi Peneliti Lain ...................................................................................... 52

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

ix
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Korelasi Antara Daya Akomodasi dan Usia ........................................ 15

Tabel 2.2 Standar Intensitas Penerangan KEPMENKES RI NO.

1405/MENKES/SK/XI/2002 ................................................................ 19

Tabel 2.3 Telaah Sistematis Hubungan Umur, Durasi Kerja dan Pencahayaan

dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata pada Penjahit Pasar Raya

Kota Padang Tahun 2016 ..................................................................... 25

Tabel 3.1 Definisi Operasional ............................................................................. 31

Tabel 4.1 Gambaran Karakteristik Responden Dari Segi Umur .......................... 38

Tabel 4.2 Gambaran Karakteristik Responden dari Jenis Kelamin...................... 39

Tabel 4.3 Gambaran Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Kerja............ 39

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Keluhan Subjektif Kelelahan Mata Penjahit

Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016 .................................................. 39

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Keluhan Subjektif Kelelahan Mata pada Penjahit

Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016 .................................................. 40

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Umur Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun

2016 ...................................................................................................... 40

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Durasi Kerja Penjahit Pasar Raya Kota Padang

Tahun 2016 ........................................................................................... 41

Tabel 4.8 Intensitas Pencahayaan Setempat di Pasar Raya Bertingkat Kota

Padang Tahun 2016 .............................................................................. 41

Tabel 4.9 Hubungan Umur dengan Keluhan Subjektif Kelalahan Mata Pada

Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016 .................................... 42

Tabel 4.10 Hubungan Durasi Kerja dengan Keluhan Subjektif Kelalahan Mata

Pada Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016 ........................... 42

x
Tabel 4.11 Hubungan Pencahayaan dengan Keluhan Subjektif Kelalahan Mata

Pada Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016 43

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1Anatomi Mata Manusia............................................................................. 7

Gambar 2.2Bagian-Bagian Mata..................................................................................8

Gambar 2.3 Mekanisme Penglihatan..........................................................................10

Gambar 2.4Kerangka Teori........................................................................................ 27

Gambar 2.5 Kerangka Konsep....................................................................................28

Gambar 3.1LuxMeter..................................................................................................32

xii
DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN
1. Depkes : Departemen Kesehatan

2. WHO : World Health Organization


3. Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar
4. Severe Low Vision : Kerusakan Fungsi Penglihatan
5. Levator Palpebrae : Otot kelopak mata bagian atas
6. Orbikularis Okuli : Otot kelopak mata bagian bawah
7. Mm : Milimeter
8. Nm : Nanometer
9. Kepmen : Keputusan Menteri
10. Lux : Satuan intensitas cahaya
11. Luxmeter : Alat untuk mengukur intensitas cahaya

12. Photostress Recovery Test : tes yang dilakukan untuk mengevaluasi fungsi
adaptasi retina setelah suatu perubahan mendadak
13. LED : Light Emiting Diode
14. NIOSH : National Institute for Occupational Safety and
Health
15. DO : Drop Out
16. SNI : Standar Nasional Indonesia

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Kuesioner Penelitian


Lampiran 2 : Master Table
Lampiran 3 : Hasil Uji Statistik
Lampiran 4 : Kartu Kontak Bimbingan Hasil Penelitian

Lampiran 6 : Surat Izin Penelitian FKM Unand


Lampiran 7 : Surat Izin Penelitian Dinas Pasar
Lampiran 8 : Surat Keterangan Telah Selesai Melakukan Penelitian
Lampiran 9 : Dokumentasi

xiv
BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kata lelah (Fatigue) menunjukkan keadaan tubuh fisik dan mental yang

berbeda, tetapi semuanya berakibat kepada penurunan daya kerja dan berkurangnya

ketahanan tubuh untuk bekerja. Akar masalah kelelahan umum adalah monotonnya

pekerjaan, intensitas dan lamanya kerja mental dan fisik yang tidak sejalan dengan

kehendak tenaga kerja yang bersangkutan, keadaaan lingkungan yang berbeda dari

estimasi semula, tidak jelasnya tanggung jawab, kekhawatiran yang mendalam dan

(1)
konflik batin serta kondisi sakit yang diderita oleh tenaga kerja.

Kelelahan mata menurut ilmu kedokteran, Astenopia (kelelahan mata) gejala

yang diakibatkan oleh upaya berlebihan dari sistem penglihatan yang berada dalam

kondisi kurang sempurna untuk memperoleh ketajaman penglihatan. Menurut

Trevino Pakasi (1999) kelelahan mata adalah suatu kondisi subyektif yang

disebabkan oleh penggunaan otot mata secara berlebihan. Suma’mur (2009) dalam

Henry (2001) mengatakan kelelahan mata timbul sebagai stress intensif pada fungsi-

fungsi mata seperti terhadap otot-otot akomodasi pada pekerjaan yang perlu

(2)
pengamatan secara teliti atau pada retina sebagai akibat ketidaktepatan kontras.

Kelelahan mata dapat menimbulkan gangguan fisik seperti sakit kepala,

penglihatan seolah ganda, penglihatan silau terhadap cahaya diwaktu malam, mata

merah, radang pada selaput mata, berkurangnya ketajaman mata dan berbagai

kesehatan mata lainnya. Dengan tidak terjadinya penyakit dan kecelakaan akibat

kerja maka berarti tidak adanya absentisme para pekerja. Tidak adanya absentisme

(atau rendahnya angka absentisme) dan meningkatnya status kesehatan pekerja ini

1
2

jelas akan meningkatkan efisiensi, yang bermuara terhadap meningkatnya


(2, 3)
keuntungan perusahaan.

Data organisasi kesehatan dunia (WHO) menunjukkan angka kejadian

astenopia berkisar 40% sampai 90%, WHO juga menambahkan bahwa pada tahun

2006 diperkirakan 153 juta penduduk dunia mengalami gangguan visus mata /

kelainan pada mata. Survei AOA (The American Optometric Association) tahun 2004

membuktikan bahwa 61% masyarakat Amerika sangat serius dengan permasalahan

(4, 5)
mata akibat kerja dengan komputer dalam waktu yang lebih dari 3 jam sehari.

Hasil dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan bahwa di

Indonesia prevalensi severe low vision atau dalam bahasa Indonesianya merupakan

kerusakan fungsi penglihatan dan mempunyai tajam penglihatan kurang dari 6/18

pada umur produktif (15-54 tahun) sebesar 1,49 persen dan prevalensi kebutaan

sebesar 0,5 persen. Prevalensi severe low vision dan kebutaan meningkat pesat pada

penduduk kelompok umur 45 tahun keatas dengan rata-rata peningkatan sekitar dua

sampai tiga kali lipat setiap 10 tahunnya. Prevalensi severe low vision dan kebutaan

tertinggi ditemukan pada penduduk kelompok umur 75 tahun keatas sesuai

(6)
peningkatan proses degeneratif pada pertambahan umur.

Faktor yang menyebabkan terjadinya kelelahan mata menurut Occupational

Health and Safety Unit Universitas Quersland adalah faktor karakteristik pekerja

(usia, kelainan refraksi, istirahat mata), faktor karakteristik pekerjaan (durasi kerja)

dan faktor perangkat kerja (jarak monitor). Usia pekerja menurut Guyton (1994) juga

mempengaruhi kelelahan mata. Guyton menjelaskan bahwa semakin tua seseorang,

lensa semakin kehilangan kekenyalan sehingga daya akomodasi makin berkurang

dan otot-otot semakin sulit dalam menebalkan dan menipiskan mata. Daya

akomodasi menurun pada umur 40-50 tahun. Hal ini disebabkan karena setiap tahun
3

lensa semakin berkurang kelenturannya dan kehilangan kemampuan untuk

menyesuaikan diri. Sebaliknya semakin muda seseorang, kebutuhan cahaya akan

lebih sedikit dibandingkan umur yang lebih tua dan kecenderungan mengalami

kelelahan mata lebih sedikit. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Fea Firdani

terdapat adanya hubungan yang signifikan antara umur dan kelelahan mata pada

operator di Central Control Room PT. Semen Padang tahun 2014 yakni dengan P

(7, 8)
value sebesar 0,025.

Faktor lain yang mempengaruhi kelelahan mata adalah durasi kerja. Durasi

kerja adalah rata-rata lamanya melakukan pekerjaan menjahit dalam satu hari.

Lamanya seseorang bekerja dengan baik dalam sehari pada umumnya 6-10 jam.

Sisanya (14-18 jam) dipergunakan untuk kehidupan dalam keluarga dan masyarakat,

istirahat, tidur, dan lain-lain. Suatu pekerjaan yang bebannya biasa- biasa saja, yaitu

tidak terlalu ringan atau pun berat, produktivitas mulai menurun sesudah 4 jam

(1)
bekerja.

Intensitas dan penyebaran penerangan di tempat kerja dan di perusahaan harus

memenuhi persyaratan, sumber penerangan mungkin sinar alami maupun buatan.

Pencahayaan dan penerangan yang demikian penting untuk memudahkan melakukan

pekerjaan sering diabaikan, dengan akibat kelelahan luar biasa pada mata dan

konsekuensinya sangat menurunkan efisiensi kerja serta terjadinya banyak kesalahan

(1)
dalam melakukan pekerjaan.

Industri jahit termasuk ke dalam sektor informal yang merupakan sektor

kegiatan ekonomi marginal, kecil-kecilan yang dijalankan dengan teknologi

sederhana. Banyak penyakit akibat kerja yang timbul di sektor ini, namun sering

diabaikan saja oleh pemilik usaha dan pekerja itu sendiri. Apabila kesehatan pekerja

diabaikan maka akan menurunkan produktifitas baik dari segi produksi maupun fisik.
4

Menurunnya produktifitas penjahit akan mengakibatkan terlambatnya penyelesaian

orderan yang akan merugikan penjahit baik dari segi ekonomi maupun kesehatannya.

(9)

Menjahit adalah salah satu dari banyak pekerjaan monoton yang

mengharuskan si penjahit melihat ke suatu titik yang sama setiap saat dan

membutuhkan fokus dan konsentrasi yang optimal agar tidak terjadi kesalahan pada

jahitannya. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Tifani Natalia Puha pada

pekerja penjahit sektor usaha informal di Kompleks Gedung President Pasar 45 Kota

Manado terdapat 30 orang atau 71,43% pekerja mengalami kelelahan mata ringan

dan 12 orang atau 28,57% pekerja mengalami kelelahan mata berat.

Salah satu tempat menjahit di kota Padang yaitu terdapat di dalam kawasan

Pasar Raya Kota Padang. Pasar Raya Kota Padang adalah salah satu pusat

perbelanjaan yang ramai dikunjungi setiap harinya di Padang. Pasar Raya Kota

Padang merupakan pusat terjadinya fenomena ekonomi baik yang berskala besar,

sedang atau kecil. Pasar ini dikelola langsung oleh Dinas Pasar Kota Padang. Pasar

Raya Kota Padang terbagi atas tiga yaitu Pasar Raya Timur (Pasar Raya bertingkat

fase I sampai fase VII), Pasar Raya Barat (Sentral Pasar Raya), dan Blok Inpres Pasar

Raya Timur. Tempat menjahit pada Pasar Raya Kota Padang berada di lantai dua

yang terdiri dari fase I sampai fase III dan merupakan sentral jahit yang ada di Kota

Padang. Sistem kerja pada penjahit di Pasar Raya Kota Padang adalah mengerjakan

satuan, artinya mereka melayani perorangan, mulai dari mengukur, membuat pola,

memotong, menjahit sampai proses penyempurnaan seperti membersihkan benang,

memasang kancing, menyetrika. Mereka bekerja setiap hari kira-kira pukul 08.00

sampai 17.00. Waktu istirahat khusus tidak ada, tetapi biasanya waktu makan siang

(10)
sekitar satu jam digunakan untuk istirahat.
5

Datasurvei awal peneliti menunjukkan 6 dari 8 atau 75% penjahit di Pasar

Raya Padang mengalami gejela kelelahan mata, yakni berupa mata merah, mata

terasa tegang, penglihatan kabur, mata terasa pedih, berair, terasa gatal, sakit kepala

dan kesulitan fokus. Selain itu menurut observasi yang dilakukan, banyak kios-kios

penjahit yang menambah lampu di ruangannya. Hal ini mengindikasikan kurangnya

pencahayaan alami yang terdapat di dalam ruangan.

