Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Asam urat sudah dikenal sejak 2.000 tahun yang lalu dan menjadi salah satu
penyakit tertua yang dikenal manusia. Dulu, penyakit ini juga disebut "penyakit para
raja" karena penyakit ini diasosiasikan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan dan
minuman yang enak-enak. Penyakit asam urat erat kaitannya dengan pola makan.
Salah satu cara penyembuhan tentu dengan mengontrol asupan makanan. Jika pola
makan tidak dirubah, kadar asam urat dalam darah yang berlebihan akan
menimbulkan penumpukan kristal asam urat. Apabila kristal terbentuk dalam cairan
sendi, maka akan terjadi penyakit gout (asam urat).

Berdasarkan jurnal penelitian Best Practice & Research Clinical


Rheumatology pada tahun 2010, terhadap 4683 orang dewasa menunjukkan bahwa
angka prevalensi gout dan hiperurisemia di Indonesia pada pria adalah masing-
masing 1,7 dan 24,3%. Dimana rasio perbandingan laki-laki dan perempuan adalah
34:1 untuk gout, dan 2:1 untuk hiperurisemia

Umumnya yang terserang asam urat adalah pria yang telah lanjut usia,
sedangkan pada perempuan didapati hingga memasuki menopause. Perjalanan
penyakit biasanya mulai dengan suatu serangan atau seseorang memiliki riwayat
pernah memeriksakan kadar asam uratnya yang nilai kadar asam urat darahnya lebih
dari 7 mg/dl, dan makin lama makin tinggi (Ellyza, 2012)

Faktor yang menyebabkan penyakit asam urat yaitu pola makan, faktor
kegemukan dan lain lain. Diagnosis penyakit asam urat dapat ditegakkan berdasarkan
gejala yang khas dan ditemukannya kadar asam urat yang tinggi di dalam darah
.Selain itu pengobatan asam urat dapat dilakukan dengan meningkatkan ekskresi
melalui ginjal. Ginjal adalah organ yang memiliki fungsi utama untuk menyaring
darah dan membuang racun hasil metabolisme maupun racun yang dikonsumsi secara
tidak sengaja. Pada lansia sehat, ginjal akan tetap berfungsi baik. Namun bila ginjal
mengalami kerusakan yang diakibatkan terutama oleh hipertensi, kencing manis,
infeksi berulang, atau batu ginjal, akan terjadi perubahan dalam struktur dan
fungsinya. Jaringan akan menumpuk sebagai respon dari perbaikan kerusakan
sehingga filter yang ada akan tidak berfungsi. Akibat dari gagal ginjal adalah sesak,
muntah hebat hingga kejang yang mengharuskan untuk dilakukan cuci darah (Antika,
2011)

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan asam urat dan klasifikasinya?
2. Apa saja penyebab terjadinya asam urat?
3. Faktor apa yang mempengaruhi asam urat?
4. Apa saja macam-macam pemeriksaan untuk asam urat?
5. Faktor apa yang mempengaruhi pemeriksaan asam urat?
6. Apakah sumber-sumber kesalahan pada pemeriksaan asam urat?
7. Apakah persiapan khusus / tahap pra analitik untuk pemeriksaan asam urat?
8. Apa saja tanda dan gejala asam urat?
9. Bagaimana cara mencegah asam urat?

1.3 Tujuan Makalah


1. Untuk mengetahui pengertian dari asam urat dan klasifikasinya.
2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya asam urat.
3. Untuk mengetahui foktor yang mempengaruhi asam urat.
4. Untuk mengetahui macam-macam pemeriksaan asam urat.
5. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemeriksaan asam urat.
6. Untuk mengetahui sumber-sumber kesalahan pada pemeriksaan asam urat.
7. Untuk mengetahui persiapan khusus/tahap pra analitik untuk pemeriksaan asam
urat.
8. Untuk mengetahui tanda dan gejala asam urat
9. Untuk mengetahui pencegahan dari asam urat