Berdasarkan latar belakang tersebut dan hasil penelitian awal, peneliti tertarik

untuk meneliti “Hubungan Umur, Durasi Kerja dan Pencahayaan dengan Keluhan

Subjektif Kelelahan Mata Pada Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016”.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan umur, durasi kerja dan

pencahayaan dengan keluhan subjektif kelelahan mata pada penjahit Pasar Raya

Kota Padang pada tahun 2016?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan umur, durasi kerja dan pencahayaan dengan keluhan

subjektif kelelahan mata pada penjahit Pasar Raya Kota Padang pada tahun 2016.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Diketahuinya distribusi frekuensi keluhansubjektif kelelahan mata penjahit di

Pasar Raya Kota Padang.

2. Diketahuinya distribusi frekuensi umur penjahit di Pasar Raya Kota Padang.

3. Diketahuinya distribusi frekuensi durasi kerja penjahit di Pasar Raya Kota

Padang.

4. Diketahuinya distribusi frekuensi intensitas pencahayaan di tempat kerja

penjahit di Pasar Raya Kota Padang.


6

5. Diketahuinya hubungan umur responden dengan keluhansubjektif kelelahan

mata pada penjahit di Pasar Raya Kota Padang.

6. Diketahuinya hubungan durasi kerja responden dengan keluhan subjektif

kelelahan mata pada penjahit di Pasar Raya Kota Padang.

7. Diketahuinya hubungan intensitas pencahayaan di tempat kerja responden

dengan keluhan subjektifkelelahan mata pada penjahit di Pasar Raya Kota

Padang.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi peneliti, diharapkan dapat memberikan pengalaman dalam pembuatan

karya tulis ilmiah dan sekaligus dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh

khususnya dalam bidang metodelogi penelitian.

2. Bagi institusi pendidikan khususnya Fakultas Kesehatan Masyarakat,

diharapkan dapat menjadi informasi bagi peneliti lain dalam melakukan

penelitian lebih lanjut terkait faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan

subjektif kelelahan mata pada penjahit.

3. Bagi tempat penelitian, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan

masukan dan sumbangan pemikiran dalam mengelola lingkungan kerja yang

lebih sehat dan aman agar terhindar dari kelelahan mata.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Pasar Raya BertingkatKota Padang untuk melihat

faktor-faktor keluhan subjektif kelelahan mata pada penjahit di Pasar Raya. Faktor-

faktor yang ingin diteliti yaitu hubungan umur, durasi kerja dan pencahayaan

dengankeluhan subjektif kelelahan mata. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari

sampai Juli 2016. Desain yang digunakan adalah Cross Sectional Study. Alat ukur

penelitian berupa kuesioner dan Lux Meter.


BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mata
2.1.1 Anatomi Mata
Mata terdiri dari kelopak mata dan bola mata.

Sumber: Sarpini R. Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Jakarta:
In Media;2014
Gambar 2.1Anatomi Mata Manusia
2.1.1.1 Anatomi Kelopak Mata
Kelopak mata adalah bagian mata yang dapat digerakkan untuk membuka dan

menutup mata. Kelopak mata ini ada bagian atas dan bagian bawah. Kelopak mata

bagian atas mempunyai otot yang disebut levator palpebrae yang dapat menarik mata

untuk terbuka, sedangkan kelopak mata bawah mempunyai otot orbikularis okuli

untuk menutup mata. Kelopak mata merupakan bagian pelindung bola mata karena

berfungsi sebagai proteksi mekanis pada bola mata anterior yang menyebarkan film

air mata ke konjungtiva dan kornea sehingga dapat mencegah mata menjadi kering.

(11, 12)

2.1.1.2 Anatomi Bola Mata


Bola mata manusia berbentuk bulat dan agak pipih dari atas ke bawah. Hal ini

disebabkan oleh selama berhubungan sejak bayi bola mata selalu tertekan oleh

kelopak mata atas dan bawah. Bola mata mempunyai diameter 24-25 mm, 5/6

7
8

bagiannya terbenam dalam rongga mata dan hanya 1/6 bagian yang tampak dari luar.
(11)

Bola mata dilindungi oleh pelupuk mata atas dan bawah. Untuk melihat mata

dapat terbuka dan bila tidur mata akan menutup. Bola mata ini dapat bergerak ke kiri,

ke kanan, dan ke bawah. Gerakan ini dilakukan oleh otot mata.

(11)
Bola mata terdri dari dua lengkung lingkaran sebagai berikut.

a. Lengkung lingkaran bagian depan yang disebut kornea, bersifat transparan

(bening) dan tembus cahaya.

b. Lengkung lingkaran bagian belakang yang disebut jaringan pengikat atau

padat tidak tembus cahaya dan berfungsi untuk penyokong bola mata yang

disebut dengan sclera.

Bola mata dibagi dua oleh suatu sumbu yang disebut sumber Anatomis

(Anatomical Axis). Bila suatu cahaya masuk ke bola mata, cahaya tersebut tidak

mengikuti sumbu anatomis, melainkan mengikuti suatu sumbu yang jatuh tepat pada

bintik kuning. Sumbu tersebut dinamakan sumbu penglihatan (Visual axis). Sumbu

anatomis dengan sumbu penglihatan tidak berhimpitan, tapi keduanya perpotongan

membentuk sudut penglihatan sebesar 1’ (satu menit) dan disebut sumbu penglihatan

minimal. Pada mata normal dengan sudut 1’ seseorang mempunyai sudut penglihatan

(11)
secara jelas.

Sumber: Sarpini R. Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Jakarta:
In Media;2014
Gambar 2.2Bagian-Bagian Mata
9

(11)
Bola mata itu adalah berikut ini:

a. Selaput tanduk (kornea) yaitu selaput bening di bagian depan bola mata

yang berguna untuk melewatkan cahaya yang masuk dari luar.

b. Selaput pelangi (iris) adalah bagian mata yang mengandung zat warna

(hitam, cokelat, hijau atau biru).

c. Anak mata (pupil) yaitu lubang pada bagian tengah iris yang berguna

dalam mengatur besar kecilnya cahaya yang masuk.

d. Lensa mata, dapat menjadi cembung atau pipih berguna dalam mengatur

pembentukan bayangan.

e. Selaput keras (sklera) yaitu bagian terluar dari bola mata yang berguna

untuk melindungi bagian dalam bola mata.

f. Selaput koroid yaitu bagian tengah bola mata yang berupa selaput tipis, di

dalamnya terdapat banyak saluran darah. Berwarna cokelat karena banyak

mengandung zat warna (pigmen). Selaput jala (retina) yaitu bagian

terdalam dari bola mata, berguna untuk menangkap bayangan.

g. Bintik kuning yaitu daerah yang sangat mudah menerima cahaya yang

masuk.

2.1.2 Mekanisme Penglihatan


Cahaya yang diterima secara visual dibawa menuju fokus pada permukaan

mata dan kornea untuk memprosesnya lebih lanjut. Cahaya memasuki mata dan

melewati berbagai bagian sampai akhirnya mencapai retina. Bagian-bagian mata

yang dilewatinya adalah kornea, pupil, iris dan lensa. Cahaya yang jatuh di mata akan

bertemu dengan pelindung luar, yaitu kornea. Sebagian besar fokus gambar

sebenarnya dilakukan oleh pembengkokan cahaya di permukaan kornea. Akan tetapi,

kornea tidak dapat menyaring cahaya dengan intensitas tinggi sehingga sistem

penglihatan memerlukan sebuah variabel mekanis yang dapat memaksimalkan


10

cahaya yang masuk pada saat kondisi cahaya sangat terang. Bagian mata yang
(13)
berfungsi mengatur hal ini adalah iris dan pupil.

Sumber: Sarpini R. Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Jakarta:
In Media;2014
Gambar 2.3 Mekanisme Penglihatan

Pupil adalah sebuah lubang diantara iris. Pada prinsipnya, pupil mengontrol

jumlah cahaya yang masuk ke mata. Pupil menyesuaikan ukurannya untuk menjaga

keseimbangan antara ketajaman fokus dan membiarkan cahaya yang cukup masuk ke

retina. Ukurannya menjadi kecil dalam kondisi cahaya yang terang untuk melindungi

mata. Di sisi lain, pupil menjadi besar dalam situasi cahaya yang redup agar

memungkinkan masuknya cahaya yang cukup. Cahaya diteruskan menuju lensa

setelah melewati pupil. Fungsi utama lensa adalah membawa gelombang cahaya ke

fokus pada fotoreseptor yang berada pada bagian belakang mata. Lensa dapat

memfokuskan cahaya yang datang dari objek yang dekat atau jauh melalui proses

yang disebut dengan akomodasi. Terdapat beberapa macam penyimpangan cahaya

yang terjadi pada lensa. Pertama adalah spherical aberration yang merupakan

distorsi yang diakibatkan oleh cahaya yang tidak terfokus pada pusat lensa. Kedua

adalah chromatic abberation yang merupakan distorsi yang diakibatkan dari

perbedaan fokus setiap warna cahaya. Setelah melewati lensa, cahaya tiba di retina

yang merupakan pelapis dari fotoreseptor dan sel saraf yang berada pada bagian
11

belakang mata. Fotoreseptor menyerap cahaya dan mengubahnya menjadi informasi


(13)
yang dapat dikirimkan oleh sel saraf.

Informasi yang dikirim ke otak, kemudian diproses dan dipersepsikan melalui

dua mekanisme yang disebut sebagai bottom-up processing dan top-down processing.

Berbeda dengan mekanisme pertama (bottom-up) yang hanya didasarkan atas

kemampuan mengenali objek, mekanisme top-down dipengaruhi oleh pengalaman

dan ekspektasi. Sering kali, kita tidak perlu membaca suatu teks secara lengkap.

Sebagai contoh, kita sering melihat tulisan informasi berikut pada gedung bertingkat:

“jika terjadi gempa maka gunakanlah “tangga””. Kalaupun tulisan dengan ukuran

huruf yang kecil tersebut terhapus atau salah tulis atau tidak lengkap, maka kita

masih mampu memahami maksud informasi tersebut karena adanya mekanisme top-

(13)
down processing.

2.2 Kelelahan Mata


Kelelahan mata merupakan ketidaknyamanan penglihatan yang meliputi nyeri

atau rasa berdenyut di sekitar mata, pandangan ganda, pandangan kabur, kesulitan

dalam memfokuskan pengelihatan, mata terasa perih, mata merah, mata berair hingga

sakit kepala dan mual. Penyebab utama dari kelelahan mata ini adalah kelelahan dari

otot silier dan otot ektra okular akibat akomodasi yang berkepanjangan terutama saat

(14)
beraktivitas yang memerlukan penglihatan jarak dekat.

Sedangkan Phaesant menyatakan bahwa kelelahan mata adalah ketegangan

pada mata dan disebabkan oleh penggunaan indera penglihatan dalam bekerja yang

memerlukan kemampuan untuk melihat dalam jangka waktu yang lama dan biasanya

(15)
disertai dengan kondisi pandangan yang tidak nyaman.

Kelelahan mata salah satu gangguan yang dialami mata karena otot-ototnya

dipaksa bekerja keras terutama saat harus melihat objek dekat dalam jangka waktu

lama. Objek gambar yang berupa garis maupun bidang, apabila dilihat dengan
12

pencahayaan yang tidak memadai akan menyebabkan otot iris mengatur pupil sesuai
(16)
dengan intensitas pencahayaan yang ada.

Mata akan berkurang kemampuannya saat lelah. Menurut Bridger (1995),

pekerjaan melihat objek dari jarak dekat akan memberikan kelelahan mata yang jauh

lebih besar dibandingkan dengan melihat objek dalam jarak yang relatif lebih jauh.

Hal ini karena adanya kerja akomodasi otot mata ketika otot berkontraksi untuk

membuat benda terlihat lebih dekat. Untuk itu pada perkerjaan yang membutuhkan

untuk melihat benda dari jarak dekat dalam jangka waktu yang lama, Bridger (1995)

menyarankan pekerja untuk istirahat sejenak beberapa menit atau melihat objek

lainnya dengan jarak yang lebih jauh guna mereduksi kelelahan mata yang

(13)
diterima.

2.2.1 Gejala – Gejala Kelelahan Mata


Kelelahan mata disebabkan oleh stress yang terjadi pada fungsi penglihatan.

Stress terjadi pada otot yang berfungsi untuk akomodasi saat seseorang berupaya

untuk melihat pada objek berukuran kecil dan pada jarak dekat pada waktu yang

lama. Pada kondisi demikian otot – otot mata akan bekerja secara terus menerus dan

lebih dipaksakan. Ketegangan otot-otot pengakomodasi maki besar sehingga terjadi

peningkatan asam laktat dan sebagai akibatnya terjadi kelelahan mata, stress pada

retina dapat terjadi bila terdapat kontras yang berlebihan dalam lapangan penglihatan

(17)
dan waktu pengamatan yang cukup lama.

Tanda – tanda kelelahan mata menurut Ilyas (2008):

1. Iritasi pada mata (mata pedih, merah dan mengeluarkan air mata)

2. Penglihatan ganda (double vision)

3. Sakit sekitar mata

4. Daya akomodasi menurun


13

5. Menurunnya ketajaman penglihatan, kepekaan terhadap kontras dan

kecepatan persepsi

Pencahayaan di tempat kerja yang tidak memadai atau tidak sesuai dengan

standar mengakibatkan terjadinya penglihatan yang dipaksakan, maka akan terjadi

pembebanan yang berlebihan pada mata. Hal yang demikian dapat menyebabkan

berbagai permasalahan pada mata seperti kornea mata terbakar, iritasi mata, mata

memerah dan berair, pandangan menjadi kabur, sakit pada daerah kepala dan

mengurangi kepekaan pada mata. Upaya mata yang melelahkan akibat pencahayaan

yang tidak memadai menjadi sebab munculnya kelelahan mental. Dengan gejala sakit

kepala, penurunan kemampuan intelektual, daya konsentrasi dan kecepatan berfikir,

dan lebih dari itu apabila pekerja mencoba mendekatkan matanya terhadap objek

untuk memperbesar ukuran benda maka akomodasi akan lebih dipaksakan dan

memungkinkan terjadinya penglihatan rangkap atau kabur. Kejadian ini disertai pula

(18, 19)
perasaan sakit kepala disertai rasa sakit di daerah atas mata.

Menurut Pusat Hiperkes dan Keselamatan Kerja, kelelahan mata akibat dari

pencahayaan yang kurang baik akan menunjukan gejala antara lain : kelopak mata

terasa berat, terasa ada tekanan di dalam mata, mata sulit dibiarkan terbuka, merasa

enak kalau kelopak mata sedikit ditekan, bagian mata paling dalam terasa sakit,

perasaan mata berkedip, penglihatan mata kabur, tidak bisa difokuskan, penglihatan

terasa silau, penglihatan seperti berkabut walau mata difokuskan, mata mudak berair,

mata pedih dan berdenyut, mata merah, jika mata ditutup terlihat kilatan cahaya,

kotoran mata bertambah, tidak dapat membedakan warna sebagaimana biasanya, ada

sisa bayangan di dalam mata, penglihatan tampak double, mata terasa panas dan mata

(17)
terasa kering.
14

Sedangkan menurut Pheasant, gejala-gejala dari kelelahan mata diantaranya


(15)
adalah:

1. Nyeri atau terasa berdenyut disekitar mata dan di belakang bola mata

2. Pandangan kabur

3. Pandangan ganda

4. Susah dalam memfokuskan penglihatan

5. Pada mata dan pelupuk mata terasa perih

6. Mata merah

7. Mata berair

8. Sakit kepala

9. Pusing dan mual serta terasa pegal-pegal, capek dan mudah emosi.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelelahan Mata


2.3.1 Umur
Secara umum, faktor umur memengaruhi kemampuan sistem penglihatan. Hal

ini ditunjukkan melalui suatu kondisi bahwa pertambahan umur (biasanya diatas 40

tahun) memengaruhi kepekaan terhadap kontras cahaya dan kekuatan mata untuk

berakomodasi karena lensa berkurang elastisitasnya. Dengan bertambahnya umur,

fungsi otot mata dapat memburuk, menjadikan titik terdekat mata dapat bergerak

lebih jauh dari fokus yang seharusnya. Sebagai contoh menurut Bridger (1995),

seseorang dengan umur 16 tahun memiliki titik dekat kurang dari 10 cm, sedangkan

seseorang dengan umur 60 tahun memiliki titik dekat hingga 100 cm. Akibat

berkurangnya elastisitas maka titik dekat secara bertahap berkurang, sedangkan titik

jauh biasanya cenderung tetap tidak berubah. Selain itu, kecepatan akomodasi juga

berkurang dengan bertambahnya umur. Hal ini pada akhirnya dapat mengganggu

(13)
performansi dalam bekerja.
15

Guyton menjelaskan bahwa semakin tua seseorang, lensa semakin kehilangan

kekenyalan sehingga daya akomodasi makin berkurang dan otot-otot semakin sulit

dalam menebalkan dan menipiskan mata. Daya akomodasi menurun pada umur 40-

50 tahun. Hal ini disebabkan karena setiap tahun lensa semakin berkurang

kelenturannya dan kehilangan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Sebaliknya

semakin muda seseorang, kebutuhan cahaya akan lebih sedikit dibandingkan umur

yang lebih tua dan kecenderungan mengalami kelelahan mata lebih sedikit.

Selain itu, menurut Ilyas usia juga berpengaruh terhadap daya akomodasi.

Semakin tua seseorang, daya akomodasi akan semakin menurun. Jarak terdekat dari

suatu benda agar dapat dilihat dengan jelas dikatakan “titik dekat” atau punktum

proksimum. Pada saat ini mata akan berakomodasi sekuat-kuatnya atau berakomodasi

maksimum. Sedangkan jarak terjauh dari benda agar masih dapat dilihat dengan jelas

dapat dikatakan bahwa benda terletak pada titik jauh atau punktum remotum dan pada

saat ini mata tidak berakomodasi atau lepas akomodasi. Korelasi antara daya

(16)
akomodasi dan usia dapat dilihat sebagai berikut:

(16)
Tabel 2.1 Korelasi Antara Daya Akomodasi dan Usia
Umur Titik dekat (cm)
10 7
20 10
30 14
40 22
50 40
60 200

2.3.2 Durasi Kerja


Lamanya seseorang bekerja dengan baik dalam sehari pada umumnya 6-10

jam. Sisanya (14-18 jam) dipergunakan untuk kehidupan dalam keluarga dan

masyarakat, istirahat, tidur, dan lain-lain. Suatu pekerjaan yang bebannya biasa-

biasanya saja, yaitu tidak terlalu ringan atau pun berat, produktivitas mulai menurun
16

sesudah 4 jam bekerja.Durasi kerja bagi seorang pekerja penjahit menentukan tingkat

efisiensi dan produktifitas kerja. Lamanya seseorang bekerja sehari secara baik pada

umumnya 0-4 jam. Memperpanjang jam kerja lebih dari kemampuan tersebut

biasanya tidak disertai efisiensi yang tinggi, bahkan biasanya terlihat penurunan

produktifitas serta kecenderungan untuk timbulnya kelelahan, penyakit atau

(1)
kecelakaan.

Semakin panjang waktu kerja seseorang, makin besar kemungkinan

terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan atau bersifat negatif. Hal ini berkaitan

dengan potensi bahaya atau risiko yang muncul dari pekerjaan atau material yang

pekerja hadapi saat bekerja sehingga semakin lama mereka terpapar bahan atau

hazard tersebut maka semakin besar kemungkinan mereka akan mendapatkan

(1)
dampak buruk dari hazard tersebut.

2.3.3 Pencahayaan
Cahaya pada dasarnya adalah radiasi gelombang elektromagnetik yang dapat

terlihat oleh mata manusia. Spektrum gelombang elektromagnetik di mana cahaya

(yang terlihat oleh mata) memiliki panjang gelombang sekitar 360-760 nano meter

(nm). Warna violet ditandai oleh panjang gelombang yang relatif lebih pendek (400

nm) bila dibandingkan dengan warna merah (700 nm).Intensitas Pencahayaan

menurut Kepmen No. 1405 tahun 2002: berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan

No. 1405 tahun 2002, pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang

(13)
kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif.

Pencahayaan tempat kerja yang memadai baik yang alami atau buatan

memegang peranan yang cukup penting dalam upaya peningkatan kesehatan,

keselamatan dan produktivitas tenaga kerja. Baik tidaknya pencahayaan di suatu

tempat kerja selain ditentukan oleh kuantitas atau tingkat iluminasi yang

menyebabkan objek dan sekitarnya terlihat jelas tetapi juga oleh kualitas dari
17

pencahayaan tersebut diantaranya menyangkut arah dan penyebaran atau distribusi

cahaya, tipe dan tigakt kesilauan. Demikian pula dekorasi tempat kerja khususnya

mengenai warna dinding, langit-langit, peralatan kerja ikut menentukan tingkat

(20)
penerangan di tempat kerja.

Fungsi utama pencahayaan di tempat kerja adalah untuk menerangi objek

pekerjaan agar terlihat secara jelas, mudah dikerjakan dengan cepat, dan

produktivitas dapat meningkat. Pencahayaan di tempat kerja harus cukup.

Pencahayaan yang intensitasnya rendah (poor lighting) akan menimbulkan kelelahan,

ketegangan mata, dan keluhan pegal di sekitar mata. Pencahayaan yang intensitasnya

kuat akan dapat menimbulkan kesilauan. Penerangan baik rendah maupun kuat

(21)
bahkan akan menimbulkan kecelakaan kerja.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengetahui apakah

kondisi pencahayaan di suatu tempat telah memenuhi yang diharakan adalah dengan

mengukur iluminansi dari suatu sumber cahaya (dengan teknik fotometri). Iluminansi

adalah suatu ukuran banyaknya cahaya yang jatuh pada suatu permukaan atau benda

kerja. Besarnya iluminansi bergantung pada seberapa jauh jarak dari sumber cahaya

ke benda kerja/pekerjaan yang tengah dilakukan. Sumber cahaya dapat berupa

cahaya matahari, lampu penerangan ruangan, maupun lampu kerja yang bersifat

lokal. Satuan dari banyaknya cahaya ini adalah lux (lx) atau foot-candle (fc). Dalam

melakukan pengukuran, alat diletakkan pada permukaan tempat bekerja, atau pada

(13)
permukaan benda kerja.