1.4 Manfaat Makalah


1.Sebagai informasi kepada mahasiswa analis kesehatan tentang pengertian asam
urat, penyebab terjadinya asam urat dan hal - hal yang berkaitan dengan
pemeriksaan asam urat.
2.Dapat memperluas pengetahuan dalam pemeriksaan kimia klinik khususnya
pemeriksaan asam urat.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Asam urat adalah produk akhir atau produk buangan yang dihasilkan dari
metabolisme/pemecahan purin. Asam urat sebenarnya merupakan antioksidan dari
manusia dan hewan, tetapi bila dalam jumlah berlebihan dalam darah akan
mengalami pengkristalan dan dapat menimbulkan gout. Asam urat mempunyai peran
sebagai antioksidan bila kadarnya tidak berlebihan dalam darah, namun bila kadarnya
berlebih asam urat akan berperan sebagai prooksidan (McCrudden Francis H. 2000).

Asam urat merupakan substansi hasil akhir dari metabolisme purin dalam
tubuh. Berdasarkan penyelidikan, 90% dari asam urat merupakan hasil katabolisme
purin yang dibantu oleh enzim guanase dan xantin oksidase. Asam urat yang
berlebihan tidak akan tertampung dan termetabolisme seluruhnya oleh tubuh, maka
akan terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah yang disebut sebagai
hiperurisemia (Neil, 2000)

Asam urat merupakan hasil samping dari pecahan sel yang terdapat didalam
darah, karena tubuh secara berkesinambungan memecah dan membentuk sel yang
baru. Kadar asam urat meningkat ketika ginjal tidak mampu mengeluarkanya melalui
feces .

Kadar asam urat dapat diketahui melalui hasil pemeriksaan darah dan urin.
Nilai rujukan kadar darah asam urat normal pada laki-laki yaitu 3.6 - 8.2 mg/dl
sedangkan pada perempuan yaitu 2.3 - 6.1 mg/dl (E. Spicher, Jack Smith W. 1994).

Di bawah mikroskop kristal urat menyerupai jarum - jarum renik yang tajam,
berwarna putih, dan berbau busuk.

Gambar 1. Struktur kimia asam urat

3
Pembentukan asam urat dalam darah juga dapat meningkat yang disebabkan
oleh factor dari luar tertama makanan dan minuman yang merangsang pembentukan
asam urat. Adanya gangguan dalam proses ekskresi dalam tubuh akan menyebabkan
penumpukan asam urat di dalam ginjal dan persendian. Jalur kompleks pembentukan
asam urat dimulai dari ribose 5-phosphate, suatu pentose yang berasal dari glycidic
metabolism, dirubah menjadi PRPP (phosphoribosyl pyrophosphate) dan kemudian
phosphoribosilamine, lalu ditransformasi menjadi inosine monophosphate (IMP).
Dari senyawa perantara yang berasal dari adenosine monophosphate (AMP) dan
guanosine monophosphate (GMP), purinic nucleotides digunakan untuk sintesis DNA
dan RNA, serta inosine yang kemudian akan mengalami degradasi menjadi
hypoxanthine, xanthine dan akhirnya menjadi uric acid (McCrudden Francis H.2000).

Gambar 2. Penguraian Basa Purin (A. Swanson, dkk. 2007)

Beberapa hal di bawah ini menyebabkan peningkatan kadar asam urat dalam
tubuh :

A. Kandungan makanan tinggi purin karena meningkatkan produk asam urat dan
kandungan minuman tinggi fruktosa.
B. Ekskresi asam urat berkurang karena fungsi ginjal terganggu misalnya
kegagalan fungsi glomerulus atau adanya obstruksi sehingga kadar asam urat
dalam darah meningkat. Kondisi ini disebut hiperurikemia, dan dapat
membentuk Kristal asam urat / batu ginjal yang akan membentuk sumbatan
pada ureter (Mandell Brian F. 2008).
C. Penyakit tertentu seperti gout, Lesch-Nyhan syndrome, endogenous nucleic
acid metabolism, kanker, kadar abnormal eritrosit dalam darah karena
destruksi sel darah merah, polisitemia, anemia pernisiosa, leukemia, gangguan
genetik metabolisme purin, gangguan metabolic asam urat bawaan
(peningkatan sintesis asam urat endogen), alkoholisme yang meningkatkan