2.3.3.1 Sumber Pencahayaan


Berdasarkan sumbernya pencahayaan dibedakan menjadi dua yaitu,
(7)
pencahayaan alamiah dan pencahayaan buatan

1. Pencahayaan Alami
18

Pencahayaan alami adalah pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber cahaya

alami yaitu matahari dengan cahayanya yang kuat tetapi bervariasi menurut jam,

musim, dan tempat. Pencahayaan yang bersumber dari matahari dirasa kurang efektif

dibanding dengan pencahayaan buatan, hal ini disebabkan karena matahari tidak

memberikan intensitas cahaya yang tetap.Pada penggunaan cahaya alami diperlukan

jendela-jendela yang besar, dibanding kaca dan dinding yang banyak dilobangi,

sehingga pembiayaan bangunan menjadi mahal. Keuntungan dari penggunaan

sumber cahaya matahari adalah pengurangan terhadap energi listrik.

Pencahayaan sebaiknya lebih mengutamakan pencahayaan alamiah dengan

merencanakan cukup jendela pada bangunan yang ada. Kalau karena alasan teknis

penggunaan pencahayaan alamiah tidak dimungkinkan, barulah pencahayaan buatan

dimanfaatkan dan inipun harus dilakukan dengan tepat. Untuk memenuhi intensitas

cahaya yang diinginkan sumber cahaya alami dan buatan dapat digunakan secara

bersamaan sehingga menjadi lebih efektif.

2. Pencahayaan Buatan

Pencahayaan buatan adalah pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber

cahaya selain cahaya alami. Apabila pencahayaan alami tidak memadai atau posisi

ruangan sukar untuk dicapai oleh pencahayaan alami dapat dipergunakan

pencahayaan buatan. Pencahayaan buatan sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai

berikut:

a. Mempunyai pencahayaan dengan intensitas yang cukup sesuai dengan jenis

pekerjaan

b. Tidak menimbulkan pertambahan suhu udara yang berlebihan pada tempat

kerja
19

c. Memberikan pencahayaan dengan intensitas yang tetap menyebar secara

merata, tidak berkedip, tidak menyilaukan, dan tidak menimbulkan bayang-

bayang yang dapat mengganggu pekerjaan.

Tujuan pencahayaan di industri adalah tersedianya lingkungan kerja yang

aman dan nyaman dalam melaksanakan pekerjaan. Untuk upaya tersebut maka

pencahayaan buatan perlu dikelola dengan baik dan dipadukan dengan faktor-faktor

penunjang pencahayaan diantaranya atap, kaca, jendela dan dinding agar tingkat

pencahayaan yang dibutuhkan tercapai.

2.3.3.2 Standar Pencahayaan di Ruangan


Ketentuan tentang standar intensitas penerangan menurut Keputusan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang

(22)
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri:

Tabel 2.2Standar Intensitas Penerangan KEPMENKES RI NO.


1405/MENKES/SK/XI/2002
No. Jenis Kegiatan Tingkat Pencahayaan Keterangan
Minimal (LUX)
1. Pekerjaan kasar dan tidak 100 Ruang penyimpanan
terus menerus dan ruang
peralatan/instalasi
yang memerlukan
pekerjaan yang
kontinyu
2. Pekerjaan kasar & terus 200 Pekerjaan dengan
menerus mesin dan perakitan
kasar
3. Pekerjaan rutin 300 R. administrasi,
ruang kontrol,
pekerjaan mesin &
perakitan/penyusun
4. Pekerjaan agak halus 500 Pembuatan gambar
atau bekerja dengan
mesin kantor pekerja
pemeriksaan atau
pekerjaan dengan
mesin
20

5. Pekerjaan halus 1000 Pemiihan warna,


pemrosesan tekstil,
pekerjaan mesin
halus & perakitan
halus
6. Pekerjaan amat halus 1500 Mengukir dengan
Tidak menimbulkan tangan, pemeriksaan
bayangan pekerjaan mesin dan
perakitan yang sangat
halus
7. Pekerjaan terinci 3000 Pemeriksaan
Tidak menimbulkan pekerjaan, perakitan
bayangan sangat halus

Sumber: Kepmenkes No. 1405 Tahun 2002

2.4 Cara Mengukur Kelelahan Mata


(7)
Ada beberapa cara mengukur kelalahan mata, yaitu:

1. Tes Frekuensi Subjektif Kelipan Mata

Merupakan kemampuan mata untuk membedakan cahaya berkedip

dengan cahaya kontinue. Tes dilakukan dengan cara menguji responden

melalui kemampuan kedipan yang dimulai dari lambat kemudian

perlahan-lahan dinaikan semakin cepat dan cahaya tersebut dianggap

bukan cahaya kedipan lagi, melainkan sebagai cahaya yang kontinue

(mulus). Frekuensi ambang batas dari kedipan itulah yang disebut dengan

frekuensi kerlingan mulus. Jika seseorang dalam keadaan tidak lelah,

frekuensi ambang 2 Hertz jika memakai cahaya pendek atau 0,6 jika

memakai cahaya siang (day light). Jika seseorang dalam keadaan lelah,

maka angka frekuensi berkurang dari 2 Hertz atau 0,6 Hertz. Pada

seseorangn yang lelah sekali atau setelah menghadapi pekerjaan monoton,

angka frekuensi kerlingan mulus biasanya antara 0,5 Hertz atau dibawah

dari frekuensi kerlingan mulus dari orang yang sedang dalam keadaan

(19)
tidak lelah.
21

2. Photostress Recovery Test

Merupakan suatu tes yang dilakukan untuk mengevaluasi fungsi adaptasi

retina setelah suatu perubahan mendadak. Pengukuran kelelahan mata

yang dilakukan didasarkan pada raksi fotokimia yang terjadi pada retina

terhadap rangsangan cahaya tergantung pada metabolisme aktif sel retina

dan hubungan sel photoreceptor dengan retina pigmen ephitelium. Faktor

utama yang menentukan keadaan adaptasi terang dan gelap di retina

adalah peristiwa pemucatan dan resistesa pigmen penglihatan.

Pengukuran kelelahan mata dilakukan dengan memberikan penyinaran

pada mata menggunakan senter atau (penlight) berkekuatan 3 volt dengan

jarak 2 cm dari mata. Stimulasi ini akan memucat 24% - 86% pigmen

(23)
penglihatan.

3. Tes Uji Waktu Reaksi

Waktu reaksi merupakan selang waktu antara pemberian rangsangan

sampai dengan timbulnya jawaban. Waktu reaksi terhadap sinar adalah

waktu reaksi reseptor penglihatan, pengolahan informasi sistem syaraf

dan penghantaran sinyal sehingga terjadinya gerak oleh sistem motorik.

Pada alat ukur waktu reaksi menggunakan lampu indikator berupa LED

(Light Emiting Diode) warna tunggal dan empat buah berwarna (biru,

hijau, kuning dan merah). Pengukuran dengan menggunakan lampu

indikator empat warna ini dimaksudkan untuk mengamati hubungan

antara waktu reaksi terhadap warna sumber cahaya. Sebab menurut teori

Young Helmholt terdapat tiga jenis sel kerucut dalam retina yang masing-

(24)
masing peka terhadap warna tertentu.
22

Selain itu, menurut National Institute for Occupational Safety and Health

(1999) kelelahan mata juga dapat didiagnosa dari keluhan yang dirasakan yaitu: mata

merah, mata berair, mata terasa perih, mata gatal/kering, mata mengantuk, mata

(7)
tegang, pandangan kabur, penglihatan rangkap, sakit kepala dan kesulitan fokus.

2.5 Pengendalian Kelelahan Mata


(25)
Langkah mudah untuk mengurangi risiko kelelahan mata adalah:

1. Gunakan pencahayaan yang tepat

Kelelahan mata sering disebabkan oleh cahaya yang kurang atau terlalu

terang, baik dari sinar matahari di luar ruangan yang masuk melalui

jendela atau dari pencahayaan interior yang keras. Upaya yang bisa

dilakukan seperti menghilangkan cahaya eksterior dengan menutup tirai,

nuansa atau tirai. Melakukan perawatan bagi lampu yang padam atau

kusam. Mengurangi atau menambahkan pencahayaan interior dengan

menggunakan bola lampu yang hemat energi atau intensitas rendah.

Selain itu perlu diperhatikan juga tata letak penempatan lampu agar

tingkat pencahayaan di tempat kerja merata dan memenuhi standar yang

telah ditentukan.

2. Sering berkedip

Berkedip sangat penting ketika bekerja yang memerlukan fokus mata,

berkedip membasahi mata untuk mencegah kekeringan dan iritasi. Air

mata yang melapisi mata menguap lebih cepat selama fase tidak berkedip

dan ini menyebabkan mata kering. Selain itu, udara di lingkungan kantor

yang kering dapat meningkatkan seberapa cepat air mata menguap, hal ini

menimbulkan risiko yang lebih besar untuk terjadinya kelelahan mata.

3. Latihan mata
23

Penyebab lain dari ketegangan mata adalah mata sering berfokus. Untuk

mengurangi risiko kelelahan mata dengan terus-menerus berfokus adalah

dengan berpaling dari objek kerja setiap 20 menit dan menatap sebuah

objek yang jauhnya (setidaknya 20 kaki atau 6 meter) selama 20 detik.

(26)
Beberapa dokter mata menyebutkan aturan “20-20-20”.

4. Ambil waktu istirahat

Untuk mengurangi risiko kelelahan mata dan leher, nyeri punggung dan

bahu, sering-seringlah beristirahat selama bekerja. Istirahat tidak

mengurangi produktivitas pekerja. Selama istirahat, lakukan juga berdiri,

bergerak dan meregangkan lengan, kaki, punggung, leher dan bahu untuk

(27)
mengurangi ketegangan dan kelelahan otot.

2.6 Kegiatan Menjahit


Menjahit adalah pekerjaan menyambung kain, bulu, kulit binatang, pepagan,

dan bahan-bahan lain yang bisa dilewati jarum jahit dan benang. Menjahit dapat

dilakukan dengan tangan memakai jarum tangan atau dengan mesin jahit. Di industri

(28)
garmen, menjahit sebagian besar dilakukan memakai mesin jahit.

Produk-produk menjahit dapat berupa pakaian, tirai, kasur, seprai, taplak,

kain pelapis mebel, dan kain pelapis jok. Benda-benda lain yang dijahit misalnya

layar, bendera, tenda, sepatu, tas, dan sampul buku.

Pekerjaan menjahit pakaian terdiri dari tahap pembuatan pola, pemotongan

bahan, dan menjahit.

1. Pembuatan pola

Dalam istilah desain busana, pola adalah bagian-bagian pakaian yang

dibuat dari kertas untuk dijiplak ke atas kain sebelum kain digunting dan

dijahit. Pola dasar dibuat berdasarkan model pakaian, dan ukurannya

disesuaikan dengan ukuran badan pemakai.


24

2. Pemotongan bahan

Setelah pola disematkan ke kain dengan jarum pentul, kain digunting

sesuai pola yang dijadikan contoh. Dalam produksi pakaian secara

massal, kain dipotong dengan mesin potong. Sebelum pola dilepas dari

bahan, garis-garis dan tanda-tanda pada pola dijiplak ke atas kain dengan

bantuan rader, karbon jahit dan kapur jahit.

3. Pekerjaan menjahit

Setelah kain digunting, potongan kain disambung dengan memakai jarum

tangan atau mesin jahit. Walaupun jahitan mesin lebih rapi daripada

jahitan tangan, tidak semua teknik jahitan dapat dilakukan dengan mesin

jahit. Setelah pakaian selesai dijahit, bagian tepi kampuh yang bertiras

dirapikan dengan mesin obras agar benang-benang kain tidak terlepas.

4. Penyelesaian akhir

Setelah selesai, pakaian sering perlu dilicinkan dengan setrika di atas

papan setrika. Penyetrikaan bagian-bagian yang sulit seperti lengan baju

dilakukan dengan bantuan bantal setrika.