4
laktikasidemia, hipertrigliseridemia, gangguan pada fungsi ginjal dan obesitas,
asidosis ketotik, asidosis laktat, ketoasidosis, laktosidosis, dan psoriasis.
D. Beberapa macam obat seperti obat pelancar kencing (diuretika golongan
tiazid), asetosal dosis rendah, fenilbutazon dan pirazinamid dapat
meningkatkan ekskresi cairan tubuh, namun menurunkan eksresi asam urat
pada tubulus ginjal sehingga terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah
E. Pada pemakaian hormonal untuk terapi seperti hormone adrenokortikotropik
dan kortikosteroid. (McCrudden Francis H. 2000).

Beberapa kondisi yang menyebabkan terjadinya penurunan kadar asam


urat :

A. Kegagalan fungsi tubulus ginjal dalam melakukan reabsorpsi asam urat dari
tubulus ginjal, sehingga ekskresi asam urat melalui ginjal akan ditingkatkan
dan kadar asam urat dalam darah akan turun.
B. Rendahnya kadar tiroid, penyakit ginjal kronik, toksemia kehamilan dan
alcoholisme.
C. Pemberian obat-obatan penurun kadar asam urat. Penurunan kadar asam urat
dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang meningkatkan ekskresi asam
urat atau menghambat pembentukan asam urat. Cara kerja allopurinol
merupakan struktur isomer dari hipoxanthin dan merupakan penghambat
enzim. Fungsi allopurinol yaitu menempati sisi aktif pada enzim xanthine
oxidase, yang biasa ditempati oleh hypoxanthine. Allopurinol menghambat
aktivitas enzim secara irreversible dengan mengurangi 9 bentuk xanthin
oxidase sehingga menghambat pembentukan asam urat. (McCrudden Francis
H. 2000).

5
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pemeriksaan : Asam Urat

Tujuan :Untuk mengetahui kadar asam urat dalam darah

Metode :Uricase PAP (Enzimatik)

Prinsip :Asam urat dioksidasi oleh uricase menjadi allatoin


dengan H2O2 dengan adanya peroksidase menghasilkan
chromogen berwarna yang diukur pada panjang
gelombang 546 nm yang sebanding dengan kadar asam
dalam sampel.

Alat :-Tabung serologi

-Mikropipet 10 ul dan 500 ul

-Tip

-Beaker glass

-Humalyzer / Fotometer

Bahan :Serum

Reagensia :Larutan Standar Asam Urat

Reagen Enzym : -Buffer fosfat (pH 7,0)

-4-Aminophenazone

-DCHBS

-Uricase

-Peroxidase

Prosedur :-Disiapkan tabung reaksi

Blanko Standar Sampel


Standar - 10 ul -
Sampel - - 10 ul
Reagen kerja 500 ul 500 ul 500 ul

-Dihomogenkan

6
-Dinkubasi 10 menit suhu kamar atau 5 menit 37oC

-Dibaca menggunakan Humalyzer program asam urat

panjang gelombang 546 nm

Nilai Rujukan :Pria 3,4 - 7,0 mg/dl

Wanita 2,4 – 5,7 mg/dl

7
Pemeriksaan :Asam Urat

Tujuan ;Untuk mengetahui kadar asam urat dalam darah

Metode :Strip

Prinsip :Strip diletakkan pada alat, ketika darah


diteteskan pada zona reaksi tes strip, katalisator
asam urat akan bereaksi. Intensitas dari elektron
yang terbentuk dalam alat strip setara dengan
konsentrasi pemeriksaan tersebut.

Alat dan Bahan : -Lanset

-Kapas alkohol

-Pena Accu Check soft click

-Strip asam urat

-Alat pemeriksaan

Prosedur :

 Dipasang lancet pada alat pena Accu Check soft click. Atur sesuai kedalaman
yang diinginkan.
 Diusap jari tengah menggunakan alkohol swab dan ditunggu hingga kering
 Dipasang strip, diambil 1 strip dari tabung asam urat kemudian dipasang ke
slot tempat strip, nyalakan alatnya menjadi on.
 Dicheck nomor kode kalibrasi, dibandingkan No kode kalibrasi yang muncul
dilayar dengan yang tertera ditabung harus sama.
 Diambil sampling darah dengan menggunakan pena soft click. Lokasi
pengambilan sampling darah disamping jari
 Dimasukkan darah kedalam bantalan strip sampai terisi penuh
 Ditunggu proses pemeriksaan lalu hasilnya akan tertera dilayar
 Dibaca hasil pemeriksaan

Nilai Rujukan :Laki-laki 3,0-7,0 mEq/l

Perempuan 2,1-6,2 mEq/l

8
BAB IV

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Asam Urat (GOUT)

GOUT dikenal sejak masa Hippocrates, sering dinamakan sebagai "penyakit


para raja dan raja dari penyakit“. Gout bahasa Latin, yaitu gutta (tetesan) karena
kepercayaan kuno bahwa penyakit ini disebabkan oleh luka yang jatuh tetes demi
tetes ke dalam sendi (Sacher, 2005).

Asam urat adalah produk akhir atau produk buangan yang dihasilkan dari
metabolisme/pemecahan purin. Asam urat sebenarnya merupakan antioksidan
dari manusia dan hewan, tetapi bila dalam jumlah berlebihan dalam darah akan
mengalami pengkristalan dan dapat menimbulkan gout. Asam urat mempunyai
peran sebagai antioksidan bila kadarnya tidak berlebihan dalam darah, namun bila
kadarnya berlebih asam urat akan berperan sebagai prooksidan (McCrudden
Francis H. 2000). Kadar asam urat dapat diketahui melalui hasil pemeriksaan
darah dan urin. Nilai rujukan kadar darah asam urat normal pada laki-laki yaitu
3.6 - 8.2 mg/dl sedangkan pada perempuan yaitu 2.3 - 6.1 mg/dl (Soeparman,
2003).

Asam urat berasal dari :

1.Endogen : perombakan protein/nucleoprotein jaringan terutama purin

2.Eksogen : Makanan yang mengandung sintesis nucleoprotein

2.2 Klasifikasi Asam Urat

1. Penyakit gout primer penyebabnya belum diketahui. Diduga berkaitan dengan


kombinasi faktor genetic dan factor hormonal yang menyebabkan gangguan
metabolisme yang dapat mengakibatkan meningkatnya produksi asam urat
atau bisa juga di akibatkan karena berkurangnya pengeluaran asam uart daam
tubuh

2. Penyakit gout sekunder disebabkan antara lain karena meningkatnya produksi


asam urat karena nutrisi, yaitu mengonsumsi makanan dengan kadar purin
yang tinggi

2.3 Penyebab Asam Urat

1. Faktor keturunan dengan adanya riwayat gout dalam silsilah keluarga

9
2. Meningkatnya kadar asam urat karena diet tinggi protein dan makanan kaya
senyawa purin lainnya. Purin adalah senyawa yang akan dirombak menjadi
asam urat dalam tubuh

3. Konsumsi alkohol berlebih, karena alkohol merupakan salah satu sumber


purin yang juga dapat menghambat pembuangan urin melalui ginjal

4. Ekskresi asam urat berkurang karena fungsi ginjal terganggu misalnya


kegagalan fungsi glomerulus atau adanya obstruksi sehingga kadar asam urat
dalam darah meningkat. Kondisi ini disebut hiperurikemia, dan dapat
membentuk kristal asam urat / batu ginjal yang akan membentuk sumbatan
pada ureter (Mandell Brian F. 2008). Pasien disarankan meminum cairan
dalam jumlah banyak . minum air sebanyak 2 liter atau lebih tiap harinya
membantu pembuangan urat, dan meminimalkan pengendapan urat dalam
saluran kemih.