2.7 Telaah Sistematis
Tabel 2.3Telaah Sistematis Hubungan Umur, Durasi Kerja dan Pencahayaan dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata pada Penjahit
Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016

No Nama Peneliti Judul Desain Variabel Keterangan


Penelitian
1 Fea Firdani Hubungan karakteristik pekerja, jarak Cross Umur, lama kerja, kelainan Usia (p=0,025)
monitor dan pencahayaan dengan keluhan Sectional refraksi, istirahat mata, jarak Lama kerja (p=0,263)
subjektif kelelahan mata pada operator di monitor, pencahayaan Kelainan refraksi (p=2,025)
Central Control Room PT Semen Padang Istirahat mata (p=0,393)
Tahun 2014 Jarak monitor (p=0,241)
2 Tifani Natalia Hubungan antara intensitas pencahayaan Cross Intensitas Pencahayaan Pencahayaan (p=1,000)

Pencahayaan yang memadai 72,73% dan yang


Puha dengan kelelahan mata pada pekerja Sectional Kelelahan Mata tidak memadai 27,27%
penjahit sektor usaha informal di Kelelahan mata ringan sebanyak 71,43% dan
kompleks gedung president pasar 45 Kota kelelahan mata berat 28,67%
Manado
3 Irhamni Yusri Faktor-faktor yang berhubungan dengan Cross Usia, kelainan refraksi, durasi Istirahat mata (p=0,017)
keluhan kelelahan mata pekerja pengguna Sectional penggunaan komputer, istirahat Kelainan refraksi (p=0,038)
komputer Bank BCA, Bank BNI, dan mata, jarak monitor Usia (p=1,000)
Bank Mandiri Kota Bukittinggi tahun Jarak monitor (p=0,240)
2013
4 Rona Puspa Ayu Gambaran intensitas pencahayaan dan Semi Intensitas Pencahayaan,
Hasil pengukuran pencahayaan tidak sesuai
keluhan subyektif kelelahan mata pada kuantitatif Keluhan Subyektif Kelelahan dengan standar
pekerja di konveksi jeans daerah Mata Seluruh informan mengalami gejala kelelahan
kemayoran jakarta pusat pada tahun 2013 mata disebabkan oleh cahaya yang seadanya dan
5 Syefrinaldi Faktor-faktor yang berhubungan dengan Cross Usia, kelainan refraksi, istirahat kurangnya kebersihan dan kerapihan tempat kerja.
Usia (p=0,106)
kelelahan mata pada pekerja pengguna sectional mata, durasi penggunaan Kelainan refraksi (p=1,000)
komputer di PT Angkasa Pura II Padang komputer, jarak monitor Istirahat mata (p=0,275)
tahun 2015 Durasi kerja (p=0,259)
Jarak monitor (p=0,011)

25
26

Adapun kriteria yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya

adalah sebagai berikut:

1. Variabel independen dalam penelitian ini adalah umur, durasi kerja dan

pencahayaan.

2. Penelitian ini dilakukan pada penjahit di Pasar Raya Bertingkat Kota Padang.

3. Waktu penelitian adalah dari Februari sampai Juli 2016.


27

2.8 Kerangka Teori


Berdasarkan dasar teori yang telah diuraikan, maka dikembangkan suatu

kerangka teori yaitu:

Karakteristik Pekerja
- Umur
- Jenis Kelamin
- Lama kerja
- Kelainan refraksi
- Istirahat mata

Karakteristik Pekerjaan
- Durasi Kerja

Kelelahan Mata
Perangkat kerja
- Jarak objek
- Ukuran objek

Lingkungan Kerja
- Faktor Fisik:
+ Kebisingan
+ Suhu Dan Iklim
+ Getaran
+ Pencahayaan
- Faktor Kimia:
+ Debu
+ Gas
+ Uap
- Faktor Biologi:
+ Hewan
+ Bakteri
+ Virus

Sumber: Kerangka Teori Modifikasi Guyton(8), OH&S University Queseland OSHA(4) dan
Suma’mur(1)

Gambar 2.4Kerangka Teori Hubungan Umur, Durasi Kerja Dan Pencahayaan


Dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata Pada Penjahit Pasar Raya Kota
Padang Tahun 2016
28

2.9 Kerangka Konsep


Berdasarkan kerangka teori yang merupakan dari hasil penelitian didapatkan

variabel yang diduga mempunyai hubungan kuat dengan kejadian kelelahan mata

yang dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini:

Umur

Durasi kerja Kelelahan Mata

Pencahayaan

Gambar 2.5 Kerangka KonsepHubungan Umur, Durasi Kerja Dan


Pencahayaan Dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata Pada Penjahit Pasar
Raya Kota Padang Tahun 2016

2.10 Hipotesa
Hipotesa pada penelitian ini adalah:

1. Ada hubungan umur responden dengan keluhan subjektif kelelahan mata

pada responden yang bekerja di Pasar Raya Kota Padang

2. Ada hubungan durasi kerja responden dengan keluhan subjektif kelelahan

mata pada responden yang bekerja di Pasar Raya Kota Padang

3. Ada hubungan pencahayaan dengan keluhan subjektif kelelahan mata

pada responden yang bekerja di Pasar Raya Kota Padang


BAB 3 : METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan

rancangan Cross Sectional Study, dimana data mengenai variabel bebas (independen)

dan variabel terikat (dependen) diteliti pada waktu yang bersamaan.

3.2 Waktu dan Tempat


Penelitian dilakukan pada bulan Februari – Juli 2016 di Pasar RayaBertingkat

Kota Padang.

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan atau totalitas objek yang diteliti. Populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh penjahit Pasar Raya Bertingkat Kota Padang tahun 2016

dengan jumlah populasi 86 orang dengan jumlah laki-laki adalah 51 orang dan wanita

(29)
adalah 35 orang.

3.3.2 Sampel
1. Besar Sampel

Sampel adalah sebagian unsur populasi yang dijadikan objek penelitian.

Sampel dalam penelitian ini adalah penjahit Pasar Raya Kota Padang yang memenuhi
(29)
kriteria inklusi dan terpilih sebagai sampel.

Menurut Lemeshow dkk, untuk mencari besar sampel dari populasi yang jumlahnya diketahui dapat

menggunakan rumus:
(30)

2
. (1 − )
1−∝/2

=
2
( − 1) + 2
. (1 − )

1−∝/2

Keterangan:
n = jumlah sampel minimal yang diperlukan

29
N = besar populasi

Z12 – α/2 = simpangan baku (biasanya 95% = 1,96)

P = Proporsi suatu kasus tertentuk terhadap populasi, bila tidak

diketahui proporsinya, ditetapkan 50% (0,50)

d = tingkat kepercayaan/presisi 10%


1,962 0,5 (1 − 0,5) . 86
=
0,12(86 − 1) + 1,9620,5 (1 − 0,5)
82,59
=
1,81
= 45,6

Berdasarkan hasil perhitungan rumus di atas, diperoleh jumlah sampel

(31)
sebanyak 46 orang. Untuk menghindari adanya sampel drop out , maka ditambah

cadangan sampel sebanyak 10% dari sampel yaitu 5 orang sehingga besar sampel

menjadi 51 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Simple

Random Samplingdengan menggunakan tabel acak.

2. Kriteria Sampel

a. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu:

a) Penjahit tetap di kawasan Pasar Raya Bertingkat Kota Padang

b) Bersedia menjadi responden dan dapat berkomunikasi dengan baik

b. Kriteria eklusi

Kriteria eklusi dalam penelitian ini yaitu:

a) Responden tidak berada di tempat setelah tiga kali kunjungan saat

penelitian

b) Responden dalam keadaan sakit


3.4 Definisi Operasional
Tabel 3.1Definisi Operasional

Variabel Definisi Cara Alat Skala Hasil Ukur


Operasional Pengukuran Ukur
Kelelahan Keluhan Wawancara Kuesioner Ordinal 0 = lelah :
Mata gangguan jika
kesehatan mata mengalami
yang dirasakan ≥ 3 gejala
pekerja setelah kelelahan
menggunakan mata
mesin jahit. 1 = tidak
Gejala keluhan lelah : jika
kelelahan mata mengaami
diantaranya: < 3 gejala
- Mata tegang kelelahan
- Penglihatan mata(15)
kabur
- Penglihatan
rangkap/ganda
- Mata merah
- Mata perih
- Mata berair
- Mata
gatal/kering
(15)
- Sakit kepala
Umur Jumlah tahun Wawancara Kuesioner Ordinal 0=
yang dihitung Berisiko :
mulai karyawan jika umur
lahir sampai pekerja >
dengan 40 tahun
dilakukannya 1 = Tidak
(32)
penelitian Berisiko :
jika umur
pekerja ≤
(8)
40 tahun
Durasi kerja Rata-rata Wawancara Kuesioner Ordinal 0 = Tidak
lamanya normal:
melakukan jika durasi
pekerjaan penggunaan
menjahit dalam mesin > 4
(1)
satu hari jam/hari
1=
Normal:
jika durasi
penggunaan
mesin ≤ 4
(1)
jam/hari
Pencahayaan Jumlah Mengukur Lux Ordinal 0 = Tidak
penyinaran pada meter baik: jika
suatu bidang keja intensitas
yang diperlukan cahaya <
untuk 300 Lux
melaksanakan 1 = Baik:
kegiatan secara jika
(7)
efektif intensitas
cahaya ≥
(22)
300 Lux

3.5 Metoda Pengukuran Pencahayaan


Metoda pengukuran menggunakan Pengukuran Intensitas Penerangan di

Tempat Kerja SNI (Standar Nasional Indonesia) 16-7062-2004.

3.5.1 Prinsip
Pengukuran intensitas penerangan ini memakai alat luxmeter yang hasilnya

dapat langsung dibaca. Alat ini mengubah energi cahaya menjadi energi listrik,

kemudian energi listrik dalam bentuk arus digunakan untuk menggerakkan jarum

skala. Untuk alat digital, energi listrik diubah menjadi angka yang dapat dibaca layar
(33)
monitor.

3.5.2 Peralatan
Luxmeter

Sumber: Iridiastadi H, Yassierli. Ergonomi Suatu Penyakit. Bandung: PT Remaja


Rosidakarya; 2014
Gambar 3.1LuxMeter
3.5.3 Prosedur Kerja
3.5.3.1 Persiapan
Luxmeter dikalibrasi terlebih dahulu.

3.5.3.2 Penentuan Titik Pengukuran


 Penerangan setempat: obyek kerja, berupa meja kerja maupun peralatan. Bila

meja kerja, pengukuran dapat dilakukan di atas meja yang ada.

 Penerangan umum: titik potong garis horizontal panjang dan lebar ruangan

pada setiap jarak tertentu setinggi satu meter dari lantai.

3.5.3.3 Persyaratan Pengukuran


 Pintu ruangan dalam keadaan sesuai dengan kondisi tempat pekerjaan

dilakukan.

 Lampu ruangan dalam keadaan dinyalakan sesuai dengan kondisi pekerjaan.

3.5.3.4 Tata Cara


 Hidupkan luxmeter yang telah dikalibrasi dengan membuka penutup sensor.

 Bawa alat ke tempat titik pengukuran yang telah ditentukan, baik pengukuran

untuk intensitas penerangan setempat atau umum.

 Baca hasil pengukuran pada layar monitor setelah menunggu beberapa saat

sehingga didapat nilai angka yang stabil.

 Catat hasil mengukuran pada lembar hasil pencatatan untuk intensitas

penerangan setempat dan untuk intensitas penerangan umum.

 Matikan luxmeter setelah selesai dilakukan pengukuran intensitas

penerangan.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
3.6.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian

yang dikumpulkan dan diolah langsung oleh peneliti sendiri. Pada penelitian ini yang

termasuk kategori data primer adalah:

1. Data karakteristik responden (Umur, Durasi Kerja) pada penjahit di Pasar

Raya Kota Padang tahun 2016 diperoleh melalui wawancara dengan

responden menggunakan kuesioner penelitian Irhamni Yusri.

2. Data pengukuran pencahayaan didapatkan dengan cara mengukur

langsung intensitas pencahayaan di meja kerja berdasarkan standar

pengukuran SNI 16-7062-2004. Hasil pengukuran dibandingkan dengan

standar pencahayaan yang direkomendasikan oleh Keputusan Menteri

Kesehatan No. 1405 tahun 2002 yaitu:

1. Memenuhi syarat, jika intensitas pencahayaan ≥ 300 Lux

2. Tidak memenuhi syarat, jika intensitas pencahayaan < 300 Lux

3.6.2 Data Sekunder


Data sekunder adalah data yang diperoleh dari Koperasi Industri dan

Kerajinan Dharma Karsa Busana Kota Padang berupa data tentang jumlah penjahit di

kawasan Pasar Raya Bertingkat serta profil Pasar Raya Bertingkat yang diperoleh

dari Dinas Pasar Kota Padang.

3.7 Teknik Pengolahan Data


1. Penyuntingan (Editing)
Hasil wawancara, kuesioner, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan

penyuntingan (Editing) terlebih dahulu. Secara umum editing merupakan kegiatan

untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner.

2. Pengkodean (Coding)
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan

pengkodean atau coding, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi

data angka atau bilangan. Koding atau pemberian kode ini sangat berguna dalam

memasukkan data (data entry)

3. Memasukkan Data (Entry Data)


Jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk kode dimasukkan

ke dalam software komputer. Kegiatan inilah yang disebut dengan meng-entry data.

4. Pembersihan Data (Cleaning)


Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai

dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan kode

ataupun kelengkapan data, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi. Proses ini

disebut pembersihan data (cleaning data).

3.8 Teknik Analisa Data


3.8.1 Analisis Univariat
Pada umumnya dalam analisis ini hanya menggunakan distribusi dan

frekuensi pada setiap variabel. Untuk mengetahui karakteristik masing-masing

variabel yang diteliti baik variabel dependen maupun variabel independen.

3.8.2 Analisis Bivariat


Analisis bivariat merupakan analisis yang dilakukan pada dua variabel yang

diduga berhubungan. Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan dua

variabel (variabel independen dan variabel dependen). Dalam penelitian ini

digunakan uji statistik chi square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05),

dimana variabel independen dan dependen dalam penelitian ini berupa data

kategorik.

Berdasarkan hasil uji tersebut dapat ditarik kesimpulan dengan kriteria

sebagai berikut:
1. Jika Pvalue<0,05 berarti terdapat hubungan yang bermakna secara statistik

antara variabel yang diamati

2. Jika Pvalue≥0,05 berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara

variabel yang diamati.


BAB 4 : HASIL

4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian


Pasar Raya Kota Padang terletak di Kelurahan Kampung Jao Kecamatan

Padang Barat. Secara geografis, Kecamatan Padang Barat terletak pada 00 58’

Lintang Selatan – 100 21’ 11” bujur barat dan ketinggian dari permukaan air laut 0 –

8 meter. Pasar Raya Kota Padang merupakan pusat terjadinya fenomena ekonomi

baik yang berskala besar, sedang atau kecil. Pasar ini didirikan pada zaman kolonial

Belanda oleh seorang kapiten China bernama Lie Saay. Dalam perkembangannya,

Pasar Raya Kota Padang pernah menjadi sentra perdagangan bagi masyarakat di

Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Bengkulu pada era 1980-an. Pasar ini dikelola

langsung oleh Dinas Pasar Kota Padang. Pasar Raya Kota Padang terbagi atas tiga

(10)
yaitu:

1. Pasar Raya Timur (Pasar Raya Bertingkat fase I sampai fase VII) yang

dipenuhi oleh pedagang yang menjual kebutuhan sekunder seperti pakaian

jadi, sepatu, tekstil, aksesoris, dan lain-lain. Beberapa bagian terdapat

pasar loak, penjahit pakaian, salon kecantikan, taman bacaan dan warung

kecil-kecilan. Lokasi penelitian berada pada fase I sampai fase III.

2. Pasar Raya Barat (Sentral Pasar Raya) berada di pasar raya modern

termasuk juga pertokoan Merlian (pedagang elektronik, bahan bangunan,

onderdil kendaraan dan pedagang emas) dan Blok A.

3. Blok Inpres Pasar Raya Timur yang khususnya menjual barang-barang

kebutuhan sehari-hari.

Adapun batas administratif Pasar Raya Kota Padang adalah:

37
Batas Utara : Jalan Pasar Baru

Batas Selatan : Jalan Prof. M. Yamin

Batas Barat : Jalan Pasar Raya

Batas Timur : Jalan Baginda Aziz Chan

4.2 Gambaran Umum Pekerjaan


Pekerjaan yang menjadi objek pengamatan adalah penjahit. Setiap lokasi

usaha terdiri dari satu atau lebih pekerja. Adapun jenis mesin jahit yang digunakan

adalah mesin jahit standar dengan bantuan mesin dinamo. Penjahit bekerja sesuai

dengan banyaknya borongan yang diberikan. Pada umumnya penjahit bekerja mulai

dari pukul 08.00 – 17.00.

Waktu istirahat secara khusus tidak ada diberikan, hanya sebagian penjahit

biasanya memakai sekitar satu jam dari pukul 13.00-14.00 untuk makan siang dan

lainnya. Kondisi tempat kerja yang ada juga sangat sederhana, kios yang berupa

2
ruangan berukuran 3 x 3 m hanya berisi peralatan kerja berupa lemari, meja dan

mesin jahit yang disusun sangat berdekatan.

Penjahit tersebar dibeberapa fase di lantai dua pasar raya bertingkat. Ada yang

berada di dalam ruangan dan ada juga di luar ruangan. Pada bagian dalam ruangan

terdapat cahaya matahari yang masuk melalui loteng dan jendala, pada bagian luar

terdapat cahaya matahari langsung.

4.3 Karakteristik Responden


Gambaran karakteristik responden dilihat dari perbedaan umur dan perbedaan

jenis kelamin, diperoleh gambaran seperti berikut:

4.3.1 Umur
Tabel 4.1 Gambaran Karakteristik Responden Dari Segi Umur
Karakteristik Mean (Tahun) SD Min (Tahun) Max (Tahun)
Umur 45,67 10,520 27 62
Berdasarkan tabel 4.1 diperoleh gambaran bahwa rata-rata umur responden

adalah 46 tahun, umur termuda yaitu27 tahun dan umur tertua adalah 62 tahun.

4.3.2 Jenis Kelamin


Tabel 4.2 Gambaran Karakteristik Responden dari Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi (f) Presentase (%)
Laki-Laki 32 62,7
Perempuan 19 37,3
Jumlah 51 100

Berdasarkan tabel 4.2 diperoleh gambaran karakteristik responden dilihat dari

jenis kelamin responden yang lebih banyak adalah laki-laki yakni 32 orang atau

62,7%.

4.3.3 Lama Kerja


Tabel 4.3 Gambaran Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Kerja
Karakteristik Mean (Tahun) SD Min (Tahun) Max (Tahun)
Lama Kerja 18,53 10,931 3 40

Pada tabel 4.3 dapat dilihat bahwa rata-rata lama kerja responden adalah 19

tahun, masa kerja tersingkat 3 tahun dan masa kerja terlama adalah 40 tahun.

4.4 Analisis Univariat


Analisis univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-

masing variabel. Distribusi frekuensi dapat dilihat sebagai berikut:

4.4.1 Keluhan Subjektif Kelelahan Mata


Distribusi frekuensi keluhan subjektif kelelahan mata pada penjahit Pasar

Raya Kota Padang tahun 2016 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Keluhan Subjektif Kelelahan


Mata Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016
Kelelahan Mata Frekuensi (f) Presentase (%)
Lelah 37 72,5
Tidak Lelah 14 27,5
Jumlah 51 100
Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa sebagian besar penjahit

mengalami keluhan subjektif kelelahan mata yakni37 orang (72,5%). Dari 37 orang

yang mengalami keluhan subjektif kelelahan mata, 35 orang diantaranya merasakan

keluhan tersebut sesudah bekerja.

Selanjutnya berdasarkan data hasil penelitian, diperoleh distribusi frekuensi

keluhan yang dirasakan penjahit Pasar Raya Kota Padang seperti yang terlihat pada

tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Keluhan Subjektif Kelelahan Mata pada


Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016
Keluhan Frekuensi (f) Presentase (%)
1. Mata Merah 21 14,3
2. Mata Terasa Tegang 11 7,5
3. Penglihatan Kabur 20 13,6
4. Penglihatan 12 8,2
Rangkap/Ganda
5. Mata Terasa Pedih 17 11,6
6. Mata Berair 23 15,6
7. Mata Terasa Gatal 16 10,9
8. Sakit Kepala 22 15,0
9. Kesulitan Fokus 5 3,4

Berdasarkan tabel 4.5 diketahui jenis keluhan subjektif kelelahan mata yang

banyak dirasakan oleh penjahit yakni mata berair (15,6%), sakit kepala (15,0%) dan

mata merah (14,3%).

4.4.2 Umur
Distribusi frekuensi umur penjahit Pasar Raya Kota Padang tahun 2016 dapat

dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Umur Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun
2016
Umur Frekuensi (f) Presentase (%)
Berisiko (> 40 tahun) 34 66,7
Tidak Berisiko (≤ 40 tahun) 17 33,3
Jumlah 51 100
Pada tabel 4.6 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh penjahit di Pasar Raya

Kota Padang yakni sebanyak 34 orang (66,7%) berusia risiko mengalami kelelahan

mata (> 40 tahun).

4.4.3 Durasi Kerja


Distribusi frekuensi durasi kerja penjahit Pasar Raya Kota Padang tahun 2016

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Durasi Kerja Penjahit Pasar Raya Kota Padang
Tahun 2016
Durasi Kerja Frekuensi (f) Presentase (%)
Tidak Normal (> 4 jam) 39 76,5
Normal (≤ 4 jam) 12 23,5
Jumlah 51 100

Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden

mempunyai durasi kerja yang tidak normal yakni sebanyak 39 orang (76,5%).

4.4.4 Pencahayaan
Berdasarkan data hasil penelitian, diperoleh internsitas pencahayaan setempat

di Pasar Raya Bertingkat Kota Padang seperti yang terlihat pada tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.8 Intensitas Pencahayaan Setempat di Pasar Raya Bertingkat Kota


Padang Tahun 2016
Pencahayaan Frekuensi (f) Presentase (%)
Tidak Memenuhi Syarat (<300 lux) 38 74,5
Memenuhi Syarat (≥ 300 lux) 13 25,5
Jumlah 51 100

Pada tabel 4.8 dapat dilihat bahwa sebagian besar intensitas pencahayaan

setempat di Pasar Raya Bertingkat Kota Padang (74,5%) tidak memenuhi syarat (<

300 lux).

4.5 Analisis Bivariat


4.5.1 Hubungan Umur dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata
Hubungan umur penjahit dengan keluhan subjektif kelelahan mata dapat

dilihat pada tabel 4.9 berikut:


Tabel 4.9 Hubungan Umur dengan Keluhan Subjektif Kelalahan Mata Pada
Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016
Kelelahan Mata Jumlah OR
Umur Lelah Tidak Lelah P value
(95% CI)
f % f % f %
Berisiko 30 88,2 4 11,8 34 100,0 10,714
Tidak Berisiko 7 41,2 10 58,8 17 100,0 (2,6-44,4) 0,001
Jumlah 37 72,5 14 27,5 51 100,0

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa persentase responden yang

mengalami keluhan subjektif kelelahan mata lebih tinggi pada responden usiaberisiko

yakni sebanyak 30 orang (88,2%) dibandingkan dengan usia tidak berisiko yang

sebanyak 7 orang (41,2%). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai Pvalue

0,001, artinya terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara umur dengan

keluhan subjektif kelelahan mata.HasilPOR 10,714 (95% CI : 2,6-44,4), artinya

penjahit usia berisiko 11 kali lipat terkena kelelahan mata dibandingkan penjahit usia

tidak berisiko.