5. Beberapa macam obat seperti obat pelancar kencing (diuretika golongan


tiazid), asetosal dosis rendah, fenilbutazon dan pirazinamid dapat
meningkatkan ekskresi cairan tubuh, namun menurunkan eksresi

6. Penggunaan antibiotika berlebihan yang menyebabkan berkembangnya


jamur,bakteri dan virus yang lebih ganas.

7. Penyakit tertentu seperti gout, Lesch-Nyhan syndrome, endogenous nucleic


acid metabolism, kanker, kadar abnormal eritrosit dalam darah karena
destruksi sel darah merah, polisitemia, anemia pernisiosa, leukemia, gangguan
genetik metabolisme purin, gangguan metabolik asam urat bawaan
(peningkatan sintesis asam urat endogen), alkoholisme yang meningkatkan
laktikasidemia, hipertrigliseridemia, gangguan pada fungsi ginjal dan obesitas,
asidosis ketotik, asidosislaktat, ketoasidosis, laktosidosis, dan psoriasis

8. Faktor lain seperti stress, diet ketat, cidera sendi, darah tinggi dan olahraga
berlebihan.

2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Asam Urat

Faktor risiko utamanya adalah usia, gender, dan gen. Menurut beberapa pakar,
lebih dari 50 persen penderita memiliki keluarga dengan riwayat penyakit itu.
”Ayah dan kakek saya punya penyakit asam urat,” kata Alfred, yang dikutip
sebelumnya. Penyakit ini juga lebih sering menyerang pria, khususnya yang
berusia 40 sampai 50 tahun. Malah, pria memiliki kemungkinan tiga atau empat
kali lebih besar terkena penyakit ini dibanding wanita. Sebelum menopause,
jarang ada wanita yang terkena penyakit asam urat.

10
Obesitas dan pola makan: Encyclopedia of Human Nutrition menyatakan,
”Pengaturan pola makan untuk mengatasi penyakit asam urat tampaknya tidak
lagi berfokus pada pantangan terhadap makanan dengan kandungan purin yang
tinggi, tetapi pada penanganan gangguan metabolisme yang umumnya dikaitkan
dengan penyakit asam urat: obesitas, sindrom resistansi insulin, dan
dislipidemia,” yaitu kelainan jumlah lipid pada darah, misalnya kolesterol.

Namun, beberapa pakar juga menyarankan agar makanan dengan kandungan


purin yang tinggi, seperti ragi, beberapa jenis ikan, dan berbagai jenis daging
merah, dikurangi.

Minuman: Konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan bisa menghambat


pembuangan asam urat, sehingga terjadi penumpukan.

Problem kesehatan: Menurut Klinik Mayo di Amerika Serikat, penyakit asam


urat bisa dipicu oleh beberapa problem kesehatan, termasuk ”tekanan darah tinggi
yang tidak diobati (hipertensi) dan kondisi kronis seperti diabetes, kadar lemak
dan kolesterol yang tinggi dalam darah (hiperlipidemia), dan penyempitan arteri
(arteriosklerosis)”. Penyakit asam urat juga dikaitkan dengan ”penyakit atau
cedera yang tiba-tiba atau parah, dan kurangnya gerak karena terlalu lama
terbaring”, juga penyakit ginjal. Penyakit asam urat paling sering menyerang
jempol kaki karena pada bagian ini sirkulasi darahnya kurang dan suhunya lebih
rendah—dua kondisi yang bisa menyebabkan penumpukan asam urat.

Pengobatan: Produk-produk yang meningkatkan risiko penyakit asam urat


antara lain diuretik tiazid (obat yang memperlancar keluarnya air dari dalam
tubuh, biasanya untuk mengobati tekanan darah tinggi), aspirin dosis rendah, obat
antipenolakan yang diberikan kepada pasien pencangkokan organ, dan obat
kemoterapi.

2.5 Pemeriksaan Asam Urat


Pemeriksaan kadar asam urat darah di laboratorium bisa dilakukan dengan
beberapa metode, antara lain:
A. Metode Stik
Pemeriksaan ini menggunakan alat UASure Blood Uric Meter. Prinsipnya
adalah UASure Blood Uric Acid Test Strips menggunakan katalis yang digabung
dengan teknologi biosensor yang spesifik terhadap pengukuran asam urat. Strip
pemeriksaan dirancang dengan cara tertentu sehingga pada saat darah diteteskan
pada zona reaksi dari strip, katalisator asam urat memicu oksidasi asam urat
dalam darah tersebut. Intensitas dari elektron yang terbentuk diukur oleh sensor
dari UASure dan sebanding dengan konsentrasi asam urat dalam darah. Nilai
Rujukan untuk laki laki : 3.5 – 7.2 mg/dl, sedangkan untuk perempuan : 2.6 – 6.0
mg/dl (UASure Blood Uric Acid Test Strips).

11
B. Metode Enzymatic Colorymatic (Uricase)

Pemeriksaan asam urat memakai metode enzimatik, dengan memakai


Uricase. H2O2 akan bereaksi dengan katalis peroksidase, 3,5-dichloro-2-
hydroxybenzenesulfonic acid (DCHBS) dan 4-aminophenazone (PAP) yang
membentuk quinoneimine warna merah-violet/merah muda sebagai indikator.
Metode Uricase lebih spesifik dibanding PTA. Uricase akan mengoksidasi
asam urat, sehingga terbentuk allantoin, hidrogen peroksida dan
karbondioksida,

Prinsip pemeriksaan kadar asam urat metode enzimatik adalah uricase


memecah asam urat menjadi allantoin dan hidrogen peroksida. Selanjutnya
dengan adanya peroksidase, peroksida, Toos dan 4-aminophenazone
membentuk warna quinoneimine. Intensitas warna merah yang terbentuk
sebanding dengan konsentrasi asam urat. Nilai rujukan untuk laki laki : 3.4 –
7.0 mg/dl, sedangkan untuk perempuan : 2.4 – 5.7 mg/dl (Roche Diagnostik,
2009)

Metode Enzymatic Colorymatic (Uricase) mempunyai kelebihan


karena bermutu tinggi dan biaya rendah, serta tidak memerlukan protein.
Sebagai alternatif, substrat dapat dipakai guanine, xanthine, dan beberapa
struktur yang mirip.

C. Metode Kimia ( Phosphotungstic Acid)


Metode ini merupakan reaksi warna biru tungsten dari PTA
(phosphotungstic acid) yang direduksi oleh urat dalam suatu medium alkali.
Absorbansi dari warna yang terjadi akan diukur dalam panjang gelombang
antara 650-700 nm. Metode PTA mempunyai kelemahan karena pengaruh-
pengaruh luar, sehingga diperlukan modifikasi.
D. Metode Kromatografi High Performance Liquid Chromatography (HPLC)
Metode ini menggunakan pertukaran ion (ion exchange) untuk
mengukur kadar asam urat, pada panjang gelombang 293 nm. Kelebihan dari
metode ini adalah; spesifik dan cepat, mobile phase sederhana, waktu retensi
untuk asam urat kurang dari 6 menit. Metode ini dapat digunakan untuk
acuan.

2.6 Faktor Yang Mempengaruhi Pemeriksaan Asam Urat

Hasil pemeriksaan laboratorium yang tepat dan teliti dapat tercapai apabila di
dalam proses pemeriksaan terhadap sampel selalu memperhatikan secara terpadu
beberapa hal yaitu : persiapan penderita, pengambilan sampel penderita, proses
pemeriksaan sampel dan pelaporan hasil pemeriksaan sampel. Penyimpanan
sampel dilakukan apabila pemeriksaan ditunda atau sampel dikirim ke

12
laboratorium lain. Berkaitan dengan hal tersebut ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penyimpanan sampel yaitu : waktu penyimpanan sampel, cara
penanganan sampel dan suhu penyimpanan sampel.

A. Waktu penyimpanan sampel.

Penyimpanan terhadap sampel perlu dilakukan apabila pemeriksaan ditunda.


Proses penyimpanan sampel harus sesuai prosedur yang disyaratkan sehingga
diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat. Waktu penyimpanan yang disarankan
untuk sampel asam urat adalah selama 5 hari (Departemen Kesehatan Republik
Indonesia Pusat Laboratorium Kesehatan, 2002).

B. Suhu penyimpanan sampel.

Sampel yang digunakan untuk pemeriksaan agar tetap dalam kondisi yang
stabil, maka dibutuhkan waktu penyimpanan sampel yang baik dan suhu yang
sesuai. Pemeriksaan kadar asam urat darah dengan menggunakan plasma simpan,
maka sampel disimpan di refrigerator pada suhu 2 - 8ºC .

C. Cara penanganan sampel.

Penanganan terhadap sampel yang digunakan untuk pemeriksaan perlu


perlakuan yang benar, oleh karena penanganan sampel yang tidak sesuai prosedur
akan dapat mempengaruhi terhadap hasil pemeriksaan. Pemeriksaan yang
menggunakan sampel plasma simpan, maka plasma dipisahkan terlebih dahulu
dari selnya dalam waktu maksimal 2 jam dari pengambilan sampel, selanjutnya
plasma disimpan dalam refrigerator pada suhu 2-8ºC (Departemen Kesehatan
Republik Indonesia Pusat Laboratorium Kesehatan, 2002).

2.7 Sumber-Sumber Kesalahan Pada Pemeriksaan Asam Urat


a. Sampel Hemolisis

Definisi: pecahnya eritrosit disertai keluarnya zat – zat yang tekandung


didalamnya, sehingga serum/ plasma tampak kemerahan dan dapat
menyebabkan kesalahan dalam analisis.
Cara pencegahan:
a. Alat yang digunakan dissposible
b. Punksi vena yang dilakukan harus benar dan segera berhasil
c. Saat memasukkan darah ke dalam tabung/ vial, alirkan perlahanan
melalui dinding tabung/ vial dan tidak boleh disemprotkan
d. Segera dilakukan pemisahan darah dengan serum

b. Sampel Ikterik

13
Definisi: serum yang berwarna kuning coklat akibat adanya
hiperbilirubinemia ( peningkatan kadar bilirubin dalam darah ). Serum ikterik
dapat mempengaruhi pengukuran pada panjang gelombang 400 – 500 nm
akibat warna kuning coklat dari spesimen, sehingga tidak mampu dibaca oleh
fotometer.

c. Sampel Lipemik

Definisi: serum yang keruh, putih/ seperti susu karena


hiperlipidemi (peningkatan kadar lemak dalam darah ) atau adanya
kontaminasi bakteri makanan yang baru dikonsumsi, terutama yang
mengandung lemak dapat menyebabkan lipemia ( peningkatan kadar lemak
darah untuk sementara )

d. Stress dan puasa berlebih dapat menyebabkan peningkatan kadar asam urat
serum.
e. Diet tinggi purin, pengaruh obat (lihat pengaruh obat).

2.8 Persiapan Khusus / Tahap Pra Analitik Untuk Pemeriksaan Asam Urat

Persiapan bagi penderita yang akan diambil sampelnya yaitu puasa 10 - 12


jam dan tidak mengkonsumsi makanan tinggi purin (misalnya : daging, jerohan,
sarden, otak) minimal 24 jam sebelum uji dilaksanakan, oleh karena dapat
mempengaruhi terhadap hasil pemeriksaan yang dilakukan (Harrison, 2000).

2.9 Tanda dan Gejala Asam Urat

1. Nyeri hebat yang tiba-tiba menyerang sendi pada saat tengah malam, biasanya
pada ibu jari kaki ( sendi metatarsofalangeal pertama ) atau jari kaki ( sendi
tarsal)

2. Kulit berwarna kemerahan, terasa panas, bengkak, dan sangat nyeri

3. Pembengkakan sendi umumnya terjadi secara asimetris ( satu sisi tubuh )

4. Demam, dengan suhu tubuh 38,30C atau lebih, tidak menurun lebih dari tiga
hari walau telah dilakukan perawatan

5. Bengkak pada kaki dan peningkatan berat badan yang tiba-tiba

2.10 Pencegahan Asam Urat

Pencegahan osteoartritis dapat dilakukan dengan cara mengonsumsi makanan


yang bergizi. Beberapa suplemen makanan juga dapat digunakan untuk mencegah
penyakit ini. Beberapa suplemen yang umum digunakan antara lain adalah
glukosamin dan kondroitin.

14
1. Glukosamin

Glukosamin adalah molekul gula amino yang biasa terdapat pada kulit krustasea
(udang-udangan), artropoda, dan dinding sel cendawan. Di Indonesia, glukosamin
dapat diperoleh dari langsung dari suplemen makanan komersial atau minuman susu
tersuplementas.

2. Kondroitin

Kondrotin sendiri adalah suplemen makanan yang biasa digunakan bersama


glukosamin. Ia merupakan senyawa rantai gula bercabang yang menyususun tulang
rawan. Di Indonesia, kondroitin dapat diperoleh dari langsung dari suplemen
makanan.

15
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Asam urat adalah produk akhir atau produk buangan yang dihasilkan dari
metabolisme/pemecahan purin. Asam urat sebenarnya merupakan antioksidan dari
manusia dan hewan, tetapi bila dalam jumlah berlebihan dalam darah akan
mengalami pengkristalan dan dapat menimbulkan gout. Asam urat mempunyai peran
sebagai antioksidan bila kadarnya tidak berlebihan dalam darah, namun bila kadarnya
berlebih asam urat akan berperan sebagai prooksidan.

Kadar asam urat dapat diketahui melalui hasil pemeriksaan darah. Nilai
rujukan kadar darah asam urat normal pada laki-laki yaitu 3.6 - 8.2 mg/dL sedangkan
pada perempuan yaitu 2.3 – 6.1 mg/dL.

Hasil pemeriksaan laboratorium yang tepat dan teliti dapat tercapai apabila di
dalam proses pemeriksaan terhadap sampel selalu memperhatikan secara terpadu
beberapa hal yaitu : persiapan penderita, pengambilan sampel penderita, proses
pemeriksaan sampel dan pelaporan hasil pemeriksaan sampel. Penyimpanan sampel
dilakukan apabila pemeriksaan ditunda atau sampel dikirim ke laboratorium lain.
Berkaitan dengan hal tersebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
penyimpanan sampel yaitu : waktu penyimpanan sampel, cara penanganan sampel
dan suhu penyimpanan sampel.

5.2 Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar
dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi, atas perhatiannya penulis
ucapkan terimakasih.

16
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Antika. 2011. Penyebab Reumatik Gout. Bandung: Pustaka Jaya.

Ellyza, Sofitri. 2012. Jurnal Kesehatan Andalas tentang Hiperurisemia pada Pra

Diabetes. Bagian Patologi Klinik FK Unand.

Neil, Gordon. 2000. Radang Sendi. Jakarta: Rajawell.

Sacher,RA. 2005. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC

Soeparman. 2003. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI.

Syukri, Maimun.2007.Jurnal tentang Asam Urat dan Hiperuresemia. Depatemen

Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Unsyiah/BPK.

Widman. 2001. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC

Wortman.1993.Penyakit Sendi.Jakarta : Raja Grafindo Persada.

17
LAMPIRAN

18