4.5.2 Hubungan Durasi Kerja dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata


Hubungan durasi kerja penjahit dengan keluhan subjektif kelelahan mata

dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut:

Tabel 4.10 Hubungan Durasi Kerja dengan Keluhan Subjektif Kelalahan Mata
Pada Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016
Kelelahan Mata Jumlah
Durasi Kerja Lelah Tidak Lelah P Value
f % f % f %
Tidak Normal 28 71,8 11 28,2 39 100,0
Normal 9 75,0 3 25,0 12 100,0 1,000
Jumlah 37 72,5 14 27,5 51 100,0

Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa persentase responden yang

mengalami keluhan subjektif kelelahan mata lebih tinggi pada responden yang

memiliki durasi kerja tidak normal yakni sebanyak 28 orang (71,8%) dibandingkan

dengan yang memiliki durasi kerja normal sebanyak 9 orang (75,0%). Berdasarkan
hasil uji statistik diperoleh nilai Pvalue 1,000, artinya tidak terdapat hubungan yang

bermakna secara statistik antara durasi kerja dengan keluhan subjektif kelelahan

mata.

4.5.3 Hubungan Pencahayaan dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata


Hubungan pencahayaan dengan keluhan subjektif kelelahan mata dapat

dilihat pada tabel 4.11 berikut:

Tabel 4.11 Hubungan Pencahayaan dengan Keluhan Subjektif


Kelalahan Mata Pada Penjahit Pasar Raya Kota Padang Tahun
2016
Kelelahan Mata Jumlah OR
Pencahayaan Lelah Tidak Lelah (95% CI) P Value
f % f % f %
Tidak Memenuhi 31 81,6 7 18,4 38 100,0
Syarat
5,167
Memenuhi Syarat 6 46,2 7 53,8 13 100,0 0,027
(1,3-20,2)
Jumlah 37 72,5 14 27,5 51 100,0

Berdasarkan tabel 4.11 dapat diketahui bahwa persentase responden yang

mengalami keluhan subjektif kelelahan mata lebih tinggi pada responden yang

intensitas pencahayaan di meja kerjanya tidak memenuhi syarat yakni sebanyak 31

orang (81,6%) dibandingkan dengan responden yang intensitas pencahayaan di meja

kerjanya memenuhi syarat sebanyak 4 orang (46,2%). Berdasarkan hasil uji statistik

diperoleh nilai Pvalue 0,027, artinya terdapat hubungan yang bermakna secara

statistik antara pencahayaan dengan keluhan subjektif kelelahan mata. Hasil POR

5,167 (95% CI : 1,3-20,2), artinya penjahit yang pencahayaan setempatnya tidak

memenuhi syarat berisiko 5 kali lipat terkena kelelahan mata dibandingkan penjahit

yang pencahayaan setempatnya memenuhi syarat.


BAB 5 : PEMBAHASAN

5.1 Ketebatasan Penelitian


Keterbatasan penelitian mengenai hubungan umur, durasi kerja dan

pencahayaan dengan keluhan subjektif kelelehan mata pada penjahit Pasar Raya

Kota Padang Tahun 2016 ini adalah:

1. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional.

Pada desain penelitian ini variabel dependen dan variabel independen diteliti pada

waktu yang bersamaan sehingga tidak dapat menjelaskan hubungan sebab akibat dari

variabel yang diteliti.

2. Titik Pengukuran Pencahayaan Umum

Pengukuran titik pencahayaan umum tidak dilakukan disemua titik

dikarenakan luasnya bangunan tempat penelitian serta ruangan dalam bangunan yang

kurang teratur.

5.2 Analisis Univariat


5.2.1 Keluhan Subjektif Kelelahan Mata
Berdasarkan data hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar penjahit di

Pasar Raya Kota Padang mengalami keluhan subjektif kelelahan mata sebanyak 37

responden (72,5%) dan tidak mengalami keluhan subjektif kelelahan mata sebanyak

14 responden (27,5%). Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian Firdani

(2014) pada operator di Central Control Room PT Semen Padang yang menyatakan

bahwa lebih banyak pekerja yang mengalami keluhan subjektif kelelahan mata

sebanyak 27 responden (67,5%) dibandingkan dengan pekerja yang tidak mengalami

keluhan kelelahan mata sebanyak 13 responden (32,5%).

44
Menurut Suma’mur kelelahan mata timbul sebagai stress intensif dari fungsi-

fungsi mata seperti terhadap otot-otot akomodasi pada pekerja yang perlu

pengamatan secara teliti atau terhadap retina akibat ketidaktepatan kontras. Kelelahan

mata salah satu gangguan yang dialami mata karena otot-ototnya dipaksa bekerja

(1)
keras terutama saat harus melihat objek dekat dalam jangka waktu lama.

Mata akan berkurang kemampuannya saat lelah. Menurut Bridger (1995),

pekerjaan melihat objek dari jarak dekat akan memberikan kelelahan mata yang jauh

lebih besar dibandingkan dengan melihat objek dalam jarak yang relatif lebih jauh.

Hal ini karena adanya kerja akomodasi otot mata ketika otot berkontraksi untuk

membuat benda terlihat lebih dekat. Untuk itu pada perkerjaan yang membutuhkan

untuk melihat benda dari jarak dekat dalam jangka waktu yang lama, Bridger (1995)

menyarankan pekerja untuk istirahat sejenak beberapa menit atau melihat objek

lainnya dengan jarak yang lebih jauh guna mereduksi kelelahan mata yang diterima.

(13)

Perlu adanya pencegahan untuk mengurangi kelelahan mata akibat kerja,

khususnya kelelahan mata. Pencegahan dapat dengan mengistirahatkan mata

menatap objek untuk menghindari kelelahan otot mata dengan cara berdiri dan

melakukan peregangan tubuh atau berjalan-jalan didalam ruangan, juga bisa dengan

melihat jauh pada objek yang berbeda.

5.2.2 Umur
Berdasarkan data hasil penelitian didapatkan bahwa lebih dari separuh

penjahit di Pasar Raya Kota Padang usia berisiko (> 40 tahun) sebanyak 34

responden (66,7%) dan usia tidak berisiko (≤ 40 tahun) sebanyak 17 responden

(33,3%). Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Firdani (2014) pada operator di Central Control Room PT Semen Padangyang


menyatakan bahwa pekerja usia berisiko lebih banyak yaitu sebanyak 21 responden

(52,5%) dibandingkan dengan usia tidak berisiko 19 responden (47,5%).

Hasil penelitian menunjukkan lebih banyak penjahit usia berisiko (66,7%),

Guyton menjelaskan bahwa semakin tua seseorang, lensa semakin kehilangan

kekenyalan sehingga daya akomodasi makin berkurang dan otot-otot semakin sulit

dalam menebalkan dan menipiskan mata. Daya akomodasi menurun pada umur 40-

50 tahun. Hal ini disebabkan karena setiap tahun lensa semakin berkurang

(8)
kelenturannya dan kehilangan kemampuan untuk menyesuaikan diri.

Selain itu, menurut Ilyas usia juga berpengaruh terhdap daya akomodasi.

Semakin tua seseorang, daya akomodasi akan semakin menurun. Jarak terdekat dari

suatu benda agar dapat dilihat dengan jelas dikatakan “titik dekat” atau punktum

proksimum. Pada saat ini mata akan berakomodasi sekuat-kuatnya atau berakomodasi

maksimum. Sedangkan jarak terjauh dari benda agar masih dapat dilihat dengan jelas

dapat dikatakan bahwa benda terletak pada titik jauh atau punktum remotum dan pada

(16)
saat ini mata tidak berakomodasi atau lepas akomodasi.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi keluhan subjektif kelelahan

mata adalah memindahkan penjahit usia berisiko ke pekerjaan yang kurang

diperlukan ketelitian seperti menggunting dan membuat pola.

5.2.3 Durasi Kerja


Berdasarkan data hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar penjahit

di Pasar Raya Kota Padang bekerja dengan durasi kerja yang tidak normal ( > 4 jam )

sebanyak 39 responden (76,5%) dan durasi kerja normal (< 4 jam) sebanyak 12

responden (23,5%). Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan

oleh Syefrinaldi (2015) pada pekerja pengguna komputer di PT Angkasa Pura II

Padang yang menyatakan bahwa pekerja yang bekerja dengan durasi kerja yang tidak
normal lebih banyak yaitu sebanyak 45 responden (73,8%) dibandingkan dengan

berusia muda 16 responden (26,2%).

Di dalam teori dijelaskan faktor kelelahan mata tidak terlepas dari durasi

kerja. Lamanya seseorang bekerja sehari secara secara baik umumnya 0-4 jam.

Memperpanjang jam kerja lebih dari kemampuan tersebut biasanya tidak disertai

efisiensi yang tinggi, bahkan biasanya terlihat penurunan produktivitas serta

(15)
kecenderungan untuk timbulnya kelelahan, penyakit atau kecelakaan.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi keluhan subjektif kelelahan

mata adalah sebaiknya mengistirahatkan mata secara teratur. Istirahat pendek namun

sering lebih dianjurkan. Melakukan istirahat 5 menit selama 4 kali sepanjanag waktu

bekerja dapat mengurangi keluhan kelelahan mata.

5.2.4 Pencahayaan
Berdasarkan data hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar intensitas

pencahayaan setempat (meja kerja) penjahit di Pasar Raya Kota Padang

dikategorikan tidak memenuhi syarat (<300 lux) sebanyak 38 titik pengukuran

(74,5%) dan yang memenuhi syarat (≥ 300 lux) sebanyak 13 titik pengukuran

(25,5%). Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tifani

(2014) pada penjahit sektor usaha informal di Kompleks Gedung President Pasar 45

Manado yang menyatakan bahwa lebih banyak intensitas pencahayaan setempat

(meja kerja) yang tidak memenuhi syarat, yaitu sebanyak 8 titik pengukuran

(72,73%) dibandingkan dengan intensitas pencahayaan yang memenuhi syarat

sebanyak 3 titik pengukuran (27,27%).

Menurut Suma’mur pencahayaan yang kurang memadai dapat menyebabkan

gangguan kesehatan pada pekerja, salah satunya adalah kelelalahan mata. Intensitas

dan penyebaran penerangan di tempat kerja dan di perusahaan harus memenuhi

persyaratan, sumber penerangan mungkin sinar alami maupun buatan. Pencahayaan


dan penerangan yang demikian penting untuk memudahkan melakukan pekerjaan

sering diabaikan, dengan akibat kelelahan luar biasa pada mata dan konsekuensinya

sangat menurunkan efisiensi kerja serta terjadinya banyak kesalahan dalam

(1)
melakukan pekerjaan.

Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak terkait adalah menambah intensitas

pencahayaan buatan yang belum memenuhi syarat, menambahkan watt pada lampu

penerangan ditempat kerja dan mengganti lampu yang sudah redup/rusak.

5.3 Analisis Bivariat


5.3.1 Hubungan Umur dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa responden dengan keluhan

subjektif kelelahan mata lebih besar persentasenya pada usia berisiko, yaitu sebanyak

30 responden (88,2%) dibandingkan dengan yang usia yang tidak berisiko 7

responden (41,2%). Hasil uji statistik chi square diperoleh p value sama dengan

0,001 (<0,05), hal ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna secara

statistik antara umur dengan keluhan subjektif kelelahan mata. Hasil penelitian ini

sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Firdani (2014), menyatakan

terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara umur dengan kelelahan

mata dengan p value 0,025.

Hasil analisis bivariat juga diketahui nilai Odds Ratio (OR) pada variabel

umur sebesar 10,714, dapat dinyatakan bahwa penjahit usia berisiko (> 40 tahun)

memiliki risiko mengalami keluhan subjektif kelelahan mata 10,714 kali daripada

penjahit usia yang tidak berisiko (≤ 40 tahun). Hal ini dapat disebabkan karena

pekerja yang berumur lebih dari 40 tahun akan lebih rentan terhadap penglihatan,

sejalan dengan proses perubahan fisiologis dan penuaan pada mata. Seseorang yang

telah berumur lebih dari 40 tahun, jarang mempunyai visus 6/6, melainkan telah

(19)
berkurang.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya keluhan subjektif

kelelahan mata pada penjahit di Pasar Raya Kota Padang terkait umur adalah penjahit

sebaiknya sering mengistirahatkan mata. Istirahat pendek namun sering lebih

dianjurkan.

5.3.2 Hubungan Durasi Kerja dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata


Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa responden

dengan kelelahan mata, lebih besar presentasenya pada durasi kerja yang normal

(75,0%) dibandingkan dengan durasi kerja yang tidak normal (71,8%). Uji statistik

yang dilakukan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi kerja dengan

keluhan subjektif kelelahan mata karena diperoleh Pvalue = 1,000 atau (Pvalue>

0,05). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maryamah

(2011), menyatakan tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara

durasi kerja dengan kelelahan mata dengan P value 0,618.

Hasil analisis terhadap kedua variabel terlihat bahwa penjahit dengan durasi

kerja yang normal ataupun yang tidak normal sama-sama mengalami kelelahan mata.

Hal ini mungkin disebabkan karena sebagian besar responden bekerja dengan

pencahayaan < 300 lux sehingga walaupun pekerja bekerja > 4 jam maupun ≤ 4 jam

jika pencahayaan tidak memadai maka akan berisiko terjadi kelelahan mata. Faktor

kelelahan mata tidak terlepas dari durasi kerja, lamanya seseorang bekerja sehari

secara baik pada umumnya 0 - 4 jam. Memperpanjang jam kerja lebih dari

kemampuan tersebut biasanya tidak disertai efisiensi yang tinggi, bahkan biasanya

terlihat penurunan produktifitas serta kecenderungan untuk timbulnya kelelahan,

(1)
penyakit atau kecelakaan.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi keluhan subjektif kelelahan

mata adalah sebaiknya penjahit sering mengistirahatkan mata secara teratur. Istirahat
pendek namun sering lebih dianjurkan. Melakukan istirahat 5 menit selama 4 kali

sepanjang waktu bekerja dapat mengurangi keluhan kelelahan mata.

5.3.3 Hubungan Pencahayaan dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata


Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa responden dengan keluhan

subjektif kelelahan mata lebih besar persentasenya pada penjahit yang intensitas

pencahayaan di meja kerjanya tidak baik, yaitu sebanyak 31 responden (81,6%)

dibandingkan dengan operator yang intensitas pencahayaan di meja kerjanya baik

sebanyak 6 responden (46,2%). Hasil uji statistik chi square diperoleh Pvalue sama

dengan 0,027 , hal ini menunjukkan ada hubungan yang bermakna secara statistik

antara intensitas pencahayaan dengan keluhan subjektif kelelahan mata. Hasil

penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maryamah (2011),

menyatakan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pencahayaan

dengan kelelahan mata dengan P value 0,003.

Menurut Suma’mur pencahayaan yang baik adalah pencahayaan yang

memungkinkan pekerja dapat melihat objek – objek yang dikerjakan secara jelas,

cepat dan tanpa upaya-upaya yang tidak perlu. Pencahayaan yang cukup dan diatur

secara baik akan membantu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan

menyenangkan sehingga dapat memelihara gairah kerja.

Berdasarkan observasi pada saat penelitian, intensitas pencahayaan di Pasar

Raya Bertingkat Kota Padang belum merata, rata-rata pada titik pencahayaan yang

berada di dalam ruangan yang tertutup adalah 170 lux, sedangkan rata-rata titik

pencahayaan diluar ruangan tertutup adalah 1135 lux. Hal ini disebabkan cahaya

matahari memiliki konstribusi pencahayaan yang besar bagi penjahit. Perlu dilakukan

upaya penambahan intensitas pencahayaan buatan yang belum memenuhi syarat

sesuai dengan kebutuhan penjahit.


BAB 6 : KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
1. Sebagian besar (72,5%) penjahit di Pasar Raya Kota Padang mengalami

keluhan subjektif kelelahan mata.

2. Lebih dari separuh (66,7%) penjahit di Pasar Raya Kota Padang adalah usia

berisiko.

3. Sebagian besar (76,5%) penjahit di Pasar Raya Kota Padang bekerja dengan

durasi kerja yang tidak normal.

4. Sebagian besar (74,5%) intensitas pencahayaan di Pasar Raya Bertingkat

Kota Padang belum memenuhi syarat.

5. Terdapat hubungan antara umur dengan keluhan subjektif kelelahan mata

pada penjahit di Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016.

6. Tidak terdapat hubungan antara durasi kerja dengan keluhan subjektif

kelelahan mata pada penjahit di Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016.

7. Terdapat hubungan antara intensitas pencahayaan dengan keluhan subjektif

kelelahan mata pada penjahit di Pasar Raya Kota Padang Tahun 2016.

6.2 Saran
6.2.1 Bagi Dinas Pasar Kota Padang
Melalui koordinasi dengan Koperasi Industri dan Kerajinan Dharma Karsa

Busana Kota Padang diupayakanmeletakkan benda-benda yang memiliki

kontras yang dapat menyejukkan mata seperti tanaman/pot ataupun lukisan di

lingkungan kerja penjahit sehingga ketika bekerja pekerja dapat

merelaksasikan mata dengan memandang benda-benda tersebut.

51
6.2.2 Bagi Penjahit
1. Sebaiknya penjahit memanfaatkan waktu untuk mengistirahatkan mata agar

tidak terlalu fokus untuk menatap objek jahitan. Istirahat pendek namun

sering lebih dianjurkan. Melakukan istirahat 5 menit selama 4 kali sepanjang

waktu bekerja dapat mengurangi keluhan kelelahan mata.

2. Melalui koordinasi dengan Koperasi Industri dan Kerajinan Dharma Karsa

Busana Kota Padanguntuk meningkatkan kualitas pencahayaan perlu

ditambah intensitas pencahayaan yang terang di ruangan kerja, mengganti

lampu yang sudah redup dan menambahkan lampu sorot di meja kerja untuk

meningkatkan pencahayaan setempat.

6.2.3 Bagi Peneliti Lain


Diharapkan kepada peneliti lain agar dapat melakukan penelitian lebih lanjut

mengenai variabel yang berhubungan dengan kejadian kelelahan mata yaitu

umur dan pencahayaan.


DAFTAR PUSTAKA

1. Suma'mur. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Jakarta:


Sagung Seto; 2013.

2. Ayu RP. Gambaran Intensitas Pencahayaan dan Keluhan Subyektif Kelelahan


Mata Pada Pekerja di Konveksi Jeans Daerah Kemayoran Jakarta Pusat Pada
Tahun 2013. FIK UI2013.

3. Notoatmodjo S. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta;


2011.

4. OSHA. Working Safely with Video Display Terminals. U.S. Department og


Labor Occupational Safety and Health Administration; 1997 [cited 2016 13
Maret]; Available from: http://www.osha.gov/Publications/osha3092.pdf.

5. Goestech D. Occupational Safety and Health for Technologists, Engineer and


Managers. New Jency: Prentice Hell; 2002.

6. Riset Kesehatan Dasar 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan


Kementerian Kesehatan RI, 2013.

7. Firdani F. Hubungan Karakteristik Pekerja, Jarak Monitor dan Pencahayaan


dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata Pada Operator di Central Control
Room PT Semen Padang Tahun 2014 [Skripsi]: Universitas Andalas; 2015.

8. Guyton AC. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC; 1994.

9. Amalia D. Tinjauan Tingkat Kelelahan Kerja Pada Pekerja Unit Produksi


Industri Garment PT. Inti Gramindo Tahun 2007. Jakarta2007.

10. Profil Dinas Pasar Kota Padang. Dinas Pasar Kota Padang; 2014.

11. Iswari M, Nurhastuti. Anatomi Fisiologi Dan Neurologi Dasar: UNP Press;
2010.

12. Cameron, John R. Physics of The Body. Jakarta: Sagung Seto; 1999.

13. Iridiastadi H, Yassierli. Ergonomi Suatu Penyakit. Bandung: PT Remaja


Rosidakarya; 2014.

14. Ananda NS. Hubungan Intensitas Pencahayaan dengan Keluhan Subjektif


Kelelahan Mata Pada Mahasiswa Semester II Program Studi Pendidikan
Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Universitas Udayana2015.

15. Pheasant S. Ergonomic, Works and Health. USA: Aspen Publisher Inc; 1991.
16. Ilyas S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2008.

17. Firmansyah F. Pengaruh Intensitas Penerangan Terhadap Kelelahan Mata Pada


Pekerja di Bagian Pengepakan PT Ikapharmindo Putramas Jakarta Timur
[Skripsi]: Universitas Sebelas Maret; 2010.

18. Anizar. Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri. Yogyakarta:


Graha Ilmu; 2012.

19. Tarwaka. Ergonomi Industri. Surakarta: Harapan Press; 2011.

20. Aryanti. Hubungan antara Intensitas Penerangan dan Suhu Udara dengan
Kelelahan Mata Karyawan pada bagian administrasi di PT. Hutama Karya
Wilayah IV Semarang [Skripsi]: Unes; 2006.

21. Santoso G. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Prestasi


Pustaka; 2004.

22. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.


KEPMENKES RI NO 1405/MENKES/SK/XI/2002; 2002.

23. Hanum IF. Efektivitas Penggunaan Screen pada Monitor Komputer untuk
Mengurangi Kelelahan Mata Pekerja Call Centre di PT. Indosat NSR Tahun
2008 [Tesis]: Unnes; 2008.

24. Ganong WF. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2001.

25. Septiansyah R. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Mata Pada


Pekerja Pengguna Komputer di PT. Duta Astakona Girinda Tahun 2014
[Skripsi]: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; 2014.

26. Flammini, Franceso, dkk. Effective Surveillance for Homeland Security:


Balancing Technology and Social Issues: CRC Press Taylor & Francis Group;
2013.

27. Murtopo, Ichwan, Sarimurni. Pengaruh Radiasi Layar Komputer terhadap


Kemampuan Daya Akomodasi Mata Mahasiswa Pengguna Komputer di
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi.
2005;Volume 6 No.2.

28. Endang Sutisna Sulaeman. Manajemen Kesehatan Teori dan Praktik di


Puskesmas. Yogyakarta: Gajah Mada University; 2009.

29. Neolaka A. Metode Penelitian Dan Statistik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya;


2014.

30. Lameshow S. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan Yogyakarta:


Gadjahmada University Press; 1997.

31. Indonesia DKR. Pedoman Teknis Pengendalian Risiko Lingkungan di


Pelabuhan/Bandara. Jakarta: Depkes RI; 2000.
32. Yusri I. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Kelelahan Mata
Pekerja Pengguna Komputer Bank BCA, Bank BNI, dan Bank Mandiri Kota
Bukittinggi Tahun 2013 [Skripsi]: Universitas Andalas; 2013.

33. Standar Nasional Indonesia (SNI). Pengukuran Intensitas Penerangan di


Tempat Kerja: Badan Standardisasi Nasional; 2004.
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai